Pengaruh Meditasi Sholat Terhadap Tingkat Stres Dan Kadar Gula Darah Pasien Diabetes Melitus Di Palembang
Suratun
Program Studi Ilmu Keperawatan IKesT Muhammadiyah Palembang Email: [email protected]
* corresponding author
Tanggal Submisi: 15 Oktober 2021, Tanggal Penerimaan: 24 Mei 2022
Abstrak
Sholat merupakan salah satu intervensi non farmakologi berupa meditasi yang dapat menentramkan jiwa bagi pelaksananya, sebagaimana yang telah di jelaskan dalam Al-Quran dan hadist . beberapa penelitian menyatakan bahwa shalat dapat menurunkan kadar gula darah. Satu hal yang sangat penting bagi pasien diabetes melitus adalah mengontrol kadar gula darah untuk mencegah terjadinya komplikasi, agar pasien dapat hidup secara normal dan dapat menikmati hidupnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pengaruh meditasi shalat terhadap tingkat stres Dan Kadar Gula Darah Pasien Diabetes Melitus Di Palembang. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional (potong lintang). Sampel dalam penelitian ini adalah semua pasien Diabetes Melitus di Palembang. Instrument dalam penelitian ini menggunakan kuesioner. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2020. Uji statistik yang digunakan adalah Uji Chi-Sqare. Hasil penelitian ada Pengaruh Meditasi Shalat Terhadap Tingkat Stres Dan Kadar Gula Darah Pasien Diabetes Melitus Di Palembang. Keterampilan perawat sebagai edukator lebih ditingkatkan terkait dengan spiritualitas pasien, agar pasien mampu mengontrol tingkat stress dan kadar gula darahnya dengan meditasi shalat yang tepat.
Kata Kunci : DM, Meditasi Shalat,Tingkat Stres, Kadar Gula Darah
Abstract
There Introduction: Prayer is one of the non-pharmacological interventions in the form of meditation that can calm the soul for its implementers, as has been explained in the Qur'an and hadith. Some studies state that prayer can lower blood sugar levels. One thing that is very important for patients with diabetes mellitus is to control blood sugar levels to prevent complications so that patients can live normally and can enjoy their lives. Objective: This study aims to determine the effect of prayer meditation on stress levels and blood sugar levels in patients with diabetes mellitus in Palembang. Research Methods: This study is a quantitative study with a cross-sectional design (cross-sectional). The sample in this study were all Diabetes Mellitus patients in Palembang. The instrument in this study used a questionnaire. This research was conducted in November 2020.
The statistical test used was the Chi-Square Test. The results of the study showed the effect of prayer meditation on stress levels and blood sugar levels in patients with diabetes mellitus in Palembang. Suggestion: The skills of nurses as educators are further improved in relation to the patient's spirituality so that patients are
Copyright © 2022, Jurnal Ilmiah Kesehatan Pencerah ISSN 2089-9394 (print) | ISSN 2656-8004 (online)
Keywords: DM, Prayer Meditation, Stress Levels, Blood Sugar Levels PENDAHULUAN
Diabetes mellitus (DM) merupakan penyakit kronis yang tidak ditularkan dari orang ke orang. Penyakit ini juga disebut sebagai penyakit silent killer karena sering tidak disadari oleh penderita sampai dengan terjadinya komplikasi (Yuliastuti et al., 2017). Penyakit DM biasanya berjalan dengan lambat dengan gejala-gejala ringan sampai dengan berat, bahkan dapat menyebabkan kematian akibat komplikasi akut maupun kronis (Lubis, 2019).
DM disebabkan karena faktor keturunan, pola bidup yang salah, pola makan yang sudah berubah, aktivitas yang kurang dan faktor lingkungan. Faktor lingkungan seperti adanya fast food yang mendorong masyarakat mengkonsumsi makanan tersebut secara berlebih, kurangnya aktivitas, juga menyebabkan prevalensi DM menjadi tinggi dengan persentase sekitar 60% - 70%. Selain menimbulkan banyak keluhan bagi penderitanya, DM juga sangat berpotensi menimbulkan komplikasi yang berat yang membuat penderita tidak mampu lagi beraktivitas atau bekerja seperti biasa, dan memberikan beban bagi keluarga, dan merupakan penyakit yang paling merugikan dari segi ekonomi, karena memerlukan perawatan dan pengobatan seumur hidup.
Berdasarkan data Internasional of Diabetic Federation (IDF) tahun 2019, tingkat prevalensi global penderita diabetes mellitus pada tahun 2019 sebesar 9,3% atau sekitar 463 juta kasus dari jumlah keseluruhan penduduk di dunia.
Angka ini diperkirakan akan terus meningkat pada tahun 2030 dengan 578 juta kasus dan akan mengalami peningkatan sekitar 700 juta kasus pada tahun 2045.
Saat ini, Indonesia merupakan negara yang menempati urutan ke 7 dengan penderita diabetes mellitus sebanyak 10,7 juta orang setelah Cina, India, Amerika Serikat, Pakistan, Brazil, dan Mexico. Sementara itu, data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas, 2018) menunjukkan bahwa terjadi peningkatan prevalensi diabetes mellitus di Indonesia berdasarkan diagnosis dokter pada penduduk umur
≥ 15 tahun dari 1,5% di tahun 2013 menjadi 2% di tahun 2018. Data Sample Registration Survey tahun 2016 menunjukkan bahwa diabetes mellitus merupakan penyebab kematian terbesar nomor 3 di Indonesia dengan presentase sebesar 7,9%
setelah penyakit Serebrovaskular (19,9%) dan penyakit Jantung Iskemik (13,3%).
Kondisi ini dapat menyebabkan penurunan produktivitas, disabilitas, dan kematian dini bila tidak ditangani dengan baik (Kemenkes RI, 2016).. Intervensi non farmakologis yang dapat di lakukan adalah terapi komplementer seperti mengontrol pola makan, melakukan rileksasi dan aktiftas fisik secara teratur (Hart, 2003). Tehnik rileksasi adalah salah satu cara untuk mengurangi denyut jantung dan TPR dengan menghambat saraf simpatis dalam merespon stres. Salah satu tehnik yang menggabungkan antara aktifitas fisik dan rileksasi secara teratur
adalah sholat dengan khusyuk. Pikiran, lisan, dan fisik akan terkoordinasi apabila sholat dilakukan dengan khusuk. Selain itu sholat yang khusyuk dapat menimbulkan perasaan rilesks (Sagiran, 2013).
Tehnik rileksasi dalam bekerja menurunkan tekanan darah dengan cara mempengaruhi otot-otot polos pada pembuluh arteri dan vena menjadi rileks bersamaan dengan otot lainya di dalam tubuh yang dapat menurunkan kadar norepinefrin dalam darah (Mills, 2012). Gerakan pada sholat di katakan sama dengan latihan olahraga, yoga, meditasi yang secara umum menjaga tubuh agar tetap normal dan mengendalikan ketegangan melalui pemusatan emosi dan fikiran. Sholat adalah salah satu meditasi dengan tingkatan yang paling tinggi Di katakan sebagai meditasi tertinggi karena di dalam sholat terdapat unsur kekhusyukan yang melibatkan pemikiran yang dalam dan pemusatan fikiran serta adanya gerakan tubuh yang tidak terdapat di meditasi lainnya (Elzaky, 2011).
Penelitian (Nurdiansyah, 2016) pengetahuan masyarakat tentang manfaat gerakan sholat terhadap kesehatan menunjukkan 65,90% baik, dan 34,09% buruk.
Sholat adalah kegiatan yang tersusun dari perbuatan dan perkataan yang di awali dengan takbir dan di akhiri dengan salam berdasarkan syarat dan rukun tertentu. Sholat mengandung aktivitas fisiokal yang dapat merilekskan badan dan jiwa dari ketegangan yang menumbuhkan kedamaian dan kepuasan (Wibisono, 2006). Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Al-Qur’an surah Al-ma’arij/70 ayat 19-22 dengan arti sebagai berikut :
Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat.
Dalam sebuah hadist juga di sebutkan ketika Rasulullah SAW di terpa masalah dan kepenatan, beliau bersabda :“Tentramkanlah kita dengan sholat, wahai bilal “ (HR. Abu Dawud dan Ahmad)
Penelitian Hidayati (2018) menjelaskan bahwa terapi sholat duha mempengaruhi penurunan tekanan darah tinggi. Penelitian Kartika (2016) sholat dapat menurunkan kecemasan dan kadar gula darah pada pasien diabetes mellitus tipe 2. Penelitian (Wardani et.al. 2018) menunjukan sholat yang khusyuk menurunkan kecemasan dan tekanan darah pada lansia. Sholat merupakan salah satu intervensi non farmakologi berupa meditasi yang dapat menentramkan jiwa bagi pelaksananya, sebagaimana yang telah di jelaskan dalam Al-Quran dan hadist. Dalam penelitian sebelumnya penilaian yang di lakukan dan belum berfokus pada 5 unsur dalam sholat. Wibisono (2006) mengatakan unsur yang terdapat dalam sholat ada 5, yaitu meditasi (do’a yang teratur), auto sugesti dalam bacaan sholat, hydro therapy dalam wudhu,group therapy dalam sholat berjamaah
Copyright © 2022, Jurnal Ilmiah Kesehatan Pencerah ISSN 2089-9394 (print) | ISSN 2656-8004 (online)
Berdasarkan penjelasan di atas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan pengaruh Meditasi Sholat Terhadap tingkat Stres dan Kadar Gula Darah Pada Penderita Diabetes Melitus Di Klinik Symponi Danarieva Medika Palembang
METODE
Penelitian dilakukan di Klinik Symponi Danarieva Medika Palembang dengan desain penelitian cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien yang menderita diabetes melitus di Klinik Symponi Danarieva Medika Palembang. Sampel dalam penelitian ini adalah pasien DM di Klinik Symponi Danarieva Medika Palembang yang berjumlah 44 pasien. Analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisa data Univariate dan Bivariate (Notoatmodjo, 2012).
Analisa univariat dijelaskannya karakteristik setiap variable penelitian. Data dianalisis dan menghasilkan distribusi frekuensi dan rata-rata yaitu shalat, tingkat stres, kadar gula darah. Analisa bivariate bertujuan untuk mengetahui pengaruh antara variabel independen dengan variabel dependen. Uji yang digunakan adalah Uji Chi-Square. Hasil analisis dikatakan berpengaruh jika nilai p-value lebih kecil dari 0,05 (p < 0,05). Sebaliknya dikatakan tidak berpengaruh jika nilai p-value lebih besar dari 0,05 (p > 0,05).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Tabel 1. Distribusi Frekuensi Jenis Kelamin, shalat, Tingkat Stres, kadar Gula Darah Pasien Diabetes Melitus Di Klinik Symponi Danarieva Medika Palembang 2020
Jenis Kelamin Frekuensi Persentase
Laki-laki 20 45.5
Perempuan 24 54.5
Total 44 100
Shalat
Ketepatan 35 79.5
Kurang tepat 9 20.5
Total 44 100
Tingkat Stres
Ringan 7 15.9
Sedang 22 50.0
Berat 15 34.1
Total 44 100 Kadar Gula Darah
Normal 34 77.3
Tinggi 10 22.7
Total 44 100
Berdasarkan tabel 1 didapatkan jenis kelamin perempuan lebih banyak yaitu 24 (54.5%) dari 44 responden, ketepatan shalat lebih banyak yaitu 35 (79.5%) dari 44 responden. Tingkat stress sedang lebih banyak yaitu 22 (50.0%) dari 44 responden. Kadar gula darah sewaktu dalam batas normal lebih banyak yaitu 34 (77.3%) dari 44 responden.
Tabel 2. Pengaruh Shalat dengan Tingkat Stress Pasien Diabetes Mellitus Di Klinik Symponi Danarieva Medika Palembang 2020
Shalat
Tingkat Stress pasien DM
Jumlah P
value
Normal Tinggi
n % n % n %
1
Ketepatan 30 85.7 5 14.3 35 100
0.018 2
Tidak Tepat 4 44.4 5 55.6 9 100
Total 34 77.3 10 22.7.0 44 100
Berdasarkan tabel 2 menunjukkan bahwa dari 44 responden yang pelaksanaan shalat tepat ada 30 (85.7%) dengan kadar gula darah normal, 5 (14.3%) dengan kadar gula darah tinggi, sedangkan pelaksanaan shalat tidak tepat ada 4 (44.4%) dengan kadar gula darah normal dan 5 (55.6%) dengan kadar gula darah tinggi. Berdasarkan uji statistik didapatkan þ value 0,018 lebih kecil dari α 0,05 artinya ada ada pengaruh shalat denga kadar gula darah pasien diabetes mellitus di Klinik Symponi Danarieva Medika Palembang 2020.
Hasil penelitian menunjukkan nilai P= 0.040 artinya ada pengaruh shalat dengan tingkat stress pasien diabetes mellitus. Hasil penelitian ini sesuai dengan pendapat sholeh (2010) bahwa shalat yang dijalankan dengan penuh kesungguhan, khusuk, tepat, ikhlas dan rutin dapat menumbuhkan persepsi dan motivasi positif dan mengefektifkan coping, Dan respon emosi positif, dapat menghindarkan reaksi stres. Stres, kecemasan dan depresi merupakan masalah kesehatan yang sering terjadi pada pasien diabetes (IDDT, 2013). Shalat dapat membuat individu menjadi tegar dan optimis sehingga dapat mengurangi stres. Ketegaran adalah sikap yang membuat orang tahan stres. Sikap ketegaran meliputi perasaan
Copyright © 2022, Jurnal Ilmiah Kesehatan Pencerah ISSN 2089-9394 (print) | ISSN 2656-8004 (online)
Peplau and Sears, 2009). Shalat dapat menumbuhkan persepsi dan motivasi positif akan datangnya pertolongan Allah SWT. Reaksi emosi positif ini dapat menghindarkan reaksi stress yang lebih banyak disebabkan oleh faktor gagalnya sistem tubuh dalam mengendalikan stress yang disebabkan oleh permasalahan fisik maupun psikis (Haryanto, 2005). Wibisono (2006) yang menyatakan bahwa shalat mengandung aktivitas fisokal yang dapat merilekskan badan dan jiwa dari ketegangan yang menumbuhkan kedamaian dan kepuasan. Religiositas membuat individu mengurangi afek-afek negatif, seperti stress, cemas, gelisah dan putus asa. Religiositas diyakini mampu memberikan kekuatan bagi manusia dalam kehidupanya agar lebih tenang dalam menghadapi kehidupan yang semakin kompleks (Wardani et.al. 2018). Berdasarkan pengalaman Purwanto (2014) bahwa pada saat shalat, hati tersambung kepada Allah, ada proses yang mengantarkan diri pada ketenangan jiwa dan pikiran.
Penelitian yang dilakukan oleh Kelly (2014) membahas mengenai terapi sholat dan zikir, dimana dikatakan bahwa terapi sholat dan zikir dapat memberikan kondisi psikis yang baik dalam bentuk ketenangan ibu hamil saat proses persalinan. Mohd et. Al. (2002) menemukan bahwa tingkat religiusitas mempengaruhi tingkat stress seseorang. Penelitian Wardani 2018 menyatakan bahwa shalat dapat menurunkan kecemasan.
Hasil penelitian menunjukkan nilai P= 0.040 artinya ada pengaruh shalat dengan kadar gula darah pasien diabetes mellitus. Penelitian yang dilakukan oleh Muhamad Rajin (2010) yang dilakukan pada sholat dhuha menemukan bahwa gerakan sholat didalamnya mengandung gerakan isometik yang terbukti dapat menurunkan kadar glukosa darah yang tinggi. namun dengan catatan sholat harus dilaksanakan secara khusu’ akan menimbulkan gerakan otot ismoetrik predominan dan sesuai dengan irama sirkandial, dapat menghambat sekretasi hormon stress di pagi hari yang dapat menurunkan kadar glukosa darah.
Penelitian Watkins, et al (2013) menunjukkan adanya korelasi positif antara religi dan spiritual dengan kualitas kesehatan pasien diabetes mellitus dengan hasil HbA1C yang lebih rendah pada pasien dengan spiritual yang lebih tinggi.
Penelitian Singh (2012) menyatakan bahwa ada hubungan antara spiritualitas dan religi dalam kontrol glikemik.Teori psikoneuroendokrinologi di dalam otak manusia terdapat hormon endorphine yang dapat otomatis keluar ketika berzikir (Rochman, 2010). Seseorang yang berzikir mempunyai kekuatan tak terhingga dalam dirinya. Dengan demikian dalam dirinya tumbuh suatu kekuatan spiritual yang mampu membuat jiwanya merasa tentram dan kembali seimbang.
Keseimbangan dalam tubuh yang disebabkan adanya ketentraman jiwa dapat menormalkan fungsi organ tubuh seperti meningkatkan imunitas sehingga mampu menggerakkan suatu mekanisme internal untuk menyembuhkan penyakit. Oleh
karena itu Allah SWT memerintahkan untuk berzikir sebanyak-banyaknya (Mustofa, 2011).
SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Klinik Symponi Danarieva Medika Palembang 2020 tentang pengaruh shalat dengan tingkat stres dan kadar gula darah pasien diabetes mellitus dapat disimpulkan: bahwa ada pengaruh shalat dengan tingkat stress dan kadar gula darah pasien diabetes mellitus.
DAFTAR PUSTAKA
Elzaky, J. (2011). Mukjizat Kesehatan Ibadah. Jakarta : Penertbit Zaman.
Dinkes Prov.Sumsel, (2019).”Jumlah Penderita Diabetes Mellitus”.
Hart, H., craine, L.E. and Hart. D.J. 2003. Kimia Organik Edisi Kesebelas.
Erlangga. Jakarta.
Hidayati B, Ariyanti M, Salfarina (2018). Efektivitas Gerakan Sholat Dhuha Terhadap Penurunan Tekanan Darah Pada Lansia
Hipertensi. Pros HEFA. 2018;2(2).
IDF (International Diabetes Federation). (2019). IDF Diabetes Atlas: 9th Edition.
https://www.diabetesatlas.org/upload/resources/2019/IDF_Atlas_9th_Editio n_2019.pdf.
Kartika Umi et. al. (2016). Pengaruh Shalat Dalam Menurunkan Tingkat Ansietas dan Kadar Glukosa Darah Pada Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2. Journal of Nursing and Health.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2018). Riskesdas 2018.
Kelly E. (2014). Pengaruh Terapi Psikis Terutama Shalat dan Dzikir Terhadap
Proses Persalinan.
https://jurnal.yudharta.ac.id/v2/index.php/HERITAGE/article/view/827 Lubis, S. P. S. (2019). Analisis Pengaruh Perawatan Kaki dan Penggunaan Alas
Kaki dengan Ulkus Kaki Diabetik pada Penderita Dm. Jurnal Prosiding SINTAKS, 1(1), 870–876.
Mills, Chaterin J. A. (2012). Comparision of Relaxation Techniques on Blood Preassure Reactivity and Recovery Assessing The Moderating Effect of Anger Coping Style. Dissertation Old Dominion University.
Mustofa A (2011). Dzikir Tauhid. Surabaya: PADMA Press.
Notoadmodjo Soekidjo, 2012”Metodologi Penelitian Kesehatan”Jakarta : Renieka Cipta.
Nurdiansyah Agusta, Deden (2016). Pengetahuan Masyarakat tentang Gerakan Sholat Bagi Kesehatan. http://eprints.umpo.ac.id/2293/
PERKENI. 2015. Konsensus Pengendalian dan Pencegahan Diabetes Mellitus Tipe 2 di Indonesia, Perkumpulan Endokrinologi Indonesia, Jakarta
Purwanto, S. (2014). Catatan Harian Trainer Shalat Khusyuk. Solo: Romiz Aisy.
Rajin, M, 2010. Jurnal: Shoat Dhuha Dengan Gerakan Isometrik Predominan Untuk Meningkatkan Derajat Kesehatan Masyarakat
Copyright © 2022, Jurnal Ilmiah Kesehatan Pencerah ISSN 2089-9394 (print) | ISSN 2656-8004 (online)
Sagiran. 2013. Mukjizat Gerakan Sholat. Jakarta : Qultum Media.
Singh, h., et al. 2012. Support System for and Barriers to Diabetes Management in South Asians and Whites in the uk: Qualitative Study of Patients Perspectives.
Sholeh, M. (2010). Terapi sholat tahajud menyembuhkan berbagai penyakit.
Jakarta: PT Mizan Publika.
Taylor, S.E., Peplau, L.A. & Sears, D.O. (2009). Psikologi sosial. Edisi 12. Alih Bahasa: Wibowo, T. Jakarta: Prenada Media Group.
Yuliastuti, R. A., Andriany, M., & Y., E. P. (2017). Kejadian Derajat Luka Diabetes Tidak Berhubungan Dengan Nilai Risiko Diabetic Foot Ulcer.
Jurnal Ilmu Dan Teknologi Kesehatan, 4(2), 215–227
Watkins, Y.J., et al. 2013. Spiritual and Religious Beliefs and Practices, and Sosial Support’s Relationship to Diabetes Self-Care Activities in African Americans. Diabetes Educ.
Wardani Y., Nashori F., Uyun Q. 2018. Efektifitas Pelatihan Shalat Khusyuk Dalam Menurunkan Kecemasan Pada Lansia Hipertensi.
https://journal.uii.ac.id/intervensipsikologi/article/view/8030/6985. Jurnal Intervensi Psikologi. Universitas Islam Indonesia.