• Tidak ada hasil yang ditemukan

89 Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "89 Universitas Kristen Petra"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

89 Universitas Kristen Petra

5. PEMBAHASAN

5.1. Penyebab Meluapnya Air Sungai Wai Ruhu dan Wai Batu Merah di Kota Ambon

5.1.1. Penyebab Meluapnya Air Sungai Wai Ruhu

Berdasarkan hasil analisis program HEC-RAS, diketahui bahwa banjir terjadi di beberapa titik pada DAS Wai Ruhu akibat hujan dengan periode ulang 50 tahunan, dimana debit banjir maksimum yang terjadi berdasarkan hasil analisis adalah sebesar 237,31 m3/detik, hal ini terjadi juga dikarenakan adanya pendangkalan sungai di titik-titik tertentu. Oleh karena itu, dalam penelitian ini disarankan untuk dilakukan pengerukan dasar sungai sedalam dua meter untuk mengeluarkan sedimentasi dan endapan yang ada pada daerah dasar sungai dan menyamakan penampang sungai yang tidak seragam. Setelah dilakukan pengerukan sedalam dua meter, kemudian dengan input yang sama seperti penampang melintang pada sungai, hidrograf banjir (yang didapat dari hasil perhitungan Grafik 4.1) dilakukan kembali simulasi pada program HEC-RAS untuk memastikan penampang yang baru sudah mampu menampung debit banjir rencana dengan periode ulang 50 tahun.

Pada kondisi kedua ini digunakan data pasang surut karena pada saat digali sedalam 2 meter permukaan dasar sungai turun sehingga elevasi dasar sungai lebih rendah dibandingkan dengan elevasi muka air laut saat pasang tertinggi sehingga digunakan data pasang surut yang ada, maka hasil analisisnya dapat dilihat pada Gambar 5.1 – Gambar 5.3 .

(2)

90 Universitas Kristen Petra Gambar 5.1 Elevasi Muka Air Sungai dengan Debit Rencana DAS Wai Ruhu

Gambar 5.2 Penampang Melintang Bagian Hilir Setelah Digali Sedalam 2m DAS Wai Ruhu

(3)

91 Universitas Kristen Petra Gambar 5.3 Penampang Melintang Bagian Hulu Setelah Digali Sedalam 2m DAS Wai Ruhu

Setelah dilakukan pengerukan sedalam dua meter sepanjang sungai maka dari hasil simulasi kita dapat melihat permukaan air yang semula melebihi batas atas sungai sudah tidak lagi banjir karena permukaan yang semakin dalam memungkinkan sungai untuk menampung air dengan jumlah yang lebih banyak sehingga dapat mengatasi terjadinya banjir.

5.1.2. Penyebab Meluapnya Air Sungai Wai Batu Merah

Berdasarkan hasil analisis program HEC-RAS, diketahui bahwa banjir terjadi di beberapa titik pada DAS Wai Batu Merah akibat hujan dengan periode ulang 50 tahunan, dimana debit banjir maksimum yang terjadi berdasarkan hasil analisis adalah sebesar 140,4 m3/detik, hal ini terjadi juga dikarenakan adanya pendangkalan sungai di titik-titik tertentu. Oleh karena itu, dalam penelitian ini disarankan untuk dilakukan beberapa langkah untuk mengatasi permasalahan tersebut. Yang pertama dilakukan pengerukan dasar sungai sedalam dua meter untuk mengeluarkan sedimentasi dan endapan yang ada pada daerah dasar sungai, namun setelah dilakukan pengerukan ternyata penampang sungai yang ada masih belum cukup untuk menampung debit dengan periode ulang 50 tahun tersebut.

Untuk itu dilakukan beberapa langkah tambahan pada daerah yang banjir tersebut

(4)

92 Universitas Kristen Petra

dengan melebarkan sungai pada kiri dan kanan daerah bantaran sungai sejauh masing-masing dua meter dan dibuat tanggul setinggi dua meter mulai dari BM.18 hingga BM.41 (dapat dilihat pada Lampiran 6a – Lampiran 6c). Setelah dilakukan pengerukan sedalam dua meter, pelebaran dan peninggian dengan tanggul kemudian dengan input yang sama seperti penampang melintang pada sungai, hidrograf banjir (yang didapat dari hasil perhitungan Gambar 4.18) dilakukan kembali simulasi pada program HEC-RAS untuk memastikan penampang yang baru sudah mampu menampung debit banjir rencana dengan periode ulang 50 tahun.

Pada kondisi kedua ini digunakan data pasang surut karena pada saat digali sedalam dua meter permukaan dasar sungai turun sehingga elevasi dasar sungai lebih rendah dibandingkan dengan elevasi muka air laut saat pasang tertinggi sehingga digunakan data pasang surut yang ada, maka hasil analisisnya dapat dilihat pada Gambar. 5.4 – Gambar. 5.6.

Gambar 5.4 Elevasi Muka Air Sungai dengan Debit Rencana DAS Wai Batu Merah

(5)

93 Universitas Kristen Petra Gambar 5.5 Penampang Melintang Bagian Hilir Setelah Dinormalisasi DAS Wai Batu Merah

Gambar 5.6 Penampang Melintang Bagian Hulu Setelah Dinormalisasi DAS Wai Batu Merah

Setelah dilakukan galian sedalam dua meter sepanjang sungai, pelebaran sungai pada kiri dan kanan daerah bantaran sungai sejauh masing-masing dua meter, pembuatan tanggul setinggi dua meter mulai dari BM 18 hingga BM 41 maka dari hasil simulasi kita dapat melihat permukaan air yang semula banjir dengan periode ulang 50 tahun sudah tidak lagi banjir karena bentuk sungai yang

(6)

94 Universitas Kristen Petra

semakin lebar dan tinggi memungkinkan sungai untuk menampung air dengan jumlah yang lebih banyak sehingga dapat mengatasi terjadinya banjir.

Setelah dilakukan perubahan penampang sungai untuk kedua sungai tersebut, kemudian dibandingkan elevasi muka air sungai setelah normalisasi dengan muka air drainase agar dapat dilihat bahwa air drainase suda dapat mengalir ke sungai atau tidak. Hasil perbandingan elevasi muka air sungai dan muka air drainase dapat dilihat pada Tabel 5.1 - Tabel 5.2.

Tabel 5.1 Perbandingan elevasi muka air sungai dengan elevasi muka air saluran drainase Sungai Wai Ruhu

Jenis Drainase

Sub Area

Elevasi Tanah Sungai

Elevasi M.Air Sungai Banjir

Elevasi M.Air Sungai Normalisasi

Elevasi Tanah Drainase

Elevasi M.Air Drainase

Sek C-D 110 109.8 108.5 110 109.5

Sek E-F 300 301.1 299.2 300 299.5

Sek A-B 75 75.7 73.8 75 74.5

Sek G-H 75 75.2 73 75 74.5

Tabel 5.2 Perbandingan elevasi muka air sungai dengan elevasi muka air saluran drainase Sungai Wai Batu Merah

Jenis Drainase

Sub Area

Elevasi Tanah Sungai

Elevasi M.Air Sungai Banjir

Elevasi M.Air Sungai Normalisasi

Elevasi Tanah Drainase

Elevasi M.Air Drainase

Sek A-B 25 27.7 23.8 25 24.4

Sek E-F 75 76.3 73.5 75 74.5

Sek C-D 25 25.2 23.8 25 24.5

Dari Tabel 5.1 dan Tabel 5.2 dapat dilihat bahwa elevasi muka air drainase lebih tinggi dari elevasi muka air setelah normalisasi, maka dapat disimpulkan bahwa penampang sungai yang baru selain sudah dapat menampung debit yang ada, juga dapat menerima air dari saluran drainase disekitarnya.

(7)

95 Universitas Kristen Petra

5.2. Kemampuan Sistem Drainase Sungai Wai Ruhu dan Wai Batu Merah di Kota Ambon

5.2.1. Kemampuan Sistem Drainase Sungai Wai Ruhu

Berdasarkan perbandingan debit saluran dan debit hujan rencana Sungai Wai Ruhu sebagaimana ditampilkan pada Tabel 4.28, diketahui beberapa jenis drainase tidak mampu menampung debit hujan rencana yang terjadi, sehingga perlu dilakukan perubahan penampang saluran drainase yang ada agar dapat mampu menampung debit rencana yang terjadi. Hasil trial-error menunjukan bahwa dimensi penampang saluran drainase yang memenuhi debit hujan renana dapat dilihat pada Tabel 5.3 – Tabel 5.5.

(8)

96 Universitas Kristen Petra Tabel 5.3 Debit Saluran pada Drainase Wai Ruhu (Setelah perubahan dimensi)

Jenis Drainase Sub Area A (ha) n S B (Lama) (m)

H (Lama) (m)

B (Baru)

(m)

H (Baru)

(m)

A ( ) P (m) R V (m/det) Q ( /det)

Sekunder C-D 3.1179 0.015 0.132 0.6 0.75 0.6 0.75 0.525 2.158 0.24 9.39 4.933

Tersier 5-6 0.8508 0.015 0.050 0.7 0.9 0.7 0.9 0.455 2.221 0.20 5.15 2.345

Tersier 7-8 0.7447 0.015 0.050 0.7 0.9 0.7 0.9 0.455 2.221 0.20 5.15 2.345

Tersier 10-11 0.1344 0.015 0.030 0.3 0.4 0.3 0.4 0.120 1.1 0.11 2.65 0.318

Tersier 12-6 0.5379 0.015 0.040 0.3 0.4 0.3 0.4 0.120 1.1 0.11 3.07 0.368

Tersier 14-8 0.8501 0.015 0.050 0.7 0.9 0.7 0.9 0.525 2.225 0.24 5.66 2.974

Sekunder E-F 5.0122 0.015 0.080 0.65 1.4 0.65 1.4 1.138 3.016 0.38 1.55 11.161

Tersier 17-18 0.1344 0.015 0.030 0.7 0.9 0.7 0.9 0.455 2.05 0.22 4.21 1.916

Tersier 21-19 0.7182 0.015 0.017 0.7 0.9 0.7 0.9 0.455 2.05 0.22 3.17 1.443

Tersier 22-10 1.1631 0.015 0.018 0.7 0.9 0.7 0.9 0.455 2.05 0.22 3.26 1.484

Tersier 23-18 1.1115 0.015 0.030 0.7 0.9 0.7 0.9 0.455 2.05 0.22 4.21 1.916

Tersier 24-19 1.885 0.015 0.014 0.7 0.9 0.7 0.9 0.455 2.05 0.22 2.88 1.309

Sekunder A-B 3.07295 0.015 0.120 0.8 1 0.8 1 0.8 2.6 0.31 1.35 8.387

Tersier 1-2 2.0201 0.015 0.030 0.7 0.9 0.7 0.9 0.63 2.5 0.25 4.59 2.889

Tersier 3-4 1.05285 0.015 0.030 0.7 0.7 0.7 0.7 0.49 2.1 0.23 4.36 2.134

Sekunder G-H 6.40035 0.015 0.080 0.8 1 0.8 1 0.8 2.8 0.29 1.29 6.517

Tersier 26-27 1.9348 0.015 0.020 0.3 0.4 0.7 0.8 0.560 2.300 0.24 3.659 2.049

Tersier 28-27 1.6398 0.015 0.030 0.3 0.4 0.7 0.7 0.490 2.100 0.23 4.355 2.134

Tersier 29-30 1.5096 0.015 0.010 0.3 0.4 0.8 0.7 0.560 2.200 0.25 2.665 1.493

Tersier 31-30 1.31615 0.015 0.050 0.3 0.4 0.6 0.5 0.300 1.600 0.19 4.856 1.457

(9)

97 Universitas Kristen Petra Tabel 5.4 Debit Rencana Saluran Drainase pada Drainase Wai Ruhu (Setelah perubahan dimensi)

Jenis Drainase Sub Area A (ha) n S (m) B (m) H (m) A ( ) P (m) R V (m/det) Qd ( /det)

Sekunder C-D 3.1179 0.015 0.132 5.363 0.537 5.9 0.6 476.1 2.474 5.363

Tersier 5-6 0.8508 0.015 0.050 5.339 0.970 6.309 0.6 293.2 0.416 5.339

Tersier 7-8 0.7447 0.015 0.050 4.421 0.648 5.069 0.6 339.6 0.421 4.421

Tersier 10-11 0.1344 0.015 0.030 4.206 1.075 5.281 0.6 330.3 0.074 4.206

Tersier 12-6 0.5379 0.015 0.040 4.903 1.294 6.197 0.6 305.3 0.274 4.903

Tersier 14-8 5.0122 0.015 0.050 6.247 1.236 7.483 0.6 261.6 0.371 6.247

Sekunder E-F 0.8501 0.015 0.080 5.421 0.527 5.948 0.46 471.1 3.017 5.421

Tersier 17-18 0.1344 0.015 0.030 4.206 0.712 4.918 0.46 346.5 0.06 4.206

Tersier 21-19 0.7182 0.015 0.017 5.355 1.588 6.943 0.46 275 0.252 5.355

Tersier 22-10 1.1631 0.015 0.018 5.082 1.379 6.461 0.46 288.6 0.429 5.082

Tersier 23-18 1.1115 0.015 0.030 5.339 1.187 6.526 0.46 286.7 0.407 5.339

Tersier 24-19 1.885 0.015 0.014 5.737 2.027 7.764 0.46 260.5 0.627 5.737

Sekunder A-B 3.07295 0.015 0.120 4.499 0.331 4.83 0.6 541.6 2.774 4.499

Tersier 1-2 2.0201 0.015 0.030 5.169 1.018 6.187 0.6 297.1 1 5.169

Tersier 3-4 1.05285 0.015 0.030 3.74 0.536 4.276 0.6 380.6 0.668 3.74

Sekunder G-H 6.8078 0.015 0.080 5.339 0.614 5.953 0.46 476.4 4.391 5.339

Tersier 26-27 1.9348 0.015 0.020 5.421 1.412 6.833 0.46 0.89 793.35 1.961

Tersier 28-27 1.6398 0.015 0.030 5.255 1.110 6.365 0.46 0.754 832.02 1.743

Tersier 29-30 1.5096 0.015 0.010 6.268 2.645 8.913 0.46 0.694 663.97 1.281

Tersier 31-30 1.31615 0.015 0.050 5.363 0.721 6.084 0.46 0.605 857.51 1.442

(10)

98 Universitas Kristen Petra Tabel 5.5 Perbandingan Debit Saluran dan Debit Rencana Debit Rencana pada Drainase Wai Ruhu (setelah perbaikan dimensi)

Jenis

Drainase Kode Q

(Debit Saluran)

Qd

(Debit Limpasan) Keterangan

Sekunder C-D 4.933 2.474 OK

Tersier 5-6 2.345 0.416 OK

Tersier 7-8 2.345 0.421 OK

Tersier 10-11 0.335 0.074 OK

Tersier 12-6 0.387 0.274 OK

Tersier 14-8 2.974 0.371 OK

Sekunder E-F 11.161 3.017 OK

Tersier 17-18 1.916 0.06 OK

Tersier 21-19 1.443 0.252 OK

Tersier 22-10 1.484 0.429 OK

Tersier 23-18 1.916 0.407 OK

Tersier 24-19 1.309 0.627 OK

Sekunder A-B 8.387 2.774 OK

Tersier 1-2 2.889 1 OK

Tersier 3-4 2.134 0.668 OK

Sekunder G-H 6.517 4.391 OK

Tersier 26-27 2.049 1.961 OK

Tersier 28-27 2.134 1.743 OK

Tersier 29-30 1.493 1.281 OK

Tersier 31-30 1.457 1.442 OK

Dari Tabel 4.32-Tabel 4.34 dapat dilihat bahwa pada drainase tersier 28-27 yang semula tidak memenuhi kepasitas perencanaan, kemudian direncanakan untuk memperbesar penampang menjadi berbentuk persegi dengan ukuran 70 x 70 cm, pada drainase tersier 29-30 direncanakan memperbesar penampang menjadi berbentuk persegi dengan ukuran 80 x 70 cm, dan pada drainase tersier 31-30 direncanakan memperbesar penampang menjadi berbentuk persegi dengan ukuran 60 x 50 cm.

Dari hasil perbaikan penampang yang direncanakan dapat dilihat pada Tabel.34 bahwa deimensi saluran yang ada suda cukup untuk menampung debit hujan yang direncanakan.

(11)

99 Universitas Kristen Petra

5.2.2. Kemampuan Sistem Drainase Sungai Wai Batu Merah

Berdasarkan perbandingan debit saluran dan debit hujan rencana Sungai Wai Batu Merah sebagaimana ditampilkan pada Tabel 4.31, diketahui beberapa jenis drainase tidak mampu menampung debit hujan rencana yang terjadi, sehingga perlu dilakukan perubahan penampang saluran drainase yang ada agar dapat mampu menampung debit rencana yang terjadi. Hasil trial-error menunjukan bahwa dimensi penampang saluran drainase yang memenuhi debit hujan renana dapat dilihat pada Tabel 5.6 – Tabel 5.8.

(12)

100 Universitas Kristen Petra Tabel 5.6 Debit Saluran Drainase Wai Batu Merah (Setelah perubahan dimensi)

Jenis Drainase Sub Area A (ha) L (m) n S (m) B (Lama) (m)

H (Lama) (m)

B (Baru)

(m)

H (Baru)

(m)

A ( ) P (m) R V (m/det) Q ( /det)

Sekunder A-B 2.5972 597 0.015 0.08 2.1 1.5 2.1 1.5 3.450 7.54 0.458 11.167 38.528

Tersier 1-2 2.1069 250 0.015 0.04 0.4 0.5 0.7 0.8 0.560 2.3 0.243 5.174 2.898

Tersier 3-4 0.4903 260 0.015 0.04 0.4 0.5 0.4 0.5 0.200 1.4 0.143 3.620 0.724

Sekunder E-F 1.9332 101 0.015 0.25 2 1.8 2 1.8 4.081 9.48 0.430 18.950 77.327

Tersier 17-18 0.2065 80 0.015 0.125 0.6 0.5 0.6 0.5 0.300 1.7 0.176 7.373 2.212

Tersier 24-19 0.3717 166 0.015 0.06 0.6 0.5 0.6 0.5 0.300 1.7 0.176 5.108 1.532

Tersier 23-18 0.786 147 0.015 0.07 0.6 0.5 0.6 0.5 0.300 1.7 0.176 5.517 1.655

Tersier 21-19 0.235 40 0.015 0.125 0.6 0.5 0.6 0.5 0.300 1.7 0.176 7.373 2.212

Tersier 22-10 0.3394 35 0.015 0.57 0.6 0.5 0.6 0.5 0.300 1.7 0.176 15.744 4.723

Sekunder C-D 4.6518 176 0.015 0.14 1 1 1 1 1.000 3 0.333 11.948 11.948

Tersier 5-6 3.4193 310 0.015 0.03 1 0.8 1 0.8 0.800 2.8 0.286 4.988 3.991

Tersier 12-6 0.1653 80 0.015 0.125 0.6 0.5 0.6 0.5 0.300 1.7 0.176 7.373 2.212

Tersier 14-9 0.8963 236 0.015 0.04 0.6 0.5 0.6 0.5 0.300 1.7 0.176 4.171 1.251

Tersier 7-9 0.1709 159 0.015 0.03 0.6 0.5 0.6 0.5 0.300 1.7 0.176 3.612 1.084

(13)

101 Universitas Kristen Petra Tabel 5.7 Debit Rencana Saluran Drainase Wai Batu Merah (Setelah perubahan dimensi)

Jenis Drainase Sub Area A (ha) L (m) n S (m) to (menit) td (menit) tc (menit) C I (mm/det) Qd ( /det)

Sekunder A-B 2.5972 597 0.015 0.08 9.73 0.89 10.62 0.6 911.75 3.95

Tersier 1-2 2.1069 250 0.015 0.04 6.48 0.81 7.29 0.6 760.06 2.67

Tersier 3-4 0.4903 260 0.015 0.04 6.6 1.2 7.8 0.6 726.28 0.59

Sekunder E-F 1.9386 101 0.015 0.25 4.24 0.09 4.33 0.51 1662.49 4.55

Tersier 17-18 0.2065 80 0.015 0.125 3.81 0.18 3.99 0.51 1138.31 0.33

Tersier 24-19 0.3717 166 0.015 0.06 5.35 0.54 5.89 0.51 876.04 0.46

Tersier 23-18 0.786 147 0.015 0.07 5.06 0.44 5.5 0.51 917.49 1.02

Tersier 21-19 0.235 40 0.015 0.125 2.75 0.09 2.84 0.51 1427.44 0.48

Tersier 22-10 0.3394 35 0.015 0.57 2.59 0.04 2.63 0.51 1506.49 0.72

Sekunder C-D 4.6518 176 0.015 0.14 5.5 0.25 5.75 0.6 1376.08 10.67

Tersier 5-6 3.4193 310 0.015 0.03 7.16 1.04 8.2 0.6 702.12 4

Tersier 12-6 0.1653 80 0.015 0.125 3.81 0.18 3.99 0.6 1138.31 0.31

Tersier 14-9 0.8963 236 0.015 0.04 6.31 0.94 7.25 0.6 762.46 1.14

Tersier 7-9 0.1709 159 0.015 0.03 5.24 0.73 5.97 0.6 867.63 0.25

(14)

102 Universitas Kristen Petra Tabel 5.8 Perbandingan Debit Saluran dan Debit Rencana Debit Rencana Drainase

Wai Batu Merah (setelah perbaikan dimensi) Jenis Drainase Kode Q

(Debit Saluran)

Qd

(Debit Limpasan) Keterangan

Sekunder A-B 38.524 3.59 OK

Tersier 1-2 2.898 2.67 OK

Tersier 3-4 0.724 0.59 OK

Sekunder E-F 76.382 4.55 OK

Tersier 17-18 2.212 0.33 OK

Tersier 24-19 1.532 0.46 OK

Tersier 23-18 1.655 1.02 OK

Tersier 21-19 2.212 0.48 OK

Tersier 22-10 4.723 0.72 OK

Sekunder C-D 11.948 10.67 OK

Tersier 5-6 3.991 3.89 OK

Tersier 12-6 2.212 0.31 OK

Tersier 14-9 1.251 1.14 OK

Tersier 7-9 1.084 0.25 OK

Dari Tabel 4.32-Tabel 4.34 dapat dilihat bahwa pada drainase tersier 1-2 yang seluma tidak cukup menampung debit hujan rencana yang ada, kemudian direncanakan memperbesar penampang saluran tersier tersebut menjadi berbentuk persegi dengan ukuran 70 x 80 cm. Dari hasil perbaikan penampang yang direncanakan dapat dilihat pada Tabel 5.8 bahwa dimensi saluran yang ada suda cukup untuk menampung debit hujan yang direncanakan.

Referensi

Dokumen terkait

Karena pada analisis tersebut nilai alpha yang digunakan adalah 5%, maka variabel yang dianggap mempengaruhi perubahan penggunaan lahan di Kecamatan Driyorejo

Mengutip pendapat Fogarty, dalam Syaifuddin Sabda mengemukakan kurikulum terpadu integrated curriculum sebagai suatu model kurikulum yang dapat mengintegrasikan skills,

Bahwa didalam Undang Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris disebutkan bahwa didalam proses pembuatan satu akta harus “dihadiri oleh para penghadap, dihadiri

Puji dan syukur peneliti panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas kasih dan rahmatNya yang begitu besar sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul “

Berdasarkan Peraturan Bupati Lamongan Nomor 62 Tahun 2019 tentang Kedudukan, Struktur Organisasi, Tugas dan Fungsi serta Tata Kerja Sekretariat Daerah Kabupaten

Dalam melakukan optimasi parameter SVM dengan menggunakan metode Taguchi dapat dilakukan dua tahapan yaitu yang pertama melakukan klasifikasi SVM dengan menggunakan

Pada penelitian tersebut, peneliti menerapkan pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAKEM) pada mata pelajaran IPS dan hasil penelitian

Dipublikasikan dalam jurnal Ilmiah Nasional terakreditasi Mudra Jurnal Seni Budaya Penerbit ISI Denpasar..