• Tidak ada hasil yang ditemukan

FANNI WULANDARI, NIM,

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "FANNI WULANDARI, NIM,"

Copied!
106
0
0

Teks penuh

(1)

1

Jorong Koto Tuo Nagari Salimpaung)” jurusan Hukum Ekonomi Syariah Fakultas Syariah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Batusangkar.

Pokok permasalahan dalam skripsi ini adalah bagaimana pelaksanaan jual beli sayur mayur di Jorong Koto Tuo Salimpaung di tinjau dari fiqh muamalah.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pelaksanaan jual beli sayur mayur di Jororng Koto Tuo Salimpaung dan mengetahui tinjauan fiqh muamalah terhadap pelaksanaan jual beli sayur mayur di Jorong Koto Tuo Salimpaung.

Teknik pengambilan data yang dilakukan adalah melalui wawancara.

Metode penelitian yang dilakukan adalah metode penelitian kualitatif dengan jenis penelitian lapangan (field research) dengan sumber data primer terdiri dari petani dan toke yang ada di Jorong Koto Tuo Salimpaung. Adapun analisis data yang dilakukan yaitu menghimpun sumber-sumber data yang berkaitan dengan masalah yang diteliti, membaca sumber-sumber data yang telah dikumpulkan, membahasmasalah-masalah yang diajukan, menginterprestasikan berdasar kan pandangan pakar sehingga terpecah masalah, kemudian menarik kesimpulan akhir terhadap pelaksanaan akad jual beli sayur mayur di Jorong Koto Tuo Salimpaung.

Dari penelitian yang sudah penulis lakukan tentang tinjauan fiqh muamalah terhadap jual beli sayur mayur oleh toke di Jorong Koto Tuo Salimpaung dapat disimpulkan bahwa sistem dari jual beli sayur mayur adalah petani memberikan sayuran kepada toke dengan perjanjian pembayaran akan dilakukan setelah toke pulang dari berjualan atau setelah sayur telah terjual habis,namun terjadi perubahan harga yang dilakukan secara sepihak oleh toke tanpa memberitahukan kepada petani yang mengakibatkan petani mengalami kerugian. Pandangan fiqh muamalah terhadap jual beli sayur mayur yang ada di Jorong Koto Tuo Salimpaung telah memenuhi rukun dan syarat jual beli dalam fiqh muamalah namun adanya perubahan perjanjian yang telah disepakati di awal yang mengakibatkan petani tidak ridho. Jual beli ini sah namun adanya wanprestasi (ingkar janji) yang dilakukan oleh toke terhadap petani.

(2)

DAFTAR ISI DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Fokus Masalah ... 5

C. Rumusan Masalah ... 5

D. Tujuan Penelitian ... 6

E. Manfaat dan Luaran Penelitian ... 6

F. Defenisi Operasional ... 6

BAB II KAJIAN TEORI A. LandasanTeori ... 7

1. Pengertian Jual Beli... 7

2. Pembagian-pembagian jual beli ... 19

3. Etika jual beli ... 28

4. Akad dalam jual beli ... 44

5. Moral hazard ... 48

6. Kejujuran dalam bertransaksi ... 50

B. Penelitian yang relevan ... 52

BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian ... 54

B. Latar dan Waktu Penelitian ... 54

C. Instrumen Penelitian... 54

D. Sumber Data ... 55

E. Metode Pengumpulan Data ... 55

F. Tekhnik Analisis Data ... 56

G. Tekhnik Penjamin Keabsahan Data ... 57

BAB IV TEMUAN/ HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 58

(3)

B. Pelaksanaan Jual Beli Sayur Mayur di Jorong Koto Tuo ... 62 C. Pandangan Fikih Muamalah Terhadap Jual Beli Sayur Mayur di Jorong

Koto Tuo ... 67 BAB V PENUTUP

A. Simpulan ... 75 B. Saran ... 76

(4)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Dalam agama Islam, aktifitas jual beli sudah diatur dengan baik oleh Allah SWT dalam Al-Qur‟an dan dalam bentuk hadist maupun sunnah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. Sehingga sudah semestinya umat Islam tidak keluar dari koridor ketentuan akan jual beli.

Guna mencermati transaksi seperti apa sajakah yang diperbolehkan dalam Islam dan yang mana transaksi yang terlarang, oleh karena itu kita harus menambah wawasan dan kajian dari segala aktifitas jual beli yang dilakukan oleh umat Islam (Syukri Iska, 2012).

Jual beli adalah suatu perjanjian tukar-menukar benda atau barang yang mempunyai nilai secara sukarela di antara kedua belah pihak, yang satu menerima benda-benda dan pihak lain menerimanya sesuai dengan perjanjian atau ketentuan yang telah dibenarkan syara‟ dan disepakati.

Sesuai dengan ketetapan hukum maksudnya adalah memenuhi persyaratan-persyaratan, rukun-rukun, dan hal-hal lain yang ada kaitannya dengan jual beli sehingga bila syarat-syarat dan rukunnya tidak terpenuhi berarti tidak sesuai dengan ketentuan syara‟(Hendi Suhendi, 2008:69).

Jual beli menurut mazhab Hanafi terdapat dua definisi. Pertama, saling menukar harta dengan harta melalui cara tertentu. Kedua, tukar menukar sesuatu yang diingini dengan yang sepadan melalui cara tertentu yang bermanfaat. Unsur-unsur definisi ini mengandung pengertian bahwa cara khusus yang dimaksud ulama mazhab Hanafi adalah melalui ijab (ungkapan membeli dari pembeli) dan kabul (pernyataan menjual dari penjual), atau juga bisa melalui saling memberikan barang dan harga antara penjual dan pembeli. Disamping itu harta yang diperjualbelikan itu harus bermanfaat bagi manusia, sehingga bangkai, minuman keras, dan darah tidak termasuk sesuatu yang boleh diperjualbelikan, karena benda- benda tersebut tidak bermanfaat bagi muslim. Apabila jenis-jenis barang

(5)

seperti itu tetap diperjualbelikan, menurut ulama mazhab Hanafi, jual belinya tidak sah. (Abdul Aziz, 1997: 827)

Berdasarkan definisi di atas dapat dipahami bahwa jual beli merupakan tukar menukar secara barter yaitu barang dengan barang atau barang dengan uang melalui syarat-syarat tertentu, di antara syarat-syarat itu adalah adanya saling Ridho di antara kedua belah pihak yang bertransaksi.Sebagaimana firman Allah SWT dalam Q.S An-nisa‟ :29















Artinya “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu salingmemakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang Berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu”

Prinsip jual beli adalah perjanjian tukar menukar barang dengan barang atau uang dengan barang dengan jalan melepaskan hak milik dari barang tersebut dengan dasar saling merelakan.Dalam jual beli terdapat rukun dan syarat sehingga jual beli dapat dikatan sah oleh syara‟.

Rukun jual beli adalah shighat yaitu ijab dan Kabul yang artinya pemberian hak oleh penjual dan penerima hak oleh pembeli, ada pihak yang berakad yaitu penjual dan pembeli, barang yang diakadkan yaitu barang yang akan dipindahkan dari tangan salah seorang yang berakad kepada pihak lain (Abdul Aziz Muhammad Azzam, 2014: 28)

Syarat jual beli yang sah menurut syara‟ adalah harus berakal, agar tidak terkecoh (orang gila atau bodoh tidak sah jual belinya), dilakukan dengan kehendaknya sendiri (tidak dipaksa), keduanya tidak mubazir, dan baligh (Chairuman Pasaribu, 2004: 35).

(6)

Praktek jual beli yang terjadi di Jorong Koto Tuo Nagari Salimpaung adalah petani menjual langsung hasil panen kepada toke yang ada di daerah tersebut, dengan kesepatan toke akan membayar pada saat kembali dari kota. Jual beli ini merupakan kebiasaan masyarakat dalam rangka menjual hasil panen dan memenuhi kebutuhan sendiri yang terjadi antara kedua belah pihak.

Berdasarkan hasil wawancara yang telah penulis lakukan dengan Kepala Jorong Koto Tuo Salimpaung, penulis mendapatkan data sebagai berikut:

Nama Jumlah

KK 558 KK

Penduduk 1864 Jiwa

Petani 413 KK

Toke 10 – 12 Orang

Pedagang 103 KK

PNS Kurang lebih 30 Jiwa

Berdasarkan wawancara yang telah penulis lakukan dengan petani dan juga toke, maka penulis dapat melakukan penelitian terhadap para petani dan juga toke yang ada di Jorong Koto Tuo.Petani yang penulis teliti adalah petani sayur mayur seperti tomat, buncis, bunga kol, lobak, cabe, terong.

Pelaksanaan jual beli sayur mayur yang ada di Jorong Koto Tuo ini dilakukan oleh toke dengan petani dengan cara petani mengantarkan sayuran ke gudang tempat toke melakukan pengemsan barang untuk dijual kembali ke Pekanbaru. Akad yang dilakukan oleh petani dan toke adalah akad jual beli yang dilakukan secara lisan.Sistim pembayarannya yaitu dibayarkan setelah toke kembali atau toke telah menjual sayuran tersebut dengan jangka waktu pembayaran dua hari.Harga yang dibayarkan sesuai dengan perjanjian diawal yang mana harga tersebut ditetapkan berdasarkan harga pasar. Namun yang terjadi dalam transaksi jual beli sayur mayur yang dilakukan oleh toke dengan petani adalah toke tidak membayarakan

(7)

harga sayuran sesuai dengan kesepakatan di awal dikarenakan beberapa alasan seperti macet, hujan dan banyaknya barang yang masuk sehingga banyak sayuran yang tidak terjual.

Ketika ketika petani dan toke melakukan perjanjian tidak disebutkan jika terjadi sesuatu hal yang mengakibatkan banyaknya sayuran yang tersisa akan mengurangi harga, petani dan toke hanya menyepakati harga akan dibayarkan setelah toke kembali. Namun yang terjadi di Jorong Koto Tuo toke melakukan perubahan harga dari yang telah disepakati secara sepihak tanpa memberitahukan kepada petani terlebih dahulu, hal ini menyebabkan adanya kerugian bagi petani karena pengurangan harga tersebut.

Kegiatan ini penulis amati di Jorong Koto Tuo Nagari Salimpaung dalam transaksi jual beli sayur-mayur yang mana pembayaran dilakukan setelah sayur mayur itu terjual habis. Jual beli ini sudah menjadi kebiasaan bagi masyarakat di Jorong Koto Tuo. Para petani memberikan sayur- mayur kepada pembeli dengan harga yang telah disepakati namun uangnya belum dibayarkan, karena toke harus menjual sayur-sayur tersebut ke kota terlebih dahulu. Ketika toke telah pulang berjualan dari kota barulah uang tersebut dibayarkan kepada petani. (Wawancara, Rosmidarnis, Petani, 23 Desember 2018).

Uang dari toke diberikan berdasarkan hasil penjualan dipasar dengan harga yang tidak sesuai dengan yang telah disepakati, dalam hal ini terjadi perubahan akad antara toke dan petani karena harga yang dibayarkan tidak sesuai dengan kesepakatan awal.

Hal serupa juga diungkapkan oleh Adrial seorang petani, beliau mengatakan bahwa setiap hasil panen beliau akan langsung menyerahkan hasil panen tersebut kepada toke langganannya dengan kesepakatan uang akan di bayarkan setelah toke tersebut kembali dari kota. (Wawancara, Adrial, Petani 24 Desember 2018).

Menurut Yuskal, salah seorang petani mengatakan bahwa pembayaran memang dilakukan setelah toke kembali, jumlahnya akan

(8)

sesuai dengan kesepakatan awal, kecuali jika ada hal-hal yang tidak terduga yang terjadi selama perjalanan. Maka, harga yang dibayarkan akan diserahkan kepada toke saja.(Wawancara, Yuskal, Petani, 4 Januari 2019)

Hal yang sama juga diungkapkan oleh syamsuar seorang petani bahwa ia akan memberikan hasil panen kepada toke dan dengan kesepakatan uang nya akan di bayarkan setelah toke menjual hasil tani tersebut, yang mengakibatkan adanya perubahan akad karena harga yang telah disepakati tidak sama dengan harga yang dibayarkan setelah sayur mayur itu terjual. (Wawancara, Syamsuar, Petani, 4 januari 2019).

Menurut Yusnati, salah seorang toke yang biasa membawa hasil panen masyarakat Jorong Koto Tuo ke kota menyatatkan bahwa memang benar beliau akan membawa hasil panen tersebut ke kota dan akan membayarnya pada saat telah kembali. Sedangkan harga yang akan dibayarkan sesuai dengan kesepakan awal, kecuali jika terjadi hal-hal yang menyebabkan harga jual menjadi lebih murah. Hal ini menyebabkan toke akan membayar tidak sesuai dengan kesepakatan awal. (Wawancara, Yusnati, Toke, 24 Desember 2018)

Menurut Wir, pembayaran memang dilakukan setelah toke kembali dari kota. Sedangkan harganya tergantung pada kesepakatan awal, sesuai dengan pasaran harga yang berlaku pada hari transaksi, apabila ada kendala yang tidak bisa dihindari yang menyebabkan harga jual toke menurun, maka toke akan membayar sesuai dengan harga yang dijualnya di pasar (Wawancara, Wirdahayati, 24 Desember 2018)

Hal yang sama juga di ungkapkan oleh Mar, bahwasanya pembayaran memang dilakukan setelah beliau kembali menjual hasil panen tersebut ke kota. Terkait harga, akan di bayarkan sesuai dengan harga awal yang telah sepakati, kecuali ada kendala yang tidak dapat dihidari (Wawancara, Mar, Toke, 4 Januari 2019)

Perubahan akad yang penulis maksud adalah adanya ketidak sesuaian harga yang telah disepakati oleh kedua belah pihak diawal dengan yang dibayarkan setelah sayur mayur terjual habis.Spesifikasi yang

(9)

penulis bahas dalam skripsi ini adalah sayur mayur yang mudah busuk seperti sayuran lobak, tomat, dll.

Berdasarkan observasi awal yang penulis lakukan terhadap praktek jual beli sayur mayur di Jorong Koto Tuo Nagari Salimpaung, maka penulis tertarik untuk membahas permasalahan tersebut dan mengangkatnya kedalam sebuah karya ilmiah yang berjudul“Tinjauan Fiqh Muamalah Terhadap Jual Beli Sayur Mayur Oleh Toke (Studi Kasus Di Jorong Koto Tuo Nagari Salimpaung)”

B. Fokus Penelitian

Berdasarkan latar belakang di atas, maka fokus penelitiannya adalah :pelaksanaan jual beli sayur mayur di Jorong Koto Tuo Nagari Salimpaung Kecamatan Salimpaung di tinjau dari Fiqh Muamalah

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusanmasalah adalah:

1. Bagaimana pelaksanaan jual beli sayur mayur di Jorong Koto Tuo Nagari Salimpaung Kecamatan Salimpaung ?

2. Bagaimana tinjauan fiqh muamalah terhadap pelaksanaan jual beli sayur mayur di Jorong Koto Tuo Nagari Salimpaung.

D. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui dan menjelaskan pelaksanaan jual beli sayur mayur di Jorong Koto Tuo Nagari Salimpaung Kecamatan Salimpaung.

2. Untuk mengetahui dan menjelaskan tinjauan fiqh muamalah terhadap pelaksanaan jual beli sayur mayur di Jorong Koto Tuo Nagari Salimpaung.

(10)

E. Manfaat dan Luaran Penelitian

Manfaat dari penelitian dapat ditinjau dari dua aspek yaitu secara teoritis dan praktis.

1. Kegunaan secara teoritis

Melalui penelitian ini dapat menjadi motivasi bagi peneliti sendiri pada khususnya dan bagi pihak yang berkepentingan pada umumnya baik antara pihak penjual dan pembeli.

Hasil penelitian ini diharapkan juga dapat menjadi landasan berpijak untuk pedoman jual beli di masyarakat.

2. Kegunaan secara praktis

Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai masukan bagi penjual dan pembeli khususnya dan juga bagi masyarakat lain agar tidak bertindak dengan sendirinya tanpa adanya landasan.

F. Defenisi Operasional

Tinjauan adalah pemeriksaan yang teliti, penyelidikan, kegiatan pengumulan data, pengolahan, analisa dan penyajian data yang dilakukan secara sistematis dan objektif untuk memecahkan suatu persoalan.(tinjauan yang penulis maksud adalah melihat atau mengamati pelaksanaan jual beli sayur mayur di Jorong Koto Tuo).

Jual beli adalah menukar barang dengan barang atau barang dengan uang yang dilakukan dengan jalan melepaskan hak milik dari yang satu kepada yang lain atas dasar saling merelakan (Hasan, 2004: 113).

(pelaksanaanjual beli yang penulis maksud disini adalah pelaksanaan akad jual beli sayur mayur yang pembayarannya tidak dilakukan pada hari transaksi).

Sayur mayur adalah daun-daunan (seperti sawi), tumbuh- tumbuhan (taoge), polong atau bijian (kapri, buncis) dsb yg dapat dimasak.(Kamus Besar Bahasa Indonesia).Sayur mayur yang penulis

(11)

maksud dalam penelitian ini adalah tomat, buncis, cabe, bunga kol, lobak, dan terong.

Fikih muamalah adalah ilmu tentang hukum-hukum syara‟ yang mengatur hubungan atau interaksi antara manusia yang lain dalam bidang ekonomi (Ahmad, 2010, p. 1). (fikih muamalah yang penulis maksud disini adalah ketentuan-ketentuan fikih yang mengatur tentang jual beli).

Tinjauan fikih muamalah yang penulis maksud adalah pelaksanaaan jual beli sayur mayur oleh petani kepada toke yang mana penyerahan barang dan pembayaran uang tidak dilakukan dalam waktu yang sama, namun ketika pembayaran dilakukan tidak sesuai dengan kesepakatan awal.

(12)

BAB II KAJIAN TEORI

A. Landasan Teori

1. Akad dalam Jual Beli a. Pengertian Akad

Lafal akad berasal lafal Arab al-aqd yang berarti perikatan, perjanjian, dan permufakatan al-ittifaq.(Harun, 2007, p. 97)

Dalam terminologi hukum Islam“akad adalah pertalian antara ijab dan qabul yang dibenarkan oleh syara‟ yang menimbulkan akibat hukum terhadap obyeknya”. Yang dimaksud dengan ijab dalam definisi akad adalah ungkapan atau pernyataan kehendak melakukan perikatan (akad) oleh satu pihak, biasanya disebut sebagai pihak pertama. Sedang qabul adalah pernyataan atau ungkapan yang menggambarkan kehendak pihak lain, biasanya dinamakan pihak kedua, menerima atau menyetujui pernyataan ijab.(Mas‟adi, 2002, p. 76-77)

Makna akad secara syar‟i yaitu: “Hubungan antara ijab dan kabul dengan cara yang dibolehkan oleh syariat yang mempunyai pengaruh secara langsung”. Ini artinya bahwa akad termasuk dalam kategori hubungan yang mempunyai nilai menurut pandangan syara‟ antara dua orang sebagai hasil dari kesepakatan antara keduanya yang kemudian dua keinginan itu dinamakan ijab dan qabul. (Azzam, 2014, p. 17)

Ijab qabul adalah salah satu bentuk indikasi yang meyakinkan tentang adanya rasa suka sama suka. Syarat dari ijab kabul adalah menggunakan bahasa yang jelas dan sama-sama dipahami kedua belah pihak untuk menunjukkan rasa suka; menggunakan lafaz yang mengandung maksud berlaku waktu lalu (ئظاٌّا) bersambungan diantara keduanya dalam suatu pengucapan.

Syarat yang mesti dipenuhi oleh kedua belah pihak yang melakukan transaksi adalah bahwa ijab dan kabul itu dilakukan dengan sadar dan sengaja oleh orang yang telah sempurna akalnya (ز١ٌّّا). Hal

(13)

ini mengandung arti bahwa transaksi jualbeli tidak memenuhi syarat dan oleh karenanya tidak sah bila dilakukan oleh orang gila atau anak- anak yang belum mumayyiz. (Syarifuddin, 2010, p. 195)

b. Rukun Akad dan Syarat-Syaratnya

Terdapat perbedaan pandangan dikalangan Fuqoha berkenaan dengan rukun akad. Menurut Fuqoha jumhur rukun akad terdiri atas:

1) Al-aqidain, para pihak yang terlibat langsung dengan akad.

2) Mahallul „aqd (obyek akad), yakni sesuatu yang hendak diakadkan.

3) Sighat al-aqd, yakni pernyataan kalimat akad, yang lazimnya dilaksanakan melalui pernyatan ijab dan pernyataan qabul(Mas'adi, 2002, p. 78)

Adapun syarat-syarat yang harus terdapat dalam segala macam syarat, ialah: (Shiddieqy, 2009, . 29-30)

1) Ahliyatul „aqidaini (kedua belah pihak cakap berbuat).

2) Qabiliyatul mahallil aqdi li lukmini (yang dijadikan obyek akad, dapat menerima hukumnya).

3) Al wilyatus syari‟iyah fi maudlu‟il „aqdi (akad itu diizinkan oleh Syara‟, dilakukan oleh orang yang mempunyai hak melakukannya dan melaksanakannya, walaupun dia bukan si aqid sendiri).

4) Alla yakunal „aqdu au maudlu‟uhu mamnu‟an binashshin syar‟iyin (janganlah akad itu akad yang dilarang Syara‟). Seperti bai‟

mulamasah, bai‟ munabadzah yang banyak yang banyak diperkatakan dalam kitab kitab Hadis.

5) Kaunul „aqdi mufidan (akad itu memberi faedah). Karenanya tidaklah sah rahan sebagai imbalan amanah.

6) Baqaul ijbabi shalihan ila mauqu‟il qabul. Ijab itu berjalan terus, tidak dicabut, sebelum terjadi qabul). Maka apabila si mujib menarik kembali ijabnya sebelum qabul batallah ijab.

7) Ittihadu majlisil „aqdi (bertemu di majlis akad). Karenanya, ijab menjadi batal apabila sampai kepada berpisah yang seorang dengan

(14)

yang lain, sebeum ada qabul. Syarat yang ke tujuh ini disyaratkan oleh mazhab Asy Syafi‟y, tidak terdapat dalam madzhab-madzhab yang lain.

c. Pembagian Macam-Macam Akad 1) Akad Shahih dan Ghairu Shahih

Akad shahih adalah akad yang memenuhi seluruh persyaratan berlakunya pada setiap unsur akad. (Mas'adi, 2002, p. 103) Sedangkan akad ghoiru shahih adalah akad yang sebagian unsurnya atau sebagian rukunnya tidak terpenuhi. (Mas'adi, 2002, p. 104)

1) Akad Musamma dan Akad Ghoiru Musamma

Perbedaan jenis akad ini adalah dari segi penamaan yang dinyatakan oleh Syara‟. Sejumlah akad yang disebutkan oleh Syara‟ dengan terminologi tertentu beserta akibat hukumnya dinamakan akad musamma. Sedangkan akad ghoiru musamma adalah akad yang mana Syara‟ tidak menyebutkan dengan terminologi tertentu dan tidak pula menerangkan akibat hukum yang ditimbulkannya. Akad ini berkembang berdasarkan kebutuhan manusia dan perkembangan kemaslahatan masyarakat. (Mas'adi, 2002, p. 106)

2) Dari Segi Maksud dan Tujuannya

a. Akad al-tamlikiyyah, yakni akad yang dimaksud sebagai proses kepemilikan, baik kepemilikian benda maupun pemilikan manfaat.

b. Akad al-isqoth, yakni akad yang dimaksudkan untuk menggugurkan hak, baik disertai imbalan atau tidak. Jika tidak disertai imbalan dinamakan akad isqoth al-mabdhi.

c. Akad al-ithlaq, adalah akad yang menyerahkan suatu urusan dalam tanggung jawab orang lain.

(15)

d. Akad al-taqyid, yaitu akad yang bertujuan untuk mencegah seseorang bertasharruf. Akad al-tawtsiq, yaitu akad yang dimaksudkan untuk menanggung piutang seseorang atau jaminannya.

e. Akad al-isytirak, yaitu akad yang bertujuan untuk bekerjasama dan berbagi hasil.

f. Akad al-hifdh, yaitu akad yang dimaksudkan untuk menjaga harta benda.

g. Akad „Ainiyah dan Ghoiru „Ainiyah

Pembedaan ini didasarkan dari sisi penyempurnaan akad.

Akad „ainiyah adalah akad yang harus disempurnakan dengan penyerahan harta benda obyek akad. Yang tergolong akad „ainiyah adalah hibbah, „ariyah, wadi‟ah, rahn dan qordh. Dengan akad ghoiru ainiyah adalah akad yang kesempurnaannya hanya di dasarkan pada kesempurnaan bentuk akadnya saja dan tidak mengharuskan adanya penyerahan. Seluruh akad selain lima yang disebut dimuka termasuk akad ghoiru „ainiyyah. (Mas‟adi, 2002, p.

107-108)

d. Berakhirnya Akad

Para ulama fiqh menyatakan bahwa suatu akad dapat berakhir apabila: (Harun, 2007, p. 108-109)

1) Berakhirnya masa berlaku akad itu, apabila akad itu memiliki tenggang waktu.

2) Dibatalkan oleh pihak-pihak yang berakad, apabila akad itu sifatnya tidak mengikat.

3) Dalam akad yang bersifat mengikat, suatu akad bisa dianggap berakhir jika:

a. jual beli itu fasid, seperti terdapat usur penipuan salah satu rukun atau syaratnya tidak terpenuhi,

(16)

b. berlakunya khiyar syarat, khiyar aib, atau khiyar rukyah, c. akad itu tidak dilaksanakan oleh salah satu pihak,

d. tercapainya tujuan akad secara sempurna.

e. Salah satu pihak yang berakad meninggal dunia.

2. Jual Beli

a. Pengertian Jual Beli

Secara etimologi, jual beli adalah proses tukar-menukar barang dengan barang. Kata bay‟ yang artinya jual beli termasuk kata bermakna ganda yang bersebrangan, seperti halnya kata syira‟ yang dimaksud dalam ayat, (Az-Zuhaili, 2011, p. 25)





















Artinya: “Dan mereka menjual Yusuf dengan harga yang murah, yaitu beberapa dirham saja, dan mereka merasa tidak tertarik hatinya kepada Yusuf”

Walaupun dalam bahasa Arab kata jual

(غ١ثٌا)

dan kata beli

(ءاششٌا)

adalah dua kata yang berlawanan artinya, namun orang-orang Arab biasa menggunakan ungkapan jual beli itu dengan satu kata yaitu

غ١ثٌا.

Untuk kata ءاششٌا sering digunakan derivasi dari kata jual yaitu

عارتا.

Secara arti kata

غ١ثٌا

dalam penggunaan sehari-hari mengandung arti “saling tukar”

atau tukar menukar.

Ada beberapa definisi jual beli yang dikemukakan ulama fikih.

Dikalangan ulama Mazhab Hanafi terdapat dua definisi. Pertama, “saling menukar harta dengan harta melalui cara tertentu”. Kedua, tukar-menukar sesuatu yang diingini dengan dengan yang sepadan melalui cara tertentu yang bermanfaat. (Dahlan, 1997, p. 827)

Definisi lain dikemukakan oleh ulama Mazhab Maliki, Syafi‟i, dan Hanbali. Menurut mereka, jual beli adalah saling menukar harta dengan harta dalam bentuk pemindahan milik dan pemilikan. (Dahlan, 1997, p.

827)

(17)

Menjual secara bahasa berarti mempertukarkan sesuatu dengan sesuatu, mempertukarkan barang dengan barang. Secara bahasa disebut menjual, sebagaimana juga mempertukarkan barang dengan uang. Satu di antara dua harta yang saling diterimakan disebut mabi‟ (barang yang dijual), sedang lainnya disebut tsaman (harta). (al-Jaziri, 2015, p. 2)

Secara terminologi jual beli dijelaskan dalam pandangan empat mazhab yaitu:

1) Hanafiyah

Jual beli dalam istilah fuqaha‟ mempunyai dua arti: pertama: arti khusus, yaitu menjual barang dengan uang emas/perak atau lainnya.

Kedua arti umum, ada dua belas bagian, termasuk di dalamnya arti khusus di atas; karena arti jual beli bisa dilihat dari segi zatnya, yaitu pertukaran harta dengan harta, bisa dilihat dari segi barang jualnya, dan bisa juga dari segi harganya. (al-Jaziri, 2015, p. 3)

2) Malikiyah

Mereka berpendapat, ada dua pengertian jual beli dalam istilah yang digunakan fuqaha. Pertama, pengertian yang berlaku untuk semua bentuk jual beli, seperti sharf, salam, dan lain sebagainya. Kedua, pengertian yang berlaku untuk masing-masing apa yang disebutkan tadi.

Akad pertukaran adalah akad saling menukar antara dua pihak, yakni penjual dan pembeli, karena keduanya sama-sama mengeluarkan ssesuatu sebagai penukar bagi yang lain. (al-Jaziri, 2015, p. 7)

3) Hanabilah

Mereka berpendapat, pengertian jual beli menurut syara‟ adalah pertukaran harta dengan harta atau pertukaran kemanfaatan mubah dengan kemanfaatan mubah untuk selama-lamanya, bukan riba bukan juga pinjaman, yang dimaksud pertukaran harta dengan harta adalah akad (jual beli) oleh dua pihak pemilik harta; dengan kata lain jual beli adalah kegiatan mempertukarkan sesuatu dengan sesuatu dengan yang lain.

(18)

Pengertian “harta” mencakup uang dan lainnya. Jadi pertukaran barang dengan barang termasuk jual beli, tidak ada perbedaan apakah harta itu terlihat nyata atau cukup diketahui ciri sifanya, sekalipun harta itu terutang. (al-Jaziri, 2015, p. 10)

4) Syafi‟iyah

Mereka berpendapat bahwa pengertian jual beli menurut syara‟

adalah pertukaran harta dengan harta dengan cara tertentu. Dengan kata lain jual beli adalah akad pertukaran harta dengan harta, yang di maksud pertukaran, bahwa masing-masing dari kedua pihak menyerahkan harta sebagai ganti bagi yang lain. Maka di sini tidak termasuk hibah, karena hibah berarti penyerahan harta tanpa ganti semasa hidup. (al-Jaziri, 2015, p. 11)

Ditinjau dari rusak atau tidaknya suatu objek Jual beli terbagi dua yaitu:

a) Sah, yaitu yang memenuhi ketentuan syarat dan rukunnya.

b) Rusak (batal), yaitu bila tidak terpenuhi sebagian syarat dan rukunnya.

Menurut istilah (terminologi), yang dimaksud dengan jual beli adalah sebagai berikut: (Suhendi, 2002, p. 67)

1) Menukar barang dengan barang atau barang dengan uang yang dilakukan dengan jalan melepaskan hak milik dari yang satu kepada yang lain atas dasar saling merelakan.

2) Menurut Idris Ahmad dalam buku Fiqh al-Syafi‟iyah jual beli adalah

ِِّٟػ ْشَش ٍْْراِت ٍحَظَٚ اُِّت ٍحَّ١ٌِاَِ ٍْٓ١َػ َهْ١ٍَِّْذ

Artinya : “pemilikan harta benda dengan jalan tukar menukar yang sesuai dengan aturan syara”

3) Menurut Taqiyuddin dalam buku Kifayat al-Akhyat jual beli adalah

ِْٗ١ِف ِْ ُْٚرْؤٌَّْا ِْٗجٌَْٛا ٍََٝػ ٍيُْٛثَلَٚ ٍباَجْ٠ اِت ِفُّشَصَّرٌٍِ ِْٓ١ٍَِتاَل ٍياَُِحٌَاَتاَل

َُ

Artinya : “saling tukar harta, saling menerima, dapat dikelola

(19)

(tasharruf) dengan ijab dan kabul, dengan cara yang sesuai dengan syarat”

4) Menurut Zakaria jual beli adalah

ٍصُْٛصْخَِ ٍْٗجَٚ ٍََٝػ ٍياَِّت ٍياَُِحٍََتاَمُِ

Artinya : ”tukar-menukar benda dengan benda yang lain dengan cara yang khusus (dibolehkan”

5)

Jual beli dalam buku Fiqh al-Sunnah adalah

ُِْْٚرُؤٌّا ِْٗجٌَْٛا ٍََٝػ ٍضَْٛؼَت ٍهٍِِْ ًُْمََْٔٚأ ِٝظاَشَّرٌا ًِْ١ِثَع ٍََٝػ ٍياَِّت ٍياَُِحٌََداَثُِ

ِْٗ١ِف

Artinya : “penukaran benda dengan benda lain dengan jalan saling merelakan atau memindahkan hak milik dengan ada penggantinya dengan cara yang di bolehkan.”

6)

Menurut Hasbi Ash-Shiddiqie dalam buku pengantar Fiqh Muamalah jual beli adalah

َِاََّٚذٌا ٍََٝػ ِخاَّ١ِىٌٍِّْا ُيُداَثَذَذْ١ِفُ١ٌِ ِيَاٌّاِت ِياٌَّْاِحٌََداَثُِ ٍطاَعَأ ٍََٝػ َُُْٛمَ٠ٌذْمَػ

Artinya :

“akad yang tegak atas dasar penukaran harta dengan harta, maka jadilah penukaran hak milik secara tetap”.

Batasan jual beli yang telah diterapkan di atas dapat dipahami bahwa, dalam transaksi jual beli ada dua belah pihak yang terlibat;

transaksi terjadi pada benda atau harta yang membawa kemaslahatan bagi kedua belah pihak mempunyai atas kepemilikannya untuk selamanya.

b. Dasar Hukum Jual Beli

Jual beli sebagai sarana tolong-menolong antara sesama manusia mempunyai landasan yang amat kuat dalam Islam. Sebagaimana Allah SWT berfirman:



















(20)











































































Artinya:Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka Berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah Telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. orang-orang yang Telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), Maka baginya apa yang Telah diambilnya dahulu[176] (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. orang yang kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.

Surat al-Baqarah ayat 275 ini menjelaskan bahwa Allah SWT telah menegaskan bahwa telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang membolehkan riba dapat ditafsirkan sebagai pembantahan hukum-hukum yang telah ditetapkan oleh Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha bijaksana.

Riba itu ada dua macam: nasiah dan fadhl. Riba nasiah ialah pembayaran lebih yang disyaratkan oleh orang yang meminjamkan. riba fadhl ialah penukaran suatu barang dengan barang yang sejenis, tetapi lebih banyak jumlahnya karena orang yang menukarkan mensyaratkan demikian, seperti penukaran emas dengan emas, padi dengan padi, dan sebagainya.Riba yang

(21)

dimaksud dalam ayat di atas adalah riba nasiah yang berlipat ganda yang umum terjadi dalam masyarakat Arab zaman Jahiliyah.

Sebagaimana Allah SWT berfirmandalam QS. al- Baqarah:198 yaitu:























































Artinya: Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezki hasil perniagaan) dari Tuhanmu. Maka apabila kamu Telah bertolak dari 'Arafat, berdzikirlah kepada Allah di Masy'arilharam[125]. dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah sebagaimana yang ditunjukkan-Nya kepadamu; dan Sesungguhnya kamu sebelum itu benar- benar termasuk orang-orang yang sesat.

Selanjutnya, Allah SWT juga berfirman dalam QS. An- Nisa‟:29















































Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. dan

(22)

janganlah kamu membunuh dirimu; Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (Q.S An-

nisa‟: 29 ) (al-Jaziri, 2015, p. 13)

ُْٚشْثَِ ٍغْ١َت ًُُّوَٚ ِِٖذَ١ِت ًُِج َّشٌا ًََُّػ ؟ ُةَ١ْغأ ِةْغَىٌْا َُّٞأ ٍَََُّعَٚ ِْٗ١ٍََػ ُالله ٍََّٝص ُِّٟثٌَّٕا ًَِؼُع

ٍس )ُو اذٌاٚساضثٌا ٖاٚس(

Artinya: “Nabi Muhammad SAW. Pernah ditanya: apakah profesi yang paling baik? Rasulullah menjawab:

“usaha tangan manusia sendiri dan setiap jual beli yang diberkati”. (HR, Al-Bazaar dan Al-Hakim)

Jual beli yang mendapat berkah dari Allah adalah jual beli yang jujur, yang tidak curang, mengandung unsur penipuan dan pengkhianatan.

Sabda Rasulullah:

ُِ ُْٓت ِض٠ِضَؼٌْا ُذْثَػ إََشَّذَد ٍذََّّذُِ ُْٓت ُْاَْٚشَِ إََشَّذَد ُِّٟمْشَِِّذٌا ِذ١ٌٌَِْٛا ُْٓت ُطاَّثَؼٌْا إََشَّذَد َْٓػ ٍذََّّذ

ِذٌَّْا ٍخٌِاَص ِْٓت َدُٚاَد ٍََّٝص ِ َّالله ُيُٛعَس َياَل ُيُٛمَ٠ َِّٞسْذُخٌْا ٍذ١ِؼَع اَتَأ ُدْؼَِّع َياَل ِٗ١ِتَأ َْٓػ ِِّٟٕ٠

ٍضاَشَذ َْٓػ ُغْ١َثٌْا أََِّّإ ٍَََُّعَٚ ِْٗ١ٍََػ ُ َّالله Artinya: “Telah menceritakan kepada kami Al Abbas bin Al

Walid Ad Dimasyqi berkata, telah menceritakan kepada kami Marwan bin Muhammad berkata, telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Muhammad dari Dawud bin Shalih Al Madini dari Bapaknya berkata; aku mendengar Abu Sa'id ia berkata,

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Hanyasanya jual beli berlaku dengan saling ridha."

(e-hadis, Kitab 9 Imam Hadis. HR Ibnu Majah No.

2176)

Sabda Rasulullah:

ِِّٟثٌَّٕا َْٓػ ٍذ١ِؼَع ِٟتَأ َْٓػ َِٓغَذٌْا َْٓػ َجَضَّْد ِٟتَأ َْٓػ َْاَ١ْفُع َْٓػ ُحَص١ِثَل إََشَّذَد ٌدإََّ٘ إََشَّذَد ٍََّٝص َأ َياَل ِءاَذَُّٙشٌاَٚ َٓ١ِم٠ِّذِّصٌاَٚ َٓ١ِّ١ِثٌَّٕا َغَِ ُٓ١َِِ ْلْا ُقُٚذَّصٌا ُشِجاَّرٌا َياَل ٍَََُّعَٚ ِْٗ١ٍََػ ُ َّالله ُٛت

َجَضَّْد ِٟتَأ َْٓػ ِِّٞسَّْٛصٌا ِس٠ِذَد ِِْٓ ِْٗجٌَْٛا اَزَ٘ ِِْٓ َّلَِإ ُُٗفِشْؼَٔ َلَ ٌَٓغَد ٌس٠ِذَد اَزَ٘ َٝغ١ِػ َد ُٛتَأَٚ

ُذْثَػ أََشَثْخَأ ٍشْصَٔ ُْٓت ُذْ٠َُٛع إََشَّذَد ٌِّٞشْصَت ٌخْ١َش ََُٛ٘ٚ ٍشِتاَج ُْٓت ِ َّالله ُذْثَػ َُّْٗعا َجَضّْ

َُْٖٛذَٔ ِدإَْعِ ْلْا اَزَِٙت َجَضَّْد ِٟتَأ َْٓػ ِِّٞسَّْٛصٌا َْاَ١ْفُع َْٓػ ِنَساَثٌُّْا ُْٓت ِ َّالله

(23)

Artinya: “Telah menceritakan kepada kami Hannad telah menceritakan kepada kami Qabishah dari Sufyan dari Abu Hamzah dari Al Hasan dari Abu Sa'id dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda:

"Seorang pedagang yang jujur dan dipercaya akan bersama dengan para Nabi, shiddiqun dan para syuhada`." Abu Isa berkata; Hadits ini hasan, kami tidak mengetahuinya kecuali dari jalur ini yaitu dari hadits Ats Tsauri dari Abu Hamzah, Abu Hamzah bernama Abdullah bin Jabir ia seorang syaikh dari Bashrah. Telah menceritakan kepada kami Suwaid bin Nash telah mengabarkan kepada kami Abdullah bin Mubarak dari Sufyan Ats Tsauri dari Abu Hamzah dengan sanad ini seperti itu.” (e-hadis, Kitab 9 Imam Hadis. HR Tirmidzi No. 1130)

c. Hukum Jual beli

Hukum jual beli adalah mubah, tapi bisa menjadi wajib yaitu ketika dalam keadaan terpaksa membutuhkan makanan dan minuman, maka ia wajib membeli apa saja yang dapat menyelamatkan dirinya dari kebinasaan; dan haram hukumnya menahan menjual sesuatu yang dapat menyelamatkan seseorang (dan kebinasaan). Bisa juga menjadi sunnat seperti ketika seseorang bersumpah untuk menjual barang yang tidak membahyakan dirinya, maka ia sunnat menjual untuk menepati sumpahnya. Bisa menjadi makruh, seperti menjual sesuatu yang makruh diperjualbelikan ; dan bisa juga menjadi haram, seperti menjual sesuatu yang haram diperjualbelikan.(al-Jaziri, 2015, p. 13)

d. Rukun dan Syarat Jual Beli 1. Rukun Jual Beli

Ulama Hanafiyah menyatakan rukun jual beli hanya ijab qabul saja.Menurutnya yang menjadi rukun dalam jual beli itu hanyalah kerelaan antara kedua belah pihak untuk berjual beli. Namun, karena unsur kerelaan berhubungan dengan hati sering tidak kelihatan bagi orang lain, maka diperlukan indikator (qarinah) yang menunjukan

(24)

kerelaan tersebut dari kedua belah pihak. Indikator tersebut bisa dalam bentuk perbuatan, yaitu saling memberi (penyerahan barang dan penerimaan uang), dalam fikih dikenal dengan istilah “bai al- mu‟athah”.(Farida Arianti, 2013, p.5)

Menurut Jumhur Ulama, rukun jual beli itu ada empat, yaitu sebagai berikut: (Farida Arianti, 2013, p. 5)

a) Orang yang berakad b) Ada barang yang dibeli

c) Ada nilai tukar pengganti barang d) Sighat (lafaz ijab dan kabul)

Menurut Mazhab Hanafi, orang yang berakad, barang yang di beli, dan nilai tukar barang diatas, termasuk syarat jual beli bukan rukun. Dalam bertransaksi itu, diperlukan rukun-rukun. Adapun rukun jual beli ada tiga, yaitu akad (ijab kabul), orang yang berakad (penjual dan pembeli), dan ma‟kudalaih (objek akad).

Akad ialah ikatan kata antara penjual dan pembeli. Jual beli belum dikatakan sah sebelum ijab dan kabul dilakukan, sebab ijab kabul menunjukkan kerelaan (keridhaan). Pada dasarnya, ijab kabul dilakukan dengan lisan, tetapi kalau tidak mungkin, misalnya bisu atau yang lainnya, boleh ijab kabul dengan surat-menyurat yang mengandung ijab dan kabul. Adanya kerelaan tidak dapat dilihat, sebab kerelaan berhubungan dengan hati. Kerelaan dapat diketahui melalui tanda-tanda lahirnya, adapun tanda yang jelas menunjukkan kerelaan adalah ijab dan kabul. (al-Jaziri, 2015, p. 15)

Syafi‟iyah berpendapat bahwa akad jual beli tidak terjadi kecuali dengan shighat (ijab-qabul) baik dengan lisan atau apa saja yang fungsinya sama, seperti dengan tulisan, melalui utusan, atau dengan isyarat yang dapat dimengerti bagi yang bisu. Sedangkan sekedar serah terima (Arab: mu‟athah), maka tidak terjadi akad jual beli. (al-Jaziri, 2015, p. 17)

(25)

Menurut jumhur ulama, bahwa syarat jual beli sesuai dengan rukun jual beli yang disebutkan di atas adalah sebagai berikut: (Hasan, 2004, p. 118-125)

a) Syarat orang berakad (1) Berakal

(2) Orang yang melakukan akad itu, adalah orang yang berbeda, Seseorang tidak dapat bertindak sebagai pembeli dan penjual dalam waktu bersamaan

b) Syarat yang terkait dengan ijab kabul

(1) Orang yang mengucapkan telah akil baligh dan berakal, (2) Kabul sesuai dengan ijab

(3) Ijab dan kabul dilakukan dalam satu majlis, Kedua belah pihak yang melakukan akad jual-beli hadir dan membicarakan masalah yang sama

c) Syarat yang diperjualbelikan

(1) Barang itu ada, atau tidak ada ditempat, tetapi pihak penjual menyatakan kesanggupannya untuk mengadakan barang itu.

(2) Dapat dimanfaatkan dan bermanfaat bagi manusia.

(3) Milik seseorang. Barang yang sifatnya belum dimiliki seseorang, tidak boleh diperjualbelikan.

(4) Dapat diserahkan pada saat akad berlangsung, atau pada waktu yang telah disepakati bersama ketika akad berlangsung.

d) Syarat nilai tukar (harga barang)

(1) Harga yang disepakati kedua belah pihak harus jelas jumlahnya,

(2) Dapat diserahkan pada saat waktu akad (transaksi), sekalipun secara hukum seperti pembayaran dengan cek atau kartu kredit.

(26)

(3) Apabila jual beli itu dilakukan secara barter, maka barang yang dijadikan nilai tukar, bukan barang yang diharamkan syara‟.

2. Syarat Sah Jual Beli (Sahrani, 2011, p. 68-70) a. Syarat sah ijab kabul

1) Jangan ada yang memisahkan, pembeli jangan diam saja setelah penjual menyatakan ijab dan sebaliknya.

2) Jangan diselingi dengan kata-kata lain antara ijab dan kabul.

3) Beragama Islam, Syarat ini khusus untuk pembeli benda-benda tertentu

b. Syarat-syarat bagi orang yang melahirkan akad 1) Baligh berakal agar tidak mudah ditipu orang.

2) Beragama Islam c. Syarat sah objek transaksi

1) Barang yang diperjual belikan mestilah bersih materinya.

2) Barang yang diperjualbelikan adalah sesuatu yang bermanfaat.

Alasannya adalah bahwa yang hendak diperoleh dari transaksi ini adalah manfaat itu sendiri. Bila barang tersebut tidak ada manfaatnya, bahkan dapat merusak seperti ular dan kalajengking, maka tidak dapat dijadikan objek transaksi.

Yang menjadi dasar dari persyaratan manfaat ini adalah hadis nabi yang melarang memperjualbelikan patung tersebut di atas, karena dalam pandangan Islam patung tersebut termasuk sesuatu yang tidak berguna.

3) Baik barang atau uang yang dijadikan objek transaksi itu betul- betul telah menjadi milik orang yang melakukan transaksi. Hal ini mengandung arti tidak boleh menjual barang orang lain atau membelanjakan uang orang lain, kecuali ada izin atau

(27)

kuasa dari orang yang memilikinya. Persyaratan ini sesuai dengan arti transaksi itu sendiri yaitu pengalihan pemilikan;

baru itu akan terjadi bila yang dialihkan itu telah menjadi miliknya.

4) Barang dan/atau uang yang telah menjadi miliknya itu haruslah telah berada di tangannya atau dalam kekuasaannya dan dapat diserahkan sewaktu menjadi transaksi, dan tidak mesti berada dalam majlis akad, umpamanya tersimpan digudang penyimpanan yang berjauhan letaknya. Persyaratan ini didasarkan kepada hadis Nabi dari Hakim bin Hazam yang dikeluarkan oleh Ahmad:

ٍٟػ َش١د اِٚ إِٙ ٌٝ ً١د اّف اػٛ١ت ٜشرشا ئٔا لله ا يٛعس ا٠ دٍل

ٗعثمذ ٝرد ٗؼثذ لاف ا١ش د٠شرشاارا يال

Artinya: Saya berkata kepada Rasul SAW.: “saya telah membeli sesuatu barang, apakah yang halal untuk saya lakukan dan apakah yang haram?” Nabi berkata:”bila engkau membeli sesuatu janganlah kamu jual sampai engkau sendiri memegangnya”.(HR Abu Dawud)

Hadis ini dikuatkan oleh hadis Nabi dan Amran bin Syu‟eb yang juga dikeluarkan al-Hakim ucapan Nabi

نذٕػ ظ١ٌ اِ غ١تلَٚ

Artinya: “Dan Tidak halal menjual sesuatu yang tidak berada di tanganmu .”(HR Ahmad 3/402)

5) Barang atau uang dijadikan objek transaksi itu mestilah sesuatu yang diketahui secara transparan, baik kuantitas maupun jumlahnya; bila dalam bentuk sesuatu yang ditimbang jelas timbangannya dan bila sesuatu yang ditakar jelas takarannya.

Tidak boleh memperjualbelikan sesuatu yang tidak diketahui kualitas dan kuantitasnya seperti ikan dalam air.

(28)

Alasan larangan terhadap sesuatu yang tidak jelas itu dijelaskan Nabi sendiri yaitu adanya unsur penipuan padanya.

Yang demikian berlawanan dengan asas suka sama suka.

Kelima persyaratan yang berkenaan dengan objek transaksi tersebut di atas bersifat kumulatif dengan arti keseluruhannya mesti dipenuhi untuk sahnya suatu transaksi. Kelimanya telah sejalan dengan prinsip taradhin yang merupakan syarat utama dalam suatu transaksi. Bila ada yang tidak terpenuhi jelas akan menyebabkan pihak-pihak yang terlibat dalam transaksi akan tidak merasa suka. Akibatnya akan termakan harta orang lain secara tidak hak.

Bila persyaratan tidak dipenuhi dan terdapat pula isyarat larangan dari hadis Nabi, maka transaksinya termasuk transaksi yang terlarang, baik yang membawa kepada tidak sahnya transaksi tersebut atau tetap sah meskipun berdosa bagi pelakunya. Perbedaan di antara keduanya terletak pada bentuk larangan Nabi terhadap transaksi tersebut. Bila larangan mengenai essensinya, maka larangan tersebut membawa kepada tidak sahnya transaksi seperti tidak melalui ijab kabul.

Bila larangan tidak berkenaan dengan essensi, tapi hal luar yang tidak langsung berkaitan dengannya, transaksi tetap sah, namun terlarang.(Syaifuddin, 2010,p. 196-200)

2. Pembagian- pembagian Jual Beli

a. Jual Beli yang Dilarang dan Batal Hukumnya

1) Barang yang dihukumkan najis oleh agama, seperti anjing, babi, berhala, bangkai, dan khamr, Rasulullah bersabda:

َْٓػ ٍحاَتَس ِٟتَأ ِْٓت ِءاَطَػ َْٓػ ٍة١ِثَد ِٟتَأ ِْٓت َذ٠ِضَ٠ َْٓػ ُسْ١ٌٍَّا إََشَّذَد ُحَثْ١َرُل إََشَّذَد ِظَس ِ َّالله ِذْثَػ ِْٓت ِشِتاَج ٍَََُّعَٚ ِْٗ١ٍََػ ُ َّالله ٍََّٝص ِ َّالله َيُٛعَس َغَِّع ََُّٗٔأ إََُّْٙػ ُ َّالله َٟ

ِش٠ِضِْٕخٌْاَٚ ِحَرْ١ٌَّْاَٚ ِشَّْخٌْا َغْ١َت َََّشَد ٌَُُٗٛعَسَٚ َ َّالله َِّْإ َحَّىَِّت ََُٛ٘ٚ ِخْرَفٌْا ََاَػ ُيُٛمَ٠ َأَسَأ ِ َّالله َيُٛعَس اَ٠ ًَ١ِمَف َِإَْصَ ْلْاَٚ

ُُٓفُّغٌا اَِٙت ٍَْٝطُ٠ اََِّٙٔإَف ِحَرْ١ٌَّْا ََُٛذُش َدْ٠

(29)

ِ َّالله ُيُٛعَس َياَل َُُّش ٌَاَشَد َُٛ٘ َلَ َياَمَف ُطإٌَّا اَِٙت ُخِثْصَرْغَ٠َٚ ُدٍُُٛجٌْا اَِٙت َُْٓ٘ذُ٠َٚ

ََّالله َِّْإ َدَُٛٙ١ٌْا ُ َّالله ًََذاَل َهٌَِر َذِْٕػ ٍَََُّعَٚ ِْٗ١ٍََػ ُ َّالله ٍََّٝص اََُِٙٛذُش َََّشَد اٌََّّ

ُذ٠ِضَ٠ إََشَّذَد ِذ١َِّذٌْا ُذْثَػ إََشَّذَد ٍُِصاَػ ُٛتَأ َياَل َََُّٕٗش اٍَُٛوَؤَف ُُٖٛػاَت َُُّش ٍََُُّٖٛج ًََّعَٚ ِْٗ١ٍََػ ُ َّالله ٍََّٝص ِِّٟثٌَّٕا َْٓػ َُْٕٗػ ُ َّالله َِٟظَس اًشِتاَج ُدْؼَِّع ٌءاَطَػ ٌََِّٟإ َةَرَو

Artinya: “Telah menceritakan kepada kami Qutaibah telah menceritakan kepada kami Al Laits dari Yazid bin Abi Habib dari 'Atho' bin Abi Rabah dari Jabir bin 'Abdullah radliallahu 'anhu bahwasanya dia mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda ketika Hari Penaklukan saat Beliau di Makkah: "Allah dan RasulNya telah mengharamkan khamar, bangkai, babi dan patung-patung". Ada yang bertanya: "Wahai Rasulullah, bagaimana dengan lemak dari bangkai (sapi dan kambing) karena bisa dimanfaatkan untuk memoles sarung pedang atau meminyaki kulit-kulit dan sebagai bahan minyak untuk penerangan bagi manusia?. Beliau bersabda: "Tidak, dia tetap haram". Kemudian saat itu juga Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Semoga Allah melaknat Yahudi, karena ketika Allah mengharamkan lemak hewan (sapi dan kambing) mereka mencairkannya lalu memperjual belikannya dan memakan uang jual belinya". Berkata, Abu 'Ashim telah menceritakan kepada kami 'Abdul Hamid telah menceritakan kepada kami Yazid; 'Atho' menulis surat kepadaku yang katanya dia mendengar Jabir radliallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.” (e-hadis, Kitab 9 Imam Hadis. HR Bukhari No. 2082)

2) Jual beli sperma (mani) hewan, seperti mengawinkan seekor domba jantan dengan betina agar dapat memperoleh turunan. Jual beli ini haram hukumnya.

3) Jual beli anak binatang yang masih berada dalam perut induknya.

Jual beli seperti ini dilarang, karena barangnya belum ada dan tidak tampak.

4) Jual beli dengan muhaqallah. Baqalah berarti tanah, sawah, dan kebun, maksud muhaqallah disini ialah menjual tanam-tanaman

(30)

yang masih dilarang atau disawah. Hal ini dilarang karena adanya persangkaan riba.

5) Jual beli dengan mukhadarah, yaitu menjual buah-buahan yang belum pantas untuk dipanen. Hal ini dilarang karena barang tersebut masih samar.

6) Jual beli dengan mulamasah, yaitu jual beli secara sentuh meyentuh.

Hal ini dilarang karena mengandung tipuan dan kemungkinan akan menimbulkan kerugian bagi salah satu pihak.

7) Jual beli dengan munabadzah, yaitu jual beli dengan secara lempar melempar. Hal ini dilarang karena mengandung tipuan dan tidak ada ijab dan kabul.

8) Jual belidengan muzabanah, yaitu menjual buah yang basah dengan buah yang kering, dengan bayaran padi basah, sedangkan ukurannya dengan dikilo sehingga akan merugikan pihak pemilik padi kering.

9) Menentukan dua harga untuk satu barang yang diperjualbelikan.

10) Jual beli dengan syarat (iwadhmahjul)

11) Jual beli gharar, yaitu jual beli yang samar sehingga ada kemungkinan terjadi penipuan.

12) Jual beli dengan mengecualikan sebagian benda yang dijual.

13) Larangan menjual makanan hingga dua kali takar.

b. Jual beli yang dilarang tapi sah hukunmya

1. Menemui orang-orang desa sebelum mereka masuk kepasar untuk membeli benda-bendanya degan harga yang semurah-murahnya, sebelum mereka tahu harga pasaran, kemudian ia jual dengan harga yang setinggi-tingginya. Tapi bila orang kampung sudah mengetahui harga pasaran, jual beli seperti ini tidak apa-apa.

2. Menawar barang yang sedang ditawar oleh orang lain. Hal ini dilarang karena menyakitkan orang lain.

(31)

3. Jual beli dengan najasy, ialah seseorang menambah atau melebihi harga temannya dengan maksud memancing-mancing orang agar orang itu mau membeli barang kawannya.

4. Menjual di atas penjual orang lain.

c. Macam-macam Jual Beli

Jual beli ditinjau dari sisi sifat hukum, terjadi perbedaan antara Hanafiyah dengan jumhur ulama. Bagi Hanafiyah membedakan jual beli fasid dengan jual beli batal. Jual beli fasid terletak bila kerusakan jual beli itu menyangkut pada harga, jual beli ini bisa sah jika kerusakannya dapat diperbaiki, namun pada jual beli batal, mutlak tidak sah. Jual beli batal terkait pada barang yang diperjualbelikan, oleh karena itu, jual beli menurut Hanafiyah adalah ada tiga yaitu: Shahih, fasid, dan batal. Berdasarkan maksud diatas, pembagian jual beli menurut hanafiyah adalah (Dimayauddin Djawani, 2008, p, 81-82).

1. Jual Beli Ditinjau Dari Segi Sifatnya a. Jual beli shahih

Jual beli sahih yaitu jual beli yang disyari‟atkan, memenuhi rukun atau syarat yang ditentukan, barang itu milik orang lain, dan tidak terikat dengan khiyar lagi, maka jual beli itu shahih dan mengikat kedua belah pihak. Umpamanya seseorang membelui suatu barang. Seluruh rukun dan syarat jual beli telah terpenuhi.

Barang itu juga telah diperikasa oleh pembeli dan tidak ada cacat, dan tidak ada yang rusak. Uang sudah diserahkan dan barang pun sudah diterima dan tidak ada lagi khiyar. (Hasan, 2004: 128) Jual beli ghair sahih

b. Jual beli ghair sahih

Jual beli ghair sahih adalah jual beli yang syarat dan rukunnya tidak terpenuhi sama sekali atau rukunnya terpenuhi namun sifat

(32)

atau syaratnya tidak terpenuhi. Seperti jual beli yang dilakukan oleh orang yang memiliki ahliyah ada‟ kamilah (sempurna), tetapi barang yang dijual masih belum jelas (majhul). Apabila rukun dan syarat-syaratnya tidak terpenuhi maka jual beli tersebut disebut jual beli yang bathil. Akan tetapi rukunnya terpenuhi, tetapi ada sifat yang dilarang maka jual belinya disebut jual beli fasid.

Disamping itu, terdapat jual beli yang digolongkan kepada ghayr shahih, yaitu jual beli yang rukun dan syaratnya terpenuhi, tetapi jual belinya dilarang karena ada sebab diluar akad. Jual beli semacam ini termasuk jual beli yang makruh. (Hasan, 2004: 129) 2. Jual Beli Fasid

Jual beli fasid menurut fuqaha adalah jual beli yang secara prinsip tidak bertentangan dengan syarak, namun terdapat sifat- sifat yang menghalangi keabsahannya. Adapun perbedaan tentang jual beli fasid yaitu: (Hasan, 2004:134)

a. Menurut pendapat jumhur ulama, bahwa akad jual beli yang keluar dari ketentuan syara‟ maka tidak dianggap baik dalam muamalah dan ibadah.

b. Menurut pendapat Hanafiyah bahwa akad jual beli fasid adalah jual beli yang sesuai syarat, tetapi bertentangan pada sifatnya, seperti halnya jual beli yang dilakukan oleh orang yang mumayyiz.

Macam-macam jual beli fasid yaitu:

1) Jual beli majhul (tidak diketahui)

Secara bahasa, majhul berarti yang tidak diketahui, sedangkan menurut istilah syara‟ adalah jual belidimana benda/barang yang dijual tidak diketahui secara menyeluruh dan tidak dinyatakan secara jelas sehingga menimbulkan sengketa. Artinya benda yang akan dijual itu ada, namun belum ada kejelasan atau pengetahuan tentang benda tersebut.

(33)

Jual beli majhul harus dengan syarat ke-majhulan- nya bersifat menyeluruh.Akan tetapi apabila kemajhulannya (ketidakjelasan) itu sedikit, jual belinya sah.Karena hal itu tidak membawa perselisihan, meskipun sifat hukum jual beli ini adalah fasid menurut ulama Hanafiyah. Misalnya seseorang menjual laptop axioo, sedangkan konsumen tidak mengetahui suku cadang/komponen-komponen yang ada di dalam laptop axioo, ternyata komponen-komponen di dalam tidak sama dengan merek axioo. Jual beli seperti ini digolong fasid.

Ulama Hanafiyah menyatakan bahwa sebagai tolak ukur untuk unsur majhul itu diserahkan sepenuhnya kepada

„urf (kebiasaan yang berlaku bagi pedagang terhadap komoditi itu). Ke-majhul-an itu, disamping berkaitan dengan barang yang dibeli, boleh juga berkaitan dengan harga atau nilai tukar. Misalnya nilai tukar itu palsu dan penjual tersebut tidak mengetahui unsur-unsur palsu dalam nilai tukar itu.

2) Jual beli muallaq (tergantung)

Jual beli muallaq adalah jual beli yang digantungkan pada syarat tertentu, akan digantungkan pada amsa yang akan datang. Misalnya, “aku jual lemari ini, jika kamu jual motor milikmu kepadaku, atau “jika kamu membayar tunai harganya sepuluh ribu rupiah, tetapi jika berhutang harganya lima belas ribu”.

Pada prinsipnya, seluruh ulama mazhab sepakat akad jual beli seperti itu sah. Fuqaha Hanafiyah menyebut akadnya fasid.Menurut ulama Syafi‟iyah dan Hanabilah menyatakan jual beli bersyarat adalah batal.Sedangkan Imam Malik menyatakan jual beli bersyarat adalah sah, apabila diberi hak khiyar.

(34)

3) Jual beli Ghaib (tidak ada ditempat)

Jual beli ghaib adalah jual beli yang wujud atau ada namun tidak dihadirkan ketika berlangsungnya suatu akad, sehingga tidak dapat dilihat oleh pembeli.

4) Jual beli „inah

Diantara jual beli yang juga terlarang adalah jual beli dengan cara „inah, yaitu menjual sebuah barang kepada seseorang dengan harga kredit. Kemudian dia membelinya lagi dengan harga kontan (harga lebih rendah dari harga kredit). Misalnya seseorang menjual barang seharga Rp.20.000 dengan cara kredit. Kemudian setelah dijual, dia membelinya lagi dengan harga Rp. 15.000 kontan.Adapun harga Rp.20.00 tetap dalam hitungan hutang si pembeli sampai batas waktu yang ditentukan.Maka ini adalah perbuatan yang diharamkan karena termasuk bentuk tipu daya yang bisa mengantarkan kepada riba, seolah-olah dia menjual dirham-dirham yang kontan bersama dengan adanya perbedaan atau selisih.Sedangkan harga barang itu hanya sekedar tipu daya saja atau hilah, padahal sesungguhnya adalah riba.

5) Jual beli anggur pada tukang arak

Rasulullah saw mengharamkan minum arak, sedikit ataupun banyak. Bahkan memperdagangkan tetap diharamkan sekalipun bekerja sama dengan orang diluar Islamoleh karena itu tidak halal hukumnya seseorang muslim mengimpor arak, atau memproduksi arak, atau membuka warung arak atau bekerja di tempat penjual arak.

6) Jual beli yang dikaitkan dengan masa (tempo waktu)

Jual beli yang dikaitkan dengan suatu syarat, seperti ucapan penjual kepada pembeli, “saya jual kereta ini saya pada engkau bulan depan setelah gajian”. Jual beli seperti

(35)

ini batal menurut jumhur, dan fasid menurut ulama Hanafyah.Menurut Hanafiyah jual beli ini dianggap sah pada saat syaratnya terpenuhi atau tenggang waktu yang disebutkan dalam akad jatuh tempo.Artinya, jual beli ini harus sah apabila masa yang ditentukan “bulan depan” itu telah jatuh tempo.

7) Jual beli sebagian barang tidak dapat dipisahkan dari satuannya.

Jual beli ini satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, seperti menjual tanduk kerbau dari kerbau yang masih hidup, menjual sebelah sepatu.Jual beli seperti ini menurut jumhur tidak sah, namun bagi Hanafiyah hukumnya fasid. (Al Albani, 2013: 661-665)

3. Jual Beli Bathil

Jual beli bathil adalah jual beli yang tidak memenuhi salah satu rukun atau yang tidak sesuai dengansyari‟at, yakni orang yang akad bukan ahlinya, seperti jual beli yang dilakukan oleh orang gila dan anak kecil.

Macam-macam jual beli bathil yaitu: (Hasan, 2004 :128) a. Jual beli ma‟dum (tidak ada)

Jual beli ma‟dum adalah jual beli yang belum atau tidak ada wujudnya, seperti jual beli habal al-Habalah (janin dari hewan ternak).

b. Jual beli ma‟juz taslim (terlarang menyerahkannya)

Jual beli ma‟juz al-Taslim adalah jual beli barang yang tidak boleh diserahkan, seperti jual beli motor yang hilang dan masih dalam pencarian.

c. Jual beli gharar

Menurut bahasa Arab, makna al-gharar adalah al-khathr (pertaruhan), sehingga syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah

(36)

menyatakan al-gharar adalah yang tidak jelas hasilnya (majhul al-„aqidah).Sedangkan menurut Syaikh Al-Sa‟di al-gharar adalah al-mukhatharah (pertaruhan) dan al-jahalah (ketidak jelasan).Sementara gharar adalah seseorang memberi peluang adanya bahaya bagi diri dan hartanya tanpa dia ketahui. Perihal ini masuk dalam kategori perjudian, sehinggga dari penjelasan ini, dapat diambil pengertian yang dimaksud jual beligharar adalah semua jual beli yang mengandung ketidakjelasan, pertaruhan atau perjudian dan menimbulkan bahaya.

d. Jual beli najis

Jual beli najis merupakan jual beli yang dihukumkan najis oleh agama, sepetti anjing, babi, bangkai, dan khamar, Rasulullah bersabda: “Dari Jabir r.a Rasulullah saw bersabda, sesungguhnya Allah dan Rasul-nya telah mengharamkan menjual arak, bangkai, dan berhala”. (riwayat Bukhari dan Muslim).

e. Jual beli al-„arbun (uang muka)

Jual beli urban merupakan jual beli yang bentuknya dilakukan melalui perjanjian, pembeli membeli sebuah barang dan uang seharga barang/sebahagian dari harga diserahkan kepada penjual, dengan syarat apabila pembeli tertarik dan setuju, maka jual beli sah, tetapi jika pembeli tidak setuju dan barang dikembalikan, maka uang telah diberikan kepada penjual, menjadi hibah bagi penjual hal ini dilarang karena uang tersebut miliknya pembeli dan harus dikembalikan.

Apabila terjadi uang-harga tersebut menjadi milik penjual katakanlah itu sebagai resiko pembeli karena tidak mkonsisten dengan akadnya, tetap hak orang lain berupa uang muka dikembalikan.

f. Memperjual-belikan milik berserikat

(37)

Memperjual belikan air sungai, air danau, air laut dan air yang tidak boleh dimiliki seseorang karena air yang tidak dimiliki seseorang merupakan hak bersama umat manusia, dan tidak boleh diperjualbelikan.Hukum ini disepakati oleh Jumhur ulama dikalangan Hanafiyah, Malikiyah, Syafi‟iyah, dan Hanabilah. (Farida Arianti, 2015 : 60-67).

3. Etika dalam Jual Beli

Islam memang menghalalkan usaha perdagangan, perniagaan, dan atau jual beli. Namun tentu saja untuk orang yang menjalankan usaha perdagangan secara Islam, dituntut menggunakan tata cara khusus, ada aturan mainnya yang mengatur bagaimana seharunya seorang muslim berusaha dibidang perdagangan agar mendapat berkah dan ridha Allah SWT di dunia dan akhirat. Aturan main perdagangan Islam, menjelaskan berbagai etika yang harus dilakukan oleh para pedagang muslim dalam melaksanakan jual beli, dan diharapkan dengan menggunakan dan mematuhi etika perdagangan Islam tersebut, suatu usaha perdagangan dan seorang muslim akan maju dan berkembang pesat selalu mendapat berkah Allah SWT di dunia dan di akhirat. Etika perdagangan Islam menjamin, baik pedagang maupun pembeli, masing-masing akan saling mendapat keuntungan.

Menurut Faisal Badroen etika berasal dari kata ethos dalam bahasa Yunani yang berarti kebiasaan atau karakter. Sedangkan secara terminologis bahwa etika merupakan studi sistematis tentang tabiat konsep nilai baik, buruk, harus, benar, salah, dan lain sebagainya dan prinsip- prinsip umum yang membenarkan kita untuk mengaplikasikannya atas apa saja. Etika didalam Islam memang mengacu pada dua sumber yaitu Al- Quran dan Sunnah. Dua sumber ini merupakan sentral dari segala sumber yang membimbing segala perilaku dalam menjalankan ibadah, perbuatan atau aktivitas umat Islam yang benar-benar menjalankan ajaran Islam.

Referensi

Dokumen terkait

Trenutno stanje u proizvodnji semena krmnog bilja u Republici Srbiji je nezadovoljavaju ć e jer se seme višegodišnjih vlatastih trava uglavnom uvozi.. Doma ć

Sekalipun hadis-hadis yang telusuri cukup banyak, namun disadari bahwa belum tentu semua hadis tersebut terkait dengan tema pokok yang terangkum dalam definisi yang

Perkembangan dalam sektor produksi sangat berpengaruh dengan produk yang dihasilkan. Produk yang dihasilkan harus memenuhi standar ekspor dan ISO yang diterapkan

Untuk menjelaskan tesis di atas, artikel ini secara bertahap membahas (1) tentang diri sebagai relasi triadik antara identitas, narasi dan ingatan, (2) kemunculan narasi

Di Jurnal Ijtihad , Hulwati menulis “Obligasi atau Sukuk Negara Ritel : Tinjauan Fiqh Muamalah”, beliau mentarjih pendapat yang mengharamkan jual beli Sukuk Negara Ritel karena

1) Volume tidal (VT) = jumlah udara yang dihirup dan dihembuskan setiap kali bernapas pada saat istirahat.. 2) Volume residu (RV) = jumlah gas yang tersisa di

Bahwa mereka yang namanya tercantum dalam Surat Keputusan Ketua Pengadilan Agama Pariaman, dipandang cakap dan mampu melaksanakan tugasnya sebagai Tim Kerja