• Tidak ada hasil yang ditemukan

TUGAS AKHIR DESAIN INTERIOR BATIK CENTRE DI SURAKARTA DENGAN PENDEKATAN INTERIOR TRADISI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "TUGAS AKHIR DESAIN INTERIOR BATIK CENTRE DI SURAKARTA DENGAN PENDEKATAN INTERIOR TRADISI"

Copied!
167
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user i

TUGAS AKHIR

DESAIN INTERIOR BATIK CENTRE DI SURAKARTA

DENGAN PENDEKATAN INTERIOR TRADISI

Disusun Untuk Memenuh Syarat mendapatkan Gelar Sarjana Seni Rupa Jurusan Desain Interior Fakultas Sastra dan Seni Rupa

Unversitas Sebelas Maret Surakarta

Disusun oleh : ILHAMI NUR AZIZAH

C0807023

JURUSAN DESAIN INTERIOR FAKULTAS SASTRA DAN SENI RUPA

UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA

2012

(2)

commit to user ii

(3)

commit to user iii

(4)

commit to user iv

(5)

commit to user v

MOTTO

Mereka yang gagal lebih layak dihargai daripada mereka yang tidak mau mengerjakan sesuatu

Hidup ini hanya ada dua alternatife, menyerah pada keyakinan atau maju menantan badai. Memilih alternatife pertama berarti kematian. Memilih alternatife ke dua berarti ada dua kemungkinan, menang dan memimpin dunia dan bahagia di hari ba’an.

(6)

commit to user vi

PERSEMBAHAN

Karya ini kupersembahkan kepada :

1. Allah SWT, atas segala rahmat dan karunia kepada hamba-Nya.

2. Ibu dan Bapak tercinta yang telah mencurahkan segalanya untuk menjadikanku anak yang berbakti bagi agama, guru, teman dan keluarga.

3. Semua Keluarga ku yang selalu mendukung dan membantuku.

4. Teman-temanku dan para sahabat yang senantiasa mendukungku.

(7)

commit to user vii

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum. Wr. Wb

Puji syukur kehadirat ALLAH SWT, yang telah memberikan karunia dan berkah yang melimpah, sehingga penulis bisa menyelesaikan penyusunan Tugas Akhir ini.

Dalam menyelesaikan Tugas Akhir ini tidak sedikit hambatan yang dihadapi oleh penulis, akhirnya penulis dapat menyelesaikan dengan baik berkat bantuan dan pengarahan dari berbagai pihak. Untuk itu, pada kesempatan yang baik ini penulis tidak lupa untuk mengucapkan rasa terima kasih kepada :

1. Drs. Riyadi Santosa, M.Ed, Ph.D, selaku Dekan Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret Surakarta.

2. Anung B Studyanto,S.Sn, MT, selaku Ketua Jurusan Desain Interior Fakultas Sastra dan Seni Rupa.

3. Iik Endang S.W, S.Sn, M.Ds, selaku Dosen Koordinator Tugas Akhir.

4. Drs Soepriyatmono M. Sn, selaku pembimbing I Mata Kuliah Tugas Akhir.

5. Mulyadi, S.Sn, M.Ds, selaku Dosen Pembimbing II Mata Kuliah Tugas Akhir.

6. Keluarga, teman – teman dan semua orang dekat penulis, terima kasih atas doa, kasih sayang, dorongan serta perhatiannya sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir ini.

Penulis menyadari dalam penulisan dan penyusunan Tugas Akhir ini masih terdapat kesalahan dan kekeliruan sehingga dengan sangat terbuka penulis mengharapkan masukan dan kritikan demi kesempurnaannya.

Wassalamu’alaikum. Wr. Wb

Surakarta, Februari 2012

Penulis

(8)

commit to user viii

DESAIN INTERIOR

BATIK CENTER DI SURAKARTA DENGAN PENDEKATAN INTERIOR TRADISI

( Lobby, Showroom Area, Ruang Audiovisual, Ruang Pamer Tetap, Stage, Workshop Area dan Cafe’)

Ilhami Nur Azizah1,

Drs. Supriyatmono, M. Sn2, Mulyadi, S. Sn, M.Ds 3 ABSTRAK

Permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini adalah : (1) Bagaimana menciptakan sebuah Interior Batik Center yang dapat memberikan manfaat educatif, infotainment bagi pengunjung, dan memberikan manfaat komersialisme bagi pengelola Batik Center tersebut? (2) Apa saja yang perlu diperhatikan dalam merancang sebuah Interior Batik Center yang estetis, sehingga dapat memberikan kesan yang menarik bagi pengunjung, sehingga pengunjung terdorong agar sering mengunjungi Batik Center tersebut ? (3) Bagaimana merancang sebuah Interior Batik Center yang dapat memberikan atau menumbuhkan kecintaan dan minat masyarakat akan kecintaannya terhadap batik ?

Tujuan penulisan ini adalah sebagai berikut : (1) Menciptakan sebuah Interior Batik Center yang menunjang sagala kebutuhan pengunjung dan pemakai sehingga dapat bermanfaat bagi keduanya. (2) Menciptakan sebuah Interior Batik Center yang estetis, sehingga dapat memberikan kepuasan batin bagi pengunjung dan pengelola dengan tujuan membuat penghuni betah untuk berlama – lamaan di dalam Batik Center tersebut. (3) Meningkatkan minat dan kecintaan masyarakat terhadap budaya batik dan yang merupakan warisan dari nenek moyang Bangsa Indonesia.

Metode yang digunakan dalam pembahasan masalah adalah metode pembahasan analisa interaktif, dimana ada 3 tahap pokok yang digunakan oleh peneliti, yaitu : melalui proses seleksi, pemfokusan, penyederhanaan, abstraksi data. Kemudian penyusunan informasi sebelum menyusun sebuah kesimpulan dari penelitian yang dilakukann dan sejak awal penelitian data penelitian sudah harus memulai melakukan pencatatan peraturan, pola-pola pertanyaan, arahan sebab-akibat dan proporsi-proporsi.

Dari analisis ini dapat disimpulkan beberapa hal : (1).Perancangan Interior Batik Center yang baik adalah perancangan yang informatif dan menarik minat pengunjung(2). Penggunaan warna dan bentuk yang sesuai dengan tema akan membangun suasana para pengunjung. (3). Karakter ruang sangat membantu dalam menciptakan kenyamanan dan keamanan bagi pengunjung.

1Mahasiswa, Jurusan Desain Interior dengan NIM C0807023

2Dosen Pembimbing 1

3Dosen Pembimbing 2

(9)

commit to user ix

INTERIOR DESIGN OF BATIK CENTER IN SURAKARTA USING A TRADITIONAL INTERIOR APPROACH

(Lobby, Showroom Area, Audiovisual Room, Permanent Display Room, Stage, Workshop Area and Café)

Ilhami Nur Azizah1

Drs. Supriyatmono, M.Sn,2 Mulyadi S.Sn, M.Ds3

ABSTRACT

The problems addressed in this research are: (1) How to create an interior of Batik Center that can give educative and infotainment benefit to the visitors, and give commercial benefit to the management of Batik Center? (2) What needs to consider in designing an esthetical interior of Batik Center, so that it can appeal the visitors, and they are encouraged to come frequently to the Batik Center? (3) How to design an interior of Batik Center that can give or grow people’s love to and interest in Batik?

The objectives of research are as follows: (1) to create an interior of Batik Center that supports all needs of visitors and users so that it can benefit both of them, (2) to create an esthetical interior of Batik Center, thereby giving inner satisfaction to the visitors and management in the objective of making the inmates want to stay longer in Batik Center, (3) to improve the people’s interest in and love to batik culture that is a legacy from Indonesian ancestors.

The method used in discussing problems was an interactive analysis method, in which there are 3 main stages the author used: selecting, focusing, and simplification and data abstraction. Then, information organization was done before drawing a conclusion from the research and since the beginning of data research, the research should had started to record rules, question pattern, causal direction, and proportions.

From the analysis, the following conclusions could be drawn. (1) A good interior design of Batik Center was an informative one that appealed the visitors’ interest.

(2) The use of color and shape consistent with the theme will build the visitors’

circumstance. (3) The room character is very helpful in creating comfort and safety for the visitors.

1 Student, Interior Design Department with NIM C0807023

2 First Consultant

3 Second Consultant

(10)

commit to user x

DAFTAR ISI

halaman HALAMAN SAMPUL LUAR ...

HALAMAN SAMPUL DALAM ... i

HALAMAN PERSETUJUAN ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PERNYATAAN ... iv

HALAMAN MOTTO ... v

HALAMAN PERSEMBAHAN ... vi

KATA PENGANTAR ... vii

ABSTRAK... viii

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR TABEL ... xiv

DAFTAR GAMBAR ... xv

DAFTAR BAGAN ... xvii

DAFTAR LAMPIRAN ... xix

BAB I. PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Batasan Masalah... 2

C. Rumusan Masalah ... 2

D. Tujuan Perancangan ... 3

E. Manfaat Perancangan ... 3

F. Metode Desain ... 4

G. Sistematika Penulisan ... 6

BAB II. KAJIAN LITERATUR ... 8

A. Kajian Teori ... 8

1. Pengertian Judul ... 8

2. Tinjauan Batik ... 10

a. Pengertian Batik ... 10

b. Sejarah Tehnik Batik ... 11

(11)

commit to user xi

c. Sejarah Pembatikan di Indonesia ... 12

d. Jenis Batik ... 14

e. Alat – alat yang Digunakan untuk Membatik ... 16

f. Tekhnik Pewarnaan... 18

g. Proses Pembuatan Batik Tulis ... 18

h. Proses Pembuatan Batik Cap ... 21

i. Daerah Penghasil Batik ... 22

j. Macam – macam Desain Batik ... 23

k. Kategori Batik ... 25

l. Perawatan Koleksi Batik ... 27

3. Tinjauan Lobby... 28

4. Tinjauan Area Penjualan ... 39

a. Sistem Pelayanan ... 29

b. Sistem Display ... 30

c. Macam-macam Showroom... 32

5. Tinjauan Ruang Audio Visual ... 32

a. Pengertian Media Audio Visual ... 32

b. Kegunaan Media Audio Visual ... 33

c. Macam – macam Audio Visual ... 33

6. Tinjauan Ruang Pamer ... 35

a. Pengertian Ruang Pamer ... 35

b. Jenis Ruang Pamer ... 35

c. Sarana Ruang Pamer ... 35

7. Tinjauan Area Peragaan Busana ... 37

a. Sejarah Perkembangan Peragaan Fashion ... 37

b. Fashion Show ... 38

c. Interior Fashion Show ... 40

d. Bentuk Catwalk ... 42

8. Tinjauan Cafe’ ... 43

9. Tinjauan Interior Tradisi ... 44

B. Pendekatan Desain ... 49

1. Hubungan Antar Ruang... 49

(12)

commit to user xii

2. Organisasi Ruang ... 49

3. Pola Sirkulasi ... 58

4. Furniture ... 60

5. Warna ... 61

6. Elemen Pembentuk Ruang ... 64

7. Interior Sistem ... 69

a. Sistem Penghawaan ... 69

b. Sistem Pencahayan ( Lighting System ) ... 73

c. Sistem Akustik (Acoustics System) ... 77

d. Sistem Keamanan ... 79

BAB III. STUDI LAPANGAN ... 82

A. Tinjauan Umum ... 82

a. Asumsi Lokasi ... 82

b. Letak Geografis Kota Surakarta ... 82

c. Potensi Kota Surakarta ... 83

d. Perkembangan Potensi Kota ... 84

e. Rencana Pemanfaatan Ruang Kota Surakarta ... 85

f. Penataan Bangunan Kota Surakarta ... 86

B. Tinjauan Khusus ... 89

a. House of Danar Hadi ... 89

b. Rumah Tradisional Laweyan ... 92

c. Kraton Surakarta Hadiningrat ... 95

d. Pura Mangkunegaran ... 98

BAB IV. ANALISA PERANCANGAN ... 103

1. PROGRAMMING ... 103

A. Definisi Proyek ... 103

B. Asumsi Lokasi ... 103

C. Status Kelembagaan ... 104

D. Struktur Organisasi ... 104

E. Program Kegiatan... 104

(13)

commit to user xiii

F. Alur Kegiatan ... 105

G. Program Ruang ... 106

H. Besaran Ruang ... 108

I. Pembentuk Ruang ... 119

J. Pengisi Ruang ... 128

K. Sistem Interior ... 128

L. Sistem Keamanan ... 132

M. Sistem Organisasi Ruang ... 134

N. Sistem Sirkulasi ... 135

O. Pola Hubungan Antar Ruang ... 137

P. Zoning dan Grouping ... 137

2. KONSEP DESAIN ... 140

A. Ide Gagasan ... 140

B. Tema ... 140

C. Suasana Ruang ... 140

D. Pola Penataan Ruang ... 141

E. Pembentuk Ruang ... 141

F. Pengisi Ruang ... 142

G. Sistem Interior ... 143

H. Sistem Keamanan ... 144

BAB V. PENUTUP ... 146

A. Kesimpulan ... 146

B. Saran ... 147

DAFTAR PUSTAKA ... 148

LAMPIRAN

(14)

commit to user xiv

DAFTAR TABEL

halaman

TABEL IV.1. Analisa Kebutuhan Ruang Pengunjung ... 107

TABEL IV.2. Analisa Kebutuhan Ruang Pengelola... 107

TABEL IV.3. Analisa Kegiatan dan Besaran Ruang ... 108

TABEL IV.4. Analisa Penggunaan Material Lantai ... 119

TABEL IV.5. Analisa Penggunaan Material Dinding ... 122

TABEL IV.6. Analisa Penggunaan Material Langit-langit/Ceiling 126 TABEL IV.7. Analisa Pencahayaan Ruang ... 128

TABEL IV.8. Analisa Penghawaan Ruang ... 131

TABEL IV.9. Alternatif Pengorganisasian Ruang... 134

TABEL IV.10. Hubungan Antar Ruang ... 137

(15)

commit to user xv

DAFTAR GAMBAR

halaman GAMBAR II.1. Pahlawan wanita R.A. Kartini dan suaminya memakai rok

batik ... 13

GAMBAR II.2. Canting ... 17

GAMBAR II.3. Batik Cap ... 18

GAMBAR II.4. Proses Nglowong dalam Pembuatan Batik ... 19

GAMBAR II.5. Proses Nembok dalam Pembuatan Batik ... 19

GAMBAR II.6. Proses Wedelan dalam Pembuatan Batik ... 19

GAMBAR II.7. Proses Ngerok dalam Pembuatan Batik ... 20

GAMBAR II.8. Proses Mbironi dalam Pembuatan Batik ... 20

GAMBAR II.9. Proses Nyoga dalam Pembuatan Batik ... 21

GAMBAR II.10. Motif Parang Diagonal ... 23

GAMBAR II.11. Motif Ceplok dan Kawung ... 23

GAMBAR II.12. Motif Bergelombang ... 24

GAMBAR II.13. Motif Semen ... 24

GAMBAR II.14. Motif Buketan ... 24

GAMBAR II.15. Motif Lunglungan ... 24

GAMBAR II.16. Ceplokan Kasatrian ... 25

GAMBAR II.17. Parang Rusak Barong ... 25

GAMBAR II.18. Kawung ... 25

GAMBAR II.19. Truntum ... 26

GAMBAR II.20. Motif Megamendung ... 26

GAMBAR II.21. Motif Paksinagaliman ... 26

GAMBAR II.22. Penataan Ruang Pada Gedung Peragaan ... 41

GAMBAR II.23. Penataan Teater Ruang Audience ... 41

GAMBAR II.24. Penataan Table Ruang Audience ... 41

GAMBAR II.25. Bentuk Catwalk H ... 42

GAMBAR II.26. Bentuk Catwalk I ... 42

GAMBAR II.27. Bentuk Catwalk T ... 42

GAMBAR II.28. Bentuk Catwalk K ... 43

GAMBAR II.29. Detail Konstruksi Sistem Amplokan / Gapitan ... 47

(16)

commit to user xvi

GAMBAR II.30. Detail Konstruksi Sistem Canthokan dan Purus ... 47

GAMBAR II.31. Jenis serta Konstruksi Pintu dan Jendela ... 47

GAMBAR II.32. Organisasi Ruang Terpusat ... 50

GAMBAR II.33. Ilustrasi 1 Organisasi ruang terpusat ... 50

GAMBAR II.34. Ilustrasi 2 Organisasi ruang terpusat ... 50

GAMBAR II.35. Ilustrasi 3 Organisasi Ruang Terpusat ... 51

GAMBAR II.36. Ilustrasi 4 Organisasi Ruang Terpusat ... 51

GAMBAR II.37. Ilustrasi 5 Organisasi Ruang Terpusat ... 51

GAMBAR II.38. Ilustrasi 6 Organisasi Ruang Linear ... 52

GAMBAR II.39. Ilustrasi 7 Organisasi Ruang Linear ... 52

GAMBAR II.40. Organisasi Ruang Linear ... 52

GAMBAR II.41. Ilustrasi 1 Organisasi Ruang Linear ... 53

GAMBAR II.42. Ilustrasi 2 Organisasi Ruang Linear ... 53

GAMBAR II.43. Ilustrasi 3 Organisasi Ruang Linear ... 54

GAMBAR II.44. Ilustrasi 4 Organisasi Ruang Linear ... 54

GAMBAR II.45. Organisasi Ruang Radial ... 54

GAMBAR II.46. Ilustrasi 1 Organisasi Ruang Radial ... 55

GAMBAR II.47. Organisasi Ruang Cluster ... 55

GAMBAR II.48. Ilustrasi 1 Organisasi Ruang Cluster ... 56

GAMBAR II.49. Ilustrasi 2 Organisasi Ruang Cluster ... 56

GAMBAR II.50. Ilustrasi 3 Organisasi Ruang Cluster ... 57

GAMBAR II.51. Organisasi Ruang Grid ... 57

GAMBAR II.52. Ilustrasi 1 Organisasi Ruang Grid ... 57

GAMBAR II.53. Ilustrasi 2 Organisasi Ruang Grid ... 58

GAMBAR II.54. Sirkulasi Linear ... 58

GAMBAR II.55. Sirkulasi Radial ... 59

GAMBAR II.56. Sirkulasi Spiral ... 59

GAMBAR II.57. Sirkulasi Linear ... 59

GAMBAR II.58. Sirkulasi network ... 60

GAMBAR II.59. Unit Indoor AC Split yang dipasang di dinding ... 72

GAMBAR II.60. Unit Indoor AC Split yang dipasang di lantai ... 72 GAMBAR II.61. Unit Indoor AC Split yang dipasang di dekat langit – langit

(17)

commit to user xvii

... 73

GAMBAR II.62. Lampu Pijar ( Incandescent ) ... 76

GAMBAR II.63. Lampu Flourescent ... 76

GAMBAR II.64. Lampu HID (High-Intensity Discharge Lamps) ... 76

GAMBAR II.65. Lampu Flourescent ... 76

GAMBAR III.1. Peta Kota Surakarta ( Denah Lokasi ) ... 82

GAMBAR III.2. Peta Kota Surakarta ( Denah Lokasi ) ... 83

GAMBAR III.3. House of Danar Hadi ... 89

GAMBAR III.4. Showroom Area ... 91

GAMBAR III.5. Museum Batik Kuno ... 91

GAMBAR III.6. Workshop Danar Hadi ... 92

GAMBAR III.7. Souvenir dan Cafe ... 92

GAMBAR III.8. Rumah Tradisional Laweyan ... 92

GAMBAR III.9. Lantai Rumah Tradisional Laweyan ... 93

GAMBAR III.10. Ceiling Rumah Tradisional Laweyan ... 93

GAMBAR III.11. Furniture ... 93

GAMBAR III.12. Pendapa ... 94

GAMBAR III.13. Dalem ... 94

GAMBAR III.14. Senthong ... 94

GAMBAR III.15. Pawon ... 94

GAMBAR III.16. Gandok ... 94

GAMBAR III.17. Kraton Surakarta Hadiningrat ... 95

GAMBAR III.18. Dinding Kraton Surakarta Hadiningrat ... 96

GAMBAR III.19. CeilingKraton Surakarta Hadiningrat ... 96

GAMBAR III.20. Furniture Kraton Surakarta Hadiningrat ... 97

GAMBAR III.21. Museum Kraton Surakarta Hadiningrat ... 97

GAMBAR III.22. Maligen Kraton Surakarta Hadiningrat ... 97

GAMBAR III.23. Pendapa Kraton Surakarta Hadiningrat ... 97

GAMBAR III.24. Pura Mangkunegaran ... 98

GAMBAR III.25. Dalem Agung Pura Mangkunegaran ... 99

GAMBAR III.26. Furniture Pura Mangkunegaran ... 100

(18)

commit to user xviii

GAMBAR III.27. Pendapa Pura Mangkunegaran ... 101

GAMBAR III.28. Pariggitan Pura Mangkunegaran ... 101

GAMBAR III.29. Pracimoyoso Pura Mangkunegaran ... 101

GAMBAR III.30. Bale Warni Pura Mangkunegaran ... 102

GAMBAR IV.1. Peta Kota Surakarta ( Denah Lokasi ) ... 103

GAMBAR IV.2. Ilustrasi Pola Sirkulasi ... 136

GAMBAR IV.3. Zoning ... 138

GAMBAR IV.4. Grouping ... 139

(19)

commit to user xix

DAFTAR BAGAN

Bagan VI.1. Struktur Organisasi ... 104 Bagan VI. 2. Alur Kegiatan Pengunjung ... 105 Bagan VI .3. Alur Kegiatan Pengelola ... 106

(20)

commit to user DESAIN INTERIOR

BATIK CENTER DI SURAKARTA DENGAN PENDEKATAN INTERIOR TRADISI ( Lobby, Showroom Area, Ruang Audiovisual, Ruang Pamer

Tetap, Stage, Workshop Area dan Cafe’) Ilhami Nur Azizah1

Drs. Supriyatmono, M. Sn2 Mulyadi, S. Sn, M.Ds3

ABSTRAK

2012. Permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini adalah : (1) Bagaimana menciptakan sebuah Interior Batik Center yang dapat memberikan manfaat educatif, infotainment bagi pengunjung, dan memberikan manfaat komersialisme bagi pengelola Batik Center tersebut? (2) Apa saja yang perlu diperhatikan dalam merancang sebuah Interior Batik Center yang estetis, sehingga dapat memberikan kesan yang menarik bagi pengunjung, sehingga pengunjung terdorong agar sering mengunjungi Batik Center tersebut ? (3) Bagaimana merancang sebuah Interior Batik Center yang dapat memberikan atau menumbuhkan kecintaan dan minat masyarakat akan kecintaannya terhadap batik ?

Tujuan penulisan ini adalah sebagai berikut : (1) Menciptakan sebuah Interior Batik Center yang menunjang sagala kebutuhan pengunjung dan pemakai sehingga dapat bermanfaat bagi keduanya. (2) Menciptakan sebuah Interior Batik Center yang estetis, sehingga dapat memberikan kepuasan batin bagi pengunjung dan pengelola dengan tujuan membuat penghuni betah untuk berlama – lamaan di dalam Batik Center tersebut. (3) Meningkatkan minat dan kecintaan masyarakat terhadap budaya batik dan yang merupakan warisan dari nenek moyang Bangsa Indonesia.

Metode yang digunakan dalam pembahasan masalah adalah metode pembahasan analisa interaktif, dimana ada 3 tahap pokok

1 Mahasiswa Jurusan Desain Interior dengan NIM C0807023

2 Dosen Pembimbng I

3 Dosen Pembimbing II

yang digunakan oleh peneliti, yaitu : melalui proses seleksi, pemfokusan, penyederhanaan, abstraksi data. Kemudian penyusunan informasi sebelum menyusun sebuah kesimpulan dari penelitian yang dilakukann dan sejak awal penelitian data penelitian sudah harus memulai melakukan pencatatan peraturan, pola-pola pertanyaan, arahan sebab-akibat dan proporsi-proporsi.

Dari analisis ini dapat disimpulkan beberapa hal : (1).Perancangan Interior Batik Center yang baik adalah perancangan yang informatif dan menarik minat pengunjung(2). Penggunaan warna dan bentuk yang sesuai dengan tema akan membangun suasana para pengunjung. (3). Karakter ruang sangat membantu dalam menciptakan kenyamanan dan keamanan bagi pengunjung.

(21)

commit to user

Batik Center

| 0

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH

Suatu Negara dapat dinilai tingginya peradaban dengan melihat kemampuan Negara tersebut sampai berapa jauh dapat mengembangkan kebudayaannya, dan untuk itu kebudayaan memegang peranan penting sebagai gambaran dari generasi ke generasi. Sejak zaman prasejarah hingga zaman sekarang kebudayaan senantiasa mengalami transisi. Ini terjadi bukan saja dari pengaruh – pengaruh luar atau asing, tetapi juga diakibatkan dengan adanya penemuan – penemuan dari lingkungan masyarakat itu sendiri.

Dengan perkembangan zaman yang semakin modern ini, mengakibatkan pola pikir dan gaya hidup masyarakat juga ikut berkembang mengikuti zaman. Selain itu rasa kecintaan masyarakat akan kebudayaan Indonesia semakin berkurang, hal tersebut juga disebabkan karena pengaruh masuknya budaya asing kedalam Negara Indonesia. Sebagai contoh adalah kecintaan masyarakat akan kebudayaan batik, mereka kurang menghargai kebudayaan batik yang merupakan warisan budaya bangsa. Kurangnya sikap menghargai kebudayaan batik itu sendiri maka muncul perdebatan tentang kepemilikan budaya batik, dimana batik diklaim sebagai budaya dari negara lain.

Permasalahan tersebut menggugah saya untuk merancang sebuah Desain Interior Batik Center yang didalamnya terdapat fasilitas – fasilitas untuk mengakomodasi, dengan tujuannya sebagai tempat konservasi, informasi, penelitian, dan rekreasi. Selain memperhatikan aspek di atas, maka dalam perancangan Interior Batik Center juga harus mempertimbangkan aspek estetika yang bertujuan menarik minat masyarakat dan dapat menumbuhkan kecintaan terhadap batik itu sendiri. Batik Center ini didedikasikan untuk umum dan dapat dinikmati oleh siapa saja. Dengan demikian salah satu kebudayaan Indonesia akan dapat tetap hidup lestari.

Perancangan pada Desain Interior Batik Center ini menggunakan pendekatan interior tradisi, hal tersebut disesuaikan dengan interior tradisi tempat Batik Center didirikan, yaitu interior tradisi bangunan di kota Surakarta.

(22)

commit to user

Batik Center

| 1

Pemilihan Daerah Surakarta pada perancangan Interior Batik Center ini dikarenakan kota Surakarta merupakan kota batik, dan juga sebagai salah satu tempat belanja kain batik terkenal di Indonesia. Selain itu batik adalah salah satu produk kota dan telah menjadi icon kota Surakarta

B. BATASAN MASALAH

Batasan masalah pada perancangan Desain Interior Batik Center kali ini adalah merancang sebuah fasilitas untuk public dan comercial space, dengan keluasan interior area 1200m2 - 1500m2 (adalah ruang/bangunan yang berdiri sendiri tidak tergabung dalam mall/square). Perancangan Interior Batik Center ini dibatasi pada perancangan :

1. Lobby

2. Show Room ( Area Penjualan ) 3. Ruang Audio Visual

4. Area Pamer Tetap 5. Stage

6. Work Shop / Area Pelatihan Batik 7. Cafe

C. RUMUSAN MASALAH

Perumusan masalah dari mulai kebutuhan masyarakat, sampai kehadiran Batik Center untuk memberikan pelayanan yang terbaik, akan ditekankan pada:

Bagaimana menciptakan sebuah Interior Batik Center yang dapat memberikan manfaat educatif, infotainment bagi pengunjung, dan memberikan manfaat komersialisme bagi pengelola Batik Center tersebut?

Apa saja yang perlu diperhatikan dalam merancang sebuah Interior Batik Center yang estetis, sehingga dapat memberikan kesan yang menarik bagi pengunjung, sehingga pengunjung terdorong agar sering mengunjungi Batik Center tersebut ?

(23)

commit to user

Batik Center

| 2

Bagaimana merancang sebuah Interior Batik Center yang dapat memberikan atau menumbuhkan kecintaan dan minat masyarakat akan kecintaannya terhadap batik ?

D. TUJUAN PERANCANGAN

Berkaitan dengan latar belakang dan batasan masalah yang telah dirumuskan di atas maka perancangan dan perencanaan Interior Batik Center bertujuan untuk:

Menciptakan sebuah Interior Batik Center yang menunjang sagala kebutuhan pengunjung dan pemakai sehingga dapat bermanfaat bagi keduanya.

Menciptakan sebuah Interior Batik Center yang estetis, sehingga dapat memberikan kepuasan batin bagi pengunjung dan pengelola dengan tujuan membuat penghuni betah untuk berlama – lamaan di dalam Batik Center tersebut.

Meningkatkan minat dan kecintaan masyarakat terhadap budaya batik dan yang merupakan warisan dari nenek moyang Bangsa Indonesia.

E. MANFAAT PERANCANGAN 1. Bagi Penulis/Desainer

a. Sebagai media dalam menyalurkan ide dan gagasan untuk merencanakan dan merancang suatu interior yang disesuaikan dengan kebutuhan dan fungsi dari ruang-ruang yang ada.

b. Dapat memberikan pengalaman maupun pengetahuan yang lebih untuk membuat suatu karya yang lebih baik lagi.

2. Bagi Masyarakat

a. Dapat memberikan wawasan dan pengetahuan tentang perlunya sebuah kesadaran lingkungan untuk suatu perancangan interior.

b. Menjadi sebuah sarana rekreasi yang dapat memberikan tambahan informasi dan juga sebagai sarana pelestarian batik bagi masyarakat.

(24)

commit to user

Batik Center

| 3

F. METODE DESAIN a. Lokasi Penelitian

Dalam penelitian ini yang dipilih sebagai lokasi penelitian adalah : 1) House of Danar Hadi ( Surakarta )

House of Danar Hadi terletak di jalan Slamet Riyadi 261. House of Danar Hadi menawarkan sebuah konsep yakni “One Stop of Batik Adventure”. Sebuah petualangan untuk menggugah kembali kecintaan terhadap Batik. Sedangkan tema pada House of Danar Hadi ini adalah

"Batik: Pengaruh Zaman dan Lingkungan".

2) Rumah Tradisional di Laweyan ( Surakarta )

Rumah tradisional yang dipakai sebagai showroom kain-kain batik tradisional ini terletak di Kampung Sayangan , Laweyan Solo. Pada bangunan ini, termasuk kedalam rumah Jawa karena terdiri dari emperan ( digunakan sebagai ruang tunggu ) , pendopo ( Showroom batik ), dalem yang terdiri dari senthong kiwo, senthong tengah, dan senthong tengen, pawon dan gandok.

3) Kraton Surakarta Hadiningrat ( Surakarta )

Karaton Surakarta Hadiningrat adalah istana Kasunanan Surakarta.

Keraton ini didirikan oleh Susuhunan Pakubuwono II (Sunan PB II) pada tahun 1744. Sebagian besar keraton ini bernuansa warna putih dan biru dengan arsitektur gaya campuran Jawa-Eropa.

4) Pura Mangkunegaran ( Surakarta )

Pura ini dibangun setelah Perjanjian Salatiga. Bangunan istana ini terdiri dari dua bangunan utama khas Jawa, yaitu Pendapa dengan bentuk joglo dan Dalem Agung dengan bentuk limasan.). Warna resmi Pura Mangkunegaran adalah hijau dan kuning emas yang disebut pareanom (padi muda).

b. Bentuk Penelitian

Berdasarkan permasalahan yang telah diajukan dalam penelitian yang memerlukan data-data kualitatif maka bentuk penelitian yang digunakan

(25)

commit to user

Batik Center

| 4

adalah penelitian kualitatif deskriptif (uraian yang bersifat informatif dan tidak berbentuk angka). Bentuk ini mampu menangkap informasi kualitatif yang penuh nuansa daripada hanya sekedar angka atau frekuensi.

“Deskriptif mempersyaratkan suatu usaha dengan keterbukaan pikiran yang menentukan objek yang sedang dipelajari.” (H.B Sutopo, 2002;110).

c. Sumber Data

Sumber-sumber data yang digunakan adalah:

1) Data Primer

Sejumlah keterangan yang diperoleh secara langsung dari lapangan penelitian, melalui pihak-pihak yang terkait secara langsung.

2) Data Sekunder

Sejumlah data yang secara tidak langsung diperoleh dari lapangan penelitian, tetapi diperoleh melalui studi pustaka, majalah, internet.

d. Teknik Pengumpulan Data

Sesuai dengan bentuk penelitian kualitatif, maka sumber data diperoleh melalui teknik :

1) Wawancara

Metode ini untuk memperoleh data atau hal yang sifatnya tidak terungkap secara fisik. Wawancara ini dilakukan dengan struktur yang lentur tetapi dengan “pertanyaan yang semakin memfokus sehingga informasi yang dikumpulkan cukup mendalam”.( H.B.Sutopo,1989;31 ) 2) Observasi

Observasi dalam penelitian kualitatif sering disebut sebagai observasi berperan pasif. Observasi ini dilakukan secara formal dan informal untuk mengamati berbagai kegiatan di lokasi penelitian yang sesuai dengan daftar masalah. Observasi ini juga menggunakan alat Bantu observasi seperti alat pencatat, alat perekam ( recorder ), kamera serta alat pendukung lainnya.

(26)

commit to user

Batik Center

| 5

3) Kontek Analisa ( Analisa Dokumen )

Teknik ini akan dilakukan untuk mengumpulkan data yang bersumber dari dokumen dan arsip yang terdapat pada lokasi penelitian.

G. SISTEMATIKA PENULISAN

Secara garis besar dapat diuraikan sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN

Terdiri atas latar belakang masalah, batasan masalah, rumusan masalah, tujuan, manfaat, metode desain, dan sistematika penulisan.

BAB II KAJIAN LITERATUR

Uraian tentang kajian teori dan pendekatan desain yang dijadikan untuk mencapai tujuan perancangan. Kajian teori meliputi pengertian judul, tinjauan batik, tinjauan lobby, tinjauan area penjualan, tinjauan area audio visual, tinjauan area peragaan busana, tinjauan area workshop, tinjauan cafe’, dan tinjauan interior tradisi jawa. Pendekatan desain meliputi hubungan antar ruang, organisasi ruang, pola sirkulasi, furniture, warna, elemen pembentuk ruang,

BAB III STUDI LAPANGAN

Merupakan tinjauan umum meliputi pembahasan tentang lokasi. serta tinjauan khusus berisi tentang data-data hasil survei lapangan yang berhubungan dengan proyek interior yang akan dikerjakan.

BAB IV ANALISA PERANCANGAN

Merupakan uraian tentang programming dan konsep desain mengenai perencanaan dan perancangan Interior Batik Center di Surakarta.

(27)

commit to user

Batik Center

| 6

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan

Meliputi kesimpulan evaluasi konsep perancangan dan keputusan desain mengenai perancangan Interior Batik Center.

B. Saran

Saran-saran penulis mengenai perancangan Interior Batik Center di Surakarta.

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

Berisi tentang skema pola pikir, gambar-gambar terkait, dan tabel terkait dalam perancangan.

(28)

commit to user

Batik Center

| 8

BAB II

KAJIAN LITERATUR

A. KAJIAN TEORI 1. Pengertian Judul

Pengertian judul “Desain Interior Batik Center di Surakarta dengan Pendekatan Interior Tradisi “ adalah sebagi berikut :

Desain :

a. aktivitas pemecahan masalah secara visual, berdasarkan pertimbangan tertentu yang diwujudkan untuk memenuhi berbagai kepentingan (desain sebagai proses dan deain sebagai wujud).

( Oleh : Drs. Rahmanu Widayat, M.Sn ).

b. Rancangan, rencana suatu bentuk dan sebagainya ( Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1993 : 138 ).

Interior :

a. Ruang dalam bangunan yang ditandai dengan lantai, dinding, langit – langit, dan pola penataan bentuk di dalamnya ( Ching, 1996 ;14 ).

b. Karya arsitektur atau desainer yang khusus menyangkut bagian dalam dari suatu bangunan, bentuknya sejalan dengan perkembangan ilmu dan tekhnologi, dalam proses perancangan selalu dipengaruhi unsur geografi setempat dan kebiasaan – kebiasaan sosial setempat yang diwujudkan dalam gaya kontemporer ( Suptandar, 1999 ; 11 ).

c. Bagian dalam gedung (ruang, dsb), tatanan perabot (hiasan, dsb) di ruang dalam gedung. (Kamus Besar Bahasa Indonesia,1993 : 483) Desain Interior :

Adalah karya arsitek dan desainer yang khusus menyangkut bagian dalam dari suatu bangunan ( Desain interior, 1999 : 11 ).

(29)

commit to user

Batik Center

| 9

Batik :

Kain bergambar yang pembuatannya secara khusus dengan menggunakan malam pada kain itu, kemudian pengolahannya diproses dengan cara tertentu : kain batik (Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi III, 2001 ; 84 ).

Center :

a. Pokok atau pangkal yang menjadi pumpunan ( berbagai unsur, hal, dsb ).

Tempat yang letaknya di tengah ( Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, 1989, 712 ).

b. Tempat yang menjadi pokok kedudukan ( Kamus Umum Bahasa Indonesia, 1987.781).

Di :

a. In, at, on, upon ( Echols & Shadily, Hassan, 1997. Kamus Inggris – Indonesia. Jakarta: P.T. Gramedia Pustaka Utama ).

b. In : indicates that something happens or is situated somewhere, menunjukan bahwa sesuatu terjadi atau terletak pada tempat tertentu ( Encarta Reference Library, 2004 ).

Surakarta :

Kota Surakarta adalah sebuah kota di Provinsi Jawa Tengah, Indonesia.

Kota ini juga dikenal dengan nama Solo, Sala, dan Salakarta.

Tradisi :

Adat istiadat atau kebiasaan yang turun temurun yang masih dijalankan di masyarakat.

Interior Tradisi :

Produk kebudayaan berupa ruang dalam bangunan yang bentuknya sejalan perkembangan ilmu dan teknologi yang berangkat dari fungsi estetika dan penyelesaian masalah serta berorientasi pada peningkatan kenyamanan, efisiensi dan kualitas serta dapat mencerminkan pola kehidupan orang Jawa dan telah dipergunakan turun temurun.

Jadi pengertian Desain Interior Batik Center Di Surakarta Dengan Pendekatan Interior Tradisi adalah rancangan suatu bentuk ruang dalam bangunan yang memiliki fasilitas untuk segala aktivitas yang ada kaitannya

(30)

commit to user

Batik Center

| 10

tentang batik yang terletak di Surakarta dengan pendekatan konsep interior yang menghadirkan suasana tradisi dari suatu daerah yang menampilkan keindahan interior tradisional setempat.

2. Tinjauan Batik a. Pengertian Batik

Kata batik memang berasal dari bahasa Jawa. Kata inipun sudah menjadi kata yang diadaptasi ke berbagai bahasa dunia. Banyak teori yang berusaha menjelaskan kepastian asal muasal batik. Beberapa arkeolog menemukan peninggalan batik yang terjadi di awal abad ke – 10. Menurut fakta yang ada, batik telah mencapai Jawa pada abad ke – 12, sebagai bagian penting dari kebudayaan dan ekonomi indonesia. Pada awalnya batik hanya sekedar hiburan dari para istri di Kraton Jawa. Namun kemudian mulai berubah menjadi bagian status sosial, hingga kemudian menjadi kostum nasional yang dipakai oleh perempuan dan laki – laki.

Terlepas dari asal mula batik yang masih dipelajari oleh para ahli, batik Indonesia mempunyai keunikan tersendiri dan mengandung makna filosofis yang dalam. Batik Indonesia merupakan peleburan dari berbagai budaya, yaitu budaya asli Indonesia dengan budaya Hindu – Budha dan budaya islam serta eropa yang dibawa oleh Belanda.(

http://www.joglosemar.com ).

Beberapa ahli berpendapat bahwa batik asli ada di Pulau Jawa berasal dari Turki dan Mesir yang kemudian di bawa pedagang – pedagang Hindustan dan Tiongkok dengan berbagai macam seni lukis ke Indonesia.

Kemungkinan pada abad ke-12, seni kerajinan tersebut mulai masuk ke Jawa Barat ( Banten ). Yang kemudian menyebar ke seluruh pelosok Indonesia, dan menjadi material yang paling digemari oleh pejabat – pejabat keraton ( khususnya di Yogyakarta ). Pada tahun 1850, ditemukan canting cap yang memungkinkan pembuatan batik secara cepat untuk memenuhi kebutuhan yang besar dari masyarakat pada waktu itu. Sejalan dengan perkembangan tekhnologi, seni kerajinan ikut pula berkembang dengan dikenalnya batik cap dan batik printing di samping batik tulis (

(31)

commit to user

Batik Center

| 11

Indonesia Indah Buku Kedelapan ( batik ), Yayasan Harapan Kita, Jakarta, 1990,14 ).

Batik adalah salah satu cara pembuatan bahan pakaian. Selain itu batik bisa mengacu pada dua hal. Yang pertama adalah teknik pewarnaan kain dengan menggunakan malam untuk mencegah pewarnaan sebagian dari kain. Dalam literatur internasional, teknik ini dikenal sebagai wax-resist dyeing. Pengertian kedua adalah kain atau busana yang dibuat dengan teknik tersebut, termasuk penggunaan motif-motif tertentu yang memiliki kekhasan.

b. Sejarah Teknik Batik

Seni pewarnaan kain dengan teknik pencegahan pewarnaan menggunakan malam adalah salah satu bentuk seni kuno. Penemuan di Mesir menunjukkan bahwa teknik ini telah dikenal semenjak abad ke-4 SM, dengan diketemukannya kain pembungkus mumi yang juga dilapisi malam untuk membentuk pola. Di Indonesia, batik dipercaya sudah ada semenjak zaman Majapahit, dan menjadi sangat populer akhir abad XVIII atau awal abad XIX. Batik yang dihasilkan ialah semuanya batik tulis sampai awal abad XX dan batik cap baru dikenal setelah Perang Dunia I atau sekitar tahun 1920-an.

Walaupun kata "batik" berasal dari bahasa Jawa, kehadiran batik di Jawa sendiri tidaklah tercatat. G.P. Rouffaer berpendapat bahwa tehnik batik ini kemungkinan diperkenalkan dari India atau Srilangka pada abad ke-6 atau ke-7. Di sisi lain, J.L.A. Brandes (arkeolog Belanda) dan F.A.

Sutjipto (arkeolog Indonesia) percaya bahwa tradisi batik adalah asli dari daerah seperti Toraja, Flores, Halmahera, dan Papua. Perlu dicatat bahwa wilayah tersebut bukanlah area yang dipengaruhi oleh Hinduisme tetapi diketahui memiliki tradisi kuna membuat batik.

G.P. Rouffaer juga melaporkan bahwa pola gringsing sudah dikenal sejak abad ke-12 di Kediri, Jawa Timur. Dia menyimpulkan bahwa pola seperti ini hanya bisa dibentuk dengan menggunakan alat canting,

(32)

commit to user

Batik Center

| 12

sehingga ia berpendapat bahwa canting ditemukan di Jawa pada masa sekitar itu.

Legenda dalam literatur Melayu abad ke-17, Sulalatus Salatin menceritakan Laksamana Hang Nadim yang diperintahkan oleh Sultan Mahmud untuk berlayar ke India agar mendapatkan 140 lembar kain serasah dengan pola 40 jenis bunga pada setiap lembarnya. Karena tidak mampu memenuhi perintah itu, dia membuat sendiri kain-kain itu. Namun sayangnya kapalnya karam dalam perjalanan pulang dan hanya mampu membawa empat lembar sehingga membuat sang Sultan kecewa. Oleh beberapa penafsir, serasah itu ditafsirkan sebagai batik.

Dalam literatur Eropa, teknik batik ini pertama kali diceritakan dalam buku History of Java (London, 1817) tulisan Sir Thomas Stamford Raffles.

Pada 1873 seorang saudagar Belanda Van Rijekevorsel memberikan selembar batik yang diperolehnya saat berkunjung ke Indonesia ke Museum Etnik di Rotterdam dan pada awal abad ke-19 itulah batik mulai mencapai masa keemasannya. Sewaktu dipamerkan di Exposition Universelle di Paris pada tahun 1900, batik Indonesia memukau publik dan seniman.

Semenjak industrialisasi dan globalisasi, yang memperkenalkan teknik otomatisasi, batik jenis baru muncul, dikenal sebagai batik cap dan batik cetak, sementara batik tradisional yang diproduksi dengan teknik tulisan tangan menggunakan canting dan malam disebut batik tulis. Pada saat yang sama imigran dari Indonesia ke Persekutuan Malaya juga membawa batik bersama mereka.

c. Sejarah Pembatikan di Indonesia

Sejarah pembatikan di Indonesia berkait erat dengan perkembangan kerajaan Majapahit dan penyebaran ajaran Islam di Tanah Jawa. Dalam beberapa catatan, pengembangan batik banyak dilakukan pada masa-masa kerajaan Mataram, kemudian pada masa kerajaan Solo dan Yogyakarta.

(33)

commit to user

Batik Center

| 13

Jadi kesenian batik ini di Indonesia telah dikenal sejak zaman kerajaan Majapahit dan terus berkembang kepada kerajaan dan raja-raja berikutnya. Kesenian batik adalah kesenian gambar di atas kain untuk pakaian yang menjadi salah satu kebudayaan keluarga raja-raja Indonesia zaman dulu. Awalnya batik dikerjakan hanya terbatas dalam kraton saja dan hasilnya untuk pakaian raja dan keluarga serta para pengikutnya. Oleh karena banyak dari pengikut raja yang tinggal diluar kraton, maka kesenian batik ini dibawa oleh mereka keluar kraton dan dikerjakan ditempatnya masing-masing.

Lama-lama kesenian batik ini ditiru oleh rakyat terdekat dan selanjutnya meluas menjadi pekerjaan kaum wanita dalam rumah tangganya untuk mengisi waktu senggang. Selanjutnya, batik yang tadinya hanya pakaian keluarga kraton, kemudian menjadi pakaian rakyat yang digemari, baik wanita maupun pria.

Batik Solo terkenal dengan corak dan pola tradisionalnya batik dalam proses cap maupun dalam batik tulisnya. Bahan-bahan yang dipergunakan untuk pewarnaan masih tetap banyak memakai bahan-bahan dalam negeri seperti soga Jawa yang sudah terkenal sejak dari dahulu.

Polanya tetap antara lain terkenal dengan “Sidomukti” dan “Sidoluruh”.

Batik Jawa adalah sebuah warisan kesenian budaya orang Indonesia, khususnya daerah Jawa yang dikuasai orang Jawa dari turun temurun. Batik Jawa mempunya motif-motif yang berbeda-beda. Batik Jawa banyak berkembang di daerah Solo atau yang biasa disebut dengan batik Solo. (Http ://id.wikipedia.org./wiki/BerkaNiya_batik.jpg )

Gambar no.II.1, Pahlawan wanita R.A. Kartini dan suaminya memakai rok batik.

( Sumber : http://id.wikipedia.org./wiki/Berka Raden_Adjeng_Kartini.jpg )

(34)

commit to user

Batik Center

| 14

d. Jenis Batik

Berdasarkan tekniknya Batik Dibedakan Menjadi 5, yaitu:

1. Batik tulis adalah kain yang dihias dengan teksture dan corak batik menggunakan tangan. Pembuatan batik jenis ini memakan waktu kurang lebih 2-3 bulan.

2. Batik cap adalah kain yang dihias dengan teksture dan corak batik yang dibentuk dengan cap ( biasanya terbuat dari tembaga). Proses pembuatan batik jenis ini membutuhkan waktu kurang lebih 2-3 hari.

3. Batik saring 4. Batik celup 5. Batik terap.

Berdasarkan alat pembuatannya

1. Batik Tulis: Batik yang ditulis dengan lilin batik cair pada kain dengan menggunakan canting.

2. Batik Cap : batik yang dibuat dengan canting cap.

3. Batik Kombinasi : Batik yang pelilinannya, pertama dengan menggunakan cap dan kedua (mbirini) menggunakan canting.

4. Batik lukis : batik yang dibuat tidak dengan menggunakan canting ataupun cap, melainkan dengan alat lukis.

Berdasarkan proses pembuatannya/teknik pembuatannya :

1. Batik Kerokan : batik yang cara menghilangkan lilin klowongnya dengan dikerok/digaruk pakai cawuk (pada bagian yang hanya sebagian/tertentu saja)

2. Batik Loeodan : Batik yang proses pembuatannya mempunyai urutan pekerjaan yang terbalik dan tidak ada proses kegiatan mengerok/mleorot dan mbironi kain.

3. Batik Raioan: batik yang mempunyai pengerjaan perusakan warna, yaitu pemutihan dengan zat warna soda yang digunakan adalah warna yang dapat diputihkan tetapi tahan terhadap lunturan lilin.

Biasanya pada batik jenis ini tidak mempunyai warna hitam.

(35)

commit to user

Batik Center

| 15

4. Batik Kelengan : batik yang hanya dengan 1 warna saja yaitu warna wedelan/warna biru tua. Jadi dalam prosesnya, batik ini hanya diwedel setelah mori dicap, kemudian diplorod.

5. Batik Monochrome: batik dengan 1 warna semacam batik kelengan, tetapi tidak menggunakan warna wedelan, melainkan sebagai gantinya dicelup dengan warna-warna tajam seperti warna merah, violet, hijau, dan sebagainya.

6. Batik Latar Hitam: batik yang bagian muka dari kain yang ditutup dengan lilin tembokan adalah relatife kecil.

7. Batik Putih : kebalikan dari batik Latar Hitam

8. Batik Krakel: batik yang tanpa kerokan/lorodan, tetapi dengan proses pelarutan kostik soda dan remukan lilin.

Berdasarkan bahan jadinya :

1. Batik dari kain berwarna : batik yang sudah dibuat dari kain yang sudah diwarna

2. Batik Lurik : batik yang dibuat dari kain yang bercorak, karena permainan benang berwarna dalam tenunan

3. Batik Tetoron: batik yang dibuat denagn menggunakan kain tetoron

4. Batik Formika: hasil kombinasi antara proses pembuatan batik dan proses pembuatan motif formika secara penempelan pada kain.

5. Batik Bordir: hasil kombinasi pengerjaan batik dengan border / sulam

6. Batik Sutera: batik yang dibuat dengan menggunakan kain sutra dan biasanya batik jenis ini bermotif burung Phoenix kombinasi dengan tumbuh-tumbuhan. karena pengaruh kebudayaan Cina pada motif-motif batik.

7. Berdasarkan motifnya. seperti: batik kawung, udan Uris, parang rusak, parang kusuma. sidomukti. dan sebagainya.

Berdasarkan asal daerahnya, seperti: batik pekalongan. batik Madura.

Batik Solo, batik Jogja. dan sebagainya

(36)

commit to user

Batik Center

| 16

(Museum dan Pusat Pengembangan Desain Batik Indonesia. Handoko. W.

Jogjakarta. I 995,p. 42-44)

e. Alat-alat yang digunakan untuk membatik

Seni batik pada dasarnya sama dengan seni lukis. Alat yang digunakan untuk melukis disebut canting, dan sebagai bahan untuk melukis digunakan cairan malam. Canting memiliki berbagai macam ukuran tergantung pada jenis dan halusnya garis atau titik yang akan dibuat. Hasil lukisan ini yang kemudian disebut ragam hias atau motif batik ( Batik It’s Mystery and Meaning, Djambatan, Jakarta, 1990, p. 1).

 Jenis Canting - Menurut fungsinya :

1. Canting Reng-rengan

Canting reng-rengan dipergunakan untuk membatik reng-rengan.

Reng-rengan (ngengrengan) ialah batikan pertama kali sesuai dengan pola sebelum dikerjakan lebih lanjut. Canting reng-rengan bercucuk sedang dan tunggal.

2. Canting Isen

Canting Isen ialah canting untuk membatik isi bidang, atau untuk mengisi polan. Canting isen bercucuk kecil baik tunggal maupun rangkap.

- Menurut besar kecil cucuk, canting dapat dibedakan : 1. Canting carat (cucuk) kecil.

2. Canting carat (cucuk) sedang.

3. Canting carat (cucuk) besar.

- Menurut banyaknya carat (cucuk) canting dapat dibedakan : 1. Canting cecekan

Canting cecekan bercucuk satu (tunggal), kecil, dipergunakan untuk membuat titik- titik kecil (Jawa : cecek). Orang membuat titik- titik dengan canting cecekan disebut “nyeceki”.

(37)

commit to user

Batik Center

| 17

2. Canting loron

Loron berasal dari kata loro yang berarti dua. Canting ini bercucuk dua,berjajar atas dan bawah, dipergunakan untuk membuat garis rangkap.

3. Canting telon

Telon dari kata telu yang berarti tiga. Canting ini bercucuk tiga dengan susunan bentuk segi tiga. Kalau canting telon dipergunakan untuk membatik, maka akan terlihat bekas segi tiga yang dibentuk oleh tiga buah titik, sebagai pengisi.

4. Canting prapatan

Prapatan dari kata papat yang berarti empat. Maka canting ini bercucuk empat, dipergunakan untuk membuat empat buah titik yang membentuk bujursangkar sebagai pengisi bidang.

5. Canting liman

Liman dari kata lima. Canting ini bercucuk lima untuk membuat bujursangkar kecil yang dibentuk oleh empat buah cicik dan sebuah titik ditengahnya.

6. Canting byok

Canting byok ialah canting yang bercucuk tujuh buah atau lebih dipergunakan untuk membentuk lingkaran kecil yang terdiri dari titik- titik, ; sebuah titik atau lebih, sesuai dengan banyaknya cucuk, atau besar kecilnya lingkaran. Canting byok biasanya bercucuk ganjil.

Gambar II.2 Canting ( Sumber : www.Google.com )

Beberapa alat dan bahan yang harus dipersiapkan sebelum membatik adalah kain mori ( bisa terbuat dari sutera atau katun ), canting sebagai alat pembentuk motif, gawangan ( tempat untuk menyampirkan kain ), dan lilin selain panic dan kompor kecil untuk memanaskan.

( Nugraha, Iskandar P. ( 2005 ). Batik-sejarahnya-dan-jati-diri kita.http://www.kompas.com).

(38)

commit to user

Batik Center

| 18

Gambar II.3 Batik Cap ( Sumber : www.Google.com )

Bahan lainnya yaitu malam. Pemalaman adalah proses penggambaran corak dengan prinsip negatif di atas kain dengan menggunakan malam cair dengan canting sebagai alatnya. Proses ini didahului dengan pemolaan.

f. Teknik Pewarnaan

Pada batik tradisional, pewarna yang digunakan adalah pewarna alami.

Contohnya penggunaan warna coklat dari pohon tingi, warna biru dari tarum, akar pohon mengkudu yang mengeluarkan warna merah atau kunyit yang memunculkan warna kuning. Warna-warna batik keraton biasanya dihiasi dengan warna-warna tanah seperti coklat, hitan, krem, putih atau bitu tua. Sedangkan warna cerah seperti merah atau kuning lebih banyak digunakan dalam pembuatan batik pesisir.

Sekitar akhir abad ke-19 menyusul penemuan zat pewarna buatan sebagai pengaruh dari pedagang Cina yang menjual batik namun berusaha mencari jenis pewarna baru yang efisien, murah, tahan sinar matahari dan variatif. Zat pewarna yang popular dikalangan batik saat itu adalah Naphtol dan Indigosol.

g. Proses Pembuatan Batik Tulis 1) Nglowong,

Yakni menggambari kain dengan lilin, baik dengan menggunakan canting tangan maupun dengan menggunakan cap (stample). Sifat lilin yang digunakan dalam proses ini harus cukup kuat dan renyah. Jenis malam ini digunakan agar supaya lilin mudah dilepaskan dengan cara dikerok karena bekas gambar dari lilin ini nantinya akan diberi warna

(39)

commit to user

Batik Center

| 19

coklat. Nglowong ada dua tingkatan yaitu: ngéngréng dan nerusi (menggambar pada pemukaan kain lainnya).

Gambar II.4 Proses Nglowong dalam Pembuatan Batik ( Sumber : www.Google.com )

2) Nembok,

Proses hampir sama dengan nglowong tetapi lilin yang digunakan lebih kuat karena lilin ini dimaksudkan untuk menahan zat warna biru (indigo) dan coklat (soga) agar tidak menembus kain. Bedanya dengan nglowong adalah nembok dimaksudkan untuk menahan warna, sedangkan nglowong dimaksudkan untuk menggambar dan menjadi tempat warna coklat setelah dikerok.

Gambar II.5 Proses Nembok dalam Pembuatan Batik ( Sumber : www.Google.com )

3) Wedelan,

Proses untuk memberi warna biru dengan menggunakan indigo (napthol) yang disesuaikan dengan tingkat warna yang dikehendaki.

Gambar II.6 Proses Wedelan dalam Pembuatan Batik ( Sumber : www.Google.com )

(40)

commit to user

Batik Center

| 20

4) Ngerok,

Untuk menghilangkan lilin klowongan untuk tempat warna coklat.

Ngerok dikerjakan dengan potongan kaleng dengan lebar kurang lebih 3 cm dan panjang kurang lebih 30 cm yang ditajamkan sebelah, lalu dilipat menjadi 2. Alat ini kemudian disebut dengan cawuk.

Gambar II.7 Proses Ngerok dalam Pembuatan Batik ( Sumber : www.Google.com )

5) Mbironi,

Kain yang telah selesai dikerok bagian-bagian yang diinginkan tetap berwarna biru dan putih (cecekan/titik-titik) perlu ditutup dengan lilin dengan menggunakan canting tangan, maksudnya agar bagian tersebut tidak kemasukkan warna lain bila di soga.

Gambar II.8 Proses Mbironi dalam Pembuatan Batik

( Sumber : www.Google.com )

6) Nyoga,

Kain yang telah selesai dibironi lalu diberi warna coklat (disoga) dengan ekstrak warna yang terbuat dari kulit kayu soga, tingi, tegeran, dll.

Kain tersebut dicelup dalam bak pewarna hingga basah seluruhnya kemudian dianginkan sampai kering. Proses ini diulang-ulang sampai mendapatkan warna coklat yang diinginkan. Untuk warna yang tua sekali, proses ini dapat memakan waktu 1-2 minggu. Bila menggunakan zat pewarna kimia, proses ini dapat selesai 1 hari.

(41)

commit to user

Batik Center

| 21

Gambar II.9 Proses Nyoga dalam Pembuatan Batik ( Sumber : www.Google.com )

7) Mbabar/nglorot,

Untuk membersihkan seluruh lilin yang masih ada di kain dengan cara memasak dalam air mendidih yang ditambah dengan air tapioka encer agar lilin tidak melekat kembali ke kain.

h. Proses Pembuatan Batik Cap

Dalam pembuatan batik cap ada 3 jenis proses kegiatan, diantaranya:

1. Proses Sederhana

Tahap permulaan adalah mendesain. Selanjutnya kain mori/kain putih yang dijadikan bahan dasar dicap menurut desain yang ditentukan sebelumnya dengan menggunakan bahan pembantu lilin/malam. Setelah pengecapan selesai, kain dicelupkan kedalam air bersih yang dingin kemudian dijemur sampai kering. Selanjutnya kain diwarnai sesuai desainnya. Proses pewarnaan ini cukup dengan mencelupkan kain yang telah dicap tersebut kedalam cairan pewarna selama 2 jam. Setelah pewarnaan, kain direndam untuk dibersihkan dan direndam kembali di dalam air yang telah dicampur obat pengawet warna. Setelah itu dikeringkan.

2. Proses Tutupan

Proses tutupan hampir dengan proses sederhana tetapi setelah kain putih dicap dan diwarna, kain ditutup batikan. Selanjutnya kain yang telah ditutup batikan diwarna kembali. Setelah proses pewarnaan, kain dilorot untuk menghilangkan lilin/malam yang masih sisa dengan cara memasukkannya ke dalam bak air panas agar malam lepas dari kain.

Setelah dilorot, proses terakhir dari proses tutupan kain di lasem yaitu kain diberi warna yang tipis gunanya sebagai kreasi lain.

(42)

commit to user

Batik Center

| 22

3. Proses Batikan

Proses batikan hampir sama dengan proses sederhana tetapi setelah kain putih dicap dan diwarna, kain dilorot untuk menghilangkan lilin/malam dengan cara memasukkannya kedalam bak air panas agar malam lepas dari kain. Setelah dilorot, kain ditembok dengan menggunakan malam yaitu menutup tempat-tempat tertentu sesuai desainnya. Setelah ditembok kain diwarna selanjutnya dilorot kembali untuk menghilangkan sisa malam/lilin yang masih sisa. Setelah selesai, kain yang sudah dibatik dilasem yaitu kain tersebut diberi warna yang tipis gunanya sebagai kreasi lainnya.

i. Daerah Penghasil Batik

Sejak jaman penjajahan Belanda, pengelompokan batik yang ditinjau dari sudut daerah pembatikan, dibagi dalam 2 kelompok besar :

a. Batik Vorsterlander adalah batik yang berasal dari daerah Surakarta dan Yogyakarta, sering disebut juga batik keraton, ciri-cirinya antara lain:

1. Ragam hias bersifat simbolis, dengan latar belakang. kebudayaan Hindu-Jawa.

2. Warna: sogan, maigo (biru).

b. Batik Pesisir adalah semua batik yang pembuatannya di luar daerah Surakarta dan Yogyakarta, seperti Cirebon. Indramayu, Lasem, Pekalongan, dengan ciri-ciri sebagai berikut:

1. Ragam hias bersifat naturalis, dan banyak terpengaruh oleh kebudayaan asing seperti Cina dan India.

2. Warna: beraneka ragam (Batik It's Mystery and Meaning, Djambatan. Jakarta. 1990.p. 8).

Dalam perkernbangan Selanjutnya ke daerah lain, kedua jenis batik tersebut memiliki pengaruh yang kuat. Daerah-daerah penghasil batik yang ada di Indonesia sampai sekarang adalah sebagai berikut:

a. Jawa Timur, meliputi: Tuban, Gresik. Sidoarjo, Porong, Banyuwangi, dan Madura (Bangkalan, Sampang. Pamekasan, Surnenep) yang

(43)

commit to user

Batik Center

| 23

banyak dipengaruhi batik Pesisir. Ponorogo. Pacitan, trenggalek banyak dipengaruhi batik Surakarta dan Yogyakarta.

b. Jawa Tengah, meliputi: Surakarta, Yogyakarta, dan Lasem sebagai pusat penghasil batik yang terkenal. Juga di daerah Banyumas, Demak, Kudus, Rernbaneg, Juwana. dan Pati.

c. Jawa Barat, meliputi Cirebon, Garut, Indramayu, Ciamis, Tasikmalaya, Jakarta, dan yang tertua daerah Banten Selatan (dengan kain Simbutnya) (Batik It's Mystery and Meaning, Djambatan. 1990, 10- 31).

j. Macam-macam Desain Batik

Pada umumnya, ada dua jenis desain batik, yaitu: geometris dan non- geometris

1. Geometris

Gambar II.10 Motif Parang dan diagonal ( Sumber : www.Google.com )

Gambar II.11 Persegi/persegi panjang, silang atau motif Ceplok dan Kawung ( Sumber : www.Google.com )

(44)

commit to user

Batik Center

| 24

Gambar II.12 Motif bergelombang (Limar) ( Sumber : www.Google.com )

2. Non-Geometris a. Semen

Motif semen terdiri dari flora, fauna, gunung (meru), dan sayap yang dirangkai secara harmonis.

Gambar II.13 Motif Semen ( Sumber : www.Google.com )

b. Buketan

Gambar II.14 Motif Buketan ( Sumber : www.Google.com )

c. Lunglungan

Gambar II.15 Motif Lunglungan ( Sumber : www.Google.com )

(45)

commit to user

Batik Center

| 25

k. Kategori Batik 1. Batik Keraton

Batik keraton adalah batik dari Surakarta (Solo) dan Yogyakarta (Yogya).

Gambar II.16 Ceplokan Kasatrian ( Sumber : www.Google.com )

Filosofi : motif ini digunakan oleh masyarakat kelas menengah ke bawah; orang yang mengenakannya akan terlihat gagah dan kepribadian yang berani.

Gambar II.17 Parang Rusak Barong ( Sumber : www.Google.com )

Filosofi : Parang berarti senjata ; menunjukkan kekuatan, kekuasaan, dan pergerakan yang gesit. Ksatria yang mengenakan batik ini terlihat gagah dan cekatan.

Gambar II.18 Kawung ( Sumber : www.Google.com )

(46)

commit to user

Batik Center

| 26

Filosofi:: Motif ini digunakan oleh para Raja dan keluarga kerajaan, sebagai sebuah simbol kekuasaan dan keadilan. Empat buah lingkaran dengan sebuah pusat juga menandakan Raja dengan para asistennya.

Gambar II.19 Truntum ( Sumber : www.Google.com )

Filosofi: Truntum berarti membimbing. Motif ini mengandung makna bahwa diharapkan orang yang memakainya dapat memperoleh dan memberi kebaikan.

2. Batik Pesisir

Batik yang dibuat di luar daerah Solo dan Yogyakarta. Beberapa contoh diantaranya :

Gambar II.20 Motif Megamendung : dari Cirebon ( Sumber : www.Google.com )

Gambar II.21 Motif Paksinagaliman : dari Cirebon ( Sumber : www.Google.com )

(47)

commit to user

Batik Center

| 27

l. Perawatan Koleksi Batik

Batik seperti halnya tekstil lain sangat rentan terhadap berbagai faktor lingkungan. Banyak faktor yang harus dipertimbangkan dalam menjaga keawetan batik. terutama batik yang mamiliki nilai-nilai sejarah.

Salah salu faktor penting dalam perawatan batik adalah cahaya.

Kerusakan paling sering disebabkan oleh pancaran radiasi sinar UV baik dari sinar matahari langsung maupun oleh sinar lampu fluorescent.

Sebenarnya tidak hanya radiasi UV saja yang merusak kain. tetapi semua spectrum cahaya menguraikan serat kain dan memudarkan warnanya hanya saja radiasi UV yang bersifat paling merusak. Untuk pemajangan digunakan penutup kaca yang dilapisi filter UV / dengan kaca film yang mampu memantulkan sebagian UV. Selain itu ruangan sebaiknya terhindar dari cahaya matahari karena cahaya matahari mempunyai intensitas radiasi UV yang jauh lebih besar dari pada lampu.

Cara yang saat ini paling efektif adalah dengan sistem rotasi. sistem ini memajang benda tekstil selama 3-4 bulan kemudian menyimpannya di ruang khusus selama kurang lebih 12 bulan. Selama masa penyimpanan itu barang lain yang sama dipamerkan.

Suhu tinggi dan tingkat kelembapan tinggi mempercepat kerusakan kain. karena semakin hangat temperature akan mempercepat perkembangan mikro organisme pengurai warna dan serat kain. Suhu maksimal untuk penyimpanan adalah 293 Kelvin. Kelembaban tinggi merupakan tempat favorit. bagi jamur dan lumut yang akan mempercepat proses pelapukan kain. Kelembaban udara yang disarankan adalah 50-55%

kelembaban relatif.

Polusi udara juga merupakan musuh dari kain. Belerang dioksida dari asap pembakaran mesin motor dan industri cepat mengoksidasi kain sehingga lebih cepat pudar dan lapuk, akan tetapi debu akan lebih merepotkan. karena hampir tidak mungkin menciptakan ruang publik tanpa debu. Partikel-partikel ,debu bagaikan pisau kecil yang perlahan memotong serat-serat kain. Pada kelembapan terlalu rendah akan semakin banyak debu yang beterbangan.

(48)

commit to user

Batik Center

| 28

Dalam perawatan kain batik harus sering dibersihkan dengan alat penyedot debu. Koleksi .baru yang akan dipajang juga harus dibersihkan sebelum dipamerkan bersama koleksi-koleksi lainnya karena kemungkinan membawa partikel debu kasar dari luar.

Koleksi batik paling dibersihkan dengan menggunakan vacuum cleaner dengan tenaga paling pelan untuk perawatan harian. Sedangkan untuk perawatan berkala dengan menggunakan jasa konservator yang biasanya menggunakan zat kimia yang relatif aman untuk kain. Tetapi mengingat biaya untuk pemanggilan konservator, maka yang memerlukan perawatan ekstra hanyalah koleksi-koleksi batik yang memiliki nilai-nilai sejarah saja. Selebihnya koleksi batik biasa dapat dirawat oleh pengelola sendiri.

3. Tinjauan Lobby

Secara Umum lobby adalah ruang tunggu berukuran besar yang terletak di kantor depan sebuah hotel atau bangunan dan berdekatan dengan receptionist counter , serta mempunyai beberapa fasilitas yang dilengkapi peralatan standar di dalamnya. ( Soenarno, 1995 : 115 )

Menurut Darma dan Suartana ( 1983 : 52 ) lobby merupakan ruangan umum tempat para tamu berwawancara, bertemu dengan tamu lainnya, santai dan kadang – kadang para tamu juga dapat menikmati minuman atau makanan ringan, disamping itu pada lobby terdapat juga receptionist, information, front office chasier.

Jadi ruang lobby merupakan ruang yang pertama ditemukan oleh setiap pengunjung di setiap bangunan yang berfungsi sebagai berikut :

a. Sebagai area principal pada sebuah bangunan yaitu guna menghubungkan pemakai ruang bangunan pada ruang yang dimaksud atau dengan kata lain untuk mempermudah pencapaian ruang lain yang akan dituju.

b. Ruang penerima awal dengan tujuan keleluasaan pribadi atau keamanan yag merupakan daerah yang terpisah secara fisik dengan ruang utama.

Gambar

Gambar no.II.1, Pahlawan wanita R.A. Kartini dan suaminya memakai rok batik.
Gambar II.2 Canting  ( Sumber : www.Google.com )
Gambar II.7 Proses Ngerok dalam Pembuatan Batik  ( Sumber : www.Google.com )
Gambar II.10 Motif Parang dan diagonal   ( Sumber : www.Google.com )
+7

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Bab II akan membahas mengenai pemaknaan AXIS Jakarta International Java Jazz Festival 2010 dari segi produksi, yaitu bagaimana awal mula acara musik ini diadakan, tujuan tim

Dalam konteks perkembangan ilmu pengetahuan dan iklim ilmiah di perguruan tinggi di Indonesia, paham disrupsi menjadi pencerahan yang menyingkap dua fenomen yang

Dari penelitian ini ditarik kesimpulan bahwa Pakaian muslimah perspektif hadis nabi adalah pakaian tersebut menutup seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak

Indonesia merupakan negara yang sebagian besar wilayahnya mempunyai potensi gempa.Untuk mengantisipasi kejadian gempa, struktur bangunan gedung bertingkat tinggi

Pengujian uji coba perbandingan performa bertujuan untuk mengukur seberapa cepat pengolahan data dengan menggunakan teknologi Complex Event Processing (CEP) jika

Secara khusus, Slavin menyebutkan kelebihan model pembelajaran learning together yaitu: a) learning together amat penting untuk meningkatkan keterampilan siswa

Dari beberapa hasil studi tersebut membuktikan pentingnya membangun kualitas keterhubungan (relationship quality ) oleh perusahaan melalui beberapa dimensi yaitu kepercayaan

Seperti pada perusahaan saat ini, teknologi sistem informasi merupakan suatu bagian yang sangat dibutuhkan untuk mendukung kinerja perusahaan agar lebih baik