AGAMA DAN ETIKA
Oleh :
Dr. Wanda Adinugraha, ST., M.T.
i | Agama dan Etika
ii | Agama dan Etika
iii | Agama dan Etika
PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... ii
BAB I TUHAN YANG MAHA ESA DAN KETUHANAN ... 1
A. Keimanan dan Ketakwaan ... 1
1. Keyakinan (Iman) Kepada Allah ... 5
2. Keyakinan kepada Malaikat ... 23
3. Keyakinan kepada Kitab-Kitab Suci ... 28
4. Keyakinan kepada Nabi dan Rasul ... 32
5. Keyakinan kepada Hari Kiamat dan Pertanggung Jawaban Manusia di Akhirat ... 37
6. Meyakini Qadha dan Qadar ... 43
B. Ketakwaan dan Implikasinya dalam Kehidupan ... 50
1. Hubungan Manusia dengan Allah SWT. ... 54
2. Hubungan Manusia dengan Dirinya Sendiri ... 52
3. Hubungan Manusia dengan Sesama Manusia ... 55
4. Hubungan Manusia dengan Lingkungan Hidup ... 56
BAB II MANUSIA DALAM PERSPEKTIF ISLAM ... 58
A. Hakekat dan Martabat manusia dalam Islam ... 58
B. Kelebihan Manusia dari Makhluk Lainnya, Fungsi dan Tanggung Jawab Manusia dalam Islam ... 60
C. Proses Penciptaan Manusia ... 72
D. Alam Kehidupan Manusia ... 86
BAB III AGAMA ISLAM ... 93
A. Pengertian Islam dan Ruang Lingkup Ajarannya ... 93
B. Klasifikasi Agama dan Agama Islam ... 105
C. Ruang Lingkup Agama Islam ... 109
1. Aqidah (Iman) ... 111
2. Syari’at (Islam) ... 113
3. Akhlak (Ihsan) ... 116
BAB IV SUMBER AGAMA DAN AJARAN ISLAM ... 120
A. Al-Qur'an: Isi dan Sistematikanya ... 123
B. Al-Hadits: Fungsi dan Artinya ... 139
C. Ra'yu atau Akal Pikiran yang Dilaksanakan dengan Ijtihad ... 146
BAB V AKHLAK ... 156
A. Pengertian dan Ruang Lingkup Akhlak ... 156
B. Perbandingan Ukuran Baik Buruk dalam Akhlak dalam Filsafat Etika ... 161
C. Implementasi Akhlak dalam Kehidupan Bersama ... 163
iv | Agama dan Etika
D. Makna dan Ruang Lingkup Takwa ... 169
E. Ciri-ciri Orang Bertakwa ... 176
F. Takwa dan Tanggung Jawab Sosial ... 179
BAB VI ISLAM DAN TASAWUF ... 182
A. Pengertian dan Tujuan Tasawuf ... 182
B. Pandangan Ummat Islam Terhadap Tasawuf ... 186
C. Stasiun-Stasiun Dalam Tasawuf Untuk Mengakrabkan Diri Dengan Allah SWT ... 191
BAB VII HUKUM ISLAM (SYARI'AH) ... 196
A. Pengertian Hukum Islam (Syari’ah ) ... 196
B. Ruang Lingkup Hukum Islam (Syari’ah) ... 198
1. Ibadah ... 205
2. Kalimat Syahadat ... 208
3. Thaharah ... 212
4. Shalat, Pelaksanaan dan Hikmahnya ... 217
5. Zakat ... 256
6. Puasa (Shiam), Arti, Tujuan dan Hikmahnya ... 263
7. Haji, Pelaksanaan dan Hikmahnya ... 272
8. Muamalah, Pengertian dan Ruang Lingkupnya ... 275
C. Sumber dan Tujuan Syai’at Islam ... 276
D. Syari'at Islam Mendorong Penegakan Keadilan dalam Masyarakat. .... 278
E. Hukum dalam Ajaran Islam Seperti Hukum-Hukum Peradilan (Aqdhiyah ) ... 280
BAB VIII KERUKUNAN ANTAR UNIMAT BERAGAMA ... 287
A. Pengertian ... 287
B. Tujuan ... 287
C. Landasan Hukum ... 287
D. Wadah Kerukunan Kehidupan Beragama ... 289
E. Pembangunan Kehidupan Beragama ... 289
F. Pola Pembinaan Kerukunan Hidup Beragama ... 291
G. Langkah-Langkah Pelaksanaan Kerukunan Hidup Beragama ... 293
H. Pokok-Pokok Ajaran Islam Tentang Kerukunan Hidup Beragama ... 295
I. Kerukunan Beragama di Indonesia ... 302
BAB IX AGAMA ISLAM DAN EKONOMI ... 304
A. Islam dan Ekonomi ... 304
B. Perdagangan atau jual beli menurut ajaran Islam ... 307
C. Syirkah (Perseroan Terbatas) ... 315
D. Bank ... 317
E. Koperasi ... 319
BAB X AGAMA DAN MASYARAKAT ... 323
v | Agama dan Etika
A. Dasar Pembentukan Keluarga Dan Masyarakat Dalam
Islam ... 323
B. Mawarits ... 345
1. Pengertian Warisan ... 345
2. Hak dan Kewajiban yang Berkaitan dengan Harta Warisan ... 346
3. Sifat Hukum Faraid ... 355
C. Pembentukan Masyarakat Islam ... 356
1. Pengertian Masyarakat ... 356
2. Masyarakat Madani ... 357
3. Ciri Sistem Masyarakat Islam... 360
BAB XI AGAMA ISLAM DAN POLITIK ... 368
A. Pengertian Politik dan Politik Dalam Islam ... 368
B. Kontribusi Agama Islam dalam Kehidupan Politik Berbangsa dan Bernegara ... 373
C. Tersiarnya Islam di Indonesia ... 375
D. Beberapa Pergerakan Islam di Indonesia ... 377
BAB XII AGAMA DAN FILSAFAT ... 380
A. Pengertian dan Pandangan Islam Mengenai Filsafat ... 380
B. Pemecahan Masalah Melalui Filsafat ... 381
C. Proses Filsafat dalam Mencapai Iman ... 382
BAB XIII AGAMA, MANUSIA DAN BUDAYA ... 385
A. Agama dan Kebudayaan ... 385
B. Pendapat Budayawan Luar Indonesia ... 388
C. Nilai-Nilai Dasar Islam Tentang Kebudayaan (Islam dan Kebudayaan Islam) ... 389
DAFTAR PUSTAKA ... 392
BAB I
TUHAN YANG MAHA ESA DAN KETUHANAN
A. Keimanan dan Ketakwaan
Agama ada yang bersifat primitif dan ada pula yang dianut oleh masyarakat yang telah meninggalkan fase keprimitifan. Agama-agama yang terdapat dalam masyarakat primitif adalah dinamisme, animisme, politeisme dan henoteisme.
Dinamisme mengandung kepercayaan pada kekuatan ghaib yang misterius.
Dalam faham ini ada benda-benda tertentu yang dianggap mempunyai kekuatan ghaib yang berpengaruh pada kehidupan manusia sehari-hari. Kekuatan ghaib itu ada yang bersifat baik dan ada pula yang bersifat jahat. Benda yang dianggap mempunyai kekuatan ghaib yang bersifat baik disenangi dan dipakai dan bahkan dimakan agar orang yang memakai atau yang memakannya senantiasa dipelihara dan dilindungi oleh kekuatan ghaib yang ada di dalammnya. Kekuatan ghaib itu disebut mana yang dalam bahasa Indonesia tuah atau sakti. Dalam masyarakat Indonesia ada orang yang masih menghargai barang-barang yang dianggap bertuah atau sakti misalnya keris, batu, cincin dan lain-lain yang apabila dipakai dipercayai akan terpelihara dari penyakit, kecelakaan, bencana dan lain-Iain. Dengan demikian semakin banyak mana yang dimiliki oleh sebuah benda maka semakin jauh orang dari bahaya dan selamatlah dia dalam hidupnya, dan kehilangan mana berarti maut, dan benda yang mempunyai kekuatan ghaib jahat ditakuti dan oleh karena itu dijauhi.
Animisme adalah kepercayaan yang mengajarkan bahwa tiap-tiap benda baik yang bernyawa maupun yang tidak bernyawa memiliki roh. Roh ada yang baik dan ada pula yang jahat. Kepada roh yang baik senantiasa dijaga hubungan baiknya dan dihormati dengan cara senantiasa membuat roh-roh baik itu agar merasa senang yaitu dengan mengadakan dan memberikan sesajen sebagai makanannya dalam bentuk binatang, makanan, kembang dan lainnya agar roh-roh itu merasa senang.
Roh nenek moyang juga merupakan roh yang dihormati dan ditakuti. Jika roh-roh
2 | Agama dan Etika
itu merasa senang dipercayai dapat menyelamatkan hidupnya dan terhindar dari segala malapetaka. Oleh karena itu perbuatan yang menyebabkan roh-roh itu marah haruslah dijauhi.
Politeisme mengandung kepercayaan pada dewa-dewa. Bahwa hal-hal yang menyebabkan takjub dan dahsyat bukan lagi dikuasai oleh roh-roh akan tetapi oleh para dewa. Dewa dalam politeisme dipercayai masing-masing memiliki tugas tertentu. Ada dewa yang bertugas menyinarkan cahaya ke permukaan bumi, yang dalam agama Mesir kuno disebut Ra, dalam agama India kuno disebut Surya dan dalam agama Persia kuno disebut Mithra. Adapula dewa yang bertugas menurunkan hujan yang diberi nama Indera dalam agama India kuno, dan Donnar dalam agama Jerman kuno. Selanjutnya ada dewa yang bertugas mengatur angin yang disebut Wata dalam agama India kuno dan Wotan dalam agama Jerman Kuno.
Dengan demikian Kepada dewa-dewa ini tidak sekedar mempercayai memiliki kekuatan ghaib dan tidak saja memberikan sesajen dan persembahan-persembahan akan tetapi juga menyembah dan berdoa kepada mereka untuk menjauhkan amarahnya.
Dalam ajaran agama Hindu ada dewa Bhrahma,Wisnu dan Syiwa, dalam agama Veda disebut Indra,Vita dan Varuna. Sedang dalam agama Mesir kuno Orisis dengan isterinya Isis dan anak mereka Herus, dan dalam agama Arab Jahiliyah disebut Al- Lata, Al-Uzza dan Manata.
Henoteisme memempercayai satu Tuhan untuk satu bangsa dan bangsa- bangsa lain memilki tuhannya sendiri-sendiri. Henoteisme mengandung faham tuhan nasional. Faham yang serupa ini terdapat dalam perkembangan faham keagamaan masyarakat Yahudi. Yahweh pada akhimya mengalahkan dewa-dewa yang lainnya, sehingga Yahweh menjadi tuhan nasional bangsa Yahudi (Harun Nasution:1978:14)
Dalam masyarakat yang sudah maju agama yang dianut bukan lagi animisme, dinamisme, politeisme atau henoteisme akan tetapi agama Monoteisme, agama
3 | Agama dan Etika
Tauhid. Dasar ajaran agama monoteisme adalah Tuhan Satu, Tuhan Maha Esa, dengan demikian Tuhan tidak lagi merupakan tuhan Nasional akan tetapi Tuhan Internasional, Tuhan semua bangsa di dunia ini dan bahkan Tuhan Alam Semesta.
Disinilah Islam mengambil posisi sebagai agama tauhid yang hanya mengakui adanya satu Tuhan yaitu Allah SWT, yang merupakan inti dari Ajaran Agama Islam yang terumuskan dalam Kalimat Tauhid "La ilaha illallah". Keyakinan atau keimanan yang merupakan pengembangan dari kalimat tauhid di atas sering disebut dengan Aqidah.
Aqidah dalam bahasa Arab (dalam bahasa Indonesia ditulis akidah), menurut etimologi, adalah ikatan, sangkutan. Disebut demikian, karena ia mengikat dan menjadi sangkutan atau gantungan segala sesuatu.
Dalam pengertian teknis artinya adalah iman atau keyakinan. Akidah Islam (aqidah Islamiyah), karena itu ditautkan dengan rukun iman yang menjadi asas seluruh ajaran Islam. Kedudukannya sangat sentral dan fundamental, menjadi asas dan sekaligus sangkutan atau gantungan segala sesuatu dalam Islam. Juga menjadi titik tolak kegiatan seorang muslim.
Akidah Islam berawal dari keyakinan kepada Zat Mutlak Yang Maha Esa yang disebut Allah SWT. Allah SWT Maha Esa dalam zat, sifat, perbuatan wujud-Nya itu disebut tauhid. Tauhid menjadi inti rukun iman dan prima causa seluruh keyakinan Islam.
Secara sederhana, sistematika akidah Islam, dapat dijelaskan sebagai berikut.
Kalau orang telah menerima tauhid sebagai prima causa yakni asal yang pertama, asal dari segala-galanya dalam keyakinan Islam, maka rukun iman yang lain hanyalah akibat logis (masuk akal) saja penerimaan tauhid tersebut.
Kalau orang yakin bahwa: Allah SWT mempunyai kehendak, sebagai bagian dari sifat-Nya, maka orang yakin pula adanya (para) Malaikat yang diciptakan Allah SWT (melalui perbuatan-Nya) untuk melaksanakan dan menyampaikan kehendak Allah SWT yang dilakukan oleh malaikat Jibril kepada para Rasul-Nya, yang kini dihimpun
4 | Agama dan Etika
dalam Kitab-kitab suci. Namun, perlu segera dicatat dan diingat bahwa kitab suci yang masih murni dan asli memuat kehendak Allah, hanyalah Al-Qur'an. Kehendak Allah SWT itu disampaikan kepada manusia melalui manusia pilihan Tuhan yang disebut Rasulullah atau Utusan-Nya. Konsekuensi logisnya adalah kita meyakini pula adanya para Rasul yang menyampaikan dan menjelaskan kehendak Allah SWT kepada umat manusia, untuk dijadikan pedoman dalam hidup dan kehidupan.
Hidup dan kehidupan ini pasti akan berakhir pada suatu ketika, sebagaimana dinyatakan dengan tegas oleh kitab-kitab suci dan oleh para rasul itu. Akibat logisnya adalah kita yakin adanya Hari Akhir, tatkala seluruh hidup dan kehidupan seperti yang ada sekarang ini akan berakhir. Pada waktu itu kelak Allah SWT Yang Maha Kuasa dalam perbuatan Nya itu akan menyediakan suatu kehidupan baru yang sifatnya baqa (abadi) tidak fana (sementara) seperti yang kita lihat dalam alam sekarang.
Untuk mendiami alam baka itu kelak, manusia yang pernah hidup di dunia ini, akan dihidupkan kembali oleh Allah SWT Yang Maha Esa dalam perbuatan- perbuatan-Nya itu dan akan dimintai pertanggungan jawab individual mengenai keyakinan (akidah), tingkah laku (syari'ah) dan sikap (akhlak)-nya selama hidup di dunia yang fana ini. Yakin adanya hidup lain selain kehidupan sekarang, dan dimintainya pertanggungan jawab kelak, membawa konsekuensi pada keyakinan akan adanya Qadha dan Qadar yang berlaku dalam hidup dan kehidupan manusia di dunia yang fana ini yang membawa akibat pada kehidupan di alam baqa kelak.
Dari uraian singkat tersebut di atas, tampak logis dan sistematisnya pokok- pokok keyakinan Islam yang terangkum dalam istilah Rukun Iman yaitu;
1) Keyakinan kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa.
2) Keyakinan pada Malaikat-malaikat.
3) Keyakinan pada Kitab-kitab suci,
4) Keyakinan pada para Nabi dan Rasul Allah, 5) Keyakinan akan adanya Hari Akhir, dan
5 | Agama dan Etika
6) Keyakinan pada qadha dan Qadar Allah.
Pokok-pokok keyakinan atau Rukun Iman ini merupakan akidah Islam. Secara singkat, Rukun Iman yang enam ini akan diuraikan di bawah ini.
1. Keyakinan (Iman) Kepada Allah
Allah SWT, zat yang Maha Mutlak itu, Yang menciptakan segala sesuatu, zat satu- satunya yang berhak disembah (Al-Ma'budu bihaqq). Allah SWT adalah Al-Khaliq yang Maha sempurna, sempurna dalam ZatNya, sempurna dalam Sifat-Nya, sempurna dalam perbuatan-Nya dan sempurna dalam segala-galanya.
Beriman kepada Allah SWT berarti: Yakin dan percaya dengan sepenuh hati akan adanya Allah, keesaan-Nya serta sifat-sifat-Nya yang sempurna. Kosekuensi dari pengakuan ini adalah mengikuti tanpa reserve petunjuk/tuntunan/bimbingan Allah SWT dan Rasul-Nya yang tersebut di dalam Al-Qur'an dan Hadits Nabi, dan menjalankan ibadah sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan As-Sunnah (Masjfuk Zuhdi; 1993: 11).
Segala sesuatu mengenai Tuhan disebut ketuhanan. Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi dasar Negara Republik Indonesia. Menurut pasal 29 ayat 1 Undang- Undang Dasar 1945 Negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa. Istilah Ketuhanan Yang Maha Esa diciptakan oleh otak, pengertian dan iman orang Islam Indonesia, sebagai terjemahan kata-kata yang terhimpun dalam Allahu alwahidul ahad yang berasal dari Al-Qur'an surat Al-lkhlas:
Katakanlah: "Dialah Allah, Yang Maha Esa
ٌدَح َ
أ ُ هللَّٱ َوُه ۡلُق
Qulhuwallahu ahad itulah yang diterjemahkan dengan Yang Maha Esa, yang sebelum tahun 1945 (perkataan itu) tidak ada dalam bahasa Indonesia (Mohammad Daud Ali; 1997: 202).
Menurut akidah Islam, konsepsi tentang Ketuhanan Yang Maha Esa disebut Tauhid. Ilmunya adalah Ilmu Tauhid. Ilmu Tauhid adalah ilmu tentang Kemaha-
6 | Agama dan Etika
Esaan Tuhan (Osman Raliby, 1980: 8). Menurut Osman Raliby ajaran Islam tentang Kemaha Esaan Tuhan sebagai berikut:
a. Allah SWT Maha Esa Dalam Zat-Nya
Kemaha Esaan Allah SWT dalam Zat-Nya dapat dirumuskan dengan kata-kata bahwa Zat Allah SWT tidak sama dan tidak dapat dibandingkan dengan apapun juga. Dia unique (unik: lain dari semuanya), berbeda dalam segala- galanya. Zat Tuhan yang unik atau Yang Maha Esa itu bukanlah materj yang terdiri dari beberapa unsur bersusun. Ia tidak dapat disamakan atau dibandingkan dengan benda apa pun yang kita kenal, yang menurut ilmu fisika terjadi dari susunan atom, molekul dan unsur-unsur berbentuk yang takluk kepada ruang dan waktu yang dapat ditangkap oleh pancaindera manusia, yang dapat hancur musnah dan lenyap pada suatu masa.
Keyakinan kepada Zat Allah SWT Yang Maha Esa seperti itu mempunyai konsekuensi. Konsekuensinya adalah bagi ummat Islam yang mempunyai akidah demikian, setiap atau segala sesuatu yang dapat ditangkap oleh pancaindera mempunyai bentuk tertentu, tunduk pada ruang dan waktu, hidup memerlukan makanan dan minuman seperti manusia biasa, mengalami sakit dan mati, lenyap dan musnah.
b. Allah SWT Maha Esa dalam sifat-sifat-Nya.
Kemaha Esaan Allah SWT dalam sifat-sifat-Nya ini mempunyai arti bahwa sifat- sifat Allah SWT penuh kesempurnaan dan keutamaan, tidak ada yang menyamainya. Sifat-sifat Allah SWT itu banyak dan tidak dapat diperkirakan.
Namun demikian, dari Al-Qur'an dapat diketahui sembilan puluh sembilan (99) nama sifat Tuhan yang biasanya disebut dengan al-Asma'ul Husna: Sembilan Puluh Sembilan Nama-nama Allah SWT yang Indah itu adalah (Syamsul Rijal Hamid: 1999:33-37):
7 | Agama dan Etika
1. Ar-Rahman, Yang Maha Pemurah kepada seluruh makhluk-Nya 2. Ar-Rahim, Yang Maha Penyayang kepada hamba-Nya yang beriman 3. Al-Malik, Yang Maha Kuasa atas alam semesta
4. Al-Quddus, Yang Maha Suci dari segala kekurangan
5. As-Salam,Yang Maha Sejahtera, Dia lah Yang mensejahterakan seluruh makhluk-makhluknya
6. Al-Mukmin, Yang memberikan (rasa) aman dan keamanan kepada seluruh makhluk
7. Al-Muhaimin, Yang Maha Memelihara 8. Al-Aziz, Yang Maha Perkasa
9. Al-Jabbar, Yang Maha Memaksa (kehendak-Nya tidak dapat diingkari) 10. Al-Mutakabbir, Yang Memiliki Kebesaran
11. Al-Khaliq, Yang Maha Mencipta 12. Al-Bari'u, Yang Maha Melepaskan.
13. Al-Mushawwir, Yang menciptakan rupa makhluk
14. Al-Ghaffar, Yang Maha Mengampuni segala kesalahan dan dosa makhluk- Nya
15. Al-Qahhar, Yang Maha Perkasa, mampu memaksa makhluknya untuk menjalankan kehendak-Nya
16. Al-Wahhab,Yang Maha Pemberi Karunia 17. Ar-Razzaq, Yang Maha Pemberi Rizki
18. Al-Fattah, Yang Maha Pembuka ( pintu rahmat ) 19. Al- Alim, Yang Maha Mengetahui segalanya.
20. Al-Qaabidh, Yang Maha Menyempitkan kenikmatan
21. Al-Baasith, Yang Maha Melapangkan rizki dan kemudahan 22. Al-Khaafidh, Yang Maha Merendahkan makhluknya
23. Al-Rafi 'u, Yang Meninggikan martabat makhluknya 24. Al-Mu'izz, Yang Maha Memuliakan makhluknya
8 | Agama dan Etika
25. Al-Mudzill, Yang Maha Menghinakan makhluknya
26. As-Sami', Yang Maha Mendengar segala suara termasuk suara hati 27. Al-Bashir, Yang Maha Melihat
28. Al-Hakam, Yang Maha Menetapkan 29. Al- Adl, Yang Maha Adil
30. Al-Lathif, Yang Maha Penyantun
31. Al-Khabir, Yang Maha Mengetahui segala rahasia
32. Al-Halim, Yang Maha Penyantun, lembut, tidak cepat menjatuhkan hukuman kepada hamba-Nya yang berdosa
33. Al-Adhim, Yang Maha Agung dari segalanya 34. Al-Ghafur, Yang Maha Pengampun
35. Asy-Syakur, Yang Maha Pembalas jasa atas amal baik hamba-Nya 36. Al-Aliyy, Yang Maha Tinggi
37. Al-Kabiir, Yang Maha Besar 38. Al-Hafiidz ., Yang Maha Menjaga 39. Al-Muqiit, Yang Maha Memelihara
40. Al-Hasiib, Yang Maha Pembuat Perhitungan 41. Al-Jalil, Yang Memiliki segala Keagungan 42. Al-Karim, Yang Maha Mulia
43. Ar-Raqiib, Yang Maha Mengawasi 44. Al-Mujib, Yang Maha Mengabulkan.
45. Al-Wasi ' u, Yang Maha Luas
46. Al-Hakim,Yang Maha Bijaksana
47. Al-Wadud, Yang Maha Pengasih
48. Al-Majid, Yang Maha Mulia
49. Al-Ba' its, Yang Maha Membangkitkan
50. As-Syahid, Yang Maha Menyaksikan
51. Al-Haqq, Yang Maha Benar
9 | Agama dan Etika
52. Al-Wakil, Yang Maha Memelihara
53. Al-Qawiiy, Yang Maha Kuat
54. Al-Matin, Yang Maha Kokoh
55. Al-Waliyy, Yang Maha Melindungi
56. Al-Hamid, Yang Maha Terpuji
57. Al-Muhshi, Yang Maha Menghitung dan mengetahui jumlah dan ukuran segala sesuatu
58. Al-Mubdi u, Yang Maha Memulai
59. Al-Mu 'id, Yang Maha Mengembalikan kehidupan makhluk-Nya
60. Al-Muhyi, Yang Maha Menghidupkan
61. Al-Mumitu, Yang Maha Mematikan
62. Al-Hayyu, Yang Maha Hidup
63. Al-Qayyum, Yang Maha Mandiri
64. Al-Waajid, Yang Maha Menemukan apa yang dikehendaki
65. Al-Majid, Yang Maha Mulia
66. Al-Wahid, Yang Maha Esa/Tunggal
67. Al-Ahad, Yang Maha Esa
68. Ash-Shamad, Yang Maha Dibutuhkan
69. Al-Qadir, Yang Maha Kuasa
70. Al-Muqtadir, Yang Maha Berkuasa
71. Al-Muqaddim,Yang Maha Mendahulukan
72. Al-Muakkhir, Yang Maha Mengakhirkan
73. Al-Awwal, Yang Maha Permulaan
74. Al-Akhir, Yang Maha Akhir
75. Ad-Dzahir, Yang Maha Nyata
76. Al-Bathin, Yang Maha Ghaib
77. Al-Wali, Yang Maha Memerintah
78. Al-Muta 'aliy, Yang Maha Tinggi
10 | Agama dan Etika
79. Al-Barii,Yang Maha Derma
80. At-Tawwab, Yang Maha Menerima Taubat hamba-nya
81. Al-Muntaqim, Yang Maha Penyiksa
82. Al- Afuww, Yang Maha Pemaaf
83. Ar-Rauf, Yang Maha Pengasih
84. Al- Malikul Mulk, Yang Maha Merajai Kerajaan
85. Zul Jalali Wal Ikram, Yang Maha Memiliki kebesaran dan kemuliaan
86. Al-Muqsith, Yang Maha Adil
87. Al-Jami', Yang Maha Pengumpul
88. Al-Ghaniy, Yang Maha Kaya
89. Al-Mughniy, Yang Maha Berkecukupan
90. Al-Mani', Yang Maha Mencegah
91. Ad-Dhaarr, Yang Maha Pemberi derita
92. An-Nafi 'u, Yang Maha Pemberi Manfaat
93. An-Nur, Yang Maha Bercahaya
94. Al-Haadi, Yang Maha Memeberi petunjuk
95. Al-Baadi Yang Maha Pencipta
96. Al-Baaqi, Yang Maha Kekal
97. Al-Waarits, Yang Maha Pewaris
98. Ar-Rasyid, Yang Maha Pandai
99. As-Shabur, Yang Maha Sabar
Di dalam Ilmu Tauhid, dijelaskan dua puluh sifat Allah, yang disebut dengan Sifat Dua Puluh, yaitu:
1) Wujud, Ada. Mustahil `adam (tidak ada). Hal ini ditegaskan oleh Al-Qur'an As-Sajadah ayat 4:
اَم ِۖ ِشۡرَعۡلٱ َ َعَل َٰىَوَتۡسٱ همُث ٖماهيَأ ِةهتِس ِفِ اَمُهَنۡيَب اَمَو َضرَۡ ۡلۡٱَو ِتََٰوََٰمهسلٱ َقَلَخ يِ هلَّٱ ُ هللَّٱ َنوُرهكَذَتَت َلََف َ
أ ٍۚ عيِف َش َ
لََو ٖيِلَو نِم ۦِهِنوُد نِيم مُك َل
11 | Agama dan Etika
4. Allah lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy.
Tidak ada bagi kamu selain dari pada-Nya seorang penolongpun dan tidak (pula) seorang pemberi syafa'at. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?
ََٰم هسلٱ َقَلَخ يِ لَّٱ ُ هللَّٱ ه اَم ِۖ ِشۡرَعۡلٱ َ َعَل َٰىَوَتۡسٱ همُث ٖماهيَأ ِةهتِس ِفِ اَمُهَنۡيَب اَمَو َضرَۡ ۡلۡٱَو ِتََٰو
َنوُرهكَذَتَت َلََف َ
أ ٍۚ عيِف َش َ
لََو ٖيِلَو نِم ۦِهِنوُد نِيم مُك َل ٤
Allah lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ´Arsy.
Tidak ada bagi kamu selain dari pada-Nya seorang penolongpun dan tidak (pula) seorang pemberi syafa´at. Maka apakah kamu tidak memperhatikan
2) Qidam, Terdahulu tidak ada permulaan-Nya, mustahil huduts (baru, ada yang mendahului). Al-Qur'an menegaskan hal itu:
ٌميِلَع ء ۡ َشَ ِ يلُكِب َوُهَو ُُۖنِطاَ ۡلۡٱَو ُرِهَٰهظلٱَو ُرِخلۡأٓٱَو ُلهوَ ۡلۡٱ َوُه ٣
Dialah Yang Awal dan Yang Akhir Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu (QS. Al-Hadid:3)
3) Baqa, Kekal, Abadi tidak berkesudahan, mustahil Allah SWT itu fana (rusak, berakhir). Ditegaskan dalam Al-Qur'an:
ِماَر ۡ كِ ۡ
لۡٱَو ِلَٰ َلَۡلۡٱ وُذ َكِيبَر ُهۡجَو َٰ َقَۡبَيَو ٢٧
Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan ( QS. Ar-Rahman: 27).
4) Mukhalafatu lil hawaditsi, Berbeda dengan segala ciptaan-Nya (yang baru), mustahil Allah SWT mumatsalatu lil hawaditsi (ada yang menyamai).
Firman Allah:
12 | Agama dan Etika
ۡمُكُؤَرۡذَي ا ٗجَٰ َوۡز َ أ ِمَٰ َعۡن َ ۡ
لۡٱ َنِمَو ا ٗجَٰ َوۡز َ
أ ۡمُكِسُفن َ
أ ۡنِيم مُكَل َلَعَج ٍۚ ِضرۡ َ ۡ
لۡٱَو ِتََٰوَٰ َم هسلٱ ُرِطاَف ُير ِصَ لۡٱ ُعيِم هسلٱ َوُهَو ُۖ ء ۡ َشَ ۦِهِلۡثِمَك َسۡيَل ٍِۚهيِف ۡ ١١
(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan- pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu.
Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat. ( QS: Asy-Sura: 11)
5) Qiyamuhu binafsihi, Berdiri sendiri. Mustahil Allah SWT ihtiyajun lighairihi (membutuhkan yang lain). Ditegaskan dalam ayat-Nya:
َم ِتۡيَ لۡٱ ُّجِح ِساهلنٱ ۡ َ َعَل ِ هِللََّو ۗاٗنِماَء َنَكَ ۥُهَلَخَد نَمَو َُۖميِهََٰرۡبِإ ُماَقهم تََٰنِييَب ُُۢتََٰياَء ِهيِف ِن
َينِمَلَٰ َع ۡلٱ ِنَع ٌّ ِنَِغ َ هللَّٱ هنِإَف َرَفَك نَمَو ۚ ٗلَيِبَس ِهۡ َلَِإ َعاَطَتۡسٱ ٩٧
Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim;
barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia;
mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. (QS. Ali Imran 97)
6) Wahdaniyat, Maha Esa, mustahil Allah SWT itu ta'addud (berbilang).
ٌدَح َ
أ ُ هللَّٱ َوُه ۡلُق ١
Katakanlah: "Dialah Allah, Yang Maha Esa. (Al-Ikhlash:1)
7) Qadrat, Berkuasa, Maha Kuasa, mustahil `ajzun (lemah). Ditegaskan dalam Al-Qur'an:
13 | Agama dan Etika
َلَو ْۚاوُماَق ۡمِهۡي َلَع َمَلۡظَأ ٓاَذوَإِ ِهيِف ْاۡوَشهم مُهَل َءٓا َضَأ ٓاَمه ُكُ ُۖۡمُهَرَٰ َصۡبَأ ُفَطۡ َيَ ُقۡ َبَۡلٱ ُداَكَي َءٓا َش ۡو
ريِدَق ٖء ۡ َشَ ِ ي ُك ََٰ َعَل َ هللَّٱ هنِإ ۚۡمِهِرَٰ َصۡبَأَو ۡمِهِعۡمَسِب َبَهَ َلَّ ُ هللَّٱ ٢٠
Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.( Q.S. Al-Baqarah: 20).
8) Iradat, Berkehendak, mustahil karahah (terpaksa). Ditegaskan dalam Al- Qur'an:
ُديِرُي اَمِ يل لاهعَف َكهبَر هنِإ َۚكُّبَر َءٓاَش اَم هلَِإ ُضرَۡ ۡلۡٱَو ُتََٰوََٰمهسلٱ ِتَماَد اَم اَهيِف َنيِ ِلَِٰ َخ ١٠٧
Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki. (Q.S. Huud: 107).
9) Ilmu, Maha Mengetahui, mustahil jahhm (bodoh). Ditegasakan dalam Al- Qur'an:
تۡخ ُ
أ ٓۥُ لََو َ لََو ۥُ َ َ
لَ َسۡيَل َكَلَه ْاٌؤُرۡمٱ ِنِإ ٍِۚة َلََٰلَكۡلٱ ِفِ ۡمُكيِتۡفُي ُ هللَّٱ ِلُق َكَنوُتۡفَتۡسَي ِناَث ُلُّلثٱ اَمُهَلَف ِ ۡينَتَنۡثٱ اَتَنَكَ نِإَف ۚ َلََو اَههل نُكَي ۡمهل نِإ ٓاَهُثِرَي َوُهَو َۚكَرَت اَم ُف ۡصِن اَهَلَف ۡمُكَل ُ هللَّٱ ُ ِيينَبُي ِِۗ ۡينَيَثن ُ ۡ ِم
لۡٱ ِيظَح ُلۡثِم ِر َكهلذِلَف ٗءٓاَسِنَو ٗلَاَجِير ٗةَوۡخِإ ْآوُنَكَ نوَإِ َۚكَرَت اهم ُُۢميِلَع ء ۡ َشَ ِ يلُكِب ُ هللَّٱَو ْۗاوُّلِضَت نَأ ١٧٦
176. Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Katakanlah:
"Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu): jika seorang meninggal dunia, dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan, maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya, dan saudaranya yang laki-laki mempusakai
14 | Agama dan Etika
(seluruh harta saudara perempuan), jika ia tidak mempunyai anak; tetapi jika saudara perempuan itu dua orang, maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal. Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara-saudara laki dan perempuan, maka bahagian seorang saudara laki-laki sebanyak bahagian dua orang saudara perempuan. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu, supaya kamu tidak sesat. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu ( Q.S. An-Nisa': 176) 10) Hayat, Hidup, mustahil mautun ( mati). Ditegaskan dalam Al-Qur'an:
اًيرِبَخ ۦِهِداَبِع ِبوُنُذِب ۦِهِب َٰ َفَ َكَو ۚۦِهِدۡمَ ِبِ ۡحِيبَسَو ُتوُمَي َلَ يِ هلَّٱ ِي َحۡلٱ َ َعَل ۡ هكََّوَتَو ٥٨
Dan bertawakallah kepada Allah yang hidup (kekal) Yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. Dan cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa-dosa hamba-hamba-Nya. ( Q.S. Al-Furqan: 58)
11) Sama' . Maha Mendengar, mustahil shamamun (tuli). Ditegaskan dalam Al-Qur'an:
ِدَقَف ِ هللَّٱِب ُۢنِمۡؤُيَو ِتوُغَٰهطلٱِب ۡرُفۡكَي نَمَف ِۚي َغۡلٱ َنِم ُدۡشُّرلٱ َ هينَبهت دَق ِِۖنيِيلَٱ ِفِ َهاَرۡكِإ ٓ َلَ
ٌميِلَع ٌعيِمَس ُ هللَّٱَو ۗاَه َل َما َصِفنٱ َلَ َٰ َقَۡثُوۡلٱ ِةَوۡرُعۡلٱِب َكَسۡمَتۡسٱ ٢٥٦
Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
( Q.S. Al-Baqarah: 256).
15 | Agama dan Etika
12) Bashar, Maha Melihat, mustahil `ama (buta). Ditegaskan dalam Al-Qur'an:
َنوُلَمۡعَت اَمِب ُُۢير ِصَب ُ هللَّٱَو ٍۚ ِضرۡ َ ۡ
لۡٱَو ِتََٰوَٰ َم هسلٱ َبۡيَغ ُمَلۡعَي َ هللَّٱ هنِإ ١٨
Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ghaib di langit dan bumi. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. ( Q.S. Al-Hujurat: 18) 13) Kalam, Maha Berkata-kata, mustahil bakamun (bisu). Ditegaskan dalam
Al-Qur'an:
َٰ َسَوُم ُ هللَّٱ َم ه َكََو َۚكۡيَلَع ۡمُه ۡص ُصۡقَن ۡمهل ٗلَُسُرَو ُلۡبَق نِم َكۡيَلَع ۡمُهََٰن ۡص َصَق ۡدَق ٗلَُسُرَو اٗميِلۡكَت ١٦٤
Dan (Kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung. ( Q.S. An-Nisa': 164).
14) Qadiran, Dalam Keadaan Berkuasa, mustahil kaunzihu `ajizan (lemah).
Ditegaskan dalam Al-Qur'an:
َلَو ْۚاوُماَق ۡمِهۡي َلَع َمَلۡظَأ ٓاَذوَإِ ِهيِف ْاۡوَشهم مُهَل َءٓا َضَأ ٓاَمه ُكُ ُۖۡمُهَرَٰ َصۡبَأ ُفَطۡ َيَ ُقۡ َبَۡلٱ ُداَكَي َءٓا َش ۡو
ِعۡم َسِب َبَهَ لَّ ُ هللَّٱ َ ريِدَق ٖء ۡ َشَ ِ ي ُك ََٰ َعَل َ هللَّٱ هنِإ ۚۡمِهِرَٰ َصۡبَأَو ۡمِه
٢٠
Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu ( Q.S. Al-Baqarah: 20)
15) Muridan, dalam Keadaan Berkemauan, mustahil kaunuhu karihan (terpaksa). Ditegaskan dalam Al-Qur'an:
ُديِرُي اَمِ يل لاهعَف َكهبَر هنِإ َۚكُّبَر َءٓاَش اَم هلَِإ ُضرَۡ ۡلۡٱَو ُتََٰوََٰمهسلٱ ِتَماَد اَم اَهيِف َنيِ ِلَِٰ َخ ١٠٧
16 | Agama dan Etika
“Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki” (Q.S. Huud:107)
16) `Aliman, Dalam Keadaan Berpengetahuan, mustahil kaunuhujahilan (Bodoh). Ditegaskan dalam Al-Qur'an:
اَهَلَف تۡخ ُ
أ ٓۥُ لََو َ لََو ۥُ َ َ
لَ َسۡيَل َكَلَه ْاٌؤُرۡمٱ ِنِإ ٍِۚة َلََٰلَكۡلٱ ِفِ ۡمُكيِتۡفُي ُ هللَّٱ ِلُق َكَنوُتۡفَتۡسَي اهمِم ِناَث ُلُّلثٱ اَمُهَلَف ِ ۡينَتَنۡثٱ اَتَنَكَ نِإَف ۚ َلََو اَههل نُكَي ۡمهل نِإ ٓاَهُثِرَي َوُهَو َۚكَرَت اَم ُف ۡصِن َۚكَرَت
وُّل ِضَت ن َ
أ ۡمُكَل ُ هللَّٱ ُ ِيينَبُي ِِۗ ۡينَيَثن ُ ۡ
لۡٱ ِيظَح ُلۡثِم ِر َكهلذِلَف ٗءٓاَسِنَو ٗلَاَجِير ٗةَوۡخِإ ْآوُنَكَ نوَإِ
ُ هللَّٱَو ْۗا
ُُۢميِلَع ء ۡ َشَ ِ يلُكِب ١٧٦
“Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Katakanlah: "Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu): jika seorang meninggal dunia, dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan, maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya, dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan), jika ia tidak mempunyai anak; tetapi jika saudara perempuan itu dua orang, maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal. Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara-saudara laki dan perempuan, maka bahagian seorang saudara laki-laki sebanyak bahagian dua orang saudara perempuan. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu, supaya kamu tidak sesat. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (Q.S. An-Nisa: 176).
17) Hayyan, Dalam Keadaan Hidup, mustahil mayyitan (mati). Ditegaskan dalam Al-Qur'an:
اًيرِبَخ ۦِهِداَبِع ِبوُنُذِب ۦِهِب َٰ َفَ َكَو ۚۦِهِدۡمَ ِبِ ۡحِيبَسَو ُتوُمَي َلَ يِ هلَّٱ ِي َحۡلٱ َ َعَل ۡ هكََّوَتَو ٥٨
17 | Agama dan Etika
“Dan bertawakallah kepada Allah yang hidup (kekal) Yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. Dan cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa-dosa hamba-hamba-Nya” ( Q.S. Al-Furqaan: 58).
18) Sami'an, Dalam Keadaan Mendengar, mustahil kaunuhu ashamma (tuli).
ِدَقَف ِ هللَّٱِب ُۢنِمۡؤُيَو ِتوُغَٰهطلٱِب ۡرُفۡكَي نَمَف ِۚي َغۡلٱ َنِم ُدۡشُّرلٱ َ هينَبهت دَق ِِۖنيِيلَٱ ِفِ َهاَرۡكِإ ٓ َلَ
ٌميِلَع ٌعيِمَس ُ هللَّٱَو ۗاَه َل َما َصِفنٱ َلَ َٰ َقَۡثُوۡلٱ ِةَوۡرُعۡلٱِب َكَسۡمَتۡسٱ ٢٥٦
“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. ( Q.S. Al-Baqarah: 256).
19) Bashiran, Dalam Keadaan Melihat, mustahil kaunuhu `ama (buta).
Ditegaskan dalam Al-Qur'an:
َنوُلَمۡعَت اَمِب ُُۢير ِصَب ُ هللَّٱَو ٍۚ ِضرۡ َ ۡ
لۡٱَو ِتََٰوَٰ َم هسلٱ َبۡيَغ ُمَلۡعَي َ هللَّٱ هنِإ ١٨
Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ghaib di langit dan bumi. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (Q.S. Al-Hujurat:18)
20) Mutakalliman. Dalam Keadaan berkata-kata, mustahil kaunuhu abkama (bisu). Ditegaskan dalam Al-Qur'an:
َٰ َسَوُم ُ هللَّٱ َم ه َكََو َۚكۡيَلَع ۡمُه ۡص ُصۡقَن ۡمهل ٗلَُسُرَو ُلۡبَق نِم َكۡيَلَع ۡمُهََٰن ۡص َصَق ۡدَق ٗلَُسُرَو اٗميِلۡكَت ١٦٤
Dan (Kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami
18 | Agama dan Etika
kisahkan tentang mereka kepadamu. Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung. ( Q.S. An-Nisa':164)
Sebagai mahasiswa, yang perlu diketahui dengan baik adalah bahwa Allah, Tuhan Yang Maha Esa itu bersifat:
1) Hidup.
Ini berarti bahwa Allah, Tuhan Yang Maha Esa adalah Tuhan Yang Hidup.
Hidupnya itu Maha Esa tanpa memerlukan makanan, minuman, istirahat dan sebagainya. Pendek kata: Allah SWT Maha Esa dalam Hidup-Nya.
Konsekuensi keyakinan yang demikian adalah, setiap atau segala sesuatu yang sifat hidupnya memerlukan makanan, minuman, tidur dan sebagainya, bagi seorang muslim bukanlah Allah SWT dan tidak boleh dipandang sebagai Allah, Tuhan Yang Maha Esa.
2) Berkuasa.
Allah SWT adalah Tuhan Yang Maha Kuasa. Kekuasaan-Nya Maha Esa, tiada bertara, tidak ada tolok bandingnya. Ia Maha Kuasa tanpa memerlukan pihak lain manapun juga dalam kekuasaan-Nya. Ia adalah Maha Kuasa dengan sendiri-Nya. Konsekuensi keyakinan yang demikian adalah, seorang muslim harus teguh dalam keyakinannya pada kekuasaan Allah, melampaui segala kekuasaan selain dari kekuasaan Allah. Dan sebagai akibatnya, seorang muslim tidak boleh takut pada kekuasaan lain yang ada dalam alam ini, baik kekuasaan itu berupa kekuatan-kekuatan alamiah maupun kekuasaan insaniah
19 | Agama dan Etika
3) Berkehendak.
Allah SWT mempunyai kehendak. Kehendak-Nya Maha Esa dan berlaku untuk seluruh alam semesta, termasuk (masyarakat) manusia di dalamnya.
Konsekuensi keyakinan yang demikian adalah, Kehendak atau Iradah Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa wajib diikuti oleh setiap muslim. Kehendak Allah SWT yang masih asli, seperti telah disebut di muka, termaktub kini dalam Al-Qur'an yang menjadi kitab suci ummat Islam. Selain itu, kehendak Allah SWT dapat pula dijumpai pada ayatayat kauniyah di alam semesta berupa Sunnatullah yaitu hukum-hukum Allah SWT yang oleh para sarjana disebut laws of nature ( hukum-hukum alam).
c. Allah SWT Maha Esa dalam perbuatan-perbuatan-Nya.
Pernyataan ini mengandung arti bahwa kita meyakini Tuhan Yang Maha Esa tiada bertara dalam melakukan sesuatu, sehingga hanya Dialah yang dapat berbuat menciptakan alam semesta ini. Perbuatan-Nya itu unik, lain dari yang lain, tiada taranya dan tidak sanggup pula manusia menirunya.
Kagumilah, misalnya, bagaimana Ia menciptakan diri kita sendiri dalam bentuk tubuh yang sangat baik, yang dilengkapi-Nya dengan pancaindera, akal, perasaan, kemauan, bahasa , pengalaman dan sebagainya.
Perhatikan pula susunan kimiawi materi-materi yang ada di alam ini. Misalnya H20, susunan kimiawi (materi ) zat air, NO2, zat asam, dan sebagainya.
Konsekuensi keyakinan bahwa Allah SWT Maha Esa dalam berbuat (perbuatannya) adalah seorang muslim tidak boleh mengagumi perbuatan- perbuatan manusia lain dan karyanya sendiri secara berlebih-lebihan. Manusia, baik sebagai perseorangan maupun sebagai kolektivitas, betapapun genial
20 | Agama dan Etika
(hebat atau luar biasa)nya, tidak boleh dijadikan obyek pemuj aan apalagi kalau disembah pula.
d. Allah SWT Maha Esa dalam wujud-Nya.
Ini berarti bahwa wujud Allah SWT lain sama sekali berbeda dari wujud alam semesta. Ia tidak dapat disamakan dan dirupakan dalam bentuk apapun juga.
Oleh karena itu Anthromorfisme (paham pengenaan ciri-ciri manusia pada alam seperti binatang atau benda mati apalagi pada tuhan) tidak ada dalam ajaran Islam.
Menurut keyakinan Islam, Allah SWT Maha Esa. Demikian Esa-Nya sehingga wujudnya tidak dapat disamakan dengan alam atau bagian-bagian alam yang merupakan ciptaan-Nya ini. EksistensiNya wajib. Karena itu Ia disebut wajibul wujud. Pernyataan ini mempunyai makna bahwa hanya Allahlah yang abadi dan wajib eksistensi atau wujud-Nya.
Selain dari Allah, semuanya mumkinul wujud. Artinya boleh (mungkin) ada, boleh (mungkin) tiada seperti eksitensi manusia dan seluruh alam semesta ini ada karena diadakan, jadi bagi alam berlaku hukum sebab akibat. Oleh karena itu alam ini karena ada permulaannya (dari diadakan) pasti ada akhirnya, sesuai sifatnya yang baru itu pada waktunya pasti akan mati atau hancur binasa.
Konsekuensi keyakinan yang demikian adalah setiap manusia muslim sebagai bagian alam, harus selalu sadar bahwa hidupnya hanyalah sementara di dunia ini, tempat ia diuji mengenai kepatuhan dan ketidakpatuhannya pada perintah-perintah dan larangan-larangan Allah SWT yang antara lain tercantum dalam syari' at-Nya. Pada suatu ketika kelak seluruh alam akan hancur binasa dan akan muncullah suatu Hidup sesudah Mati (Life after Death
21 | Agama dan Etika
) yang sifatnya lain sama sekali dari apa yang kita lihat dan rasakan di dunia ini.
Pada waktu itu nanti di hadapan Allah SWT Tuhan Yang Maha Adil, masing- masing manusia harus mempertanggung jawabkan setiap perbuatannya selama hidup di bumi ini.
Celakalah manusia yang bergelimang dalam dosa dan berbahagialah manusia yang beriman, yang yakin kepada Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa, dan takwa;
mematuhi perintah dan menj auhi larangan-Nya.
e. Allah SWT Maha Esa dalam menerima ibadah.
Ini berarti bahwa hanya Allah SWT sajalah yang berhak disembah dan menerima ibadah. Hanya Dialah satu-satunya yang patut dan harus disembah dan hanya kepada-Nya pula kita meminta pertolongan yang di maksud dengan ibadah adalah segala perbuatan manusia yang disukai Allah, baik dalam kata-kata terucapkan maupun dalam bentuk perbuatan-perbuatan lain, yang kelihatan dan tidak kelihatan. Konsekuensi keyakinan ini adalah hanya Dialah Allah SWT yang wajib kita sembah, hanya kepada-Nya pula seluruh shalat dan ibadah yang kita lakukan, kita niatkan dan kita persembahkan.
f. Allah SWT Maha Esa dalam menerima hajat dan hasrat manusia.
Artinya, bila seorang manusia hendak menyampaikan maksud, permohonan atau keinginannya langsunglah sampaikan kepada-Nya, kepada Allah SWT sendiri tanpa perantara atau media apapun namanya. Tidak ada sistem rahbaniyah atau kependetaan dalam Islam.
22 | Agama dan Etika
Semua manusia, kecuali para Nabi dan Rasul, mempunyai kedudukan yang sama dalam berhubungan langsung dengan Tuhan Yang Maha Esa.
Konsekuensi keyakinan ini adalah setiap muslim tidak memerlukan orang lain di dunia ini dalam menyampaikan hajat dan hasratnya kepada Allah.
g. Allah SWT Maha Esa dalam memberi hukum.
Ini berarti bahwa Allahlah satu-satunya pemberi Hukum yang Tertinggi. Ia memberi hukum kepada alam, seperti hukum-hukum alam yang kita kenal dengan hukum-hukum Archimedes, Boyle, Lavoisier, hukum relativitas, thermodynamic dan sebagainya.
Ia pula yang memberi hukum kepada ummat manusia bagaimana mereka harus hidup di bumi-Nya ini sesuai dengan ajaran-ajaran dan kehendak-Nya yang dengan sendirinya sesuai pula dengan hukum-hukum (yang berlaku di) alam semesta dan watak manusia, yang semuanya itu adalah ciptaan Allah.
Konsekuensi keyakinan seperti ini adalah seorang muslim wajib percaya pada adanya Hukum-Hukum Alam (Sunnatullah) baik dalam fisik maupun psikis dan spiritual yang tedapat dalam kehidupan, baik kehidupan individual maupun kehidupan sosial.
Sebagai muslim dan muslimah kita wajib taat dan patuh serta meyakini kebenaran hukum syari'at Allah SWT yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW kepada manusia dan menjadikannya sebagai Jalan Hidup kita.
Jalan yang dikehendaki Allah SWT menurut akidah, adalah Jalan Hidup Islam.
Jalan Hidup Islam itu disebut juga dengan istilah syari'at Islam. Dan karena syari'at Islam adalah pula Syari'at atau Hukum Allah, konsekuensinya adalah bagi ummat Islam yang secara teoritis dan praktis dengan bebas telah memilih
23 | Agama dan Etika
Islam sebagai agamanya, tidaklah ada jalan lain yang harus di tempuhnya selain berusaha sekuat tenaga mengikuti Jalan Hidup Islam itu sebaik-baiknya (Osman Raliby,dalam Mohammad Daud Ali: 1997; 203-207).
Uraian tentang ke-Maha Esa-an Tuhan tentang sifat-sifat Allah SWT tersebut di atas, dapat dikembangkan lebih lanjut secara rasional-filosofis dengan menyebut konsekuensinya terhadap seorang muslim.
2. Keyakinan kepada Malaikat
Malaikat adalah makhluk gaib, tidak dapat ditangkap oleh pancaindera manusia.
Akan tetapi, dengan izin Allah, malaikat dapat menjelmakan dirinya seperti manusia, seperti malaikat Jibril menjadi manusia dihadapan Maryam, ibu Isa a.s.
(Q.S. Maryam (19): 16-17).
اٗييِقۡ َشَ اٗن َكََم اَهِلۡه َ
أ ۡنِم ۡتَذَبَتنٱ ِذِإ َمَيۡرَم ِبَٰ َتِك ۡلٱ ِفِ ۡرُكۡذٱَو ١٦
اٗييِوَس اٗ َشََب اَه َل َلهثَمَتَف اَنَحوُر اَهۡ َلَِإ ٓاَنۡلَسۡرَأَف اٗباَجِح ۡمِهِنوُد نِم ۡتَذَ هتَّٱَف ١٧
16. Dan ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Al Qur’an, yaitu ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur
17. maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus roh Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna
Allah SWT menciptakan Malaikat dari Nur (cahaya) yang sebenarnya Allah SWT sendiri tidak memerlukan (tidak butuh) kepada malaikat sedikit pun, sebagaimana Allah SWT menciptakan manusia dan Allah SWT tidak membutuhkan sama sekali kepada manusia.
Karena malaikat itu makhluk Allah SWT yang ghaib, maka yang dituntut dari seorang yang beriman kepada Allah SWT hanya wajib percaya adanya. Tidak perlu
24 | Agama dan Etika
untuk membuktikan adanya malaikat. Untuk mengetahui bahwa malaikat itu ada dan diciptakan oleh Allah, seorang mukmin wajib percaya (yakin) pada keterangan-keterangan tentang malaikat ini dari sumber yang otentik yaitu Al- Qur'an dan Al Hadits.
Di dalam Al-Qur'an tidak dijelaskan asal kejadian malaikat, akan tetapi memberikan keterangan berupa tugas dan sifat malaikat, antara lain: Selalu taat dan patuh kepada Allah, tidak pernah maksiat kepada Allah. Keterangan ini dapat kita baca dalam Al-Qur'an ayat 6 Surat At-Tahrim
ٱ اَهُدوُقَو اٗراَن ۡمُكيِلۡه َ
أَو ۡمُك َسُفن َ
أ ْآوُق ْاوُنَماَء َنيِ لَّٱ اَهُّي ه َ أََٰٓي ٌةَكِئ ََٰٓلَم اَهۡيَلَع ُةَراَجِۡلۡٱَو ُساهلن
َنوُرَمۡؤُي اَم َنوُلَعۡفَيَو ۡمُهَرَم َ
أ ٓاَم َ هللَّٱ َنو ُصۡعَي لَ داَدِش ظ َلَِغ ه ٦
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat- malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan
Para malaikat mempunyai tugas tertentu di alam gaib, dan di alam dunia Tugas malaikat di alam dunia antara lain:
1) Menyampaikan wahyu Allah SWT kepada manusia melalui para Rasul-Nya 2) Mengukuhkan hati orang-orang yang beriman,
3) Memberi pertolongan kepada manusia, 4) Membantu perkembangan rohani manusia, 5) Mendorong manusia untuk berbuat baik,
6) Mencatat perbuatan manusia, dan Melaksanakan hukuman Allah.
Sedangkan di dalam Al-Hadits kita dapatkan keterangan Rasulullah SAW:
25 | Agama dan Etika
ُمَدآ َقِلُخ َو ٍراَن ْنِم ٍج ِراَم ْنِم ُّناَجْلا َقِلُخ َو ٍر ْوُن ْنِم ُةَكِئَلاَمْلا ِتَقِلُخ ْمُك َل َف ِص ُو اَّمِم.
“Malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari api yang menyala-nyala, dan Adam Alaihis sallam diciptakan dari apa yang telah disifatkan kepada kalian.” HR.
Ahmad (VI/153) dan Muslim (no. 2996 (60)).
Dari uraian tugas para malaikat tersebut di atas jelas bahwa tugas-tugas itu berhubungan langsung dengan penumbuhan dan pengembangan rohani manusia. Itulah salah satu sebabnya mengapa manusia wajib meyakini adanya makhluk yang bertugas untuk menumbuhkan dan mengembangkan rohaninya.
Kewajiban untuk percaya kepada malaikat dinyatakan dengan tegas oleh Allah SWT dalam firman-Nya di dalam Al-Qur'an surat al-Baqarah ayat 177:
َ ۡ
لَٱَو ِ هللَّٱِب َنَماَء ۡنَم ه ِبَ ۡ
لٱ هنِكََٰلَو ِبِرۡغَم ۡ
لٱَو ِقِ ۡشََم ۡ لٱ َلَبِق ۡمُكَهوُجُو ْاوُّلَوُت ن َ
أ ه ِبَ ۡ لٱ َسۡيهل۞
ِمۡو
ِييِبهلنٱَو ِبَٰ َتِك ۡلٱَو ِةَكِئََٰٓلَمۡلٱَو ِرِخلۡأٓٱ
ۧ َٰ َمَٰ َتَ ۡ
لَٱَو َٰ َبَۡرُقۡلٱ يِو َذ ۦِهِيبُح ََٰ َعَل َلاَمۡلٱ َتَاَءَو َن
َنوُفوُم ۡ لٱَو َةَٰوَكهزلٱ َتَاَءَو َةَٰوَل هصلٱ َماَق َ أَو ِباَقِيرلٱ ِفَِو َينِلِئٓاهسلٱَو ِليِبهسلٱ َنۡبٱَو َينِكَٰ َسَمۡلٱَو
َد َص َنيِ لَّٱ َكِئََٰٓلْوُأ ِۗ ِسۡأَ ۡلۡٱ َينِحَو ِءٓاه هضَّلٱَو ِءٓاَسۡأَ ۡلۡٱ ِفِ َنيِ ِبََٰهصلٱَو ُْۖاوُدَهََٰع اَذِإ ۡمِهِدۡهَعِب ه ُق
ُْۖاو
َنوُقهتُم ۡ
لٱ ُمُه َكِئ ََٰٓلْوُأَو ١٧٧
Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah
26 | Agama dan Etika
orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa
Beriman kepada para malaikat mempunyai konsekuensi terhadap seorang muslim. Konsekuensinya, seorang muslim harus meyakini adanya kehidupan rohani yang harus dikembangkan sesuai dengan dorongan para malaikat itu.
Selain para malaikat ada makhluk gaib lain ciptaan Allah. yang dimaksud adalah setan. Setan diciptakan dari api. Berbeda dengan malaikat yang mendorong manusia berbuat baik, pekerjaan setan adalah menyesatkan manusia. Kalau ada gerak di hati seseorang untuk berbuat jahat, itu tandanya manusia tersebut mendapat bisikan setan.
Jika ia ingin berbuat baik, itu indikasi bahwa malaikat berhasil menyampaikan bisikannya pada manusia yang bersangkutan. Gerak hati untuk melakukan perbuatan jahat atau gerak hati untuk berbuat baik di dalam diri seseorang ditimbang oleh akalnya. Allah SWT yang akan memberi keputusan. Keputusan akal menimbulkan kehendak (will) pada diri manusia yang bersangkutan.
Kehendak itu bebas (will itu free) memilih mana yang akan dilakukan.
Menurut ajaran Islam, setiap manusia mempunyai kecenderungan untuk berbuat baik dan atau berbuat jahat. Kecenderungan berbuat baik dikembangkan oleh malaikat dan kecenderungan berbuat jahat dimanfaatkan oleh setan dengan berbagai tipu daya.
Itulah sebabnya maka akal manusia yang mempertimbangkan kedua kecenderungan itu perlu diisi dengan iman kepada wahyu yang sengaja diturunkan Tuhan untuk menjadi pedoman hidup manusia.
27 | Agama dan Etika
Ada makhluk halus lain, yang juga diciptakan dari api, disebut iblis yang termasuk ke dalam kategori setan. Iblis adalah makhluk gaib yang berusaha dengan berbagai cara menjerumuskan manusia ke lembah kesesatan dengan merangsang nafsu rendah manusia, dan selalu berusaha mempengaruhi manusia agar berperilaku sama dengan iblis (Ghazalba, 1976: 38).
Selain dari apa yang telah dikemukakan di atas, ada makhluk halus lain yang disebut jin. Sama halnya dengan iblis yang dapat merupakan dirinya ke dalam berbagai bentuk, jin juga kadang-kadang dapat memperlihatkan dirinya sebagai makhluk biasa seperti binatang dan sebagai makhluk yang luar biasa (bentuknya).
Jin ada yang baik ada pula yang buruk, ada yang taat ada pula yang ingkar kepada Allah. Paham dan pendirian mereka sama dengan manusia. Dalam kepustakaan, yang baik dan patuh kepada Allah SWT disebut jin Islam, sedang yang jahat, yang tidak mau patuh kepada Allah SWT dinamakan jin kafir. Karena persamaannya itu kewajiban jin dan manusia juga sama yakni mengabdi kepada Allah.
ِنوُدُبۡعَ ِلَ ه لَِإ َسنِ ۡ
لۡٱَو هنِ لۡٱ ُتۡقَلَخ اَمَو ۡ ٥٦
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku (QS. Al-Zariyat:56).
Malaikat, setan, iblis dan jin adalah makhluk-makhluk halus, yang tidak dapat ditangkap oleh pancaindera manusia dalam bentuknya yang asli. Sebagai makhluk halus yang berada di alam gaib wujudnya sama dengan malaikat, tetapi sifat dan tugasnya berbeda. Malaikat mendorong manusia berbuat baik, sedang setan, iblis dan jin (kafir) pada umumnya mengajak manusia berbuat jahat.
Malaikat tidak mungkin diteliti oleh ilmu pengetahuan karena ia berada dalam alam gaib hakiki.
28 | Agama dan Etika
Pengetahuan manusia (biasa) mengenai alam gaib hakiki itu terbatas dan bersifat spekulatif pula. Hanya Allah SWT dan Rasul-Nya yang mampu memberikan pengetahuan yang pasti dan benar tentang itu. Melalui sunnah Nabi-Nya kita mendapat keterangan tambahan tentang tugas para malaikat. Di antaranya ada yang menyabut nyawa (Izrail), menjaga neraka (Malik), mengawal sorga (Ridwan), menanyai orang mati tentang imannya (Munkar dan Nakir), mencatat segala perbuatan manusia (Raqib dan `Atid). Ada pula malaikat (Israfil) yang meniupkan nafiri sangkakala untuk membangkitkan manusia di hari perhitungan kelak.
Tentang para malaikat hanya sedikit pengetahuan manusia. Itupun dalam garis- garis besarnya saja. Kita menerima kebenaran tentang adanya malaikat dan tugas-tugasnya itu melalui akal kita yakni akal sebagai kurnia Ilahi yang mengikatkan manusia pada Allah. Allah SWT menyampaikan wahyu-Nya kepada manusia melalui malaikat Jibril. Wahyu itu terhimpun dalam kitab-kitab suci.
3. Keyakinan kepada Kitab-Kitab Suci
Keyakinan kepada kitab-kitab suci merupakan Rukun Iman ketiga. Kitab-kitab suci itu memuat wahyu Allah. Perkataan kitab yang berasal dari kata kerja kataba (artinya ia telah menulis) memuat wahyu Allah. Perkataan wahyu berasal dari bahasa Arab: al-wahy. Kata ini mengandung makna suara, bisikan, isyarat, tulisan dan kitab.
Dalam pengertian yang umum wahyu adalah firman Allah SWT yang disampaikan malaikat Jibril kepada para Rasul-Nya. Dengan demikian dalam perkataan wahyu terkandung pengertian penyampaian firman Allah SWT kepada orang yang dipilih-Nya untuk diteruskan kepada umat manusia guna dijadikan pegangan hidup.
29 | Agama dan Etika
Firman Allah SWT itu mengandung ajaran, petunjuk, pedoman yang diperlukan oleh manusia dalam perjalanan hidupnya di dunia ini menuju akhirat. Wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul-Nya untuk disampaikan kepada umat manusia, semua terekam dengan baik di dalam Al- Qur'an, kitab suci ummat Islam.
Firman Allah SWT itu mengandung ajaran, petunjuk, pedoman yang diperlukan oleh manusia dalam perjalanan hidupnya di dunia ini menuju akhirat. Wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul-Nya untuk disampaikan kepada umat manusia, semua terekam dengan baik di dalam Al- Qur'an, kitab suci ummat Islam.
Al-Qur'an menyebut beberapa kitab suci misalnya Zabur yang diturunkan melalui Nabi Daud, Taurat melalui Nabi Musa, Injil melalui Nabi Isa, dan al-Qur'an melalui Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul-Nya.
Namun, dalam perjalanan sejarah, kecuali Al-Qur'an, isi kitab-kitab suci itu telah berubah, tidak lagi memuat firman-firman Allah SWT yang asli secara utuh sebagaimana disampaikan malaikat Jibril kepada para Rasul dahulu. Taurat dan Injil, misalnya dapat dibuktikan telah diubah, ditambah dan dikurangi isinya oleh tangan-tangan manusia yang menjadi pemimpin atau pemuka agama bersangkutan.
Sebagai ummat Islam kita wajib meyakini adanya kitab-kitab suci yang memuat ajaran tauhid, ajaran keesaan Allah SWT yang menjadi esensi semua kitab-kitab suci itu. Tetapi, kalau kita kaji kitab Taurat yang disebut juga Perjanjian Lama dan
30 | Agama dan Etika
Injil yang dinamakan Perjanjian Baru, isinya tidak lagi memuat firman Allah, tetapi telah berubah dari aslinya.
Dalam hubungan ini ada baiknya kalau dikemukakan pendapat Profesor Charles J. Adams, Gurubesar dan Direktur The Instintute of Islamic Studies McGill University, Montreal Canada (1970). Menurut Profesor Adams, "Sejak permulaan abad (XX) ini, para ilmuwan dengan seksama telah meneliti kitab-kitab suci agama yang diyakini pemeluk agama bersangkutan memuat wahyu Ilahi.
Menurut beliau, "Setelah lebih kurang tujuh puluh tahun lamanya para sarjana meneliti kitab-kitab suci itu, sampailah mereka pada suatu kesimpulan bahwa kitab suci yang masih asli memuat wahyu Ilahi yang disampaikan malaikat Jibril pada para Rasul-Nya dahulu (Musa, Isa, Muhammad), hanyalah Al-Qur’an. Kitab yang lain kata beliau, dapat dibuktikan tidak asli lagi, karena sudah ditambah atau diubah oleh para pemeluknya."
Perubahan ayat-ayat dalam kitab suci sebelum Al-Qur'an, ada yang dilakukan dengan sengaja ada pula yang tidak dengan sengaja. Ketidaksengajaan ini terjadi melalui terjemahan dari satu bahasa ke bahasa lain.
Dalam ilmu bahasa ada dalil yang menyatakan bahwa tidak mungkin satu bahasa diterjemahkan ke dalam bahasa lain dengan sempurna karena banyak istilah yang tidak sama atau tidak sepadan antara dua bahasa.
Dengan mempergunakan kata yang tidak seluruhnya sesuai dan setara itu, menyusuplah perubahan pengertian sekalipun sedikit. Himpunan yang sedikit itu, lama-lama menjadi bukit.
31 | Agama dan Etika
Ambilah Injil sebagai contoh kitab ini diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, masing-masing terjemahan diakui sebagai Injil, tetapi kata-kata yang dipergunakan dalam terjemahan edisi yang satu berbeda dengan edisi yang lain.
Hal ini meyebabkan ahli kritik Injil dari kalangan Nasrani sendiri mengakui bahwa dengan cara demikian telah terjadi perbedaan dan perubahan-perubahan dalam terjemahan-terjemahan dan edisi-edisi tersebut.
Untuk mencegah agar Al-Qur'an tidak megalami nasib yang sama dengan kitab suci lain, maka Al-Qur'an diterjemahkan ke dalam salah satu bahasa, teks asli Al- Qur'an di dalam bahasa Arab dipertahankan dan ditempatkan berdampingan dengan terjemahannya. Terjemahan Al-Qur'an bukanlah Al-Qur'an.
Perkataan Al-Qur'an berasal dari kata kerja qara-a artinya (dia telah) membaca.
Kata kerja ini berubah menjadi kata benda Qur’an yang secara harfiah berarti bacaan atau sesuatu yang harus dibaca atau dipelajari.
Di dalam Al-Qur'an sendiri ada pemakaian kata Qur'an dalam arti isim maf'ul yaitu magru' (dibaca) sebagaimana tersebut dalam Surat Al-Qiyamah ayat 17-18:
ۥُهَناَءۡرُقَو ۥُهَعۡ َجَ اَنۡيَلَع هنِإ ١٧
ۥُهَناَءۡرُق ۡعِبهتٱَف ُهََٰن ۡ
أَرَق اَذِإَف ١٨
17. Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya
18. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu Kemudian dipakai kata Al-Qur'an yang dikenal sekarang ini.
Adapun definisi Al-Qur'an adalah:
"Kalam Allah SWT yang merupakan mu'jizat yang diturunkan (diwahyukan) kepada Nabi Muhammad SAW dan yang ditulis dalam mushaf dan diriwayatkan
32 | Agama dan Etika
dengan mutawattir serta membacanya adalah ibadah." Demikian definisi Al- Qur'an menurut Dr. Subhi Al Salih.
Dengan definisi ini, kalam Allah SWT yang diturunkan kepada nabi-nabi sebelum Muhammad SAW. bukanlah Al-Qur’an seperti Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa as. Atau Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa as. Dengan demikian pula kalam Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. yang membacanya tidak dianggap sebagai ibadah, seperti Hadits Qudsi, tidak pula dinamakan Al-Qur'an.
Al-Qur'an diturunkan tidak sekaligus, akan tetapi ia diturunkan sedikit-demi sedikit selama 22 tahun 2 bulan 22 hari. Mula-mula di Makkah dan kemudian di Madinah. Secara garis besar Al-Qur’an berisi atau memuat soal-soal yang berkenaan dengan;
• Akidah
• Syariah baik ibadah maupun muamalah
• Akhlak dengan semua ruang lingkupnya.
• Kisah-kisah umat manusia di masa lampau
• Berita-berita tentang zaman yang akan datang
• Benih dan prinsi-prinsip ilmu pengetahuan, dasar-dasar hukum yang berlaku bagi alam semesta termasuk manusia di dalamnya.(Muhammad Daud Ali ; 1997: 217)
4. Keyakinan kepada Nabi dan Rasul
Yakin pada Nabi dan Rasul merupakan Rukun Iman yang keempat. Antara nabi dan rasul terdapat perbedaan tugas utama. Para Nabi menerima tuntunan atau wahyu dari Allah, akan tetapi tidak diwajibkan untuk menyampaikan kepada ummat manusia. Sedangkan Rasul adalah utusan Allah SWT yang menerima
33 | Agama dan Etika
wahyu dan wajib menyampaikan wahyu tersebut kepada ummat manusia. Oleh karena itu seorang Rasul pastilah Nabi, tetapi seorang Nabi belum tentu seorang Rasul.
Di dalam Al-Qur'an disebut nama 25 orang Nabi (dan Rasul), beberapa diantaranya berfungsi sebagai Rasul seperti Muhammad SAW, Isa As, Musa As, yang berkewajiban menyampaikan wahyu yang diterimanya kepada manusia dan menunjukkan cara-cara pelaksanaannya dalam kehidupan manusia sehari-hari.
Jumlah para Rasul yang pernah diutus oleh Allah SWT untuk memimpin manusia adalah 313 orang, sedangkan jumlah para nabi 124.000 orang . Sedangkan yang jelas disebut dalam Al-Qur'an ada 25 orang Nabi atau rasul. Perhatikan ayat berikut:
َصَق ۡدَق لَُسُرَو ٗ َٰ َسَوُم ُ هللَّٱ َم ه َكََو َۚكۡيَلَع ۡمُه ۡص ُصۡقَن ۡمهل ٗلَُسُرَو ُلۡبَق نِم َكۡيَلَع ۡمُهََٰن ۡص
اٗميِلۡكَت ١٦٤
164. Dan (Kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung ( QS. An-Nisa: 164).
Setelah para Nabi dan Rasul yang cukup banyak di atas diutus Allah SWT untuk membimbing dan memimpin masing-masing umatnya di muka bumi ini, Allah SWT mengutus Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul yang penutup/terakhir. Firman Allah SWT: