• Tidak ada hasil yang ditemukan

EKSISTENSI PARTAI ACEH DI ACEH SELATAN TESIS. Oleh RIMA EVED HENDEDY /SP

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "EKSISTENSI PARTAI ACEH DI ACEH SELATAN TESIS. Oleh RIMA EVED HENDEDY /SP"

Copied!
122
0
0

Teks penuh

(1)

EKSISTENSI PARTAI ACEH DI ACEH SELATAN

TESIS

Oleh

RIMA EVED HENDEDY 137024006/SP

PROGRAM STUDI MAGISTER STUDI PEMBANGUNAN FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2015

(2)

EKSISTENSI PARTAI ACEH DI ACEH SELATAN

TESIS

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat

Untuk Memperoleh Gelar Magister Studi Pembangunan (MSP) Program Studi Magister Studi Pembangunan

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara

Oleh

RIMA EVED HENDEDY 137024006/SP

PROGRAM STUDI MAGISTER STUDI PEMBANGUNAN FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2015

(3)

Judul Tesis : EKSISTENSI PARTAI ACEH DI ACEH SELATAN Nama Mahasiswa : Rima Eved Hendedy

Nomor Pokok : 137024006

Program Studi : Magister Studi Pembangunan

Menyetujui : Komisi Pembimbing

(Dr. Humaizi, MA) (Hatta Ridho, S.Sos, MSP) Ketua Anggota

Ketua Program Studi Dekan

(Prof. Dr. M. Arif Nasution, MA) (Prof. Dr. Badaruddin, M.Si)

Tanggal lulus : 21 Agustus 2015

(4)

Telah diuji pada

Tanggal 21 Agustus 2015

PANITIA PENGUJI :

Ketua : Dr. Humaizi, MA

Anggota : 1. Hatta Ridho, S.Sos, MSP

2. Prof. Dr. M. Arif Nasution, MA 3. Nurman Achmad, S.Sos, M.Soc.Sc 4. Prof. Dr. R. Hamdani Harahap, M.Si

(5)

PERNYATAAN

EKSISTENSI PARTAI ACEH DI ACEH SELATAN

TESIS

Dengan ini penulis menyatakan bahwa Tesis ini disusun sebagai syarat untuk memperoleh gelas Magister Studi Pembangunan pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara adalah benar hasil karya penulis sendiri. Adapun pengutipan-pengutipan yang penulis lakukan pada bagian-bagian tertentu dari hasil karya orang lain dalam penulisan Tesis ini, telah penulis cantumkan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah dan etika penulisan ilmiah. Apabila di kemudian hari ternyata ditemukan seluruh atau sebagian Tesis ini bukan hasil karya penulis sendiri atau adanya plagiat dalam bagian-bagian tertentu, penulis bersedia menerima sanksi pencabutan gelar akademik yang penulis sandang dan sanksi-sanksi lainnya sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.

Medan, 21 Agustus 2015 Penulis,

Rima Eved Hendedy

(6)

EKSISTENSI PARTAI ACEH DI ACEH SELATAN

ABSTRAK

Penelitian ini menganalisis tetang Eksistensi Partai Aceh di Aceh Selatan dengan studi kasus penurunan hasil perolehan suara pemilu Partai Aceh tahun 2014 jika dibandingkan dengan perolehan suara tahun 2009. Dilihat dari jumlah perolehan kursi DPRK pada Tahun 2014, partai ini juga mengalami penurunan yang sangat signifikan sehingga dalam penelitian ini kita bisa mengetahui masalah yang menjadi penyebab penurunan eksistensi Partai Aceh di Aceh Selatan.

Landasan teori dari penelitian ini adalah tentang partai politik lokal, desentralisasi dan demokrasi yang dikutib dari beberapa sember. Menganalisis kebijakan Partai Aceh yang sedang eksis di kabupaten Aceh Selatan dapat digunakan untuk mengetahui fungsi-fungsi partai Aceh sebagai partai lokal yang eksistensinya dalam dua periode pemilu terlihat fluktuatif jumlah perolehan suara. Melihat hal tersebut kita bisa mengetahui hubungan kebijakan yang dijalankannya dengan perolehan suara pemilu dan dari jumlah kursi DPRK serta terlihat seberapa mampu Partai Aceh mempertahankan eksistensinya sebagai partai lokal dan mempertahankan tingkat elektabilitas suara partai dalam pemilu legislatif di Aceh Selatan. Partai Aceh tetap menjadi partai pemenang di Kabupaten Aceh Selatan walaupun terjadi penurunan jumlah perolehan suara. Penurunan jumlah perolehan suara dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor daintaranya pelaksanaan fungsi- fungsi partai Aceh sebagai partai lokal belum berjalan sebagaimana yang tertuang dalam AD-ART partai, janji-janji kampanye politik dan tingkat kinerja anggota DPRK dari Partai Aceh yang masih rendah belum mampu merealisasikan janji tersebut secara keseluruhan. Untuk memperbaiki tingkat elektabilitas sehingga Partai Aceh tetap eksis di Aceh Selatan Partai Aceh perlu melakukan pendekatan- pendekatan tertentu dengan masyarakat Aceh Selatan seperti membangun komunikasi atau melakukan kegiatan-kegiatan tertentu yang dapat meningkatkan daya tarik masyarakat terhadap Partai Aceh dan Partai Aceh harus melakukan konsolidasi internal terhadap seluruh pengurus partai dan mantan GAM yang kini bernaung di bawah organisasi KPA, sehingga akan menjelaskan bahwa perjuangan dengan senjata yang kini bertranformasi dengan cara politik satu- satunya jalan untuk mencapai cita-cita menjadikan Aceh sebagai negeri yang makmur dan sejahtera.

Kata Kunci : Partai Aceh, Eksistensi, Funsi-Fungsi Partai Lokal, di Kabupaten Aceh Selatan.

(7)

EXISTENCE OF ACEH PARTY IN SOUTH ACEH ABSTRACT

This study analyzes the existence of Party Aceh in South Aceh with case studies reduction in election voting result Party Aceh in 2014 when compared with the vote in 2009. Judging from the number of seats DPRK in 2014, this party also experienced a significant decline in this research we can find out the problems that cause a decrease in the existence of the Aceh Party in South Aceh.

The theoretical basis of this research is in lokal political parties, decentralization and democracy are quoted from several sources. Analyze policies that are Party Aceh district of Aceh exist in the South can be used to determine the function-a fuction aceh party as the party of the exsistence of local elections in two periods shown fluctuating number of votes. Seeing that we can know the relation of the policy being operated by a vote of the election and of number of seats DPRK and look how well Part Aceh maintain its existence as alocal party and maintain the level of sound elektabilitas of Parties in legislative elections in Sout Aceh. The method used in this study using a qualitative method approach with primary and secondary date. Party Aceh remains the winning party in the county south of Aceh despite a decline in the number of vote. A decrease in the number of votes can be influenced by several factors, incluiding the implementation of functions- fuctions as a local party. Aceh Party has not run as set fourt in the AD-ART party, Promise the promise of political campaigns and the level of performance DPRK members of the party are still low Aceh heve not been able to realize the promise the overall. To improve the level of party aceh elektabilitas that still exist in South Aceh. Party Aceh need to approach-a particular approach to South Aceh people like to build communication or conduct-certain activities that can increase the attractiveness of the people againt the party aceh. Aceh party must perform internal konsolidasi against entire party afficials and Former GAM who now shelter under KPA Organization, so that would explain that the struggle premises weapon now transformed with the political way-the only way to achieve the ideals to make Aceh as a prosperous country.

Keyword : Party Aceh, Existence, Funtions Lokal Party, in South Aceh District.

(8)

KATA PENGANTAR

Puji syukur peneliti panjatkan kepada Allah SWT, Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang atas berkah limpahan rahmat dan hidayah-Nya kita diberi kesehatan sampai saat ini dan shalawat beserta salam kepada Nabi Muhammad SAW sebagai penerang kekuatan hati bagi penulis hingga mampu penulis menyelesaikan penelitian dalam berbagai hal termasuk dalam penulisan tesis dari Program Magister Studi Pembangunan Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara yang berjudul “Eksistensi Partai Aceh di Aceh Selatan”.

Penyelesaian tesis ini tidak terlepas dari bantuan, dukungan, motivasi dan partisipasi berbagai pihak, baik secara moril maupun materil yang diberikan kepada penulis untuk itu, pada kesempatan ini penulis menyampaikan ungkapan syukur dan terimakasih yang banayak kepada :

1. Bapak Prof. Subhilhar, Ph.D selaku Pejabat Rektor Universitas Sumatera Utara 2. Bapak Prof. Dr. Badaruddin, M.Si, selaku Dekan pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu

Politk Universitas Sumatera Utara.

3. Bapak Prof. Dr. M. Arif Nasution, MA selaku Ketua Program Magister Studi Pembangunan Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara.

4. Bapak Dr. Humaizi, MA, selaku Pembimbing I, yang telah meluangkan waktu, serta dengan sabar membimbing dan memotivasi peneliti untuk menyelesaikan tesis ini.

5. Bapak Hatta Ridho, S.Sos, MSP, selaku Pembimbing II. Yang telah meluangkan waktu dan memberikan arahan sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis ini.

6. Bapak Nurman Ahcmad, S.Sos,M.Soc,Sc selaku Tim Penguji yang telah memberikan masukan dan kritikan hingga terselesaikan penulisan tesis ini.

7. Teristimewa untuk kedua orang tua saya H. Hamdan,S.Pd dan HJ. Zubaidah,S.Pd yang tidak pernah berhenti mendoakan dan memberi dukungan kepada penulis dalam menyelesaikan tesis ini.

8. Kepada istriku tercinta Irma Yana, Amk yang selalu setia menemani dan memberikan dukungan semangat pada saya dalam penyelesaian tesis ini.

Terimakasih banyak sayang.

9. Buat abang saya Romil Zia Hazuanda, serta adik saya Ayup Ferijal dan Lidia Sripuji.

10. Buat Sahabat terbaik Fikrijal, Wargo, Safrizal, serta teman lainya yang tidak tersebutkan namanya dalam memberikan bantuan serta mensupport perkuliahan saya selama ini.

11. Seluruh Bapak dan Ibu dosen di Sekolah Pascasarjana Magister Studi Pembangunan Universitas Sumatera Utara.

12. Bagian Administrasi Program Magister Studi Pembangunan Universitas Sumatera Utara.

13. Seluruh rekan-rekan Magister Studi Pembangunan Angkatan XXVII yang telah berjuang dari awal sampai akhir dalam menuntut ilmu di Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.

(9)

14. Tgk Aliman selaku Ketua Tim Tuha Peut (Tim Penasehat) Partai Aceh Wilayah Kabupaten Aceh Selatan.

15. Bung Zirhan selaku tokoh Partai Aceh dan mantan anggota DPRK Aceh Selatan dari Partai Aceh.

16. Saudara Mizar selaku pengurus Partai Aceh dan anggota DPRK terpilih periode 2014-2019.

17. Kakanda Arafiq selaku Panglima Sagoe KPA wilayah Kluet Raya.

18. Kakanda Hardiansyah, S.Sos, komisioner KIP Kabupaten Aceh Selatan.

19. Bapak Baikri, SE selaku Sekretaris Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten Aceh Selatan.

20. Bapak Zulfan Harijadi,S.STP selaku Kepala Bagian Organisasi dan Kepegawaian Setdkab. Aceh Selatan.

21. Terimakasih tak terhingga kepada seluruh sahabat, teman, kakak dan adik yang tidak tersebutkan dalam tulisan ini yang telah membantu peneliti dalam berbagai hal untuk penyelesaian tesis ini.

Akhirnya peneliti berharap semoga tesis ini berguna bagi semua pihak baik penulis dan pembaca. Hanya kepada-Nya kita berserah diri. Sekali lagi sebelum dan sesudahnya penulis mengucapkan terima kasih atas terselesainya tesis ini.

Medan, Agustus 2015 Penulis,

RIMA EVED HENDEDY

(10)

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK ... i

ABSTRACT ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

RIWAYAT HIDUP ... v

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR TABEL ... ix

BAB I. PENDAHULUAN 1.1. ... Lat ar Belakang Masalah ... 1

1.2. ... Ba tasan Masalah ... 6

1.3. ... Ru musan Masalah ... 6

1.4. ... Tuj uan Penelitian ... 7

1.5. ... M anfaat Penelitian ... 7

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tinjauan tentang Partai Politik ... 9

2.1.1. Pengertian Partai Politik ... 9

2.1.2. Jenis-jenis Partai Politik ... 12

2.1.3. Tujuan Partai Politik ... 15

2.1.4. Fungsi Partai Politik ... 17

2.2. Tinjauan Tentang Partai Politik Lokal ... 18

2.2.1. Pengertian Partai Politik Lokal ... 18

2.2.2. Sejarah Partai Politik Lokal ... 19

2.2.3. Fungsi Partai Politik lokal ... 20

2.2.4. Tujuan Partai Politik lokal ... 20

2.2.4. Jenis-Jenis Partai Politik Lokal ... 21

2.2.5. Hubungan Partai Politik Lokal dengan Partai Nasional ... 21

2.3. ... Tin jauan tentang Demokrasi ... 22

2.3.1. Pengertian Demokrasi ... 22

2.3.2. Teori Demokrasi ... 24

2.4. Tinjauan tentang Desentralisasi ... 30

2.4.1. Pengertian Desentralisasi ... 30

2.4.2. Macam-macam Desentralisasi ... 30

2.4.3. Desentralisasi di Indonesia ... 32

(11)

2.5. Tinjauan tentang Politik Lokal dan Pembangunan ... 33

2.6. Tinjauan Tentang Penelitian Terdahulu ... 35

2.7. Visi dan Misi Partai Politik Peserta Pemilu Tahun 2014 ... 41

BAB III. METODE PENELITIAN 3.1. Tipe Penelitian ... 58

3.2. Lokasi Penelitian ... 58

3.3. Informan Penelitian ... 58

3.4. Jenis dan Sumber Data ... 59

3.5. Teknik Pengumpulan Data ... 60

3.6. Teknik Analisa Data ... 61

BAB IV. PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN 4.1. Deskripsi Lokasi Penelitian ... 62

4.2. Deskripsi tentang Partai Aceh ... 63

4.3. Partai Politik Nasional di Tingkat Lokal ... 74

4.4. Kedudukan Partai Nasional dan Partai Lokal ... 77

4.5. Deskripsi Politik Lokal dari Partai Aceh ... 79

4.6. Eksistensi Partai Aceh di Kabupaten Aceh Selatan ... 82

4.7. Deskripsi Hasil Wawancara ... 88

4.8. Pembahasan Hasil Penelitian ... 97

BAB V. PENUTUP 5.1. Kesimpulan ... 106

5.2. Saran ... 107

DAFTAR PUSTAKA ... 109

(12)

DAFTAR TABEL

Nomor Halaman

4.1. ... Ju mlah penduduk tiap kecamatan dalam Kabupaten Aceh Selatan ... 63 4.2. ... Ju

mlah suara Partai Aceh pada pemilu tahun 2009 ... 83 4.3. ... Su

sunan nama anggota Dewan Perwakailan Daerah kabupaten Aceh

Selatan Periode 2009 s.d 2014 ... 85 4.4. ... Ju

mlah suara Partai Aceh di Kabupaten Aceh Selatan

periode tahun 2014 ... 86 4.5. ... Re

kapitulasi perolehan kursi Partai Politik Dalam Pemilu Tahun 2014

di kabupaten Aceh Selatan ... 87 4.6. ... Su

sunan nama anggota Dewan Perwakailan Daerah kabupaten Aceh

Selatan Periode 2014 sd 2019 ... 88

(13)

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Konstalasi politik di Aceh pasca perdamaian berkembang sangat dinamis, lahirnya Undang Undang Nomor 11 tahun 2006, sebagai bagian dari kompromi politik antara Pemerintah RI dengan GAM yang telah disepakati dalam Memorandum of Understanding (MoU) pada 15 Agustus 2005, telah membuka ruang saluran aspirasi politik rakyat Aceh yang sebelumnya hanya disuguhkan hidangan berupa partai politik yang berbasis nasional. Kehadiran Partai Politik Lokal di Aceh merupakan suatu bukti perkembangan demokrasi di Indonesia.

Dengan hadirnya Partai Politik Lokal merupakan tambahan sarana untuk penyampaian aspirasi politik masyarakat. Khususnya di Aceh, kehadiran Partai Politik Lokal memberikan harapan hidupnya demokratisasi di Aceh. Saat ini masyarakat Aceh lebih leluasa dalam menunjukkan sikap politiknya melalui Partai Politik Lokal yang terbentuk di Aceh. Sejarah terbentuknya Partaipolitikdimulai di Inggris pada abad ke 17, partai politik dibentuk dalam rangka pemikiran bahwa Negara adalah organisasi kekuasaan yang menjamin setiap individu bebas berkuasa tanpa ada masalah. Di Negara negara Eropa barat pada saat itu partai politik masih bersifat elitis dan aristokratis dalam arti terutama untuk mempertahan kepentingan golongan bangsawan, selanjutnya partai politik dari Negara Barat telah mempengaruhi dan berkembang di Negara-negara baru, yaitu Asia dan Afrika sertake Negara-negara jajahan. Partai politik di Negara jajahan sering berperan sebagai pemersatu aspirasi rakyat dan penggerak kearah

(14)

persatuan nasional yang bertujuan akhir partai politik menjadi suatu lembaga penting terutama di Negara-negara yang berdasarkan demokrasi konstitusional yang menjadi kelengkapan sistem demokrasi suatu bangsa.

Negara Indonesia adalah negara yang menganut paham demokrasi, dimana negara menjamin partisipasi masyarakat dalam menjalankan pemerintahan dan kehidupan berpolitik dengan bebas, tanpa tekanan namun tetap dalam koridor hukum dan undang-undang. Hal ini dapat ditemukan dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dimana negara menjamin kemerdekaan untuk berserikat, berkumpul dan mengeluarkan pendapat. Hal ini di lakukan sebagai wujud partisipasi politik masyarakat dalam menyampaikan aspirasi politiknya untuk pembangunan bangsa sesuai dengan kehendak dan cita-cita rakyat. Setiap warga negara Indonesia mempunyai kebebasan untuk menyampaikan usulan-usulan atau aspirasi-aspirasi yang dimilikinya yang bertujuan untuk membangun dan memajukan bangsa dan negara. Hal ini merupakan salah satu bentuk dari upaya partisipasi masyarakat dalam pembangunan bangsa. Sebagai bangsa besar yang terdiri dari berbagai suku, bahasa dan agama dalam dalam politikpun faktor-faktor primordialisme ini masih sangat kuat pengaruhnya. Darisini lahir golongan-golongan, umpamanya saja agama menampilkan pengaruh yang demikian dalam, sehingga lahirlah golongan politik tertentu yang semata-mata beraksi atas keyakinan agamanya. Oleh karena itu diperlukan suatu sarana atau alat yang dapat menampung semua aspirasi yang dimiliki oleh seluruh rakyat tersebut yang disebut dengan Partai Politik. Keberadaan Partai Politik di Indonesia sendiri telah dimulai sejak Pemerintah Hindia Belanda

(15)

mencanangkan Politik Etis pada tahun 1908. Dengan adanya Politik Etis ini, maka banyak kalangan cerdik pandai kaum bumiputera yang mulai tergerak untuk ikut serta dalam kehidupan ketatanegaraan melalui berbagai organisasi kemasyarakatan. Pelopor utama dari organisasi kemasyarakat tersebut adalah Boedi Oetomo. (Rusli Karim, 1993:6).

Dinamika politik yang terjadi di Indonesia turut merubah tatanan partai politik di tanah air, seiring dengan kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945 maka telah diundangkan berbagai produk perundang-undangan yang mengakomodasi dan mengatur berbagai aspek mengenai partai politik, hal ini menyebabkan bermunculan partai politik dengan berbagai ideologi yang mengusung dan memperjuangkan visi dan misinya masing-masing.

MoU Helsinki merupakan cikal bakal terbentuknya Partai Lokal di Aceh. Undang -Undang Nomor 11 Tahun 2006 Tentang Pemerintahan Aceh dan Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2007 Tentang Partai Lokal di Aceh menjadi landasan hukum yang kuat bagi pembentukan Partai Lokal yang berbasis di Aceh. Ini merupkan momentum baru bagi perubahan dalam proses demokratisasi politik dan sebagai langkah dalam membangun Aceh baru. Konflik dan bencana tsunami adalah dua variabel yang membuat Aceh terpuruk dari segala aspek kehidupan. Rezim Orde Lama dan Orde Baru telah membunuh karakter religiusitas bangsa Aceh menjadi masyarakat yang sekuler. Politik javaness menjadi hegemoni bagi identitas politik dan budaya menuju bendera Republik Indonesia. Tetapi baik, Orde Lama, maupun Orde Baru tetap tidak bisa mengalahkan identitas politik Aceh yang telah terbangun ribuan tahun lalu. Hal inilah yang membuat rakyat Aceh anti Jawa, tetapi belakangan ini muncul

(16)

diskursus bahwa Indonesia lah sebenarnya yang anti - terhadap Aceh. Pada tanggal 15 Agustus 2005 di Helsinki, akhirnya kesepakatan antara Republik Indonesia dengan GAM mencapai kesepakatan perdamaian. Hal ini yang melahirkan terbentuknya Partai Aceh, sebagai partai yang mengusung dari poin- poin MoU Helsinki. Pada tanggal 4 Juni 2007 partai Aceh di deklarasikan di Banda Aceh, Partai Aceh dulunya di kenal dengan Partai GAM, karena melanggar kesepakatan Helsinki, yang mengatur bahwa anggota GAM tidak akan memakai seragam atau menunjukkan simbul-simbul militer setelah penandatanganan MoU, pada tanggal 29 April 2007 kumudian partai ini resmi berganti nama menjadi Partai Aceh. (www.jurnal tesis, USU. 2015)

Pemilihan umum tahun 2009 merupakan awal dari implementasi Undang- Undang nomor 11 Tahun 2006 tetang Pemerintahan Aceh, munculnya partai politik lokal merupakan hasil kesepakatan perdamaian di Aceh yang merupakan rangkaian penyelesaian konflik Aceh dengan pemerintah Indonesia melalui Penandatangan Kesepakatan Perdamaian MoU (Memorendum Of Understanding) antara pemerintahan Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) pada tanggal 15 Agustus 2005 di Helsinki Finlandia. MoU itu merupakan awal dari harapan baru bagi seluruh masyarakat Aceh untuk hidup yang lebih baik, aman dan damai. Pasca penandatangan MOU tersebut Aceh diberikan wewenang untuk dapat hidup mandiri, baik itu dibidang ekonomi, politik dan hukum. Secara politik Aceh diberikan wewenang untuk mendirikan partai politik lokal yang tercantum dalam Nota Kesepahaman antara pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (UU No 11 Tahun 2006 Tentang Pemerintahan Aceh).Memorendum Of Understanding

(17)

(MoU) Helsinki antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Republik Indonesia (RI) memberikan jalan baru menujuterbukanya gerbang demokratisasi politik. Implementasi Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 dan Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2007 Tentang Partai Politik Lokal. Hal ini yang kemudian menjadi landasan awal terbentuknya Partai Politik Lokal di Aceh.

Kabupaten Aceh Selatan terletak dipesisir barat dari Provinsi Aceh, pada tahun 2009 Provinsi Aceh pertamakalipemilu yang diikuti oleh partai lokal termasuk Kabupaten Aceh Selatan. Pada tahun 2009 ada 6 partai lokal yang bersaing dengan partai-partai nasional secara demokratis, partai lokal mapu meraih 12 kursi DPRK dari total 30 kursi DPRK Aceh Selatan, darike 6 partai lokal tersebut Partai Aceh yang merupakan partai lokal keluar sebagai partai pemenang pemilu mengalahkan eksistensi partai-partai nasional lainnya. Seiring berjalannya waktu partai politik lokal pada awal-awal berkiprah telah menjadi pemenang dan menjadi partai yang berkuasa, setelah beberapa tahun perjalanan terjadi penurunan tingkat kepercayaan publik jika dilihat dari data pada pemilihan umum tahun 2014partai lokal yang eksis dalam pemilihan umum tersisa tiga partai lokal yang ikut serta. Hanya tiga partai ini saja yang memenuhi syarat untuk bersaing dengan partai-partai nasional, ketiga partai lokal yang tersisa yaitu Partai Aceh (PA), Partai Nasional Aceh (PNA), Partai Damai Aceh (PDA). Jika dilihat dari perolehan kursi DPRK ke tiga partai lokal tersebut Pemilu Tahun 2014 hanya mampu meraih 6 kursi DPRK dari 30 Kursi yang diperebutkan, jika dilihat dari perolehan suara,partai lokal telah kehilangan 50 % penguasaan kursi DPRK dari jumlah kursi yang diraih tahun 2009 (Data KIP Aceh Selatan, 2014).

(18)

Mengacu pada masalah tersebut, penulis tertarik untuk melakukan penelitian secara mendalam serta menelaah lebih jauh tentang permasalahan yang terjadi dengan eksistensi partai lokal di Aceh Selatan dengan mengangkatnya dalamjudul tesis “Eksistensi Partai Aceh di Aceh Selatan”.

1.2. Batasan Masalah

Untuk mendapatkan hasil yang baik seperti yang diinginkan dalam penelitian ini maka peneliti akan mengarahkan pembahasan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini. Dengan demikian yang menjadi pembatasan dan fokus masalah dalam penelitian ini adalah apa penyebab menurunnya suara Partai Aceh dari eksistensinya sebagai partai politik lokal di Aceh Selatan dan apakah Partai Aceh benar-benar telah menjalankan fungsinya sebagai partai lokal.

1.3. Rumusan Masalah

Dalam suatu penelitian sangat diperlukan adanya perumusan masalah untuk mengidentifikasi persoalan yang diteliti serta membatasi adanya perluasan masalah yang tidak sesuai dengan persoalan, tujuannya agar dapat tercapai sasaran yang diharapkan. Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut:

1. Bagaimanakah eksistensi Partai Aceh di Aceh Selatan ?

2. Apakah Partai Aceh telah menjalankan fungsinya sebagai partai lokal ?

1.4. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari dilakukannya penelitian ini adalah sebagai berikut :

(19)

1.4.1. Tujuan Obyektif

1. Untuk mengetahui bagaimana eksistensi Partai Aceh di Aceh Selatan.

2. Untuk mengetahui apakah Partai Aceh telah menjalankan fungsinya sebagai partai lokal di Aceh Selatan.

1.4.2. Tujuan Subyektif

1. Untuk memperoleh data-data sebagai bahan penulisan tesis yang merupakan salah satu syarat untuk mencapai gelar pasca sarjana Magister Studi Pembangunan pada Universitas Sumatera Utara.

2. Untuk dapat mengetahui hal apa saja yang mempengaruhi eksistensi Partai Aceh di Aceh Selatan.

1.5. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini secara teoritis adalah:

1. Memberikan sumbangan pemikiran bagi pengembangan ilmu sosial dan ilmu politik dalam melihat berjalannya proses pelaksanaan demokrasi partai politik dan mengetahui seberapa pengaruh partai lokal dan apasaja penyebab yang akan mempengaruhi eksistensi partai aceh di Aceh Selatan.

2. Bermanfaat sebagai ilmu pengetahuan dan juga sebagai literatur atau bahan-bahan informasi ilmiah yang digunakan untuk mengembangkan teori yang sudah ada dalam bidang politik dan pembangunan yang berhubungan dengan sistem desentralisasi, partai poitik dan politik lokal.

3. Kiprah partai politik lokal sangat berkaitan dengan visi pembangunan suatu wilayah, begitu juga yang peneliti harapkan hasil dari penelitianini dapat menjadi acuan kebijakan partai dalam merespon aspirasi masyarakat lokal dalam lingkup kedaerahan atau kearifan lokal.

(20)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Tinjauan tentang Partai Politik 2.1.1. Pengertian Partai Politik

Menurut Joseph Lapalomba dan Myron Weiner (koiruddin, 2004:64), partai politik merupakan acreature of modern and modernizing politycal sistem.

Partai politik memang lahir dan berkembang ketika gereja modernisasi sedang berkembang di eropa, setelah revolusi industri. Karena itu awal perkembangan parpol bisa diuraikan sebagai berikut : Pertama, adalah salah satu indikator gejala modernisasi masyarakat, dimana telah terjadi ledakan partisipasi masyarakat dan pemindahan hak-hak politik kepada masyarakat semakin meluas. Kedua, teori situasi historis (historical-situasion theory) dimana kemudian dari partai politik berkaitan dengan krisis yang terjadi di dalam suatu masyarakat.

Menurut pendapat Howlett dan Ramesh (Koiruddin, 2004:67) masyarakat moderen adalah mereka yang memandang partai politik tidak lagi sebatas ikatan ideologis dan keyakinan semata, masyarakat moderen lebih memandang politik sebagai proses aktualisasi diri dan kepentingan mereka yang akan diwujudkan dalam bentuk kebijakan publik. Menurut Roy C. Macridis (Farhan Hamid 2008:

7), mengatakan tidak ada sistem politik yang dapat berlangsung tanpa partai politik. Partai politik adalah asosiasi yang mengaktifkan, memobilisasi rakyat, dan mewakili kepentingan tertentu, memberikan jalan kompromi bagi pendapat-pendapat yang bersaing, dan memunculkan kepemimpinan politik, serta digunakan sebagai alat untuk memperoleh kekuasaan dan untuk

(21)

memerintah. Partai politik juga dapat digunakan untuk mempertahankan pengelompokan yang sudah mapan, seperti gereja dalam masyarakat eropa, atau untuk menghancurkan status quo akan dibawa kedalam proses politik yang esensinya adalah kompromi.

Menurut Roger F. Soltau (Miriam Budiardjo, 1998:9), ilmu politik mempelajari negara, tujuan-tujuannya negara dan lembaga-lembaga yang akan melaksanakan tujuan-tujuan itu seperti hubungan negara dengan warga negaranya serta hubungan dengan negara lain. Menurut Haryanto (Farhan Hamid, 2008:9), yang dimaksud dengan partai politik adalah pada hakikatnya adalah suatu organisasi yang terdiri dari sekelompok orang yang mempunyai cita-cita, tujuan- tujuan, dan orientasi yang sama; dimana organisasi ini berusaha memperoleh dukungan dari rakyat dalam rangka usahanya memperoleh kekuasaan dan kemudian mengendalikan/mengontrol jalannya roda pemerintahan.

Menurut pendapat Rusadi Kantaprawira (Farhan Hamid, 2008:8) Partai politik adalah organisasi manusia di mana di dalamnya terdapat pembagian tugas dan petugas untuk mencapai suatu tujuan, mempunyai ideologi (political doctrine, political ideal, political thesis, ideal objective, dan mempunyai program politik (political platform, material objective) sebaga rencana pelaksanaan atau cara pencapaian tujuan secara lebih pragmatis menurut pentahapan jangka dekat sampai yang jangka panjang serta mempunyai ciri berupa keinginan berkuasa.

Partai politik adalah suatu kelompok yang terorganisir, yang anggota- anggotanya mempunyai orientasi, nilai-nilai, dan cita-cita yang sama, tujuannya untuk memperoleh kekuasaan politik dan merebut kedudukan politik

(22)

dengan cara konstitusional (Miriam Budiarjo, 1998: 161). Menurut pendapat Sigmund Neuman (Miriam Budiarjo, 1998: 162). Partai politik adalah organisasi artikulasi yang terdiri dari pelaku-pelaku politik yang aktif dalam masyarakat, yaitu mereka yang memusatkan perhatiannya pada menguasai kekuasaan pemerintah dan yang bersaing untuk memperoleh dukungan rakyat, dengan beberapa kelompok lain yang mempunyai pandangan yang berbeda-beda. Dengan demikian Partai Politik merupakan perantara besar yang menghubungkan kekuatan-kekuatan dan ideologi sosial dengan lembaga- lembaga pemerintah yang resmi dan mengkaitkannya dengan aksi politik di dalam masyarakat politik yang lebih luas. Partai politik tidak saja sekedar badan yang menyaingi, dengan persetujuan, pemisahan dan partisipasinya yang khas, tetapi juga perlu diingat bahwa masing-masing kelompok yang terpisah itu pada intinya merupakan bagian dari keseluruhan.

Menurut Richard (Rusli Karim, 1993:1). Partai politik adalah alat yang paling ampuh bagi manusia untuk mencapai tujuan-tujuan politiknya, dari urgensi partai politik inilah muncul pameo dalam masyarakat politisi moderen tanpa partai politik sama dengan ikan yang berada di luar air. Hubungan antara partai sebagai sebagai institusi sebagai alat manusia untuk mengendalikan kekuasaan dengan masyarakatnya sangat erat.

Menurut Plato (Samuel P. Huntington, 2004:25) bentuk-bentuk pemerintahan yang sederhana mempunyai kemungkinan yang paling besar untuk mengalami kemerosotan; sedangkan keadaan campuran besar kemungkinan akan stabil.

(23)

Menurut Sigmund Neuman (Samuel P. Huntington, 2004:23) apabila setiap bagian mempunyai lebih dari satu fungsi dari sub-unit segi pelembagaan akan lebih banyak memiliki kekuatan; dengan demikian suatu sistem politik yang didukung oleh partai-partai integrasi sosial.

Undang-undang nomor 2 Tahun 2011 tentang Partai Politik memberikan pengertian Partai Politik adalah organisasi yang bersifat nasional dan dibentuk oleh sekelompok warga negara Indonesia secara sukarela atas dasar kesamaan kehendak dan cita-cita untuk memperjuangkan dan membela kepentingan politik anggota, masyarakat, bangsa dan negara, serta memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

2.1.2. Jenis-jenis Partai Politik

Mendasari pemahaman pada pengertian-pengertian partai Politik yang ada, secara implicit diketahui pula dasar yang membedakan partai politik yang satu dengan partai politik lainnya. Perbedaan partai politik di berbagai negara diidentifikasi melalui basis sosiologi partai politik tersebut.

Menurut Ichlasul Amal (1996:34). Sedikitnya terdapat lima jenis partai yang dapat dikenali berdasarkan basis ideologi, yakni :

1. Partai Porto

Partai ini belum memiliki organisasi dan hanya merupakan pengelompokan kepentingan daerah atau ideologi yang berkembang dalam masyarakat tertentu. Tipe awal partai politik sebelum mencapai tingkat seperti dewasa ini. Partai semacam ini muncul di Eropa Barat sekitar abad pertengahan hingga akhir abad ke19. Ciri paling menonjol partai porto adalah

(24)

perbedaan antara kelompok anggota dengan non anggota. Partai porto belum menunjukkan ciri sebagai partai politik dalam pengertian modern.

2. Partai Massa

Partai Massa muncul pada saat terjadi perluasan hak pilih rakyat sehingga dianggap sebagai suatu respon politisi dan organisasional bagi perluasan hak-hak pilih serta pendorong bagi perluasan lebih lanjut hak-hak pilih tersebut.

Partai massa dibentuk di luar perlemen (extraparlemen). Partai tipe ini berorientasi pada basis pendukung yang lebih luas, seperti; buruh, petani, kelompok agama dan memiliki ideology yang jelas untuk me mobilisasi massa serta mengembangkan organisasi yang cukup rapi dalam mewujudkan tujuan ideologisnya.

3. Partai Kader

Partai kader merupakan perkembangan lebih lanjut dari partai porto.

Partai ini muncul sebelum diterapkannya system hak pilih secara luas bagi rakyat sehingga bergantung pada masyarakat kelas menegah keatas yang memiliki hak pilih, keanggotaan yang terbatas, kepemimpinan, serta para pemberi dana. Tingkat organisasi dan ideologi partai kader sesungguhnya masih rendah kaerna aktifitasnya jarang didasarkan pada program dan organisasi yang kuat.

4. Partai Ditaktoral

Partai ditaktoral merupakan sub tipe partai massa tetapi memiliki ideologi yang lebih kaku dan radikal. Pemimpin tertinggi partai melakukan control yang sangat ketat kepada pengurus dan anggota. Untuk diterima sebagai anggota partai seseorang harus lebih dahulu diuji kesetiaan dan

(25)

komitmennya terhadap ideologi partai. Partai radikal menuntut pengabdian total dari para anggotanya.

5. Partai Catch-all

Disebut juga umbrella party (partai payung), merupakan gabungan dari partai kader dan partai massa. Istilah partai catch-all pertama kali diperkenalkan oleh Otto Kirchheimer. Istilah inimerujuk pada perhimpunan yang menampung kelompok sosial sebanyak mungkin untuk dijadikan anggotanya. Tujuan utama partai ini adalah memenagkan pemilihan dengan cara menawarkan program-program dan keuntungan bagi anggotanya sebagai ganti ideologi yang kaku.

Ichlasul Amal (1996:35) jika dilihat dari pembentukannya partai dapat dibedakan menjadi :

a. Partai Afeksi

1. Partai yang didirikan berdasarkan kecintaan para anggotanya terhadap orang atau keturunannya.

2. Partai yang didirikan berdasarkan kepentingan para anggotanya.

3. Partai Ideologi/ Agama, Partai yang berdasarkan persamaan agama atau cita- cita politik diantara para anggotanya.

Dilihat dari segi anggotanya terhadap keadaan yang dihadapi partai politik, partai politik terbagi menjadi :

b. Partai Radikal

Partai yang tidak puas dengan keadaan sekarang dan ingin merubahnya dengan cepat keadaan tersebut sampai ke akar-akarnya.

c. Partai Progresif

(26)

Partai yang merasa tidak puas dengan keadaan sekarang dan ingin merubahnya secara berangsur-angsur (evolusi).

d. Partai Konservatif

Partai yang mudah puas dengan keadaan yang sekarang dan ingin mempertahankan keadaan itu.

e. Partai Reaksioner

Partai yang tidak puas dengan keadaan sekarang dan ingin kembali kepada keadaan di masa lampau.

2.1.3. Tujuan Partai Politik

Partai politik sebagai organisasi politik yang dibentuk oleh sekelompok warga Negara Republik Indonesia secara sukarela, atas dasar persamaan kehendak dan cita-cita untuk memperjuangkan kepentingan anggota masyarakat, bangsa dan negara melalui pemilihan umum, sudah tentu mempunyai tujuan tertentu. Partai politik menggalang dukungan warga negara yang berminat untuk berpartisipasi dalam kehidupan politik. Sumber daya yang dimiliki oleh partai politik terus menerus dikonsolidasikan untuk membangun solidaritas, memperkokoh komitmen untuk mewujudkan cita- citanya. Sebagai sebuah organisasi partai politik diharapkan mampu mengartikulasikan berbagai kepentingan dan memperjuangkannya untuk dikonversikan menjadi keputusan politik yang mempengaruhi berbagai aspek kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Tujuan partai politik selalu dicantumkan dalam anggaran dasarnya.

Tujuan tersebut melukiskan apa yang hendak dicapai apa massa yang akan datang yang hendak diwujudkan bersama. Tujuan dijadikan pedoman dalam

(27)

mengarahkan kegiatan partai politik dan berbagai sumbar legitimasi keberadaan partai politik serta menjadi sumber motivasi bagi masyarakat untuk mengidentifikasikan dirinya dengan partai politik yang bersangkutan.

Tujuan partai politik berfungsi sebagai tolak ukur untuk menilai keberhasilan atau kegagalan para pemimpin partai politik. Tujuan partai politik pada dasarnya adalah keadaan yang dikehendaki yang senantiasa dikejar untuk diwujudkan di masa yang akan datang. Partai politik tentunya berupaya merumuskan tujuannya sedemikian rupa agar betul-betul aspiratif, mungkin dapat dicapai dan berorientasi ke massa depan yang lebih memberi harapan, mempunyai daya tarik yang kuat untuk membangun citra partai dan menggalang dukungan yang kuat (Oka Mahendra, 2004: 99).

Di dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2011 tentang Partai Politik dijelaskan bahwa Partai Politik mempunyai tujuan umum dan khusus yaitu : 1. mewujudkan cita-cita nasional bangsa Indonesia sebagaimana dimaksud

dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

2. menjaga dan memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia;

mengembangkan kehidupan demokrasi berdasarkan Pancasila dengan menjunjung tinggi kedaulatan rakyat dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia;dan

3. mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.

4. meningkatkan partisipasi politik anggota dan masyarakat dalam rangka penyelenggaraan kegiatan politik dan pemerintahan;

(28)

5. memperjuangkan cita-cita partai politik dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara; dan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pemilu dan qanun Aceh Nomor 7 Tahun 2007 tentang Pemilihan Umum menerangkan juga bahwa Partai Politik yang terlibat dalam Pemilu mempunyai tujuan sebagai berikut, yang Pertama, Melaksanakan pendidikan politik. Ke dua, Melaksanakan aggregasi dan artikulasi kepentingan. Ke Tiga, Melakukan rekrutmen public untuk menduduki jabatan eksekutif dan legislatif.

2.1.4. Fungsi Partai Politik

Menurut Miriam Budiarjo (1998:17). Di dalam Negara yang menganut paham demokrasi, Partai Politik akan menyelenggarakan beberapa fungsi, diantaranya :

1. Partai Politik berfungsi sebagai sarana komunikasi politik. hal ini, partai politik merumuskan kebijakan yang bertumpu pada aspirasi dari masyarakat. Kemudian rumusan tersebut diartikulasikan kepada pemerintah agar dapat dijadikan sebagai sebuah kebijakan. Proses ini menunjukkan bahwa komunikasi antara pemerintah dengan masyarakat dapat dijembatani oleh partai politik. Dan bagi partai politik dapat mengartikulasikan aspirasi rakyat merupakan suatu kewajiban yang tidak dapat diletakkan, terutama bila partai politik tersebut ingin tetap eksis dalam kancah politik nasional.

2. Partai Politik berfungsi sebagai sarana sosialisasi dan pendidikan Partai politik berkewajiban untuk mensosialisasikan wacana politiknya kepada masyarakat. Wacana politik dari sebuah partai politik dapat dilihat

(29)

melelui visi, misi, platform, dan program partai tersebut. Dengan sosialisasi wacana politik ini diharapkan masyarakat akan menjadi semakin dewasa dan terdidik dalam politik. Sosialisasi dan pendidikan politik ini memposisikan masyarakat sebagai subyek, tidak lagi sebagai obyek.

3. Partai Politik berfungsi sebagai saran rekruitmen politik Partai politik berkewajiban untuk melakukan seleksi dan rekruitmen dalam rangka megisi posisi dan jabatan politik tertentu. Dengan adanya rekruitmen politik maka dimungkinkan terjadinya rotasi calan mobilitas politik.

Tanpa rotasi dan mobilitas politik pada sebuah system politik maka akan muncul ditaktorisme dan stagnasi politik dalam system tersebut.

4. Partai Politik berfungsi sebagai sarana peredam dan pengatur konflik.

Dalam negara demokrasi yang masyarakatnya bersifat terbuka, adanya perbedaan dan persaingan pendapat sudah merupakan hal yang wajar.

2.2. Tinjauan Tentang Partai Politik Lokal 2.2.1. Pengertian Partai Politik Lokal

Partai politik lokal (state party, regional party atau local political party) adalah partai yang jaringannya terbatas pada suatu daerah (provinsi atau negara bagian) atau beberapa daerah, tetapi tidak mencakup semua provinsi (nasional) (Farhan Hamid, 2007: 33). Qanun Aceh nomor 3 Tahun 2008 tentang Partai Politik Lokal Peserta Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh dan Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten/Kota memberikan pengertian Partai politik lokal adalah organisasi politik yang dibentuk oleh

(30)

sekelompok warga negara Indonesia yang berdomisili di Aceh serta sukarela berdasarkan persamaan kehendak dan cita-cita untuk memperjuangkan kepentingan anggota, masyarakat, bangsa dan negara melalui pemilihan pemilihan anggota DPRA/DPRK, Gubernur/Wakil gubernur, bupati/wakil bupati, walikota/wakil walikota.

2.2.2. Sejarah Partai Politik Lokal di Indonesia

Keberadaan partai politik lokal di Indonesia, sebenarnya bukan merupakan hal yang baru. Dalam perjalanan sejarah sistem kepartaian di Indonesia, pernah diwarnai oleh partai politik lokal, dan partai politik lokal itu telah pula menjadi peserta dalam pemilihan umum tahun 1955. Melihat pada hasil pemilihan umum tahun 1955, Herbert Feith telah membagi 4 (empat) kelompok partai politik yang berhasil mendapatkan suara di Dewan Perwakilan Rakyat dan Konstituante, yaitu: partai besar, partai menengah, kelompok kecil yang bercakupan nasional, dan kelompok kecil yang bercakupan daerah. Kelompok terakhir itulah, menurut Feith, bisa dikategorikan sebagai partai yang bersifat kedaerahan dan kesukuan.

Beberapa partai politik yang bersifat kedaerahan dan kesukuan, sebagai contohnya adalah Partai Rakyat Desa, Partai Rakyat Indonesia Merdeka, Gerakan Pilihan Sunda, Partai Tani Indonesia, dan Gerakan Banteng di Jawa Barat. Selain itu, terdapat pula Grinda di Yogyakarta dan Partai Persatuan Daya di Kalimantan Barat.

Di antara beberapa contoh partai politik yang dapat dianggap sebagai partai politik lokal tersebut, bahkan ada sebuah partai politik yang menjadi sangat populer di daerah asalnya. Partai itu adalah Partai Persatuan Daya di

(31)

Kalimantan Barat. Hasil pemilihan umum untuk Dewan Perwakilan Rakyat tahun 1955 menunjukkan bahwa Partai Persatuan Daya, untuk daerah pemilihan Kalimantan Barat, berhasil menempati urutan ke dua di bawah Masyumi yang menempati urutan pertama.

2.2.3. Fungsi Partai Politik Lokal

Sebagai partai politik, semua fungsi yang dikenal dilakukan oleh partai politik juga berlaku bagi partai politik lokal. Perbedaannya hanya dalam hal tingkat, jika partai politi nasional melakukan agregasi kepentingan pada tingkat nasional dan rekruitmen politik untuk jabatan politik yang dipilih pada level nasional, maka partai politik lokal hanya melakukan fungsi-fungsi tersebut pada tingkat lokal (Farhan Hamid, 2008:36)

2.2.4. Tujuan partai politik Lokal

Berbeda dari partai politik pada umumnya, partai politik lokal mempunyai tujuan yang berbeda-beda sesuai dengan karakteristik dan tipe partai politik lokal tersebut. Dilihat dari sisi tujuan, dalam praktek politik di negara-negara yang mengakui keberadaan partai politik lokal, partai jenis ini memiliki tujuan yang berbeda-beda, yang umumnya dikategorikan menjadi tiga:

1. Partai politik lokal yang melindungi dan memajukan hak ekonomi, sosial, budaya, bahasa dan pendidikan dari kelompok minoritas tertentu.

2. Partai politik lokal yang menginginkan otonomi untuk daerahnya atau menegakkan dan meningkatkan hak-hak otonomi yang telah dimiliki daerah itu.

3. Partai politik lokal yang secara eksplisit memperjuangkan kemerdekaan wilayahnya dan membentuk negara baru.

(32)

2.2.5. Jenis-jenis Partai Politik Lokal

Partai politik lokal dapat dibagi ke dalamdua sistem:

1. Sistem partai politik lokal tertutup

partai politik lokal ini hanya boleh berpartisipasi dalam pemilihan umum untuk memilih anggota legislatif daerah dan kepala daerah.

2. Sistem partai politik lokal terbuka

Partai politik lokal ini diberi hak untuk berpartisipasi dalam pemilihan umum nasional, seperti untuk pemilihan anggota legislatif pusat. Dalam sistem partai politik terbuka ini, partai politik lokal dapat menjadi mitra koalisi partai nasional di tingkat nasional dan karena itu dapat menempatkan tokohnya ke dalam kabinet sebagai menteri.

2.2.6. Hubungan Partai Politik Lokal dengan Partai Nasional

Ide dasar partai politik lokal ialah pembagian kerja (division of labour) antara partai politik di tataran nasional dan partai politik di tataran daerah, keduanya memiliki hubungan fungsional. Patai lokal, sebagai perwujudan the party of the ground, bertugas mengelola konflik kepentingan di tataran masyarkat daerah, sehingga konflik yang ada lebih terstruktur, tidak menimbulkan penimbunan aspirasi yang membingungkan pada tataran nasional. Partai ini beroperasi secara independen, mengontrol kebijakan, program, strategi sesuai limitasi otoritas kewilayahan yang dimiliki. Mendekati pelaksanaan pemilihan umum nasional, partai-partai lokal melakukan afiliasi mereka ke partai-partai besar yang sudah mapan, dalam arti memiliki jaringan secara nasional, sehingga lokalitas terjamin tanpa keluar dari bingkai nasional. Afiliasi ini dilakukan secara bebas. Artinya, bisa saja satu

(33)

partai politik lokal berafiliasi ke satu partai nasional di satu pemilihan umum, lalu berpindah afilisinya ke partai lain di pemilihan umum berikutnya.

Hubungan fungsional demikian mengisyaratkan adanya kemampuan tawar menawar antara masyarakat lokal dan partai nasional. Dengan cara semacam ini, makapenguatan pada akar rumput politik akan berdampak pada penguatan institusi politik secara nasional. Keberadaan partai politik lokal sedemikian sejalan dengan semangat melaksanakan desentralisasi pemerintahan (Farhan Hamid, 2008:39).

2.3. Tinjauan tentang Demokrasi 2.3.1. Pengertian Demokrasi

Demokrasi semenjak pertama diperkenalkan sebagai suatu pandangan politik yang selalu mengedepankan prinsip-prinsip penyelesaian masalah kebangsaan secara adil dan bisa diterima oleh semua lapisan masyarakat dalam bangsa tersebut. Pada dasarnya demokrasi diyakini telah memuat asas dan nilai yang diwariskan dari masa ke masa dari sejarah kebudayaan Yunani Kuno sampai yang ada sekarang. Sebagaimana dijelaskan oleh Aristoteles, sistem demokrasi yang terdapat dalam negara kota (city-state) Yunani Kuno, abad ke-6 samapai abad ke-3 SM, adalah suatu sistem pemerintahan dimana partisipasi rakyat disalurkan dengan demokrasi langsung (direct demokrasi). Selanjutnya gagasan demokrasi yang dijalankan di Yunani Kuno telah menghilang dari Barat (Romawi) pertarungan ide tentang demokrasi, yang melibatkan pemikir Yunani Kuno dengan pemikir Eropa Barat terjadi pada abad pertengahan (600-1400).

Masyarakat abad pertengahan bercirikan struktur sosial yang feodal, serta

(34)

kehidupan spritual dikuasai oleh Paus dan pemuka agama, masyarakat saat itu masih perebutan kekuasaan antar sesama.

Sementara itu di Eropa Barat pada permulaan abad ke-16, muncul negara- negara nasional (nasional-state) dalam bentuk yang dikatakan sudah modern. Pada massa ini para filosof banyak memperdebatkan tentang akal yang di asumsikan dapat membebaskan diri dari batasan yang ada. Zaman ini dikenal sebagai Renaissance (Koirudin, 2004:20). Istilah domokrasi berasal dari bahasa yunani demokratia, yang berasal dari kata Demos yang berarti rakyat dan Kratos yang berarti kekuasaan. Jadi kekuasaan rakyat, atau suatu bentuk pemerintahan Negara dimana rakyat berpengaruh diatasnya, singkatnya pemerintahan rakyat (CST Kansil, 1983 : 50).

Demokrasi (democracie) adalah bentuk pemerintahan atau kekuasaan negara yang tertinggi dimana sumber kekuasaan tertinggi adalah kekuasaan rakyat yang terhimpun melalui suatu majelis yang dinamakan Majelis Permusyawaratan Rakyat (Yan Pranadya Puspa, 1977 : 295).

Menurut Amartiya Sent (Kacung Marijan, 2011:11) demokrasi menuntut adanya kesempatan (opportunity) kepada semua pihak, termasuk di dalamnya adalah adanya kesempatan kepada rakyat untuk berpartisipasi di dalam semua proses politik. Sementara itu menurut Abraham Lincoln (Sobirin Malian, 2001 : 44). Demokrasi adalah suatu pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Demokrasi sesungguhnya adalah seperangkat gagasan dan prinsip tentang kebebasan, tetapi juga menyangkut seperangkat praktik dan prosedur yang terbentuk melaui sejarah panjang dan sering berliku-liku. Pendeknya, Demokrasi adalah pelembagaan dari pembebasan.

(35)

Demokrasi yang mengharuskan kedaulatan sebagai kekuasaan tertinggi di tangan rakyat dapat mencakup bidang politik dan bidang ekonomi.

Apabila kekuasaan itu berkenaan dengan bidang politik, maka sistem kekuasaan rakyat itu disebut demokrasi polirik. Begitu juga apabila menyangkut bidang ekonomi, maka disebut demokrasi ekonomi. Dengan demikian, istilah demokrasi disini, yakni demikrasi politik dan demokrasi ekonomi, harus dipahami sebagai konsep mengenai kedaulatan rakyat yang meliputi aspek politik dan ekonomi. Dalam arti politis, demokarasi adalah suatu sistem politik dimana rakyat memegang kekuasaan tertinggi, bukan atas kekuasan raja atau kaum bangsawan (Jimly asshidiqie, 1995 : 25).

2.3.2. Teori Demokrasi

Berbagai teori demokrasi dihasilkan melalui penelitian ilmiah membawa implikasi tertentu dalam praktek demokrasi. Teori-teori tersebut menjelaskan tuntutan minimal untuk partisipasi dalam demokrasi dan pengawasan oleh masyarakat serta menentukan corak lembaga-lembaga yang menyelenggarakan demokrasi. Berikut ini terdapat lima teori demokasi dikutip dari buku Thomas Meyer (2002: 6-10) menjelaskan.

1. Teori Demokrasi Ekonomis

Teori demokrasi ini berpandangan bahwa fungsi demokrasi pada prinsipnya sama dengan pasar dalam ekonomi. Kaum elit menawarkan solusi alternatif untuk mengatasi masalah-masalah politik suatu negara. Kemudian rakyat memilih antara elit-elit tersebut meskipun mereka tidak memiliki kesempatan untuk berpartisipasi dalam perumusan maupun pelaksanaan program-program yang ditawarkan. Baik elit yang bertujuan untuk

(36)

mendapatkan jabatan, kekuasdaan dan penghasilan maupun para pemilih bertindak untukkepentingan pribadinya. Tapi melalui pemilihan umum yang demokratis kedua pihak pada akhirnya akam memperolaeh apa yang mereka harapkan.

2. Teori Demokrasi Langsung

Muncul dari pengalaman bahwa wakil-wakil politik maupun lembaga- lembaga politik seperti partai, pemerintah dan parlemen pada umumnya berusaha untuk memisahkan diri dari kepentingan rakyat. Mereka hanya memperjuangkan kepentingan sendiri dan kemudian dan secara perlahan mengabaikan kepentingan rakyat yang diwakilinya. Demokrasi langsung berkeyakinan dahwa pada akhirnya tidak perlu ada pemisahan antara pemerintah dan rakyat demi mencapai tujuan demokrasi Masyarakat yang dapat mengatur kehidupannya sendiri secara demokratis dapat mempraktekkan demokrasi langsung dan tidak memerlukan lembaga-lembaga atau organisasi- organisasi sebagai perantara. Dalam demokrasi langsung warga masyarakat dapat merumuskan kepentingan bersama dan mememukan alternatif pemecahan masalah serta melaksanakannya dalam semangat kebersamaan.

Menurut pandangan ini masyarakatsipil merupakan satu-satunya wadah pembuat keputusan politik yang memadai untuk semua masalah politik. Dengan demikian kehendak rakyat dapat diwujudkan dalam praktek keputusan politik tanpa perantara dan tanpa manipulasi.

3. Demokrasi Media Populistik

Lebih merupakan bentuk tertentu dari demokrasi ketimbang sebuah model dari demokrasi moderen. Dalam masyarakat moderen politik

(37)

sepenuhnya ditentukan oleh media masa khususnya televisi. Demokrasi media merupakan suatu fenomena di mana media masa khususnya televisi tidak hanya mempengaruhi masyarakat yang kesadaran politik dan opini masyarakat, tetapi juga perilaku para politisi dan lembaga politik. Dalam demokrasi media masih terdapat partai-partai, asosiasi-asosiasi dan masyarakat bebas, tetapi fungsi danperan mereka mengalami perubahan yang cukup besar.

Dalam demokrasi media pembentukan kehendak rakyat secara demokratis dan pelaksanaannya dalam sistem politik yang tidak lagi memainkan peranan sentral.

4. Demokrasi Partai Partisipatif

Sesuai denagan namanya, model ini berupaya untuk mengatasi kelemahan- kelemahan teori-teori yang telah disebutkan di atas. Demokrasi partai pluralistik dapat menggabungkan efisiensi politik dan partisipasi. Dalam demokrasi multi partai terjadi persaingan sejumlah partai untuk menaruh pengaruh dan kekuasaan maupun untuk merencanakan kondisi kehidupan masyarakat. Di satu pihak, partai-partai merupakan organisasi besar dengan tingkat sentralisasi tertentu dan hadir di seluruh wilayah negara. Jika mereka terorganisir dengan baik maka mereka akan mampu melakukan pembentukan aspirasi politk pada tingkat akar rumput, seperti di kabupaten, kecamatan dan desa. Mereka juga akan mampu menggabungkan langkah-langkah pengambilan keputusan pada semua tingkatan organisasi di seluruh wilayah negara sampai ke tingkat nasional.

Demokrasi partai yang berfungsi dengan baik berakar dalam masyarakat sipil yang aktif dan efektif. Peran partai-partai mencakup partisipasi yang

(38)

demokratis, pengawasan kekuasaan dan integrasi politik masyarakat. Mereka dapat menjalankan peran tersebut kalau mereka memiliki struktur organisasi internal yang demokratis. Persaingan antara banyak partai, memungkinkan setiap saat terjadinya kritik efektif dan sistematis terhadap kebijakan pemerintah dalam rangka menawarkan alternatif politik. Hal tersebut membuat diskusi kritis di masyarakat menjadi terstruktur dan rasional serta memungkinkan warga untuk mengambil keputusan setiap saat di antara pilihan-pilihan politik yang berbeda

5. Model Demokrasi

Filsafat politik yang mendasari demokrasi pada prinsipnya bersifat universal dan dapat diterapkan pada semua masyarakat dewasa ini.

Sebaliknya model-model yang berkembang di berbagai masyarakat dalam berbagai era sangat berfariasi. Model-model tersebut dapat dibagi menurut dua perspektif yang berbeda, diantaranya :

1. Demokrasi Presidensial atau Parlementer dalam demokrasi presidensial presiden memiliki kedudukan dan kekuasaan politik yang kuat pula.

Kekuasaan politik presiden sering kali disejajarkan dengan parlemen atau bahkan lebih kuat dari pada parlemen. Sebaliknya, dalam demokrasi parlementer, parlemenlah merupakan satu-satunya lembaga perwakilan tertinggi untuk pengambilan keputusan. Peranan presiden pada kasus ini terbatas pada tugas-tugas negara dan penegah dalam situasi konflik.

Dalam demokrasi parlementer kekuasaan pengambilan keputusan politik dijalankan oleh wakil-wakil rakyat sesuai dengan pemilihan umum.

Sebaliknya dalam demokrasi presidensial kepala negara yang dipilih secara

(39)

langsung oleh rakyat merupakan pusat kekuasaan mandiri, yang juga berpengaruh baik dalam pembentukan pemerintahan meupun dalam penyusunan undang-undang.

2. Demokrasi Perwakilan atau Demokrasi Langsung, yaitu demokrasi perwakilan mempercayakan sepenuhnya pengambilan keputusan di tingkat parlemen oleh wakil-wakil yang dipilih. Demokrasi langsung akan mengalihkan sebanyak mungkin keputusan kepada rakyat yang berdaulat : misalnya melalui pelbisit, referendum, jejak pendapat rakyat, dan keputusan rakyat atau mengembalikan sebanyak mungkin keputusan ke tingkat komunitas lokal. Pada suatu negara yang luas, peluang diterapkannya demokrasi langsung sangat terbatas. Sidang paripurnya yang menghadirkan seluruh rakyat tidak mungkin dilakukan. untuk beberapa permasalahan dan hanya dengan persiapan waktu yang cukup. Untuk sebagian besar pengambilan keputusan pada tingkat regional dan nasional, yang dapat dilakukan hanyalah demokrasi perwakilan (Meyer, 2002:12-13).

3. Demokrasi di Indonesia, yaitu demokrasi merupakan salah satu konsep bagaimana suatu negara menjalankan pemerintahannya, berdasarkan pengalaman dalam bernegara pada masa lampau menjadikan demokrasi sebagai satu-satunya konsep yang disepakati sebagai konsep yang terbaik. Hal itu pulalah yang menjadi pertimbangan sehingga Negara Indonesia menganut konsep demokrasi dalam menjalankan pemerintahannya. Namun konsep demokrasi di Indonesia juga mempunyai perbedaan dengan demokrasi pada umumnya. Di dalam demokrasi ada beberapa trade mark yang tampaknya disetujui dan menjadi keharusan di

(40)

dalam demokrasi yaitu : Pertama, adanya kedaulatan. Kedua, Adanya musyawarah untuk mencapai mufakat. Ketiga, Adanya tanggung jawab (Sulardi, 1999 : 6).

Dalam konteks Indonesia, demokrasi mengandung dua arti. Pertama, demokrasi yang dikaitkan dengan sistem pemerintahan atau bagaimana caranya rakyat diikutsertakan dalam penyelenggaraan pemerintahan. Kedua, demokrasi sebagai asas, yang mempengaruhi keadaan kultural, historis suatu bangsa sehingga muncul istilah demokrasi konstitusional, demokrasi rakyat dan demokrasi pancasila (Sobirin, 2001 : 46).

2.4. Tinjaun tentang Desentralisasi 2.4.1. Pengertian Desentralisasi

Henry Maddick (Hanif Nurcholis 2005: 9) menjelaskan , desentralisasi adalah penyerahan kekuasaan secara hukum untuk menagani bidang-bidang dan fungsi-fungsi tertentu kepada daerah otonom. Rondinelli dan Chema, 1983 mengemukakan, desentralisasi merupakan penciptaan atau penguatan, baik keuangan maupun hukum, pada unit-unit pemerintahan subnasional yang penyelenggaranya secara substansial berada di luar control langsung pemerintah pusat. Koswara memberikan batasan tentang desentralisasi sebagai berikut.

Desentralisasi merujuk pada pemindahan kekuasaan dari pemerintah pusat baik melalui dekonsentrasi (delegasi) pada pejabat wilayah maupun melalui devolusi badan-badan otonomi daerah.

Rondinelli (Hanif Nurcholis, 2005: 9). Merumuskan desentralisasi adalah penyerahan perancanaan, pembuatan keputusan, atau kewenagan administratip dari pemerintah pusat kepada organisasi wilayah, satuan administratip daerah,

(41)

organisasi semi otonom, pemerintah daerah, atau organisasi non pemerintah/lembaga swadaya masyarakat.

2.4.2. Macam-macam Desentralisasi

Desentralisasi sebagai suatu asas penyelenggaraan pemerintahan daerah merupakan salah satu sendi yang dipergunakan dalam penyelenggaraan pemerintahan di negara kesatuan. Penggunaan asas desentralisasi disamping bertujuan uantuk menyelenggarakan 21 sistem pemerintahan negara yang efektif dan efisien, juga merupakan pencerminan penyelenggaraan demokratisasi pemerintahan negara dan asas kedaulatan rakyat. Secara doktriner bentuk-bentuk desentralisasi adalah sebagai berikut :

1. Desentralisasi territorial Penyerahan urusan pemerintahan (pelimpahan wewenang untuk menyelenggarakan suatu urusan pemerintahan) dari pemerintah pusat/daerah tingkat yang lebih atas kepada badanbadan yang bersifat kewilayahan (territorial). Desentralisasi ini menjelma dalam bentuk badan yang didasarkan pada wilayah.

2. Desentralisasi fungsional Penyerahan urusan pemerintahan (pelimpahan wewenang untuk menyelenggarakan suatu urusan pemerintahan) dari pemerintah pusat/daerah tingkat yang lebih atas kepada badan badan fungsional tertentu. Desentralisasi ini menjelma dalam bentuk badan-badan yang didasarkan pada tujuan-tujujan tertentu.

3. Desentralisasi politik Pelimpahan wewenag dari pemerintah pusat, yang menimbulkan hak mengurus kepentingan rumah tangga sendiri bagi badan- badan politik di daerah-daerah, yang dipilih rakyat dalam daerah-daerah

(42)

tertentu. Pengertian ini sama dengan pengertian desentralisasi territorial, karena didasarkan pada tujuan-tujuan tertentu.

4. Desentralisasi kebudayaan Memberikan hak pada golongan-golongan kecil dalam masyarakat (minoritas) menyelenggarakan kebudayaannya sendiri (mengatur pendidikan, agama, dll). Dalam kebayakan negara kewenagan ini diberikan kepada kedutaan-kedutaan asing demi pendidikan warga negara masing-masing Negara dari kedaulatan yang bersangkutan. Dengan demikian sebenarnya desentralisasi yang demikian ini bukan merupakan bentuk asas penyelenggaraan pemerintah daerah.

5. Desaentralisasi administrative Pemerintah melimpahkan sebagian kewenagannya kepada alat perlengkapan atau organ pemerintahan sendiri di daerah. (Handoyo dan Theresianti 1996:86)

2.4.3. Desentralisasi di Indonesia

Dalam konteks negara Indonesia, negara Indonesia adalah negara kesatuan. Sebagai negara kesatuan maka kedaulatan Negara adalah tunggal, tidak tersebar pada negara-negara bagian seperti dalam negara federal/serikat. Karena itu, pada dasarnya sistem pemerintahan dalam negara kesatuan adalah sentralisasi atau penghalusnya

dekonsentrasi. Artinya pemerintah pusat memegang kekuasaan penuh. Namun mengingat negara Indonesia sangat luas yang terdiri atas puluhan ribu pulau besar dan kecil dan penduduknya terdiri atas beragam suku bangsa, beragam etnis, beragam golongan dan memeluk agama yang berbeda-beda. Dalam perundang undangan yang berlaku ditegaskan bahwa pemerintah terdiri atas pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Sejalan dengan keharusan membentuk pemerintahan

(43)

daerah dalam sistem administrasi negara Indonesia maka sejak proklamasi kemerdekaan sampai sekarang negara Indonesia telah mengeluarkan undang- undang tentang Pemerintahan Daerah; Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1948, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1975, Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1965, Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1974, Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999, Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 dan terakhir Undang-Undang No 23 Tahun 2014. melalui Undang-Undang tersebut bagsa Indonesia menyelenggarakan pemerintahan daerah dalam sistem administrasi pemerintahannya.

Sebagai negara kesatuan, negara Indonesia tidak mempunyai kesatuan- kesatuan pemerintahan di dalamnya yang mempunyai kedaulatan. Dalam istilah penjelasan Undang Undang Dasar 1945, Indonesia tidak akan mempunyai daerah di dalam lingkungannya yang bersifat state, Negara dalam negara kesatuan.

Kedaulatan yang melekat pada rakyat, bangsa dan Negara Republik Indonesia tidak akan terbagi di antara kesatuan-kesatuan pemerintahan. Kesatuan kesatuan pemerintahan lain di luar pemerintah tidak memiliki apa yang disebut oleh R.Kranenburg sebagai pouvoir constituent, kekuasaan untuk membuat UUD/UU dan organisasinya sendiri. Hal inilah yang membedakan negara kesatuan dengan negara federal. Negara federal adalah negara majemuk sehingga masing-masing negara bagian mempunyai kekuasaan membentuk UUD/UU, sedangkan Negara kesatuan adalah negara tunggal (Bhenyamin, 2002, 71).

Referensi

Dokumen terkait

Kegunaan untuk Orang tua dari penelitian ini adalah khusunya bagi orang tua siswa dapat lebih interaktif dengan anak dan memahami keadaan anak agar anak

Agen PengawasMobile akan meng create agen Messanger untuk mengirimkan pesan kepada AgenPengawas di komputer bagian produksi yang isi pesannya adalah telah terjadi perubahan data

Dalam kajian Filologi, kata naskah dan manuskrip digunakan secara bergantian dengan pengertian yang sama, yaitu dokumen tulisan tangan kuno... [

„Alaqah secara istilah berarti segumpal darah yang beku yang melekat di rahim, atau proses terjadinya „alaqah yang berasal dari nuṭfah menjadi darah yang membeku dan melekat

Metode penelitian kualitatif terdiri dari tiga model desain penelitian, yakni deskriptif kualitatif, kualitatif verifikatif, dan grounded Research (Bungin, 2007,

Kegiatan yang telah dilaksanakan menggunakan metoda geologi yang meliputi pengamatan morfologi, jenis sebaran endapan kerikil berpasir alami ( SIRTU) atau litologi dan

Terdapat hubungan yang signifikan antara motivasi dan aktivitas belajar siswa terhadap hasil belajar kognitif siswa dengan penerapan model pembelajaran kooperatif

Tetapi sekali lagi di lapangan ketentuan ini mengalami penyimpangan oleh koperasi tertentu artinya penyimpan atau peminjam belum tentu diangkat menjadi anggota,