7
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Teori yang berkaitan dengan Jaringan
Pada bagian ini menjelaskan tentang teori-teori yang berkaitan dengan jaringan komputer sebagai landasan dan acuan dalam perancangan monitoring system jaringan di Direktorat Jenderal Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika.
2.1.1 Jaringan Komputer
Menurut Forouzan (2007:7) Jaringan komputer adalah sekumpulan perangkat (yang biasanya disebut dengan node) yang terhubung oleh link komunikasi. Sebuah node tersebut berupa komputer, printer, atau perangkat lainnya yang dapat mengirim atau menerima data yang di hasilkan oleh node lainnya yang berada didalam jaringan. Pada sebuah jaringan komputer yang baik harus memenuhi sejumlah kriteria, diantaranya:
a. Performance
Ukuran dari performance bisa bermacam-macam, termasuk didalamnya adalah waktu transit (transit time) dan waktu response (response time). Transit time adalah banyaknya waktu yang dibutuhkan data untuk melakukan “perjalanan” dari satu device ke device lainnya. Sedangkan response time adalah selisih waktu antara permintaan dengan respon terhadap permintaan.
b. Reliability
Untuk menjamin akurasi pengiriman data, realibilitas jaringan dapat diukur dari seberapa seringnya kegagalan pengiriman data (frequency failure) yang terjadi waktu yang dibutuhkan untuk proses recover setelah terjadinya kegagalan (recovery time after a failure), dan antisipasi jaringan terhadap kejadian yang diluar sistem (catastrophe).
c. Security
Masalah keamanan jaringan termasuk melindungi data dari hak akses yang tidak sah, melindungi data dari kerusakan dan pengembangan, dan menerapkan kebijakan dan prosedur untuk pemulihan dari pelanggaran dan kehilangan data.
2.1.2 Klasifikasi Jaringan Komputer
Menurut Forouzan (2007:13-15) Berdasarkan ruang lingkup jangkauan, jaringan komputer dapat dibagi menjadi, LAN (Local Area Network), MAN (Metropolitan Area Network), WAN (Wide Area Network).
2.1.2.1 LAN (Local Area Network)
Local Area Network adalah jaringan yang biasanya milik pribadi dan menghubungkan perangkat dalam satu kantor, gedung, atau kampus. Tergantung pada kebutuhan organisasi dan jenis teknologi yang digunakan, sebuah LAN dapat sesederhana dua PC dan printer di kantor/rumah. Saat ini, ukuran LAN dibatasi hingga beberapa kilometer.
Gambar 2.1 Local Area Network (LAN) (Sumber: http://cis.msjc.edu/courses/images/LAN.jpg
diakses pada tanggal 13 April 2014)
2.1.2.2 MAN (Metropolitan Area Network)
Metropolitan Area Network adalah jaringan dengan ukuran antara LAN dan WAN. Biasanya mencakup area dalam satu kota. Contoh yang bagus untuk MAN adalah bagian dari jaringan perusahaan telepon yang menyediakan layanan DSL kecepatan tinggi kepada pelanggan. Contoh yang lain adalah jaringan TV kabel yang awalnya didesain untuk TV kabel, tapi sekarang ini dapat juga digunakan untuk koneksi kecepatan tinggi ke internet.
Gambar 2.2 Metrpolitan Area Network (MAN) (Sumber: http://cis.msjc.edu/courses/images/MAN.jpg
diakses pada tanggal 13 April 2014)
2.1.2.3 WAN (Wide Area Network)
Wide Area Network adalah sebuah jaringan yang menyediakan transmisi data, gambar, audio, dan informasi video jarak jauh meliputi area geografi yang luas yang dapat berupa sebuah negara, sebuah benua, atau bahkan seluruh dunia.
Gambar 2.3 Wide Area Network (WAN) (Sumber: Modul Teori Jaringan Komputer, p9)
2.1.3 Arsitektur Protokol Jaringan
2.1.3.1 Open System Interconnection (OSI) Model
Menurut Iwan Sofana (2011:105-109) Open System Interconnection (OSI) atau biasa disebut dengan model referensi OSI adalah sebuah model arsitektur untuk jaringan komputer yang mendefinisikan standar untuk menghubungkan komputer-komputer dari vendor yang berbeda agar dapat berlangsung dengan baik. Model OSI ini dikembangkan oleh International Organization for Standardization (ISO) di Eropa pada tahun 1977. Model OSI ini disebut juga model OSI tujuh lapis atau OSI seven layer.
Gambar 2.4 Model Arsitektur OSI Layer
(Sumber: Hasan Maulana, Konsep Jaringan, p28)
2.1.3.1.1 Application Layer
Berfungsi sebagai antarmuka (penghubung) aplikasi dengan fungsionalitas jaringan, mengatur bagaimana aplikasi dapat mengakses jaringan, dan kemudian membuat pesan-pesan kesalahan. Pada layer ini lah sesungguhnya user “berinteraksi dengan jaringan”
Contoh protokol yang berada pada lapisan ini: FTP, telnet, SMTP, HTTP, POP3, NFS.
2.1.3.1.2 Presentation Layer
Berfungsi untuk mentranslasikan data yang hendak ditransmisikan oleh aplikasi ke dalam format yang dapat ditransmisikan melalui jaringan. Protokol yang berada pada level ini adalah sejenis redirector software, seperti network shell semacam Virtual Network Computing (VNC) atau Remote Desktop Protocol (RDP). Kompresi data dan enkripsi juga ditangani layer ini.
2.1.3.1.3 Session Layer
Berfungsi untuk mendefinisikan bagaimana koneksi dimulai, dipelihara, dan diakhiri. Selain itu, di level ini juga dilakukan resolusi nama. Beberapa protokol pada layer ini:
• NETBIOS, protokol yang dikembangkan IBM, menyediakan layanan untuk layer presentation dan layer application.
• NETBEUI, (NETBIOS Extended User Interface), protokol pengembangan dari NETBIOS, digunakan pada Microsoft networking.
• ADSP (Apple Talk Data Stream Protocol).
• PAP (Printer Access Protocol), protokol untuk printer Postscript pada jaringan Apple Talk.
2.1.3.1.4 Transport Layer
Berfungsi untuk memecah data menjadi paket- paket data serta memberikan nomor urut setiap paket sehingga dapat disusun kembali setelah diterima.
Paket yang diterima dengan sukses akan diberi tanda (acknowledgement). Sedangkan paket yang rusak atau hilang ditengah jalan akan dikirim ulang.
Contoh protokol yang digunakan pada layer ini seperti: UDP dan TCP.
2.1.3.1.5 Network Layer
Berfungsi untuk mendefinisikan alamat-alamat IP, membuat header untuk paket-paket, dan melakukan routing melalui internetworking dengan menggunakan router dan switch layer 3. Pada layer ini juga dilakukan proses deteksi error dan transmisi ulang paket-paket yang error.
Contoh protokol yang digunakan seperti: IP, IPX.
2.1.3.1.6 Data-Link Layer
Berfungsi untuk menentukan bagaimana bit-bit data dikelompokkan menjadi format yang disebut frame. Pada level ini terjadi error correction, flow control, pengalamatan perangkat keras (MAC Address), dan menentukan bagaimana perangkat- perangkat jaringan seperti bridge dan switch layer 2 beroperasi.
Contoh protokol yang digunakan pada layer ini adalah: Ethernet (802.2 & 802.3), Token Bus (802.4), Token Ring (802.5), Demand Priority (802.12).
2.1.3.1.7 Physical Layer
Berfungsi untuk mendefinisikan media transmisi jaringan, metode pensinyalan, sinkronisasi bit, arsitektur jaringan (seperti halnya Ethernet atau Token Ring), topologi jaringan, dan pengabelan.
Selain itu, level ini juga mendefinisikan bagaimana Network Interface Card (NIC) berinteraksi dengan media wire atau wireless.
2.1.3.2 TCP/IP Model
Menurut Gin-gin Yugianto dan Oscar Rahman (2012:41-43) TCP (Transmission Control Protocol) adalah suatu protokol atau perantara yang dapat mentransmisikan data per segmen, artinya paket data dipecah dalam jumlah yang sesuai dengan besaran paket, kemudian dikirim satu persatu hingga selesai.
Gambar 2.5 Model Arsitektur TCP/IP (Sumber: Hasan Maulana, Konsep Jaringan, p30)
2.1.3.2.1 Application Layer
Application Layer merupakan lapisan terakhir dalam arsitektur TCP/IP yang berfungsi mendefinisikan aplikasi-aplikasi yang dijalankan pada jaringan. Contohnya adalah SMTP (Simple Mail Transfer Protocol) untuk pengiriman e-mail, FTP
(File Transfer Protocol) untuk transfer file, HTTP (Hyper Text Transfer Protocol) untuk aplikasi web, NNTP (Network News Transfer Protocol) untuk distribusi news group dan lain-lain.
2.1.3.2.2 Transport Layer
Pada Transport Layer mendefinisikan cara-cara untuk melakukan pengiriman data antara end to end host secara handal. Lapisan ini menjamin bahwa informasi yang diterima pada sisi penerima adalah sama dengan informasi yang dikirimkan pada pengirim. Untuk itu, lapisan ini memiliki beberapa fungsi penting antara lain:
• Flow Control
Pengiriman data yang telah dipecah menjadi paket-paket tersebut harus diatur sedemikian rupa agar pengirim tidak sampai mengirimkan data dengan kecepatan yang melebihi kemampuan penerima dalam menerima data.
• Error Detection
Pengirim dan penerima juga melengkapi data dengan sejumlah informasi yang bisa digunakan untuk memeriksa data yang dikirimkan bebas dari kesalahan. Jika ditemukan kesalahan pada paket data yang diterima, maka penerima tidak akan menerima data tersebut. Pengirim akan mengirim ulang paket data yang mengandung kesalahan tadi. Namun hal ini dapat menimbulkan delay yang cukup berarti.
2.1.3.2.3 Internet Layer
Internet Layer mendefinisikan bagaimana hubungan dapat terjadi antara dua pihak yang berada pada jaringan yang berbeda seperti Network Layer pada OSI. Pada jaringan Internet yang terdiri atas puluhan
juta host dan ratusan ribu jaringan lokal, lapisan ini bertugas untuk menjamin agar suatu paket yang dikirimkan dapat menemukan tujuannya dimana pun berada. Oleh karena itu, lapisan ini memiliki peranan penting terutama dalam mewujudkan internetworking yang meliputi wilayah luas (worldwide Internet). Beberapa tugas penting pada lapisan ini adalah:
• Addressing
Bertugas untuk melengkapi setiap datagram dengan alamat Internet dari tujuan. Alamat pada protokol inilah yang dikenal dengan Internet Protocol Address (IP Address). Karena pengalamatan (addressing) pada jaringan TCP/IP berada pada level ini (software), maka jaringan TCP/IP independen dari jenis media dan komputer yang digunakan.
• Routing
Routing bertugas untuk menentukan ke mana datagram akan dikirim agar mencapai tujuan yang diinginkan. Fungsi ini merupakan fungsi terpenting dari Internet Protocol (IP). Sebagai protokol yang bersifat connectionless, proses routing sepenuhnya ditentukan oleh jaringan.
Pengirim tidak memiliki kendali terhadap paket yang dikirimkannya untuk bisa mencapai tujuan.
Router-router pada jaringan TCP/IP lah yang sangat menentukan dalam penyampaian datagram dari penerima ke tujuan.
2.1.3.2.4 Network Layer
Network Layer mempunyai fungsi yang mirip dengan Data Link layer pada OSI. Lapisan ini mengatur penyaluran data frame-frame data pada media fisik yang digunakan secara handal. Lapisan
ini biasanya memberikan servis untuk deteksi dan koreksi kesalahan dari data yang ditransmisikan.
Beberapa contoh protokol yang digunakan pada lapisan ini adalah X.25 jaringan publik, Ethernet untuk jaringan Etehernet, AX.25 untuk jaringan Paket Radio.
1.1.3.2.5 Physical Layer
Physical Layer merupakan lapisan terbawah yang mendefinisikan besaran fisik seperti media komunikasi, tegangan, dan arus. Lapisan ini dapat bervariasi bergantung pada media komunikasi pada jaringan yang bersangkutan. TCP/IP bersifat fleksibel sehingga dapat mengintegralkan berbagai jaringan dengan media fisik yang berbeda-beda.
2.1.4 Topologi Jaringan
Menurut Iwan Sofana (2011:11-14) ada 4 “bentuk dasar” topologi jaringan, yaitu Topologi Bus, Ring, Star, Mesh.
2.1.4.1 Topologi Bus
Topologi Bus menggunakan sebuah kabel backbone dan semua host terhubung secara langsung pada kabel tersebut.
2.1.4.1.1 Kelebihan Topologi Bus
Pada topologi Bus mempunyai kelebihan diantaranya:
• Murah dan mudah di implementasi
• Tidak membutuhkan banyak kabel
• Tidak menggunakan peralatan jaringan khusus.
2.1.4.1.2 Kelemahan Topologi Bus
Topologi Bus juga mempunyai kelemahan yaitu:
• Terjadi gangguan apabila menambahkan atau mengurangi komputer pada jaringan.
• Merusak sistem jaringan apabila ada kabel yang rusak atau putus.
• Sulit untuk melakukan troubleshooting.
Gambar 2.6 Topologi Bus
(Sumber : Oka Susila, Modul Jaringan Komputer, p15)
2.1.4.2 Topologi Ring
Topologi Ring menghubungkan host dengan host lainnya membentuk lingkaran tertutup atau loop.
2.1.4.2.1 Kelebihan Topologi Ring
Topologi Ring mempunyai kelebihan, yaitu:
• Apabila ada kesalahan pada kabel, membuat pemecahan masalah atau troubleshooting lebih mudah.
• Mudah untuk di pasang atau di instalasi.
2.1.4.2.2 Kelemahan Topologi Ring
Kelemahan pada topologi Ring, yaitu:
• Expansi ke jaringan dapat menyebabkan gangguan jaringan.
• Apabila ada kabel yang rusak atau putus dapat merusak seluruh jaringan.
Gambar 2.7 Topologi Ring
(Sumber: Oka Susila, Modul Jaringan Komputer, p16)
2.1.4.3 Topologi Star
Topologi Star menghubungkan semua komputer pada sentral atau konsentrator. Biasanya konsentrator berupa perangkat hub atau switch.
2.1.4.3.1 Kelebihan Topologi Star
Topologi Star mempunyai kelebihan, yaitu:
• Mudah diperluas tanpa adanya gangguan ke jaringan.
• Apabila ada kabel yang rusak atau putus maka hanya mempengaruhi pada satu user saja.
• Mudah untuk melakukan troubleshooting dan mengisolasi masalah.
2.1.4.3.2 Kelemahan Topologi Star
Topologi Star mempunyai kelemahan yaitu:
• Membutuhkan lebih banyak kabel.
• Lebih sulit untuk diterapkan.
Gambar 2.8 Topologi Star
(Sumber: Hasan Maulana, Konsep Jaringan, p21)
2.1.4.4 Topologi Mesh
Topologi Mesh menghubungkan setiap komputer secara point-to-point yang berarti semua komputer akan saling terhubung satu-satu sehinggga tidak dijumpai ada link yang terputus.
2.1.4.4.1 Jenis-Jenis Topologi Mesh
Ada dua jenis pada topologi Mesh yaitu topologi Full- Mesh dan topologi Partial-Mesh.
2.1.4.4.1.1 Topologi Full-Mesh
Topologi Full-Mesh setiap simpulnya memiliki rangkaian, yang menghubungkan setiap node dalam jaringan. Topologi Full-Mesh biasanya disediakan sebagai backbone jaringan dan topologi ini memerlukan biaya yang sangat mahal dalam penerapannya dan juga menghasilkan jumlah redundansi terbesar.
Gambar 2.9 Topologi Fully-Mesh (Sumber: Hasan Maulana, Konsep
Jaringan, p23)
2.1.4.4.1.2 Topologi Partial-Mesh
Topologi Partial-Mesh merupakan topologi yang dimana beberapa nodes dari jaringan yang terhubung lebih dari satu nodes dengan koneksi point-to- point. Topologi ini biasanya terdapat dalam jaringan peripheral yang terhubung ke backbone mesh penuh dan topologi ini tidak memerlukan biaya yang mahal serta menghasilkan jumlah redudansi yang kecil.
Gambar 2.10 Topologi Partial-Mesh (Sumber : Hasan Maulana, Konsep
Jaringan, p23)
2.1.4.4.2 Kelebihan Topologi Mesh
Topologi Mesh mempunyai kelebihan, yaitu:
• Menyediakan jalur (path) yang lebih banyak antara perangkat.
• Jaringan dapat diperluas tanpa gangguan saat digunakan.
2.1.4.4.3 Kelemahan Topologi Mesh Kelemahan pada topologi Mesh, yaitu:
• Membutuhkan lebih banyak kabel dibandingkan topologi lain nya.
• Implementasi yang rumit.
2.1.5 Internet
Menurut Gin-Gin Yugianto dan Oscar Rachman (2012:36) Internet adalah suatu sistem jaringan komunikasi beberapa komputer yang terhubung tanpa batas waktu maupun tempat, sehingga dapat dikatakan sebagai suatu komunitas jaringan global.
2.1.6 Network Monitoring System (NMS)
2.1.6.1 Definisi Network Monitoring System
Network Monitoring System (NMS) merupakan tool yang digunakan untuk melakukan monitoring/pengawasan pada elemen-elemen yang ada di dalam jaringan komputer.
2.1.6.2 Tujuan Network Monitoring System
Fungsi utama dari Network Monitoring System (NMS) adalah melakukan pemantauan terhadap kualitas SLA (Service Level Agreement) dari bandwidth yang digunakan. Hasil dari pantauan tersebut biasanya dijadikan bahan dalam pengambilan keputusan oleh pihak manajemen, disisi lain digunakan oleh administrator jaringan (technical person) untuk menganalisa apakah terdapat kejanggalan dalam operasional jaringan.
2.1.7 Firewall
2.1.7.1 Definisi Firewall
Firewall merupakan sebuah sistem atau kelompok sistem yang menerapkan sebuah access control policy terhadap lalu lintas network yang melewati titik-titik akses network. (Chris Brenton 2003:178)
2.1.7.2 Fungsi Firewall
Menurut Chris Brenton (2003:180-201) ada beberapa fungsi umum pada firewall yaitu:
• Static packet filtering (Penyaringan paket secara statis)
Static packet filtering mengontrol lalu lintas network menggunakan informasi yang disimpan di dalam header paket.
• Dynamic packet filtering (Penyaringan paket secara dinamis) Pada fungsi dynamic packet filtering, firewall berfungsi untuk memantau status dari sebuah session komunikasi dengan cara me-maintain sebuah tabel koneksi.
• Stateful filtering (Penyaringan berdasarkan status)
Berfungsi untuk meningkatkan kemampuan dari dynamic packet filtering.
• Proxy
Berfungsi sebagai aplikasi yang menjadi mediator atau menengahi lalu lintas di antara dua buah segmen network.
2.1.8 Intrusion Detection System
2.1.8.1 Definisi Intrusion Detection System (IDS)
Intrusion Detection System dapat di definisikan sebagai tool, metode, sumber daya yang memberikan bantuan untuk melakukan identifikasi, memberikan laporan terhadap aktivitas jaringan komputer. (Dony Ariyus 2007:27)
2.1.8.2 Fungsi Intrusion Detection System (IDS)
Menurut Dony Ariyus (2007:31-34) ada beberapa alasan untuk memperoleh dan menggunakan IDS, diantaranya adalah:
• Mencegah resiko keamanan yang terus meningkat.
• Mendeteksi serangan dan pelanggaran keamanan sistem jaringan yang tidak bisa dicegah oleh sistem yang umum dipakai seperti firewall.
• Mendeteksi serangan awal (biasanya network probe dan aktivitas doorknob rattling).
• Mengamankan file yang keluar dari jaringan.
• Sebagai pengendali untuk security design dan administrator, terutama bagi perusahaan/kantor yang besar.
• Menyediakan informasi yang akurat terhadap gangguan secara langsung, meningkatkan diagnosis, recovery, dan mengoreksi faktor-faktor penyebab serangan.
2.1.8.3 Tipe Intrusion Detection System (IDS)
Pada dasarnya ada dua macam Intrusion Detection System (IDS), yaitu:
• Host – Based: IDS host-based bekerja pada host yang akan dilindungi. IDS jenis ini dapat melakukan berbagai macam tugas untuk mendeteksi serangan yang dilakukan pada host tersebut. Keunggulan IDS host-based adalah pada tugas- tugas yang berhubungan dengan keamanan file. Misalnya ada-tidaknya file yang telah diubah atau ada usaha untuk mendapatkan akses ke sensitive files.
• Network Based: IDS network based biasanya berupa suatu mesin yang khusus dipergunakan untuk melakukan monitoring seluruh segmen dari jaringan. IDS network based akan mengumpulkan paket-paket data yang terdapat pada jaringan dan kemudian menganalisisnya serta menentukan apakah paket-paket itu berupa suatu paket yang
normal atau suatu serangan atau berupa aktifitas yang mencurigakan.
2.1.9 Intusion Prevention System (IPS)
Menurut Dony Ariyus (2007:51) Teknologi Intrusion Prevention System memiliki kemampuan yang lebih lengkap dibandingkan IDS, karena IPS dapat langsung mengambil langkah-langkah mitigasi untuk mengatasi penyusup sedangkan pada IDS hanya memberikan peringatan saja kepada pengguna.
IDS
(Intrusion Detection System)
IPS
(Intrusion Prevention System) Install pada segmen jaringan
(NIDS) dan pada host (HIDS)
Install pada segmen jaringan (NIPS) dan pada host (HIPS) Berada pada jaringan sebagai
sistem yang pasif
Berada pada jaringan sebagai sistem yang aktif
Tidak bisa menguraikan lalu- lintas enkripsi
Lebih baik untuk melindungi aplikasi
Managemen kontrol terpusat Managemen kontrol terpusat
Baik untuk mendeteksi serangan Ideal untuk memblocking perusakan web
Alerting (reaktif) Blocking (proaktif)
Tabel 2.1 Perbandingan IDS dan IPS 2.1.10 Linux
2.1.10.1 Definisi Linux
Menurut Wilfridus Bambang Triadi Handaya (2008:3) Linux adalah sistem turunan UNIX yang lengkap, dapat digunakan untuk jaringan, pengembangan perangkat lunak, dan bahkan untuk penggunaan sehari-hari selain itu linux juga merupakan alternatif OS yang jauh lebih murah jika dibandingkan dengan OS komersial.
2.1.10.2 Kelebihan Linux
Linux memiliki kelebihan diantaranya adalah:
• Source code linux didistribusikan secara gratis.
• Biaya finansial murah.
• Kebebasan untuk bisa memodifikasi sistem operasi dengan cara yang fundamental.
2.1.10.3 Kelemahan Linux
Linux juga memiliki kelemahan diantaranya adalah:
• Penekanan terhadap CLI (Command Line Interface) sehingga sulit untuk pengguna komputer yang telah mempelajari komputer dengan mengandalkan kemudahan dari sebuah GUI (Graphic User Interface).
• Proses instalasi lebih rumit dibandingkan dengan menginstal windows.
• Nama-nama paket program antara distro satu dengan distro lainnya berbeda-beda.
2.1.11 Open Source
Open source merupakan istilah yang digunakan untuk software yang berbasis freeware atau yang membebaskan pengguna untuk memakai, mempelajari, serta memodifikasi source codenya tanpa harus membayar royalti kepada pembuatnya tetapi tidak menghilangkan copyright dari pembuat.
2.2 Teori yang terkait tema penelitian (tematik)
Pada bagian ini menjelaskan tentang teori yang terkait dengan tema penelitian dalam perancangan monitoring system jaringan di Direktorat Jenderal Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika.
2.2.1 Observium
2.2.1.1 Definisi Observium
Observium adalah salah satu monitoring system jaringan yang berbasis web dan hanya dapat berjalan pada sistem operasi Linux. Observium juga merupakan aplikasi freeware. Aplikasi monitoring system jaringan ini memiliki keunggulan tersendiri seperti GUI (Graphic User Interface) yang lebih interaktif dan mudah dimengerti.
2.2.1.2 Fitur-fitur Observium
Beberapa fitur-fitur yang dimiliki Observium diantaranya:
• Memantau traffic jaringan menggunakan fitur real time network traffic hingga 0.25 sec/graph.
• Memiliki resource monitoring yang lengkap.
• Dapat di integrasikan dengan monitoring system lainnya seperti Collectd untuk memberikan graph yang lebih rinci maupun Smokeping untuk mengukur latency pada jaringan.
Gambar 2.11 Tampilan Monitoring Observium
2.2.2 Everest
2.2.2.1 Definisi Everest
Everest merupakan aplikasi monitoring system berbasis web yang sejenis dengan Observium. Everst dapat berjalan di operating sistem Windows maupun Linux akan tetapi aplikasi ini bersifat lisence. Fitur-fitur yang dimiliki Everest pun tidak
jauh berbeda dengan fitur-fitur yang dimiliki Observium seperti auto discovery untuk mendukung penemuan otomatis infrastruktur jaringan baru dan juga fitur seperti real time network traffic akan tetapi Everest hanya mampu memonitoring network traffic 5 menit/graph dibandingkan Observium yang mampu memonitoring network traffic 0.25 detik/graph.
2.2.2.2 Fitur-fitur Everest
Beberapa fitur yang dimiliki Everest antara lain:
• Auto discovery.
• Resource monitoring
• Traffic monitoring 5 menit/graph.
• Customer support jika terjadi gangguan aplikasi.
Gambar 2.12 Monitoring Everest
2.2.3 Fortigate
Fortigate merupakan salah satu produk dari fortinet. Fortigate merupakan salah satu UTM yang berbentuk hardware. Terdapat fungsi monitoring dalam fortigate yakni memonitoring sistem security yang menggunakan IPS. Karena fortigate memiliki fungsi memonitoring maka fortigate akan menghasilkan log-log dan log tersebut akan di analisa dan disimpan di fortianalizer. Fortigate juga dapat dikombinasikan dengan produk fortinet lainnya seperti forti AP dan lain- lain.
Gambar 2.13 Fortigate
2.2.4 Debian
2.2.4.1 Definisi Debian
Debian adalah distro linux yang sangat dinamis, hasil dari usaha para sukarelawan untuk membuat distro dengan kualitas tinggi dan non commercial. (Wilfridus Bambang, 2008:11-12)
2.2.4.2 Kelebihan Debian
Debian merupakan turunan dari sistem operasi linux jika dibandingkan dengan FreeBSD dan OpenBSD yang juga turunan dari linux, Debian memiliki kelebihan diantaranya Debian memiliki banyak architecture yang mendukung banyak aplikasi untuk sebuah server selain itu debian juga memiliki kestabilan program yang telah teruji dan mudah untuk di maintenance dibandingkan dengan distro linux lainnya seperti FreeBSD dan OpenBSD.
2.2.4.3 Kelemahan Debian
Debian juga memiliki kelemahan diantarnya adalah:
• Periode rilis yang konservatif
• Perlu repository yang besar (40-60 GB)
2.2.5 Apache
Apache adalah suatu web server yang dapat dikategorikan sederhana dalam implementasinya. Tujuan awal dari apache sebagai penyedia layanan untuk halaman internet. Kesederhanaan dan desain bersifat
modular dari server HTTPD Apache membawa sejumlah aspek sekuritas yang tinggi. (Wilfridus Bambang, 2008:128)
2.2.6 MySQL
Menurut Agus Saputra (2011:44) MySQL merupakan perangkat lunak yang bersifat open source. MySQL menggunakan bahasa Structure Query Language (SQL) yang merupakan bahasa standar untuk pengolahan database atau biasa disebut dengan sebutan DBMS (Database Management System).
2.2.7 PHPMyadmin
Menurut Teguh Wahyono (2005:258) PHPMyadmin merupakan free software yang berbasis web dan bebas digunakan serta didistribusikan, dengan menggunakan fasilitas yang ada pada PHPMyadmin programmer bisa melakukan manipulasi database dengan mudah. Mulai dari pembuatan database sampai pada manipulasi dan organisasi data di dalamnya.
2.2.8 SNMP (Simple Network Management Protocol) 2.2.8.1 Definisi SNMP
Menurut Sean Wilkins (2011:256) SNMP (Simple Network Management Protocol) merupakan management network yang banyak digunakan oleh banyak organisasi untuk mengelola dan memonitoring semua perangkat mereka. Selain itu SNMP dapat digunakan untuk banyak hal, mulai dari monitoring sampai memicu peringatan dari konfigurasi perangkat.
2.2.8.2 Komponen SNMP (Simple Network Management Protocol) SNMP dapat dibagi menjadi 3 komponen:
2.2.8.2.1 SNMP Manager
SNMP Manager berfungsi untuk mengontrol dan memonitor perangkat dalam jaringan menggunakan SNMP.
2.2.8.2.2 SNMP Agent
SNMP Agent adalah komponen yang berjalan secara langsung pada perangkat dan memelihara data dan melapor data-data tersebut (jika diperlukan) ke SNMP Manager.
2.2.8.2.3 MIB (Management Information Base)
MIB (Management Information Base) adalah lokasi penyimpanan informasi virtual yang berisi kumpulan objek-objek yang dimanage. Dalam MIB terdapat objek-objek yang berhubungan dengan berbagai modul MIB, misalnya modul antarmuka.
2.2.9 Bandwidth
Bandwidth adalah besarnya lalu lintas data yang dilewati berdasarkan satuan waktu. Bandwidth dihitung dalam satuan bits per seconds (bit per detik), Kbps (Kilo bit per seconds), Mbps (Mega bit per seconds) Gbps (Giga bit per seconds). (Forouzan, 2007:16)
2.3 Hasil Penelitian atau Produk Sebelumnya
Dari ketiga jurnal yang di pelajari terdapat beberapa point penting yang dapat diambil:
1. Dengan adanya “Aplikasi monitoring traffic jaringan intranet berbasis Web dengan menggunakan protokol SNMP” diharapkan dapat membantu administrator jaringan komputer untuk mengetahui, memantau dan menjaga stabilitas lalu lintas (traffic) dari suatu jaringan intranet melalui web.
2. Beberapa fungsi monitoring yang umum di pakai yaitu kepadatan dan lalu lintas (traffic) dalam ukuran penggunaan lebar pita saluran data (bandwidth), pada sistem yang lebih kompleks, proses monitoring ini dapat dikembangkan sampai kepada penggunaan sumber daya (resource), seperti system up/down, utilisasi cpu dan memory, serta manajemen port.
3. “The ideal network monitoring system it should be automatic and continuously monitor the network” yang bila diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia menjadi “sistem monitoring jaringan yang bagus harus otomatis dan berkesinambungan dalam memonitor jaringan tersebut”.
Tabel 2.2 Perbandingan Aplikasi Sejenis
Keterangan :
*RTNTM = Real Time Network Traffic Monitoring.
*P,M,D,T = Processor, Memory, Disk, Temperature.
Dari tabel diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa observium merupakan network monitoring system yang paling real time pada bagian network traffic monitoring, observium juga bersifat free dan memiliki resource monitoring yang lebih lengkap, oleh karena itu kami memilih observium sebagai network monitoring dalam penelitian ini.
NMS Everest Cacti PRTG Observium OpenNMS Nagios
RTNTM 5m 5m 1m 0,25s 5m 5m
Latency Graph
Visulation no Via
plugin yes Via plugin no Via
plugin
WebApp Full control Full Control
Full Control
Full
Control Full Control Full control Customer
Relationship Management
yes no yes no no no
Price Lisence Free Lisence Free Free Free
Database Storage Method
RRDtool,
MySQL RRDtool,
MySQL Proprietary RRDtool, MySQL
JRobin, PostgreSQL
Flat file, SQL oracle
Resource
monitoring P,M,D P,M,D P,M,D,T P,M,D,T P,M,D P,M,D
IDS or IPS no no no no no no