• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mengenal Fisika Nuklir

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Mengenal Fisika Nuklir"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

Mengenal Fisika Nuklir

Daftar Pustaka:

• P. E. Hodgson, E. Gadioli, E. Gadioli Erba, Introductory Nuclear Physics (Oxford U. P., New York, 2000)

• J. M. Blatt & V. F. Weisskopf, Theoretical Nuclear Physics (Dover Publications, Inc., New York, 1991)

• W. E. Meyerhof, Elements of Nuclear Physics (McGraw-Hill Book Co., Singapore, 1989)

Imam Fachruddin

(Departemen Fisika, Universitas Indonesia)

(2)

Isi

• pendahuluan

• sifat-sifat inti

• ketidakstabilan inti

• radioaktivitas

• model inti

• gaya nuklir / interaksi kuat

• fisika partikel

• astrofisika nuklir

• akselerator dan detektor

• reaktor nuklir

(3)

Inti terdiri dari nukleon (proton dan netron). Tiap nukleon memiliki spin (momentum angular intrinsik).

Di dalam inti nukleon tidak diam melainkan bergerak. Karena itu, selain spin nukleon juga memiliki momentum angular orbital.

Spin inti didefinisikan sebagai jumlah momentum angular atau momentum angular total (terdiri dari spin dan momentum angular orbital) seluruh nukleonnya:

Spin Inti

spin inti

 

A

1

i i

A 1

i Si L

I  

spin nukleon momentum angular orbital

(4)

spin inti:

A 1

i i

A 1

i i

L L

S S

, L S I



 

...) 2, 1, 0, n ganjil, (A

1) (2n

genap) (A

integer S

21

integer L 



 

...) 2, 1, 0, n ganjil, (A

1) (2n

genap) (A

integer I

21

Dari pengamatan diperoleh, inti dengan A = genap berspin I = 0, kecuali inti ganjil-ganjil (Z dan N keduanya ganjil) berikut:

14 10

6

2, Li , B , N

H

(Sekedar info, dari sekian banyak inti ganjil-ganjil, hanya keempat inti ganjil-ganjil di atas yang stabil.)

(5)

Spin inti pada keadaan dasar (ground state) dapat berbeda dari spin inti pada keadaan tereksitasi (excited state). Sebutan spin inti tanpa

keterangan lebih lanjut berarti spin inti pada keadaan dasar.

Keadaan inti dengan spin I ( ) terdegenerasi dalam (2I + 1) keadaan :

z) sumbu (misal

quantisasi sumbu

pada I

spin proyeksi

I spin magnetik

kuantum

bilangan m

I) ..., 1, I I, (m

I m I ,

ψ : ψI mI

ψI ψmI

(6)

fungsi gelombang inti:

Momen Listrik Inti

netron koordinat

: r ,..., r

proton, koordinat

: r ,..., r

) r ,..., r

, r ,..., r ψ(

A 1

Z Z

1

A 1

Z Z

1   

ψ dinormalisasi sebagai berikut:



 

A 1

j j

2 A

1,...,r ) d 1 d dr r

ψ(  

τ τ

peluang mendapatkan inti dengan nukleon 1 berada di posisi sampai , nukleon 2 di sampai , ..., nukleon A di sampai :r1

1 1 dr r 

 r2

2 2 dr r 

 rA

A

A dr

r 

 ψ(r1,...,rA)2dτ

peluang mendapatkan nukleon i berada di posisi sampai , nukleon yang lain pada posisi sembarang:r

 r dr

 dengan:

r d r d )

r ,..., r , r , r ,..., r ψ(

r )d r (

P A

i

j j

2 A 1

i 1 -i 1

i





 

 

yaitu rapat peluang menemukan nukleon i:

) r ( Pi

 

A

i

j j

2 A 1 i 1 -i 1

i(r) ψ(r,...,r ,r,r ...,r ) dr

P       

rapat muatan listrik inti: (e = muatan proton)

Z

1

i Pi(r) e

) r

ρ( 

muatan listrik inti: ρ(r)dr e P(r)dr e Z ψ(r,...,r ) d Ze

1 i

2 A 1

Z 1

i i  

 

τ

(7)

momen dipol inti dari proton i:

Momen Dipol Inti

 e rP(r)dr e r ψ(r,...,r ) dτ Dii iiii1A 2 momen dipol inti dari Z proton:

 

Z

1 i

2 A 1

i Z

1

i Di e r ψ(r,...,r ) d

D     τ

2 A 1

i

i) r ψ(r,...,r ) r

f(   

) r f(

) r ,..., r ψ(

r )

r

f( ii1A 2i

 f(ri)  fungsi ganjil

0 r d ) r

f( i i

Jadi, inti tidak punya momen dipol listrik.

0 d

) r ,..., r ψ(

r e

D Z

1 i

2 A 1

i



τ

 

(8)

momen quadrupol inti pada keadaan ψ:

Momen Quadrupol Inti



Z

1 i

2 A 2 1

2 i

i r )ψ(r,...,r ) d (3z

e )

Q(ψ   τ

Anggap sebagai sebuah fungsi gelombang :(3zi2ri2) φ(ri) 3zi2 ri2 )

r φ(i

τ

τ τ

τ

)d r ,..., r )F(

r ,..., r ( ψ

)d r ,..., r ( r ( r ,..., r ( ψ

d ) r ,..., r ψ(

) r φ(

d ) r ,..., r ψ(

) r (3z )

Q(ψ

A 1

A 1

A 1

i A 1

2 A 1

i

2 A 2 1

2 i i

dengan merupakan gabungan (coupled) dua fungsi gelombang:

) r ,..., r ( )ψ r ( φ ) r ,..., r

F(1Ai1A

 )

r ,..., r

F(1A

0

maka:

?

 Mencari Q(ψ):

(9)

Sesuai aturan penjumlahan momentum angular:

2) (L

L I

J     

I 2

2 I

J J 1 A

A 1

i A

1,...,r ) φ(r)ψ(r,...,r ) F (r,...,r ) r

F(      

dengan fungsi gelombang dengan momentum angular J.FJ(r1,...,rA)

2 I J 2

I   

mengingatkan pada polinomial Legendre orde 2 , dan dengan begitu pada fungsi spherical harmonics , berarti memiliki momentum angular L = 2.

memiliki momentum angular I (spin inti).

P2

Y20

) r ,..., r (

ψ 1A ) r ( φ i maka:

Kembali ke: Q(ψ)

ψ(r1,...,rA)F(r1,...,rA)dτ

maka ditemui:

ψ(r1,...,rA)FJ(r1,...,rA)dτ

momentum angular I momentum angular J

= ?

(10)

2 I J 2

I   

Sesuai sifat orthogonal eigenstate operator momentum angular:

I) (J

0 )d

r ,..., r ( )F r ,..., r (

ψ 1 A J 1 A  

τ

Dengan kata lain integral di atas tidak nol jika J = I.

Ingat kembali nilai-nilai J:

maka:

2 I J 2 I : 2 I

4 J 0 :

2 I

J :

I

3 J 1 :

1 I

J :

I

2 J :

0 I

27 21

23

25 23

21

J  I

I J 

I 1 J  

I J  23

I 2 J  

I J 

Jadi, ditemui J = I jika , berarti untuk inti berspin .I 1 Q(ψ ) 0 I  0 & 21

(11)

Q = momen quadrupol inti yaitu, momen quadrupol listrik inti untuk keadaan

Q(m) = momen quadrupol inti untuk keadaan , dengan : I)

(m 1) Q

I(2I

1) I(I

Q(m) 3m2

  Didefinisikan:

Keadaan inti dengan spin I ( ) terdegenerasi dalam (2I + 1) keadaan , dengan m = -I, -I + 1, -I + 2, …, I.

ψI

II

ψ

mI

ψ

mI

ψ m  I

multipol:



Z

1 i

2 A 1

i lm i

il

lm(ψ) e r Y (θ,φ)ψ(r,...,r ) d

Q   τ

maka:

20

1 1, y

x 10

z

00

5 Q Q 16π

3 Q iD

D ,

3 Q D

Q inti

muatan

(12)

Sumber kemagnetan inti:

• gerakan orbital proton (partikel bermuatan listrik) dalam inti (ingat, kemagnetan ditimbulkan oleh arus listrik = muatan listrik yang bergerak)

• sifat magnetik intrinsik nukleon akibat spin

• sumber lain (tidak dibahas)

Momen Magnetik Inti

(13)

proton:

Momen Magnetik Nukleon

5.59 proton

ik gyromagnet faktor

g

) satuan dalam

(S cS

2M g e

μ

p

p p

p

   

Momen magnetik biasa dinyatakan dalam satuan magneton Bohr untuk proton (atau disebut magneton nuklir):

erg/gauss 10

5.049 c

2M μ e

nuklir magneton

1 -24

p

0   

 

netron:

3.83 g

cS 2M g e

μ

n

p n

n

  

S g μ S

g

μp p  n n

 Dalam satuan magneton nuklir: 

(14)

operator momen magnetik:

Momen Magnetik Inti

Momen magnetik inti diperoleh sebagai nilai ekspektasi operator momen magnetik inti pada keadaan ψ:



 

 

 

A 1 Z

k k

n Z

1

k k

p 0

S μ g S g S

μˆ ˆ ˆ

• dari spin nukleon:

• dari gerakan orbital proton: μ μ Z L (L dalam satuan )

1

k k

0

C  

 ˆ

ˆ

operator momen magnetik total: μˆ μˆS μˆC

 ψμ ψ ψ (r,...,r )μψ(r,...,r )dτ μ ˆ 1A ˆ 1A

(15)

Gerakan Orbital Proton

Z 1

k p

k k Z 1

k k k

p Z

1

k k

p Z 1

k k

0 C

M p r e

2c 1

) satuan dalam

L , p r L ( p c r

2M e

c L 2M

e L μ

μ

ˆ ˆ ˆ ˆ ˆ







 

Z

1

k 1 A

p k k

A 1

C ψ(r,...,r )d

M p r e

) r ,..., r ( 2c ψ

μ 1    τ

 ˆ

 

k

j j

A 1

k 1 - k 1

p A k 1

k 1 - k 1

k ψ(r,...,r ,r,r ,...,r ) dr

M p )e r ,..., r

, r , r ,..., r ( ψ )

r (

j       

  ˆ



Z

1

k k

C r j dr

2c

μ 1   

operator momen magnetik:

momen magnetik:

rapat arus proton ke-k:

(16)

Momen Magnetik Inti Efektif

Tidak seperti momen magnetik nukleon, momen magnetik inti tidak berhimpit dengan spin.



 

  

  

A 1 Z

k k

n Z

1

k k

p Z

1

k k

0 L g S g S

μ

μˆ ˆ ˆ ˆ

operator spin inti:

operator momen magnetik inti:

A

1

k k

A 1

k Lk S

Iˆ ˆ ˆ

Momen magnetik inti efektif yaitu, komponen momen magnetik inti pada arah spin:

I I ) I μ

μeff2ˆ ˆ

ˆ   

  

μeff

μ

I

(17)

Momen magnetik inti efektif untuk keadaan inti :

) k I j I i I I (

) I μ μ (

, ψ μ ψ

μeff mI eff mI eff ˆ 2ˆ ˆxˆ ˆyˆ ˆz ˆ ˆ

ˆ   

 

eigenstate dari , bukan eigenstate dari dan :

mI

ψ Iˆzxy

mI mI

I y I m

m I x

I m m

z ψ m ψ I ψ ψ I ψ ψ

Iˆ  ˆ  ˆ 

Lebih detil lagi, operasi masing-masing dan pada menghasilkan keadaan dengan nilai m yang lain (ingat dan kombinasi dari

operator tangga ). Karena itu:

0 ψ

I ψ ψ

I

ψmI ˆx mImI ˆy mI

xy ψmI mI

ψ

Jadi:

mI 2 z

mI z

eff, z

eff,

eff I ψ

I ) I μ ψ ( μ

k μ

μ ˆ ˆ ˆ

ˆ

 

   

xy

(18)

μ = momen magnetik inti yaitu, untuk keadaan : Keadaan inti terdegenerasi dalam (2I + 1) keadaan.

II z I eff,

I μ ψ

ψ

μ  ˆ

II

ψ ψI

z

μeff,

Didefinisikan:

μ(m) = untuk keadaan , dengan :ψmI m  I I) (m ψ

μ ψ

μ(m)  mI ˆeff,z mI

z

μeff,

momen magnetik inti dalam satuan magneton nuklir:

nuklir magneton

μ

inti ik gyromagnet faktor

g

I gμ μ

0

0

momen magnetik inti dapat dihitung sebagai:

μ gI μ μ

0

~ 

Referensi

Dokumen terkait

SRHR terdiri dari empat pondasi utama, yang di antaranya adalah: 1) Sexual Health, yang merupakan sebuah prinsip yang melihat bahwa seksualitas pada diri individu manusia dan

Hasil ini sejalan dengan penelitian Pebrianti (2008) yaitu pola asuh yang banyak terjadi pada pasien skizofrenia yaitu pola asuh otoriter sebanyak 29 orang (69%), hal

Melengkapkan Borang *CP22B – Pesara Pencen / *CP22A – Pesara KWSP bagi mendapatkan Surat Penyelesaian Cukai (SPC) daripada Lembaga Hasil Dalam Negeri (LHDN) Seterusnya bakal

[r]

Dalam Undang-undang nomor 14 tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik sangat penting bagi landasan hukum yang berkaitan dengan (1) hak setiap orang untuk

Dari uji statistik didapatkan perbedaan bermakna waktu mencit bertahan di rotarod pada kelompok kontrol negatif (CMC) terhadap kontrol positif (fenobarbital) dan kelompok perlakuan

PENGARUH NILAI-NILAI BUDAYA TERHADAP PENGETAHUAN ORANG TUA MENGENAI PENDIDIKAN SEKS PADA ANAK USIA DINI.. DI DESA WONOSARI

pada permulaan kuat kuasa Perintah ini adalah sah dan hendaklah tidak menjejaskan apa-apa prosiding undang-undang yang dimulakan oleh atau terhadap pemaju