• Tidak ada hasil yang ditemukan

1/35 Respon Cepat Bencana Melalui Pengelolaan Data dan Informasi Kebencanaan Secara Terintegrasi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "1/35 Respon Cepat Bencana Melalui Pengelolaan Data dan Informasi Kebencanaan Secara Terintegrasi"

Copied!
35
0
0

Teks penuh

(1)

1/35

Respon Cepat Bencana Melalui Pengelolaan Data dan Informasi Kebencanaan Secara Terintegrasi

Nama Diklat : Pelatihan Kepemimpinan Tingkat II Angkatan XIX

Tahun : 2018

Ruang lingkup inovasi : Provinsi

Cluster inovasi : Hankam, Trantib & Bencana Inovator : Drs. Biwara Yuswantana, M.Si.

Jabatan : Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Instansi : Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Latar Belakang

Berdasarkan kondisi geografis, geologis, hidrologis, dan demografis, wilayah DIY memiliki kondisi yang memungkinkan terjadinya bencana, baik yang disebabkan oleh faktor alam, faktor non-alam maupun faktor manusia. Pengalaman selama ini, bencana alam telah menyebabkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis yang dalam keadaan tertentu dapat menghambat pembangunan.

Berdasarkan Peraturan Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 2 tahun 2010 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, penetapan jenis bencana alam yang mengancam DIY antara lain sebagai berikut : letusan gunung berapi, tanah longsor, banjir, kekeringan, angin topan, gempa bumi, dan tsunami.

Bencana non-alam yang mungkin tejadi di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta antara lain, gagal teknologi, kebakaran, epidemi, wabah penyakit, dampak industri dan pencemaran lingkungan. Sedangkan potensi bencana sosial yang mengancam antara lain konflik antar kelompok masyarakat dan terorisme. Namun demikian kejadian bencana non alam dan bencana sosial, baik frekuensi maupun kerawanannya relatif kecil kecuali untuk kebakaran pemukiman yang termasuk sering terjadi di DIY.

Mengingat kompleksnya permasalahan bencana, diperlukan sistem penanggulangan bencana yang komprehensif dengan didukung kelembagaan yang kuat agar bencana dapat ditangani secara terarah dan terpadu. Untuk itulah, pasal 18 mengamanatkan agar daerah membentuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah. Hal ini juga diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana. Selain itu Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta sudah membuat Peraturan Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 13 Tahun 2015 tentang Perubahan atas Peraturan Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta No. 8 tahun 2010 tentang Penanggulangan Bencana.

Permasalahan yang dihadapi dalam penanganan dampak bencana antara lain akurasi data sangat kurang di awal masa tanggap darurat. Hal ini disebabkan karena

(2)

2/35

perubahan di lapangan yang sangat dinamis. Koordinasi dan integrasi data sangat sulit atau memerlukan waktu karena pelaku pendataan yang banyak sehingga data tidak terstandar. Disisi lain ego serktoral membuat integrasi data semakin sulit dilaksanakan.

Tuntutan dalam penanganan dampak bencana, baik dalam rangka menolong korban maupun perbaikan infrastruktur dan lainnya memerlukan waktu yang cepat agar tidak kehilangan momentum dan penanganan dapat dilakukan dengan akurat, serta aktifitas masyarakat kembali pulih dengan cepat. Disisi lain penanganan dampak bencana masih menghadapi hambatan berupa lemahnya koordinasi antar unit/institusi Pemerintahan, dan juga koordinasi dengan/antar pemangku kepentingan lainnya seperti badan usaha swasta, lembaga swadaya masyarakat (LSM), perguruan tinggi, organisasi kemasyarakatan, media massa dan masyarakat.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (yang selanjutnya disebut “BPBD”) Daerah Istimewa Yogyakarta adalah Satuan Perangkat Kerja Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta yang dibentuk berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2010. SKPD ini bertugas untuk merumuskan dan menetapkan kebijakan terhadap usaha penanggulangan bencana yang mencakup pencegahan dan mitigasi bencana, kesiapsiagaan, penanganan darurat, rehabilitasi serta rekonstruksi secara adil dan setara, serta melakukan pengkoordinasian pelaksanaan kegiatan penanggulangan bencana secara terencana, terpadu, dan menyeluruh.

Disaster Information Management System merupakan sistem informasi yang sangat diperlukan dalam penanganan darurat dan pengkoordinasian pelaksanaan kegiatan penanggulangan bencana secara terencana, terpadu dan menyeluruh dalam waktu sesingkat-singkatnya. Kebutuhan terhadap sistem informasi pada proses

penanggulangan bencana berbasis manajemen adalah untuk memudahkan melakukan kerja operasional yang sistematis dan terkontrol dengan baik. Untuk itu sistem manajemen kebencanaan menjadi mendesak untuk diterapkan. Sistem ini juga selalu berhubungan dengan pengolahan informasi yang didasarkan pada computer based information processing.

Daerah Istimewa Yogyakarta pernah mengalami 2 bencana besar dalam 15 tahun terakhir yaitu gempa bumi dan erupsi Gunung Merapi. Pada taggal 27 Mei 2006 terjadi gempa bumi dengan kekuatan 6,3 SR, mengakibatkan 5.048 orang meninggal, 19.401 orang terluka, serta lebih dari 1.500 orang cacat permanen. Disamping itu juga menyebabkan 175.629 rumah rusak berat.

Pada tanggal 25 Oktober 2010 juga terjadi bencana akibat erupsi Gunung Merapi. Saat itu Gunung Merapi memuntahkan lava panas, awan panas ( popular dengan sebutan “ wedus gembel “), pasir, kerikil dan material panas lainnya. Dampaknya 304 orang meninggal, DEAD : 304 people , 467 orang terluka, dan 350.000 orang harus dievakuasi, serta 3.023 rumah rusak total.

Berbagai bencana skala kecil juga terjadi. Data peristiwa bencana pada tahun 2017 dapat dilihat pada infografis berikut ini :

THE LEAVITT’S MODELS

Leavitt’s Models menyebutkan bahwa setiap sistem organisasi terdiri dari empat komponen utama: Manusia, Tugas, Struktur dan Teknologi. Interaksi antara empat komponen tersebut akan menentukan nasib organisasi. Jika salah satu dari empat variabel berubah, maka kebutuhan tiga lainnya harus disesuaikan.

Setiap perubahan pada salah satu elemen ini akan memiliki efek langsung pada semua elemen yang lain, dan dengan demikian mereka juga akan memerlukan waktu

(3)

3/35

untuk mengakomodasi perubahan itu. Leavitt’s Model adalah sebuah pendekatan terpadu untuk mengelola perubahan organisasi. Dalam proyek perubahan ini kami menggunakan Leavitt’s Model untuk menganalisis organisasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah DIY, serta memetakan interaksi antara komponen tersebut satu sama lain.

1) Tugas/Task

Berdasarkan Peraturan Daerah Istimewa (Perdais) Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 3 Tahun 2015 tentang Kelembagaan Pemerintah Daerah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta dan Peraturan Gubernur Nomor 80 Tahun 2015 tentang Rincian Tugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta, tugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta adalah:

a. Merumuskan kebijakan penyelenggaraan penanggulangan bencana di daerah dengan cepat, tepat, efektif dan efisien;

b. Mengkoordinasikan dan melaksanakan penyelenggaraan penanggulangan bencana di daerah secara terencana, terpadu dan menyeluruh; dan

c. Melaksanakan pengelolaan kegiatan-kegiatan penanggulangan bencana.

2) Struktur

Komponen Struktur dari Levitt,s Models meliputi tidak hanya struktur hierarkis, tetapi juga hubungan, pola komunikasi dan koordinasi antara tingkat manajemen yang berbeda, departemen dan karyawan. Hal ini juga akan mencakup bagaimana wewenang dan tanggung jawab dalam aliran organisasi. Struktur perlu diubah, ketika perubahan dilakukan terhadap komponen lain.

Peraturan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 80 Tahun 2015 tentang Rincian Tugas dan Fungsi Badan Penanggulangan Bencana Daerah, pada Bab II Pasal 2, menetapkan Struktur Organisasi dan Susunan Organisaswi BPBD DIY sebagaimana berikut ini.

Susunan Organisasi Badan terdiri dari:

1. Unsur Kepala: secara ex-officio dijabat oleh Sekretaris Daerah;

2. Unsur Pengarah;

3. Unsur Pelaksana yang terdiri dari:

(4)

4/35

a) Pimpinan : Kepala Pelaksana;

b) Pembantu Pimpinan : Sekretariat yang terdiri dari Subbagian-Subbagian;

4. Teknis Pelaksana:

§ Bidang-bidang yang terdiri dari Subbidang-Subbidang;

§ Unit Pelaksana Teknis;

§ Kelompok Jabatan Fungsional.

Organisasi Unsur Pelaksana Badan terdiri dari:

(1) Sekretariat yang terdiri dari:

A. Subbagian Program, Data dan Teknologi Informasi;

B. Subbagian Umum; dan

C. Subbagian Keuangan.

(2) Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan yang terdiri dari:

A. Kepala Seksi Pencegahan; dan

B. Kepala Seksi Kesiapsiagaan.

(5)

5/35

(3) Bidang Kedaruratan dan Logistik yang terdiri dari:

A. Kepala Seksi Kedaruratan; dan

B. Kepala Seksi Logistik.

(4) Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi yang terdiri dari:

A. Kepala Seksi Rehabilitasi; dan

B. Kepala Seksi Rekonstruksi.

(5) Unit Pelaksana Teknis;

(6) Kelompok Jabatan Fungsional.

Sedangkan bagan struktur organisasi BPBD DIY sesuai lampiran VI F dari Perdais Nomor 3 Tahun 2015, adalah sebagai berikut:

3 Struktur Organisasi BPBD DIY

Sumber: Lampiran II, Perdais DIY Nomor 3 Tahun 2015

3) Orang

Sumber Daya Manusia yang ada di Badan Penanggulangan Bencana Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta berdasarkan keadaan pada tahun 2017 adalah sebagai berikut:

(6)

6/35

Jumlah sumber daya aparatur PNS di BPBD DIY adalah 48 orang, yang terdiri dari 33 orang laki-laki dan 15 orang perempuan.

Rekapitulasi PNS berdasarkan golongan adalah sebagai berikut:

§ Golongan IV = 7

§ Golongan III = 31

§ Golongan II = 8

§ Golongan I = 2

Rekapitulasi PNS berdasarkan tingkat pendidikan terakhir yang telah diakui adalah sebagai berikut: § S2 = 8

§ S1 = 22

§ SLTA = 15

§ SLTP = 1

§ SD = 2

Selain aparatur PNS, BPBD DIY juga memiliki sumber daya manusia diluar struktur PNS BPBD DIY yang potensial bagi pencapaian target kinerja secara umum dan kinerja pelayanan pada khususnya. 82 (Delapan puluh dua) orang tenaga non-PNS yang berada di lingkungan BPBD DIY dapat dikelompokkan sebagai berikut:

a. Tenaga kebersihan sejumlah 4 orang, keamanan 7 orang, pengemudi 4 orang, dan penjaga repiter 3 orang.

b. Tenaga pendukung administrasi 2 orang, pengelola arsip 2 orang, dan pengelola pergudangan logistik 4 orang.

(7)

7/35

c. Petugas Pusdalops PB, dengan rincian: 4 orang supervisor, 16 orang operator, dan 8 orang staf (termasuk 4 orang staf pranata komputer).

d. Tim Reaksi Cepat (TRC), sebanyak 32 orang termasuk 4 perwira piket.

4) Teknologi

Teknologi merupakan komponen organisasi yang membantu atau memfasilitasi orang untuk melakukan tugas. Komputer, peralatan, LAN garis, pembaca barcode, perangkat lunak aplikasi, dll merupakan unsur teknologi. Teknologi, juga seperti semua komponen lain dari Leavitt’s Models, perlu diubah ketika ada modifikasi yang dibuat untuk komponen lainnya.

Saat ini BPBD Daerah Istimewa Yogyakarta melalui Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) melakukan dukungan dalam operasi dan pengolahan data dalam penanggulangan bencana. Namun demikian mekanisme kerja yang dilakukan belum terintegrasi, sehingga belum bisa berjalan cepat dan efisien. Penanggulangan Bencana membutuhkan Disaster Information Management System yang mampu mengintegrasikan seluruh sumber daya dan sistem penanggulangan bencana secara langsung sehingga bisa dipantau secara tepat dan akurat dan akan mampu mendukung terwujudnya respon cepat dalam penanganan kejadian bencana.

Dalam pelaksanaan tugas dan fungsi BPBD DIY, khususnya dalam pengumpulan, pengolahan dan penyebaran informasi perlu dilakukan peningkatan. Hal ini terkait dengan beberapa kendala yang dihadapi yaitu :

a) Tidak ada mekanisme pelaporan yang standar dan akurat mengenai bencana

· Masing-masing bidang/bagian/SKPD memiliki standard pelaporan yang berbeda-beda sehingga sulit untuk dilakukan kompilasi data.

· Pelaporan/analisa dilakukan sendiri-sendiri oleh masing-masing bidang/bagian (SKPD) tergantung kebutuhan masing-masing.

b) Waktu yang lama untuk mendapatkan laporan dari lapangan (BPBD, SKPD) terkait

· Data yang dikumpulkan dari lapangan harus melalui proses pengetikan ulang/administrasi di kantor masing-masing bagian/SKPD sehingga pengambil kebijakan memerlukan waktu yang lama untuk mendapatkan laporan dari lapangan.

· Proses distribusi data hasil laporan harus melalui proses administrasi antar kelembagaan dan pemerintahan sehingga waktu yang dibutuhkan lama.

(8)

8/35

c) Integrasi/kompilasi data hasil laporan sebagai bahan analisa sulit dilakukan. Kalaupun bisa harus secara manual sehingga memerlukan waktu yang lama.

· Data hasil laporan berada pada masing-masing bidang/bagian/SKPD sehingga sulit untuk dilakukan analisa. Padahal hasil analisis merupakan dasar untuk merencanakan tindakan yang harus dilakukan.

· Data laporan juga sulit untu bisa diberikan secara lengkap ke bagian yang lebih tinggi/nasional (seperti BNPB) untuk menjadi laporan yang terintegrasi.

Untuk meningkatkan performansi kerja dalam penanganan bencana maka diperlukan suatu sistem terintegrasi dimana semua informasi bisa dikumpulkan ke dalam satu database dengan standarisasi yang sudah ditentukan. Dengan demikian bisa dilakukan percepatan pengolahan data dan pembuatan laporan serta diseminasi informasi yang baik disertai proses penugasan yang cepat dan akurat di lapangan.

Selanjutnya hasil diagnosa dengan Leavitt’s Models saya tampilkan dalam matrik berikut ini :

No.Komponen Kondisi Saat Ini Komponen Yang Perlu Diintervensi

Dampak Penilaian Komponen Yang Diintervensi

1. Struktur vs Tugas

§ BPBD melaksanakan fungsi penyiapan data informasi kebencanaan.

§ Koordinasi dan integrasi data dan informasi kebencanaan belum optimal

§ Pemanfaatan Teknologi Informasi untuk mengintegrasikan dan mempercepat proses pelaksanaan tugas Pusdalop Belum ada pengintegrasian data dan stakeholder dalam penyediaan data dan informasi bencana.

2. Tugas vs Teknologi § Belum ada system yang berfungsi mendukung tugas mengintegrasikan data dan informasi kebencanaan § Pengembangan sistem informasi untuk mewujudkan kecepatan, efektifitas dan efisiensi dalam merespon peristiwa bencana. Penyediaan data informasi kurang mendukung respon cepat terhadap peristiwa bencana dan untuk memberikan informasi kepada masyarakat.

3. Aktor vs Teknologi § SDM yang sudah terlatih tidak optimal dalam melaksanakan tugas karena belum ada system yang mengintegrasikan pelaksanaan tugas mereka § Ego sektoral masih mengemuka sehingga data informasi yang dihasilkan sering overlap dan tidak terstandart. Kontribusi dan peran stakeholder kebencanaan belum optimal dalam mendukung respon cepat bencana secara efektif dan efisien.

4. Struktur vs teknologi § Perangkat dan kelembagaan Pusdalop yang ada belum didukung dengan system yang memadai § Perlu didukung dengan system yang memmungkinkan Lembaga berfungsi optimal dalam mendukung respon cepat. Perangkat dan kelembagaan yang ada belum bisa menghasilkan data dan informasi sesuai mandat politik yang diberikan kepada organisasi.

Dari diagnosa organisasi dengan menggunakan Levitt’s Model tersebut di atas dapat disimpulkan perlunya dilakukan perubahan sebagai berikut :

1) Perlu menyusun sistem pengelolaan data dan informasi yang terstandart untuk mengintegrasikan stakeholder dalam pelaporan peristiwa kebencanaan.

(9)

9/35

2) Perlu membangun Sistem Informasi Manajemen Kebencanaan untuk mengintegrasikan data dan informasi kebencanaan secara berkelanjutan.

3) Membangun pemahaman dan komitmen antar stakeholder tentang pentingnya integrasi pengelolaan data dan informasi kebencanaan.

4) Menyusun kebijakan strategis gubernur tentang Sistem Manajemen Informasi Kebencanaan.

Mempertimbangkan latar belakang dan hasil diagnosa sebagaimana diuraikan di muka, maka diperlukan Proyek Perubaham yang berjudul RESPON CEPAT BENCANA MELALUI PENGELOLAAN DATA DAN INFORMASI KEBENCANAAN SECARA TERINTEGRASI.

Manfaat

Manfaat proyek perubahan ini berupa

1. Mendukung pengurangan risiko bencana dengan Sistem Peringatan Dini Terpadu dan Sistem Respon Cepat kepada masyarakat yang terkena bencana.

2. Mendukung pimpinan dalam mengambil keputusan secara cepat, akurat dan komprehensif sesuai kebutuhan pada setiiap fase penanggulangan bencana, baik pra bencana, tanggap darurat, serta paska bencana.

3. Mendukung koordinasi BPBD dan stakeholder terkait dalam penanganan bencana.

4. Menyediakan basis data untuk kebutuhan analisis kebencanaan yang sangat penting untuk perencanaan penanggulangan bencana.

5. Meningkatnya kapasitas aparat, individu dan masyarakat untuk bertindak secara tepat waktu dan benar sehingga dapat mengurangi dampak bencana.

I. RUANG LINGKUP PERUBAHAN

(10)

10/35

Ruang lingkup proyek perubahan ini adalah

1) Perubahan mindset stakeholder kebencanaan, dari berjalan sendiri-sendiri menjadi terintegrasi dalam sebuah kerja bersama yang terpadu berbasis platform yang sama.

2) Peran serta berbagai stakeholder dalam penanggulangan bencana lebih terorganisir

3) Pengelolaan data dan informasi yang bersumber dari berbagai stakeholder, melalui Sistem Informasi Manajemen Kebencanaan yang terintegrasi berbasis IT, pembuatan modul, panduan serta penyusunan mekanisme kerja antar stakeholder terkait.

4) Strategi pengintegrasian peran stakeholder dan data kebencanaan akan dituangkan dalam sebuah kebijakan strategis Gubernur. Kebijakan Gubernur ini menjadi dasar kerja bersama antar stakeholder dengan berbasis sistem.

SISTEM INFORMASI MANAJEMEN BENCANA ( DISATER INFORMATION MANAGEMEN SYSTEM )

Desain ideal sistem peringatan dini multi bencana terintegrasi, sistem analisa situasi bencana dan sistem reaksi cepat berdasarkan pada kebutuhan mitigasi dan penanganan bencana di DIY.

Sistem peringatan dini terintegrasi yang mengimplementasikan people centered early warning system secara ideal harus mencakup 4 komponen sistem yaitu :

· Pengetahuan tentang bencana (Risk knowledge)

· Pemantauan dan peringatan dini bencana (Monitoring and warning service)

· Diseminasi informasi dan mengkomunikasikan risiko bencana (Communication and dissemination)

· Ketangguhan menghadapi bencana (Response capability)

Salah satu sasaran yang harus dicapai oleh suatu daerah dalam pengurangan risiko bencana menurut Sendai Framework adalah implementasi teknologi peringatan dini

(11)

11/35

multi bencana yang mampu mendeteksi dan memberikan peringatan dini terhadap semua risiko bencana yang mungkin dihadapi diwilayah tersebut. Sesuai dengan framework tersebut, sistem peringatan dini terintegrasi juga harus mengimplementasikan konsep sistem peringatan dini multi bencana tersebut.

Sistem peringatan dini harus memberikan kemampuan bagi masyarakat untuk merespon bencana dengan cepat dan tepat sehingga risiko kematian, kerugian dan kerusakan dapat ditekan. Pesan peringatan dini harus sampai kepada masyarakat terdampak dan menstimulasi mereka di wilayah terdampak untuk mengambil langkah-langkah penyelamatan yang diperlukan. Sistem peringatan dini yang telah ada maupun yang akan dikembangkan harus mampu menyediakan :

Peringatan dini yang akurat dan sedini mungkin

Probabilistic forecast

Sistem komunikasi dan diseminasi peringatan dini

Teknologi terkini dan tepat guna untuk menciptakan public awareness

Peringatan dini langsung kepada masyarakat terdampak (right information to right people at right time and right place), dengan menyampaikan pesan dan perintah yang jelas kepada masyarakat di wilayah terdampak sehingga mereka dapat melakukan tindakan penyelamatan dengan tepat dan cepat

Arsitektur sistem peringatan dini terintegrasi yang ideal berdasarkan ketentuan-ketentuan pengembangan sistem di atas digambarkan sebagai berikut :

Gambar 4 Arsitektur Sistem Peringatan Dini Terintegrasi

Arsitektur sistem memiliki pondasi teknologi peringatan dini multi bencana (multi hazard), sumber daya yang berkemampuan dan berstandarisasi internasional, kebijakan pengurangan risiko bencana yang komprehensif dan tata kelola sistem yang obyektif dan terukur.

(12)

12/35

Pondasi sistem tersebut akan menjadi dasar bagi pembangunan dan pengembangan komponen sistem peringatan dini terintegrasi pada keempat pilar sistem yang bertujuan untuk mengurangi dan mempertahankan indeks risiko bencana sekecil mungkin serta menyediakan sistem pendukung pengambilan keputusan kebencanaan yang berorientasi regional, nasional dan internasional.

Komponen utama sistem peringatan dini terintegrasi adalah sebagai berikut :

1. Pengetahuan tentang bencana (Risk knowledge)

Mengupdate pengetahuan tentang bencana dan risikonya dengan mengumpulkan dan membuat Kajian Risiko Bencana yang up-to-date dari tingkat kabupaten bekerjasama dengan BPBD kabupaten sampai tingkat propinsi

2. Pemantauan dan peringatan dini bencana (Monitoring and warning service)

a. Memperkuat sistem sensor di lapangan dengan menambahkan kemampuan pada perangkat supaya dapat mengirimkan data ke Pusdalops PB Propinsi/kabupaten secara real-time dan online. Selain itu perangkat akan dimampukan untuk bisa dipantau, dikendalikan dan dirawat dari Pusdalops PB.

b. Menciptakan sistem pemantauan bencana yang secara online dan real-time dapat dipantau di BPBD Propinsi, BPBD Kabupaten, Kantor Gubernur, Kantor Bupati dan pemangku kepentingan terkait bencana lainnya

c. Menciptakan sistem analisa bencana yang sederhana, mudah dimengerti oleh tim Pusdalops PB Propinsi dan kabupaten dan akurat

3. Diseminasi informasi dan mengkomunikasikan risiko bencana (Communication and dissemination)

a. Menciptakan sistem diseminasi informasi yang langsung menyentuh masyarakat dan sesuai dengan SOP komando bencana yang melibatkan BPBD Propinsi dan Kabupaten

b. Menciptakan sistem public awareness yang selalu mengupdate masyarakat dengan risiko-risiko bencana terkini dan panduan untuk menghadapi risiko bencana

(13)

13/35 tersebut

4. Ketangguhan menghadapi bencana (Response capability)

a. Menciptakan sistem reaksi cepat yang mendukung Pusdalops PB dalam melaksanakan tugasnya dalam kondisi tanggap darurat dengan cepat, efektif dan efisien

b. Program pendidikan pengurangan risiko bencana berkelanjutan dan interaktif untuk kelompok masyarakat dengan kerentanan tinggi.

Arsitektur sistem peringatan dini terintegrasi juga dilengkapi dengan sarana untuk melakukan integrasi, sharing dan konsolidasi data dengan stakeholder kebencanaan di pusat seperti BNPB, BMKG dan PVMBG maupun stakeholder di daerah seperti BPBD Kabupaten, BPPTKG, Dinas Kesehatan, Dinas sosial dan lain-lain. Diharapkan melalui integrasi ini sistem peringatan dini terintegrasi di Pusdalops PB DIY dapat memperkaya dan diperkaya sistem peringatan dini lain di tingkat nasional seperti PASTIGANA milik BNPB, INATEWS milik BMKG dan lain-lain.

Komponen-komponen sistem peringatan dini bencana tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :

Risk knowledge atau pengetahuan tentang bencana didapatkan dari hasil kajian risiko bencana. Pengkajian Risiko Bencana adalah induk pembangunan sistem penanggulangan bencana. Kedudukan dan fungsi penting kajian risiko bencana dalam rencana penanggulangan bencana digambarkan dibawah ini :

Gambar 5 Skema Kajian Resiko Bencana

Pembangunan sistem penanggulangan bencana harus didasarkan pada pengetahuan tentang risiko-risiko bencana apa saja yang dihadapi oleh suatu daerah, dampaknya terhadap masyarakat sekitar dan perilaku dari bencana tersebut dalam jangka pendek, menengah dan panjang.

(14)

14/35

Berdasarkan kedudukan dan fungsi penting kajian risiko, maka suatu kajian risiko harus memiliki prinsip sebagai berikut :

a. Menggunakan data dan segala bentuk rekaman kejadian yang ada;

b. Mengintegrasikan analisis probabilitas kejadian ancaman dari para ahli dengan kearifan lokal masyarakat;

c. Mampu untuk menghitung potensi jumlah jiwa terpapar, kerugian harta benda dan kerusakan lingkungan;

d. Dapat diterjemahkan menjadi kebijakan pengurangan risiko bencana

Kajian risiko bencana memberikan gambaran tentang jenis bencana yang harus diwaspadai, wilayah rawan bencana dan karakteristik geomorfologinya. Berdasarkan data dan pengetahuan tersebut dibangun sistem pemantauan dan peringatan dini bencana. Sistem pemantauan dan peringatan dini bencana harus akurat, tahan beroperasi di wilayah dengan kondisi alam ekstrim dalam jangka waktu lama, mudah perawatannya, terkoneksikan secara realtime ke Pusdalops PB DIY. Sistem mitigasi bencana yang baik dan komprehensif akan secara signifikan mengurangi kehilangan jiwa dan kerugian material. Konfigurasi sistem pemantauan dan peringatan dini digambarkan dibawah ini.

Gambar 6 Konfigurasi Sistem Pemantauan dan Peringatan Dini

Pada gambar konfigurasi sistem di atas dijabarkan komponen sistem pemantauan dan peringatan dini yang idealnya dimiliki BPBD, secara khusus dioperasikan Pusdalops PB DIY terdiri dari :

a. Sistem sensor yang terdiri dari berbagai macam jenis sensor untuk bencana yang berbeda-beda dengan syarat utama harus akurat, terkoneksikan secara realtime dan online ke Pusdalop PB DIY

(15)

15/35

b. Pusat sistem peringatan dini daerah yang terdiri dari sistem pemantauan, analisa dan peringatan dini bencana yang komprehensif, mudah dimengerti oleh tim Pusdalops PB Propinsi dan Kabupaten, akurat dan secara online dan real-time dapat dipantau di BPBD Propinsi, BPBD Kabupaten, Kantor Gubernur, Kantor Bupati dan pemangku kepentingan terkait bencana lainnya

c. Konsolidasi dan pengkayaan data dari dan ke Pusat Analisa Situasi dan Siaga Bencana Nasional di BNPB serta stake holder kebencanaan lainnya

1.3 Sistem Sensor

Sistem pemantauan bencana yang akurat adalah sistem yang memperhitungkan kemungkinan terjadinya bencana dari lebih dari satu aspek sensing/pemantauan.

Contohnya bencana tanah longsor :

a. Tanah longsor terdiri dari beberapa jenis seperti nendatan, luncuran, rayapan dan debris flow

b. Pemicu tanah longsor adalah curah hujan tinggi yang menyebabkan kejenuhan air pori tanah. Curah hujan di permukaan tanah diukur dengan menggunakan penakar hujan, tetapi penakar hujan ini tidak bisa secara akurat memperkirakan volume air yang meresap ke dalam pori-pori tanah

c. Pada tanah longsor jenis nendatan dibutuhkan sensor yaitu soil moisture untuk mengetahui tekanan dan volume air pori tanah. Penggunaan soil moisture sensor untuk sistem peringatan dini tanah longsor harus disertai dengan soil investigation yang bertujuan untuk mengetahui ambang batas volume kejenuhan dan tekanan air pori tanah yang menyebabkan tanah bergerak dan selanjutnya menimbulkan longsoran

d. Pada tanah longsor jenis luncuran yang biasanya terjadi pada lereng-lereng dengan sudut lebih dari 20°, dibutuhkan tambahan sensor yang mampu memantau pergerakan-pergerakan tanah kecil yang menjadi awal terjadinya tanah longsor sebenarnya. Sensor dimaksud adalah tilt-meter. Untuk pergerakan-pergerakan tanah yang signifikan dan kuat dideteksi menggunakan extenso-meter

e. Tanah longsor yang berupa banjir bandang/debris flow membutuhkan sensor khusus untuk mendeteksi bencana tersebut selain dari penakar hujan

Saat ini telah terpasang cukup banyak sensor di lapangan, namun masih banyak kendala pada sistem sensor tersebut, terutama bahwa sebagian sensor tersebut dalam

(16)

16/35

kondisi rusak, tidak beroperasi dengan baik dan tidak dilengkapi dengan sistem untuk mengirimkan data ke Pusdalops dan sebaliknya untuk mampu dikendalikan dari Pusdalops. Oleh karena itu sistem sensor yang sudah ada saat ini di lapangan harus ditambahkan dengan kemampuan untuk dapat mengirimkan data ke Pusdalops PB Propinsi/kabupaten secara real-time dan online. Selain itu perangkat akan dimampukan untuk bisa dipantau, dikendalikan dan dirawat dari Pusdalops PB.

Tiap jenis bencana memiliki sistem sensornya sendiri sesuai dengan karakteristik bencana tersebut. Dibawah ini akan diuraikan sistem sensor yang idealnya dimiliki BPBD DIYogyakarta, khususnya untuk bencana utama yang dihadapi oleh Propinsi DIYogyakarta yaitu tanah longsor, gempa, gunung berapi, tsunami dan banjir

1. Tanah Longsor

Definisi sensor tanah longsor adalah :

a. Alat/ instrumen pemantauan yang dirancang untuk mencegah atau setidaknya mengurangi dampak dari ancaman Tanah Longsor pada manusia, kerusakan harta benda dan lingkungan (Medina-Cetina and Nadim, 2008)

b. Kemampuan yang diperlukan untuk menghasilkan dan mendiseminasikan informasi peringatan dini secara tepat waktu sehingga memungkinkan masyarakat yang terancam Tanah Longsor melakukan persiapan dan bertindak secara tepat waktu untuk mengurangi korban jiwa dan kerugian (SafeLand Project, 2012)

Sensor tanah longsor sangat spesifik untuk setiap lokasi, karena beraneka ragam faktor yang mengontrol Tanah Longsor. Variable yang mempengaruhi Sensor Tanah Longsor :

• Ambang batas curah hujan : bergantung pada jenis Tanah Longsor, geologi, tataguna lahan dan iklim setempat.

• Skala : Sensor skala regional sangat cost effective untuk Tanah Longsor pada daerah yang luas (mis. debris flow)

• Jenis pemicu : curah hujan, kenaikan tekanan air-pori, gunung api, gempabumi. Setiap jenis pemicu memerlukan sistem pemantauan yang tertentu.

(17)

17/35

Pengaturan level warning dan warningnya sangat penting dilakukan untuk memaksimalkan kinerja sistem. Level warning dan warning terdiri dari 2 jenis dan ditentukan oleh karakteristik longsoran sebagai berikut :

Instrumen Sensor tanah longsor yang akan digunakan harus memenuhi kriteria sbb :

• Handal

• Sederhana

• Lebih dari 1 unit

• Terlindungi dari kegagalan komunikasi dan catu daya.

• Tidak hanya bergantung pada pengukuran pergerakan permukaan tanah

Sensor tanah longsor yang efektif dan akurat dalam memberikan warning harus mengukur lebih dari 1 parameter seperti curah hujan, tekanan air, pergerakan lereng, dll dan menyatu padukan semua parameter terpantau untuk mengevaluasi kondisi keamanan lereng.

1. Banjir

Untuk penerapan sistem peringatan dini bencana banjir di perlukan teknologi yang sesuai. Salah satu teknologi yang sering dipakai dalam pembuatan sistem berbasis teknologi adalah mikrokontroler yang memiliki banyak kelebihan diantaranya bisa bekerja otomatis, bekerja realtime 24 jam, bisa diintegrasikan dengan alat input output lain, membutuhkan daya yang rendah, tahan lama, dan lain-lain. Pada sistem peringatan dini bencana banjir ini mikrokontroler sebagai suatu otak dari sistem yang berfungsi untuk memproses hasil baca sensor ultrasonik terhadap keadaan permukaan air yang berupa gelombang ultrasonik kemudian hasil pemerosesan sensor tersebut akan diteruskan ke alat keluaran sesuai dengan kecerdasan yang ditanamkan ke mikrokontroler. Alat keluaran yang digunakan yaitu Modem GSM sebagai alat pengirim data.

(18)

18/35

Sensor banjir terdiri dari 2 jenis yaitu sensor tinggi muka air dan penakar hujan. Sensor tinggi muka air digunakan untuk mengetahui kenaikan air di hulu sungai dan penakar hujan digunakan untuk mengetahui intensitas curah hujan di hulu dan hilir. Data dari kedua jenis sensor ini digabungkan untuk mengetahui kemungkinan terjadinya banjir sejak naiknya ketinggian air di hulu, perkiraan waktu banjir akan sampai di hilir dan kemungkinan banjir susulan

Sensor tinggi muka air yang digunakan tergantung dari kondisi sungai. Untuk sungai yang bersih, jarang atau tidak ada sampah digunakan sensor tinggi muka air yang pasang di atas sungai, biasanya dipasang ditiang yang dilengkapi lengan atau digantung di jembatan yang melintas hulu sungai tersebut. Teknologi yang digunakan adalah teknologi gelombang ultrasonic, dimana ketinggian air diukur dari gelombang ultrasonic yang dipancarkan ke arah permukaan sungai. Alat ini diletakkan di tempat yang cukup tinggi dan sukar dijangkau sehingga keamanan alat terjamin. Untuk sungai yang kotor, banyak sampah mengikuti aliran sungai digunakan sensor tinggi muka air yang ditanam di pinggir sungai, teknologi yang digunakan adalah elektroda. Apabila elektroda terkena air, maka sistem akan membaca ketinggian air tersebut.

Karena diletakkan di pinggir sungai, alat jenis ini relatif tidak aman dan harus diberikan pengamanan khusus.

Penakar hujan harus memiliki presisi yang tinggi, cakupan luas dan mengikuti standar serta ketentuan WMO (World Meteorological Organization) yaitu Catchment area adalah 200 cm2 dan measurement resolution adalah 0.1 mm.

2. Gempa Bumi dan Tsunami

Alat utama sensor gempa bumi dan tsunami sebaiknya menggunakan sensor yang telah dipasang oleh BMKG, tetapi untuk meningkatkan kewaspadaan warga maka diusulkan untuk dipasang alat pemantauan gempa bumi yang mampu mendeteksi gelombang p (compression wave) yang mengalir lebih cepat dari gelombang s (shear wave) yang paling merusak. Alat pemantauan gempa bumi ini harus dapat mendeteksi gempa bumi besar yang terjadi ratusan kilo jauhnya dan gempa sedang/rendah di sekitar wilayah rawan gempa bumi.

Alat pemantauan gempa ini terhubung langsung ke speaker sirine untuk memberitahukan akan segera terjadi gempa bumi dalam waktu dekat. Sirine pemberitahuan harus menyala dengan akurat saat gempa bumi benar-benar akan terjadi di wilayah rawan bencana dan menjadi dasar bagi masyarakat untuk segera bersiap

(19)

19/35

mengevakuasi dirinya.

Speaker tsunami secara khusus harus didesain untuk tahan menghadapi kondisi pantai dimana banyak partikel air asin yang terhembus angin dan mendarat di permukaan metal. Speaker selain mengeluarkan bunyi sirine sebaiknya juga dapat mengeluarkan bunyi suara operator di Pusdalops PB Kabupaten/Propinsi sehingga perintah atau berita terkini dapat sampai kepada masyarakat dengan cepat.Speaker ini jg harus independen terhadap power supply AC, sehingga diusulkan untuk setiap speaker yang akan dipasang sebaiknya menggunakan solar pannel.

PENGIRIMAN DATA TELEMETRI

a. Pengiriman data telemetri dari radar maupun sensor-sensor yang terpasang di lokasi menggunakan jaringan VPN-IP berbasis : 3G/GSM, VHF atau Radio Link

b. Jaringan yang akan digunakan untuk mengirimkan telemetri data harus stabil kinerjanya dan secure.

c. Media transmisi (3G/GSM, VHF, Radio link, FM Radio) yang akan digunakan ditentukan berdasarkan ketersediaan sinyal dengan kualitas baik di lokasi tersebut

d. Archieving data harus fleksibel terhadap kebutuhan analisa potensi bencana, karena itu interval pengiriman data dan parameter-parameter lain dari sistem sensor harus bisa disetting secara terpusat dan real-time

e. Selain data telemetri yang diambil dari sensor, sistem archieving juga mengambil data tentang kondisi sensor yang membantu pengguna di Pusdalops PB untuk memantau operasional perangkat, menjadwalkan perawatan rutin dan melakukan trouble shooting apabila terjadi masalah

PUSAT SISTEM PERINGATAN DINI BENCANA

(20)

20/35

Sistem pemantauan bencana harus secara online dan real-time dapat dipantau di BPBD Propinsi, BPBD Kabupaten, Kantor Gubernur, Kantor Bupati dan pemangku kepentingan terkait bencana lainnya serta digunakan untuk mendukung pengambilan keputusan. Komponen sistem pemantauan dan analisa situasi bencana yang seharusnya dimiliki Pusdalops PB DIY untuk digunakan oleh seluruh jajaran pimpinan, pemangku kepentingan terkait bencana, BPBD Kabupaten dan BPBD Propinsi DIY sendiri adalah sebagai berikut :

a. Pusat data kebencanaan yang mengumpulkan, mengolah dan mempresentasikan data telemetri dari seluruh sistem terpasang di kabupaten secara terstuktur dan sistematis

b. Pusat analisa data pengurangan resiko bencana yang memanfaatkan data dari Pusat data kebencanaan

c. Sistem informasi untuk pimpinan yang menampilkan seluruh data kebencanaan dalam model GIS (Geographical Information System) berbasis peta untuk memudahkan pimpinan atau komando bencana tertinggi melihat situasi bencana terkini secara lengkap dan komprehensif dalam satu tampilan

(21)

21/35

Arsitektur sistem pemantauan bencana digambarkan sebagai berikut :

Konfigurasi pusat sistem peringatan dini bencana dijelaskan pada gambar di bawah ini:

Gambar 7 Konfigurasi Sistem Peringatan Dini

ANALISA POTENSI BENCANA

Analisa potensi bencana menggunakan data dari sensor yang tersebar di wilayah rawan bencana dan data dari radar cuaca yang didapat secara real time dan on-line.

Data radar cuaca yang terdiri dari data curah hujan (volume dan intensitas dalam menit/jam) dan data cuaca lainnya digunakan untuk analisa kemungkinan terjadinya tanah longsor, banjir, kekeringan, banjir bandang dan angin puting beliung. Data tersebut dikombinasikan dengan data dari sensor yang tersebar di wilayah rawan bencana untuk memberikan analisa kemungkinan terjadinya bencana yang lebih akurat. Analisa kemungkinan terjadinya bencana akan menjadi dasar peringatan dini yang terbagi dalam 3 level peringatan dini, yaitu waspada, siaga dan evakuasi dan secara resmi dinyatakan oleh BPBD DIY. Metodologi untuk melakukan analisa kemungkinan terjadinya bencana sampai dengan penentuan level peringatan dini adalah sebagai berikut :

Analisa potensi bencana dilakukan dengan dua cara :

(22)

22/35

Software didesain untuk melakukan Analisa Pengurangan Resiko Bencana (Risk Reduction Analysis) sebagai berikut :

a. Analisa untuk menentukan tingkat risiko bencana/tingkat peringatan dini : Analisa data dan grafik untuk prediksi dan pemantauan banjir, tanah longsor dan bencana yang lain.

b. Penilaian risiko bencana : menampilkan kondisi saat ini sebelum melakukan diseminasi informasi.

c. Analisa diseminasi informasi : analisa peringatan dini dari mulai awas sampai evakuasi

d. Rencana Evakuasi : menampilkan target lokasi untuk evakuasi

e. Rencana tanggap darurat : menampilkan seluruh informasi tentang bencana yang sedang terjadi dan sumber daya yang tersedia untuk melakukan kegiatan tanggap darurat.

f. Laporan pengakhiran bencana : menampilkan kondisi terakhir setelah terjadinya bencana, analisa bencana susulan dan laporan kegiatan tanggap darurat yang disimpan di basis data dan menjadi bahan pengetahuan saat terjadi bencana sejenis di kemudian hari

Hasil analisa dan data pendukung lainnya ditampilkan dalam satu tampilan yang komprehensif berbasis GIS. Data-data yang dimasukkan dalam GIS adalah sebagai berikut :

a. Telemetry data (data curah hujan, tinggi muka air, tekanan air pori tanah dan lain-lain)

b. Pemantauan dan prediksi banjir, longsor, debris flow dan bencana lainnya

c. Status dari stasiun pemantauan di lapangan

d. Status dari stasiun peringatan dini

e. Data radar

(23)

23/35 f. CCTV

Analisa dilakukan dengan memadukan hasil kalkulasi dan pembacaan software serta analisa pakar. Analisa pakar masih dibutuhkan karena pakar mengetahui dengan lìebih baik kondisi bencana, perilaku bencana dan kondisi geomorfologis wilayah rawan bencana tersebut.

Gambar 8 Skema Pengambilan Keputusan Peringatan Dini

Hasil analisa pakar dalam suatu kurun waktu tertentu yang menciptakan tren potensi bencana. Seluruh data tersebut dikumpulkan dalam suatu folder khusus di server analisa data untuk selanjutnya menjadi pemutakhiran pengetahuan bagi operator atau pengambil keputusan di Pusdalops.

INTEGRASI DENGAN SISTEM EKSISTING

Saat ini telah tergelar eksisting sistem yang berupa sistem aplikasi di Pusdalops PB DIY dan sistem sensor yang tersebar di beberapa kabupaten, terutama sistem sensor untuk banjir, tanah longsor, gunung berapi, gempa bumi dan tsunami. Seluruh eksisting sistem ini harus terintegrasi dengan sistem peringatan dini yang diusulkan dalam masterplan ini. Integrasi yang dimaksud adalah pemanfaatan data dari sistem eksisting untuk memperkaya analisa bencana dan penyempurnaan serta

pembenahan sistem sensor eksisting supaya mampu memberikan data secara real-time dan akurat kepada sistem peringatan dini di Pusdalops PB DIY.

Dari hasil survey pembenahan sistem sensor eksisting terutama pada tata kelola operasi sensornya dan sistem komunikasi data yang mendukung pengiriman data

(24)

24/35

secara real-time dan on-line dari wilayah rawan bencana ke Pusdalops PB DIY.

PERINGATAN DINI

Setelah ditentukan suatu kondisi akan menjadi bencana, maka dipersiapkan peringatan dini kepada masyarakat di wilayah terdampak. Cara paling cepat dan tepat untuk menjangkau masyarakat di daerah tersebut adalah dengan menggunakan speaker yang terhubung melalui jaringan VPN-IP berbasis selular atau radio ke Pusdalops PB DIY sebagai pusat sistem peringatan dini terintegrasi. Dari Pusdalops petugas yang diberi kewenangan untuk mendiseminasi informasi akan memberitahukan kepada masyarakat kondisi bencana yang akan dihadapi dan bersiap untuk peringatan bencana selanjutnya melalui sistem pengendali speaker.

Speaker memiliki 2 mode suara yaitu sirine dan suara operator. Mode suara operator diperlukan untuk memberikan informasi terkini kondisi bencana dan arahan-arahan kepada masyarakat untuk mengevakuasi dan menyelamatkan diri. Sirine harus memiliki bunyi yang berbeda dengan sirine ambulan, sirine mobil polisi atau sirine standard lainnya.

STANDAR BAKU OPERASI/STANDARD OPERATION PROCEDURE

Pusdalops PB DIY sebagai Pusat Sistem Peringatan Dini harus dilengkapi dengan Standar Baku Operasi/ Standard Operation Procedure yang berstandar internasional untuk bisa menjalankan sistem peringatan dini terintegrasi yang telah diuraikan di atas secara optimal. Standar Baku Operasi harus disesuaikan dengan tugas pokok dan fungsi Pusdalops PB DIY saat menjalankan tugas rutinnya, memantau dan bersiap menghadapi bencana serta saat terjadi bencana. Dengan adanya Standar Baku Operasi ini diharapkan kinerja Pusdalops dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat dapat terjaga kualitasnya.

Supaya Standar baku prosedur diatas dapat mendukung Pusdalops PB dalam memenuhi standar kualitas layanan dan respon, maka beberapa langkah harus dilakukan yaitu :

a. Standar baku prosedur harus dibakukan dan didukung dengan kebijakan pemerintah daerah dalam bentuk peraturan gubernur.

(25)

25/35

b. Melakukan pelatihan dan mensertifikasi anggota dan sistem peringatan dini di Pusdalops secara kontinu

c. Melakukan Forum Group Discussion dengan stake holder bencana terkait untuk secara berkala mengupdate pengetahuan tentang kebencanaan dan kerentanan dalam masyarakat

Milestone

a. MILESTONE I JANGKA PENDEK

Tabel 3. PEMBENTUKAN TIM EFEKTIF/TIM PELAKSANA

TAHAPAN OUTPUT TAHAPAN

MINGGU/BULAN/

TAHUN 2018

1. Rapat Pembahasan Gagasan Proyek Perubahan Notulen substansi proyek perubahan

IV Agustus

2. Rapat Pembentukan Tim Efektif dan Tim Pelaksana Susunan Tim Efektif

IV Agustus

(26)

26/35

NO. TAHAPAN OUTPUT TAHAPAN

MINGGU/BULAN/

TAHUN 2018

3. Penetapan SK Kalak BPBD tentang Tim Efektif dan Tim Pelaksana SK Penetapan Tim Efektif

IV Agustus

4. Penyusunan Kerangka Kerja Proyek Perubahan dan Jadwal Kegiatan Jadwal Kegiatan Proyek Perubahan

IV Agustus

Tabel 4. PEMBUATAN SISTEM INFORMASI MANAJEMEN BENCANA

NO. TAHAPAN OUTPUT TAHAPAN

MINGGU/BULAN/

TAHUN 2018

(27)

27/35

1. Rapat pembahasan design Sistem Informasi Manajemen Bencana

Kesimpulan design Sistem Informasi Manajemen Bencana Tanggap Darurat :

1) Sistem respon cepat

2) Sistem peringatan dini multi bencana terintegrasi,

I September

2. Pembentukan Tim Penyusuan Sistem Informasi Manajemen Bencana Susunan Tim Penyusun Sistem Informasi Manajemen Bencana Tanggap Darurat

I September

3. Rapat Penyusunan Kerangka Kerja dan Jadwal Pembuatan Sistem Manajemen Bencana Kerangka Kerja dan Jadwal Pembuatan Sistem Informasi Manajemen Bencana Tanggap Darurat

II September

NO. TAHAPAN OUTPUT TAHAPAN

MINGGU/BULAN/

TAHUN 2018

4. Rapat Penyusunan Sistem, Modul, Panduan dan Mekanisme kerja. Jadwal dan kerangka besar substansi modul, panduan dan mekanisme kerja.

II September

(28)

28/35

4. Rapat Evaluasi Penyusunan Sistem Manajemen Bencana Notulen dan rekomendasi perbaikan penyusunan Sistem manajemen Bencana

I Oktober

5. Rapat Finalisasi Sistem Manajemen Bencana, modul, panduan dan mekanisme kerja. Hasil akhir Sistem Manajemen Bencana, modul, panduan dan mekanisme kerja.

I Oktober

Tabel 5. UJICOBA PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN BENCANA

NO. TAHAPAN OUTPUT TAHAPAN

MINGGU/BULAN/

TAHUN 2018

1. Rapat persiapan ujicoba Sistem manajemen Bencana Format/Rencana Uji Coba Sistem Informasi Manajemen Bencana Tanggap Darurat

II Oktober

2. Simulasi/uji coba Sistem Informasi Manajemen Bencana Hasil Implementasi Sistem Informasi Manajemen Bencana Tanggap Darurat

II Oktober

3. Evaluasi Implementasi Sistem Informasi Manajemen Bencana Rekomendasi perbaikan

III Oktober

4. Sosialisasi Sistem Informasi Manajemen Bencana Stakeholder mendukung dalam implementasi Sistem Informasi Manajemen Bencana

III Oktober

(29)

29/35

Tabel 6. PENYUSUNAN PERGUB TENTANG PENGINTEGRASIAN DATA DAN INFORMASI KEBENCANAAN

NO. TAHAPAN OUTPUT TAHAPAN

MINGGU/BULAN/

TAHUN 2018

1. Rapat persiapan penyusunan Pergub Konsep acara dan daftar peserta rapat yang diundang

II Oktober

2. Rapat Tim Penyusun Pergub Draft Pergub

II Oktober

3. Rapat Koordinasi finalisasi draft Pergub Draft final pergub

III Oktober

4. Rapat pembahasan pergub di Biro Hukum Rekomendasi dan koreksi draft pergub

III Oktober

5. Penetapan Pergub Pergub IV Oktober

6. Sosialisasi Pergub Stakeholder memahami substansi pergub

IV Oktober

(30)

30/35

(31)

31/35

b. MILESTONE II JANGKA MENENGAH

Tabel 7. PEMBENTUKAN TIM PELAKSANA

NO. TAHAPAN OUTPUT TAHAPAN TAHUN

1. Rapat pembahasan T Sistem Manajemen Bencana Tahap II Kesimpulan design Sistem Manajemen Bencana : Sistem analisa situasi bencana.

2019 2. Pembentukan Tim Penyusuan Sistem Manajemen Bencana Tahapm II Susunan Tim Penyusun Sistem Manajemen Bencana 2019

NO. TAHAPAN OUTPUT TAHAPAN

MINGGU/BULAN/

TAHUN 2018

(32)

32/35

3. Rapat Penyusunan Kerangka Kerja dan Jadwal Pembuatan Sistem Manajemen Bencana Kerangka Kerja dan Jadwal Pembuatan Sistem Manajemen Bencana

2019

4. Rapat Penyusunan Modul, Panduan dan Mekanisme kerja. Jadwal dan kerangka besar substansi modul, panduan dan mekanisme kerja.

2019

4. Rapat Evaluasi Penyusunan Sistem Manajemen Bencana Notulen dan rekomendasi perbaikan penyusunan Sistem manajemen Bencana

2019

5. Rapat Finalisasi Sistem Manajemen Bencana, modul, panduan dan mekanisme kerja. Hasil akhir Sistem Manajemen Bencana, modul, panduan dan mekanisme kerja.

2019

6. Sosialisasi dan Ujicoba Sistem Manajemen Bencana Terujinya Sistem Analisa Situasi Bencana 2019

(33)

33/35

c. MILESTONE III JANGKA PANJANG

Tabel 8. PEMBUATAN SISTEM INFORMASI MANAJEMEN BENCANA FASE REHAB REKON

NO. TAHAPAN OUTPUT TAHAPAN TAHUN

1. Rapat pembahasan design Sistem Informasi Manajemen Bencana Kesimpulan design Sistem Informasi Manajemen Bencana Rehab Rekon

2020

2. Pembentukan Tim Penyusuan Sistem Informasi Manajemen Bencana Susunan Tim Penyusun Sistem Informasi Manajemen Bencana Rehab Rekon

2020

3. Rapat Penyusunan Kerangka Kerja dan Jadwal Pembuatan Sistem Manajemen Bencana Kerangka Kerja dan Jadwal Pembuatan Sistem Informasi Manajemen Bencana Rehab Rekon 2020

4. Penyusunan Sistem, Modul, Panduan dan Mekanisme kerja. Jadwal dan kerangka besar substansi modul, panduan dan mekanisme kerja. 2020

(34)

34/35

4. Rapat Evaluasi Penyusunan Sistem Informasi Manajemen Bencana Notulen dan rekomendasi perbaikan penyusunan Sistem manajemen Bencana

2020

5. Rapat Finalisasi Sistem Informasi Manajemen Bencana, modul, pandu an dan mekanisme kerja. Hasil akhir Sistem Informasi Manajemen Bencana, modul, panduan dan mekanisme kerja.

2020

Tabel 9. UJICOBA PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN BENCANA

NO. TAHAPAN OUTPUT TAHAPAN TAHUN

1. Rapat persiapan ujicoba Sistem Informasi manajemen Bencana Fase Rehab Rekon Format/Rencana Uji Coba Sistem Manajemen Bencana Rehab Rekon

2020

2. Simulasi/uji coba Sistem Manajemen Bencana Fase Rehab Rekon Hasil Implementasi Sistem Manajemen Bencana Rehab Rekon

2020

3. Evaluasi Implementasi Sistem Manajemen Bencana Rekomendasi perbaikan

2020

(35)

35/35

4. Sosialisasi Sistem Manajemen Bencana Fase Rehab Rekon Stakeholder memahami dan memberi kontribusi dalam implementasi Sistem Manajemen Bencana 2020

Dicetak melalui website E-Proper BPSDMD Provinsi Jawa Tengah (https://bpsdmd.jatengprov.go.id/eproper) pada 21 Apr 2022 12:26:21

Powered by TCPDF (www.tcpdf.org)

Gambar

Tabel 3. PEMBENTUKAN TIM EFEKTIF/TIM PELAKSANA
Tabel 4. PEMBUATAN SISTEM INFORMASI MANAJEMEN BENCANA
Tabel 5. UJICOBA PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN BENCANA
Tabel 6. PENYUSUNAN PERGUB TENTANG PENGINTEGRASIAN DATA DAN INFORMASI KEBENCANAAN
+3

Referensi

Dokumen terkait

development adalah harapan dari pemakai atau user akan suatu sistem dapat terpenuhi, akan tetapi dalam melakukan pengembangan suatu sistem para pemakai sistem atau

Dari studi-studi yang dilaksanakan oleh 10 perguruan tinggi selama tiga tahun (2005-2007) di 10 provinsi yang tersebar di Sumatra, Jawa, Kalimantan dan NTB menunjukkan mekanisme

Menurut Moeljatno hukum pidana merupakan bagian dari hukum yang mengadakan dasar dan aturan untuk menentukan perbuatan-perbuatan mana yang tidak boleh dilakukan, yang

students comprehension by using Chunking strategy.. The Components of

Melalui cara ini, perbankan dapat memfokuskan pendanaan pada perusahaan-perusahaan atau proyek-proyek yang memiliki kinerja keuangan, sosial, dan lingkungan yang

Profesi guru sangat identik dengan peran mendidik seperti membimbing, membina, mengasuh ataupun mengajar.Melihat peran tersebut, sudah menjadi kemutlakan bahwa guru

bahwa untuk memenuhi ketentuan Pasal 185 ayat (4) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8