9
Universitas Kristen Petra
2. KAJIAN PUSTAKA
2.1. Pengertian Bangunan Hemat Energi
2.1.1. Arsitektur dan Energi dalam Perspektif Historis
Efisiensi energi sebenarnya bukanlah merupakan kriteria baru dalam desain arsitektur
.
Konteks keberadaan suatu bangunan selalu ditentukan oleh batasan-batasan iklim dan material bangunan.
Sepanjang sejarah, iklim, energi dan kebutuhan-kebutuhan sumber daya merupakan hal-hal fundamental dalam seni dan tatanan arsitektur.
Bahkan dalam kondisi-kondisi iklim yang ekstrim sekalipun tidak menghalangi para perancangnya untuk menghadirkan karya arsitektur anggun yang merupakan solusi atas permasalahan lingkungannya. (Priatman, Dimensi, 2002, p.167)Ditinjau dari konteks energi, evolusi arsitektur dapat diklasifikasikan dalam periode periode berikut ini:
A
.
Arsitektur Pra Industri (sebelum periode 1800): Karakteristik periode ini adalah sumber daya berlimpah dan keterbatasan teknologi
Sistem struktur yang menjadi andalan konstruksi bangunan pada masa itu adalah konstruksi dinding pemikul, konstruksi busur, dengan kebetalan dinding bata masif, relatif menerus, modul struktur terbatas yang mengakibatkan terbatasnya lebar pembukaan-pembukaan, dengan material utama kayu dan batu
.
Pengendalian lingkungan pada bangunan mengandalkan kemampuan selubung bangunan (dinding dan atap) sebagai mediator utama antara kondisi eksternal dan internal
.
Kenyamanan dalam ruang diperoleh dari perapian, sedangkan kebutuhan penerangan alami didapatkan dari keterbatasan ukuran dan perletakan jendela dengan suplemen penerangan lampu minyak, obor, dan lilin.
Penampilan arsitektur yang dihasilkan adalah bangunan dinding pemikul dengan kwalitas isolasi panas baik (iklim dingin, panas kering), dinding
10
Universitas Kristen Petra
kayu/bambu olahan yang semi permanen (iklim panas lembab), akses terbatas untuk iluminasi alamiah, seperti yang terdapat dalam arsitektur gotik, renaisans, romaneski (iklim temperate dan dingin), arsitektur tradisional (iklim panas lembab)
.
B
.
Arsitektur Industri (periode 1800-1900): Karakteristik periode ini adalah sumber daya berlimpah dan inovasi teknologi
.
Sistem struktur yang dikembangkan pada masa ini adalah sistem rangka dengan konstruksi baja maupun beton bertulang
.
Modul dan bentang struktur menjadi lebih lebar, pembukaan besar dengan pengembangan teknologi material kaca, dinding bata ringan.
Kontrol lingkungan menjadi lebih mudah dengan penemuan lampu menggantikan penerangan alami, penemuan AC menggantikan penghawaan alami, penemuan bahan baku refrigeran freon dalam sistem AC, penemuan elevator melengkapi tangga, penemuan dan pengembangan peralatan mekanikal dan elektrikal yang mengandalkan energi disertai dengan pengembangan material beton bertulang, baja, kaca, aluminium
.
Penampilan arsitektur pada masa ini didominasi oleh arsitektur modern dengan paham internasionalismenya, dimana bangunan arsitektur merupakan hasil produksi manufaktur industri
.
Komponen-komponen bangunan dapat diproduksi secara masal dan dipergunakan dimana saja tanpa terlalu mempertimbangkan karakteristik iklim dan budaya lokal dan minimalisasi ornamentasi.
Karya arsitektur pada masa ini mengandalkan konsumsi energi secara besar-besaran baik pada masa pembangunannya maupun pada masa operasionalnya.
C
.
Arsitektur Pasca Industri (sesudah periode 1900): Karakteristik periode ini adalah keterbatasan sumber daya dan pengembangan teknologi lanjutan (advanced technology)
11
Universitas Kristen Petra
Sistem struktur yang berkembang hingga sekarang adalah multi-sistem, konstruksi baja, beton pra-tekan, metal, gabungan (hybrid), modul dan bentang struktur fleksibel dan lebar dengan konsekuensi pembukaan yang fleksibel pula
.
Ditunjang pula dengan teknologi material lanjutan yang menghasilkan material baru berkualitas tinggi seperti kaca, plastik, tekstil, fiberglass, dan serat optik.
2.1.2. Sistem Operasional Bangunan
Untuk mencapai kenyamanan thermal maupun visual dalam bangunan, kondisi lingkungan internal (suhu, kelembaban, tingkat pencahayaan) dapat diatur tanpa ataupun dengan menggunakan peralatan teknologi mekanikal elektrikal yang menggunakan energi dari sumber yang tidak dapat diperbaharui, yaitu pembangkit listrik dari tenaga uap (minyak bumi, batu bara, gas alam yang merupakan sisa-sisa fosil yang telah punah)
.
Menurut Worthington (1997), terdapat beberapa tingkat sistem operasional yang digunakan dalam bangunan dengan kategori berikut (dalam Ken, 1999):
a. Sistem pasif (passive mode)
Tingkat konsumsi energi paling rendah, tanpa ataupun minumal penggunaan peralatan Mechanical Electrical atau ME dari sumber daya yang tidak dapat diperbaharui (non-renewable resources)
b. Sistem gabungan (hybrid / mixed mode)
Sebagian tergantung dari energi (energy dependent) atau sebagian dibantu dengan penggunaan ME
.
c. Sistem aktif (active mode / full mode)
Seluruhnya menggunakan peralatan ME yang bersumber dari energi yang tidak dapat diperbaharui (energy dependent)
d. Sistem produktif (productive mode)
Sistem yang dapat mengadakan/membangkitkan energinya sendiri (on-site energy) dari sumber daya yang dapat diperbaharui (renewable sources) misalnya pada sistem sel surya (photovoltaic) maupun kolektor surya (thermosiphon)
.
12
Universitas Kristen Petra
Interval kenyamanan yang akan dicapai dari beberapa tingkat sistem operasional tersebut dapat dilihat pada skema berikut ini:
Gambar 2
.
1.
Interval kenyamanan sistem operasional Sumber: Ken (1999, p. 201)Target konsumsi energi dari beberapa sistem operasional bangunan dan keterkaitannya dengan teknologi dapat dilihat pada skema berikut ini:
Gambar 2
.
2.
Tipe-tipe sistem operasional Sumber: Ken (1999, p. 198)13
Universitas Kristen Petra
Gambar 2
.
3.
Target konsumsi energi tipe-tipe sistem operasional Sumber: Ken (1999, p. 201)2.1.3. Arsitektur Hemat Energi Sebagai Manifesto Desain Sadar Energi Pengaruh konteks energi dalam arsitektur sebenarnya sudah dipahami oleh para arsitek pada awal abad ke-20 melalui kontribusi karya-karyanya dalam gerakan arsitektur modern, dimana sebagai para perancang Bauhaus mereka berpendapat bahwa karya desain arsitektur merupakan hasil akhir dari analisa rasional yang diwujudkan melalui ekspresi formal dari proses dan material konstruksi baru
.
Terbilang Walter Gropius dengan sun-tempered home, Keck brothers dengan Crystal House, Buckminster Fuller dengan Dymaxion House yang berdasarkan konsep efisiensi energi dan produksi industri, Le Corbusier dengan proposal Mediteranian House, dan kontribusi akademik dari Olgyay bersaudara dalam publikasi ilmiahnya Design with Climate memberikan justifikasi keterlibatan para arsitek dalam isu efisien Arsitektur Bioklimatiksi energi, meskipun gaungnya teredam oleh euforia revolusi industri dan international movement dari arsitektur modern. (Priatman, Dimensi, 2002, p. 169)Embargo minyak 1973 merupakan suatu momen kebangkitan kesadaran energi dimana eskalasi harga minyak bumi yang membumbung menimbulkan dampak krisis energi pada negara-negara maju yang energy dependent
.
Seluruh potensi riset dan pengembangan dikerahkan untuk mengatasi krisis tersebut yang tentunya juga termasuk sektor bangunan gedung maupun perumaha yang tentunya14
Universitas Kristen Petra
akan menentukan perancangan arsitektur
.
Rekonseptualisi perancangan arsitektur perlu dilakukan dengan pertimbangan-pertimbangan efisiensi energi, mengingat 36-45% kebutuhan energi nasional terserap dalam sektor bangunan.
Krisis energi ini ternyata memacu perkembangan arsitektur baru dengan desain sadar energi (energy conscious design) yang berdasarkan paradigmanya dapat diklasifikasikan sebagai berikut :a. Arsitektur Bioklimatik (Bioclimatic Architecture/Low Energy Architecture) Arsitektur yang berlandaskan pada pendekatan desain pasif dan minimum energi dengan memanfaatkan energi alam iklim setempat untuk menciptakan kondisi kenyamanan bagi penghuninya
.
Dicapai dengan organisasi morfologi bangunan dengan metode pasif antara lain konfigurasi bentuk masa bangunan dan perencanaan tapak, orientasi bangunan, desain fasade, peralatan pembayangan, instrumen penerangan alam, warna selubung bangunan, lansekap horisontal dan vertikal, ventilasi alamiah
.
Tercatat para arsitek pelopor desain bioklimatik antara lain Ken Yeang, Norman Foster, Renzo Piano, Thomas Herzog, Donald Watson, dan Jeffry Cook
.
b. Arsitektur Hemat Energi (Energy-Efficient Architecture)
Arsitektur yang berlandaskan pada pemikiran “meminimalkan penggunaan energi tanpa membatasi atau merubah fungsi bangunan, kenyamanan maupun produktivitas penghuninya” dengan memanfaatkan sains dan teknologi mutakhir secara aktif
.
Mengoptimasikan sistem tata udara – tata cahaya, integrasi antara sistem tata udara buatan – alamiah, sistem tata cahaya buatan – alamiah serta sinergi antara metode pasif dan aktif dengan material dan instrumen hemat energi
.
Credo form follows function bergeser menjadi form follows energy yang berdasarkan pada prinsip konservasi energi (non-renewable resources).
Para pelopor arsitektur ini tercatat Norman Foster, Jean Nouvel, Ingenhoven Overdiek & partners.
15
Universitas Kristen Petra
c. Arsitektur Surya (Solar Architecture)
Arsitektur yang memanfaatkan energi surya baik secara langsung (radiasi cahaya dan termal), maupun secara tidak langsung (energi angin) kedalam bangunan, di mana elemen-elemen ruang arsitektur (lantai, dinding, atap) secara integratif berfungsi sebagai sistem surya aktif ataupun sistem surya pasif
.
Diawali dengan arsitektur surya pasif yang memanfaatkan atap dan dinding sebagai kolektor panas dan dikembangkan dengan sistem surya aktif yang meng- implementasikan keseluruhan sistem surya thermosiphoning dan berintergrasi penuh dengan keseluruhan elemen arsitektur
.
Inovasi teknologi lanjutan dalam sel photovolatic menghasilkan prototipe arsitektur baru yang spesifik.
Perkembangan aristektur surya di USA dipresentasikan dengan Skytherm System of Harold Hay, Steve Baer’s Zome House dan dilanjutkan di Eropa dengan Hysolar Insitute Stutgart di Jerman, Achen power utilities dan Flachglas AG headquarter merupakan demonstrasi panel photovoltaic sebagai fasade bangunan tinggi
.
Arsitektur surya ini berititk tolak dari prinsip diversifikasi energi yang meng- eksplorasi sumber daya yang dapat diperbaharui (renewable energy)
.
2.1.4. Arsitektur Hijau dan Hemat Energi
Dekade 1980-1990 merupakan tonggak bersejarah dimana dalam masa ini terjadi pengungkapan saintifik tentang fenomena kerusakkan pada planet bumi dan atmosfer yang akan terus berlanjut
.
Jurnal saintifik (1985) melaporkan terjadinya lubang besar pada lapisan ozon di atmosfer diatas Antartica yang selanjutkan dikenal dengan fenomena Ozone Depletion (pelubangan ozon).
Fenomena ini terjadi akibat konsentrasi gas CFC (chlorofluorocarbon) di atmosfer yang akan terus menerus terjadi apabila tidak ada langkah-langkah pencegahan yang serius.(Priatman, Dimensi, 2002, p. 170)
Tahun 1988 para ahli klimatologi sepakat menyatakan bahwa suatu problema riil sedang terjadi
.
Pengukuran di volkano di Hawai membuktikan adanya peningkatan suhu bumi yang terus berlangsung yang menimbulkan peningkatan temperatur global yang akan mempengaruhi pola iklim dan kerusakkan serius pada16
Universitas Kristen Petra
bumi
.
Gejala yang dikenal dengan istilah Global Warming atau Greenhouse Effect ini merupakan akibat dari peningkatan polusi udara berasal dari industri manufaktur, transportasi, bangunan dan penggunaan energi secara besar-besaran pada semua sektor untuk menunjang kehidupan modern manusia.
Mengingat 50%konsumsi energi fosil dunia adalah berhubungan dengan kebutuhan energi bangunan, berarti 50% gas buang karbon dioksida yang menimbulkan kontaminasi udara, atau 25% dari seluruh gas greenhouse berasal dari bangunan
.
Keprihatinan ini yang mendorong timbulnya opemikiran baru dalam perancangan arsitektur yang kemudian dikenal sebagai arsitektur hijau.
Arsitektur Hijau (Green Architecture)
Arsitektur yang berwawasan lingkungan dan berlandaskan kepedulian tentang konservasi lingkungan global alami dengan penekanan pada efisiensi energi (energy-efficient), pola berkelanjutan (sustainable) dan pendekatan holistik (holistic approach)
.
Bertitik tolak dari pemikiran desian ekologi yang menekankan pada saling ketergantungan (interdependencies) dan keterkaitan (interconnectedness) antara semua sistem (artifisial maupun natural) dengan lingkungan lokalnya dan biosfer
.
Credo form follows energy diperluas menjadi form follows environment yang berdasarkan pada prinsip recycle, reuse, reconfigure
.
Karya-karya arsitektur hijau yang terkemuka antara lain NMB Bank (arsitek Ton Alberts-Amsterdam), Four Times Square (Fox & Fowle Architects), The Helicoidal Skyscraper (proposal Prof
.
Manfredi Nicoletti), Frankfurt ‘Max’ Tower, Nagoya 2005 Tower, Bishopsgate Tower, Elephant and Castle Tower yang kesemuanya merupakan vertical urban design karya T.
R.
Hamzah & Yeang, Glasshouse (LOG ID/Dieter Schempp, Fred Mollring) Germany, 17-18 Apartments, Les Garennes, France (L.
Bouat et al), Audubon House, New York City (Croxton Collaborative Architects).
17
Universitas Kristen Petra
Prinsip dasar perancangan tipologi arsitektur sadar energi dan aristektur hijau dapat diformulasikan dalam matriks berikut ini:
Tabel 2.1 Prinsip Dasar Perancangan Tipologi Arsitektur Sadar Energi dan Arsitektur Hijau
Sumber: Ken (1994, p. 12)
PARAMETER DESAIN ARSITEKTUR
PRINSIP-PRINSIP PERANCANGAN ARSITEKTUR BIOKLIMATIK HEMAT
ENERGI SURYA HIJAU LAIN-LAIN
Bioclimatic Architecture
Energy- efficient Architecture
Solar Architecture
Green
Architecture Architecture Konfigurasi
Bangunan
Dipengaruhi iklim
Dipengaruhi iklim
Dipengaruhi Matahari
Dipengaruhi Lingkungan
Pengaruh lainnya Orientasi
Bangunan Krusial Krusial Sangat
Krusial Krusial Relatif tidak penting Fasade
Bangunan
Responsif iklim
Responsif iklim
Responsif Matahari
Responsif Lingkungan
Pengaruh lainnya Sumber
Energi Natural Non- renewable
Pembangkit Non-
renewable
Pembangkit Renewable
Natural + Pembangkit Renewable
& Non- renewable
Pembangkit Non-
Renewable
Energy Lost Krusial Krusial Krusial Krusial Tidak penting Sistem
Operasional Passive + Mixed
Active +
Mixed Productive
Passive + Active + Mixed + Productive
Passive+Active
Tingkat
Kenyamanan Variabel Konsisten Konsisten Variabel
Konsisten Konsisten Konsumsi
Energi Rendah Rendah Rendah Rendah Tinggi/Medium Sumber
Material Tidak penting Tidak penting
Tidak penting
Minimum dampak lingkungan
Tidak penting
Material
Output Tidak penting Tidak penting
Tidak penting
Reuse- Recycle- Reconfigure
Tidak penting
Ekologi Tapak Penting Penting Penting Krusial Tidak penting
18
Universitas Kristen Petra
Gambar 2
.
4.
Church of the Holy Apostles – Greece (contoh arsitektur Pra-Industri)Gambar 2
.
5.
Civic Center, Chicago (contoh arsitektur Industri)19
Universitas Kristen Petra
Gambar 2
.
6.
Menara Mesiniaga, Malaysia (Ken Yeang) (contoh arsitektur Bioklimatik)Gambar 2
.
7.
Institut Du Monde Arabe, French (J.
Nouvel) (contoh arsitektur Hemat Energi)Gambar 2
.
8.
The British Pavilion, Seville (N.
Grimshaw) (contoh arsitektur Surya)20
Universitas Kristen Petra
Gambar 2
.
9.
NMB Bank, Amsterdam (Ton Alberts) (contoh arsitektur Hijau)Gambar 2
.
10.
Four Times Square, New York (Fox & Fowle Architects)21
Universitas Kristen Petra
Gambar 2
.
11.
Shanghai Armoury Tower, China (contoh-contoh Arsitektur Hijau)Sumber: Ken (1999)
2.2. Batasan/Cakupan Jenis Ruang Bangunan dalam Standard ASHRAE 1. ASHRAE menyediakan standar untuk (ASHRAE, 2001):
a. Persyaratan energi efisien minimum untuk desain, konstruksi, dan perencanaan dari operasi dan maintenance untuk :
1. Bangunan baru dan sistemnya
2. Sebagian baru dari bangunan dan sistemnya
3. Sistem dan perlengkapan/peralatan baru dari bangunan eksisting 4. Peralatan atau sistem bangunan yang secara spesifik diidentifikasi
dalam standard yang termasuk dari proses industrial atau manufaktur
b. Kriteria untuk menentukan kesesuaian dengan persyaratan ini 2
.
Ketentuan dari standard ini tidak dapat diaplikasikan pada :a. Rumah residensial keluarga tunggal, struktur huni beberapa keluarga (multi- family housing) yang sama atau kurang dari 3 tingkat, rumah manufaktur / rumah bergerak (mobile homes), atau
b. Bangunan yang tidak menggunakan energi listrik atau bahan bakar fosil / fossil fuel
22
Universitas Kristen Petra
2.3. Desain Pasif dan Aktif (Passive and Active Design) 2.3.1. Desain Pasif (Passive Design)
Desain pasif adalah sebuah sistem yang menjalankan proses heating, cooling, dan lighting dengan cara menggunakan aliran udara dan cahaya alami dalam suatu bangunan
.
Objektifnya adalah untuk mendesain sebuah bangunan secara utuh beserta bagian-bagiannya, sesuai dengan karakteristik iklim lokal, sehingga suhu dan tingkat iluminasi yang diinginkan dapat dicapai. (
Architectural Institute of Japan (AIJ), 2005)Gambar 2
.
13.
Proses desain dari kontrol iklim dalam ruang (indoor) Untuk membuat estimasi penghitungan aliran panas dalam suatu bangunan membutuhkan penghitungan nonstationary yang cukup kompleks, penghitungan ini berhubungan dengan iklim yang bermacam-macam dan faktor-faktor arsitektural.
Namun baru-baru ini berkat penggunaan komputer, penghitungan ini menjadi sangat mudah untuk dilakukan
.
Program software yang didesain untuk PC juga sudah dirancang untuk para desainer dan sudah digunakan secara luas untuk desain umum.
Dapat dikatakan bahwa karakteristik dari pasif desain yang bersifat low- tech dapat dengan mudah diaplikasikan pada desain dengan cara menggunakan komputer high-tech yang sudah dilengkapi oleh teknologi software simulasi.
23
Universitas Kristen Petra
2.3.1.1. Prinsip-prinsip dari Desain Pasif
1
.
Pemanas Surya Pasif (Passive Solar Heating)Sistem surya yang menggunakan radiasi matahari pada awalnya digunakan sebagai sumber panas untuk persediaan air panas dan proses pemanasan ini sudah dikategorikan menjadi jenis pasif dan aktif sejak tahun 1970-an
.
Sistem surya tradisional menggunakan energi matahari sebagai sumber panas untuk alat-alat pemanas dikategorikan sebagai sistem surya aktif, sedangkan sistem surya pasif dijelaskan lagi sebagai sistem surya yang tidak menggunakan pompa dan kipas untuk menyalurkan panas dalam proses pemanasan termasuk seperti proses pengumpulan panas, penyimpanan panas, dan penyebaran panas, tetapi bergantung pada konveksi alami, transmisi dan radiasi.
Untuk mendapatkan efek pemanasan dari pemanas surya dalam waktu siang hari maupun pada malam hari ataupun saat langit mendung, maka sebuah alat penyimpan panas sangat dibutuhkan
.
Material seperti beton, batu, keramik, dan tanah mempunyai kapasitas termal yang besar dan konduktivitas termal yang tinggi sehingga material-material tersebut harus digunakan untuk alat penyimpan panas.
Selain material-material tersebut, air digunakan dalam beberapa alat penyimpan panas, dan panas laten yang dihasilkan dari proses peleburan atau solidifikasi dari zat / matter dapat juga digunakan
.
Panas disalurkan lewat sirkulasi alami pada umumnya, tetapi terkadang kipas dan pompa dapat digunakan untuk tambahan.
Secara umum, sistem surya pasif mempunyai kelebihan dalam penggunaan dan perbaikan yang tergolong mudah karena sistemnya yang sederhana tidak mempunyai mekanisme rumit sehingga tidak mudah rusak
.
Di sisi lain, kekurangannya adalah sistem dapat dipengaruhi oleh suhu normal ruangan, karena sistem ini tidak dapat menghasilkan perpindahan panas yang cepat dan dalam jumlah besar.
Prioritas utama adalah untuk memperhitungkan keseimbangan antara pengumpulan panas, penyimpanan panas, insulasi dan pengeluaran panas, sesuai
24
Universitas Kristen Petra
dengan iklim lokal
.
Pertama-tama, keseimbangan antara pendapatan dan pengeluaran panas harus diperiksa, setelah itu baru metode penyimpanan panas.
25
Universitas Kristen Petra
26
Universitas Kristen Petra
Gambar 2
.
14.
Tipe-tipe dari Sistem Pemanas Surya Pasif Sumber: Architectural Institute of Japan (AIJ) (2005)27
Universitas Kristen Petra
2
.
Pendinginan Pasif (Passive Cooling)Sementara desain pasif dimulai dari pemanas surya pada daerah-daerah beriklim dingin, desain pasif tidak hanya dibatasi untuk fungsi tersebut saja
.
Alat arsitektural yang digunakan pada musim panas adalah “passive cooling”.
Rumah tradisional di Jepang didesain terutama untuk mengatasi iklim yang panas dan lembab pada saat musim panas, mengelaborasi berbagai teknik canggih dari pendinginan pasif.
Akan tetapi arsitektur tradisional tersebut tidak didesain untuk mengakomodasi musim dingin.
Karena perkembangan teknologi, di Jepang saat ini desain pasif sudah dapat mengatasi iklim musim panas dan musim dingin, dengan cara:1) Heat blockage and heat discharge
Pemblokiran panas dari luar secara total dan pengeluaran panas dari dalam ruangan secara cepat
.
2) Aeration and nocturnal ventilation
Dengan ventilasi dan tatanan udara yang baik meningkatkan pemasukan udara yang lebih dingin dari luar pada saat malam hari
.
3) Transpiration
Air hujan disimpan dan dialirkan pada atap di hari-hari panas, dan menanam tanaman pada tembok dan atap untuk menghasilkan efek pendinginan yang disebabkan oleh proses transpiration
.
4) Nocturnal radiation
Mendinginkan udara di luar ruangan menggunakan pengumpul panas berbasis udara yang biasa digunakan pada saat musim dingin, lalu menyalurkan udara yang sudah didinginkan tersebut kedalam ruangan
.
Metode ini sudah terbukti berhasil digunakan untuk solusi praktis
.
5) Other cooling resources
Air dan tanah mempunyai potensial pendinginan yang besar karena suhunya yang tidak berubah banyak sepanjang tahun
.
Jika digunakan dalam desain bangunan, efektifitias dan dampaknya pada ekosistem harus diperhitungkan.
28
Universitas Kristen Petra
3
.
Pencahayaan Alami (Daylighting)Sampai saat ini, pencahayaan menggunakan cahaya alami terfokus pada penggunaan cahaya difusi dari langit karena cahaya matahari langsung sulit dikontrol dalam faktor tingkat iluminasi dan tingkat kecerahannya
.
Beberapa metode sudah dikembangkan agar cahaya matahari langsung dapat digunakan untuk pencahayaan dalam ruang.
Metode “Light Shelf” yang menggunakan cahaya horisontal pada titik tengah dari bukaan menghadap selatan ini dapat menjadi salah satu contoh yang representatif.
Ada juga beberapa metode sistem hybrid yang menangkal sekaligus mempergunakan cahaya matahari langsung, atau ada juga metode yang menggabungkan cahaya alami dengan cahaya buatan.
4
.
Bukaan pasif (Passive Ventilation)Pada daerah-daerah beriklim dingin, faktor kedap udara dari bangunan bersamaan dengan insulasi panas banyak sekali digunakan secara umum untuk mengurangi kebocoran panas ketika ada sistem pemanas yang sedang digunakan
,
sehingga sangat direkomendasikan oleh para ahli dan pemerintahan untuk meningkatkan kualitas udara dalam ruang dengan cara bukaan-bukaan tersistem yang membawa udara segar masuk dari luar
.
Walaupun bukaan mekanis dapat dengan mudah dikontrol dan mempunyai sistem yang sangat luas, bukaan mekanis (mechanical ventilation) membutuhkan daya listrik untuk dioperasikan.
Dewasa ini sudah ada sistem bukaan pasif yang dirancang untuk beroperasi tanpa menggunakan daya listrik.
2.3.2. Desain Aktif (Active Design)
Seperti sudah dijelaskan diatas, metode arsitektural yang menggunakan cahaya alami, cahaya matahari langsung, dan bukaan alami untuk meningkatkan insulasi panas dari tembok eksterior, atap, dan jendela disebut sebagai desain pasif
.
Pada sisi lain, desain dari sistem yang menggunakan energi alami atau yang meningkatkan efisiensi dari penggunaan energi fosil untuk penggunaan mesin disebut sebagai desain aktif
.
Ada beragam metode dari aktif desain, dibawah ini29
Universitas Kristen Petra
dijelaskan beberapa contoh aplikasi dari desain aktif untuk menghasilkan desain hemat energi
.
2.3.2.1. Contoh-contoh Desain Aktif
1
.
Air-conditioning system with natural ventilation (Sistem AC dengan ventilasi alami)Gambar 2
.
15.
Desain pasif & aktif dari Liberty Tower of Meiji University di Tokyo, JepangSumber: Architectural Institute of Japan (AIJ) (2005)
Karakteristik paling penting dari gedung ini ialah sebuah gedung pencakar langit dengan sistem ventilasi alami
.
Udara dari luar masuk ke dalam bangunan melalui jendela ventilasi yang dikontrol secara otomatis berdasarkan informasi terukur seperti suhu dan kelembaban ruang dalam, suhu dan kelembaban luar ruangan, curah hujan dan kecepatan angin, dan lalu mengalir melalui plafon yang mengarah pada koridor.
Setelah itu, udara bergerak melewati area eskalator yang dimulai dari lantai dasar sampai ke lantai 17 sebelum dikeluarkan melalui lubang udara pada lantai 18.
Lantai diatas lantai 18, yang digunakan sebagai tempat perkuliahan, dilengkapi dengan ruang kosong untuk ventilasi alami dan udara dikeluarkan kembali pada atap bangunan di lantai 23.
Dengan sistem ventilasi otomatis ini, panas dan udara kotor yang terjebak di dalam ruangan dapat dikeluarkan pada30
Universitas Kristen Petra
malam hari dan juga mendinginkan udara dalam ruangan sehingga daya yang diperlukan untuk mendinginkan ruangan pada esok hari berkurang
.
Pada siang hari, sistem ventilasi sebagian besar bergantung pada ventilasi alami yang dibantu oleh air-conditioner jika diperlukan.
Penggabungan dari desain pasif dan aktif ini membantu pengurangan dari energi tahunan yang dipakai untuk pendinginan (yaitu sumber panas dan pemutar kipas untuk AC) sebanyak sembilan belas persen seperti pada gambar berikut.
Gambar 2
.
16.
Hasil verifikasi efek penghematan energi dari beragam metode Sumber: Architectureal Institute of Japan (AIJ) (2005)31
Universitas Kristen Petra
2
.
Variable Air Volume (VAV) air-conditioning systemGambar 2
.
17.
Perbandingan antara asumsi dan hasil dari konsumsi energi utamaSumber: Architectureal Institute of Japan (AIJ) (2005)
Seperti terlihat pada gambar 2
.
17, kipas AC yang menyediakan dan menyalurkan udara dari AC ke dalam tiap-tiap kelas mengkonsumsi sebanyak 26% dari total konsumsi energi.
Untuk mempertahankan kualitas lingkungan dalam ruang yang baik, adalah penting untuk mengatur jumlah aliran udara dan suhu dari udara yang masuk ke dalam sistem AC sesuai dengan perubahan dari daya yang diperlukan untuk mendinginkan/memanaskan udara dalam ruang.
Dalam bangunan ini, sistem mengontrol baik jumlah aliran udara dan suhu yang sudah diambil dan ini mengkontribusikan pada pengurangan konsumsi energi untuk energi yang digunakan untuk menjalankan kipas AC sebanyak 60% seperti pada gambar 2.
16.
3
.
Thermal storage type air-conditioning heat source systemPada bagian paling bawah bangunan ada tanki besar yang digunakan untuk menyimpan termal/panas dengan volume air sebanyak 4
.
100m3 di dalamnya.
Tanki tersebut menyimpan air panas/dingin yang dihasilkan oleh mesin air-condition pada malam hari, karena menghindari penggunaan daya listrik yang besar pada siang32
Universitas Kristen Petra
hari
.
Dengan sistem ini mesin sumber panas dari air-condition dapat beroperasi pada tingkat efisiensi yang lebih tinggi, dan jumlah konsumsi energi telah berkurang sebanyak sembilan persen jika dibandingan dengan sistem air-condition biasa tanpa tempat tanki penyimpanan panas seperti pada gambar 2.
16.
4
.
Highly efficient automatic lighting control systemDaya listrik yang digunakan untuk penerangan adalah sebanyak dua puluh persen dari total konsumsi energi dari sebuah bangunan
.
Dalam rangka penghematan energi, penggunaan lampu jenis Hf-fluorescent yang sangat efisien dan sistem kontrol otomatis digunakan.
Lalu sejak sistem ini diterapkan, penggunaan daya untuk penerangan telah berkurang sebanyak tiga puluh lima persen jika dibandingan dengan sistem penerangan biasa yang menggunakan lampu fluorescent biasa, seperti ditunjukkan pada gambar 2.
16.
5
.
VAV Ventilation system for underground parkingPada gambar 2
.
17, grafik balok paling kiri menunjukkan bahwa konsumsi energi dari kipas ventilasi untuk tempat parkir bawah tanah adalah empat persen dari total konsumsi energi.
Sebuah sistem yang didesain untuk mengontrol kecepatan putaran kipas sesuai dengan tingkat CO yang ada pada tempat parkiran telah diaplikasikan dan telah mengurangi delapan puluh tujuh persen dari konsumsi energi kipas ventilasi untuk tempat parkir mobil bawah tanah.
6
.
Automatic escalator operation systemSeperti digambarkan pada grafik balok paling kiri pada gambar 2
.
17, jumlah konsumsi energi untuk lift dan eskalator adalah sebanyak delapan persen dari total konsumsi energi.
Eskalator memakai sebanyak enam puluh persen dari delapan persen tersebut.
Ada tiga puluh empat eskalator di dalam bangunan ini sehingga delapan ribu pelajar dapat bergerak lancar dari kelas ke kelas pada saat pergantian kelas.
Namun, frekuensi penggunaan eskalator berubah-ubah bergantung pada waktu-waktu penggunaan tertentu,
kemudian sensor deteksi manusia telah dipasang33
Universitas Kristen Petra
pada semua eskalator dan metode ini telah berkontribusi untuk penghematan sebanyak tiga puluh sembilan persen dari konsumsi energi
.
(AIJ, 2005, p.
124-134) 2.4. Ketentuan Dasar Penilaian Bangunan Hemat EnergiAda tiga aspek utama dalam penghematan energi dalam suatu bangunan
.
Aspek pertama adalah (1) Architectural Design yang dapat dihitung menggunakan PAL (Perimeter Annual Load), aspek kedua adalah (2) Equipment Design yang dapat dihitung menggunakan CEC (Coefficient of Energy Consumption), dan aspek yang ketiga adalah (3) Control & Management yang mana tidak mempunyai standard secara pasti sehingga sangat penting untuk membangun sebuah standard dan peraturan sendiri mengenai manajemen dari konsumsi energi dalam tiap bangunan
.
Indikator batasan besaran PAL dan CEC untuk setiap aspek bangunan dapat dilihat pada tabel 2.
1.
Gambar 2
.
18.
Indikator Penilaian yang digunakan dalam Standar Konservasi Energi beserta metode penilaian yang digunakan (PAL / CEC)Sumber: Architectureal Institute of Japan (AIJ) (2005)
34
Universitas Kristen Petra
Tabel 2.2 Standard nilai PAL dan CEC untuk pertimbangan
Sumber: Architectureal Institute of Japan (AIJ) (2005)
2.4.1. Aspek Selubung Bangunan atau Building Envelope untuk Bangunan Non-Residensial
PAL adalah singkatan dari Perimeter Annual Load dan didefinisikan sebagai berikut :
PAL =
Annual thermal load of the indoor perimeter zones [MJ Year⁄ ] Floor area of the indoor perimeter zones [m2]Gambar 2
.
19.
Definisi dari perimeter zona ruang dalam / indoor perimeter zone Sumber: Architectureal Institute of Japan (AIJ) (2005)Pada gambar 2
.
19, indoor perimeter zone adalah bagian tepi luar bangunan.
Zona tersebut biasanya disebut sebagai perimeter zone dan tidak ada definisi pasti dari harus seberapa dalam zona tersebut untuk bangunan biasa
.
Namun menurut standar penghematan energi maka zona tersebut harus mempunyai kedalaman sama atau kurang dari lima meter,
karena zona ini amat dipengaruhi oleh faktor-faktor iklim luar gedung seperti suhu dan radiasi panas matahari, ada beberapa cara untuk mengurangi annual thermal load (jumlah dari annual heating dan daya35
Universitas Kristen Petra
pendinginan) dalam zona dengan cara meningkatkan desain termal dari kulit (atau selubung bangunan yang terpapar ke udara luar seperti dinding, atap, dan jendela)
.
Strategi utama dalam penghematan energi untuk air-conditioner adalah dengan mengurangi beban termal yang dihasilkan oleh selubung bangunan (mulai sekarang disebut sebagai perimeter load / beban perimeter), dengan cara mengurangi nilai dari PAL
.
Pada dasarnya, semakin berkurangnya beban termal tahunan, maka semakin berkurang juga beban termal maksimal dan kapasitas dari peralatan air- conditioning dapat dikurangi.
PAL adalah nilai performa yang dapat dihitung dari dokumen desain / blueprint dari bangunan terkait
.
Untuk mendapatkan nilai PAL, beban termal tahunan harus dihitung menggunakan metode yang telah disimplifikasi seperti Extended Degree Day (EDD Method 1) atau program simulasi seperti HASP/ACLD 2.
Metode untuk mengurangi nilai PAL dapat diklasifikasi menjadi dua grup;
(1) Pertimbangan-pertimbangan dan ide-ide dapat dimasukkan dalam aspek desain arsitektural termasuk bentuk bangunan, orientasi mata angin, zoning, dan area jendela
.
(2) Design, planning, dan pemilihan material yang akan digunakan pada bangunan harus dipertimbangkan dalam faktor insulasi termal dari dinding luar dan elemen interior dan eksterior peneduh.
Pada gambar 2.
20 dijelaskan metode tersebut secara detail.
Pada area jendela dan spesifikasinya (sehubungan dengan pemblokiran termal dan insulasi) adalah area yang paling efektif untuk mengurangi panas dibanding lainnya, dan efek tersebut dapat dilihat pada gambar 2.
21 dan 2.
22.
PAL adalah semacam beban pendinginan untuk air-condition, nilainya tentu sangat dipengaruhi oleh iklim di luar bangunan
.
Sebenarnya, pada saat beban pemanasan dan beban pendinginan dipertimbangkan secara terpisah, beban pemanasan lebih besar pada daerah-daerah beriklim dingin, dan beban pendinginan lebih besar pada daerah-daerah beriklim tropis.
Hal ini dapat membuat sebuah kesimpulan bahwa PAL sangat dipengaruhi oleh iklim di luar gedung dan letak daerah dimana bangunan tersebut berdiri.
Namun, ketika beban termal tahunan36
Universitas Kristen Petra
(pembilang dari PAL) sebagai total dari jumlah beban pemanasan dan pendinginan diperhitungkan, pengaruh dari iklim sebenarnya sangat kecil dan bahkan sepele
.
Ini alasan mengapa nilai standard dari PAL dapat dipakai untuk semua negara di dunia.
Gambar 2
.
20.
Metode utama dalam mengurangi nilai PAL (beban termal tahunan) Sumber: Architectureal Institute of Japan (AIJ) (2005)37
Universitas Kristen Petra
Gambar 2
.
21.
Contoh kalkulasi nilai PALGambar 2
.
22.
Hubungan antara area luas jendela, spesifikasi jendela, dan nilai PALSumber: Architectureal Institute of Japan (AIJ) (2005)
38
Universitas Kristen Petra
2.4.2. Aspek HVAC (Heating, Ventilating, and Air Conditioning) untuk Bangunan Non-Residensial
CEC adalah singkatan dari Coefficient of Energy Consumption, dan seperti dijelaskan sebelumnya, didefinisikan menurut lima tipe peralatan
.
Namun, definisi dan penghitungan untuk air-conditioning dan pemanas air berbeda dari peralatan lain seperti ventilasi, pencahayaan, dan lift.
(1) Penghitungan CEC untuk air-conditioning (CEC/AC) dan pemanas air (CEC/HW) adalah sebagai berikut :
CEC =
Annual primary energy consumption of the target equipment [MJ Year⁄ ] Annual assumed load of the relevant use [MJ/Year]Dari persamaan di atas, terlihat jelas bahwa nilai CEC yang lebih kecil merepresentasikan performa penghematan energi yang lebih baik
.
Namun, nilai CEC pada AC dan pencahayaan sedikit berbeda, dimana nilai CEC untuk AC adalah jumlah timbal balik dari efisiensi energi, dan CEC untuk pencahayaan adalah perbandingan antara jumlah konsumsi energi.
Kalkulasi dari nilai CEC/AC dan CEC/HW tidak mudah, untuk konsumsi energi tahunan dan beban asumsi harus dihitung terlebih dahulu
.
Program simulasi spesifik untuk CEC/AC (BECS3) telah dikembangkan untuk keperluan tersebut.
Nilai CEC untuk air-conditioning dapat dilihat pada tabel 2
.
1.
2.4.3. Aspek Pencahayaan (Lighting) untuk Bangunan Non-Residensial (2) Definisi CEC untuk ventilasi (CEC/V), pencahayaan (CEC/L), dan lift (CEC/EV) adalah sebagai berikut :
CEC = Annual primary energy consumption of the target equipment [MJ Year⁄ ] Annual assumed primary energy consumption of the target equipment [MJ/Year]
Ada empat cara dasar untuk mengurangi nilai CEC, yaitu :
(1) Pemasangan dan zoning posisi peralatan yang benar sesuai dengan persyaratan metode kontrol,
(2) Penggunaan peralatan dan sistem yang efisien,
(3) Penggunaan metode kontrol dan sistem yang meningkatkan efisiensi, dan
39
Universitas Kristen Petra
(4) Penggunaan energi alternatif dan sumber panas selain bahan bakar fosil, seperti energi alami dan energi sisa
.
Gambar 2
.
23 menjelaskan metode-metode tersebut lebih detail.
Sangat penting untuk mengetahui seberapa banyak metode penghematan energi tersebut, juga dijelaskan dalam gambar yang sama cara untuk benar-benar berkontribusi dalam mengurangi nilai CEC dan meningkatkan konservasi energi.
Gambar 2
.
24 dan 2.
25 menunjukkan contoh-contoh dari analisis tersebut.
Gambar 2
.
24 merepresentasikan bagaimana hasil simulasi dari nilai CEC/AC yang telah dikurangi secara bertahap dengan tiap-tiap metode penghematan energi.
Gambar 2
.
25 mengindikasikan seberapa banyak pengurangan dari konsumsi daya listrik untuk pencahayaan dapat diaplikasikan pada sistem pencahayaan dalam suatu gedung.
Gambar 2
.
23.
Metode-metode utama untuk mengurangi nilai CEC Sumber: Architectureal Institute of Japan (AIJ) (2005)40
Universitas Kristen Petra
Gambar 2
.
24.
Reduksi dari nilai CEC/AC dengan metode penghematan energi untuk peralatan air-conditioningSumber: Architectureal Institute of Japan (AIJ) (2005)
Gambar 2
.
25.
Efek reduksi dari konsumsi daya listrik tahunan untuk pencahayaan dengan berbagai metode untuk peralatan pencahayaanSumber: Architectureal Institute of Japan (AIJ) (2005)
47
Universitas Kristen Petra
2.5. Penelitian Sejenis
Tabel 2.3 Penelitian Sejenis (sebagai referensi maupun tipologi guna memperkaya penelitian)
Penulis Judul Isi Penelitian Metode Penelitian
1
.
Ir.
Jimmy Priatman, M.
Arch.
“Energy-Efficient Architecture”Paradigma dan Manifestasi Arsitektur Hijau
Makalah ini membahas eksistensi arsitektur hemat energi dalam konteks wawasan arsitektur hijau (green architecture) – menggunakan Graha Pangeran sebagai contoh bahas.
Kualitatif
2
.
Penyusun: Andre Wijanarko Pembimbing: Ir.
Albertus Sidharta, MSAPenerapan Arsitektur Tropis Pada Bangunan High Tech
Bagaimana antisipasi-antisipasi yang harus dilakukan oleh arsitek untuk mencegah dampak negatif yang diakibatkan dari iklim tropis untuk gedung berteknologi tinggi – menggunakan Holy Stadium sebagai salah satu contoh tipologi.
Kualitatif
3
.
Nur Hidayanto Analisis Statistik Terhadap Potensi Penghematan Energi Pada Bangunan Gedung Dengan Metode BenchmarkingPenelitian dilakukan untuk mengetahui potensi penghematan energi. Berdasarkan analisis potensi penghematan energi, akan dipergunakan untuk memprediksi potensi penghematan energi pada bangunan gedung dan langkah-langkahnya.
Statistik Deskriptif
4
.
Bayu Primastha Yogaswara Potensi Penghematan Energi Lampu, AC dan Instalasi Listrik Rumah Sakit Umum Daerah BanyumasUntuk mengetahui profil penggunaan listrik rumah sakit dengan cara audit energi, dan dari hasil pengambilan data dan analisa kemudian direkomendasikan upaya penghematan energi pada rumah sakit tersebut.
Kualitatif
48
Universitas Kristen Petra
Tabel 2.3 Penelitian Sejenis (Lanjutan)
Penulis Judul Isi Penelitian Metode Penelitian
5
.
Bunz, K.
, Henze, G.
, and Tiller, D.
Survey of Sustainable Building Design Practices in North America, Europe, and Asia
Makalah ini membandingkan program desain sustainable berdasarkan siklus hidup bangunan di Amerika Utara, Eropa, dan Asia. Tabel perbandingan desain dari tiga benua disediakan untuk tiap fase dalam siklus hidup bangunan. Tabel ini dapat digunakan oleh profesional desain sebagai panduan referensi untuk desain sustainable di seluruh dunia. Kesamaan prinsip antara desain yang berbeda di daerah berbeda dapat dijadikan pertimbangan untuk perencanaan kerja desain sustainable di seluruh dunia.
Kualitatif
6
.
Stephen Sugiarto Prasetyo Studi Efisiensi dan Konservasi Energi Pada Interior Gedung P Universitas Kristen PetraKarya tulis dan penelitian tentang upaya penghematan energi yang diterapkan pada Gedung P Universitas Kristen Petra yang mendeskripsikan langkah-langkah dan metode hemat energi untuk bangunan bertingkat sehingga dapat menjadi informasi yang dapat diakses oleh umum untuk kepentingan kemajuan desain hemat energi kedepannya.
Kualitatif
49
Universitas Kristen Petra
2.6. Assessment Tool / Perangkat Penilaian Green Building untuk Ruang Interior (Greenship Versi 1.0)
GREENSHIP merupakan sistem penilaian yang digunakan sebagai alat bantu bagi para pelaku industri bangunan, meliputi pengusaha, arsitek, teknisi mekanikal elektrik, desainer interior, teknisi bangunan, lansekaper, serta pelaku lainnya dalam rangka menerapkan praktik-praktik terbaik dan berupaya untuk mencapai standar yang terukur serta dapat dipahami oleh masyarakat umum beserta para pengguna bangunan. Standar yang ingin dicapai dalam penerapan GREENSHIP adalah upaya untuk mewujudkan suatu konsep green building (bangunan hijau) yang ramah lingkungan sejak dicanangkannya tahapan perencanaan, tahapan pembangunan, sampai dengan pengoperasian dan kegiatan pemeliharaan sehari-hari. Adapun sistem penilaiannya dibagi berdasarkan enam kategori, yaitu (GBCI, 2012):
1. Tepat Guna Lahan (Appropriate Site Development / ASD),
2. Konservasi dan Efisiensi Energi (Energy Efficiency and Conservation / EEC), 3. Konservasi Air (Water Conservation / WAC),
4. Siklus dan Sumber Material (Material Resources and Cycle / MRC),
5. Kesehatan dan Kenyamanan dalam Ruang (Indoor Health and Comfort / IHC), 6. Manajemen Lingkungan Bangunan (Building and Environment Management /
BEM).
Dengan menerapkan sistem penilaian ini, setiap gedung yang menyatakan bahwa gedungnya sebagai bangunan hijau akan mendapatkan penilaian yang terukur dan dapat disertifikasi berdasarkan kriteria-kriteria baku yang disusun dalam sistem kriteria penilaian.
Perangkat penilaian GREENSHIP adalah suatu sistem penilaian yang merupakan bentuk dari salah satu upaya untuk menjembatani konsep kegiatan yang ramah lingkungan dan prinsip pembangunan berkelanjutan dengan kegiatan praktik-praktik yang terjadi secara langsung. Dengan adanya perangkat penilaian ini diharapkan akan terjadi hubungan yang bersinergi bagi para pelaku dibidang industri bangunan, antara lain: para pemilik gedung, desainer interior, industri bahan bangunan, kontraktor gedung, manajemen gedung dan pengguna gedung,
50
Universitas Kristen Petra
sehingga praktik membangun gedung yang ramah lingkungan dapat diterapkan di Indonesia.
Kriteria penilaian GREENSHIP bukan merupakan penemuan baru melainkan kumpulan dan pengelompokan dari kegiatan praktik terbaik yang dilaksanakan oleh para pelaku dibidang industri bangunan yang kemudian dikembangkan dan diidentifikasikan kembali oleh GBC Indonesia. Penyusunan panduan teknis perangkat penilaian GREENSHIP Ruang Interior ini dilakukan oleh putra dan putri Indonesia sehingga isi dokumen telah disesuaikan dengan pertimbangan yang didasarkan pada kondisi lokal khas Indonesia yang unik dan spesifik.
2.6.1. GREENSHIP Ruang Interior
Sasaran yang dituju oleh GREENSHIP Ruang Interior adalah pihak pengguna yang pada umumnya merupakan suatu badan usaha berbentuk manajemen perusahaan penyewa dan menggunakan sebagain atau keseluruhan ruangan didalam gedung dengan diikuti oleh proses kegiatan fit out yang berfungsi untuk mengakomodasi aktivitas perusahaannya. Lingkup penilaian dari GREENSHIP Ruang Interior ini juga tidak hanya sebatas aktivitas fit out semata, tetapi juga meliputi kebijakan pihak manajemen dalam melakukan pemilihan lokasi atau pemilihan gedung serta pengelolaan yang dilakukan oleh pihak manajemen setelah aktivitas di dalamnya mulai beroperasi. Hal tersebut dapat dilihat pada diagram di bawah ini.
Gambar 2.26 Lingkup Penilaian GREENSHIP Ruang Interior
(Penelitian pada Gedung P ini dilakukan pada Tahap Operasi dan Pemeliharaan) Sumber: GBCI, 2012
51
Universitas Kristen Petra
Lingkup penilaian pada GREENSHIP Ruang Interior memiliki persamaan terhadap lingkup penilaian GREENSHIP New Building yang melakukan penilaian pada tahap pemilihan lokasi, tahap desain dan tahap konstruksi. Adapun perbedaannya adalah pada GREENSHIP New Building objek penilaian bertitik berat pada gedung dengan peranan penting yang dimiliki oleh pemilik gedung dan arsitek, sedangkan pada GREENSHIP Ruang Interior, objek penilaian bertitik berat pada sebagian atau seluruh ruangan di dalam gedung dengan peranan penting pihak manajemen pengguna dan desainer interior.
Lingkup penilaian pada GREENSHIP Ruang Interior juga memiliki persamaan terhadap lingkup penilaian GREENSHIP Existing Building yang juga melakukan penilaian pada tahapan operasional dan pemeliharaan. Perbedaannya adalah pada GREENSHIP Existing Building, objek penilaian bertitik berat pada gedung dengan peranan penting yang dimiliki oleh pemilik gedung dan manajemen gedung. Sedangkan pada GREENSHIP Ruang Interior, objek penilaian bertitik berat pada sebagian atau seluruh ruangan di dalam gedung dengan peranan penting pihak manajemen pengguna dan pihak pengguna gedung.
Kedudukan GREENSHIP Ruang Interior terhadap GREENSHIP New Building dan GREENSHIP Existing Building dapat digambarkan melalui gambar diagram seperti di bawah ini.
Gambar 2.27 Diagram Kedudukan GREENSHIP Ruang Interior terhadap GREENSHIP New Building dan GREENSHIP Existing Building
Sumber: GBCI, 2012
52
Universitas Kristen Petra
2.6.2. Penilaian dalam Perangkat Penilaian GREENSHIP Studi Kelayakan atau Eligibility
Ruang interior yang ingin mendapatkan GREENSHIP Ruang Interior harus Memenuhi standar kelayakan (eligibility) yang sesuai dengan kaidah dan ketentuan yang berlaku. Standar kelayakan tersebut meliputi lingkup dari lokasi, luas minimum lokasi, jumlah penghuni minimum di lokasi dan sekitarnya, kepemilikan Sertifikat Laik Fungsi atau SLF, rencana lama menyewa, luas lokasi minimum, dan kesediaan menyerahkan data-data yang diperlukan.
Kategori – Kriteria – Tolok Ukur
Setelah memenuhi standar kelayakan, lokasi tersebut akan dinilai kinerjanya sesuai dengan standar ramah lingkungan melalui kategori yang telah ditetapkan, yaitu:
1. Tepat Guna Lahan atau Appropriate Site Development,
2. Efisiensi dan Konservasi Energi atau Energy Efficiency and Conservation, 3. Konservasi Air atau Water Conservation,
4. Sumber dan Siklus Material atau Material Resource and Cycle,
5. Kesehatan dan Kenyamanan dalam Ruang atau Indoor Health and Comfort, 6. Manajemen Lingkungan Bangunan atau Building and Environment
Management.
Setiap kategori memiliki beberapa kriteria. Setiap kriteria terdapat tolok ukur yang menentukan apakah suatu ruang interior dapat memenuhi kriteria tersebut. Berikut adalah jumlah kriteria dan tolok ukur yang ada dalam setiap kategori.
Tabel 2.4 Jumlah Kriteria dan Tolok Ukur yang ada dalam setiap kategori
Kategori Jumlah Kriteria Jumlah
Tolok Ukur Prasyarat Kredit Bonus
Appropriate Site
Development 1 5 - 12
Energy Efficiency and
Conservation 1 5 - 17
Water Conservation 1 3 - 7
Material Resource and
Cycle 2 6 1 19 (2B)
53
Universitas Kristen Petra
Indoor Health and
Comfort 1 12 1 28 (1B)
Building and Environment Management
1 3 1 10 (1B)
Jumlah Kriteria dan
Tolok Ukur 7 34 3 93 (4B)
Sumber: GBCI, 2012 Kriteria Prasyarat
Kriteria prasyarat adalah kriteria yang ada pada setiap kategori dan harus dipenuhi sebelum dilakukannya penilaian lebih lanjut berdasarkan kriteria kredit dan kriteria bonus. Apabila salah satu prasyarat tidak dipenuhi, maka kriteria kredit dan kriteria bonus dalam semua kategori GREENSHIP tidak dapat dinilai. Kriteria Prasyarat ini tidak memiliki nilai.
Kriteria Kredit
Kriteria kredit adalah kriteria yang ada di setiap kategori dan dapat dipilih Pemenuhan kriteria ini tentunya disesuaikan dengan kemampuan ruang interior tersebut. Jika kriteria kredit dipenuhi, ruang interior yang bersangkutan mendapat nilai dan apabila tidak dipenuhi, ruang yang bersangkutan tidak akan mendapat nilai.
Kriteria Bonus
Kriteria bonus adalah kriteria yang hanya ada pada kategori tertentu yang memungkinkan pemberian nilai tambahan. Kriteria ini dapat dipilih bila memungkinkan dan akan menjadi nilai bonus karena pencapaiannya dinilai cukup sulit dan jarang terjadi di lapangan. Oleh karena itu, gedung yang dapat memenuhi kriteria bonus dinilai memiliki prestasi tersendiri. Nilai pada kriteria bonus tidak ikut dijumlahkan pada nilai total yang digunakan sebagai angka pembagi dalam memperoleh persentase penilaian total (103 poin), tetapi akan membantu tercapainya persentase pencapaian total.
54
Universitas Kristen Petra
Tabel 2.5 Nilai Pada Setiap Kategori
Kategori
Jumlah Nilai Prasyarat Kredit
(poin)
Bonus (poin)
Appropriate Site Development - 12 -
Energy Efficiency and Conservation - 14 -
Water Conservation - 8 -
Material Resource and Cycle - 28 2
Indoor Health and Comfort - 29 2
Building and Environment Management - 12 2
Jumlah Kriteria dan Tolok Ukur - 103 6
Kredit “Tidak Berlaku”
Kriteria dengan keterangan yang menyatakan kredit dapat menjadi “Tidak Berlaku”
adalah kriteria dimana tidak semua ruang interior dapat memenuhi tolok ukur yang diberikan. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan karakteristik area serta keterbatasan dalam manajemen ruang interior, sehingga tolok ukur tidak dapat dicapai. Untuk pihak manajemen yang memiliki kredit “Tidak Berlaku” ini, perhitungan kriteria terkait ditiadakan dalam perhitungan total. Berikut ini contoh kasus pernilaian pada satu kategori saja.
A. Kasus kredit dapat diambil semua
Tabel 2.6 Kasus Kredit Dapat Diambil Semua (Contoh Kategori IHC)
Kode KRITERIA Poin
Maksimum
Poin Diperoleh
Bonus Persentase
Indoor Health and Comfort IHC P No Smoking
Campaign
P P
IHC 1 Outdoor Air Introduction
1 1
IHC 2 CO2 Monitoring 2 2
IHC 3 Chemical Pollutant
9 0
IHC 4 Indoor Pollutant Source Control
2 0
55
Universitas Kristen Petra
IHC 5 Biological Pollutant
1 0
IHC 6 Visual Comfort 3 3
IHC 7 Outside View and Daylight
2 2
IHC 8 Thermal Comfort 2 2
IHC 9 Acoustic Level 1 1
IHC 10 Interior Plants 2 2
IHC 11 Pest
Management
1 1
IHC 12 Room Occupant Survey
3 1
29 14
Untuk kasus A pada kriteria Indoor Health and Comfort seperti terlihat pada tabel diatas, nilai yang diperoleh oleh manajemen pengguna adalah sebesar 14 poin dari total 29 poin yang bisa dicapai. Pada kriteria IHC 4 dan IHC 5 yang dapat menjadi kredit “Tidak Berlaku”, di kasus A kriteria ini dapat diperoleh karena pihak manajemen memiliki akses dan kuasa. Akses dan kuasa yang dimaksud untuk IHC 4 adalah akses ke eksterior, dimana pengguna berada diruang yang terhubung dengan luar bangunan misalnya memiliki lobi ke luar. Untuk IHC 5, pengguna memiliki kuasa atas sistem tata udara sehingga bisa melakukan pembersihan sistem.
Karena dapat diambil, kriteria ini menjadi kredit dan dihitung seperti kriteria kredit lainnya. Akan tetapi karena manajemen pengguna tidak mengambil kriteria ini dikarenakan alsan lain maka poin kriteria IHC 4 dan IHC 5 menjadi 0 (nol).
B. Kasus Kredit yang “Tidak Berlaku”
Tabel 2.7 Kasus Kredit yang “Tidak Berlaku” (Contoh Kategori IHC)
Kode KRITERIA Poin
Maksimum
Poin Diperoleh
Bonus Persentase
Indoor Health and Comfort IHC P No Smoking
Campaign
P P
IHC 1 Outdoor Air Introduction
1 1
IHC 2 CO2 Monitoring 2 2
56
Universitas Kristen Petra
IHC 3 Chemical Pollutant
9 0
IHC 4 Indoor Pollutant Source Control
TB TB
IHC 5 Biological Pollutant
TB TB
IHC 6 Visual Comfort 3 3
IHC 7 Outside View and Daylight
2 2
IHC 8 Thermal Comfort 2 2
IHC 9 Acoustic Level 1 1
IHC 10 Interior Plants 2 2
IHC 11 Pest
Management
1 1
IHC 12 Room Occupant Survey
3 1
26 14
Untuk kasus B pada kriteria Indoor Health and Comfort seperti terlihat pada tabel diatas, poin yang diperoleh oleh manajemen pengguna adalah sebesar 14 poin dari total 26 poin yang bisa dicapai. 26 poin ini berbeda dari nilai di kasus A karena untuk kriteria IHC 4 dan IHC 5 karena pangguna tidak memiliki akses terhadap eksterior dan kuasa atas sistem tata udara, sehingga untuk kasus B kriteria ini menjadi “Tidak Berlaku” atau “Not Applicable” atau N/A.
Contoh kasus perhitungan jika pada kategori yang lain memperoleh nilai penuh, maka:
Perhitungan kasus A :
𝑃𝑜𝑖𝑛 𝑑𝑖𝑝𝑒𝑟𝑜𝑙𝑒ℎ (𝐴𝑆𝐷+𝐸𝐸𝐶+𝑊𝐴𝐶+𝑀𝑅𝐶+𝐼𝐻𝐶+𝐵𝐸𝑀) 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑃𝑜𝑖𝑛 𝐾𝑎𝑡𝑒𝑔𝑜𝑟𝑖 (𝐴𝑆𝐷+𝐸𝐸𝐶+𝑊𝐴𝐶+𝑀𝑅𝐶+𝐼𝐻𝐶+𝐵𝐸𝑀)
=
12+14+8+28+𝟏𝟒+12
12+14+8+28+𝟐𝟗+12
× 100% = 85%
Perhitungan kasus B :
𝑃𝑜𝑖𝑛 𝑑𝑖𝑝𝑒𝑟𝑜𝑙𝑒ℎ (𝐴𝑆𝐷+𝐸𝐸𝐶+𝑊𝐴𝐶+𝑀𝑅𝐶+𝐼𝐻𝐶+𝐵𝐸𝑀) 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑃𝑜𝑖𝑛 𝐾𝑎𝑡𝑒𝑔𝑜𝑟𝑖 (𝐴𝑆𝐷+𝐸𝐸𝐶+𝑊𝐴𝐶+𝑀𝑅𝐶+𝐼𝐻𝐶+𝐵𝐸𝑀)
=
12+14+8+28+𝟏𝟒+12
12+14+8+28+𝟐𝟔+12
× 100% = 88%
57
Universitas Kristen Petra
Pencapaian Peringkat
Pihak pengguna yang menginginkan ruang interiornya disertifikasi, sebaiknya mulai menetapkan target pencapaian untuk meraih peringkat tertentu sesuai dengan keinginan dan kemampuannya dalam memenuhi kriteria-kriteria GREENSHIP.
Nilai minimum setiap tingkat peringkat GREENSHIP dibuat berdasarkan persentase nilai yang telah ditentukan terhadap total keseluruhan nilai kredit, tidak termasuk nilai bonus. Tingkat peringkat yang ada dalam GREENSHIP untuk Ruang Interior Versi 1.0 tahun 2011 adalah sebagai berikut:
Tabel 2.8 Kategori Peringkat
2.6.3. Deskripsi Kelayakan atau Eligibility
Dalam kaitannya dengan gedung ramah lingkungan, wujud fisik yang menjadi objek penialain dan evaluasi GREENSHIP Ruang Interior adalah ruang interior gedung. Namun, tentunya tidak semua ruang interior suatu gedung dapat menjadi objek penilaian GREENSHIP Ruang Interior. Untuk itu, diperlukan suatu standar kelayakan yang bertujuan untuk:
Memberikan panduan yang jelas kepada pihak yang akan mengikuti proses sertifikasi GREENSHIP. Panduan tersebut berupa sasaran penilaian, batasan minimum baik dari aspek luas maupun jumlah pengguna di dalam ruang interior tersebut.
Menjaga integritas sertifikasi GREENSHIP yang merupakan produk GBC Indonesia. Integritas dalam hal ini adalah bahwa proyek yang akan mengikuti proses sertifikasi GREENSHIP tidak melanggar dan sesuai dengan peraturan- peraturan yang berlaku.
Peringkat Persentase Nilai Minimum
Platinum 73% 75
Gold 57% 59
Silver 46% 47
Bronze 35% 36
58
Universitas Kristen Petra
Menghindari ketidaksesuaian proses penilaian antar proyek satu dengan yang lainnya. Ketidaksesuaian yang dimaksud adalah perbedaan pada standar penilaian antara proyek satu dengan yang lain dikarenakan tidak ada batasan yang jelas sejak tahap awal proses sertifikasi.
E1. Lingkup GREENSHIP Ruang Interior / Scope of Interior Space Tujuan
Membatasi lingkup kriteria sertifikasi GREENSHIP Ruang Interior agar tidak beririsan dengan lingkup kriteria sertifikasi GREENSHIP yang lain seperti New Building dan Existing Building.
Tolok Ukur
Proyek memiliki aktivitas fit out*
(*) Suatu aktivitas yang meliputi perencanaan dan konstruksi baru maupun ulang dari lantai, dinding, plafon, perabot, mekanikal dan elektrikal.
Dokumen yang Dibutuhkan
Bagi pengguna yang merupakan penyewa gedung, diperlukan:
Surat pernyataan dari pihak manajemen pengguna yang menyatakan pihaknya memiliki kuasa terhadap aktivitas fit out pada sebagian area interior dalam gedung yang bersangkutan
Bagi pengguna yang merupakan pemilik gedung, diperlukan:
Surat pernyataan dari pihak manajemen pengguna yang menyatakan pihaknya memiliki kuasa terhadap aktivitas fit out pada sebagian area interior dalam gedung yang bersangkutan.
E2. Luas Minimum Proyek / Minimum Project Area Tujuan
Membatasi minimum luasan yang menjadi target sertifikasi GREENSHIP Ruang Interior.
59
Universitas Kristen Petra
Tolok Ukur
1. Manajemen menggunakan area dalam satu gedung dengan luasan minimum sebesar 25 m2.
2. Seluruh area yang digunakan oleh pihak manajemen dalam satu gedung harus disertakan dalam proses sertifikasi.
Dokumen yang Dibutuhkan
Bagi pengguna yang merupakan penyewa gedung, diperlukan:
Salinan kontrak sewa antara yang mencantumkan luas dan letak area yang digunakan.
Bagi pengguna yang merupakan pemilik gedung, diperlukan:
Dokumen laporan perencanaan fit out yang mencantumkan luas dan letak area yang digunakan.
E3. Batas Minimum Jumlah Pengguna / Minimum Number of Users Tujuan
Membatasi minimum pengguna yang menjadi target sertifikasi GREENSHIP Ruang Interior.
Tolok Ukur
Dalam seluruh area yang disertifikasi terdapat minimum satu karyawan yang bekerja penuh waktu selama satu tahun.
Dokumen yang Dibutuhkan
Bagi pengguna yang merupakan penyewa gedung, diperlukan:
Dokumen surat pernyataan pihak manajemen pengguna yang menyatakan terdapat satu karyawan atau lebih dengan sistem kerja penuh waktu minimum selama satu tahun.
Bagi pengguna yang merupakan pemilik gedung, diperlukan:
60
Universitas Kristen Petra
Dokumen surat pernyataan pihak manajemen pengguna yang menyatakan terdapat satu karyawan atau lebih dengan sistem kerja penuh waktu minimum selama satu tahun.
E4. Batas Minimum Masa Penggunaan / Minimum Time Length of Occupancy Tujuan
Mendorong penghematan sumber daya alam dan meminimalkan sampah yang dihasilkan dari proses fit out ulang dan pembelian material baru.
Tolok Ukur
Pihak Manajemen memiliki usia kontrak sewa atau usia penggunaan area minimum 3 tahun untuk fungsi yang sama saat terhitung sejak mendapatkan peringkat GREENSHIP.
Bila Usia kontrak sewa atau usia penggunaan area pada saat mendaftar sertifikasi kurang dari 3 tahun, maka masa peringkat GREENSHIP akan habis sesuai dengan usia kontrak sewa atau usia penggunaan tersebut, kecuali pengguna melakukan perpanjangan kontrak dengan kondisi tanpa perubahan fisik di dalamnya.
Dokumen yang Dibutuhkan
Bagi pengguna yang merupakan penyewa gedung, diperlukan:
Salinan kontrak sewa yang mencantumkan masa berlakunya aktivitas sewa tersebut.
Bagi pengguna yang merupakan pemilik gedung, diperlukan:
Surat pernyataan Pihak Manajemen Pengguna yang menyatakan masa berlakunya fungsi ruang interior tersebut.
E5. Kesesuaian Dengan Rencana Detail Tata Ruang / Compliance With Detailed Spatial Plan
Tujuan
Mendorong pemilihan gedung yang sesuai dengan izin peruntukkannya berdasarkan peraturan yang berlaku.