ABSTRAK
Penskalaan Multidimensional adalah suatu metode analisis multivariat yang digunakan untuk menyederhanakan data mentah menjadi suatu tampilan grafis. Data masukan berupa persepsi obyek terhadap beberapa stimuli. Data berada pada skala ordinal, interval atau rasio. Bentuk dasar data masukan adalah nilai kedekatan. Nilai kedekatan mengacu pada ukuran nilai kesamaan atau nilai ketidaksamaan antar semua pasangan stimuli. Nilai kedekatan dapat diperoleh secara langsung, dengan meminta obyek menilai tingkat kesamaan setiap pasangan stimuli, dan secara tidak langsung, dengan meminta obyek untuk memperngkatkan stimuli berdasar beberapa adjektif deskriptor. Cara lain untuk memperoleh nilai kedekatan adalah menyakan tingkat kesukaan atau preferensi terhadap semua stimuli.
ABSTRACT
Multidimensional Scaling is a multivariat analysis method used to reduce raw data into a visual representation. The input data is the perception of objects to some stimuli. The datas range from ordinal, interval to ratio scale. The basic input is proximities value. Proximities value refer to similarity or dissimilarity values between a pair of stimuli. Proximities value can be generated directly by asking objects for similarity judgments among all pairs of stimuli adjectives or indirectly by asking objects for rating the stimuli on some descriptor adjectives. Another way to generate proximities value is by asking objects’ preferences of stimuli.
SKALA MULTIDIMENSI
S k r i p s i
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat
Memperoleh Gelar Sarjana Sains (S.Si)
Program Studi Matematika
Oleh: Yuda Esdie Sutanto
NIM : 993114008
PROGRAM STUDI MATEMATIKA JURUSAN MATEMATIKA FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA
MULTIDIMENSIONAL SCALING
An undergraduate Thesis
Presented spartial fulfillment of the reqirements
For the degree ofSarjana sains
In mathematics programme
By:
Yuda Esdie Sutanto
Student Number: 993114008
MATHEMATICS PROGRAMME DEPARTEMENT OF MATHEMATICS FACULTY OF SCIENCE AND TECHNOLOGY
SANATA DHARMA UNIVERSITY YOGYAKARTA
Semalam aku bermimpi berjalan menyisir pantai bersama Tuhan . Aku melihat dua pasang jejak kaki , milikku dan milik Tuhan . Aku menoleh kebelakang , kulihat saat-saat sedih dan mencekam ,
hanya ada sepasang jejak kakiku saja . Aku sangat kecewa dan bertanya kepadaNya ,
“ Tuhan dimanakah Engkau ? Mengapa pada waktu aku membututuhkanMu , Justru Engkau meninggalkanku ? ”
Tuhan menjawab ; “ Anakku , engkau sangat Kukasihi , ketika Engkau dalam bahaya , hanya terlihat sepasang jejak kaki ,
Karena waktu itu Aku menggendongmu “.
Karya ini ku persembahkan untuk
Tuhan Yesus & Bunda Maria
Papa & Mamaku
DIAN C . RUSLIADI , S.SI
Mas Roesdy & Mbak Ipah
Mbak Diniek & Dian
Dik Ferra & Ucok
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA
Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang telah saya tulis ini
tidak memuat karya atau bagian dari karya orang lain, kecuali yang telah
disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah
Yogyakarta , Juli 20007
Penulis
ABSTRAK
Penskalaan Multidimensional adalah suatu metode analisis multivariat yang digunakan untuk menyederhanakan data mentah menjadi suatu tampilan grafis. Data masukan berupa persepsi obyek terhadap beberapa stimuli. Data berada pada skala ordinal, interval atau rasio. Bentuk dasar data masukan adalah nilai kedekatan. Nilai kedekatan mengacu pada ukuran nilai kesamaan atau nilai ketidaksamaan antar semua pasangan stimuli. Nilai kedekatan dapat diperoleh secara langsung, dengan meminta obyek menilai tingkat kesamaan setiap pasangan stimuli, dan secara tidak langsung, dengan meminta obyek untuk memperngkatkan stimuli berdasar beberapa adjektif deskriptor. Cara lain untuk memperoleh nilai kedekatan adalah menyakan tingkat kesukaan atau preferensi terhadap semua stimuli.
ABSTRACT
Multidimensional Scaling is a multivariat analysis method used to reduce raw data into a visual representation. The input data is the perception of objects to some stimuli. The datas range from ordinal, interval to ratio scale. The basic input is proximities value. Proximities value refer to similarity or dissimilarity values between a pair of stimuli. Proximities value can be generated directly by asking objects for similarity judgments among all pairs of stimuli adjectives or indirectly by asking objects for rating the stimuli on some descriptor adjectives. Another way to generate proximities value is by asking objects’ preferences of stimuli.
KATA PENGANTAR
Puji syukur dan terimakasih kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah
melimpahkan kasih, berkat dan lindunganNya, sehingga penulis dapat
menyelesaikan skripsi yang berjudul ” SKALA MULTI DIMENSI” ini dengan baik.
Penyusunan skripsi ini ditujukan untuk memenuhi salah satu syarat
memperoleh gelar Sarjana Sain (S.Si) pada program studi Matematika Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sanata Dharma.
Dalam penyusunan skripsi ini, penulis menyadari bahwa skripsi ini dapat
terselesaikan atas bantuan, bimbingan dan dorongan yang diberikan oleh berbagai
pihak. Maka dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapkan rasa terimakasih
yang tulus kepada:
1. Tuhan Yesus Kristus dan Bunda Maria atas terkabulnya permohonanku
melalui doa Novena Tiga Salam Maria serta atas limpahan kasihNya yang tak
pernah berhenti.
2. Bapak Ir. Ig. Aris Dwiatmoko, M.Sc., selaku Dekan FMIPA serta dosen
pembimbing skripsi yang telah sabar dan penuh pengertian dalam
membimbing dan mengarahkan penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi
ini.
3. Bapak Y. G. Hartono, S.Si M.Si., selaku Kaprodi Matematika atas bimbingan
4. Semua staf dan pengajar FMIPA atas ilmu dan bimbingannya selama penulis
menjalani masa perkuliahan dan dalam penulisan skripsi ini.
5. Mas Tukijo dan staf skretariat FMIPA atas pelayanan yang diberikan selama
penulis menjalani masa perkuliahan dan dalam penulisan skripsi ini.
6. Mamaku (Sujilah HS) dan Papaku (Heru Sutanto) tercinta yang selalu
memberikan kebebasan, kesempatan dan pengertian serta doa demi
terselesainya skripsi ini.
7. Mas Roesdy, Mbak Diniek dan Dik Ferra atas kerja sama, motivasi dan
doanya.
8. Keluarga besar Kartodimejo dan Mangun Sukarto yang telah memberikan
bantuan moril maupun material.
9. Keluarga besar Lili Rusliadi( Papa dan Mama mertua tercinta) yang selalu
memberi motivasi.
10. Dian Christiana Rusliadi, S.Si. yang selalu setia menemaniku dan
mendampingiku. Terimakasih atas kasih sayang, perhatian dan pengorbanan
yang telah kau berikan untukku.
11. Adik-adikku Wawan,Lina ,Tacik, gek do lulus yo.
12. Mas No, Mbak Lilik, Dik Dea dan Diaon.
13. Teman – teman seperjuanganku Hartanto, Thomas, Naga, Wondo, Antok,
Andri, Nadi, Tius, Desi, Nia, Novi, Yoslin, Mike, Hebi, Kris,Fera,Lia,
Mayang dan semua angkatan “99.
15. Cah-Cah kuncinan Ebleh, Gatot, Fosil, Gawul, Anwar, Bobi, Bejo, Tobil,
Ateng, Asti, Tiara,Susi,Neno dan ketua GENG Pak Jasari trimakasih atas
kebersamaannya. “Hidup Kuncinan”
16. Cah-cah pasar Tole, Kiki, Ari dan semua Kru UD MAYAR
17. Dan semua orang yang telah memberikan bantuan dan belum dapat kusebut
satu persatu. Terima kasih banyak atas segala bantuannya.
Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dan kelemahan dalam skripsi
ini. Sehingga penulis dengan lapang dada menerima kritik dan saran serta
masukan yang membangun dari pembaca, agar skripsi ini menjadi lebih baik dan
berguna bagi semua orang.
Yogyakarta, 2007
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL………..………...i
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING………..ii
HALAMAN PENGESAHAN………iii
HALAMAN PERSEMBAHAN...iv
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA………..v
ABSTRAK………..vi
ABSTRACT………...vii
KATA PENGANTAR………..viii
DAFTAR ISI………...xi
BAB I PENDAHULUAN………1
A. Latar Belakang Masalah………...1
B. Rumusan Masalah………3
C. Batasan Masalah…....………...3
D. Tujuan Penulisan………..4
E. Metode Penulisan………...4
F. Manfaat Penulisan………5
BAB II DASAR-DASAR TEORI………....7
A. Analisis Data Multivariat……….7
B. Jenis-jenis Data Hasil Pengukuran………...8
C. Matriks………...12
D. Ruang-n Euclidian……….15
E. Eigennilai dan Eigenvektor………....15
F. Korelasi Sederhana……….16
G. Korelasi Ganda………...20
BAB III PENSKALAAN MULTIDIMENSI……….22
A. Proses Kerja Penskalaan Multidimensi………..24
B. Penyusunan Penskalaan Multidimensi………...28
1. Pemasukan Data………28
2. MDS Matrik………..34
3. Menguji Reliabilitas dan Validitas..………..38
4. Penentuan Banyaknya Dimensi……….39
5. Intepretasi Hasil dan Penamaan Dimensi………..42
BAB IV PENERAPAN PENSKALAAN MULTIDIMENSI………47
BABV KESIMPULAN………..72
DAFTAR PUSTAKA ...………73
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dalam kehidupan sehari-hari kita sering dihadapkan pada permasalahan
dalam mengintepretasikan hubungan antar variabel, terutama pada saat kita akan
menarik kesimpulan hubungan dari variabel tersebut. Apalagi ketika kita
berhadapan dengan variabel yang cukup banyak, kita akan mengalami lebih
banyak kesulitan dalam mengiterpretasikan hubungan antar variabel tersebut .
Dalam pemecahan masalah tersebut kita sangat membutuhkan suatu teknik
atau metode untuk mengolah atau menganalisis data, terutama metode yang
mudah dalam penggunaannya maupun intepretasi kesimpulannya. Kita telah
mengenal berbagai macam teknik atau metode dalam mengolah data yang cukup
banyak, baik yang telah diajarkan dalam perkuliahan maupun yang tidak diajarkan
dalam perkuliahan. Dalam skripsi ini penulis akan memperkenalkan salah satu
teknik atau metode dalam menganalisis data yaitu skala multidimensi atau sering
disebut dengan MDS (Multidimensional Scaling). Pada dasarnya MDS merupakan
salah satu teknik analisis multivariat yang dapat membantu kita dalam
menginterpretasikan atau menemukan hubungan antara beberapa variabel dengan
spasial yang dihasilkan yang mewakili persepsi dan preferensi responden . Selain
itu MDS juga dapat membantu kita untuk mengenali (mengidentifikasi) dimensi
kunci yang mendasari evaluasi objek dari responden tanpa mendeskripsikan sifat
atau atribut-atribut terlebih dahulu. Salah satu kelebihan dari MDS adalah
fleksibilitasnya terhadap tipe data yang akan kita olah. Selain itu MDS juga
memiliki berbagai tipe penyelesaian, tipe tersebut dikelompokkan dalam dua
kelompok yaitu tipe metrik dan tipe non-metrik, dimana tipe non-metrik lebih
bersifat terbatas dari pada tipe matrik. Selain itu kelebihan MDS dibanding
dengan teknik-teknik mulivariat lainnya, MDS dapat dapat dilakukan pada tingkat
responden secara individu (disebut Disaggregate Analysis) tidak harus pada
tingkat agregat(disebutAggregate Analysis)
Dengan menggunakan metode MDS solunsi yang dihasilkan lebih siap dan
mudah dimengerti sehingga MDS telah digunakan dalam berbagai bidang. Salah
satu bidang yang telah menggunakan prosedur MDS adalah bidang riset
pemasaran untuk membandingkan posisi relatif suatu objek dengan objek lainnya
berdasarkan persepsi konsumen, maka dengan menggunakan prosedur MDS kita
dapat mengetahui apakah produk tersebut relatif sama atau berbeda dengan
produk sejenis lainnya, atribut apa saja yang menjadi keunggulan dan kekurangan
produk tersebut dibandingkan dengan produk pesaingnya, sehingga kita dapat
menyimpulkan suatu strategi atau keputusan yang seharusnya dilakukan agar
dapat berkompetisi dengan produk lain. Selain telah digunakan dalam bidang
pemasaran MDS juga telah digunakan dalam bidang psikologi yaitu digunakan
dalam pendiskripsian sifat atau ciri-ciri seseorang dan masih banyak lagi
Walaupun metode MDS bukan merupakan suatu prosedur yang terbaik
dalam menganalisis suatu data, tetapi metode MDS dapat menjadi salah satu
alternatif lain dari metode analisis. Dari uraian diatas metode MDS sangatlah
penting dalam membantu kita dalam menginterpretasikan dan menarik suatu
kesimpulan dari data yang kita miliki. Berdasarkan hal tersebut maka penulis
tertarik untuk membahas MDS secara lebih mendalam.
B. Rumusan Masalah
Skala multidimensi merupakan salah satu metode analisis multivariat yang
sangat mudah dalam penggunaannya dan dapat diterapkan dalam berbagai disiplin
ilmu. Maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut:
1. Apa yang dimaksud dengan MDS ?
2. Bagaimana cara kerja dari metode MDS ?
3. Bagaimana mengintepretasikan suatu masalah dalam data dengan
menggunakan metode MDS ?
4. Menafsirkan parameter dalam dan penafsiran bermacam-macam model
MDS?
C.Batasan Masalah
Dalam penulisan yang akan dibahas adalah tipe dari MDS , maka penulis
membatasi pembahasan topik hanya sampai dengan :
1. Membahas bagaimana penyelesaian suatu masalah dengan menggunakan
2. Jenis-jenis permasalahan yang seperti apa yang dapat diselesaikan dengan
menggunakan metode ini.
3. Tidak membahas secara khusus tipe-tipe yang terdapat dalam metode
MDS.
4. Tidak membandingkan metode MDS dengan metode yang lainnya dalam
penyelesaian suatu masalah.
Adapun pembatasan ini bertujuan agar pembaca memahami betul tentang
metode MDS dan penerapannya dalam suatu permasalahan.
D. Tujuan Penulisan
Secara umum penulisan tugas akhir ini bertujuan untuk memperkenalkan suatu
teknik analisis data. Tujuan yang lebih spesifik dari penulisan ini adalah:
1. Memahami mengenai apa dan bagaimana MDS itu dapat membantu kita
dalam menginterpretasikan hubungan antar variabel.
2. Memahami langkah-langkah dalam MDS.
E. Metode Penulisan
Metode penulisan yang akan digunakan dalam menyusun tulisan ini
adalah dengan metode studi pustaka, yaitu dengan mempelajari buku-buku yang
berkaitan dengan judul dan segala permasalahan yang berhasil diselesaikan
dengan metode ini, serta melihat perkembangan penggunaan metode MDS
F. Manfaat Penulisan
Penulisan ini dapat digunakan sebagai sarana penerapan teori dalam
perkuliahan, serta penulisan ini dapat menjadi bahan informasi bagi pembaca dan
pihak lain yang membutuhkan. Hasil penulisan ini masih dapat dikembangkan
atau dapat digunakan sebagai acuan penulisan lainnya.
G.Sistematika Penulisan
Dalam penulisan skripsi ini penulis akan membagi atas beberapa bab,
yaitu:
BAB I. PENDAHULUAN
Dalam bab ini diuraikan latar belakang masalah, rumusan masalah, batasan
masalah, tujuan penulisan, manfaat serta sistematika penulisan.
BAB II. DASAR-DASAR TEORI
Dalam bab ini akan uraikan beberapa teori yang berhubungan langsung
dengan isi penulisan sehingga mempermudah kita dalam memahami isi tulisan ini
BAB III. PENSKALAAN MULTIDIMENSI
Dalam bab ini akan diuraikan tentang beberapa tipe dari MDS,tipe data
yang dapat digunakan dalam MDS serta langkah-langkah menggunakan MDS
BAB IV. PENERAPAN PENSKALAAN MULTIDIMENSI
Dalam bab ini akan diuraikan salah satu penerapan MDS dalam kehidupan
sehar-hari. Sehingga kita lebih memahami kelebihan dan kekurangan dari MDS.
BAB V. KESIMPULAN
Dalam bab ini penulis mencoba menyimpulkan keseluruan dari hasil
BAB II
DASAR-DASAR TEORI
Sebelum membahas tentang skala multidimensi, terlebih dahulu akan
dibahas beberapa syarat sebagai landasan teori yang berhubungan dengan skala
multidimensi. Sehingga kita lebih mudah dalam memahami skala multidimensi .
A. Analisis Data Mutivariat
Multidimensional Scaling (MDS) adalah salah satu metode dari analisis
data multivariat. Analisis data multivariat secara sederhana dapat didefinisikan
sebagai aplikasi metode-metode yang berhubungan dengan sejumlah besar
pengukuran yang dibuat untuk setiap obyek dalam satu atau lebih sempel secara
simultan. Dengan kata lain, analisis data multivariat mengukur relasi simultan
antar variabel. Secara umum metode-metode dalam analisis data multivariat
digolongkan menjadi dua kelompok. Kelompok pertama adalah metode-metode
dependen. Metode-metode dependen terpusat pada mencari asosiasi dari dua
himpunan variabel di mana salah satu himpunan adalah realisasi dari suatu ukuran
dependen. Dengan kata lain metode-metode dependen berusaha mencari atau
memprediksi ukuran satu atau lebih kriteria berdasar himpunan variabel predictor.
Diskriminan, Analisis Logit, Multivariate Analysis-of-Variance (MANOVA) dan
Canonical Correlation Analysis. Kelompok kedua adalah metode-metode
interdependen. Metode-metode interdependen terpusat pada asosiasi mutual antar
semua variabel tanpa membedakan tipe-tipe variabel. Secara umum,
metode-metode ini tidak memberikan prediksi melainkan mencoba memberikan gambaran
mengenai struktur yang mendasari data dengan cara menyederhanakan
kompleksitas atau dengan mereduksi data. Yang termasuk dalam kelompok ini
adalah Principal Components Analysis, Analisis Faktor, MDS, Analisis Kluster,
Pemodelan Loglinear.
B. Jenis-jenis data hasil pengukuran
Dalam penerapan analisis data multivariat, harus sangat diperhatikan
jenis-jenis data pengukuran. Suatu metode kadang tidak dapat diaplikasikan untuk
semua jenis data. Penerapan metode secara tepat dapat terjadi hanya jika
pengukuran data berada pada skala yang tepat. Pada dasarnya, perbedaan skala
pengukuran data berpengaruh pada pengkategorian asumsi-asumsi dasar mengenai
hubungan angka-angka yang merepresentasikan sifat-sifat obyek dan pentingnya
operasi matematika terhadap angka-angka tersebut. Secara umum, jenis-jenis data
adalah:
1. Data Nominal
Suatu nilai hasil pengukuran disebut berskala nominal jika bilangan tersebut
berfungsi sebagai pengidentifikasi yaitu pembeda antara satu obyek dengan obyek
sama. Selain untuk identifikasi, bilangan dapat dikatakan berada pada skala
nominal apabila digunakan untuk klasifikasi atau kategorisasi. Contoh
penggunaan data nominal adalah kategorisasi jenis kelamin. Jika obyek berjenis
kelamin laki-laki, obyek diberi nilai 0. Jika obyek berjenis kelamin wanita, obyek
diberi nilai 1. Bilangan 0 untuk obyek laki-laki tidak menunjukkan nilai yang
lebih rendah dari bilangan 1 yang diberikan pada nilai subyek wanita. Karena
fungsi pengukuran dalam hal ini adalah sebagai alat identifikasi, perubahan atau
penggantian nilai nominal dapat dilakukan dengan bebas selama tidak
mengaburkan identifikasi atau kategorisasi semula. Contohnya seperti pada
contoh sebelumnya, obyek laki-laki bisa diberi nilai 9 dan atau obyek wanita
diberi nilai 2 atau 7. Perubahan nilai tanpa diikuti perubahan fungsi identifikasi
dan kategorisasi obyek semacam ini disebut transformasi isomorfik. Proses
statistik yang diperbolehkan untuk diterapkan pada data nominal adalah
menghitung banyaknya kasus, mencari modus dan korelasi kontingensi seperti
Chi-SquaredanFisher’s exact test.
2. Data Ordinal
Suatu hasil pengukuran disebut berada pada level ordinal jika nilai berfungsi
untuk menunjukkan perbedaan jenjang kualitatif. Perbedaan nilai antar obyek
tidak menunjukkan perbedaan kuantitatif tetapi hanya menunjukkan perbedaan
kualitatif. Bila terdapat jenjang kualitatif 1, 2 dan 3, dapat dikatakan 3>2 dan 2>1
serta 3>1. Akan tetapi, jarak antara 3 dan 2 dengan jarak antara 2 dan 1 tidak
dapat dikatakan sama. Jarak jenjang antara dua nilai yang berurutan tidak selalu
data ordinal adalah pemberian rangking misalnya untuk siswa-siswi dalam suatu
kelas. Jenjang kualitatif antara rangking pertama dengan rangking kedua belum
tentu sama dengan jenjang kualitatif antara rangking kedua dengan rangking
ketiga. Karena jarak antara dua nilai yang berurutan tidak selalu sama secara
kualitatif maka setiap nilai jenjang dapat diganti dengan nilai lain selama urutan
jenjang yang satu dengan jenjang yang lain tidak berubah. Penggantian ini disebut
transformasi monotonik. Transformasi monotonik mengubah nilai tetapi tidak
merubah urutan bilangan. Operasi statistik yang diijinkan untuk data ordinal
adalah median, persentil, korelasi rangking,Sign TestdanRun Test.
3. Data Interval
Suatu hasil pengukuran disebut berada pada level interval jika hasil pengukuran
tersebut adalah hasil pengukuran ordinal yang memiliki jarak antarjenjang yang
tetap atau selalu sama. Bila terdapat jenjang kualitatif 1, 2 dan 3, maka secara
kualitatif dan kuantitatif jarak antara 1 dan 2 adalah sama dengan jarak antara 2
dan 3. Seperti hasil pengukuran ordinal, data interval tidak memiliki harga 0
mutlak. Salah satu contoh hasil pengukuran interval adalah hasil pengukuran suhu
pada thermometer. Bilangan-bilangan pada thermometer memperlihatkan jenjang
dan kadar suhu yang berinterval sama. Dapat dikatakan bahwa 360C adalah 60C lebih panas daripada 300 C. Sedangkan 120 C adalah 60 C lebih dingin daripada
180C. Akan tetapi, tidak dapat dikatakan bahwa 360C adalah tiga kali lebih panas daripada 120 C. Bilangan 0 pada pengukuran suhu tidak bersifat mutlak. Artinya suhu 00C tidak berarti tidak memiliki panas sama sekali. Perbedaan bilangan pada
interval dapat diolah dengan operasi hitung penambahan dan pengurangan. Data
hasil pengukuran interval akan bersifat invariant jika dikenai transformasi linier
yaitu transformasi bilangan dengan persamaan garis lurus yang dirumuskan
sebagai y=a+bx. Operasi statistik yang dapat digunakan untuk data interval adalah
mean aritmatik, standar deviasi, deviasi rata-rata, korelasi product-moment, t-test
danF-test.
4. Data Rasio
Skala pengukuran rasio pada dasarnya adalah skala pengukuran interval yang
memiliki nilai 0 mutlak dan bilangan-bilangannya dapat diperbandingkan secara
mutlak. Contoh data rasio adalah data hasil pengukuran berat, panjang, banyaknya
benda dan lain sebagainya. Jika kita nyatakan panjang benda adalah 0 cm, artinya
benda itu tidak memiliki panjang sama sekali. Nilai 0 pada skala ini memang
menunjukkan bahwa atribut yang diukur sama sekali tidak ada pada obyek yang
bersangkutan. Demikian pula, dapat dikatakan bahwa obyek dengan panjang 15
cm adalah lima kali lebih panjang dari pada obyek dengan panjang 3 cm. Data
berlevel rasio dapat dikenai keempat operasi hitung yaitu perkalian, pembagian,
penambahan dan pengurangan. Data rasio bersifat invarian ketika dikenai
transformasi dengan rumusan Y=cX dengan c adalah bilangan konstan. Operasi
statistik yang diperbolehkan untuk data rasio adalah koefisien variasi, mean
geometris dan mean harmonis.
Suatu matriks berukuran mn atau matriks mn adalah suatu jajaran
bilangan berbentuk persegi panjang yang terdiri dari m baris dan n kolom. Matriks
tersebut dinotasikan dalam bentuk:
A mn m m n n a a a a a a a a a ... ... ... ... ... ... ... 2 1 2 22 21 1 12 11
Setiap bilangan ajk dalam matriks ini dinamakan elemen matriks. Indeks j dan
k berturut-turut menyatakan baris dan kolom dari unsur matriks tersebut.
1. Matriks Kuadrat (Square Matrix)
Suatu matriks A dapat dikalikan dengan dirinya sendiri membentuk matriks kuadrat A jika dan hanya jika A adalah matriks bujursangkar. Hasil kali A.A dalam kasus ini dinotasikan sebagai A2. Dengan cara yang sama didefinisikan pangkat dari suatu matriks bujursangkar yaituA3=A.A2, A4=A.A3dan seterusnya
2. Matriks Tranpos (Tranpos Matrix)
Jika baris dan kolom matriks A ditukar, matriks baru yang dihasilkan disebut transpos dari A dan dinyatakan sebagai AT. Dengan lambang ditulis jikaA= (ajk) makaAT= (akj). Untuk matriks transpos berlaku hukum:
3. Matriks Simetris (Symetric Matrix)
Suatu matriks bujursangkar dinamakan simetris atau disebut skew-simetris jika
AT=-A. Jika semua unsur ajk dari suatu matriks diganti sekawannya ajk, maka matriks yang diperoleh dinamakan kompleks sekawan dari matriks A dan dilambangkan dengan A. Suatu matriks bujursangkar A yang sama dengan transpos kompleks sekawannya atau A= AT dinamakan matriks Hermite. Jika A=-AT,Adisebut matriks skew-Hermite.
4. Invers suatu Matriks
Jika untuk suatu matriks bujursangkar Aterdapat suatu matriks B di manaAB=1 maka Bdisebut invers dari matriks A dan dinyatakan sebagaiA1
.Jika A adalah matriks bujursangkar tak singular berukuran n maka terdapat tepat satu invers
A1sehingga A A1= A1A=Idi mana A1
=
) det(
) (
A Ajk T
di mana
Ajk adalah matriks kofaktor dari Ajk dan
Ajk =
Ajk Tadalah
transposnya serta det(A) adalah determinan dari matriks A. Invers matriks mempunyai sifat sebagai berikut:
(AB)1=B1A1 (A1)=A
(AT)1=(A1)T (kA)1
=
k
1
5. Determinan Suatu Matriks
Jika A adalah suatu matriks kuadrat berukuran n dan ajk adalah elemen dari A, suatu determinan berukuran n-1 yang diperoleh dengan menghilangkan semua
unsur pada baris ke j dan kolom ke k disebut minor ajk dan dilambangkan dengan
Mjk. JikaMjk dikalikan dengan (1)jkmaka hasilnya disebut kofaktor dari ajk
dan dilambangkan dengan Ajk. Nilai Determinan suatu matriks didefinisikan
sebagai jumlah dari hasil kali unsur-unsur pada suatu baris atau kolom dengan
kofaktor-kofaktor yang bersesuaian. Dalam lambang ditulis:
detA=
n k jk jk a 1 A 6. Orthogonalitas
Suatu matriks riilAdisebut matriks tegaklurus (orthogonal) jika transposnya sama dengan inversnya yaitu jika AT
=A1
atau AT
A=I. Suatu matriks kompleks A dinamakan matriks uniter (unitary matrix) jika kompleks sekawan transposnya
sama dengan inversnya yaitu jikaAT A1 atau ATAI
JikaAdanBadalah vektor kolom dengan
A= 3 2 1 a a a ,B= 3 2 1 b b b
makaATB = a1b1 + a2b2+ a3b3.ATBdisebut produk skalar dariAdanB. Jika
D. Ruang-n Euclidean
Definisi 2.4.1 Jika n adalah suatu bilangan bulat positif, sebuah ordered-n-tupel
adalah sebuah urutan dari n bilangan riil yaitu (a1,a2,…,an). Himpunan dari semua
ordered-n-tupeldisebut ruang-n Euclidean dan dinyatakan sebagai n.
Teorema 2.4.1Jikau=(u1,u2,….,un)danv = (adalah vektor-vektor yang berada di n, maka:
a. Perkalian dalam Euclidean (Euclidean inner product) antar vektor u dan vektorvdinyatakan sebagai
n nv u v u v u v
u. 1 1 2 2 ...
b. Panjang Euclidean vektorudi dalam n dinyatakan sebagai 2 2 2 2 1 2 1 ... ) .
(uu u u un
u
E. Eigennilai dan Eigenvektor
Jika A(ajk)adalah suatu mariks bujursangkar berukuran nn dan X adalah suatu vektor kolom, persamaan
X AX
di manaλadalah suatu bilangan, dapat ditulis sebagai:
0 ) ( ... ... ... ... ... ... 0 ... ) ( 0 ... ) ( 2 1 2 2 22 1 21 1 2 12 1 11 n nn n n n n n n n n x a x a x a x a x a x a x a x a x a (2.2)
Persamaan tersebut akan mempunyai penyelesaian tak-trivial jika dan hanya jika
0 ... ... ... ... ... ... ... 2 1 2 22 21 1 12 11 nn n n n n a a a a a a a a a (2.3)
yang dapat ditulis sebagai
AI
det (2.4)
yang merupakan suatu persamaan suku banyak berderajat n dalam λ. Akar dari persamaan suku banyak ini disebut eigennilai atau nilai karateristik dari matriks
A. Untuk setiap eigennilai akan ada penyelesaian X0 yang merupakan suatu penyelesaian tak-trivial yang dinamakan eigenvektor atau vektor karateristik dari
nilai eigennya.
F. Korelasi Sederhana
Didalam kehidupan sehari-hari, kejadian ekonomi dan kejadian lainnya
saling berhubungan atau mempengaruhi. Kejadian-kejadian tersebut bisa
dinyatakan sebagai perubahan variabel X dan varibel Y. Dimana variabel Y
adalah variabel tak bebas (dependent variable) dan X adalah variabel bebas
(Independent variable), artinya X berhubungan dengan Y . Apabila variabel X dan
Y mempunyai hubungan(korelasi), maka nilai variabel X dapat dipergunakan
X dikatakan mempengaruhi Y, jika perubahan nilai X akan menyebabkan
perubahan nilai Y. Untuk mengetahui kuat tidaknya hubungan antara X dan Y,
kita harus menghitung koefisien korelasi atau r yaitu:
n i n i i i n i i i Y Y X X Y Y X X r 1 1 2 2 1 (2.5) Dimana n X X n i i
1, perkiraan x
n Y Y n i i
1, perkiraan y
Jika r 0, maka X dan Y tidak berkorelasi.
Jika 0<r<0,5, maka hubungan X dan Y lemah positif.
-0,5<r<0, maka hubungan X dan Y lemah negatif.
Jika 0,5r<0,75, maka hubungan X dan Y cukup kuat positif.
-0,75<r-0,5, maka hubungan X dan Y cukup kuat negatif.
Jika 0,75r<0,9, maka hubungan X dan Y kuat positif.
-0,9<r-0,75, maka hubungan X dan Y kuat negatif.
Jika 0,90r<1, maka hubungan X dan Y sangat kuat positif.
-1<r-0,90, maka hubungan X dan Y sangat kuat negatif.
Untuk mengetahui seberapa besar kontribusi dari X terhadap naik turunnya nilai Y
kita harus menghitung suatu koefisien yang disebut koefisien determinasi atau r2
yaitu
n i n i i i n i i i Y Y X X Y Y X X r 1 1 2 2 1 2 (2.6) 2r merupakan sumbangan (share) dari X terhadap variasi (naik turunnya) Y,
tingkat variasi ditunjukkan oleh besarnya nilai varian Y.
Contoh 1
Dalam contoh ini kita ingin mengetahui seberapa besar hubungan lama tinggal
seseorang dikota ‘K’ dengan sikap orang tersebut terhadap kota “K”.
Misal:
X= lamanya tinggal di kota “ K”
Y= sikap terhadap kota”K” bernilai antara 1 sampai 11. Nilai 11= sangat senang
dan 1 = tidak senang.
n= 12
Data yang diperoleh sebagai berikut:
X 10 12 12 4 12 6 8 2 18 9 17 2
Y 6 9 8 3 10 4 5 8 2 11 10 2
Jawab:
12 2 17 9 18 2 8 6 12 4 12 12 10 12 121
ii X X
12 2 10 11 2 8 5 4 10 3 8 9 6 12 121
ii Y Y 6,583
12 1 i i i X Y YX (10-9,33)(6-6,583)+(12-9,33)(9-6,583)+(12-9,33)(8-6,583) + (4-9,33)(3-6,583)+(12-9,33)(10-6,583)+(6-9,33)(4-6,583) + (8-9,33)(5-6,583)+(2-9,33)(2-6,583)+(18-9,33)(11-6,583) + (9-9,33)(9-6,583)+(17-9,33)(10-6,583)+(2-9,33)(2-6,583) = 179,6668.
12 1 2 i i XX (10-9,33)2 + (12-9,33)2+ (12-9,33)2+ (4-9,33)2+ (12-9,33)2
+ (6-9,33)2+ (8-9,33)2+ (2-9,33)2+ (18-9,33)2+ (9-9,33)2 + (17-9,33)2+ (2-9,33)2
= 304,6668.
12 1 2 i i YY (6-6,58)2+ (9-6,58)2+ (8-6,58)2+ (3-6,58)2+ (10-6,58)2
+ (4-6,58)2+ (5-6,58)2+ (2-6,58)2+ (11-6,58)2+ (9-6,58)2 + (10-6,58)2+ (2-6,58)2
= 120,9168
Kemudian dicari nilai r dengan memasukkan ke dalam persamaan (2.5)
karena 0,9r<1 maka hubungan antara X dan Y sangat kuat, artinya makin lama
seseorang tinggal dikota “K” maka orang tersebut cenderung sangat mencintai
kota tersebut.
Dan nilai r2
0,9361
2 0,87628 artinya sikap seseorang terhadap kota “K” 87% dijelaskan oleh lamanya seseorang tinggal dikota tersebut.G. Korelasi Ganda
Dalam pembahasaan sebelumnya kita telah membahas mengenai korelasi
yang mencakup dua variabel yaitu Y (variabel tak bebas) dan X (variabel bebas).
Manfaat dari analisis korelasi adalah untuk mengetahui besarnya pengaruh X
terhadap Y. Sebenarnya faktor penyebab perubahan nilai Y bukan hanya
dipengaruhi oleh X tetapi masih banyak faktor lain yang bisa mempengaruhi Y.
Untuk memperhitungkan pengaruh lebih dari satu variabel bebas X, kita dapat
menggunakan analisis korelasi ganda.
Prosedur yang digunakan dalam korelasi ganda sama dengan prosedur
yang digunakan dalam korelasi sederhana, bedanya hanya terletak pada
banyaknya variabel bebas X yaitu lebih dari satu.
Untuk mengetahui seberapa kuat hubungan antara Variabel Y dengan
beberapa variabel X (X1,X2,...,Xn) dapat diukur dengan R2 (koefisien determinasi) atau sering disebutR-squareyaitu:
Dimana
Y nilai Y berdasarkan persamaan regresi ganda
n Y Y
n
i i
1
Dalam konteks MDS nilai R Square mengindikasikan proporsi varian data yang
dapat dijelaskan oleh MDS, semakin besar nilai R Square (R Square mendekati 1)
BAB III
PENSKALAAN MULTI DIMENSI
Penskalaan multidimensi (Multi Dimensional Scaling, MDS) adalah
metode analisis multivariat yang menggunakan representasi grafis untuk
mendapatkan informasi dari data. Secara garis besar MDS menampilkan
kedekatan (proximity) antar obyek secara spasial dalam bidang multi dimensi.
Yang dimaksud dengan kedekatan adalah semua himpunan bilangan yang
melambangkan tingkat kemiripan atau perbedaan antara sepasang obyek. Dengan
demikian, tujuan utama MDS adalah memetakan obyek-obyek dalam suatu bidang
multidimensi sehingga posisi relatif obyek-obyek dalam bidang tersebut
menggambarkan tingkat kedekatan antar obyek yang sebenarnya. Untuk data
besar, MDS memberikan gambaran data yang mudah dipahami dan lebih
informatif dibandingkan metode lain sebab hasil akhir MDS berupa gambaran
visual. Karena alasan ini, metode MDS banyak digunakan dalam riset pemasaran
untuk membandingkan posisi relatif obyek (produk, merk, perusahaan) dengan
obyek lainnya berdasar persepsi konsumen. Riset semacam ini menghasilkan peta
persepsi (perceptual map) yang menggambarkan pandangan konsumen terhadap
obyek-obyek yang diperbandingkan. Dalam peta ini dapat diketahui apakah
produk yang diteliti tersebut relatif sama atau beda dengan produk
pembandingnya, atribut apa saja yang menjadi keunggulan dan atribut apa saja
yang menjadi kekurangan suatu produk dibandingkan dengan produk pesaingnya.
Pada akhirnya, analisis ini menghasilkan suatu strategi atau keputusan yang
dengan produk lain.
Peta persepsi disusun dengan menempatkan beberapa obyek pada bidang
multidimensi sedemikian rupa sehingga jarak antar obyek berkorelasi dengan nilai
kedekatan yang dipersepsikan konsumen. Dua obyek yang mirip (nilai kedekatan
besar) direpresentasikan sebagai dua titik yang berdekatan. Sedang dua obyek
yang relatif berbeda (nilai kedekatan kecil) direpresentasikan sebagai dua titik
yang berjauhan..
MDS telah banyak digunakan dalam berbagai macam penelitian. Beberapa
contoh penelitian yang memanfaatkan MDS adalah:
Contoh 1
Schiffman (1977) merancang penelitian untuk memperoleh persepsi
konsumen apakah 10 jenis minuman cola cukup berbeda berdasarkan kualitas rasa
minuman menggunakan MDS. Kesepuluh minuman ini adalah Diet Pepsi, RC
Cola, Yukon, Dr. Pepper, Shasta, Coca Cola, Diet Dr. Pepper, Tab, Pepsi dan Diet
Rite. Sepuluh subyek, lima pria dan lima wanita, berpartisipasi dalam eksperimen.
Mereka diminta memberikan nilai antara 0 (bila rasanya sama) sampai 100 (bila
rasanya sangat berbeda) untuk tiap-tiap pasangan minuman cola. Hasil penelitian
ini menunjukkan bahwa subyek cenderung membandingkan minuman ini berdasar
apakah minuman tersebut termasuk minuman diet atau non diet serta berdasar
apakah minuman tersebut mengandung rasa cherry atau rasanya regular.
Contoh 2
persepsi orang mengenai kedekatan antara negara-negara. Obyek yang diambil
adalah 12 negara dari seluruh penjuru dunia yaitu: Brazil. Kongo, Kuba, Mesir,
Perancis, India, Israel, Jepang, Cina, Rusia, Amerika Serikat dan Yugoslavia.
Penelitian ini menghasilkan peta persepsi dua dimensi. Peneliti membuat garis
sumbu khayal vertikal dan horizontal pada peta persepsi yang membagi
Negara-negara tersebut dalam empat kuadran. Yang mengejutkan adalah bahwa pemetaan
ini menyimpulkan bahwa orang cenderung mempersepsikan kedekatan
negara-negara berdasarkan afiliasi politik mereka (pro Barat atau pro Komunis) dan
kemajuan ekonomi mereka (Negara maju atau Negara berkembang). Orang tidak
begitu memperhitungkan kedekatan geografis atau persamaan rasial antar
Negara-negara tersebut.
Dari dua contoh di atas, dapat disimpulkan bahwa tujuan analisis MDS
adalah menghasilkan peta persepsi yang menunjukkan posisi relatif keseluruhan
obyek yang diteliti sesuai dengan nilai kedekatan antar obyek tersebut.
Pada pembahasan selanjutnya, istilah obyek dapat diganti stimuli karena
makna keduanya hampir sama. Obyek adalah setiap benda atau kejadian
sedangkan stimuli menunjukkan bagian atau sifat dari obyek.
A. Proses Kerja Penskalaan Multi Dimensi
Konsep dasar MDS adalah proses menentukan koordinat posisi dari tiap
obyek dalam suatu peta multi dimensi sehingga jarak antar obyek pada bidang
pemetaan (derived distance) akan sesuai dengan nilai kedekatan dalam input
datanya. Ukuran kedekatan berupa nilai kemiripan (similarity) atau nilai
ukuran kedekatan adalah nilai kemiripan, semakin besar nilainya maka semakin
sama atau mirip dua objek tersebut. Jika yang dipakai adalah nilai ketidakmiripan,
semakin besar nilainya maka kedua obyek semakin tidak mirip.
Pada MDS, nilai kedekatan antara obyek i dan j dari input data (Sij),
diubah menjadi jarak dij pada bidang multi dimensi. Bidang multi dimensi di sini
dapat berupa bidang eukledian maupun non eukledian. Pada bidang eukledian
jarak antar obyek dihitung menggunakan ukuran jarak eukledian (eucledian
distance). Jika koordinat stimulus 1 pada bidang 2 dimensi adalah (X11,X12) dan
koordinat stimulus 2 adalah (X21,X22), jarak antara stimulus 1 dan stimulus 2 pada
bidang tersebut ditentukan menggunakan rumus:
21 2 22 12 2 21 11
12 X X X X
d (3.1)
dengan d12adalah jarak eukledian
Jika nilai kemiripan antar stimuli i dan j di mana i,j =1,2,3,4 adalah
S23>S12>S34>S13>S24>S14 maka jarak antar obyek akan sesuai dengan nilai
kedekatan jika jarak antar stimuli memenuhi sifat monoton sempurna (perfect
monotonicity) yaitu jikad23 d12 d34 d13 d24 d14 Sifat ini terlihat jelas dengan menggunakan diagram Sheppard.yaitu plot di mana nilai kemiripan berada
pada sumbu horizontal dan nilai jarak berada pada sumbu vertikal. Gambar
berikut menunjukkan diagram Sheppard untuk contoh kasus untuk n=4 stimuli
Gambar 3.1
Terlihat bahwa data keenam nilai di atas membentuk segmen garis yang
bergerak dari kiri ke kanan secara menurun yang berarti memenuhi sifat monoton
sempurna.
Dapat dilihat bahwa nilai kemiripan berbanding terbalik dengan nilai
jarak. Nilai kemiripan yang besar berkorespondensi dengan nilai jarak yang kecil.
Begitu pula sebaliknya, nilai kemiripan kecil berkorespondensi dengan nilai jarak
yang besar.
Jika untuk menentukan nilai jarak digunakan nilai ketidakmiripan, segmen
garis dalam diagram Sheppard monoton naik dari kiri ke kanan atau dengan kata
lain nilai ketidakmiripan berbanding lurus dengan nilai jarak.
Pada kasus tertentu dapat terjadi sifat monoton sempurna tidak terpenuhi.
Misalnya jika hubungan antar stimuli berbentuk d23 d34 d12 d13 d14 d24
di mana hubungan antara d34 dan d12 serta antara d14 dan d24 tidak berkorespondensi dengan nilai kedekatan sebenarnya dari tiap stimuli seperti
Gambar 3.2
Terlihat bahwa plot nilai similarities dan jarak tidak memenuhi sifat
monoton sempurna. Dari kiri ke kanan, garis tidak selalu menurun. Untuk
mengatasi hal ini, dibuat jarak penyesuaian baru yang dilambangkan dengandij(*)
. Jarak baru ini diambil dari rata-rata jarak yang tidak memenuhi aturan
monotonitas sempurna. Untuk kasus di atas jarak baru untuk d12 dan d34
adalah.d12(*) d34(*) (d12 d34)/2 Setelah ditentukan jarak penyesuaian yang baru, prinsip monotonitas terpenuhi di mana (*)
34 (*) 24 (*) 13 (*) 34 (*) 12 (*)
23 d d d d d
d
maka diagram Sheppard setelah dihitung jarak penyesuaian adalah:
Gambar 3.3
B. Penyusunan Penskalaan Multi Dimensi
langkah-langkah seperti yang akan diuraikan dibawah ini. .
1. Pemasukan Data
Data yang dimasukkan untuk diolah oleh MDS berupa nilai proximities
yang berupa nilai-nilai kemiripan (similarity) atau ketidakmiripan (dissimilarity)
antara semua atau hampir semua pasangan antara setiap anggota himpunan obyek.
Menurut cara memperolehnya, data dibedakan menjadi:
a. Similaritas langsung
Data similaritas langsung diperoleh dengan meminta subyek untuk
memberikan penilaian mengenai kemiripaan antara pasangan-pasangan stimuli.
Subyek disodori sepasang stimuli dan diminta menaksir kemiripan dua stimuli itu.
Proses diulangi sampai semua pasangan yang ada telah dinilai. Ada banyak
metode untuk mengumpulan data similaritas langsung. Tiga metode yang paling
sering dipakai adalah:
1. Penandaan Garis (Line Marking). Subyek diberi sejumlah kertas sebanyak jumlah pasangan yang ada. Penilaian dicatat dengan membuat tanda pada sebuah
garis yang pada kedua ujungnya telah diberi label. Biasanya ujung kiri ditandai
label ‘Persis Sama’ dan ujung sebelah kanan diberi label ‘Sangat berbeda’.
Semakin tanda diletakkan ke kanan semakin rendah nilai kemiripan pasangan.
Penilaian juga bisa dikodekan, misalnya dari angka 0 sampai 100, dengan skala
disesuaikan dengan panjang garis.
kelompok dapat ditentukan oleh peneliti atau dapat juga dibiarkan bebas
ditentukan oleh subyek. Setelah penyortiran, peneliti mencatat banyaknya
stimulus untuk tiap-tiap subyek. Kemudian disusun sebuah matriks bujursangkar
untuk setiap subyek. Entri-entri matriks dikode 0 untuk pasangan yang disortir
menjadi satu kelompok dan dikode 1 jika pasangan berada pada kelompok yang
berbeda. Nilai kemiripan diperoleh dengan menjumlah matriks dari semua subyek.
3. Pemeringkatan terkondisi (Conditional Rank Orders). Pada metode ini, masing-masing stimulus secara bergiliran dijadikan standar perbandingan. Subyek
diminta memperingkatkan stimulus-stimulus lain berdasarkan kemiripannya
dengan standar perbandingan tersebut. Kemudian, disusun suatu matriks di mana
masing-masing baris dari matriks tersebut menunjukkan nilai kemiripan atau
ketidakmiripan stimulus terhadap standar perbandingan. Metode Pemeringkatan
lainnya adalah dengan meminta subyek untuk mengurutkan semua kemungkinan
pasangan obyek dari yang paling mirip sampai yang paling tidak mirip.
Data ditampilkan dalam bentuk tabel atau matriks. Di bawah ini
ditampilkan tampilan data hasil dari beberapa metode dalam bentuk tabel.:
Contoh 3
Metode line marking. Semakin kecil nilai data, menunjukkan semakin kecilnya
nilaiproximityantar obyek.
Tabel 3.1
Contoh 4
Metode penyortiran. Nilai 0 menunjukkan bahwa obyek berada dalam satu
kelompok. Nilai 1 menunjukkan bahwa obyek berbeda kelompok. Data yang
diolah adalah penjumlahan matriks untuk semua subyek. Contoh tampilan untuk
satu subyek.
Stimulus A B C D E
A - 0 0 1 1
B 0 - 0 1 1
C 0 0 - 1 1
D 1 1 1 - 0
E 1 1 1 0
-Tabel 3. 2
Contoh 5
Metode pemeringkatan, semakin kecil nilai data menunjukkan semakin besar nilai A - 20 50 80 100
B 20 - 50 30 40
C 50 50 - 70 50
D 80 30 70 - 20
-proximityantar obyek
Stimulus A B C D E
A - 1 6 9 10
B 1 - 7 3 4
C 6 7 - 8 5
D 9 3 8 - 2
E 10 4 5 2
-Tabel 3.3
Permasalahan yang sering muncul dari pengumpulan data similaritas langsung
adalah terlalu banyaknya data yang dikumpulkan. Untuk setiap n stimulus
diperlukan penilaian terhadap pasangan sebanyak:
(3.2)
di mana C = banyaknya pasangan stimuli
n = banyaknya stimuli
Untuk mengatasi permasalahan ini, dapat dilakukan pembatasan jumlah stimuli.
Akan tetapi, dalam praktek, sedapat mungkin diusahakan jumlah stimuli yang
besar. Jumlah stimuli yang sedikit dalam dimensi kecil akan menghasilkan
penyelesaian yang tidak stabil. Selain itu, semakin banyak stimuli berarti semakin
banyak pula dimensi yang bisa dieksplorasi. Jika stimuli sedikit,
informasi-2
informasi yang diperoleh tidak akan didapat. Beberapa sumber menganjurkan
minimal ada 12 stimuli untuk penyelesaian dua dimensi dan 18 stimuli untuk
penyelesaian tiga dimensi.
Selain dengan meminimalisasi stimuli, permasalahan ini juga dapat diatasi dengan
menggunakan desain data tak lengkap. Pada desain ini, satu subyek tidak menilai
seluruh pasangan yang ada melainkan hanya beberapa pasangan saja. Sementara
pasangan-pasangan sisanya dinilai oleh subyek (atau subyek-subyek) yang lain.
Meski pengumpulan data menjadi lebih mudah, desain data tak lengkap
membutuhkan lebih banyak subyek.
b. Data Similaritas Turunan
Istilah lain untuk data similaritas turunan adalah data similaritas tak langsung.
Penyebutan ini didasarkan bahwa kemiripan tidak diukur dengan
memperbandingkan obyek dengan obyek melainkan dengan mengevaluasi obyek
berdasar deskriptor-deskriptor verbal. Formatnya adalah dengan meminta subyek
untuk menilai sejauh mana suatu deskriptor verbal, biasanya berupa kata sifat,
mampu menjelaskan atau mendeskripsikan obyek-obyek. Penilaian diukur
misalnya dengan memberikan bilangan antara 1 (jika deskriptor verbal mampu
menjelaskan obyek dengan baik) sampai 100 (jika deskriptor sama sekali tidak
menjelaskan stimulus). Nilai proximity berdasarkan hasil pengukuran jarak.
Model pengukuran jarak yang biasa digunakan pada kasus ini adalah model
r p k r jk ik
ij
X
X
d
1/1
(3.3)di mana dij= jarak antara stimulus i dan stimulus j
ij
X = nilai respon stimulus i terhadap deskriptor ke- k
jk
X = nilai respon stimulus j terhadap deskriptor ke-k
p = banyaknya deskriptor verbal
Jarak Eukledian diperoleh dari model metrik Minkowski untuk r = 2.
Persamaannya 2 / 1 1 2
p k jk ikij
X
X
d
(3.4)
Model lain adalah modelcity-block metrik yang diperoleh dari model Minkowski
untuk r =1.
Berdasar substansinya, data dibedakan menjadi:
a. Data persepsi. Yang diukur adalah persepsi atau evaluasi subyektif terhadap obyek.
b. Data preferensi.Yang diukur adalah peringkat obyek yang lebih disukai subyek.
2. MDS Metrik
jenis prosedur yang bisa digunakan. Prosedur-prosedur ini berbeda satu sama lain
berdasarkan jenis data yang diolah.
MDS metrik mengasumsikan bahwa data yang dimasukkan ada pada skala
interval atau rasio. Prosedur MDS metrik secara langsung menghubungkan jarak
dan ukuran proximity secara linear. Jika matriks data kemiripan memiliki
entri-entri yang sebenarnya (jarak antar stimulus dalam skala rasio), maka penggunaan
MDS metrik akan memberikan penyelesaian berupa jarak dalam bidang turunan
memiliki rasio yang sama dengan jarak sebenarnya yang digunakan sebagai data.
Proximity metrik memiliki skala interval yang diperoleh dari skala kemiripan
bipolar di mana pasangan stimuli telah dinilai satu kali dalam satu kesempatan.
Inti dari MDS metrik adalah metode rekonstruksi aljabar untuk
menemukan suatu konfigurasi titik-titik dari data kemiripan skala interval yang
menunjukkan jarak Euclidean secara tepat atau secara penaksiran.
Langkah-langkah MDS Metrik :
a. Mentransformasikan nilai kedekatan kedalam bentuk matriks. Data kemiripan skala interval diubah menjadi nilai jarak yang dinotasikan. dij
Transformasi dari nilai kemiripan menjadi jarak didasarkan pada asumsi-asumsi
sebagai berikut.
a. Positivitas yaitu bahwa semua nilai jarak adalah non negatif
dij 0
b. Non-degeneracy yaitu bahwa jarak bernilai nol untuk stimuli yang bernilai
d. Triangular inequality
dij+ djl
dil
Karena MDS metrik mengasumsikan bahwa bidang pemetaan adalah bidang
Eukledian, jarak yang dimaksud adalah jarak Eukledian. Jarak-jarak ini disusun
menjadi matriksDberukuran nxn dengan n adalah banyaknya stimuli. Contoh 6
Dalam sebuah penelitan tentang persepsi orang mengenai koran-koran yang
terkenal dikota Boston dan New York mendapatkan data sebagai berikut:
PASANGAN KORAN NILAI KEMIRIPAN
BOSTON HERALD-NEW YORK POST 2
BOSTON HERALD-NEW YORK TIMES 6
BOSTON HERALD-BOSTON GLOBE 5
NEW YORK POST-NEW YORK TIMES 5
NEW YORK POST-BOSTON GLOBE 4
NEW YORK TIMES-BOSTON GLOBE 3
Dari data diatas kita akan mentransformasikan data tersebut kedalam bentuk
matriks yaitu:
D=
0 3 4 5
3 0 5 6
4 5 0 2
b. Membuat matriks product skalar dengan proses double-centering.
Dengan Asumsi bahwa semua jarak adalah Eucledian, langkah berikutnya adalah
menentukan matriks product skalar Bdengan cara mendekomposisikan matriksD melalui prosesdouble-centering.MatriksBmempunyai elemen-elemen:
2
.. 2 . 2 . 2
2
/
1
d
d
d
d
b
ij
ij
i
j
( 3.5) dengan
j iji
n
d
d
2.1
/
2'
i ij
j
n
d
d
2' 2
.
1
/
j i ijd
n
d
, 2 ' 2..
1
/
Persamaan (3.1) bila ditulis dalam bentuk matriks menjadi
I V D I V
B n n 1 1 2 1 2 (3.6) dimana
I = matriks identitas dengan ukuran
n
n
V = matriks berukuran
n
n
dengan entri Vij 1 untuk semua i,j2
D = matriks kuadrat jarak berukuran
n
n
dengan elemen dij2Contoh 7
matriks product skalar Bdengan memasukkan kepersamaan 3.6 sehingga matriks Badalah:
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
4
1
1
0
0
0
0
1
0
0
0
0
1
0
0
0
0
1
0
9
16
25
9
0
25
36
16
25
0
4
25
36
4
0
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
4
1
1
0
0
0
0
1
0
0
0
0
1
0
0
0
0
1
2
1
B
6875 , 4 3125 , 3 3125 . 3 3125 , 5 3125 , 3 3125 , 10 3125 , 5 3125 , 8 3125 , 3 3125 , 5 0625 , 4 5625 , 4 3125 , 5 3125 , 8 5625 , 4 0625 , 9 Bc. Setelah matriks B terbentuk, untuk menempatkan matriks koordinat dalam bidang turunan digunakan analisis eigennilai-eigenvektor untuk matriks B. Dengan asumsi, misalnya, penyelesaian bersifat dua dimensi, 1 dan 2 menjadi
dua eigennilai pertama B, dengan matriks eigenvektor dilambangkan dengan X= (X(1),X(2)) dimana kolom matriks X adalah eigenvektor untuk eigennilai 1 dan 2. Koordinat stimuli dalam bidang dua dimensi turunan adalah baris dari matriks X yaitu
X’(1)= (X11, X21, ….,Xn1)
X’(2)= (X12, X22,…...,Xn2)
Dengan kata lain (X11,X12)adalah posisi titik P1 yang mewakili stimulus 1 pada bidang turunan dua dimensi.
Setelah koordinat stimuli pada bidang pemetaan bisa diperoleh,
koordinat-koordinat tersebut diuji validitasnya, apakah koordinat-koordinat-koordinat-koordinat itu benar-benar
merepresentasikan posisi obyek yang sebenarnya. Uji validitas MDS pada
hakikatnya adalah proses optimasi di mana validitas tidak hanya diuji tapi juga
dikoreksi melalui beberapa kali iterasi sampai nilai validitasnya relatif terpenuhi.
Ukuran yang menunjukkan validitas pengukuran disebut STRESS yang
dirumuskan sebagai:
n j i ij n j i ij ijd
d
d
S
2 2 ^ (3.7)dimana, dij adalah jarak antara stimuli i dan j dihitung dari koordinat stimulus
dalam bidang turunan dengan iterasi tertentu. Dan dij adalah dispariti yaitu
transformasi monoton data yang dibuat semirip mungkin dengan jarak (dalam
hal ini least squarenya) untuk setiap langkah. Semakin kacil nilai STRESS,
semakin penelitian dianggap valid. Dalam praktek, proses diawali dengan
konfigurasi awal titik-titik (koordinat stimulus), mungkin dilakukan secara acak,
untuk suatu dimensi tertentu. Konfigurasi ini dengan iterasi digerakkan
sedemikian rupa untuk meminimalkan nilai STRESS dengan tetap
mempertahankan monotonitas dispariti dengan proximity mula-mula. Proses
berakhir ketika nilai STRESS setelah suatu iterasi tidak lebih baik dari nilai
STRESS sebelumnya atau hanya berubah terlalu kecil dibanding nilai STRESS
4. Penentuan Banyaknya Dimensi
Keputusan untuk memilih banyaknya dimensi (dimensionalitas) yang akan
diambil dapat diatasi secara mudah dengan memilih dimensionalitas dengan nilai
STRESS terkecil. Meski begitu, sejumlah hal harus dipahami sebelum orang
memanfaatkan nilai STRESS sebagai indikator apakah dimensionalitas yang
diambil tepat.
Ada dua pendekatan dasar untuk memanfaatkan nilai STRESS untuk
menentukan jumlah dimensi yang digunakan. Pendekatan pertama disebut metode
obyektif karena berdasar pada argumen-argumen statistik. Pendekatan lain disebut
subyektif karena terutama mengandalkan intuisi dan pengalaman.Selain
menggunakan dua pendeketan diatas kita juga dapat menggunakan nilaiR-sequare
atau sering disebut RSQ.
a. Metode Obyektif
Nilai STRESS dihasilkan dari penskalaan data pada penyelesaian dalam berbagai
dimensionalitas. Kemudian nilaiSTRESSdiplotkan dengan dimensionalitas. Lalu,
data sintesis dibuat dengan komponen kesalahan acak tertentu dan dimensionalitas
yang diketahui. Data sintetis diolah menggunakan analisis MDS dan
penyelesaiannya dibandingkan dengan penyelesaian untuk data yang sebenarnya.
Proses berlanjut sampai ditemukan data sintetis yang memiliki plot STRESS
sebenarnya.
b. Metode subyekif
Pendekatan subyektif menggunakan kriteria scree-elbow. Dengan asumsi bahwa
dimensionalitas yang benar bukan satu dan bahwa komponen galat dalam data
tidak besar, plot STRESS dengan dimensionalitas, pada umumnya plot tersebut
akan mebentuk pola cembung. Titik dimana suatu siku atau bengkokkan tajam
terjadi, menunjukkan banyaknya dimensi yang tepat. Karena STRESS sangat
sensitif terhadap banyaknya stimuli dan dimensi, metode ini harus digunakan
dengan hati-hati.
Contoh 8
Dalam sebuah penelitian tentang persepsi orang mengenai koran yang terkenal di
kota Jakarta(Bilson Simamora.2005.Analisis Multivariat Pemasaran), data yang
diperoleh adalah
BISNIS
INDONESA KOMPAS
KORAN TEMPO
LAMPU
MERAH PEMBARUAN POS KOTA
RAKYAT
MERDEKA REPUBLIKA BISNIS
INDONESIA 0 6 6 1 4 1 1 4
KOMPAS 6 0 1 6 6 1 1 4
KORAN TEMPO 6 6 0 1 7 1 1 5
LAMPU MERAH 1 1 1 0 1 6 5 1
PEMBAHARUAN 4 6 7 1 0 1 3 2
POS KOTA 1 1 1 6 1 0 5 3
RAKYAT
MERDEKA 1 1 1 5 3 5 0 1
REPUBLIKA 4 4 5 1 2 3 1 0
berikut: untuk satu dimensi nilai STRESS= 0,50849 , untuk dua dimensi nilai
STRESS = 0,32138 dan untuk tiga dimensi nilai STRESS=0,20249 Model berapa
dimensi yang paling baik? Dengan menggunakan metode subyektif ketiga nilai
STRESSdibuat grafik dalam sistem koordinat sebagai berikut:
0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6
1 2 3
Jumlah Dimensi
S
tre
s
s
Garis Stress
Gambar 3.4
Dari gambar 3.4 dapat kita lihat bahwa siku (elbow) dari garis STRESS bila
diproyeksikan kesumbu koordinat akan menghasilkan bilangan dua (dua dimensi).
Jadi dapat kita simpulkan bahwa model terbaik adalah model dua dimensi.
c. R-square (RSQ)
Dalam menentukan banyaknya dimensi kita juga dapat menggunakan nilai RSQ,
rumus dari RSQ dapat dilihat dalam BAB II. Dimana nilai RSQ dalam MDS
mengindikasikan proporsi varians data yang dapat dijelaskan oleh MDS,semakin
besar nilai RSQ yang kita dapat semakin baik pula model yang akan kita peroleh.
Contoh 9
Selain mendapatkan nilai STRESS pada saat interasi terakhir pada contoh 8 kita
juga akan mendapatkan nilai RSQ, nilai RSQ yang kita dapatkan pada interasi
0.12649 sedangkan untuk tiga dimensi RSQ = 0,31039. Dapat kita lihat bahwa
nilai RSQ terbesar adalah nilai RSQ satu dimensi yaitu sebesar 0.8620 ini artinya
model terbaik adalah model satu dimensi.
5. Intepretasi Hasil dan Penamaan Dimensi
Setelah dimensionalitas yang sesuai ditentukan, konfigurasi stimuli pada
bidang pemetaan harus diinterpretasikan. Interpretasi dapat dengan mudah
dilakukan dengan melihat posisi stimuli dalam bidang (pendekatan subyektif) atau
melakukan pendekatan yang lebih obyektif baik itu dengan memetakan apa yang
disebut vektor sifat ke dalam bidang pemetaan atau dengan menjalankan analisis
korelasi kanonik.
a. Pendekatan Subyektif
Pendekatan subyektif untuk menginterpretasikan bidang turunan hanya didasarkan
pada posisi obyek stimulus dalam bidang. Langkah pertama adalah melihat
sifat-sifat stimulus yang berada pada posisi ekstrem dalam bidang pemetaan Untuk
stimuli ini kita mencoba mengidentifikasi sifat atau atribut yang dapat
menjelaskan posisi relatif stimuli pada bidang pemetaan. Sifat-sifat atau atribut
stimuli inilah yang menjadi petunjuk untuk menentukan nama dimensi.
b. Property fitting
Tipe pendekatan obyektif ini didasarkan pada penalaran berikut. Diandaikan ada
suatu variabel yang mengukur suatu karakteristik stimuli yang diduga memiliki
dicari suatu arah melalui bidang stimulus yang berhubungan dengan naiknya
jumlah atribut terpilih. Garis semacam ini disebut vektor atribut. Jika atribut yang
dicari sangat dekat hubungannya dengan bidang pemetaan, nilai atribut yang
sebenarnya akan sangat dekat dengan proyeksi stimulus. Jika atribut yang dicari
tidak terlalu dekat hubungannya dengan bidang pemetaan, korelasi antara nilai
aktual atribut dengan proyeksi stimulus akan rendah. Prosedur untuk menemukan
arah vektor atribut menggunakan analisis regresi ganda. Prosesnya adalah seperti
berikut,
1. Menentukan rata-rata untuk tiap obyek pada karakteristik atribut yang dicari.
2. Meregresi vektor rata-rata peringkat atribut untuk atribut pada koordinat
bidang pemetaan dan memperlakukan koordinat sebagai variabel independen.
Andaikan ai melambangkan nilai spesifik stimulus i untuk atribut a, di mana i = 1,2,…,n dan X1, X2,…,Xnmerupakan koordinat i untuk masing-masing dari
r dimensi maka persamaan regresi ganda yang biasa adalah
ir r
i
b
X
X
b
b
a
a
^
0
1 1
...
11
3. Nilai b1, b2,…, br disebut koefisien regresi dan bo disebut intersep. Nilai ai
adalah penduga terbaik untuk proyeksi stimulus i pada vektor atribut dari
koordinat stimulus Xit, t=1,2,…,r dan nilai atribut ai.
4. Koefisien korelasi ganda menunjukkan korelasi antara proyeksi stimulus
dengan nilai atribut. Jika nilai koefisien rendah, maka dengan aman dapat
disimpulkan bahwa subyek tidak menggunakan atribut dalam pertanyaan pada
waktu subyek mengadakan penilaian kemiripan.
terstandar. Koefisien ini dinotasikan dengan 1,2,...,r.Selanjutnya dicari titik pada bidang turunan stimulus yang koordinatnyai. Titik ini disebut*. Terakhir, dengan asumsi bahwa rata-rata koordinat adalah nol untuk tiap
dimensi, tarik garis melalui titik pusat bidang turunan stimulus dan melalui
*
dan dinamakan L. Biasanya panjang garis dibuat proporsional dengan
kuadrat koefisien dan diberi anak panah di ujungnya.
c. Analisis korelasi kanonik
Jika ada banyak himpunan data, bisa diaplikasikan vektor atribut yang
biasa dan model titik ideal untuk setiap atribut. Kedua analisis terpisah ini akan
menghasilkan satu vektor atribut untuk masing-masing atribut. Meski begitu,
pendekatan ini mengabaikan hubungan antar atribut itu sendiri. Dengan kata lain,
yang kita inginkan adalah suatu prosedur yang membuat kita bisa secara
bersamaan (simultan) banyak himpunan rating atribut dengan bidang turunan
stimulus hanya dengan satu analisis.
Prosedur semacam itu disebut analisis korelasi kanonik,jika kita memiliki
dua himpunan variabel, katakan Y=(Y1,Y2,....,Yp) dan X=(X1,X2,...Xq), atau
dapat disusun menjadi:
Y=a1Y1 a2Y2 ...apYp
X=b1X1 b2X2 ...bqXq
Analisis korelasi kanonik berusaha menentukan asosiasi linear antara kedua
himpunan. Sasarannya adalah menentukan dua kombinasi linear, satu untuk
product-moment antara kedua kombinasi linear bernilai sebesar
mungkin.Pembahasan tentang analisis korelasi kanonik dapat dilihat pada
Yunida(2005). Langkah-langkahnya sebagai berikut:
1. Menentukan Vektor Random
q p x q p X X X Y Y Y . . . . 2 1 2 1 1 X Y X
2. Mencari Vektor rata-rata
2 1 1 X Y X E E E x q p3. Mencari matrik kovarians
' 1
E X