BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Menurut Yaobin (2018) setelah krisis keuangan tahun 2008 banyak perusahaan Eropa lebih mengutamakan aliran kas/ cash flow dan peningkatan manajemen kas, dikarenakan salah satu alasan utama yang menyebabkan krisis keuangan adalah aliran kas pembayaran yang tidak efisien. Pembayaran yang tidak efisien dapat mengganggu proses kelancaran dan keberlangsungan suatu usaha, karena pembayaran merupakan komponen yang sangat penting didalam menopang keberlangsungan suatu usaha.
Selaras dengan penelitian sebelumnya, Humphrey (2001) berpendapat bahwa sistem pembayaran merupakan sesuatu yang penting karena membentuk spesialisasi yang terjadi dalam produksi dan membantu menciptakan transaksi yang efisien. Adanya transaksi pembayaran yang efisien ini akan mendorong perusahaan untuk terus berproduksi dan mengembangkan usahanya.
Mishkin (2001) menyatakan bahwa sistem pembayaran merupakan metode untuk mengatur transaksi dalam perekonomian suatu negara, baik transaksi lokal maupun pembayaran secara internasional. Pembayaran internasional pada umumnya dilaksanakan melalui bank devisa dinegara importir. Peranan utama bank devisa tersebut dalam perdagangan internasional adalah sebagai penghubung pembayaran bagi eksportir dan importir.
Sistem pembayaran internasional mempunyai beberapa metode pembayaran yang dapat digunakan oleh eksportir dan importir dalam proses jual beli.
Pembayaran perdagangan Internasional terdiri dari dua metode yaitu metode L/C dan metode non L/C. Metode pembayaran non L/C terdiri dari Advance Payment (pembayaran dimuka) dan Open Account (pembayaran kemudian) dengan cara Telegrapics Transfer (Soediyono, 2015).
Menurut Ekananda (2014) advance payment merupakan metode pembayaran yang risiko terbesarnya dibebankan kepada impotir. Importir harus membayar sebagian dari seluruh transaksi sebelum eksportir mengirimkan barang yang telah dipesan. Setelah menerima pembayaran, baik keseluruhan maupun sebagian barulah kemudian eksportir melakukan kewajibannya mengirimkan barang melalui port of loading.
Agung (2007) menyatakan bahwa cash payment juga merupakan salah satu metode pembayaran yang memiliki tingkat risiko yang tinggi. Hal tersebut dikarenakan importir harus melakukan pembayaran dimuka atas barang yang akan diimpor dengan mengirim uang sejumlah harga barang tersebut kepada bank di negara eksportir. Eksportir dapat mencairkan uang yang ada dipihak bank di negara eksportir tersebut apabila eksportir telah melaksanakan pengapalan dengan menyerahkan dokumen-dokumen yang disyaratkan ke pihak bank yang ditentukan sebagai penerima uang transfer dari importir .
Sedangkan open account merupakan metode pembayaran yang akan menguntungkan pihak importir. Hal tersebut dikarenakan barang telah dikirim terlebih dahulu kepada importir sebelum importir melakukan pembayaran tanpa disertai surat perintah membayar serta dokumen- dokumen yang dibutuhkan.
Pembayaran dilakukan setelah beberapa waktu atau sesuai kesepakatan yang telah disetujui kedua belah pihak.
Sedangkan metode pembayaran international selain advance payment dan open account adalah letter of credit (L/C). Letter of Credit (L/C) merupakan
metode pembayaran yang sangat aman dalam transaksi ekspor impor di dunia.
Letter of credit dikeluarkan oleh bank devisa atas permintaan importir, dimana
bank tersbut sebagai penghubung pembayaran internasional antara importir dan eksportir. Bagi eksportir risiko terbesar dalam transaksi internasional adalah mengirimkan barang tanpa adanya jaminan pembayaran. Oleh karena itu, untuk mendapatkan jaminan tersebut eksportir meminta kepada importir agar membuka letter of credit sebagai jaminan pembayaran (Ekananda, 2014).
Menurut Salima (2012) letter of credit dapat memberikan keunggulan kompetitif yang signifikan kepada eksportir dari segi penjualan dan keuntungan.
Sedangkan Ruihai (2017) mengatakan bahwa penggunaan letter of credit dalam transaksi akan mengurangi keuntungan dikarenakan adanya biaya yang harus dibayar untuk membuat letter of credit.
CV Aclass adalah perusahaan yang bergerak dibidang ekspor furniture ke berbagai negara di dunia. CV Aclass menggunakan metode pembayaran internasional dengan dua cara yaitu L/C dan non L/C (advance payment dan open acount). Sebagian besar produk yang dibuat di perusahaan memiliki desain-
desain yang bersifat klasik namun tetap memberikan kesan yang modern. CV Aclass telah mempunyai pelanggan tetap, sehingga ekspor barang dapat dilakukan secara rutin. CV Aclass mengekspor hasil produksinya ke berbagai negara yaitu
Spanyol, Jepang, Taiwan, Singapura, Panama, Prancis dan Reonion Island. CV Aclass tidak menjual hasil produksinya untuk memenuhi kebutuhaan pasar domestik. Berikut adalah transaksi pembayaran dua tahun terakir dari CV Aclass:
Tabel 1. 1 Jumlah Transaksi L/C dan Non L/C
Transaksi L/C Non L/C Total
2017 18 51 69
2018 11 29 40
Sumber: Data diolah 2019
Berdasarkan tabel 1.1 CV Aclass lebih banyak menggunakan metode pembayaran non L/C daripada metode L/C. Selama tahun 2017 CV Aclass melakukan transaksi sebanyak 69 transaksi dengan 18 metode pembayaran L/C dan 51 metode non L/C. Sementara di tahun 2018 total transaksi yang dilakukan CV Aclass sebanyak 40 transaksi yang meliputi 11 metode pembayaran L/C dan 29 metode pembayaran non L/C. Berdasarkan tabel diatas, maka dapat diperoleh hasil prosentase sebagai berikut
Sumber: Data diolah 2019
Gambar 1. 1 Prosentase Penggunaan L/C dan Non L/C 2017-2018
Prosentase di atas menunjukkan bahwa 26% transaksi di CV Aclass menggunakan metode L/C dan sebanyak 74% transaksi menggunakan metode non L/C. Metode pembayaran non L/C lebih banyak digunakan oleh CV Aclass dalam transaksi yang berlangsung pada tahun 2017 dan 2018. Metode pembayaran L/C
26%
74% L/C
Non L/C
lebih aman daripada metode pembayaran non L/C, tetapi CV Aclass lebih banyak menggunakan metode non L/C. Hal ini dikawatirkan dapat menjadi ancaman untuk CV Aclass dikemudian hari karena tidak adanya landasan hukum atas transaksi. Metode pembayaran yang tepat dapat memperlancar sistem transaksi yang di lakukan oleh CV Aclass. Metode pembayaran yang efisien dapat menguntungkan perusahaan karena dapat menyingkat waktu, biaya, dan tenaga.
Selaras dengan penelitian sebelumnya, bahwa metode pembayaran sangat mempengaruhi proses keberhasilan dalam transaksi di CV Aclass. Pada praktiknya CV Aclass mengalami banyak masalah dengan keterlambatan pembayaran yang dilakukan oleh buyer. Hal tersebut dikarenakan tidak adanya kepastian pembayaran didalam metode pembayaran non L/C. Berikut adalah data pembayaran tahun 2017:
Tabel 1. 2 Jumlah Transaksi Tepat Waktu dan Terlambat Tahun 2017
Nama Perusahaan
Transaksi 2017
Total Pembayaran Tepat Waktu Terlambat
Banak 28 10 Rp. 4.857.520.140
Scan - D 8 0 Rp. 1.413.846.720
Hawai 10 0 Rp. 701.562.84
Bamboo Blau 2 0 Rp. 29.264.400
Panama 2 1 Rp. 1.261.737.840
Kamaya 3 1 Rp. 686.056.800
Sabi - Sabi 2 2 Rp. 399.908.652
Total 55 14 Rp. 9.613.276.992
Sumber: Data diolah 2019
Pada tahun 2017 CV Aclass melakukan transaksi sebanyak 69 transaksi dari perusahaan Banak, Scan-d, Hawai, Bamboo Blau, Panama, Kamaya, dan Sabi Sabi. Total transaksi sebanyak Rp.9.613.276.992 (Sembilan milyar enam ratus
tiga belas juta dua ratus tujuh puluh enam juta sembilan ratus sembilan puluh dua rupiah) di tahun 2017.
Dilihat dari data di atas CV Aclass mempunyai masalah tentang keterlambatan pembayaran yang di lakukan oleh buyer sebanyak 14 transaksi.
Perusahaan yang paling banyak mengalami keterlambatan adalah Banak hampir separuh dari seluruh transaksi oleh Banak mengalami keterlambatan yaitu sebanyak 10 transaksi dari 38 transaksi yang di lakukan. Pada tahun 2018 keterlambatan pembayaran oleh buyer mengalami peningkatan. Berikut adalah data pembayaran tahun 2018:
Tabel 1. 3 Jumlah Transaksi Tepat Waktu dan Terlambat Tahun 2018
Nama Perusahaan
Transaksi 2018
Total Pembayaran Tepat Waktu Terlambat
Banak 12 12 Rp. 3.466.372.608
Scan - D 6 0 Rp. 993.740.800
Hawai 5 0 Rp.426.940.160
Bamboo Blau 0 1 Rp. 64.074.240
Panama 1 1 Rp. 446.969.600
Kamaya 1 1 Rp. 302.092.800
Sabi - Sabi 0 0 -
Total 25 15 Rp. 5.304.320.768
Sumber: Data diolah 2019
Pada tahun 2018 CV Aclass melakukan transaksi sebanyak 40 transaksi dari perusahaan Banak, Scan-d, Hawai, Bamboo Blau, Panama, dan Kamaya. Berbeda dengan tahun 2017, pada tahun 2018 PT Sabi Sabi tidak melakukan transaksi di CV Aclass. Total transaksi yang di lakukan pada tahun 2018 sebanyak
Rp.5.304.320.768 (Lima milyar tiga ratus empat juta tiga ratus dua puluh juta tujuh ratus enam puluh delapan rupiah).
Pada tahun 2018 keterlambatan pembayaran sebanyak 15 transaksi. Sama seperti di tahun 2017 perusahaan yang paling banyak terlambat membayar adalah Banak yaitu sebanyak 12 transaksi dari 24 transaksi. Keterlambatan Banak mencapai 50% dari seluruh transaksi pada tahu 2018. Sedangkan keterlambatan paling sedikit adalah Scan-d dan Hawai, dua perusahaan ini tidak pernah menunda pembayaran. CV Aclass mengalami penurunan transaksi yang cukup signifikan. Berikut adalah jumlah penurunan transaksi pada tahun 2017-2018:
Tabel 1. 4 Jumlah Penurunan Transaksi 2018
Sumber: Data diolah 2019
Berdasarkan tabel dan diagram di atas dapat disimpulkan bahwa penurunan transaksi sangat erat hubungannya dengan keterlambatan pembayaran, dikarenakan saat terjadinya peningkatan keterlambatan membayar jumlah order/
transaksi yang masuk menurun jumlahnya. Bayaknya buyer yang terlambat membayar sangat mempengaruhi keuangan perusahaan di karenakan produksi perusahaan sangat tergantung kepada keuangan perusahaan untuk membeli bahan
Nama Perusahaan
Jumlah Transaksi
2017 2018
Banak 38 24
Scan - D 8 6
Hawai 10 5
Bamboo Blau 2 1
Panama 3 2
Kamaya 4 2
Sabi - Sabi 4 0
Total 69 40
baku dan menggaji karyawan serta membayar pengrajin dan supplier yang bekerjasama dengan CV Aclass.
Keterlambatan pembayaran secara terus menerus dikawatirkan akan berakibat pada hilangnya kepercayaan oleh konsumen serta pihak- pihak yang berkaitan dengan CV Aclass. Pembayaran adalah hal pokok dalam bisnis ekspor,jika pembayaran terganggu maka perputaran roda perekonomian perusahaan juga akan terganggu dan mengakibatkan perusahaan bisa mengalami kebangkrutan. Salah satu alasan banyaknya bisnis yang bangkrut adalah karena ketrampilan manajemen keuangan yang buruk atau pemahaman yang buruk terhadap cash flow (Salem, 2017).
Sedangkan menurut Darsono dan Ashari (2005) manajemen yang tidak efisien akan mengakibatkan kerugian terus menerus yang pada akhirnya menyebabkan perusahaan tidak dapat membayar kewajibannya, sehingga dapat mengalami kebangkrutan. Ketidakefisien ini diakibatkan oleh pemborosan dalam biaya, kurangnya keterampilan dan keahlian manajemen. Adanya perbedaan pendapat diatas maka dapat disimpulkan bahwa kebangkrutan disebabkan karena ketrampilan manajemen keungangan yang tidak efisien, sehingga menyebabkan perputaran cash flow yang tidak stabil.
Berdasarkan uraian di atas maka penulis ingin mengetahui dan meneliti efisiensi sistem pembayaran yang dilakukan oleh CV Aclass serta mencari tau penyebab terjadinya masalah keterlambatan pembayaran dan pengaruhnya terhadap perusahaan serta mengetahui bagaimana cara mengantisipasinya untuk keberlangsungan usaha.
1.2 Keaslian penelitian
Berdasarkan penelusuran yang dilakukan oleh peneliti setidaknya terdapat beberapa karya tulis yang dapat menjadi pedoman untuk dijadikan sebagai acuan dalam menulis karya ilmiah bagi penulis, dan setidaknya memiliki perbedaan terhadap karya tulis tersebut.
Tabel 1. 5 Keaslian Penelitian
Peneliti Hasil Judul Penlitian Perbedaan Persamaan
Fitriana, 2015
Pembayaran sight L/C mempunyai risiko yang dapat menimbulkan kerugian bunga bagi eksportir.
Mekanisme Pembayaran atas Dasar Sight L/C (Letter of Credit) dalam Transaksi Ekspor pada PT.
Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk KCU Surakarta
Membahas
kesulitan,kelemahan dan kelebihan pembayaran
menggunakan L/C dan Non L/C
Menjelaskan tentang pembayaran sight L/C dan proses pembuatan
Dhinar, 2009
Sistem pembayaran Telegrapic Transfer memiliki resiko yaitu tidak terbayarkan oleh buyer.
Sistem Pembayaran Ekspor Pada CV.
Mugiharjo Furniture di Boyolali Jawa Tengah
Menganalisis efisiensi sistem pembayaran yang sudah di gunakan selama ini
Membahas tentang sistem pembayaran
Windhi, 2010
Penggunaan L/C sudah cukup baik pelaksanaannya, Walaupun masih ada sedikit permasalahan dalam
pelaksanaannya.
Sistem Pembayaran Ekspor Furniture pada CV Aclass Furniture di Laweyan Surakarta
Menjelaskan sistem pembayaran L/C dan non L/C serta kelebihan dan kelemahannya
Menjelaskan sistem pembayaran L/C
Sumber: digilib.uns.ac.id (2009), digilib.uns.ac.id (2010), digilib.uns.ac.id (2015) 1.3 Rumusan Masalah
Persoalan yang akan di angkat adalah tingkat efisiensi sistem pembayaran yang dilakukan oleh CV Aclass dikarenakan masih banyak buyer yang terlambat membayar. Bila hal tersebut terus terulang maka perusahaan akan mengalami perputaran uang yang lama. Hal tersebut berakibat terjadinya
keterlambatan pembayaran CV Aclass kepada para suplier untuk membeli bahan baku kayu. Ketika suplier terlambat mengirimkan bahan baku maka proses produksi akan tertunda dan mengakibatkan pengiriman pesanan dari buyer akan terlambat. Maka kepercayaan buyer akan menurun sehingga CV
Aclass akan mengalami penurunan order yang cukup signifikan. Bahkan bisa mengalami sebuah kebangkrutan.
1.4 Pertanyaan Penelitian
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah di uraikan di atas maka pertanaan penelitian dirumuskan sebagai berikut:
1. Bagaimana tantangan sistem pembayaran ekspor L/C dan non L/C pada CV Aclass?
2. Bagaimana strategi menghadapi keterlambatan pembayaran pada CV Aclass Furniture?
3. Bagaimana efisiensi sistem pembayaran pada CV Aclass Furniture?
1.5 Tujuan Penelitian
Penelitian ini di laksanakan dengan harapan agar para pembaca mengetahui masala-masalah yang terjadi. Tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Mengidentifikasi tanangan sistem pembayaran ekspor L/C dan non L/C pada CV. Aclass.
2. Mengevaluasi strategi menghadapi keterlambatan pembayaran pada CV Aclass Furniture.
3. Menganalisis efisiensi sistem pembayaran pada CV Aclass Furniture.
1.6 Manfaat Penelitian
Penelitian ini di harapkan dapat memberikan manfaat baik secara langsung maupun tidak langsung. Dalam penelitian ini beberapa manfaat yang di peroleh beberapa pihak yaitu :
1.6.1. Manfaat Teoritis
Secara teoritis hasil penelitian ini di harapkan dapat memberikan manfaat yaitu:
a. Bagi Perusahaan
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi perusahaan untuk memperbaiki sistem pembayaran dan menginformasikan dampak ketidakefisienan sistem pembayaran yang telah digunakan.
b. Bagi akademisi
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sumber bacaan mengenai proses sistem pembayaran yang efektif dan efisien bagi setiap akademisi, dan dapat dijadikan tolok ukur untuk melakukan penelitian tentang kegiatan yang sama.
1.6.2. Manfaat Praktis
Hasil penelitian dapat dijadikan sebagai sarana diagnosis dalam mencari sebab masalah efisisensi sistem pembayaran yang terjadi di CV Aclass. Diharapkan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dan evaluasi, sehingga perusahaan dapat mengambil kebijakan yang lebih baik dalam hal memilih sistem pembayaran yang efisisen demi kelancaran transaksi.