• Tidak ada hasil yang ditemukan

EEC 1. Komisioning Sederhana / Simple Commissioning (2 poin) Tujuan

B. Kasus Kredit yang “Tidak Berlaku”

2.7. Energy Efficiency and Conservation (EEC) / Efisiensi dan Konservasi Energi)

2.7.2. EEC 1. Komisioning Sederhana / Simple Commissioning (2 poin) Tujuan

Mengupayakan penghematan energi dengan melakukan uji coba dan komisioning / persiapan pada sistem penting di dalam gedung.

Tabel 2.9 Keuntungan Proses Komisioning

Pemilik Operator Penghuni

Berkurangnya

Lingkungan kerja yang nyaman.

Manual operational dan maintenance yang baik.

-

68

Universitas Kristen Petra

Tolok Ukur

1A. Melakukan testing dan commissioning secara mandiri untuk sistem pendingin yang terintegrasi dengan gedung utama, power equipment, pencahayaan di area pengguna. Pihak pengguna memberikan informasi berupa hasil testing dan commissioning yang berpengaruh terhadap kinerja gedung utama ke pihak pengelola gedung utama. (2 poin)

atau

1B. Melakukan testing dan commissioning secara mandiri untuk sistem pendingin udara yang terpisah dengan sistem gedung utama, power equipment, pencahayaan di area pengguna. (2 poin)

atau

1C. Memilih gedung yang secara rutin melakukan testing dan commissioning dan meminta hasil testing dan commissioning. (2 poin)

Strategi Pelaksanaan

Pada ruang interior, area yang digunakan merupakan bagian dari gedung, baik gedung lama ataupun baru. Ruang interior akan memerlukan komisioning untuk mengetahui apakah kinerja dari sistem-sistem yang ada pada area yang digunakan maupun gedung secara umum, sudah bekerja sesuai dengan yang direncanakan.

1. Tahap dari Komisioning

Pelaksanaan komisioning terdiri atas beberapa bagian yang harus diikuti untuk membuat usaha yang dilakukan sesuai dengan hasil yang diinginkan. Beagian utama meliputi:

a. Mengembangkan dokumen komisioning atau laporan yang berisi daftar dari seluruh sistem dan komponen yang membutuhkan tes dan inspeksi fungsi.

Contohnya mengecek sistem pendingin akan memerlukan pemeriksaan dari seluruh komponen sistem chiller, seperti condenser chiller dan chilled water pumps, serta yang terpenting, sistem pengontrol. Pengecekan akan lebih mudah dengan daftar dan prosedur yang jelas.

69

Universitas Kristen Petra

b. Memantau dan mencatat start–up dari setiap sistem utama. Hal ini penting karena berhubungan dengan masa garansi sistem.

c. Melakukan tes fungsi dan penerimaan dari sistem harus dimulai secepatnya, ketika sistem siap untuk inspeksi. Laporan komisioning harus mencantumkan seluruh hasil tes, termasuk tanggal tes, deskripsi singkat dari sistem atau komponen, dan keterangan lolos atau gagal tes. Bagian yang gagal tes harus dilaporkan kepada kontraktor. Tes ulang produk yang gagal, instalasi yang buruk atau program yang salah setelah perbaikan atau penggantian selesai.

d. Melakukan verifikasi dari control program. Cek seluruh analog masuk dan keluar dan poin masuk-keluar digital. Cek dan verifikasi setiap poin masukan digital pada air handlers, pompa dan chillers. Jika spesifikasi tidak memasukkan input digital, pasang sebelum tenant masuk. Review cooling set poin pengguna.

Cek jadwal reset air pendingin untuk ketepatan.

e. Memeriksa dokumen as-built. Makin banyak perlu dilakukan perubahan pada masa konstruksi, keberadaan dokumen as-built makin penting. Hal ini berlaku untuk perlengkapan MVAC, plambing, sistem distribusi listrik khususnya meteran/submeteran untuk listrik. Dokumen konfigurasi meteran harus secara jelas menginformasikan hal apa yang ditampilkan pada meteran bukan desain inisial.

f. Memeriksa manual pengoperasian dan pemeliharaan untuk memastikan deskripsi produk sesuai antara barang yang dipesan dan yang dipasangkan.

Manual harus mencantumkan informasi pengoperasian dan pemeliharaan, bukan brosur dan spesifikasi produk/daftar literatur produk.

g. Memerika atau melakukan inisiasi program energi manager. Untuk manager energi dengan latar belakang di sistem MVAC dan memiliki pengetahuan mengenai life-cycle analisa biaya. Langkah ini kritis dan memiliki pengaruh yang lama bagi fasilitas.

h. Memantau dan mendokumentasikan pelatihan staff operasi. Staff operasi yang terlatih akan mengerti desain dan urutan operasi yang tepat dari berbagai perlengkapan. Staff operasi terlatih akan secara positif mempengaruhi life-cycle biaya dari sistem maupun fasilitas.

70

Universitas Kristen Petra

2. Lingkup Komisioning

Sistem yang akan dikomisioning antara lain:

2.1. Sistem pendingin:

a. Sistem chiller meliputi :

 Air Handling Systems (Fans, motors, Variable Speed Drives, cooling coils dan control valves, filters, dampers, alat pengaman seperti detektor asap atau freeze stats dan damper end switches, kontrol, gages, dan isolasi getar). Sistem ini dikomisioningkan tergantung dengan cakupan luasan area pengguna dan sistem.

 Chilled Water Systems (Chilled water pumps dan motors, Variable Speed Drives, chiller motor/compressor, controls, instrumentation dan pengaman, katup isolasi, blending valves, side stream water cleaners/scrubbers/filters).

 Condenser Water Systems untuk Chillers (Condenser water pumps and motors, Variable Speed Drives, cooling tower fans, cooling tower sump level controls, open-circuit water treatment system, water treatment injection pumps and motors, water treatment controls, cooling tower basin heaters and controls, side stream water cleaners/scrubbers/filters, tower bypass valves).

 Cooling tower (jika ada)

b. Sistem unit (split) meliputi :

b1. Pendingin udara harus dapat beroperasi di kondisi 230 Volts +/- 10%, 50 Hz, fase suplai pendingin udara mampu melakukan fungsi berikut:

 Pendinginan

 Dehumidifying

 Sirkulasi udara

 Penyaringan

 Ventilasi

71

Universitas Kristen Petra

b2. Pendingin udara dilengkapi dengan thermostat yang dapat beroperasi di suhu 16-30°C dengan oerbedaan +/- 1,75°C dengan operasi 240 V, tidak melebihi 25 amps.

b3. Faktor energi keseluruhan dari unit harus 0,9 pada kapasitas kondisi running tes.

b4. Kapasitas pendinginan dari kompresor harus dispesifikasikan

b5. Instruksi manufaktur dan servis pengoperasian, manual instalasi harus disediakan.

b6. Seluruh tes rutin produksi harus dilakukan sebagai tes acceptance.

Kinerja dari tiap unit individual tidak boleh kurang dari variasi yang ditentukan berdasarkan konsumsi energi, pengiriman udara dan kapasitas pendinginan minimu,.

b7. Penyediaan remote control tanpa kabel dengan display LCD yang menyediakan timer ON/OFF, pemilihan kecepatan fan dan pengaturan temperatur.

2.2. Power Equipment (voltage drop, phase balance, incoming minimal panel power)

Banyak orang berasumsi bahwa system tenaga listrik statis dan tidak butuh dikomisioningkan. Pengalaman di lapangan menunjukkan sebaliknya.

Banyaknya variasi permasalahan yang terjadi karena kesalahan desain, kekeliruan instalasi, dan cacat manufaktur perlengkapan. Komisioning dari sistem listrik akan menghindarkan dari kesalahan-kesalahan ini.

2.3. Pencahayaan lampu

Pencahayaan adalah pengukuran berapa besar cahaya tersebar dalam area yang ditentukan. Definisi lainnya adalah total jumlah dari cahaya yang ada.

72

Universitas Kristen Petra

3. Perencanaan Waktu

Harus ditunjukkan secara umum periode waktu dimana aktivitas on site commissioning dilangsungkan. Hal ini akan memberikan indikasi mengenai level usaha yang dilakukan.

4. Tim Komisioning

Tim Komisioning secara umum meliputi:

 Pemilik proyek

 Manajer Proyek

 Arsitek

 Desainer M&E

 Kontraktor umum

 Kontraktor untuk kontrol, test and balance; atau suppliers

 Kontraktor kelistrikan

 Operator

 Agen komisioning (jika tidak ada, maka dapat juga auditor energi – harus pihak ketiga) harus dilakukan penunjukkan 1 pihak sebagai manajer atau koordinator yang akan berhubungan langsung dengan pihak GBC Indonesia.

Pihak-pihak yang terlibat dalam pelaksanaan komisioning

1) Pada tahap pemilihan lokasi dan negosiasi, dan tahap desain dan perencanaan: Tim perencana meliputi tapi tidak hanya terdiri dari: pemilik proyek, manajer proyek, aristek, desainer M&E, kontaktor kelistrikan, kontraktor umum, agen komisioning, GREENSHIP Associated atau GREENSHIP Professional.

2) Pada konstruksi akhir: Tim konstruksi meliputi, tapi tidak hanya terdiri dari:

manajer proyek, kontraktor umum, kontraktor untuk kontrol, test and balance, atau suppliers, kontraktor kelistrikan, operator, agen komisioning, GREENSHIP Associated atau GREENSHIP Professional.

73

Universitas Kristen Petra

Dalam proyek yang akan dilakukan, dalam melakukan komisioning perlu diperhatikan beberapa hal, antara lain:

1) Menetapkan seseorang sebagai agen komisioning (CxA) untuk memimpin, meninjau dan mengawasi penyelesaian kegiatan pelaksanaan komisioning 2) Memilih CxA yang memiliki pengalaman komisioning atau audit yang

terdokumentasikan dalam setidaknya dua proyek gedung.

3) CxA harus independen dari desain proyek dan manajemen konstruksi, meskipun mereka dapat merupakan karyawan perusahaan yang menyediakan layanan tersebut. CxA dapat juga merupakan karyawan yang memenuhi syarat atau konsultan dari pemilik.

4) CxA harus melaporkan hasil temuan dan rekomendasi langsung kepada pemilik.

5) Untuk proyek lebih kecil dari 50.000 kaki persegi, CxA dapat mengikutsertakan orang-orang yang berkualitas di tim desain atau konstruksi yang memiliki pengalaman yang dibutuhkan.

6) Pemilik harus mendokumentasikan Owners Project Requirements (OPR).

Tim Desain harus mengembangkan Basis of Design (BOD). Para CxA harus meninjau dokumen-dokumen ini untuk kejelasan dan kelengkapan. Pemilik proyek dan tim desain akan bertanggung jawab atas perubahan dokumen masing-masing.

7) CxA mengembangkan dan memasukkan kebutuhan komisioning ke dalam dokumen konstruksi.

8) CxA mengembangkan dan menerapkan rencana komisioning.

9) CxA verifikasi instalasi dan kinerja sistem yang akan komisioning.

10) CxA menyelesaikan ringkasan laporan komisioning.

5. Dokumentasi

Dokumentasi yang diberikan harus mencakup rencana kerja komisioning, dokumentasi hasil verifikasi instalasi serta kinerja sistem terkomisioning, hasil tes dan komisioning, dokumentasi pelatihan, dan laporan akhir komisioning.

74

Universitas Kristen Petra

Pemilik proyek harus menentukan kriteria dari komisioning dan membuat keputusan itu berdasarkan rekomendasi dari desainer atau manajer konstruksi maupun kontraktor, jika sudah diidentifikasi di awal proyek.

6. Pelaksanaan Komisioning

6.1. Fase Pra-Desain. Pada fase ini dilakukan pembentukan tim komisioning, membuat OPR, menentukan lingkup serta budget dan membuat rencana awal komisioning.

Diagram Alir komisioning Tahap Pengakuan Desain

Fase Desain, pada fase ini komisioning termasuk review desain, verifikasi OPR (Owner’s Project Requirements) dan BOD (Basic of Design), penentuan prasyarat pelatihan, sistem struktur manual serta checklist untuk kebutuhan konstruksi.

Gambar 2.29 Diagram Alir Komisioning Fase Pra-Desain dan Desain Sumber: GBCI (2012)

75

Universitas Kristen Petra

6.2. Komisioning saat proyek memasuki Fase Konstruksi, antara lain melakukan verifikasi sistem dan pelaksanaan konstruksi, menyelesaikan permasalahan yang terjadi pada sistem.

Gambar 2.30 Diagram Alir Komisioning Fase Konstruksi Sumber: GBCI, 2012

Dokumen yang diperlukan untuk EEC P tolok ukur 1A

Dokumen yang berisi rencana komisioning, dokumentasi hasil verifikasi instalasi serta kinerja sistem yang telah dikomisioning, hasil tes dan komisioning, dokumentasi pelatihan, dan laporan akhir komisioning.

Salinan Surat Kompetensi Keahlian dari orang atau badan yang melakukan komisioning, yang dipilih oleh manajemen atau sesuai rekomendasi GBC Indonesia.

76

Universitas Kristen Petra

2.7.3. EEC 2. Kontrol Sistem MVAC / MVAC Control (2 poin)