42 ESSENSI IMAGODEI TERHADAP HAM DALAM KELUARGA
JEMAAT HKBP ANUGERAH PEMATANG SIANTAR
Sorta Sihombing1, Kevin Wismart Lumban Tobing2
1Dosen Prodi Management, Fakultas Ekonomi Dan Bisnis, UHN Medan.
2Mahasiswa Prodi Manajemen, Fakultas Ekonomi Dan Bisnis, UHN Medan E mail : [email protected]
ABSTRAK
Manusia adalah ciptaan Allah yang berbeda dan istimewa dari ciptaan lainnya, berbeda karena Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya (Imagodei).
Kesegambaran manusia dengan Allah merupakan mandataris dari Allah untuk memiliki tanggung jawab penuh terhadap penciptaNya dengan memuliakan dan menghormati Tuhan Allah sebagai satu-satunya pencipta dan penyelamat. Bertanggung jawab terhadap sesamanya dengan menghormati, mengasihi dan menghargai hak azasinya.
Manusia sebagai laki-laki dan perempuan memiliki kesetaraan karena kesegambarannya terhadap Allah. Dengan demikian Allah menginginkan manusia sebagai lelaki dan perempuan untuk menjaga relasinya terhadap Tuhan dan sesamanya.
Sejak awal penciptaan Tuhan telah menjadikan segala sesuatunya dengan baik.
Sebagai ciptaan yang berimagodei dengan Allah maka Tuhan Allah membentuk persekutuan manusia itu di dakam ikatan keluarga untuk saling menyempurnakan.
Rumah tangga atau keluarga seyogianya adalah tempat pengimplementasian bentuk kasih Allah terhadap suami-istri dan anak-anak, untuk saling menopang, menghargai dan mengasihi. Tetapi manusia itu tidak mendengarkan perkataan Tuhan dan lebih mendengarkan bujuk rayu iblis. Hal itulah mengakibatkan rusaknya hubungan terhadap Allah dan sesamanya. Seiring perkembangan zaman manusia semakin tidak menghargai hak azasi sesamanya hingga terjadi pelanggaran-pelanggaran terhadap aturan-aturan Allah seperti pelanggaran HAM dan secara spesifik adalah kekerasan di dalam rumah tangga ( KDRT). Manusia sebagai makhluk ciptaan Allah, diharapkan untuk menaati peraturan peraturan Allah dan sebagai bentuk dari penyerahan diri terhadap kuasa dan kehendak Allah yang sempurna. Kehidupan di dalam keluarga itu perlu memandang dan meneladani ketaatan Yesus yang sungguh-sungguh kepada Allah.
Kata Kunci : Imagodei, Ciptaan, Manusia, HAM, Pemberdayaan.PELATIHAN
43 PENDAHULUAN
Latar Belakang Kegiatan PKM
Dalam Kejadian 1:1-2:4a, ditegaskan bahwa segala sesuatu ada semata-mata karena perintah dan kuasa Allah.
Penulis kitab Kejadian dengan jelas mengatakan bahwa Allah adalah Pencipta yang mana segala ciptaanNya harus bergantung sepenuhnya kepada Allah dan kepadaNya semua ciptaan akan bertanggung jawab. Penulis Kejadian 1 mempergunakan kata Ibrani bara “menciptakan” , suatu kata dalam Perjanjian Lama yang hanya dipakai untuk Allah saja tanpa menyebut sama sekali bahan yang dipakai untuk menciptakan. Kata ini menggambarkan pekerjaan yang tidak ada kesamaannya dengan pekerjaan manusia dan tidak dapat diterjemahkan dengan istilah
seperti “membuat” atau
“membangun”. Dengan demikian pasal ini melukiskan jenis pekerjaan yang hanya dapat dilakukan oleh Allah saja.
Hanya Allah yang menciptakan, sebagaimana hanya Allah yang menyelamatkan ( Lasor W.S., Hubbard D.A., Bush F.W, 1995. 122).
Hal yang sangat penting dalam Kejadian (1:4,10,12,18,21,25,31) ialah adanya penegasan bahwa dunia ciptaan Allah itu baik. Ringkasan akhir dalam ayat 31
“Maka Allah melihat segala yang dijadikanNya itu, sungguh amat baik”
memperlihatkan dengan jelas bahwa Allah tidak menaruh kejahatan apapun di dunia ciptaanNya. Dunia mempunyai nilai yang agung, tetapi hanya karena
Allah lah yang menciptakannya. Ajaran tentang kebaikan ciptaan yang asli, termasuk manusia, penting sekali secara teologis, yaitu ajaran itu mempersiapkan jawaban untuk pertanyaan tentang apa yang mengganggu keteraturan yang bik ini, yaitu dosa. Ajaran ini juga mempersiapkan penegasan Alkitab jauh di kemudian hari bahwa semuanya nanti akan dipulihkan seperti semula pada akhir zaman (Wahyu 21:1) ( Lasor W.S., Hubbard D.A., Bush F.W, 1995.
122).
Akhirnya, puncak tertinggi dari penciptaan ini adalah manusia (Kej.
1:26-28). “Allah menciptakan manusia itu menurut gambarNya, menurut gambar Allah diciptakanNya dia, laki- laki dan perempuan diciptakanNya mereka (ay.27)”
Pemahaman tentang penciptaan manusia menurut gambar dan rupa Allah adalah hal yang penting, karena berdasarkan pemahaman tersebut, manusia akan menempatkan diri secara benar sebagai makhluk yang diciptakan dan akan menghormati Penciptanya sebagai Pribadi yang berkuasa penuh di dalam hidupnya. Pemahaman tentang menusia menurut gambar dan rupa Allah juga untuk menempatkan manusia dalam hubungan khusus dengan Allah, yang membedakan dengan ciptaan lainnya. Keserupaan itu bersifat dinamis, yakni manusia (adam) dalam hubungan pribadinya dengan makhluk-makhluk lain menjadi wakil Allah. Ia diberi hak untuk menyelidiki,
44 menguasai dan mempergunakan segala
sesuatu di sekitarnya. Karena mereka adalah gambar dan rupa Allah, maka laki-laki dan perempuan memerintah dunia atas nama Allah. Kesalahan pengertian terhadap konsep penciptaan manusia, maka manusia akan menjadikan dirinya sebagai allah terhadap dirinya sendiri dan segala sesuatu yang berada di sekitarnya ( Lasor W.S., Hubbard D.A., Bush F.W, 1995. 123).
ANALISIS SITUASI DAN TEORITIS
Dalam pandangan secara
anthropomorfis, Allah dilukiskan sebagai penjunan yang “membentuk”
manusia dari “debu” tanah (Kej. 3:19), pemilihan kata-kata ditentukan oleh penggunaan ungkapan “kembali ke debu tanah” untuk menyatakan “mati”.
Kiasan ini tidak saja menekankan hubungan yang erat antara manusia dengan tanah, tetapi juga kelemahan manusia, sifatnya yang fana. Ia dibuat dari tanah dan harus kembali ke tanah.
Allah menghembuskan “nafas kehidupan” ke dalam bentuk yang mati itu, sehingga manusia itu menjadi
“makhluk hidup”. Melalui nafas kehidupan yang dihembuskan oleh Allah ke dalam diri manusia itu menyatakan kehadiran Allah dalam diri manusia itu. Hidup dan kehidupan yang dimiliki oleh manusia itu berasal dari Allah si Pemiliki hidup itu dan manusia (laki-laki dan perempuan) itu harus mempertanggung jawabkan hidupnya kepada Allah. Hal ini mau mengatakan bahwa hubungan Allah dengan manusia
sangat pribadi dan langsung. Dan juga mau mengatakan bahwa kerapuhan, kefanaan dan ketergantungan manusia sepenuhnya hanya kepada Allah (Lasor W.S., Hubbard D.A., Bush F.W, 1995.
124-125).
Namun, yang tadinya manusia itu hidup dalam suatu hubungan persekutuan yang sempurna dengan Allah di Firdaus dirusak oleh manusia itu dengan keinginan untuk menjadi seperti Allah.
Ketika manusia tidak taat lagi kepada Allah, manusia ingin menyamakan diri dengan Allah. Mereka ingin memiliki pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Kesombongan mereka terhadap Allah membuat Allah murka dan menghukum mereka. Manusia diusir dari Firdaus, jauh dari kehidupan yang kekal, makanya permusuhan, kesengsaraan, kesussahan dan kematian menjadi bagiannya (Kej. 3).
Kesombongan manusia, yang telah mengakibatkan rusaknya hubungan yang harmonis dengan Allah, telah pula menyebabkan rusaknya hubungan dengan sesama manusia sendiri. Akibat dari rusaknya hubungan dengan Allah dan juga kepada sesama manusia itu sendiri adalah kematian (Kej. 4), yaitu peristiwa pembunuhan yang dilakukan Kain terhadap saudaranya Habel).
Kesombongan manusia untuk menjadi sama dengan Allah, adalah sebagai dosa terhadap Allah. Allah pun menjadi murka terhadap manusia ( Blommendal J., 1996. 24-25).
45 Seperti konsep penciptaan Allah atas
manusia, Allah menciptakan manusia itu menurut gambar dan rupa Allah sebagai laki-laki dan perempuan.
Penciptaan Allah kepada manusia di dalam Kejadian 2:18 mengatakan bahwa tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja lalu Allah menjadikan seorang penolong baginya, yang sepadan dengan dia. Ayat ini mau menegaskan bahwa dari sejak semula Tuhan sudah mengendaki manusia itu hidup untuk bersekutu, bersatu, bersama, saling menolong dan mempunyai kesetaraan dan kesepadanan (Gal. 3:28). Tanpa ada pihak yang direndahkan atau dinomorduakan. Persekutuan manusia (laki-laki dan perempuan) itu dapat terlihat di dalam persekutuan rumah tangga.
Di dalam konsep Rumah Tangga di dalam Alkitab (khususnya Perjanjian Baru), yaitu rumah tangga sebagai kelompok dalam struktur persekutuan Kristen. Kekristenan mula-mula mempunyai struktur jemaat dalam bentuk keluarga, kelompok dan rumah.
Sebuah rumah berfungsi baik sebagai tempat persekutuan dan pertemuan (Dr. Hulman Sinaga, Dr. Martongo Sitinjak, 2015. 54).
Keluarga yang tediri dari ayah, ibu, dan anak, hanya dapat merupakan suatu kesatuan dengan dasar yang kuat bila dia antara mereka terdapat hubungan yang baik. Hubungan yang baik ini berarti adanya keserasian dalam hubungan timbal balik antara semua
pihak, bukan bertepuk sebelah tangan (Yulia Singgih D. Gunarsa, Singgih D.
Gunarsa, 2012. 46). Hubungan yang erat ini, yaitu hubungan antara manusia yang satu dan manusia yang lain, seperti halnya hubungan di dalam keluarga, sangat kuat ditekankan Alkitab. Hubungan ini dikehendaki oleh Kristus. Ia bukan saja menuntut bahwa masing-masing anggota keluarga (manusia) itu harus mengasihiNya dengan segenap hatinya dan dengan segenap jiwanya dan dengan segenap kekuatannya (Ulangan 6:5), tetapi juga bahwa manusia harus mengasihi sesamanya manusia seperti dirinya sendiri (Imamat 19:8) (J.L.Ch. Abineno, 1987. 99).
Namun di dalam kenyataan perjalanan hidup rumah tangga Kristen, banyak mengalami ketidakharmonisan.
Keluarga itu tidak menyadari dirinya lagi sebagai ciptaan Tuhan yang segambar dengan Allah. Manusia itu juga menyalahgunakan kuasa yang diberikan Tuhan kepadanya, sehingga terjadi yang
“kuat” menguasai atau menindas yang
“lemah”.Terjadinya ketidakharmonisan di dalam keluarga kebanyakan disebabkan karena kurangnya komunikasi di tengah-tengah anggota keluarga. Komunikasi adalah pokok penting dalam rumah tangga Kristen, sebab hubungan suami dan istri serta hubungan orang tua dan anak-anaknya dibangun, tumbuh dan dipelihara melalui komunikasi. Tanpa adanya saluran-saluran terbuka dalam komunikasi yang tulus seperti yang
46 didiskusikan oleh Paulus dalam Efesus
pasal 5:22-33 , kita tidak dapat mempunyai suatu rumah tangga di mana Kristus sungguh-sungguh adalah pusatnya ( Blommendal J., 1996. 33).
Kurangnya komunikasi itu dapat mengakibatkan hubungan yang tidak baik dalam keluarga bahkan bisa menimbulkan kekerasan.
PEMBAHASAN
Imagodei Dalam Kesetaraan Gender Kisah penciptaan manusia dalam kitab Kejadian sengaja ditempatkan dibagian akhir, dimana dalam kasus penciptaan ini Allah mempunyai perhatian pribadi dan penuh. Menurut teori sumber Y, manusia sebagai makhluk yang sangat bergantung kepada Tuhan Allah.
Ketergantungan manusia pada Tuhan sama seperti buatan tanah liat dengan pembuatnya. Jika bahan yang mati dapat hidup dan bergerak, maka hal itu bukan karena kemampuan manusia itu sendiri , melainkan karena karunia pemberian Allah. Itulah maksud pemberian ‘nafas hidup’ yang menunjukkan manusia hanya hidup dari pemberian Allah, karena manusia adalah abu ( Mzm 103:4, Ayb 10:9).
Nafas hidup tidak menunjukkan bahwa manusia memiliki sifat ilahi dalam dirinya, tetapi menyatakan bahwa kehidupannya itu adalah milik Allah (J.
S. Siwalatte, 1991. 42-43)
Sedangkan menurut teori sumber P penciptaan manusia terjadi secara mujizat. Allah menciptakan manusia ‘ segambar’ dan serupa dengan Allah.
Allah telah menciptakan dunia dan manusia supaya manusia memuji dan memuliakan Allah. Dan kedudukan manusia dalam penciptaan yaitu sebagai ‘tuan’ yang memerintah dan menguasai bumi, dan sebagai ‘hamba’
yang harus menjalankan tugas yang diberikan Allah kepadanya. Sehingga dapat dikatakan bahwa tujuan penciptaan itu telah menjadikan manusia segambar dengan Allah. Tanpa gambar Allah manusia sama seperti makhluk makhluk lain, karena gambar Allah tidak menjamin supaya manusia memerintah atau berkuasa atas alam.
Gambar Allah adalah realisasi dari inisiatif Allah di dalam tujuan penciptaan-Nya. Kehendak Allah untuk menciptakan manusia sebgai gambar Allah adalah sesuai dengan tujuan-Nya.
Karena sesungguhnya ‘gambar Allah’ itu adalah manusia, atau ‘manusia’ itu adalah ‘gambar Allah’. Gambar Allah ada oleh karena Allah, hal ini berarti bahwa manusia atau ‘gambar Allah’
adalah suatu kasih kasih karunia Allah.
Sehingga gambar Allah adalah relasi yang diadakan Allah sesuai dengan maksufd penciptaan, yang memuliakan Allah, dengan cara mengasihi dan hidup dalam kasih karunia Allah (J. S.
Siwalatte, 1991. 44-47.)
‘Manusia sebagai makhluk ciptaan Allah, diharapkan untuk mematuhi peraturan peraturan Allah. Ketetapan ketetapan PL, tentang janji setia seorang suami kepada isterinya dan sebaliknya, dianggap berlaku untuk manusia secara umum, karena hal
47 tersebut merupakan ketetapan
ketetapan Allah bagi ciptaan-Nya.
Manusia diharapkan untuk patuh, ia tidak diberikan untuk menentukan jalan hidupnya sendiri. Karena dalam pandangan Yesus, diri manusia yang sejati terdapat dalam kehidupan yang taat kepada Allah, karena Allah mengetahui apa yang terbaik bagi manusia. Manusia itu sangat bergantung kepada Allah, oleh sebab itu manusia dianjurkan untuk selalu berdoa kepada Allah. Apabila manusia itu hanya hidup untuk menyenangkan diri sendiri, ia tidak akan pernah melakukan tuntutan ini. Ketaatan yang dituntut Alalh bukanlah belenggu yang mengikat kebebasan jiwa manusia, tetapi merupakan penyerahan sepenuh hati pada kehendak Allah yang sempurna (Donald Guthrie, 1996. 153- 155).
Hubungan yang sangat hakiki antara Allah dengan manusia diungkapkan sebagai ‘gambar Allah, dimana pada satu pihak terdapat suatu hubungan persekutuan yang positif antara Allah dengan manusia, dan di pihak lain terdapat perbedaan hakiki antara keduanya. Contoh hubungan antara “ Bapa dan Anak” dalam arti biologis atau genetatif. Allah adalah Bapa dari manusia atau Bapa dari umat Allah ( Ul.32:6; Yes 63:16; Mat 5:16, 48; 6:9).
Maksudnya bahwa antara Allah dengan manusia atau umat Allah terdapat hubungan yang intim sebagai Bapa dan Anak ( Dr.I.J.Ch. Abineno, 1987. 40-42).
Selanjutnya menurut Karl Barth, relasi atau gambar Allah itu sebagai kasih yang terdapat di antara laki laki dan perempuan, ia mengatakan: The two male and female are to Him’man’
because they are one before. Both are created in this divine image....filled by God and in God with mutual divine love. Relasi Allah dengan manusia telah diungkap dengan istilah’gambar Allah’, dimana intinya adalah tentang kasih.
Persekutuan manusia dengan Allah telah mengakibatkan persekutuan terjadi antara manusia dengan sesama.
Pandangan ini telah menghapuskan pandangan yang melihat atau memandang rendah, demikian sebaliknya pemujaan terhadap salah satu di antara dua jenis kelamin manusia. Sebab dijumpai adanya siuasi yang seperti itu berlaku diantara bangsa bangsa sekitar Israel dimana seringkali pekelaminan dikultuskan (J. S.
Siwalatte, 1991. 47-48).
Kisah penciptaan lebih detail lagi ketika menceritakan kejadian asal usul wanita.
Seluruh dunia binatang sengaja disusun sebagai laporan, dan Adam meneliti seluruh prosesi yang fantastik yang menekankan bahwa diantara mereka tidak ditemukan seseorang yang temannya. Yang hendak dicari adalah martabatnya yang cocok, pantas, serasi dengannya. Lalu Allah menciptakan penolong yang pantas baginya, yang
mempunyai kesamaan dan
kesepadanan derajat dengannya, yang dapat menjadi partner dan temannya.
Dalam rencana Allah, pada hakikatnya
48 wanita sungguh sungguh identik atau
sama dengan pria, diciptakan dengan bahan seperti yang ia miliki, dan meskipun berbeda darinya, namun komplementer ( saling melengkapi) (Maurice Eminyan, 2001. 26-27).
Jack Dominian berkata: “dalam menciptakan pria dan wanita menurut gambar dan rupa-Nya, Allah digambarkan sebagai misteri yang membuat dimensi seksual dari unsur pokok kepriaan dan wanita. Allah memberkati pasangan itu dan memanggil mereka agar berbuah.
Penciptaan pria dan wanita sama satu sama lain, dan meskipun secara seksual berbeda dan komplementer, sungguh amat baik dan menurut rencana Allah mencerminkan gambar dan keserupaan Diri-Nya sendiri. Pemberian diri kepada masing masing, melibatkan diri satu sama lain dalam cinta kasih, memperoleh ekspresinya yang penuh dalam persatuan seksual dan keterbukaannya terhadap kehidupan baru. Demikianlah keluarga dibangun atas cinta yang tidak mementingkan diri sendiri dan sekaligus merupakan perwujudan cinta Allah. Keluarga itu sendiri merupakan gambar dan citra Allah. Walaupun cintalah yang membawa dan menjaga mereka, namun dosa dan egoisme menugkin membuat cinta mereka menjadi kurang sempurna. Gambar Allah dalam diri pasangan suami istri dan dalam keluarga mereka akan lebih terang atau jelas (Maurice Eminyan, 2001. 27-28).
Gambar 1 : Memberikan Penyuluhan Terhadap Kaum Bapak dan Ibu
Setelah Allah menciptakan keluarga pertama, Ia tidak perlu lagi menciptakan manusia secara langsung, melainkan memberikan keberadaan makhluk manusia lain melalui pasangan itu sendiri. Allah tetap menjadi pencipta segala sesuatu, namun menyertakan pria dan wanita, dan pasangan suami istri menjadi prokreator, “ pencipta bersama Allah.”
Mereka menjadi rekan sekerja Allah melalui tindakan cinta mereka, bersama dengan tindakan Allah yang sngat indah. Jadi dalam tindakan suami istri, disamping menghasilkan gambar dan citra mereka sendiri, pasangan suami istri sedang meniru Allah yang menciptakan mereka menurut gambar dan citra-Nya. Mereka memperpanjang
49 sebagaimana adanya, cinta kreatif Allah
sampai akhir zaman (Maurice Eminyan, 2001. 29).
Pelanggaran HAM Sebagai Imagodei Yang Terluka
Dalam kisah jatuhnya manusia kedalam dosa, maka manusia digambarkan mau menerima perkataan iblis dan melupakan Firman Allah. Manusia memilih untuk berubah dari “anak yang taat dan patuh kepada Tuhan” menjadi
“orang yang menentukan jalannya sendiri.” Manusia meninggalkan ketaatan kepada Tuhan. Pemberian hukum dalam bentuk larangan kepada manusia pertama itu bukanlah untuk mempersempit dan membatasi kebebasan manusia itu. Justru sebaliknya, hukum dalam bentuk larangan itu membuat manusia punya kebebasan untuk taat atau tidak taat kepada Tuhan (Bonar Napitupulu, 13).
Hak Azasi Manusia ( HAM) menjadi perbincangan yang tidak hentinya dalam sejarah manusia. Hak merupakan unsur normatif yang melekat pada diri setiap manusia yang dalam penerapannya berada pada ruang lingkup hak persamaan dan hak kebebasan yang terkait dengan interaksinya antara individu atau dengan instansi. Hak juga merupakan sesuatu yang harus diperoleh. Masalah HAM adalah sesuatu hal yang sering kali dibicarakan dan dibahas terutama dalam era reformasi ini. HAM lebih dijunjung tinggi dan lebih diperhatikan dalam era reformasi dari pada era sebelum reformasi. Perlu diingat bahwa
dalam hal pemenuhan hak, kita hidup tidak sendiri dan kita hidup bersosialisasi dengan orang lain. Jangan sampai kita melakukan pelanggaran HAM terhadap orang lain dalam usaha perolehan atau pemenuhan HAM pada diri kita sendiri ( Max Boli Sabon, 2009.
3-4).
Di dalam Alkitab sendiri juga terdapat banyak kasus yang termasuk ke dalam pelanggaran HAM. Kasus kasus tersebut terjadi karena adanya unsur rasa iri hati, merasa diperlakukan secara tidak adil, sehingga ia akhirnya melakukan perbuatan yang melanggar HAM.
Contoh kasus seperti kisah Kain dan Habel. Pelanggaran HAM yang dilakukan Kain kepada adiknya Habel, karena ia tidak bisa menerima bahwa adiknya lebih diperhatikan, ia merasa malu persembahan nya tidak diterima Allah sedangkan persembahan adiknya diterima. Akhirnya karena rasa cemburu tersebut, ia pun memilih untuk membunuh adiknya tersebut ( Yusri Panggabean, 2000.151).
Namun seiring perkembangan zaman manusia tidak lagi menghargai sesamanya bahkan mereka harus melakukan pelanggaran pelanggaran terhadap aturan aturan Allah seperti halnya penggaran HAM dan secara spesifik dalam hal ini adalah kekerasan di dalam rumah tangga ( KDRT).
Kekerasan dalam rumah tangga adalah perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau
50 penderitaan fisik. Kekerasan dalam
rumah tangga juga dapat diartikan kekerasan atau penganiayaan baik secara fisik maupun secara psikologis yang bertujuan menyakiti remaja atau anak-anak dan dilakukan secara sengaja oleh orang tuanya atau orang dewasa lainnya. Masalah kekerasan dalam hal ini tidak saja diartikan sebagai suatu tindakan yang mengakibatkan gangguan fisik dan mental namun juga mengakibatkan gangguan social, karena kekerasan bukan saja dalam bentuk emosional, seksual dan fisik namun juga dalam hal ekonomi, seperti halnya dipaksa jadi pelacur, pembantu, pengamen dan lain sebagainya.
Begitupun sang pelaku bukan saja dilakukan oleh oleh orang-orang terdekat dalam keluarga (KDRT/domestic violence) namun juga di lakukan oleh orang luar, dengan kata lain bukan saja kekerasan tapi sudah masuk kejahatan dan modusnya pun semakin berkembang. Kekerasan domestik (kekerasan dalam rumah tangga) oleh sebagian masyarakat kita tidak dianggap sebagai kejahatan.
Faktanya Kekerasan Dalam Rumah Tangga Terhadap Anak (KDRTA ) hanya dilaporkan atau dianggap sebagai masalah jika berakibat cedera parah atau meninggal. Hanya kasus dramatis dan berdarah-darah baru dinilai kejahatan. Luka memar yang terjadi pada anak atau anak berkepribadian pemalu karena di rumah selalu menghadapi tekanan orang tua tidak dianggap kejahatan. Lainnya, banyak masih menilai KDRTA sebagai persoalan
individu per individu atau melokalisir tempat kejadian. Dalam kondisi dan situasi bagaimanapun anak tetap harus dilindungi, anak harus tetap disayangi, anak harus tetap dibina dalam nilai-nilai yang bijaksana. Kepentingan yang terbaik bagi anak, haruslah menjadi pertimbangan dan perhatian kita dalam setiap tindakan kepada anak.
Masalahnya lagi, kita sering tidak mempercayai anak. Laporan anak tidak ditanggapi, keluhan anak diabaikan, anak sebelum berbicara malah sudah disuruh diam dengan bentakan atau pukulan. Apalagi jika pelaku kekerasan itu orang tuanya, kita yang mendengar sering berkata: dasar kamu bandel, kamu yang salah, itu untuk mendidik kamu, makanya kamu nurut sama orang tua. Jarang kita bertanya, mengapa dia diperlakukan seperti itu, apalagi memberikan jalan keluar ( Liston Butar butar, 63-64).
Kekerasan rumah tangga pada anak di zaman sekarang ini cenderung semakin meningkat. Banyak sekali penyebabnya, tetapi hal yang paling besar pengaruhnya adalah karena adanya kebutuhan ekonomi yang semakin hari kian meningkat. Bahkan kasus kekerasan yang dilakukan keluarga dalam banyak kasus termasuk kategori berat dan berakibat fatal bagi anak, seperti pembunuhan, penyiksaan hingga menyebabkan cacat seumur hidup atau bahkan meninggal. Banyak masyarakat yang menganggap KDRTA adalah bagian "dapur" rumah tangga bagi keluarga tersebut, jadi orang lain
51 tidak boleh mencampuri urusannya,
akan tetapi jika hal ini semakin lama semakin dibiarkan tentunya si anak akan berkembang dengan keadaan psikologis yang tidak baik. Orang tua yang menganggap ini sebagian dari cara mendidik anak, sangatlah tidak benar.
Anak-anak yang seharusnya mendapat perlindungan dari kedua orang tua, justru mengalami kekerasan yang tentu sangat berpengaruh bagi tumbuh kembang, serta kehidupannnya kelak.
UU Perlindungan Anak juga menegaskan bahwa seorang anak selama dalam masa pengasuhan orang tua, wali atau pihak lain manapun yang bertanggung jawab atas pengasuhan, berhak mendapat perlindungan dari perlakuan kekejaman,kekerasan dan penganiayaan. Jika hal ini terjadi maka orang tua atau wali atau pengasuh anak melakukannya, maka pelaku dikenakan pemberatan hukuman.
Ada sebagian orang tua masih menganggap bahwa pola pendidikan pada anak dengan pola menghukum dan memberi efek jera. Hal ini tidak sepenuhnya salah, apalagi jika pola menghukum juga disertai dengan pola pemberian penghargaan ketika anak tersebut mendapatkan prestasi. Yang menyebabkan salah adalah jika pola memberi hukuman tadi diaplikasikan dalam memberi hukuman kekerasan fisik. Kalau hal ini dilakukan, maka tujuan menghukum tadi agar anak dapat memperbaiki menjadi tidak terjadi, tetapi yang didapatkan adalah selain rasa sakit fisik juga rasa sakit
psikis (dendam) anak pada orang tuanya. Selama ini data yang ada di peradilan agama, masih menampilkan data-data tentang kekerasan pada pasangannya, belum memilah secara khusus KDRT terhadap anak. Demikian juga hakim dalam memeriksa perkara masih banyak mendapati perceraian yang disebabkan oleh KDRT antar pasangan, masih sangat kecil mendapatkan KDRT terhadap anak sebagai alasan perceraian. Hal ini mungkin disebabkan oleh karena ketika membuat gugatan, semua terfokus pada relasi suami istri semata, Ada kekhawatiran jika KDRT terhadap anak dijadikan alasan penyebab perceraian, gugatan tersebut dinyatakan tidak dapat diterima. Atau ada juga walau tergambar sepintas dalam gugatan, tetapi yang kemudian menjadi alasan utama adalah relasi suami istri yang sudah sulit dirukunkan sehingga akan berujung pada perceraian.
Seharusnya kekhawatiran tersebut tidak perlu terjadi, karena pada dasarnya KDRT terhadap anak bisa dijadikan alasan perceraian, apabila dikaitkan dengan pelanggaran terhadap Undang-Undang No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, Undang- Undang No 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga dan tentunya Undang-Undang No 1 tahun 1974. Dengan dasar tadi, tentu tak perlu kekhawatiran bagi para orang tua yang anaknya menjadi korban KDRT untuk mengajukan perceraian dengan alasan telah terjadi KDRT
52 terhadap anak. Tentu ini bukan
himbauan untuk bercerai, tapi hal ini menjadi wajib dilakukan jika berbagai upaya penghentian tindak KDRT telah diupayakan. Dengan dijadikannya alasan KDRT terhadap anak sebagai alasan perceraian, diharapkan semakin menyadarkan para orang tua untuk menghentikan upaya-upaya kekerasan fisik terhadap anak dalam perkawinan walau dengan dalih pendidikan ( Liston Butar butar, 65-68).
Gambar 2a: Pendampingan Terhadap Muda- Mudi
Pemulihan Imagodei Dalam Keselamatan Kristus
Laki-laki dan perempuan merupakan gambar Allah yang saling melengkapi satu sama lain, sehingga memampukan mereka membentuk suatu keluarga, tetapi juga dalam keterbatasan seksualitasnya sendiri justru karena
mereka adalah laki-laki dan perempuan.
Kualitas kedua dua cinta ini lah nantinya akan membentuk sebuah keluarga.
Kemudian ini lah cinta yang total yang merupakan persahabatan yang sangat khusus yang di dalam nya suami istri secara murah hati membagikan segala sesuatu. Ketika suami dan isteri sudah saling bejanji berarti mereka sudah memutuskan untuk tetap setia kepada pasangan nya. Walaupun kesetiaan suami isteri itu sering kali memberikan kesulitan kesulitan, namun tak seorang pun berani menegaskan bahwa hal tersebut merupakan sesuatu yang mustahil, karena kesetiaan selalu merupakan sesuatu yang terhormat dan berguna serta memperoleh penghargaan tertinggi ( Donald Guthrie, 155-156).
Gambar 2b: Pendampingan Kaum Bapak
53 Keluarga sendiri pada hakikatnya adalah
gambar dan citra Allah. Keluarga adalah komunitas cinta yang sangat alami, dan sangat intim. Cinta antara pasangan suami istri dan antar mereka dan anak anak anaknya merupakan representasi duniawi yang paling sempurna dari cinta triniter.
Gambar 3 : Realisasi Pendampingan Kaum ibu
Paus Paulus VI, membuat beberapa pernyataan yang indah dalam ensiklik Humanae Vitae, mengenai hakikat cinta perkawinan, yaitu cinta perkawinan secara khusus menyingkapkan hakikat keagungannya bila kita sadar bahwa ia sadar ia berasal dari Allah yang dalam diri-Nya adalah Cinta, Bapa yang darinya setiap keluarga di surga dan di bumi mendapatkan namanya. Maka perkawinan bukan sekedar akibat atau evolusi buta dari kekuatan alam.
Sebenarnya, perkawinan merupakan lembaga dari sang pencipta yang
berencana menetapkan dalam diri manusia rencana cinta kasih-Nya (Maurice Eminyan, 30).
Gambar 4: Realisasi Pendampingan Kaum Bapak
Disini cinta fisik antara pasangan suami istri, dan ikatan darah orang tua dengan anak anaknya, diwujudkan dalam bentuk cinta pengorbanan diri dan diinspirasikan serta dibentuk olehnya.
Haring juga menekankan bahwa cinta di dalam keluarga, dari hakikatnya sendiri, cenderung menjadi trinitarian, sebab keluarga merupakan pembenaran terhadap kehadiran Allah yang kreatif, yang dari-Nya pasangan suami istri ingin agar Dia memberkati cinta mereka dengan anak. Jadi keistimewaan keluarga yang terbesar dan terindah hanya dapat ditemukan bila orang melihat keluarga sebagai komunitas cinta triniter di dalam Tuhan. Dalam perkawinan, manusia sebagai kekasih yang menerima dengan cuma-cuma
54 serta mengembalikan cinta dan dengan
gembira mengalami buah buah cinta itu. Allah yang mewahyukan diri-Nya kepada kita melalui Yesus Kristus adalah esa, tetapi Ia juga Allah yang hidup dalam tiga pribadi yang sama namun juga berbeda. Manusia yang adalah gambar Allah tiga pribadi ini, merupakan perwujudan tertinggi dari hidup-Nya. Meskipun Trinitas Yang Maha Kuasa bukanlah suatu keluarga dalam arti kata yang biasa, juga benar bahwa gagasan tentang kebapaan dan keputraan sungguh menemukan perwujudan yang sepenuh penuhnya objektif dalam Allah. Melalui kemampuan mereka menjadi tiga itulah suami dan istri yang mengikat diri di dalam keluarga mencerminkan Trinitas.
Ketika mereka menikah, mereka tidak lagi dua, tetapi satu; namun karena
kemampuan mereka dapat
menurunkan kehidupan baru melalui kesatuan mereka, maka secara potensional adalah tiga. Itulah gambaran Tritunggal Allah yang ada
dalam mereka, yang
mengaktualisasikan potensi mereka menjadi tiga dan menghasilkan model ilahi dalam suatu keluarga manusia.
Sebaliknya anak anak mereka akan menjadi inkanasi dai cinta mereka yang ada antara pasangan suami istri, sehingga memperkuat dan memperdalam cinta perkawinan mereka lebih jauh satu sama lain (Kreider & Goossen, 2006.11-13).
Seperti di dalam Trinitas, demikian juga di dalam keluarga, komunitas antara
anggota anggotanya berarti komunikasi dalam dirinya sendiri dalm pengertian perjumpaan antar pribadi. Solidaritas yang dibangun di dalam keluarga bukanlah suatu yang kanis, seperti suatu mesin, yang di dalamnya berbagai macam kepingan dan perkakas yang dibuat untuk saling cocok satu sama lain dan untuk bergerak bersama sama, tetapi suatu pribadi yang relasi satu sama lain saling mencintai dan menerima (Maurice Eminyan, 45-46).
Seorang istri harus tunduk kepada suami, sebagaimana ia tunduk kepada Kristus, demikian juga seorang suami harus mengasihi istri nya. Dalam hubungan ini hubungan suami istri dianalogikan antara hubungan Kristus dan Jemaat. Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian lah juga istri kepada suami dalam segala sesuatu. Tetapi ketundukan tersebut bukan bersifat paksaan, melainkan tumbuh dengan sendirinya secara sadar oleh sifat sifat keagungan Allah.
Penyerahan, kepatuhan dan kesetiaan kepada suami tidak merupakan bebean yang memberatkan dan menyiksaa sang istri, tetapi kesukaan yang menyenangkan, sebagaimana Kristus memenuhi seluruh kebutuhan jemaat.
Paulus menegaskan agar yang tunduk dan mengasihi sama-sama memberi tanpa pamrih. Bersama sama menyerahkan diri secara total, dimana suami tidak berhak atas dirinya, tetapi istrinya dan sebaliknya istri tidak berhak atas dirinya tetapi suaminya ( 1 Kor 7) (Liston Butar butar, 28-29).
55 Gambar 5: Realisasi Pendampingan
Muda- Mudi
Selain peran dari suami istri, anak anak juga harus hormat dan taat kepada orang tua seperti kepada Tuhan,” Hai anakku, dengarkanlah didikan ayahmu, dan jangan menyia-nyiakan ajaran ibumu” ( Amsal 1:8; 6:20);” Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan Tuhan kepada” ( Kel. 20:12). Hubungan seorang anak dengan Yesus berkembang dalam hubungan langsung melalui ketaatan yang ditunjukkan kepada orang tuanya. Yesus hidup dan bekerja di dalam kehidupan seorang anak yang taat, dan dalam ketaatan itulah terdapat kebahagiaan. Paulus mengingatkan kepada Bapak- bapak ( orang tua) agar tidak membangkitkan amarah anak anaknya, tetapi mendidik di dalam ajaran dan nasehat Tuhan ( Ef.
6:4; Kol 3:21). Dalam rangka mewujudkan cinta kasih seorang bapak terhadap anak anak atau keluarga,
Alkitab menegaskan tanggung jawab untuk mendidik anak ( Ul. 6:6-7). Tugas orang tua adalah untuk mengajarkan anak anak tentang Tuhan, seperti hukum-hukum, undang-undang dan segala perintah Tuhan ke dalam pikiran anak-anaknya (Liston Butar butar, 30- 33).
PENUTUP
Pengabdian yang dilakukan kepada warga jemaat di HKBP Anugerah,
Pematangsiantar untuk
memberdayakan mereka agar menunjukkan bahwa sebagai makhluk ciptaan Allah, diharapkan untuk mematuhi peraturan peraturan Allah.
Warga jemaat HKBP Anugerah sebagai persekutuan dari keluarga-keluarga dari tengah masyarakat, diharapkan untuk patuh dan tidak diberikan untuk menentukan jalan hidupnya sendiri.
Karena dalam pandangan Yesus, diri manusia yang sejati terdapat dalam kehidupan yang taat kepada Allah, karena Allah mengetahui apa yang terbaik bagi manusia. Manusia itu sangat bergantung kepada Allah, oleh sebab itu manusia dianjurkan untuk selalu berdoa kepada Allah. Apabila manusia itu hanya hidup untuk menyenangkan diri sendiri, ia tidak akan pernah melakukan tuntutan ini.
Ketaatan yang dituntut Alalh bukanlah belenggu yang mengikat kebebasan jiwa manusia, tetapi merupakan penyerahan sepenuh hati pada kehendak Allah yang sempurna. Hal ini
56 bukanlah suatu proses yang membatasi
tetapi dipandang sebagai proses yang paling baik bagi manusia yang diciptakan menurut gambar dan rupa Alalh. Yesus sendiri merupakan teladan sempurna dalam ketaatan penuh kepada Allah. Ketika manusia tidak taat lagi kepada Allah, manusia ingin menyamakan diri dengan Allah. Mereka ingin memiliki pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat.
Kesombongan mereka terhadap Allah membuat Allah murka dan menghukum mereka. Warga jemaat HKBP Anugerah adalah persekutuan dari keluarga juga merupakan gambar dan citra Allah.
Cintalah yang membawa dan menjaga mereka, namun dosa dan egoisme mungkin membuat cinta mereka menjadi kurang sempurna. Gambar Allah dalam diri pasangan suami istri dan dalam keluarga mereka akan lebih terang atau jelas. Di dalam konsep Rumah Tangga di dalam Alkitab (khususnya Perjanjian Baru), yaitu rumah tangga sebagai kelompok dalam struktur persekutuan Kristen.
Kekristenan mula-mula mempunyai struktur jemaat dalam bentuk keluarga, kelompok dan rumah. Sebuah rumah berfungsi baik sebagai tempat persekutuan dan pertemuan. Namun seiring perkembangan zaman manusia tidak lagi menghargai sesamanya bahkan mereka harus melakukan pelanggaran pelanggaran terhadap aturan aturan Allah seperti halnya penggaran HAM dan secara spesifik dalam hal ini adalah kekerasan di dalam rumah tangga ( KDRT). Kekerasan dalam
rumah tangga adalah perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan fisik.
Kekerasan rumah tangga di zaman sekarang ini cenderung semakin meningkat. Banyak sekali penyebabnya, tetapi hal yang paling besar pengaruhnya adalah karena adanya kebutuhan ekonomi yang semakin hari kian meningkat. Bahkan kasus kekerasan yang dilakukan keluarga dalam banyak kasus termasuk kategori berat dan berakibat fatal bagi anak, seperti pembunuhan, penyiksaan hingga menyebabkan cacat seumur hidup atau bahkan meninggal.
Namun disamping itu semua pelanggaran pelanggaran HAM yang telah disinggung di atas akan bisa teratasi jika kita tetap mengingat bahwa keluarga kita pada hakikatnya adalah gambar dan citra Allah. Keluarga adalah komunitas cinta yang sangat alami, dan sangat intim. Cinta antara pasangan suami istri dan antar mereka dan anak anak anaknya merupakan representasi duniawi yang paling sempurna dari cinta triniter. Disini cinta fisik antara pasangan suami istri, dan ikatan darah orang tua dengan anak anaknya, diwujudkan dalam bentuk cinta pengorbanan diri dan diinspirasikan serta dibentuk olehnya . Paulus menegaskan agar yang tunduk dan mengasihi sama-sama memberi tanpa pamrih. Bersama sama menyerahkan diri secara total, dimana suami tidak berhak atas dirinya, tetapi
57 istrinya dan sebaliknya istri tidak berhak
atas dirinya tetapi suaminya ( 1 Kor 7).
Jadi keistimewaan keluarga yang terbesar dan terindah hanya dapat ditemukan bila orang melihat keluarga sebagai komunitas cinta triniter di dalam Tuhan.
KEPUSTAKAAN
1. Lasor W.S., dkk, 1995, Pengantar Perjanjian Lama 1, BPK-Gunung Mulia, Jakarta
2. Blommendal J.,1996, Pengantar Kepada Perjanjian Lama, BPK- Gunung Mulia, Jakarta
3. Dr. Hulman Sinaga,2015, Perjanjian Baru dan Pergumulan Kultural, L- Sapa, P. Siantar
4. Yulia Singgih D. Gunarsa, dkk, 2012, Psikologi Untuk Keluarga, Libri, Jakarta
5. J.L.Ch. Abineno, 1987, Manusia dan Sesamanya Di Dalam Dunia, BPK Gunung Mulia, Jakarta
6. J. S. Siwalatte, 1991, Manusia Menurut Jurgen Moltmann, BPK Gunung Mulia, Jakarta
7. Maurice Eminyan,2001, Teologi Keluarga, Kanisius, Yogyakarta 8. Liston Butar butar, 2002,
Keluarga yang dipulihkan ( Suatu bentuk pelayanan pastoral konseling terapi), Jakarta
9. Donald Guthrie, 1996, Teologi Perjanjian Baru 1, Jakarta: BPK Gunung Mulia Editor: Bonar Napitupulu, Kesetaraan Gender dalam Alkitab,
10. Max Boli Sabon, 2009, HAM: Bahan Pendidikan untuk Perguruan Tinggi
Negeri, Jakarta: Universitas Atma Jaya
11. Yusri Panggabean, dkk (penyunting), 2000, Penabur Benih Mazhab Teologi Menuju Manusia Baru, (Jakarta: BPK Gunung Mulia 12. Kreider & Goossen, 2006 Ketika
orang Beriman Bertenggkar ( studi kasus penyelesaian konflik), BPK Gunung Mulia