• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II REKONSILIASI DAN TRANSFORMASI KONFLIK 2.1.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "BAB II REKONSILIASI DAN TRANSFORMASI KONFLIK 2.1."

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

35 BAB II

REKONSILIASI DAN TRANSFORMASI KONFLIK

2.1. Teori Penyelesaian Konflik

Ada banyak cara yang dilakukan oleh individu atau kelompok di masyarakat dalam menangani konflik. Salah satu cara yang lazim ditempuh oleh kebanyakan masyarakat dalam berbagai kebudayaan adalah menghindar dari konflik. Lawan ekstremnya adalah menanggapi konflik dengan kekerasan. Di sisi lain, banyak juga masyarakat yang berhasil mengembangkan cara-cara terstruktur dalam mengatasi konflik, baik yang aktual maupun yang potensial antarindividu dan antarkelompok.

Masyarakat Jawa memandang konflik sebagai sesuatu yang harus segera diselesaikan. Konflik itu hal yang tidak baik. Sedapat mungkin konflik harus cepat diselesaikan atau malah dihindari sama sekali, bahkan jangan sampai terjadi.

Menghindari konflik dengan maksud agar stabilitas dan integritas sosial dapat dipertahankan. Dalam konsep kehidupan orang Jawa, penghayatan akan hal itu disebut memayu hayuning bawana. Kata memayu berarti membuat baik/memperbaiki. Kata hayuning berarti ayu/baik/selamat/cantik. Kata bawana berarti bumi. Secara etimologis memayu hayuning bawana memiliki makna membuat bumi/jagad menjadi baik. Konsep memayu hayuning bawana menjadi spirit laku hidup orang Jawa. Mereka akan terus menerus berupaya mewujudkan kedamaian dan keharmonisan hidup, yang diwujudnyatakan dalam sikap hidup sehari-hari.

(2)

36

Secara umum tahapan penyelesaian konflik dimulai dengan mendiskusikan/mendialogkan persoalan-persoalan yang terkait. Sesudah itu melanjutkan dengan menegosiasikan salah satu atau lebih persoalan secara spesifik. Jika tidak mampu menyelesaikannya sendiri (para pihak yang berkonflik), mereka bisa meminta pertolongan kepada pihak ketiga. Pihak ketiga ini dapat berperan sebagai konsiliator (tugasasnya sekadar meredakan sikap saling memusuhi) atau menjadi mediator/penengah (tugasasnya adalah menolong secara aktif, menjajaki berbagai pilihan penyelesaian dan merundingkan penyelesaiannya).

Namun apabila mediasi mengalami kegagalan, pihak-pihak terkait bisa meminta bantuan arbitrator (yang bertanggung jawab untuk mengambil suatu keputusan). Proses arbitrasi berbeda dengan mediasi. Arbitrasi disebut sebagai suatu penghakiman, memutuskan benar atau salah dan seringkali memaksakan keputusan. Liliweri menjelaskan arbitrasi dapat dipandang sebagai metode akan tetapi juga sekaligus suatu badan (panel) yang memiliki kekuasaan, diakui secara yuridis dalam rangka menyelesaikan sengketa di luar badan peradilan.48

Pada proses berlangsungnya penyelesaian konflik, para pihak yang berkonflik mungkin saja mengubah langkah negosiasi maupun mediasi yang sedang dalam proses, dengan memilih menghindar/mundur atau sebaliknya dengan cara ekstrem menempuh kekerasan.

48 Alo Liliweri, Sosiologi & Komunikasi Organisasi, (Jakarta:Penerbit Bumi Aksara, 2014), hlm. 347

(3)

37

Menurut Coser49, mereka mencari katup penyelamat. Mereka memilih mundur dan menghindar, yang sebenarnya justru memperlihatkan adanya pengingkaran perasaan bermusuhan dari sumber konflik yang sebenarnya, lalu mereka akan mengembangkan saluran alternatif untuk mengungkapkannya.

Pilihan memisahkan diri ini, barangkali menjadi pilihan yang baik, untuk menghindari konflik yang lebih besar serta luka-luka yang mendalam.

Dalam hal ini, Cohen berpendapat, suatu komunitas terdiri dari orang- orang yang memiliki kesepakatan sama satu dengan yang lain. Kesepakatan itu yang membedakan mereka dari komunitas yang lain, di luar komunitas mereka.50 Manakala ada hal yang menjadi idealisme, cita-cita dan harapan

Selanjutnya Cohen menjelaskan bahwa dalam hal keinginan atau kebutuhan yang berbeda atau merasa didiskriminasi maka unsur untuk mewujudkan rasa didiskriminasi itu dengan membuat pembatasan.51 Pembatasan yang terjadi sebagai akibat atau efek dari hasil interaksi yang dilakukan. Mereka sadar bahwa mereka berbeda. Tujuan dan idealisme mereka berbeda dan tidak bisa memaksakan perbedaan itu

49 Doyle Paul Johnson, Teori Sosiologi Klasik dan Modern, Jilid 2, diindonesiakan oleh:Robert M.Z.

Lawang, (Jakarta:Gramedia Pustaka Utama, 1990), hlm. 202-203

50 Anthony P. Cohen, The Symbolic Construction of Community, (London & New York: Routhledge, 1985), 12-13

51 Ibid

(4)

38 2.2. Pendekatan Penyelesaian Konflik

Ada beberapa pendekatan dalam penyelesaian konflik menurut Alo Liliweri52 :

1. Pendekatan Berbasis Kekuasaan

Pendekatan dengan menerapkan kekuasaan untuk menyelesaikan konflik.

2. Pendekatan Berbasis Hukum dan Hak

Pendekatan yang dilakukan dengan cara menyelesaikan konflik melalui jalur hukum, dengan demikian pihak-pihak yang berkonflik dapat memperoleh apa yang diperjuangkan melalui lembaga peradilan.

3. Pendekatan Berdasarkan Kepentingan

Pendekatan yang dilakukan dengan mendistribusikan pihak-pihak yang berkonflik berdasarkan kepentingan mereka, dengan melakukan negosiasi dan menGilkan win-win solution.

4. Pendekatan Relasional

Penyelesaian konflik dengan mempertimbangkan perbaikan relasi antara pihak-pihak berkonflik berdasarkan kepentingan, hak, hukum, etika dan kekuasaan, mendorong pihak-pihak berkonflik untuk menciptakan dialog melalui negosiasi, mediasi, dan rehabilitasi melalui jalan keadilan dan rekonsiliasi.

Menciptakan transformasi konflik untuk mencapai perdamaian.

5. Pendekatan Distributif

Penyelesaian konflik dengan mempertimbangkan distribusi masing-masing pihak, sehingga menghasilkan penyelesaian yang tidak lagi menimbulkan klaim dari pihak-pihak berkonflik dengan berusaha mengurangi ruang perbedaan antara pihak-pihak berkonflik.

6. Pendekatan Integratif

Pendekatan integratif memperhatikan masalah yang akan diselesaikan sebagai sesuatu yang lebih utama sehingga diselesaikan secara integratif dan tidak terburu-buru. Dari proses tersebut akan dapat menciptakan nilai baru.

52 Alo Liliweri, Sosiologi & Komunikasi Organisasi, (Jakarta:Penerbit Bumi Aksara, 2014), 345-347

(5)

39 2.3. Rekonsiliasi dan Transformasi Konflik

Konflik yang sifatnya internal dalam suatu institusi agama dapat diselesaikan dengan: dialog, negosiasi, dan mediasi demi terwujudnya rekonsiliasi dan transformasi konflik.

Rekonsiliasi adalah suatu bentuk resolusi konflik. Rekonsiliasi merupakan salah satu cara untuk menuntaskan dan menyelesaikan konflik.

Rekonsiliasi diperlukan agar persoalan-persoalan pascakonflik maupun akar konflik dapat diselesaikan.

Rekonsiliasi dapat disejajarkan pengertiannya dengan transformasi konflik; mengatasi konflik tidak dengan cara-cara kekerasan melainkan melalui cara damai. Transformasi konflik mengandung arti tidak hanya mengakhiri atau mencegah sesuatu yang kurang baik, melainkan juga memulai sesuatu yang baru dan baik53.

Untuk memulai sesuatu yang baru dan baik yang terwujud dalam momentum rekonsiliasi, masa lalu harus dinegosiasikan dengan keadaan sekarang ini. Fisher & Ury mengungkapkan masa lalu adalah sesuatu yang harus diatasi atau ditinggalkan supaya tercapai hasil yang memuaskan.54 Orientasi ke depan selalu lebih penting dibandingkan dengan melihat ke belakang. Masa lalu adalah sesuatu yang bisa dan seharusnya ditinggalkan di belakang.

53 Ronald S. Kraybill, Alice Fracer Evans & Robert A. Evans, Peace Skill, Panduan Mediator, Terampil Membangun Perdamaian. Penerjemah:A. Supratiknya, (Yogyakarta:Kanisius, 2004), hlm. 26

54 Roger Fisher & William Ury, Getting Yes:Negotiating an Agreement Without Giving in. Editor:Bruce Patton, (New York:Random House Business Books, 2011)

(6)

40

Namun dalam kenyataannya, dalam waktu yang panjang memperlihatkan sulitnya pihak yang berkonflik untuk melihat ke depan55. Dari pengalaman para pihak yang berkonflik memperlihatkan, soal-soal apa yang sudah pernah terjadi di masa lalu tidak bisa diabaikan sama sekali. Meskipun demikian, jika tidak pernah bisa didamaikan, paling tidak masa lalu menjadi sesuatu yang harus dinegosiasikan untuk masa kini.

Desmond Tutu menyatakan, apakah kita selalu mempermasalahkan masa lalu kita jika kita berniat akan melakukan transisi menuju zaman baru? Yang dipermasalahkan bukanlah mengenai apakah tetapi mengenai bagaimana kita akan mempermasalahkan kenyataan masa lalu yang baru saja lewat. Menjawab tentang bagaimana itu, Desmond Tutu menjelaskan, kita perlu memaafkan, namun tidak untuk melupakan pelanggaran yang telah terjadi. Melupakan sama artinya dengan memberi kesempatan bagi pelanggaran tersebut untuk terulang kembali.56 Persoalan bagaimana mempermasalahkan masa lalu, oleh Desmond Tutu dijawab dengan satu sikap yaitu memaafkan.

Dalam teori problem solving, Kelman menunjukkan secara jelas pertimbangan sejarah masa lalu sebagai bagian yang harus diperhatikan.

Menurutnya, dinamika hubungan antara antara kondisi masa sekarang dengan

55 GKJ Tamanmurni beranggapan bahwa GKJ Tamanasri terus berkutat pada masa lalu padahal pihak GKJ Tamanmurni ingin meninggalkan masa lalu dan membangun masa kini demi masa depan yang lebih baik, hidup dalam spirit kasih dan pengampunan untuk keutuhan jemaat. Hal tersebut membuat setiap kali proses penyelesaian konflik menjadi tersendat.

56 Desmond Tutu, Tiada Masa Depan Tanpa Pengampunan, Pengalaman Nelson Mandela Membangun Rekonsiliasi Afrika Selatan, Pengantar:Ma’arif Jamuin, (Kartasura:Ciscore, 2001), hlm. 35

(7)

41

sejarah masa lalu harus diperhatikan supaya hasil “problem solving” dapat dituntaskan.57

Keberhasilan rekonsiliasi (reconciliation) juga ditentukan oleh proses- proses yang telah mendahuluinya. Proses itu adalah penyelesaian konflik (conflict settlement), dan resolusi konflik (conflict resolution). Keberhasilan sebuah

rekonsiliasi tidak akan pernah bisa dilepaskan dari peran penting kedua proses tersebut. Meskipun menurut Kelman hubungan proses penyelesaian konflik, resolusi konflik dan rekonsiliasi tidak sepenuhnya sebagai satu rangkaian yang berurutan. Ketiga proses tersebut adalah tiga hal yang berbeda, masing-masing terjadi secara independen, namun bukan berarti peluang bagi ketiganya untuk membentuk sebuah hubungan yang saling mensyaratkan itu tertutup sama sekali.

Afthonul Afif menjelaskan bahwa antara penyelesaian konflik, resolusi konflik dan rekonsiliasi merupakan rangkaian yang terjalin secara bertahap. Fase pertama adalah penyelesaian konflik, dilanjutkan dengan adanya resolusi konflik dan berakhir dengan rekonsiliasi.58 Dari ketiga proses tersebut akan melahirkan apa yang disebut dengan perdamaian yang berkelanjutan (perpetual peace).59

Tentang penyelesaian konflik, Afif memberikan analisanya demikian:

Penyelesaian konflik adalah proses mencapai kesepakatan yang dilakukan oleh pihak-pihak yang berkonflik dengan cara menegosiasikan posisi kekuatan serta sumber daya yang mereka miliki untuk menentukan titik kesepahaman sehingga tidak lagi terjadi pertentangan kepentingan di antara mereka. Kehadiran

57 H.C. Kelman, Reconciliation From a Social-Psychological Perspective, dalam Arie Nadler, Thomas E.

Malloy, & Jeffrey D. Fisher (Ed.), The Social Psychology of Intergroup Reconciliation, (New York:Oxford University Press, 2008)

58 Afthonul Afif, Pemaafan, Rekonsiliasi & Restorative Justice, Diskursus Perihal Pelanggaran di Masa Lalu

& Upaya-upaya Melampauinya, (Yogyakarta:Pustaka Pelajar, 2015)

59 H.C. Kelman, Reconciliation From a Social-Psychological Perspective, dalam Arie Nadler, Thomas E.

Malloy, & Jeffrey D. Fisher (Ed.), The Social Psychology of Intergroup Reconciliation, (New York:Oxford University Press, 2008)

(8)

42

pihak ketiga menjadi sangat diperlukan untuk mengupayakan mediasi dan penyelesaian konflik. Peran ini hanya dapat dimainkan oleh lembaga-lembaga dengan pengaruh serta kekuatan yang lebih besar.

Dalam kerangka penyelesaian konflik, menurut Kraybill mediasi merupakan cara yang “aman” bagi para pihak yang berkonflik untuk bertemu dengan tetap memberikan kesempatan kepada mereka untuk memegang kendali atas berbagai persoalan hubungan, dan hasil-hasilnya. Mediasi memiliki potensi bagi terciptanya transformasi dan terciptanya perdamaian dengan cara menolong para pihak yang berkonflik.60

Dalam pandangan Kraybill, ada tiga hal penting yang ditekankan dalam mediasi61:

1. Mediasi menolong pihak-pihak yang bertikai lebih saling memahami aneka kebutuhan, kepentingan, dan nilai-nilai hidup masing-masing.

2. Mediasi menolong pihak-pihak yang bertikai bertanggung jawab atas aneka keputusan yang diambil.

3. Mediasi bisa memberikan landasan untuk mengubah hubungan mereka serta mulai bekerja sama untuk berbagi sumber daya, saling mengklarifikasi informasi, bahkan bersama-sama mengubah struktur-struktur yang menjadi sumber konflik.

Melalui pandangan tersebut, dapat dimengerti bahwa dalam proses mediasi, kedudukan mediator tidak dalam posisi membela salah satu pihak atau setuju dengan pandangan tertentu. Sebaliknya seorang mediator harus mendukung serangkaian proses fair dalam rangka pengambilan keputusan.

Demi menegakkan nilai-nilai, mediator tidak perlu memihak salah satu pihak/pendapat. Justru mediator harus dapat terus menerus mengupayakan secara

60 Ronald S. Kraybill, Alice Fracer Evans & Robert A. Evans, Peace Skill, Panduan Mediator, Terampil Membangun Perdamaian. Penerjemah:A. Supratiknya, (Yogyakarta:Kanisius, 2004), hlm. 43

61 Ibid

(9)

43

aktif dan transparan keseluruhan proses, agar semua metode pembicaraan, benar- benar mencerminkan nilai-nilai yang diperjuangkan. Dari gambaran tersebut, seorang mediator harus bersikap jujur, fair, teguh memegang prinsip, serta memiliki komitmen untuk membela kebutuhan semua pihak yang bertikai dengan adil.62

Peran mediator sangatlah penting, akan tetapi untuk sampai pada proses resolusi konflik sangat tergantung pula pada kesadaran pihak yang berkonflik untuk terus menegosiasikan kesepahaman kepentingan. Tanda-tanda terciptanya perbaikan hubungan baru akan muncul ketika pihak yang berkonflik berhasil melangkah ke proses berikutnya, yaitu resolusi konflik.63 Resolusi konflik terjadi dengan ciri utama terjadinya transformasi hubungan yang sebelumnya konfliktual menjadi hubungan yang lebih kooperatif, keterbukaan dan kerelaan untuk berdialog, menyamakan kesepahaman dibangun bukan dengan dasar menang atau kalah.

Tercapainya sebuah resolusi konflik memang belum seluruhnya dapat mengikis bibit-bibit permusuhan di antara para pihak yang berkonflik, karena perubahan orientasi hubungan dalam proses ini tidak secara otomatis akan diikuti dengan perubahan-perubahan di level struktur keyakinan kedua belah pihak.64 Dialog, negosiasi, maupun mediasi dilakukan secara terus menerus sampai mengerucut ke titik temu kesepahaman dan penerimaan kepentingan masing- masing.

62 Ibid, hlm. 53

63 Afthonul Afif, Pemaafan, Rekonsiliasi & Restorative Justice, Diskursus Perihal Pelanggaran di Masa Lalu

& Upaya-upaya Melampauinya, (Yogyakarta:Pustaka Pelajar, 2015), hlm. 291

64 Ibid

(10)

44

Suatu perdamaian yang berkelanjutan hanya mungkin dapat dicapai jika kedua belah pihak telah berhasil menapak ke proses berikutnya, yaitu rekonsiliasi.

Afif menjelaskan bahwa:

Rekonsiliasi menjadi sebuah kebutuhan yang mendesak ketika kedua belah pihak telah saling menyadari bahwa kesepakatan damai sebaik apa pun ternyata belum cukup mampu membawa mereka menuju pada perdamaian yang dikehendaki apabila di antara mereka sendiri belum mampu mengubah secara radikal orientasi kesadaran mereka tentang pihak lain. Mereka secara bersama-sama membangun kesepahaman baru yang sanggup untuk menuntun mereka ke jalan perdamaian.65

Keberhasilan rekonsiliasi tidak dapat dilihat sebagai proses yang berjalan mandiri. Berhasil tidaknya rekonsilisasi, ditentukan oleh hasil-hasil yang telah dicapai dalam dua proses sebelumnya. Sebuah rekonsiliasi mustahil ditempuh apabila proses penyelesaian dan resolusi konflik gagal dilakukan.

Desmond Tutu menjelaskan pengalamannya membangun rekonsiliasi di Afrika Selatan. Demikian penjelasannya:

Siapa kita, apa yang kita punyai, bahkan keselamatan kita, semua adalah sebuah pemberian, tidaklah untuk diraih melainkan untuk diterima sebagai sebuah pemberian yang diberikan cuma-cuma. Keberpihakan Tuhan yang menguntungkan para pendosa bukan main besarnya,... Tuhan tidak membuat orang berputus asa, karena Tuhan mencintai kita dengan semua keabadian. Tuhan mencintai kita sekarang dan Tuhan akan selalu mencintai kita, semua kita, baik dan buruk, selama-lamanya. Cinta-Nya tidak akan melepaskan kita, karena cinta Tuhan untuk kita semua tidak akan berubah, dan tidak dapat diubah.66

65 Ibid, hlm. 264

66 Desmond Tutu, Tiada Masa Depan Tanpa Pengampunan, Pengalaman Nelson Mandela Membangun Rekonsiliasi Afrika Selatan. Pengantar Ma’arif Jamuin, (Kartasura:Ciscore, 2001)

(11)

45

Dalam kacamata Desmond Tutu, rekonsiliasi dapat terwujud jikalau masing-masing menyadari keberadaan diri mereka sebagai orang-orang yang mendapat belas kasih Tuhan. Menjadi sebuah ironi apabila dalam kesadarannya sebagai orang-orang yang telah menerima “kabar baik”, namun, justru praktiknya sangat berbeda. Rekonsiliasi merupakan salah satu bagian dari proses panjang dalam menghentikan konflik serta menciptakan perdamaian. Perdamaian adalah kondisi akhir yang diharapkan dari sebuah konflik yang telah berhasil dihentikan.

Cohen menjelaskan bahwa komunitas hanyalah satu simbol yang mengekspresikan batasan. Simbol itu dimiliki dan dimaknai bersama oleh anggota komunitasnya, namun manakala muncul pemaknaan simbol yang berbeda, maka yang menyatakan berbeda itu lalu membuat batasan.67 Akan lebih baik bila dalam satu kelompok memiliki persepsi sama tentang simbol (termasuk di dalamnya tentang tujuan, idealisme, cita-cita).

Cohen menjelaskan bahwa ciri paling mencolok dari konstruksi simbolik masyarakat adalah karakter oposisinya. Batas-batasnya bersifat relasional daripada absolut; yaitu, mereka menandai komunitas dalam hubungannya dengan komunitas lain.68

Robert J. Schreiter dalam pendekatan rekonsiliasi secara teologis menjelaskan bahwa pelayanan rekonsiliasi dimulai dengan apa yang Tuhan lakukan bagi kita, bahwa Tuhan telah mengasihi kita seorang berdosa. Itu adalah

67 Anthony P. Cohen, The Symbolic Construction of Community, (London & New York: Routhledge, 1985), hal.15

68 Ibid, hal. 58

(12)

46

hadiah rekonsiliasi, dihadirkan dengan tujuan untuk melanjutkan apa yang Tuhan telah mulai dan nyatakan melalui Kristus.69

Schreiter menerangkan, hal tersebut terwujud jika ada kesadaran akan kasih karunia Allah dan melalui kasih karunia dalam hidup kita, memanggil setiap orang percaya untuk menjadi duta Allah. Tanpa kesadaran spiritual, tanpa penegasan pribadi dalam hubungannya dengan penebusan Kristus, kita tidak dapat secara efektif mewujudkan misi rekonsiliasi Kristus.

Dalam bukunya, When Blood and Bones Cry Out; Journey Through the Soundscapes of Healing Reconciliation, John Paul Lederach70 mengakui bahwa ada beragam pemahaman rekonsiliasi. Dalam pengertian beragam itu, ia mencatat ada dua hal pemahaman orang tentang rekonsiliasi. Pertama adalah fokus rekonsiliasi harus pada hubungan, bukan masalah atau peristiwa yang mungkin menjadi penyebab konflik dan perpecahan. Dalam budaya yang menempatkan nilai pada "mengatasi masalah di kepala," ini bisa menjadi perubahan yang signifikan dan sulit dalam pemahaman. Pemecahan masalah dan mediasi konflik kadang-kadang disajikan sebagai metode yang menyebabkan “rekonsiliasi”, tapi ini adalah jalan yang salah untuk duta Kristus. Karena sebenarnya tidak terjadi rekonsiliasi yang menyeluruh, masih ada pergumulan masalah/perasaan luka yang dipendam.

Berarti “epicentrum conflict” belum tersentuh. Untuk itu dalam analisa Lederach yang kedua adalah pemahaman penyebab konflik, konteks dan pola-pola

69 Dalam Jurnal, William Nordenbrock, C.PP.S, The Ministry of Reconciliation:Methods Rooted in Spirituality (Orlando, FL:Missionaries of La Salette, October 2010) dalam www.cppsmissionaries.org (Kamis, 23 Maret 2017, 08.50)

70 Ibid, hlm. 2

(13)

47

perilaku, harus diidentifikasi. Upaya rekonsiliasi tidak hanya harus mengatasi episode konflik, tetapi bahwa epicentrum konflik yang menjadi sumber konflik harus ditemukan.

Desmon Tutu menjelaskan bahwa dalam proses rekonsiliasi di Afrika Selatan, mengapa banyak orang memilih memberi maaf daripada menuntut ganti rugi dan membalaskan dendam? Ada satu pemahaman yang sulit dijelaskan dengan kata yang di tepat di dunia barat atau dalam konteks kehidupan Jawa. Kata itu adalah ubuntu, adalah bahasa khas Afrika Selatan. Jikalau seseorang memiliki ubuntu, berarti mereka adalah orang baik hati, ramah, bersahabat, peduli. Mereka

berbagi dengan apa yang mereka punyai, jikalau menyakiti sakit, janganlah menyakiti.71

Dalam konteks kehidupan orang Jawa pun juga demikian. Ada ungkapan mulat sarira hangrasa wani, yang memiliki makna hendaknya manusia mampu

untuk mengolah hati dengan cara mawas diri, melihat ke dalam diri sendiri, sebagai bentuk instropeksi terhadap kesalahan diri sendiri. Koreksi diri adalah kontrol batin yang hanya dapat dilakukan manakala seseorang melakukan penghayatan rasa sejati.72 Olah rasa ini yang semestinya dilakukan oleh para pihak yang berkonflik. Kedua-duanya berani untuk melakukan instropeksi diri, mulat sarira hangrasa wani. Keberanian untuk saling mengakui kesalahan, nampaknya

ini adalah hal yang tersulit, sampai dengan saat ini. Masing-masing dengan jumawa menganggap diri sebagai korban. Mulat sarira hangrasa wani sebagai salah satu cara mewujudkan memayu hayuning bawana.

71 Desmond Tutu, Tiada Masa Depan Tanpa Pengampunan, Pengalaman Nelson Mandela Membangun Rekonsiliasi Afrika Selatan. Pengantar Ma’arif Jamuin, (Kartasura:Ciscore, 2001), hlm. 50

72 Bandingkan, Suwardi Endraswara, Ilmu Jiwa Jawa, (Yogyakarta:Narasi, 2013), hlm. 241

(14)

48

Resolusi konflik ialah upaya menangani sebab-sebab konflik dan kemudian berusaha membangun hubungan baru dan bisa bertahan lama di antara para pihak yang berkonflik.

Resolusi konflik merupakan terminologi ilmiah, yang menekankan kebutuhan untuk melihat perdamaian sebagai suatu proses terbuka dan demokratis dalam setiap tahapannya. Resolusi konflik melalui perspektif yang ditawarkan oleh Kriesberg, dibagi dalam empat tahap; yaitu: Tahap De-eskalasi Konflik, Tahap Negosiasi, Tahap Problem Solving Approach, dan yang terkahir Tahap Peace Buiding.73

Pada Tahap Pertama, de-eskalasi konflik (pihak-pihak yang berkonflik mengalami kebuntuan), menurut Kriesberg ada beberapa hal yang dapat mempengaruhi tahapan ini; yaitu: sikap simpati dan empati terhadap pihak lain sebagai proses sosial psikologikal, hal itu dapat menjadi kontribusi signifikan untuk menurunkan konflik dan ketegangan. Selanjutnya, hal-hal yang dilakukan dalam tahap de-eskalasi konflik antara lain: (i) proses internal (proses psikologi sosial dan organisasional), (ii) proses interaksi (pembendungan isu/wacana yang berkembang sepihak, membangun ikatan antar pihak yang bermusuhan), (iii) proses pelibatan kelompok lain; dalam proses ini membuat model/cara peredaman ketegangan dan membuat batas eskalasi.74

Setelah tahap de-eskalasi telah selesai dilalui, tahap kedua adalah negosiasi. Pada tahap ini, kedua pihak yang berkonflik diminta untuk melakukan

73 Louis Kriesberg, Constructive Conflict:From Escalation to Resolution, (Lanham, Md:Rownman &

Littlefield, 1998), Bab II

74 Ibid

(15)

49

perundingan serta dialog, agar konflik tidak meluas. Pada tahap ini diharapkan sudah mulai ada sedikit kepercayaan dan pengakuan akan keberadaan lawan sehingga dimungkinkan membuka diplomasi antara keduanya, juga diupayakan peluang adanya negosiasi antar elit/tokoh-tokoh gereja yang mempunyai pengaruh di antara pihak yang berkonflik. Pada tahap ini, orientasinya adalah mencari kesepakatan antara pihak-pihak yang berkonflik.

Tahap ketiga, lebih menitikberatkan pada upaya untuk mengatasi masalah (problem-solving approach). Tahap ini memiliki tujuan untuk menciptakan kondisi yang kondusif bagi pihak-pihak antagonis/yang melawan untuk melakukan transformasi suatu konflik yang spesifik ke arah resolusi, dalam cakupan-cakupan negosiasi dan rekonsiliasi (penyelesaian konflik secara permanen).75

Transformasi konflik yang dimaksud bahwa konflik tidak hanya diselesaikan dengan cara-cara kekerasan, tetapi ditransformasikan dengan cara- cara damai sebagai alternatif baru untuk menyelesaikan pertentangan. Suatu institusi resolusi konflik berupaya untuk menemukan sebab-sebab fundamental dari sebuah konflik. Burton menyebutkan bahwa sebab-sebab fundamental tersebut hanya dapat ditemukan jika konflik yang terjadi dianalisa dalam konteks yang menyeluruh (total environment).76

75 Viviene Jabri, Discourse on Violence:Conflict Analysis Reconsidered, (Manchester:Manchester University Press, 1996), hlm. 149

76 John Burton, Conflict, Resolution and Prevention, (New York:The Macmillian Press Ltd, 1990), hlm. 202

(16)

50

Rothman menawarkan empat komponen utama pada proses problem- solving approach77: Pertama, masing-masing pihak mengakui legitimasi pihak lain untuk melakukan inisiatif komunikasi tingkat awal. Kedua, masing-masing pihak memberikan informasi yang benar tentang kompleksitas konflik (sebab- sebab konflik, luka-luka batin, kendala struktural yang menghambat proses resolusi konflik). Ketiga, kedua belah pihak secara bertahap menemukan pola interaksi yang diperlukan untuk mengkomunikasikan sinyal-sinyal perdamaian.

Keempat, problem-solving workshop yang berupaya menyediakan suasana/keadaan yang kondusif bagi para pihak yang berkonflik untuk melakukan proses resolusi konflik.

Tahap terakhir dari resolusi konflik adalah peace building, tahap ini merupakan tahap peralihan dari rekonsiliasi menuju konsolidasi. Tahap ini dianggap tahap yang paling berat dan bisa memakan waktu terlama, karena memiliki orientasi struktural dan kultural. Hal ini berarti, pendekatan struktural dan kultural merupakan suatu alternatif yang mungkin dapat diambil sebagai tindakan dalam tahapan ini. Tahap ini dirancang untuk menuju pada proses rekonsiliasi yang permanen untuk mengakhiri konflik.

Peneliti LIPI pada Konflik Kalbar & Kalteng, memberikan analisa sesuai dengan situasi di Kalbar dan Kalteng waktu itu:

Rekonsiliasi meliputi kegiatan mediasi kohesi sosial di antara pihak-pihak yang pernah bertikai untuk hidup baru, bersedia menerima dan berhubungan lagi secara damai, sejajar,

77 J. Rothman, From Confrontation to Cooperation:Ethnic and Regional Conflict, (Newbury Park, CA:Sage, 1992), hlm. 30

(17)

51

bertindak adil, mengubah perilaku yang buruk, saling memaafkan dan mau melupakan kepedihan masa lalu untuk menyongsong masa depan yang lebih baik.78

Rekonsiliasi perlu untuk dilakukan jika kondisi suatu komunitas rentan/rapuh sehingga sangat memungkinkan muncul potensi konflik baru.

Kriesberg berpendapat; semakin tinggi tingkat hubungan dan saling ketergantungan antara para pihak yang berkonflik, akan semakin membatasi munculnya konflik baru. Adanya rasa saling pengertian dan berkembangnya kesepahaman norma yang disepakati bersama, juga akan dapat mencegah munculnya konflik.79

Ada empat kondisi menurut Kriesberg80, yang menandai keberhasilan para pihak yang berkonflik dalam menempuh rekonsiliasi, di mana di dalamnya terdapat indikator-indikator keberhasilan dari penyelesaian serta resolusi konflik:

1. Mereka telah sama-sama mengakui adanya kesalahan/kejahatan yang pernah dilakukan di masa lalu.

2. Adanya penerimaan mutualistik dari sebuah hubungan yang sebelumnya saling bermusuhan.

3. Kedua belah pihak saling memberikan welas asih, sebagai bukti bahwa ada niat baik dari kedua belah pihak untuk saling menyembuhkan luka dan memulihkan tanggung jawab. Dalam kondisi ini pun didapati keyakinan bahwa kesalahan sebesar apa pun, hubungan serusak apa pun, masih memungkinkan untuk di maafkan dan disembuhkan.

4. Rekonsiliasi yang dijalankan dengan sungguh-sungguh akan selalu disertai dengan tumbuhnya harapan, kepercayaan serta rasa hormat pada diri pihak-pihak yang terlibat konflik.

78 Heru Cahyono, Mardyanto Wahyu Tryatmoko, Asvi Warman Adam, Septi Satriani, Konflik Kalbar dan Kalteng, Jalan Panjang Meretas Perdamaian, Editor:Heru Cahyono, (Yogyakarta:Pustaka Pelajar, 2008), hlm.

30

79 Kriesberg, Louis, Constructive Conflict:From Escalation to Resolution (Lanham, Md:Rowman &

Littlefield, 1998), hlm. 384

80 ibid

(18)

52

Dialog-dialog yang diupayakan untuk menuju rekonsiliasi, juga negosiasi dalam mediasi, menjadi penentu keberhasilan rekonsiliasi. Mediasi bukan hanya menjadi instrumen komunikasi belaka, di dalamnya perlu ada spirit membangun dialog yang mutualistik agar proses demi proses bermuara pada hasil yang sejalan dengan tujuan rekonsiliasi. Rekonsiliasi yang dibangun dari negosiasi, jika tanpa spirit dialog akan melahirkan rekonsiliasi yang bersifat instrumental belaka, sehingga menjadikan akar masalah dalam konflik luput dari perhatian. Tidak tertanganinya dengan tuntas akar-akar konflik tersebut, membuat perdamaian yang dicapai masih rentan terhadap hal-hal yang dapat memicu konflik lagi.

Sesungguhnya, negosiasi dalam mediasi yang dilandasi spirit dialog menempatkan para pihak yang berkonflik hadir bersama membawa harapan besar untuk dapat mengakhiri konflik melalui penguatan pemahaman terhadap hal-hal yang telah mengakar kuat dalam konflik serta mentransformasikannya ke arah kondisi yang sebaliknya, yaitu pemahaman akan kesalahan masing-masing di masa lalu, sampai akahirnya melahirkan penerimaan, pengakuan, dan pemaafan.

Dalam proses dialog, dengan sukarela pihak-pihak yang terlibat akan mencurahkan perhatian untuk membangun pemahaman yang lebih mendalam mengenai pikiran, emosi, kesadaran, kepercayaan, serta posisi masing-masing dalam rangka tujuan bersama yaitu mengubah orientasi hubungan menjadi lebih kooperatif dan damai.81

81 Lihat, Linda & Glenna Gerard, Dialogues Rediscovering the Transforming Power of Conversation, (New York:Johns & Sons, Inc, 1998)

(19)

53

Proses dialog tersebut akan berjalan maksimal sesuai tujuan tercapainya rekonsiliasi, apabila di dalamnya terdapat kualitas-kualitas tertentu, di antaranya penangguhan penilaian dan asumsi, kesediaan mendengarkan, kemampuan mencari titik temu, dan merefleksikan hasil-hasil yang dicapai.

Melalui proses ini, para pihak yang berkonflik mampu melihat pengalaman-pengalaman mereka melalui cara-cara yang dapat melahirkan konstruksi baru akan interaksi di antara para pihak yang berkonflik. Ada pemaknaan baru dari suatu peristiwa yang dialami bersama, sebagai suatu hal yang bernilai untuk dapat membuat perubahan demi hubungan yang lebih baik.

Dialog adalah metode utama dalam rekonsiliasi. Dialog dapat digunakan pada hampir semua tahapan perdamaian, mulai dari usaha menemukan kemungkinan-kemungkinan bagi transformasi hubungan, meningkatkan pemahaman antarkelompok ketika konflik masih berlangsung, memperkenalkan perdamaian, hingga menjaga perdamaian pasca rekonsiliasi. Dialog secara efektif berlaku di semua bentuk intervensi penanganan konflik, dari konteks hubungan formal hingga informal, dari para elite gereja sampai pada antarjemaat.

Rekonsiliasi yang dibangun dengan spirit dialogis, memudahkan pihak- pihak yang terlibat mencapai kesepakatan mengenai syarat-syarat yang dibutuhkan bagi berlangsungnya rekonsiliasi.

Dialog adalah sarana yang menghubungkan antara apa yang

“seharusnya” terjadi pada level etis dengan apa yang “sebenarnya” terjadi pada level empiris. Akan selalu ada jarak antara yang etis dengan yang empiris, dan

(20)

54

jarak itulah yang sebenarnya disebut sebagai kondisi alamiah dari hubungan antara para pihak yang berkonflik. Rekonsiliasi yang otentik dapat terjadi apabila syarat-syarat pada tingkat etis diupayakan dengan baik oleh para pihak yang berkonflik pada tingkatan empiris.

Dalam kasus ini, konsep damai/rahayu/shalom yang terus dipercakapkan dan menjadi tema/perhatian yang penting di antara mereka. Sehingga rekonsiliasi sejati dapat terwujud. Nordenbrock82 menjelaskan pelayanan rekonsiliasi adalah tentang pemulihan hubungan yang benar. Konsep shalom ditemukan dalam Perjanjian Lama, kata itu menjelaskan lebih dari tidak adanya perang; itu adalah deskripsi dari orang yang hidup bersama dalam hubungan yang benar. Penyataan Injil/kabar baik penting untuk menciptakan Kerajaan Allah ditemukan dalam pemberitaan Yesus, adalah untuk menciptakan sebuah persekutuan masyarakat yang ditebus dan dicintai oleh Allah dan yang hidup bersama dalam hubungan yang benar; hubungan yang mewujudkan agape dan adalah model keadilan. Ini adalah prinsip-prinsip alkitabiah dari hubungan yang benar; dan konsep hubungan yang benar berfungsi sebagai semacam sinonim untuk rekonsiliasi. Di antara kedua belah pihak yang berkonflik harus dikembalikan kepada hubungan yang benar itu. Hubungan yang benar dan sehat menjadi penanda pulihnya relasi yang terwujud dalam komunikasi institusi di antara para pihak yang berkonflik.

82 William Nordenbrock, C.PP.S, The Ministry of Reconciliation:Methods Rooted in Spirituality (Orlando, FL:Missionaries of La Salette, October 2010) dalam www.cppsmissionaries.org (Kamis, 23 Maret 2017, 08.50 WIB)

Referensi

Dokumen terkait

Jenis sumbu dan media tanam yang paling baik untuk hasil dan pertumbuhan tanaman seledri terdapat pada perlakuan jenis sumbu wol dan 50% kompos daun bambu dengan

Latar belakang penelitian ini adalah rendahnya hasil belajar dan minat baca siswa pada pelajaran tematik terpadu kelas V SDN Salatiga 9 yang berjumlah 43 siswa. Rendahnya hasil

Berdasarkan pada uraian yang telah diberikan, maka dapat diambil kesimpulan bahwa estimator linier dalam bentuk umum untuk model linier pada kasus homoskedastik dan

Instalasi CSSD melayani semua unit di rumah sakit yang membutuhkan kondisi steril, mulai dari proses perencanaan, penerimaan barang, pencucian, pengemasan &

Laporan keuangan PT Bank UOB Indonesia telah diaudit oleh auditor independen Kantor Akuntan Publik Purwantono, Sungkoro & Surja (anggota Ernst & Young Global Limited),

Sila kemanusiaan yang adil dan beradab. Inti sila kemanusiaan yang adil dan beradab adalah landasan manusia. Maka konsekuensinya dalam setiap aspek penyelengaraan Negara

Perlakuan lama perendaman chips sukun modifikasi annealing berpengaruh nyata terhadap nilai viskositas panas, namun perlakuan suhu tidak memberikan pengaruh nyata

Dalam kasus closed globe eye injury, zona I meliputi luka yang hanya melibatkan konjungtiva , sklera atau kornea , cedera zona II meliputi kerusakan pada bilik mata