• Tidak ada hasil yang ditemukan

Seminar Nasional Arsitektur dan Tata Ruang (SAMARTA), Bali-2017, ISBN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Seminar Nasional Arsitektur dan Tata Ruang (SAMARTA), Bali-2017, ISBN"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

Seminar Nasional Arsitektur dan Tata Ruang (SAMARTA), Bali-2017, ISBN 978-602-294-240-5 i

(2)

ii Seminar Nasional Arsitektur dan Tata Ruang (SAMARTA), Bali-2017, ISBN 978-602-294-240-5

Hak Cipta pada Masing-Masing Kontributor

Dilarang memperbanyak sebagian dan/atau seluruh isi buku ini dalam bentuk apapun, tanpa ijin tertulis dari Kontributor dan Editor

Seminar Nasional Arsitektur dan Tata Ruang (SAMARTA)

Penerbit:

Udayana University Press, 2017

Desain Sampul:

Antonius Karel Muktiwibowo

Kontributor Foto Sampul Depan dan Belakang:

Antonius Karel Muktiwibowo

Pracetak:

Ni Made Swanendri, I Wayan Yuda Manik, Dwi Pratiwi, Ni Putu Dian Pratiwi, Sanar Oktaviani, Ni Wayan Fortuna Ningsih, Yosephine Estherina Wibowo, I Kadek Diantara, Kadek Satria Ariwibawa.

Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan

Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Udayana

Prosiding Seminar Nasional Arsitektur dan Tata Ruang Denpasar: Penerbit Udayana University Press, 2017

x, 501 hlm; 4 cm

Bibliografi

ISBN: 978-602-294-240-5

1. Arsitektur dan Tata Ruang

I. Judul

(3)

Seminar Nasional Arsitektur dan Tata Ruang (SAMARTA), Bali-2017, ISBN 978-602-294-240-5 iii P R A K A T A

Identitas suatu bangsa memiliki peran yang penting dalam percaturan dunia internasional. Bangsa yang beridentitas memiliki karakter yang menjadi pembeda dengan bangsa lain. Dalam konteks Indonesia, identitas bangsa tidak bisa dipisahkan dari budaya lokal, masyarakat, dan lingkungan setempat yang mendukungnya. Tradisi dan budaya Indonesia masih bertahan hingga kini menjadi sebuah kekuatan untuk mempertahankan identitas Secara fisik, arsitektur dan lingkungan binaan merupakan faktor yang sangat penting dalam menunjukkan identitas suatu bangsa. Kedua faktor ini memiliki keterkaitan yang erat dengan dengan manusia sebagai pengguna dan Tuhan sebagai sang pencipta. Dalam filosofi orang Bali, Tri Hita Kharana merupakan sebuah konsep universal yang melestarikan hubungan harmonis antara manusia, alam dan Sang Pencipta untuk melestarikan budaya lokal. Konsep ini diangkat sebagai tema utama dalam seminar yang mengkaji arsitektur, manusia dan lingkungan terbangun dari berbagai sudut pandang yang beragam mulai dari filosofi dan konsepsi tentang arsitektur, kearifan lokal arsitektur, warisan dan budaya lokal serta identitas kota masa kini.

Karenanya, Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Udayana bekerjasama dengan Ikatan Arsitek Indonesia Daerah Bali (IAI Bali) dan Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia (IPLBI) menyelenggarakan Seminar Nasional Arsitektur dan Tata Ruang (SAMARTA) dengan tema Arsitektur, Manusia, dan Lingkungan Binaan pada tanggal 6 Oktober 2017 ini. Seminar nasional ini mengajak para akademisi, para peneliti, para praktisi terkait arsitektur, pemerintah, organisasi nirlaba, pengembang dan pihak lain yang tertarik untuk mengkaji kekayaan arsitektur Indonesia untuk mempertahankan identitas bangsa dari pengaruh globalisasi. SAMARTA 2017 merupakan kegiatan perdana dan direncanakan akan dilakukan secara berkelanjutan setiap dua tahun dengan tema yang berbeda-beda sesuai dengan situasi terkini yang perlu didiskusikan. Akhir kata, kepada Pembicara Kunci, kami ucapkan terima kasih atas waktu serta kesediaannya untuk berbagi di melalui kegiatan ini.

Kepada Pemakalah dan Peserta Seminar, kami ucapkan terima kasih atas partisipasinya. Akhirnya, kepada semua Panitia Pelaksana Seminar, kami sampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya untuk kerja kerasnya, sehingga seminar nasional tahun ini dapat terlaksana dengan baik, dan mohon maaf apabila ada kekurangan dan kesalahan selama persiapan maupun pelaksanaan kegiatan.

Semoga seminar nasional ini bermanfaat dan dapat memberikan kontribusi positif bagi pembangunan lokal dan nasional.

Terima kasih

Ketua panitia SAMARTA 2017 6 Oktober 2017

Dr. Tri Anggraini Prajnawrdhi, S.T, M.T, MURP.

NIP. 197301012000122001

(4)

iv Seminar Nasional Arsitektur dan Tata Ruang (SAMARTA), Bali-2017, ISBN 978-602-294-240-5

KATA SAMBUTAN

Om Swastyastu,

Puja Pangastuti dipanjatkan kehadapan Ida Hyang Widhi Wasa karena berkat rahmat dan karunia- Nya Prosiding Seminar Arsitektur dan Tata Ruang (Samarta) tahun 2017 dengan Tema Arsitektur, Manusia dan Lingkungan Terbangun, dapat diterbitkan. Prosiding ini memuat kumpulan makalah yang disertakan pada seminar tersebut.

Seminar yang diselenggarakan oleh Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Udayana ini diharapkan dapat terlaksana setiap tahun. Tema ini mengajak berbagai pihak untuk secara berkelanjutan membedah arsitektur dan tata ruang dalam suatu diskusi.

Terima kasih disampaikan kepada Rektor Universitas Udayana serta Dekan Fakultas Teknik Universitas Udayana atas dukungan moral dan material. Terima kasih juga kami sampaikan kepada pembicara kunci Prof. Josef Prijotomo, Prof. Antariksa, Prof. Sudaryono, dan Prof. Widjaja Martokusumo. Selain itu, ucapan terima kasih disampaikan kepada Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Daerah Bali, Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia (IPLBI), peserta seminar, panitia seminar dosen dan mahasiswa serta semua pihak yang telah membantu terbitnya prosiding ini.

Akhir kata, mudah-mudahan prosiding ini bisa menginspirasi pembaca dan menjadi referensi bagi akademisi, praktisi serta pembaca lainnya.

Terima Kasih

Om, Santhi, Santhi, Santhi, Om

Jimbaran, 6 Oktober 2017 Ketua Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Udayana

Prof. Dr. Ir. A. A. Ayu Oka Saraswati, M.T.

NIP. 196104151987022001

(5)

Seminar Nasional Arsitektur dan Tata Ruang (SAMARTA), Bali-2017, ISBN 978-602-294-240-5 v RINGKASAN

Prosiding seminar ini merupakan kumpulan paper-paper yang dipresentasikan dan dipublikasi pada Seminar Nasional Arsitektur dan Tata Ruang (SAMARTA) dengan tema Arsitektur, Manusia, dan Lingkungan Terbangun yang diselenggarakan oleh Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Udayana di Ruang Nusantara Lantai 4 Gedung Agro Kompleks Universitas Udayana, Kampus Denpasar pada hari Jum’at, tanggal 6 Oktober 2017.

Adapun sub tema yang diangkat dalam seminar nasional ini adalah:

1. Interpretasi filosofi dan konsepsi;

2. Diskursi kearifan lokal dalam rancang bangun;

3. Eksplorasi arsitektur warisan dan budaya; dan 4. Identitas lokal pada ruang kota masa kini.

Masing-masing paper telah dipresentasikan, baik dalam sesi presentasi untuk para pembicara kunci maupun sesi diskusi paralel untuk para pemakalah. Peserta dan pemakalah dalam seminar nasional ini berasal dari para akademisi, para peneliti, mahasiswa program pascasarjana, para praktisi terkait arsitektur, para pemerhati lingkungan terbangun, pemerintah, organisasi nirlaba, pengembang, dan kalangan umum.

Kegiatan seminar nasional ini adalah kegiatan awal dari rangkaian kegiatan dua tahunan yang diselenggarakan secara berkelanjutan oleh Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Udayana. Pada setiap kegiatan seminar nasional akan ditetapkan tema yang berbeda-beda sesuai dengan situasi dan isu aktual pada saat itu. Semoga seminar nasional ini dapat menjadi wadah diskusi dan berbagi pengetahuan, pengalaman, dan gagasan berkaitan dengan arsitektur, manusia, dan lingkungan binaan dan dapat memberikan kontribusi positif bagi pembangunan berkelanjutan di negeri yang kita cintai ini.

Terima kasih

(6)

vi Seminar Nasional Arsitektur dan Tata Ruang (SAMARTA), Bali-2017, ISBN 978-602-294-240-5

(7)

Seminar Nasional Arsitektur dan Tata Ruang (SAMARTA), Bali-2017, ISBN 978-602-294-240-5 vii DAFTAR ISI

Halaman SAMBUTAN DAN PENGANTAR

1. Prakata Ketua Panitia Seminar Nasional Arsitektur dan Tata Ruang Universitas Udayana 2017 ... iii 2. Kata Sambutan Ketua Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Udayana 2017 ... iv 3. Ringkasan Prosiding Seminar Nasional Arsitektur dan Tata Ruang Universitas Udayana 2017 .... v

DAFTAR ISI ... vii

PEMBICARA UTAMA ...

1. ‘Nusantara’ dan Perkembangan Arsitektur di Indonesia.

(Josef Prijotomo) ... 1 2. Memaknai Lokalitas Dalam Arsitektur Lingkungan Binaan.

(Antariksa) ... 9 3. Pendekatan Fenomenologi untuk Eksplorasi Arsitektur Lokal Bali.

(Sudaryono) ... 15 4. Pelestarian Warisan Budaya. Catatan untuk Konsep Autentisitas dan Integritas dalam

Pelestarian Arsitektur.

(Widjaja Martokusumo) ... 23

SUB TOPIK 1. INTERPRETASI FILOSOFI DAN KONSEPSI ...

1. Konsep Panca Maha Bhuta dalam Perencanaan dan Perancangan Taman Rekreasi Kalianget Wonosobo.

(Daisy Radnawati, Samsud Dlukha, Ray March Syahadat, Priambudi Trie Putra) ... 1-1 2. Pengaruh Konsep Catus Patha terhadap Tata Ruang Pemukiman di Kawasan Transmigrasi

Masyarakat Bali. Studi Kasus: Desa Jati Bali, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara.

(Imade Krisna Adhi Dharma, Weko Indira Romanti Aulia) ... 1-9 3. Konsepsi dan Makna Arsitektur Tradisional pada Bangunan Kekinian. Sebuah Intepretasi

Masyarakat Lokal Bali Tengah pada Transformasi Rumah Tradisional.

(I Dewa Gede Agung Diasana Putra) ... 1-21 4. Façade dan Landscape Bali, Interpretasi dan Konsep Tata Ruang Lingkungan Terbangun

Desa Bayung Gede.

(Petrus Rudi Kasimun) ... 1-31 5. Identifikasi Bentuk, Struktur, dan Kontruksi Bale Meten Sakaulu pada Arsitektur Tradisional

Bali di Desa Gunaksa-Klungkung.

(I Nengah Lanus, I Nyoman Susanta, Gede Windu Laskara) ... 1-35 6. Ignition Factor sebagai Informasi Berharga Desain Arsitektur.

(Heru Sufianto) ... 1-43 7. Dari Teks Menjadi Arsitektur: Interpretasi terhadap Naskah Lontar Asta Kosala Kosali.

(I Nyoman Nuri Arthana) ... 1-51 8. Landasan Konsepsual dan Penerapan Pradaksina dan Prasawya dalam Perwujudan

Arsitektur Hindu Bali.

(I Nyoman Widya Paramadhyaksa) ... 1-59 9. Makna Simbolis Penataan Palebahan sebagai Unsur Dasar Kompleks Puri di Bali.

(Anak Agung Gde Djaja Bharuna S) ... 1-69

(8)

viii Seminar Nasional Arsitektur dan Tata Ruang (SAMARTA), Bali-2017, ISBN 978-602-294-240-5

10. Transformasi Konsep Sara Pataanguna pada Rumah Tradisional Buton Malige di Kota Baubau Sulawesi Tenggara.

(Muhammad Zakaria Umar, Muhammad Arsyad) ... 1-77

SUB TOPIK 2. DISKUSI KEARIFAN LOKAL DALAM RANCANG BANGUN ...

1. Ragam Hias Arsitektur Tradisional Bali pada Gedung Kantor Gubernur Bali.

(Donna Sri Lestari Poskiparta, Tri Anggraini Prajnawrdhi) ... 2-1 2. Kearifan Lokal Migran Madura pada Permukiman Kota Lama Malang.

(Damayanti Asikin, Antariksa, Lisa Dwi Wulandari, Wara Indira Rukmi) ... 2-9 3. Identifikasi Bangunan Kolonial untuk Pelestarian Fasade di Jalur Belanda Kota Singaraja-Bali.

(Agus Kurniawan) ... 2-17 4. Representasi Tradisi Demokrasi pada Arsitektur Bale Banjar Adat di Denpasar-Bali.

(Christina Gantini, Josef Prijotomo) ... 2-25 5. Karakteristik Tangible dan Intangible Gereja Tua Sikka. Sebagai Bukti Sejarah Masuknya

Agama Katolik di Sikka.

(Yohanes Pieter Pedor P., I Wayan Kastawan, Widiastuti) ... 2-35 6. Keunikan Bentuk Ragam Hias pada Pura Dalem Desa Bebetin, Kecamatan Sawan,

Kabupaten Buleleng.

(Tri Anggraini Prajnawrdhi, Ni Ketut Agusintadewi, Ni Luh Putu Eka Pebriyanti, dan Ni Made Mitha Mahastuti) ... 2-45 7. Bale Tumpang Salu pada Bangunan Umah di Desa Sidatapa, Singaraja.

(Anak Agung Ayu Oka Saraswati) ... 2-53 8. Bentuk dan Makna Arsitektur dan Ornamen Monumen Bajra Sandhi.

(Sri Indah Retno Kusumowati, Tri Anggraini Prajnawrdhi) ... 2-59 9. Kajian Penerapan Arsitektur dan Ragam Hias Tradisional Bali pada Kori Agung Bangunan

Balai Pertemuan di Kantor DPRD Bali.

(Syilvia Agustine Maharani, Tri Anggraini Prajnawrdhi) ... 2-67 10. Adaptasi Arsitektur Tradisional Bali pada Balai Pertemuan DPRD Renon, Bali.

(Made Chryselia Dwiantari, Tri Anggraini Prajnawrdhi) ... 2-75 11. Kajian Ergo-Arsitektur pada Dapur Tradisional di Banjar Tiga Kawan, Desa Penglumbaran,

Bangli-Bali.

(Ida Bagus Gde Primayatna, I Gusti Agung Bagus Suryada) ... 2-83 12. Ekspansi Ruang pada Bangunan Tradisional Bali.

(I Made Adhika) ... 2-89 13. Kearifan Ekologis Bangunan Vernakuler dalam Konteks Mitigasi Bencana.

(Sri Utami)... 2-95 14. Memahami Esensi Ruang Domestik pada Masyarakat Tradisional Bali Aga di Desa Sekardadi,

Kintamani.

(Ni Ketut Agusintadewi, I Wayan Yuda Manik, Ni Made Mitha Mahastuti) ... 2-103

SUB TOPIK 3. EKSPLORASI ARSITEKTUR WARISAN DAN BUDAYA ...

1. Kampung Adat Deri Kambajawa di Kabupaten Sumba Tengah sebagai Living Museum.

(Titien Saraswati, Maria Adrianus Rambu Day) ... 3-1 2. Reinterpretasi Prinsip Ruang Bersama Tanean Lanjang Madura pada Pusat Komunitas Seni

Tari Topeng Malang.

(Dionisius Dino Briananto, Tito Haripradianto, Abraham M. Ridjal) ... 3-11 3. Peragaman Rupa dan Rupa Inklusif dalam Desain Warisan Arsitektur.

(Noviani Suryasari, Antariksa, dan Lisa Dwi Wulandari) ... 3-17 4. Kota Terapung Muara Muntai. Studi Kasus: Pengembangan Kota Muara Muntai Sebagai Kota

Heritage.

(Huda Nurjanti) ... 3-23

(9)

Seminar Nasional Arsitektur dan Tata Ruang (SAMARTA), Bali-2017, ISBN 978-602-294-240-5 ix 5. Pola Tata Bangunan dan Hubungan Kekerabatan: Dusun Kasim, Kabupaten Blitar.

(Yurista Hardika Dinata, Wara Indira Rukmi, dan Antariksa) ... 3-33 6. Kawasan Wisata Permukiman Bantik di Pesisir Pantai Malalayang Berbasis Cultural Heritage.

(Pingkan Peggy Egam, Arthur Harris Thambas) ... 3-41 7. Kajian Place Attachment pada Anak-Anak di Desa Bali Aga Tenganan dengan Visual Analy-

sis.

(Antonius Karel Muktiwibowo, Gede Windu Laskara) ... 3-49 8. Identifikasi Tingkat Perubahan Kawasan Bersejarah Menggunakan Visual Impact

Assessement dan Tipologi Bangunan di Koridor Jalan Ijen, Malang.

(Eddi Basuki Kurniawan, Novita Dian Zahdella, Wulan Astrini) ... 3-59 9. Pola Pemanfaatan Ruang Pemukiman Masyarakat Bajo di Desa Lemo Bajo Kabupaten

Konawe Utara sebagai Arahan Penataan Kawasan Pemukiman Pesisir.

(Santi, Siti Belinda Amri, Haryudin) ... 3-67 10. Kajian Penataan Ruang Kawasan Jabotabek dengan Pendekatan Ekosistem.

(Parino Rahardjo) ... 3-77 11. Ruang Teror pada Labirin Kampung Pulo.

(Coriesta Dian Sulistiani) ... 3-85 12. Faktor Kritis Penentu Keberhasilan Kolaborasi Desain pada Perusahaan Properti di

Kabupaten Gresik.

(Moh. Saiful Hakiki, Ikhtisholiyah, Dandy Nugroho) ... 3-97 13. Tipologi Rumah Adat Pada Desa Bali Aga. Studi Kasus pada Desa Tigawasa, Kecamatan

Banjar, Kabupaten Buleleng.

(Tri Anggraini Prajnawrdhi, Ni Made Yudantini) ... 3-103 14. Perubahan Arsitektur Tradisional Hunian Desa Bayung Gede, Bangli.

(Widiastuti, Syamsul Alam Paturusi, Ngakan Ketut Acwin Dwijendra, Gede Windu Laskara) ... 3-109 15. Identifikasi Potensi Internal, Tantangan, dan Peluang Pengembangan Lima Tipe Daya Tarik

Wisata Desa Singapadu Tengah.

(I Made Suarya, I Nyoman Widya Paramadhyaksa, Ni Ketut Agusinta Dewi, dan I Gusti Agung Bagus Suryada) ... 3-119 16. Cultural Landscape: Pola Desa Tradisional di Desa Buahan, Kintamani.

(Ni Made Yudantini, Tri Anggraini Prajnawrdhi) ... 3-127

SUB TOPIK 4. IDENTITAS LOKAL PADA RUANG KOTA MASA KINI ...

1. Konsep Ruang Komunal Sosio-Kultural Kota Multi-Etnis Historis Gresik.

(Dian Ariestadi, Antariksa, Lisa D. Wulandari, Surjono) ... 4-1 2. Konsep Perancangan Kawasan Pasar Tradisional Badung sebagai Upaya Memperkuat

Karakter Kawasan Jl. Gajah Mada-Denpasar.

(Gede Windu Laskara, Bramana Ajasmara Putra) ... 4-9 3. Place Attachment pada Jalur Pedestrian di Jalan Ijen, Malang sebagai Ruang Terbuka Publik.

(Wulan Astrini, Eddi Basuki Kurniawan) ... 4-17 4. Kearifan Pejabat, Pengembang, Perencana, Perancang, dan Supervisi dalam Etika

Lingkungan Hidup.

(JM. Joko Priyono Santoso) ... 4-25 5. Kearifan Lokal dan Identitas Kota Baru.

(Franky Liauw) ... 4-33 6. Ekowisata pada Cultural Landscape Subak sebagai Identitas Kota Denpasar. Sebuah Upaya

Penggalian Potensi Ekowisata di Subak Sembung Kecamatan Denpasar Utara.

(I Gusti Agung Bagus Suryada, I Nyoman Widya Paramadhyaksa) ... 4-41 7. Pengembangan Wisata Sejarah sebagai Penguatan Identitas Kawasan Kabupaten Pulau Mo-

rotai.

(Yudha Pracastino Heston, Yonanda Rayi Ayuningtyas, dan Rivaldo Okono) ... 4-49

(10)

x Seminar Nasional Arsitektur dan Tata Ruang (SAMARTA), Bali-2017, ISBN 978-602-294-240-5

8. Permukiman Bali Kuno Desa Bayung Gede sebagai Atraksi Pariwisata di Bali.

(Syamsul Alam Paturusi) ... 4-57

9. Perancangan Kawasan Kedungu Resort sebagai Upaya Pembangunan Sektor Pertanian yang Berkelanjutan di Kabupaten Tabanan.

(Ngakan Ketut Acwin Dwijendra, I Wayan Yogik Adnyana Putra, Marthin Gunardhy) ... 4-67 10. Materialisasi Ruang Publik dan Pembangunan Pariwisata Budaya. Konflik Kepentingan

Pemanfaatan Kawasan Pesisir di Bali.

(I Ketut Mudra) ... 4-75 11. Upaya Mengeleminir Dampak Investasi terhadap Lingkungan dan Tata Ruang Wilayah Kabu-

paten Badung.

(Putu Rumawan Salain) ... 4-83 12. Permasalahan Keruangan dalam Perencanaan Pasar Seni Desa Pakraman Kutri, Desa Sin-

gapadu Tengah, Gianyar.

(I Nyoman Widya Paramadhyaksa, I Made Suarya, dan Ida Ayu Armeli) ... 4-93 13. Konsep Tata Kelola Homestay di Desa Wisata Pinge Kabupaten Tabanan.

(Ni Putu Atik Pranya Dewi, I Nyoman Widya Paramadhyaksa, dan Tri Anggraini Prajnawrdhi) ... 4-101 14. Kajian Kawasan Nelayan di Pantai Kuta.

(I Gusti Ngurah Anom Rajendra) ... 4-109 15. Identifikasi Desain Ruang Luar yang Berkearifan Lokal sebagai Place Branding terhadap

Persepsi Wisata Kota di Area Catus Patha Kota Denpasar.

(Kadek Agus Surya Darma) ... 4-117 16. Makna dan Karakteristik Ruang Bermain Anak di Bantaran Sungai Code. Studi Kasus:

Kelurahan Cokrodiningratan, Jetis, Yogyakarta.

(Ni Luh Putu Eka Pebriyanti)... 4-125 17. Pemanfaatan Lansekap sebagai Identitas Kota dalam Perspektif City Branding.

(Subhan Ramdlani) ... 4-133 18. Aktivitas Masyarakat sebagai Pembentuk Identitas Ruang Terbuka Hijau (RTH) Berkualitas di

Kota Malang.

(Lisa Dwi Wulandari, Subhan Ramdlani) ... 4-141 DAFTAR TUJUH PAPER TERBAIK SAMARTA UNUD 2017 ...

SUSUNAN PANITIA ...

(11)

1 PERMUKIMAN BALI KUNO DESA BAYUNG GEDE

SEBAGAI ATRAKSI PARIWISATA DI BALI

Syamsul Alam Paturusi 1

Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Udayana Kampus Bukit Jimbaran, Badung, Bali.

[email protected]

ABTRACT

This article aims to determine the planning strategies for the Bayung Gede village, Bangli as a tourist attraction.

The village is already established as one of the Tourism Village in Bangli regency since 2006, but until now there are no signs that lead to that goal. Typical architecture of the ancient Balinese village settlements very different from the mainland Balinese architecture, is now suggestive fading. The transformation of architecture into modern architectural style massive hit this settlement. The loss of local identity, besides eliminating the chain of the history of architecture in Bali, also can thwart the plan to make this village as tourism village. This study was conducted over six months in the village Bayung Gede, with a qualitative method approach, data were collected through observation, interviews with village chiefs, traditional leaders and the habitants. The result is then analyzed in SWOTH to obtain planning strategies.

The results showed that the village has tourism potential such as: unique tradition placenta hanging on a tree, bamboo tree forest vast, ancient Balinese dance and patterns unique village. The problems encountered include:

lack of a source of clean water, lack Tourism Village program, and tourism is not a priority scale, the absence of tourism awareness group. For the future, needed some strategy that is a combination of various elements of strengths, weaknesses, opportunities and threats.

Key words: Bayung Gede village, tourist village, planning strategies.

ABSTRAK

Artikel ini bertujuan untuk menentukan strategi perencanaan bagi permukiman Desa Bayung Gede, Bangli sebagai daya tarik wisata. Desa ini sudah ditetapkan sebagai salah satu Desa Wisata di Kabupaten Bangli sejak tahun 2006, namun hingga saat ini tidak ada tanda tanda yang mengarah ke tujuan tersebut. Arsitektur khas pada permukiman desa bali kuno yang sangat berbeda dengan arsitektur bali daratan, saat ini menjurus ke arah pemudaran. Transformasi arsitektur ke langgam arsitektur modern melanda permukiman ini secara masif.

Hilangnya identitas lokal ini selain menghilangkan mata rantai sejarah arsitektur di Bali, juga dapat menggagalkan rencana menjadikan desa ini sebagai Desa Wisata. Penelitian ini dilakukan selama enam bulan di Desa Bayung Gede, dengan pendekatan metode kualitatif, data dikumpulkan melalui obervasi, wawancara dengan kepala desa, tokoh adat dan masyarakat. Hasilnya kemudian dianalisis secara SWOTH untuk memperoleh strategi perencanaan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa desa ini memiliki potensi wisata seperti: tradisi unik menggantung ari-ari bayi pada pohon, hutan pohon bambu yang luas, tarian bali kuno dan pola desa yang unik. Permasalahan yang dihadapi antara lain: tidak adanya sumber air bersih, belum adanya program Desa Wisata, pariwisata bukan skala prioritas, belum adanya kelompok sadar wisata. Untuk itu kedepan diperlukan adanya beberapa strategi yang merupakan kombinasi dari berbagai unsur kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman.

Kata kunci: Desa Bayung Gede, Desa wisata, strategi perencanaan.

PENDAHULUAN

Desa Bayung Gede adalah salah satu desa Desa Kuno (Bali Mula/Bali Aga) di Bali. Desa yang berada di Kecamatan Kintamani, Bangli ini tidak “semaju” dengan desa Penglipuran tetangganya yang juga termasuk desa bali kuno. Sebagaimana desa bali kuno pada umumnya, memiliki keunikan dan kekhasan dibanding dengan permukiman di Bali dataran (Saliya, 1975; Pardiman, 1986; Gelebet, 1988), Bayung Gede memiliki tradisi dan kekahasan Arsitektur yang tidak kalah menariknya di banding dengan permukiman desa Bali Kuno lainnya. Sayang sekali potensi besar tersebut belum mampu menarik wisatawan untuk berkunjung kesana. Padahal dengan banyaknya wisatawan yang berkunjung akan dapat meningkatkan kesejahteraan masayarakat setempat.

(12)

2 Disisi lain perkembangan permukiman yang terjadi saat ini cenderung berkembang ke arah yang dapat menghilangkan identitas keunikan dan kekhasan desa tersebut sebagai desa Bali Kuno. Hilangnya identitas jatidiri ini akan berdampak pada hilangnya mata rantai sejarah permukiman dan arsitektur bali.

Bila hal ini tidak ditangani dengan baik, maka bisa terjadi suatu saat permukima bali kuno ini akan sirna ditelan zaman.

Pariwisata dan pelestarian bukan hal yang bersifat dikotomi, tetapi dapat bersinergi saling menunjang satu dengan lainnya. Lestarinya suatu permukiman yang berkarakter dan unik (distinctiveness) justru akan menjadi daya tarik wisata (Cooper, 2008).

Berdasarkan uraian di atas maka Rumusan masalah yang menjadi fokus makalah ini adalah:

1. Apa kekuatan, kelemahan, potensi dan ancaman yang ada di Desa Bayung Gede jika akan dikembangkan sebagai desa wisata?

2. Bagaimana langkah langkah strategi yang dilakukan untuk mengarahkan Desa Bayung Gede sebagai desa wisata?

Tujuan umum makalah ini adalah untuk menemukan suatu strategi perencanaan Desa Bayung Gede sebagai desa wisata. Sedangkan tujuan khususnya adalah: (1) mengetahui kekuatan, kelemahan, potensi dan ancaman yang ada di Desa Bayung Gede jika akan dikembangkan sebagai desa wisata;

dan (2) mengetahui langkah langkah strategi yang dilakukan untuk mengarahkan Desa Bayung Gede sebagai desa wisata.

Secara langsung manfaat yang diperoleh dari makalah ini adalah sebagai salah satu bentuk kegiatan Tri Darma Perguruan Tinggi, yaitu kegiatan penelitian, selain kegiatan pendidikan/pengajaran dan pengabdian kepada masyarakat. Selain itu makalah ini dapat menjadi pembuka untuk penelitian selanjutnya dari berbagai kajian ilmu.

Makalah juga ini dapat digunakan oleh Pemerintah Kabupaten Bangli sebagai masukan untuk dikaji lebih lanjut dalam rangka pengembangan Desa Wisata Bayung Gede. Bagi masyarakat, makalah ini dapat digunakan sebagai masukan untuk pembenahan ke dalam jika Desa Bayung Gede akan dikembangkan sebagai Desa Wisata

KAJIAN TEORITIS

Hubungan antara Arsitektur dan Pariwisata

Dari kacamata industri pariwisata, Arsitektur dipandang sebagai artefak buatan manusia (man made features) yang mampu dijadikan sebagai daya tarik wisata (attractions), sejalan dengan penelitian Kierchhoff (1997) yang bertajuk Architecture and Tourism. Sedangkan menurut Richie dan Crouch(2005), karya arsitektur digolongkan sebagai daya tarik wista budaya dan sejarah (cuture and history). Karya arsitektur yang memiliki keunikan dan kesejarahan tentu akan memberi nilai tambah daya tarik wisata, sebagaimana dibuktikan oleh penelitian Zekiye Abali dan Erinsel Onder (1990) yang berjudul The Local Architectural Image in Tourism, mereka mencontohkan Seljuki Kervansarai yang merupakan permukiman peninggalan dinasti Ottoman di Turki yang mampu menyedot wistawan untuk berkunjung ke sana. Namun tidak serta merta suatu obyek (Arsitektur) yang memilki keunikan secara otomatis mengundang wistawan untuk mengunjunginya. Hal tersebut baru sebatas potensi yang given.

Potensi besar yang tidak tergarap dengan baik, tentu tidak akan ada gunanya. Sejumlah persyaratan lain harus dipenuhi seperti accesiblities, amenities, ancillaries, activities, dan available packages (Cooper, 2008).

Strategi Pengelolaan

Strategi pengelolaan dapat diartikan sebagai suatu rangkaian kebijakan atau tindakan yang dilakukan secara terus menerus, dengan memanfaatkan peluang, ancaman dan sumber daya serta kemampuan

(13)

3 yang dimiliki, pada setiap tahap perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan pengawasan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya secara berkelanjutan.

Dengan demikian pengamatan lingkungan eksternal dan internal merupakan proses awal dari konsep strategi pengelolaan, dilanjutkan dengan perencanaan yang keberadaanya diperlukan untuk memberikan arah dan patokan dalam suatu kegiatan. Pengorganisasian berkaitan dengan penyatuan seluruh sumber daya dan kemampuan yang ada untuk bersinergi dalam mempersiapkan pelaksanaan kegiatan. Tahap selanjutnya adalah pengarahan dan pelaksanaan kegiatan yang selalu berpedoman pada perencanaan yang telah ditetapkan. Tahap terakhir adalah pengawasan yang meliputi kegiatan monitoring dan evaluasi untuk memperbaiki program kegiatan berikutnya sehingga tujuan yang telah direncanakan tercapai dengan baik.

Penelitian Terdahulu

Penelitian yang mengaitkan antara arsitektur dengan pariwisata telah banyak dilakukan, misalnya yang dilakukan oleh Zekiye Abali dan Erinsel Onder (1990) misalnya, yang keduanya menyimpulkan bahwa arsitektur sebagai bagian karya manusia (man made) dapat merupakan daya tarik (attraction) pariwisata.

Di Indonesia, khususnya di UGM yang memiliki Jurusan Arsitektur Pariwisata, banyak melakukan penelitian yang menghubungkan kedua fenomena tersebut. Di S2 Kajian Pariwisata Unud, penelitian oleh Nurcholis (2011) meneliti mengenai “Keraton Alwatzikhoebillah sebagai Daya Tarik Wisata Sejarah di Sambas Kalimantan Barat”.

Penelitian Arsitektur mengenai desa desa bali kuno juga telah banyak dilakukan, misalnya oleh Parimin yang meneliti pola pola desa kuno Tihingan, Nyalian, Bungaya, Timrah, Bug-Bug, Julah, Pengotan, Kekeran, Tenganan, Sidetapa, Bayung Gede, Sembiran, Sukawana (1985), penelitian spesifik di Tenganan (Runa,1993; Lucas Shindunata,1994), spesifik di Bayung Gede (Manik, 2007), desa desa Bali Aga di Buleleng (Ayu Siwalatri, 2014). Dari aspek kajian pariwisata, misalnya yang dilakukan di Penglipuran (Jamin Ariana, 2010), dan di Tenganan (Gde Wijaya, 2008).

PENDEKATAN

Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan Kualitatif deskriptif, yang bersifat eksploratif. Hal ini dapat dilihat dari tujuan dari makalah ini yang bertujuan untuk mengekplorasi potensi dan merumuskan strategi pengelolaan desa wisata di Desa Bayung Gede. Dengan demikian dapat menjawab tantangan bagaimana pariwisata dapat berkontribusi secara nyata terhadap kelestarian permukiman Desa Bali Kuno dan dapat bermanfaat bagi masyarakat sekitar.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Strategi Pengembangan Desa Bayung Gede Sebagai Desa Wisata Posisi Desa Wisata Bayung Gede dalam Tourism area Life Cycle (TALC)

Berdasarkan siklus hidup destinasi pariwisata yang dikemukakan oleh Butler (1980), maka Desa Wisata Bayung Gede berada dalam tahap exploration. Tahap ini berciri daerah tujuan wisata baru ditemukan, dan dikunjungi secara terbatas serta sporadis, khususnya bagi wisatawan petualang. Pada tahap ini terjadi kontak yang tinggi antara wisatawan dengan masyarakat lokal, karena wisatawan menggunakan fasilitas lokal yang sudah tersedia. Karena jumlah yang terbatas dan frekuensi yang jarang, maka dampak sosial-budaya dan sosial-ekonomi pada tahap ini masih kecil.

Hal ini ditandai dengan tidak tersedianya data terkait kunjungan wisatawan yang berkunjung ke Desa Wisata Bayung Gede, walaupun ada beberapa atraksi wisata yang sudah menerima kehadiran wisatawan seperti atraksi bersepeda (cycling). Fasilitas pariwisata yang sudah ada sekarang dikarenakan desa wisata ini berada pada jalur pariwisata yakni jalan raya menuju Geopark Kintamani – Kintamani – Pura Batur – Pura Penulisan.

Analisis SWOT Desa Wisata Bayung Gede

Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan dengan stakeholder pariwisata yang ada di Desa Wisata Bayung Gede, dengan mempergunakan analisis SWOT diperoleh 4 faktor utama dalam

(14)

4 perumusan strategi yaitu kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities), dan ancaman (Threats). Berikut dipaparkan faktor-faktor tersebut.

Kekuatan (Strengths)

a. Memiliki tradisi unik dan satu-satunya di Bali yaitu ari-ari bayi yang digantung pada pohon bukah dengan mempergunakan kelapa yang dibelah.

Tradisi ini dilaksanakan oleh masyarakat Desa Wisata Bayung Gede sebagai upaya melindungi desa dari berbagai macam hal buruk.

b. Memiliki hutan bambu yang luas.

Area hutan bambu yang dimiliki oleh Desa Bayung Gede merupakan sumber bahan baku lokal yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat setempat untuk pembuatan rumah terutama untuk atap rumah. Masyarakat setempat sebagian besar saat ini masih mempergunakan bambu sebagai atap rumah mereka, karena memiliki kekuatan antara 10 sampai 15 tahun.

c. Daya tarik alam yakni hamparan sawah yang ditanami pohon jeruk.

Desa Wisata Bayung Gede selain memiliki tradisi yaitu ari-ari bayi yang digantung pada pohon bukah dengan mempergunakan kelapa yang dibelah, juga memiliki daya tarik alamnya yaitu hamparan sawah yang ditanami pohon jeruk. Dalam perjalanan menuju desa wisata ini, hamparan sawah dengan pohon jeruk menghiasi di sisi kiri dan kanan jalan raya.

d. Masyarakat lokal yang memiliki kreatifitas seni.

Masyarakat lokal Desa Wisata Bayung Gede memang sudah dikenal menjadi sentra seni Kabupaten Bangli terutama dilihat dari terpeliharanya beberapa kesenian tradisional seperti baris kuno (baris jojor, baris bajra, baris dadap dan baris presi) serta sekaa ebat.

e. Terdapat peninggalan historis seperti pura balai agung sebagai bukti adanya keterkaitan dengan Desa Bali Aga (desa kuno di Bali).

Kelemahan (Weaknesses)

a. Desa Wisata Bayung Gede belum memunculkan something to do, something to see and something to buy yang bisa menarik wisatawan setiap harinya.

Untuk menjadikan desa ini sebagai desa wisata, syarat untuk adanya sesuatu yang dapat dilakukan di suatu kawasan (something to do) sangat penting, seperti aktivitas trekking, cycling atau apapun yang menjadi daya tarik dari suatu destinasi dan memberikan pengalaman baru bagi wisatawan. Syarat selanjutnya, yaitu sesuatu yang bisa dilihat (something to see) di desa wisata tersebut dan memiliki keunikan bagi wisatawan sehingga desa wisata akan meninggalkan kesan tersendiri bagi wisatawan. Terakhir, wisatawan harus memperoleh kenangan, sehingga perlu tersedia souvernir sebagai ciri khas mereka sudah mengunjungi desa wisata (something to buy).

Desa wisata Bayung Gede sudah ditetapkan oleh Pemerintah Kabupaten Bangli sejak tahun 2006.

Walaupun sudah ditetapkan sejak tahun 2006, dari pengamatan di lapangan memang belum ditemukan program desa wisata yang dijalankan terkait Desa Wisata Bayung Gede.

b. Desa Wisata bukan merupakan prioritas pembangunan di Desa Bayung Gede.

Berdasarkan hasil wawancara dengan tokoh masyarakat, ternyata yang menjadi prioritas pembangunan di Desa Bayung Gede adalah pertanian, sehingga pembangunan pariwisata di Desa Bayung Gede hanyalah merupakan program sampingan.

c. Kurangnya penyuluhan dan pelatihan pariwisata khususnya tentang Desa Wisata kepada masyarakat lokal.

Berdasarkan observasi di lapangan diperoleh hasil bahwa penyuluhan atau pelatihan terkait desa wisata sangat kurang, sehingga ke depan perlu adanya pembinaan-pembinaan agar masyarakat lokal dapat menyadari peran pariwisata khususnya desa wisata dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat, serta mampu mengelola sumber daya yang dimilikinya untuk terciptanya pariwisata yang berkelanjutan (sustainable tourism).

d. Belum memiliki kelompok Sadar Wisata

Peluang (Opportunities)

a. Dilalui jalur pariwisata Ubud – Kintamani – Penelokan

Jalur pariwisata Ubud – Kintamani – Penelokan merupakan salah satu jalur wisata terpadat yang terdapat di Bali Timur. Dengan keberadaan pada jalur wisata ini, Desa Wisata Bayung Gede dengan memanfaatkan lokasi yang strategis (prinsip aglomerasi) sangat berpeluang untuk menarik kunjungan wisatawan.

(15)

5 b. Lokasi yang strategis, yakni dekat dengan destinasi Kintamani

Kintamani dengan Geopark Batur merupakan salah satu icon pariwisata di Bali yang tidak akan dilewatkan oleh wisatawan yang berkunjung ke Bali. Kintamani juga masuk dalam itinerary setiap paket tour, hal ini mengakibatkan destinasi ini selalu dikunjungi wisatawan. Dengan memanfaatkan Kintamani sebagai destinasi yang sangat strategis, maka Desa Wisata Bayung Gede akan dapat berkembang dengan syarat perlu melakukan penguatan karakter Desa Wisata Bayung Gede untuk ditawarkan pada wisatawan.

c. Kebijakan Pemerintah Kabupaten yang mendukung pengembangan Desa Wisata Bayung Gede Pemerintah Kabupaten Bangli khususnya Dinas Pariwisata Kabupaten Bangli sangat berkomitmen dan mendukung Desa Wisata Bayung Gede. Desa Wisata Bayung Gede masuk sebagai salah satu desa wisata yang akan dikembangkan berdasarkan Program Bali Mandara dengan 100 desa wisatanya. Khusus untuk Kabupaten Bangli, terdapat 11 Desa Wisata yang masuk program 100 desa wisata Bali Mandara, yaitu desa wisata Penglipuran, Undisan, Trunyan, Kintamani, Buahan, Songan A, Batur Utara, Batur Tengah, Batur Selatan, Suter dan Bayung Gede.

Ancaman (Threats)

a. Terjadinya perubahan bahan atap bangunan tradisional

Berkembangnya suatu kawasan menjadi kawasan pariwisata mempengaruhi properti yang ada di tempat tersebut. Salah satunya adalah atap bangunan tradisional yang berubah dari penggunaan bambu dirubah dengan mempergunakan genteng dan seng. Walapun sudah diberikan himbauan, namun perubahan atap bangunan tradisional terus terjadi. Hal ini terjadi karena adanya perubahan cara berpikir dari generasi muda di desa ini, yang menganggap jika masih memakai atap rumah dari bambu maka mereka takut dianggap kehidupan mereka terbelakang (kurang modern).

b. Destinasi wisata disekitar Desa Wisata Bayung Gede yaitu Kintamani dan Penglipuran yang lebih terkenal dan menjadi icon pariwisata, sehingga wisatawan lebih memilih untuk berkunjung kesana.

Hal ini adalah paradoks dari hal yang sama pada peluang. Tergantung sudut pandang kita melihat apakah peluang ataupun ancaman. Namun, keduanya memiliki karakter yang kuat serta memiliki ciri dan keunikan.

Strategi Pengembangan Desa Wisata Bayung Gede

Analisis SWOT dipergunakan untuk merumuskan strategi yang terdiri dari Strategi SO (Strength- Opportunities), ST (Strengths-Threats), WO (Weaknesses-Opportunities), dan WT (Weaknesses- Threats).

Strategi SO (Strengths – Opportunities)

Strategi ini dibuat berdasarkan kekuatan untuk mendapatkan manfaat dari peluang sebesar-besarnya.

Strategi ini berada pada kuadran I, bersifat agresif karena memiliki sumber daya yang besar. Adapun strategi yang dihasilkan pada Matriks Strategi SO seperti pada Tabel 4.

a. Bekerja sama dengan para stakeholder pariwisata untuk memperkenalkan potensi yang dimiliki Desa Wisata Bayung Gede (S1, S4, S5, O1, O2)

Desa Wisata Bayung Gede bersama-sama dengan para stakeholder pariwisata yang terdiri dari pemerintah (Disparda Kabupaten Bangli), akademisi (institusi pendidikan pariwisata), industri pariwisata, media serta tokoh masyarakat untuk secara aktif memperkenalkan dan mempromosikan Desa Wisata Bayung Gede kepada wisatawan. Dengan kerja sama yang dilakukan akan mempercepat dikenalnya Desa Wisata Bayung Gede serta diketahui oleh wisatawan secara luas, sehingga peluang yang ada dapat dioptimalkan.

b. Menjaga dan melestarikan potensi yang ada sebagai keunggulan Desa Wisata Bayung Gede (S2, S3, O3)

Suasana pedesaan yang masih alamiah didukung dengan pertanian yang masih kuat merupakan atraksi yang menarik untuk ditawarkan kepada wisatawan. Ditambah dengan lokasi yang strategis akan memudahkan aksesibilitas wisatawan yang ingin berkunjung ke Desa Wisata Bayung Gede.

Untuk dapat menjaga dan melestarikan atraksi tersebut adalah tanggung jawab bersama, khususnya masyarakat lokal Desa Wisata Bayung Gede. Pertumbuhan fasilitas pariwisata

(16)

6 disekitar jalur pariwisata Ubud – Kintamani – Penelokan dapat dimanfaatkan untuk mengoptimalkan kepariwisataan di Desa Wisata Bayung Gede.

Tabel 4. Matriks Strategi SO (Strengths – Opportunities)

EFAS

IFAS

OPPORTUNITIES

Berada di jalur wisata Ubud - Kintamani - Penelokan Lokasi Strategis dekat dengan Kintamai sebagai icon pariwisata Bali Timur Kebijakan Pemda Bangli yang mendukung (salah satu dari 11 desa wisata) yang akan dikembngkan melalui Program Bali Mandara

STRENGTHS STRATEGI SO

Memiliki tradisi unik dan satu-satunya di Bali yaitu ari-ari yang digantung di pohon bukah.

1. Bekerja sama dengan para stakeholder pariwisata untuk memperkenalkan potensi yang dimiliki Desa Wisata Bayung Gede (S1, S4, S5, O1, O2)

2. Menjaga dan melestarikan potensi yang ada sebagai keunggulan Desa Wisata Bayung Gede (S2, S3, O3)

Memiliki hutan bambu yang luas

Daya tarik alam berupa hamparan sawah yang ditanami pohon jeruk Masyarakat lokal yang memiliki kreatifitas seni Terdapat peninggalan historis berupa bangunan sebagai bukti adanya keterkaitan dengan desa kuno (Bali Aga)

Sumber: Data Olahan Peneliti (2016)

Strategi ST (Strengths – Threats)

Strategi ini bersifat diversifikasi yang berada pada kuadran II dalam kuadran SWOT sehingga strategi yang harus diterapkan adalah menggunakan kekuatan untuk memanfaatkan peluang jangka panjang dengan cara strategi diversifikasi (produk/pasar), dapat dilihat pada Tabel 5.

Berdasarkan Matriks Strategi ST maka strategi yang dapat dilakukan diantaranya:

a. Membuat produk wisata yang unik sehingga wisatawan menyukai Desa Wisata Bayung Gede serta memasarkan secara maksimal (S1, S2, S3, S4, T2, T3)

Desa Wisata Bayung Gede harus mempunyai keunikan tersendiri dalam menanggulangi faktor ancaman yang disebutkan dalam strategi ini. Keunikan tersebut akan menjadi keunggulan bersaing yang membuat Desa Wisata Bayung Gede memiliki karakter tersendiri. Jika memiliki produk wisata yang unik dengan target wisatawan yang tepat, didukung dengan pemasaran yang baik (didukung oleh para stakeholder), Desa Wisata Bayung Gede akan mendapatkan pasarnya sendiri. Keunikan tersebut harus disadari bersama oleh masyarakat Desa Wisata Bayung Gede, sehingga muncul keinginan dan sikap untuk menjaga, merawat serta melestarikan keunikan yang ada. Hal tersebut tercermin pada partisipasi masyarakat Desa Wisata Bayung Gede dalam berbagai kegiatan pengembangan desa wisata.

(17)

7 Tabel 5. Matriks Strategi ST (Strengths – Threats)

Sumber: Data Olahan Peneliti (2016)

b. Melakukan koordinasi dengan pemerintah dan masyarakat Desa Wisata Bayung Gede untuk menanggulangi permasalahan yang ada (S5, T1)

Desa Wisata Bayung Gede mengandalkan daya tarik alam berupa persawahan. Area ini berada pada jalur pariwisata Ubud – Kintamani (melalui Payangan).

Strategi WO (Weaknesses – Opportunities)

Fokus dari strategi ini adalah menyelesaikan permasalahan di internal yakni kelemahan, sehingga dapat menggunakan peluang yang ada. Dalam kuadran SWOT, strategi ini termasuk kuadran III dan bersifat putar balik (turn-around). Hal ini berarti segala daya upaya dikerahkan dalam membenahi

EFAS

IFAS

THREATS

Perubahan Struktur Atap Bangunan Kintamani lebih dikenal dari pada Desa Wisata Bayung Gede Adanya budaya barat yang dapat memasuki budaya lokal

STRENGTHS STRATEGI ST

Memiliki tradisi unik dan satu-satunya di Bali yaitu ari-ari yang digantung di pohon bukah

1. Membuat produk wisata yang unik sehingga wisatawan menyukai Desa Wisata Bayung Gede serta memasarkan secara maksimal (S1, S2, S3, S4, T2, T3)

2. Melakukan koordinasi dengan pemerintah dan masyarakat Desa Wisata Bayung Gede untuk menanggulangi permasalahan yang ada (S5, T1) Memiliki hutan bambu

yang luas Daya tarik alam berupa hamparan sawah yang ditanami pohon jeruk Masyarakat lokal yang memiliki kreatifitas seni Terdapat peninggalan historis berupa bangunan sebagai bukti adanya keterkaitan dengan desa kuno (Bali Aga)

(18)

8 kelemahan (putar balik), setelah itu barulah memanfaatkan peluang demi kemajuan dan tujuan bersama yang dinginkan. Matriks Strategi WO, dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6.Matriks Strategi WO (Weaknesses – Opportunities)

EFAS

IFAS

OPPORTUNITIES

Berada di jalur wisata Ubud Kintamani - Penelokan Lokasi Strategis dekat dengan Kintamai sebagai icon pariwisata Bali Timur Kebijakan Pemda Bangli yang mendukung (salah satu dari 11 desa wisata) yang akan dikembngkan melalui Program Bali Mandara

WEAKNESSES STRATEGI WO

Desa Wisata Bayung Gede belum sepenuhnya memunculkan something to see, something to do and something to buy yang bisa menarik wisatawan setiap harinya

1. Memanfaatkan fasilitas pariwisata yang ada untuk menciptakan produk wisata yang bersaing (W1, O1, O2)

2. Diberikannya penyuluhan dan pelatihan kepariwisataan bersama para stakeholder (W2, W3, W4, O3)

3. Masyarakat Desa Wisata Bayung Gede bersama-sama menyelesaikan permasalahan internal sehingga dapat mengambil peluang yang ada (W1, W2, W3, W4, O3)

Belum berjalannya program kerja Desa Wisata karena pengembangan desa wisata bukan merupakan prioritas di desa ini Kurangnya penyuluhan dan pelatihan

kepariwisataan

Belum memiliki kelompok Sadar Wisata

Sumber: Data Olahan Peneliti (2016)

Berdasarkan Matriks Strategi WO maka strategi yang dapat dilakukan diantaranya:

a. Memanfaatkan fasilitas pariwisata yang ada untuk menciptakan produk wisata yang bersaing (W1, O1, O2).

Fasilitas pariwisata yang tumbuh dan berkembang disepanjang jalur pariwisata Ubud – Kintamani merupakan peluang besar untuk bisa dimanfaatkan. Dengan keadaan ini Desa Wisata Bayung Gede sangat dimudahkan dalam pengembangannnya. Desa Wisata Bayung Gede harus bisa membuat produk wisata yang unik dan berkarakter dalam pemenuhan faktor-faktor yang berperan dalam strategi pengembangan, yakni:

1. Something to see, Desa Wisata Bayung Gede harus mampu membuat produk wisata yang bisa dilihat oleh wisatawan setiap harinya. Dalam hal ini Desa Wisata Bayung Gede sudah memiliki daya tarik alam serta pemandangan alam persawahan. Pada daya tarik ini sebaiknya dapat dibuat produk wisata yang menampilkan kegiatan keseharian masyarakat desa bekerja di sawah dalam memelihara tanaman khususnya tanaman jeruk Kintamani.

2. Something to do, apabila wisatawan berkunjung ke Desa Wisata Bayung Gede hal apa yang dapat mereka lakukan (setiap harinya). Kreativitas masyarakat yang dapat dilakukan antara lain belajar menulis lontar. Hal ini sesuai dengan status desa ini sebagai desa Bali Mula atau Desa Bali Aga.

3. Something to buy, menjadi suatu kebiasaan apabila wisatawan mengunjungi suatu destinasi akan membeli suatu barang sebagai souvernir (cinderamata). Apabila Desa Wisata Bayung Gede dapat menawarkan souvernir yang unik dan hanya terdapat di desa wisata ini, maka hal tersebut akan membantu wisatawan dalam mengingat dan memudahkannya untuk memperkenalkan Desa Wisata Bayung Gede kepada teman atau keluarga dari wisatawan yang berkunjung. Souvernir tersebut harus dapat menggambarkan Desa Wisata Bayung Gede sehingga menjadi authentic (the only one), seperti cinderamata berupa rumah tradisional Desa Bayung Gede yang terbuat dari bambu.

(19)

9 b. Diberikannya penyuluhan dan pelatihan kepariwisataan bersama para stakeholder (W2, W3, W4,

O3).

Dalam pengembangan desa wisata, kerjasama seluruh pemangku kepentingan mutlak diperlukan.

Pemerintah daerah (dari level desa hingga kabupaten) sebagai fasilitator, perlu berperan aktif antara lain dengan menginisiasi pembentukan kelompok sadar wisata (pokdarwis). Pokdarwis dapat menyusun program pengembangan Desa Wisata Bayung Gede yang dibutuhkan, kemudian diteruskan kepada pemerintah dengan sistematika birokrasinya. Penyuluhan, pelatihan dan hal lainnya tentu harus masuk dalam program pengembangan desa wisata.

c. Masyarakat Desa Wisata Bayung Gede bersama-sama menyelesaikan permasalahan internal sehingga dapat mengambil peluang yang ada (W1, W2, W3, W4, O3)

Untuk mengatasi kelemahan ini sangat dibutuhkan kesadaran dan partisipasi dari seluruh masyarakat untuk mengembangkan Desa Wisata Bayung Gede sebagai desa wisata. Penyelesaian masalah akan lebih mudah dengan melibatkan masyarakat desa setempat sebagai pemilik sekaligus komunitas yang akan menerima hasil dari pengembangan desa wisata.

Strategi WT (Weaknesses – Threats)

Strategi ini diperoleh dengan menggabungkan faktor kelemahan (weaknesses) dengan faktor ancaman (threats). Strategi ini diterapkan pada kegiatan yang bersifat defensif dan berusaha meminimalkan kelemahan yang ada serta menghindari ancaman yang ada. Dalam kuadran SWOT strategi ini termasuk dalam kuadran IV, yakni menghadapi kelemahan dari segi internal serta ancaman dari segi eksternal. Diantara keempat kuadran SWOT, posisi ini sangat tidak menguntungkan. Matriks Strategi WT dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 7.Matriks Strategi WT (Weaknesses - Threats)

EFAS

IFAS

THREATS

Perubahan bahan Atap Bangunan Penglipuran lebih dikenal dari pada Desa Wisata Bayung Gede Adanya budaya barat yang dapat memasuki budaya lokal

WEAKNESSES STRATEGI WT

Desa Wisata Bayung Gede belum sepenuhnya memunculkan something to see, something to do and something to buy yang bisa menarik wisatawan setiap harinya

1. Membuat rencana pengembangan produk wisata Desa Wisata Bayung Gede (W1, T1)

2. Masyarakat Desa Wisata Bayung Gede harus bersikap pro-aktif untuk mewujudkan Desa Bayung Gede sebagai Desa Wisata (W2, W4, T2)

3. Melakukan koordinasi dan kerjasama antar masyarakat Desa Wisata Bayung Gede dalam menanggulangi masalah terkait pengembangan desa wisata (W3, T3)

Belum berjalannya program kerja Desa Wisata karena pengembangan desa wisata bukan merupakan prioritas di desa ini Kurangnya penyuluhan dan pelatihan

kepariwisataan

Belum memiliki kelompok Sadar Wisata

Sumber: Data Olahan Peneliti (2016)

(20)

10 Berdasarkan Matriks Strategi ST maka strategi yang dapat dilakukan diantaranya:

a. Membuat rencana pengembangan produk wisata Desa Wisata Bayung Gede (W1, T1)

Untuk dapat menghindari ancaman dan mengatasi kelemahan tersebut maka Desa Wisata Bayung Gede memerlukan produk wisata yang berkualitas, khususnya yang bernilai unik dan menjadi ciri serta karakter desa wisata ini. Produk wisata yang ditawarkan harus memiliki diferensiasi (pembedaan), sehingga produk yang ditawarkan hanya bisa didapatkan oleh wisatawan di Desa Wisata Bayung Gede.

b. Masyarakat Desa Wisata Bayung Gede harus bersikap pro-aktif untuk mewujudkan Desa Bayung Gede sebagai Desa Wisata (W2, W4, T2)

Desa Wisata dapat diwujudkan, dikembangkan dan menjadi sustainable apabila masyarakatnya sendiri sadar, partisipatif dan pro-aktif dalam menjadikan Desa Bayung Gede menjadi Desa Wisata.

Untuk itu dibutuhkan visi dan misi serta tujuan yang sama dari seluruh masyarakat Desa Wisata Bayung Gede. Setelah masyarakat memiliki visi dan misi serta tujuan yang sama, barulah melibatkan stakeholder pariwisata untuk mempermudah mewujudkan Desa Bayung Gede sebagai Desa Wisata. Hal ini dapat diprakarsai oleh Kelompok Sadar Wisata.

c. Melakukan koordinasi dan kerjasama antar masyarakat Desa Wisata Bayung Gede dalam menanggulangi masalah terkait pengembangan desa wisata (W3, T3)

Dalam rangka pengembagan Desa Wisata Bayung Gede terkait dengan masalah budaya (antara budaya lokal dengan budaya barat yang dibawa wisatawan) perlu ada koordinasi diantara masyarakat di desa ini secara internal. Pelibatan tokoh-tokoh masyarakat lokal sangat diperlukan, terutama dalam menerapkan kearifan lokal yang ada di Desa Wisata Bayung Gede sebagai upaya menangkal budaya luar yang dibawa oleh pendatang atau wisatawan baik wisatawan domestik ataupun mancanegara. Sedangkan koordinasi secara eksternal dilakukan terutama dengan para tokoh dan pelaku pariwisata yang ada di desa wisata lain di Bali. hal ini dilakukan untuk menjalin komunikasi serta bertukar informasi dan pengalaman dalam mengatasi persoalan budaya yang timbul dalam pengembangan desa wisata.

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman pengembangan Desa Bayung Gede sebagai Desa Wisata.

 Kekuatan, memiliki adat istiadat unik yaitu penggantungan ari-ari bayi pada pohon; pola desa bali kuno; tari baris kuno; hutan bambu yang luas.

Kelemahan, tidak adanya sumber air bersih; pariwisata bukan sebagai prioritas pembangunan desa; tidak ada program pariwisata; belum ada kelompok sadar wisata; alih bentuk arsitektur bangunan rumah ke bangunan modern.

Peluang, lokasi desa yang berada di jalur jalan poros Kintamani – Bangli; dilalui jalur pariwisata Ubud – Kintamani – Penelokan; kebijakan Pemerintah Kabupaten Bangli yang mendukung pengembangan Desa Wisata Bayung Gede

Ancaman, berkembangnya teknologi bahan bangunan yang menggesar dominasi bamboo;

destinasi wisata Kintamani dan Penglipuran yang menyajikan jenis wisata yang sama;

pengaruh globalisasi.

Strategi Pengembangan Desa Bayung Gede sebagai Desa Wisata.

Untuk menuju ke tujuan tersebut ditempuh berbagai strategi yang merupakan kombinasi komponen SWOT sebagai berikut.

Strategi SO (Strengths – Opportunities), memperkenalkan dan mempromosikan Desa Wisata Bayung Gede kepada wisatawan melaui berbagai media (internet, brosur, televisi); usaha pelestarian pola permukiman dan arsitektur khas Bayung Gede.

Strategi ST (Strengths – Threats), membuat produk wisata yang unik sehingga wisatawan menyukai Desa Wisata Bayung Gede serta memasarkan secara maksimal; melakukan koordinasi dengan pemerintah dan masyarakat Desa Wisata Bayung Gede untuk menanggulangi permasalahan yang ada.

Strategi WO (Weaknesses- Opportunities), memanfaatkan fasilitas pariwisata yang ada untuk menciptakan produk wisata yang bersaing; penyuluhan dan pelatihan kepariwisataan bersama para stakeholder; masyarakat Desa Wisata Bayung Gede bersama-sama menyelesaikan permasalahan internal sehingga dapat mengambil peluang yang ada.

(21)

11

Strategi WO (Weaknesses- Threats), membuat rencana pengembangan produk wisata Desa Wisata Bayung Gede; bersikap pro-aktif untuk mewujudkan Desa Bayung Gede sebagai Desa Wisata; koordinasi dan kerjasama antar masyarakat Desa Wisata Bayung Gede dalam menanggulangi masalah terkait pengembangan desa wisata.

Saran

 Diperlukan adanya pendamping, baik perorangan maupun institusi untuk memberikan pendampingan kepada masyarakat dalam hal: arti makna dan manfaat konservasi arsitektural;

 Memberikan penyuluhan secara berkelanjutan arti dan manfaat pariwisata yang dapat merubah tingkat kesejahteraan penduduk

 Membangun contoh model bangunan yang modern namun tidak menghilangkan karakter dan ciri bangunan berlanggam arsitektur bali kuno, baik untuk fungsi perumahan maupun untuk bangunan fasilitas pariwisata.

 Pembentukan kelompok sadar wisata

 Pemerintah perlu mencari solusi pemecahan untuk memenuhi kebutuhan fasilitas air bersih yang menjadi masalah utama desa ini, apalagi untuk pengembangan sebagai desa wisata.

DAFTAR PUSTAKA

Cooper, Chris,et al. 2008. Tourism: Principles and Practice (3rd Edition), London: Prentice Hall Gede Wijaya A.A., 2008. Pengembangan Desa Wisata Tenganan Pegringsingan di Desa Tenganan

Kecamatan Manggis Kabupaten Karangasem. Tesis S2 Kajian Pariwisaa Unud Gelebet, I Nyoman, 1988.Arsitektur Tradisional Daerah Bali. Depddikbud.

Jamin Ariana, Nyoman, 2010. Strategi Pengembangan Hutan Bambu Sebagai Atraksi Ekowisata di Desa Penglipuran Kabupaten Bangli. Tesis S2 Kajian Pariwisata Unud

Kierchhoff, H. W., Architecture and Tourism, Annals of Tourism Research, Volume 24, Issue 1, 1997, Pages 249-251

Manik, Yuda. 2007. Pengaruh Demografi, Gaya Hidup, dan Aktivitas Terhadap Transformasi Tipo- Morfologi Hunian Tradisional di Desa Bayung Gede, Bali. Tesis Arsitektur ITB.

Nurchalis, 2011. Pelestarian Keraton Alwatzikhoebillah sebagai Daya Tarik Wisata Sejarah di Sambas Kalimantan Barat. Tesis S2 Kajian Pariwisata Unud.

Pardiman P., Ardi, 1986. Fundamental Study on Spatial Formation of Island Village, (Disertasi), Kyoto Univerity.

Ritchie, B.J. & Crouch, G.I. 2005. The Competitive Destination: A Sustainable Tourism Perspective.

Wallingford: CABI Publishing

Runa, I Wayan, 1993. Variasi Perubahan Rumah Tinggal Tradisional Desa Adat Tenganan Pegeringsingan. Tesis UGM. Yogyakarta.

Sentosa, Lucas Shindunata. 1994. Continuity and Change in Balinese Dwelling Environments: A Socio- Religius Perspective, Thesis, Georgia Institute of Technology.

Ayu Siwalatri, Ni Ketut. Makna Sinkronik Arsitektur Bali Aga di Kabupaten Buleleng Bali Zekiye Abali, Ayse, Erinsel Onder, Deniz. The Local Architectural Image in Tourism. Annals of

Tourism Research,Vol. 17, pp. 280 -311, 1990

Gambar

Tabel 4. Matriks Strategi SO (Strengths – Opportunities)
Tabel 6.Matriks Strategi WO (Weaknesses – Opportunities)
Tabel 7.Matriks Strategi WT (Weaknesses - Threats)

Referensi

Dokumen terkait

Jika responden mengalami 2 atau lebih kejadian tersebut tanyakan kejadian yang paling awal/pertama kali pada kolom [1] dan selesaikan dahulu sampai BR18 dan

Berdasarkan data curah hujan bulan Desember 2019 dari stasiun-stasiun BMKG dan pos-pos hujan kerjasama terpilih pada 15 Zona Musim (ZOM) di Bali dapat disajikan

Penelitian dilakukan dengan menggunakan variasi pelarut untuk menentukan pengaruh pelarut terhadap ekstraksi antosianin pada buah senggani, dan menentukan stabilitas

Ketentuan ini mengatur tentang pembayaran pajak dalam tahun berjalan melalui pemotongan pajak atas penghasilan yang diterima atau diperoleh oleh wajib pajak orang pribadi

Hal ini terjadi karena semakin kaya udara menyebabkan bahan bakar memiliki udara yang berlebih sehingga bahan bakar (fuel) yang terbakar secara difusi semakin

Sehingga semakin tinggi temperatur preheating yang diberikan maka penetrasi yang terjadi pada saat berlangsungnya proses pengelasan semakin dalam sehingga base metal

Post test terhadap variabel terikat yaitu konsentrasi atlet dilakukan pada kedua kelompok setelah perlakuan diberikan pada kelompok eksperimen.. Berikut tabel skema desain

Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui penerapan perda Nomor 18 Tahun 2016 tentang pengurangan penggunaan kantong plastik serta dampaknya terhadap omset