• Tidak ada hasil yang ditemukan

EVALUASI PROGRAM KELUARGA BERENCANA PRIA DI PROVINSI SUMATERA SELATAN (STUDI KASUS PADA KEGIATAN MEDIS OPERASI PRIA) TAHUN 2013.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "EVALUASI PROGRAM KELUARGA BERENCANA PRIA DI PROVINSI SUMATERA SELATAN (STUDI KASUS PADA KEGIATAN MEDIS OPERASI PRIA) TAHUN 2013."

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

1

EVALUASI PROGRAM KELUARGA BERENCANA PRIA DI PROVINSI SUMATERA SELATAN

(STUDI KASUS PADA KEGIATAN MEDIS OPERASI PRIA) TAHUN 2013

Skripsi

Untuk Memenuhi Persyaratan Dalam mencapai Derajat Sarjana S-1 Ilmu Administrasi Negara

Oleh:

Rahmawati 07101401061

JURUSAN ILMU ADMINISTRASI NEGARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SRIWIJAYA

TAHUN 2015

(2)
(3)
(4)

MOTTO :

Bersabar, Berusaha, Bersyukur (3B)

#Bersabar dalam berusaha

#Berusaha dengan tekun dan pantang menyerah

#dan Bersyukur atas apa yang telah di peroleh. “

“RAHMAWATI”

Kupersembahkan Skripsi ini Untuk:

 Allah SWT

 Kedua orang tuaku

 Seluruh dosen pengajarku

 Sahabat-sahabatku

 Almamaterku

(5)

ABSTRAK

Penelitian ini membahas mengenai Evaluasi Program Keluarga Berencana Pria di Provinsi Sumatera Selatan ( studi kasus pada kegiatan Medis Operasi Pria) Tahun 2013.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana Evaluasi pada kegiatan Medis Operasi Pria. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data yaitu wawancara, observasi, dan kajian perpustakaan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa belum meratanya sosialisasi yang di lakukan untuk kegiatan Medis Operasi Pria di Provinsi Sumatera Selatan sehingga membuat belum tercapainya target yang di inginkan. Temuan- temuan dari penelitian ini diharapkan mampu menjadi umpan balik bagi Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Provinsi Sumatera Selatan dalam peningkatan kegiatan Medis Operasi Pria.

Kata Kunci: Evaluasi, Program Keluarga Berencana, Kegiatan Medis Operasi Pria

(6)

ABSTRACT

This researching disscusses about the evaluation of men’s family planning programs in the Province of Sounth Sumatera (study case on the activities of men’s medical operation) in 2013. The purpose of this study to determine how evaluating the activities of the men’s medical operation. This rescares uses the qualitative methods from the data collection techniques such as interviews, observation, study from library. The results of this study indicate that not evenly socialization for activities of men,s medical operating in Sounth Sumatera so not making achieve the desired og target. The findings from this study are expected for the feedback to the National Population and Family Planning in the South Sumatera to increase the activities of men’s medical operation.

Key word: Evaluation, Family planning, The activities of men,s medical operation.

(7)

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Segala puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT karena berkat rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini dengan judul “Evaluasi Program Keluarga Berencana Pria di Provinsi Sumatera Selatan (Studi Kasus pada Kegiatan Medis Operasi Pria) Tahun 2013. ” tepat pada waktunya. Penulis menyadari masih terdapat kekurangan dalam penulisan skripsi ini. Namun berkat dorongan dan dukungan dari berbagai pihak yang turut membantu dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini telah begitu banyak memberikan motivasi, saran dan masukan sehingga skripsi ini dapat penulis selesaikan sebagaimana mestinya.

Dalam perjalanannya penulis banyak mendapat bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu tidak lupa penulis ucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan skripsi ini, yaitu kepada:

1. Kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunianya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

2. Kedua orang tua saya tercinta yang selalu memberikan doa, dukungan baik moril maupun materil serta pengorbanan yang tiada henti-hentinya yang tidak bisa terbalas.

3. Bapak Prof. Dr. Kgs. M. Sobri, M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sriwijaya.

4. Bapak Dr. Raniasa Putra, M.Si selaku Ketua Jurusan Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sriwijaya.

5. Ibu Dra. Martina, M.Si selaku Sekretaris Jurusan Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sriwijaya.

(8)

6. Bapak Drs. Achmad Fikri Rachman selaku Ketua Program Jurusan Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sriwijaya.

7. Ibu Dr. Hj. Lili Erina M.Si selaku Dosen Pembimbing I yang dengan sabar memberikan solusi terbaik, memberikan kritik, masukan dan saran yang membangun bagi penulis, serta waktu yang telah diluangkan setiap penulis butuhkan.

8. Bapak Drs. Gatot Budiarto, MS selaku Dosen Pembimbing II yang memberikan masukan dan saran yang membangun bagi penulis, serta waktu yang telah diluangkan setiap penulis butuhkan.

9. Kepada orang-orang yang kusayangi Rahmat Riadin, Siti Rieva Humaira, Suci Wulandari, Eis Oktaviani, Megi Arif Budiman, Rahma Yanti, Nurul Sasmitha, Eriska Tria Putri, Rusfia Eka anggraini, Rino Agustian dan kepada teman-teman satu angkatan yang tidak bisa disebutkan satu persatu, terimakasih atas kebersamaan serta kerjasamanya.

10. Seluruh dosen, staf dan karyawan Tata Usaha (TU) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Kampus Palembang.

11. Seluruh Pegawai dan staf Perwakilan BKKBN Provinsi Sumatera Selatan yang yang sabar menerima kehadiran penulis dan memberikan pengetahuan yang berhubungan dengan penulisan skripsi.

Penulis menyadari bahwa dalam menyelesaikan skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan sebagaimana yang diharapkan. Dengan segenap kerendahan hati penulis mohon maaf apabila terdapat kekurangan. Penulis mengharapkan saran dan koreksi dari semua pihak demi penyempurnaan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat bermanfaaat bagi penulis pada khusunya dan bagi pembaca pada umumnya.

Wassalammu’alaikum Wr.Wb

Palembang, Februari 2015 RAHMAWATI

(9)

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang………...1

B. Rumusan Masalah………...10

C. Tujuan Penelitian………...……….10

D. Manfaat Penelitian………..………...10

BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Landasan Teori………..……….11

B. Ilmu Administrasi Negara dan Kebijakan Publik………...11

C. Kebijakan Publik………..………..11

D. Evaluasi Kebijakan………..………….…..12

E. Fungsi dan Evaluasi Kebijakan………...13

F. Pendekatan Evaluasi Kebijakan………..15

G. Tahapan dan Kendala Evaluasi Kebijakan……….16

H. Kriteria Evaluasi Kebijakan………18

I. Evaluasi Program……….20

J. Pengertian Program...21

K. Tujuan Evaluasi Program………...22

L. Program Keluarga Berencana……….22

M. MOP (Medis Operasi Pria)………..………..23

N. Teori yang di gunakan dan Alasan menggunakan teori………..23

O. Penelitian Terdahulu………...25

P. Kerangka Berfikir……….…...27 BAB III METODE PENELITIAN

(10)

A. Jenis Penelitian………...….….…..30

B. Aspek Penelitian………...………..30

C. Definisi Konsep………..31

D. Fokus Penelitian………...………..32

E. Jenis Data dan Sumber Data …………...………...32

F. Unit Analisi Data ………...………33

G. Key Informant…...………..………33

H. Teknik Pengumpulan Data………..………...34

I. Teknik Analisis Data………35

J. Sistematika Penulisan………..……36

BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN A. Sejarah Singkat Tentang BKKBN Provinsi Sumatera Selatan………...38

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN A. Analisis Program Keluarga Berencana Pria pada Kegiatan Medis Operasi Pria (MOP) Pada Tahun 2013………46

B. Pembahasan………...67

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan………..73

B. Saran………74

DAFTAR PUSTAKA……….75

PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN………76 LAMPIRAN………77-78

(11)

DAFTAR TABEL

Tabel

Halaman

1. Peserta KB Baru Tahun 2013 di Kabupaten/Kota

Provinsi Sumatera Selatan………..4 2. Jumlah Peserta Kegiatan MOP Tahun 2011, 2012, 2013

di Provinsi Sumatera Selatan………..6 3. Kriteria Evaluasi Kebijakan……….………20 4. Perbandingan Penelitian Terdahulu………..26 5. Jumlah Peserta Kegiatan MOP Tahun 2011, 2012, 2013 di Provinsi Sumatera Selatan..48 6. Nama Ternaga Pelaksana dan Jumlah Peserta Tenaga Pelaksana Medis Operasi Pria….51 7. Peralatan dan Bahan Untuk Melaksanakan Kegiatan Medis Operasi Pria………53 8. Jumlah Peserta Kegiatan Medis Operasi Pria Tahun 2011, 2012, 2013…………..……..59 9. Peserta Kegiatan Medis Operasi Pria Tahun 2011, 2012, 2013 di Kabupaten/Kota….….61 10. Jumlah Peserta Peserta Kegiatan Medis Operasi Pria Tahun 2011, 2012, 2013 di Provinsi Sumatera Selatan……….………...63 11. Matriks Hasil Temuan Program Keluarga Berencana Pria Pada Kegiatan Medis Operasi Pria (MOP)………...………68

(12)

DAFTAR GAMBAR

Gambar

Halaman

1. Kebijakan sebagai program………..12 2. Kerangka Fikir Pelaksanaan kegiatan Medis Operasi Pria (MOP)...…..28

(13)

DAFTAR SINGKATAN

1. MOP : Medis Operasi Pria

2. KB : Keluarga Berencana

3. TOGA : Tokoh Agama

4. TOMA : Tokoh Masyarakat

(14)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk ke empat terbesar di dunia setelah Cina, India, dan Amerika Serikat. Jumlah penduduk Indonesia saat ini mencapai 237,6 juta orang dengan pertumbuhan penduduk 1,49 persen per tahun. Tingginya tingkat pertumbuhan penduduk di Indonesia akan menyebabkan meledaknya jumlah penduduk.

Tingginya tingkat pertumbuhan penduduk akan menimbulkan permasalahan seperti pengangguran yang berakibat meningkatnya kejahatan, untuk mengatasi tingginya tingkat pertumbuhan penduduk yang bisa menimbulkan berbagai permasalahan pemerintah membuat program untuk mengendalikan pertumbuhan penduduk yang tinggi yaitu program keluarga berencana yang terdapat dalam Undang - Undang Nomor 52 Tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga untuk melaksanakan Program Keluarga Berencana.

BerdasarkanUndang - Undang Nomor Tahun 2009 Pasal 20 Keluarga Berencana bertujuan untuk mewujudkan penduduk tumbuh seimbang dan keluarga berkualitas, pemerintah menetapkan kebijakan keluarga berencana melalui penyelenggaraan program keluarga berencana.

Manfaat dari program keluarga berencana untuk mengontrol kesuburan sehingga dapat memutuskan kapan mereka ingin hamil dan memiliki anak, memberikan manfaat kesehatan non-reproduksi, dapat menurunkan risiko kanker ovarium dan endometrium,mencegah efek kesehatan jiwa dari kehamilan yang tidak diinginkan dan mengurangi aborsi.

(15)

Untuk mewujudkan penduduk tumbuh seimbang dan keluarga berkualitas keluarga berencana memiliki program yaitu IUD, MOW, Implant, Suntik, Pil, Kondom dan MOP.

Dalam mewujudkan penduduk tumbuh seimbang dan keluarga berkualitas di perlukan peran serta pria yang bukan hanya mendukung isteri dalam ber-KB tetapi juga ikut ber-KB.

Peranserta pria dalam program keluarga berencana harus terus di tingkatkan dalam rangka kesetaraan gender sesuai dengan Undang - Undang Nomor 52 Tahun 2009 Pasal 25 Ayat (1) suami dan atau isteri mempunyai kedudukan dan kewajiban yang sama dalam melaksanakan keluarga berancana.

Program keluarga berencana pria harus di sosialisasikan secara merata di setiap daerah agar masyarakat mengetahui tentang keluarga berencana pria. Sosialisasi mempengaruhi seberapa besar peran serta masyarakat di suatu daerah, jika sosialisasi kurang maksimal dan tidak merata di setiap daerah maka laju pertumbuhan penduduk akan tetap tinggi, seperti di Provinsi Sumatera Selatan laju pertumbuhan penduduknya mencapai 1,85 persen per tahun melebihi laju pertumbuhan penduduk di Indonesia yaitu 1,49 persen per tahun. Sedangkan sasaran RPJMN 2010-2014 yaitu rata-rata laju pertumbuhan penduduk sekitar 1,1 persen per tahun.

Menurut Badan Pusat Statistik Sumatera Selatan merupakan provinsi dengan jumlah penduduk terbanyak nomor 9 di Indonesia yaitu 7.593.425 orang (laki-laki 3.861.632 dan perempuan 3.731.793). Pentingnya meningkatkan sosialisasi program keluarga berencana di Provinsi Sumatera Selatan untuk menekan laju pertumbuhan penduduk sehingga pertumbuhan penduduk di Provinsi Sumatera Selatan dapat terkendali.

(16)

Program keluarga berencana pria harus di tingkatkan dan di sosialisasikan di Provinsi Sumatera Selatan untuk mengendalikan jumlah penduduk, khususnya kegiatan MOP karena sangat efektif dalam pencapaian.

Tingginya pertumbuhan penduduk di Provinsi Sumatera Selatan karena kurang maksimalnya pencapaian program keluarga berencana pria. Faktor penyebab kurang maksimalnya pencapaian program keluarga berencana pria adalah sedikitnya peserta baru dalam kegiatanMOP di Provinsi Sumatera Selatan, yang di sebabkan oleh:

1. Informasi yang terbatas menyebabkan rendahnya pengetahuan tentang MOP.

2. Terbatasnya tenaga dokter dan tempat pelayanan yang dapat melayani kegiatan MOP.

3. Masih rendahnya kualitas pelayanan MOP karena tidak sesuai SOP.

4. Kurangnya dukungan dari para Tokoh Masyarakat/Agama yang menjadi contoh masyarakat setempat.

5. Adanya persepsi bahwa KB hanya untuk wanita.

Walaupun pemerintah telah melaksanakan pembangunan yang berorientasi pada kesetaraan dan keadilan, namun pelayanan keluarga berencana saat ini masih terkesan bias gender atau lebih banyak terfokus kepada perempuan karena kontrasepsi untuk pria hanya kondom dan MOP. Padahal target pencapaian peserta baru keluarga berencana pria dalamRPJMN tahun 2010-2014 cukup tinggi yaitu 5 persen. Kondisi tersebut mengakibatkan proses dan kualitas penyampaian KIE masih belum seimbang, termasuk dalam hal sarana pelayanan dan penyediaan alat kontrasepsi pria. Namun seperti di ketahui saat ini peran

(17)

serta pria dalam ber-KB masih jauh dari target pencapaian peserta baru keluarga berencana pria, hal ini dapat di lihat dari jumlah peserta KB Baru pada tabel 1 berikut.

Tabel 1Peserta KB Baru Tahun 2013 di Kabupaten/KotaProvinsi Sumatera Selatan

No. Kabupaten/Kota

Jenis Kontrasepsi

MOP KDM IUD MOW IMPL STK PIL

1. Musi Banyuasin 18 3.113 145 215 4.031 18.083 11.142

2. OKI 20 6.172 787 36 3.859 21.402 20.069

3. OKU 6 2.911 539 159 1.629 8.920 5.744

4. Muara Enim 40 2.328 665 156 4.446 16.6994 14.186

5. Lahat 25 2.159 503 81 4.412 10.240 7.738

6. Muara Dua 14 1.294 408 23 4.436 9.017 4.921

7. Palembang 208 5.976 3.646 1.134 3.988 32.730 18.655

8. Banyuasin 100 4.328 337 163 5.286 19.952 14.510

9. Prabumulih 10 1.098 1.043 60 993 4.761 2.790

10. Pagar Alam 0 301 110 25 610 3.458 1.737

11. Lubuk Linggau 4 822 187 102 1.100 4.327 2.605

12. Ogan Ilir 45 1.683 407 30 1.757 8.012 4.039

13. OKU Selatan 2 3.362 1.807 51 2.850 5.397 5000

14. OKU Timur 18 2.588 728 95 4.217 14.466 11.647

15. Empat Lawang 54 1.486 184 26 1.681 6.376 3.044

Sumatra Selatan 564 39.621 11.496 2.356 45.295 183.834 127.467 Sumber:Bidang Keluarga Berencana Badan Perwakilan Kependudukan dan Kelurga BerencanaNasional

Provinsi Sumatera Selatan.

Data di atas merupakan jumlah peserta KB baru tahun 2013 di Provinsi Sumatera Selatan. Data tersebut menunjukkan peserta KB baru pria hanya 0,098 persen. Padahal

(18)

target pencapaian peserta baru keluarga berencana pria dalam RPJMN tahun 2010-2014 yaitu 5 persen. Dari data tersebut pencapaian paling tinggi yaitu Palembang dan paling rendah yaitu Pagar Alam. Peserta KB-baru kegiatan MOP di Palembang sebanyak208 orang sedangkan Pagar Alam tidak ada peserta KB-baru kegiatan MOP selama tahun 2013. PUS di Palembang sebanyak 272.628 orang dan sering di lakukannya sosialisasi oleh BKKBN Provinsi Sumatera Selatan di Palembang menyebabkan lebih banyaknya peserta KB-baru MOP Palembang dibandingkan daerah lain. Tidak adanya peserta KB-baru kegiatan MOP tahun 2013 di Pagar Alam karena kurangnya pengetahuan masyarakat terhadap manfaat dari kegiatan MOP karena sosialisasi yang di lakukan kurang dan dukungan dari kepala daerah untuk mensosialisasikan kegiatan MOP masih rendah. Pentingnya dukungan dari setiap kepala daerah untuk mensosialisasikan kegiatan MOP agar pencapaian kegiatan MOP di Provinsi Sumatera Selatan memenuhi target.

Perlu ditingkatkannya kegiatan MOP di Provinsi Sumatera Selatan karena pencapaiannya rendah di banding kontrasepsi yang lain padahal kegiatan MOP sangat aman, tidak di temukan efek samping jangka panjang dan efektivitas dari MOP 99,6 - 99,8 persen (kemungkinan gagal tidak ada).

Kegiatan MOP di Provinsi Sumatera Selatan tidak berdampak signifikan dalam mengurangi laju pertumbuhan penduduk karena jumlah peserta KB baru dalam kegiatan MOP sangat rendah. Seperti pada tabel 2 berikut.

Tabel 2 Jumlah Peserta Kegiatan MOP Tahun 2011, 2012,2013 di Provinsi Sumatera Selatan.

No. Tahun Jumlah peserta KB baru MOP Jumlah PUS

1. 2011 896 1.608.664

2. 2012 959 1.587.427

(19)

3. 2013 562 1.484.036

Sumber: Bidang Keluarga Berencana Badan Perwakilan Kependudukan dan Kelurga Berencana Nasional Provinsi Sumatera Selatan.

Data tabel 2 merupakan pencapaian dari kegiatan MOP tahun 2011, 2012 dan 2013.

Pada tahun 2013 jumlah peserta KB-baru kegiatan MOP lebih rendah dibandingkan tahun 2011 dan 2012.

Pencapaian kegiatan MOP harus di tingkatkan karena belum tercapainya target peserta KB-baru kegiatan MOP yaitu 1000 orang per tahun. BKKBN Provinsi Sumatera Selatan menetapkan target peserta KB-baru MOP 1000 orang per tahun. Kegiatan MOP diharapkan bisa mengurangi pertumbuhan penduduk karena efektivitas dari kegiatan MOP tinggi yaitu 99,6 - 99,8 persen.

Perlunya dukungan dari pemerintah tentang kegiatan MOP untuk mendapat pencapaian yang diinginkan. Untuk mendapat pencapaian yang diinginkan perlu sosialisasi secara merata kepada masyarakat tentang MOP untuk mengetahui manfaat dan dampak dari MOP.

Pemerintah perlu memberikan pelayanan yang baik dan meningkatan kualitas pelayanan MOP seperti konseling, pemeriksaan calon akseptor, pelaksanaan MOP dan kegiatan tindak lanjut yaitu kegiatan pasca tindakan MOP.Untuk meningkatkan peran serta pria dalam keluarga berencana pria pada kegiatan MOP diperlukan dukungan dari tokoh agama dan tokoh masyarakat dan informasi tentang MOP meliputi pengetahuan tentang manfaat, efek samping, efektivitas, cara pengunaan, dan tempat mendapatkan pelayanan kontrasepsi.

Dukungan dari berbagai tokoh di harapkan memberikan contoh bahwa tokoh tersebut juga menggunakan kontrasepsi MOP sehingga masyarakat percaya dan akan memakai

(20)

kontrasepsi MOP. Dukungan dari berbagai tokoh di harapkan untuk memberikan arahan bahwa isu dampak dari MOP tidak benar danmemberi arahan bahwa pria bukan hanya mendukung isteri ber-KB tetapi ikut ber-KB, salah satunya dengan kegiatan MOP.

Untuk mengatasi keterbatasan informasi MOP di perlukan upaya untuk meningkatkan aksesabilitas terhadap informasi dan pelayanan MOP yang mudah di mengerti dan di pahami.

Tokoh agama dan tokoh masyarakat berperan memberi bimbingan dan penyuluhan kepada peserta kegiatan MOP agar memantapkan peserta kegiatan MOP untuk tidak mudah terpengaruh isu-isu negatif tentang kegiatan MOP dan membantu mengkoordinir pelayanan kegiatan MOP.

Untuk meningkatkan peran serta pria dalam MOP perlu di lakukan inisiatif strategis (terobosan) dengan mengembangkan kelompok KB Pria, baik sebagai wadah para peserta KB Pria dalam melakukan berbagai kegiatan maupun sebagai forum para peserta KB Pria untuk memberikan motivasi tentang MOP kepada masyarakat khususnya para pria.

Kelompok KB Pria yang di bentuk oleh, dari dan untuk masyarakat khususnya para akseptor KB Pria mempunyai potensi yang besar dalam penyebaran KIE KB Pria, maupun sebagai penyalur kegiatan MOP.

Meningkatkan peran serta pria terhadap kegiatan MOP melalui penggarapan kelompok KB Pria, membentuk kelompok KB Pria dan meningkatkan jumlah motivator di harapkan terbentuk dan berkembangnya kelompok KB Pria dan meningkatnya motivator sehingga kesertaan KB Pria meningkat terhadap kegiatan MOP.

Pentingnya evaluasi terhadap sosialisasi yang dilakukan serta pelayanan kepada peserta MOP agar bisa meningkatkan pencapaian.Sosialisasi seperti melakukan penyuluhan langsung ke lapangan serta menjelaskan proses dan cara kerja dari MOP tersebut.Evaluasi

(21)

terhadap pelayanan untuk mengetahui kekurangan dari pelayanan tersebut agar bisa di perbaki sehingga bisa meningkatkan pencapaian kegiatan MOP dan berdampak terhadap pengurangan pertumbuhan penduduk.

Dengan ditingkatkannya pelayanan seperti sosialisasi, memperbanyak tenaga dokter, meningkatkan kualitas pelaksanaan MOP dan meningkatkan dukungan dari tokoh agama dan tokoh masyarakat bisa mengatasi permasalahan rendahnya peran serta pria ber-KB pada kegiatan MOP sehingga di harapkan bisa meningkatkan pencapaian dari kegiatan MOP dan bisa berdampak dalam mengurangi pertumbuhan penduduk. Dengan pencapaian MOP yang sesuai target setiap tahunnya diharapkan bisa memenuhi target pencapaian keluarga berencana pria sehingga bisa mengurangi pertumbuhan penduduk.

Berdasarkan uraian di atas penulis berkeinginan untuk melakukan penelitian dan penulisan skripsi dengan judul “Evaluasi Program Keluarga Berencana Pria di Provinsi Sumatera Selatan (Studi Kasus pada Kegiatan MOP Tahun 2013).”

A. Rumusan Masalah

Bagaimana Program Keluarga Berencana di lakukan? Khususnya kegiatan MOP di Provinsi Sumatera Selatan?

B. Tujuan Penelitian

Untuk mengetahui bagaimana Program Keluarga Berencana di lakukan? Khususnya kegiatan MOP di Provinsi Sumatera Selatan.

C. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis

Sebagai bahan pengembangan teoritis bagi ilmu pengetahuan pada Ilmu Administrasi Negara khususnya konsentrasi Kebijkan Publik.

2. Manfaat Praktis

(22)

Memberikan masukan bagi Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Provinsi Sumatera Selatan tentang Keluarga Berencana Pria (MOP).

(23)

DAFTAR PUSTAKA

Dwijowijoto, R.N. 2003. Kebijakan Publik Formulasi, Implementasi, dan Evaluasi.

Jakarta:Penerbit PT Elex Media Komputindo.

Dwiloka, B & Riana, R. 2005. Teknik Menulis Karya Ilmiah. Jakarta: Penerbit PT. Rineka Cipta.

Fitria, D.I. 2010. Partisipasi Laki-Laki dalam Program KB. Surakarta:Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sebelas Maret.

Wibawa, S., Purbokusumo Y., & Pramunsinto A. 1994. Evaluasi Kebijakan Publik.

Jakarta:Penerbit PT. RajaGrafindo Persada.

Wibisono, Dermawan. 2013. Panduan Penyusunan Skripsi, Tesis, Disertasi. Yogyakarta:

Penerbit Andi.

Winarno, Budi. 2012. Kebijakan Publik: Teori, Proses, dan Studi Kasus. Yogyakarta: CAPS.

Zaeni, A. 2006. Implementasi Kebijakan Program Keluarga Berencanadi Kabupaten Batang Studi Kasus Peeningkataan Kesertaan KB Pria di kecamatan Grinsing. Semarang:

UniversitasDiponegoro.

Dokumen-Dokumen

Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional. 2010. Konseling KB Pria.Jakarta:DirektoratPeningkatan Partisipasi Pria BKKBN 2010.

Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional. 2010. Peningkatan PartisipasiPria.Jakarta:Direktorat Peningkatan Partisipasi Pria BKKBN 2010.

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional. 2011. Pembinaan Kesertaan KB Priamelalui Penggarapan Kelompok KB Pria. Jakarta:Direktorat Bina Kesertaan KB JalurWilayahdan Sasaran Khusus.

Internet:

Dwi P.P, 2010.Partisipasi Pria dalam Kegiatan Medis Oprasi Pria, (http://sumsel.bkkbn.go.id/ViewArtikel.aspx?ArtikelID=43 Di akses 6 April 2014)

Peraturan Perundang-Undangan

(24)

Undang-Undang Nomor 52 Tahun 2009 Pasal 20 tentang Keluarga Berencana

Undang-Undang Nomor 52 Tahun 2009 Pasal 29 Ayat 1 tentang Suami dan Isteri

Mempunyai Kedudukan dan Kewajiban yang Sama dalam Melaksanakan Keluarga Berencana.

Gambar

Tabel 1Peserta KB Baru Tahun 2013 di Kabupaten/KotaProvinsi Sumatera Selatan
Tabel 2 Jumlah Peserta Kegiatan MOP Tahun 2011, 2012,2013 di Provinsi Sumatera  Selatan

Referensi

Dokumen terkait

[r]

Karakteristik lahan yang nilainya dinyatakan dalam data numerik adalah temperatur rata- rata, curah hujan, kelembaban udara, bahan kasar, kedalaman tanah, KTK

Tahap Website Analysis ini merupakan tahap dimana kita menganalisa apa saja yang dibutuhkan oleh pengguna dengan mengumpulkan informasi dari pengguna, menganalisa

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuktikan efektivitas gel putih telur pada luka insisi pada tikus putih (Rattus norvegicus) melalui pengamatan panjang area luka

Gender sebagai konstruksi sosial tampil dalam internalisasi ini melalui proses bahwa manusia secara individu laki-laki maupun perempuan bersama dengan individu lainnya

Aset keuangan (atau mana yang lebih tepat, bagian dari aset keuangan atau bagian dari kelompok aset keuangan serupa) dihentikan pengakuannya pada saat: (1) hak kontraktual atas arus

Mengingat bentuknya yang tergolong sebagai benda bergerak tidak berwujud dan baru akan diperoleh di kemudian hari, serta tidak adanya bukti pasti mengenai piutang yang

VG untuk tingkat viskositas kinematik mesin hidrolik yang dapat dilihat pada Tabel 3, dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa pelumas mineral VIM 6 sebelum diberikan aditif