• Tidak ada hasil yang ditemukan

SELEKSI UMPAN DAN KEMIRINGAN DINDING PERANGKAP JODANG ADITYA JAKA SEMBADA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SELEKSI UMPAN DAN KEMIRINGAN DINDING PERANGKAP JODANG ADITYA JAKA SEMBADA"

Copied!
91
0
0

Teks penuh

(1)

PERANGKAP JODANG

ADITYA JAKA SEMBADA

MAYOR TEKNOLOGI DAN MANAJEMEN PERIKANAN TANGKAP DEPARTEMEN PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERIKANAN

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR 2010

(2)

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul Seleksi Umpan dan Kemiringan Dinding Perangkap Jodang adalah benar merupakan hasil karya saya sendiri dan belum pernah diajukan dalam bentuk apapun kepada Perguruan Tinggi manapun. Adapun semua sumber data dan informasi berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun yang tidak diterbitkan dari penulis lain, telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka di bagian akhir skripsi.

Bogor, Juli 2010

Aditya Jaka Sembada

(3)

ADITYA JAKA SEMBADA. Seleksi Umpan dan Kemiringan Dinding Perangkap Jodang. Dibimbing oleh: GONDO PUSPITO.

Keong macan (Babylonia spirata) adalah organisme yang masuk ke dalam kelas Gastropoda dan memiliki nilai ekonomis tinggi. Permintaan yang tinggi terhadap organisme tersebut menyebabkan eksploitasi sumberdayanya berlebihan sehingga mengancam kelestariannya. Salah satu alat tangkap yang dipakai untuk menangkap keong macan di perairan Teluk Palabuhanratu adalah perangkap jodang. Perangkap jodang yang digunakan oleh nelayan memiliki bermacam- macam sudut kemiringan dan menangkap keong macan dengan ukuran yang beragam. Ini mengancam kelestarian sumberdaya keong macan. Padahal keong macan yang sebaiknya ditangkap memiliki ukuran panjang cangkang p ≥ 4,27 cm.

Penelitian ini dilakukan untuk menentukan sudut kemiringan dinding perangkap jodang yang paling produktif dalam menangkap keong macan berukuran layak tangkap. Pendekatan yang dilakukan pada penelitian ini adalah menggunakan metode eksperimental. Data dianalisis menggunakan RAL (rancangan acak lengkap). Kemiringan dinding perangkap jodang sangat berpengaruh terhadap hasil tangkapan. Apabila kemiringan dinding perangkap jodang sesuai, maka akan mempermudah keong macan ukuran layak tangkap untuk masuk ke dalam perangkap. Sudut kemiringan dinding perangkap jodang yang diuji adalah 30o, 40o, dan 50o. Sebelum dilakukan pengujian konstruksi dinding, penentuan jenis umpan dilakukan terlebih dahulu. Umpan yang digunakan adalah ikan tembang, cucut, dan layur. Berdasarkan penelitian didapatkan jenis umpan yang paling produktif menangkap keong macan adalah ikan tembang yaitu sebanyak 157 individu (46,87%). Sementara itu, untuk analisis hasil tangkapan berdasarkan sudut kemiringan didapat sudut kemiringan dinding perangkap 50o mampu menangkap keong macan ukuran layak tangkap lebih banyak dibandingkan dengan sudut kemiringan dinding perangkap yang lain, yaitu sebanyak 9 individu (2,69%).

Kata kunci : kemiringan dinding, konstruksi kemiringan, perangkap jodang

(4)

© Hak Cipta IPB Tahun 2010 Hak cipta dilindungi Undang-Undang

1) Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebut sumber:

a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah.

b. Pengutipan tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB.

2) Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis dalam bentuk apapun tanpa seizin IPB.

(5)

PERANGKAP JODANG

ADITYA JAKA SEMBADA

Skripsi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Perikanan pada

Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan

MAYOR TEKNOLOGI DAN MANAJEMEN PERIKANAN TANGKAP DEPARTEMEN PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERIKANAN

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR 2010

(6)

NRP : C44062481

Mayor : Teknologi dan Manajemen Perikanan Tangkap

Disetujui : Pembimbing

Dr. Ir. Gondo Puspito, M.Sc.

NIP 19630524 198803 1 010

Diketahui :

Ketua Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan

Dr. Ir. Budi Wiryawan, M.Sc.

NIP 19621223 198703 1 001

Tanggal Lulus :

(7)

Ucapan terima kasih yang sebesar-besranya penulis sampaikan kepada:

1) Allah SWT. dan Nabi Muhammad SAW, karena atas berkat dan limpahan karunia-Nya, skripsi ini bisa terselesaikan;

2) Dr. Ir. Gondo Puspito, M.Sc sebagai pembimbing skripsi, atas arahan dan bimbingan kepada penulis sehingga penulisan skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik;

3) Orang tua (Jaka Saryanta dan Oktovia Sri Rita Purwaningsih) yang tidak terhitung jasanya kepada penulis, dan adik-adikku (Bagus Jaka Widyaksana dan Cindy Puspita Sari) yang telah memberi dorongan dan semangat kepada penulis;.

4) Dosen penguji Ir. Diniah, MS. dan Vita Rumanti K. S.Pi;

5) Para dosen dan staf Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan atas ilmu dan pelayanannya yang telah diberikan kepada penulis;

6) Ayu Adhita Damayanti dan Gini Al Ghazali, selaku teman seperjuangan yang membantu dalam melaksanakan penelitian ini;

7) Kang Wahyu beserta ABK KM Alisa (Kang Wawan, Abah, Mang Ade), atas segala bantuan dan kerja samanya selama melakukan penelitian;

8) Teman dekatku Ratu Ladya Putrinatami yang selalu menginspirasi dan mendoakan penulis untuk tetap bersemangat dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini;

9) Sahabat-sahabat PSP 43 yang selalu memberi semangat dan doa untuk penulis;

10) Teman-teman di kelas B-13 dan B-14 TPB, khususnya B-14 (2006-2007), The Chamens (Maria, Gini, Yasa, Emo), Komunitas Stevia (Alan, Cicho, Dempo, Patra) (2006-2008), MAX!! IPB, dan alumni SMA Regina Pacis Bogor, SMP Regina Pacis Bogor, SD Regina Pacis Bogor yang telah memberikan semangat dan dukungan kepada penulis;

11) Teman-teman 40tudo (Fourty to do) Band, Vicky Christoper Limarta, Kevin Kristanto, Nikolas Adiyanto, Noviana Liauwan dan Confeito yang telah meberikan dukungan kepada penulis; dan

(8)
(9)

Penulis lahir di Pekalongan, Jawa Tengah, pada tanggal 24 Maret 1988 dari pasangan Drs. Jaka Saryanta dan Oktovia Sri Rita Purwaningsih sebagai anak pertama dari 3 bersaudara. Riwayat pendidikan penulis dimulai dari TK Regina Pacis Bogor antara tahun 1992-1994, SD Regina Pacis Bogor tahun 1994-2000, SLTP Regina Pacis Bogor tahun 2000-2003, dan SMU Regina Pacis Bogor tahun 2003-2006. Selanjutnya pada tahun 2006 penulis diterima di Institut Pertanian Bogor melalui jalur SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru). Tahun pertama di IPB, penulis terdaftar sebagai mahasiswa Tingkat Persiapan Bersama (TPB). Tahun berikutnya penulis terseleksi masuk ke Mayor Teknologi dan Manajemen Perikanan Tangkap, Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan.

Selama mengikuti kegiatan perkuliahan, penulis aktif pada tiga organisasi kemahasiswaan. Organisasi tersebut antara lain UKM MAX!! pada periode 2006- 2009 sebagai staf divisi EO (Event Organizer), Himpunan Mahasiswa Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan periode 2008-2009 sebagai Kepala Departemen Pengembangan Minat dan Bakat, Himpunan Mahasiswa Perikanan Tangkap Indonesia periode 2008-2009 sebagai staff divisi humas. Penulis juga terdaftar sebagai asisten mata kuliah Eksplorasi Penangkapan Ikan (2010) dan mata kuliah Navigasi Kapal Perikanan (2010).

Dalam rangka menyelesaikan tugas akhir, penulis melakukan penelitian dan menyusun skripsi dengan judul “Seleksi Umpan dan Kemiringan Dinding Perangkap Jodang”. Penulis dinyatakan lulus pada 12 Juli 2010.

(10)

Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana Perikanan pada Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Judul skripsi ini adalah

“Seleksi Umpan dan Kemiringan Dinding Perangkap Jodang.”

Penelitian menggunakan jenis umpan dan kemiringan dinding perangkap yang sama dengan nelayan. Seluruh penelitian dilakukan langsung di perairan Teluk Palabuhanratu, Sukabumi, Jawa Barat. Adapun pengoperasian perangkap disesuaikan dengan cara operasi penangkapan yang dilakukan oleh nelayan.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih harus disempurnakan. Oleh karena itu penulis mengharapkan masukan berupa kritik dan saran yang membangun untuk penyempurnaan skripsi ini.

Semoga skripsi ini bermanfaat bagi semua pihak yang membutuhkannya.

Bogor, Juli 2010

Aditya Jaka Sembada

(11)

Halaman

DAFTAR GAMBAR ... xiii

DAFTAR LAMPIRAN... xvi

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Tujuan Penelitian ... 2

1.3 Hipotesis... 3

1.3 Manfaat Penelitian ... 3

2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Biologi Keong Macan (Babylonia spirata) ... 4

2.1.1 Klasifikasi dan identifikasi ... 4

2.1.2 Struktur cangkang ... 5

2.1.3 Makanan dan cara makan ... 6

2.1.4 Ekologi dan daerah penyebaran ... 6

2.2 Unit Penangkapan Ikan ... 7

2.2.1 Perangkap jodang ... 7

2.2.2 Perahu dan nelayan ... 8

2.3 Metode Pengoperasian Alat ... 9

2.4 Daerah Pengoperasian dan Musim Penangkapan... 10

3 METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat ... 11

3.2 Alat dan Bahan ... 11

3.3 Metode Penelitian ... 13

3.4 Analisis Data ... 15

3.4.1 Penentuan umpan pada perangkap jodang yang terbanyak dimasuki keong macan ... 15

3.4.2 Penentuan sudut kemiringan dinding perangkap yang terbanyak menangkap keong macan... 15

3.4.3 Rancangan percobaan... 16

4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Komposisi Hasil Tangkapan... 18

4.2 Pengaruh Umpan Perangkap Jodang Terhadap Hasil Tangkapan.... ... 20

4.2.1 Distribusi jenis dan jumlah hasil tangkapan total... 20

4.2.2 Distribusi jumlah hasil tangkapan utama... 20

3.4.1 Distribusi jumlah hasil tangkapan sampingan. ... 22

4.2.4 Umpan perangkap jodang pilihan... 28

4.3 Pengaruh Sudut Kemiringan Dinding Perangkap Jodang terhadap Hasil Tangkapan... 29

4.3.1 Distribusi jenis dan jumlah hasil tangkapan total... 29

4.3.2 Distribusi jumlah hasil tangkapan utama... 31

xi

(12)

xii

5.1 Kesimpulan... 47

5.2 Saran... 47

DAFTAR PUSTAKA ... 48

LAMPIRAN ... 50

(13)

xiii

Halaman

1 Anatomi tubuh keong macan ... . 4

2 Konstruksi jodang ... . 12

3 Desain dan konstruksi perangkap jodang... 12

4 Morfologi cangkang keong macan (Babylonia spirata) ... 14

5 Susunan perangkap jodang ketika dioperasikan ... 14

6 Komposisi jumlah hasil tangkapan perangkap jodang ... 18

7 Komposisi jumlah hasil tangkapan sampingan perangkap jodang... 19

8 Komposisi jumlah hasil tangkapan pada perangkap jodang dengan umpan ikan tembang, ikan cucut, dan ikan layur... 21

9 Komposisi jumlah hasil tangkapan sampingan pada perangkap jodang dengan umpan ikan tembang ... 22

10 Komposisi jumlah hasil tangkapan sampingan keong pada perangkap jodang dengan umpan ikan tembang ... 23

11 Komposisi jumlah hasil tangkapan sampingan kepiting pada perangkap jodang dengan umpan ikan tembang ... 23

12 Komposisi jumlah hasil tangkapan sampingan pada perangkap jodang dengan umpan ikan cucut ... 24

13 Komposisi jumlah hasil tangkapan sampingan keong pada perangkap jodang dengan umpan ikan cucut... 24

14 Komposisi jumlah tangkapan sampingan kepiting pada perangkap jodang umpan ikan cucut ... 25

15 Komposisi jumlah hasil tangkapan sampingan pada perangkap jodang dengan umpan ikan layur. ... 25

16 Komposisi jumlah hasil tangkapan sampingan keong pada perangkap jodang dengan umpan ikan layur ... 26

17 Komposisi jumlah hasil tangkapan sampingan kepiting pada perangkap jodang dengan umpan ikan layur ... 26

18 Komposisi jumlah hasil tangkapan pada perangkap jodang dengan umpan ikan tembang, ikan cucut, dan ikan layur ... 28

19 Komposisi jumlah hasil tangkapan keong macan, keong, dan kepiting pada perangkap jodang dengan umpan ikan tembang, ikan cucut, dan ikan layur ... 29

20 Komposisi jumlah hasil tangkapan keong macan tiap sudut perangkap ... 30

21 Komposisi ukuran keong macan keseluruhan dan keong macan ukuran layak tangkap ... 31

(14)

xiv

kemiringan 40 ... 32 24 Komposisi jumlah hasil tangkapan total keong macan pada sudut

kemiringan 50o ... 33 25 Komposisi jumlah hasil tangkapan total keong macan dan keong

macan ukuran layak tangkap... 34 26 Komposisi jumlah hasil tangkapan sampingan perangkap jodang sudut

30o ... 35 27 Komposisi jumlah hasil tangkapan sampingan keong pada perangkap

jodang sudut 30o ... 35 28 Komposisi jumlah hasil tangkapan sampingan keong berdasarkan

panjang cangkang pada sudut 30o ... 36 29 Komposisi jumlah hasil tangkapan sampingan kepiting pada perangkap

jodang sudut 30o ... 37 30 Komposisi jumlah hasil tangkapan sampingan kepiting berdasarkan

lebar karapas pada perangkap jodang sudut 30o ... 37 31 Komposisi jumlah hasil tangkapan sampingan perangkap jodang sudut

40o ... 38 32 Komposisi jumlah hasil tangkapan sampingan keong pada perangkap

jodang sudut 40o ... 38 33 Komposisi jumlah hasil tangkapan sampingan keong berdasarkan

panjang cangkangnya pada sudut 40o ... 39 34 Komposisi jumlah hasil tangkapan sampingan kepiting pada perangkap

jodang sudut 40o ... 40 35 Komposisi jumlah hasil tangkapan sampingan kepiting berdasarkan

lebar karapasnya pada perangkap jodang sudut 40o ... 40 36 Komposisi jumlah hasil tangkapan sampingan perangkap jodang sudut

50o ... 41 37 Komposisi jumlah hasil tangkapan sampingan keong pada perangkap

jodang sudut 50o ... 41 38 Komposisi jumlah hasil tangkapan sampingan keong berdasarkan

panjang cangkangnya pada sudut 50o ... 42 39 Komposisi jumlah hasil tangkapan sampingan kepiting pada perangkap

jodang sudut 50o ... 42 40 Komposisi jumlah hasil tangkapan sampingan kepiting berdasarkan

lebar karapasnya pada perangkap jodang sudut 50o ... 43 41 Komposisi jumlah hasil tangkapan antara kepiting dan keong pada

perangkap jodang dengan sudut 30o, 40o, dan 50o ... 44

(15)

xv

perangkap jodang dengan sudut 30o, 40o, dan 50o ... 46

(16)

xvi

1 Lokasi penelitian ... . 51

2 Foto umpan yang digunakan dalam pengoperasian perangkap jodang ... . 52

3 Data dimensi cangkang hasil tangkapan keong macan ... 53

4 Foto perangkap jodang ... 62

5 Foto-foto hasil tangkapan ... 63

6 Data rata-rata ukuran panjang cangkang keong macan yang merayap pada setiap sudut kemiringan dinding perangkap jodang ... 66

7 Hasil pengujian asumsi jumlah keong macan yang merayap pada setiap sudut kemiringan dinding perangkap jodang ... 67

8 Daftar analisis ragam ... 69

9 Uji BNT (Beda Nyata Terkecil) untuk perlakuan sudut kemiringan dinding perangkap ... 70

10 Data jumlah keong macan yang tertangkap pada setiap umpan perangkap jodang ... 71

11 Hasil pengujian asumsi jumlah keong macan yang tertangkap pada setiap umpan perangkap jodang ... 72

12 Daftar analisis ragam ... 74

13 Uji BNT (Beda Nyata Terkecil) untuk perlakuan umpan pada perangkap jodang ... 75

(17)

1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perangkap jodang adalah salah satu alat yang digunakan untuk menangkap keong macan (Babylonia spirata L.). Alat ini diklasifikasikan ke dalam perangkap. Bentuknya berupa limas persegi terpancung. Bagian atasnya terdapat lubang yang berfungsi sebagai pintu masuk, sedangkan bagian dasarnya berfungsi sebagai tempat menampung hasil tangkapan.

Penggunaan perangkap jodang masih terbatas pada beberapa daerah yang menghasilkan keong macan, misalkan perairan Palabuhanratu, Kepulauan Seribu, dan Cianjur Selatan. Pada kedua daerah ini, konstruksi perangkap jodang yang digunakan adalah sama. Perbedaannya hanya terletak pada ukurannya yang sangat bervariasi.

Konstruksi perangkap jodang dibuat tanpa perhitungan, sehingga ukurannya bermacam-macam. Sudut kemiringan dindingnya tidak seragam. Untuk panjang dinding yang sama, perangkap jodang yang dibuat dengan sudut kemiringan dinding yang besar akan lebih tinggi dibandingkan dengan perangkap jodang yang dibuat dengan sudut kemiringan dinding rendah. Adapun jika ketinggian perangkap dibuat sama, maka perangkap yang dibentuk oleh dinding dengan sudut kemiringan yang rendah akan memiliki ukuran pintu masuk yang lebih besar. Berdasarkan pengamatan di lapang, sudut kemiringan dinding perangkap jodang yang umum digunakan nelayan adalah 30o, 40o, dan 50o dengan ketinggian sekitar 15 cm.

Perangkap jodang dioperasikan secara pasif dan menggunakan umpan sebagai penarik. Keong macan yang mendeteksi keberadaan umpan akan merayapi dinding perangkap menuju pintu masuk di bagian atas. Kecepatan keong macan menuju pintu masuk kemungkinan besar dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya sudut kemiringan dinding. Penelitian ini akan mencoba menentukan sudut kemiringan dinding perangkap yang paling mudah dirayapi oleh keong macan dengan cara mengoperasikan perangkap langsung di laut. Ini didasarkan pada pemikiran bahwa semakin rendah sudut kemiringan dinding, maka beragam ukuran dan jenis hasil tangkapan, baik itu tangkapan utama

(18)

maupun tangkapan sampingan, akan dengan mudah tertangkap. Sementara untuk sudut dengan kemiringan dinding lebih tinggi, hanya jenis dan ukuran tertentu saja yang dapat tertangkap. Hal ini sesuai dengan prinsip seleksi organisme tangkapan yang hanya mencari jenis dan ukuran tertentu. Sudut kemiringan dinding yang diujikan adalah 30o, 40o, dan 50o. Ukuran bagian dasar untuk setiap kemiringan dinding tidak sama sedangkan untuk ukuran pintu masuk perangkap dibuat sama dengan ukuran 10 × 10 (cm). Ini dikarenakan panjang dinding atau lintasan merayap keong dibuat sama. Sudut kemiringan dinding yang termudah dirayapi oleh keong macan diindikasikan dengan jumlah tangkapan perangkap tersebut yang lebih banyak dibandingkan dengan perangkap lainnya dengan sudut kemiringan yang berbeda. Hasil penelitian ini nantinya diharapkan dapat menjadi standar dalam merancang sudut kemiringan dinding perangkap jodang yang lebih mudah dirayapi keong macan.

Beberapa literatur yang didapatkan hanya membahas masalah selektivitas jaring bagian dasar perangkap (Naja, 2004 dan Kristian, 2005). Namun demikian, kedua tulisan tersebut akan tetap dijadikan sebagai bahan masukan dalam melakukan penulisan skripsi.

Keberhasilan penangkapan keong macan dengan perangkap jodang sangat dipengaruhi oleh jenis umpan. Oleh karena itu, pada penelitian ini juga akan ditentukan jenis umpan yang paling disukai oleh keong macan. Tiga macam umpan yang dicobakan adalah ikan tembang, layur, dan cucut. Pemilihan umpan didasarkan atas ketersediaan ikan yang ada di tempat penelitian. Uji umpan dilakukan langsung di laut. Jenis umpan yang disukai oleh keong macan akan diindikasikan oleh jumlah tangkapan keong macan yang lebih banyak pada satu perangkap dibandingkan dengan perangkap yang menggunakan umpan lainnya.

1.2 Tujuan Penelitian

Penelitian ditujukan untuk mendapatkan : 1) Jenis umpan yang disukai keong macan; dan

2) Sudut kemiringan dinding perangkap jodang yang paling baik untuk menangkap keong macan.

(19)

1.3 Hipotesis

Hipotesis dari penelitian ini adalah

1) Sesuai dengan tingkah laku keong, semakin landai sudut kemiringan jodang, maka hasil tangkapan yang didapat akan semakin banyak; dan

2) Semakin pekat bau yang ditimbulkan oleh umpan, maka hasil tangkapan juga akan semakin banyak.

1.4 Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini adalah sebagai bahan masukan bagi para nelayan perangkap jodang di daerah Palabuhanratu untuk menggunakan perangkap jodang dengan sudut kemiringan dan jenis umpan yang paling efektif dalam menangkap keong macan berukuran layak tangkap. Ini dimaksudkan agar operasi penangkapan keong macan dapat dilakukan dengan efektif dan efisien, baik itu dalam hal tenaga, waktu, dan biaya.

(20)

2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Biologi Keong Macan (Babylonia spirata) 2.1.1 Klasifikasi dan identifikasi

Klasifikasi keong macan (Babylonia spirata, L), menurut Abbot & Boss (1989), adalah:

Filum: Moluska Kelas: Gastropoda

Subkelas: Prosobranchia Ordo: Neogastropoda

Super famili: Muricoidea Famili: Buccinidae

Genus: Babylonia

Spesies: Babylonia spirata (Linnaeus, 1758)

Gambar 1 Anatomi tubuh keong macan (Abbot & Boss, 1989).

Keong macan adalah hewan molusca dengan cangkang berbentuk lonjong, tebal, berat dan berwarna putih dengan ciri bintik-bintik coklat hitam yang tidak teratur. Anatomi perut mengikuti bentuk melingkar dari cangkang ke arah belakang. Bentuk kepalanya sangat jelas dengan sepasang tentakel, mata dan

(21)

radula. Keong macan merupakan biota laut yang berasal dari kelas Gastropoda (Naja, 2004).

2.1.2 Struktur cangkang

Cangkang berbentuk oval, tebal, dan berat dengan spire bertingkat dan tampak terdorong masuk ke bodywhorl. Bagian cangkang keong macan yang tertua disebut apex. Letak apex berada di puncak, berbentuk kerucut dan berjumlah satu buah. Sumbu kerucut disebut dengan columella. Columella melengkung yang menyebar pada bagian dalam bibir dan sering menutupi umbilicus. Gelung atau konde terbesar disebut body whorl, sedangkan gelung- gelung kecil di atasnya disebut spire. Letak spire bertingkat dengan sebuah apex pada ujungnya. Setiap ulir pada spire disebut sebagai suture. Semakin ke arah bawah cangkang, ukuran suture akan semakin membesar. Antara bibir dalam (inner lip) dan gelung terbesar (body whorl) terdapat umbilicus, yaitu ujung columella yang berupa celah yang dalam (bisa berupa celah sempit maupun lebar) (Suwigno et. al., 1997). Umbilicus terletak pada tepi yang tebal, ukuran 3,5-4,5 mm.

Cangkang Gastropoda paling luar disebut periostrakum dengan zat pembentuk bahan protein seperti pada zat pembentuk tanduk (conchiolin atau conchin). Terdapat endapan pigmen pada lapisan ini sehingga membuat cangkang menjadi berwarna atau mempunyai corak, seperti garis-garis atau bercak-bercak berwarna. Periostrakum berfungsi untuk melindungi lapisan yang berada tepat di bawahnya (lapisan yang terbentuk dari kalsium karbonat) dari proses erosi (Suwignyo et. al., 1997). Lapisan kalsium karbonat yang menyusun cangkang moluska terdiri atasi 3 lapisan atau lebih. Bagian terluar adalah lapisan perismatik atau polisade, lapisan tengah adalah camella, dan lapisan paling dalam adalah nacre atau hypostracum.

Struktur cangkang terbuat dari kalsium karbonat dengan kadar 88-89%.

Sebagian lainnya terdiri atas 1-2% phospat, bahan organik conchiolin dan air.

Pada bagian luar cangkang terdapat struktur yang agak kasar yang disebut sebagai lapisan perismatik. Lapisan nacreous yang mengkilap mengandung lebih banyak conchiolin daripada lapisan perismatik (Dharma, 1988 vide Damayanti, 2009).

(22)

Pola pertumbuhan cangkang moluska, baik ketebalannya, kekuatan, ornamen, dan warnanya sangat tergantung kepada faktor ketersediaan makanan pada lingkungannya (Dance, 1977 vide Damayanti, 2009). Secara kontinyu, moluska membentuk cangkang baru dengan menambah luasan sisi mantel.

Tujuannya adalah untuk perlindungan. Proses pembentukan cangkang baru sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, seperti makanan, cahaya, dan suhu air. Cangkang memiliki bermacam warna yang dipengaruhi oleh sel pigmen. Sel pigmen terdapat pada mantel dan ditransfer melalui proses sekresi menuju cangkang. Warna yang terjadi pada cangkang merupakan pengendapan pigmen yang teratur yang terdapat pada tepi mantel.

2.1.3 Makanan dan cara makan

Makanan merupakan faktor penting yang mempengaruhi pertumbuhan dari suatu mahkluk hidup. Untuk mendapatkan pertumbuhan yang optimal, maka diperlukan makanan dengan jumlah dan mutu yang sesuai dan juga kondisi perairan yang sesuai. Menurut Ruppert & Barnes (1991), keong macan termasuk kedalam kelompok prosobranchia, yaitu kelompok hewan karnivor yang menggunakan radula sebagai alat bantu makan. Radula pada prosobranchia mengalami berbagai modifikasi bentuk, antara lain berupa alat pemotong, pemegang, pencabik, dan pembawa mangsa. Prosobranchia karnivor sering mengalami proses adaptasi, seperti bagian probosis yang memanjang yang digunakan untuk mencapai dan menembus mangsa. Probosis sendiri adalah bagian dari saluran pencernaan yang terdiri atas esofagus, buccal cavity, dan radula. Probosis terletak di dalam kantung atau rongga probosis. Pada saat makan, probosis menjulur keluar akibat tekanan darah yang terjadi. Babylonia spirata sendiri adalah jenis prosobranchia pemakan daging bangkai yang lebih menyukai daging bangkai segar sebagai makanannya.

2.1.4 Ekologi dan daerah penyebaran

Menurut Yulianda (1999), keong macan termasuk organisme bentik yang hidup di dasar perairan dengan substrat pasir berlumpur. Organisme bentik merupakan organisme yang hidup di dasar laut atau dekat dasar perairan (Sabelli,

(23)

1979). Organime bentik merupakan penghuni dasar laut terbesar. Keong macan mampu mengubur diri dalam substrat yang lunak walaupun hanya beberapa milimeter saja. Cangkang yang tebal dan kuat merupakan pelindung bagi tubuh keong macan dan sekaligus sebagai pemberat agar dapat bertahan di dasar perairan. Selain itu, keong macan juga mempunyai operculum atau penutup mulut yang berfungsi mempertahankan kadar air dan juga sebagai pelindung tubuh dari predator.

Keong macan di India ditemukan pada zona litoral terutama dasar perairan dengan substrat pasir yang berlumpur, biasanya pada kedalaman 9-27 m (Shanmugaraj et. al., 1994 vide Martanti, 2001). Spesies keong macan yang lain juga ditemukan di daerah Thailand, yaitu Babylonia aerolata (L). Keong jenis ini hidup pada zona litoral dengan dasar pasir berlumpur pada kedalaman 5-15 m.

Keong macan yang ditemukan di Teluk Palabuhanratu hidup pada dasar perairan berpasir dengan kedalaman 15-20 m (Yulianda & Danakusumah, 2000).

Penyebaran Gastropoda sub-kelas prosobranchia di laut melimpah di daerah pasang surut, daerah litoral sampai tebing paparan benua (Hyman, 1967).

Distribusi spesies tergantung dari kemampuan untuk menyebar dan adaptasi terhadap berbagai variabel lingkungan (Purchon, 1968 dalam Zein, 2003). Selain faktor tersebut, distribusi spesies juga dipengaruhi oleh tipe dari pergerakan spesies tersebut.

2.2 Unit Penangkapan Ikan 2.2.1 Perangkap jodang

Perangkap jodang adalah alat tangkap yang digunakan untuk menangkap keong macan yang terbuat dari konstruksi rangka besi dan jaring waring dan dioperasikan secara pasif di sekitar pantai. Menurut Subani & Barus (1989), alat ini diklasifikasikan ke dalam jenis perangkap. Bagian utamanya terdiri atas:

1) Rangka

Rangka jaring jodang terbuat dari batang besi berdiameter 4 mm. Rangka pada sisi perangkap membentuk dinding dengan sudut kemiringan tertentu.

(24)

2) Badan

Badan jaring jodang terbuat dari waring dengan ukuran bagian bawah 30 × 30 (cm), bagian atas 10 × 10 (cm), tinggi antara 8-10 cm dan diameter pintu masuk 6-8 cm.

3) Tali utama

Tali utama berfungsi untuk merangkai perangkap jodang yang satu ke perangkap jodang yang lain. Tali utama terbuat dari bahan PE berdiameter 6 mm dengan jarak antara tali cabang 2-3 m. Panjang tali utama berkisar antara 800–1.200 m.

4) Tali cabang

Tali cabang berfungsi sebagai penghubung antara tali utama dengan perangkap jodang. Bahan tali cabang adalah polyethylene (PE) multifilament nylon dengan diameter 3 mm. Panjang panjang tali cabang berkisar antara 1-1,5 m.

5) Mulut

Fungsinya sebagai tempat masuknya keong macan ke dalam perangkap.

Bentuknya persegi dengan ukuran 8 × 10 (cm).

Umpan yang sering digunakan oleh nelayan dalam mengoperasikan perangkap jodang adalah ikan rucah, kulit kambing dan ikan kering. Dari ke 3- nya, umpan ikan rucah yang paling banyak dipakai, karena harganya murah dan selalu tersedia (Saputro, 2005).

2.2.2 Perahu dan nelayan

Perahu yang digunakan untuk mengoperasikan perangkap jodang terbuat dari bahan kayu. Ukurannya berkisar antara 0,87-2,48 GT dengan panjang (L) antara 6-8 m, lebar (B) 1,3-2 m dan dalam (D) 0,5-0,8 m. Mesin yang dipakai adalah mesin dalam (inboard engine) dengan kekuatan 12, 16, dan 20 PK berbahan bakar solar.

Jumlah nelayan yang mengoperasikan perangkap jodang berjumlah 3-4 orang. Masing-masing bertugas sebagai juru mudi dan menentukan daerah penangkapan keong macan, menurunkan bubu, dan memasang umpan.

(25)

2.3 Metode Pengoperasian Alat

Ada beberapa tahap yang harus dilakukan dalam pengoperasian perangkap jodang, yaitu tahap persiapan, pencarian daerah penangkapan keong macan, pemasangan umpan, penurunan perangkap jodang (setting), perendaman perangkap jodang (soaking), pengangkatan perangkap jodang (hauling) dan penanganan hasil tangkapan (Puspito, 2009). Uraian dari setiap tahapan tersebut adalah:

1) Tahap persiapan

Persiapan merupakan kegiatan yang dilakukan sebelum berangkat menuju ke daerah penangkapan berupa pemeriksaan perahu, alat tangkap, mesin, bahan bakar, umpan dan bahan perbekalan. Persiapan biasanya dimulai pada pukul 15.00 WIB. Persiapan pengoperasian alat tangkap dilakukan di darat (fishing base). Setelah persiapan selesai dilakukan, perahu segera melaut.

2) Tahap pencarian daerah penangkapan keong macan

Penentuan fishing ground untuk menangkap keong macan dilakukan berdasarkan pengalaman operasi penangkapan sebelumnya dan informasi dari nelayan perangkap jodang lainnya. Waktu yang dibutuhkan untuk mencapai daerah penangkapan berkisar antara 1-1,5 jam.

3) Tahap pemasangan umpan

Umpan diletakkan di bagian tengah dasar perangkap.

4) Tahap penurunan (setting)

Tahap penurunan dimulai dengan menurunkan lampu tanda dan pemberat, dilanjutkan dengan penurunan perangkap jodang satu per satu dan diakhiri dengan penurunan pelampung tanda. Pada saat penurunan perangkap jodang, perahu bergerak dengan kecepatan rendah.

5) Tahap perendaman (soaking)

Setelah selesai setting, pelampung tanda diikatkan ke badan perahu, mesin perahu dimatikan, dan jangkar diturunkan. Selama proses soaking, nelayan memanfaatkan waktu untuk beristirahat. Lama perendaman selama 1-3 jam.

6) Tahap pengangkatan (hauling)

Pengangkatan perangkap jodang dimulai dengan pengangkatan jangkar ke atas perahu disusul dengan pelampung tanda, kemudian perangkap jodang satu per

(26)

satu dan lampu tanda. Pembagian tugas setiap nelayan adalah nelayan pertama menarik tali utama. Nelayan kedua menarik tali cabang, mengangkat perangkap jodang dan membersihkan lumpur yang menempel pada perangkap jodang. Nelayan ketiga mengeluarkan hasil tangkapan dari dalam perangkap jodang. Penarikan dilakukan sampai satu rangkaian jodang terangkat semua.

Setelah rangkaian jodang terangkat, umpan dipasangkan kembali dan segera mencari daerah penangkapan yang baru (Zein, 2003).

2.4 Daerah Pengoperasian dan Musim Penangkapan

Daerah pengoperasian perangkap jodang biasanya pada zona litoral dengan dasar pasir berlumpur pada kedalaman antara 15-20 m. Adapun musim penangkapannya pada keadaan laut tenang yang berlangsung ketika angin selatan berhembus (Yulianda & Danakusumah, 2000).

(27)

3 METODOLOGI

3.1 Waktu dan Tempat

Penelitian diawali dengan melakukan penelitian pendahuluan pada Desember 2008. Perancangan alat dilakukan pada bulan Januari 2009 di Laboratorium Teknologi Alat Penangkap Ikan, Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Kemudian dilanjutkan dengan penelitian lapang yang dilaksanakan pada bulan Januari 2009 di perairan Teluk Palabuhanratu, Sukabumi, Jawa Barat. Peta lokasi penelitian ditunjukkan pada Lampiran 1.

3.2 Alat dan Bahan

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah ikan tembang, layur, dan cucut. Ikan ini digunakan sebagai umpan untuk menarik keong macan (Lampiran 2). Ikan tembang yang digunakan dalam bentuk utuh dan diikat pada dasar perangkap sebanyak 3 ekor. Untuk ikan layur dan ikan cucut, badan ikan dipotong terlebih dahulu sepanjang 10 cm kemudian diikat pada dasar perangkap.

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini selain tiga jenis ikan yang digunakan sebagai umpan di atas, terdapat pula sembilan unit perangkap jodang.

Masing-masing diberi perlakuan dengan membentuk kemiringan dinding perangkap jodang dengan sudut masing-masing α = 30o, 40o, dan 50o. Adapun peralatan yang digunakan adalah:

1) Perahu penangkap keong macan;

2) Alat pengukur berat digital dengan skala terkecil 0,01 g;

3) Alat pengukur dimensi hasil tangkapan (panjang, lebar, dan tinggi) berupa jangka sorong;

4) Benang untuk mengukur keliling badan hasil tangkapan;

5) GPS (Global Positioning System);

6) Kamera sebagai alat dokumentasi;

7) Alat tulis dan data sheet; dan

8) Kantong plastik sebagai alat penampung hasil tangkapan.

(28)

Pada Gambar 2 berikut diperlihatkan bentuk perangkap jodang yang diuji coba.

sudut kemiringan dinding (α)

Gambar 2 Konstruksi perangkap jodang.

α = 40o

α = 50o α = 30o

Gambar 3 Desain dan konstruksi perangkap jodang (Damayanti,2009)

(29)

3.3 Metode Penelitian

Penelitian menggunakan metode percobaan penangkapan (experimental fishing) yang dilakukan langsung di perairan Teluk Palabuhanratu. Kegiatan uji coba alat di lapang memakai cara pengoperasian perangkap jodang yang dilakukan oleh nelayan Palabuhanratu. Urutannya adalah sebagai berikut:

1) Penentuan daerah penangkapan;

2) Persiapan perbekalan selama melaut;

3) Menuju daerah penangkapan pada pukul 17.00;

4) Pemasangan umpan pada dinding dasar perangkap jodang;

5) Penyusunan perangkap di atas perahu agar mudah ketika dilemparkan ke laut;

6) Perangkap dipasang dengan sistem rawai (Gambar 5) dengan panjang branch line ± 3 m dan panjang floating line ± 5 m;

7) Melakukan operasi penangkapan yang diawali dengan pelemparan pelampung tanda awal, diteruskan dengan pelemparan perangkap jodang ke laut dan diakhiri dengan pelampung tanda akhir;

8) Setelah proses perendaman (soaking) perangkap jodang dilakukan selama ± 3 jam, perangkap diangkat ke atas perahu;

9) Pensortiran hasil tangkapan di atas perahu, sementara perahu menuju ke daerah penangkapan yang lain; dan

10) Cara yang sama dilakukan pada setting kedua sampai dengan kesepuluh.

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini hanya berupa data primer.

Pada pengujian sudut kemiringan dinding perangkap, jenis data yang dikumpulkan berupa jenis, jumlah, dan panjang tangkapan, baik untuk hasil tangkapan utama maupun hasil tangkapan sampingan, pada setiap sudut kemiringan yang diuji. Untuk uji kewajaran, dikumpulkan data tinggi (h), panjang (l), dan lebar (w) cangkang keong macan dari seluruh tangkapan keong macan.

Gambar 3 menunjukkan stuktur cangkang dimana posisi pengukuran panjang (l) cangkang berawal dari apex hingga shiponal canal. Lebar (w) cangkang diukur pada bagian penampang melintang cangkang dengan lingkar cangkang terbesar. Posisi pengukuran dari satu sisi aperture ke sisi lainnya.

Adapun tinggi (h) cangkang diukur pada bagian yang sama dengan pengukuran

(30)

lebar cangkang, tetapi posisi pengukurannya dari atas ke bawah aperture.

Dimensi cangkang ini diukur dengan menggunakan jangka sorong. Data panjang cangkang, lebar cangkang, dan tinggi cangkang keong macan dapat dilihat pada Lampiran 3.

Apex

Suture

Body-whorl

Umbilicus

Aperture Siphonal canal

Gambar 4 Morfologi cangkang keong macan (Babylonia spirata, L.) (Sumber: Yulianda et al., 2000)

Gambar 5 Susunan perangkap jodang ketika dioperasikan.

(31)

3.4 Analisis Data

3.4.1 Penentuan umpan pada perangkap jodang yang terbanyak dimasuki keong macan

Cara untuk menentukan umpan pada perangkap jodang yang terbanyak dimasuki oleh keong macan adalah dengan menganalisa data jumlah keong macan hasil tangkapan. Pada saat penentuan umpan diasumsikan konstruksi sudut kemiringan dinding perangkap jodang diabaikan, karena sudut kemiringan dinding perangkap jodang memiliki besar sudut yang sama. Data jumlah keong macan untuk setiap umpan perangkap jodang dibuat dalam bentuk grafik histogram. Grafik akan memperlihatkan dengan jelas jumlah keong macan untuk setiap umpan perangkap jodang. Umpan perangkap jodang dengan hasil tangkapan keong macan terbanyak adalah yang direkomendasikan.

Data jumlah hasil tangkapan sampingan juga ikut dianalisa sebagai penunjang pemilihan umpan perangkap jodang. Alat tangkap yang baik adalah alat tangkap yang efektif menangkap hasil tangkapan utama dan menghasilkan sedikit hasil tangkapan sampingan. Jadi, umpan perangkap jodang yang direkomendasikan adalah perangkap yang paling banyak dimasuki oleh keong macan dan memiliki hasil tangkapan sampingan yang paling sedikit.

3.4.2 Penentuan sudut kemiringan dinding perangkap yang terbanyak menangkap keong macan

Setelah diketahui umpan yang paling efektif untuk menangkap keong macan, maka selanjutnya dilakukan uji kemiringan sudut dinding perangkap jodang. Pada saat uji dilakukan, faktor umpan diabaikan. Cara untuk menentukan sudut kemiringan dinding perangkap yang terbanyak menangkap keong macan adalah dengan menganalisa data jumlah keong macan hasil tangkapan. Data jumlah keong macan untuk setiap sudut kemiringan dinding dibuat dalam bentuk grafik histogram. Grafik akan memperlihatkan dengan jelas jumlah keong macan untuk setiap sudut kemiringan dinding. Sudut kemiringan dinding dengan hasil tangkapan keong macan ukuran layak tangkap yang terbanyak adalah yang direkomendasikan.

Data jumlah hasil tangkapan sampingan juga ikut dianalisa sebagai penunjang pemilihan sudut kemiringan dinding. Alat tangkap yang baik adalah

(32)

alat tangkap yang efektif menangkap hasil tangkapan utama dan menghasilkan hasil tangkapan sampingan yang sedikit. Jadi, sudut kemiringan dinding yang direkomendasikan adalah sudut kemiringan dinding yang paling banyak menangkap keong macan, khususnya keong macan ukuran layak tangkap dan memiliki hasil tangkapan sampingan yang paling sedikit.

3.4.3 Rancangan percobaan

Analisis RAL digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh perbedaan sudut kemiringan dinding terhadap panjang cangkang keong macan hasil tangkapan yang memiliki ukuran layak tangkap, sedangkan untuk umpan digunakan rancangan acak parsial. Data ini diolah dengan menggunakan analisis ragam atau ANOVA (analysis of variance).

Untuk melakukan analisis ragam atau ANOVA (analysis of variance), ada beberapa asumsi yang harus dipenuhi agar hasil yang diperoleh valid. Asumsi tersebut adalah (Matjik & Sumertajaya, 2000):

1) Ragam homogen;

2) Kebebasan galat; dan

3) Galat percobaan menyebar normal.

Setelah pengujian asumsi terpenuhi, maka analisis ragam dapat dilakukan.

Perlakuan yang diuji menggunakan rancangan parsial adalah sebagai berikut:

1) Umpan perangkap jodang 1 : ikan tembang;

2) Umpan perangkap jodang 2 : ikan cucut; dan 3) Umpan perangkap jodang 3 : ikan layur.

Persamaan rancangan parsial yang digunakan adalah (Steel et. al., 1997) : Yij = µ + τi + εij

Keterangan :

Yij : Nilai pengamatan pada umpan ke-i dan ulangan ke-j;

µ : Rataan umum;

τi : Pengaruh umpan ke-i;

εij : Pengaruh acak pada umpan ke-i ulangan ke-j;

i : Perlakuan (1,2,3); dan j : Ulangan (1,2,3,..., 10).

(33)

Hipotesis yang digunakan adalah sebagai berikut : H0 : τ1 = τ2 = τ3 = 0

H1 : Paling sedikit ada satu τ1 ≠ 0

Untuk perlakuan yang diuji menggunakan RAL adalah sebagai berikut:

1) Sudut kemiringan dinding 1 : 30o; 2) Sudut kemiringan dinding 2 : 40o; dan 3) Sudut kemiringan dinding 3 : 50o.

Persamaan rancangan acak lengkap yang digunakan adalah (Steel et. al., 1997):

Yijk = µ + Ai + Bj + ABij + εijk Keterangan :

Yijk : Pengamatan faktor sudut kemiringan taraf ke-i, faktor panjang cangkang keong macan taraf kej dan ulangan ke-k;

µ : Rataan umum;

Ai : Pengaruh faktor sudut kemiringan pada taraf ke-i;

Bj : Pengaruh faktor panjang cangkang keong macan pada taraf ke-j;

ABij : Interaksi antara faktor sudut kemiringan dengan faktor panjang cangkang keong macan;

εijk : Pengaruh galat pada faktor sudut kemiringan taraf ke-i, faktor panjang cangkang keong macan taraf ke-j dan ulangan ke-k;

i : 1,2,3;

j : 1,2,3,...,10; dan k : 1,2,3,...,10.

Untuk menilai apakah dua nilai tengah perlakuan berbeda secara statistika, maka langkah selanjutnya adalah membandingkan selisih nilai tengah perlakuan tersebut dengan nilai BNT. Jika dua nilai perlakuan lebih besar daripada nilai BNT, maka dua nilai dikatakan berbeda secara nyata pada taraf α. Sebaliknya, jika beda dua nilai tengah perlakuan tersebut lebih kecil daripada nilai BNT, maka dapat dikatakan dua perlakuan tersebut tidak berbeda nyata. Formula yang digunakan adalah sebagai berikut (Steel et. al., 1997) :

BNTα = tα (2s2/ r)1/2

Konstanta t adalah nilai t yang diperoleh dari tabel t pada taraf nyata α. Nilai t dilihat pada derajat bebas galat. Konstanta s2 adalah nilai kuadrat tengah galat (KTG) yang diperoleh dari analisis ragam dan r adalah jumlah ulangan.

(34)

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Komposisi Hasil Tangkapan

Perangkap jodang menangkap 8 spesies yang dibagi ke dalam 2 kelompok, yaitu kelompok kepiting dan keong. Kelompok kepiting terdiri atas 4 jenis spesies, yaitu Beuroisia manqueni, Tanaoa distinctus¸ Myra grandis, dan Laterallidae. Adapun kelompok keong terdiri atas 4 jenis spesies yang meliputi Buccinum spp., Collumella testudine¸ Oliva spp., dan keong macan (Babylonia spirata).

Persentase jumlah tangkapan perangkap jodang, baik berupa keong macan, keong lain dan kepiting, relatif tidak berbeda jauh. Gambar 6 menunjukkan komposisi jumlah hasil tangkapan perangkap jodang. Keong macan mencapai jumlah 335 individu (28,53%), kepiting 506 individu (43,1%), dan jenis keong lain 333 individu (28,37%). Jika pengelompokkan didasarkan atas jenis tangkapan, maka jenis tangkapan terbesar adalah keong, yaitu 56,9% (668 individu).

Keong macan Kepiting Keong

Gambar 6 Komposisi jumlah hasil tangkapan perangkap jodang.

(35)

Jenis hasil tangkapan sampingan didominasi oleh kepiting sebanyak 506 individu (60,31%), sisanya adalah keong jenis lain sebanyak 333 individu (39,69%). Komposisi hasil tangkapan sampingan dapat dilihat pada Gambar 7.

Keong Kepiting

Gambar 7 Komposisi jumlah hasil tangkapan sampingan perangkap jodang.

Berdasarkan pengamatan langsung, substrat dasar perairan tempat dilakukannya operasi penangkapan berupa lumpur. Ini menjadi salah satu penyebab jumlah tangkapan terbanyak adalah dari kelompok keong. Menurut Shanmugaraj dan Ayyakkanu (1994), dan Yulianda dan Danakusumah (2000), habitat keong macan adalah perairan dengan substrat dasar yang berlumpur.

Menurut Rupert & Barnes (1991), keong sangat sensitif terhadap rangsang gerak, sehingga kemungkinan besar keong masuk ke dalam perangkap lebih dahulu daripada kepiting. Hill (1982) menjelaskan kepiting memiliki pergerakan yang agresif, terutama dalam merespon bau. Pergerakan agresif kepiting, baik yang berada di dalam maupun di luar perangkap akan menyebabkan keong tidak akan mendekati perangkap.

Ukuran keong macan yang tertangkap memiliki ukuran panjang cangkang antara 1,22 cm hingga 5,49 cm. Dari keseluruhan keong macan yang tertangkap sebanyak 335 individu, hanya 16 individu (4,76%) yang memiliki ukuran layak tangkap. Panjang cangkang keong macan yang layak tangkap lebih besar dari

(36)

4,27 cm. Jenis kepiting, menyebar pada ukuran lebar karapas antara 0,61 cm sampai 5,66 cm, sedangkan jenis keong lain menyebar pada ukuran panjang cangkang antara 1,29 cm hingga 4,13 cm.

4.2 Pengaruh Umpan Perangkap Jodang terhadap Hasil Tangkapan 4.2.1 Distribusi jenis dan jumlah hasil tangkapan total

Komposisi hasil tangkapan berdasarkan jenis umpan menangkap keong sebanyak 668 individu (56,9%) dan kepiting 506 individu (43,1%). Keong macan banyak tertangkap pada perangkap jodang dengan umpan ikan tembang sebanyak 157 individu, umpan ikan cucut menangkap sebanyak 74 individu, dan umpan ikan layur menangkap sebanyak 104 individu keong macan.

4.2.2 Distribusi jumlah hasil tangkapan utama

Ada atau tidaknya pengaruh umpan pada perangkap jodang yang diuji terhadap jumlah keong macan yang tertangkap dapat diketahui dengan menggunakan analisis ragam (ANOVA). Hal ini dilakukan untuk melihat gambaran data secara umum sebelum dilakukan analisis secara lebih mendalam.

Berdasarkan data jumlah keong macan, analisis ragam (ANOVA) dapat dilakukan dan hasilnya dapat dikatakan valid/sah karena uji asumsi telah dipenuhi (Mattjik & Sumertajaya 2000). Berdasarkan perhitungan analisis ragam didapatkan bahwa sudut kemiringan dinding berpengaruh nyata terhadap jumlah keong macan yang merayap dan tertangkap. Hal ini terlihat dari Fhitung yang lebih besar dari Ftabel. Nilainya masing-masing sebesar 64,68 dan 3,35. Distribusi jumlah keong macan sebagai hasil tangkapan utama untuk setiap sudut kemiringan dinding dapat diuraikan sebagai berikut:

1) Umpan ikan tembang.

Perangkap yang menggunakan umpan ikan tembang menangkap keong macan dengan jumlah terbanyak dibanding dengan perangkap yang menggunakan umpan jenis lainnya. Jumlah total keong macan yang tertangkap pada perangkap jodang dengan umpan ikan tembang sebanyak 157 individu atau 46,86% dari tangkapan total keong macan.

(37)

2) Umpan ikan cucut.

Perangkap ini menangkap keong macan dalam jumlah paling sedikit dibandingkan dengan tangkapan keong macan pada perangkap dengan umpan lainnya. Terdapat 74 individu keong macan (22,09%) yang tertangkap dari total tangkapan keong macan.

3) Umpan ikan layur.

Jumlah keong macan yang dapat tertangkap pada perangkap dengan umpan ikan layur lebih sedikit dibandingkan dengan perangkap yang menggunakan umpan ikan tembang. Perangkap ini menangkap keong macan sebanyak 104 individu (31,05%) dari total tangkapan keong macan.

Gambar 8 Komposisi jumlah hasil tangkapan pada perangkap jodang dengan umpan ikan tembang, ikan cucut, dan ikan layur.

4) Umpan perangkap jodang pilihan berdasarkan distribusi jumlah tangkapan utama

Perangkap jodang dengan umpan ikan tembang memberikan hasil tangkapan keong macan yang paling banyak, kemudian diikuti oleh perangkap jodang dengan umpan ikan layur, dan perangkap jodang dengan umpan ikan cucut. Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa perangkap jodang dengan umpan ikan tembang adalah perangkap yang paling banyak didatangi oleh keong macan, karena keong macan lebih tertarik dengan umpan atau makanan yang memiliki sifat seperti bangkai segar (Rupert & Barnes 1991). Untuk

(38)

kepentingan penangkapan, penggunaan umpan ikan tembang dapat direkomendasikan.

4.2.3 Distribusi jumlah hasil tangkapan sampingan

Distribusi jumlah hasil tangkapan sampingan untuk setiap umpan yang digunakan diuraikan sebagai berikut:

1) Perangkap jodang dengan umpan ikan tembang

Perangkap jodang yang menggunakan umpan ikan tembang menangkap keong jenis lain 69 individu (26,44%) dan kepiting 192 individu (73,56%).

Keong Kepiting

Gambar 9 Komposisi jumlah hasil tangkapan sampingan pada perangkap jodang dengan umpan ikan tembang.

Keong terbanyak adalah dari spesies Buccinum sebanyak 54 individu (78,26%) dari total tangkapan keong. Spesies lain yaitu Collumella testudine (21,74%) sebanyak 15 individu dari total tangkapan keong pada perangkap jodang dengan umpan ikan tembang.

(39)

Gambar 10 Komposisi jumlah hasil tangkapan sampingan keong pada perangkap jodang dengan umpan ikan tembang.

Hasil tangkapan sampingan berupa kepiting, tangkapan terbanyak berasal dari spesies Tanaoa distinctus sebanyak 129 individu (67,19%) dari total tangkapan kepiting. Spesies lain Myra grandis tertangkap 54 individu (28,13%).

Beuroisia manquenei tertangkap sebanyak 6 individu (3,13%). Laterallidae tertangkap 3 individu (2,6%).

Gambar 11 Komposisi jumlah hasil tangkapan sampingan kepiting pada perangkap jodang dengan umpan ikan tembang.

(40)

2) Perangkap jodang dengan umpan ikan cucut

Perangkap ini menangkap kelompok keong jenis lain sebanyak 113 individu (45,75%) dan kelompok kepiting sebanyak 134 individu (54,25%).

Gambar 12 Komposisi jumlah hasil tangkapan sampingan pada perangkap

jodang dengan umpan ikan cucut.

Kelompok keong didominasi oleh Collumella testudine yang berjumlah 81 individu (71,68%). Buccinum spp. tertangkap sebanyak 26 individu (23,01%) dan Olivia spp. tertangkap sebanyak 6 individu (5,31%).

Gambar 13 Komposisi jumlah hasil tangkapan sampingan keong pada perangkap jodang dengan umpan ikan cucut.

Keong Kepiting

(41)

Kelompok kepiting didominasi oleh Tanaoa distinctus sebanyak 69 individu (51,49%). Myra grandis tertangkap sebanyak 47 individu (35,08%). Beuroisia manquenei tertangkap sebanyak 13 individu (9,7%). Laterallidae tertangkap sebanyak 5 individu (3,73%) dari total tangkapan kepiting.\

Gambar 14 Komposisi jumlah hasil tangkapan sampingan kepiting pada perangkap jodang umpan ikan cucut.

3) Perangkap jodang dengan umpan ikan layur

Keong dan kepiting yang tertangkap oleh perangkap dengan umpan ikan layur masing-masing berjumlah 157 individu (48, 31%) dan 168 individu (51, 69%).

Gambar 15 Komposisi jumlah hasil tangkapan sampingan pada perangkap jodang dengan umpan ikan layur.

Keong Kepiting

(42)

Buccinum spp. merupakan hasil tangkapan sampingan terbanyak dengan hasil tangkapan sebanyak 81 individu (51,59%) dari total tangkapan keong.

Sebanyak 68 individu (43,31%) Collumella testudine spp. tertangkap oleh perangkap ini, dan Olivia spp. tertangkap sebanyak 8 individu (5,1%) dari total tangkapan keong.

Gambar 16 Komposisi jumlah hasil tangkapan sampingan keong pada perangkap jodang dengan umpan ikan layur.

Tanaoa distinctus mendominasi kelompok kepiting dengan jumlah 105 individu (62,5%). Myra grandis tertangkap sebanyak 56 individu (33,33%).

Beuroisia manquenei tertangkap sebanyak 7 individu (4,17%).

Gambar 17 Komposisi jumlah hasil tangkapan sampingan kepiting pada perangkap jodang dengan umpan ikan layur.

(43)

4) Umpan perangkap jodang pilihan berdasarkan distribusi jumlah hasil tangkapan sampingan

Hasil tangkapan sampingan berupa keong paling sedikit terdapat pada perangkap jodang yang menggunakan umpan ikan cucut. Kemudian diikuti oleh perangkap jodang yang menggunakan umpan ikan tembang dan ikan layur.

Dilihat dari distribusi jumlah tangkapan sampingan untuk setiap umpan, umpan ikan layur memiliki hasil tangkapan sampingan yang paling banyak dibandingkan dengan jenis umpan lainnya yaitu sebesar 325 individu dengan komposisi 157 individu dari jenis keong dan 168 individu dari jenis kepiting, setelah itu diikuti oleh umpan ikan tembang sebesar 261 individu dengan komposisi 69 individu dari jenis keong, 192 individu dari jenis kepiting. Jumlah hasil tangkapan sampingan yang paling sedikit berasal dari perangkap dengan umpan ikan cucut, yaitu sebesar 247 individu dengan komposisi 113 individu dari jenis keong dan 134 individu dari jenis kepiting.

Untuk menghindari hasil tangkapan sampingan berupa keong dan kepiting, maka berdasarkan data di atas dapat dipertimbangkan untuk menggunakan umpan perangkap jodang yang berasal dari ikan cucut. Ikan cucut memiliki hasil tangkapan sampingan lebih sedikit karena daging ikan yang memiliki kandungan amoniak yang cukup tinggi sehingga menimbulkan bau yang sangat pekat.

Karena sifat tingkah laku keong macan yang hampir sama dengan keong-keong jenis lainnya yang menyukai bangkai segar (Martanti, 2001), maka umpan dari ikan layur dan ikan tembang dapat digunakan untuk memaksimalkan hasil tangkapan yang didapat. Hal ini dapat dilihat pada Gambar 18, komposisi hasil tangkapan berupa keong terbanyak terdapat pada umpan ikan layur.

(44)

Keong Jenis lain Kepiting

Gambar 18 Komposisi jumlah hasil tangkapan sampingan pada perangkap jodang dengan umpan ikan tembang, ikan cucut, dan ikan layur.

4.2.4 Umpan Perangkap Jodang Pilihan

Umpan perangkap jodang yang baik adalah umpan yang dapat menghasilkan tangkapan dengan komposisi tangkapan untuk keong macan yang berjumlah banyak dan hasil tangkapan sampingan dengan jumlah sedikit.

Berdasarkan analisis hasil tangkapan utama, penggunaan umpan ikan tembang dapat direkomendasikan karena menangkap hasil tangkapan utama berupa keong macan paling banyak dibandingkan dengan umpan lainnya. Hal ini sesuai dengan tingkah laku keong macan yang menyukai makanan atau umpan berupa bangkai segar (Martanti, 2001). Hasil tangkapan sampingan pada penggunaan umpan ikan tembang juga relatif sedikit dibandingkan dengan penggunaan jenis umpan lainnya. Sebaliknya, penggunaan umpan ikan cucut perlu dihindari karena selain total hasil tangkapan paling sedikit dibandingkan dengan jenis umpan lainnya, jumlah total tangkapan utama dari penggunaan umpan ikan cucut yang paling sedikit dibandingkan dengan penggunaan jenis umpan lainnya. Hal ini juga sesuai dengan sifat dari daging ikan cucut yang memiliki kandungan amoniak yang tinggi sehingga bau yang dikeluarkan menyengat. Selain itu untuk jenis kepiting, kepiting sangat menyukai makanan atau daging dengan sifat bangkai yang sudah busuk dan berbau menyengat, sehingga untuk umpan ikan cucut

(45)

banyak menangkap kepiting sehingga hasil tangkapan keong macan tidak akan masuk ke dalam perangkap yang menggunakan umpan ikan cucut.

Keong Kepiting Keong macan

Gambar 19 Komposisi jumlah hasil tangkapan keong macan, keong, dan kepiting pada perangkap jodang dengan umpan ikan tembang, ikan cucut, dan ikan layur.

4.3 Pengaruh Sudut Kemiringan Dinding Perangkap Jodang terhadap Hasil Tangkapan

4.3.1 Distribusi jenis dan jumlah hasil tangkapan total

Berdasarkan hasil tangkapan yang didapat, jumlah antara hasil tangkapan utama dengan tangkapan sampingan tidak menunjukkan perbedaan yang mencolok. Jumlahnya masing-masing 668 individu (56,9%) dan 506 individu (43,1%).

Berdasarkan sudut kemiringan dinding perangkap jodang, sudut 30o mendapatkan hasil tangkapan sebanyak 153 individu, sudut 40o sebanyak 109 individu, dan sudut sudut 50o sebanyak 75 individu. Gambar 20 menunjukkan komposisi hasil tangkapan keong macan pada setiap sudut kemiringan dinding perangkap jodang.

(46)

30 40 50

Gambar 20 Komposisi jumlah hasil tangkapan keong macan tiap sudut perangkap. m

Panjang cangkang keong macan menyebar pada kisaran panjang 0,00-5,49 cm yang dibagi ke dalam 9 kelas dengan interval kelas sebesar 0,61 cm. Keong macan yang tidak layak tangkap berada pada kisaran panjang cangkang sebesar 3,05-3,66 cm, yaitu sebanyak 320 ekor. Ukuran keong ini belum layak untuk ditangkap, karena belum matang gonad dan belum siap melakukan pemijahan.

Keong macan yang tertangkap dengan ukuran layak tangkap sebanyak 16 individu. Hal ini diakibatkan karena penelitian berlangsung pada bulan Januari.

Menurut Zein (2003), musim penangkapan keong macan di Palabuhanratu mencapai puncaknya pada bulan Juni-Oktober.

(47)

layak tangkap

Gambar 21 Komposisi ukuran keong macan keseluruhan dan keong macan ukuran layak tangkap.

4.3.2 Distribusi jumlah hasil tangkapan utama

Ada atau tidaknya pengaruh sudut kemiringan dinding yang diuji terhadap jumlah keong macan yang tertangkap dapat diketahui dengan menggunakan analisis ragam (ANOVA). Hal ini dilakukan untuk melihat gambaran data secara umum sebelum dilakukan analisis secara lebih mendalam.

Berdasarkan data jumlah keong macan, analisis ragam (ANOVA) dapat dilakukan dan hasilnya dapat dikatakan valid/sah karena uji asumsi telah dipenuhi (Mattjik & Sumertajaya 2000). Berdasarkan perhitungan analisis ragam didapatkan bahwa sudut kemiringan dinding berpengaruh nyata terhadap jumlah keong macan yang merayap dan tertangkap. Hal ini terlihat dari Fhitung yang lebih besar dari Ftabel. Nilainya masing-masing sebesar 64,68 berbanding 3,35.

Distribusi jumlah keong macan sebagai hasil tangkapan utama untuk setiap sudut kemiringan dinding dapat diuraikan sebagai berikut:

1) Sudut kemiringan dinding 30o

Jumlah keong macan yang tertangkap pada sudut kemiringan dinding 30o sebanyak 153 individu atau 45,67% dari tangkapan total keong macan. Perangkap ini tidak menangkap 1 individu pun keong macan yang memiliki ukuran layak tangkap.

(48)

layak tangkap

Gambar 22 Komposisi jumlah hasil tangkapan total keong macan pada sudut kemiringan 30o.

2) Sudut kemiringan dinding 40o

Perangkap dengan sudut kemiringan dinding 40o menangkap keong macan sebanyak 109 individu (32,54%) dari total tangkapan keong macan. Perangkap ini hanya menangkap keong macan ukuran layak tangkap sebanyak 7 individu (6,42%). Ukuran panjang cangkang keong macan layak tangkap yang paling banyak tertangkap pada sudut kemiringan ini berada pada kisaran panjang cangkang 4,27-4,88 (cm) sebanyak 6 individu (85,71%).

layak tangkap

Gambar 23 Komposisi jumlah hasil tangkapan total keong macan pada sudut kemiringan 40o.

(49)

3) Sudut kemiringan dinding 50o

Perangkap dengan sudut kemiringan dinding 50o menangkap keong macan sebanyak 73 individu (21,79%) dari total tangkapan keong macan. Perangkap ini menangkap keong macan ukuran layak tangkap sebanyak 9 individu (12,33%).

Ukuran panjang cangkang keong macan layak tangkap paling banyak tertangkap pada ukuran panjang cangkang 4,27-4,88 (cm) sebanyak 8 individu (88,89%).

layak tangkap

Gambar 24 Komposisi jumlah hasil tangkapan total keong macan pada sudut kemiringan 50o.

4) Sudut kemiringan dinding pilihan berdasarkan distribusi jumlah tangkapan utama

Perangkap dengan sudut kemiringan dinding 30o memberikan hasil tangkapan keong macan yang paling banyak, kemudian diikuti oleh perangkap dengan sudut kemiringan dinding 40o dan yang paling sedikit adalah perangkap dengan sudut kemiringan dinding 50o. Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa sudut kemiringan dinding 30o adalah sudut kemiringan dinding yang paling mudah dirayapi oleh keong macan.

Perangkap dengan sudut kemiringan 50o merupakan perangkap dengan hasil tangkapan keong macan layak tangkap terbanyak. Untuk kepentingan penangkapan keong macan yang hanya mementingkan kuantitas, sudut kemiringan dinding 30o dapat direkomendasikan, tetapi untuk penangkapan dengan memperhatikan kelestarian sumberdaya keong macan, perangkap dengan sudut kemiringan 50o dapat direkomendasikan. Gambar 25 menunjukkan

(50)

komposisi hasil tangkapan total keong macan dan keong macan ukuran layak tangkap.

Jumlah keong macan Jumlah keong macan layak tangkap

Gambar 25 Komposisi jumlah hasil tangkapan total keong macan dan keong macan ukuran layak tangkap.

4.3.3 Distribusi jumlah hasil tangkapan sampingan

Distribusi jumlah hasil tangkapan sampingan untuk setiap sudut kemiringan dinding diuraikan sebagai berikut:

1) Sudut kemiringan dinding 30o

Perangkap dengan sudut kemiringan dinding 30o menangkap tangkapan sampingan berupa jenis keong lain dan kepiting. Jenis keong lain yang ditangkap berjumlah 93 individu (47,69%) dan kepiting 102 individu (52,31%). Gambar 26 menunjukkan komposisi jumlah hasil tangkapan sampingan perangkap jodang sudut 30o.

(51)

Gambar 26 Komposisi jumlah hasil tangkapan sampingan perangkap jodang sudut 30o.

Jenis keong lain yang banyak tertangkap adalah Columella testudine sebanyak 63 individu (67,74%). Tangkapan terbanyak berada pada ukuran panjang cangkang 2,54-2,86 (cm) sebanyak 40 individu. Spesies lain Buccinum spp. tertangkap sebanyak 19 individu (20,43%), dengan jumlah tangkapan terbanyak berada pada kisaran panjang cangkang 1,91-2,23 (cm) sebanyak 8 individu. Olivia spp. yang tertangkap sebanyak 11 individu (11,83%) dengan tangkapan terbanyak berada pada ukuran panjang cangkang 2,54-2,86 (cm) sebanyak 5 individu. Gambar 27 menunjukkan komposisi jumlah hasil tangkapan sampingan keong pada perangkap jodang sudut 30o.

Gambar 27 Komposisi jumlah hasil tangkapan sampingan keong pada perangkap jodang sudut 30o.

Keong Kepiting

(52)

Gambar 28 Komposisi hasil tangkapan sampingan keong berdasarkan panjang cangkang pada sudut 30o.

Jumlah tangkapan kepiting terbanyak berasal dari spesies Tanaoa distinctus sebanyak 65 individu (61,32%) dari total tangkapan kepiting. Jumlah tangkapan terbanyak berada pada ukuran lebar karapas 2,29-3,14 (cm) sebanyak 33 individu.

Spesies lain Myra grandis tertangkap 29 individu (27,36%) dengan tangkapan terbanyak pada ukuran lebar karapas 1,45-2,29 (cm) dan 2,29-3,14 (cm) masing- masing sebanyak 13 ekor. Beuroisia manquenei tertangkap sebanyak 7 individu (6,6%) dengan tangkapan terbanyak berada pada panjang karapas 1,45-2,29 (cm) dan 3,98-4,82 (cm) masing-masing sebanyak 3 individu. Laterallidae tertangkap 5 ekor (4,72%) dengan tangkapan terbanyak pada ukuran lebar karapas 3,98-4,82 (cm) sebanyak 3 individu. Gambar 29 dan Gambar 30 menunjukkan komposisi jumlah hasil tangkapan sampingan kepiting pada perangkap jodang sudut 30o dan komposisi hasil tangkapan sampingan kepiting pada perangkap jodang sudut 30o.

(53)

Gambar 29 Komposisi jumlah hasil tangkapan sampingan kepiting pada perangkap jodang sudut 30o.

Gambar 30 Komposisi hasil tangkapan sampingan kepiting berdasarkan lebar karapasnya sudut 30o.

2) Sudut kemiringan dinding 40o

Perangkap dengan sudut kemiringan dinding 40o menangkap keong jenis lain sebanyak 163 individu (44,9%) dan kelompok kepiting sebanyak 200 individu (55,1%). Kelompok keong didominasi oleh Buccinum spp. berjumlah 117 individu (70,91%) dengan tangkapan terbanyak pada ukuran lebar karapas 2,23-2,54 (cm) sebanyak 42 individu. Jumlah Collumella testudine yang

(54)

tertangkap sebanyak 46 individu (27,88%). Sebanyak 23 individu tertangkap pada ukuran lebar karapas 2,86-3,18 (cm). Olivia spp. tertangkap sebanyak 2 individu (1,21%) dengan tangkapan terbanyak pada ukuran panjang karapas 3,18- 3,50 (cm).

Keong Kepiting

Gambar 31 Komposisi jumlah hasil tangkapan sampingan perangkap jodang sudut 40o.

Gambar 32 Komposisi jumlah hasil tangkapan sampingan keong pada perangkap jodang sudut 40o.

(55)

Gambar 33 Komposisi hasil tangkapan sampingan keong berdasarkan panjang cangkangnya pada sudut 40o.

Tanaoa distinctus mendominasi tangkapan terbanyak pada perangkap ini dengan banyak 112 individu (81%). Ukuran lebar karapas 2,29-3,14 (cm) merupakan ukuran lebar karapas terbanyak dari kepiting ini yang tertangkap, sebanyak 78 individu. Dari 77 individu (38,5%) Myra grandis yang tertangkap, sebanyak 27 individu tertangkap pada ukuran lebar karapas 1,45-2,29 (cm).

Beuroisia manquenei tertangkap sebanyak 8 individu (4%) dengan tangkapan terbanyak pada ukuran lebar karapas 1,45-2,29 (cm) sebanyak 6 individu.

Spesies lain, Laterallidae tertangkap sebanyak 3 individu (1,5%) dari total tangkapan kepiting. Ukuran lebar karapas 3,14-3,98 (cm) adalah ukuran dimana banyak kepiting ini yang tertangkap.

(56)

Gambar 34 Komposisi jumlah hasil tangkapan sampingan kepiting pada perangkap jodang sudut 40o.

Gambar 35 Komposisi hasil tangkapan sampingan kepiting berdasarkan lebar karapasnya pada sudut 40o.

3) Sudut kemiringan dinding 50o

Keong jenis lain dan kepiting yang tertangkap oleh perangkap ini masing- masing berjumlah 79 individu (27,92%) dan 204 individu (72,08%). Collumella testudine mendominasi hasil tangkapan sebanyak 55 individu (69,62%) dari total tangkapan keong jenis lain dengan tangkapan terbanyak terdapat pada ukuran panjang cangkang 2,54-2,86 (cm) sebanyak 37 individu. Buccinum spp. pada

(57)

peringkat kedua, tertangkap sebanyak 24 individu (30, 38%). Panjang cangkang 2,23-2,54 (cm) merupakan ukuran panjang cangkang dengan hasil tangkapan terbanyak yaitu 16 individu.

Keong Kepiting

Gambar 36 Komposisi jumlah hasil tangkapan sampingan pada perangkap jodang sudut 50o.

Gambar 37 Komposisi jumlah hasil tangkapan sampingan keong pada perangkap jodang sudut 50o.

(58)

Gambar 38 Komposisi hasil tangkapan sampingan keong berdasarkan panjang cangkang pada sudut 50o.

Tanaoa distinctus merupakan kelompok kepiting dengan jumlah tangkapan terbanyak, yaitu 132 individu (64,71%) dengan tangkapan terbanyak pada ukuran lebar karapas antara 2,29-3,14 (cm) sebanyak 100 individu. Sebanyak 49 individu (24,02%) Myra grandis dengan tangkapan terbanyak pada ukuran lebar karapas antara 1,45-2,29 (cm) sebanyak 41 individu tertangkap oleh perangkap ini.

Beuroisia manquenei tertangkap sebanyak 23 individu (11,28%) dengan tangkapan terbanyak pada ukuran lebar karapas antara 2,29-3,14 (cm) sebanyak 12 individu.

Gambar 39 Komposisi jumlah hasil tangkapan sampingan kepiting pada perangkap jodang sudut 50o.

Gambar

Gambar 2  Konstruksi perangkap jodang.
Gambar 8  Komposisi jumlah hasil tangkapan pada perangkap jodang dengan  umpan ikan tembang, ikan cucut, dan ikan layur
Gambar 9  Komposisi jumlah hasil tangkapan sampingan pada perangkap jodang  dengan umpan ikan tembang.
Gambar 10  Komposisi jumlah hasil tangkapan sampingan keong pada  perangkap jodang dengan umpan ikan tembang
+7

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait