45
Pemanfaatan Refrigerasi Tenaga Surya untuk Menjaga Mutu Hasil Tangkapan Nelayan
Utilisation of Powered Solar Refrigeration Unit to Maintain the Quality of Fish Captured on Small Scale Fishermen
Rahmad Surya Hadi Saputra*, Apih Suparlin, Dian Sutono, Terry Yuliardi 1)
1Politeknik Kelautan dan Perikanan Karawang
*email : [email protected]
Diterima : Mei Disetujui : Agustus
ABSTRAK
Menjaga mutu hasil tangkapan adalah bagian yang terpenting dari kegiatan penangkapan ikan pasca tangkap dengan tujuan untuk mempertahankan mutu hasil tangkapan sehingga memiliki harga jual yang tinggi. Penanganan ikan yang baik pasca tangkap diatas kapal merupakan salah satu cara untuk menjaga mutu hasil tangkapan. Penanganan yang dilakukan bisa dalam bentuk mempertahankan suhu hasil tangkapan. Berangkat dari hasil penelitian terapan tahun 2017 yang dilakukan terkait identifikasi kapal dan alat tangkap ikan di pesisir kabupaten karawang, disimpulkan bahwa nelayan-nelayan pesisir Kabupaten Karawang pada umumnya masih sangat rendah dalam penanganan ikan hasil tangkap sehingga hasil tangkapan yang diperoleh mutunya kurang baik ini secara langsung berdampak terhadap harga jual hasil tangkapan. Didasari oleh hal tersebut maka dibutuhkan mesin pendingin yang mudah tidak membebani dalam operasionalnya. Oleh karena itu tujuan dari penelitian ini adalah membuat mesin refrigerasi yang bertenaga surya (solar energy), mengetahui performa mini refrigeration unit yang telah dibuat (COP) dan mutu ikan yang tersimpan dalam mesin tersebut dengan uji organoleptik. Hasil penelitian menunjukan bahwa secara umum mini refrigeration unit yang dibuat bekerja dengan baik dengan performa (COP) sebesar 3.51 artinya mini refrigeration unit yang dibuat memiliki efisiensi yang baik yatu di atas 1. Untuk mutu hasil tangkap yang tersimpan dalam mini refrigeration memiliki nilai organoleptik diatas standar pangan yaitu rata-rata 8.
KATA KUNCI: Mutu Hasil Tangkapan, mini refrigeration unit, perform
ABSTRACT
Keeping all catches is an important part of fishing activities after catching with the aim of maintaining catches that have high selling prices. Good handling of fish after the ship is taken is one way to get good results. Handling can be in the form of maintaining the temperature of the catch. Regarding to the results of the 2017 applied research carried out related to ships and fishing gear in the coastal Karawang district, it is denied that fisheries in this area are generally very low in terms of the production of fish caught which is poor quality provided direct impact on the sale price of the catch. Based on this, an easy cooling engine is needed that does not burden the operations. Therefore the purpose of this study is to make a solar powered refrigeration unit (solar energy), knowing the performance of a mini refrigeration unit that has been made (COP) and finds out the quality of fish stored in accordance with organoleptic observation. The results showed that the mini refrigeration units made worked well with performance (COP) of 3.51 mean mini refrigeration units that have a good efficiency above 1. Moreover, the fish quality was stored in the mini-refrigerators had organoleptic values according to the standard food is an average of 8.
KEYWORDS: quality of fish captured, mini refrigeration unit, performance
46 PENDAHULUAN
Berdasarkan data Badan Riset dan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (BRSDM-KKP) tingkat kerugian (loss) tangkapan ikan mencapai 530 ribu ton atau sama dengan Rp10 triliun pada tahun lalu yang dikarenakan rusaknya produk perikanan yang menyebabkan pada turunnya nilai jual ikan tersebut. “Berdasarkan hasil riset BRSDM KKP, 8 persen dari total nasional ikan yang dibuang karena mutunya kurang, karena alat tangkap yang digunakan tidak ramah lingkungan sehingga ikannya rusak.
Kalau ikan itu rusak maka dia akan turun harganya. Nah di sini, dengan adanya revitalisasi ini diharapkan dapat menghargai tangkapan ikan,” kata Direktur Jenderal Perikanan Tangkap (DJPT) Kementerian Kelautan dan Perikanan Sjarief Widjaja dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Jumat (28/4) (Maritimenews, 2017).
Pemerintah sudah melakukan beberapa upaya melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan yaitu Kementerian Kelautan Perikanan (KKP) pada tahun 2018 ini akan membangun sebanyak 60 Tempat Pelelangan Ikan (TPI) higenis di seluruh Indonesia, untuk meningkatkan mutu hasil tangkapan nelayan.“Pada tahun 2017 kami telah membangun 32 TPI higenis dan tahun 2018 ini akan dibangun 60 TPI higenis,” kata Dirjen Perikanan Tangkap Kementrian Kelautan Perikanan (KKP), Sjarief Widjaja di Cirebon, Kamis (15/2/2018) (Guntoro, 2018).
Menurutnya selain tahun 2018, KKP juga akan membuat TPI higenis pada tahun 2019 dengan jumlah yang sama yaitu 60 TPI. Pada tahun 2018 KKP berupaya untuk membenahi pelabuhan perikanan dengan menyediakan TPI higenis dan pelabuhan juga harus bersih serta kapal juga bersih. “Semua pelabuhan akan kita benahi pelan-pelan dan kami mohon bantuannya para nelayan untuk mengelola ikan secara hati-hati,”. “Kita kurangi penjualan ikan curah, tapi harus bagus, kalau seperti itu kuwalitas baik dan harga tinggi,”
(Guntoro, 2018)
Merujuk pada media diatas terlihat penanganan hasil tangkap diatas kapal sangat penting dalam hal peningkatan mutu ikan.
Penyimpanan ikan pasca tangkap merupakan bagian yang terpenting dalam proses penangkapan sehingga mutu ikan yang tertangkap dapat terjaga. Proses penyimpanan hasil tangkap ikan para nelayan di Indonesia banyak dilakukan dengan proses pengesan dan pendinginan dengan unit refrigerasi. Namum proses penyimpanan dengan es masih dominan digunakan terutama pada nelayan-nelayan kecil dengan waktu operasi penangkapan pendek (one day fishing).
Penelitian ini juga sejalan dengan hasil identifikasi kapal dan alat tangkap ikan Pesisir Kabupaten Karawang, dimana hasil pengamatan dilapangan menunjukan bahwa penanganan ikan oleh para nelayan pesisir kabupaten karawang relative masih menggunakan es terutama nelayan pancing.
Penggunaan es kurang baik jika operasional penangkapan dilakukan dalam kurun waktu yang lama karena es yang dibawa oleh para nelayan jumlahnya masih terbatas.
METODOLOGI
Penelitian ini dilakukan selama 4 bulan yang dimulai dengan tahapan sebagai berikut :
Gambar 1. Alur penelitian Alat Ukur yang digunakan : 1. Solar controller 2. Thermometer suhu
3. Pressure gauge tekanan refrigerant Uji performance alat yang dibuat dilakukan setelah alat dirancang yang kemudian diwujudkan dalam sebuah prototype alat yang melalui tahapan uji coba yaitu :
Persiapan
Pengumpulan bahan Penelitian
Peralatan yang
digunakan Prototyping cooler box Perakitan panel
surya uji coba panel
surya uji coba cooler box
Kesimpulan
47 1. Uji fungsi bagian-bagian panel surya dan
daya listrik yang dihasilkan panel surya.
2. Uji performa (CoP) box pendingin dengan listrik dari panel surya dengan bantuan perangkat lunak coolpack.
Gambar 1. Dimensi Box Pendingin Posisi alat ukur untuk mengetahui temperatur refrigerant masuk evap dan temperature keluar kondensor untuk data dukung dalam menentukan entalpi menggunakan bantuan perangkat lunak coolpack.
Gambar 2 skema refrigerasi posisi alat ukur suhu refrigerant.
Perhitungan massa refrigerasi 𝑚 = 𝑝 𝐾𝑜𝑚𝑝𝑟𝑒𝑠𝑠𝑜𝑟
(ℎ2 − ℎ1)
Perhitungan Kapasitas pendinginan di evaporator
𝑄𝑒 = 𝑚 × (ℎ1− ℎ4)
Perhitungan kapasitas pendingin 𝐶𝑜𝑃𝑎𝑘𝑡𝑢𝑎𝑙 = 𝑄𝑒
𝑃𝑘𝑜𝑚𝑝
Pengamatan organoleptik adalah cara menentukan kesegaran ikan dengan mengandalkan panca indera. Teknik ini banyak digunakan masyarakat karena cukup mengandalkan panca indera sehingga relative mudah, murah, namun hasilnya baik.
Kelebihan lain dari pengamatan secara organoleptic adalah hasilnya dapat langsung diketahui (Liviawaty, 2010). Penilaian dilakukan dengan mengamati mata, insang, lender permukaan badan, daging, baud an tekstur
Jumlah Panelis yang digunakan adalah 30 orang dengan 6 sampel. Data dari hasil lembar penilaian dihitung dengan mencari interval nilai mutu rerata menggunakan rumus : 𝑃( 𝑋̅ − 1,96. 𝑆
√𝑛< 𝑚 < 𝑥 + 1,96. 𝑆/√𝑛 ) 𝑋 = ∑𝑛𝐼=1𝑋𝑖
𝑛
̅̅̅̅̅̅̅̅̅̅̅̅̅̅̅̅
𝑆2 = ∑𝑛𝑖=1 (𝑋1− 𝑋̅)2 𝑛
𝑆 = √∑𝑛𝑖=1 (𝑋1− 𝑥̅ )2 𝑛
Keterangan
n : banyak panelis S2 : keragaman nilai mutu
1,96 : koefisien standar deviasi pada taraf 95%
𝑋̅ : nilai mutu rata-rata
Xi : nilai mutu dari panelis ke i, dimana i = 1,2,3,..n
S : simpangan baku HASIL DAN BAHASAN
Data yang diperoleh dari hasil pengamatan Temperatur refrigerant masuk evap = - 20 °C Temperatur keluar kondensor = 35 °C
Refrigerant = R 134 a
Daya Kompressor = 0.187 kW (Pengukuran).
Data diatas kemudian akan digunakan untuk penghitungan dengan bantuan perangkat lunak untuk mencari tekanan discharge dan suction serta titik entalpi h1, h2, h3, dan h3.
48 Gambar 3 Diagram entalpi (coolpack)
Hasil dari perhitungan menggunakan perangkat lunak coolpack diperoleh diagram PV dan entalpi sebagai berikut
Entalpi h1 = 385 kJ/kg Entalpi h2 = 424 kJ/kg Entalpi h3 = 248 kJ/kg Entalpi h4 = 248 kJ/kg
Menghitung Massa refrigerasi 𝑚 = 𝑝 𝐾𝑜𝑚𝑝𝑟𝑒𝑠𝑠𝑜𝑟
(ℎ2 − ℎ1) 𝑚 = 0.187
(424 −385)= 0.187
39 = 0.004795 𝑘𝑔/𝑠 Menghitung Kapasitas pendinginan di evaporator
𝑄𝑒 = 𝑚 × (ℎ1− ℎ4) 𝑄𝑒 = 0,004795 × 137 𝑄𝑒 = 0.656 kW
Menghitung Kapasitas pendinginan di evaporator
𝐶𝑜𝑃𝑎𝑘𝑡𝑢𝑎𝑙 = 𝑄𝑒 𝑃𝑘𝑜𝑚𝑝 𝐶𝑜𝑃𝑎𝑘𝑡𝑢𝑎𝑙 = 0.656
0.187 = 3.51
Performa = 3.51 artinya mini refrigeration unit yang dibuat memiliki efisiensi yang baik yatu di atas 1.
Pengamatan organoleptik
Pengujian menggunakan 30 panelis, dimana jumlah tersebut merupakan jumlah minimal untuk melakukan pengujian organoleptik dilakukan dengan menggunakan penilaian angka pada score sheet. Panelis
yang melakukan uji organoleptik sudah bersertifikat, uji yang dilakukan pada ikan dengan pendinginan es dan freezer.
Nilai pengamatan organoleptik yang didapat Tabel 1. Nilai organoleptic
Pengamatan Simpangan Baku
Nilai Organoleptik
SNI 2729:2013 Pertama (I) 7.85 ≤ μ ≤
8.14
8
7 Kedua (II) 7.81 ≤ μ ≤
7.99
7.5 Ketiga (III) 7.89 ≤ μ ≤
8.10
8 Keempat (IV) 7.84 ≤ μ ≤
7.96
7.5 Kelima (V) 7.85 ≤ μ ≤
8.00
8 Keenam (VI) 7.89 ≤ μ ≤
8.10
8
SIMPULAN
Hasil dari penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Dihasilkan sebuah prototype sederhana pemanfaatan green energy untuk proses penanganan hasil tangkapan ikan diatas kapal agar mutu hasil tangkapan terjamin.
2. Refrigeration unit memiliki kapasitas pendinginan sebesar 0.656 kW dengan performa (CoP) sebesar 3.51 artinya mini refrigeration unit yang dibuat memiliki efisiensi yang baik yatu di atas 1.
3. Hasil Pengamatan organoleptik sesuai standar SNI 2729:2013
DAFTAR PUSTAKA
Arismunandar. (2005). Penyegaran Udara.
Jakarta: PT.Pradnya Paramita.
Guntoro, H. (2018, 02 15). Berita. Retrieved from www.infonawacita.com:
https://infonawacita.com/tingkatkan- mutu-hasil-tangkapan-nelayan-kkp- lakukan-ini/
Hadiwiyoto. (1993). Teknologi Pengolahan Hasil Perikanan. Jakarta: CV.
Paripurna .
Handoko. (2003). Teknik Lemari Es. Jakarta:
PT. Ichtiar Baru.
Hartanto. (2004). Teknik Mesin Pendingin.
Jakarta: PT. Ichtiar Baru.
Ilyas. (1983). Teknologi Refrigerasi Hasil Perikanan Jilid I. Jakarta: Badan
49 Penelitian dan Pengembangan Pertanian.
JW, S. d. (1992). Refrigerasi dan Pengkondisian Udara. Jakarta: PT.
Erlangga.
Libgar. (2017, juli 12). 10 negara dengan wilayah perairan terluas di dunia.
Retrieved from www.libgar.com:
http://www.libgar.com/2017/07/10- negara-dengan-wilayah-perairan- terluas-di-dunia.html
Liviawaty, d. A. (2010). Proses penurunan dan cara mempertahankan kesegaran ikan. . Bandung: Widya Padjajaran.
Maritimenews. (2017, April 19). Berita , Marine. Retrieved from
www.marititemnews.id :
https://maritimenews.id/04/$xvLbkb mx/
Stansby. (1963). Industrial Fishery Technology. London: Chapman and Hall Ltd.
Wibowo, Y. d. (1998). Penanganan Ikan Segar. Jakarta: Instalasi Penelitian Perikanan Laut Slipi.
Yandri, V. R., & Andalas, P. U. (2012).
Proses Pengembangan Energi Surya untuk Kebutuhan Listrik di Indonesia.
Jurnal Ilmu Fisika, 4 (1), 14–19.