• Tidak ada hasil yang ditemukan

Nasionalisme Banal dalam Pemanfaatan Lambang Garuda Pancasila di Media Internet

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Nasionalisme Banal dalam Pemanfaatan Lambang Garuda Pancasila di Media Internet"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

75

Nasionalisme Banal dalam Pemanfaatan Lambang Garuda Pancasila di Media Internet

DANU WIDHYATMOKO

Pendahuluan

Nasionalisme bukanlah aliran yang bergerak dengan sendirinya, terdapat pola yang membentuk gerak demi menjaga keutuhannya. Bagi negara-negara yang telah maju, mereka secara sadar melakukan aktivitas membangun rasa nasionalisme untuk menjaga kecintaan bangsa terhadap negaranya. Salah satu cara untuk menyebarkan gagasan nasionalisme adalah dengan memanfaatkan media massa.

Setelah era media cetak bergulir, muncul era media elektronik dengan bentuk media berupa radio dan televisi. Setelah era radio dan televisi berjalan, salah satu bentuk perubahan paling signifikan yang saat ini terjadi adalah kehadiran internet.

Salah satu bentuk studi nasionalisme yang pernah diungkapkan adalah nasionalisme banal yang dituliskan oleh Michael Billig (1995: 37). Billig menggunakan istilah nasionalisme banal untuk memperlihatkan perbedaan yang jelas dengan fenomena nasionalisme yang lebih tegas dan jelas terlihat, seperti pada saat nasionalisme suatu bangsa yang tengah tersulut, membara serta diekspresikan dengan penuh semangat. Dalam nasionalisme banal, Billig memperkenalkan sebuah proses reproduksi nasionalisme yang dilakukan terus-menerus.

Nasionalisme ternyata dapat dibangun melalui hal-hal sederhana

bahkan cenderung tidak diperhatikan, karena dipraktikkan secara rutin dan telah menjadi kebiasaan. Jadi, di antara momen

‘nasionalisme membara’ terdapat proses produksi nasionalisme yang berulang terus-menerus, tidak kasatmata, tidak mencolok, dan dapat berlangsung tanpa disadari. Proses yang berlangsung terlihat menjadi sesuatu yang tidak penting, hingga secara tidak sadar sesungguhnya tengah berlangsung proses reproduksi nasionalisme di dalam jalannya kehidupan sehari-hari.

Nasionalisme banal sendiri bukan barang baru di kehidupan sehari-hari bangsa Indonesia. Peletakkan foto presiden dan wakil presiden dengan lambang negara Garuda Pancasila yang diletakkan di antaranya adalah contoh konkret dari nasionalisme banal. Contoh lain dalam kehidupan sehari-hari adalah bendera yang berkibar sepanjang hari di kantor-kantor baik pemerintahan ataupun swasta, sekolah, serta visualisasi peta wilayah Indonesia.

Nasionalisme banal menjelaskan bahwa reproduksi rasa nasionalis bisa dilakukan terus-menerus dengan cara-cara yang amat sederhana, tidak mencolok bahkan pada saat interaksi berlangsung tidak perlu mendapatkan perhatian khusus.

Seperti halnya nasionalisme banal yang berkembang di kehidupan nyata sehari-hari, di internet, nasionalisme

(2)

76

juga terus direproduksi secara banal. Di internet, simbol-simbol nasionalisme dapat ditemukan dengan mudah. Simbol-simbol tersebut terserak, tidak mencolok, bahkan pada saat melihatnya kita tidak pernah merasa terganggu ataupun tidak merasa perlu memberikan waktu khusus untuk memperhatikan juga memahaminya. Akan tetapi, simbol-simbol tersebut sebenarnya tengah berperan menjadi perekat yang terus- menerus menguatkan nasionalisme bangsa.

Salah satu simbol yang sering ditampilkan dalam praktik nasionalisme banal adalah lambang negara Garuda Pancasila.

Lambang Garuda Pancasila sendiri diadopsi dari mite burung garuda yang sejak zaman Hindu telah menjadi bagian dari budaya bangsa Indonesia, sebagaimana tercermin pada berbagai ragam hias candi dan ornamen barang-barang keseharian. Sejak penggunaannya sebagai lambang negara, wujudnya mengalami proses pemaknaan yang lebih luas, baik sebagai simbol persatuan, tanda resmi kenegaraan, simbol jati diri bangsa, pengesahan alat tukar, dan bagian yang penting pada dokumen negara (Sachari, 2007: 202). Pernyataan tersebut memperjelas keberadaan burung garuda sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia

Lambang Garuda Pancasila di Media Internet

Bentuk-bentuk pemanfaatan Garuda Pancasila turut beradaptasi sejalan dengan perkembangan zaman dan perubahan media serta cara masyarakat Indonesia dalam berkomunikasi. Dalam hal ini, lambang Garuda Pancasila mengalami symbolic transition, sejalan dengan apa yang diungkapkan oleh Needham (1979) bahwa

“Symbolic transition yang menandakan suatu makna atas hal-hal khusus seperti waktu dan kesempatan –yang menjelaskan suatu perubahan atas suatu kondisi yang lama ke yang baru”.

Kehadiran visual Garuda Pancasila di ranah media internet dapat dipetakan menjadi dua bagian besar yakni Garuda Pancasila yang sesuai dengan tatanan baku yang digariskan oleh Undang-undang dan Garuda Pancasila berupa bentuk visual ekspresi. Dalam penyebarannya bentuk- bentuk tersebut mengalami alih representasi dan bertransformasi dari elemen visual yang satu ke elemen visual media internet yang lain.

Tabel 1.

Pemetaan visual Garuda Pancasila di media internet

(3)

77

Pemetaan Garuda Pancasila di Media Internet dalam Versi Visual Baku

Tampilan Garuda Pancasila baku secara pemaknaan dapat merujuk kepada yang telah disebutkan oleh UU, kita dapat mengidentifikasikannya dengan menggunakan komponen-komponen dari tiap simbol yang ada, apakah terlihat atau tidak. Justifikasi juga dapat dilakukan berdasarkan aturan yang terdapat di UU tersebut. Keberagaman bentuk Garuda Pancasila dapat kita ketahui lewat cara sederhana yaitu melalui googling untuk melihat variasi dari tampilan Garuda Pancasila yang tampil dalam bentuk baku sesuai dengan UU. Dari kata kunci ‘garuda pancasila’, akan kita dapatkan beberapa varian sebagai berikut:

Gambar 1.

Contoh Garuda Pancasila dalam visual baku hitam-putih yang ditemukan lewat googling

dengan kata kunci “garuda pancasila”

Gambar 2.

Contoh Garuda Pancasila dalam visual baku penuh warna yang ditemukan lewat googling

dengan kata kunci “garuda pancasila”

Gambar-gambar Garuda Pancasila yang telah terunggah di Internet tersebut lalu dimanfaatkan oleh para pengguna seperti yang tercantum dalam skema pada Tabel 1 Beberapa contoh pemanfaatan gambar Garuda Pancasila tersebut antara lain misalnya sebagai profile picture di media sosial, halaman sampul media sosial atau website, header image website pemerintah, dan ilustrasi dalam artikel bertema Garuda Pancasila.

Pemetaan Garuda Pancasila di Media Internet Versi Visual Ekspresi

Garuda Pancasila dalam visual ekspresi ditandai dengan pola alih media

representasi berkali-kali. Garuda Pancasila dalam visual baku juga mengalami alih media tetapi tidak seluas versi visual ekspresinya. Dalam bagian ini dituliskan bermacam objek Garuda Pancasila versi visual ekspresi yang mengalami proses alih media berkali-kali dan hadir dalam sekian versi serta menjadi bagian penting dari proses reproduksi nasionalisme.

Penggunaan Garuda Pancasila versi visual ekspresi ini misalnya digunakan pada visual patung Garuda Pancasila, gerakan I {Garuda} RI, dan lain-lain.

Garuda Pancasila dalam Kepak Garuda

Kepak Garuda, melalui situs mereka www.

kepakgaruda.com, membagikan wallpaper gratis yang memvisualkan tokoh-tokoh Indonesia dan juga objek visual yang berisi inspirasi. Kajian ini akan difokuskan kepada tiga visual Garuda Pancasila yang mereka bagikan. Sedang visual tokoh-tokoh

(4)

78

inspiratif yang mendominasi wallpaper yang mereka bagikan tidak dibahas secara spesifik di tulisan ini. Berikut tiga visual Garuda Pancasila dalam versi ekspresi yang dimiliki oleh Kepak Garuda:

Visual pertama ini dikembangkan berdasar bentuk baku Garuda Pancasila, diberi nama

“Garuda! 01”:

Gambar 3.

“Garuda! 01”, visual wallpaper Garuda Pancasila pertama yang dirilis oleh Kepak

Garuda

Tersaji dalam garis outline yang berwarna putih dan hanya diberikan aksen warna kuning untuk bintang yang terdapat di perisai. Sedang latar yang digunakan khas latar yang dimiliki oleh Kepak Garuda, yakni merah yang pekat dengan alur sapuan kuas seperti di atas kanvas.

Hal yang membedakannya dengan latar visual Kepak Garuda yang lain adalah pada visual Garuda! 01 ini diberikan garis-garis penguat, garis-garis yang seolah memancar di belakang Garuda Pancasila. Garis-garis tersebut menguatkan kesan gagah yang ingin disampaikan, juga memberikan efek gerak yang relevan.

Gambar 4.

Implementasi visual “Garuda! 01” milik Kepak Garuda menjadi wallpaper ponsel

yang dapat diunduh gratis

Sumber: Mobile9.com, pembuatan wallpaper ke media lain ini tanpa seizin pihak Kepak

Garuda.

(Diakses pada 27 Mei 2014, 18.12)

Gambar 5.

Wallpaper Kepak Garuda, “Garuda! 01”, dialih representasikan menjadi latar video dari lagu Bandung Selatan dan diunggah ke

Youtube

Sumber: http://www.youtube.com/

watch?v=bN4qJHZ0WXQ.

(Diakses pada 27 Mei 2014, 18.55)

(5)

79 Visual kedua merupakan representasi dari Garuda Pancasila yang diberi judul “Garuda Tak ‘Kan Mampu Terbang Tinggi”.

Gambar 6.

Wallpaper Kepak Garuda , “Garuda! 01”, dialih representasikan menjadi theme untuk

operating system Windows 7 Sumber: http://irwansyahblogs.blogspot.

com/2012/01/theme-windows-7-garuda- indonesia.html

(Diakses pada 27 Mei 2014, 19.16)

Gambar 7.

Wallpaper Kepak Garuda, “Garuda! 01”, yang beralih representasi menjadi cover page

Facebook

Sumber: cover page Facebook milik Ricky Grahama dan Indah Setianingsih.

(Diakses pada 17 Agustus 2012, 03.39)

Gambar 8.

Wallpaper Kepak Garuda, “Garuda Tak ‘Kan Mampu Terbang Tinggi”

Gambar 9.

Visual asli dari Garuda Tak ‘Kan Mampu Terbang Tinggi

(6)

80

Kebutuhan visual untuk menunjang ide kreatif wallpaper ini diputuskan untuk menyajikan sesuatu yang ekspresif, mengetengahkan kegetiran, rasa sakit, dan keputusasaan yang awalnya diakibatkan oleh diri sendiri. Dari pemikiran tersebut, terpilihlah judul “Garuda tak ‘kan mampu terbang tinggi” — Lawan terbesar dari perubahan, kemajuan, perbaikan, dan apapun pergerakan ke arah positif adalah ketidakpedulia. Sang saka merah putih tidak akan berkibar dengan megah dan Sang Garuda tidak akan mampu mengepakkan sayap-sayapnya untuk terbang lebih tinggi apabila masih diliputi perasaan-perasaan negatif.

Garuda Pancasila dalam visual ekspresi versi ketiga yang dirilis oleh Kepak Garuda ini hadir untuk memberi pesan positif, diberi nama “Garuda Akan Mampu Terbang Tinggi”.

Gambar 10.

Berbagai representasi wallpaper Garuda Tak Kan Mampu Terbang Tinggi, dari header situs Sumber: gambar profil Facebook dari Viva Bola.com dan Roman O’gank, picbadge dari PicBadges.com, avatar anggota Cobraoi, gambar profil Twitter @Ferdiansyah94 dan Haendy

Busman untuk Kompasiana.

(Diakses pada 28 Mei 2014, 00.30)

Gambar 11.

Wallpaper Kepak Garuda ketiga, “Garuda Akan Mampu Terbang Tinggi”

(7)

81 Semangat yang mendasari proses

kreatif dari objek visual ini adalah sebentuk keyakinan atas Indonesia. Visual ekspresi Garuda Pancasila tersebut hadir dalam warna hitam dengan teknik bercak penuh cipratan dengan latar yang tetap mencirikan Kepak Garuda. Berbeda dengan visual Kepak Garuda lainnya, gambar ini bebas hak cipta, dipersilakan untuk mengunduh dan memanfaatkannya untuk kegiatan positif apapun. Visual ketiga ini dirilis bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-65, tahun 2010.

Efek yang ditimbulkan dari status bebas hak cipta ini sangat luar biasa. Visual tersebut segera hadir dan menyebar dengan cepat. Reproduksi visual segera berlangsung dan menyebar dalam berbagai bentuk representasi media.

Menurut data statistik yang dimiliki oleh situs Kepak Garuda, semenjak April 2009, ketiga visual wallpaper Kepak Garuda tersebut total telah diunduh/diklik sebanyak 13.850 kali. Adapun yang mengakses ke tiga halaman tempat berada visual tersebut sebanyak total 98.376 kali.

Gambar 12.

Wallpaper Kepak Garuda ketiga, Garuda Akan Mampu Terbang Tinggi

Sumber: game community, profil Google+ milik Faizal Ramdhani, profil Facebook milik Pusamania Vrman Noevahn, cover page Twitter milik Agus Fatoni. (Diakses pada 28 Mei 2014,

01.01)

Tabel 2.

Grafik kunjungan dan unduhan dari tiga visual Garuda Pancasila yang dimiliki Kepak Garuda.

Sumber: Kepak Garuda.com (Data diambil pada 28 Mei 2014, 16.45)

(8)

82

Garuda Pancasila “Indonesia Bangkit”

Visual selanjutnya adalah Garuda Pancasila

“Indonesia bangkit”. Siluet Garuda Pancasila tersebut terinspirasi oleh poster film box office Hollywood, Batman: The Dark Night Rises (TDKR). Baik warna maupun pendekatan visual yang dipilih kesemuanya merujuk ke poster film fenomenal tersebut.

Visual tersebt dibuat menjadi seolah kita berdiri di bawah sambil menatap ke atas langit, lalu tampak gedung-gedung yang tidak lagi utuh, sebagian dalam proses runtuh. Bila di poster film TDKR reruntuhan gedung tersebut membentuk siluet logo Batman, maka di visual ini membentuk siluet Garuda Pancasila. Sebaris narasi ikut menghiasi visual tersebut, yaitu “Indonesia Bangkit” sebagai interpretasi dari “rises”

yang terdapat di TDKR. Kemudian dilanjutkan dengan tanggal kemerdekaan dan naskah Proklamasi Republik Indonesia dalam ejaan asli.

Visual “Indonesia Bangkit”

ini dikembangkan oleh Artup Ida, dirilis bertepatan pada hari peringatan kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 2012. Begitu visual tersebut diletakkan di ranah internet melalui Facebook, maka saat itu juga visual “Indonesia Bangkit” akan tersebar dan terus menerus mereproduksi tanpa lagi menunggu momen-momen khusus. Visual ini telah di-share hingga 900 kali, mengundang 43 komentar dan 171 likes (Ida, 2012).

Garuda Wedha Abdul Rasyid

Wedha adalah nama alias yang tersematkan pada nama asli Abdul Rasyid, seorang ilustrator senior yang sangat dihormati di Indonesia. Dikenal sebagai ilustator majalah Hai selama puluhan tahun. Karya monumental yang pernah dihasilkan adalah sebuah ‘aliran’ gaya gambar yang disebut WPAP (Wedha’s Pop Art Portrait). WPAP sendiri adalah gaya gambar dengan bidang berkotak-kotak tanpa bidang lengkung dan penuh dengan warna-warni.

Gambar 13

Kiri, poster Batman: The Dark Knight Rises. Kanan, poster “Indonesia Bangkit” karya Artup Ida.

(9)

83 Terdapat karya garuda yang Wedha

rilis di media internet. karya tersebut tidak mewakili gaya WPAP, tetapi tetap memiliki ciri khas karya Wedha. Karya tersebut hadir dengan dua warna sebagai pembeda antara latar dan objek visual. Objek garuda terbangun oleh bidang-bidang geometris dengan tarikan garis yang tegas dan memancarkan ekspresi kekuatan dan kemarahan lewat paruh yang menganga.

Unsur humor yang memang kerap dijumpai di dalam karya-karya Wedha turut juga terlihat di visual ini, Wedha mengganti kalimat Bhinneka Tunggal ika dengan kalimat lain dengan arti dan maksud yang sama, “Cem-macem Teuteup Satu” –berbeda-beda tetap satu jua.

Kemudian Wedha menggunakan gambar ini sebagai template yang berisi beragam pesan yang ingin Wedha sampaikan sesuai isu yang tengah berkembang di masyarakat.

Visual ini dapat dimaknakan sebagai daya kekuatan yang sesungguhnya dimiliki oleh Indonesia.

Versi original dari visual ini kini telah sulit dilacak, karena Wedha sendiri mengunggah gambar tersebut tidak berada di

satu tempat rilis saja, ada di sekian halaman Facebook, Deviantart, juga halaman WPAP.

Di salah satu tempat rilisnya, visual ini setidaknya telah di-like sebanyak 87 kali dan mendapat 52 komentar, di tempat yang lain mendapatkan like sebanyak 107 kali dan 81 komentar.

Garuda IndonesiaUnite!

Olah visual grafis tiga dimensi terlihat mumpuni di visual berikut. Garuda hadir dalam wujud yang natural, sulit dibedakan apakah ini hasil dari foto atau hasil rekayasa digital tiga dimensi. Burung elang jawa sebagai inspirasi Garuda Pancasila dipilih sebagai objek visual, sebuah tameng emas bergrafir lambang-lambang sila Pancasila terukir di sana, cakar mencengkram selendang putih bertuliskan semboyan Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika. Agak ke belakang, Sang Saka Merah Putih terlihat berkibar gagah. Sebagai komplementer, dua pucuk mawar turut terselip di cakar Sang Garuda, mawar merah dan putih. Dua pucuk mawar sewarna dengan bendera bukan Gambar 14.

Visual Garuda karya Wedha yang dijadikan template, ruang kanan kosong di kanan dijadikan tempat untuk meletakkan pesan sebagai bentuk respon atas kejadian dan isu-isu yang tengah

terjadi

(10)

84

hanya sebagai pemanis visual saja, tetapi ia juga turut berperan menyeimbangkan tata letak dan pola sebaran warna dari tampilan yang tersajikan. Sudut pengambilan gambar garuda yang tengah bertengger dari arah bawah menciptakan kesan gagah dan rasa percaya diri yang kental. Mata garuda yang menatap tajam, semakin menguatkan kesan penuh kekuatan dan keyakinan.

Ferdi Rizkiyanto adalah sosok di balik karya ini, dalam narasi pengantar karyanya ia menuliskan dukungannya bagi IndonesiaUnite, gerakan yang menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia tidak takut untuk melawan terorisme. Visual ini secara cepat menyebar di Internet. Visual ini dapat dimaknakan sebagai sebuah kekuatan yang menunjukkan kekuasaan.

Garuda di GantiBaju.com

Saat ini kaos menjadi sarana ekspresi diri yang berdayaguna, produksi kaos dengan desain yang terbatas menjadikan kebanggaan tersendiri bagi penggunanya.

Kehadiran internet memungkinkan terciptanya toko online yang dapat menjual kaos secara langsung ke para pembeli. Bila kaos yang di-display di toko online tersebut memiliki tampilan yang teridentifikasikan sebagai simbol kebangsaan –misalnya Garuda Pancasila, maka visual tersebut secara langsung memerankan dirinya sebagai elemen nasionalisme yang dapat direproduksi dalam keseharian, dan nasionalisme banal pun mengambil perannya. Salah satu took online tersebut adalah gantiBaju.com. Garuda Pancasila telah menjadi objek komersialisasi dengan alasan ekonomi. Garuda Pancasila hadir di toko online yang siap untuk diperjualbelikan.

Gambar 15.

Garuda IndonesiaUnite! karya Ferdi Rizkiyanto

Gambar 16.

GantiBaju.com dengan tampilan produknya dalam kategori Garuda Pancasila dalam

beragam desain

(11)

GantiBaju.com sebagai perusahaan 85 pakaian (khususnya kaos) kreatif, berusaha menggabungkan lini produk mereka dengan pemasaran online dan kontes desain kaos yang mereka klaim terbesar di Indonesia. Pola yang mereka kembangkan ini akhirnya menghadirkan ratusan desain kaos yang siap dipilih untuk diproduksi, termasuk di dalamnya desain-desain kaos dengan visual yang terinspirasikan Garuda Pancasila. Kaos dengan desain Garuda Pancasila yang dijual di GantiBaju.com didominasi oleh desain Garuda Pancasila yang syarat dengan ekspresi pembuatnya.

Garuda di Tees.co.id

Seperti halnya GantiBaju.com, situs Tees.

co.id ini juga menjadi tempat menjual

kaos dengan desain-desain menarik dalam jumlah terbatas. Hal yang membedakan dengan GantiBaju.com adalah desainer ilustrasi kaos dapat bekerjasama berbagi keuntungan dengan Tees.co.id, pihak Tees.

co.id yang akan memproduksi kaos si desainer. Lewat display kaos yang dijual di Tees.co.id kita dapat dengan mudah menemukan visual yang terinspirasi oleh Garuda Pancasila.

Kualitas visual Garuda Pancasila yang ada di situs ini amat beragam, hal yang disayangkan adalah terdapat visual- visual yang kurang dalam kualitas, ini dimungkinkan karena memang siapapun memungkinkan untuk membuat desain lalu menjualnya dengan bekerja sama dengan Tees.co.id maupun dengan took online lain. Visual dari toko online ini ada yang dikembangkan dari visual-visual Gambar 17.

Tampilan kaos-kaos terinspirasi Garuda Pancasila di Tees.co.id

(12)

86

yang sudah ada sebelumnya di internet, dan sebaliknya visual-visual yang ada di internet seperti profile picture, header dan sejenisnya diperoleh dari visual yang ada di Tees.co.id, alih media representatif terjadi di sini.

Garuda Indonesia Amadeus Clothing

Berkembang satu aliran visual berbasis sablon kaos di Amerika dan Eropa.

Visual tersebut merupakan representasi dari band-band beraliran musik cadas, dan menggunakan kaos-kaos berwarna hitam sebagai latar visual. Visual tersebut memiliki garis yang kuat dan cenderung kasar. Warna-warna cerah menghias dari balik garis-garis hitam yang kasar, gradasi warna yang lebih ringan dalam intensitas kepekatan hadir di sana-sini memberikan dimensi. Lalu sebagai sentuhan akhir, putih menyemburat di sana-sini memberikan efek highlight yang memberikan kesan dramatis.

Aliran visual ini bergerak secara luas dengan memanfaatkan internet, mereka melakukan penjualan lintas negara dan memiliki penggemar fanatik yang secara kontinu membeli kaos-kaos baru yang mereka rilis.

Ardha Prambudi dari Indonesia, sekitar pertengahan 2010 merilis satu visual terinspirasi Garuda Pancasila dengan gaya visu al seperti yang dinarasikan di atas. Visual ini berkembang sangat luas di internet. Amadeus Clothing yang berada di Bandung ditunjuk sebagai agen resmi penjualan kaos berdesain garuda tersebut.

Sebelumnya visual ini juga sempat dijual lewat jaringan penjualan kaos internasional, Emptees.com yang kini telah tutup sejak 2011. Akhirnya visual ini tidak hanya menghias kaos-kaos penggunanya tetapi juga turut berperan sebagai profile photo dan menyebar sebagai gambar lewat media-media sosial.

Gambar 19.

Profile photo akun Gentar Merah Putih yang menggunakan gambar garuda karya Ardha

Prambudi

Visual Ekspresi Garuda Pancasila di Deviantart.com

Sebagai tempat memajang karya, dalam Deviantart.com dapat ditemukan visual- visual yang terinspirasikan Garuda Pancasila. Peran portfolio online ini sangat besar dalam menyebarkan visual Garuda Pancasila, biasanya mereka menjadi tempat Gambar 18.

Garuda Pancasila karya Ardha Prambudi

(13)

87 awal diletakkannya karya-karya visual

tersebut, lalu lewat media sosial mereka melakukan publikasi alamat situs, dan mulai tersebar secara luas karya-karya tersebut sebelum akhirnya berkali-kali beralih media representatif.

Beragam pendekatan visual dapat ditemui termasuk objek visualnya, dari garuda yang dikemas sebagai objek burung yang perkasa, garuda yang dikemas menjadi permainan motif hingga garuda yang hadir dalam bentuk fantasi yang dikemas secara personifikasi. Segala fantasi atas kebaikan serta nilai-nilai positif yang dimiliki Garuda Pancasila coba disajikan dalam karakter yang diciptakan.

Merujuk catatan-catatan yang telah dituliskan di atas, maka secara nyata visual Garuda Pancasila begitu mudah ditemui di media internet, tersebar dalam beragam bentuk dan peruntukan. Ia telah menjadi pengingat-pengingat yang banal dan akrab. Sebagai sebuah pengingat,

Garuda Pancasila memiliki potensi yang luar biasa, ia merupakan refleksi dari nilai- nilai yang terkandung di dalam Indonesia, semakin luas cakupan penyebarannya maka semakin bergulir proses reproduksi nasionalisme di dalam keseharian.

Akhirnya pundi-pundi kecintaan terhadap Indonesia yang mengisi “simpanan”

nasionalisme akan terus terisi dan menjadi modal yang kuat untuk terus-menerus menyatukan Indonesia. Oleh karena itu sudah semestinya “simpanan” nasionalisme ini diisi terus menerus dan menjadi bagian dalam keseharian, dan dengan semangat altruisme yang erat dengan media internet, sudah semestinya pergerakan ini dapat berjalan lewat inisiatif-inisiatif pribadi terlebih media internet adalah media tanpa batas, hanya terbataskan oleh kreativitas dari para penggunanya.

Walau nasionalisme banal di media internet ini dapat bergerak lewat inisiatif- inisiatif pribadi, tetap saja pemerintah Gambar 20.

Visual ekspresi Garuda Pancasila di Deviantart.com

Sumber: Deviantart.com milik ganjarelex (Ganjar Darmayekti), sasikirana, fik714 (Zulfikri Mokoagow), Benaddiction (Benedict

Aji), ghozai (manzur ghozaali), richieria (Lidwina Rosaria)

Gambar 21.

Visual ekspresi Garuda Pancasila di Deviantart.com dalam kesamaan tema fantasi

Sumber: Deviantart.com milik Kurosaki- Sasori-chan, 2d-artist (roni), MAMHAT (Rachmat Saputra), RobotIndonesia (Ardhy

Prasetyo Wibowo), Xceith (Zero to Hero)

(14)

88

dapat mengambil manfaat dari daya guna yang dimilikinya. Pemerintah dapat memanfaatkan kekuatan lunak (soft power) yang dimiliki lambang-lambang tersebut karena perannya yang kuat di dalam menjaga pertahanan dan keamaan bangsa Indonesia (Hoed, 2011: 296). Negara adidaya secara sadar membangun konstruksi nasionalisme mereka secara terprogram dan sarat strategi tidak lagi hanya memanfaatkan simbol- simbol kebangsaan, mereka melakukannya sudah lebih dari itu, hingga objek pemusnah massal pun dapat dikemas menjadi hal yang dilihat positif, dikemas sebagai objek yang menjadi kebanggaan bersama. Pemanfaatan Garuda Pancasila di media internet akhirnya merupakan bentuk nasionalisme banal yang memberikan kontribusi demi terciptanya perekat persatuan dan kesatuan Indonesia.

Simpulan

Nasionalisme akan selalu bergerak, selalu mencari bentuknya guna menyesuaikan dengan perkembangan zaman dan tantangan-tantangan yang dijumpainya.

Di antara riuh rendah nasionalisme yang kasatmata itu, berlangsung terus-menerus di dalam keseharian aktivitas reproduksi nasionalisme secara banal. Tanpa dapat terhindarkan, nasionalisme banal pun turut bergerak di media internet dengan menggunakan simbol-simbol dan identitas kebangsaan.

Dari pemaparan aktivitas nasionalisme yang terdapat di media internet dapat diperoleh gambaran bahwa aktivitas pemanfaatan lambang negara Garuda Pancasila merupakan bagian dari

aktivitas nasionalisme banal. Terdapat pemanfaatan dengan menggunakan visual Garuda Pancasila baku yang sesuai dengan kaidah-kaidah yang terdapat di dalam UU yang mengaturnya, juga visual yang sifatnya ekspresi yang terlepas dari kaidah- kaidah yang mengaturnya walau masih tetap teridentifikasikan sebagan Garuda Pancasila.

Pemanfaatan Garuda Pancasila di media internet dapat disebut sebagai aktivitas nasionalisme banal karena memiliki unsur- unsur yang dimiliki oleh nasionalisme banal yang diutarakan oleh Michael Billig, yakni reproduksi nasionalisme yang berlangsung secara terus-menerus yang terlihat dari maraknya pemanfaatan Garuda Pancasila sebagai elemen visual yang digunakan di dalam media internet tanpa memerlukan alasan yang kuat dan mendalam, mereka tanpa sungkan dan rikuh menggunakan visual-visual Garuda Pancasila untuk menunjukkan kecintaannya terhadap Indonesia.

Memanfaatkan simbol-simbol kebangsaan Indonesia seperti Garuda Pancasila di media internet sebagai bentuk ekspresi kecintaan terhadap Indonesia dan juga sebagai bagian dari gerak nasionalisme banal merupakan cara murah dan cerdas untuk menjaga Indonesia.

Daftar Rujukan

Buku

Alonso, A., & Oiarzabal, P. J. (2010). Basque Diaspora Digital Nationalism Designing

“Banal” Identity. In A. Alonso, & P. J.

Oiarzabal, Diasporas in the New Media Age: Identity, Politics, and Community (p. 341). Nevada: University of Nevada Press.

(15)

89 Billig, M. (1995). Banal Nationlism. London:

SAGE Publication Ltd.

BPS. (2011). Statistik Indonesia 2011.

Jakarta: Badan Pusat Statistik.

Buckingham, D. (2007). Youth, Identity, and Digital Media (The John D. and Catherine T. MacArthur Foundation Series on Digital Media and Learning).

Massachusett: The MIT Press.

Bungin, B. (2007). Sosiologi Komunikasi:

Teori, Paradigma, dan Diskursus Teknologi Komunikasi di Masyarakat.

Jakarta: Kencana.

Christakis, N. A., & Fowler, J. H. (2010).

Connected: Dahsyatnya Kekuatan Jejaring Sosial Mengubah Hidup Kita.

(Z. Anshor, Trans.) Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Fink, J. (1999). Cyberseduction: Reality in the Age of Psychotechnology. New York: Prometheus Books.

Grosby, S. (2005). Nationalism: A Very Short Introduction. Oxford: Oxford University Press.

Hidayat, N. R. (2008). Mencari Telur Garuda.

Jakarta: Nalar.

Hoed, B. H. (2011). Semiotik dan Dinamika Sosial Budaya. Depok: Komunitas Bambu.

Jordan, T. (1999). Cyberpower: An Introduction to the Politics of Cyberspace. London: Routledge.

Kementerian Luar Negeri RI. (2012, Juli 19). Garis Waktu Proses Perancangan Lambang Garuda Pancasila. Pameran Sejarah Lambang Negara Garuda . Jakarta, Jakarta, Indonesia.

Lee, Y. (2000). Modern Education, Textbooks, and the Image of the Nation. London:

Routledge.

Lessig, L. (2006). Code: And Other Laws of Cyberspace, Version 2.0. New York:

Basic Books.

Levy, P. (1999). Collective Intelligence:

Mankind’s Emerging World in Cyberspace. (R. Bononno, Trans.) Massachusett: Basic Books.

Malesˇevic , S. (2006). Identity as Ideology: Understanding Ethnicity and Nationalism. New York: Palgrave MacMillan.

Manovich, L. (2003). New Media from Borges to HTML. In N. Wardrip-Fruin,

& N. Montfort, Introduction to The New Media Reader (pp. 13-25). Massachusett:

The MIT Press.

Maswinara, I. (2002). Dewa-dewi Hindu.

Surabaya: Paramita.

Musa, A. M. (2011). Nasionalisme di Persimpangan. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Needham, Rodney (1979). Symbolic classification (The Goodyear perspectives in anthropology series).

California: Goodyear Pub. Co.

Özkirimli, U. (2010). Theories of Nationalism:

A Critical Introduction. New York:

Palgrave Macmillan.

Putut, W. (2008). Indonesia: Sebuah Bangsa yang Tak Pernah Sudah. In W. Putut, K. Hidayat, & P. Widjanarko (Eds.), Reinventing Indonesia: Menemukan Kembali Masa Depan Bangsa (p. 116).

Jakarta: Penerbit Mizan.

(16)

90

Rochmadi, N. (2008). Ilmu Pengetahuan Sosial Jilid 1 untuk SMK . Jakarta:

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional.

Sachari, A. (2007). Budaya Visual Indonesia.

Jakarta: Penerbit Erlangga.

Smith, A. D. (1991). National Identity. Reno, Nevada, USA: University of Nevada Press.

Straubhaar, J., LaRose,, R., & Davenport, L. (2012). Media Now: Understanding Media, Culture, and Technology.

Boston: Cengage Learning.

Tajfel, H., & Turner, J. (1979). The social psychology of intergroup relations. In W. G. Austin, S. Worche, W. G. Austin,

& S. Worche (Eds.), An integrative theory of intergroup conflict. (pp. 33- 47). Monterey: Brooks/Cole.

Tiryakia, Edward A. (2009). For Durkheim (Rethinking Classical Sociology).

Farnham: Ashgate

Jurnal

Grosby, S. (1991). Religion and nationality in Antiquity: the worship of Yahweh and ancient Israel. European Journal of Sociology , 32, 229-265.

Kaplan, A. M., & Haenlein, M. (2010). Users of the world, unite! The challenges and opportunities of Social Media. Business Horizons , 53, 59—68.

Nurhadi. (2006, Januari). Realitas dalam Dunia Virtual. Atma nan Jaya , 142- 150.

Ortmann, S. (2009). Singapore: The Politics of Inventing National Identity. Journal of Current Southeast Asian Affairs , 18.

Makalah Seminar

Patria, N. (2007, Juli 6). Nasionalisme Indonesia: “Proyek Bersama” yang Belum Selesai. ”Indonesia : Antara Kontingensi Historis, Nasionalisme dan Keniscayaan Logis dalam Peta Global Politik Kontemporer . London, -, The United Kingdom: Perhimpunan Pelajar Indonesia.

Surat Kabar

Kompas. (2012, November 28). Serangan Siber, Ancaman Aktual di Indonesia.

Kompas , p. 12.

Kompas. (2013, November 11). Perang Siber di Hari Pahlawan. Kompas Siang , 1 (110), p. 1.

Kompas. (2013, November 21). Perang Terjadi di Dunia Maya. Politik & Hukum , p. 4.

Majalah

Marketeers. (2013, November 1).

Understanding Indonesia Netizen:

Their Anxieties and Desires. Indonesia Netizen Survey 2013 , p. 67.

(17)

91 Internet

Anderson, J., & Rainie, L. (2010). Pewinternet.

org - Reports. Diakses pada tanggal 16 Mei, 2013, Pewinternet.org: http://

pewinternet.org/Reports/2010/Impact- of-the-Internet-on-Institutions-in-the- Future.aspx

APJII. (15 Januari 2014,). PRESS RELEASE - Profil Terkini Internet Industri Indonesia. Diakses pada tanggal 12 Juni 2014, Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia: http://www.apjii.

or.id/v2/read/content/info-terkini/213/

press-release-profil-terkini-internet- industri-ind.html

Badan Informasi Geospasial. (8 Mei 2014).

Indonesia Memiliki 13.466 Pulau yang Terdaftar dan Berkoordinat. Diakses pada tanggal 11 Juni 2014, Badan Informasi Geospasial: http://www.

bakosurtanal.go.id/berita-surta/show/

indonesia-memiliki-13-466-pulau- yang-terdaftar-dan-berkoordinat Badan Pengembangan dan Pembinaan

Bahasa. (1 September 2012). Sekilas Tentang Sejarah Bahasa Indonesia.

Diakses pada tanggal 11 Juni 2014, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa - Kemdikbud RI:

http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/

lamanbahasa/ node/627

Bandung Fe Institute. (1 Juni 2011).

Pancasila Interaktif. Diakses pada tanggal 21 Mei 2014, Pancasila Interaktif Tentukan Nilai Politikmu:

http://spektika.com/

Berita Satu. (12 Oktober 2012). Lambang RI Mirip Kerajaan Samudera Pasai.

Diakses pada tanggal 11 Juni 2014, Beritasatu.com: http://www.beritasatu.

com/fokus/76210-lambang-ri-mirip- kerajaan-samudera-pasai.html

CIA. (12 Mei 2014). The World Factbook.

Diakses pada tanggal 11 Juni 2014, CIA.gov:https://www.cia.gov/library/

publications/the-world-factbook/geos/

id.html

Detik Health. (14 Juni 2013). Hari Donor Darah Sedunia: Ini Pesan Blood4LifeID Bagi yang akan Posting Butuh Darah di Internet. Diakses pada tanggal 12 Juni 2014, Detik Health: http://health.detik.

com/read/2013/06/14/141829/22735 75/763/ini-pesan-blood4lifeid-bagi- yang-akan-posting-butuh-darah-di- internet

Dustn.tv. (25 September 2013). Social Media User Stats. Diakses pada tanggal 12 Juni 2014, Dustn.tv: http://dustn.

tv/user-stats-2013/

HukumOnline.com. (15 Januari 2013).

MK Bebaskan Penggunaan Lambang Negara. Diakses pada tanggal 4 Juni 2014, Hukum Online: http://

www.hukumonline.com/berita/baca/

lt50f56081e5730/mk-bebaskan- penggunaan-lambang-negara

Ida, A. (17 Agustus 2012,). Indonesia Bangkit. Diakses pada tanggal 8 Juni 2014, Facebook Foto Artup Ida:

https://www.facebook.com/photo.

php?fbid=4084797551800&set=pb.

1038470313.-2207520000.1402226203

(18)

92

IndonesiaUnite. (27 Juli 2009).

IndonesiaUnite. Diakses pada tanggal 22 Januari 2012, IndonesiaUnite.com:

http://indonesiaunite.com

InternetSociety.org. (17 September 2012,).

Brief History of the Internet. Diakses pada tanggal 12 Juni 2014, Internet Society: http://www.internetsociety.

org/internet/what-internet/history- internet/brief-history-internet

Kominfo. (18 Februari 2014,). Siaran Pers Tentang Riset Kominfo dan UNICEF Mengenai Perilaku Anak dan Remaja Dalam Menggunakan Internet. Diakses pada tanggal 12 Juni 2014, Kementerian Komunikasi dan Informatika : http://

kominfo.go.id/index.php/content/

detail/3834/Siaran+Pers+No.+17-PIH- KOMINFO-2-2014+tentang+Riset+Kom info+dan+

Referensi

Dokumen terkait

Artinya upaya advokasi mengusulkan perubahan suatu kebijakan  bisa dalam bentuk usulan agar kebijakan publik yang dibuat dapat dirubah atau direvisi, bisa juga

Fokus masalah dalam penelitian ini, Project Challenges baru diterapkan pada mata kuliah yang berkaitan dengan pendidikan lingkungan seperti Praktikum IPA di SD dan

Salah satu dari faktor yang mempengaruhi loyalitas pelanggan adalah kualitas layanan. Jika kualitas layanan dari sebuah restoran tidak dapat memenuhi ekspektasi

Dalam model ini, semua biaya yang berhubungan dengan kualitas, waktu pengiriman, dan tipe pelayanan dikumpulkan dan dievaluasi sebagai bagian dari total harga..

kandungan lain yang perlu dihindari saat membaca label produk adalah rhodamin B bahan ini juga dapat menimbulkan iritasi kulit.. Rhodamin B sering digunakan sebagai bahan

Tujuan penelitian yang dilakukan adalah menentukan kadar perekat optimum yang dibutuhkan pada pembuatan briket dari berbagai jenis limbah biomassa (arang sekam, ampas

§ Pengetahuan umum tentang industri pariwisata termasuk, peran utama, fungsi dan hubungan diantara sektor yang berbeda tsb, dengan pengetahuan yang lebih rinci tentang topik

 Komoditas yang memberikan sumbangan terbesar terhadap Inflasi di Kabupaten Tulungagung pada bulan Juli 2015 adalah daging ayam ras, cabe merah, cabe rawit, beras,