• Tidak ada hasil yang ditemukan

Keyakinan kepada Kitab-Kitab Suci

Keyakinan kepada kitab-kitab suci merupakan Rukun Iman ketiga. Kitab-kitab suci itu memuat wahyu Allah. Perkataan kitab yang berasal dari kata kerja kataba (artinya ia telah menulis) memuat wahyu Allah. Perkataan wahyu berasal dari bahasa Arab: al-wahy. Kata ini mengandung makna suara, bisikan, isyarat, tulisan dan kitab.

Dalam pengertian yang umum wahyu adalah firman Allah SWT yang disampaikan malaikat Jibril kepada para Rasul-Nya. Dengan demikian dalam perkataan wahyu terkandung pengertian penyampaian firman Allah SWT kepada orang yang dipilih-Nya untuk diteruskan kepada umat manusia guna dijadikan pegangan hidup.

29 | Agama dan Etika

Firman Allah SWT itu mengandung ajaran, petunjuk, pedoman yang diperlukan oleh manusia dalam perjalanan hidupnya di dunia ini menuju akhirat. Wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul-Nya untuk disampaikan kepada umat manusia, semua terekam dengan baik di dalam Al-Qur'an, kitab suci ummat Islam.

Firman Allah SWT itu mengandung ajaran, petunjuk, pedoman yang diperlukan oleh manusia dalam perjalanan hidupnya di dunia ini menuju akhirat. Wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul-Nya untuk disampaikan kepada umat manusia, semua terekam dengan baik di dalam Al-Qur'an, kitab suci ummat Islam.

Al-Qur'an menyebut beberapa kitab suci misalnya Zabur yang diturunkan melalui Nabi Daud, Taurat melalui Nabi Musa, Injil melalui Nabi Isa, dan al-Qur'an melalui Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul-Nya.

Namun, dalam perjalanan sejarah, kecuali Al-Qur'an, isi kitab-kitab suci itu telah berubah, tidak lagi memuat firman-firman Allah SWT yang asli secara utuh sebagaimana disampaikan malaikat Jibril kepada para Rasul dahulu. Taurat dan Injil, misalnya dapat dibuktikan telah diubah, ditambah dan dikurangi isinya oleh tangan-tangan manusia yang menjadi pemimpin atau pemuka agama bersangkutan.

Sebagai ummat Islam kita wajib meyakini adanya kitab-kitab suci yang memuat ajaran tauhid, ajaran keesaan Allah SWT yang menjadi esensi semua kitab-kitab suci itu. Tetapi, kalau kita kaji kitab Taurat yang disebut juga Perjanjian Lama dan

30 | Agama dan Etika

Injil yang dinamakan Perjanjian Baru, isinya tidak lagi memuat firman Allah, tetapi telah berubah dari aslinya.

Dalam hubungan ini ada baiknya kalau dikemukakan pendapat Profesor Charles J. Adams, Gurubesar dan Direktur The Instintute of Islamic Studies McGill University, Montreal Canada (1970). Menurut Profesor Adams, "Sejak permulaan abad (XX) ini, para ilmuwan dengan seksama telah meneliti kitab-kitab suci agama yang diyakini pemeluk agama bersangkutan memuat wahyu Ilahi.

Menurut beliau, "Setelah lebih kurang tujuh puluh tahun lamanya para sarjana meneliti kitab-kitab suci itu, sampailah mereka pada suatu kesimpulan bahwa kitab suci yang masih asli memuat wahyu Ilahi yang disampaikan malaikat Jibril pada para Rasul-Nya dahulu (Musa, Isa, Muhammad), hanyalah Al-Qur’an. Kitab yang lain kata beliau, dapat dibuktikan tidak asli lagi, karena sudah ditambah atau diubah oleh para pemeluknya."

Perubahan ayat-ayat dalam kitab suci sebelum Al-Qur'an, ada yang dilakukan dengan sengaja ada pula yang tidak dengan sengaja. Ketidaksengajaan ini terjadi melalui terjemahan dari satu bahasa ke bahasa lain.

Dalam ilmu bahasa ada dalil yang menyatakan bahwa tidak mungkin satu bahasa diterjemahkan ke dalam bahasa lain dengan sempurna karena banyak istilah yang tidak sama atau tidak sepadan antara dua bahasa.

Dengan mempergunakan kata yang tidak seluruhnya sesuai dan setara itu, menyusuplah perubahan pengertian sekalipun sedikit. Himpunan yang sedikit itu, lama-lama menjadi bukit.

31 | Agama dan Etika

Ambilah Injil sebagai contoh kitab ini diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, masing-masing terjemahan diakui sebagai Injil, tetapi kata-kata yang dipergunakan dalam terjemahan edisi yang satu berbeda dengan edisi yang lain.

Hal ini meyebabkan ahli kritik Injil dari kalangan Nasrani sendiri mengakui bahwa dengan cara demikian telah terjadi perbedaan dan perubahan-perubahan dalam terjemahan-terjemahan dan edisi-edisi tersebut.

Untuk mencegah agar Al-Qur'an tidak megalami nasib yang sama dengan kitab suci lain, maka Qur'an diterjemahkan ke dalam salah satu bahasa, teks asli Al-Qur'an di dalam bahasa Arab dipertahankan dan ditempatkan berdampingan dengan terjemahannya. Terjemahan Al-Qur'an bukanlah Al-Qur'an.

Perkataan Al-Qur'an berasal dari kata kerja qara-a artinya (dia telah) membaca.

Kata kerja ini berubah menjadi kata benda Qur’an yang secara harfiah berarti bacaan atau sesuatu yang harus dibaca atau dipelajari.

Di dalam Al-Qur'an sendiri ada pemakaian kata Qur'an dalam arti isim maf'ul yaitu magru' (dibaca) sebagaimana tersebut dalam Surat Al-Qiyamah ayat 17-18:

ۥُهَناَءۡرُقَو ۥُهَعۡ َجَ اَنۡيَلَع هنِإ ١٧

ۥُهَناَءۡرُق ۡعِبهتٱَف ُهََٰن ۡ

أَرَق اَذِإَف ١٨

17. Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya

18. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu Kemudian dipakai kata Al-Qur'an yang dikenal sekarang ini.

Adapun definisi Al-Qur'an adalah:

"Kalam Allah SWT yang merupakan mu'jizat yang diturunkan (diwahyukan) kepada Nabi Muhammad SAW dan yang ditulis dalam mushaf dan diriwayatkan

32 | Agama dan Etika

dengan mutawattir serta membacanya adalah ibadah." Demikian definisi Al-Qur'an menurut Dr. Subhi Al Salih.

Dengan definisi ini, kalam Allah SWT yang diturunkan kepada nabi-nabi sebelum Muhammad SAW. bukanlah Al-Qur’an seperti Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa as. Atau Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa as. Dengan demikian pula kalam Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. yang membacanya tidak dianggap sebagai ibadah, seperti Hadits Qudsi, tidak pula dinamakan Al-Qur'an.

Al-Qur'an diturunkan tidak sekaligus, akan tetapi ia diturunkan sedikit-demi sedikit selama 22 tahun 2 bulan 22 hari. Mula-mula di Makkah dan kemudian di Madinah. Secara garis besar Al-Qur’an berisi atau memuat soal-soal yang berkenaan dengan;

• Akidah

• Syariah baik ibadah maupun muamalah

• Akhlak dengan semua ruang lingkupnya.

• Kisah-kisah umat manusia di masa lampau

• Berita-berita tentang zaman yang akan datang

• Benih dan prinsi-prinsip ilmu pengetahuan, dasar-dasar hukum yang berlaku bagi alam semesta termasuk manusia di dalamnya.(Muhammad Daud Ali ; 1997: 217)