1
PROSTITUSI DAN KEKUASAAN DI JANTUNG YOGYAKARTA
(Sebuah studi politik mengenai peranan preman sebagai local strongmen dalam melindungi keberadaan praktek prostitusi di kampung Pasar Kembang,
Sosrowijayan Kulon, Yogyakarta)
Skripsi No. : 2598
Bramastya Gadiansah 05/185056/SP/20902
JURUSAN POLITIK DAN PEMERINTAHAN FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA
2010
2
HALAMAN PERSETUJUAN
PROSTITUSI DAN KEKUASAAN DI JANTUNG YOGYAKARTA SEBUAH STUDI POLITIK MENGENAI PERANAN PREMAN SEBAGAI
LOCAL STRONGMEN DALAM MELINDUNGI KEBERADAAN
PRAKTEK PROSTITUSI DI KAMPUNG PASAR KEMBANG, SOSROWIJAYAN KULON, YOGYAKARTA
SKRIPSI
Disusun dalam memenuhi syarat guna memperoleh gelar Sarjana Ilmu Politik Jurusan Politik dan Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada
Disusun oleh:
BRAMASTYA GADIANSAH NIM: 05/185056/SP/20902
Telah Disetujui oleh:
MIFTAH ADHI IKHSANTO, SIP. MiOP.
Dosen Pembimbing
3
HALAMAN PENGESAHAN
Skripsi ini telah diuji dan dipertanggungjawabkan di depan Tim Penguji Jurusan Politik dan Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
Hari : Senin Tanggal : 17 Mei 2010 Jam : 10.00 WIB
Tempat : Jurusan Politik dan Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
Tim Penguji
1. Miftah Adhi Ikhsanto, SIP. MiOP.
(Penguji Utama/Dosen Pembimbing)
2. Dra. Ratnawati, SU.
(Penguji Samping I/Bidang Metodologi)
3. Bayu Dardias Kurniadi, MA. MPP.
(Penguji Samping II/Bidang Ilmu Pemerintahan)
4
SURAT PERNYATAAN
Saya yang bertanda tangan di bawah ini : Nama
No. Mahasiswa Angkatan Tahun Jurusan
Judul Skripsi
: Bramastya Gadiansah : 05/185056/SP/20902 : 2005
: Politik dan Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
: Prostitusi dan Kekuasaan di Jantung Yogyakarta
Sebuah studi politik mengenai peranan preman sebagai local strongmen dalam melindungi keberadaan praktek prostitusi di kampung Pasar Kembang, Sosrowijayan Kulon, Yogyakarta.
Dengan ini menyatakan bahwa dalam skripsi saya tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu Perguruan Tinggi dan juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh pihak lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah itu dan disebutkan di dalam daftar pustaka.
Pernyataan ini saya buat dengan penuh tanggung jawab dan saya bersedia menerima sangsi apabila di kemudian hari diketahui tidak benar.
Yogyakarta, 17 Mei 2010
Bramastya Gadiansah
5
UCAPAN TERIMA KASIH
Kelancaran dalam penelitian dan penyusunan skripsi serta kesuksesan dalam menempuh ujian pendadaran yang dialami oleh penulis, tidak lepas dari:
٭ Limpahan rahmat, hidayah dan ridho Allah SWT. Puji syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kepada-Nya.
٭ Doa kedua orang tua dan keluarga besar penulis yang tiada henti mengalun di waktu yang selalu diridhoi Sang Kuasa. Terima kasih telah mengorbankan segalanya untuk memfasilitasi penulis dalam meraih asa yang sebelumnya tertunda.
٭ Motivasi yang diberikan oleh seluruh rekan-rekan seperjuangan penulis di Jurusan Politik dan Pemerintah (meskipun tanpa mereka sadari). Terima kasih telah membangkitkan semangat juang dan menghilangkan rasa malas penulis dalam menyelesaikan tugas akhir perkuliahan ini.
٭ Doa dan motivasi yang selalu terucap dari bibir seorang ‘teman’ di hati penulis. Salam ‘peci’ spesial untukmu dan always together forever !
٭ Lepi mini milik rekan seperjuangan yang dengan ikhlas dipinjamkan untuk mengerjakan bab-bab krusial dalam skripsi ini. Terima kasih, kawan !
٭ Pengalaman berharga yang didapat melalui sharing dengan kawan di Kuningan H-29. Matur nuwun, bro !
٭ Para narasumber yang telah meluangkan waktunya untuk sekadar berbagi informasi mengenai fokus penelitian ini. Terima kasih atas bantuannya, semoga mendapat balasan yang setimpal atas kebaikan yang telah diberikan kepada penulis.
6
KATA PENGANTAR
Tiada kata yang pantas terucap selain puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas segala karunia dan nikmat-Nya sehingga penulis mampu menyelesaikan skripsi ini. Pada awalnya, rasa malas selalu mengiringi penulisan skripsi ini.
Namun, pelan tapi pasti dengan di awali niatan lil ‘alamin dan didukung sebuah jargon “never give up” mampu mengubah periode negatif yang sebelumnya dialami penulis selama penulisan skripsi.
Skripsi Dengan Judul “Prostitusi dan Kekuasaan di Jantung Yogyakarta”, sebuah studi politik mengenai peranan preman sebagai local strongmen dalam melindungi keberadaan praktek prostitusi di kampung Pasar Kembang, Sosrowijayan Kulon, Yogyakarta ini dipilih karena ketertarikan penulis untuk mengungkap aktor-aktor yang berkuasa di areal Pasar Kembang dan mekanisme mereka dalam memberikan perlindungan kepada para pelaku prostitusi dan keberadaan praktek prostitusi yang terdapat dalam kampung Pasar Kembang.
Akhir kata, penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyusunan skripsi ini masih terdapat kekurangan, sehingga masih jauh dari kata “sempurna”.
Oleh karena itu, segala kritik dan saran dari pembaca sangat membantu dalam penyempurnaan skripsi ini. Semoga skripsi ini mampu memberikan kontribusi yang signifikan bagi kita, khususnya dalam menginterpretasikan kehidupan sosial masyarakat.
Yogyakarta, 17 Mei 2010
Penulis
7 Abstraksi
Penelitian ini mengambil judul ‘Prostitusi dan Kekuasaan di Jantung Yogyakarta’ yang mengambil fokus kajian pada peran preman sebagai local strongmen dalam membangun patronase di kampung prostitusi Pasar Kembang.
Keberadaan praktek prostitusi di kampung Pasar Kembang diyakini bukan tanpa sebab. Indikasi awalnya adalah adanya aktor yang memiliki kekuatan untuk melindungi keberadaan praktek ilegal tersebut dari ancaman entitas di luarnya, termasuk kebijakan dari Pemerintah Kota Yogyakarta. Usut punya usut, aktor tersebut adalah kelompok preman yang dipimpin oleh GJ dengan domisili kampung Badran, Yogyakarta. Kepercayaan para preman kepada GJ disebabkan kapasitas personal yang dimiliki berada satu tingkat di atas preman lainnya.
Alasan utama menjadi preman adalah sebagai bentuk resistensi masyarakat kelas ekonomi bawah atas bentuk ketidakadilan sikap dari penguasa (negara).
GJ mampu mengoptimalkan kapasitas yang dimilikinya dengan membangun jejaring preman yang berkonspirasi dengan para oknum aparat keamanan negara, dalam hal ini polisi dan militer. Dengan jaringan yang dimiliki, GJ dan kelompok preman menjelma menjadi orang kuat lokal (local strongmen) yang kemudian ‘menawarkan’ jasa perlindungan terhadap keberadaan praktek prostitusi di kampung Pasar Kembang dan para pekerja seks dengan mengaplikasikan konsep patronase.
Patronase yang dijalankan para local strongmen dijalankan secara sempurna dengan kuasa di tangan GJ. Akan tetapi, ketika GJ memutuskan untuk tidak lagi turun secara aktif dalam dunia premanisme, terjadi perlakuan yang terkesan kasar terhadap para pekerja seks. Meskipun demikian, tidak berpengaruh signifikan terhadap keberadaan praktek prostitusi di kampung Pasar Kembang.
Hal ini terbukti dengan tetap terjaganya praktek prostitusi di kampung Pasar Kembang hingga sekarang karena masih kuatnya jaringan preman dan oknum aparat keamanan negara dalam mem-back up praktek ilegal tersebut.
8 DAFTAR ISI
Halaman Persetujuan...
Halaman Pengesahan...
Surat Pernyataan...
Ucapan Terima Kasih...
Kata Pengantar...
Abstraksi...
Daftar Isi...
Daftar Tabel...
Bab I Pendahuluan...
A. Latar Belakang...
B. Rumusan Masalah...
C. Tujuan Penelitian...
D. Kerangka Teori...
D.1. Kampung...
D.2. Konsep Kuasa dan Relasi Kuasa...
D.3. Konsep Local Strongmen...
D.4. Konsep Patron-Client...
E. Definisi Konseptual...
E.1. Kampung...
E.2. Kuasa dan Relasi Kuasa...
E.3 Local Strongmen...
i ii iii iv v vi vii
x
1 1 5 6 6 8 9 13 16 21 21 21 22
9
E.4. Patron-Client...
F. Definisi Operasional...
F.1. Kampung...
F.2. Kuasa dan Relasi Kuasa...
F.3. Local Strongmen dan Patron-Client...
G. Skema Alur Berpikir...
H. Metode Penelitian...
H.1. Jenis Penelitian...
H.2. Teknik Pengumpulan Data...
H.3. Teknik Analisis Data...
H.4. Sistematika Penulisan...
Bab II Prostitusi di Kampung Pasar Kembang dan Relasi Para Penghuninya...
A. Sejarah Kampung Pasar Kembang...
B. Pemetaan Aktor dalam Kampung Prostitusi Pasar Kembang...
1. Aktor yang Terlibat Langsung Praktek Prostitusi...
2. Aktor yang Tidak Terlibat Langsung Praktek Prostitusi...
C. Relasi Kuasa Antar Aktor dalam Praktek Prostitusi Pasar Kembang...
Bab III Preman dan Kekuasaan di Kampung Pasar Kembang...
A. Berkuasanya Preman di Kampung Pasar Kembang...
B. Preman sebagai Local Strongmen...
C. Strategi Dominasi Local Strongmen...
22 23 23 23 23 24 24 24 27 28 29
30 31 33 35 40 45
48 48 51 56
10
Bab IV ‘Permainan’ Para Local Strongmen...
A. Pola Interaksi antara Preman dengan Pelaku Prostitusi di Kampung Prostitusi Pasar Kembang...
1. Antara Harapan dan Kenyataan...
2. Patronase yang Bersifat Parasitisme...
B. Konspirasi ‘Terselubung’...
Bab V Kesimpulan...
Daftar Pustaka...
61
61 61 63 71
76
80
11
DAFTAR TABEL Tabel 1 :
Tabel 2 : Tabel 3 : Tabel 4 : Tabel 5 : Tabel 6 :
Kekuasaan Paksaan dan Konsensual ...
Konsepsi Migdal tentang Kemunculan Local Strongmen ...
Peran Patron-Client dalam Aplikasi Konsep Patronase ...
Klasifikasi Pekerja Seks di Kampung Prostitusi Pasar Kembang ...
Pemetaan Aktor-Aktor Pelibat Praktek Prostitusi di Pasar Kembang ..
Pola Interaksi antara Preman, Pekerja Seks dan Mucikari dalam Konsep Patronase di Kampung Prostitusi Pasar Kembang ...
11 15 19 36 43 48 69
12 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kota Yogyakarta merupakan obyek wisata yang tidak pernah sepi dari pengunjung. Wisata yang dihadirkan meliputi tempat-tempat bersejarah maupun potensi alam yang mendukung. Selain itu, disediakan pula wisata di malam hari yang dapat dijumpai seperti halnya di kota-kota besar lainnya. Adapun wisata malam yang dapat ditemukan di Yogyakarta adalah keberadaan klab malam, diskotik, warung kopi ataupun kafe dan tempat praktek prostitusi. Namun, yang paling menarik untuk ditelisik lebih dalam adalah tempat praktek prostitusi dimana salah satunya berada di wilayah administratif kampung Sosrowijayan Kulon atau lebih sering disebut dengan nama ‘Sarkem’1.
Praktek prostitusi di kampung Pasar Kembang muncul pada saat selesainya pembangunan stasiun besar kereta api Tugu. Sebenarnya tidak mengherankan ketika dijumpai suatu pusat transportasi, ditemukan pula adanya praktek prostitusi. Fakta tersebut banyak dijumpai di seluruh kota di Indonesia.
Namun yang perlu digarisbawahi di sini adalah keunikan yang muncul kaitannya dengan lokasi praktek prostitusi yang ada di kota Yogyakarta. Keberadaan lokasi ini tepat di tengah-tengah permukiman penduduk yang sama sekali tidak terkait
1 Kampung Sosrowijayan berada di sebelah selatan Stasiun Besar Kereta Api Tugu. Kampung ini terbagi ke dalam dua wilayah, yaitu Sosrowijayan Wetan dan Sosrowijayan Kulon yang masing- masing memiliki dua gang. Praktek prostitusi sendiri berada di Sosrowijayan Kulon Gang 3.
13
dengan prostitusi. Lokasi prostitusi yang demikian, menurut Soedjono2 merupakan pola praktek pelacuran bordil, yaitu praktek pelacuran dimana para pelacur dijumpai di tempat-tempat tertentu, berupa rumah-rumah yang dinamakan bordil yang mana umumnya di tiap bordil dimiliki oleh orang yang namanya germo. Keunikan lainnya adalah keberadaan praktek prostitusi Pasar Kembang yang dikelilingi oleh berbagai instansi pemerintahan, seperti kantor Gubernur DIY, DPRD Kota Yogyakarta, Koramil, Polsek Gedong Tengen dan Kraton Ngayogyakarta. Meskipun demikian, praktek prostitusi tersebut tidak pernah padam dalam beraktivitas3. Hal inilah yang membedakannya dengan lokalisasi prostitusi lainnya, seperti Dolly di Surabaya, Saritem di Bandung, Sunan Kuning di Semarang dan pelacuran bordil di Ujung Pandang (sekarang Makassar).
Menurut sejarah dan beberapa sumber yang dipercaya4, kampung Sosrowijayan Kulon sempat menjadi kawasan terlarang berkenaan dengan praktek prostitusi melalui sebuah peraturan daerah (Perda) Pemerintah Kota Yogyakarta.
Aturan mengenai larangan prostitusi sebenarnya telah ada sejak zaman kolonial Belanda. Ketika praktek prostitusi dinilai semakin menunjukkan gejala
2 Soedjono D., SH. 1977. Pelacuran Ditinjau dari Segi Hukum dan Kenyataan dalam Masyarakat.
Bandung: PT. Karya Nusantara. Hal. 71.
3 Praktek prostitusi Pasar Kembang ‘berhenti’ beraktivitas pada dua kondisi, yaitu ketika hendak diadakan operasi razia oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan memasuki bulan Ramadhan.
4 Argumen ini berangkat setelah membaca beberapa bacaan terkait dengan prostitusi yang ada di kota Yogyakarta, yaitu buku ‘Sarkem Reproduksi Sosial Pelacuran’ karya Mudjijono. 2005.
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, skripsi Satriyo Widodo. 2007. “Dampak Sosial Ekonomi Penutupan Lokalisasi Sanggrahan”, mahasiswa Jurusan Politik dan Pemerintahan Fisipol UGM angkatan 2002 dan artikel yang diunduh dari internet http://reddistrictproject.com/index.php/aneka-tulisan dengan judul “Sejarah Sarkem dan Prostitusi”.
14
peningkatan dan kurangnya pemahaman masyarakat mengenai aturan larangan yang dikeluarkan oleh pemerintah setempat, dikeluarkanlah Perda yang bertujuan untuk mempermudah pengawasan dan penertiban atau pemberantasan hingga penghapusan para wanita tuna susila di wilayah Yogyakarta. Dalam perda tersebut ditetapkan pelaksanaan program resosialisasi di tanah milik pemerintah sendiri, yaitu sebelah selatan Desa Mrican atau sebelah barat Sungai Gadjah Uwong (sekarang telah menjadi terminal bis Giwangan)5. Program resosialisasi tersebut dapat dikatakan sebagai langkah terakhir pemerintah dalam memusatkan praktek prostitusi di satu tempat, yaitu berupa mendirikan lokalisasi yang bernama Sanggrahan sehingga secara otomatis Pasar Kembang seharusnya telah tertutup untuk praktek prostitusi. Namun anehnya, ketika Pasar Kembang dinyatakan terlarang, tetap saja masih berlangsung praktek prostitusi tersebut.
Masih maraknya praktek prostitusi di Pasar Kembang pasca resosialisasi ke Sanggrahan, diyakini bukan tanpa sebab. Menjadi sebuah pertanyaan besar yang ditujukan kepada Pemerintah Kota Yogyakarta pada waktu itu, mengapa hal demikian dapat terjadi? Apakah Pemerintah Kota Yogyakarta langsung lepas kontrol dalam hal pengawasan di kawasan Pasar Kembang ketika program resosialisasi di lokalisasi Sanggrahan berlangsung? Pun demikian pada saat lokalisasi Sanggrahan ditutup. Praktek prostitusi mayoritas beralih kembali ke kawasan Pasar Kembang, meski tidak menutup kemungkinan adanya praktek-
5 Mudjijono. 2005. Sarkem Reproduksi Sosial Pelacuran. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Hal. 28.
15
praktek prostitusi liar di luarnya. Yang perlu digarisbawahi, apapun kebijakan Pemerintah Kota Yogyakarta pada waktu itu terkait dengan prostitusi, Pasar Kembang selalu adem ayem. Dalam artian, praktek prostitusi di Pasar Kembang seakan tidak pernah ‘padam’ meskipun pemerintah setempat telah mengeluarkan beberapa peraturan daerah yang sedikit banyak berguna untuk meminimalisir praktek prostitusi di kawasan tersebut.
Penelitian mengenai prostitusi yang dilakukan sebelumnya lebih menitikberatkan pada perspektif sosial-ekonomi, yaitu reproduksi sosial prostitusi (Mudjijono: 2005). Sedangkan penelitian ini merapatkan diri pada kajian politis terkait relasi antar aktor dalam dunia prostitusi dan pola relasi antara aktor di luar pemerintah dengan Pemerintah Kota Yogyakarta mengenai keberadaan prostitusi di kampung Pasar Kembang. Artinya, ada semacam ‘kekuatan’ berupa posisi tawar (bargaining position) yang dimiliki oleh aktor di luar pemerintah6 untuk mengadakan proses negosiasi dengan Pemerintah Kota Yogyakarta yang berimplikasi pada tetap terjaganya praktek prostitusi di kampung Pasar Kembang.
Signifikansi penelitian ini dapat mengetahui adanya distribusi kekuasaan dan peranan local strongmen yang terdapat dalam kampung Pasar Kembang.
Sejalan dengan konsepsi dari Gaetano Mosca7 yang menjelaskan bahwa distribusi kekuasaan tidak pernah menemukan pembagian yang merata. Artinya, ada salah
6 Pihak di luar pemerintah dalam hal ini selain para pelibat prostitusi adalah aktor-aktor lain yang mendukung tetap berlangsungnya praktek prostitusi di kampung Pasar Kembang. Karena keberadaan praktek ilegal ini mampu menghidupkan perekonomian masyarakat di sekitarnya.
7 Konsepsi Gaetano Mosca mengenai pendistribusian kekuasaan yang dikutip oleh Charles F.
Andrain dalam Haryanto. 2005. Kekuasaan Elit; Suatu Bahasan Pengantar. Yogyakarta: Program Pascasarjana (S2) Politik Lokal dan Otonomi Daerah Universitas Gadjah Mada. Hal. 31.
16
satu pihak yang menjadi penguasa sedangkan pihak lain menjadi pihak yang dikuasai. Penelitian ini menemukan adanya hal tersebut dalam kampung Pasar Kembang (khususnya pihak yang terlibat dengan prostitusi). Adanya ketimpangan distribusi kekuasaan menyebabkan pihak yang memiliki kuasa lebih (preman), mampu mengorganisir diri dan membentuk sebuah jaringan yang luas dan kuat dengan entitas lain. Mengorganisir diri dapat diketahui melalui cara mereka mendayagunakan dan kemampuan mempertahankan kekuasaan yang dimiliki.
Kemudian mereka yang berkuasa (local strongmen) mampu menjadi perantara antara massa yang dikuasainya dengan negara. Ketimpangan distribusi kekuasaan ini dapat ditunjukkan melalui sebuah stratifikasi kekuasaan yang memberikan gambaran mengenai realita di kampung Pasar Kembang, yaitu antara preman (pihak yang berkuasa) dengan pihak yang terlibat praktek prostitusi (pihak yang dikuasai).
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas, yang menjadi pertanyaan utama dalam penelitian ini adalah “bagaimana peran preman sebagai local strongmen dalam membangun patronase di kampung Sosrowijayan Kulon, Pasar Kembang, Yogyakarta?”.
Penelitian ini akan mengelaborasi mekanisme preman sebagai local strongmen kampung Pasar Kembang sebagai salah satu upaya mempertahankan eksistensi praktek prostitusi yang ada di dalam kampung Pasar Kembang dan interaksinya dengan pihak di luar kampung Pasar Kembang.
17 C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui beberapa poin penting terkait dengan rumusan masalah yang telah diungkapkan di atas, yaitu:
1. Pemetaan aktor yang tidak terlibat secara langsung dalam praktek prostitusi di kampung Pasar Kembang.
2. Peran preman sebagai local strongmen dalam kampung Pasar Kembang.
3. Pola interaksi local strongmen dengan entitas luar terkait keberadaan praktek prostitusi di kampung Pasar Kembang hingga sekarang ini.
D. Kerangka Teori
Keberadaan praktek prostitusi berkaitan erat dengan aspek ekonomi, dimana sebuah lokalisasi prostitusi memberikan dampak berupa keuntungan finansial bagi seluruh individu yang berdomisili di areal lokalisasi tersebut. Fakta ini identik dengan kasus Pasar Kembang8, dimana saling ketergantungan dan saling menguntungkan secara finansial terbentuk antara penghuni kampung Pasar Kembang yang berprofesi sebagai pelaku prostitusi dengan para warga yang tidak terkait dengan praktek prostitusi. Terrence H. Hull mengangkat mengenai keterkaitan industrialisasi dengan peningkatan aksi prostitusi, dimana pada akhirnya industrialisasi yang terjadi menghadirkan sebentuk demand terhadap
8 Mudjijono, op.cit. Hal. 95-108.
18
keberadaan prostitusi tersebut9. Secara sederhana, konsep keuntungan dari segi ekonomi yang ada pada sebuah lokalisasi dapat dianalogikan sebagai suatu objek wisata, dimana pada sebuah objek wisata, seluruh unsur masyarakat yang menetap di sekitar areal objek wisata tersebut akan terkena imbas keuntungan ekonomi, baik mereka sebagai pelaku langsung ataupun tidak.
Di setiap praktek prostitusi, dapat dijumpai para pelaku prostitusi yang biasanya terdiri dari penyedia jasa dan konsumen. Dalam praktek prostitusi di kampung Pasar Kembang, setidaknya ada dua pihak yang dapat dikategorikan berdasarkan keterlibatannya dalam praktek prostitusi, yaitu langsung dan tidak langsung. Pihak yang dinyatakan secara langsung terlibat dalam praktek prostitusi adalah penyedia jasa dan konsumen, seperti yang telah disebutkan sebelumnya.
Sedangkan yang merupakan pihak yang tidak terlibat secara langsung adalah penduduk di sekitar praktek prostitusi di kampung Pasar Kembang.
Antara pihak yang terlibat secara langsung dengan pihak yang tidak terlibat secara langsung terdapat relasi kerja yang terjalin demi terus berlangsungnya praktek prostitusi di kampung tersebut. Tidak dapat dipungkiri, ketika kita menjumpai adanya praktek informal ataupun ilegal seperti ini, ada pihak yang menyatakan dirinya berkuasa atas pihak lain.
9 Hull, Terrence H., dkk. 1997. Pelacuran di Indonesia: Sejarah dan Perkembangannya. Jakarta:
Pustaka Sinar Harapan.
19
Uraian lebih lanjut di bawah ini akan menunjukkan teorisasi yang digunakan untuk mengkerangkai penelitian yang dilakukan di kampung Pasar Kembang.
D.1. Kampung
Mendefinisikan kampung secara spesifik berdasarkan kriteria-kriteria tertentu merupakan suatu hal yang debatable. Misalnya, dengan kriteria kepadatan penduduk yang tinggi, ukuran besarnya dan pekerjaan penduduknya (Murray, 1994: 24)10. Kriteria semacam itu bukan suatu hal yang saklek (pasti) karena hasil yang diperoleh nantinya tidak merepresentasikan definisi kampung. Penelitian Murray di Jakarta menunjukkan bahwa yang disebut daerah kampung telah menjadi tempat tinggal sebagian terbesar masyarakat (kota) kelas bawah. Sehingga, istilah kampung tidak serta merta menjadi ‘milik’nya desa saja. Setidaknya ada dua perspektif yang dapat digunakan untuk menganalisa sejarah kampung11.
Pertama, memandang sejarah kampung merupakan sejarah kontrol.
Wilayah kampung dibagi ke dalam kesatuan-kesatuan wilayah, seperti RT (rukun tetangga), RW (rukun warga), ataupun lembaga-lembaga sosial kemasyarakatan, semacam PKK, Dasawisma dan Karang Taruna. Pembagian secara administratif ini merupakan hasil adopsi model pemerintah Jepang sebagai bentuk kontrol negara terhadap warganya (rakyat). Mereka memiliki
10 Dalam artikel yang diunduh dari website http://ypr.or.id/id/warta-kampung/kampung-anak- kampungan-sketsa-sketsa-awal-.html dengan judul “Warta Kampung; Kampung Anak Kampungan (Sketsa-sketsa Awal)” pada 26 Mei 2010.
11 Ibid.
20
kewajiban untuk mengimplementasikan program kebijakan negara. Karena mereka dibentuk oleh negara sebagai institusi formal terkecil dalam masyarakat.
Kedua, memandang sejarah kampung merupakan sejarah komunitas.
Menurut Sullivan (Local Government and Community in Java, 1992: 229)12 tentang lingkungan kampung di Yogyakarta, tidak ditemukan adanya negara yang mengontrol secara ketat terhadap pemerintahan lokal, sesuai dengan kesatuan administratif yang telah ditetapkan oleh pusat. Hal ini didasarkan pada proses penamaan kampung di Yogyakarta yang memiliki keunikan dengan diklasifikasikan menurut profesi yang banyak ditekuni warganya, golongan kerabat dan pejabat, keahlian abdi dalem hingga nama pasukan prajurit. Sehingga, keberadaan kampung – dengan kriteria warga yang menghuni – semacam ini merupakan bentuk komunitas yang telah terorganisir dengan baik. Meskipun dikatakan sebagai komunitas, bukan berarti di dalamnya tidak terdapat pembagian kesatuan administratif. Kampung- kampung di Yogyakarta13 juga dijumpai adanya RT, RW atau lebih dikenal dengan rukun kampung.
D.2. Konsep Kuasa dan Relasi Kuasa
Kekuasaan dalam dunia politik merupakan suatu instrumen atau alat untuk memperoleh suatu nilai tertentu. Kekuasan dalam hal ini berkaitan
12 Dalam Patrick Guinness. 2009. Kampung, Islam and State in Urban Java. Australia: NUS Press.
Hal. 11
13 Ibid.
21
dengan kemampuan seseorang maupun sekelompok orang untuk mempengaruhi orang lain tanpa memperhatikan apakah orang lain tersebut ingin melakukannya. Hal ini senada dengan Ramlan Surbakti (Haryanto, 2005: 5) dalam mendefinisikan kekuasaan sebagai kemampuan menggunakan sumber-sumber pengaruh yang dimiliki untuk mempengaruhi perilaku pihak lain, sehingga pihak lain berperilaku sesuai dengan kehendak pihak yang mempengaruhi.
Di lain sisi, terdapat beberapa hal yang memiliki kaitan erat dengan kekuasaan. Pertama, dimensi kekuasaan14 yang dipetakan menjadi 4 (empat) dimensi: (1) potensial dan aktual, (2) jabatan dan pribadi, (3) paksaan dan konsensual, dan (4) positif dan negatif. Dimensi kekuasaan dalam dunia prostitusi Sarkem termasuk dalam pemetaan ketiga, yaitu paksaan dan konsensual. Charles F. Andrain (Haryanto, 2005: 10) menjelaskan kekuasaan yang didasarkan pada aspek paksaan dalam memandang politik selalu mengandung aktivitas pergulatan, dominasi dan konflik. Biasanya terjadi ketimpangan dimana ada pihak yang merasa dirugikan dan lainnya merasa diuntungkan. Sehingga tujuan yang tercapai merupakan tujuan suatu kelompok kepentingan saja, bukan tujuan bersama dalam suatu komunitas.
Sedangkan kekuasaan konsensual berbanding terbalik dengan kekuasaan paksaan dan memiliki misi untuk mewujudkan tujuan bersama dari suatu komunitas. Namun yang perlu digarisbawahi, dimensi kekuasaan dalam
14 Dinyatakan oleh Charles F. Andrain dalam Haryanto. op.cit. Hal. 7.
22
kampung prostitusi di Pasar Kembang adalah sebuah “kolaborasi” antara kekuasaan paksaan dengan konsensual. Karena dalam kampung tersebut ditemukan adanya dominasi, konflik dan tergambar dalam sebuah piramida kekuasaan yang menunjukkan adanya pihak yang berkuasa dan dikuasai.
Sedangkan tujuan yang hendak dicapai merupakan tujuan bersama komunitas, yaitu tetap berlangsungnya aktivitas prostitusi.
Tabel 1
Kekuasaan Paksaan dan Konsensual15 Tipe
Kekuasaan Paksaan Konsensus
Fisik Cedera fisik, pemenjaraan, kematian
Memberi jalan memperoleh persenjataan
Ekonomi Tidak diberi pekerjaan, penerapan denda, kehilangan kontrak
Memberi jalan memperoleh kekayaan
Normatif Pengucilan, larangan memangku jabatan
Memberi jalan memperoleh wewenang dan simbol-simbol kebenaran moral
Personal Hilangnya dukungan
kelompok, persahabatan dan popularitas
Pemberian dukungan kelompok
Ahli Pemberian informasi yang menguntungkan ataupun merugikan orang lain
Penyediaan ilmu pengetahuan dan keterampilan
15Sumber: Charles F. Andrain. 1992. Kehidupan Politik dan Perubahan Sosial. Yogyakarta: Tiara Wacana. Hal. 140.
23
Kedua, implementasi kekuasaan yang difungsikan untuk menunjukkan kekuasaan yang dimiliki dan menjaga agar kekuasaan tersebut tidak jatuh ke pihak lain. Dalam bukunya, Miriam Budiardjo16 mengatakan bahwa upaya untuk menyelenggarakan kekuasaan berbeda-beda. Terdapat dua upaya (implementasi) kekuasaan, yaitu dengan cara kekerasan (force) dan lunak melalui cara persuasi (proses meyakinkan). Cara kekerasan digunakan untuk meminimalisir resistensi dari pihak yang dikuasai karena bila tidak, dikhawatirkan akan memunculkan sebuah persaingan dalam hal kekuasaan.
Sedangkan cara lunak melalui model persuasi dilakukan untuk menghindari adanya konflik dengan benturan fisik seperti yang dimungkinkan dalam penerapan cara kekerasan.
Ketiga, suatu kekuasaan hanya bisa berjalan ketika didalamnya ada relasi antara pihak yang dikuasai dan pihak yang menguasai. Individu atau kelompok yang memiliki pengaruh lebih besar terhadap individu lain disebut elit. Mereka memiliki kekuasaan untuk mengatur individu-individu lain dalam komunitas. Hal ini identik dengan pendapat Mosca17 dalam bukunya yang berjudul “The Ruling Class”, yang menyatakan bahwa dalam semua masyarakat, muncul dua kelas manusia, kelas yang berkuasa dan kelas yang dikuasai. Kelas pertama berjumlah lebih sedikit, melaksanakan semua fungsi politik, memonopoli kekuasaan dan menikmati keistimewaan-keistimewaan
16 Miriam Budiardjo. 1991. Aneka Pemikiran tentang Kuasa dan Wibawa. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. Hal. 13.
17 T.B. Bottomore. 2006. Elite dan Masyarakat. Penerjemah: Abdul Harris dan Sayid Umar. Ed: M Alfan ALfian M. Jakarta: Akbar Tandjung Institute. Hal. 4.
24
yang diberikan oleh kekuasaan. Sedangkan yang kelas kedua, berjumlah lebih banyak, diperintah dan dikendalikan oleh kelas yang pertama, dengan cara pada masa sekarang ini kurang lebih legal, diktatorial, dan kejam.
Hubungan (relationship) antara dua atau lebih pihak (individu ataupun kelompok) yang terjalin bersifat relational. Dalam artian, kekuasaan dalam implementasinya mengarah pada dua poin penting yang berkaitan dengan kehidupan berpolitik sehari-hari (daily politic), yaitu hal atau bidang yang dikuasai (scope of power) dan pihak yang dikuasai (domain of power).
Konsepsi ini terlihat jelas dalam penelitian di kampung Pasar Kembang yang penulis lakukan dimana ditemukan adanya kelas pertama sebagai pihak yang berkuasa (sekelompok warga yang memiliki kapasitas mengatur segala aspek kehidupan di lingkungan prostitusi Pasar Kembang) dan kelas kedua sebagai pihak yang dikuasai (pelaku prostitusi dan masyarakat di lingkungan Pasar Kembang).
D.3. Konsep Local Strongmen
Keberadaan local strongmen dalam suatu komunitas merupakan bentuk “resistensi” mereka terhadap intervensi negara. Terkadang, negara terlalu sentralistik dalam menerapkan kebijakannya tanpa memperhatikan keadaan yang sebenarnya dalam suatu masyarakat maupun komunitas.
Sehingga, masyarakat cenderung bersikap apatis terhadap apa yang ditetapkan oleh negara melalui kebijakannya.
Joel Migdal dalam bukunya yang berjudul Strong Society and Weak States: State Society Relations and State Capabilities In The Third World
25
(1988) menyatakan bahwa setiap kelompok dalam masyarakat mempunyai pemimpin, dimana pemimpin itu relatif otonom dari negara. Selain itu, setiap masyarakat mempunyai social capacity yang memungkinkan mereka untuk menerapkan aturan mereka tanpa diintervensi oleh negara. Ketika kapasitas negara untuk mengontrol melemah (weak state) maka para strongmen menampakkan kekuasaannya dalam level lokal. Migdal menyebutkan triangle of accommodation sebagai strategi strongmen untuk bertahan. Pertama, para
local strongmen tumbuh subur di dalam masyarakat ‘mirip jaringan’ yang digambarkan sebagai ‘sekumpulan campuran (melange) organisasi-organisasi sosial nyaris mandiri’ dengan kontrol sosial yang efektif ‘terpecah-pecah’.
Singkat kata, berkat struktur masyarakat mirip jaringan, local strongmen memperoleh pengaruh signifikan jauh melampaui pengaruh para pemimpin negara dan para birokrat lokal. Para local strongmen yang terdapat dipelbagai daerah di Indonesia memiliki kapasitas mempengaruhi perspektif politik masyarakat setempat, sehingga menyebabkan negara tidak dapat melakukan intervensi dan menerapkan regulasi di dalam masyarakat yang bersangkutan, karena lebih mempercayai kapasitas local strongmen.
Kedua, para local strongmen melakukan kontrol sosial dengan menyertakan beberapa komponen penting yang dinamakan ‘strategi bertahan hidup’ penduduk setempat. Dengan kondisi seperti itu, local strongmen bukan saja memiliki legitimasi dan memperoleh banyak dukungan di antara penduduk lokal, tetapi juga hadir untuk memenuhi kebutuhan pokok dan tuntutan para pemilih atas jasa yang diberikan.
26
Ketiga, keberhasilan para local strongmen ‘menangkap’ lembaga- lembaga dan sumber daya negara yang merintangi atau menyetujui upaya pemimpin negara dalam melaksanakan pelbagai kebijakan. Local strongmen membatasi otonomi dan kapasitas negara, penyebab kelemahan negara dalam menjalankan tujuan berorientasi perubahan sosial, serta memperbesar ketidakterkendalian dan kekacauan. Sepanjang keberhasilan strategi industrialisasi dan pertumbuhan amat tergantung pada penyusunan dan pelaksanaan kebijakan negara yang saling bertautan efektif. Dengan demikian, kehadiran strongmen merupakan refleksi dalam kuatnya masyarakat.
Tabel 2
Konsepsi Migdal tentang Kemunculan Local Strongmen18 Cakupan Konsensial Indikator (Keterangan)
Terminologi Local Strongmen
Keadaan Sosio-Kultural Negara-negara yang baru merdeka
Sumber legitimasi
Figuritas dan Mistis
→ memberikan hal-hal yang dibutuhkan masyarakat seperti:
1. tempat tinggal 2. makanan 3. hubungan sosial 4. perlindungan
Posisi negara Lemah
18 Sumber: Migdal, 1998. Strong Societies and Weak States: State Society Relations and State Capabilities in the Third World. New Jersey: Princenton University Press.
27
Alasan terbentuk Struktur masyarakat yang fragmentasi
Peranan Kebanyakan sebagai musuh pemerintah pusat
karena kepentingannya selalu berseberangan dengan para local strongmen
Aktor Tuan tanah, orang kaya, pemimpin tradisional
Industrialisasi Menghambat
Hasil keberadaan local strongmen
1. legitimasi 2. dukungan
3. kebutuhan → ketergantungan 4. hubungan patron-klien
D.4. Konsep Patron-Client
Hubungan elit dengan warga komunitas seringkali berbentuk hubungan patron-klien (patronase). James C. Scott19 menyebutkan hubungan antar patron dengan klien merupakan pertukaran hubungan antara kedua peran – dapat dinyatakan sebagai kasus khusus dari ikatan diadik (dua orang) – yang terutama melibatkan persahabatan instrumental dimana seorang individu dengan status sosial-ekonomi yang lebih tinggi (patron) menggunakan pengaruh dan sumber dayanya untuk menyediakan perlindungan dan atau keuntungan-keuntungan bagi seseorang dengan status lebih rendah (klien).
Pada gilirannya, klien membalasnya dengan menawarkan dukungan umum dan bantuan, termasuk jasa pribadi kepada patron.
19 James C. Scott. 1993. Perlawanan Kaum Tani, penerjemah: Budi Kuswora …(et al), Pengantar:
Sayogyo.—Ed.1, Cet.1— Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Hal. 7.
28
Menurut Scott20, dalam hubungan patron – klien setidaknya ada empat ciri penting. Pertama, adanya hubungan timbal balik melalui pertukaran sumber daya yang dimiliki oleh masing-masing pihak. Sumber daya yang dimiliki patron bisa berupa kekuasaan, kedudukan, perlindungan dan materi.
Sedangkan klien memiliki sumber daya berupa tenaga, dukungan dan loyalitas. Kedua, adanya ketidakseimbangan dalam pertukaran. Hal ini ditunjukkan melalui adanya: (1) ketimpangan pasar yang kuat dalam penguasaan kekayaan, status dan kekuasaan yang banyak diterima sebagai sesuatu yang sah, (2) ketiadaan jaminan fisik, status dan kedudukan yang kuat dan bersifat personal serta (3) ketidakberdayaan kesatuan keluarga sebagai wahana yang efektif bagi keamanan dan pengembangan diri (Scott, 1977:
132). Ketiga, adanya interaksi yang bersifat tatap muka antara pihak-pihak yang bersangkutan. Keempat, adanya ketergantungan yang bersifat luas dan lentur antara patron – klien.
James C. Scott dalam bukunya yang berjudul “Perlawanan Kaum Tani” (1993: 9-16) mengulas peran yang ditunjukkan oleh kedua belah pihak (patron dan klien). Peranan yang dimainkan patron diantaranya: (1) penghidupan subsistensi dasar. Patron menyediakan lahan pekerjaan pada klien. (2) jaminan krisis subsistensi. Patron menjamin “dasar” subsistensi bagi kliennya dengan menyerap kerugian-kerugian yang akan merusak kehidupan
20 James C. Scott. 1977. ‘Patron Client, Politics and Political Change in South East Asia’ dalam Friends, Followers and Factions a Reader in Political Clientalism, Steffen W. Schmidt, James C.
Scott (eds.), Berkeley: University of California Press.
29
klien jika tidak dilakukan oleh patron. (3) perlindungan. Patron melindungi klien dari bahaya pribadi (bandit, musuh pribadi) maupun bahaya umum (tentara, pejabat luar, pengadilan, pemungut pajak). (4) makelar dan pengaruh.
Ketika patron melindungi kliennya dari perusakan yang berasal dari luar, ia juga menggunakan kekuatan dan pengaruhnya untuk menarik hadiah dari luar bagi kepentingan kliennya. Perlindungan merupakan peran defensifnya dalam menghadapi dunia luar, sedangkan kemakelaran adalah peran agresifnya. (5) jasa patron kolektif. Secara internal, patron sebagai kelompok dapat melakukan fungsi ekonomi secara kolektif melalui mengelola dan mensubsidi sumbangan dan keringanan ataupun menjadi tuan rumah bagi pejabat yang berkunjung.
Peranan yang dimainkan oleh klien, yaitu: (1) ketergantungan dan legitimasi. Dalam hal ini memunculkan persoalan “apakah hubungan ketergantungan oleh klien bersifat kolaboratif dan sah atau eksploitatif”. (2) beberapa komplikasi dan kenyataan. Munculnya dua kualifikasi dalam menganalisis kondisi yang terjadi dalam masyarakat, yaitu melalui model yang lebih sederhana terutama melalaikan akibat dari perubahan-perubahan secara tiba-tiba dalam neraca pertukaran terhadap legitimasi patron; dan adanya ambang batas fisik dan kultural yang jika dilampaui akan menyebabkan terputusnya dampak. (3) pelanggaran terhadap pertukaran yang stabil. Keadaan masyarakat yang stabil membuat hubungan kekuatan antara patron-klien menghasilkan norma pertukaran yang mendapatkan kekuatan moral tersendiri. Upaya merumuskan kembali norma-norma terjadi bila ada
30
pelanggaran dari kewajiban tradisional yang secara historis telah dilaksanakan oleh patron. (4) hak-hak sosial dasar. Dalam kontrak patron-klien terdapat tujuan dasar dan merupakan landasan bagi legitimasi, yaitu penyediaan jaminan sosial dasar bagi subsistensi dan keamanan. (5) posisi tawar-menawar yang relatif. Patron unggul apabila mampu mengendalikan barang dan jasa vital yang tidak bisa diperoleh di tempat lain. Sedangkan klien unggul apabila didasarkan pada faktor historis yang menyangkut persoalan jaminan tenaga kerja, upah, kebutuhan pasok tenaga kerja untuk mempertahankan tempat patron dan kebutuhan akan pengikut pemilihan untuk memenangkan kendali atas sumber daya lokal.
Secara sederhana, konsep patronase dapat disarikan melalui tabel berikut ini.
Tabel 3
Peran Patron-Client dalam Aplikasi Konsep Patronase Cakupan
Peran dan Fungsi Patron Client
Penyediaan Sumber Daya
• Kekuasaan
• Kedudukan
• Perlindungan
• Tenaga
• Dukungan
• Loyalitas
• Materi
31 Ruang Otoritas
• Penghidupan subsistensi dasar.
• Jaminan krisis subsistensi.
• Perlindungan.
• Makelar dan pengaruh.
• Jasa patron kolektif.
• Ketergantungan dan legitimasi.
• Beberapa komplikasi dan kenyataan.
• Pelanggaran terhadap pertukaran yang stabil.
• Hak-hak sosial dasar.
• Posisi tawar-menawar yang relatif.
Demikian pula Gellner yang mendefinisikan hubungan patron-klien sebagai sebuah hubungan kekuasaan yang timpang atau tidak setara yang memiliki dimensi moral. Berikut diagram untuk menjelaskan struktur politik patron klien21:
Keberadaan elit sebagai perantara antara komunitas dengan entitas lain lebih sering terjadi karena alasan-alasan ekonomi dan politik. Dalam kepentingan politik, elit perantara ini sering digunakan entitas lain untuk kepentingannya misalnya saja berkaitan dengan kampanye-kampanye politik,
21 RPKPS Mata Kuliah Pemerintahan Komunitas. Rancangan Sesi IV dan V. Tema : Relasi community dengan institusi formal seperti negara dan pasar dengan sub judul Kehadiran Brokers.
Patron
Klien Klien
Klien Klien Klien Klien
32
penyelesaian konflik dengan warga komunitas. Dalam segi ekonomi, elit perantara berperan dalam memfasilitasi entitas lain untuk melakukan negosiasi-negosiasi dengan warga komunitas berkaitan dengan sumberdaya ekonomi. Misalnya: memfasilitasi data-data yang digunakan pemerintah untuk memberian bantuan dan kredit kepada warga komunitas. Dengan menjalankan peran seperti ini elit perantara memegang kontrol atas sumberdaya dari pemerintah untuk masyarakatnya.
E. Definisi Konseptual 1. Kampung
Istilah kampung secara sederhana sebenarnya menunjukkan daerah pedesaan yang masih mempunyai karakter tradisional kuat dengan homogenitas penduduknya dan mayoritas berorientasi pada agraris. Namun seiring perkembangan zaman, istilah kampung bergeser tidak semata berlaku untuk daerah pedesaan saja, melainkan di wilayah kota. Pergeseran ini terjadi karena arus urbanisasi yang dilakukan penduduk desa ke kota demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari mereka.
Keberadaan kampung di kota karena arus urbanisasi menciptakan sebuah wadah baru yang dapat disebut dengan kampung komunitas. Hal ini terjadi karena para penghuninya memiliki persamaan dalam orientasi dan biasanya mereka beraktivitas di sektor informal.
2. Kuasa dan Relasi Kuasa
Suatu hubungan antara orang atau kelompok orang dimana ada salah satu pihak yang mampu mempengaruhi pihak yang lain karena orang atau
33
kelompok orang ini mendominasi sumber daya yang mampu melahirkan kekuasaan. Orang atau kelompok orang ini menjadi penghubung antara pihak luar dengan masyarakat yang mampu dipengaruhinya. Sedangkan masyarakat yang mampu dipengaruhi akan menunjukkan kepatuhan. Tetapi kepatuhan ini tidak bersifat mutlak karena setiap individu masyarakat memiliki otonomi untuk mengambil sikap atas pihak yang memiliki pengaruh.
3. Local Strongmen
Elit sebagai broker merupakan orang atau kelompok orang yang memiliki pengaruh dalam suatu masyarakat dan menjadi perantara bagi masyarakat dengan entitas lain. Posisinya sebagai perantara adalah pembela komunitas ketika berhadapan dengan entitas lain. Dalam pola relasi ini elit akan selalu memberikan informasi yang menguntungkan warga komunitas.
Local strongmen diasumsikan sebagai pihak representatif dari elit, yang menunjukkan kekuasaannya di level lokal melalui strategi yang diterapkan untuk memberikan “resistensi” atas intervensi negara.
4. Patron-Client
Relasi yang terjalin dalam suatu masyarakat yang memiliki ketimpangan dalam hal distribusi kekuasaan menyebabkan pihak penguasa menawarkan sebuah win win solution, yaitu konsep patron-client. Konsep ini merupakan sebuah politik balas jasa sebagai patron, penguasa dituntut untuk memberikan suatu perlindungan kepada client dari pengaruh maupun ancaman pihak lain. Sedangkan sebagai client, masyarakat yang dikuasai (massa) menawarkan sumber daya yang dimiliki.
34 F. Definisi Operasional
Dengan definisi konseptual yang telah dipaparkan di atas, berikut ini disajikan operasionalisasi penelitian yang akan menjadi alat untuk memudahkan peneliti memfokuskan penelitian ketika berada di lapangan dan ditujukan untuk memetakan permasalahan dan membantu analisa permasalahan.
1. Kampung
Kampung di kota dapat diklasifikasikan berdasar pada:
• Nama kampung
• Sektor usaha yang dijalankan 2. Kuasa dan Relasi Kuasa
Kekuasaan yang diperoleh masyarakat kelas pertama dengan mengidentifikasinya ke dalam beberapa tinjauan:
• Dimensi kekuasaan
• Distribusi kekuasaan
• Implementasi kekuasaan
3. Local Strongmen dan Patron-Client
Sebagai orang kuat di level lokal yang sekaligus berperan sebagai perantara, untuk melacaknya adalah dengan mengidentifikasi:
• Sumber kekuasaan, kewenangan dan legitimasi
• Pendayagunaan kekuasaan politik
• Strategi yang diterapkan
35 G. Skema Alur Berpikir
H. Metode Penelitian H.1. Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan metode studi kasus (case study). Penggunaan penelitian kualitatif ini lebih dikarenakan mempergunakan data yang dinyatakan secara verbal dan kualifikasinya bersifat teoritis. Data sebagai bukti dalam menguji kebenaran atau ketidakbenaran hipotesis tidak diolah melalui perhitungan matematis dengan berbagai rumus statistika. Pengolahan data dilakukan secara rasional dengan mempergunakan pola berpikir tertentu menurut hukum logika22.
Secara umum, studi kasus juga memperhatikan tiga kondisi dalam menggunakan strategi yang cocok untuk diterapkan, yaitu23: (a) tipe pertanyaan yang diajukan dalam penelitian. Metode studi kasus menggunakan tipe pertanyaan ‘how’ (bagaimana) dan ‘why’ (mengapa). Penelitian ini
22 Dr. Hadari Nawawi. 1983. Metode Penelitian Bidang Sosial. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Hal 32.
23 Prof. Dr. Robert K. Yin. 2006. Studi Kasus, Desain & Metode. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada. Hal 7.
Ketimpangan distribusi kekuasaan
• Patronase
• Local Strongmen Preman
Mucikari
Pekerja Seks
36
menggunakan tipe pertanyaan ‘how’, yaitu bagaimana kontestasi kepentingan antara aktor di luar pemerintah dengan Pemerintah Kota Yogyakarta terkait keberadaan prostitusi di kampung Pasar Kembang Yogyakarta? (b) peneliti tidak dapat melakukan kontrol dan akses atas peristiwa perilaku yang akan diteliti. Minimnya intensitas kehadiran peneliti di lokasi obyek penelitian menyebabkan tidak dapat melakukan kontrol yang intensif di dalamnya. (c) fokus penelitian merupakan peristiwa kontemporer. Hingga sekarang, belum banyak kajian mengenai kontestasi kepentingan antar aktor yang berimplikasi pada terbentuknya suatu relasi kuasa diantara aktor yang terlibat dalam kontestasi tersebut.
Alasan menggunakan metode penelitian studi kasus dikarenakan metode ini menyelidiki fenomena dalam konteks kehidupan nyata dimana batas-batas antar keduanya tidak terlihat jelas dan dapat memanfaatkan multisumber bukti. Keberadaan praktek prostitusi di kampung Pasar Kembang yang menyatu dengan permukiman penduduk merupakan sebuah fenomena dalam konteks kehidupan sosial ekonomi masyarakat Pasar Kembang yang tidak dapat diperdebatkan lagi. Mekanisme pembuktiannya adalah dengan memanfaatkan multisumber bukti yang menjadi keunikan dari metode studi kasus, yaitu dokumen, peralatan, wawancara sistemik, dan observasi.
Sedangkan data-data yang diperoleh melalui pemanfaatan multisumber bukti tersebut tidak dapat dimanipulasi.
Terlepas dari itu semua, studi kasus memiliki kelemahan mendasar sehingga terkadang dianggap remeh dan kurang begitu diinginkan oleh
37
peneliti lainnya. Kelemahan studi kasus, seperti yang disebutkan dalam bukunya Robert K. Yin (Studi Kasus, Desain & Metode: 2006) bahwa studi kasus memiliki kelonggaran sehingga memberikan keleluasaan pada bukti- bukti samar atau perspektif bias untuk mempengaruhi arah temuan dan kesimpulannya. Langkah solutif yang peneliti lakukan adalah melakukan mekanisme cross check dengan pihak yang berkompeten dan memiliki kapabilitas dalam menyikapi informasi secara obyektif yang peneliti peroleh, seperti dosen, kelompok diskusi dan aktivis LSM untuk dilibatkan perannya dalam tahap interpretasi data.
Metode studi kasus memiliki tiga varian berdasarkan aspek hierarkinya, yaitu studi kasus eksploratoris, studi kasus deskriptif dan eksplanatoris24. Peneliti menggunakan studi kasus eksplanatoris dengan tujuan untuk memajukan penjelasan-penjelasan tandingan terhadap rangkaian peristiwa yang sama dan menunjukkan bagaimana penjelasan semacam itu tidak menutup kemungkinan dapat diterapkan pada situasi-situasi yang lain25. Prostitusi di kampung Pasar Kembang tergolong sebagai kasus tunggal yang dapat peneliti analisis melalui studi kasus eksplanatoris. Dengan memfokuskan penelitian pada kontestasi kepentingan antar aktor yang saling memiliki keterkaitan dengan prostitusi di kampung Pasar Kembang, akan dapat diketahui bagaimana relasi kuasa yang terjalin antar aktor dengan
24 Ibid.
25 Ibid. Hal 6.
38
kepentingan masing-masing. Setelah diketahui apa yang terjadi sebenarnya, diharapkan teori ini dapat diterapkan dalam situasi lain.
H.2. Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian studi kasus, untuk memperoleh validitas dan reliabilitas hasil yang dicapai sangat ditentukan oleh sifat data ditentukan pula oleh sumber datanya. Penelitian ini menggunakan dua jenis data yang diklasifikasikan berdasarkan cara memperolehnya.
1. Data Primer
Dalam penelitian ini, penulis melakukan serangkaian kegiatan, berupa wawancara dan observasi non-partisipan yang bertujuan untuk memperoleh informasi asli terkait dengan fokus penelitian.
Model wawancara dilakukan dengan dua cara. Pertama, wawancara struktural dengan model indepth interview, yaitu wawancara secara mendalam dengan narasumber dengan mempersiapkan interview guide yang memuat poin-poin penting terkait pertanyaan yang hendak diajukan. Dalam hal ini, yang menjadi narasumber adalah instansi Pemerintah Kota Yogyakarta (Satuan Polisi Pamong Praja selaku eksekutor kebijakan operasi penyakit sosial). Kedua, wawancara non-struktural yang dilakukan tanpa menggunakan interview guide sebagai pengantar wawancara. Hal ini dimaksudkan agar terjalin hubungan yang baik dengan narasumber.
Pekerja seks dipilih sebagai narasumber yang dapat memberikan informasi selengkap-lengkapnya – dikarenakan mereka yang
39
mengetahui dan mengalami peristiwa yang terjadi dalam dunia prostitusi di Pasar Kembang – dan juga sebagai perantara yang menghubungkan penulis dengan para local strongmen. Sehingga suasana wawancara informal dapat terjaga tanpa ada kecurigaan dari narasumber yang dimaksud.
Interview guide yang digunakan dalam wawancara struktural dengan aparat Satpol PP Kota Yogyakarta adalah:
• Tugas dan wewenang Satpol PP Kota Yogyakarta.
• Mekanisme operasi razia pekerja seks di Pasar Kembang.
• Relasi Satpol PP Kota Yogyakarta dengan aparat kepolisian dan militer.
2. Data Sekunder
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan teknik dokumentasi dari berbagai literatur yang menunjang dan sesuai dengan fokus penelitian. Literatur yang dijadikan acuan diantaranya berupa tulisan- tulisan dari karya ilmiah yang mengkaji mengenai prostitusi, buku yang membahas tentang prostitusi, kumpulan artikel di internet dan peraturan perundangan terdahulu yang mengatur tentang prostitusi.
H.3. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis kualitatif, yaitu data diinterpretasikan sesuai dengan tujuan penelitian.
Dengan demikian dalam menemukan jawaban permasalahan penelitian, peneliti mencoba dengan wawancara, dokumentasi dan pengamatan langsung
40
ke lapangan terhadap fakta-fakta yang ingin diketahui. Sehingga diperoleh data yang kemudian dikumpulkan, diklasifikasikan, diinterpretasikan dan dianalisis serta diambil kesimpulan.
H.4. Sistematika Penulisan
Penulisan hasil penelitian ini akan diuraikan ke dalam lima bab yang saling berhubungan. Bab pertama merupakan bab pendahuluan yang memuat latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian dan metode yang digunakan dalam penelitian ini.
Bab kedua berisi tentang sejarah kampung Pasar Kembang yang berkembang menjadi terkenal akan adanya praktek prostitusi di dalamnya dan pengidentifikasian aktor-aktor yang terlibat praktek prostitusi di kampung tersebut.
Bab ketiga berisi tentang mekanisme preman dalam memperoleh, mengimplementasi dan mendayagunakan kekuasaan yang dimiliki terhadap warga kampung prostitusi Pasar Kembang yang berimplikasi pada peran preman sebagai local strongmen.
Bab keempat memuat penjelasan mengenai peran yang dijalankan preman sebagai local strongmen dalam berinteraksi dengan entitas lainnya, baik di kampung prostitusi Pasar Kembang maupun institusi formal negara..
Bab terakhir akan diisikan dengan adanya kesimpulan dari hasil penulisan bab-bab sebelumnya.
41 BAB II
PROSTITUSI DI KAMPUNG PASAR KEMBANG DAN RELASI PARA PENGHUNINYA
Bab ini akan memaparkan tentang sejarah kampung Pasar Kembang yang terkenal akan adanya praktek prostitusi di dalamnya dan pengidentifikasian aktor- aktor yang terlibat praktek prostitusi di kampung tersebut. Diawali dengan melacak sejarah dan perkembangan kampung Pasar Kembang menjadi kampung prostitusi hingga sekarang ini. Kemudian dilanjutkan pada dinamika kehidupan masyarakat Pasar Kembang – relasi antara para pelibat prostitusi dengan masyarakat yang tinggal di lingkungan prostitusi – ditinjau dari aspek sosial, ekonomi dan politik dimana di dalamnya memuat pemetaan aktor-aktor yang terlibat dalam arena prostitusi. Terakhir dalam bab ini akan mengupas tentang relasi yang terjalin dengan melihat hasil pemetaan aktor tersebut.
Pemetaan aktor ditujukan untuk mengetahui peran dari masing-masing aktor, dimana akan diperoleh hasil yang mengarah pada sebuah strata kekuasaan.
Sehingga terbentuk suatu pola relasi antar aktor dalam praktek prostitusi di kampung Pasar Kembang. Singkatnya, bab ini berisikan tentang dinamika internal praktek prostitusi di kampung Pasar Kembang.
42 A. Sejarah Kampung Pasar Kembang
Kampung-kampung di Yogyakarta memiliki sejarah panjang terkait proses pemberian namanya26. Pada awalnya, pemberian nama kampung hanya terfokus pada wilayah kampung yang berada di dalam lingkup Kraton Yogyakarta dengan didasarkan pada keahlian para abdi dalem kraton. Di antaranya kampung Mantrigawen (dihuni abdi dalem kepala pegawai), kampung Patehan (dihuni abdi dalem pembuat teh) dan lain sebagainya. Namun, seiring perkembangan zaman dan tingginya mobilisasi penduduk ke kota Yogyakarta mengakibatkan bermunculan kampung-kampung di luar lingkup kraton. Kampung-kampung di luar lingkup Kraton Yogyakarta diberi nama berdasar pada karakteristik penduduknya, seperti etnis, profesi yang digeluti hingga menjadi pusat aktivitas ekonomi. Di antaranya kampung Kranggan (dihuni etnis Cina), kampung Sayidan (etnis Arab) dan kampung lainnya, termasuk kampung Pasar Kembang.
Pasar Kembang sebenarnya merupakan nama sebuah jalan yang berlokasikan tepat di selatan Stasiun Kereta Api Tugu Yogyakarta. Tepat di jalan Pasar Kembang ini, terdapat kampung yang secara administratif bernama Sosrowijayan. Pertama kalinya, kampung Sosrowijayan dihuni oleh kerabat kraton yang kemudian menjabat sebagai Sultan Hamengku Buwono VII, yaitu Tumenggung Sosrowijoyo27.
26 Diunduh dari http://reddistrictproject.com/index.php/aneka-tulisan. loc.cit.
27 Cucu Nuris Arianto. 2007. Pariwisata, Kota dan Sosrowijayan Wetan: 1970-1990-an (Sebuah Sejarah Kampung). Skripsi mahasiswa Jurusan Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya UGM, Yogyakarta. Hal. 26.
43
Seiring berjalannya waktu, kampung Sosrowijayan mengalami pembagian wilayah (pasca kemerdekaan Indonesia) menjadi dua, yaitu Sosrowijayan Wetan dan Sosrowijayan Kulon28. Keduanya memiliki persamaan dalam hal tata letak dan karakteristik bangunan serta akses masuk ke dalam kampung Sosrowijayan.
Di dalam kedua kampung tersebut, dijumpai adanya lorong ataupun jalan tikus (jalan kecil) dan model bangunan tradisional yang menjadikan ciri khas sebuah perkampungan. Terkait dengan akses, masing-masing kampung memiliki dua gang, yaitu kampung Sosrowijayan Wetan (gang I dan II) dan kampung Sosrowijayan Kulon (gang III dan IV).
Menurut sejarah perkembangannya, kampung Sosrowijayan Wetan terkenal dengan sebutan “kampung turis” karena mayoritas bangunan yang ada di sana disewakan bagi para wisatawan, baik asing maupun domestik sebagai penginapan. Hal ini merujuk pada perkembangan yang terjadi di kawasan Malioboro (daerah tujuan wisatawan). Lain halnya dengan kampung Sosrowijayan Kulon. Masyarakat sekitar mengenalnya dengan sebutan “Sarkem”
yang merupakan singkatan dari Pasar Kembang. Perihal sejarah penamaan kampung Sosrowijayan Kulon menjadi kampung Pasar Kembang ditemukan dua versi yang debatable29. Pertama, kampung Pasar Kembang dulunya merupakan tempat orang berjualan bunga (kembang) yang biasanya digunakan untuk ziarah makam (nyekar). Namun sekarang ini, para penjual bunga ini telah pindah lokasi
28 Ibid.
29 Penulis mengalami kesulitan dalam mencari data yang valid (akurat) terkait dengan sejarah kampung Pasar Kembang sebelum berubah menjadi kampung prostitusi Pasar Kembang sekarang ini.
44
ke kawasan Kotabaru. Kedua, terdapat ‘kembang”30 yang diperdagangkan di kampung Sosrowijayan Kulon, tepatnya gang III. Meskipun terdapat dua versi yang debatable, fenomena yang terjadi hingga sekarang ini menunjukkan bahwa dalam kampung Sosrowijayan Kulon berlangsung adanya praktek prostitusi.
Walaupun tidak dapat diketahui secara pasti sejak kapan mulai ada praktek tersebut.
Keberadaan praktek prostitusi dalam kampung Pasar Kembang telah mengubah citra kampung tersebut menjadi sebuah kampung prostitusi dimana mayoritas warga yang menempati kampung tersebut berorientasi pada prostitusi, meskipun tidak semuanya melibatkan diri pada aktivitas ilegal tersebut. Di sisi lain (sebagai bukti penguatan), tidaklah mengherankan ketika ditanya mengenai kampung Pasar Kembang Yogyakarta, pikiran kita langsung tertuju pada stereotipe negatif, yaitu keberadaan praktek prostitusi di dalam kampung tersebut.
B. Pemetaan Aktor dalam Kampung Prostitusi Pasar Kembang
Praktek prostitusi secara sederhana hanya ‘didalangi’ oleh pekerja seks dan konsumen (tamu) saja. Seperti halnya ilmu pengetahuan dan teknologi yang selalu berkembang dan tidak pernah berhenti pada satu titik saja, dunia prostitusi pun juga memberlakukan hal yang sama. Dalam dunia prostitusi dijumpai adanya aktor tambahan yang mempunyai pengaruh besar terkait dengan tetap eksisnya praktek prostitusi. Kenyataan ini merupakan fenomena yang terjadi di kampung
30 Istilah ‘kembang’ diberikan kepada para pekerja seks yang melakukan transaksi seks dengan para pria ‘nakal’ di mana aktivitas tersebut berlangsung di dalam kampung Sosrowijayan Kulon.
45
prostitusi Pasar Kembang. Para aktor yang berkecimpung di dunia prostitusi Pasar Kembang terklasifikasikan ke dalam dua jenis dengan melihat peran mereka dalam dunia prostitusi, yaitu terlibat langsung dan tidak terlibat langsung praktek prostitusi.
Keberadaan aktor yang terlibat langsung praktek prostitusi merupakan fakta yang tidak bisa dipungkiri. Karena tanpa keberadaan mereka, praktek prostitusi tidak mungkin ada. Mereka yang terlibat secara langsung dalam praktek prostitusi di Pasar Kembang, yaitu pekerja seks, tamu, mucikari dan jongos (perantara). Sedangkan aktor yang tidak terlibat langsung merupakan aktor yang selama ini diyakini memiliki pengaruh kuat dalam kampung prostitusi Pasar Kembang. Keberadaan mereka menjadi ‘senjata ampuh’ terhadap ancaman atau bahaya dari luar, di antaranya kebijakan pemerintah maupun entitas luar yang ingin menguasai atau menghancurkan kampung prostitusi Pasar Kembang. Para aktor yang tidak terlibat langsung di antaranya preman, pengurus kampung dan aparat pemerintah penarik “pajak”. Sebenarnya masih ada lagi aktor-aktor lain yang juga terlibat, namun peran mereka hanya sebatas pemenuhan kebutuhan hidup (ekonomi) saja. Meskipun demikian, keberadaan mereka merupakan faktor lain yang ikut membuat praktek prostitusi di Pasar Kembang tetap eksis. Mereka adalah tukang parkir, pemilik warung makan dan minum, tukang pijit, tukang potang31 dan abang becak.
31Tukang potang yang dapat dijumpai di Pasar Kembang terdapat tiga macam, yaitu tukang potang uang, tukang potang pakaian dan tukang potang barang-barang perhiasan dari emas. Keseharian
46
1. Aktor yang terlibat langsung praktek prostitusi a. Pekerja Seks
Pekerja seks merupakan aktor utama selain kompatriotnya, yaitu konsumen dalam hal pemenuhan kebutuhan biologis yang diperoleh melalui mekanisme transaksional. Keberadaan mereka menimbulkan suatu dilema bagi kehidupan di sekitarnya. Antara sebuah solusi atau masalah merupakan sebuah hasil dari perdebatan tiada ujung penyelesaian bagi pihak-pihak yang mempersoalkan keberadaannya.
Menggeluti profesi sebagai pekerja seks sebenarnya bukan merupakan sebuah pilihan setiap perempuan. Namun ada beberapa hal yang memiliki hubungan kausalitas dalam menekuni dunia prostitusi, yaitu (1) faktor ekonomi yang secara langsung berkaitan dengan kelangsungan hidup mereka, (2) tingkat pendidikan yang rendah, (3) kondisi keluarga yang hancur (broken home) maupun patah hati (broken heart) ditinggalkan pujaan hatinya. Salah seorang pekerja seks di Pasar Kembang32 menyatakan beberapa alasan yang membuatnya terjun ke dunia prostitusi, yaitu faktor ekonomi yang pas-pasan karena krisis ekonomi yang sedang melanda hingga sekarang ini. Kemudian, kesulitan mencari pekerjaan yang lebih baik dan tidak memiliki kapasitas diri yang mencukupi untuk
mereka adalah menawarkan ataupun menagih pada siapa saja yang hendak meminjam uang atau barang darinya.
32 Wawancara dengan WN, salah seorang pekerja seks salah satu pekerja seks yang bekerja di kampung prostitusi Pasar Kembang, berlangsung pada tanggal 17 Februari 2010.
47
bersaing dalam mencari lapangan pekerjaan yang layak menjadi hambatan seorang wanita untuk berkarir di dunia kerja.
“Saiki jamané lagi susah, mas. Ekonomi sulit goro-goro krisis ra rampung-rampung. Golek gawéan sing luwih becik yo angel, ra iso ngopo-ngopo nék kudu bersaing karo liyané. Mulakno kuwi, dadi pekerja seks waé.”
(Sekarang zamannya sedang susah, mas. Ekonomi sulit gara-gara krisis yang tidak terselesaikan. Mencari pekerjaan yang lebih baik juga sulit, tidak bisa berbuat apa-apa kalau harus bersaing dengan yang lainnya. Oleh karena itu, pilihan jadi pekerja seks adalah jawabannya.)
Pekerja seks yang berada di kampung prostitusi Pasar Kembang dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa kategori dengan melihat beberapa faktor yang menjadi penentu pembedaan tersebut. Hasil observasi di lapangan dan proses bincang ringan dengan warga Pasar Kembang yang menjadi penjual makanan dan minuman di luar Gang III Sosrowijayan Kulon (kampung prostitusi Pasar Kembang) menyebutkan bahwa pekerja seks yang terdapat dalam kampung prostitusi Pasar Kembang terdiri atas perempuan berusia belasan tahun, kepala dua dan separuh baya yang memiliki model pelayanan berbeda satu sama lain.
Tabel berikut akan menunjukkan klasifikasi yang dimaksud.