• Tidak ada hasil yang ditemukan

EEC 3. Densitas Daya Pencahayaan dan Kontrol / Lighting Power Density and Control (5 poin)

B. Kasus Kredit yang “Tidak Berlaku”

2.7. Energy Efficiency and Conservation (EEC) / Efisiensi dan Konservasi Energi)

2.7.4. EEC 3. Densitas Daya Pencahayaan dan Kontrol / Lighting Power Density and Control (5 poin)

Tujuan

Melakukan penghematan konsumsi energi pada sistem pencahayaan.

Tolok Ukur

1. Melakukan penghematan dengan sistem pencahayaan yang memiliki daya pencahayaan lebih hemat dari total seluruh daya pencahayaan, yang tercantum

83

Universitas Kristen Petra

dalam SNI 03 6197-2000 tentang Konservasi Energi pada Sistem Pencahayaan.

Besar penghematan yang dilakukan beserta poin yang diperoleh:

Penghematan (W/m2) Poin

20% 1

40% 2

60% 3

2A. Menggunakan 100% ballast frekuensi tinggi. (1 poin)

2B. Memenuhi butir 2A dan menggunakan integrated light sensor dan/atau integrated occupancy sensor dan/atau individual control dalam rangka penghematan energi. (2 poin)

Strategi Pelaksanaan

Untuk mengurangi densitas daya pencahayaan ini dapat dilakukan dengan memilih permukaan dinding, atap dengan refleksi tinggi sehingga tingkat pencahayaan menjadi bertambah, dengan demikian akan mengurangi daya listrik cahaya yang digunakan. Lampu dengan unjuk kerja tinggi dan menggunakan ballast elektronik sudah banyak tersedia. Memilih lampu dengan unjuk kerja tinggi misalnya dengan memilih lampu dengan keluaran lumen lebih tinggi untuk watt yang sama.

Selain itu dapat dilakukan hal-hal berikut ini:

- Selain menurunkan densitas daya pencahayaan melalui desain yang lebih baik, penggunaan pencahayaan alami juga dapat secara signifikan mengurangi konsumsi listrik dan emisi gas rumah kaca. Pencahayaan dalam bangunan dapat menghemat energi jika pencahayaan artifisial dapat otomatis tidak menyala atau meredup sebagai respon terhadap perubahan level pencahayaan alami di area.

- Kontrol otomatis meningkatkan kemungkinan adanya penghematan energi dari pencahayaan alami. Penting juga untuk memilih glazing yang sesuai dengan iklim untuk mengurangi panas yang diperoleh dari glazing dan mengontrol silau dan kontras sehingga pengguna ruang nyaman.

- Pada iklim yang panas, desainer dapat menggunakan jendela atap yang mengarah ke utara untuk pencahayaan langit, mengurangi perolehan panas serta beban pada sistem pendingin udara.

84

Universitas Kristen Petra

- Untuk iklim yang sedang atau dingin, penggunaan jendela atap yang mengarah ke utara atau selatan untuk pencahayaan langit.

Menurut SNI 03-6197-2000, pencahayaan buatan harus memenuhi:

Daya listrik maksimum per meter persegi tidak boleh melebihi nilai yang tercantum pada Tabel 2.10, kecuali:

- Pencahayaan untuk bioskop, siaran TV, presentasi audio visual dan semua fasilitas hiburan yang memerlukan pencahayaan sebagai elemen teknologi utama dalam pelaksanaan fungsinya.

- Pencahayaan khusus untuk bidang kedokteran.

- Fasilitas olahraga dalam ruangan.

- Pencahayaan yang diperlukan untuk pameran di galeri, museum, dan monumen.

- Pencahayaan luar untuk monumen.

- Pencahayaan khusus untuk penelitian di laboratorium.

- Pencahayaan darurat.

- Ruangan yang mempunyai tingkat keamanan dengan resiko tinggi yang dinyatakan oleh peraturan atau oleh petugas keamanan dianggap memerlukan pencahayaan tambahan.

- Ruangan kelas dengan rancangan khusus untuk orang yang mempunyai pengelihatan yang kurang, atau untuk orang lanjut usia.

- Pencahayaan untuk lampu tanda arah dalam bangunan gedung.

- Jendela peraga pada toko/etalase.

- Kegiatan lain sepeti agro industri (rumah kaca), fasilitas pemrosesan dan lain-lain.

Penggunaan energi yang sehemat mungkin dengan mengurangi daya terpasang, melalui:

- Pemilihan lampu yang mempunyai efikasi lebih tinggi dan menghindari pemakaian lampu dengan efikasi rendah. Dianjurkan menggunakan lampu fluoresen dan lampu pelepasan gas lainnya.

- Pemilihan armatur yang mempunyai karakteristik distribusi pencahayaan sesuai dengan pengunaannya, mempunyai efisiensi yang tinggi dan tidak mengakibatkan silau atau refleksi yang mengganggu.

- Pemanfaatan cahaya alami siang hari.

85

Universitas Kristen Petra

Tabel 2.10 Daya Listrik Maksimum untuk Pencahayaan

Sumber: SNI 03-6197-2000 dan ANSI/ASHRAE/IESNA Standard 90.1-2010

Area Daya Pencahayaan maksimum (W/m2) (termasuk rugi-rugi ballast)

- perpustakaan (area baca) - perpustakaan (tempat buku)

13 4. Balai pengobatan / Rumah Sakit

- Ruang Pasien

86

Universitas Kristen Petra

1. Pencahayaan alami

Pencahayaan alami siang hari harus memenuhi ketentuan sebagai berikut:

a. Cahaya alami siang hari harus dimanfaatkan sebaik-baiknya;

b. Dalam pemanfaatan cahaya alami, masuknya radiasi matahari langsung ke dalam bangunan harus dibuat seminimal mungkin. Cahaya langit harus diutamakan dari cahaya matahari langsung;

2. Kuantitas Pencahayaan

Merupakan jumlah dari cahaya yang diberikan dalam sebuah area. Biasanya menggunakan satuan watt, lumens, dan foot-candle (fc).

Tujuan adanya desain pencahayaan adalah untuk:

- Menyediakan kuantitas cahaya yang tepat.

- Menyediakan kualitas cahaya yang tepat.

- Strategi penghematan energi dalam pencahayaan.

- Identifikasi kuantitas dan kualitas pencahayaan yang tepat untuk beraktifitas di area.

- Meningkatkan efisiensi sumber cahaya jika area sering dihuni.

- Meningkatkan kontrol pencahayaan jika area jarang dihuni.

3. Komponen Sistem Pencahayaan a. Lampu

Lampu adalah komponen utama yang perlu dipertimbangkan dalam proses desain pencahayaan. Pilihan lampu menentukan kualitas cahaya, CRI, CCT, interval waktu penggantian lampu dan biaya operasional dari sistem pencahayaan.

87

Universitas Kristen Petra

Tabel 2.11 Jenis dan Karakteristik Lampu

Sumber: GBCI (2012)

Waktu hidup (jam) 750-12000 7500-24000 10000-20000 1600-15000 1500-15000 24000(10000) 18000

Efficacy (lumen/watt)

15-25 55-100 50-80 50-60 80-100 75-140

s/d 180

hanya lampu 67-112

Pemeliharaan Lumen sedang sampai sempurna

sedang sampai

sempurna sedang sangat baik baik sempurna sempurna

Render Warna

sempurna sangat baik sangat baik sedang

88

Universitas Kristen Petra

b. Ballast

Dengan pengecualian sistem pijar, hampir semua sistem penerangan (neon dan HID) membutuhkan ballast. Ballast mengontrol tegangan dan arus yang disediakan untuk lampu. Karena ballast merupakan komponen integral dalam sistem pencahayaan, mereka memiliki dampak langsung pada output cahaya. Ballast factor adalah rasio keluaran cahaya lampu terhadap referensi ballast. Tujuan umum ballast fluoresen adalah memiliki ballast factor ang kurang dari satu (biasanya 0,88 untuk sebagian besar ballast elektronik). Ballast khusus dapat memiliki ballast factor yang lebih tinggi untuk meningkatkan keluaran cahaya, atau ballast factor yang lebih rendah untuk mengurangi output cahaya.

c. Fixtures

Fixtures merupakan unit yang terdiri atas lampu, ballast, reflector, lensa dan housing. Tujuan dari fixtures adalah untuk memancarkan cahaya dari lampu dan meredam efek silau dari lampu.

Tolok ukur 1 bertujuan untuk mengurangi ketergantungan terhadap pencahayaan artificial dan memaksimalkan penggunaan cahaya alami. Usaha ini harus dilakukan secara terintegrasi, menggabungkan cahaya alami dan pencahayaan artificial untuk menyediakan pencahayaan berkualitas tinggi yang rendah energi.

Dengan menggabungkan tindakan penggunaan lampu hemat energi dan pemanfaatan pencahayaan alami dapat diperoleh penghematan energi yang diapresiasi dengan pemberian poin di tolok ukur 1 sesuai dengan besar penghematan yang dilakukan.

1. Prosedur Pengujian Tingkat Pencahayaan

Prosedur umum pengukuran pemakaian daya listrik untuk sistem pencahayaan buatam dalam rangka penghematan energi untuk tingkat pencahayaan rata-rata (lux) sesuai dengan fungsi ruangan, menurut perhitungan pada IHC 7: Outside View and Daylight.

Pada tolok ukur 2A, 100% penggunaan ballast frekuensi tinggi dibuktikan oleh ballast checker atau bukti pembelian.

Pada tolok ukur 2B, dimaksudkan adanya sistem pencahayaan yang terintegrasi. Sistem pencahayaan terintegrasi sendiri dapat berupa sistem

89

Universitas Kristen Petra

sensor cahaya terintegrasi yang menggabungkan antara pencahayaan alami dengan pemberian cahaya artifisial pada area yang kurang atau tidak memperoleh cahaya alami secara otomatis atau sistem sensor penghuni ruangan terintegrasi yang secara otomatis mematikan/menyalakan lampu sesuai dengan ada tidaknya orang di dalam ruangan. Sistem lain yang dapat menjadi pilihan adalah individual control, sistem ini dapat meningkatkan kenyamanan pekerja serta menghemat konsumsi energi. Penggunaan sistem pencahayaan juga harus disertai dengan penggunaan ballast frekuensi tinggi untuk pencahayaan artificial.

Kriteria ini harus dipertimbangkan sejak tahap perencanaan dan desain, melibatkan manajemen pengguna dan pihak mekanikal elektrikal untuk penerangan. Hal yang perlu diperhatikan dalam penghematan energi melalui sistem pencahayaan adalah melakukan usaha penghematan sebesarnya dan tetap mempertahankan level pencahayaan yang sesuai kebutuhannya untuk pemanfaatan pencahayaan alami, tantangan yang ada adalah dalam hubungan antara pemasukan cahaya dengan energi yang digunakan untuk pendinginan area.

2. Pengoperasian

Pada pengoperasian instalasi sistem pencahayaan dalam suatu bangunan, maka perencanaan penempatan alat pengendali perlu mendapatkan perhatian sehingga tata cahaya dapat dikendalikan dengan baik.

3. Penempatan Alat Kendali (Kontrol)

a. Semua alat pengendali pencahayaan harus ditempatkan pada tempat yang mudah dilihat dan dijangkau.

b. Sakelar yang melayani meja/tempat kerja, jika mudah dijangkau merupakan bagian armatur yang digunakan untuk menerangi meja/tempat kerja tersebut.

c. Sakelar yang mengendalikan sistem pencahayaan pada lebih dari satu area tidak boleh dihitung sebagai tambahan jumlah sakelar pengendali.

d. Setiap ruangan yang terbentuk karena pemasangan partisi harus dilengkapi sedikitnya satu sakelar on/off.

90

Universitas Kristen Petra

e. Ruangan dengan luas maksimum 30 m2 harus dilengkapi dengan satu sakelar untuk satu macam pekerjaan atau satu kelompok pekerjaan.

Gambar 2.32 Penempatan Kontrol Pencahayaan Sumber: GBCI (2012)

4. Pengendalian Sistem Pencahayaan

a. Semua sistem pencahayaan bangunan harus dapat dikendalikan secara manual atau otomatis kecuali yang terhubung dengan sistem darurat.

b. Pencahayaan luar bangunan dengan waktu pengoperasian terus menerus kurang dari 24 jam, sebaiknya dapat dikendalikan secara otomatis dengan timer, photocell, atau gabungan keduanya.

91

Universitas Kristen Petra

c. Armatur-armatur yang letaknya paralel terhadap dinding luar pada arah datangnya cahaya alami dan menggunakan sakelar otomatis atau sakelar terkendali harus juga dapat dimatikan dan dihidupkan secara manual.

d. Daerah tempat pencahayaan alami tersedia dengan cukup, sebaiknya dilengkapi dengan sakelar pengendali otomatis yang dapat mengatur penyalaan lampu sesuai dengan tingkat pencahayaan yang dirancang.

e. Berikut ini adalah hal-hal yang tidak diatur dalam ketentuan pengendalian sistem pencahayaan :

- Pengendalian pencahayaan yang mengatur suatu daerah kerja yang luas secara keseluruhan dimana kebutuhan pencahayaan dan pengendali dipusatkan di tempat lain (termasuk lobi umum dari perkantoran, hotel, rumah sakit, pusat belanja, dan gudang).

- Pengendalian otomatis atau pengendalian yang dapat diprogram.

- Pengendalian yang memerlukan operator terlatih.

- Pengendalian untuk kebutuhan keselamatan dan keamanan daerah berbahaya.

Dokumen yang diperlukan untuk EEC 3 tolok ukur 1 Laporan evaluasi W/m2 untuk sistem pencahayaan.

Gambar rencana titik lampu dan titik pencahayaan alami.

Bukti fotografis lampu terpasang dan titik masuknya pencahayaan alami.

Dokumen perhitungan jumlah daya pencahayaan.

Dokumen yang diperlukan untuk EEC 3 tolok ukur 2A Surat pengantar barang untuk lampu ballast.

Bukti fotografis lampu ballast terpasang.

Dokumen yang diperlukan untuk EEC 3 tolok ukur 2B

Dokumen yang menunjukkan adanya lighting sensor dan/atau dimming system dan/atau sistem pencahayaan yang terintegrasi

Bukti fotografis tempat peletakan lighting sensor dan/atau dimming system dan/atau sistem pencahayaan yang terintegrasi.

92

Universitas Kristen Petra

2.7.5. EEC 4. Pemantauan Energi dan Kontrol / Energy Monitoring and