• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perilaku Berbahasa Guru-Guru di SLTP di Kota Denpasar Sebuah Kajian Pragmatik.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Perilaku Berbahasa Guru-Guru di SLTP di Kota Denpasar Sebuah Kajian Pragmatik."

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)

1

Bidang Unggulan : Hibah Unggulan Program Studi

Kode/Nama Bidang Ilmu: 512/Sastra (dan Bahasa) Indonesia

USULAN PENELITIAN

HIBAH UNGGULAN PROGRAM STUDI

PERILAKU BERBAHASA GURU-GURU SLTP

DI KOTA DENPASAR:

SEBUAH KAJIAN PRAGMATIK

Peneliti Utama

Prof. Dr. Drs. I Wayan Simpen, M.Hum. (NIDN 0031126071)

Anggota

1. Drs. I Wayan Teguh, M.Hum. (NIDN 0031126072)

2. Dra.Putu N. Widarsini, M.Hum.(NIDN 0001046113)

DIBIAYAI OLEH DIPA PNBP UNIVERSITAS UDAYANA

DENGAN SURAT PERJANJIAN PENUGASAN PELAKSANAAN PENELITIAN

NOMOR: 007/UN14.1.1/PNL.01.03.00/2015

TANGGAL: 21 APRIL 2015

PROGRAM STUDI/JURUSAN SASTRA INDONESIA

FAKULTAS SASTRA DAN BUDAYA

UNIVERSITAS UDAYANA

(2)

2

HALAMAN PENGESAHAN

USULAN PENELITIAN HIBAH UNGGULAN PROGRAM STUDI

1. Judul Penelitian : “Perilaku Berbahasa Guru-guru SLTP di Kota Denpasar: Sebuah Kajian Pragmatik”

2. Ketua Peneliti

a) Nama Lengkap : Prof. Dr. Drs. I Wayan Simpen, M.Hum. b) Jenis Kelamin : Laki-laki

c) NIP/NIDN : 196012311985031028/0031126071 d) Jabatan Struktural : -

e) Jabatan Fungsional : Guru Besar

f) Fakultas/Jurusan : Sastra dan Budaya/Sastra Indonesia g) Pusat Penelitian : Program Studi Sastra Indonesia h) Alamat : Jl. Pulau Nias 13, Sanglah, Denpasar

i) Telepon/Faks : (0361) 224121

j) Alamat Rumah : Jl. Dewata II/8, Sidakarya, Denpasar Selatan k) Telepon/email : (0361) 722785/wyn.simpen8@gmail.com.

l) HP : 081916254317

3. Jumlah anggota peneliti : tiga orang 4. Jumlah mahasiswa : dua orang 5. Pembiayaan :

Jumlah biaya yang diajukan ke fakultas : Rp 22.500.000,00

Denpasar, 3 November 2015

Mengetahui

Ketua Jurusan/Prodi, Ketua Peneliti,

(3)

3 RINGKASAN

Penelitian ini bertolak pada isu belakangan ini bahwa di masyarakat marak terjadi perilaku kekerasan, terutama yang menimpa anak-anak. Mulai dari anak jalanan yang dieksploitasi sekelompok orang, penganiayaan anak oleh orang tua, pelecehan seksual anak, anak kabur dari rumah, penculikan anak, atau terjadinya penyimpangan perilaku anak, seperti seorang anak yang tega membunuh adik kandungnya sendiri. Sekitar bulan Juni lalu, kita digegerkan dengan merebaknya berita kematian Angeline, yang sebelumnya diberitakan hilang dan berita itu tersebar luas di jejaring media sosial. Ternyata, lagi-lagi pelaku lenyapnya nyawa si gadis cilik Angeline itu adalah orang terdekat yang selama ini mengadopsinya, yaitu ibu angkat Angeline.

Dua tempat yang sangat potensial terjadinya kekerasan pada anak adalah rumah tangga dan sekolah. Di rumah, orang tua sebagai pihak superpower merasa berhak melakukan kekerasan verbal karena orang tua adalah penguasa mutlak si anak. Sementara itu, di sekolah para guru juga seenaknya melontarkan kata-kata tidak senonoh pada muridnya. Di sekolah, guru adalah penguasa murid. Guru dapat melakukan apa saja terhadap muridnya, termasuk melakukan kekerasan verbal.

Di dalam rumah tangga, proses memanusiakan manusia terjadi pertama kali. Proses ini dilakukan dengan alat yang paling ampuh, yaitu bahasa. Proses pembelajaran di dalam rumah tangga dilakukan dengan bahasa. Melalui bahasa manusia mengomunikasikan pikiran dan perasaannya, berpikir dan berasa, serta memahami pikiran dan perasaan manusia lain, termasuk cara orang tua mendidik anak-anaknya. Dalam hal ini, peran bahasa sangatlah mulia dalam proses memanusiakan manusia. Akan tetapi, yang terjadi sangatlah ironis karena tekanan ekonomi, atau persoalan lain, secara tidak sadar orang tua telah bertindak di luar batas kemanusiaan. Bahasa yang semestinya berfungsi memuliakan manusia, justru menistakan manusia.

Sistem pendidikan nasional kita juga memberikan andil terhadap munculnya kekerasan verbal di sekolah. Adanya sekolah unggulan atau sekolah plus secara tidak langsung membentuk diskriminasi dan ketidakadilan di masyarakat karena orang-orang yang bisa bersekolah di tempat itu hanyalah orang-orang tertentu. Padahal, dalam konstitusi telah diamanatkan bahwa semua rakyat memiliki hak yang sama dalam mendapatkan pendidikan. Di sisi lain, sistem penilaian yang berorientasi pada nilai dengan gambaran angka-angka, memacu dan memicu sekolah berlomba-lomba menentukan peringkat para muridnya. Sekolah tidak lagi merumuskan keberhasilan proses didik yang berorientasi pada capaian kompetensi, tetapi lebih pada capaian angka-angka yang semu.

Untuk menjadi sekolah yang unggul dan favorit, guru harus menggenjot murid agar memperoleh nilai yang membanggakan. Pertanyaannya, apakah di dalam kelas semua murid memiliki kemampuan yang sama? Jawabannya, pasti tidak. Oleh karena itu, guru akan alergi pada murid yang bodoh. Murid-murid seperti inilah yang biasanya menjadi korban kekerasan verbal. Padahal, guru semestinya dapat memintarkan murid yang bodoh. Di sinilah tugas utama guru. Guru semestinya menyadari bahwa tidak ada anak didik yang bodoh, yang ada hanyalah perbedaan cara murid menyerap pelajaran yang diberikan guru. Di samping itu, setiap murid memiliki potensi yang berbeda.

Populasi penelitian ini adalah seluruh pemakaian bahasa para guru di SLTP di Kota Denpasar khususnya SLTP yang ada di Kecamatan Denpasar Timur dan Kecamatan Denpasar Selatan. Untuk Denpasar Timur dipilih SLTP 3 dan SLTP 8, sedangkan untuk Kecamatan Denpasar Selatan dipilih SLTP 6 dan SLTP 9. Pengambilan sampel dilakukan dengan sistem porposif area sampel dengan mempertimbangkan jenis kelamin pada sampel guru jadi guru laki-laki dan perempuan terwakili.

Data dikumpulkan dengan penyebaran kuesioner dan metode wawancara. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dan metode analisis kuantitatif. Hasil penyajian data lebih banyak disajikan dengan metode informal dan penjabaran dalam analisis menggunakan metode induktif deduktif yaitu analisis yang didahului pengadaan fakta lalu digeneralisasi.

Hasil penelitian membuktikan, bahwa perilaku berbahasa yang dilakukan guru (sesuai isian kuisioner) berbeda dengan yang diisi murid, padahal pertanyaan dan pilihannya sama. Ini membuktikan bahwa ada kecenderungan guru menutup-nutupi perilaku berbahasa yang sebenarnya. Jadi, realitas berbeda dengan idealitas.

(4)

4

DAFTAR ISI

HALAMAN PENGESAHAN... ii

RINGKASAN ... iii

DAFTAR ISI ... v

BAB I PENDAHULUAN ... 1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 8

BAB III METODE PENELITIAN ... 12

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN... 15

BAB IV SIMPULAN DAN SARAN ... 25

DAFTAR PUSTAKA ... 28

(5)

5

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Istilah “perilaku berbahasa” yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah tindakan atau cara-cara

berbahasa yang dilakukan oleh para guru SLTP se-Kota Denpasar, khususnya perilaku berbahasa Indonesia terhadap murid-murid. Perilaku berbahasa itu menyangkut aktivitas di dalam atau di luar kelas, baik berkaitan maupun tidak berkaitan dengan pelajaran yang dilakukan di sekolah. Dengan kata lain, penelitian ini merekam cara-cara berbahasa Indonesia para guru di sekolah. Hal ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana para guru tidak atau melakukan kekerasan verbal terhadap murid-muridnya.

Kajian terhadap perilaku berbahasa para guru akan bermuara pada isu yang berkembang selama ini bahwa para guru merupakan salah satu agen pelaku kekerasan di masyarakat. Seperti diketahui bahwa sekolah adalah salah satu tempat yang sangat potensial yang menjadi tempat terjadinya kekerasan. Untuk itulah penelitian terhadap perilaku berbahasa, khususnya berbahasa Indonesia para guru menjadi sangat urgen untuk dilaksanakan. Sebagai langkah awal, akan diteliti perilaku berbahasa di tingkat SLTP. Jika memungkinkan, kegiatan yang sama akan dilakukan pada jenjang pendidikan yang lain.

Belakangan ini, banyak ditayangkan di media massa, baik elektronik maupun cetak, berita tentang kaburnya seorang anak dari rumah. Kompas terbitan 30 November 2010 memuat berita tentang kaburnya seorang anak perempuan berumur 10 tahun bernama Nabila Amalia Putri. Anak perempuan ini kabur dari rumah orang tuanya di Tangerang Selatan. Di samping itu, berita tentang kaburnya Arumi Bachin dari rumah sebanyak tiga kali juga tidak kalah menarik. Ini adalah contoh kecil yang terekspos media.

Sekitar bulan Juni 2015, kita dicengangkan dengan merebaknya berita kematian gadis cilik Angeline di Jalan Sedap Malam, Sanur, Denpasar. Sebelum ditemukan polisi, gadis ini diberitakan hilang, dan beritanya tersebar di media jejaring sosial. Sungguh ironis dan mengherankan karena ternyata pelaku yang tega menghabisi nyawa gadis manis ini adalah orang terdekatnya, yaitu ibu angkat Angeline. Apa pun alasannya, yang patut disadari adalah ketidakberdayaan dan ketidaksadaran kita semua bahwa kita adalah monster-monster menakutkan bagi masa depan anak.

(6)

6

Kasus anak kabur dari rumah karena mengalami kekerasan verbal adalah fenomena gunung es. Masih terlalu banyak hal yang sama terjadi di masyarakat, tetapi luput dari pantauan media.

Bukan tidak mungkin kekerasan verbal juga terjadi di sekolah. Guru sebagai pihak penguasa di sekolah merasa mempunyai hak untuk melakukan kekerasan verbal terhadap muridnya. Dengan dalih mendidik dan mengajar guru kerap kali bertindak di luar batas kewajaran. Akibatnya, jangan heran kalau ada siswa yang minder, penakut, tidak percaya diri, introvert, gampang marah, bahkan frustrasi.

Barangkali kita sendiri mungkin sebagai ayah, sebagai dosen/guru, sebagai suami, sebagai atasan sering kali melakukan kekerasan verbal pada anak, mahasiswa/siswa, istri, atau bawahan. Sadar atau tidak sadar kita mempunyai andil terhadap perkembangan anak, mahasiswa, istri, atau bawahan. Anak yang penakut, mahasiswa yang tidak mandiri, atau istri yang selingkuh, dan bawahan yang frustrasi adalah harga yang harus dibayar akibat kekerasan verbal yang kita lakukan.

Selama ini istilah kekerasan hanya dimaksudkan sebagai kekerasan fisik. Misalnya, pemukulan, penganiayaan, atau pembunuhan. Jarang sekali istilah kekerasan verbal dikategorikan sebagai salah satu jenis kekerasan. Oleh karena itu, kekerasan verbal jarang ditindaklanjuti secara hukum. Padahal, korban kekerasan verbal itu sangatlah banyak dan berdampak sistemik. Korban kekerasan verbal akan menanggung akibat sepanjang hidupnya. Lebih-lebih kalau kekerasan verbal itu dialami ketika usia dini, maka akibatnya akan sangat fatal bagi anak yang bersangkutan. Misalnya, salah seorang anak menjadi korban kekerasan verbal ketika di SD. Setiap saat gurunya membentak dan menghardik kalau ia salah menjawab pertanyaan atau tidak bisa mengerjakan tugas yang dibebankan padanya. Sampai sekarang ia tumbuh menjadi anak yang kurang percaya diri, takut bertanggung jawab, gampang menyerah, dan takut mencoba karena ia takut salah meskipun sekarang ia telah berstatus mahasiswa.

Terbentuknya “Komisi Perlindungan Hak Anak” adalah angin segar bagi perlindungan anak di masa

depan. Diharapkan, lembaga ini mampu menjamah perlakuan kurang manusiawi pada anak, termasuk kekerasan verbal. Pihak-pihak penguasa (orang tua atau guru) sudah saatnya menghentikan perilaku mengejek, menghina, menghardik, membentak, mencaci maki, atau mengancam anak didiknya karena tindakan itu mengakibatkan perasaan tidak enak, terhina, teraniaya, atau terancam pada anak didik.

(7)

7

lain tidak nyaman, terhina, bahkan terancam. Biasanya, tindakan ini tidak didukung oleh bukti-bukti yang kuat dan memadai. Oleh karena itu, pencemaran nama baik merupakan fitnah. Kerugian yang dialami korban adalah kerugian moral yang biasanya mengancam kredibilitas dan nama baik. Akibat kerugian itu berimplikasi secara tidak langsung pada kerugian material.

Secara etimologis kata kekerasan berasal dari bentuk dasar keras, mendapat konfiks ke-/-an yang berarti ‘perihal (yang bersifat, berciri keras; perbuatan seseorang atau kelompok orang yang menyebabkan

cedera atau matinya orang lain atau menyebabkan kerusakan fisik atau barang orang lain; paksaan (Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 1995: 485). Bertolak dari pengertian ini, maka istilah kekerasan hanya dikaitkan dengan masalah fisik yang menyebabkan kematian, cedera, atau kerusakan barang. Dengan demikian, tindakan seseorang atau kelompok yang dianggap melakukan kekerasan hanyalah mencakup pemukulan, penganiayaan, pembunuhan, atau perusakan bangunan. Kekerasan tidak disangkutpautkan dengan dampak mental, seperti penghinaan, pemfitnahan, penyindiran, pengancaman, penghardikan, pembentakan, dan pengancaman.

Dampak kekerasan verbal lebih hebat daripada kekerasan fisik. Misalnya, anak yang menjadi korban kekerasan verbal di rumah atau di sekolah akan menyebabkan anak itu pendiam, pendendam, pemarah, pemalu, bahkan dapat bertindak di luar kebiasaan. Ada kasus seorang anak laki-laki menjadi waria karena sangat menbenci figur laki-laki karena dari kecil ia senantiasa menyaksikan penganiayaan dan caci maki ayahnya terhadap ibu kandungnya. Bahkan, hal yang sangat tragis adalah anak inilah yang akhirnya membunuh dan memutilasi ayah kandungnya.

Akibat kekerasan fisik adalah rusaknya fisik, tetapi akibat kekerasan verbal adalah rusaknya mental. Kekerasan verbal juga dapat menyebabkan pembunuhan karakter. Jadi, dampak kekerasan verbal lebih hebat daripada kekerasan fisik. Akan tetapi, masyarakat tidak banyak yang menyadarinya. Untuk itulah, penelitian ini sangat penting dilakukan. Tujuannya adalah membuktikan apakah di tingkat SLTP di Kota Denpasar ditemukan perilaku guru-guru yang dapat digolongkan kekerasan verbal.

1.2 Tujuan Penelitian

(8)

8

orang, penganiayaan anak oleh orang tua, pelecehan seksual anak, anak kabur dari rumah, penculikan anak, atau terjadinya penyimpangan perilaku anak, seperti seorang anak yang tega membunuh adik kandungnya sendiri.

Dua tempat yang sangat potensial terjadinya kekerasan pada anak adalah rumah tangga dan sekolah. Di rumah, orang tua sebagai pihak superpower merasa berhak melakukan kekerasan verbal karena orang tua adalah penguasa mutlak si anak. Sementara itu, di sekolah para guru juga seenaknya melontarkan kata-kata tidak senonoh pada muridnya. Di sekolah, guru adalah penguasa murid. Guru dapat melakukan apa saja terhadap muridnya, termasuk melakukan kekerasan verbal.

Di dalam rumah tangga, proses memanusiakan manusia terjadi pertama kali. Proses ini dilakukan dengan alat yang paling ampuh, yaitu bahasa. Proses pembelajaran di dalam rumah tangga dilakukan dengan bahasa. Melalui bahasa manusia mengomunikasikan pikiran dan perasaannya, berpikir dan berasa, serta memahami pikiran dan perasaan manusia lain, termasuk cara orang tua mendidik anak-anaknya. Dalam hal ini, peran bahasa sangatlah mulia dalam proses memanusiakan manusia. Akan tetapi, yang terjadi sangatlah ironis karena tekanan ekonomi, atau persoalan lain, secara tidak sadar orang tua telah bertindak di luar batas kemanusiaan. Bahasa yang semestinya berfungsi memuliakan manusia, justru menistakan manusia.

Orang tua dapat seenaknya mencaci maki, membentak, atau menghina anak-anaknya. Seolah-olah anak-anak adalah pihak yang mesti dipersalahkan kalau orang tua bermasalah di kantor, di tempat kerja, atau terdesak ekonomi. Kondisi yang sama akan berulang di sekolah. Guru-guru yang bermasalah di rumah tangganya akan melampiaskan kemarahannya itu pada para siswa. Tidak jarang ditemukan guru-guru yang marah-marah tanpa sebab pada muridnya. Tindakan yang paling lazim dilakukan guru-guru seperti itu adalah mengejek, membentak, menghina, mencaci maki, atau mengancam murid. Momentum yang biasa digunakan adalah murid digiring untuk menjawab atau mengerjakan tugas yang sulit. Kalau murid tidak dapat mengerjakan tugas itu dengan baik, saat itulah guru biasanya melontarkan bahasa yang tidak senonoh. Mulai dari kamu goblok, otakmu di mana, otakmu di dengkul, dan hinaan yang lain.

(9)

9

adalah anak kandungnya sendiri. Jadi, guru dituntut bersikap adil dan tidak pilih kasih pada murid-muridnya. Guru tidak boleh menyayangi murid yang pintar saja, atau menyayangi murid yang kebetulan menjadi kerabatnya, atau titipan para pejabat dan teman baik. Lebih-lebih karena orang tua murid tertentu banyak memberikan bantuan material pada oknum guru atau sekolah yang bersangkutan.

Kasus sejumlah orang tua yang memiliki akses langsung pada sekolah anaknya, baik para pejabat maupun donator telah terjadi di mana-mana. Lebih-lebih kalau sekolah yang bersangkutan adalah sekolah unggulan atau sekolah plus. Hal-hal seperti inilah yang kemudian akan memengaruhi sikap para guru, baik ketika mengajar di kelas maupun ketika menilai para muridnya. Akibatnya, jangan heran kalau di sekolah akan ada anak emas, anak perak, atau anak perunggu.

Sistem pendidikan nasional kita juga memberikan andil terhadap munculnya kekerasan verbal di sekolah. Adanya sekolah unggulan atau sekolah plus secara tidak langsung membentuk diskriminasi dan ketidakadilan di masyarakat karena orang-orang yang bisa bersekolah di tempat itu hanyalah orang-orang tertentu. Padahal, dalam konstitusi telah diamanatkan bahwa semua rakyat memiliki hak yang sama dalam mendapatkan pendidikan. Di sisi lain, sistem penilaian yang berorientasi pada nilai dengan gambaran angka-angka, memacu dan memicu sekolah berlomba-lomba menentukan peringkat para muridnya. Sekolah tidak lagi merumuskan keberhasilan proses didik yang berorientasi pada capaian kompetensi, tetapi lebih pada capaian angka-angka yang semu.

Untuk menjadi sekolah yang unggul dan favorit, guru harus menggenjot murid agar memperoleh nilai yang membanggakan. Pertanyaannya, apakah di dalam kelas semua murid memiliki kemampuan yang sama? Jawabannya, pasti tidak. Oleh karena itu, guru akan alergi pada murid yang bodoh. Murid-murid seperti inilah yang biasanya menjadi korban kekerasan verbal. Padahal, guru semestinya dapat memintarkan murid yang bodoh. Di sinilah tugas utama guru. Guru semestinya menyadari bahwa tidak ada anak didik yang bodoh, yang ada hanyalah perbedaan cara murid menyerap pelajaran yang diberikan guru. Di samping itu, setiap murid memiliki potensi yang berbeda.

Bertolak dari paparan di atas, maka penelitian “Perilaku Berbahasa Guru-guru SLTP di Kota

(10)

10 1.3 Urgensi penelitian

(11)

11

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Penelitian tentang kekerasan verbal sangatlah langka. Oleh karena itu, tidak mudah memperoleh pustaka yang gayut dengan topik ini. Akan tetapi, kekerasan verbal tercakup dalam fungsi bahasa. Jadi, pustaka yang dianggap gayut adalah pustaka yang berhubungan dengan fungsi bahasa. Berikut adalah pustaka yang dimaksud.

Simpen (2011) dalam tulisannya yang berjudul “Fungsi Bahasa dan Kekerasan Verbal dalam Masyarakat” menyebutkan bahwa ada beberapa faktor yang menyebabkan seseorang melakukan kekerasan

verbal, yaitu faktor ekonomi, faktor sakit hati, kecewa, dan frustrasi. Tulisan ini juga menyebutkan bahwa rumah, sekolah, tempat kerja, dan kantor adalah tempat-tempat berlangsungnya kekerasan verbal. Disebutkan pula bahwa pihak-pihak yang dapat melakukan kekerasan verbal adalah pihak-pihak yang tergolong penguasa atau yang memiliki kekuasaan, seperti ayah terhadap anaknya, guru terhadap muridnya, atasan terhadap bawahannya, suami terhadap istrinya, dan kakak terhadap adiknya.

Penelitian Simpen (2011) masih bersifat umum. Oleh karena itu, kajian terhadap tempat terjadinya kekerasan verbal, seperti sekolah belum dikaji lebih dalam. Hal ini dapat dimaklumi karena tulisan ini adalah orasi ilmiah, walaupun berdasarkan data empiris, belum dilakukan pengujian secara spesifik dan menukik. Akan tetapi, tulisan ini mampu menginspirasi tulisan–tulisan lain yang sejenis. Penelitian ini memfokuskan pada perilaku berbahasa para guru di SLTP se-Kota Denpasar. Tujuannya adalah merekam perilaku berbahasa para guru sehingga dapat dibuktikan apakah para guru itu melakukan kekerasan verbal atau tidak.

Bahasa diartikan sebagai a system of arbitrary vocal symbols by mean of which a social group coorperates (Bloch, 1942: 5; Stutervant, 1947: 2; Band. Masinambow, 2000: 7). Sebagai sistem simbol bunyi yang arbitrer, bahasa memiliki fungsi utama sebagai alat komunikasi. Di samping itu, bahasa juga berfungsi sebagai alat bekerja sama dalam suatu kelompok sosial.

(12)

12

pikirannya. Demikian pula manusia yang mengalami kelemahan bahasa atau gangguan berbahasa tidak akan mampu mengatakan pikirannya. Misalnya, manusia yang kehilangan bahasa atau kemampuan bahasanya kuarng sempurna, tidak hanya mengalami rintangan dalam hubungannya dengan orang lain, tetapi ia juga mendapat kesulitan dalam dirinya sendiri dalam hal pikirannya, seperti yang dialami oleh orang primitif, anak kecil, tuli bisu, para penderita patologis, orang sakit ingatan, orang kelu (afasis), atau orang yang mengalami ketarasingan bahasa (Widyamartaya, (Pen.), 1983: 10).

Peranan bahasa amatlah besar dalam kehidupan manusia. Bahkan, secara ekstrem dapat dikatakan bahwa tanpa bahasa manusia tidak ubahnya dengan binatang. Filsuf terkenal, E. Cassier pernah berujar bahwa manusia adalah animal symbolicum. Melalui bahasa, manusia memperoleh kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional. Selanjutnya, dengan dua kecerdasan ini manusia mengembangkan kecerdasannya yang lain.

Kecerdasan intelektual dan emosional pertama-tama dikembangkan di dalam rumah tangga yang dilakukan dengan bahasa. Orang tua mendidik anak-anaknya dengan bahasa. Bahasa mengambil bagian yang penting dalam proses memanusiakan manusia. Namun, karena beberapa faktor seperti yang disitir di atas, bahasa yang semestinya memuliakan manusia justru menistakan manusia. Dengan bahasa, orang tua dapat melakukan kekerasan.

Sudaryanto (1990: 51—53), mencatat ada tiga kegiatan berbahasa yang tergolong pengawafungsian bahasa. Ketiga kegiatan dimaksud adalah berbahasa yang narsistik, berbahasa yang mansurbatif, dan berbahasa yang psitasistik. Pengawafungsian bahasa terjadi apabila kegiatan berbahasa itu tidak menyebabkan pengoptimalan fungsi bahasa, tetapi justru penurunan hakikat fungsi bahasa. Seperti yang disebutkan di atas bahwa fungsi bahasa adalah sebagai alat bekerja sama atau sebagai alat untuk sama-sama bekerja. Namun, yang lebih utama adalah bila bahasa dapat membuat manusia sama-sama menjadi sesama. Apabila pemakaian bahasa itu dimaksudkan untuk menistakan manusia, seperti mencaci maki, mengejek, membentak, dan mengancam, maka pemakaian bahasa justru akan mengerdilkan fungsi bahasa itu sendiri

(13)

13

menjadi penguasa. Foley (1997:307) mengemukakan bahwa stratifikasi sosial memiliki kaitan yang erat dengan kekuasaan/power. Lebih lanjut dikatakan bahwa variabel stratifikasi sosial, seperti kelas masyarakat, kasta, status, etnik, umur, dan lain-lain direalisasikan melalui tanda-tanda linguistik yang melekat pada pelakunya (1997:312).

Secara simbolik, seperti kasta di Bali atau masyarakat lain yang mengenal stratifikasi sosial memberikan kekuasaan bagi seseorang yang memilik kasta yang lebih tinggi. Demikian pula orang tua yang memiliki umur yang lebih tua, akan berkuasa pada anak-anaknya. Guru-guru di sekolah yang memiliki status yang lebih tinggi daripada siswanya juga memiliki kuasa yang lebih besar. Demikian pula orang yang memiliki kekuatan finansial akan berkuasa terhadap oarng yang tidak, seperti majikan/bos terhadap buruhnya. Di sisi lain, faktor gender juga tidak kalah pentingnya dalam memperoleh kekuasaan.

Berdasarkan hasil penelitiannya terhadap masyarakat Jawa, Anderson (1990: 21—28) merumuskan perbedaan konsep power di dunia Barat dengan di dunia Timur. Power, dalam tradisi sering dihubungkan dengan karisma atau kesaktian. Karisma atau kesaktian dalam tradisi Jawa dengan cara yang unik, misalnya memerkosa diri dalam meditasi yang ketat, beryoga, bertapa, atau berpuasa makan/berpuasa seks. Konsep power seperti ini tidak ditemukan di dunia Barat.

Konsep kekuasaan atau kekuatan seperti di atas juga diterapkan dalam perilaku berbahasa. Entitas yang memegang kuasa memandang lawan bicaranya dalam posisi yang berbeda. Penguasa adalah pihak superior, sedangkan yang terkuasa adalah imperior. Konsep inilah yang kemudian melahirkan kekerasan verbal di masyarakat.

(14)

14

BAB III METODE PENELITIAN

3.1 Populasi dan Sampel

Populasi penelitian ini adalah seluruh pemakaian bahasa para guru di SLTP di Kota Denpasar. Untuk penelitian tahun ini, SLTP yang dijadikan objek penelitian adalah SLTP yang ada di Kecamatan Denpasar Timur dan Kecamatan Denpasar Selatan, masing-masing dua SLTP. Untuk Denpasar Timur dipilih SLTP 3 dan SLTP 8, sedangkan untuk Kecamatan Denpasar Selatan dipilih SLTP 6 dan SLTP 9. Jumlah guru yang cukup banyak tidak memungkinkan untuk meneliti seluruh pemakaian bahasa para guru. Oleh sebab itu, data akan diambil berdasarkan sistem sampel. Pengambilan sampel dilakukan dengan sistem porposif area sampel. Sistem ini akan mempertimbangkan jenis kelamin guru, artinya guru yang dijadikan sampel mewakili guru perempuan dan guru laki-laki. Dari segi area, tiap-tiap kecamatan diharapkan terwakili. .

Setiap sekolah dijaring lima guru dan lima siswa. Jadi, jumlah guru dan murid yang dijadikan objek penelitian masing-masing berjumlah 20 orang. Perilaku berbahasa guru akan tercermin dari isian daftar tanyaan. Akan tetapi, untuk mengecek realitasnya maka dicocokkan dengan isian daftar tanyaan siswa. Dipastikan ada perbedaan jawaban guru dengan jawaban siswa, meskipun pertanyaan dan pilihan jawaban sama. Hal ini, dimungkinkan karena guru cenderung menyembunyikan perilaku berbahasanya yang tidak baik, atau lupa apa yang pernah dilakukannya. Di sisi lain, siswa pasti ingat apa yang pernah dikatakan gurunya.

3.2 Metode Pengumpulan Data

Penelitian ini menggunakan dua cara pengumpulan data. Pertama, data dikumpulkan dengan cara penyebaran kuesioner. Kedua, data dikumpulkan dengan metode wawancara. Kuesioner berisi pilihan yang menggambarkan jenis satuan verbal yang digunakan oleh para guru. Jenis satuan verbal itu menyangkut cara guru ketika menyuruh murid, membimbing murid, menghukum murid, memarahi murid, atau menganjurkan murid. Kuesioner akan diberikan pada siswa sehingga pilihan jawaban lebih objektif. Setiap responden akan menilai pemakaian bahasa guru yang berbeda.

(15)

15

akan ditanyai langsung terhadap perilaku berbahasa guru yang dimaksud. Di samping itu, penelitian ini juga memanfaatkan data yang ada di BP (bimbingan dan penyuluhan) mengenai siswa yang bermasalah.

Hasil analisis lebih banyak disajikan dengan metode informal, yaitu deskripsi dalam bentuk satuan verbal. Metode penyajian hasil analisis akan dijabarkan dengan pola penalaran secara induktif dan deduktif, yaitu analisis yang dimulai dari penyodoran fakta, kemudian digeneralisasi. Di sisi lain, penyajian diawali dengan generalisasi dan selanjutnya dibuktikan dengan fakta.

3.3 Metode Analisis Data

Data yang terkumpul akan membentuk korpus data, berupa data kuantitatif yang dikumpulkan dengan cara penyebaran kuesioner dan data kualitatif yang dikumpulkan dengan metode wawancara. Dengan demikian, analisis data akan menggunakan metode deskriptif kualitatif dan metode analisis kuantitatif.

Perhitungan secara kuantitatif terhadap responden akan menggambarkan bahwa di bawah 50 % akan dianggap bahwa para guru tidak melakukan kekerasan verbal, sedangkan di atas 50% para guru dianggap melakukan kekerasan verbal. Hasil perhtungan statistik ini akan diperkuat dengan analisis data kualitatif. Penelitian ini menghasilkan luaran berupa laporan hasil penelitian yang di dalamnya termuat hal-hal sebagai berikut.

1. Pembuktian ada/tidak adanya kekerasan verbal yang dilakukan oleh para guru SLTP di Kota Denpasar. 2. Bentuk-bentuk satuan verbal yang digunakan oleh para guru ketika menyuruh muridnya, mengarahkan,

menganjurkan, menasihati, menghukum, dan memarahi muridnya.

3. Memberikan informasi yang real mengenai wajah pendidikan di tingkat tertentu, terutama di tingkat SLTP.

4. Memberikan informasi pada masyarakat luas, terutama para orang tua agar ikut berpartisipasi aktif dalam mengawal proses pendidikan di sekolah karena anak adalah tumpuan masa depan bangsa.

5. Membuktikan bahwa kekerasan verbal memiliki dampak sistemik pada perkembangan dan masa depan anak.

(16)

16

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Pengantar

Bab ini, berturut-turut akan menyajikan tindak tutur dan jenis-jenisnya, tindak tutur guru-guru SLTP di Kota Denpasar, tindak tutur dan kesantunan berbahasa, dan tindak tutur dan kekerasan verbal. Masing-masing akan disajikan secara rinci berikut ini.

4.2 Tindak Tutur

Bertutur adalah bertindak. Setiap ujaran menuntut penerima ujaran untuk melakukan suatu tindakan. Alih-alih menyatakan persetujuan atau penolakan terhadap pengujar tadi. Austin (1962) menyatakan bahwa ujaran yang muncul dalam sebuah peristiwa tutur memiliki daya atau kekuatan terhadap lawan tutur. Tindak tutur sebagai sebuah ujaran, bukanlah semata-mata sebagai sebuah peristiwa verbal semata, melainkan menjadi representasi tindakan fisik.

Austin membagi tindak tutur menjadi tiga bagian, yaitu tindak lokusi, tindak ilokusi, dan tindak perlokusi. Tindak lokusi (locutionary act) adalah suatu tindak berkata, menghasilkan tuturan dengan makna dan referen tertentu. Misalnya, gunung itu tinggi. Tindak ilokusi (illocutionary act) adalah suatu tindak tutur yang tidak hanya menghasilkan suatu tuturan dengan makna dan acuan tertentu, tetapi juga punya maksud untuk menyatakan sesuatu, seperti pernyataan, perjanjian, permintaan, larangan, anjuran, permohonan maaf , dan lain-lain. Biasanya, tuturan ini dilakukan dalam konteks tertentu. Misalnya, pada saat seorang tamu duduk kepanasan, dan jendela ruang tamu tidak terbuka, maka akan berujar pada tuan rumahnya: Apakah jendela ini bisa dibuka?. Ini bukanlah sebuah kalimat, melainkan sebuah tuturan karena maksud penutur bukan ingin bertanya tentang kondisi jendela yang dapat dibuka atau tidak.

(17)

17

Apabila dicermati, sesungguhnya batas tuturan lokusi, ilokusi, dan perlokusi tidaklah jelas benar. Kecuali, tuturan itu ditempatkan pada konteks yang tepat serta efek yang ditimbulkannya dapat diamati secara kasat mata. Misalnya, seorang guru berujar di depan kelas “menyontek tidak dibenarkan oleh semua agama”. Tuturan ini termasuk lokusi, kalau diujarakan pada saat menjelaskan ajaran agama karena makna dan referen tuturan ini sangat jelas. Akan tetapi, jika tuturan ini diucapkan oleh guru pada saat sedang ujian, maka tuturan ini dapat dianggap sebagai tindak ilokusi. Tuturan ini muncul pada saat ujian berlangsung dan banyak siswa yang menyontek, sehingga tuturan ini dimaksudkan agar siswa tidak menyontek karena tindakan itu melanggar ajaran agama. Jadi, tuturan di atas memiliki maksud. Di sisi lain, tuturan di atas juga termasuk tindak perlokusi kalau tuturan di atas memiliki efek. Misalnya, setelah ujaran itu selesai dituturkan, tidak ada lagi siswa yang menyontek. Dengan kata lain, tuturan itu berefek pada siswa yang tadinya menyontek menjadi berhenti menyontek.

Untuk mengoptimalkan pemahaman peserta tutur (penutur dn petutur) tentang ketiga jenis tindak tutur, dibutuhkan kerja sama yang baik di antara peserta tutur sehingga tujuan komunikasi tercapai. Kerja sama itu tercapai apabila setiap peserta tutur sadar dan mengetahui peran yang dimainkannya. Ia akan bertindak sebagai penutur atau petutur pada saat yang tepat. Dasar kerja sama adalah pengetahuan bersama, sehingga penutur dan petutur dapat dengan cerdas memilah tuturan lokusi, ilokusi, dan perlokusi.

Berkaitan dengan teori tindak tutur, Searle (1976) mengulas lebih rinci tindak ilokusi menjadi lima bagian seperti berikut ini.

1. Representatif, tindak tutur yang mengikat penuturnya terhadap kebenaran atas apa yang diujarkannya, misalnya : menyatakan, melaporkan, dan menyebutkan.

2. Direktif, yaitu tindak tutur yang dilakukan penuturnya dengan maksud agar petutur melakukan tindakan sesuai maksud ujaran. Misalnya, memohon, menuntut, menyarankan, dan lain-lain.

3. Komisif, yaitu tindak tutur yang dimaksudkan penuturnya agar petuturnya melaksanakan apa yang diujarkan. Misalnya, bersumpah, berjanji, atau mengancam.

(18)

18

5. Deklarasi, yaitu tindak tutur yang dimaksudkan penuturnya untuk menciptakan sesuatu hal. Misalnya, menyatakan perang, membaptis, meresmikan sesuatu, memecat pegawai, dan lain-lain. Hal yang terpenting dari tindak tutur ini adalah satu tindak tutur memiliki beberapa fungsi, atau satu maksud dapat dinyatakan dalam beberapa tindak tutur.

Menyadari akan pentingnya tindak tutur ini, maka sudah sepantasnyalah guru-guru memanfaatkan tindak tutur dalam proses belajar-mengajar, sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. Guru yang tidak memahami hakikat tindak tutur akan berperilaku berbahasa yang mengarah pada kekerasan verbal. Akibatnya, proses pembelajaran tidak akan efektif. Misalnya, hasil pembelajaran tidak maksimal, sejumlah murid menentang guru, siswa yang tidak mengerjakan pekerjaan rumah, respon siswa terhadap pembelajaran rendah, atau ada siswa yang ogah, malas, dan bahkan takut pergi ke sekolah. Oleh karena itu, perilaku berbahasa para guru semestinya dijaga dengan baik, bukan oleh guru bahasa Indonesia saja, melainkan oleh semua guru.

4.3 Tindak Tutur Guru-guru SLTP di Kota Denpasar

Bahasa dalam kebudayaan suatu bangsa dapat diamati dalam tataran ide, perilaku, dan hasil perilaku karena bahasa melingkupi tiga wujud kebudayaan. Dalam tataran ide, bahasa membingkai pola pikir, pola pandang, cara pandang, pandangan dunia, dan ideologi penuturnya. Dalam tataran ini, bahasa berfungsi sebagai pembentuk karakter dan jati diri penuturnya. Ungkapan, petitih, pepatah, peribahasa, semboyan, atau motto adalah bukti nyata keberadaan bahasa.

Struktur sintaktik dan pola gramatika suatu bahasa juga dicurigai sebagai piranti pola pikir penutur suatu bahasa. Anggapan ini tidaklah berlebihan karena dalam persinggungan kehidupan bahasa yang kompleks unsur gramatika paling sulit dan bahkan mustahil berubah karena pengaruh bahasa lain.

Di dalam perilaku (kebudayaan sebagai tindakan), bahasa juga menampakkan diri. Budaya suatu bangsa dapat dengan mudah dikenali melalui cara mereka berbahasa. Hal ini, terpampang dengan sangat jelas ketika kita ingin mengetahui asal-usul etnik seseorang. Tanpa ragu-ragu akan kita katakan bahwa seseorang itu adalah orang Jawa, orang Batak, orang Madura, atau orang Kupang melalui perilaku berbahasa mereka.

(19)

19

dongeng, prasasti, lontar, dan karya sastra dapat dijadikan alat rekonstruksi budaya masa lalu penuturnya. Oleh karena itu, tidaklah berlebihan apabila para arkeolog mengggunakan artefak bahasa untuk merekonstruksi budaya masa silam.

Dalam kaitannya dengan penelitian ini, perilaku berbahasa guru-guru ditelaah sebagai wujud budaya sekolah yang berimplikasi terhadap proses pembelajaran. Teori tindak tutur yang dipaparkan di atas, berkorelasi terhadap perilaku berbahasa guru-guru. Oleh karena teori tindak tutur itu ada tiga jenis, maka semua perilaku berbahasa guru-guru akan ditelaah melalui tiga jenis tindak tutur ini.

4.3.1 Tindak Tutur Lokusi

Dalam kehidupan sosial di sekolah, perilaku berbahasa guru-guru tidak hanya bertujuan untuk menyuruh, menganjurkan, memerintah, atau melarang siswanya, tetapi kadangkala tuturannya hanya bertujuan untuk sekadar memberi informasi. Tuturan seperti ini tidak diukur efektivitasnya karena penutur tidak menuntut petutur untuk bertindak, atau penutur tidak melihat dampak tuturannya. Contoh tuturan seperti ini dapat dilihat di bawah ini.

(1) Sebagian besar hasil ujian tidak memuaskan.

(2) Maaf karena sesuatu dan lain hal, ujian hari ini dibatalkan.

Seperti dipaparkan di atas, tindak lokusi merupakan tindak tutur yang hanya sifatnya informatif. Dalam hal ini, guru-guru berbahasa hanya untuk memberikan informasi dan tuturan yang disampaikan memiliki acuan tertentu. Untuk membuktikan, perilaku berbahasa guru-guru itu dapat dicermati pada tuturan di bawah ini.

4.3.2 Tindak Ilokusi

(20)

20

Tindak direktif yang mencakup: memohon, menuntut, dan menyarankan dikaji semua karena tindak tutur ini paling banyak ditemukan. Tindak komisif seperti bersumpah, berjanji, dan mengancam, hanya mengancam yang dikaji. Tindak ekspresif, seperti minta maaf, berterima kasih, memberi salam, memberi selamat, dan bersyukur, tindak bersyukur tidak dibahas. Tindak deklarasi yang mencakup tindak: menyatakan perang, membaptis, memecat, dan meresmikan tidak dikaji di sini karena tindak tutur ini tidak relevan.

4.3.2.1 Tindak Direktif Menyarankan

Tindak ini dilakukan guru ketika menyarankan siswanya agar melakukan tindakan seperti yang dikehendakinya. Misalnya, ketika ujian berlangsung bangku deret depan kosong dan siswa memilih duduk di bangku belakang, guru akan menyarankan seperti tuturan berikut.

(3) Bangku di depan masih kosong, silakan yang di belakang maju.

Tuturan ini sebagian besar dipilih baik oleh guru, maupun siswa. Alasan yang didapat hampir sama karena guru dan siswa memahami tuturan ini tidak bersifat suruhan langsung, seperti tuturan :”Yang di belakang maju”, “ Saya minta yang di belakang maju”, atau “ Saya mohon dengan hormat Anda maju”.

Tuturan yang sifatnya langsung cenderung dinilai kurang santun, sedangkan tuturan yang tidak langsung dianggap santun karena petutur memiliki waktu yang cukup untuk menimbang-nimbang tuturan dimaksud. Hal ini, memang relevan dengan teori kesantunan berbahasa bahwa semakin langsung tuturan semakin tidak santun tuturan dimaksud. Fakta di atas, membuktikan bahwa pada saat guru menyarankan sesuatu kepada siswanya, guru cenderung berbahasa yang santun.

Tindak direktif menyarankan yang mengarah pada motivasi ditemukan ketika guru menyarankan siswa agar belajar lebih giat. Tuturan yang dipilih adalah tuturan di bawah ini.

(4)Siswa yang aktif tentu akan mendapat penghargaan. (5)Nilai siswa yang aktif pasti berbeda dengan yang pasif.

(21)

21

Tuturan (4), (5), (6), dan (7) adalah tuturan yang dipilih baik oleh guru, maupun oleh murid. Tuturan (4) paling banyak dipilih, kemudian tuturan (5), (6), dan (7) dipilih lebih sedikit. Ini membuktikan bahwa guru dan siswa cenderung memilih tuturan yang tidak langsung.

4.3.2.2 Tindak Direktif Minta Tolong

Pada saat guru minta tolong kepada siswa untuk melakukan sesuatu berkaitan dengan kepentingan dirinya sendiri, seperti mem-foto copy buku, atau mengambilkan sesuatu, tuturan yang dipilih seperti berikut ini. Tuturan di bawah ini disusun berdasarkan pilihan guru dan disesuaikan dengan pilihan siswa. Dari atas ke bawah memperlihatkan gradasi pilihan dimaksud.

(8) Apakah Anda bisa membantu saya untuk memfoto copy buku ini? (9) Bolehkah saya minta bantuan adik untuk memfoto copy buku ini? (10)Mohon difotocopy-kan buku ini!

(11)Tolong fotocopy-kan buku ini!

Apabila guru minta tolong demi kepentingan dirinya sendiri, guru cenderung berbahasa yang santun. Hal ini, terbutki dari banyaknya guru atau siswa yang memilih tuturan (8) di atas. Akan tetapi, apabila guru bertutur demi kepentingan siswa, maka cara berbahasanya cenderung memerintah. Perhatikan tuturan di bawah ini, ketika guru memerintah siswa untuk membaca.

(12) Baca halaman 100! (13) Tolong baca halam 100 ! (14) Saya mohon baca halaman 100! (15) Silakan baca halaman 100!

(16) Apakah kalian bisa baca halaman 100?

(22)

22

berbahasa yang tidak santun terhadap peserta tutur di bawahnya. Dalam hal ini, tampak jelas adanya hubungan bahasa dan kekuasaan dalam perilaku berbahasa guru-guru (Bourdieu, 1984: 91). Guru adalah pihak yang memiliki kuasa, sedangkan murid adalah pihak terkuasa.

4.3.2.3 Tindak Direktif Menuntut

Ketika guru menuntut siswa agar melakukan sesuatu sesuai dengan kehendaknya, guru cenderung berbahasa yang agak tegas, tetapi rasionalitas. Misalnya, ketika guru menuntut agar hasil ujian menjadi lebih baik, maka tuturan yang disampaikan seperti di bawah ini. Tuturan diurutkan dari yang paling kerap digunakan sampai yang jarang digunakan.

(17) Belajar dengan baik supaya nilai ujian bagus. (18) Saya bahagia kalau hasil ujian nanti semua bagus. (19) Semua siswa nilainya harus bagus.

Semua tuturan di atas, masih memperlihatkan kuasa penuturnya. Tampak guru sebagai entitas yang memegang kuasa, sehingga tidak memberi peluang bagi petutur untuk menolak perintah guru.

4.3.2.4 Tindak Komisif Mengancam

Tuturan yang bernada mengancam dilakukan guru ketika mendapati siswanya yang bandel. Guru, tampaknya tidak sabar dan cenderung berbahasa yang mengancam siswanya. Di bawah ini adalah urutan tuturan yang digunakan guru yang dibenarkan siswa.

(20) Kalau Anda sayang kepada orang tua, sekolah, dan guru, semestinya Anda tidak berbuat itu lagi. (21) Saya mohon perbuatan itu jangan diulang lagi.

(22) Apakah Anda berjanji tidak akan berbuat itu lagi? (23) Jangan mengulangi perbuatan itu lagi!

(24) Tolong perbuatan itu jangan diulangi!

4.3.2.5 Tindak Komisif Mengecam

(23)

23

bawah ini, disajikan tuturan dimaksud. Dari nomor (25) dan seterusnya memperlihatkan gradasi tuturan yang paling kasar sampai yang kurang kasar.

(25) Kalau berpikir pakai otak jangan pakai dengkul! (26) Begitu saja tidak bisa, lebih baik ke Rahim ibumu! (27) Apakah kamu punya otak?

(28)Tolong belajar lebih giat lagi, saya yakin kamu bisa.

4.3.2.6 Tindak Ekspresif Memberi Selamat

Seperti dijelaskan di atas, bahwa tindak tutur ekspresif adalah tindak tutur yang menyatakan isi hati penuturnya. Fakta memperlihatkan bahwa ketika guru melihat keberhasilan siswanya, guru biasanya tidak menunjukkan isi hatinya dengan tuturan langsung. Guru memilih tuturan tidak langsung, sehingga tampak menyembunyikan isi hatinya. Perhatikan tuturan di bawah ini. Tuturan paling di atas digunakan lebih banyak daripada tuturan di bawahnya.

(29) Selamat ya, saya berharap sukses ini tidak membuat kamu lupa diri. (30) Selamat atas prestasimu.

(31)Kamu memang sangat luar biasa. (32) Kamu sangat hebat.

4.3.2.7 Tindak Ekspresif Minta Maaf

Tindak tutur ini dilakukan apabila penutur melakukan kesalahan terhadap mitra tuturnya. Perilaku berbahasanya adalah ungkapan rasa bersalah. Berbuat salah dapat menimpa siapa saja, tidak terkecuali guru terhadap muridnya. Persoalan yang muncul adalah apakah seseorang bersedia melakukan permohonan maaf itu, atau kalau bersedia sejauh mana ketulusan permohonan maaf itu? Fakta membuktikan bahwa peristiwa komunikasi guru dengan murid sifatnya asimetris. Dalam hal ini, guru masih memperlihatkan sikap berbahasanya sebagai entitas yang superior, dan murid sebagai entitas yang emperior.

(24)

24

Tuturan di bawah ini sangat jelas menggambarkan bahwa, sekalipun guru harus minta maaf pada siswa, ia tidak akan melakukannya dengan tulus. Perilaku berbahasanya hanya sekadar memenuhi tuntutan formalitas. Bahkan, kata maaf tidak muncul dalam tuturannya. Tuturan di bawah ini diurutkan dari derajat yang paling tinggi sampai yang rendah.

(33) Ujian hari ini dibatalkan.

(34) Maaf karena sesuatu dan lain hal, ujian hari ini dibatalkan.

(35) Dengan sangat menyesal, saya sampaikan bahwa ujian hari ini dibatalkan. (36) Saya berharap kalian tidak berkeberatan karena hari ini tidak jadi ujian.

4.3.3 Tindak Perlokusi

Di atas telah disinggung bahwa hubungan komunikasi guru dengan siswa merupakan hubungan komunikasi yang tidak simetris. Dengan demikian, komunikasi guru- murid sifatnya adalah top down. Sebagian besar perilaku berbahasa guru-guru menuntut agar siswa melakukan apa yang disampaikan guru. Tuturannya senantiasa mengharapkan perubahan sikap dan pandangan siswa. Dalam teori tindak tutur ini termasuk tindak perlokusi.

Dalam pembahasan tindak ilokusi sudah dinyatakan bahwa baik tindak direktif, komisif, maupun ekspresif semua berdampak pada perubahan pandangan dan sikap siswa. Oleh karena itu, kajian terhadap tindak perlokusi sudah tercakup di dalamnya. Hanya satu situasi tutur yang benar-benar sifatnya perlokusif. Di bawah ini adalah tuturan yang disampaikan guru, ketika mendapati nilai ujian siswa sebagian besar jelek. Tuturan diurutkan sesuai dengan kekerapannya.

(37) Saya kecewa mengapa sebagian besar hasil ujian jelek? (38) Sebagian besar hasil ujian tidak memuaskan.

(25)

25

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan

Berdasarkan hasil pembahasan di depan, dapat disimpulkan bahwa perilaku berbahasa guru-guru SLTP yang adpa di Kecamatan Denpasar Timur dan Kecamatan Denpasar Selatan adalah sebagai berikut. Pertama, perilaku berbahasa guru dengan siswa adalah perilaku berbahasa yang asimetris, yaitu guru sebagai pihak penguasa dan murid sebagai pihak terkuasa. Implikasinya adalah tuturan murid cenderung lebih santun daripada tuturan guru.

Kedua, perilaku berbahasa guru-guru sebagian besar tidak mengarah pada kekerasan verbal, meskipun tuturan guru belum tergolong sangat santun. Ini tampak pada beberapa tindak ilokusi yang sifatnya umum. Akan tetapi, ketika guru menghadapi siswa yang nakal, bandel, atau bodoh guru cenderung tidak sabar dan perilaku berbahasanya mengarah pada kekerasan verbal, misalnya mengecam dan mengancam.

Ketiga, ada perbedaan pilihan guru dan pilihan siswa. Ini membuktikan bahwa guru-guru cenderung menyembunyikan perilaku berbahasanya. Hal ini dapat dimaklumi karena kasus kekerasan anak yang marak belakang ini, dan guru takut dianggap sebagai pelaku kekerasan.

5.2 Saran

Tujuan pembelajaran akan tercapai dengan baik, apabila komunikasi guru dan murid terlaksana dengan baik. Komunikasi yang baik terjadi kalau hubungan antarpelibat bersifat simetris. Meskipun guru dan murid memiliki posisi yang vertikal, ada baiknya guru menganggap murid sebagi mitra tuturnya. Dengan demikian, dalam komunikasi akan terjadi perubahan peran, guru sebagai penutur, dan murid sebagai petutur. Selanjutnya, guru sekali-kali menjadi petutur dan murid sebagi penutur. Hanya dengan menganggap sebagai subjek, dan tidak semata-mata objek komunikasi guru-murid akan berjalan harmonis. Oleh karena itu, sangat penting artinya semua guru memahami cara-cara berbahasa yang santun.

(26)

26

DAFTAR PUSTAKA

Alisyahbana, Sutan Takdir. 1979.Arti Bahasa, Pikiran, dan Kebudayaan dalam Hubungan Sumpah Pemuda 1928. Pidato Sambutan Penerimaan Gelar Doktor Honoris Causa pada Universitas

Indonesia. Jakarta; PT Dian Rakyat.

Anderson, Benedict R.O,’G 1990.Language and Power:Exploring Political Cultures in Indonesia. United States of America: Cornel University Press.

Austin,JL. 1962. How to Do Things With Words. Cambridge,Mass Harvard University Press.

Branneau,Julia. 1997. Memadu Metode Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif, Terjemahan H.Nuktah Arfaweie Kurde. Yogyakarta; Fakultas Tarbiyah IAIN Antasari Samanda.

Brown, Penelope dan S.C. Levinson .1978.” Universal in Language Usage: Politenes Phenomena” dalam Esther N.Goody (Peny.) Question and Politenes. Cambridge; Cambridge University Press. Casson, Ronald W.1981..Language, Culture, and Cognition: Anthrophological Perspective. New York: Macmilan Publishing Co.Inc.

Carrol,John.B.(Ed.).1969.Language, Tought, and Reality: Selected Writings of Benyamin Lee Worf. Cambridge: Massachusets; The MIT Press .

Faiclough, Norman.1989. Language and Power.London dan New York: Longman.

Kridalaksana, Harimurti. 1982. Fungsi Bahasa dan Sikap Bahasa. Ende, Flore: Nusa Indah. Levison,S.C.191983. Pragmatic:Cambridge: Cambridge University Press.

Simpen, I Wayan. 2011.” Fungsi Bahasa dan Kekerasan Verbal dalam Masyarakat” Orasi ilmiah Pengenalan Jabatan Guru Besar tetap di Universitas Udayana.

Simpen, I Wayan. 2008.Pelangi Bahasa Indonesia. Denpasar: Pustaka Larasan.

(27)

27

Catatan Kegiatan Penelitian “Perilaku Berbahasa Guru

-Guru SLTP

di Kota Denpasar: Kajian Pragmatik”

No.

Nama Kegiatan

Pelaksana

Kegiatan

Waktu dan Tempat

1

Penyusunan proposal

Ketua tim

Denpasar, Januari 2015

2

Perubahan proposal

Seluruh tim

Denpasar, awal Februari 2015

3

Finalisasi proposal

Seluruh tim

Denpasar, akhir Februari 2015

4

Pengajuan proposal

Tim

Bukit, awal Maret 2015

5

Keputusan proposal dikirim

Tim

Bukit, April 2015

6

Penyusunan kuesioner

penelitian

Ketua tim

Denpasar, Mei 2015

7

Perubahan kuesioner

Sekretaris tim

Denpasar, Akhir mei 2015

8

Finalisasi dan perbanyak

kuesioner

Semua tim

Denpasar, Juni 2015

9

Penyebaran kuesioner ke

sekolah

Salah satu tim

Denpasar, awal Juli 2015

10 Pengumpulan kuesioner

Tim

Denpasar, 15 Juli 2015

11 Tabulasi, analisis data dari

penyusunan draft penulis

Tim

Denpasar, Juli-Agustus 2015

12 Diskusi draft

Tim

Denpasar, September 2015

Referensi

Dokumen terkait

Riza Fandopa, MT Sumasto Project Manager

Menimbang, bahwa Majelis Hakim telah berusaha mendamaikan Pemohon dan Termohon dengan memberikan nasehat, agar tidak terjadi perceraian dan Majelis

Ditinjau dari strukturnya, mahadata dapat dibagi ke dalam empat kategori (i) unstructured , data yang tidak punya struktur koheren dan dapat berupa teks, audio,

ANALISIS PERBAND INGAN MOTIVASI OLAHRAGA PARTISIPAN JAWA BARAT D AN LUAR JAWA BARAT SERTA PENGARUHNYA TERHAD AP KEPUTUSAN MENGIKUTI TAHURA TRAIL RUNNING RACE..

Ketidakseimbangan antara fungsi onkogen dengan gen tumor

Tidak berbeda dengan perusahaan perusahaan lainnya PT Bank Muamalat Indonesia juga memiliki stok persediaan alat-alat untuk keperluan kantor, bahkan dengan

Jumlah tandan bunga yang terbentuk pada kedua varietas dari umur 4 MST hingga 11 MST sangat berbeda nyata (Tabel 4) Komposisi media tanam yang digunakan juga

Menyatakan dengan sesungguhnya dan sejujurnya, bahwa skripsi saya yang berjudul:” STUDI TENTANG PROSES RITUAL ADAT KEMATIAN SUKU DAYAK AGABAG DI DESA TETABAN