NILAI MORAL DALAM NOVEL IBUKU TIDAK GILA KARYA ANGGIE D. WIDOWATI
MORAL VALUES IN NOVEL “IBUKU TIDAK GILA” WRITTEN BY ANGGIE D WIDOWATI
TESIS
WAHYUNI HASBUL 04.08.889.2013
PROGRAM PASCASARJANA
MAGISTER PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2015
NILAI MORAL DALAM NOVEL IBUKU TIDAK GILA KARYA ANGGIE D WIDIWATI
TESIS
Program Studi
Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Yang disusun oleh
WAHYUNI HASBUL NIM.04.08.886.2013
Kepada
PROGRAM PASCASARJANA
MAGISTER PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2015
KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan Allah atas berkat limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Tesis yang berjudul “Ibuku Tidak Gila karya Anggie D widawati” Tesis ini diajukan guna memenuhi salah satu persyaratan akademi untuk memperoleh gelar Megister Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia. Program Pascasarjana Universitas Muhammadiayah Makassar.
Penyusun tesis ini, penulis mendapat bantuan, bimbingan, saran, dan dorongan dari berbagai pihak. Hal ini yang mendukung terwujudnya tesis ini.
Oleh karena itu, penulis menyampaikan terima kasih kepada yang telah membantu penulis terutama kepada Prof. Dr. H. M. Ide Said D.M., M.Pd.
pembimbing I dan Dr. Sitti Aida Azis, M.Pd. Pembimbing II. yang telah membimbing, mengarahkan, dan memberikan saran kepada penulis dalam menyelesaikan tesis.
Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada Rektor Universitas muhammadiyah Makassar, Dr. H. Irwan Akib, M.Pd. dan Direktur Program
Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Makassar, Prof. Dr. H. M. Ide Said D.M., M.Pd. beserta semua dosen dan staf administrasi
Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Makassar yang telah member kesempatan kepada penulis untuk menyelesaikan studi pada Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Makassar.
Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada penguji yang memberi banyak masukan dan saran demi kesempurnaan tesis ini.
Ucapan terima kasih yang tulus dan penghargaan kepada orang tua penulis. Ayahanda Bullah dan Ibunda Sitti Hawiyah tercinta yang senantiasa mendoakan dan mencurahkan kasih sayang kepada penulis. serta keluarga dan teman-teman yang senantiasa setia mendoakan penulis agar dapat meraih kesuksesan.
Penulis berharap semoga tesis ini dapat bermanfaat terhadap pengembangan pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Semoga bantuan yang penulis terima dari berbagai pihak mendapatkan pahala dari Allah Swt.
Makassar, Mei 2015
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii
HALAMAN PENERIMAAN PENGUJI ... iii
PERNYATAAN KEASLIAN TESIS ... iv
MOTO ... ... v
KATA PENGANTAR... vi
ABSTRAK ... ... x
ABSTRACT ... ... xi
DAFTAR ISI ... ... xii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Fokus Penelitian ... 5
C. Tujuan Penelitian ... 6
D. Manfaat Penelitian ... 6
E. Definisi Istilah ... 7
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR ... 9
A. Kajian Pustaka ... 9
B. Penelitian yang Relevan ... 38
C. Kerangka Pikir ... 40
BAB III METODE PENELITIAN ... 43
A. Jenis Penelitian... 43
B. Pendekatan Penelitian ... 43
C. Data dan Sumber... 44
D. Teknik Pengumpulan Data ... 45
E. Teknik Analisis Data ... 45
BAB IV HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN ... 47
A. Hasil penelitian ... 47
1. Nilai Moral Baik ... 47
2. Nilai Moral Buruk ... 69
B. Pembahasan……… 80
BAB V SIMPULAN DAN SARAN... 87
A. Simpulan ... 87
B. Saran ... 88 DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
MOTO
Berjuang dengan penuh
Kesabaran dan keikhlasan
Adalah salah satu kunci keberhasilan.
Tiada kata henti dalam belajar
kecuali saat nafas telah berhenti
WAHYUNI HASBUL, 2013. Nilai Moral dalam Novel Ibuku Tidak Gila karya Anggie D Widowati, Tesis. Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Program pascasarjana Universitas Muhammadiayah Makassar, di bombing oleh H. M. ide Said, D.M. dan Sitti Aida Azis,
Fokus utama dalam penelitian ini adalah mengkaji 1). Nilai Moral baik, 2) Nilai Moral Buruk. Penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kualitatif yang menggunakan sumber data yang berupa dokumen, yaitu novel Ibuku Tidak Gila karya Anggie D Widowati.
Hasil analisis data adalah dapat diketahui bahwa novel Ibuku Tidak Gila mengandung nilai moral yang diklasifikasikan menjadi dua yaitu moral baik yakni kejujuran, kesabaran, kepercayaan, kesetian, pengendalian diri, dan penyesalan. moral tidak baik/buruk yakni bohong, fitnah, dan dendam.
Berdasarkan simpulan diketahui bahwa moral adalah suatu bagian dari nilai yang menangani kelakuan baik dan buruk dari manusia. Nilai moral yang benar tidak sekedar mengamati perilaku moral yang tampak.
Nilai moral yang terkandung dalam karya sastra bertujuan untuk mendidik manusia agar mengenal nilai-nilai etika merupakan nilai baik buruk suatu perbuatan, apa yang harus dihindari, dan apa yang harus di kerjakan, sehingga tercipta suatu tatanan hubungan manusia dalam masyarakat.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Lahirnya suatu karya sastra tidak bisa lepas dari keadaan lingkungan sosial pengarangnya. Selebihnya suatu karya selalu ditempatkan pada posisi seimbang antara teks dan penciptanya. Karya sastra diciptakan oleh sastrawan untuk dinikmati, dipahami, dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Dan sastrawan sendiri adalah anggota masyarakat yang terikat oleh status sosial tertentu (Damono, 1984: 01).
Karya sastra pada dasarnya merupakan cerminan perasaan, pengalaman dan pemikiran dalam hubungannya dengan kehidupan. Melalui karya sastra dapat disampaikan berbagai kemungkinan pengajaran moral, sosial, dan psikologi. (Sayuti, 1993: 119-121). Adapun menurut Soemardjo (1982: 12) karya sastra adalah produk masyarakat, sebab karya sastra lahir dan berkembang dalam masyarakat serta dibentuk oleh masyarakat berdasarkan desakan emosional atau rasional dari masyarakat. Berarti karya sastra bukan kenyataan hidup sosial, tetapi merupakan gambaran sosial suatu masyarakat yang dituangkan dalam cerita.
Pradopo (1994: 94) mengungkapkan bahwa suatu karya sastra yang baik adalah yang langsung memberi didikan kepada pembaca tentang budi pekerti dan nilai-nilai moral, sesungguhnya hal ini telah menyimpang dari hukum-hukum karya sastra sebagai karya seni dan menjadikan karya sastra sebagai alat pendidikan yang langsung sedangkan nilai seninya dijadikan atau
1
dijatuhkan nomor dua. Begitulah paham pertama dalam penilaian karya sastra yang secara tidak langsung disimpulkan dari corak-corak roman Indonesia yang mula-mula, ialah memberi pendidikan dan nasihat kepada pembaca.
Menurut Ratna (2004: 336) di antara genre karya sastra yaitu prosa, puisi, dan drama, genre prosalah khususnya novel yang dianggap paling dominan dalam menampilkan unsur-unsur sosial. Karena novel menampilkan unsur cerita paling lengkap, memiliki media paling luas, menyajikan masalah- masalah kemasyarakatan pun paling luas dan bahasa novel cenderung bahasa sehari-hari yang paling umum digunakan dalam masyarakat.
Selain itu menurut Soemardjo (1982:250) di dalam novel juga memiliki struktur atau unsur-unsur pembangun cerita seperti alur, tema, tokoh, setting, dan gaya bahasa. Melalui.
Unsur pembangun tersebut peristiwa-peristiwa kemasyarakatan dihadirkan oleh pengarang dengan gaya berbeda. Perbedaan tersebut berasal dari budaya suatu masyarakat yang sangat mungkin mepengaruhi terciptanya karya sastra (Soemardjo, 1982:12).
Ajaran moral dalam karya sastra seringkali tidak secara langsung disampaikan, tetapi melalui hal-hal yang sifatnya amoral dulu. Hal ini sesuai apa yang dikenal dengan tahap katarsis pada pembaca karya sastra.
Meskipun sebelum mengalami katartis, pembaca atau penonton dipersilahkan untuk menikmati dan menyaksikan peristiwa-peristiwa yang sebetulnya tidak dibenarkan secara moral, yaitu adegan semacam pembunuhan atau banjir darah yang menyebabkan penonton atau pembaca senang tetapi juga muak.
Jadi untuk menuju moral, seringkali penonton harus melalui proses
menyaksikan adegan yang tidak sejalan dengan kepentingan moral (Azis, 2011: 143).
Moral menurut Salam (2000):12) “adalah ilmu yang mencari keselerasan perbuatan-perbuatan manusia (tindakan insani) dengan dasar- dasar yang sedalam-dalamnya yang di peroleh dengan akal budi manusia”.
Kata moral selalu mengacu kepada baik buruk manusia. Sikap moral disebut moralitas yaitu sikap hati seseorang yang terungkap dalam tindakan ,
Adapun moral secara umum mengarah pada pengertian ajaran tentang baik buruknya yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, budi pekerti dan sebagainya. Menurut KBBI Bahwa moral merujuk pada pengertian tentang akhlak, budi pekerti, dan susila (Alwi, 1994:969).
Nilai moral yang terdapat dalam Novel Ibuku Tidak Gila Karya Anggie D Widowati yaitu moral baik dan moral tidak, didalam novel tersebut terdapat beberapa moral seperti moral baik yaitu kejujuran, kejujuran yang selalu ditanamkan dalam diri. sedangkan moral buruknya adalah bohong. keb ohongan tidak membuat hidup bahagia malah dari kebohongan tersebut banyak masalah yang akan kita dapat.
Seirama dengan uraian tersebut, diketahui bahwa semakin banyak fenomena-fenomena yang terjadi sekarang di tengah masyarakat yang terkadang tidak mengindahkan tentang perilaku-perilaku menyimpang.
Ambillah misalnya novel Ibuku Tidak Gila Karya Anggie D Widowati kisah di dalam novel ini merupakan potret hidup manusia dimana seorang ibu memiliki ikatan batin yang abstrak dengan putra putrinya. Biarpun ada pisau yang menyakitkan mengiris temali itu, tetapi ikatan itu tak akan pernah terputus, Selamanya. Tokoh utama dalam novel itu adalah Dewa.
Tokoh Dewa, seorang anak laki yang kuliah diperguruan tinggi Fakultas Ekonomi Manajemen. Dewa adalah anak dari pasangan Gandi dan Ginawati tetapi pada usia Dewa yang empat tahun orang tuanya tidak tinggal bersama lagi karena ibunya defresi suka mengamuk, sampai-sampai Dewa pernah dicekik oleh ibunya sendiri. Ayah semakin khewatir dengan kondisi ibu dan keselamatan saya, akhirnya ayah memutuskan untuk pindah dirumah baru dan ibu di tinggal di rumah lama dengan seorang pembantu bernama Marni yang biasa dipanggil dengan Yuk Sum.
Kepindahan di rumah baru itu didahului dengan pesta. Ayah duduk berdampingan dengan seorang perempuan cantik yang tak lain adalah sekretaris di kantor ayah yang berstatus janda dengan seorang anak yang bernama Danu. Beberapa tahun kemudian mama panggilan untuk ibu tiri hamil dan memiliki anak kembar, yang diberi nama Fauzy dan Fauzan. Maka jadilah kami keluarga besar, Ayah, Mama yang baik dan cantik, aku, Danu, Fauzan dan Fauzy. kami hidup bahagia.
Dewa baru mengetahui ibu kandungnya dirawat di rumah sakit jiwa pada saat dia sudah duduk di bangku perkuliahan. Hati Dewa jadi gelisa karena malu mempunyai ibu yang di rawat di rumah sakit jiwa. Dan di rumah sakit itu pun Dewa ketemu dengan seorang gadis yang sederhana dan cantik.
Gadis itu bernama Maharani yang biasa di panggil Arra, di rumah sakit itu awal pertemuan Dewa dengan Arra. Beberapa hari kemudian Dewa dan Arra selalu ketemu dan Dewa pun tidak pernah malu untuk menceritakan kondisi ibunya kepada Arra, padahal Arra ini gadis baru yang dia kenal tetapi Dewa merasa nyaman bersama Arra sampai-sampai cerita tentang ibunya pun yang di anggap aib langsung saja dia ceritakan. Mereka pun semakin akrab,
sampai-sampai Arra menjadi tempat curhat Dewa tentang kendisi ibunya, suatu hari Dewa penasaran dengan sikap ibunya yang selalu kasar pada saat ketemu.
Dewa pun mengajak Arra untuk memecahkan teka-teki kehidupan ibunya di masa lalu. Mereka berdua tidak pernah menyerah untuk menyelesaikan masalah ini, sampai-sampai mereka berdua pergi kerumah tua yang sudah lama tidak ditinggali dan juga mendatangi keluarga ibunya di jogya. Dengan perjuangan Arra dan Dewa, mereka akhirnya menemukan titik terang dari apa yang dia cari selama ini. Dengan mimpi-mimpi dan bukti-bukti yang dia dapat akhirnya Dewa mengetahui rahasia semuanya yang telah di sembunyikan ayahnya selama puluhan tahun.
Novel Ibuku Tidak Gila merupakan salah satu karya satra yang dihasilkan oleh Anggie D. Widowati, lahir di kota Ambarawa, 14 juli. Lulusan fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta. Memulai kariernya sebagai penulis ketika masih usia delapan tahun dengan karya-karya puisi.
Menginjak usia remaja, Anggie, memulai menulis cerita pendek dan novelette.
Kesukaannya menulis terus membawanya pada dunia penulis, dengan membuat novel.
Novel pertamanya Langit Merah Jakarta telah terbit ditahun 2003.
Disusul novel keduanya yang ber judul Laras yang menceritakan tentang birokrasi pemerintah yang sarat dengan korupsi dan konpirasi politik, di tahun 2004. Berbeda dengan novel sebelumnya yang lebih banyak berbicara mengenai masalah social dan politik, kali ini, Anggie menampilkan kisah yang sifatnya psikologi, kisah ini terinspirasi dari kisah nyata. Didalam tulisannya ini, Anggie berharap agar karyanya bias menjadi pandangan baru masyarakat,
betapa seorang ibu memiliki ikatan batin yang abstrak dengan putra putrinya.
Biarpun ada pisau yang menyakitkan yang mengiris temali itu, tetapi ikatan itu tak akan pernah terputus, selamanya.
Sehubungan dengan hal tersebut, penulis tertarik untuk mengkaji nilai moral dalam novel Ibuku Tidak Gila Karya Anggie D.Widowati. sebagai anterapan judul Nilai Moral dalam Novel Ibuku Tidak Gila Karya Anggie D.
Widowati. Alasan peneliti mengangkat novel Ibuku Tidak Gila Karya Anggie D Widowati sebagai bahan kajian karena sebagaimana kita ketahui bersama bahwa semakin banyaknya fenomena yang terjadi sekarang ini ditengah lapisan masyarakat itu terkadang tidak mengindahkan yang namanya perilaku yang sifatnya menyimpan sehingga nilai moral itu tidak dapat dijadikan sebagai landasan utama dalam hidup bermasyarakat.
B. Fokus Penelitian
Fokus dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Moral baik yakni (a) kejujuran, (b) kesabaran, (c) kepercayaan, (d) kesetian, (f) pengendalian diri, (g) penyesalan.
2. Moral buruk yakni (a) bohong, (b) fitnah, (c) dendam.
C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan nilai moral yang terdapat dalam novel Ibuku Tidak Gila Karya Anggie D. Widowati, yang terdiri atas moral baik dan moral buruk.
a. Mendeskripsikan moral baik yang terdapat dalam novel Ibuku Tidak Gila Karya Anggie D. Widowati seperti (a) kejujuran, (b) kesabaran, (c) kepercayaan, (d) kesetian, (f) pengendalian diri, (g) penyesalan.
b. Mendeskripsikan moral buruk/tidak baik seperti: (a) bohong, (b) fitnah, (c) dendam.
D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat mencapai tujuan secara optimal, menghasilkan laporan yang sistematis dan dapat bermanfaat secara umum.
Adapun manfaat yang didapatkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memperluas pengetahuan terutama jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Di samping itu, bermanfaat dalam upaya pengembangan mutu dan hasil pembelajaran.
2. Manfaat Praktis a. Bagi pembaca
Penelitian novel Ibuku Tidak Gila Karya Anggie D. Widowati ini dapat digunakan sebagai bahan bacaan perbandingan dengan penelitian-penelitian lain yang telah ada sebelumnya dalam menganalisis nilai moral.
b. Bagi mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Penelitian ini diharapkan dapat digunakan mahasiswa untuk memotivasi ide atau gagasan baru yang lebih kreatif dan inovatif di masa yang akan datang, demi kemajuan diri dan mahasiswa.
c. Bagi peneliti
Diharapkan dapat memperoleh pengalaman langsung dalam manganalisis sebuah karya sastra dan memberi dorongan kepada peneliti lain untuk melaksanakan penelitian sejenis.
E. Definisi Istilah
Definisi istilah dimaksudkan untuk merumuskan, mengenal, dan memahami suatu objek yang dapat dirumuskan lebih dari satu definisi istilah.
Hal tersebut perlu didefinisikan secara operasional agar tidak menimbulkan penafsiran yang salah mengenai istilah yang digunakan dalam penelitian ini, maka penulis perlu mengemukakan definisi istilah tersebut.
1. Moral yang baik adalah tingkah yang baik dimiliki tokoh dalam novel Ibuku Tidak Gila Karya Anggie D Widowati seperti kejujuran adalah sikap
dimana orang tersebut berkata benar, kesabaran merupakan pengendalian diri dalam mengahadapi semua masalah-masalah, kepercayaan adalah orang di berikan tanggung jawab atau orang yang sudah diyakini dapat melaksanakan semuanya, kesetian merupakan sebuah persaan yang tetap mencintai sesosok wanita yang disayangi, pengendalian diri merupakan sikap dalam mengendalikan perasaan yang bersifat negatif, penyesalan merupakan suatu perasaan diamana seseorang merasa bersalah atau melakukan kesalahan akan sesuatu dan ingin kembali kemasa saat melakukan kesalahan tersebut untuk memperbaikinya,
2. Moral tidak baik adalah tingkah yang buruk tokoh dari novel Ibuku Tidak Gila Karya Anggie D Widowati yang dianggap menyimpan dari etika/
perilaku yang menyimpan seperti bohong adalah mengatakan sesuatu yang tidak benar kepada orang lain, fitnah adalah perkataan bohong atau tanpa berdasarkan kebenaran yang disebarkan, dendam yaitu keinginan keras untuk membalas.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR
A. Kajian Pustaka
1. Hakikat Karya Sastra
Sastra merupakan bagian dari karya seni, yang keduanya merupakan unsur integral dari kebudayaan, dan usianya sudah sangat tua.
Kehadiran dari kedua unsur tersebut hamper bersamaan dengan kehadiran manusia. Sastra telah menjadi bagian dari pengalaman hidup manusia dari segi aspek penciptanya yang mengepresikan pengalaman batinnya ke dalam karya sastra (Zulfahnur dkk., 1996: 64). Dan Sastra adalah suatu hasil karya seni yang muncul dari imajinatif atau rekaan para sastrawan.
Sastra bersifat otonom. Di katakan otonom, karena karya sastra memiliki dunia tersendiri dengan di bandingkan dengan bidang-bidang kehidupan lainnya.
Karya sastra dapat di definisikan berdasarkan berbagai pandangan, misalnya Semi (1988: 23) menyatakan bahwa sastra merupakan suatu bentuk dan hasil pekerjaan kreatif yang objeknya adalah manusia dan kehidupannya dengan menggunakan bahasa sebagai medianya.
Berdasarkan definisi tersebut sastra adalah seni, bukan ilmu pengetahuan.
Sastra memiliki jiwa dan badan, jiwa satra berupa pikiran, persaan, dan pengalaman manusia, sedangkan badannya adalah ungkapan bahasa yang indah sehingga mampu memberikan hiburan bagi pembacanya.
Kehidupan di dalam karya sastra adalah kehidupan yang telah diwarnai dengan sikap penulisnya. Latar belakang moral, keyakinan dan
10
sebagainya. Sedangkan di dalam karya sastra terkandung suatu kebenaran yang membentuk keyakinan dan kebenaran indrawi seperti yang telah terbukti dalam kehidupan sehari-hari.
Sastra seperti halnya karya seni lainnya, hampir setiap zaman memegang peranan penting, karena sastra dapat mengepresikan nilai-nilai kemanusian yang berfungsi sebagai alat untuk meneruskan tradisi suatu bangsa dalam arti positif, baik masa sekarang maupun masa yang akan dating (Burnet dalam Semi 1988:20).
Menurut Bharata Kalbuaji(2009). Bentuk dan isi sastra harus saling mengisi, yaitu dapat menimbulkan kesan yang mendalam di para pembacanya sebagai perwujudan nilai-nilai karya seni. Sedangkan menurut Sudjiman (1984: 14) mengemukakan bahwa sastra adalah refleksitas persoalan manusia sebagai hasil renungan pengarang terhadap kehidupan alam sekitarnya. Sastra adalah alat untuk menyampaikan ajaran, nasehat atau agama.
Realitas bagi sastrawan hanyalah bahan mentah. Ia hanyalah sumber pengambilan ilham. Untuk menjadi karya sastra masih di perlukan pengolahan dalam angan sastrawan. Bukan hanya sekedar pengolahan dalam arti cara penyampaiannya, melainkan menyangkut pada pemberian nilai-nilai yang lebih tinggi dan lebih agung.
Oleh karena itu seorang pengarang jika menciptakan karya sastra bukan hanya sekedar memindahkan apa yang disaksikan dalam kehidupan dalam karyanya melainkan pengarang mempunyai tugas yang lebih berat.
Pengarang harus memberi kontribusi dan tujuan, serta penafsiran tentang alam dan kehidupan itu.
Di tinjau dari segi dari segi penciptanya, karya sastra merupakan pengalaman batin penciptanya mengenai kehidupan masyarakat dalam suatu kurun waktu dan situasi budaya tertentu. Di dalam suatu karya sastra dilukiskan keadaan kehidupan sosial suatu masyarakat, peristiwa, ide, dan gagasan serta nilai-nilai yang diamanatkan pencipta lewat tokoh cerita.
Sastra mempersoalkan manusia dalam berbagai aspek kehidupan sehingga karya sastra berguna untuk mengenal manusia, kebudayaan, serta zamannya ( Aminuddin: 1910: 90).
Dari uraian tersebut dapat dirumuskan pengertian sastra sebagai berikut:
1. Sastra adalah kegiatan kreatif sebuah karya seni yang bentuk dan ekspresinya imajinatif.
2. Sastra adalah tulisan bernilai seni mengenai subjek khusus kehidupan manusia dalam suatu negeri pada suatu masa.
3. Sastra adalah ekspresi kehidupan dengan media bahasa yang khas.
4. Sastra merupakan sebuah ciptaan, sebuah kreasi yang berunsur fiksionalitas yang merupakan luapan emosi spontan.
5. Sastra merupakan ungkapan pribadi manusia yang berupa pengalaman pikiran, perasaan, ide, semangat keyakinan dalam suatu bentuk gambaran konkret yang membangkitkan pesona dengan alat bahasa.
2. Pengertian Novel
Kata novel berasal dari bahasa Itali novella yang secara harfiah berarti „sebuah barang baru yang kecil , dan kemudian diartikan sebagai
„cerita pendek dalam bentuk prosa . Abrams (dalam Nurgiyantoro, 2005:
9). Dalam bahasa Latin kata novel berasal novellus yang diturunkan pula dari kata noveis yang berarti baru. Dikatakan baru karena dibandingkan dengan jenis-jenis lain, novel ini baru muncul kemudian (Tarigan, 1995:
164).
Pendapat Tarigan diperkuat dengan pendapat Semi (1993: 32) bahwa novel merupakan karya fiksi yang mengungkapkan aspek-aspek kemanusiaan yang lebih mendalam dan disajikan dengan halus. Novel yang diartikan sebagai memberikan konsentrasi kehidupan yang lebih tegas, dengan roman yang diartikan rancangannya lebih luas mengandung sejarah perkembagan yang biasanya terdiri dari beberapa fragmen dan patut ditinjau kembali.
Sudjiman (1998: 53) mengatakan bahwa novel adalah prosa rekaan yang menyuguhkan tokoh dan menampilkan serangkaian peristiwa serta latar secara tersusun. Novel sebagai karya imajinatif mengugkapkan aspek-aspek kemanusiaan yang mendalam dan menyajikannya secara halus. Novel tidak hanya sebagai alat hiburan, tetapi juga sebagai bentuk seni yang mempelajari dan meneliti segi-segi kehidupan dan nilai- nilai baik buruk (moral) dalam kehidupan ini dan mengarahkan pada pembaca tentang budi pekerti yang luhur.
Saad (dalam Badudu, 1984 :51) menyatakan nama cerita rekaan untuk cerita-cerita dalam bentuk prosa seperti: roman, novel, dan cerpen. Ketiganya dibedakan bukan pada panjang pendeknya cerita, yaitu dalam arti jumlah halaman karangan, melainkan yang paling utama ialah digresi, yaitu sebuah peristiwa-peristiwa yang secara tidak langsung berhubungan dengan cerita peristiwa yang secara tidak langsung
berhubungan dengan cerita yang dimasukkan ke dalam cerita ini. Makin banyak digresi, makin menjadi luas ceritanya.
Batos (dalam Tarigan, 1995: 164) menyatakan bahwa novel merupakan sebuah roman, pelaku-pelaku mulai dengan waktu muda, menjadi tua, bergerak dari sebuah adegan yang lain dari suatu tempat ke tempat yang lain.
Nurgiyantoro (2005: 15) menyatakan, novel merupakan karya yang bersifat realistis dan mengandung nilai psikologi yang mendalam, sehingga novel dapat berkembang dari sejarah, surat-surat, bentuk-bentuk nonfiksi atau dokumen-dokumen, sedangkan roman atau romansa lebih bersifat puitis. Dari penjelasan tersebut dapat diketahui bahwa novel dan romansa berada dalam kedudukan yang berbeda.
Jassin (dalam Nurgiyantoro, 2005: 16) membatasi novel sebagai suatu cerita yang bermain dalam dunia manusia dan benda yang di sekitar kita, tidak mendalam, lebih banyak melukiskan satu saat dari kehidupan seseorang dan lebih mengenai sesuatu episode. Mencermati pernyataan tersebut, pada kenyataannya banyak novel Indonesia yang digarap secara mendalam, baik itu penokohan maupun unsur-unsur intrinsik lain.
Sejalan dengan Nurgiyantoro, Hendy (1993: 225) mengemukakan bahwa novel merupakan prosa yang terdiri dari serangkaian peristiwa dan latar. Ia juga menyatakan, novel tidaklah sama dengan roman. Sebagai karya sastra yang termasuk ke dalam karya sastra modern, penyajian cerita dalam novel dirasa lebih baik.
Novel biasanya memungkinkan adanya penyajian secara meluas (expands) tentang tempat atau ruang, sehingga tidak
mengherankan jika keberadaan manusia dalam masyarakat selalu menjadi topik utama (Sayuti, 1993: 6-7).
Masyarakat tentunya berkaitan dengan dimensi ruang atau tempat, sedangkan tokoh dalam masyarakat berkembang dalam dimensi waktu semua itu membutuhkan deskripsi yang mendetail supaya diperoleh suatu keutuhan yang berkesinambungan. Perkembangan dan perjalanan tokoh untuk menemukan karakternya, akan membutuhkan waktu yang lama, apalagi jika penulis menceritakan tokoh mulai dari masa kanak-kanak hingga dewasa. Novel memungkinkan untuk menampung keseluruhan detail untuk perkembangkan tokoh dan pendeskripsian ruang.
Novel oleh Sayuti (1993: 7) dikategorikan dalam bentuk karya fiksi yang bersifat formal. Bagi pembaca umum, pengategorian ini dapat menyadarka bahwa sebuah fiksi apapun bentuknya diciptakan dengan tujuan tertentu.
Dengan demikian, pembaca dalam mengapresiasi sastra akan lebih baik. Pengategorian ini berarti juga bahwa novel yang kita anggap sulit dipahami, tidak berarti bahwa novel tersebut memang sulit. Pembaca tidak mungkin meminta penulis untuk menulis novel dengan gaya yang menurut anggapan pembaca luwes dan dapat dicerna dengan mudah, karena setiap novel yang diciptakan dengan suatu cara tertentu mempunyai tujuan tertentu pula. Penciptaan karya sastra memerlukan daya imajinasi yang tinggi.
Menurut Yunus (1989: 91), mendefinisikan novel adalah meniru
”dunia kemungkinan”. Semua yang diuraikan di dalamnya bukanlah dunia sesungguhnya, tetapi kemungkinan-kemungkinan yang secara imajinasi
dapat diperkirakan bisa diwujudkan. Tidak semua hasil karya sastra arus ada dalam dunia nyata , namun harus dapat juga diterima oleh nalar.
Dalam sebuah novel, si pengarang berusaha semaksimal mungkin untuk mengarahkan pembaca kepada gambaran-gambaran realita kehidupan melalui cerita yang terkandung dalam novel tersebut Sebagian besar orang membaca sebuah novel hanya ingin menikmati cerita yang disajikan oleh pengarang. Pembaca hanya akan mendapatkan kesan secara umum dan bagian cerita tertentu yang menarik. Membaca sebuah novel yang terlalu panjang yang dapat diselesaikan setelah berulang kali membaca dan setiap kali membaca hanya dapat menyelesaikan beberapa episode akan memaksa pembaca untuk mengingat kembali cerita yang telah dibaca sebelumnya. Hal ini menyebabkan pemahaman keseluruhan cerita dari episode ke episode berikutnya akan terputus.
Novel sebagai karya sastra prosa merupakan sastra yang berbentuk penceritaan terhadap sebuah masalah yang dihadapi oleh pelaku dalam cerita. Prosa sebagai hasil karya sastra menitik beratkan metodenya pada penceritaannya. Prosa yang unsure dasarnya menyampaikan isi karangan dengan jalan penceritaan membeberkan secara terang-terang sesuatu hal yang hendak disampaikan pengarang yakni mengungkapkan secara bebas sesuatu yang dirasakan. Dipikirkan atau dialami(Nensilianti, 2004: 87).
Seperti yang telah disebut diatas bahwa salah satu jenis prosa adalah novel. Sebagai sastra yang berbentuk prosa bila dilihat berdasarkan isinya merupakan cerita rekaan atau prosa rekaan yang bersifat sastra dan merupakan hasil ciptaan imajinasi rekaan dan pengarangnya (Firdaus, 1885: 12).
Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa novel adalah sebuah cerita fiktif yang berusaha menggambarkan atau melukiskan kehidupan tokoh-tokohnya dengan menggunakan alur. Cerita fiktif tidak hanya sebagai cerita khayalan semata, tetapi sebuah imajinasi yang dihasilkan oleh pengarang adalah realitas atau fenomena yang dilihat dan dirasakan.
a. Ciri-ciri Novel
Hendy (1993: 225) menyebutkan ciri-ciri novel sebagai berikut:
a) Sajian cerita lebih panjang dari cerita pendek dan lebih pendek dari roman.Biasanya cerita dalam novel dibagi atas beberapa bagian.
b) Bahan cerita diangkat dari keadaan yang ada dalam masyarakat dengan ramuan fiksi pengarang.
c) Penyajian berita berlandas pada alur pokok atau alur utama yang batang tubuh cerita, dan dirangkai dengan beberapa alur penunjang yang bersifat otonom (mempunyai latar tersendiri).
d) Tema sebuah novel terdiri atas tema pokok (tema utama) dan tema bawahan yang berfungsi mendukung tema pokok tersebut.
e) Karakter tokoh-tokoh utama dalam novel berbeda-beda. Demikian juga karakter tokoh lainnya. Selain itu, dalam novel dijumpai pula tokoh statis dan tokoh dinamis. Tokoh statis adalah tokoh yang digambarkan berwatak tetap sejak awal hingga akhir. Tokoh dinamis sebaliknya, ia bisa mempunyai beberapa karakter yang berbeda atau tidak tetap.
Pendapat tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri novel adalah cerita yang lebih panjang dari cerita pendek, diambil dari cerita
masyarakat yang diolah secara fiksi, serta mempunyai unsur intrinsik dan ekstrinsik. Ciri-ciri novel tersebut dapat menarik pembaca atau penikmat karya sastra karena cerita yang terdapat di dalamnya akan menjadikan lebih hidup.
b. Macam-macam Novel
Ada beberapa jenis novel dalam sastra. Jenis novel mencerminkan keragaman tema dan kreativitas dari sastrawan yang tak lain adalah pengarang novel. Nurgiyantoro (2005: 16) membedakan novel menjadi novel serius dan novel popular.
1) Novel Populer
Sastra populer adalah perekam kehidupan dan tidak banyak memperbincangkan kembali kehidupan dalam serba kemungkinan.
Sastra popular menyajikan kembali rekaman-rekaman kehidupan dengan tujuan. pembaca akan mengenali kembali pengalamannya.
Oleh karena itu, sastra populer yang baik banyak mengundang pembaca untuk mengidentifikasikan dirinya Kayam (dalam Nurgiyantoro, 2005: 18).
Berbicara tentang sastra populer, Kayam dalam Nurgiyantoro (2005: 18) menyebutkan bahwa sastra populer adalah perekam kehidupan dan tak banyak memperbincangkan kembali kehidupan dalam serba kemungkinan . ia menyajikan kembali rekaan-rekaan kehidupan itu dengan harapan pembaca akan mengenal kembali pengalaman-pengalamannya sehingga merasa terhibur karena seseorang telah menceritakan pengalamannya dan bukan penafsiran tentang emosi itu. Oleh karena itu, sastra populer yang
baik banyak mengundang pembaca untuk mengidentifikasikan dirinya.
Hal seperti itu dapat dilihat dari fenomena yang terjadi pada novel Cintapucino karya Icha Rahmanti yang tahun lalu sempat diliris ke dalam bentuk film. Banyak remaja khsusnya remaja puti yang mengungkapkan kesamaan kejadian di masa SMA yang mirip dengan yang digambarkan oleh Icha Rahmanti dalam novelnya.
Adapun pengkategorian novel sebagai novel serius atau novel populer bukanlah menjadi hal baru dalam dunia sastra. Usaha ini tidak mudah dilakukan karena bersifat riskan. Selain dipengaruhi oleh hal subjektif yang muncul dari pengamat, juga banyak faktor dari luar yang menentukan. Misalnya, sebuah novel yang diterbitkan oleh penerbit yang biasa menerbitkan karya sastra yang telah mapan, karya tersebut akan dikategorikan sebagai karya yang serius, karya yang bernilai tinggi, padahal pengamat belum membaca isi novel.
Kayam dalam Nurgiyantoro (2005: 17) menyebutkan kata
”pop” erat diasosiasikan dengan kata ”populer”, mungkin karena novel-novel itu sengaja ditulis untuk ”selera populer” yang kemudian dikenal sebagai ”bacaan populer”. Jadilah istilah pop sebagai istilah baru dalam dunia sastra kita.
Nurgiyantoro juga menjelaskan bahwa novel populer adalah novel yang populer pada masanya dan banyak penggemarnya, khususnya pembaca dikalangan remaja. Novel jenis
ini menampilkan masalah yang aktual pada saat novel itu muncul.
Pada umumnya, novel populer bersifat artifisial, hanya bersifat sementara, cepet ketinggalan zaman, dan tidak memaksa orang untuk membacanyasekali lagi seiring dengan munculnya novel-novel baru yang lebih populer pada masa sesudahnya (2005: 18). Di sisi lain, novel populer lebih mudah dibaca dan lebih mudah dinikmati karena semata-mata menyampaikan cerita Stanton (dalam Nurgiyantoro 2005: 19). Novel populer tidak mengejar efek estetis seperti yang terdapat dalam novel serius.
Beracuan dari beberapa pendapat di atas, ditarik sebuah simpulan bahwa novel popular adalah cerita yang bisa dibilang tidak terlalu rumit. Alur cerita yang mudah ditelusuri, gaya bahasa yang sangat mengena, fenomena yang diangkat terkesan sangat dekat.
Hal ini pulalah yang menjadi daya tarik bagi kalangan remaja sebagai kalangan yang paling menggemari novel populer. Novel populer juga mempunyai jalan cerita yang menarik, mudah diikuti, dan mengikuti selera pembaca. Selera pembaca yang dimaksudkan adalah hal-hal yang berkaitan dengan kegemaran naluriah pembaca, seperti motif-motif humor dan heroisme sehingga pembaca merasa tertarik untuk selalu mengikuti kisah ceritanya.
2) Novel Serius
Novel serius atau yang lebih dikenal dengan sebutan novel sastra merupakan jenis karya sastra yang dianggap pantas dibicarakan dalam sejarah sastra yang bermunculan cenderung mengacu pada novel serius. Novel serius harus sanggup memberikan
segala sesuatu yang serba mungkin, hal itu yang disebut makna sastra yang sastra. Novel serius yang bertujuan untuk memberikan hiburan kepada pembaca, juga mempunyai tujuan memberikan pengalaman yang berharga dan mengajak pembaca untuk meresapi lebih sungguh-sungguh tentang masalah yang dikemukakan.
Berbeda dengan novel populer yang selalu mengikuti selera pasar, novel sastra tidak bersifat mengabdi pada pembaca. Novel sastra cenderung menampilkan tema-tema yang lebih serius. Teks sastra sering mengemukakan sesuatu secara implisit sehingga hal ini bisa dianggap menyibukkan pembaca. Nurgiyantoro (2005: 18) mengungkapkan bahwa dalam membaca novel serius, jika ingin memahaminya dengan baik diperlukan daya konsentrasi yang tinggi disertai dengan kemauan untuk itu. Novel jenis ini, di samping memberikan hiburan juga terimplisit tujuan memberikan pengalaman yang berharga kepada pembaca atau paling tidak mengajak pembaca untuk meresapi dan merenungkan secara lebih sungguh- sungguh tentang permasalahan yang dikemukakan.
Kecenderungan yang muncul pada novel serius memicu sedikitnya pembaca yang berminat pada novel sastra ini. Meskipun demikian, hal ini tidak menyebabkan popularitas novel serius menurun. Justru novel ini mampu bertahan dari waktu ke waktu.
Misalnya, roman Romeo Juliet Karya William Shakespeare atau karya Sutan Takdir, Armin Pane, Sanusi Pane yang memunculkan polemik yang muncul pada dekade 30-an yang hingga saat ini masih dianggap relevan dan belum ketinggalan zaman
(Nurgiyantoro,2005:21).
Berdasarkan strukturnya novel dapat dibagi menjadi : a. Novel plot atau novel kejadian
Novel plot, struktur ceritanya amat dipentingkan pengarang.
Novel ini menitikberatkan pada perkembangan kejadian yang biasanya penuh ketegasan dan kejutan. Contoh : Hulubalang Raja Karya Nur Sutan Iskandar.
b. Novel tematis
Novel yang menekankan pada unsur tema atau persoalan.
Karena tema begitu banyak, maka muncullah beberapa kategori novel dari jenis ini, misalnya novel politik, novel sosial, dan novel pendidikan. Contoh : Negeri di Uujung Tanduk. Karya Tere-Liye c. Watak novel
Novel janis ini menekankan unsur karakter atau watak pelakunya. Pengarang menggambarkan watak seseorang atau tokoh, sehingga seluruh kejadian, atau cerita dalam novel sangat ditentukan oleh watak tokohnya.
d. Novel romantis
Novel ini menekankan kisah percintaan antara para remaja, penuh intrik cinta yang manis. Tema-tema lebih mengedepankan romantisme. Contoh : Percobaan Seta Karya Suman Hasibuan
e. Novel detektif/ Novel kriminal
Novel yang isinya menceritakan tokoh yang berusaha untuk mengungkapkan rahasia kejahatan. Biasanya mengungkapkan teka-
teki sebuah kasus hingga pengungkapan apa dan siapa yang ada dibalik semuanya. Contoh : Cincin Stempel Karya Ardi Soma.
Sedangkan jenis novel menurut Sumardjo (dalam, Reskiawati 2010: 29) dapat dibagi menjadi tiga golongan yaitu novel percintaan, novel petualangan, dan novel fantasi. Uraian ketiga golongan tersebut adalah sebagai berikut :
a. Novel percintaan
Novel percintaan melibatkan peranan tokoh wanita dan pria secara berimbang, bahkan kadang peranan wanita lebih dominan.
Dalam golongan novel ini digarap hampir semua tema dan sebagian besar novel termasuk jenis novel percintaan.
b. Novel petualangan
Novel petualangan sedikit sekali memasukan peranan wanita.
Golongan jenis petualangan adalah bacaan kaum pria karena tokoh didalamnya pria dan banyak masalah pria yang tidak ada hubungannya dengan wanita. Meskipun golongan novel ini sering ada percintaan juga, namun hanya bersifat sampingan belaka.
Artinya, novel ini tidak semata-mata berbicara persoalan cinta.
c. Novel fantasi
Novel fantasi bercerita tentang hal-hal yang tidak realistis dan serba tidak mungkin dilihat dari pengalaman sehari-hari. Jenis novel ini mementingkan ide, konsep, dan gagasan sastrawan yang hanya dapat jelas kalau diutarakan dalam bentuk cerita fantasik. Artinya menyalahi hukum empiris.
Sedangkan ahli lain yang bernama Goldmann (Faruk, 2010: 92)
membedakan novel menjadi tiga jenis, yaitu novel idealisme abstrak, novel psikologis, dan novel pendidikan.
Beracuan dari pendapat di atas, ditarik sebuah simpulan bahwa novel serius adalah novel yang mengungkapkan sesuatu yang baru dengan cara penyajian yang baru pula. Secara singkat disimpulkan bahwa unsur kebaruan sangat diutamakan dalam novel serius. Di dalam novel serius, gagasan diolah dengan cara yang khas. Hal ini penting mengingat novel serius membutuhkan sesuatu yang baru dan memiliki ciri khas daripada novel-novel yang telah dianggap biasa. Sebuah novel diharapkan memberi kesan yang mendalam kepada pembacanya dengan teknik yang khas ini. sangat diutamakan dalam novel serius. Di dalam novel serius, gagasan diolah dengan cara yang khas. Hal ini penting mengingat novel serius membutuhkan sesuatu yang baru dan memiliki ciri khas daripada novel-novel yang telah dianggap biasa. Sebuah novel diharapkan memberi kesan yang mendalam kepada pembacanya dengan teknik yang khas ini.
c. Unsur-unsur Novel
Unsur-unsur yang ada dalam novel yaitu : a. Unsur Intrinsik
Unsur Intrinsik adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra itu sendiri. Unsur-unsur inilah yang menyebabkan karya satra hadir sebagi karya sastra, unsur-unsur yang secara faktual akan dijumpai jika orang membaca karya sastra. Unsur intrinsik sebuah novel adalah unsur-unsur yang (secara langsung) turut serta membangun cerita. Kepaduan antarberbagai unsur intrinsik inilah
yang membuat sebuah novel berwujud atau sebaliknya, jika dilihat dari sudut kita pembaca, unsur-unsur (Cerita) inilah yang akan dijumpai jika kita membaca sebuah novel.
b. Unsur Ekstrinsik
Unsur Ekstrinsik adalah unsur-unsur yang berada diluar karya sastra itu, tetapi secara tidak langsung mempengaruhi bangunan atau sistem organisme karya sastra. Atau, secara lebih khusus ia dapat dikatakan sebagai unsur-unsur yang mempengaruhi bangun cerita sebuah karya sastra, namun sendiri tidak ikut menjadi bagian didalamnya. Walau demikian, unsur ektrinsik cukup berpengaruh (untuk tidak dikatakan : Cukup menentukan) terhadap totalitas bangun cerita yang dihasilkan. Oleh karena itu, unsur Ekstrinsik sebuah novel haruslah tetap dipandang sebagai sesuatu yang penting.
d. Penokohan
Menurut Abrams (dalam siswantoro, 2010:165) tokoh certa (character) adalah orang yang ditampilkan dalam suatu karya naratif,atau drama, yang oleh pembaca di tafsirkan memiliki kualitas moral dan kecendrungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam ucapan dan yang dilakukan dalam tindakan.
Peristiwa dalam karya fiksi seperti halnya dalam kehidupan sehari- hari, selalu diemban oleh tokoh atau pelaku tertentu. Pelaku yang menggambrkan peristiwa dalam cerita fiksi sehingga peristiwa itu mampu menjalin suatu cerita disebut dengan tokoh, sedangkan pengarang
menampilkan tokoh atau pelaku disebut dengan penokohan (Aminuddin, 2010:79).
Aminuddin (2010:79) juga membedakan tokoh dari segi peranan dan tingkat pentingnya menjadi dua, yaitu (1) tokoh utama atau tokoh inti, tokoh yang memiliki peranan penting, dan (2) tokoh tambahan atau tokoh pembantu, tokoh yang mempunyai peranan kurang penting karena kemunculannya hanya melengkapi, melayani, dan mendukung tokoh utama.
Siswantoro (2010:194-198) juga membedakan teknik pelukisan tokoh mejadi dua bagian yaitu, (1) teknik ekspositori atau teknik analitik adalah teknik pelukisan tokoh cerita dilakukan dengan memberikan deskripsi, uraian, atau penjelasan secara langsung tentang tokoh yang mungkin berupa sikap, sifat, watak, tingkah laku, dan juga ciri fisiknya, sedangkan, (2) teknik dramatik adalah teknik pelukisan tokoh yang dilakukan secara tidak langsung. Artinya pengarang tidak mendeskripsikan secara eksplisit,sifat, sikap dan tingkah laku tokoh melainkan memberikan tokoh cerita menunjukkan dirinya sendiri melalui berbagai aktivitas yang dilakukannya, baik secara verbal lewat kata maupun non-verbal lewat tindakan dan juga melalui peristiwa yang terjadi.
Watak, perwatakan dan karakter menunjukkan pada sifat dan sikap para tokoh yang ditapsirkan oleh pembaca, lebih menunjuk pada kualitas pribadi seorang tokoh. Sehubungan dengan watak ini pelaku dibagi menjadi pelaku protagonis dan pelaku antagonis. Pelaku protagonis adalah pelaku yang mempunyai watak yang baik sehingga disenangi oleh pembaca,
sedangkan pelaku antagonis adalah pelaku yang memiliki watak yang tidak sesuai dengan apa yang diinginkan pembaca (Aminuddin, 2010:80).
Selanjutnya ia menerangkan bahwa upaya memahami watak pelaku, pembaca bisa menelusuri lewat (1) tuturan pengarang terhadap kerakteristik pelaku, (2) gambaran yang diberikan pengarang lewat gambaran lingkungan kehidupan maupun caranya berpakaian, (3) menunjukkan bagaimana pelakunya, (4) melihat bagaimana tokoh itu berbicara tentang dirinya sendiri, (5) memahami bagaimana jalan pikirannya, (6) melihat bagaiman tokoh lain berbicara tentang dirinya, (7) melihat bagaimana tokoh lain berbicara dengannya, (8) bagaimana tokoh- tokoh lain memberi reaksi terhadapnya, dan (9) melihat tokoh itu dalam tokoh lain (Aminuddin, 2010:80-81).
Berdasarkan keterangan di atas peneliti mengambil kesimpulan bahwa penokohan adalah penciptaan sebuah karakter atau tokoh dalam sebuah cerita. Pengarang akan menciptakan sebuah karakter atau tokoh dengan sangat nyata, hal ini bertujuan agar para pembaca merasa bahwa tokoh karakter itu benar-benar ada dan tokoh fiksi semata.
3. Pengertian Nilai
Nilai adalah gambaran mengenai apapun yang diinginkan, yang pantas yang berharga yang mempengaruhi perilaku social dari pengarang yang memiliki nilai itu. Purwandarminta (1992: 65) berpendapat bahwa “nilai adalah banyak sedikitnya mutu atau sifat-sifat (hal-hal) yang penting atau berguna bagi kemanusian”. Nilai erat hubungannya dengan kebudayaan dan masyarakat. Setiap masyarakat atau setiap kebudayan memiliki nilai-
nilai tertentu. Antara kebudayaan dan masyarakat itu sendiri merupakan nilai yang tidak terhingga bagi orang yang memilikinya.
Dapat diartikan bahwa nilai adalah suatu yang merupakan ukuran masyarakat untuk menentukan sikap seseorang terhadap sesuatu hal yang dianggap baik dan benar. Nilai yang dijunjung tinggi di jadikan norma untuk menentukan ciri-ciri manusia yang ingin dicapai dalam praktik pendidikan.
Nilai dapat di peroleh secara nnormative bersumber dari norma masyarakat, norma filsafat, dan pandangan hidup, bahkan juga dari keyakinan keagamaan yang di anut oleh seseorang ( Munib, 2004:34).
Sastra dan tata nilai merupakan dua fenomena sosial yang saling melengkapi dalam hakikat mereka sebagai sesuatu yang eksistensial.
Sastra sebagai produk kehidupan., mengandung nilai-nilai sosial, filsafat, religi, dan sebagainya baik yang bertolak dari pengungkapan kembali maupun yang mempeunyai penyodoran konsep baru (Suyitno, 1986: 3).
Sastra tidak hanya memasuki ruang serta nilai-nilai kehidupan personal, tetapi juga nilai-nilai kehidupan manusia dalam arti total.
Menilai oleh Setiadi (2006: 110) dikatakan sebagai kegiatan menghubungkan sesuatu dengan sesuatu yang lain sehingga diperoleh menjadi suatu keputusan yang menyatakan sesuatu itu berguna atau tidak berguna, benar atau tidak benar, baik, atau buruk, manusiawi atau tidak manusiawi, religius atau tidak religius, berdasarkan jenis tersebutlah nilai ada. Lasyo (Setiadi 2006: 117) menyatakan, nilai manusia merupakan landasan atau motivasi dalam segala tingkah laku atau perbuatannya.
Sejalan dengan Lasyo, Darmodiharjo (dalam Setiadi, 2006: 117) mengungkapkan nilai merupakan sesuatu yang berguna bagi manusia baik
jasmani maupun rohani. Sedangkan Soekanto (1983: 161) menyatakan, nilai-nilai merupakan abstraksi daripada pengalaman-pengalaman pribadi seseorang dengan sesamanya. Pada hakikatnya, nilai yang tertinggi selalu berujung pada nilai yang terdalam dan terabstrak bagi manusia, yaitu menyangkut tentang hal-hal yang bersifat hakki. Dari beberapa pendapat tersebut di atas pengertian nilai dapat disimpulkan sebagai sesuatu yang bernilai, berharga, bermutu, akan menunjukkan suatu kualitas dan akan berguna bagi kehidupan manusia.
Menyangkut masalah seleksi dan preferensi diantara banyak pilihan yang ada. Nilai adalah hal-hal yang dianggap benar dan di junjung tinggi oleh masyarakat, serta secara sadar ataupun tidak sadar dijadikan pedoman, tolak ukur dan orientasi oleh anggota-anggota masyarakat dalam bersikap dan berprilaku.
4. Pengertian Moral
Moral secara logawi berasal dari bahasa latin “mares” kata jamak darai kata “mos” yang berarti adat kebiasaan susila. Yang dimaksud adat kebiasaan dalam hal ini adalah tindakan yang sesuai dengan ide-ide umum yang di terima oleh masyarakat mana yang baik dan mana yang wajar.(Suprojo:2003:26). Sedangkan moral menurut istilah adalah perbuatan atau tindakan yang dilakukan sesuai dengan ide-ide atau pendapat-pendapat yang umum diterima yang meliputi kesatuan social atau lingkungan- lingkungan tertentu (Amien, 1996:193).
Moral menurut Salam (2000:12) “adalah ilmu yang mencari keselerasan perbuatan-perbuatan manusia (tindakan Insani) dengan dasar- dasar yang sedalam-dalamnya yang di peroleh dengan akal budi manusia”.
Moral merupakan sesuatu yang igin disampaikan pengarang kepada pembaca, merupakan makna yang terkandung dalam karya sastra, makna yang disaratkan lewat cerita. Moral dapat dipandang sebagai tema dalam bentuk yang sederhana, tetapi tidak semua tema merupaka moral (Kenny dalam Nurgiyantoro, 2005: 320).
Moral merupakan pandangan pengarang tentang nilai-nilai kebenaran dan pandangan itu yang ingin disampaikan kepada pembaca.
Hasbullah (2005:194). menyatakan bahwa, moral merupakan kemampuan seseorang membedakan antara yang baik dan yang buruk.
Nilai moral yang terkandung dalam karya sastra bertujuan untuk mendidik manusia agar mengenal nilai-nilai etika merupakan nilai baik buruk suatu perbuatan, apa yang harus dihindari, dan apa yang harus dikerjakan, sehingga tercipta suatu tatanan hubungan manusia dalam masyarakat yang dianggap baik, serasi, dan bermanfaat bagi orang itu , masyarakat, lingkungan, dan alam sekitar.
Uzey (2009: 2) berpendapat bahwa nilai moral adalah suatu bagian dari nilai, yaitu nilai yang menangani kelakuan baik atau buruk dari manusia.moral selalu berhubungan dengan nilai, tetapi tidak semua nilai adalah nilai moral. Moral berhubungan dengan kelakuan atau tindakan manusia. Nilai moral inilah yang lebih terkait dengan tingkah laku kehidupan kita sehari-hari.
Dapat disimpulkan bahwa nilai moral menunjukkan peraturan- peraturan tingkah laku dan adat istiadat dari seorang individu dari suatu kelompok yang meliputi perilaku. Untuk karya menjunjung tinggi budi
pekerti dan nilai susila.
Demoralisasi kerusakan moral. Meral juga dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu:
a. Moral murni yaitu moral yang terdapat pada setiap manusia, sebagai suatu pengejawantahan dari pancaran ilahi. Moral murni disebut juga hati murni.
b. Moral terapan adalah moral yang didapat dari ajaran berbagai ajaran filosofis, agama, adat yang menguasai pemutaran manusia (Agus, 2011).
Kata moral selalu mengacu kepada baik buruknya manusia.
Sikap moral tersebut juga moralitas yaitu sikap hati seseorang yang terungkap dalam tindakan lahiriah. Moralitas adalah sikap dan perbuatan baik yang betul-betul tanpa pamrih dan hanya moralitaslah yang dapat bernilai secara moral.
Menurut Kohlberg (1977: 5) “penalaran atau pemikiran moral merupakan faktor penentu yang melahirkan perilaku moral. Oleh karena itu untuk menentukan perilaku moral yang sebanarnya dapat ditelusuri melalui penalarannya. Artinya pengukuran moral yang benar tidak sekedar mengamati perilaku moral yang tampak, tetapi harus melihat pada penalaran moral yang mendasari keputusan perilaku tersebut.
Dengan demikian aspek moral yang dimaksud adalah segala aspek yang menyangkut baik buruknya suatu perbuatan. Dalam hal ini mengenai sikap kewajiban, akhlak, budi pekerti, dan susila (sugirah, 1997: 147).
Dalam penelitian ini dibahas bentuk moral sebagai berikut:
1. Sosial
Sosial adalah berkenaan dengan masyarakat perlu adanya komunikasi dalam usaha menunjang pembangunan ini, suka memperhatikan kepentingan umum, suka menolong dan sebagainya (Alwi, 1990: 885).
Al-Ghazalih ( dalam Zainuddin, 1991, 122) mengatakan bahwa manusia dijadikan Allah Swt dalam bentuk yang tidak hidup sendirian, karena tidak dapat mengusahakan sendiri seluruh keperluan hidupnya baik untuk memperoleh makan dan bertani diladang, memperoleh roti dan nasi, memperoleh pakaian semuanya. Dengan demikian manusia memerlukan pergaulan dan saling membantu.
Manusia hidup bermasyarakat artinya ia tidak lepas dari bantuan dan pertolongan orang lain. Hidup menyendiri membahayakan diri sendiri dan masyarakat sekitarnya. Hidup bermasyarakat membagi suka dan duka dengan teman sejawat adalah kemajuan dan kebahagian. Pergaulan baik dapat dibina dengan berbagai cara:
1) Dengan Ramah Tama
Ramah tama menimbulkan rasa simpati orang lain yang dapat mempererat tali persaudaraan.
2) Keadilan
Keadilan berarti yang salah dikatakan salah, yang benar dikatakan benar.
3) Bertanggung Jawab kepada Masyarakat
Setiap orang bertanggung jawab untuk menciptakan masyarakat yang baik
Tanggung jawab seseorang akan dinilai sesuai dengan sejauh mana tanggung jawabnya terhadap setiap ucapan, perilaku dan janjinya. Tanggung jawab sebagai nilai memeng menjadi sangat penting akan pribadi seseorang.
Berjiwa sosial atau kepekaan sosial( sense of social) dapat dilihat dalam perilaku seseorang yang dermawan, peduli kepada mereka yang kecil dan mau menerima orang-orang lemah. Jiwa social atau kepekaan social menjadi hal yang sangat langkah dalam kehidupan dan budaya kita sekarng.
2. Agama
Dalam kamus besar Besar Bahasa Indonesia, agama adalah kepercayaan kepada Tuhan dengan segala kebaktian dan kewajiban-kewajiban yang bertalian dengan kepercyaan diri. Dalam istilah arab dan Al-quran, kata agama berasal dari kata addin. Apabila kata addin dirangkai dengan Allah dinullah atau dinulhaq yaitu agama yang dating dari Allah atau agama yang hak.
Dalam agama terdapat aturan-aturan yaitu:
1) Mangatur hubungan manusia dengan Tuhan, meliputi kepercayaan dan penyembahan.
2) Ajaran yang mengatur manusia dengan sesamanya dan hubungannya dengan dengan alam.
Model penciptaan manusia yang beraneka ragam oleh tuhan, jelas sekali tidak dimaksudkan untuk memecah belah manusia atau menjadikan mereka saling bermusuhan satu sama lain. Sebaliknya, berdasarkan pernedaan-perbedaan yang ada manusia didorong untuk saling bekerja sama berlandaskan kesadaran bahwa sesungguhnya mereka adalah umat yang satu.
Manusia, apapun tradisi dan agamanya, apapun bahasa dan warna kulitnya , adalah makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.
3. Kesusilaan
Dalam kamus besar Bahsa Indonesia kesusilaan adalah perilaku susila, yang berkaitan dengan adab dan sopan santun.
(Alwi, 1990: 854).
Dalam ajaran susila, berbuat baik adalah memberikan pengorbanan untuk keselamatan umat manusia. Pengorbanan dapat berupa: menyumbang harta benda, memelihara yatin piatu atau sebagainya.
Secara kebahasaan perkataan susila merupakan istilah yang berasal dari bahasa Sansekerta. Su berarti baik atau bagus, sedangkan sila berarti dasar, prinsip, peraturan hidup atau norma.
Jadi, susila berarti dasar, prinsip, peraturan atau norma hidup yang baik atau bagus.
Selain itu, istilah susila pun mengandung pengertian peraturan hidup yang lebih baik. Istilah susila dapat pula berarti sopan, beradab,
dan baik budi bahasanya. Dengan demikian, kesusilaan dengan penambahan awalan ke dan akhiran an sama artinya dengan kesopanan.
5. Bentuk-bentuk Moral Baik dan Moral Tidak baik dalam Novel Ibuku Tidak Gila karya Anggie D Widowati
Bentuk-bentuk moral baik dalam Novel Ibuku Tidak Gila adalah sebagai berikut:
a. Kejujuran
Kejujuran merupakan perbuatan terpuji yang semakin jarang di lakukan oleh umat manusia, jujur memang susah untuk di jalankan tetapi kita hanya perlu melawan kesusahan itu dengan keberanian berbuat benar dan tidak berbohong saat melakukan apapun. Jujur merupakan hal yang mempunyai banyak pahala tetapi susah kalau kita hanya memikirkannya tetapi kita bisa mencobanya untuk tidak berbohong dan tidak mementingkan perkataan yang baik tapi tidak menepatinya.
Jujur adalah sebuah kata yang indah didengar, tetapi tidak seindah mengaplikasikan dalam keseharian. Tidak pula berlebihan, bila ada yang mengatakan “jujur” semakin langka dan terkubur, bahkan tidak lagi menarik bagi kebanyakan orang. Semua orang paham akan maknanya, tetapi begitu mudah mengabaikannya. Yang lebih berbahaya lagi adalah ada orang yang ingin dan selalu bersikap jujur, tapi mereka belum sepenuhnya tahu apa saja sikap yang termasuk kategori jujur.(Dede: 2014).
b. Kesabaran
Sabar menahan cobaan memang bukan hal yang mudah, tapi itu juga bukan sebuah hal yang mustahil. Kedudukan orang-orang yang sabar di mata Allah SWT sangat tinggi.
sabar adalah menahan diri dari kesusahan dan menyikapinya sesuai syariah dan akal, menjaga lisan dari celaan, dan menahan anggota badan dari berbuat dosa dan sebagainya. Itulah pengertian sabar yang harus kita tanamkan dalam diri kita. Dan sabar ini tidak identik dengan cobaan saja. Karena menahan diri untuk tidak bersikap berlebihan, atau menahan diri dari pemborosan harta bagi yang mampu juga merupakan bagian dari sabar. Sabar harus kita terapkan dalam setiap aspek kehidupan kita. Bukan hanya ketika kita dalam kesulitan, tapi ketika dalam kemudahaan dan kesenangan juga kita harus tetap menjadikan sabar sebagai aspek kehidupan kita. (Brief: 2014).
Macam-macam sabar
Sabar itu ada berbagai macam, antara lain : a) Sabar dalam menjalankan perintah Allah.
b) Sabar dari apa yang dilarang Allah.
c) Sabar terhadap apa yang telah ditakdirkan Allah.
c. kepercayaan
Kepercayaan adalah suatu keadaan psikologis pada saat seseorang menganggap suatu premis yang benar.
d. Kesetian
kesetiaan adalah ketulusan, tidak melanggar janji atau berkhianat, perjuangan dan anugerah, serta mempertahankan cinta dan menjaga janji bersama.
Kesetiaan berarti perjuangan, anugerah, pengorbanan, dan kesabaran. Caranya adalah dengan :
a) memberinya perhatian
b) menjaganya, dan tidak meniggalkannya sendiri.
c) mengkhawatirkannya dari segala hal yang mungkin bisa menyakitinya.
d) menjaga perasaannya, menghargai perjuangannya, e) mengucapkan terima kasih atas apa yang dia kerjakan.
f) tidak mengumbar kekurangan, dan menjaga rahasia-rahasianya.
g) berusaha untuk membahagiakan,dan memuji kelebihan.
h) mengingat kebaikan, dan melupakan kesalahannya.
i) setelah berpisah, mengingat kenangan-kenangan dan saat-saat bersamanya yang penuh keindahan.
Sifat setia tidak akan berkumpul dengan perasaan curiga, cemburu, merendahkan, mendzalimi, mengingkari, menyakiti, menuduh dan lain sebagainya. Bila ada pasangan berbuat salah, maka tak ada yang dilakukan oleh seorang yang setia melainkan segera melupakannya, memaafkan, dan tidak mengumbarnya kepada orang lain, sembari mengingat kembali kebaikan dan kelebihannya.
e. Pengendalian diri
Di dalam kehidupan bermasyarakat. Sehari-hari terdapat nilai norma yang berlaku secara umum serta harus dihormati dan dijalankan sebagai warha masyarakat yang baik. Hokum pun ada untuk mengatur warga masyarakat secara paksa untuk mengendalikan setiap manusia yang ada di masyarakat tersebut.
Dengan pengendalian diri, tidak hanya pahala yang kelak dapat diraih. Pengendalian diri membuat seseorang terbiasa menikmati keteraturan hidup, terbiasa taat, dan meradsa bahagia ketika mampu menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah subuhana wataala (Abatasa:2011)
f. Penyesalan
Penyesalan adalah suatu perasaan di mana seseorang merasa bersalah/melakukan kesalahan akan sesuatu dan ingin kembali ke masa saat melakukan kesalahan tersebut, dan memperbaikinya pada masa yang telah lalu (Wulandari, 2011).
Penyesalan adalah perasaan yang harus dirasakan dalam hidup.
Karena dengan menyesal (bagi yang berfikir), seseorang akan berusaha menjadi lebih baik lagi, dan meminimalisasi kesalahan dalam hidupnya. Belajar dari kesalahan, itulah yang akan seseorang perbuat, setelah merasa menyesal.
Menyesal juga jangan terlalu berlarut-larut. Jangan jadikan kesalahan itu beban yang sulit, tapi jadikan itu tantangan serta uji kesabaran agar diri menjadi lebih baik lagi. Seseorang akan berpikir, lalu melakukan perenungan, kemudian timbullah tekad
untuk menjadi lebih baik lagi. Insya Allah, jika tekad dan usaha itu baik, maka orang tersebut akan bisa mendapatkan kebaikan yang haqiqi.
g. Bohong
Bohong adalah mengatakan sesuatu yang tidak benar kepada orang lain atau tidak cocok dengan keadaan yang sebenarnya, seperti dusta dan palsu (Suharso dan Ana Retnoningsih, 2009: 92).
Jadi apabila tidak berkata jujur kepada orang lain, maka orang itu dikatakan orang yang munafik. Contoh bohong dalam keseharian yaitu seperti menerima telepon dan mengatakan bahwa orang yang dituju tidak ada tetapi pada kenyataannya orang itu ada. Contoh lainnya seperti ada anak ditanya dari mana oleh orang tuanya dan anak kecil itu mengatakan tempat yang tidak habis dikunjunginya.
h. Fitnah
Fitnah adalah perkataan bohong atau tanpa berdasarkan kebenaran yg disebarkan dng maksud menjelekkan orang (spt menodai nama baik, merugikan kehormatan orang): -- adalah perbuatan yg tidak terpuji; mem·fit·nah yaitu menjelekkan nama
orang (menodai nama baik, merugikan kehormatan, dsb) Fitnah adalah menghalang-halangi dari jalan Allah.
Dalam islam Fitnah artinya diantaranya : a) Fitnah adalah kekufuran.
b) Fitnah adalah menyesatkan.
c) Fitnah adalah wanita, harta dan anak.
d) Fitnah adalah ujian.
e) Fitnah adalah azab.
f) Fitnah adalah dibakar dengan api.
g) Fitnah adalah alasan.
h) Fitnah adalah perubahan keadaan menjadi semakin buruk.
i) Fitnah adalah pembunuhan atau peperangan i. Dendam
Dendam adalah sifat marah yang tidak terlampiaskan atau tersalurkan sehingga di dalam hatinya selalu berkeinginan untuk membalas perbuatan orang lain tersebut. Sifat pendendam sangat dibenci oleh Allah. Dendam juga bisa diartikan Dendam berarti berkeinginan keras untuk membalas kesalahan atau kejahatan.
Orang yang berkeinginan untuk membalas kesalahan atau kejahatan orang lain terhadap dirinya disebut pendendam. Dendam merupakan sifat yang berbahaya dan merugikan diri sendiri, keluarga maupun orang lain (Alvina, 2012).
Ciri-ciri orang pendendam :
1. Bila bertemu menunjukkan sifat kurang simpatik.
2. Selalu mengadu domba.
3. Selalu membuat hal yang kurang baik 4. Selalu memojokkan dalam segala hal.
5. Tidak suka bila orang lain mendapatkan kebahaggiaan.
6. Selalu mendoakan pada kejelekan
B. Penelitian yang relevan
a. Analisis Moral dalam penelitian sebelumnya
Suatu penelitian dapat mengacu pada penelitian-penelitian yang telah dilakukan sebelumnya. Hal itu dapat dijadikan sebagai titik tolak dalam melakukan penelitian. Oleh sebab itu, tinjauan terhadap penelitian terdahulu sangat penting untuk mengetahui relevansinya.
Penelitian Kamaruddin (2007) yang berjudul Analisis NIlai Moral Novel Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur Karya Muhidin M.
Dahlan, yaitu menggambarkan tenstang seorang muslimah yang sedang frustasi akibat tidak tercapainya cita-cita yang di inginkan yakni menegakkan syariah Islam di Indonesia, bahkan pelampiasan frustasinya itu ke hal-hal yang sifatnya melanggar norma atau ajaran agama.
Mengenai nilai moral juga pernah dilakukan oleh Baharuddin (2008) yang berjudul Analisi Nilai Moral dalam Novel Ibuku Tidak Gila Karya Sujani, yaitu menggambarkan tentang hakikat hidup yang
sebenarnya. Tokoh fikri mencerminkan seorang Penelitian muslimah yang sangat baik. Sederhana, dan bersahaja, baik nilai moral yang dapat diambil oleh tokoh Fikri mau pun sebagai peristiwa dalam novel ini. Kasih sayang terhadap istrinya maupun rekan-rekannya, ketekunan bekerja dan belajar, kejujuran, tanggung jawab yang di miliki serta nilai-nilainya.
Penelitian juga pernah dilakukan oleh (Biyantari:2011) yang berjudul Aspek Moral dalam Novel Harimau! Harimau! Karya
Mochtar Lubis. Novel ini menggambarkan petualangan di rimba raya oleh sekolompok pengumpul dammar yang di buru oleh seekor harimau yang kelaparan. Berhari-hari mereka mencoba menyelamatkan diri mereka. Dan seorang demi seorang di antara mereka jatuh korban terkaman harimau. Di sisi lain juga terjadi petualang dalam diri masing-masing anggota kelompok pengumpulkan dammar. Di bawah tekaman ancaman harimau yang harus memburu mereka dalam diri masing-masing, terjadi pula proses refleksi mengenai diri mereka yang mempertinggi kesadaran mereka tentang kekuatan dan kelemahan anggota-anggota kelompok mereka yang lain. Di antara mereka malahan sampai kesadaran bahwa sebelum membunuh harimau-harimau yang memburu mereka, tak kalah pentingnya adalah untuk memburu terlebih dahulu harimau-harimau yang berada dalam diri setiap anak manusia.
Berdasarkan penelitian sebelumnya, penelitian ini tidak mengembangkan penelitian sebelumnya. Namun, penelitian sebelumnya dengan penelitian ini ada persamaan yaitu sama-sama mengkaji aspek moral. Sementara perbedaannya yaitu Novel yang dikaji berberbeda.
C. Kerangka Pikir
Dengan memperhatikan uraian pada tinjauan pustaka, maka pada bagian ini akan diuraikan beberapa hal yang dijadikan penulis sebagai landasan berpikir selanjutnya. Landasan berpikir yang dimaksud tersebut akan mengarahkan penulis untuk menemukan data
dan informasi dalam penelitian ini guna memecahkan masalah yang telah dipaparkan untuk itu akan menguraikan secara rinci landasan berpikir yang dijadikan pegangan dalam penelitian ini:
Karya prosa adalah karangan yang bersifat menerang jelaskan secara terurai mengenai sesuatu masalah atau hal perostiwa dan lain- lain. Dengan demikian, karangan bentuk ini jelas tidak bisa disingkat dan pendek karena harus menerangkan secara panjang lebar dan sejelas-jelasnya akan sesuatu. Itulah sebabnya ketetapan dan kejelasan kalimat menjadi sangat penting.
Karya sastra bentuk prosa pada dasarnya dibangun oleh unsur instinsik; yaitu tema, amanah, plot, perwatakan atau penokohan, latar, dan karakter, titik pengisahan serta gaya bahasa. Selah satu bagian unsur instrinsik adalah karakter perwatakan yang mempunyai peranan sangat penting, karena tanpa karakter/perwatakan suatu cerita tidak akan tercipta.