5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Komposit
Pada umumnya komposit dapat di definisikan sistem material yang tersusun dari dua campuran atau lebih dengan bahan – bahan yang berbeda untuk di gabungkan menjadi material agar dapat menjadi satu. Material komposit umumnya terdiri dari dua unsur, yaitu serat (fiber) dan matriks, yang dimana matriks tersebut berfungsi sebagai pengikat serat – serat. Unsur utama pada komposit ialah serat, serat inilah yang paling utama dalam menentukan karakteristik bahan komposit seperti, kekuatan serta sifat- sifat mekanik lainnya. Seratlah yang menahan sebagian besar gaya-gaya yang bekerja pada bahan komposit, sedangkan matriks melindungi dan mengikat serat agar dapat bekerja dengan maksimal(Fahmi & Arifin, 2014).
Keuntungan dan kelebihan dari komposit adalah berat dan massanya yang dikatakan sangat ringan memiliki suatu sifat yang kuat, tahan terhadap suatu korosi, dan memiliki sifat kekakuan yang sangat baik, biaya dalam proses produksi termasuk murah dan umur pemakaina yang bias di bilang lama. Secara umum ada beberapa cara yang harus di pahami dari material komposit yang akan di perkuat agar membentuk suatu produktifitas pada material yang baik, bisa di katakan harus memiliki ikatan yang kuat pada komponen dan matriksnya.
Diantara penyusunan dan bentuknya material dari komposit dapat dibedakan menjadi beberapa jenis yaitu :
1. Komposit Partikel (particulate composite)
Komposit ini merupakan material komposit yang penguatnya berupa partikel atau butiran, misalnya bulat, balok, serpih,dan bentuk lain yang memiliki bentuk panjang sumbu yang hamper sama, komposit jenis partikel
ini dapat di buat satu atau lebih banyak bahan dalam matriks bahan yang berbeda.
Gambar 2. 1 Komposit Partikel Sumber : Ahmad Yhuda Shahrir
2. Komposit Serpih (flake)
Material komposit ini biasa menggunakan material penguat yang terdistribusi dalam matriks, sehingga material komposit yang di proses memiliki hasil yang lebih isetntropis dari pada anistropis.
Gambar 2. 2 Komposit Serpih
3. Komposit Skeltas (filled)
Material komposit skeletal adalah material komposit yang yang mengandung partikel, yang hanya di gunakan untuk menambah volume material, serta bukan untuk kepentingan bahan penguat. Di dalam bahan komposit skeletal, bahan pengisi biasanya di tambahkan ke matriks dengan struktur tiga dimensi.
Gambar 2. 3 Komposit Skeltas
4. Komposit Laminar
Material komposit laminar adalah material komposit yang di bentuk oleh dua atau lebih lapisan. Material komposit laminar inilah yang paling banyak di gunakan terutam pada dunia otomoti.
Gambar 2. 4 Komposit Laminar Sumber : Ahmad Yhuda Shahrir
5. Komposit Serat (Fibrous Composite)
Pada daasarnya, serat lebih kuat dan lebih keras dari pada matriks, dan sifat serta kandungan serat akan sangat menentukan kinerja material komposit yang di hasilkan. Material komposit serat merupakan material komposit yang banyak di gunakan dalam struktur. Bahan komposit serat terdiri dari serat sebagai bahan penguat dan matriks sebagai pengikat,
pengisi curah, dana gen pelindung serat untuk mendistribusikan gaya atau beban di antar serat.
Gambar 2. 5 Komposit Serat Sumber : Ahmad Yhuda Shahrir
2.1.2 Matrik (Resin)
Matriks merupakan fasa pada komposit yang memiliki bagian ataupun fraksi volume terbanyak, matriks umumnya lebih ulet, tetapi memiliki kekuatan dan kekakuan yang lebih rendah. Syarat dasar penggunaan matriks pada material komposit adalah matriks harus mampu meneruskan beban, sehingga serat dapat menempel pada matriks dan kompatibel antara serat dan matriks, yang berarti tidak menimbulkan reaksi interferensi, biasanya matriks yang di pilih memiliki suatu ketahanan panas yang tinggi.
Material komposit memiliki sifat material yang berbeda dari kebanyakan material konvensional lainnya, beberapa material konvensional bersifat homogeny yang bersifat sama di semua tempat, dalam hal ini serat alam lebih rendah densitasnya di bandingkan serat sintetis atau biasa di sebut serat buatan.
Komposit matrik memiliki fungsi yaitu sebagai berikut :
• Melindungi serat
• Mentransfer tegangan ke serat
• Memisahkan serat
• Membentuk ikatan koheren permukaan matrik/serat
• Melepaskan ikatan
Secara umum ada beberapa resin yang sering di gunakan yaitu : 1. Resin Thermosetting
Jenis resin ini umumnya memiliki reaksi kimia sekunder dengan rantai molekul yang lebih panjang, jenis reaksi dua tingkat atau dua tahap ini terjadi dengan adanya bantuan dari panas dan tekanan selama proses pencetakan. Hasil dari proses ini akan mengeras setelah pendinginan dan memiliki struktur jaringn tertutup.
2. Phenolik
Secara ilmu kimia, resin femolik di sebut poly phenol formaldehyde yang merupakan kondensasi fenol dan formaldehyda. Dibandingkan dengan resin lain bentuk material ini sangat keras dan kaku serta memiliki modulus elastisitas yang baik, semua jenis bahan penguat dapat digunakan dalam kombinasi dengan resin phenolic, namun pada umumnya resin digunakan dalam dunia industry polywood karena sifatnya yang kuat, keras, mudah di bentuk, mudah di beri warna, tidak transparan serta mempunyai kestabilan dimensi yang cukup baik.
3. Polyster
Polyster berasal dari suatu respon kimia asam basa yang bereaksi secara kondensasi dengan alkohol dihidrat, Sebab asam tidak jenuh digunakan dengan bermacam metode sebagai bagian dari asam basah, hal yang menimbulkan adanya ikatan tak jenuh dalam rantai utama dalam polimer yang dihasilkan hingga disebut polyster tidak jenuh.
4. Silikon
Silikon umumnya digunakan sebagai matrik untuk tipe komposit
dengan tujuan tertentu, silikon adalah material spesial yang memiliki ketahanan panas sampai temperatur 316° C, dengan demikian silikon mempunyai ikatan antara atom silikon serta oksigen tanpa adanya rantai karbon.
2.2 Poliester
Poliester banyak digunakan buat kontruksi ringan dikarenakan harga yang relatif lebih murah dibandingkan resin lain, resin ini memiliki sifat yang khas yang dapat diwarnai, transparan, bisa terbuat kaku dan fleksibel, tahan air, tahan cuaca dan bahan kimia, poliester dapat digunakan hingga temperatur kerja mencapai 79° C maupun lebih bergantung pada partikel resin serta keperluannya(Wagner et al., 1984).
Keuntungan lain matrik poliester adalah dapat dikombinasikan dengan serat, kestabilan dimensional, mudah penanganannya hingga dapat digunakan untuk segala bentuk plastic.
Poliester merupakan tipe thermoset. karena berupa cairan resin dengan visikositas yang relatif rendah resin dapat mengeras pada temperatur kamar dengan memakai katalis tanpa menghabiskan gas pada saat pengesetan semacam tipe resin yang lain. Resin memiliki sifat rapuh± 110– 140ᵒ C. sifat listriknya lebih baik diantara resin thermoset. Pada umumnya kokoh terhadap asam kecuali asam pengoksid tetapi sangat lemah terhadap alkali apabila dimasukkan kedalam air mendidih dalam waktu yang lumayan lama( 300 jam), hingga dapat menyebabkan retak serta pecah. Bahan ini mudah mengembang dalam pelarut. Memiliki kemampuan tahan terhadap cuaca sangat baik, tahan terhadap kelembaban dan sinyal ultra violet apabila dibiarkan diluar, namun sifat tembusnya terhadap sinar permukaan rusak dalam beberapa tahun. Secara luas digunakan dalam kontruksi sebagai komposit.
2.1 Tabel Spesifikasi Resin Polysesyer Yukalac 157 BQTN-EX
Tabel 2. 1 Spesifikasi Resin Polysesyer Yukalac 157 BQTN-EX
Sumber : Bagus.k
2.2.1 Proses Produksi Material Komposit
Pada proses pengerasan pada resin merupakan akibat dari hasil penyeimbang respon antar katalis dengan akserelator dan inhibitor nya, resin dapat mengeras dengan melakukan penambahan katalis sehingga respon pada ikatan polymerisasi terjadi biasnya resin sudah dicampur dengan inhibitor yang sudah beraksi saat sebelum terbentuknya polysterisasi, hingga demikian memberi waktu pada resin untuk berkombinasi dengan penguat serta mengisi ruang sebagai pengeras polymerisasi terjadi. Mayoritas katalis peroksida berkomposisi lebih lambat pada saat ditambahkan pada resin, untuk mendapatkan pengerasan yang caepat, akselelator ditambah sehingga memperlaju katalis untuk melakukan berkomposisi(Jones, 2018)
2.2.2 Proses Hand Lay-Up
Proses hand lay-up ialah proses laminasi serat fiber secara manual, serta metode awal yang digunakan dalam pembuatan komposit. Metode hand lay-up digunakan untuk proses pembuatan benda yang memiliki bentuk mudah, serta menghasilkan 1 sisi yang halus serta 1 sisi yang kasar.(Widiyono et al., 2021)
Cara ini dapat digunakan dalam pembuatan spesimen pada penelitian ini, tetapi dengan menggunakan dimensi standar benda uji, dengan demikian proses pembuatan spesimen memiliki urutan sebagai berikut :
1. Membuat cetakan bendaa uji
2. Mengoleskan gelcoat pada permukaan cetakan
3. Setelah gelcoat mengering dan mulai mengoleskan lapisan resin pertama 4. Meletakkan penguatan tekanan pada resin serta membuang udara yang
terjebak dengan menggunakan roler
5. Mengulangi langkah 3 dan 4 sampai ketebalannya memenuhi cetakan 6. Setelah cetakan penuh dan tunggula sampai spesimen yang dibuat
mengering secara total
7. Setelah kering total benda uji dilepas
Gambar 2. 6 Proses Hand lay-up Sumber : (Widiyono et al., 2021)
2.3. Material Penyusun Komposit
komposit seperti yang sudah di jelaskan sebelumnya adalah kombinasi dari dua atau lebih material. Material-material tersebut terbagi menjadi 2 jenis yaitu penguat (reinforcement) dan matrik. Bahan serat berbeda, tetapi serat kaca, karbon dan aramid dapat di gunakan secara universal. Kombinasi kedua bahan ini sering digunakan sebagai resin epoksi dan fenolik yang dapat di sebut komposit.
a. Penguat (filler)
Penguat atau di sebut juga filler memiliki sifat kurang elastis, kaku,
serta lebih kokoh, dimana bentuk penguat biasa berupa serat, kristal atau serat pendek (whiskers) serta jenis organik, anorganik, logam dan keramik.
Bahan penguat utama yang di gunakan dalam pembuatan bahan komposit saat ini adalah kaca, kertas (serat selulosa), kapas, poliamida, dan serat alam lainnya, asbes, sisal dan rami. Agen khusus termasuk karbon grafit, baron, baja dan whiskers. (Serat pendek untuk penguat, sebagian besar terbuat dari kristal). Bahan pengisinya juga berupa serat panjang, filler memiliki beberapa keunggulan termasuk : kekakuan dan kekuatan terhadap panas, konduktivitas termal, stabilitas, kekuatan basah, mobilitas manufaktur, viskositas, ketahanan abrasi dan ketahanan benturan, penyusutan termal eksotermik, koefisien ekspansi, sifat termal, filtrasi dan retak.(Bréchet et al., 2001)
b. Serat alami
Menurut (Suryanto, 2015) serat alami sudah memperlihatkan keunggulan pada beberapa tahun terakhir. Keunggulan menurut serat alami dibandingkan menggunakan serat sintetis harganya relative lebih murah, densitas rendah, mudah lepas, bahan terbarukan dan terbiodegrasi, tidak berbahaya bagi kesehatan. Akibatnya, ada peningkatan upaya buat mengeksplorasi serat alam baru dan penggunaan serat tumbuhan oleh sektor industry yang berbeda, misalnya komposit buat pelaksanaan otomotif dan untuk menggantikan serat sintetis.
Serat alam dapat kita klasifikasikan menurut sumberdaya yang berdasarkan dari tumbuhan, hewan ataupun mineral. Serat tumbuhan terdiri berdasarkan selulosa, sementara serat hewan meliputi (rambut, sutra dan wol) terdiri atas protein-protein, dan serat tanaman terdiri dari serat pohon (stem ataupun sklerekima halus), dan serat-serat keras. Benih, sereal gandum, buah, kayu dan serat rumput-rumput lainnya.
Serat dikelompokkan menjadi 2 kelompok yaitu serat non kayu dan serat kayu, serat non kayu dibagi menjadi dua(Suryanto et al., 2016)
1. Jerami dengan contoh : jagung, gandum, dan padi
2. Kulit pohon, contohnya flax (Linum usitatissimum) , rami (Boehmeira nivea),
Jute (Corchorus) hemp (Cannabis sativa), dan kenaf (Hibiscus cannabicus) 3. Daun, contoh: sisal (Agave sisalana), daun nanas (Ananas comosus), dan
serat henequen(Agavefourcroydes).
4. Serat rumput/grass, contoh: serat bambu, rumput, rotan, switch grass (Panicumvirgatum), dan rumput gajah (Erianthus elephantinus)
Karakteristik serat alam sangatlah bervariasi. Beberapa ciri serat alam antara lain misalnya kandungan solulosa pada serat, derajat polimerisasi solulosa dan sudut mikrofibril serat akan mempengaruhi kekuatan tarik dan modulus.(Bhardwaj et al., 2006)
Tabel 2. 2 Sifat-sifat serat alami dan serat buatan
Sumber : Bagus K
Selain bahan pengikat dan bahan penguat, material komposit juga tersusun dengan bahan tambah lain nya diantaranya meliputi:
1. Aditif
Aditif ialah bahan tambahan yang digunakan untuk mengikat kemampuan proses ataupun mengganti mutu serta sifat produk tersebut dengan meningkatkan bahan tersebut dengan bahan pokok ialah polymer
(resin). Bahan aditif yang kerap digunakan yakni pigmen yang memakai pewarna di samping untuk memberikan nilai elastis yang tinggi dengan memberi hasil warna produk, yang mana berperan untuk melindungi dari sinar yang disebabkan dapan menyerap serta memantulkan sinar tertentu.
2. Katalis
Katalis adalah bahan yang memungkinkan terjadinya proses curing, yang mana proses pengerasan terhadap resin. Harer ini terdiri dari dua bahan yaitu katalisator serta accelator. Katalisator serta accelator akan minimbulkan panas, pengaruh panas ini dibutuhkan untuk mepercepat proses suatu pengeringan serta membuat bahan jadi lebih kokoh. maka demikian apabila panas terlalu tinggi maka akan merusak jaringan antara molekul dan juga akan terjadinya kerusakan pada serat.
3. Katalisator
Katalisator adalah bahan yang mempercepat terjadinya suatu proses ikatan rangkap polimer yang setelah itu akan terjadi pengikat antara molekul- molekul.
4. Accelerator
Accelator ialah bahan yang mempercepat terjadinya ikatan-ikatan yang mana diantara molekul sdah mempunyai ikatan tunggal dan akan mempercepat suatu proses pengerasan.
Bahan utama yang ditambahkan yakni katalis (hardener). Katalis merapikan suatu zat curing yang maksudnya (mengeraskan cairan resin) untuk sistem perekat.
Pengeras bergabung secara kima dengan bahan perakatnya. Pengerasnya yang berbentuk monomer, polimer ataupun suatu senyawa kombinasi. Katalispun digunakan sebagai zat curing serta metingkatkan waktu silang polimernya. semakin banyak katalis digunakan, respon curing hendak akan mempercepat prosesnya. Kelemahan dari katalisakan menimbulkan suatu panas yang besar pada pada saat curing sehingga bisa merusak produk yang dibuat. Produk tersebut bisa menjadi bahan komposit yang getas maupun rapuh. Oleh sebab itu pemberian katalis dibatasi dengan memakai sekitar 1%- 2% dari berat resin.(Aris,2015)
2.3.1 Ketangguhan Impact
Ketangguhan impact merupakan suatu kriteria penting untuk mengetahui kegetasan polimer. Pengujian impact charpy dalam hal ini kerap digunakan, agar dapat mengetahui pengaruh tarikan terdapat metode pengujian dengan tarikan pada benda uji.
Pengujian impact ini dilakukan untuk mengetahui ketangguhan sampel terhadap pembebanan dinamis, sampel benda uji berupa persegi panjang dengan dimensi 120 mm sesuai dengan standar ASTM D – 256. Selanjutnya sampel benda uji di letakkan pada posisi awal dengan sudut 160°, selanjutnya palu di lepaskan dengan secara tiba- tiba dan mengenai sampel benda uji. Sebelum di lakukannya proses pengujian sampel benda uji terlebih dahulu mendapatkan percobaan tanpa sampel penguji. Hal tersebut dilakukan agar mengetahui besarnya energy yang hilang di sebabkan adanya gesekan pada porosnya serta gesekan dengan udara. Setelah itu sampel benda uji di tumbuk hingga sampel patah/retak berikutnya dilakukan pengukuran dengan cara membaca skala yang di tunjukan oleh jarum.
Prinsip pengujian impact ini merupakan dengan menghitung energy yang di berikan beban serta menghitung energy yang di serap oleh benda uji pada saat beban di naikkan pada ketinggia tertentu hingga beban mempunyai energy potensial, berikutnya pada saat menumbuk benda uji energy kinetic mencapai maksimum. Energy yang di serap benda uji akan menyebabkan benda uji mengalami kegagalan, bentuk dari kegagalan ini bergantung pada tipe materialnya apakah patah getas ataupun patah ulet. Kekuatan impact ini bisa dihitung dengan persamaan :
Is = Es/A
Dimana:
Is = Kekuatan impak (kJ/m2) Es = Energi serap (J)
A = Luas permukaan (mm2)
Gambar 2. 7 Ilustrasi Skematis Pengujian Impact Sumber : (Saduk & Niron, 2017)
2.4 Perpatahan Impak
Pepatahan impak dapat digolongkan menjadi 3 jenis yaitu sebagai berikut : 1. Perpatahan berserat atau (fibrous fracture), yang mana perpatahan ini
mengikuti mekanisme pergesar bidang kristal didalam bahan (logam) yang ulet (ductile), yang mana ditandai dengan permukaan patahan berserat yang terbentuk simpel yang dapat menyerap suatu cahaya dan dapat merubah penampilan menjadi buram
2. Perpatahan kristalin/granular, pepatahan ini dihasilkan oleh mekanisme pembelahan oleh butir-butir pada bahan logam yang rapuh (brittle). Permukaan ini ditandai dengan patahan yang datar dan mampu memberikan suatu daya patul pada cahaya yang tinggi.
3. Perpatahan campur (berserat dan granular), jenis patah ini merupakan suatu kombinasi dari dua jenis perpatahan di atas.
2.4.1 Patah Ulet dan Patah Getas
Umumnya perpatahan dapat dibedakan menjadi 2 golongan perpatahan secara umum yaitu sebagai berikut:
a. Patah Ulet/Liat
Yang mana pada patah jenis ini akan ditandai dengan deformasi plastis yang sangat besar, yang mana akan terjadi sebelum dan selama proses perjalan menuju retak
b. Patah Getas
Pada patah jenis ini akan ditandai dengan adanya kecepatan perjalanan retak yang cukup tinggi. Tanpa terjadinya proses deformasi kasar, kemudian sedikit terjadinya proses deformasi mikro.
Ada 3 faktor yang mendukung terjadinya proses patah pada benda ulet menjadi patah getas sebagai berikut :
- Keadaan tegangan pada 3 sumbu/takikan - Suhu rendah
- Laju regangan yang tinggi/ laju pembebanan yang sangat cepat
2.5 Pisang Kepok (musa paradisiaca)
Pisang ialah tanaman yang sangat kerap di jumpai hampir disemua wilayah Indonesia. Tumbuhan pisang merupakan jenis tanaman tumbuh-tumbuhan yang bisa di panen terus menerus, pisang di panen berdasarkan pada tandannya. Mengutip data informasi badan pusat statistic (BPS) volume produksi pisang 2018 sebanyak 30.373
ton, naik 67% dari 2017 sebesar 18.192 ton. Dari total volume ini, nilai eksport mencapai Rp 204,54 miliar naik 70,65% di bandingkan 2017 sebesar Rp 119,86 miliar.
Berdasarkan data tersebut menunjukan produksi buah pisang yang tinggi setiap tahunnya, dan secara tidak langsung menyebabkan kenaikan pada limbah tumbuhan pisang. Oleh sebab itu harus adanya trobosan baru dalam hal pemanfaatan limbah dari tumbuhan pisang selaku bahan penguat komposit dari serat alam.
Adapun langkah-langkah dalam memperoleh ekstraksi untuk mendapatkan serat adalah sebagai berikut: pengambilan pelepah batang pisang kapok setelah itu di potong dengan panjang 40 cm kemudian di jemur selama 3 hari yang bertujuan buat mengurangi kandungan air pada pelepah batang pisang, kemudian memanaskan air hingga 20°C dengan perbandingan 32,5 gram NaOH dengan 1 liter air, setelah itu masukan pelepah batang pisang dan rebus selama 1 jam kedalam laruta NaOH yang telah mendidih setelah selesai proses eksraksi serat pelepah pisang dioven pada temperature 80°C selama 10 jam buat mengeringkan serat, kemudian melakukan penyisiran untuk menghindari serat yang bergumpal seperti pada gambar 2.8 dan 2.9 (Ojahan R & Cahyono,et al., 2015)
Gambar 2. 8 Serat setelah di ekstaksi (Ojahan R & Cahyono, et al., 2015)
Gambar 2. 9 Serat setelah di sisir (Ojahan R & Cahyono, 2015)
Dalam pengujian pada material komposit dari pelepah pohon pisang, sudah ada penelitian dalam hal ini dengan pengujian yang berjudul “analisa sifat banding dan impak komposit berpenguat serat pohon pisang” yaitu dari (Pramono et al., 2019) yang berkesimpulan yaitu:
1. Penambahan fraksi volume serat mampu meningkatkan kekuatan bending komposit berpenguat serat pohon pisang
2. Nilai optimum kekuatan bending di peroleh pada komposit berpenguat 30%
fraksi volume serat sebesar 117,398 N/mm2
3. Hasil uji imapact menunjukkan bahwa semakin besar fraksi vome serat semakin besar energi serap dan ketangguhan impact nya
4. Nilai optimum energi serap dan ketangguhan impak komposit berpenguat serap pohon pisang di peroleh pada komposit dengan 60% fraksi volume serat 28,983 J dengan nilai ketangguhan impact 0,714 J/mm2
2.6 Serat Rami ( boehmeria nivea )
Tanaman rami yang dikenal dengan nama latinnya Boehmeria nive aialah tanaman tahunan berupa rumpun yang bisa menghasilkan serat alam nabati dari pita(
ribbons) pada kulit kayunya yang sangat keras serta mengkilap. Tanaman rami merupakan tanaman tahunan yang berupa rumpun mudah tumbuh dan dikembangkan di daerah tropis, tahan terhadap penyakit serta hama, dan bisa mendukung pelestarian lingkungan. Dalam perihal tertentu serat rami memiliki keunggulan dibanding serat yang yang lain seperti kekuatan tarik, daya serap terhadap air, tahan terhadap kelembapan dan bakteri, tahan terhadap panas dan peringkat nomor dua setelah sutra dibandingkan serat alam yang lainnya serta lebih ringan dibandingkan serat sintetis serta ramah lingkungan.(Purboputro & Hariyanto, 2017)
Secara kimia rami diklasifikasikan ke dalam kategori serat selulosa sama halnya seperti kapas, linen, hemp serta lain- lain. Rami memiliki beberapa keunggulan yang membedakannya dengan serat batang yang lain. Rami mempunyai kompatibilitas yang baik dengan segala tipe serat baik serat alam ataupun sintetis sehingga mudah untuk dicampur dengan jenis serat apapun.(Novarini & Sukardan, 2015)
Jika dibandingkan dengan kapas flax dan hemp maka rami memiliki kekuatan yang paling tinggi.(Marsyahyo et al., 2009) dkk memanfaatkan
a b) c
Gambar 2. 10 a) batang rami segar, b) serat rami setelah perlakuan, c) sampel uji tarik rami tunggal Sumber (Syafri et al., 2015)
keunggulan kekuatan serat rami untuk membuat panel tahan peluru dari komposit serat rami. Dimensi serat rami tidak berganti pada kenaikan kelembaban sampai 25%.
Daya serap terhadap airnya( moisture regain) terbilang besar yaitu 12% sedangkan daya serap kapas cuma 8%. Daya serap yang lebih tinggi ini menjadikan rami lebih sanggup meresap cairan tubuh seperti keringat. Oleh sebab itu rami sangat cocok untuk digunakan sebagai pakaian musim panas. Rami juga memiliki ketahanan yang baik terhadap serangan bakteri, jamur, serangga dan pelapukan, stabilitas ukuran besar, dan ketahanan luntur warna yang baik terhadap sinar dan pencucian. Dengan bermacam keunggulan dan sebagian sifatnya yang menyerupai serat kapas, serat rami diharapkan akan cocok apabila dijadikan sebagai alternatif penghasil serat selulosa untuk mengurangi ketergantungan terhadap kapas impor.
2.7 Komposit Serat
Secara umumnya serat yang sering di gunakan sebagai serat pengisi adalah serat buatan seperti fiberglass, karbon dan grafit, serat buatan ini memiliki kelebihan tetapi harganya mahal. Penggunaan serat alam, yaitu serat pisang dan serat ijuk sebagai alternative pengganti serat buatan akan mengurangi biaya produksi. Hal ini dapat dicapai karena biaya renda dibandingkan serat buatan. Meskipun sifat-sifatnya kalah dari segi keunggulan serat buatan, tetapi tetap di ingat serat alam lebih murah dalam hal biaya pengolahan dan sumber dayanya dapat terus di perbarui. (Kartini et al., 2002)
1. Serat Musa Paradisiaca
Pemilihan serat batang pisang untuk bahan penguat komposit sebagai bahan penelitian di dasarkan pada pertimbangan atas potensi dan banyaknya serat batang pisang di Indonesia dan masih banyak yang di manfaatkan dengan baik. Tujuan dari penelitian ini ialah mengetahui harga impact tertinggi seperti penelitian terdahulu yang di lakukan oleh(Priyanto et al., 2018)
Karakteristik Impak Komposit Unsaturated Polyester Berpenguat Batang Pisang. Fraksi berat serat batang pisang masing-masing specimen di tentukan di tentukan sebesar 5%, 10% dan 10% dan digabungkan konstituen matriks secara acak kedalam cetakan.
Dan ada juga penelitian terdahulu yang di lakukan oleh (Huda, Reisya Nur,2018) Pengaruh Variasi Volume Serat Pelepah Pisang Pada kekuatan Impak Komposit, yang dimana penelitian tersebut berfokus pada pemanfaatan serat batang pisang sebagai bahan alternative material logam.
Pada penelitian tersebut menggunakan variasi fraksi volume 5%, 6%, 7%, dan 8%.
2. Serat Boehmeria Nivea
Pemilihan serat rami untuk bahan penguat komposit sebagai bahan penelitian di dasarkan pada pertimbangan atas potensi dan banyaknya serat rami di Indonesia dan masih banyak yang di manfaatkan dengan baik. Serat rami yang digunakan untuk komposit berukuran pendek, kering, tanpa perlakuan dan ditaruh dalam cetakan secara acakan dengan menggunakan matriks resin polyester bening. Seperti penelitiat yang di lakukan oleh (Sifat et al., 2017) Analisis Sifat Mekanik Komposit Serat Rami Pendek Tanpa Perlakuan Dengan Polyester bening Dengan Variasi Fraksi Volume, penelitian tersebut bersifat eksperimen yang di mana serat rami yang panjang dan kering di potong menjadi 9 cm sesuai cetakan uji impact, kemudian di cari nilai fraksi volume sesuai 8%, 10%, dan 12% serat rami tersebut dan di masukkan kedalam cetakan secara acak.