commit to user 39 BAB IV
HASIL PENELITIAN
PT Petrosida Gresik merupakan salah satu produsen produk formulasi pestisida, pupuk dan bahan kimia, sebagai distributor pupuk bersubsidi dan non subsidi, serta produk-produk bio berbasis mikroba yang didirikan pada tanggal 10 Oktober 1984 dengan status Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN). PT Petrosida Gresik memiliki luas ± 2,4 Ha. PT Petrosida chemical plant berada dalam kawasan industri Petrokimia Gresik di Jl. Jenderal Ahmad Yani PO.BOX 136 Gresik, 61118. Batas lokasi kegiatan PT Petrosida chemical plant yaitu sebagai berikut:
a. Sebelah utara : PT Petrokimia Gresik b. Sebelah barat : PT Petrokimia Gresik c. Sebelah selatan : Laut Jawa
d. Sebelah timur : Laut Jawa
Keadaan darurat menurut prosedur kesiagaan dan penanganan kondisi darurat PT Petrosida Gresik merupakan kejadian yang tidak direncanakan dan tidak dikehendaki yang berakibat merugikan perusahaan atau mengganggu kelancaran produksi baik sebagian maupun keseluruhan yang harus dicegah dan ditanggulangi secara cepat dan tepat sehingga dapat mengurangi kerugian yang ditimbulkan. Perusahaan mengklasifikasikan keadaan darurat menjadi 2 jenis yaitu:
commit to user
1. Keadaan darurat karena penyebab internal merupakan keadaan darurat yang diakibatkan langsung karena proses dalam operasi, antara lain karena faktor manusia, peralatan, material, prosedur kerja, dan kondisi lingkungan kerja.
2. Keadaan darurat karena penyebab eksternal merupakan keadaan darurat yang terjadi sebagai akibat langsung maupun tidak langsung kondisi yang terjadi di luar proses seperti bencana alam, huru-hara, sabotase, kondisi politik, ekonomi, dan lain sebagainya.
Tingkatan keadaan darurat menurut PT Petrosida Gresik dibagi menjadi 3 yaitu sebagai berikut :
1. Keadaan darurat tingkat awal adalah keadaan darurat yang dapat mengancam nyawa karyawan dan peralatan kerja di sekitarnya yang masih dapat diatasi oleh karyawan/tim STD yang ada di lokasi kejadian menggunakan peralatan sistem tanggap darurat yang berada di sekitarnya.
Misalnya kebakaran di satu lokasi unit kerja, kebakaran di ruangan kantor.
2. Keadaan darurat tingkat I adalah keadaan darurat dimana karyawan/tim STD tidak dapat mengendalikan keadaan darurat tersebut dan membutuhkan bantuan dari industri sekitar ataupun masyarakat sekitar. Contoh: terjadinya kebakaran di satu unit kerja, listrik mati total dan terjadinya peledakan di satu unit kerja.
3. Keadaan darurat tingkat II adalah keadaan darurat dimana pihak perusahaan membutuhkan bantuan dari pemerintah daerah dan koordinasi tingkat nasional untuk menanggulangi peristiwa tersebut dan kerugian yang
commit to user
diakibatkan dari kejadian tersebut lebih besar dari kerugian yang dialami oleh keadaan darurat tingkat I.
A. Kebijakan Sistem Manajemen Perusahaan
PT Petrosida Gresik telah berkomitmen pada penerapan sistem manajemen K3, pengelolaan lingkungan hidup serta penjaminan mutu.
Kebijakan dan komitmen K3 perusahaan terintegrasi dalam Kebijakan Sistem Manajemen PT Petrosida Gresik yang dibuktikan dengan pernyataan bahwa “ Perusahaan berkomitmen untuk menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan aman bagi manusia dan lingkungan dalam rangka mencegah dan atau mengurangi risiko kecelakaan dan penyakit akibat kerja untuk mencapai tujuan K3 yaitu nihil kecelakaan”.
Hal tersebut juga menjadi pijakan perusahaan guna mengendalikan dan mencegah kemungkinan terjadinya keadaan darurat sehingga dapat meminimalisir kerugian baik materi dan non materi. Kebijakan sistem manajemen ini disusun dengan memperhatikan masukan dari karyawan dan berdasarkan tinjauan awal K3 serta disahkan oleh top manajemen yaitu direktur utama. Kebijakan sistem manajemen perusahaan terlampir dalam lampiran 3.
Untuk meminimalisir kerugian dari dampak keadaan darurat maka PT Petrosida Gresik melakukan pengendalian keadaan darurat dengan menerapkan sistem tanggap darurat melalui manajemen keadaan darurat. Manajemen keadaan darurat yang dilakukan oleh perusahaan yaitu sebagai berikut :
commit to user B. Perencanaan Penanganan Keadaan Darurat
Perencanaan penanganan keadaan darurat dapat dilakukan setelah dilakukan identifikasi potensi bahaya untuk mengetahui potensi bahaya yang dapat menyebabkan keadaan darurat di perusahaan. Berdasarkan identifikasi potensi bahaya yang dilakukan, keadaan darurat yang dapat terjadi di PT Petrosida Gresik yaitu kecelakaan kerja, tumpahan B3, gempa bumi, peledakan, kebakaran dan huru-hara, untuk itu dilakukan perencanaan penanganan keadaan darurat sebagai berikut :
1. Identifikasi Potensi Bahaya
Potensi bahaya di PT Petrosida Gresik bersumber dari manusia, alam, peralatan produksi, bahan-bahan yang digunakan dalam proses produksi.
Penyebab dari munculnya bahaya dapat terjadi karena unsafe action dan unsafe condition. Identifikasi potensi bahaya dilakukan secara rutin setiap bulannya melalui inspeksi terencana yaitu safety sampling.
Safety sampling adalah kegiatan rutin setiap bulan yang bertujuan untuk memonitor dan mendapatkan temuan sebagai bentuk koreksi dan tindakan perbaikan yang terkait dengan kondisi-kondisi tidak aman (unsafe condition) dan tindakan tidak aman (unsafe action) di lingkungan perusahaan. Safety sampling dilakukan tiap 1 bulan sekali oleh tim P2K3.
Form safety sampling terlampir pada lampiran 4. Berikut merupakan sumber potensi bahaya yang dapat menyebabkan keadaan darurat yaitu:
commit to user 1. Peralatan
PT Petrosida Gresik chemical plant dibagi menjadi 6 unit yang memproduksi pestisida dengan menggunakan mesin semi otomatis.
Berikut merupakan mesin yang digunakan dalam proses produksi sebagai berikut:
a. Vessel yang di dalamnya terdapat motor penggerak yang digunakan mencampur bahan-bahan kimia.
b. Mesin fillow matic digunakan untuk mengisi produk jadi ke dalam botol secara otomatis.
c. Mesin filling yang digunakan untuk mengisi produk jadi ke dalam botol yang mempunyai kapasitas 1 liter dan 400 ml yang berada di unit herbisida.
d. Mesin capping yang digunakan untuk menutup botol. Potensi bahaya yang ada yaitu tangan terjepit mesin keeping.
e. Mesin basepack yang digunakan untuk mengisolasi kardus. Potensi bahaya yang ada yaitu tangan ikut tersiolasi.
f. Mesin jet printer yang digunakan untuk memberikan cap/label pada kemasan produk kode batch dan tanggal kadaluarsa.
g. Boiler yang digunakan sebagai alat pemanas bahan kimia.
commit to user
Potensi bahaya yang dapat menyebabkan keadaan darurat dari penggunaan mesin yaitu :
a. Kecelakaan kerja.
Kecelakaan kerja menurut peraturan adalah kecelakaan yang terjadi berhubung dengan hubungan kerja , termasuk penyakit yang timbul karena hubungan kerja, demikian pula kecelakaan yang terjadi dalam perjalanan berangkat dari rumah menuju tempat kerja dan pulang ke rumah melalui jalan yang biasa atau wajar dilalui.
Kecelakaan kerja di perusahaan dapat tejadi misalnya tabrakan antar forklift, karyawan tertabrak forklift dan karyawan jatuh dari tangga.
b. Kebakaran dan ledakan
Potensi bahaya kebakaran dapat terjadi karena konsleting listrik yang digunakan sebagai tenaga penggerak mesin dan karena sambaran petir. Ledakan dapat berasal dari boiler yang melebihi tekanan yang seharusnya. Ledakan juga dapat terjadi apabila terjadi kebakaran.
c. Tumpahan B3
Tumpahan B3 dapat terjadi jika selang untuk transport bahan kimia bocor, adanya kerusakan pada mesin fillowmatic, adanya kebocoran pada vessel, kebocoran pada wadah bahan kimia dan tumpahan tangki solar yang berada di dekat. Tumpahan B3 dalam skala kecil maupun skala besar dapat mencemari lingkungan apabila tidak dikelola dengan baik.
commit to user 2. Alam.
Keadaan alam yang tidak menentu dapat menjadi menyebabkan keadaan darurat misalnya bencana alam. Bencana alam menurut prosedur Kesiagaan dan Penanganan Kondisi Darurat adalah peristiwa alam yang mengakibatkan kerusakan dan menimbulkan kerugian pada perusahaan yang tidak dapat ditangani oleh unit kerja setempat dan memerlukan bantuan pihak eksternal.
Bencana alam yang dapat melanda PT Petrosida Gresik chemical plant yaitu gempa bumi. Gempa bumi adalah getaran yang terjadi di permukaan bumi akibat pelepasan energi dari dalam secara tiba-tiba yang menciptakan gelombang seismik yang disebabkan karena adanya pergerakan lempeng bumi/kerak bumi. Gempa bumi dapat terjadi sewaktu-waktu dan tidak dapat diduga sebelumnya.
3. Manusia
Manusia dalam dunia industri yaitu karyawan dan manajemen.
Manusia dapat menjadi sumber potensi bahaya dari tindakan yang dilakukan karena faktor kurang terampil, kurang tepat, kecerobohan atau karena terganggu emosinya ketika melakukan pekerjaan.
Tindakan manusia yang dapat menyebakan keadaan darurat di perusahaan yaitu tidak dipatuhinya peraturan dilarang merokok di area perusahaan karena disekeliling perusahaan banyak terdapat bahan kimia dengan karakteristik berbeda-beda yang tergolong B3 sehingga dapat menyebabkan kebakaran, kecerobohan operator ketika mengendarai
commit to user
forklift dengan kecepatan tinggi sehingga dapat menyebabkan tabrakan, kurangnya pengawasan operator terhadap peralatan produksi yang digunakan misalnya tidak dilakukannya pemeriksaan tekanan pada boiler sehingga menyebabkan tekanan berlebih dan dapat menimbulkan peledakan, terdapat masalah internal antara manajemen dan karyawan misalnya hak karyawan belum terpenuhi sehingga karyawan menuntut haknya dengan melakukan demo.
4. Bahan
Bahan yang menjadi sumber potensi bahaya yaitu bahan yang digunakan dalam proses produksi yaitu bahan kimia dengan berbagai karakteristik yang berbeda yang tergolong B3 misalnya methanol yang mempunyai karakteristik dapat merusak lingkungan, mudah terbakar serta iritant dan amethryn yang memiliki karakteristik merusak lingkungan. Bahan kimia dapat menjadi berbahaya apabila kemasan bahan kimia tersebut bocor sehingga terjadi tumpahan serta terjadi reaksi antara bahan kimia B3.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa keadaan darurat yang dapat terjadi di PT Petrosida Gresik yaitu kecelakaan kerja, kebakaran, peledakan, tumpahan B3, huru-hara dan gempa bumi.
2. Prosedur Sistem Tanggap Darurat dan Instruksi Kerja Tanggap Darurat Prosedur Kesiagaan dan Penanganan Kondisi Darurat disusun oleh K3LH untuk mempersiapkan kesiapsiagaan dalam melakukan penanganan keadaan darurat. Tujuan dari penyusunan prosedur tersebut yaitu
commit to user
menanggulangi keadaan darurat pada saat proses produksi sedang berlangsung dan mencegah/mengurangi terjadinya kecelakaan kerja ataupun keadaan darurat yang berdampak pada lingkungan kerja serta kerusakan pada peralatan proses produksi serta menjadi alur yang tepat dalam penanganan keadaan darurat. Isi dari prosedur kesiapsigaan dan penanganan kondisi darurat yaitu persiapan dalam mencegah terjadinya keadaan darurat, penanganan kondisi darurat, tata cara pelaporan dan cara pemulihannya.
K3LH juga menyusun instruksi kerja sebagai pendukung prosedur kesiapsiagaan dan penanganan keadaan darurat seperti instruksi kerja penanganan bencana gempa bumi, instruksi kerja penanganan tumpahan B3, instruksi kerja penanganan kebakaran, instruksi kerja penanganan ledakan dan instruksi kerja P3K yang digunakan sebagai panduan dalam memberikan pertolongan pertama pada korban akibat keadaan darurat.
Prosedur kesiagaan dan penanganan keadaan darurat serta instruksi kerja terkait penanganan kondisi darurat akan dilakukan revisi apabila dilakukan penyesuaian terhadap peraturan perundang-undangan, penambahan step, ataupun saran dari auditor baik eksternal maupun internal.
Namun prosedur ataupun instruksi kerja yang terkait penanganan keadaan darurat belum disosialisasikan kepada karyawan.
3. Tim Tanggap Darurat
Tim tanggap darurat merupakan salah satu upaya yang dipersiapkan dalam menanggulangi keadaan darurat. Tim tanggap darurat merupakan organisasi yang dibentuk untuk menanggulangi keadaan darurat yang
commit to user
terjadi. Pengertian tim tanggap darurat menurut prosedur Kesiagaan dan Penanganan Kondisi Darurat merupakan tim yang ditunjuk sesuai Nota Dinas Direksi dan telah mendapatkan pelatihan untuk pencegahan dan pelaksanaan penanganan keadaan darurat.
Karyawan yang dipilih menjadi tim tanggap darurat merupakan orang yang berkompeten, mempunyai pengetahuan dan sudah mengikuti pelatihan untuk bertindak dalam keadaan darurat. Dokumen nota dinas penunjukan tim tanggap darurat terlampir pada lampiran 5.
Tim tanggap darurat PT Petrosida Gresik chemical plant yang terdiri dari koordinator, komunikasi, tim evakuasi, tim penanganan, tim pemadam kebakaran, tim keamanan dan tim P3K. Untuk tim khusus seperti tim pemadam kebakaran sudah bersertifikat sebagai ahli K3 koordinator unit penanggulangan kebakaran dan tim P3K sudah bersertifikat sebagai petugas P3K dari Kementerian Tenaga Kerja RI.
Tim tanggap darurat memperoleh pelatihan terkait penanganan keadaan darurat seperti pelatihan pemadaman kebakaran dari Dinas Pemadam Kebakaran PT Petrokimia Gresik dan pelatihan P3K dari pihak RS Petrokimia Gresik tiap 3 bulan sekali dengan menyesuaikan kondisi.
Tim tanggap darurat chemical plant dibentuk atas dasar Peraturan Pemerintah No. 50 tahun 2012 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3), Penerapan OHSAS 1800:2007 dan ISO 14001:2015 dan pertimbangan direksi.
commit to user
Tim tanggap darurat yang dibentuk diberitahukan kepada seluruh karyawan pada saat kegiatan penyegaran K3 dan pada saat safety induction.
Tugas yang dilakukan oleh tim tanggap darurat menurut prosedur Kesiagaan dan Penanganan Kondisi Darurat yaitu:
1. Mengamankan situasi dan kondisi jika terjadi keadaan darurat terhadap:
a. Seluruh karyawan/orang yang berada di area lokasi kejadian.
b. Seluruh aset perusahaan yang ada di area lokasi kejadian.
2. Mengadakan simulasi terhadap adanya keadaan darurat minimal 1 kali dalam 1 tahun.
Berikut merupakan susunan tim tanggap darurat di PT Petrosida Gresik chemical plant:
1. Koordinator : Suwadji 2. Komunikasi : Santoso
3. Tim evakuasi : 1) Edy Kiswantara 2) Yanri Cahyo 3) Achtya Perdana 4. Tim penanganan : 1) Sujono
2) Zainul Mustofa 3) M. Ali Mustofa 4) Teguh Apriyanto 5) Very
5. Pemadam kebakaran :
a. Komandan : Anno Silaga
commit to user
b. Slang 1,5” : 1) Fahmi Aprilian 2) Johan Dwinata c. Slang 2,5” : a) Oldive Meigres
b) Ladi Wibowo d. Operator Hydrant : Anas Rizal Majedi e. Cadangan : Tova Anggi Kurnia 6. Keamanan : Yang sedang bertugas 7. Tim P3K : 1) Firmanta M.S
2) Sugeng P.
3) Tio Ibnu 4) Mas Nugraha 5) Farda Albab A 6) Zainul Syahroni
Berikut merupakan uraian tugas dan tanggung jawab dari tim tanggap darurat :
1. Tugas dan Tanggung jawab Koordinator.
a. Merencanakan dan mengatur aktivitas komite tanggap darurat dalam pengendalian keadaan darurat di perusahaan sesuai dengan persyaratan standard manajemen.
b. Mengawasi dan memastikan instalasi/infrastruktur yang berkaitan dengan keadaan darurat di perusahaan dalam kondisi baik dan siap digunakan jika terjadi keadaan darurat.
commit to user
c. Bertanggung jawab dalam menjaga dan memelihara lingkungan perusahaan dari pencemaran.
d. Bertanggung jawab melakukan komunikasi dengan pihak eksternal jika terjadi keadaan darurat di perusahaan.
2. Tugas dan Tanggung jawab Komunikasi.
Komunikasi : Bertanggung jawab melakukan komunikasi dengan pihak internal jika terjadi keadaan darurat di perusahaan, seperti :
a. Menginformasikan kepada semua unit bahwa telah terjadi keadaan darurat di perusahaan.
b. Menghubungi pihak-pihak yang berwenang dalam penanganan keadaan darurat.
3. Tugas dan Tanggung jawab Evakuasi.
Tugas dan Tangggung jawab ketua evakuasi:
a. Mengkordinir anggotanya segera setelah diketahui adanya keadaan darurat.
b. Melapor dengan segera tentang kesiapan anggotanya untuk melaksanakan evakuasi kepada kordinator
c. Memastikan lokasi evakuasi telah tersedia dan area tersebut memadai dan aman untuk seluruh karyawan di perusahaan.
d. Memerintahkan anggotanya untuk mengamankan seluruh karyawan, dokumen penting, serta orang lain yang berada di sekitar area perusahaan agar segera menuju ke lokasi evakuasi/assembly point.
e. Melapor kepada kordinator setelah pelaksanaan tugas selesai.
commit to user Anggota Evakuasi :
a. Mengamankan seluruh pegawai serta orang lain dengan memberi petunjuk agar berjalan dengan aman menuju ke assembly point.
b. Mengamankan daerah sekitar lokasi kejadian darurat serta melarang orang-orang luar yang tidak berkepentingan mendekat ke lokasi kejadian darurat serta mencegah orang-orang dalam meninggalkan area perusahaan.
c. Menghitung jumlah orang yang berhasil dan belum berhasil di evakuasi dan melaporkannya kepada ketua evakuasi.
4. Tugas dan Tanggung jawab Penanganan.
a. Mengatasi akibat dari peledakan, kebakaran, kebocoran, tumpahan atau semua hal yang berpotensi menyebabkan keadaan darurat.
b. Mematikan aliran listrik, aliran gas dan sumber lain penyebab kejadian sebelum datang bantuan.
5. Tugas dan Tanggung jawab Pemadam Kebakaran.
1) Tugas dan Tanggung jawab komandan pemadam kebakaran:
a. Mengkordinir anggotanya segera setelah diketahui adanya kondisi darurat.
b. Melapor dengan segera tentang kesiapan anggotanya untuk melaksanakan tugas kepada kordinator tanggap darurat.
c. Memimpin anggotanya dalam proses pemadaman kebakaran serta memastikan semua orang yang terlibat dalam proses pemadaman telah mendapatkan pelatihan pemadaman kebakaran yang cukup.
commit to user
d. Pada saat pemadaman komandan bertugas membawa nozzle dan connection cabang.
2) Tugas dan Tanggung jawab anggota pemadam kebakaran:
a) Operator hydrant/pompa : a. Membawa kunci hydrant
b. Membuka/menutup valve hydrant
c. Memasang/melepas selang ke pilar hydrant b) Nozzle man :
a. Membawa selang 1,5 “, b. Menggelar selang
c. Memasang/melepas nozzle d. Melaksanakan pemadaman
e. Mengosongkan dan menggulung selang c) Helper :
a. Membawa selang 2,5”
b. Menggelar selang
c. Menyambung/melepas selang 2,5” dan 1,5” dengan connection cabang
d. Meneruskan perintah komandan
e. Mengosongkan dan menggulung selang.
commit to user 6. Tugas dan Tanggung jawab P3K.
a) Tugas dan Tanggung jawab ketua P3K:
a. Mengkordinir anggotanya segera setelah diketahui adanya keadaan darurat.
b. Melaporkan kepada kordinator tentang kesiapan anggotanya untuk melaksanakan tugas.
c. Memerintahkan kepada anggotanya untuk melaksanakan pertolongan pertama pada kecelakaan jika terdapat korban.
d. Melapor kepada kordinator setelah selesai melaksanakan pertolongan pertama pada kecelakaan.
b) Tugas dan Tanggung jawab anggota P3K:
a. Melakukan pertolongan pertama pada korban kecelakaan.
b. Memindahkan korban ke tempat yang lebih aman.
c. Mengurus kembalinya peralatan/perlengkapan P3K setelah selesai dipergunakan serta mengembalikan ke tempat semula.
7. Tugas dan Tanggung jawab keamanan.
a. Mengkordinir pengamanan daerah kejadian dan mengawasi/mengatur/mengendalikan situasi sedemikian rupa sehingga hanya petugas berwenang yang bisa keluar masuk daerah keadaan darurat.
b. Mengamankan fasilitas, material dan ketertiban umum dari kemungkinan tindakan-tindakan kriminal
c. Melakukan kordinasi penanganan keadaan darurat.
commit to user
4. Sarana Prasarana dan Fasilitas Penunjang Penanganan Keadaan Darurat Untuk menunjang keberhasilan dalam mengendalikan keadaan darurat, PT Petrosida Gresik menyediakan sarana prasarana dan fasilitas penunjang penanganan keadaan darurat. Berikut merupakan beberapa sarana prasarana dan fasilitas sistem tanggap darurat:
a) Alat Proteksi Kebakaran yang terdiri dari proteksi kebakaran aktif dan proteksi kebakaran pasif. Berikut uraian dari alat proteksi kebakaran aktif dan alat proteksi kebakaran pasif :
1. Proteksi Kebakaran Aktif, yang terdiri dari : a. Sistem detektor
Detektor adalah alat untuk mendeteksi pada mula kebakaran yang dapat membangkitkan alarm dalam suatu sistem. Perusahaan belum menyediakan sistem detektor.
b. Sprinkler
Sprinkler adalah alat pemancar air untuk pemadaman kebakaran yang mempunyai tudung berbentuk deflektor pada ujung mulut pemancarnya, sehingga air dapat memancar ke semua arah secara merata. Belum terdapat sprinkler pada bangunan pabrik PT Petrosida chemical plant.
c. Alat Pemadam Api Ringan (APAR)
APAR adalah alat yang ringan serta mudah dilayani oleh satu orang untuk memadamkan api pada mula terjadi kebakaran. APAR dipasang di perusahaan dengan menyesuaikan potensi penyebab
commit to user
kebakaran dan luas bangunan contoh di gudang dipasang APAR jenis dry powder untuk memadamkan kebakaran karena tumpukan botol dan karton. Penentuan titik pemasangan APAR dilakukan oleh bagian K3LH dengan dibuat layout pemasangan APAR.
APAR diperiksa sebulan sekali oleh pihak K3LH. Dokumen pemeriksaan APAR terlampir pada lampiran 6.
Bagian-bagian APAR yang diperiksa yaitu dari fisik APAR, tekanan APAR dan kondisi pengunci APAR. Beberapa APAR yang disediakan dipasang pada posisi dengan ketinggian 1,25 meter dan jarak pemasangan 15 meter, namun untuk area tertentu misalnya area gudang terdapat APAR yang jaraknya berdekatan karena di dalam gudang terdapat banyak tumpukan bahan yang mudah terbakar seperti tumpukan botol-botol produksi, tumpukan karton, label serta dengan memperhatikan sistem blok daerah pemadaman.
Terdapat APAR yang dipasang di tiang contohnya APAR yang dipasang di unit sidafur dan APAR dipasang dengan ketinggian tidak 125 cm contohnya APAR di ruang K3LH dengan ketinggian 120 cm dari dasar lantai.
commit to user
Gambar 2. APAR di Unit Sidafur dan di Ruang K3LH Sumber : K3LH PT Petrosida Gresik Chemical plant, 2018.
Tanda pemasangan pada beberapa APAR di perusahaan tidak sesuai dengan peraturan misalnya APAR yang berada di gudang logistik.
Gambar 3. APAR di Gudang Logistik
Sumber : K3LH PT Petrosida Gresik Chemical plant, 2018.
commit to user
Berikut merupakan beberapa jenis APAR yang digunakan di perusahaan untuk meminimalisir kebakaran:
1. APAR YA-100 : 10 buah 2. APAR YA 20 L : 23 buah 3. APAR YA 10 : 9 buah 4. APAR ECO 12 Kg : 15 buah 5. APAR Indoka : 6 buah
6. APRON BCF : 5 buah
d. Instalasi Hydrant
Hydrant yang terdapat di area kerja chemical plant sebanyak 9 box hydrant. Jenis hydrant yang dipasang di perusahaan yaitu dry barrel fire hydrant. Pemeriksaan hydrant secara eksternal dilakukan 1 tahun sekali oleh Pengawas Keselamatan Kerja dari Disnaker Provinsi Jawa Timur. Pemeriksaan hydrant secara internal dilakukan oleh bagian K3LH sebulan sekali. Dokumen pemeriksaan hydrant terlampir pada lampiran 7.
Pemeriksaan hydrant yang dilakukan oleh pihak eksternal yaitu pengecekan tekanan pompa pilar hydrant dan secara visual untuk mengecek pilar hydrant, hose selang dan nozzle spray.
Pemeriksaan hydrant yang dilakukan oleh bagian K3LH meliputi pengecekan tekanan pompanya seperti tekanan jocky pump, elbara pressure dan pressure guide harus 10 bar, kondisi dari pilar hydrant masih baik atau tidak, kelengkapan dari isi box hydrant.
commit to user
Hydrant di PT Petrosida Gresik Chemical Plant telah mendapatkan surat keterangan layak operasional dari Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Gresik. Sumber air yang digunakan hydrant berasal dari air tanah dan kolam bak penampung air hujan.
Terdapat panel yang mengatur aliran air untuk hydrant di tiap unitnya, dimana panel yang mengatur aliran air ke tiap unit tersebut tidak dimatikan untuk memudahkan apabila sewaktu- waktu terjadi kebakaran.
Gambar 4. Isi Kotak Hydrant
Sumber : K3LH PT Petrosida Gresik Chemical Plant, 2018 Tabel 2. Isi Kotak Hydrant.
No Peralatan Jumlah 1. Hose Hydrant 2,5 2 roll 2. Hose Hydrant 1,5 2 roll
3. Nozzle 2,5 2 buah
4. Nozzle 1,5 2 buah
5. Pipa cabang 1 buah
6. Kunci stang 1 buah
7. Kunci F 1 buah
Sumber : K3LH PT Petrosida Gresik Chemical Plant, 2018 Kotak hydrant selalu dalam keadaan tertutup.
commit to user 2. Alat Proteksi Pasif
a. Penyalur petir
Penyalur petir adalah sebuah batang logam atau konduktor yang dipasang di atas gedung dan pada perangkat listrik yang terhubung ke tanah melalui kawat, untuk melindungi bangunan pada saat terjadi petir. Penyalur petir yang digunakan merupakan jenis penyalur petir konvensional. Jumlah penangkal petir di PT Petrosida Gresik ada 6 yaitu di gedung proses, gedung formulasi, gedung 75 WP, gedung boiler, gedung litbang dan gudang.
Pemeriksaan penyalur petir dilakukan tiap 1 tahun sekali yang dilakukan oleh pegawai pengawas keselamatan kerja dari Disnakertrans Provinsi Jawa Timur. Dokumen hasil pemeriksaan penyalur petir terlampir pada lampiran 8. Pemeriksaan yang dilakukan meliputi pengukuran tahanan dan pemeriksaan secara visual. Bagian-bagian yang diperiksa yaitu bagian penerimaan, hantaran, terminal (box control) dan grounding (pentanahan).
b. Sirine
Sirine yang disediakan oleh perusahaan digunakan sebagai penanda terjadinya keadaan darurat. Tombol sirine yang terdapat di PT Petrosida Gresik chemical plant berjumlah 4 yang terletak di kantor insektisida, di parkir mobil, pos satpam dan di kantor herbisida. Jumlah sirine yang digunakan perusahaan ada 2 yaitu berada di kantor herbisida dan di atas mushola.
commit to user
Gambar 5. Sirine yang Dipasang di Atas Mushola Sumber : K3LH PT Petrosida Gresik Chemical plant, 2018.
Sirine akan berbunyi apabila terjadi keadaan darurat. Apabila terdapat karyawan yang mengetahui kejadian darurat, maka karyawan harus segera melapor ke bagian K3LH. Selanjutnya pihak K3LH akan membunyikan sirine keadaan darurat dan menginformasikan kepada karyawan untuk segera berlindung ke tempat yang aman dengan menggunakan speaker. Sirine yang digunakan dilakukan pemeriksaan setiap 1 bulan sekali oleh bagian K3LH. Dokumen pemeriksaan sirine terlampir pada lampiran 9.
c. Titik Kumpul (Assembly Point)
Assembly point merupakan tempat berkumpul sementara/tempat aman di luar area pabrik bagi karyawan ketika menghadapi keadaan darurat yang diberi tanda bertuliskan assembly point. Hal-hal yang harus diperhatikan pada saat menentukan assembly point yaitu faktor bahaya risiko harus lebih kecil/zero accident, dekat dengan akses keluar masuk pabrik dan dapat menampung orang dalam jumlah besar.
commit to user
Assembly point PT Petrosida Gresik chemical plant berada di depan ruang pos satpam. Namun pemasangan tanda assembly point tertutup rimbunan pohon.
Gambar 6. Assembly Point di depan pos satpam Sumber : K3LH PT Petrosida Gresik Chemical plant, 2018.
d. Peta Evakuasi dan Jalur Evakuasi
Peta evakuasi merupakan peta yang digunakan sebagai penunjuk arah evakuasi yang harus dilalui apabila terjadi keadaan darurat. Peta evakuasi dibuat oleh bagian K3LH dengan memperhatikan efisiensi waktu karyawan menuju assembly point dan jalur aman yang harus dilalui karyawan ketika terjadi keadaan darurat dengan prinsip meminimalkan terjadinya potensi bahaya yang ada.
Peta ini disosialisasikan kepada karyawan secara langsung pada saat kegiatan penyegaran K3 dan pada saat safety induction.
Tidak ada peta evakuasi yang dipasang di tiap unitnya. Dokumen peta evakuasi PT Petrosida Gresik chemical plant dikendalikan.
Tidak terdapat jalur evakuasi dan exit di setiap bangunan gedungnya. Perusahaan hanya menyediakan jalur evakuasi di luar
commit to user
bangunan/ di akses jalan yang sering dilewati dengan memasang rambu menuju assembly point dan rambu menuju pintu darurat.
Beberapa rambu panah pintu darurat terhalang oleh tumpukan bahan kimia seperti rambu panah pintu darurat di sebelah barat unit insektisida.
Rambu petunjuk pintu darurat dan panah petunjuk assembly point didesain dengan warna dasar hijau dan warna tulisan putih.
Tanda panah pintu darurat dan panah assembly point dipasang pada sudut jalan yang digunakan sebagai akses lalu lalang transportasi misalnya di depan unit insektisida dan selatan kantor unit insektisida sedangkan untuk rambu panah assembly point berada di sebelah barat ruang istirahat unit padatan.
Gambar 7. Petunjuk arah Assembly point
Sumber : K3LH PT Petrosida Gresik Chemical plant, 2018.
e. Pintu Darurat
Pintu darurat PT Petrosida Gresik chemical plant berada di dekat unit sidafur, namun untuk akses keluar pintu darurat terhalang oleh tumpukan bahan kimia B3. Pintu darurat ditandai dengan warna kuning dan hitam dengan tulisan pintu darurat.
commit to user b) Alat Transportasi
Kendaraan dinas yang disediakan perusahaan dapat digunakan untuk transportasi evakuasi apabila terdapat korban yang membutuhkan pertolongan medis yang lebih lanjut.
c) Pertolongan Medis
a. Fasilitas Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K)
PT Petrosida Gresik menyediakan fasilitas untuk pertolongan pertama yaitu berupa:
1) Kotak P3K
Fasilitas kotak P3K yang disediakan perusahaan berjumlah 17 kotak P3K yang tersebar di tiap unitnya. Isi dari kotak P3K disesuaikan dengan jumlah karyawan yaitu <25 orang yaitu jenis kotak A.
Gambar 8. Isi Kotak P3K
Sumber : K3LH PT Petrosida Gresik Chemical Plant, 2018.
Isi dari kotak P3K tersebut yaitu obat merah, kasa steril, kapas, perban, buku panduan P3K, buku catatan pengambilan P3K, peniti, gunting, pinset, alkohol, aquades, plester cepat (hansaplast), lampu senter, gelas cuci mata, aquades dan daftar isi kotak.
commit to user
Penempatan kotak P3K diletakkan ditempat yang mudah terlihat, jelas dan mudah dijangkau. Namun ada kotak P3K yang penempatannya terhalang oleh meja kerja dan ada juga kotak P3K yang penempatannya terhalang oleh tumpukan barang dan lemari di bawahnya contohnya kotak P3K di unit insektisida.
Gambar 9. Kotak P3K di Insektisida.
Sumber: PT Petrosida Gresik Chemical plant, 2018
Menurut ketentuan peraturan perundangan disebutkan bahwa dalam hal tempat kerja pada lantai yang berbeda di gedung bertingkat, maka masing-masing unit kerja harus menyediakan kotak P3K sesuai jumlah pekerja/buruh namun pada unit chemical, kotak P3K hanya terdapat di lantai 1 dan lantai 2.
Pemeriksaan kotak P3K dilakukan sebulan sekali oleh bagian K3LH. Pemeriksaan dilakukan untuk mengecek isi dari kotak P3K sesuai dengan ketentuan peraturan atau tidak. Dokumen pemeriksaan P3K terlampir pada lampiran 10.
commit to user 2) Ruang P3K
Gambar 10. Ruang P3K
Sumber : K3LH PT Petrosida Gresik Chemical plant, 2018 Ruang P3K merupakan ruangan yang digunakan untuk memberikan pertolongan pertama apabila karyawan mengalami kecelakaan kerja ataupun terdapat korban pada saat keadaan darurat. Sarana yang disediakan di dalam ruang P3K yaitu:
1. Bed
2. Peralatan oksigen seperti masker oksigen dan tabung gasnya.
3. Kotak P3K
4. Alat pemeriksaan tekanan darah 5. Tandu
Letak ruang P3K berada di dalam ruang K3LH berdekatan dengan kamar mandi, akses jalan keluar yang mudah, mudah dijangkau dan dekat parkiran mobil yang mana akan mempermudah akses apabila terdapat korban kecelakaan kerja ataupun PAK yang membutuhkan rujukan ke rumah sakit untuk pertolongan yang lebih lanjut.
commit to user 3) Emergency shower dan eye washer
Emergency shower dan eye washer merupakan sarana pertolongan pertama apabila karyawan terkena cairan bahan kimia yang tergolong B3 dengan jalan membersihkan diri. Emergency shower dan eye washer yang disediakan berjumlah 7 buah.
Pemeriksaan emergency shower dan eye washer dilakukan oleh bagian K3LH tiap 1 bulan sekali. Dokumen pemeriksaan emergency shower dan eye washer terlampir pada lampiran 11.
Gambar 11. Emergency Shower dan Eye Washer Sumber : K3LH PT Petrosida Gresik Chemical plant, 2018
Bagian yang diperiksa dari emergency shower dan eye washer yaitu nozzle, valve apakah masih berfungsi dan memancar sempurna serta kelengkapan dari jumlah showernya.
b. RS Petrokimia Gresik
Perusahaan menjalin kerja sama dengan RS Petrokimia Gresik dalam hal pelayanan kesehatan kerja termasuk juga dalam penanganan apabila terdapat karyawan yang mengalami kecelakaan kerja ataupun
commit to user
terdapat karyawan yang mengalami luka cukup parah ketika terjadi keadaan darurat.
d) Peralatan Komunikasi a. System Pagging
Perusahaan menyediakan system pagging sebagai sarana pemberitahuan apabila terjadi keadaan darurat dan sebagai sarana yang digunakan untuk menyampaikan informasi penting kepada karyawan. Speaker pagging berada di tiap unit. Ruang kontrol sistem pagging berada di dekat mushola. Speaker pagging dibiarkan selalu dalam keadaan hidup untuk memudahkan pemberitahuan informasi apabila terjadi keadaan darurat sewaktu-waktu.
b. Telepon
Telepon digunakan sebagai sarana komunikasi dalam pabrik. Di setiap unit kantor unit disediakan telepon. Nomor-nomor penting tiap unit sudah didistribusikan untuk memudahkan karyawan apabila menghubungi unit lain. Di tiap unit juga dipasang/ditempeli nomor- nomor penting/darurat untuk memudahkan dalam meminta pertolongan apabila terjadi keadaan darurat. Adapun nomor-nomor penting keadaan darurat yaitu sebagai berikut:
Dinas PMK Kabupaten Gresik : (031) 3985300 PMK Petrokimia Gresik : 1222 atau 2222 RS Petrokimia Gresik : (031) 991100118
commit to user
Telepon juga dapat digunakan sebagai sarana pemberitahuan keadaan darurat dengan kode tertentu maka suara dari telepon tersebut dapat didengar di seluruh unit. Di tiap unit terdapat nomor penting darurat yang dapat dihubungi apabila terjadi keadaan darurat.
c. Handy Talky (HT)
Perusahaan menyediakan 2 HT yang digunakan sebagai alat komunikasi saat terjadi keadaan darurat dan simulasi keadaan darurat.
Perawatan HT dilakukan oleh bagian K3LH dengan mengecek baterai.
e) Poster K3
Poster K3 mengenai keselamatan dan kesehatan kerja dipasang di area pabrik di tempat yang mudah terlihat oleh karyawan dan jelas serta dibuat sedemikian rupa supaya terlihat menarik perhatian. Poster K3 dipasang sebagai sarana pemberitahuan, mengingatkan, menjadi perhatian dan larangan bagi setiap orang yang memasuki area pabrik guna mencegah terjadinya kecelakaan kerja ataupun keadaan darurat.
Poster K3 yang dipasang di perusahaan yaitu seperti larangan merokok di area pabrik, poster memadamkan kebakaran dengan APAR, poster telepon yang harus dihubungi ketika terjadi keadaan darurat, peringatan untuk berhati-hati ketika mengendarai forklift.
Namun dalam pemasangannya, ada poster K3 yang terhalang oleh tumpukan bahan kimia ataupun palet contohnya poster K3 terkait nomor telepon yang dipasang di bagian depan gudang dan di depan insektisida
commit to user
dekat emergency shower, poster kewajiban memakai APD yang berada di depan unit carbamate yang terhalang tumpukan bahan kimia.
Gambar 12. Poster K3
Sumber : K3LH PT Petrosida Gresik Chemical plant, 2018.
f) Alat Pelindung Diri (APD)
Perusahaan telah menyediakan alat pelindung diri yang digunakan dalam penanganan keadaan darurat. Alat pelindung diri yang disediakan tersebut seperti:
1) Self Contained Breathing Aparatus (SCBA) 2) Safety shoes
3) Masker 4) Safety helmet 5) Sarung tangan 6) Baju tahan asam 7) Baju tahan api
g) Petunjuk arah angin (Wind Direction)
Petunjuk arah angin merupakan sarana yang digunakan untuk mengetahui arah angin jika terjadi keadaan darurat seperti kebakaran.
Petunjuk arah angin dapat digunakan sebagai acuan menyelamatkan diri dengan berlari berlawanan arah angin. Perusahaan menyediakan 2
commit to user
petunjuk arah angin yang terletak di depan pabrik dekat dengan assembly point dan diatas gedung produksi effluent namun ketika observasi penunjuk arah angin tersebut tidak ada.
5. Pembinaan dan Pelatihan
PT Petrosida Gresik memberikan pelatihan kepada karyawan terkait kesiapsiagaan keadaan darurat sesuai potensi bahaya yang ada. Bagian K3LH merencanakan program pelatihan dimasukkan ke dalam dokumen jadwal pelatihan/uji coba tanggap darurat yang di dalamnya dimuat perencanaan pelatihan tanggap darurat dalam 1 tahun. Dokumen jadwal pelatihan/uji coba tanggap darurat terlampir pada lampiran 12.
Di dalam jadwal pelatihan/uji coba tanggap darurat di dalamnya juga termuat jadwal pengujian sarana pendukung sistem tanggap darurat seperti pengujian sirine darurat. Untuk pelaksanaan pelatihan dan pembinaan tanggap darurat disesuaikan dengan kondisi perusahaan.
a. Pembinaan dan Pelatihan Tim Teknis
Tim teknis yang dimaksud dalam hal ini yaitu tim tanggap darurat.
pelatihan dan pembinaan yang diperuntukkan bagi tim tanggap darurat yaitu :
1. Pelatihan pemadam kebakaran
Merupakan pelatihan yang bertujuan untuk melatih keterampilan dan kesiagaan tim tanggap darurat dalam menangani keadaan darurat kebakaran. Menurut jadwal pelatihan/uji coba tanggap darurat, pelatihan pemadaman kebakaran bagi tim tanggap darurat dilakukan
commit to user
tiap 3 bulan sekali. Pelatihan pemadaman kebakaran bagi tim tanggap darurat bekerjasama dengan pemadam kebakaran PT Petrokimia Gresik
2. Pelatihan P3K
Merupakan pelatihan yang diperuntukkan bagi tim tanggap darurat untuk melatih ketrampilan dan kesiagaan tim tanggap darurat khususnya tim P3K dalam menangani korban kecelakaan kerja ataupun korban dari keadaan darurat. Pelatihan P3K bagi tim STD diadakan tiap 3 bulan sekali. Dalam pelaksanaan pelatihan P3K bagi tim tanggap darurat dilakukan dengan RS Petrokimia Gresik.
3. Pelatihan Self Contained Breathing Apparatus (SCBA).
Pelatihan SCBA diselenggarakan dengan tujuan untuk melatih keterampilan karyawan dalam menggunakan SCBA supaya jika terjadi keadaan darurat, tim tanggap darurat dapat menolong korban keadaan darurat yang terjebak dalam lokasi kejadian dengan cepat dan tanggap. Pelatihan SCBA juga dilakukan tiap 3 bulan sekali namun dalam pelaksanaanya juga mempertimbangkan keadaan perusahaan.
4. Simulasi Tanggap Darurat
Simulasi tanggap darurat yang direncanakan oleh perusahaan dilakukan tiap 1 tahun sekali yang diikuti oleh seluruh karyawan di tiap unitnya. Simulasi tanggap darurat yang dilakukan untuk melatih ketrampilan tim STD dalam menangani keadaan darurat dan melatih kesiagaan karyawan ketika terjadi keadaan darurat.
commit to user
Setelah diadakan simulasi keadaan darurat, dilakukan evaluasi terkait berapa lama waktu yang digunakan dalam menanggulangi keadaan darurat termasuk lama waktu menuju ke assembly point dan lama waktu melakukan evakuasi karyawan. Hasil simulasi akan dilaporkan dalam bentuk laporan evaluasi pelatihan/uji coba tanggap darurat dan akan dilakukan revisi apabila terdapat hal yang harus diperbaiki dengan mengacu pada prosedur identifikasi ketidaksesuaian dan tindakan perbaikan. Dokumentasi simulasi tanggap darurat terlampir pada lampiran 13.
b. Pembinaan dan Pelatihan untuk Karyawan
Pelatihan terkait sistem tanggap darurat yang diperuntukkan bagi seluruh karyawan :
a) Pelatihan pemadam kebakaran.
Pelatihan pemadaman kebakaran bagi seluruh karyawan dilakukan tiap 3 bulan sekali bergiliran dengan pelatihan pemadam kebakaran yang diperuntukkan bagi tim tanggap darurat. Tujuan diadakannya pelatihan pemadam kebakaran bagi seluruh karyawan yaitu melatih keterampilan dan ketangkasan karyawan dalam memadamkan kebakaran apabila terjadi sewaktu-waktu dengan menggunakan peralatan pemadam di sekitarnya.
b) Pelatihan P3K
Pelatihan P3K bagi seluruh karyawan dilakukan tiap 3 bulan sekali bergiliran dengan pelatihan P3K yang diperuntukkan bagi tim
commit to user
P3K. Pelatihan P3K bagi seluruh karyawan dilakukan oleh tim P3K yang sudah berlisensi sebagai petugas P3K atau bekerjasama dengan pihak RS Petrokimia Gresik. Tujuan diselenggarakannya pelatihan P3K bagi seluruh karyawan yaitu supaya karyawan dapat melakukan tindakan pertolongan pertama secara cepat, tepat dan efisien saat mengetahui kecelakaan kerja di tempat kerjanya ataupun terjadi keadaan darurat sewaktu-waktu.
c) Pelatihan cara pengggunaan sarana proteksi kebakaran.
Pelatihan cara penggunaan sarana proteksi kebakaran misalnya pelatihan cara menggunakan APAR dan pelatihan cara menggunakan hydrant. Pelatihan cara penggunaan sarana proteksi kebakaran merupakan pelatihan mendasar untuk penanganan keadaan darurat kebakaran yang diberikan kepada karyawan dalam pemadaman kebakaran. Pelaksanaan program pelatihan cara penggunaan sarana proteksi kebakaran dapat juga dimasukkan ke dalam pelatihan pemadaman kebakaran. Pelatihan cara penggunaan sarana proteksi kebakaran dilakukan dengan tujuan untuk melatih ketrampilan karyawan dalam melakukan pemadaman kebakaran ketika kebakaran masih tergolong kecil.
d) Simulasi Tanggap Darurat
Seluruh karyawan termasuk tim tanggap darurat bersama-sama melakukan simulasi tanggap darurat untuk melatih keterampilan tim tanggap darurat sendiri dalam melakukan evakuasi dan penanganan
commit to user
keadaan darurat serta melatih kesiapsiagaan seluruh karyawan dalam menghadapi keadaan darurat.
e) Safety induction
Safety induction adalah pengenalan dasar-dasar Keselamatan dan Kesehatan Kerja kepada karyawan baru ataupun pengunjung.
Pemberian safety induction bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang pentingnya penerapan K3 dalam aktivitas kerja dan akibatnya apabila melanggar penerapan K3, memberikan informasi terbaru terkait K3, memberikan informasi potensi bahaya termasuk keadaan darurat yang dapat terjadi di perusahaan dan informasi kewajiban memakai APD ketika memasuki perusahaan.
Gambar 13. Safety Induction
Sumber : K3LH PT Petrosida Gresik Chemical plant, 2018 f) Safety talk
Safety talk diberikan kepada karyawan sebelum memasuki waktu pulang pada sore hari. Safety talk memberikan informasi terkait K3 dan memberikan himbauan kepada karyawan untuk selalu melakukan pekerjaan dengan hati-hati. Safety talk diberikan kepada
commit to user
karyawan setiap hari oleh bagian K3LH. Penyampaian safety talk melalui sistem pagging.
C. Penanganan Keadaan Darurat
Penanganan keadaan darurat harus dilakukan secara cepat, tepat dan efisien. Hal tersebut dilakukan dengan tujuan untuk meminimalisir risiko bahaya yang ditimbulkan dan meminimalkan kerugian yang ditimbulkan.
Pelaksanaan penanganan keadaan darurat yang terjadi di perusahaan berdasarkan hasil identifikasi bahaya dilakukan dengan mengacu pada instruksi kerja penanganan keadaan darurat yang telah disusun oleh bagian K3LH. Beberapa instruksi kerja terkait sistem tanggap darurat disusun untuk mendukung prosedur kesiagaan dan penanganan keadaan darurat misalnya instruksi kerja penanganan ceceran dan tumpahan B3, instruksi kerja penanganan gempa bumi, instruksi kerja penanganan kebakaran, instruksi kerja penanganan ledakan, penanganan kecelakaan kerja dan penanganan huru-hara.
Penanganan keadaan darurat dilakukan secara terorganisir dengan melibatkan berbagai fungsi dalam organisasi sesuai dengan tugas dan wewenangnya masing-masing. Berikut merupakanuraian dari prosedur kesiagaan dan penanganan keadaan darurat dan instruksi kerja terkait keadaan darurat yang dapat terjadi di PT Petrosida Gresik :
commit to user
1) Prosedur kesiagaan dan penanganan keadaan darurat:
a. Penanganan situasi aman.
Koordinator keamanan dan aparat keamanan yang bertugas melakukan kegiatan rutin pengawasan keamanan dan pengaturan ketertiban di area kerja pabrik dan melaporkannya ke ketua tanggap darurat.
b. Persiapan kesiagaan
1. Dalam hal persiapan kesiagaan ini, bagian K3LH bersama dengan Management Representative (MR) merencanakan jadwal pelatihan atau uji coba keadaan darurat.
2. Bagian K3LH menyediakan peralatan kondisi darurat dan menempatkannya di tempat yang mudah dijangkau dan terlihat jelas.
3. Kabag K3LH membuat instruksi kerja keadaan darurat,jalur evakuasi dan peta evakuasi yang disosialisasikan ke seluruh karyawan.
4. Kabag K3LH memberikan informasi daftar telepon keadaan darurat ke tiap bagian unit.
c. Pelatihan/uji coba keadaan darurat
1. Simulasi tanggap darurat dilaksanakan sessuai dengan formulir jadwal pelatihan/uji coba keadaan darurat. simulasi tanggap darurat dilakukan bersama atau tanpa dengan tim tanggap darurat.
commit to user
2. Hasil dari simulasi tanggap darurat akan dievaluasi dan dibuat laporan. Apabila dari hasil simulasi tanggap darurat perlu adanya perbaikan maka akan dilakukan pelatihan ulang.
3. Semua dokumen dan rekaman simulasi tanggap darurat secara periodik akan disimpan oleh bagian K3LH.
d. Penanganan keadaan darurat
1. Apabila terjadi keadaan darurat, karyawan disekitar lokasi menangani keadaan darurat yang terjadi sebisa mungkin.
2. Apabila karyawan mampu mengatasi keadaan darurat tersebut, maka karyawan diharuskan segera melapor ke bagian K3LH atau koordinator keamanan yang bertugas.
3. Jika karyawan tidak dapat menangani keadaan darurat yang terjadi maka karyawan segera melapor ke koordinator tim tanggap darurat atau ke bagian K3LH.
4. Kabag K3LH ataupun koordinator lapangan mengecek ke lokasi kejadian, dan apabila benar terjadi maka akan dikomunikasikan kepada MR dan Direktur Teknik dan Produksi serta menindaklanjuti dengan membuat laporan keadaan darurat dengan menggunakan form laporan penanganan keadaan darurat.
5. Direktur Teknik dan Produksi atau MR segera mengistruksikan penanganan keadaan darurat dengan tim tanggap darurat terkait.
6. Pemberitahuan keadaan darurat ke seluruh karyawan dengan membunyikan alarm atau paging.
commit to user
7. Apabila keadaan darurat yang terjadi tidak dapat diatasi oleh tim tanggap darurat internal maka atas persetujuan Direktur Teknik dan Produksi diijinkan untuk meminta bantuan ke pihak eksternal.
8. Apabila keadaan darurat mampu diatasi maka pemulihan keadaan darurat harus dilakukan dengan:
9. Memastikan lokasi kejadian sudah aman
10. Membuat laporan kejadian kepada koordinator tim tanggap darurat.
11. Memberitahukan kepada karyawan bahwa keadaan darurat dapat diatasi dan aktivitas kerja dapat dilanjutkan.
12. Koordinator tanggap darurat membuat laporan mengenai alur terjadinya keadaan darurat dan penyebab terjadinya dan diserahkan ke Direktur Teknik dan Produksi. Apabila dari hasil penyelidikan perlu dilakukan perbaikan maka mengacu pada prosedur identifikasi ketidaksesuaian dan tindakan perbaikan.
13. Laporan keadaan darurat yang sudah ditandatangani Direktur Teknik dan Produksi akan didistribusikan ke pihak-pihak yang berwenang.
2) Instruksi Kerja Penanganan Ceceran dan Tumpahan B3
Berikut merupakan alur penanganan ceceran dan tumpahan B3:
1. Apabila karyawan produksi mengetahui tumpahan B3, segerakan melakukan identifikasi B3 yang tumpah tersebut, apabila karyawan
commit to user
tidak bisa melakukan identifikasi B3 maka segerakan melapor ke atasan.
2. Bersihkan ceceran dengan lap kering/majun/serbuk kayu
3. Bekas peralatan kebersihan yang digunakan untuk membersihkan ceceran dibuang di tempat sampah B3.
3) Instruksi kerja penanganan ledakan
Berikut merupakan alur penanganan ledakan :
1. Apabila terdapat karyawan yang mendengar ledakan, segera beri tahu yang lain dan meminta tolong.
2. Tindakan awal yang dapat dilakukan oleh karyawan yang mengetahui yaitu mematikan api dengan APAR terdekat.
3. Tim STD melakukan pemindahan barang yang mudah terbakar.
Apabila tidak mungkin jangan paksakan diri.
4. Jika ada orang yang terluka lakukan evakuasi dan beri pertolongan P3K dan segera bawa ke RS.
5. Apabila keadaan tidak bisa dikendalikan segra lapor ke security/atasan untuk melakukan koordinasi dan meminta bantuan ke pihak lain 6. Tim STD membuat laporan penanganan keadaan darurat.
4) Instruksi kerja Penanganan Kebakaran
Berikut merupakan alur penanganan kebakaran:
1. Karyawan yang mengetahui lokasi adanya kebakaran segera melaporkan ke tim STD yang sudah ditunjuk.
2. Segera padamkan api dengan APAR terdekat.
commit to user
3. Menjauhkan bahan yang belum terbakar dari api.
4. Apabila api tidak dapat dipadamkan sendiri, segera hubungi pihak pemadam kebakaran.
5. Segera bunyikan alarm.
6. Tim STD melakukan evakuasi dengan menginstruksikan ke lokasi aman/assembly point.
7. Jika terdapat korban segera lakukan pertolongan P3K sesuai SOP P3K.
8. Tim STD membuat laporan penanganan kebakaran.
5) Instruksi kerja Penanganan Gempa Bumi.
Berikut merupakan alur penanganan gempa bumi:
a. Di dalam gedung:
1. Apabila memungkinkan segera keluar gedung menuju ke lokasi aman/assembly point.
2. Apabila tidak dapat keluar, segera berlindung di bawah meja atau tempat lain yang aman.
b. Di luar gedung:
1. Segera berlari ke lokasi lapang.
2. Hindarilah berlindung di tempat yang mempunyai potensi bahaya kejatuhan seperti berlindung di tempat yang dekat dengan tiang listrik.
3. Hindarilah retakan tanah.
commit to user
4. Apabila di dalam mobil segera keluar dari mobil dan hindarilah retakan, segera lari ke tempat yang lapang.
c. Evakuasi:
1. Keluar dari bangunan secara tertib ke lapangan terbuka, ikuti panduan dari tim STD yang bersangkutan.
2. Apabila terdapat korban yang mengalami luka segera lakukan pertolongan P3K.
6) Prosedur Penanganan Kecelakaan Kerja
Berikut merupakan cara penanganan keadaan darurat berupa kecelakaan kerja:
1. Karyawan yang mengetahui kecelakaan kerja segera menginformasikan dan melapor ke kabag K3LH/tim P2K3 yang telah ditetapkan.
2. Apabila korban mengalami cidera maka petugas P3K segera memberikan pertolongan pertama.
3. Jika korban mengalami cidera parah, segera rujuk ke RS terdekat.
4. Atasan korban mengamankan barang bukti dan selanjutnya digunakan untuk investigasi. Atasan yang bersangkutan atau tim P2K3 melporkan kejadian dengan menggunakan formulir laporan insiden dan diserahkan ke kabag K3LH
5. Kabag K3LH meneruskan laporan tersebut ke MR dan ketua P2K3.
6. MR dan ketua P2K3 membentuk tim investigator untuk menyelidiki penyebab kecelakaan kerja tersebut.
commit to user
7. Tim investigasi menyelidiki penyebab kejadian dan melaporkan hasil investigasi ke MR dan ketua P2K3, selanjutnya diserahkan ke kabag K3LH untuk diteruskan ke pihak yang berwenang.
7) Instruksi Kerja Penanganan Huru-Hara
Berikut merupakan uraian penanganan huru-hara :
1. Setelah diketahui adanya potensi adanya huru-hara, Pimpinan manajeman atau pejabat yang berwenanang melakukan koordinasi dengan aparat keamanan terkait, untuk menginformasikan mengenai lokasi, jenis kerusuhan, potensi meluasnya kerusuhan.
2. Segera dilakukan pengamanan area dan meminta bantuan pengamanan dari aparat keamanan setempat kepolisian dengan kordinasi Koramil dan Kodim
3. Pimpinan manajeman atau pejabat yang berwenang selalu berkoordinasi dengan keamanan setempat kepolisian dengan kordinasi Koramil dan Kodim, untuk memantau tingkat huru-hara yang terjadi dan Melakukan tindakan persuasif untuk menenangkan massa..
4. Setelah kondisi dinyatakan aman berdasarkan informasi keamanan setempat dan sudah mendapat rekomendasi dari aparat keamanan kepolisian dengan koordinasi Koramil dan Kodim, Manajer Unit setempat akan menyatakan kondisi huru-hara sudah dapat diatasi.
5. Apabila kondisi tidak terkendali dan dinyatakan tidak aman maka kendali tetap berada di bawah aparat keamanan kepolisian dengan kordinasi Koramil dan Kodim.
commit to user
6. Segera dilakukan upaya pemulihan untuk normalisasi proses dan normalisasi waktu/jam kerja karyawan.
7. Melaksanakan tindakan antisipasi & kewaspadaan jikalau massa akan kembali lagi.
8. Membuat laporan kejadian kepada manajemen.
D. Tindakan Pemulihan Keadaan Darurat.
PT Petrosida Gresik tidak memiliki prosedur tindakan pemulihan keadaan darurat namun di dalam prosedur kesiagaan dan penanganan kondisi darurat dalam poin 6.4.9-6.4.12 dijelaskan bahwa tindakan pemulihan keadaan darurat dilakukan dengan cara:
8) Apabila keadaan darurat dapat diatasi oleh tim tanggap darurat internal:
1. Memastikan lokasi kejadian sudah aman untuk dimasuki kembali.
2. Membuat laporan peristiwa keadaan darurat kepada koordinator tim tanggap darurat dalam bentuk lisan ataupun tertulis.
3. Memberikan pengumuman bahwa situasi sudah teratasi dan kegiatan dapat berjalan normal.
9) Apabila keadaan darurat perlu perbaikan:
1. Koordinator tim tanggap darurat membuat laporan penanganan keadaan darurat setelah diadakan investigasi penyebab terjadinya keadaan darurat.
2. Laporan keadaan darurat ditandatangani oleh Direktur Teknik dan Produksi dan didistribusikan kepada pihak yang berwenang.
commit to user
3. Apabila dari hasil investigasi memerlukan tindakan perbaikan maka akan mengacu pada prosedur identifikasi ketidaksesuaian dan tindakan perbaikan.
Berikut merupakan langkah perbaikan berdasarkan prosedur identifikasi ketidaksesuaian dan tindakan perbaikan:
a) Apabila tim tanggap darurat/karyawan lain (inisiator) menemukan ketidaksesuaian/kerusakan setelah terjadinya keadaan darurat, maka inisiator tersebut akan menentukan tindakan perbaikan atas ketidaksesuaian atau kerusakan tersebut.
b) Inisiator akan melaporkan ketidaksesuaian/kerusakan tersebut ke dalam form CAR (Corrective Action Report) dan menyerahkan ke sekretaris MR dan ditembuskan ke PIC untuk dilakukan perbaikan.
c) Atasan inisiator akan melakukan pemantauan terhadap tindakan perbaikan yang dilakukan, apabila tindakan perbaikan tersebut dinilai sudah efektif maka atasan inisiator menutup CAR.
d) Apabila perbaikan kurang efektif maka akan dilakukan langkah tindakan perbaikan ke 2.
e) Masing-masing bagian akan menyimpan CAR yang telah dibuat.