• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II KAJIAN PUSTAKA"

Copied!
40
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user 7

KAJIAN PUSTAKA

A. Tinjauan Studi Terdahulu

Beberapa penelitian tentang tindak tutur dan prinsip kesantunan sudah pernah dilakukan. Penelitian yang pernah dilakukan dan berkaitan dengan masalah yang diteliti dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

Skripsi Betty Sulistyaningsih (2011) yang berjudul “Tindak Tutur Direktif dan Prinsip Kesantunan antara Sales Roti Kecil dengan Pelanggan dalam Promosi Penjualan” menyimpulkan sebagai berikut. (1) bentuk tindak tutur direktif antara sales “Roti Kecil” dengan pelanggan dalam promosi penjualan yang bertujuan sebagai business promotion terdapat 7 macam subtindak tutur direktif. Promosi penjualan dengan tujuan business promotion ialah suatu bentuk promosi yang bermaksud untuk memperoleh pelanggan baru, mempertahankan kontrak hubungan dengan pelanggan, memperkenalkan produk baru, menjual lebih banyak kepada pelanggan dan mendidik pelanggan. Ketujuh jenis subtindak tutur direktif yang terdapat dalam penelitian ini antara lain „menyarankan‟ yang berarti memberikan saran atau anjuran, „menyuruh‟ yang berarti memerintah supaya melakukan sesuatu , „meminta‟ yang berarti berkata-kata supaya mendapat sesuatu, „mengajak‟ yang berarti meminta (mempersilakan, menyuruh) supaya turut, „mempersilakan‟ yang berarti menyuruh, mengajak, mengundang dengan hormat, „memohon‟ yang berarti meminta dengan hormat dan „melarang‟ yang berarti memerintah supaya tidak melakukan sesuatu. Dari ketujuh jenis subtindak tutur yang paling banyak ditemukan dalam penelitian ini adalah jenis subtindak

(2)

commit to user

tutur direktif „menyarankan‟ dan „menyuruh‟ terutama dilakukan oleh pelanggan.

(2) Adapun prinsip kesantunan anatara sales “Roti Kecil” dengan pelanggan dalam promosi penjualan dalam penelitian ini dilatarbelakangi oleh berbagai maksud tindak tutur yang dituturkan. Dari berbagai maksud tindak tutur yang dituturkan baik sales maupun pelanggan tersebut menimbulkan adanya wujud pematuhan dan pelanggaran maksim-maksim prinsip kesantunan. Adapun maksim-maksim prinsip kesantunan antara lain: „maksim kearifan‟, „maksim kedermawanan‟, „maksim simpati‟, dan „maksim pertimbangan‟. Dilihat dari pematuhannya maksim yang paling banyak ditemukan adalah „maksim kearifan‟

dan „maksim kedermawanan‟. „Maksim kearifan‟ yang banyak dilakukan oleh pelanggan dimaksudkan untuk memaksimalkan keuntungan kepada sales sedangkan „maksim kedermawanan‟ yang bnyak dilakukan oleh sales dimaksudkan untuk memaksimalkan kerugian atau beban pada diri sendiri untuk pelanggan. Adapun jika dilihat dari pelanggaran prinsip kesantunan maka yang paling banyak ditemukan adalah „maksim kearifan‟ dan „maksim kesepakatan‟.

Pelanggaran „maksim kearifan‟ dan „maksim kesepakatan‟ terutama dilakukan oleh pelangan. Dari penerapan prinsip kesantunan baik yang pematuhan maupun pelanggaran dalam penelitian ini dilatarbelakangi adanya faktor yaitu „situasi tutur‟ dan „jarak sosial‟ yang meliputi: tingkat usia, tingkat kedudukan, dan tingkat keakraban antara sales dan pelanggan.

Eri Dwi Astuti (2012) dalam skripsinya yang berjudul “Tindak Tutur dan Kesopanan Berbahasa dalam Dialog Kesehatan di Radio Fm Surakarta (Sebuah Pendekatan Pragmatik)” menyimpulkan sebagai berikut. (1) Terdapat empat jenis

(3)

commit to user

tindak tutur ilokusi, yaitu tindak tutur asertif atau representatif, tindak tutur direktif, tindak tutur ekspresif, dan tindak tutur komisif. Tindak tutur asertif meliputi 6 subtindak tutur, yaitu melaporkan, menjelaskan, menyampaikan pendapat, meluruskan, menegaskan, dan menyetujui. Tindak tutur direktif yang meliputi tujuh subtindak tutur, yaitu berterima kasih, meminta maaf, mengeluh, dan memuji. Tindak tutur komisif yang meliputi dua subtindak tutur, yaitu berjanji dan menawarkan; (2) bentuk kesopanan berbahasa terjadi karena mematuhi maksim kesopanan Leech yang terdiri dari 5 maksim, yaitu maksim kearifan, maksim kedermawanan, maksim pujian, maksim kerendahan hati, dan maksim kesepakatan.

Hendry Ardhiansyam (2012) dalam skripsinya yang berjudul “Tindak Tutur dan Prinsip Kesopanan dalam Kolom Komentar Artikel Kompasiana”

memyimpulkan sebagai berikut. (1) Terdapat 5 jenis tindak tutur ilokusi dalam penelitian ini, yaitu tindak tutur asertif, tindak tutur direktif, tindak tutur ekspresif, tindak tutur komisif, dan tindak tutur rogatif. Tindak tutur asertif meliputi 4 subtindak tutur, yaitu memberitahukan, menyampaikan pendapat, menyetujui, dan meluruskan. Tindak tutur direktif meliputi 8 subtindak tutur, yaitu melarang, memohon, mengajak, menyarankan, menyuruh, menyilakan, meminta, dan meminta izin. Tindak tutur ekspresif meliputi 6 subtindak tutur, yaitu berterima kasih, memuji, mengecam, menyindir, meminta maaf dan meyelamati. Tindak tutur komisif yang meliputi 1 subtindak tutur, yaitu berjanji. Tindak tutur rogatif yang meliputi 2 subtindak tutur, yaitu mempertanyakan dan menanyakan; (2) Pelanggaran terhadap maksim kesopanan yang terdapat dalam kolom komentar

(4)

commit to user

artikel kompasiana terdiri dari 5 submaksim, yaitu maksim kearifan, makism kedermawanan, maksim pujian, maksim kerendahan hati, dan maksim kesepakatan.

Penjelasan di atas merupakan kajian studi terdahulu atau yang pernah ada mengenai kajian analisis pragmatik. Ketiga penelitian tersebut, membahas masalah tindak tutur dan kesantunan yang dilakukan dalam objek kajian penelitian tersebut. Berdasarkan analisis yang sama yaitu kajian pragmatik, penulis mencoba meneliti dengan studi lapangan yang berbeda dengan ketiga penelitian sebelumnya. Oleh sebab itu, dalam penelitian ini penulis melakukan penelitian pada tindak tutur dan prinsip kesantunan yang terdapat pada tuturan dalam transaksi jual beli online di facebook.

B. Landasan Teori 1. Pragmatik

Pragmatik merupakan bagian dari ilmu tanda sebenarnya telah dikemukakan sebelumnya oleh seorang filsuf bernama Charles Morris. Morris (dalam Levinson, 1983:1) mengartikan pragmatik sebagai "the study of relation of signs to interpreters" 'studi relasi antara tanda-tanda dengan para penafsirannya'. Tanda- tanda yang dimaksud adalah bahasa. Berawal dari pemikiran tersebut maka muncul dan berkembanglah pragmatik sebagai salah satu cabang dari linguistik.

Yule (1996: 3) mengartikan bahwa pragmatik adalah studi tentang makna yang disampaikan oleh penutur (penulis) dan ditafsirkan oleh pendengar (atau pembaca). Sebagai akibatnya studi ini lebih banyak berhubungan dengan analisis

(5)

commit to user

tentang apa yang dimaksudkan orang dengan tuturan-tuturannya daripada dengan makna terpisah dari kata atau frasa yang digunakan dalam tuturan itu sendiri.

Pragmatik merupakan cabang ilmu bahasa yang semakin dikenal pada masa sekarang ini walaupun pada kira-kira dua dasa warsa yang silam ilmu ini jarang atau hampir tidak pernah disebut para ahli linguis bahasa. Hal ini dilandasi oleh semakin sadarnya para linguis bahwa upaya menguak hakikat bahasa tidak akan membawa hasil yang diharapkan tanpa didasari pemahaman terhadap pragmatik, yakni bagaimana bahasa itu digunakan dalam komunikasi (Yule 1996: 4).

Dalam buku Prinsip-Prinsip Pragmatik (edisi terjemahan oleh M. D. D. Oka, 1993: 8), Leech mengatakan “pragmatik adalah studi tentang makna ujatan di dalam situasi-situasi ujar (speech stiuation)”. Leech melihat pragmatik sebagai bidang kajian dalam linguistik yang mempunyai kaitan dengan semantik.

Keterkaitan ini ia sebut semantisme, yaitu melihat pragmatik sebagai bagian dari semantik; pragmatisisme, yaitu melihat semantik sebagai bagian dari pragmatik;

dan komplementarisme, atau melihat semantik dan pragmatik sebagai dua bidang yang saling melengkapi.

2. Konteks Situasi Tutur

Pragmatik adalah studi bahasa yang mendasarkan pijakan analisisnya pada konteks. Konteks yang dimaksud adalah segala latar belakang pengetahuan yang dimiliki bersama oleh penutur dan mitra tutur serta yang menyertai dan mewadahi sebuah tuturan. I Dewa Putu Wijana, (1996:10) dalam mengkaji makna suatu tuturan ada beberapa aspek situasi yang harus diperhatikan, yaitu sebagai berikut.

(6)

commit to user a. Penutur dan Lawan Tutur

Konsep penutur dan lawan tutur mencakup penulis dan pembaca dikarenakan tuturan yang bersangkutan dikomunikasikan dengan media tulisan. Aspek- aspek yang berkaitan dengan penutur dan lawan tutur ini adalah usia, latar belakang sosial ekonomi, jenis kelamin.

b. Konteks Tuturan

Penelitian pragmatik selalu mempertimbangkan konteks suatu tuturan.

Leech (1993:20) mengartikan konteks sebagai suatu pengetahuan latar belakang yang dimiliki oleh penutur dan lawan tutur menafsirkan makna tuturan.

Konteks adalah semua latar belakang pengetahuan yang sama-sama dipahami oleh penutur dan lawan tutur. Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa konteks adalah semua latar belakang pengetahuan (back ground knowledge) yang dipahami bersama oleh penutur dan lawan tutur yang membantu lawan tutur menafsirkan makna tuturan (I Dewa Putu Wijana, 1996:11).

Alwi et al. (dalam Rustono, 1999:20) menuturkan bahwa konteks terdiri atas unsur-unsur seperti situasi, pembicara, pendengar, waktu, tempat, adegan, topik, peristiwa, bentuk amanat, kode, dan sarana. Di dalam peristiwa tutur ada sejumlah faktor yang menandai keberadaan persitiwa tutur. Hymes (Rustono, 1999:20) mengemukakan bahwa faktor-faktor yang menandai dalam peristiwa tutur adalah 1) setting atau scene yaitu tempat dan suasana peristiwa tutur; 2) participant, yaitu penutur, mitra tutur, atau pihak lain;

(7)

commit to user

3) end atau tujuan; 4) act yaitu tindakan yang dilakukan penutur di dalam peristiwa tutur; 5) key yaitu nada suara dan ragam bahasa yang digunakan di dalam mengekpresikan tuturan dan cara mengekspresikannya; 6) instrumen yaitu alat atau sarana untuk mengekspresikan tuturan, apakah secara lisan, tulis, melalui telepon atau bersemuka; 7) norm atau norma yaitu aturan permainan yang harus ditaati oleh setiap peserta tutur; dan 8) genre yaitu jenis kegiatan peristiwa wawancara, diskusi, kampanye, dan sebagainya; yang lazim dikenal dengan singkatan SPEAKING. Selanjutnya Hymes (dalam Rustono, 1999:21) mengemukakan bahwa "ciri-ciri konteks yang relevan meliputi delapan hal yaitu: Penutur, mitra tutur, topik tuturan, waktu dan tempat bertutur, saluran atau media, kode (dialek atau gaya), amanat atau pesan, peristiwa atau kejadian."

c. Tujuan sebuah tuturan

Istilah tujuan atau fungsi sering dianggap lebih berguna daripada makna yang dimaksud atau maksud penutur mengucapkan sesuatu. Istilah tujuan lebih netral daripada maksud, karena tidak membebani pemakainya dengan suatu kemauan atau motivasi yang sadar, sehingga dapat digunakan secara umum untuk kegiatan-kegiatan yang berorientasi tujuan. Dalam hubungan ini bentuk-bentuk tuturan yang bermacam-macam dapat digunakan untuk menyatakan maksud yang sama. Begitu sebaliknya berbagai macam maksud dapat pula diutarakan dengan tuturan yang sama.

d. Tujuan sebagai bentuk tindakan atau kegiatan: tindak ujar

Pragmatik selalu berhubungan dengan tindak verbal yang terjadi dalam

(8)

commit to user

situasi dan waktu tertentu sehingga tuturan merupakan suatu bentuk kesatuan yang lebih konkret dibanding dengan tata bahasa. Tuturan sebagai entitas yang konkret jelas penutur dan lawan tuturnya, serta waktu dan tempat pengutaraannya.

e. Tuturan sebagai produk tindak verbal

Selain sebagai tindak ujar atau tindak verbal, dalam pragmatik kata

„tuturan‟ dapat digunakan sebagai produk suatu tindak verbal (bukan tindak verbal itu sendiri. Tuturan yang digunakan di dalam rangka pragmatik merupakan bentuk dari tindak tutur. Oleh karenanya, tuturan yang dihasilkan merupakan bentuk dari tindak verbal (bukan tindak verbal itu sendiri) (I Dewa Putu Wijana, 1996:11).

3. Teori Tindak Tutur

Tindak tutur merupakan kajian terpenting dalam pragmatik. Mengujarkan sebuah tuturan tertentu dapat dipandang sebagai melakukan tindakan (mempengaruhi, menyuruh), di samping memang mengucapkan atau mengujarkan tuturan itu. Kegiatan melakukan tindakan mengujarkan tuturan itulah yang merupakan tindak tutur (dalam Rustono, 1999:31).

Menurut Yule, tindakan-tindakan yang ditampilkan lewat tuturan biasanya disebut tindak tutur (edisi terjemahan oleh Indah Fajar Wahyuni, 2006:82).

Sebuah ujaran tidak hanya memiliki makna eksplisit saja tetapi juga makna implisit. Makna implisit dapat diketahui dari tindakan yang dilakukan seseorang ketika ia berbicara (kemudian disebut dengan tindak tutur).

(9)

commit to user

Searle (1969) (dalam Muhammad Rohmadi, 2004:29) tindak tutur adalah produk atau hasil dari suatu kalimat dalam kondisi tertentu dan merupakan kesatuan terkecil dari komunikasi linguistik yang dapat berwujud pernyataan, pertanyaan, perintah atau yang lainnya. Searle mengatakan bahwa komunikasi bukan sekedar lambang, kata, atau kalimat, tetapi lebih tepat apabila disebut produk atau hasil dari lambang, kata, atau kalimat yang terwujud perilaku tindak tutur (the performance of speech acts).

Gunarwan (dalam Rustono 1999:33) menyatakan bahwa mengujarkan sebuah tuturan dapat dilihat sebagai melakukan tindakan (act), di samping memang mengucapkan (mengujarkan) tuturan itu. Aktivitas mengujarkan atau menuturkan tuturan dengan maksud tertentu itu merupakan tindak tutur atau tindak ujar (speech act).

1. Performatif dan Konstatif

Tuturan performatif (performative utterance); ujaran yang memperlihatkan bahwa suatu perbuatan telah diselesaikan pembicara dan bahwa dengan mengungkapkannya berarti perbuatan telah diselesaikan pada saat itu juga; misalnya: dalam ujaran Saya mengucapkan terima kasih, pembicara mengujarkannya dan sekaligus menyelesaikan perbuatan

“mengucapkan” itu. (Kridalaksana, 2008:252). Secara ringkas dikatakan pula bahwa tuturan performatif adalah tuturan untuk melakukan sesuatu (perform the action). Ujaran konstatif adalah ujaran yang dipergunakan untuk menggambarkan atau memerikan peristiwa, proses, keadaan, dsb, dan sifatnya betul atau tidak betul (Kridalaksana, 2008:252).

(10)

commit to user 2. Tindak Lokusi, Ilokusi, dan Perlokusi

Austin (dalam Leech, 1993: 316) dan Searle (dalam I Dewa Putu Wijana, 1996:17) mengemukakan bahwa secara pragmatik setidaknya ada tiga jenis tindakan yang dapat diwujudkan oleh seorang penutur, yakni tindak lokusi (melakukan tindakan mengatakan sesuatu), tindak ilokusi (melakukan tindakan dalam mengatakan sesuatu), dan tindak perlokusi (melakukan tindakan dengan mengatakan sesuatu).

a. Tindak Lokusi

Tindak lokusi adalah tindak tutur untuk menyatakan sesuatu.

Tindak tutur ini disebut sebagai The act of saying something. Kunjana Rahardi (2005:35) menyatakan bahwa tindak lokusioner adalah tindak tutur dengan kata, frasa, dan kalimat sesuai dengan makna yang dikandung oleh kata, frasa, dan kalimat itu.

Tindak lokusi untuk menyatakan sesuatu adalah tindak lokusi (Wijana 1996:17). Pernyataan tersebut sama dengan Rustono (1999:35) bahwa lokusi atau lengkapnya tindak lokusi merupakan tindak tutur yang dimaksudkan untuk menyatakan sesuatu. Di dalam tindak lokusi tidak mempermasalahkan maksud atau fungsi tutur. Pernyataan yang diajukan berkenaan dengan lokusi ini adalah apakah makna tuturan yang diucapkan itu. Lokusi semata-mata tindak tutur atau tindak bertutur, yaitu tindak mengucapkan sesuatu dengan kata-kata. Makna kata dalam tuturan lokusi itu sesuai dengan makna kata di dalam kamus.

Tindak lokusi adalah tindak tutur yang relatif paling mudah untuk

(11)

commit to user

diidentifikasi karena pengindentifikasianya cenderung dapat dilakukan tanpa menyertakan tindak lokusi sebenarnya tidak atau kurang begitu penting peranaannya untuk memahami tindak tutur (Parker dalam Wijana 1996:18).

b. Tindak Ilokusi

Austin mengatakan bahwa tindak ilokusi adalah tindak melakukan sesuatu (Rustono, 1999:35). Tindak ilokusi merupakan tindak tutur yang mengandung maksud dan fungsi atau daya tuturan (Rustono 1999:37).

Tindak ilokusi merupakan tindak tutur yang mengandung maksud dan fungsi atau daya tuturan. Tindak tutur ini sering disebut The act of doing something.

c. Tindak Perlokusi

Tindak perlokusi adalah tindak tutur yang pengutaraannya dimaksudkan untuk mempengaruhi lawan tuturnya. Tindak tutur perlokusi disebut sebagai The act of affecting someone. Tuturan yang diucapkan seorang penutur sering memiliki efek atau daya pengaruh (perlocutinary force). Efek yang dihasilkan dengan mengujarkan sesuatu itulah oleh Austin dinamakan tindak perlokusi (dalam Rustono, 1999:36). Efek atau daya tuturan itu dapat ditimbulkan oleh penutur secara sengaja, dapat pula secara tidak sengaja. Tindak tutur yang pengujarannya dimaksudkan untuk mempengaruhi mitra tutur inilah merupakan tindak perlokusi.

Ada beberapa verba yang menandai tindak perlokusi. Menurut Leech verba itu antara lain membujuk, menipu, mendorong, membuat jengkel, menakut-nakuti, menyenangkan, melegakan, mempermalukan, menarik

(12)

commit to user

perhatian, dan sebagainya (dalam Rustono, 1999:37).

Tindak perlokusi juga sulit dideteksi karena harus melibatkan konteks tuturannya. Jadi dapat ditegaskan bahwa setiap tuturan dari seorang penutur memungkinkan sekali mengandung lokusi saja, ilokusi saja, dan perlokusi saja, tetapi tidak menutup kemungkinan pula bahwa satu tuturan mengandung kedua atau tiga-tiganya sekaligus.

Austin (1962: 150-163) kemudian membagi lagi tindak tutur ilokusi menjadi lima kategori, yaitu:

a) Verdiktif (verdictivesnutterance)

Tindak tutur verdiktif dilambangkan dengan memberi keputusan, misalnya keputusan hakim, juri dan penegah atau wasit, perkiraan, dan penilaian. Verba tindak tutur verdiktif antara lain: menilai, menandai, memperhitungkan, menempatkan, menguraikan, dan menganalisis.

b) Eksersitif (exercitives utterance)

Tindak tutur eksersitif merupakan tindak tutur yang menyatakan perjanjian, nasihat, peringatan, dan sebagainya. Verba yang menandai antara lain: mewariskan, membujuk, menyatakan, membatalkan perintah (lampau), memperingatkan, dan menurunkan pangkat.

c) Komisif (commissives utterance)

Tindak tutur komisif dilambangkan dengan harapan atau dengan kata lain perjanjian, menjanjikan untuk melakukan sesuatu, tetapi juga termasuk pengumuman atau pemberitahuan, yang bukan janji. Verba

(13)

commit to user

yang menandai antara lain: berjanji, mengambil-alih atau tanggung jawab, mengajukan, menjamin, bersumpah, dan menyetujui.

d) Behatitif (behatitives utterance)

Tindak tutur behatitif merupakan perlakuan yang berhubungan dengan tingkah laku sosial karena seseorang mendapat keberuntungan atau kemalangan dan merupakan sikap serta ekspresi seseorang terhadap kebiasaan orang lain, misalnya: meminta maaf, berterima kasih, bersimpati, menantang, mengucapkan salam, dan mengucapkan selamat.

e) Ekspositif (expositives utterance)

Tindak tutur ekspositif merupakan tindak tutur yang memberi penjelasan, keterangan, atau perincian kepada seseorang, misalnya: menyangkal, menguraikan, menyebutkan, menginformasikan, dan bersaksi.

Searle dalam bukunya Act: An Essay in the Philoshopy of Language mengemukakan bahwa secara pragmatis ada tiga jenis tindakan yang dapat diwujudkan oleh seorang penutur (Muhammad Rohmadi, 2004: 30) yakni tindak lokusi, tindak ilokusi, dan tindak tutur perlokusi. Tindak tutur ilokusi digolongkan menjadi lima jenis oleh Searle, yaitu:

1) Tindak Tutur Asertif

Titik ilokusi asertif ialah untuk mengikat penuturnya kepada kebenaran proposisi atas hal yang dikatakannya yaitu menyatakan, melaporkan, memprediksi, menunjukkan dan menyebutkan.

2) Tindak Tutur Direktif

Titik ilokusi direktif ialah yang dilakukan penuturnya dengan

(14)

commit to user

maksud agar lawan tutur melakukan sesuatu, yaitu menyuruh, memohon menuntut, menyarankan, memerintah, dan meminta.

3) Tindak Tutur Ekspresif

Titik ilokusi ekspresif ialah dilakukan dengan maksud agar tuturannya diartikan sebagai evaluasi tentang hal yang disebutkan dalam tuturan untuk mengungkapkan sikap psikologis penutur terhadap suatu keadaan, yaitu memuji, mengucapkan terima kasih, mengkritik, dan mengeluh.

4) Tindak Tutur Komisif

Titik ilokusi komisif ialah untuk mengikat penuturnya pada suatu tindakan yang dilakukannya pada masa mendatang dan melaksanakan segala hal yang disebutkan dalam tuturan, yaitu berjanji, bersumpah, menawarkan, kesanggupan dan mengancam.

5) Tindak Tutur Deklarasi

Deklarasi didefinisikan sebagai jenis ilokusi yang bersifat khas, keberhasilan melakukan ilokusi akan menghubungkan antara isi proposisi dan realita di dunia. Penutur Deklarasi haruslah seseorang yang mempunyai kekuasaan atau wewenang khusus dalam sebuah institusi tertentu. Deklarasi ialah tindak tutur yang dilakukan penutur dengan maksud menciptakan hal (status, keadaan, dan sebagainya) yang baru yaitu memutuskan melarang, mengizinkan, mengangkat dan memberikan maaf. Menurut Leech (1993: 287) walaupun deklarasi merupakan tindak ujar yang menarik, jenis ini sama sekali tidak dapat mewakili

(15)

commit to user

tindak ujar yang khas. Alasan untuk mengatakan bahwa deklarasi bukan tindak ujar sama sekali, yaitu bahwa deklarasi adalah tindak konvensional, bukan tindak komunikatif.

Leech (dalam edisi terjemahan M. D.D. Oka, 1993: 327- 329) mengklasifikan tindak tutur menjadi enam macam, yaitu:

a) Asertif

Tuturan asertif adalah tindak tutur yang mengikat penutur pada kebenaran proposisi yang dituturkan, misalnya menceritakan, melaporkan, mengemukakan, menyatakan, mengumumkan dan mendesak.

b) Direktif

Tuturan direktif adalah tindak tutur yang dimaksudkan oleh penutur untuk membuat pengaruh agar mitra tutur melakukan sesuatu tindakan, misalnya memohon, meminta, memberi perintah, menutut, melarang.

c) Komisif

Tuturan komisif adalah tindak tutur yang menyatakan janji atau penawaran, misalnya menawarkan, menjanjikan, berkaul, bersumpah.

d) Ekspresif

Tuturan ekspresif adalah tindak tutur yang berfungsi untuk menunjukkan sikap psikologis penutur terhadap keadaan yang sedang dialami oleh mitra tutur, misalnya mengucapkan selamat, mengucapkan terimakasih, merasa ikut bersimpati, meminta maaf.

(16)

commit to user e) Deklaratif

Tuturan deklaratif adalah tindak tutur yang menghubungkan isi tuturan dengan kenyataannya, misalnya memecat, membabtis, menikahkan, mengangkat, menghukum, memutuskan.

f) Rogatif

Tuturan rogatif adalah tindak tutur yang dinyatakan oleh penutur untuk menanyakan jika bermotif langsung atau mempertanyakan jika bermotif ragu-ragu, misalnya menanyakan, mempertanyakan dan menyangsikan.

Fraser (dalam F.X. Nadar, 2009: 16-17) mengklasifikasikan tindak tutur menjadi delapan macam, yaitu:

1) Tindakan asertif (acts of asserting)

Ditandai dengan verba menuduh (accuse), mengakui (acknowledge), menyimpulkan (menyimpulkan), menganjurkan (advocate), menegaskan (affirm), memberitahu (announce), dan sebagainya.

2) Tindakan evaluasi (acts of evaluating)

Ditandai dengan verba mendesak (insist), menduga (judge), mengevaluasi (evaluate, memuji (cite), memilih (choose), menerka (diagnose), dan sebagainya.

3) Tindakan refleksi perilaku pembicara (act of reflecting speaker attitude) Tindakan ini ditandai dengan verba menyetujui (accept), memaafkan (apology, admonish (menegur), memuji (commend), mengeluh (complain) dan sebagainya.

(17)

commit to user 4) Tindakan penetapan (acts of stipulating)

Tindakan ini ditandai dengan verba menggolongkan (class), mengumumkan (declare), menegaskan atau menetapkan (define), dan sebagainya.

5) Tindakan permohonan (acts of requesting)

Tindakan ini ditandai dengan verba memohon (appeal), bertanya atau meminta (ask), mengundang (invite), melarang (restrict), dan lain sebagainya.

6) Tindakan menyarankan (acts of suggesring)

Tindakan ini ditandai dengan verba mengingatkan atau menegur (admonish), menasehati (advise),mengingatkan (coution),menganjurkan (suggest), dan lain sebagainya.

7) Tindakan dari penggunaan kekuasaan (ats of exercising authority)

Tindakan ini ditandai dengan verba membatalkan (abrogate), mendoakan (bless), membatalkan (cancel), memungkiri (disown), dan sebagainya.

8) Tindakan komisif (acts of committing)

Tindakan ini ditandai dengan verba meyakini (assure), mengusulkan (offer), berjanji (promise), bersumpah (swear), dan lain sebagainya.

Kreidler (1998:183-194) mengklasifikasikan tindak tutur menjadi tujuh macam, yaitu:

1. Asertif

Kreidler (1998: 183) menyatakan bawa pada tindak tutur asertif,

(18)

commit to user

para penutur dan penulis memakai bahasa untuk menyatakan bahwa mereka mengetahui atau mempercayai sesuatu. Bahasa asertif berkaitan dengan fakta. Tujuannya adalah memberi informasi mengenai sesuatu yang berupa fakta. Tindak tutur ini dengan pengetahuan, data, apa yang ada atau diadakan, atau telah terjadi atau tidak terjadi. Dengan demikian, tindak tutur asertif bisa benar dan bisa salah dan biasanya dapat diverifikasikan atau disalahkan.

Tindak tutur asertif dibagi menjadi dua, yaitu tindak tutur asertif langsung dan tak langsung. Tindak tutur asertif langsung diawali dengan kata saya atau kami diikuti dengan verba asertif. Sedangkan tindak tutur asertif tak langsung juga diikuti dengan verba asertif asertif yang merupakan tuturan yang dituturkan kembali oleh penutur. Verba asertif meliputi mengatakan, mengumumkan, menjelaskan, menunjukkan, menyebutkan, melaporkan, dan sebagainya.

2. Performatif

Tindak tutur performatif merupakan tindak tutur yang menyebabkan resminya apa yang dinamakan (memberi nama). Tuturan performatif menjadi sah jika dinyatakan oleh seorang yang berwenang dan dapat diterima. Verba performatif antara lain bertaruh, mendeklarasikan, membabtis, menamakan, menominasikan, menjatuhkan hukuman, menyatakan, mengumumkan. Biasanya ada pembatasan- pembatasan terhadap tindak tutur performatif, yaitu antara lain:

(1) Subjek kalimat harus saya atau kami

(19)

commit to user

(2) Verbanya harus dalam bentuk kala kini (dalam bahasa inggris menggunakan V-ing). Dalam bahasa Indonesia menggunakan keterangan waktu yang terjadi sekarang.

(3) Yang paling penting adalah penutur harus diketahui memiliki otoritas untuk membuat pernyataan dan situasinya harus cocok.

Tindak tutur performatif terjadi pada situasi formal dan berkaitan dengan kegiatan-kegiatan resmi.

3. Verdiktif

Tindak tutur verdiktif merupakan tindak tutur di mana penutur membuat penilaian atas tindakan orang lain, biasanya mitra tindak tutur.

Penilaian-penilaian ini termasuk merangking, menilai, memuji, dan memaafkan. Adapun yang termasuk verba verdiktif adalah menuduh, bertanggung jawab, dan berterimakasih. Verba-verba ini berada pada kerangka ” Saya… Anda, atas…. “ karena tindak tutur ini menampilkan penilaian penutur atas perbuatan penutur sebelumnya, maka tindak tutur ini bersifat retrospektif.

4. Ekspresif

Tindak tutur performatif merupakan tindak tutur pertuturan bermula dari kegiatan sebelumnya atau kegagalan penutur, atau mungkin akibat yang ditimbulkan atau kegagalan penutur, atau mungkin akibat yang ditimbulkan atau kegagalannya. Maka dari itu tindak tutur ekspresif bersifat retrospektif dan melibatkan penutur. Verba–verba tindak tutur ekspresif antara lain mengakui, bersimpati, memaafkan, dan sebagainya.

(20)

commit to user 5. Direktif

Tindak tutur direktif merupakan tindak tutur di mana penutur berusaha meminta mitra tutur untuk melakukan perbuatan atau tindak melakukan perbuatan. Tindak tutur direktif menggunakan pronominal you sebagai pelaku, baik hadir secara eksplisit maupun tidak. Ada tiga macam tindak tutur direktif yaitu perintah, permintaan dan anjuran.

6. Komisif

Tindak tutur komisif merupakan tindak tutur yang menyebabkan penutur melakukan kegiatan. Verba tindak tutur komisif antara lain menyetujui, bertanya, menawarkan, menolak, berjanji, bersumpah, dan sebagainya. Verba tersebut bersifat prospektif dan berkaitan dengan komitmen penutur terhadap perbuatan dimasa akan datang. Predikat komisif adalah predikat yang dapat digunakan untuk menjalankan seseorang (menolak menjalankan seseorang) terhadap perbuatan masa akan datang. Subjek kalimat sebagian besar adalah saya dan kami. Lebih lanjut verbanya harus dalam bentuk kala ini dan ada mitra tutur.

7. Fatis

Tindak tutur fatis bertujuan menciptakan hubungan antara penutur dan mitra tutur. Tindak tutur fatis memiliki fungsi yang kurang jelas jika dibandingkan dengan enam jenis tindak tutur sebelumnya, namun bukan berarti bahwa tindak tutur fatis ini tidak penting. Tuturan-tuturan fatis ini temasuk ucapan salam, ucapan salam berpisah, cara-cara yang sopan seperti thank you, you are welcome, excuse me yang tidak berfungsi

(21)

commit to user verdiktif atau ekspresif.

4. Tindak Tutur Langsung dan Tidak Langsung

Searle (dalam Wijana, 1996:30) menyatakan bahwa secara formal, berdasarkan modusnya, kalimat dibedakan menjadi kalimat berita (deklaratif), kalimat tanya (interogatif), dan kalimat perintah (imperatif). Secara konvensional kalimat berita digunakan untuk memberitakan sesuatu, dan kalimat perintah untuk menyatakan perintah, ajakan, permintaan atau permohonan. Bila kalimat berita difungsikan secara konvensional untuk mengatakan sesuatu, kalimat tanya untuk bertanya, dan kalimat perintah untuk menyuruh, mengajak, memohon dsb, tindak tutur terbentuk adalah tindak tutur langsung (direct speech act).

Secara formal, berdasarkan modusnya, kalimat dibedakan menjadi kalimat berita (deklaratif), kalimat tanya (interogatif), dan kalimat perintah (imperatif).

Secara konvensional kalimat berita digunakan untuk memberitakan sesuatu (informasi), kalimat tanya untuk menanyakan sesuatu, dan kalimat perintah untuk menyatakan perintah, ajakan, permintaan, atau permohonan. Bila kalimat berita difungsikan secara konvensional untuk mengatakan sesuatu, kalimat tanya untuk bertanya, dan kalimat perintah untuk menyuruh, mengajak, memohon dsb., tindak tutur yang terbentuk adalah tindak tutur langsung (direct speech act), seperti contoh kalimat berikut.

(a) Andi memiliki lima ekor kambing.

(b) Di manakah letak pulau bali?

(c) Ambilkan baju saya!

(22)

commit to user

Selain contoh di atas untuk berbicara secara sopan, perintah dapat diutarakan dengan kalimat berita atau kalimat tanya agar orang yang diperintah tidak merasa dirinya diperintah. Bila hal ini terjadi, terbentuklah tindak tutur tidak langsung (indirect speech act). Dapat dilihat contoh kalimatnya sebagai berikut.

(d) Ada makanan di almari (e) Di mana sapunya?

Kalimat (d), bila diucapkan kepada seseorang teman yang membutuhkan makanan, dimaksudkan untuk memerintah lawan tuturnya mengambil makanan yang ada di almari yang dimaksud, bukan sekedar untuk menginformasikan bahwa di almari ada makanan. Tuturan (e) bila diutarakan oleh seorang ibu kepada seorang anak, tidak semata-mata berfungsi untuk menanyakan di mana letak sapu itu, tetapi juga secara tidak langsung memerintah sang anak untuk mengambil sapu itu. Contoh kalimat berikut.

(f) + Don, perutku kok lapar, ya - Ada makanan di almari

+ Baik kuambil semua, ya?

(g) Ibu : Di mana sapunya, ya?

Anak: Sebentar, bu, akan saya ambilkan.

(I Dewa Putu Wijana, 1996:31)

Tindakan (-) dalam (f) dan (g), karena ia mengetahui bahwa tuturan yang diutarakan oleh lawan tuturnya bukanlah sekedar menginformasikan sesuatu, tetapi menyuruh orang yang diajak bicara. Tuturan yang diutarakan secara tidak langsung biasanya tidak dapat dijawab secara langsung, tetapi segera dilaksanakan

(23)

commit to user maksud yang terimplikasi di dalamnya.

5. Tindak Tutur Literal dan Tindak Tutur Tidak Literal

I Dewa Putu Wijana (1996:32) mengatakan bahwa tindak tutur literal (literal speech act) adalah tindak tutur yang maksudnya sama dengan makna kata- kata yang menyusunnya, sedangkan tindak tutur tidak literal (nonliteral speech act) adalah tindak tutur yang maksudnya tidak sama dengan atau berlawanan dengan makna kata-kata yang menyusunnya.

Tindak tutur langsung dan tidak langsung apabila disinggungkan (diinterseksikan) dengan tindak tutur literal dan tindak tutur tidak literal, akan didapatkan tindak tutur-tindak tutur berikut ini:

a) Tindak tutur langsung literal

Tindak tutur langsung literal (direct literal speech act) adalah tindak tutur yang diutarakan dengan modus tuturan dan makna yang sama dengan maksud pengutaraannya. Maksud memerintah disampaikan dengan kalimat perintah, memberitakan dengan kalimat berita, menanyakan sesuatu dengan kalimat tanya.

b) Tindak tutur tidak langsung literal

Tindak tutur tidak langsung literal (indirect literal speech act) adalah tindak tutur yang diungkapkan dengan modus kalimat yang tidak sesuai dengan maksud pengutaraannya, tetapi makna kata-kata yang menyusunnya sesuai dengan apa yang dimaksudkan penutur. Dalam tindak tutur ini maksud memerintah diutarakan dengan kalimat berita

(24)

commit to user atau kalimat tanya.

c) Tindak tutur langsung tidak literal

Tindak tutur langsung tidak loteral (direct nonliteral speech act) adalah tindak tutur yang diutarakan dengan modus kalimat yang sesuai dengan maksud tuturan, tetapi kata-kata yang menyusunnya tidak memliki makna yang sama dengan maksud penuturnya. Maksud memerintah diungkapkan dengan kalimat perintah, dan maksud menginformasikan dengan kalimat berita.

d) Tindak tutur tidak langsung tidak literal

Tindak tutur tidak langsung tidak literal (indirect nonliteral speech act) adalah tindak tutur yang diutarakan dengan modus kalimat yang tidak sesuai dengan maksud yang hendak diutarakan.

6. Prinsip Kesantunan

a. Maksim Kesantunan Leech

Kesantunan dianggap sebagai sebuah strategi yang digunakan oleh pembicara untuk dapat mencapai tujuan yang diinginkan. Dengan kata lain, penggunaan bentuk bahasa tertentu secara kontekstual untuk mencapai tujuan si pembicara. Konsep kesantunan ini kemudian berkembang menjadi teori kesantunan bahasa. Teori ini dikembangkan oleh Leech yang memperkenalkan sejumlah maksim yang memiliki kesamaan dengan prinsip-prinsip kerjasama (Cooperative principle) yang dikemukakan oleh Grice. Sejumlah maksim ini disebut Principle Politeness (Prinsip Sopan Santun). Prinsip kesantunan ini

(25)

commit to user

digolongkan dalam enam maksim. Maksim merupakan kaidah kebahasaan di dalam interaksi lingual; kaidah-kaidah yang mengatur tindakannya, penggunaan bahasanya, dan interpretasi-interpretasinya terhadap tindakan dan ucapan lawan tuturnya. Selain itu maksim juga disebut sebagai bentuk pragmatik berdasarkan prinsip kerja sama dan prinsip kesantunan. Maksim- maksim tersebut menganjurkan agar kita mengungkapkan keyakinan- keyakinan dengan sopan dan menghindari ujaran yang tidak sopan. Maksim- maksim ini dimasukkan ke dalam kategori prinsip kesantunan. Maksim- maksim yang dikemukakan oleh Leech adalah sebagai berikut:

1. Maksim Kearifan (Tact Maxim) (dalam ilokusi impositif dan komisif) (a) Buatlah kerugian orang lain sekecil mungkin

(b) Buatlah keuntungan orang lain sebesar mungkin (Leech edisi terjemahan oleh M.D.D. Oka, 1993: 206).

Gagasan dasar maksim kebijaksanaan dalam prinsip kesantunan adalah bahwa para peserta pertuturan hendaknya berpegang pada prinsip untuk selalu mengurangi keuntungan bagi dirinya sendiri dan memaksimalkan keuntungan pihak lain dalam kegiatan bertutur. Orang bertutur yang berpegang dan melaksanakan maksim kebijaksanaan akan dapat dikatakan sebagai orang santun. Apabila di dalam bertutur orang berpegang teguh pada maksim kebijaksanaan, ia akan dapat menghindarkan sikap dengaki, iri hati, dan sikap-sikap lain yang kurang santun terhadap mitra tutur. Rasa sakit hati dalam sebuah pertuturan juga dapat diminimalisir dengan maksim ini. Contoh pelaksanaan maksim

(26)

commit to user kearifan:

A: Silakan makan saja dulu, Nak! Kami semua sudah makan tadi.

B: Wah, saya jadi tidak enak, Bu.

Di dalam tuturan di atas tampak sangat jelas bahwa apa yang dituturkan A sungguh memaksimalkan keuntungan dan meminimalkan kerugian bagi B. Tuturan A pada contoh tersebut memenuhi prinsip kesopanan karena memenuhi nasihat maksim kearifan.

2. Maksim Kedermawanan (Generosity Maxim) (ilokusi-ilokusi impositif dan komisif)

(a) Buatlah keuntungan diri sendiri sekecil mungkin (b) Buatlah kerugian diri sendiri sebesar mungkin (Leech edisi terjemahan oleh M.D.D. Oka, 1993: 206).

Jika setiap orang melaksanakan inti pokok maksim kedermawanan dalam ucapan dan perbuatan dalam pergaulan sehari-hari, maka kedengkian, iri hati, sakit hati antara sesama dapat terhindar. Dengan maksim kedermawanan atau maksim kemurahan hati, para peserta pertuturan diharapkan dapat menghormati orang lain. Penghormatan terhadap orang lain akan terjadi apabila orang dapat mengurangi keuntungan bagi dirinya sendiri dan memaksimalkan keuntungan bagi pihak lain. Contoh pelaksanaan maksim kedermawanan:

A: Mari saya cucikan baju kotormu! Pakaianku tidak banyak, kok, yang kotor.

B: Tidak usah, Mbak. Nanti siang saya akan mencuci juga.

(27)

commit to user (Kunjana Rahardi, 2005: 61)

Dari tuturan yang disampaikan oleh A dapat diketahui dengan jelas bahwa A berusaha memaksimalkan keuntungan pihak lain (B) dengan cara menambahkan beban bagi dirinya sendiri. Hal itu dilakukan dengan cara menawarkan bantuan untuk mencucikan pakaian kotor B. Tuturan A pada contoh tersebut memenuhi nasihat maksim kedermawanan.

3. Maksim Pujian (Approbation Maxim) (dalam ilokusi-ilokusi ekspresif dan asertif)

(a) Kecamlah orang lain sesedikit mungkin (b) Pujilah oranglain sebanyak mungkin

(Leech edisi terjemahan oleh M.D.D. Oka, 1993: 207).

Di dalam maksim pujian dijelaskan bahwa orang akan dapat dianggap santun apabila dalam bertutur selalu berusaha memberikan penghargaan kepada pihak lain. Dengan maksim ini, diharapkan agar para perserta pertuturan tidak saling mengejek, saling mencaci, atau saling merendahkan pihak lain. Perserta tutur yang sering mengejek peserta tutur lain di dalam kegiatan bertutur akan dikatakan sebagai orang yang tidak sopan. Dikatakan demikian karena tindakan mengejek merupakan tidakan tidak menghargai orang lain. Karena merupakan perbuatan tidak baik, perbuatan itu harus dihindari dalam pergaulan sesungguhnya. Contoh pelaksanaan maksim pujian:

A: Selamat datang di gubuk saya.

B: Terima kasih, baru kali ini saya mengunjungi rumah seindah ini.

(28)

commit to user

Tuturan B pada contoh diatas memenuhi maksim pujian karena penutur meminimalkan kecaman dan memaksimalkan pujian terhadap pihak lain (A).

4. Maksim Kerendahan Hati (Modesty Maxim) (dalam ilokusi-ilokusi ekspresif dan asertif)

(a) Pujilah diri sendiri sesedikit mungkin (b) Kecamlah diri sendiri sebanyak mungkin

(Leech edisi terjemahan oleh M.D.D. Oka, 1993: 207).

Dalam maksim kerendahan hati, peserta tutur diharapkan dapat bersikap rendah hati dengan cara mengurangi pujian terhadap dirinya sendiri. Orang akan dikatakan sombong dan congkak hati apabila di dalam kegiatan bertutur selalu memuji dan mengunggulkan dirinya sendiri.

Dalam masyarakat bahasa dan budaya Indonesia, keserderhanaan dan kerendahan hati banyak digunakan sebagai paremeter penilaian kesantunan seseorang. Contoh pelaksanaan maksim kerendahan hati:

A: Mobilmu bagus sekali, pasti harganya mahal.

B: Ah, tidak juga, ini hanya mobil biasa.

Tuturan di atas mematuhi maksim kerendahan hati karena B telah memaksimalkan kecaman terhadap dirinya sendiri dan juga meminimalkan pujian untuk dirinya.

5. Maksim Kesepakatan (Agreement Maxim) (dalam ilokusi asertif)

(a) Usahakan agar ketaksepakatan antara diri dan lain terjadi sesedikit mungkin

(29)

commit to user

(b) Usahakan agar kesepakatan antara diri dan lain terjadi sebanyak mungkin

(Leech edisi terjemahan oleh M.D.D. Oka, 1993: 207)

Maksim kesepakatan atau permufakatan seringkali disebut dengan maksim kecocokan (Wijana, 1996: 59). Di dalam maksim ini, ditekankan agar para peserta tutur dapat saling membina kecocokan atau kemufakatan di dalam kegiatan bertutur. Apabila terdapat kemufakatan atau kecocokan antara diri penutur dan mitra tutur dalam kegiatan bertutur, masing-masing dari mereka akan dapat dikatakan bersikap santun. Contoh pelaksanaan maksim kesepakatan:

1) A: Bagaimana kalau sehabis kuliah kita mendiskusikan tugas pragmatik?

B: Baiklah.

2) A: Bagaimana kalau sehabis kuliah kita mendiskusikan tugas pragmatik?

B: Saya sangat setuju.

Tuturan (1) B dan (2) B merupakan tuturan yang meminimalkan ketidaksepakatan dan memaksimalkan kesepakatan antara diri sendiri sebagai penutur dengan pihak lain sebagi mitra tutur. Dibandingkan dengan tuturan (1) B, tuturan (2) B lebih memaksimalkan kesepakatan.

Karena itu derajat kesopanannya lebih tinggi tuturan (2) B daripada tuturan (1) B.

6. Maksim Simpati (Sympathy Maxim) (dalam ilokusi asertif)

(30)

commit to user

(a) Kurangi rasa antipasti antara diri dengan lain hingga sekecil mungkin (b) Tingkatkan rasa simpati sebanyak-banyaknya antara diri dan lain (Leech edisi terjemahan oleh M.D.D. Oka, 1993: 207)

Di dalam maksim simpati, diharapkan agar para peserta tutur dapat memaksimalkan sikap simpati antara pihak yang satu dengan pihak lainnya. Sikap antipasti terhadap salah seorang peserta tutur akan dianggap sebagai tindakan tidak santun. Masyarakat tutur Indonesia, sangat menjunjung tinggi rasa kesimpatisan terhadap orang lain ini di dalam komunikasi kesehariaanya. Orang yang bersikap antipasi terhadap orang lain, apalagi sampai bersikap sinis terhadap pihak lain, akan dianggap sebagai orang yang tidak tahu sopan santun di dalam masyarakat. Contoh pelaksanaan maksim simpati:

1) A: Paman saya sedang sakit.

B: Itu bukan urusan saya.

2) A: Paman saya sedang sakit.

B: Semoga pamanmu cepat sembuh.

Tuturan (1) memiliki bagian yang melanggar prinsip kesopanan. B melakukan pelanggaran terhadap prinsip kesopanan yaitu maksim simpati. B tidak bersimpati dengan apa yang tengah terjadi pada A sebaliknya tuturan (2) dirasa mematuhi prinsip kesopanan, sebab tuturan B mengurangi rasa antipati antara diri dan meningkatkan rasa simpati sebanyak-banyaknya kepada A.

(31)

commit to user b. Skala Kesantunan Leech

Leech (1983) menentukan peringkat kesantunan sebuah tuturan dengan memanfaatkan setiap maksim interpersonal. Kelima macam skala pengukur kesantunan Leech dijelaskan sebagai berikut.

1) Cost- benefit scale atau skala kerugian dan keuntungan, menunjuk kepada besar kecilnya kerugian dan keuntungan yang diakibatkan oleh sebuah tindak tutur pada sebuah pertuturan. Semakin tuturan tersebut merugikan diri penutur, akan semakin dianggap santunlah tuturan itu. Demikian sebaliknya, semakin tuturan itu menguntungkan diri penutur, tuturan tersebut akan dianggap tidak santun.

2) 0ptionality scale atau skala pilihan, menunjuk pada banyak atau sedikitnya pilihan (options) yang disampaikan si penutur kepada si mitra tutur di dalam kegiatan bertutur. Semakin pertuturan itu memungkinkan penutur atau mitra tutur menentukan pilihan yang banyak dan leluasa, akan dianggap makin santunlah tuturan itu. Sebaliknya, apabila pertuturan itu sama sekali tidak memberikan kemungkinan memilih bagi si penutur dan si mitra tutur, tuturan tersebut akan dianggap tidak santun.

3) Indirectness scale atau skala ketidaklangsungan menunjuk kepada peringkat langsung atau tidak langsungnya maksud sebuah tuturan.

Semakin tuturan itu bersifat langsung akan dianggap semakin tidak santunlah tuturan itu. Demikian sebaliknya, semakin tidak langsung maksud sebuah tuturan, akan dianggap semakin santunlah tuturan itu.

(32)

commit to user

4) Authority scale atau skala keotoritasan menunjuk kepada hubungan status sosial antara penutur dan mitra tutur yang terlibat dalam pertuturan.

Semakin jauh jarak peringkat sosial (rank rating) antara penutur dan mitra tutur, tuturan yang digunakan akan cenderung menjadi semakin santun. Sebaliknya, semakin dekat jarak status sosial diantara keduanya, akan cenderung berkuranglah peringkat kesantunan tuturan yang digunakan dalam bertutur itu.

5) Social distance scale atau skala jarak sosial menunjuk kepada peringkat hubungan sosial antara penutur dan mitra tutur yang terlibat dalam sebuah pertuturan. Ada kecenderungan bahwa semakin dekat jarak peringkat sosial di antara keduanya, akan menjadi semakin kurang santunlah tuturan itu. Sebaliknya, semakin jauh jarak peringkat sosial antara penutur dengan mitra tutur, akan semakin santunlah tuturan yang digunakan itu. Dengan perkataan lain, tingkat keakraban hubungan antara penutur dengan mitra tutur sangat menentukan peringkat kesantunan tuturan yang digunakan dalam bertutur.

7. Implikatur

Gazdar (1979) dalam bukunya ”Pragmatics: Implicature, Presupposition and Logical Form” mencoba merumusi kembali urutan bidal prinsip kerjasama Grice (1967) sebagai timbulnya implikatur. Implikatur adalah proposisi yang terimplikasi dalam suatu ujaran, meskipun, preposisi tersebut tidaklah merupakan bagian ataupun perikutan dari apa yang dikatakan. Grice dalam Gazdar (1979:49)

(33)

commit to user

membagi implikatur dalam dua jenis yaitu conventional (konvensional) dan conversational (percakapan). Implikatur konvensional adalah implikatur yang bersifat umum, sehingga maksud atau pengertian mengenai suatu hal tertentu berdasarkan konvensi yang telah ada. Implikatur percakapan adalah implikasi pragmatik yang terdapat di dalam percakapan yang timbul sebagai akibat terjadinya pelanggaran prinsip percakapan. Sejalan dengan batasan tentang implikasi pragmatik, implikatur percakapan itu adalah proposisi atau “pernyataan”

implikatif, yaitu apa yang mungkin diartikan, disiratkan atau dimaksudkan oleh penutur, yang berbeda dari apa yang sebenarnya dikatakan oleh penutur di dalam suatu percakapan.

Implikatur merupakan salah satu kejadian di bidang pragmatik. "Implikatur adalah proposisi yang diimplikasikan dalam tuturan yang bukan merupakan bagian dari tuturan bersangkutan, proposisi yang implikasikan itu disebut implikatur (implicature)" (Grice dalam I Dewa Putu Wijana, 1996:37-38).

Implikatur percakapan terjadi karena adanya kenyataan bahwa sebuah ujaran yang mempunyai implikasi berupa proposisi yang sebenarnya bukan bagian dari tuturan itu (Gunarwan 1994:52 dalam Rustono 1999:77). Implikatur percakapan yang merupakan hasil interferensi dari adanya tuturan yang melanggar prinsip percakapan menjadi dasar pentingnya pembahasan kedua substansi itu. Hal itu disebabkan karena implikatur percakapan timbul sebagai akibat terjadinya pelanggaran prinsip percakapan. Dengan kata lain, sumber dari implikatur percakapan adalah pelanggaran prinsip percakapan (Rustono, 1999:82).

(34)

commit to user

Levinson, menyatakan bahwa implikatur merupakan salah satu gagasan atau pemikiran terpenting dalam pragmatik. Adapun salah satu alasan penting yang diberikan oleh Levinson ialah bahwa implikatur memberikan penjelasan eksplisit tentang cara bagaimana dapat mengimplikasikan lebih banyak dari apa yang dituturkan (Nadar, 2009:61)

8. Facebook

Facebook adalah sebuah layanan jejaring sosial yang diluncurkan pada bulan Februari 2004, dimiliki dan dioperasikan oleh facebook. Pada September 2012, facebook memiliki lebih dari satu miliar pengguna aktif, lebih dari separuhnya menggunakan telepon genggam. Pengguna harus mendaftar sebelum dapat menggunakan situs ini. Facebook didirikan oleh Mark Zuckerberg bersama teman sekamarnya dan sesama mahasiswa Universitas Harvard, Eduardo Saverin, Andrew McCollum, Dustin Moskovitzdan Chris Hughes.

Pengguna facebook dapat membuat profil dilengkapi foto, daftar ketertarikan pribadi, informasi kontak, dan informasi pribadi lain. Pengguna dapat berkomunikasi dengan teman dan pengguna lain melalui pesan pribadi atau umum dan fitur obrolan. Untuk mencegah keluhan tentang privasi, facebook mengizinkan pengguna mengatur privasi mereka dan memilih siapa saja yang dapat melihat bagian-bagian tertentu dari profil mereka. Facebook memiliki sejumlah fitur yang dapat berinteraksi dengan pengguna. Salah satu aplikasi paling populer di facebook adalah foto, tempat pengguna dapat mengunggah album dan foto.

(35)

commit to user

Pengaturan privasi dapat diatur untuk album individu yang membatasi kelompok pengguna yang dapat melihatnya. Misalnya, privasi suatu album diatur sedemikian rupa sehingga hanya teman pengguna yang bisa melihatnya, sementara privasi album lain diatur sehingga semua pengguna facebook bisa melihatnya. Fitur lain dari aplikasi foto adalah kemampuannya untuk "tag", atau menandai pengguna di sebuah foto. Misalnya, jika sebuah foto berisi seorang teman pengguna, maka pengguna dapat menandai temannya di foto tersebut.

Tindakan tersebut mengirimkan pemberitahuan kepada teman yang ditandai dan memberikan mereka tautan untuk melihat foto tersebut. Pengguna facebook menjadikan akun mereka sebagai toko online, yaitu dengan memanfaatkan aplikasi foto yang bisa menandai pengguna facebook lainnya, sehingga dengan aplikasi tersebut mereka bisa menjual barang dangannya dengan cara meng- upload foto-foto barang yang mereka jual di facebook.

9. Online Shop

Perkembangan teknologi ini membawa banyak perubahan dalam gaya hidup masyarakat, misalnya yang paling terlihat adalah pada gadget dan kecenderungan beraktivitas di dunia maya. Melalui internet, kita banyak mengenal berbagai hal, mulai dari jejaring sosial, aplikasi, berita, video, foto hingga berbelanja melalui internet. Istilah tempat berbelanja melalui internet disebut juga sebagai toko online (online shop). Di situs online shop ini, kita bisa melakukan transaksi pembelian barang yang tersedia, mulai dari handphone, baju, kosmetik, sepatu, sepeda, hingga laptop dan sebagainya. Online shop membuat semakin mudah

(36)

commit to user

berbelanja tanpa menghabiskan waktu dan tenaga, sehingga dianggap lebih mudah dan praktis.

Perdagangan melalui sistem elekronik mulai dilakukan pada tahun 1994.

Kegiatan ini bermula semenjak digunakannya banner di halaman-halaman website. Tak lama kemudian, sekitar tahun 2000, kegiatan promosi dan penjualan seperti ini memperlihatkan hasil yang luar biasa. Sejak itulah, akhirnya banyak juga pihak yang ikut melakukan bisnis di media online. Trend online shop di tahun 2012 tampaknya semakin meningkat, mungkin karena lebih praktis dan lebih nyaman. Pembayaran dalam online shop dilakukan dengan sistem pembayaran yang telah ditentukan dan barang akan dikirimkan melalui jasa pengiriman barang. Karena kemudahan inilah membuat online shop semakin diminati.

Biasanya yang menyukai online shop adalah para remaja penggemar gadget atau yang gemar shopping yang malas untuk mencari barang tersebut ataupun orang dewasa yang sibuk dan tidak memiliki waktu untuk mencari barang yang mereka cari. Faktor kesibukan aktivitas kita dan kepraktisan yang ditawarkan oleh online shop membuat sistem belanja online mulai diminati.

Kendala bagi sistem jual beli online di online shop di Indonesia adalah kurang percayanya calon pembeli terhadap situs online shop karena maraknya penipuan di beberapa situs online shop tertentu. Walaupun hanya beberapa situs online shop yang telah melakukan penipuan terhadap pembelinya, namun dampaknya ke semua situs online shop. Akibat dari perbuatan mereka yang telah melakukan penipuan, maka banyak menimbulkan kewaspadaan dan jadi kurang

(37)

commit to user

dipercaya oleh calon pembeli. Bahkan beberapa orang tidak mau belanja di online shop setelah maraknya penipuan yang terjadi. Jika kita ingin belanja secara online di online shop sebaiknya, kita terlebih dahulu mencari informasi secara detail mengenai online shop tersebut karena maraknya penipuan di online shop.

(http://ekonomi.kompasiana.com/bisnis/perkembangan-online-shop-433430.html) Ada beberapa istilah dalam online shop yaitu :

a. Booked No Cancel, artinya calon pembeli dilarang membatalkan (cancel) barang yang sudah dipesan (booked).

b. PO (pre-order), artinya barang yang dipesan belum ada di online shop-nya atau barangnya belum sampai tapi sudah dibuka untuk pemesanan. Biasanya barang PO ini barang import atau barang luar kota.

c. WL (waiting list), istilah calon pembeli yang sudah booked dan masih belum pasti mengenai pembayarannya, jadi masih ada kesempatan untuk orang lain membelinya jika orang yang sudah booked tersebut tidak jadi membeli.

d. Open order, berarti penjual sudah membuat album khusus yang akan dijual dan kita bebas melihat-lihat dan menentukan mana yang akan kita beli, setelah itu pemilik online shop akan menanggapi pesanan kita.

e. Avail (available), artinya barang yang masih tersedia dan bisa dipesan.

f. Sold Out (terjual), artinya barang tersebut sudah terjual, stoknya sudah habis.

g. Restock, artinya stok ulang, jadi barang yang sudah sold out di restock lagi.

h. COD (Cash On Delivery) adalah barang yang dipesan diantar dan pembeli membayar di tempat pada saat menerima barang (pembeli dan penjual bertemu langsung untuk melakukan transaksi).

(38)

commit to user

i. No hit and run, istilah untuk calon pembeli yang sudah booked dan menjanjikan akan kirim transfer via bank pada tanggal dan jam yang sudah dijanjikan tapi calon pembeli itu tak kunjung memberi kabar sampai lebih dari 24jam.

C. Kerangka Pikir

Kerangka pikir adalah sebuah cara kerja yang dilakukan oleh penulis untuk menyelesaikan permasalahan yang akan diteliti. Kerangka pikir yang berhubungan dengan penelitian ini secara garis besar besar tergambar bagan berikut ini.

(39)

commit to user

SUMBER DATA LAMAN WEB FACEBOOK

DATA TUTURAN YANG

MENGANDUNG TINDAK TUTUR DAN PRINSIP KESANTUNAN DALAM TRANSAKSI JUAL BELI

ONLINE DI FACEBOOK

PENDEKATAN PRAGMATIK

DENGAN TINDAK TUTUR, PRINSIP KESANTUNAN

DAN IMPLIKATUR

TEKNIK PENGUMPULAN DATA

SIMAK DAN CATAT

TEKNIK ANALISIS DATA

DENGAN CARA TUJUAN (MEANS END)

DAN KONTEKSTUAL MENGETAHUI

TINDAK TUTUR DAN PRINSIP KESANTUNAN DALAM TRANSAKSI JUAL BELI ONLINE DI FACEBOOK

(40)

commit to user PENJELASAN BAGAN:

Bagan di atas menggambarkan bahwa sumber data dalam penelitian ini, yakni laman web facebook, yang menampilkan tuturan jual beli online. Masalah yang diteliti dalam penelitian ini adalah realisasi tindak tutur dan prinsip kesantunan serta implikatur yang terdapat pada tuturan dalam transaksi jual beli online di facebook.

Pragmatik menempatkan tindak tutur sebagai objek kajian dengan memperhitungkan konteks pemakaiannya. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode analisis kontekstual dan cara-tujuan (means-end). Teknik catat dalam penelitian ini dilakukan dengan memperhatikan penggunaan bahasa dalam tuturan yang digunakan di facebook toko online.

Dilanjutkan dengan mentranskripsikan tuturan-tuturan yang terdapat pada kolom komentar jual beli online di facebook. Tuturan yang dilakukan antara penjual dan pembeli dapat tersampaikan melalui tindak tutur yang mereka lakukan, sehingga dengan tindak tutur akan diketahui apakah tuturan itu merupakan tuturan yang mematuhi prinsip kesantunan atau tuturan yang melanggar prinsip kesantunan.

Tuturan pematuhan dan pelanggaran prinsip kesantunan yang terjadi antara penjual dan pembeli dalam online shop di facebook akan menghasilkan tuturan yang berbentuk implisit yang biasa disebut dengan implikatur, sehingga dari pelanggaran tersebut akan muncul implikatur.

Referensi

Dokumen terkait

Permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini yaitu: (1) bagaimanakah bentuk pelanggaran prinsip kesantunan terhadap maksim-maksim Leech dalam acara

Menurut Leech (dalam Rahardi, 2008: 60) menjelaskan bahwa maksim kebijaksanaan adalah bahwa para peserta tuturan hendaknya berpegang pada prinsip untuk selalu mengurangi

Berdasarkan prinsip kesantunan, tuturan yang dikemukakan penutur tersebut termasuk tuturan yang santun karena sesuai dengan prinsip yang dikemukakan oleh Leech, yaitu

Penelitian ini sangat cocok apabila menggunakan teori kesantunan oleh Leech (1983), sebelumnya Leech sudah merumuskan tentang prinsif-prinsif kesantunan berupa enam

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh tuturan yang teridentifikasi dalam maksim prinsip kesantunan dan skala kesantunan yang terdapat dalam

Hasil penelitian pada tuturan Remaja Di Romang Lompoa menunjukkan bahwa jumlah tuturan remaja yang mematuhi maksim kesantunan Leech berjumlah 51 tuturan yang terdiri dari pematuhan

semua wokme KGN 3 Dia Kajian juga menganalisis kata ganti nama dan disesuaiakan dengan enam maksim daripada Teori Kesantunan Leech 1983 antaranya maksim kebijaksanaan, maksim

a Prinsip Kesantunan Leech Prinsip Kesantunan pada tuturan 31 menerapkan: 1 maksim kebijaksanaan/kearifan penggunaan bahasa dengan penutur mengurangi keuntungan sendiri yang diwujudkan