• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. LANDASAN TEORI. 8 Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "2. LANDASAN TEORI. 8 Universitas Kristen Petra"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

2. LANDASAN TEORI

2.1 Bank

Bank menurut Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk produk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup masyarakat. Pasal 4 Undang- Undang Nomor 10 Tahun 1998 menyebutkan bank memiliki tujuan untuk menunjang pelaksanaan pembangunan nasional dalam rangka meningkatkan pemerataan, pertumbuhan ekonomi, dan stabilitas nasional ke arah peningkatan kesejahteraan rakyat banyak.

Bank menurut jenisnya terdiri dari dua jenis yaitu (Rivai, Basir, Sudarto, &

Veithzal, 2012):

1. Bank Umum

Bank umum adalah bank yang mengkhususkan diri untuk melaksanakan kegiatan tertentu atau memberikan perhatian yang lebih besar kepada kegiatan tertentu seperti kegiatan pembayaran jangka panjang, pembiayaan untuk pengembangan koperasi, pengembangan pengusaha golongan kecil, pengembangan ekspor nonmigas, pengembangan pembangunan perumahan, dan lain-lain.

2. Bank Perkreditan Rakyat

Bank perkreditan rakyat adalah bank yang menerima simpanan hanya dalam bentuk deposito berjangka, tabungan, dan bentuk lain yang dipersamakan dengan itu.

Tiga fungsi utama bank menurut Kuncoro & Suhardjono (2011) adalah (1) menghimpun dana masyarakat dalam bentuk simpanan, (2) menyalurkan dana ke masyarakat dalam bentuk kredit, (3) melancarkan transaksi perdagangan dan peredaran uang.

Agar bank dapat menjalankan fungsinya, bank membutuhkan dana untuk dapat memberikan kredit kepada pihak ketiga. Dana bank adalah semua utang dan

(2)

modal yang tercatat pada sisi pasiva neraca bank yang dapat dipergunakan sebagai modal operasional bank dalam rangka kegiatan penyaluran atau penempatan dana.

Menurut Kuncoro & Suhardjono (2011), ada tiga sumber dana bank yang dapat digunakan sebagai modal operasional bank, yaitu sebagai berikut:

1. Dana Sendiri (Dana Pihak Pertama)

Dana sendiri adalah dana yang berasal dari pemegang saham bank atau pemilik bank. Dana sendiri terdiri dari tiga jenis yaitu modal disetor, cadangan, dan laba ditahan.

2. Dana Pinjaman dari Pihak di Luar Bank (Dana Pihak Kedua) Dana pinjaman dari pihak di luar bank adalah dana yang bersumber dari beberapa pihak yang memberikan pinjaman kepada bank.

Terdapat empat pihak pemberi pinjaman kepada bank yaitu pinjaman dari bank lain di dalam negeri, pinjaman dari bank atau lembaga keuangan di luar negeri, pinjaman dari lembaga keuangan bukan bank, dan pinjaman dari bank sentral.

3. Dana Masyarakat (Dana Pihak Ketiga)

Dana masyarakat adalah dana yang berasal dari masyarakat yang diperoleh bank dengan menggunakan berbagai instrumen produk simpanan yang dimiliki oleh bank. Produk simpanan bank terdiri dari tiga jenis yaitu giro, deposito, dan tabungan.

Dana yang dihimpun bank kemudian disalurkan lagi kepada masyarakat dalam bentuk kredit agar fungsi utama bank sebagai lembaga perantara antara pihak-pihak yang kelebihan dana dengan pihak-pihak yang kekurangan dana dapat terlaksana. Jenis-jenis kredit dalam sektor perbankan dikelompokkan sebagai berikut:

1. Kredit berdasarkan ciri dan tujuan penggunaannya yang terdiri dari kredit modal kerja, kredit investasi, dan kredit konsumtif.

2. Kredit berdasarkan cara pelunasannya yang terdiri dari kredit dengan angsuran tetap, kredit dengan plafond menurun setiap periode tertentu dan kredit dengan plafond tetap.

3. Kredit berdasarkan jangka waktu yang terdiri dari kredit jangka pendek, kredit jangka menengah, dan kredit jangka panjang.

(3)

4. Kredit berdasarkan besarnya fasilitas kredit yang terdiri dari kredit kecil, kredit menengah, dan kredit besar.

5. Kredit berdasarkan beentuk bentuk kredit yang terdiri dari kredit berbentuk persekot dan kredit berbentuk rekening koran.

Selain menghimpun dan menyalurkan dana, bank juga mempunyai fungsi untuk melancarkan pembayaran perdagangan dan peredaran uang. Fungsi melancarkan pembayaran perdagangan dibedakan menjadi dua macam yaitu transaksi perdagangan dalam negeri dan transaksi perdagangan luar negeri.

Transaksi perdagangan dalam negeri terdiri dari dua mekanisme yaitu melalui pembayaran dengan menggunakan cek atau bilyet giro dan pembayaran dengan menggunakan setoran tunai. Transaksi perdagangan luar negeri meggunakan dua cara pembayaran yaitu pembayaran dengan letter of credit (L/C) dan pembayaran tanpa letter of credit. Fungi bank untuk memperlancar peredaran uang dapat dilaksanakan dengan dua mekanisme. Mekanisme pertama menggunakan sejumlah buku cek atau bilyet giro dimana penerima atau penjual tidak perlu menerima uang dalam bentuk tunai tetapi cukup dengan cek atau bilyet giro yang akan menambah saldo giro di dalam rekening giro milik penerbit cek atau bilyet giro tanpa ada tambahan uang fisik sehingga peranan bank sebagai lembaga yang mempercepat peredaran uang dapat terlaksana. Mekanisme yang kedua adalah nasabah menyimpan dananya di bank kemudian dana tersebut dipinjamkan bank kepada masyarakat yang akan digunakaan untuk membayar kepada supplier atau rekanan sehingga uang yang beredar di masyarakat bertambah. Dana yang diterima suplier disimpan lagi di bank kemudian bank mempunyai dana yang dapat dipinjamkan kembali ke nasabah yang akan menambah jumlah uang beredar. Mekanisme ini akan terus menerus berjalan sehingga fungsi bank sebagai lembaga yang memperlancar peredaran uang dapat berlangsung.

Bank dalam menjalankan fungsinya akan melakukan pengelolaan aset dan liabilitasnya yang disebut dengan manajemen aset dan dan liabilitas atau dikenal dengan ALMA (Asset and Liability Management). Aset dan liabilitas pada setiap bank dikelola oleh Asset and Liability Committee (ALCO). Keberadaan ALMA dalam setiap bank adalah untuk mengelola risiko-risiko yang mungkin timbul dalam kegiatan operasional sehari-hari sehingga bank dapat memaksimumkan

(4)

pendapatannya sekaligus membatasi risiko aset dan liabilitas dengan mematuhi ketentuan kebijakan moneter dan pengawasan bank (Rivai, Basir, Sudarto, &

Veithzal, 2012).

Menurut Rivai, Basir, Sudarto, & Veithzal (2012) ada enam risiko yang dihadapi setiap bank dalam menjalankan usahanya, yaitu sebagai berikut:

1. Risiko Kredit

Risiko kredit adalah risiko dimana debitur tidak akan memenuhi kewajibannya tepat pada waktunya atau lalai membayar. Risiko kredit dapat menimbulkan risiko likuiditas.

2. Risiko Likuiditas

Risiko likuiditas adalah risiko dimana bank tidak dapat memenuhi kewajibannya tepat pada waktunya. Risiko likuiditas biasanya timbul dari cara bank mengelola primary dan secondary reserve serta pendanaan sehari-hari.

3. Risiko Kebijakan Penetapan Harga (Pricing)

Risiko pricing adalah risiko kerugian sebagai akibat perubahan tingkat suku bunga seperti menurunnya margin dari penanaman dana atau kerugian sebagai akibat menurunnya nilai aktiva.

Manajemen bank mengatur penetapan harga aset dan liabilitasnya dengan cara yang bisa memberikan Net Interest Income (NII) bagi bank.

4. Risiko Perdagangan Valuta Asing

Risiko perdagangan valuta asing adalah risiko kerugian sebagai akibat perubahan tingkat kurs karena adanya pergerakan kurs yang merugikan. Risiko ini timbul dari posisi bank dalam berbagai macam mata uang asing, yaitu long, short atau square yang tergantung pada apakah sisi aset mata uang tertentu lebih besar, lebih kecil atau seimbang dibandingkan dengan sisi liabilitasnya.

5. Risiko Gap

Risiko gap adalah risiko kerugian dari adanya ketidakseimbangan interest rate maturity karena adanya pergerakan tingkat bunga yang merugikan. Risiko gap timbul apabila dalam suatu periode tertentu

(5)

terjadi ketidakseimbangan antara interest rate maturity dari aset dan liabilitas sehingga pendapatan bank menjadi sensitif terhadap perubahan tingkat suku bunga di pasar.

6. Risiko Kontinjensi

Risiko kontinjensi adalah risiko yang timbul sebagai akibat transaksi kontinjen seperti pembukuan L/C, bank garasi, dan kontrak valuta asing berjangka.

Bank dalam mengatasi risiko yang timbul kemudian melakukan manajemen untuk masing-masing risiko. Berikut ini adalah manajemen yang dilakukan setiap bank menurut Rivai, Basir, Sudarto, & Veithzal (2012):

1. Manajemen Likuiditas

Menjaga likiuditas bank bertujuan untuk memperkecil risiko likuiditas yang disebabkan adanya kekurangan. Dalam mengelola likuiditas, selalu akan terjadi benturan kepentingan antara keputusan untuk menjaga likuiditas dan meningkatkan pendapatan.

Dalam manajemen likuiditas diperlukan adanya keseimbangan antara dua kepentingan tersebut. Bank perlu mengatur posisi keuangan untuk menghadapi kejadian sehari-hari seperti penarikan deposito atau permintaan kredit nasabah. Tingkat likuiditas bank terdapat tiga pembagian yaitu likuiditas sehari-hari, likuiditas jangka pendek, dan likuiditas jangka panjang.

2. Manajemen Investasi

Alokasi dana bank selain untuk pemberian kredit, ada beberapa persen dana yang dialokasikan bank pada surat-surat berharga sebagai tujuan untuk menambah likuiditas dan pendapatan bank.

Ada beberapa pertimbangan yang harus dilakukan bank ketika mengambil keputusan investasi, yaitu jangka waktu, tingkat bunga, pajak, kualitas, keamanan, diversifikasi dan prospek surat berharga di masa depan.

3. Manajemen Gap

Besarnya gap akan menentukan besarnya potensi keuntungan atau kerugian yang akan timbul dari perubahan tingkat bunga.

(6)

Manajemen gap yang dilakukan bank bertujuan untuk menghindari kerugian dari perubahan tingkat bunga, mengusahakan pendapatan dalam batas risiko tertentu, dan menunjang kebutuhan manajemen likuiditas bank. Gap yang akan diambil oleh manajemen bank biasanya bergantung pada tiga hal yaitu, perkiraan arah perkembangan tingkat bunga, tingkat keyakinan manajemen terhadap perkiraan tersebut, dan keinginan bank untuk mengambil risiko jika tindakan yang diambil salah.

4. Manajemen Valuta Asing

Bank melakukan kegiatan transaksi valuta asing pada umumnya mempunyai tiga alasan yaitu, memberikan pelayanan kepada nasabah, kepentingan bank sendiri, dan memperoleh keuntungan.

Pengelolaan valuta asing bertujuan untuk mengelola jumlah dan risiko valuta asing dan mengoptimalkan pendapatan valuta asing bank dengan batas-batas risiko yang dapat diterima bank. Adanya risiko pada transaki valuta asing menyebabkan bank perlu menetapkan limit atau parameter transaksi valuta asing (Rivai, Basir, Sudarto, & Veithzal, 2012).

5. Manajemen Pricing

Manajemen pricing adalah kegiatan manajemen bank untuk menentukan tingkat suku bunga dari produk yang ditawarkan bank baik di sisi aset maupun liabilitas sehingga bank dapat mencapai tujuan penghasilan dan tujuan operasional lainnya. Ada beberpa faktor yang dipertimbangkan bank terkait dengan manajemen pricing yaitu, faktor pasar seperti tingkat suku bunga di pasar, faktor ALMA, faktor operasional bank, dan faktor kebijakan Bank Indonesia dan pemerintah.

6. Manajemen Dana

Manajemen dana mencakup semua kegiatan bank yang dapat dilihat dalam pos-pos di sisi aktiva maupun pasiva. Pengelolaan dana terdapat dua macam yaitu manajemen penggunaan dana atau Asset Management dari sisi aktiva dan manajemen sumber dana

(7)

atau Liability Management dari sisi pasiva. Liability Management terbagi menjadi tiga bagian yaitu, Deposit Management, Borrowing Management, dan Capital Mangement. Keberhasilan bank dalam mengelola sumber dan penggunaan dana sangat menentukan keberhasilan bisnis bank dimana bank dapat menghimpun dana dengan komposisi biaya termurah dan menyalurkan dana dengan risiko terendah dan menghasilkan pendapatan terbesar. Manajemen sumber dana bank mencakup kegiatan dalam rangka mengumpulkan dana dari masyarakat dan sumber lainnya dan menetapkan komposisi dana tersebut sesuai dengan yang dibutuhkan. Sedangkan manajemen penggunaan dana mencakup kegiatan pengalokasian dana yang terdiri dari dua macam yaitu alokasi dana yang tidak menghasilkan pendapatan (Non-Earning Assets) dan alokasi dana yang menghasilkan pendapatan (Earning Assets).

Selain melakukan manajemen aset dan liabilitas, bank juga perlu menjaga tingkat kesehatannya. Dengan diketahuinya kondisi suatu bank, semua pihak yang memiliki kepentingan terhadap bank dapat melakukan evaluasi kinerja bank dalam menerapkan prinsip kehati-hatian, kepatuhan terhadap ketentuan yang berlaku, dan manajemen risiko (Rivai, Basir, Sudarto, & Veithzal, 2012).

Kesehatan bank harus selalu dipelihara agar kepercayaan masyarakat terhadap bank dapat tetap terjaga. Pada tahun 2011, Bank Indonesia mengeluarkan Peraturan Bank Indonesia Nomor 13/1/PBI/2011 yang mengatur tentang penilaian tingkat kesehatan bank sebagai berikut:

1. Profil Risiko

Penilaian terhadap profil risiko merupakan penilaian yang dilakukan terhadap delapan risiko yaitu, risiko kredit, risiko pasar, risiko likuiditas, risiko operasional, risiko hukum, risiko stratejik, risiko kepatuhan, dan risiko reputasi.

(8)

2. Good Corporate Governance (GCG)

Penilaian GCG dilakukan terhadap manajemen bank dalam menerapkan prinsip-prinsip tata kelola perusahaan yang baik sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan Bank Indonesia.

3. Rentabilitas (Earnings)

Penilaian rentabilitas dilakukan terhadap kinerja earnings, sumber- sumber earnings, dan sustainability earnings melalui aspek kuantitatif dan kualitatif. Aspek kuantitatif dilakukan dengan menggunakan indikator utama sebagai dasar penilain yang terdiri dari ROA, NIM, kinerja komponen laba actual terhadap proyeksi anggaran, dan kemampuan komponen laba dalam meningkatkan permodalan. Sedangkan aspek kualitatif dilakukan dengan dengan mempertimbangkan manajemen rentabilitas dan prospek rentabilitas.

4. Permodalan (Capital)

Penilaian terhadap faktor permodalan meliputi penilaian terhadap tingkat kecukupan permodalan dan pengelolaan permodalan bank.

2.2 Struktur Modal

Struktur modal adalah kombinasi antara utang dan modal sendiri yang digunakan oleh perusahaan untuk mendanai kegiatan operasional perusahaan (Besley & Brigham, 2005). Untuk menjalankan kegiatan operasionalnya, perusahaan membutuhkan dana sebagai modal. Tugas manajemen keuangan agar operasional perusahaan dapat berjalan dengan lancar adalah menentukkan dan menjaga struktur modal perusahaan pada tingkat yang optimal (Besley &

Brigham, 2005). Keputusan struktur modal perusahaan berkaitan dengan pemilihan sumber dana baik dari dana internal perusahaan maupun dana eksternal perusahaan. Dana internal perusahaan adalah dana yang berasal dari internal perusahaan seperti laba ditahan. Sedangkan dana eksternal adalah dana yang diperoleh dari luar perusahaan seperti utang, obligasi atau penerbitan saham baru.

Setiap keputusan struktur modal yang diambil oleh perusahaan memiliki biaya. Jika perusahaan menggunakan utang, maka biaya yang dibayar perusahaan

(9)

dalam bentuk bunga. Namun terdapat manfaat yang diperoleh perusahaan dari penggunaan utang yaitu berupa penghematan pajak. Sedangkan jika perusahaan memilih menggunakan ekuitas, maka biaya yang dikeluarkan perusahaan dalam bentuk dividen. Perusahaan dalam memenuhi kebutuhan modalnya akan memilih keputusan struktur modal dengan biaya seminimal mungkin. Keputusan struktur modal yang tidak cermat akan menimbulkan biaya modal yang tinggi, yang selanjutnya akan mempengaruhi penurunan profitabilitas perusahaan dan dalam kondisi yang ekstrim dapat menyebabkan perusahaan mengalami kondisi financial distress dan kebangkrutan (Brigham & Houston, 2012). Keputusan struktur modal perusahaan dapat mempengaruhi kinerja keuangan perusahaan sehingga keputusan struktur modal memiliki peranan yang penting bagi perusahaan.

Menurut Moyer, McGuigan, & Rao (2012) struktur modal terdiri dari jumlah utang jangka pendek permanen, utang jangka panjang, dan ekuitas untuk membiayai sebuah perusahaan. Penelitian yang dilakukan Titman & Wessels (1988) tentang determinan struktur modal mendefinisikan struktur modal sebagai kombinasi utang dengan ekuitas dimana utang dapat diukur dengan menggunakan tiga rasio yaitu utang jangka pendek, utang jangka panjang, dan total utang.

Plesko (n.d), Bowen, Daley & Huber (1982), dan Chang, Higgins & Rhee (1992) juga melakukan penelitian serupa yang meneliti struktur modal dengan menggunakan rasio utang jangka pendek, utang jangka panjang, dan total utang (dalam Plesko, n.d).

Terdapat beberapa teori yang dianggap relevan untuk mendukung keputusan penentuan struktur modal. Teori Modigliani-Miller, Teori Trade-Off, Teori Pecking Order, dan Teori Agency menjelaskan bagaimana perusahaan membuat keputusan berkaitan dengan penentuan struktur modal.

2.2.1 Teori Modigliani-Miller

Modigliani & Miller (1958) mengeluarkan teori struktur modal yang selanjutnya dikenal dengan teori MM. Teori MM menjelaskan bahwa nilai perusahaan tidak dipengaruhi oleh struktur modalnya atau sering disebut sebagai capital structure irrelevance principle.

(10)

Teori ini mempunyai beberapa asumsi sebagai berikut (Brigham &

Houston, 2012):

1. Tidak terdapat agency cost.

2. Tidak terdapat pajak baik perseorangan maupun perusahaan.

3. Tidak ada biaya perantara (brokerage cost) sehingga investor dapat berutang pada tingkat suku bunga yang sama dengan perusahaan.

4. Investor mempunyai informasi yang sama dengan manajemen mengenai prospek perusahaan di masa depan.

5. Tidak ada biaya kebangkrutan.

6. Earning before Interest and Taxes (EBIT) tidak dipengaruhi oleh penggunaan utang.

7. Investor adalah price taker.

8. Jika perusahaan mengalami kebangkrutan, aset dapat dijual pada harga pasar.

Pada kenyataannya, asumsi-asumsi yang dikeluarkan MM tidak realistis.

Seiring bertambahnya utang, biaya kebangkrutan juga akan meningkat jika manfaat yang diperoleh perusahaan akibat penggunaan utang lebih kecil dibanding dengan biaya yang harus dikeluarkan. Selain itu, adanya asimetri informasi antara investor dan manajemen perusahaan menyebabkan investor tidak dapat meminjam utang dengan tingkat suku bunga yang sama dengan perusahaan.

Karena beberapa asumsi teori MM yang tidak realistis, maka teori ini dipandang sebagai permulaan munculnya teori struktur modal.

Modigliani & Miller (1963) melanjutkan penelitian tentang teori struktur modal dengan menggunakan asumsi adanya pajak. Dengan adanya pajak, MM menyimpulkan penggunaan utang akan meningkatkan nilai perusahaan karena biaya bunga utang adalah biaya yang mengurangi pembayaran pajak. Dengan demikian teori ini menyatakan keputusan struktur modal dapat mempengaruhi nilai suatu perusahaan.

2.2.2 Teori Trade-off

Teori trade-off adalah teori yang membahas tentang hubungan antara pajak, biaya kebangkrutan, dan penggunaan utang akibat keputusan struktur

(11)

modal yang diambil oleh perusahaan. Teori Modigliani dan Miler (1963) mengemukakan dengan asumsi adanya pajak dan tidak ada biaya kebangkrutan, nilai perusahaan akan meningkat ketika penggunaan utang semakin besar karena adanya manfaat keuntungan pajak sebagai akibat penggunaan utang sehingga nilai perusahaan dapat dimaksimalkan dengan pendanaan sebagian besar oleh utang.

Pada kenyataannya, pendanaan perusahaan dengan menggunakan utang sebanyak- banyaknya sulit untuk dilaksanakan (DeAngelo & Masulis, 1980).

Dalam teori trade-off yang dicetuskan oleh Kraus & Litzenberger (1973) menjelaskan bahwa terdapat keseimbangan antara manfaat penghematan pajak dan biaya kebangkrutan yang timbul akibat penggunaan utang untuk meningkatkan nilai perusahaan. Ketika manfaat yang diperoleh perusahaan masih lebih besar dari biaya yang akan timbul, perusahaan masih akan menggunakan utang. Nilai perusahaan akan semakin meningkat seiring dengan semakin meningkatnya utang. Tetapi peningkatan nilai perusahaan akibat penggunaan utang yang semakin tinggi hanya pada sampai titik optimal tertentu. Melewati titik optimal, penggunaan utang oleh perusahaan akan menurunkan nilai perusahaan.

Oleh karena itu, perusahaan harus mengatur struktur modalnya agar berada pada titik yang optimal.

Namun, tidak mudah bagi perusahaan untuk menerapkan struktur modal yang optimal. Keputusan struktur modal tidak hanya mempertimbangkan biaya kebangkrutan dan pajak saja tetapi keputusan struktur modal juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lain seperti sikap manajemen dalam menghadapi risiko, kondisi ekonomi, jenis perusahaan, dan struktur aktiva perusahaan (Sudana, 2011).

2.2.3 Teori Pecking Order

Dalam teori Modligani dan Miler berasumsi bahwa investor memiliki informasi yang sama dengan manajer yang disebut dengan informasi simetri.

Namun dalam praktek, manajer seringkali memiliki informasi yang lebih baik dari investor luar sehingga muncul informasi asimetri yang mendasari teori Pecking Order.

Myers (1984) mengemukakan teori Pecking Order yaitu adanya suatu urutan keputusan pendanaan dimana manajer pertama kali akan memilih

(12)

menggunakan dana internal yaitu laba ditahan, kemudian dana eksternal berupa utang, dan ekuitas sebagai alternatif terkahir. Teori Pecking Order menjelaskan mengapa perusahaan mempunyai urutan-urutan preferensi dalam memilih sumber pendanaan. Perusahaan yang profitable pada umumnya meminjam utang dalam jumlah yang sedikit karena memilik laba ditahan yang cukup untuk mendanai perusahaan. Sedangkan perusahaan yang kurang profitable cenderung memiliki utang yang lebih besar karena dana internal yang tidak mencukupi kebutuhan dana perusahaan. Perusahaan lebih memilih untuk menggunakan utang daripada ekuitas ketika menggunakan dana eksternal karena adanya pertimbangan biaya utang akan lebih murah dibanding dengan biaya penerbitan saham.

Selain itu, adanya informasi asimetri menyebabkan penggunaan utang lebih diminati dibanding dengan ekuitas. Hal ini disebabkan manajemen diasumsikan mengetahui nilai sebenarnya dari sebuah perusahaan dibandingkan pihak eksternal perusahaan. Akibatnya, ketika perusahaan menerbitkan sahamnya, investor akan beranggapan perusahaan menerbitkan sahamnya karena perusahaan mengalami overvalued sehingga investor akan memberikan harga yang rendah pada penerbitan saham tersebut. Oleh karena itu, perusahaan lebih menyukai menggunakan utang dibanding dengan ekuitas.

Menurut Myers (1984) urutan pendanaan Pecking Order adalah sebagai berikut:

1. Perusahaan cenderung memilih menggunakan dana internal.

2. Perusahaan menyesuaikan target dividend payout ratios terhadap peluang investasi perusahaan.

3. Jika arus kas internal perusahaan lebih kecil daripada pengeluaran investasi, perusahaan akan menggunakan cash balance atau portofolio sekuritas yang diperjualbelikan.

4. Jika perusahaan membutuhkan dana eksternal, pertama-tama perusahaan akan menerbitkan sekuritas yang paling aman yaitu dimulai dengan utang, convertible bonds, dan ekuitas sebagai alternatif terakhir.

Penelitian Donaldson (1961) juga menjelaskan manajer perusahaan cenderung memilih dana internal daripada dana eksternal sebagai sumber dana

(13)

perusahaan. Ketika perusahaan membutuhkan dana eksternal, penggunaan utang memiliki keunggulan dibanding dengan menerbitkan saham. Prinsipnya adalah menerbitkan sekuritas yang paling aman terlebih dahulu sebelum menerbitkan sekuritas yang berisiko (Myers, 1984).

2.2.4 Teori Agency

Jensen & Meckling (1976) mendefinisikan hubungan keagenan (agency theory) sebagai kontrak antara manajemen sebagai agen perusahaan dan pemilik perusahaan sebagai principal dimana manajemen diberi tugas dan delegasi untuk membuat beberapa keputusan oleh pemilik. Teori keagenan berasumsi manajer sebagai agen perusahaan cenderung tidak mengambil keputusan yang optimal dari sudut pandang atau kepentingan pemilik sehingga timbul perbedaan kepentingan antara manajer dan pemilik atau pemegang saham. Perbedaan kepentingan ini dapat diminimalisasi dengan memberikan insentif yang wajar kepada agen dan melakukan pengawasan untuk membatasi aktivitas agen yang menyimpang.

Pemberian insetif dan pengawasan ini membutuhkan biaya yang disebut dengan agency cost.

Penelitian Jensen (1986) mengemukakan penggunaan utang akan mengurangi agency cost. Manajer diwajibkan membayar pokok pinjaman dan bunga utang kepada pemberi pinjaman dengan menggunakan arus kas bebas perusahaan. Oleh karena itu, penggunaan utang akan mengurangi agency cost karena berkurangnya arus kas bebas perusahaan yang dapat dipakai oleh manajer untuk membayar bunga utang.

Penggunaan utang yang dapat meningkatkan kinerja perusahaan akan memberikan keuntungan baik manajemen maupun pemegang saham. Pemegang saham diuntungkan dengan adanya apresiasi saham dan dividen. Sedangkan manajemen mendapatkan keuntungan berupa bonus. Sebaliknya jika penggunaan utang justru menurunkan kinerja perusahaan, pemegang saham akan memiliki dampak negatif yang lebih besar dibanding dengan manajemen. Pemegang saham akan dirugikan dengan adanya depresiasi saham dan penurunan dividen sedangkan manajemen hanya dirugikan dengan adanya penurunan bonus tetapi masih menerima gaji penuh yang konstan.

(14)

2.3 Utang

Utang adalah perjanjian kontrak antara perusahaan dengan pemberi pinjaman yang meliputi pokok pinjaman, bunga dan jangka waktu (Swanson, Srinidhi, Seetharaman, 2003). Sumber pendanaan bank terdiri dari dua sumber yaitu perpaduan antara utang dan ekuitas. Utang untuk mendanai aset atau bisa disebut manajemen aset dan liabilitas menurut Besley & Brigham (2005) terbagi menjadi dua macam yaitu utang jangka pendek dan utang jangka panjang.

Terdapat tiga alternatif kebijakan manajemen aset dan liabilitas yaitu sebagai berikut:

1. Kebijakan moderat merupakan kebijakan dimana aset lancar sementara, aset lancar permanen, dan aset tetap didanai sesuai dengan kebutuhan atau pembiayaan aset oleh liabilitas disesuaikan dengan jangka waktunya sehingga aset lancar sementara dapat didanai dengan utang jangka pendek dan aset lancar permanen dan aset tetap dapat didanai dengan utang jangka panjang atau ekuitas.

Kebijakan ini memiliki kelemahan yaitu terdapat ketidakpastian umur beberapa aset perusahaan sehingga perusahaan tidak bisa menyesuaikan jangka waktu utang untuk mendanai aset tersebut.

2. Kebijakan agresif merupakan kebijakan dimana aset tetap didanai oleh utang jangka panjang dan seluruh aset lancar sementara didanai oleh utang jangka pendek. Sedangkan sebagian aset lancar permanen didanai oleh utang jangka pendek dan sisanya dibiayai dengan utang jangka panjang. Kebijakan yang sangat agresif memiliki risiko yang tinggi karena pendanaan jangka pendek harus segera membayar bunga dan pokok pinjaman.

3. Kebijakan konservatif merupakan kebijakan dimana aset tetap, seluruh aset lancar permanen, dan sebagian aset lancar sementara didanai oleh utang jangka panjang. Sedangkan sebagian aset lancar sementara yang lain didanai dengan pendanaan jangka pendek.

Ketika siklus perusahaan memasuki siklus puncak atau siklus musiman, perusahaan mendanai aset lancar sementara dalam bentuk sekuritas yang diperjualbelikan atau disebut “storing

(15)

liquidity”. Kebijakan konsevatif ini merupakan kebijakan yang paling aman dan memiliki risiko paling rendah tetapi pada umumnya tidak dapat memberikan keuntungan yang lebih besar dibandingkan dengan dua kebijakan lainnya.

Liabilitas bank menurut Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 13/30/DPNP/2011 terdiri dari beberapa macam yaitu sebagai berikut:

1. Giro 2. Tabungan

3. Simpanan berjangka

4. Dana investasi revenue sharing 5. Pinjaman dari Bank Indonesia 6. Pinjaman dari bank lain 7. Liabilitas spot dan derivatif

8. Utang atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali 9. Utang akseptasi

10. Surat berharga yang diterbitkan 11. Pinjaman yang diterima

12. Setoran jaminan 13. Liabilitas antar kantor 14. Liabilitas pajak tangguhan 15. Liabilitas lainnya

16. Dana investasi profit sharing

Sumber dana bank terbesar bersumber dari dana masyarakat yaitu berupa giro, tabungan, dan simpanan berjangka (Rivai, Basir, Sudarto, & Veithzal, 2012).

Giro dan tabungan adalah dana masyarakat yang sewaktu-waktu dapat ditarik atau disetor oleh nasabah sehingga dapat dikelompokkan ke dalam utang jangka pendek. Sedangkan simpanan berjangka yang termasuk dalam utang jangka pendek adalah simpanan berjangka yang memiliki jatuh tempo kurang dari satu tahun. Dana yang dimiliki oleh bank dipakai untuk mendanai kegiatan operasionalnya yaitu pemberian kredit untuk mendapatkan keuntungan dimana pemberian kredit merupakan sumbangan laba terbesar bagi bank. Karena sebagian besar sumber dana bank berasal dari utang jangka pendek berupa giro, tabungan,

(16)

dan simpanan berjangka, maka penelitian ini ingin menggunakan utang yang dikelompokkan berdasarkan jangka waktunya yaitu utang jangka pendek, utang jangka panjang, dan total utang.

Short-term debt dalam laporan keuangan bank diperoleh dari utang yang memiliki jatuh tempo kurang dari satu tahun. Sedangkan long-term debt dalam laporan keuangan bank diperoleh dari utang yang memiliki jatuh tempo lebih dari satu tahun. Total debt diperoleh dari total liabilitas atau jumlah dari short-term debt dan long-term debt.

2.3.1 Short-term Debts to Total Equity Ratio

Short-term debt atau utang jangka pendek merupakan utang yang diperkirakan akan dibayar dalam jangka waktu siklus normal operasi bank atau dalam jangka waktu jatuh tempo satu tahun atau kurang. Menurut Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia Nomor 30/12/KEP/DIR 1997 pasal 11, utang jangka pendek bank terdiri dari kewajiban segera, tabungan, dan deposito.

1. Kewajiban segera adalah seluruh kewajiban bank kepada pihak lain yang telah jatuh tempo dan segera dapat ditagih oleh pemiliknya atau kewajiban yang harus dibayarkan dalam waktu dekat.

2. Tabungan adalah simpanan pihak ketiga dimana penyetoran dan penarikan oleh nasabah hanya dapat dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di masing-masing bank.

3. Deposito adalah simpanan berjangka yang penarikannya hanya dapat dilakukan dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan jangka waktu yang telah diperjanjikan sebelumnya. Deposito terbagi menjadi dua yaitu deposito berjangka dan sertifikat deposito. Bank menawarkan deposito dengan jangka waktu yang berbeda-beda.

Deposito yang memiliki jangka waktu satu tahun atau kurang termasuk ke dalam utang jangka pendek sedangkan deposito yang memiliki jangka waktu lebih dari satu tahun termasuk ke dalam utang jangka panjang.

Short-term Debt to Total Equity Ratio adalah rasio yang digunakan untuk mengukur perbandingan utang jangka pendek terhadap ekuitas yang dimiliki

(17)

bank. Short-term Debt to Total Equity Ratio dapat dirumuskan sebagai berikut:

Short-term Debt to Total Equity Ratio = 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐻𝑢𝑡𝑎𝑛𝑔 𝐽𝑎𝑛𝑔𝑘𝑎 𝑃𝑒𝑛𝑑𝑒𝑘

𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐸𝑘𝑢𝑖𝑡𝑎𝑠 ……. (2.1)

2.3.2 Long-term Debts to Total Equity Ratio

Long-term debt atau disebut utang jangka panjang adalah utang bank yang akan dibayar dalam jangka waktu lebih dari satu tahun. Menurut Besley &

Brigham (2005) utang jangka panjang merupakan penggantian utang jangka pendek dengan utang yang memiliki maturitas yang lebih panjang atau pendanaan yang permanen. Terdapat dua macam utang jangka panjang menurut Besley &

Brigham (2005) yaitu sebagai berikut:

1. Term loans adalah perjanjian utang dimana peminjam membayar sejumlah pembayaran berupa pokok dan bunga pada periode tertentu kepada pemberi pinjaman seperti bank atau perusahaan asuransi. Utang jenis ini memiliki beberapa kelebihan yaitu kecepatan, fleksibilitas, dan biaya penerbitan yang rendah.

2. Bonds atau obligasi merupakan perjanjian utang jangka panjang dimana peminjam setuju untuk membayar sejumlah pembayaran berupa pokok dan bunga pada periode tertentu kepada pemegang obligasi. Obligasi dan term loans memiliki perbedaan dimana obligasi pada umumnya ditawarkan kepada publik dan dijual kepada banyak investor.

Long-term Debt to Total Equity Ratio adalah rasio yang digunakan untuk mengukur perbandingan utang jangka panjang terhadap ekuitas bank. Long-term Debt to Total Equity Ratio dapat dirumuskan sebagai berikut:

Long-term Debt to Total Equity Ratio = 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐻𝑢𝑡𝑎𝑛𝑔 𝐽𝑎𝑛𝑔𝑘𝑎 𝑃𝑎𝑛𝑗𝑎𝑛𝑔

𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐸𝑘𝑢𝑖𝑡𝑎𝑠 ……. (2.2)

2.3.3 Total Debts to Total Equity Ratio

Total debts adalah seluruh utang bank yang terdiri dari utang jangka pendek dan utang jangka panjang. Total debt bank diperoleh dari jumlah short- term debt bank ditambah dengan long-term debt bank.

(18)

Total Debts to Total Equity Ratio merupakan rasio yang digunakan bank untuk mengukur perbandingan total utang terhadap ekuitas yang dimiliki bank.

Total Debts to Total Equity Ratio dapat dirumuskan sebagai berikut:

Total Debts to Total Equity Ratio = 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐻𝑢𝑡𝑎𝑛𝑔

𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐸𝑘𝑢𝑖𝑡𝑎𝑠……. (2.3)

2.4 Profitabilitas

Profitabilitas mengukur kemampuan dan kinerja keuangan bank dalam menghasilkan laba. Kemampuan perusahaan untuk beroperasi dalam jangka panjang bergantung pada tingkat laba yang diperoleh perusahaan (Pearce &

Robinson, 2008). Semakin tinggi rasio profitabilitas bank, maka kelangsungan hidup bank akan semakin terjamin. Rasio profitabilitas yang tinggi merupakan tujuan setiap bank oleh karena itu penting bagi bank untuk menjaga tingkat profitabilitasnya. Semakin tinggi rasio profitabilitas bank menunjukkan peningkatan kinerja keuangan bank yang semakin efisien.

Rasio profitabilitas merupakan rasio yang digunakan untuk menilai kemampuan perusahaan dalam mencari keuntungan (Kasmir, 2008). Menurut Hasibuan (2006) profitabilitas bank adalah kemampuan bank untuk memperoleh laba yang dinyatakan dalam persentase. Profitabilitas menurut Kuncoro &

Suhardjono (2011) dapat diukur dengan ROA dan ROE. Sedangkan Kasmir (2008) menggunakan empat rasio untuk mengukur tingkat profitabilitas yaitu Net Profit Margin, Gross Profit Margin, Return on Asset, dan Return on Equity. Bank Indonesia melalui Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 13/24/DPNP menilai kinerja bank dalam menghasilkan laba menggunakan indikator sebagai berikut:

1. Return on Asset (ROA) 2. Net Interest Margin (NIM)

Dari semua rasio profitabilitas diatas, rasio profitabilitas yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah ROA dan NIM karena rasio ini adalah rasio utama yang ditentukan Bank Indonesia untuk mengukur kinerja bank dalam menghasilkan laba.

(19)

2.4.1 Return on Asset (ROA)

ROA merupakan rasio profitabilitas yang digunakan untuk mengukur kinerja keuangan bank dalam menghasilkan keuntungan dengan memanfaatkan total aset yang dimiliki bank. Semakin tinggi laba yang dihasilkan oleh bank semakin tinggi pula ROA bank. Hal ini menunjukkan bahwa bank semakin efektif dalam memanfaatkan aktiva yang dimiliki untuk menghasilkan keuntungan.

Bank Indonesia menentukkan ROA sebagai rasio utama untuk mengukur kinerja bank dalam menghasilkan laba. ROA dihitung dari perbandingan laba sebelum pajak dan rata-rata total aset. ROA dapat dirumuskan sebagai berikut ROA = 𝐿𝑎𝑏𝑎 𝑆𝑒𝑏𝑒𝑙𝑢𝑚 𝑃𝑎𝑗𝑎𝑘

𝑅𝑎𝑡𝑎 −𝑟𝑎𝑡𝑎 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐴𝑠𝑒𝑡……. (2.4)

2.4.2 Net Interest Margin (NIM)

Bank memiliki fungsi untuk menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit.

Oleh karena itu, pendapatan utama bank adalah pendapatan bunga dari kredit yang diberikan bank kepada masyarakat. Sedangkan pengeluaran terbesar bank adalah beban bunga simpanan yang harus dibayarkan bank kepada nasabah yang menyimpan dananya di bank.

Net Interest Margin (NIM) adalah rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen bank dalam mengelola aktiva produktifnya untuk menghasilkan pendapatan bunga bersih. Pendapatan bunga bersih diperoleh dari selisih pendapatan bunga bank dan beban bunga bank. Penelitian ini menggunakan indikator NIM sebagai salah satu rasio profitabilitas perbankan karena bisnis utama perbankan yang berkaitan erat dengan bunga. Kinerja keuangan bank dalam menghasilkan keuntungan diperoleh dari pendapatan bunga bersih bank sehingga peniliti ingin mengetahui pengaruh struktur modal terhadap rasio NIM. Selain itu Bank Indonesia juga menentukan NIM sebagai salah satu rasio untuk mengukur kinerja bank dalam menghasilkan laba.

Net Interest Margin dapat diukur dengan menggunakan rumus NIM = 𝑃𝑒𝑛𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡𝑎𝑛 𝑏𝑢𝑛𝑔𝑎 −𝐵𝑒𝑏𝑎𝑛 𝑏𝑢𝑛𝑔𝑎

𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐴𝑠𝑒𝑡 𝑃𝑒𝑟𝑢𝑠𝑎 ℎ𝑎𝑎𝑛 ... (2.5)

(20)

2.5 Capital Adequacy Ratio (CAR)

Capital adequacy ratio (CAR) adalah salah satu rasio permodalan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia untuk melakukan penilaian tingkat kesehatan bank. Capital adequacy ratio atau dikenal dengan kewajiban penyediaan modal minimum adalah kecukupan modal yang menunjukkan kemampuan bank dalam mempertahankan modal yang mencukupi dan kemampuan manajemen bank dalam mengidentifikasi, mengukur, mengawasi, dan mengontrol risiko-risiko yang timbul yang dapat berpengaruh terhadap besarnya modal bank (Kuncoro &

Suhardjono, 2011, p. 519).

CAR adalah rasio yang menunjukkan seberapa besar aktiva bank yang mengandung risiko dibiayai oleh modal sendiri. Untuk melakukan penilaian kecukupan modal, bank diwajibkan untuk mengaitkan kecukupan modal dengan profil risiko bank. Semakin tinggi risiko bank, maka modal yang harus disediakan bank akan semakin besar untuk mengantisipasi risiko tersebut.

Bank harus memiliki kecukupan modal yang dapat mendukung aktivitas pengambilan risiko misalnya pemberian kredit (Defri, 2012). Peranan bank sebagai penyalur dana bagi masyarakat agar dapat berjalan dengan lancar harus didukung oleh modal yang cukup sehingga ketika bank menghadapi masa-masa krisis, bank masih dapat bertahan karena memiliki cadangan modal yang dapat menutup penurunan aktiva bank akibat kerugian yang diderita bank (Kasmir, 2008). Bank yang tidak memiliki kecukupan modal sehingga CAR-nya rendah akan menyebabkan bank memiliki rasio CAR yang tidak sehat karena rasio kecukupan modalnya di bawah standar yang ditetapkan oleh Bank Indonesia.

CAR bank yang tidak sehat menyebabkan kemampuan bank untuk bertahan pada saat krisis menurun yang juga berakibat pada menurunnya kepercayaan masyarakat.

Menurut PBI Nomor 15/12/PBI/2013 tentang kewajiban penyediaan modal minimum bank umum Pasal 2 bank wajib menyediakan modal minimum sesuai profil risiko. Penyediaan modal minimum ditetapkan paling rendah oleh Bank Indonesia sebagai berikut:

1. Bank dengan profil risiko peringkat satu sebesar 8% dari ATMR

(21)

2. Bank dengan profil risiko peringkat dua sebesar 9% sampai dengan kurang dari 10% dari ATMR

3. Bank dengan profil risiko peringkat tiga sebesar 10% sampai dengan kurang dari 11% dari ATMR

4. Bank dengan profil risiko peringkat empat atau peringkat lima sebesar 11% sampai dengan kurang dari 14% dari ATMR

Besarnya CAR diukur dari modal bank dibagi dengan aset tertimbang menurut risiko (ATMR). Modal bank terdiri atas atas dua yaitu modal inti (Tier 1) yang meliputi modal inti utama dan modal inti tambahan dan modal pelengkap (Tier 2). Komponen modal inti utama adalah modal disetor dan cadangan tambahan modal dimana cadangan tambahan modal terdiri atas agio, modal sumbangan, cadangan umum, laba tahun lalu, laba tahun berjalan, selisih lebih penjabaran laporan keuangan, dana setoran modal, waran, opsi saham, pendapatan komprehensif lainnya, dan saldo surplus revaluasi aset tetap. Modal pelengkap meliputi instrument modal dalam bentuk saham, agio, cadangan umum PPA atas aset produktif, dan cadangan tujuan. ATMR yang digunakan dalam melakukan penghitungan kecukupan modal minimum terdiri atas tiga yaitu ATMR untuk risiko kredit, ATMR untuk risiko operasional, dan ATMR untuk risiko pasar.

CAR dapat dirumuskan sebagai berikut:

CAR = 𝐴𝑠𝑒𝑡 𝑇𝑒𝑟𝑡𝑖𝑚𝑏𝑎𝑛𝑔 𝑀𝑒𝑛𝑢𝑟𝑢𝑡 𝑅𝑖𝑠𝑖𝑘𝑜𝑀𝑜𝑑 𝑎𝑙 ... (2.6)

2.6 Likuiditas

Likuiditas adalah kemampuan untuk meningkatkan dana yang cukup untuk mendanai peluang-peluang pinjaman kredit kepada nasabah dan penarikan deposito oleh nasabah dengan biaya dan jangka waktu yang wajar (Bessis, 2010).

Rasio likuiditas menunjukkan kemampuan bank dalam menyediakan dana yang cukup untuk memenuhi kewajiban jangka pendek bank kepada nasabahnya.

Artinya, bank dapat mencairkan dana kepada nasabahnya yang ingin menarik tabungan atau simpanannya dan bank dapat menyediakan dana untuk permintaan kredit yang diajukan nasabah (Lukman, 2005).

(22)

Menurut Kuncoro & Suhardjono (2011) ada beberapa risiko yang mungkin timbul dalam pengelolaan likuiditas bank sebagai berikut:

1. Risiko pendanaan adalah risiko yang timbul jika bank tidak memiliki dana yang cukup untuk memenuhi kewajibannya.

2. Risiko bunga adalah risiko ketidakpastian tingkat keuntungan yang akan diperoleh bank karena terdapat berbagai variasi tingkat suku bunga dalam aset dan liabilitas.

Alat ukur likuiditas bank dilakukan untuk jangka pendek dan jangka panjang. Menurut Kuncoro & Suhardjono (2011) alat ukur likuiditas jangka pendek adalah sebagai berikut:

1. Giro wajib minimum (GWM) adalah rasio perbandingan saldo giro pada Bank Indonesia dengan kewajiban bank kepada pihak ketiga yang diwajibkan diatas lima persen.

2. Basic Surplus adalah alat ukur besarnya likuiditas pada suatu keadaan tertentu yang dihitung dengan rumus sebagai berikut:

Basic Surplus = aktiva lancar – pasiva lancar Alat ukur likuiditas jangka panjang terdapat tiga macam yaitu:

1. Rasio Likuiditas adalah alat ukur yang digunakan untuk mengukur proyeksi kebutuhan likuiditas bank setelah memperhitungkan perkembangan usaha yang diinginkan dalam periode tertentu. Rasio likuiditas positif menunjukkan bank harus mencari dana di pasar uang untuk menutupi kekurangan proyeksi likuiditasnya.

Sebaliknya rasio likuiditas negative menunjukkan bank memiliki kelebihan dana untuk ditempatkan.

2. Indeks likuiditas adalah alat ukur yang digunakan untuk mengukur keadaan likuiditas dengan jangka waktu yang lebih panjang pada waktu tertentu. Angka perhitungan indeks < 1 menunjukkan bahwa bank secara keseluruhan membiayai aktivanya dengan sumber dana dengan jangka waktu yang lebih panjang.

3. Loan to deposit ratio (LDR) adalah rasio perbandingan jumlah pinjaman yang diberikan bank dengan simpanan masyarakat.

(23)

2.7 Hubungan Antar Konsep

Penelitian ini menggunakan 3 variabel independen yaitu struktur modal yang diukur dengan shor termt debt to total equity ratio, long-term debt to total equity ratio, dan total debt to total equity ratio serta 2 variabel kontrol yaitu CAR dan likuiditas. Variabel dependen dalam penelitian ini menggunakan 2 variabel yaitu profitabilitas yang diukur dengan return on asset (ROA) dan net interest margin (NIM).

2.7.1 Pengaruh antara struktur modal terhadap profitabilitas perusahaan Perusahaan dalam menjalankan kegiatan usahanya memerlukan sumber dana sebagai modal. Setiap keputusan struktur modal yang diambil oleh perusahaan memiliki biaya-biaya yang dapat mempengaruhi profitabilitas perusahaan. Perusahaan yang mengambil keputusan struktur modal yang tidak cermat dapat menimbulkan biaya modal yang tinggi sehingga akan mempengaruhi penurunan profitabilitas perusahaan (Brigham & Houston, 2012).

Menurut teori pecking order terdapat urutan pendanaan yang diambil manajemen untuk mendanai perusahaan dimulai dari laba ditahan, kemudian dana eksternal berupa utang, dan ekuitas sebagai alternatif terkahir. Perusahaan yang memiliki profitabilitas yang tinggi akan menggunakan sumber dana internalnya yang tinggi terlebih dahulu berupa laba ditahan untuk mendanai perusahaannya, kemudian jika dana internal tidak mencukupi kebutuhan modal, perusahaan akan menggunakan utang kemudian ekuitas sebagai alternatif terakhir. Dengan kata lain, perusahaan yang memiliki profitabilitas tinggi akan memiliki rasio penggunaan utang yang rendah sehingga menurut teori pecking order utang memiliki pengaruh yang negatif terhadap profitabilitas perusahaan. Penelitian Mendell et all (2006) juga menunjukkan adanya hubungan negatif antara penggunaan utang dengan profitabilitas. Amidu (2007) menemukan hubungan signifikan yang negatif antara total utang dengan profitabilitas perbankan di Ghana.

Beberapa penelitian lain yang telah dilakukan justru menemukan hubungan signifikan yang positif antara struktur modal dengan profitabilitas.

Menurut teori trade-off yang dikemukakan Kraus & Litzenberger (1973)

(24)

penggunaan utang yang semakin tinggi akan meningkatkan nilai perusahaan yang juga akan berdampak pada profitabilitas perusahaan. Tetapi peningkatan nilai perusahaan akibat penggunaan utang hanya pada sampai titik optimal tertentu.

Penelitian Abor (2005) menemukan hubungan signifikan yang positif antara total utang dengan probitabilitas perusahaan. Gill et al. (2011) juga menemukan hubungan yang positif antara utang jangka pendek, utang jangka panjang, dan total utang terhadap profitabilitas perusahaan.

Sebaliknya, penelitian Anojan (2014) menemukan pengaruh yang tidak signifikan antara struktur modal dan profitabilitas. Hal ini juga didukung oleh penelitian Tarigan (2010) yang meneliti pengaruh struktur modal dan aktiva produktif terhadap profitabilitas perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dan menemukan utang debt to total asset ratio tidak berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas (ROA) perbankan.

Amidu (2007) melakukan penelitian tentang determinan struktur modal industri perbankan di Ghana. Amidu menemukan pengaruh signifikan yang negatif antara utang jangka pendek dan total utang dengan ROA perbankan di Ghana. Sedangkan, utang jangka panjang dan ROA memiliki pengaruh signifikan yang positif.

Sebaliknya, penelitian Wilistiyaningsih (2014) menemukan total utang dan utang jangka panjang tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap ROA perusahaan Go Public yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Utang jangka pendek memiliki pengaruh signifikan yang negatif terhadap ROA perusahaan.

Penelitian serupa juga dilakukan oleh Gatsi & Akoto (n.d) yang melakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh struktur modal terhadap profitabilitas perbankan di Ghana. Penelitian ini menemukan utang jangka pendek dan total utang memiliki pengaruh signifikan yang negatif terhadap NIM perbankan di Ghana. Sedangkan utang jangka panjang tidak berpengaruh signifikan terhadap NIM perbankan.

(25)

2.7.2 Pengaruh antara struktur modal dengan CAR dan likuiditas sebagai variabel kontrol terhadap profitabilitas perusahaan

Keputusan stuktur modal yang diambil oleh perusahaan dapat mempengaruhi profitabilitas perusahaan. Perusahaan yang tidak memilih keputusan struktur modal yang cermat dapat menghasilkan biaya modal yang tinggi yang pada akhirnya akan berpengaruh pada profitabilitas perusahaan (Brigham & Houston, 2012). Menurut teori pecking order perusahaan yang memiliki profitabilitas yang tinggi akan memiliki hutang yang rendah karena menggunakan dana internalnya terlebih dahulu untuk mendanai perusahaannya sebelum menggunakan dana eksternal.

Profitabilitas perusahaan tidak hanya dipengaruhi oleh struktur modal saja.

Ada faktor-faktor lain selain faktor struktur modal yang dapat mempengaruhi profitabilitas perusahaan seperti CAR, BOPO, NPL, dan ukuran perusahaan (Sirait, 2014). Penelitian Sovbetov (2013) menemukan struktur modal bank di UK dengan variabel kontrol likuiditas dan ukuran perusahaan berpengaruh negatif signifikan terhadap profitabilitas. Sehingga berdasarkan penelitian sebelumnya, ada kemungkinan CAR dan likuiditas dapat menjadi variabel kontrol, maka penelitian ini menggunakan variabel kontrol CAR dan likuiditas agar besarnya pengaruh struktur modal terhadap profitabilitas perusahaan dapat diketahui lebih pasti dan dapat dimaksimalkan.

CAR adalah salah satu aspek yang wajib diperhatikan oleh bank. CAR adalah rasio yang menunjukkan seberapa besar aktiva bank yang mengandung risiko dibiayai oleh modal sendiri. Bank harus memiliki kecukupan modal yang dapat mendukung aktivitas pengambilan risiko misalnya pemberian kredit (Defri, 2012). Bank yang tidak memiliki kecukupan modal sehingga CAR-nya tidak sehat menyebabkan kemampuan bank untuk bertahan pada saat krisis menurun yang juga berakibat pada menurunnya kepercayaan masyarakat sehingga profitabilitas bank juga berpotensi untuk mengalami penurunan. Jika nilai CAR rendah, profitabilitas bank yang diukur dengan ROA akan mengalami penurunan (Lukman, 2005).

Menurut Suprianto (2011) CAR memiliki pengaruh signifikan yang positif terhadap ROA bank pemerintah dan bank swasta go public yang terdaftar

(26)

di BEI. Penelitian Sinulingga (2014) menemukan CAR memiliki pengaruh signifikan yang positif terhadap ROA perbankan yang terdaftar di BEI. Penelitian Oktavina (2008) juga menemukan CAR memiliki pengaruh yang signifikan terhadap NIM Bank Ekonomi Raharja.

Sebaliknya, Defri (2012) menemukan CAR tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap ROA perbankan. Hal ini juga didukung oleh penelitian Yulia (2015) yang menemukan tidak ada pengaruh signifikan antara CAR dengan ROA perbankan. Sedangkan Prabowo (2015) juga menemukan tidak ada pengaruh yang signifikan antara CAR dan NIM bank-bank di Indonesia.

Selain CAR, variabel lain yang dipakai untuk mengontrol pengaruh struktur modal terhadap profitabilitas adalah likuiditas. Rasio likuiditas adalah rasio yang mengukur kemampuan bank dalam mencairkan dana kepada nasabahnya yang ingin menarik tabungan atau simpanannya dan menyediakan dana untuk permintaan kredit yang diajukan nasabah (Lukman, 2005).

Menurut Rivai, Basir, Sudarto, & Veithzal (2012) pengukuran likuiditas adalah pengukuran yang bersifat dilematis karena usaha utama bank adalah memasarkan dan memutar uang nasabahnya untuk mendapatkan keuntungan sehingga bank diharapkan dapat meminimalkan uang yang menganggur (idle money). Namun di satu sisi, bank dituntut untuk selalu mempunyai cadangan uang yang cukup untuk memenuhi kewajibannya terhadap para deposan dan debitur yang sewaktu-waktu menarik dananya dari bank. Kebutuhan likuiditas dan keuntungan yang akan dicapai memiliki hubungan yang bertolak belakang.

Semakin tinggi kemampuan likuiditas bank menunjukkan semakin banyak uang yang menganggur sehingga dapat berdampak pada keuntungan bank yang tidak dapat dimaksimalkan (Judisseno, 2005).

Penelitian Gozali (2007) menemukan likuiditas berpengaruh signifikan negatif terhadap ROA bank yang terdaftar di BEI. Penelitian Prabowo (2015) juga menemukan likuiditas berpengaruh signifikan positif terhadap NIM bank-bank di Indonesia. Sebaliknya, penelitian Fitri (2011) dan Defri (2012) menemukan likuiditas dan ROA perbankan tidak memiliki pengaruh yang signifikan.

(27)

2.8 Kerangka Berpikir

Berdasarkan rumusan masalah yang ingin dijawab, maka variabel independen dalam penelitian ini adalah struktur modal perbankan yang terdiri dari short-term debt to total equity ratio, long-term debt to total equity ratio, dan total debt to total equity ratio. Sedangkan variabel dependen dalam penelitian ini adalah profitabilitas perbankan yang diukur dengan rasio return on asset dan net interest margin. Variabel kontrol yang dipakai dalam penelitian ini adalah capital adequacy ratio dan likuiditas.

Kerangka pemikiran penelitian menggambarkan hubungan dari variabel independen terhadap variabel dependen. Adapun kerangka pemikiran penelitian adalah sebagai berikut :

Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran Short-term Debt to

Total Equity Ratio

Long-Term Debt to Total Equity Ratio

Total Debt to Total Equity Ratio

Return on Asset

Net Interest Margin

Capital Adequacy Ratio

Liquidity

(28)

2.9 Hipotesa Penelitian

Berdasarkan pokok permasalahan tersebut, maka hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Short-term debt, long-term debt, dan total debt perbankan berpengaruh signifikan secara parsial terhadap ROA perbankan.

2. Short-term debt, long-term debt, dan total debt perbankan berpengaruh signifikan secara parsial terhadap NIM perbankan.

3. Short-term debt perbankan dengan variabel kontrol CAR dan likuiditas berpengaruh signifikan secara bersama-sama terhadap ROA perbankan.

4. Long-term debt perbankan dengan variabel kontrol CAR dan likuiditas berpengaruh signifikan secara bersama-sama terhadap ROA perbankan.

5. Total debt perbankan dengan variabel kontrol CAR dan likuiditas berpengaruh signifikan secara bersama-sama terhadap ROA perbankan.

6. Short-term debt perbankan dengan variabel kontrol CAR dan likuiditas berpengaruh signifikan secara bersama-sama terhadap NIM perbankan.

7. Long-term debt perbankan dengan variabel kontrol CAR dan likuiditas berpengaruh signifikan secara bersama-sama terhadap NIM perbankan.

8. Total debt perbankan dengan variabel kontrol CAR dan likuiditas berpengaruh signifikan secara bersama-sama terhadap NIM perbankan.

Referensi

Dokumen terkait

Tahap awal dari pembuatan aplikasi ini adalah pengumpulan data, yaitu data mengenai gambar, suara hewan dan bahasa Arab setelah data terkumpul lalu membuat rancangan tersebut.

Gitar merupakan sebuah alat musik petik yang terdiri dari 6 senar, memainkan sebuah gitar mempunyai nilai seni yang sangat exsentrik dan seolaholah dapat menghilangkan rasa

[r]

(dalam 10 tahun terakhir PTFI membiayai infrastruktur daerah &amp; masyarakat lebih dari USD 150 Juta ) Pembangunan Infrastruktur Masyarakat dan Daerah.. STI/HIV Clinic PKM

Pemilihan silika gel sebagai padatan pendukung untuk proses adsorpsi karena silika gel memiliki beberapa sifat unik yang tidak dimiliki oleh senyawa

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara tingkat kecemasan dengan kejadian kehamilan preeklamsi pada ibu hamil trimester 3 di wilayah

Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa: 1) terdapat hubungan positif antara berpikir kritis (X1) dengan

Kepergian Tatengkeng kudengar ketika aku berada di Ja- karta. Sungguh aku tennenung sejenak. Kita kehilangan se- orang pekerja seni, seorang penyair kenamaan. Banyak