• Tidak ada hasil yang ditemukan

View of IMPLEMENTASI REFOCUSING DAN REALOKASI ANGGARAN PENANGANAN COVID-19 OLEH PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN CIAMIS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "View of IMPLEMENTASI REFOCUSING DAN REALOKASI ANGGARAN PENANGANAN COVID-19 OLEH PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN CIAMIS"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Hukum dan Ilmu Sosial

Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja

953

IMPLEMENTASI REFOCUSING DAN REALOKASI ANGGARAN PENANGANAN COVID-19 OLEH PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN CIAMIS

Adityas Challysta Joan Paramitha, Alma Sanmowa Roida, Aqila Rahmada Zulfani Firdaus, Bela Marheni, Bella Yuniarti Wienata, Asianto Nugroho, Sapto Hermawan

Fakultas Hukum, Universitas Sebelas Maret

E-mail: [email protected] , [email protected], [email protected]

Info Artikel Abstract Masuk: 1 Desember 2022

Diterima: 15 Januari 2023 Terbit: 1 Februari 2023 Keywords:

Implementation,

Refocusing and Budget Reallocation, Covid -19 Pandemic, Ciamis Regency.

This article aims to examine "Implementation of Refocusing and Reallocation of the Budget for Handling Covid -19 by the Ciamis Regency Government". This research method is a qualitative research method and library research (Library Research). Data analysis was carried out descriptively, and secondary data on the topic of the problem was then qualified, grouped, and analyzed carefully. The results of the study show that 1. The process of refocusing and reallocating the APBD in managing regional finances must be synergized with the components of Personnel Expenditures, Unexpected Expenditures, and Social Assistance Expenditures, during a pandemic from the APBD. 2 The implementation of Refocusing and Budget Reallocation during the Covid -19 pandemic in Ciamis Regency was carried out well, it was proven that during the 3 periods the APBD was always in surplus and received the WTP title. 3. The regulations for refocusing and reallocating the Ciamis Regency APBD budget have not yet been regulated in detail.

Solutions adapted to Standard Operating Procedures which contain limitations on the scope of the budget and activities that must be reduced, added, or readjusted

(2)

954 Abstrak

Kata kunci:

Implementasi,

Refocusing dan Realokasi Anggaran, Pandemi Covid -19, Kabupaten Ciamis.

Corresponding Author:

Asianto Nugroho, e-mail : [email protected] d

Artikel ini bertujuan untuk mengkaji “Implementasi Refocusing dan Realokasi Anggaran Penanganan Covid -19 oleh Pemerintah Kabupaten Ciamis”.

Metode penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif dan penelitian kepustakaan (Library Research). Analisis data dilakukan secara deskriptif, dan data sekunder tentang topik masalah kemudian dikualifikasikan, dikelompokkan, dan dianalisis secara cermat. Hasil kajian menunjukkan bahwa 1.

Proses refocusing dan realokasi APBD dalam pengelolaan keuangan daerah harus disinergikan dengan komponen Belanja Pegawai, Belanja Tak Terduga, dan Belanja Bantuan Sosial, di masa pandemi dari APBD. 2 Pelaksanaan Refocusing dan Realokasi Anggaran pada masa pandemi Covid -19 di Kabupaten Ciamis terlaksana dengan baik, terbukti selama 3 periode APBD selalu surplus dan mendapat predikat WTP. 3. Ketentuan refocusing dan realokasi anggaran APBD Kabupaten Ciamis belum diatur secara detail. Solusi yang disesuaikan dengan Standar Operasional Prosedur yang berisi batasan ruang lingkup anggaran dan kegiatan yang harus dikurangi, ditambah, atau disesuaikan kembali

@Copyright 2023.

PENDAHULUAN

Wabah pandemi Covid-19 berdampak besar pada krisis ekonomi global di sektor logistik, pariwisata, dan perdagangan1. Krisis global ini disebabkan oleh larangan sejumlah pemerintah di dunia untuk bepergian ke luar negeri dan penutupan beberapa sektor pariwisata. Penerapan social distancing menjadi pilihan Negara Indonesia ketimbang lockdown yang diberlakukan oleh negara-negara ekonomi maju. Himbauan penerapan social distancing berdampak pada menjauhkan hubungan fisik antar manusia, namun juga mengganggu perilaku ekonomi masyarakat. Namun, pilihan untuk social distancing dinilai lebih baik ketimbang kebijakan lockdown dan herd immunity. Wacana lockdown bisa membuat laju perekonomian semakin berat. Implikasi dari social distancing adalah pelemahan tingkat konsumsi yang berdampak pada sejumlah indikator pendukung perekonomian. Berkurangnya pasokan dan permintaan makanan menyebabkan kenaikan harga. Hal ini akan mengakibatkan kelangkaan barang yang pada akhirnya akan memicu keresahan sosial.

1 Sopanah and Mohammad Fauzi Fikri Haikal, 2021. “Refocusing Anggaran Di Masa Pandemi Covid-19,”

Confer- ence on Economic and Bussiness Innovation.

(3)

955 Krisis ekonomi global menyebabkan inflasi yang disebabkan oleh berbagai komponen sektor perdagangan terutama ekspor impor, bahan baku dan barang modal. Produksi turun, barang menjadi langka, dan harga terus naik. Misalnya, kenaikan harga barang yang disertai dengan penurunan pendapatan merupakan kondisi yang fatal bagi daya beli masyarakat. Sebagian bahan baku industri Indonesia masih dipasok dari China yang mengalami kendala produksi akibat karantina di sejumlah daerah guna meminimalisir pandemi Covid-19. Fenomena ini merupakan sesuatu yang luar biasa, tidak lepas dari keterbukaan informasi dan peran teknologi komunikasi. Penyebaran informasi yang begitu cepat menimbulkan kepanikan yang luar biasa di kalangan masyarakat2. Implikasinya dapat mengubah perilaku masyarakat. Salah satu penyebab kepanikan ini adalah ketidakseimbangan antara permintaan dan penawaran. Saat ini ekonomi global sedang mengalami krisis akibat pandemi Covid-19. Indeks pasar saham jatuh. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah akibat banyaknya investor asing yang hengkang dari pasar keuangan Indonesia. Pasar saham jatuh, mempengaruhi ekonomi domestik.

Penguatan dolar AS terjadi akibat kepanikan di pasar global selama pandemi Covid- 19 dan gejolak di pasar minyak dunia. Ada kemungkinan rupiah akan terus melemah terhadap kurs dolar AS.

Pandemi Covid-19 berdampak besar pada sektor kesehatan, sosial dan ekonomi. Menurut data yang disampaikan Direktur Eksekutif Panwaslu Robert Na Endi Jaweng, penerimaan negara turun 10% dan meningkatkan total belanja dan pembiayaan penanganan Covid-19 sebesar Rp 405,1 triliun. Hal tersebut berdampak pada peningkatan defisit APBN 2020 yang mencapai 5,07%. Undang- Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara menetapkan batas defisit anggaran untuk pendapatan dan belanja harus kurang dari 3%. Hal ini menandakan bahwa defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2020 telah melampaui batas ketentuan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku.

Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan stimulus untuk mendorong pertumbuhan ekonomi tetap berjalan di tengah krisis ekonomi akibat wabah COVID-19. Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan program stimulus untuk memfokuskan kembali kegiatan dan realokasi anggaran3. Stimulus ini bertujuan agar pemerintah bekerja mengatasi dampak pandemi Covid-19, baik dari segi kesehatan, ekonomi, maupun sosial. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 Tentang Keuangan Negara Pasal 6 ayat (1) menyatakan bahwa Presiden sebagai Kepala Pemerintahan memegang kekuasaan untuk mengelola keuangan Negara sebagai bagian dari kekuasaan pemerintahan. Atas dasar peraturan tersebut, diterbitkan Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2020 tentang Refocusing Kegiatan, Realokasi Anggaran, dan Pengadaan Barang dan Jasa Dalam Rangka Percepatan Penanganan Covid-19. Dalam keterangannya, Presiden memerintahkan kementerian/lembaga dan pemerintah daerah untuk melakukan refocusing dan

2 Greenberg, J., Pyszczynski, T., & Solomon, S. (1986). The causes and consequences of a need for self- esteem: A terror management theory. In Public self and private self (pp. 189-212). Springer, New York, NY.

3 Deden Rafi Syafiq Rabbani, 2020 “Public Trust Building Strategy Terhadap Pengelolaan Keuangan Daerah: Telaah Proses Refocusing Dan Realokasi APBD (Anggaran Pendapatan Belanja Daerah Dalam Upaya Penanganan Pandemi Covid-19),” Legislatif 4, no. 1.

(4)

956 realokasi anggaran yang digunakan untuk percepatan penanganan Covid-19.

Melalui refocusing kegiatan dan realokasi anggaran, pemerintah membuat program yang ditujukan untuk percepatan penanganan pandemi dan merevisi anggaran untuk memenuhi kebutuhan penanganan pandemi. Seluruh satuan kerja (satker) pengguna anggaran diminta untuk melakukan refocusing dan realokasi anggaran melalui mekanisme revisi anggaran dalam dokumen anggarannya. Proses revisi refocusing kegiatan dan realokasi anggaran dilakukan sebagai cara realokasi sumber dana APBN untuk belanja negara terkait penanganan Covid-19.

Refocusing dan realokasi anggaran kepada pemerintah daerah memerlukan peran atau keterlibatan Badan Aset dan Keuangan Daerah secara terintegrasi dan kompeten melalui program penanganan Covid-19. Badan Keuangan dan Aset Daerah dalam melakukan realokasi anggaran di lingkungan Pemerintah Kabupaten Ciamis bekerja sama dengan beberapa OPD terkait penanganan Covid-19. OPD yang terlibat dalam realokasi anggaran di Pemkab Ciamis yang bersinergi dengan BKAD antara lain Sekda dan Bappeda ke DPRD Kabupaten Ciamis. Realokasi anggaran di Kabupaten Ciamis pada dasarnya lebih difokuskan pada penanganan anggaran kesehatan dan bantuan sosial kepada masyarakat. BKAD sebagai badan pengelola anggaran daerah berperan penting dalam penanganan Covid-19 terkait penganggaran agar stabilitas perekonomian daerah di Kabupaten Ciamis dapat terjaga dengan proses pelayanan publik yang tidak terganggu akibat virus tersebut.

Realokasi anggaran merupakan bagian penting dalam pemenuhan anggaran untuk beberapa kegiatan yang dianggap sentralistik/terpusat oleh masyarakat dan perlu penanganan serius dari pemerintah. Berikut rancangan perubahan APBD tahun anggaran 2020 oleh Pemerintah Kabupaten Ciamis.

METODE PENELITIAN

Jenis metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif dan penelitian kepustakaan (Library Research). Penelitian kualitatif merupakan upaya untuk memahami berbagai konsep yang ditemukan dalam proses penelitian berupa kata-kata tertulis atau wawancara dan perilaku yang diamati.

Memilih metode penelitian kualitatif karena penelitian kualitatif sendiri dapat dengan mudah menggali informasi lebih dalam tentang inti penelitian dan menyajikan data yang lebih detail dan original.

Data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode dokumentasi. Data yang ditemukan dalam proses penelitian kemudian dianalisis dengan menggunakan teknik analisis isi. Penelitian ini juga menggunakan sumber data sekunder. Sumber data sekunder digunakan untuk melengkapi dan mendukung informasi objek penelitian berupa buku, publikasi pemerintah, makalah, atau jurnal yang berkaitan dengan objek penelitian yaitu “Pelaksanaan Refocusing dan Realokasi Anggaran Penanganan Covid 19 oleh Pemerintah Daerah Ciamis Daerah".

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kondisi pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi minus dan terkontraksi pertumbuhan ekonominya, karena terdampak akan ketidakpastian kapan pandemi COVID-19 akan berakhir. Hal ini disebabkan belum diketemukan obat yang ampuh untuk membasmi penyakit ini dan belum difor- mulasikan strategi paling

(5)

957 mujarab tentang bagaimana upaya yang sistemik untuk mem- percepat pemulihan sektor perekonomian. Fenomena resesi ekonomi ini terjadi hampir semua negara di dunia, termasuk Indonesia mengalaminya. Indonesia terancam resesi ekonomi dan diprediksi minus pada kuartal II secara berturut turut pada tahun 2020. Pemerintah pusat mengambil kebijakan dengan rebudgeting dengan refocusing anggaran baik secara nasional maupun implementasi tingkat daerah diseluruh Indonesia termasuk Pemerintah Daerah kabupaten Ciamis dalam menghadapi persoalan rumit yang terjadi di saat pandemic Covid – 19 karena . peran aspek hukum dan aspek ekonomi tidak bisa seiring bersamaan fungsi pelaksanaannya. Sehingga diperlukan strategi kebijakan yang ditempuh oleh pemerintah dalam menyongsong adaptasi kebiasaan baru sebagai dampak pandemik COVID-19 dari perspektif hukum ekonomi melalui kebijakan rebudgeting dengan refocusing anggaran dan Realokasi Anggaran.

Refocusing Anggaran adalah memusatkan atau memfokuskan kembali anggaran untuk kegiatan yang sebelumnya tidak dianggarkan melalui perubahan anggaran. Realokasi Anggaran berarti mengalokasikan kembali anggaran kegiatan hasil refocusing untuk dialokasikan pada kegiatan yang sebelumnya tidak dialokasikan melalui mekanisme perubahan anggaran dengan cara menggeser/mengalihkan/memindahkan anggaran dari kegiatan sebelumnya ke kegiatan lainnya4. Kebijakan refocusing anggaran dan Realokasi Anggaran sangatlah rentan dan berpotensi terhadap tindak pidana atau tindakan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme pada saat pelaksanaan penanganan pandemic Covid-19. Adanya pengalokasian dana dari pemerintah untuk penanganan pandemic Covid-19 disalahgunakan oleh oknum tertentu yang seharusnya memiliki kewajiban untuk mengelola danapenanganan pandemic Covid-19 tersebut dengan memperhatikan bahwa dana tersebut diperuntukkan bagi kepentingan kemanusiaan.

Pemerintah pusat sendiri setidak-tidaknya telah menyiapkan regulasi terkait penyesuaian penganggaran dalam kerangka penanganan COVID-19 tersebut di antaranya terdapat dalam beberapa regulasi di antaranya Perppu Nomor 1 tahun 2020 tentang Kebijakan Keuangan Negara dan Stabilitas Sistem Keuangan Untuk Penanganan COVID-19, Keppres Nomor 7 tahun 2020 tentang Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, Perpres Nomor 52 tahun 2020 tentang Pembangunan Fasilitas Observasi dan Penampungan dalam Penanggulangan COVID-19 atau Penyakit Infeksi Emerging di Pulau Galang, Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau, Instruksi Presiden Nomor 4 tahun 2020 tentang Refocusing Kegiatan, Realokasi Anggaran, serta Pengadaan Barang dan Jasa Dalam Rangka Percepatan Penanganan COVID-19, PP Nomor 21 tahun 2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar Dalam Rangka Percepatan Penanganan COVID-19 dan Keppres Nomor 11 tahun 2020 tentang Penetapan Status Kedaruratan Kesehatan Masyarakat. Jika kita telaah dari sisi penyusunan peraturan, beberapa produk terlahir karena sifat kegentingan memaksa yang bukan hanya dilihat dari indikator terbitnya Perppu, akan tetapi juga peraturan selain Perppu. Istilah kegentingan memaksa tentunya juga sangat berkaitan dengan kedaruratan. Dalam terminologi

4 Syukriy Abdullah,2020. “Perubahan APBD Di Masa Pandemi Covid-19,” Indonews.id, https://indonews.id/ artikel/312207/Perubahan-APBD-di-Masa-Pandemi-Covid-19--/.

(6)

958 kedaruratan, aspek kepentingan masyarakat menjadi salah satu indikator sejauh mana nilai-nilai dalam kedaruratan tersebut layak atau tidak untuk diterapkan.

Pemerintah menekankan pentingnya realokasi dan refocusing anggaran dalam upaya mengatasi dampak pandemi Covid-19. Refocusing anggaran dari Transfer ke Daerah dan Dana Desa (TKDD) di Tahun Anggaran (TA) 2021 merupakan salah satu upaya yang telah diwujudkan secara konkret melalui penggunaan Dana Bagi Hasil (DBH) yang dioptimalkan untuk mendukung penanganan kesehatan, jaring pengaman sosial, dan pemulihan ekonomi serta penggunaan minimal sebesar 8% dari Dana Alokasi Umum (DAU) untuk vaksinasi Covid-19 dan insentif tenaga kesehatan daerah (Inakesda). Pemerintah Daerah Kabupaten Ciamis dapat mempercepat penyerapan anggaran guna memanfaatkan APBD dalam membantu masyarakat, Usaha Kecil Menengah (UKM), dan penanganan Covid-19. Hal ini dapat diimplementasikan melalui anggaran Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) sesuai kewenangan Pemerintah Daerah Kabupaten Ciamis. Melalui strategi dalam pengelolaan APBDnya dalam kaitan pengucuran anggaran pencegahan penyebaran wabah Covid-19 antara lain dengan melakukan realokasi APBD untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan meliputi pencegahan, penambahan ruangan isolasi di rumah sakit, disinfektan, tindakan mitigasi, maupun penambahan kebutuhan layanan dasar seperti logistik.

Eksisting data hasil penelitian pada umumnya Pemerintah Daerah Kabupaten Ciamis telah menjalankan instruksi yang tertuang di dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 1 Tahun 2020 tersebut. Beberapa hal yang telah dilakukan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Ciamis terkait perubahan postur APBD Tahun Anggaran 2020 yaitu dengan melakukan perubahan alokasi anggaran melalui optimalisasi penggunaan BTT yang tersedia dalam APBD tahun anggaran 2020. Dengan berbagai pergerakan dan perubahan yang sekarang ini terjadi, terutama menyangkut peningkatan COVID-19 yang kemudian dilakukannya kebijakan PPKM Darurat. Adapun arah kebijakan Pengutamaan Penggunaan Anggaran dalam Rangka Percepatan Penanganan Corona Virus Dicease 19 (Covid- 19) sesuai Instruksi Meteri Keuangan pemerintahan akan melakukan refocusing Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara untuk mendukung penanganan COVID- 19 dan program perlindungan sosial (perlinsos).

Pagu Anggaran untuk bidang kesehatan semula Rp 172 Triliun pada tahun 2020 naik menjadi Rp 182 Triliun dan naik lagi menjadi Rp 193 Triliun di tahun 2021. Pagu anggaran ini antara lain digunakan untuk membiaya diagnostik untuk testing dan tracing; therapeutic untuk biaya perawatan pasien, insentif tenaga kesehatan, santunan kematian untuk tenaga kesehatan, pengadaan obat-obatan dan alat pelindung diri (APD); pengadaan 53,91 juta dosis vaksin; bantuan iuran jaminan kesehatan nasional (JKN) untuk 19,15 juta orang; serta insentif perpajakan kesehatan termasuk PPN dan bea masuk vaksin.Selain penanganan di sektor kesehatan, pemerintah juga meningkatkan dukungan APBN untuk mempercepat dan meningkatkan program perlindungan social, berupa PKH (Program Keluarga Harapan) untuk KPM (Keluarga Penerima Manfaat) dan BST (Bantuan Sosial Tunai) serta BLT (Bantuan Langsung Tunai) untuk KPM (Keluarga Penerima Manfaat).Kebijakan tersebut diikuti oleh Pemerintah Kabupaten Ciamis dengan melakukan refocusing paling sedikit 8% (delapan persen) dari pagu Dana Desa untuk pendanaan kegiatan penanganan Pandemi Covid-19 yang merupakan

(7)

959 kewenangan desa, diluar dan tidak termasuk pendanaan untuk Bantuan Langsung Tunai Desa (BLT Desa).

Dalam APBD, pendapatan daerah terbesar adalah pendapatan transfer pusat.

Dana tersebut sebagian besar dialokasikan untuk suatu pembelanjaan yang sifatnya tidak dapat dihindari atau mandatory spending, contohnya adalah gaji pokok dan tunjangan ASN (Aparatur Sipil Negara) serta terdapat juga pendapatan yang memiliki sifat earmarked yaitu pendapatan yang penggunaan belanjanya telah ditetapkan oleh pemerintah pusat seperti pendapatan dan belanja yang berasal dari Dana Alokasi Khusus (DAK). Sedangkan, pendapatan daerah yang berasal dari Pendapatan Asli Daerah (PAD) terus dilakukan pengupayaan agar selalu meningkat setiap tahunnya sehingga ruang fiskal daerah diharapkan mampu bertambah dengan tujuan mendanai pelaksanaan urusan pemerintahan yang sudah menjadi kewenangan dari daerah dan program-program kegiatan yang merupakan upaya dari terwujudnya visi misi pembangunan daerah. Kemudian, berkaitan dengan refocusing yang disebabkan oleh keadaan tidak terduga yaitu pandemic covid-19 khusus untuk tahun anggaran 2020 dan 2021 dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang melanda hampir satu dunia menurut kebijakan nasional refocusing tersebut berasal dari DAU dan DBH yaitu sebesar 8% (delapan persen). Berdasarkan struktur dan penetapan anggaran tahun 2021 pun tidak ditemukan masalah atau kejanggalan. Setelah membahas mengenai anggaran seperti yang telah diuraikan dalam bahasan diatas, langkah berikutnya yang akan dikaji adalah mengenai hasil evaluasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Hasil evaluasi ini berasal dari penilaian yang dilakukan oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

TABEL 1. APBD TAHUN 2020 PROGRAM REBUDGETING REFOCUSING DAN REALOKASI ANGGARAN DI MASA PANDEMI COVID 19

URAIAN T.A 2020

APBD TAHUN

2020 ANGGARAN REALISASI KET

Belanja Pegawai Belanja Tak

Terduga Belanja Bantuan

Sosial,

1.053.682.547.429,0 0

2.500.000.000,00 33.725.600.000,00

1.019.595.451.75 7,00 32.057.000.000,0

0

Turun

- Turun

JUMLAH SiLPA 45.177.500.724,

84

Sumber: website JDIH Kabupaten Ciamis (data diolah oleh penulis, 2022) Berdasarkan tabel 1 di atas, Pemerintah Kabupaten Ciamis menyampaikan Nota Keuangan Perubahan APBD Tahun Anggaran 2020 pada Rapat Paripurna yang diselenggarakan bersama Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Ciamis: Merealisasikan Inpres Nomor 4 Tahun 2020 dan Peraturan Pemerintah

(8)

960 pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2020, berbagai daerah kemudian melakukan perubahan APBD pada tahun berjalan yaitu tahun 2020.

Pertama, perubahan pelaksanaan refocusing dan realokasi anggaran ke APBD terkait Belanja Pegawai, Pemerintah Kabupaten Ciamis semula menganggarkan Belanja Pegawai sebesar 1.053.682.547.429,00 namun setelah perubahan APBD turun sekitar 34 Milyar menjadi 1.019.595.451.757,00.

Kedua, perubahan pelaksanaan refocusing dan realokasi anggaran ke APBD terkait Belanja Tak Terduga, Pemerintah Kabupaten Ciamis semula menganggarkan belanja tak terduga sebesar Rp2.500.000.000,00, kemudian setelah perubahan APBD tidak ada perubahan.

Ketiga, perubahan pelaksanaan refocusing dan realokasi anggaran ke APBD terkait Belanja Bantuan Sosial, Pemerintah Kabupaten Ciamis sebelum perubahan APBD menganggarkan sekitar Rp33.725.600.000,00, kemudian setelah perubahan APBD turun sekitar Rp1,7 miliar menjadi Rp32.057.000.000,00.

Dilansir dari website JDIH Kabupaten Ciamis, perlu dilakukan realokasi anggaran tahun anggaran 2020 ke tahun anggaran 2020 dalam rangka penanganan dan pencegahan penyebaran Covid-19 di Kabupaten Ciamis. Dengan adanya perubahan desain tersebut, Pemkab Ciamis memiliki tanggung jawab yang besar untuk mengelola anggaran agar dapat dialokasikan dengan baik, khususnya untuk penanganan Covid-19. Salah satu tujuan BKAD Kabupaten Ciamis adalah mengendalikan dan mengelola pendapatan daerah, oleh karena itu BKAD Kabupaten Ciamis sebagai satuan kerja perangkat daerah yang bertugas mengelola pendapatan daerah harus mampu mengefektifkan perubahan anggaran untuk direalokasikan agar terlaksana sesuai dengan sesuai dengan peruntukannya, khususnya dalam menangani Covid-19.

Pemerintah Daerah Kabupaten Ciamis telah melakukan mandat sesuai Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 1 Tahun 2020 umumnya terutama melakukan pengutamaan alokasi anggaran kegiatan tertentu (refocusing) melalui optimalisasi penggunaan Belanja Tidak Terduga (BTT) untuk penanggulangan pandemi Covid- 19 yaitu dibelanjakan untuk penyediaan sarana prasarana kesehatan berupa alat pelindung diribagi tenaga medis dan petugas- petugas yang berhadapan langsung dengan korban virus covid-19, kemudian menyediakan masker, hand sanitizer, vitamin c, vitamin e dan sarung tangan serta alat kesehatan lainnya; Penyediaan tempat isolasi bagi pasien atau warga yang menjadi daftar Pasien Dalam Pengawasan (PDP) ataupun bagi Orang Dalam Pengawasan (ODP); pemberian insentif kepada tenaga medis yang terlibat langsung dengan penanganan wabah Covid-19; dan penyemprotan disinfektan di wilayah kota, kecamatan hingga pedesaan. Berdasarkan eksisting data hasil evaluasi yang telah dirincikan dalam tabel 2 dapat terlihat bahwa pada sektor pendapatan, belanja, dan pembiayaan realitasnya telah dilakukan secara efesien dan efektif. Realisasinya adalah pendapatan mengalami peningkatan sedangkan jumlah belanja dan pembiayaan mengalami penurunan maka pengelolaan rebudgeting dengan refocusing dan relokasi anggaran dalam kurun waktu 1 (satu) tahun anggaran telah memenuhi asas maupun prinsip efektif dan efisien. Hal ini membuktikan bahwa dalam hukum ekonomi yakni penerapan strategi rebudgeting dengan refocusing dan relokasi anggaran telah sesuai dengan regulasi dan telah dilakukan secara efektif, sebab meskipun terdapat rebudgeting dengan refocusing dan relokasi anggaran,

(9)

961 stabilitas APBD Kabupaten Ciamis tetap aman yakni Surplus/Defisit yakni tidak pernah mengalami minus APBD.

Tabel 2. Hasil Evaluasi APBD Kabupaten Ciamis Tahun Anggaran 2020

NO URAIAN T.A 2020

ANGGARAN REALISASI %

Jumlah Pendapatan

Daerah

2.661.651.382.8

65,00 2.620.232.709.4

30,16 98,44 41 Pendapatan Asli

Daerah 240.807.023.13

7,00 254.192.324.02

0,16 105,56 411 Pajak Daerah 64.200.273.700,0

0 64.966.701.051,0

0 101,19

412 Retribusi Daerah 8.011.228.000,00 8.110.809.967,00 101,24 413 Bagian Laba Dari

BUMD 3.700.000.000,00 3.676.875.983,00 99,38 414 Lain-Lain

Pendapatan 164.895.521.437,

00 177.437.937.019,

16 107,61

42 Dana Perimbangan 1.653.635.275.0

17,00 1.629.099.969.7

62,00 98,52 421 Dana Bagi Hasil

Pajak 52.535.891.875,0

0 48.009.720.582,0

0 91,38

Dana Bagi Hasil Bukan Pajak

41.568.245.142,0 0

38.094.200.052,0 0

91.64 422 Dana Alokasi Umum 1.124.523.808.00

0,00 1.112.349.718.00

0,00 98,92

423 Dana Alokasi Khusus 435.007.330.000, 00

430.646.031.128, 00

99,00 43 Lain-Lain

Pendapatan Yang Sah

767.209.084.71 1,00

736.940.415.64 8,00

96,05

431 Pendapatan Hibah 124.563.278.051,

00 124.567.805.014,

00 100,00

433 Bagi Hasil Pajak 141.974.946.426,

00 115.879.017.000,

00 81,62

Bagi Hasil Lainnya - - -

434 Dana Penyesuaian Dan Otonomi

Khusus

292.286.586.000,

00 292.286.586.000,

00 100,00

435 Bantuan Keuangan

Dari Provinsi 208.384.274.234,

00 204.206.707.634,

00 98,00

Jumlah Belanja

Daerah 2.790.162.692.9

13,00 2.666.315.674.0

66,00 95,56

(10)

962 51 Aparatur

Daerah/Tidak Langsung

1.682.892.328.0

79,00 1.642.655.476.7

58,00 97,61 511 Belanja Pegawai 1.053.682.547.42

9,00

1.019.595.451.75 7,00

96,76

512 Belanja Bunga - - -

513 Belanja Subsidi - - -

514 Belanja Hibah 89.042.600.000,0

0 87.413.250.000,0

0 98,17

515 Belanja Bantuan

Sosial 33.725.600.000,0

0 32.057.000.000,0

0 95,05

516 Bantuan Bagi Hasil KPD

Prov/Kota/Kab/Pe mDes

4.253.948.000,00 4.176.655.488,00 99,95

517 Bantuan Keuangan

KPD PemDes 499.687.632.650,

00 499.413.519.513,

00 99,95

518 Belanja Tidak

Terduga 2.500.000.000,00 - -

52 Belanja Langsung 1.107.270.364.8

34,00 1.023.660.197.3

08,00 92,45

521 Belanja

Pegawai/Personalia 137.157.966.052,

00 114.361.573.693,

00 83,38

522 Belanja Barang dan

Jasa 535.971.734.542,

00 492.498.267.153,

00 91,89

523 Belanja Modal 434.140.664.240,

00 416.800.356.462,

00 96,01

Surplus Defisit (128.511.310.04

8,00) (46.082.964.635

,84) 35,86 6 Pembiayaan 128.511.310.04

8,00 128.839.071.58

3,68 100,26 61 Penerimaan

Daerah 252.162.871.76

0,00 252.162.871.76

0,68 100,00 611 Sisa Lebih

Perhitungan Anggaran Tahun

Lalu

245.707.413.260, 00

245.707.413.260, 68

100,00

612 Pencairan Dana

Cadangan - - -

613 Penerimaan

Pinjaman Daerah 6.455.458.500,00 6.455.458.500,00 100,00 62 Pengeluaran

Daerah 123.651.561.71

2,00 123.323.800.17

7,00 99,73

(11)

963 621 Pembentukan Dana

Cadangan - - -

622 Penyertaan Modal 4.600.000.000,00 4.580.000.000,00 99,57 623 Pembayaran Utang

Pokok Yang Jatuh Tempo

6.957.958.500,00 6.755.566.525,00 97,09

624 Pembayaran Pengembalian

Penerimaan

- - -

625 Pembayaran Ganti

Rugi Pihak Ketiga 961.100.000,00 961.100.000,00 100,00 626 Pembayaran Dana

Pihak Ketiga 111.132.503.212,

00 111.027.133.652,

00 99,91

Sisa Kas Tahun

Berjalan/Saldo - 82.756.106.947,

84 -

Sumber: Peraturan Daerah Kabupaten Ciamis

tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Tahun Anggaran 2020 dalam website JDIH Kabupaten Ciamis

Efektivitas dan efisiensi implementasi penerapan strategi rebudgeting dengan refocusing dan relokasi anggaran APBD Kabupaten Ciamis terbukti tidak ada temuan pelanggaran APBD dari hasil pemeriksaan keuangan (auditing) baik oleh Dinas Inspektorat Kabupaten Ciamis, Dinas Inspektorat Wilayah Propinsi Jawa Barat dan BPK-RI, sehingga dengan prestasi ini Pemerintah Daerah Kabupaten Ciamis selalu memperoleh predikat Opini WTP (Wajar Tanpa Pengecualian) mulai tahun 2013.hingga tahun 2021. Hambatan yang dihadapi oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Ciamis dalam implementasi penerapan strategi rebudgeting dengan refocusing dan relokasi anggaran APBD Tahun 2021 untuk menanggulangi pandemi Covid-19, dengan melakukan skala prioritas alokasi anggaran kegiatan tertentu (refocusing). Akibatnya terdapat beberapa aspek pembangunan Pemerintah Daerah Kabupaten Ciamis yang telah direncanakan mengalami penundaan maupun pengalihan dan disatu sisi pembangunan terutama infrastruktur merupakan salah satu faktor yang memiliki multiflier effect terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat di daerah. Upaya yang dilakukan pemerintah daerah untuk mengatasi hambatan di atas, terutama yang berdampak pada rescheduling/penundaan dan pengalihan beberapa kegiatan pembangunan infrastruktur yaitu dengan membentuk tim anggaran pemerintah daerah (TAPD) yang sifatnya ad hoc untuk berkoordinasi dengan badan anggaran maupun dengan DPRD.

Tantangan yang Dihadapi Pemerintah Daerah untuk Memenuhi Tuntutan Realokasi Anggaran dan Refocusing Kegiatan

Wabah pandemi Covid-19 merupakan masalah kesehatan yang sedang bertransisi menjadi masalah sosial dan ekonomi yang berdampak dalam waktu yang sangat cepat perubahan kondisi yang signifikan dapat terjadi di ranah

(12)

964 berbagai aspek kehidupan.5. Pemerintah telah menetapkan pandemi sebagai bencana nasional dan mengupayakan percepatan penanganan pandemi dengan penanganan kritis untuk penanganan bidang kesehatan, sosial, dan stabilitas ekonomi dengan menerbitkan Peraturan Pemerintah Undang- Undang Nomor 1 Tahun 2020 sebagai payung hukum pusat dan daerah.

pemerintah daerah dalam menjalankan langkah-langkah kebijakannya selalu berada dalam koridor negara yang adil dan sah.

Tantangan yang dihadapi Pemda dalam memenuhi tuntutan realokasi anggaran dan refocusing kegiatan untuk percepatan penanganan Covid-19 di Indonesia adalah sebagai berikut:

a. Keterbatasan SDM dan Waktu.

Tepatnya pada 31 Agustus 2021, Pemerintah telah menetapkan secara serentak secara nasional menginstruksikan pemerintah daerah untuk melaksanakan strategi rebudgeting dengan melakukan refocusing dan relokasi anggaran APBD di masa pandemi. Kenyataannya, tercatat sebanyak 174 Pemda belum mampu memenuhi perintah tersebut. Hal ini disebabkan oleh:

1. Di masa pandemi banyak pegawai yang bekerja dengan basis Work from Home (WFH), keterbatasan fasilitas, kesulitan akses internet (hambatan teknologi) dan kesiapan SDM dalam penguasaan teknologi, sehingga menghambat proses koordinasi kebijakan dan praktik kinerja gagal. Fenomena ini ditambah dengan kendala waktu yang tiba-tiba dan cepat, mempersulit koordinasi antar pembuat kebijakan untuk merumuskan strategi, merencanakan, berkoordinasi terkait realokasi anggaran dan refocusing kegiatan. Inilah yang terjadi di Kabupaten Ciamis.

2. Ketersediaan dana APBD tiap daerah memiliki kemampuan yang berbeda, beberapa daerah memiliki ruang fiskal yang sangat ketat dan krusial. Kondisi keuangan APBD Kabupaten Ciamis berbeda dengan daerah lain di Indonesia karena sebelum pandemi Covid 19 selalu terjadi surplus APBD. Namun, secara teknis, setelah penetapan perubahan APBD melalui realokasi anggaran dan refocusing kegiatan, kesulitannya adalah mobilisasi tenaga kerja padat karya dan tenaga penanganan Covid-19.

3. Keharusan menunda proyek-proyek yang sudah berjalan, menghentikan pembangunan infrastruktur yang telah disepakati dalam isi kontrak menurut undang-undang (pacta sunt servanda).

dengan mengalihkan pelaksanaan penanggulangan Covid, pada pasca bencana, ketersediaan obat, vaksin dan peralatan di bidang kesehatan serta bantuan langsung tunai.

5 Suparman, N. (2021). Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pengelolaan Keuangan Negara. Indonesian Trea- sury Review: Jurnal Perbendaharaan, Keuangan Negara Dan Kebijakan Publik, 6(1), 31-42., https://doi.org/10.33105/ itrev.v6i1.261.

(13)

965 b. Tidak Ada Standar Khusus Realokasi Anggaran dan Refocusing

Kegiatan

Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2020 dan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2020 tidak menjelaskan secara rinci bentuk pelaksanaan juklak dan juklak program realokasi anggaran dan kegiatan yang harus dilakukan oleh Pemerintah Daerah khususnya Pemerintah Kabupaten Ciamis.

Namun, Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 20 Tahun 2020 memberikan tanda/rambu rambu6 yang sedikit lebih jelas dibandingkan dengan Instruksi Presiden dan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang- Undang. Peraturan Menteri Dalam Negeri mengamanatkan bahwa belanja dalam rangka antisipasi dan penanganan dampak penularan Covid-19 yang tidak tersedia anggaran dilakukan dengan membebankan belanja langsung pada belanja tidak terduga7. Ketentuan ini sayangnya tidak diimbangi dengan rincian komponen belanja tak terduga yang menjadi target realokasi anggaran dan refocusing kegiatan.

Terkait dengan realokasi anggaran dan refocusing kegiatan, jika ada komponen yang anggarannya dinaikkan, pasti ada komponen yang anggarannya dikurangi. Dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 20 Tahun 2020, yang diatur hanyalah penambahan anggaran belanja yang tidak terduga, tetapi tidak ada pengaturan mengenai pengurangan atau pengurangan anggaran. Hal ini menyebabkan Pemerintah Daerah tidak dapat melakukan perubahan APBD secepatnya karena apabila suatu daerah memiliki akses jaringan internet yang baik dan tidak memiliki fasilitas teknologi yang memadai, akan sulit bagi daerah untuk menyesuaikan kebijakan daerahnya dengan perkembangan di tingkat nasional maupun daerah lainnya. Oleh karena itu, pemerataan jaringan internet masih harus membahas hal-hal yang belum diatur atau menunggu petunjuk teknis lain yang mungkin akan dikeluarkan oleh Pemerintah Pusat. Di sisi lain, percepatan penanganan pandemi Covid- 19 tidak bisa ditunda terlalu lama karena akan membahayakan kesehatan masyarakat dan mempengaruhi kelangsungan hidup masyarakat Indonesia dari berbagai aspek.

Solusi Pemerintah Daerah Kabupaten Ciamis Memenuhi Tuntutan Realokasi Anggaran dan Refocusing Kegiatan

Ada tantangan, kesulitan, dan hambatan tentu ada solusinya. Penetapan rumusan langkah-langkah, khususnya yang berkaitan dengan urusan pemerintahan, pada umumnya juga akan berkaitan dengan kebijakan dan peraturan perundang-undangan. Oleh karena itu, berikut beberapa cara yang dapat ditempuh pemerintah, baik di pusat maupun di daerah, untuk

6 Wardhana, D. (2020). Tinjauan kebijakan dan arah penelitian pasca-covid-19. Jurnal Perencanaan Pembangunan: Jurnal Perencanaan Pembangunan Indonesia, 4(2), 223-239.

7 Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia, “Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 20 Tahun 2020 Tentang Percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019 di Lingkungan Pemerintah Daerah”

(2020).

(14)

966 membantu percepatan penanganan pandemi Covid-19, khususnya yang terkait dengan sektor keuangan negara.

a. Pemerataan Jaringan Internet dan Sarana Teknologi bagi Pemerintah Daerah

Pemerintah baik di pusat maupun di daerah akan sangat fokus pada alokasi anggaran dan memfokuskan kembali kegiatan pada hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan, seperti penyediaan alat kesehatan, biaya vaksinasi, penyediaan alat rapid test, dan PCR Covid-19. Kebijakan untuk fokus pada pemenuhan kebutuhan kesehatan memang menjadi hal penting yang perlu diprioritaskan. Namun selain itu, hal lain yang juga perlu dipersiapkan adalah pemerataan jaringan internet dan penyediaan fasilitas teknis bagi pemerintah daerah, terutama yang berada di pelosok Indonesia.

Hal ini tentunya akan menambah beban anggaran, baik Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara maupun Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.Namun, hal tersebut memang dituntut oleh Pemerintah Daerah untuk dapat merumuskan kebijakan secara cepat dan tepat, terutama dalam penyediaan keterbatasan teknologi. Bagi pemerintah daerah, hal ini harus menjadi salah satu target peningkatan anggaran dalam program realokasi anggaran dan refocusing kegiatan di masa pandemi Covid-19. situasi pandemi yang tidak menentu seperti saat ini. Kebijakan yang diambil pemerintah, seperti Pembatasan Sosial Berskala Besar hingga Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat, semuanya bertujuan untuk meminimalisir kontak langsung antara satu orang dengan orang lainnya. Hal ini berdampak pada segala aktivitas yang dilakukan secara online atau dalam jaringan dengan metode seperti work from home8

b. Strategi Kebijakan Penyesuaian Prosedur Operasional Standar Mengenai Realokasi Anggaran dan Refocusing Kegiatan di Daerah

Berbagai penerbitan peraturan perundang-undangan menimbulkan bias bagi pemerintah daerah dalam menentukan kebijakan karena tidak jelasnya pedoman sebagai payung hukum. Kesulitan beragam regulasi ini menjadi perhatian pemerintah pusat, antara lain: Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah.

Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Penyelenggaraan Negara Yang Bersih dan Bebas dari KKN, Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah. Perppu No.1 Tahun 2020. PP no. 12 Tahun 2019. Inpres No 4 Tahun 2020. Permendagri No 1 Tahun 2020. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Penetapan Pendapatan Daerah Pedoman Penilaian Kinerja Keuangan. Inmendagri No 188/52/1979/SC /2012.

Menteri Keuangan bersinergi dengan Menteri Dalam Negeri telah berupaya semaksimal mungkin untuk membentuk berbagai kebijakan sebagai

8 Pogos, M.C. (2021). Tata Cara Pemindahan Dana APBD Kabupaten Dalam Situasi Pandemi Covid-19 yang Dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Mengingat Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah. Lex Administratum, 9(3).

(15)

967 pedoman bagi Pemerintah Daerah dalam melakukan perubahan kebijakan keuangan daerah di masa pandemi Covid-19. Namun dari sekian banyak regulasi yang ada, belum ada kejelasan definisi tunggal mengenai realokasi anggaran dan refocusing kegiatan untuk percepatan penanganan pandemi Covid-19. Oleh karena itu, hal yang paling mendasar seperti definisi harus diselesaikan terlebih dahulu. Dalam hal ini, pengertian realokasi anggaran dan refocusing kegiatan setidaknya dapat didefinisikan secara gramatikal terlebih dahulu, kemudian dikontekstualisasikan dalam ranah kebijakan keuangan daerah. Realokasi anggaran dapat diartikan sebagai penyesuaian alokasi APBD untuk penanganan suatu kegiatan tertentu, sedangkan refocusing kegiatan adalah pengalihan fokus kegiatan penggunaan APBD ke kegiatan penggunaan APBD.

Mengingat kondisi pandemi Covid-19 yang tidak menentu, apalagi dengan berbagai kemungkinan perkembangan kasus Covid-19 dari waktu ke waktu, sudah seharusnya pemerintah pusat memberikan pedoman yang jelas mengenai tata cara pelaksanaan realokasi anggaran dan refocusing kegiatan. Kurangnya ketegasan regulasi terkait hal ini mengakibatkan lahirnya banyak variasi perubahan APBD di daerah. seiring dengan perubahan kehidupan masyarakat yang dipicu oleh perkembangan kasus Covid-19. Untuk mencegah terjadinya inkonsistensi dan berbagai variasi yang muncul akibat perubahan APBD di daerah, pemerintah di tingkat pusat khususnya Kementerian Keuangan dan Kementerian Dalam Negeri harus bersinergi membuat semacam Standard Operating Procedure (SOP) terkait realokasi anggaran dan refocusing kegiatan yang paling sedikit memuat: a) Pilihan komponen anggaran yang dikurangi beserta rinciannya; b) Pemilihan komponen anggaran yang disempurnakan dan rinciannya; c) Standar penggunaan anggaran belanja tak terduga terkait penanganan Covid-19; dan d) Jenis kegiatan yang harus difokuskan kembali dan harus dibebankan pada APBD.

Pendekatan realokasi dan refocusing kegiatan setidaknya dapat mencontoh kebijakan Pemerintah Korea Selatan. Kebijakan penanganan Covid- 19 di Korea Selatan difokuskan pada tiga sektor, yaitu: 1) penanganan dan pencegahan penyebaran virus; 2) bantuan keuangan untuk rumah tangga dan tenaga kerja yang terkena dampak; dan 3) bantuan keuangan kepada UMKM dan industri lokal. Apabila diimplementasikan secara riil sesuai dengan SOP sebagaimana dijelaskan di atas, maka pilihan komponen anggaran yang harus ditingkatkan dan difokuskan pemanfaatannya adalah anggaran dan kegiatan di bidang kesehatan masyarakat, bantuan sosial, dan pemulihan industri lokal.Adapun komponen anggaran dan kegiatan yang harus dikurangi dan digeser, difokuskan pada anggaran dan kegiatan di bidang pembangunan infrastruktur yang tidak terkait dengan kesehatan masyarakat dan belanja pegawai pemerintah daerah.

Pemerintah Kabupaten Ciamis menganggap Inmendagri No 188/52/1979/SC/2012. Sebagai pedoman realokasi anggaran dan refocusing kegiatan, setidaknya ada jaminan hukum dalam menjalankan kebijakan agar tidak melanggar hukum yang berlaku.

(16)

968 KESIMPULAN

Ada variasi perubahan APBD yang dilakukan Pemerintah Daerah untuk menghadapi pandemi Covid-19. Hal ini karena terdapat beberapa tantangan berupa belum adanya standar khusus mengenai bentuk realokasi anggaran dan kegiatan yang harus direfokus oleh Pemerintah Daerah. Selain itu, tidak semua daerah memiliki anggaran yang fleksibel untuk realokasi anggaran dan refocusing kegiatan.

Solusi yang dapat ditempuh untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan mendistribusikan jaringan internet dan fasilitas teknologi kepada Pemerintah Daerah dan menetapkan Standar Operasional Prosedur khusus mengenai realokasi anggaran dan refocusing kegiatan di daerah. Hal ini telah dilakukan Pemkab Ciamis, sesuai petunjuk Inmendagri No 188/52/1979/SC/2012. Sebagai pedoman realokasi anggaran dan refocusing kegiatan, setidaknya ada jaminan hukum dalam menjalankan kebijakan agar tidak melanggar hukum yang berlaku diantaranya:

1. Proses refocusing dan realokasi APBD dalam pengelolaan keuangan daerah harus disinergikan dengan komponen Belanja Pegawai, Belanja Tak Terduga, dan Belanja Bantuan Sosial, di masa pandemi dari APBD.

2. Pelaksanaan Refocusing dan Realokasi Anggaran pada masa pandemi Covid - 19 di Kabupaten Ciamis terlaksana dengan baik, terbukti selama 3 periode APBD selalu surplus dan mendapat predikat WTP.

3. Ketentuan refocusing dan realokasi anggaran APBD Kabupaten Ciamis belum diatur secara detail. Solusi yang disesuaikan dengan Standar Operasional Prosedur yang berisi batasan ruang lingkup anggaran dan kegiatan yang harus dikurangi, ditambah, atau disesuaikan kembali

DAFTAR PUSTAKA BUKU

Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia, “Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 20 Tahun 2020 Tentang Percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019 di Lingkungan Pemerintah Daerah” (2020).

Pogos, M.C. (2021). Tata Cara Pemindahan Dana APBD Kabupaten Dalam Situasi Pandemi Covid-19 yang Dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Mengingat Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah. Lex Administratum, 9(3).

Wardhana, D. (2020). Tinjauan kebijakan dan arah penelitian pasca-covid-19. Jurnal Perencanaan Pembangunan: Jurnal Perencanaan Pembangunan Indonesia, 4(2), 223-239.

JURNAL

Deden Rafi Syafiq Rabbani, 2020 “Public Trust Building Strategy Terhadap Pengelolaan Keuangan Daerah: Telaah Proses Refocusing Dan Realokasi APBD (Anggaran Pendapatan Belanja Daerah Dalam Upaya Penanganan Pandemi Covid-19),” Legislatif 4, no. 1.

Greenberg, J., Pyszczynski, T., & Solomon, S. (1986). The causes and consequences of a need for self-esteem: A terror management theory. In Public self and private self (pp. 189-212). Springer, New York, NY.

(17)

969 Sopanah and Mohammad Fauzi Fikri Haikal, 2021. “Refocusing Anggaran Di Masa

Pandemi Covid-19,” Confer- ence on Economic and Bussiness Innovation.

PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.

Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah.

Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Penyelenggaraan Negara Yang Bersih dan Bebas dari KKN,

Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah.

Perppu No.1 Tahun 2020.

PP no. 12 Tahun 2019.

Inpres No 4 Tahun 2020.

Permendagri No 1 Tahun 2020.

Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Penetapan Pendapatan Daerah Pedoman Penilaian Kinerja Keuangan.

Inmendagri No 188/52/1979/SC /2012.

INTERNET

Suparman, N. (2021). Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pengelolaan Keuangan Negara. Indonesian Trea- sury Review: Jurnal Perbendaharaan, Keuangan Negara Dan Kebijakan Publik, 6(1), 31-42., https://doi.org/10.33105/

itrev.v6i1.261.

Syukriy Abdullah, 2020. “Perubahan APBD Di Masa Pandemi Covid-19,”

Indonews.id, https://indonews.id/ artikel/312207/Perubahan-APBD-di- Masa-Pandemi-Covid-19--/.

Referensi

Dokumen terkait

Dari beberapa definisi tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) diatas menurut Undang-undang Nomor 23 Tahun 9 10 2014, Undang-undang Nomor 33 Tahun

Setelah pendidik dan tenaga kependidikan di satuan pendidikan divaksinasi Covid-19 secara lengkap, pemerintah pusat, pemerintah daerah, kantor wilayah, atau kantor

Dengan melihat bahwa WHO sudah menetapkan Covod-19 sebagai darurat global atau darurat kesehatan publik yang menjadi perhatian internasional, dan sudah ada WNI di Indonesia yang

Meminta Pemerintah secara berjenjang, di tingkat Pusat melalui Kementerian Kesehatan dan Komite Penanggulangan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi, di tingkat daerah

Dalam rangka mendukung penanganan COVID-19 dan pemulihan ekonomi, Pemerintah Daerah harus melakukan pengutamaan penggunaan alokasi anggaran kegiatan tertentu (refocusing)

Untuk mengakomodasi perkembangan teknologi, serta menjawab tantangan dan kebutuhan terkait proses PPP di tingkat pemerintah daerah, Pemerintah Pusat dalam hal ini Kementerian

Oleh sebab itu untuk mencegah terjadinya penyebaran virus Covid-19 pada pusat- pusat kerumunan khususnya di Terminal Ubung Denpasar Bali, Politeknik Transportasi

Penyesuaian target pendapatan daerah dan rasionalisasi belanja daerah dilakukan dengan terlebih dahulu melakukan perubahan Peraturan Kepala Daerah tentang Penjabaran APBD Tahun