• Tidak ada hasil yang ditemukan

Safiah* &Nurmadiah Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya Samawa Rea Corresponding

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Safiah* &Nurmadiah Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya Samawa Rea Corresponding"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

Volume 1 No. 1, April 2021

open access at : http://jurnal.iisbudsarea.ac.id/index.php/ProLex Fakultas Hukum-IISBUD Samawa Rea

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License

KeduduKan anaK angKat terhadap harta Warisan

Orang tua angKat (studi KOmperatif antara

huKum perdata dan huKum islam)

safiah* &nurmadiah

Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya Samawa Rea Corresponding email : [email protected]

abstrak

Pengangkatan anak merupakan suatu perbuatan dalam suatu peristiwa hukum yang melahirkan suatu hubungan baru yaitu antara orang tua angkat dan anak angkat. Pengangkatan anak pada hakekatnya dipandang sebagai upaya untuk meniru alam dengan menciptakan keturunan secara buatan. Pengangkatan anak mengakibatkan perpindahan keluarga dari orang tua kandungnya kepada keluarga yang mengangkatnya. Status anak tersebut seolah-olah dilahirkan dari perkawinan orang tua angkat. Jadi status anak angkat sama dengan anak sah. Dalam hukum waris ia disebut juga sebagai ahli waris terhadap kedua orang tua angkatnya tersebut dengan pembatasan anak angkat tersebut hanya menjadi ahli waris dari bagian yang tidak diwasiatkan. Hak waris menurut Staatblad, anak angkat memiliki hak waris sebagaimana hak waris yang di miliki anak kandung. Kompilasi Hukum Islam anak angkat tidak dapat menjadi ahli waris dari orang tua angkatnya, hanya memperoleh wasiat.

Kata Kunci : Kedudukan Anak Adopsi i. pendahuluan

Anak angkat adalah bagian dari segala harapan kedua orang tua (ayah dan ibu) sebagai penerus hidup. Mempunyai anak merupakan tujuan dari adanya perkawinan untuk menyambung keturunan serta kelestarian harta kekayaan.

Prosedur pengangkatan anak/adopsi yang biasa dilakukan sesuai dengan hukum yang berlaku, supaya anak yang diangkat bisa mendapatan harta dari orang tua angkatnya, sedangkan kedudukan hukum pengangkatan anak terhadap pemberian harta warisan menurut Hukum Perdata dan Hukum Islam adalah anak yang diadopsi secara sah melalui putusan pengadilan kedudukannya adalah sama dengan anak kandung sehingga anak yang diangkat berhak mewarisi harta peninggalan orang tua angkatnya, sedangkan menurut Hukum Islam pengangkatan anak tidak membawa akibat hukum dalam hal hubungan darah, wali maupun warisan dengan orang tua angkat, meskipun begitu ahli waris tersebut tetab menjadi ahli waris dengan orang tua kandungnya.

Mengenai status anak angkat menurut hukum Islam, dalam Al-Quran surat al-Ahzab ayat 4-5 berbunyi:

(2)

Terjemah Arti: Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya, dan Dia tidak menjadikan isteri-isteri mu yang kamu zihar itu sebagai ibumu, dan Dia tidak menjadikan anak-anak angkat mu sebagai anak kandung mu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataan mu di mulut mu saja. Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar). Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka, itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggillah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu. Dan tidak ada dosa atas mu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Pada surat An-Nisa ayat 11 terdapat jumlah pembagian harta warisan untuk anak laki-laki dan anak perempuan, artinya :

“Allah mensyari’atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu: bahagian seorang anak lelaki sama dengan bagahian dua orang anak perempuan; dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separoh harta. Dan untuk dua orang ibu-bapak, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapaknya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga, jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. Ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (4: 11)”

Sedangkan dalam KUHPerdata jumlah pendapatan pembagian harta warisan pada anak angkat/anak luar kawin yang telah diakui secara sah meurut KUHPerdata pada pasal 916 maka jumlah legitiemeporti (bagian mutlak) adalah ½ dari bagiannya sebagi ahli waris menurut undang-undang.

(3)

Jenis penelitian ini adalah hukum normatif dengan memperoleh Bahan Hukum yang diperlukan dengan melakukan penelusuran litelatur yang berkaitan dengan judul penelitian ini. Dalam penelitian hukum normatif dikenal pendekatan antara lain Pendekatan perundang-undangan (stature approach) ini dilakukan dengan menelaah semua peraturan perundang-undangan yang bersangkut paut dengan permasalahan (isu hukum) yang sedang dihadapi. Pendekatan perundang-undangan ini misalnya dilakukan dengan mempelajari konsistensi/kesesuaian antara Undang-Undang Dasar dengan Undang, atau antara Undang yang satu dengan Undang-Undang yang lain, dst.

Pendekatan komparatif (comparative approach) ini dilakukan dengan membandingkan peraturan hukum ataupun putusan pengadilan di Indonesia , namun haruslah mengenai hal yang sama. Perbandingan dilakukan untuk memperoleh persamaan dan perbedaan diantara peraturan hukum/putusan pengadilan tersebut.

Pada penelitian hukum normatif ini penyusun menggunakan jenis bahan hukum sekunder yang dimana bahan hukum sekunder berupa pendapat hukum/doktrin/teori-teori yang diperoleh dari letaratur hukum, hasil penelitian, artikel ilmiah, maupun website yang terkait dengan penelitian. Penulis menggunakan sumber data, yaitu menggunakan sumber data sekunder, data yang diperoleh dari penelitian kepustakaan berupa literature pada perpustakaan daerah Sumbawa dan perpustakan kampus IISBUD SAREA dan dokumen-dokumen, buku, makalah, serta peraturan perundang-undangan pada Hukum Perdata buku I bab ke III dan Kompilasi Hukum Islam pad pasal 171, serta bahan tulis yang berkaitan dengan objek yang akan dibahas.

Karena penelitian ini merupakan penelitian pustaka, maka dalam pengumpulan data-datanya penyususnan melalui pengkajian terhadap literatur-literatur pustaka yang dengan objek yang dimaksudkan. Yakni mengkaji kitab-kitab Al Qur’an dan hadis, undang-undang serta leteratur yang kaitannya dengan tema pembahasan penelitian ini, pengkajian ini bermaksud untuk pengumpulan data tentang pendapat dan argumen-argumen tentang hak waris anak angkat. Sedangkan dari literature umum lainnya adalah untuk memperoleh teori-teori dan konsep-konsep serta informasi lainnya yang dapat dijadikan acuan.

Penelitian ini merupakan penelitian normatif, maka analisis yang digunakan berupa analisis deduktif, yakni menganalisis data dari yang bersifat umum yang kemudian ditarik untuk menjadi kesimpulan yang khusus dan di samping itu juga digunakan metode komperatif untuk membandingkan antara kedua sistem hukum tersebut sehingga memperoleh gambaran yang jelas baik dari sisi perbandingan ataupun persamaan.

(4)

iii. pemBahasan

a. perbedaan Konsep hukum perdata dan hukum islam tentang pewarisan anak angkat

a. Berdasarkan Pasal 171 huruf H Kompilasi Hukum Islam “Anak angkat adalah anak yang dalam pemeliharaan untuk hidupnya sehari- hari, biaya pendidikan, dan sebagainya beralih tanggung jawabnya dari orang tua asal kepada orang tua angkatnya berdasarkan Putusan Pengadilan”.

b. Berdasarkan Pasal 1 Angka 9 “Anak angkat adalah anak yang haknya dialihkan dari lingkungan kekuasaan Keluarga Orang tua, wali yang sah, atau orang lain yang bertanggung jawab atas perawatan, pendidikan, dan membesarkan anak tersebut ke dalam lingkungan Keluarga Orang Tua angkatnya berdasarkan putusan atau penetapan Pengadilan.”

Pengangkatan anak berdasarkan Undang- undang No. 35 Tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak dalam Pasal 39 Ayat (2) menyebutkan “Pengangkatan anak tidak memutuskan hubungan darah antara anak yang diangkat dan orang tua kandungnya” dan Pasal 40 Ayat (1) “Orang tua angkat wajib memberitahukan kepada anak angkatnya mengenai asal usulnya dan orang tua kandungnya”.

Hukum waris bagi anak angkat berdasarkan hukum waris perdata barat: Diatur dalam Stb 1917 No. 129, akibat hukum dari pengangkatan anak adalah anak tersebut secara hukum memperoleh nama dari bapak angkat, dijadikan sebagai anak yang dilahirkan dari orang tua angkat dan menjadi ahli waris orang tua angkat. Artinya akibat pengangkatan tersebut maka terputus segala hubungan perdata, yaitu antara orang tua kandung dan anak tersebut. Anak yang diadopsi secara sah melalui putusan pengadilan, kedudukannya adalah sama dengan anak kandung. Sehingga yang bersangkutan berhak mewaris harta peninggalan orang tuanya, asalkan dalam pengangkatan anak dilakukan sesuai hukum secara sah melalui pengadilan.

Pembagian Warisan yang di Peroleh Anak Angkat, Hak anak angkat didalam keluarga menurut KUH Perdata yaitu setara dengan anak kandung. Berdasarkan Staatsblad Nomor 129 Tahun 1917 Tentang Pengangkatan Anak, pada Pasal 12 yang menyamakan seorang anak dengan anak yang sah dari perkawinan orang yang mengangkat. Mengenai pembagian warisan yang di peroleh anak angkat yang telah tercantum pada ahli waris golongan I ialah ahli waris golongan I terdiri atas anak-anak atau sekalian keturunannya. Anak yang dimaksud pada Pasal tersebut adalah anak sah, karena mengenai anak luar kawin, pembuat undang-undang mengadakan pengaturan tersendiri dalam bagian ke

(5)

3 Titel/ Bab ke II mulai dari Pasal 862 KUH Perdata. Termasuk di dalam kelompok anak sah adalah anak-anak yang disahkan serta anak-anak yang di adopsi secara sah. Cara mewarisi ahli waris di dalam sistem KUH Perdata terbagi menjadi 2 macam, yaitu: a. Ahli waris menurut Undang-Undang (Ab Intestato) Ahli waris yang berdasarkan

undang- undang ini berdasarkan kedudukannya dibagi menjadi dua bagian yakni, ahli waris berdasarkan kedudukan sendiri (Uit Eigen Hoofde) dan ahli waris berdasarkan penggantian (Bij Plaatvervuling).

b. Ahli waris berdasarkan wasiat (Testament) Yang menjadi ahli waris di sini adalah orang yang ditunjuk atau diangkat oleh pewaris dengan surat wasiat sebagai ahli warisnya. Wasiat dalam KUH Perdata adalah pernyataan seseorang tentang apa yang di kehendakinya setelah ia meninggal dunia. Pada asasnya suatu pernyataan kemauan terakhir itu ialah keluar dari satu pihak saja dan setiap waktu dapat ditarik kembali oleh pewasiat baik secara tegas atau secara diam-diam

Berdasarkan hukum Islam pengangkatan anak tidak membawa akibat hukum dalam hal hubungan darah, hubungan wali mewali, dan hubungan waris mewarisi dengan orang tua angkat. Ia tetab menjadi ahli waris orang tua kandungnya dan anak tersebuttetab memakai nama dari ayah kandungnya. Untuk melindungi hak dari anak adopsi maka orang tua angkat dapat memberikan wasiat asalkan tidak melebihi 1/3 harta peninggalannya, hal ni diatur dalam pasal 209 KHI. Dalam hukum Islam pada prinsipnya hal pokok dalam kewarisan Islam adalah adanya hubungan darah. Pasal 171 huruf C KHI. Masalah hak waris anak angkat dalam musyawarah nasional alim ulama NU 2017 di Nusa Tenggara Barat dengan menyimpulkan “Anak angkat tidak berhak mendapatkan bagian dari tirkah dengan berdasar wasiat wajibah dari orang tua angkatnya. Tetapi apabila orang tua angkat berwasiat, maka anak angkat berhak mendapatkan bagian harta sesuai kadar wasiatnya selama tidak melebihi sepertiga dari harta orang tuanya. Apabila melebihi sepertiga dari harta orang tuanya, maka ia harus mendapatkan persetujuan ahli waris.”

Pada dasarnya, Kompilasi Hukum Islam (KHI) tidak mengatur mengenai pengangkatan anak oleh orang tua tunggal. KHI hanya menerangkan terkait hak waris anak angkat, menurut KHI yang di maksud anak angkat adalah anak yang dalam hal pemeliharaan untuk hidupnya sehari-hari, biaya pendidikan dan sebagainya beralih tanggung jawabnya dari orang tua asal ke orang tua angkatnya berdasarkan putusan pengadilan (Pasal 171 huruf h Kompilasi Hukum Islam).

b. Kedudukan hukum pengangkatan anak terhadap pemberian harta peningga-lan pewaris menurut Kompilasi hukum islam dan hukum perdata

(6)

Berdasarkan ketentuan hukum waris Perdata Barat, sebagaimana diatur dalam Staatblaad 1917 No. 129, akibat hukum dari pengangkatan anak adalah anak tersebut secara hukum memperoleh nama dari bapak angkat, dijadikan sebagai anak yang dilahirkan dari perkawinan orang tua angkat dan menjadi ahli waris orang tua angkat. Artinya, akibat pengangkatan tersebut maka terputus segala hubungan perdata, yang berpangkal pada keturunan karena kelahiran, yaitu antara orang tua kandung dan anak tersebut. Oleh karena itu, anak yang diadopsi secara sah melalui putusan pengadilan, kedudukannya adalah sama dengan anak kandung. Sehingga yang bersangkutan berhak mewarisi harta peninggalan orang tuanya.

Didalam per buatan pengangkatan anak menurut ketentuan hukum positif Indonesia terdapat akibat-akibat hukum yang salah satunya berkait dengan hak mewarisi. Oleh karena pengaturan mengenai hak mewaris tersebut berbeda-beda tergantung pada sistem hukum mana yang digunakan, maka hal terebut tentu saja akan berakibat terhadap bagian waris yang di peroleh oleh anak angkat baik yang diangkat menurut Hukum Perdata dan Hukum Islam.

Anak luar kawin mempunyai hubungan hukum dengan ayah atau ibunya setelah ayah atau ibunya mengakui anak luar kawin tersebut secara sah. Hubungan hukum ini sifatnya terbatas. Artinya, hanya ada antara anak luar kawin tersebut dengan ayah atau ibunya yang mengakuinya saja, sedangkan dengan anggota keluarga yang lain, anak luar kawin tersebut tidak mempunyai hubungan hukum. Menurut Pasal 865 KUHPerdata, jika pewaris tidak meninggalkan ahli waris yang sah, maka sekalian anak luar kawin mendapat seluruh warisan.

Anak luar kawin dapat mewaris dengan ahli waris Golongan I, Golongan II, Golongan III maupun Golongan IV. Oleh karena itu, anak luar kawin merupakan kelompok ahli waris tersendiri dan tidak termasuk dalam golongan ahli waris menurut undang-undang. Dalam pewarisan anak luar kawin yang diakui, merupakan kelompok ahli waris yang berdiri sendiri.

Menurut Pasal 866 KUHPerdata, seandainya seorang anak luar kawin yang diakui meninggal dunia lebih dahulu dari pewaris dengan meninggalkan keturunan yang sah, maka keturunan anak luar kawin tersebut menggantikan kedudukannya sebagai ahli waris. Dalam hal ini perlu diperhatikan, bahwa keturunan anak luar kawin tersebut haruslah keturunan yang sah. Anaknya anak luar kawin dari anak luar kawin meskipun diakui secara sah, tidak mempunyai hak untuk menggantikan kedudukan tempat ahli waris yang meninggal lebih dahulu dari pewaris, karena pada prinsipnya, pengakuan hanya menimbulkan hubungan antara orang yang mengakui dan orang yang diakui saja.

(7)

Dengan demikian dapat disimpulkan, bahwa dalam hal anak luar kawin meninggal, maka pada hakekatnya anak luar kawin tersebut dianggap sebagai pewaris biasa sama dengan pewaris yang lain. Dalam hal ini, berlaku juga penggantian tempat1.

Menurut ketentuan syari’at Islam, anak angkat tidak tergolong dalam ahli waris orang tua angkatnya. Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa pengangkatan anak dalam hukum Islam tidak membawa akibat hukum dalam hubungan darah, hubungan wali-mewali, dan hubungan waris-mewarisi dengan orang tua angkatnya. Sehingga dengan demikian anak angkat tetap menjadi ahli waris orang tua kandungnya dan anak tersebut tetap memakai nama dari ayah kandungnya.

Disamping itu anak angkat tidak berhak mewarisi warisan orang tua angkatnya, hal tersebut dikarenakan dalam hukum warisan Islam ada tiga sebab seorang dapat mewarisi, yaitu:

a. Karena hubungan kekerabatan, yang dimaksud disini ialah hubungan darah atau hubungan family,

b. Karena perkawinan, perkawinan sah akan menimbulkan hubungan kewarisan, c. Karena wala, yaitu hubungan hukmiah, suatu hubungan yang ditetapkan oleh Hukum

Islam karena tuannya telah memberikan kenikmatan hidup kepada mereka dan mengembalikan hak asasi kemanusian kepada budaknya.

Dari penjelasan diatas terlihat jelas bahwa Hukum Islam tidak memberikan hak bagi anak angkat untuk menerima warisan dari orang tua angkatnya, karena yang saling mewarisi dari mereka ialah adanya hubungan kekerabatan, karena perkawinan, dan karena wala, karena pada masa sekarang tidak lagi di temukan sebab mewaris karena

wala, sehingga saat ini hanya terdapat dua hubungan kekerabatan dan hubungan

perkawinan. Mengenai sebab mewaris karena hubungan kekerabatan atau nasab dengan orang tua angktanya. Begitu juga dengan hubungan perkawinan, anak angkat tidak memiliki hubungan tersebut dengan orang tua angkatnya. Oleh karena itu anak angkat hanya dapat mewarisi dari orang tua kandungnya sendiri.

Sehingga untuk melindungi hak-hak anak angkat dan orang tua angkat yang keduanya telah memilik hubungan kemanusiaan agar memiliki hal khusus dalam hal kedekatan dan saling tolong menolong-menolong, maka Kompilasi Hukum Islam memberikan kepastian hukum melalui ketentuan tentang wasiat wajibah sebagaimana telah tertuang dalam pasal 209 KHI, yang menyatakan bahwa:

(8)

a. Harta peninggalan anak angkat dibagi berdasarkan pasal 176 sampai dengan 193 tersebut diatas, sedangkan pada orang tua angkat yang tidak menerima wasiat diberi wasiat wajibah sebanya-banyak 1/3 dari harta wasiat anak angkanya.

b. Terhadap anak angkat yang tidak menerima wasiat diberi wasiat wajibah sebanyak-banyaknya 1/3 dari harta wasiat orang tua angkatnya.2

Kompilasi Hukum Islam telah menempatkan anak angkat hanya dalam pewasiatan harta bukan melewati hak kewarian. Oleh karenanya wasiat wajibah sebagimana diatur didalam KHI bertujuan guna melindungi kepentingan anak angkat tersebut. Dimana menurut ketentuan pasal 209 ayat 2 KHI besarnya bagian tidak boleh melebihi 1/3 dari harta peninggalan orang tua angkatnya. Dengan adanya wasiat wajibah anak angkat tetap memperoleh warisan dari harta peninggalan, meskipun orang tua angkatnya meskipun semasa hidupnya orang tua angkatnya tidak pernah menyatakan akan memberikan bagian kepada anak angkatnya tersebut.

Karena dalam Hukum Islam anak angkat masih bernasabkan kepada orang tua kandungnya, sementara kepada orang tua angkatnya seperti yang telah dijelaskan sebelumnya anak angkat memperoleh wasiat wajibah dengan besar bagian sebanyak-banyak 1/3 dari harta warisan orang tua angkatnya. Dengan demikian anak angkat tidak memiliki kewajiban untuk membayar hutang-hutang orang tua angkatnya karena anak angkat tidak termasuk ahli waris dari orang tua angkatnya. Sedangkan kewajiban anak angkat untuk membayar hutang-hutang pewaris tersebut hanya ada pada orang tua kandungnya, karena dia sebagai pelaku ahli waris dari orang tua kandungnya.

Didalam KUHperdata tidak ditemukan pengertian hukum waris, tetapi yang ada hanya berbagai konsep-konsep tentang pewarisan, orang yang berhak dan tidak berhak menerima warisan dan lain-lain. Namun di dalam inpres Nomor 1919 tentang Komplasi Hukum Islam (selanjutnya di sebut KHI) telah diatur dan dimasukan pengertian hukum waris. Pasan 171 huruf a yang berbunyi bahwa “hukum kewarisan adalah hukum yang mengatur tentang pemindahan hak pemilikan harta peninggalan (tirkah) pewaris, menentukan siapa-siapa yang berhak menjadi ahli waris dan berapa bagian masnig-masing”. Menurut pandangan Pitlo, ia berpendapat bahwa “Hukum waris adalah kumpulan, yang mengatur hukum yang mengenai kekayaan karena wafatnya seseorang, yaitu mengenai pemindahan ini bagi orang-orang yang memperolehnya, baik dalam hubungan antara mereka dengan mereka, maupun dalam hubugan antara mereka dengan pihak ke tiga”.

(9)

Dalam hukum waris berlaku asas, bahwa hanya hak dan kewajiban dalam lapangan hukum harta benda saja yang dapat di wariskan atau hak dan kewajiban yang dapat dinilai dengan uang. Jadi hak dan kewajiban dalam lapangan hukum kekeluargaan atau kepribadian, misalnya hak dan kewajiban sebagai suami atau ayah, tidak dapat diwariskan. Selain itu berlaku juga asas, bahwa apabila seseorang meninggal seorang, maka ketika itu pula segala hak dan kewajibannya beralih pada ahli warisnya. Asas ini dalam bahasa Prancis disebut “le mort saisit le vif”’yang artinya orang mati menangkap yang cepat. Sedangkan pengoperan segala hak dan kewajban dari si pewaris oleh para ahli waris disebut “saisine”.

Ada juga asas yang di sebut dengan “hereditatis petition” yaitu hak dari ahli waris untuk menuntut semua yang termasuk dalam harta peninggalan dari si pewaris terhadap orang yang menguasai harta warisan tersebut untuk di serahkan padanya berdasarkan haknya sebagai ahli waris. Asas ini di atur dalam pasal 834 Burgerlijk Wetboek (yang selanjutnya di sebut BW)

Sedangkan berdasarkan Hukum Islam, pengangkatan anak tidak membawa akibat hukum dalam hal hubungan darah, hubungan wali-mewali dan hubungan waris mewaris dengan orang tua angkat. Ia tetap menjadi ahli waris dari orang tua kandungnya dan anak tersebut tetap memakai nama dari ayahnya3. Dengan demikian, anak adopsi tidak mewarisi harta peninggalan orang tua angkatnya. Untuk melindungi hak dari anak adopsi tersebut, maka orang tua angkat dapat memberikan wasiat asalkan tidak melebihi 1/3 harta peninggalannya.

Adapun cara pembagian harta warisan anak angkat dari orang tua angkat menurut ketentuan Hukum Perdata dan Hukum Islam, anak angkat bisa dapat sepertiga bagian hal ini tercantum dalam Pasal 1676 KUHPer yang tertulis bahwa :

“Semua orang boleh memberikan dan menerima hibah kecuali mereka yang oleh undang-undang yang tidak mampu untuk itu.”4

Hak waris anak angkat pun ternyata telah diatur pula dalam aturan Islam yang tertuang pada KHI yang sering disebut sebagai wasiat wajibah. Wasiat wajibah ini tidak memerlukan wasiat secara lisan maupun tulisan. Ketika orang tua mereka meninggal, maka anak angkat wajib diberikan pada saat wasiat wajibah yang bersarnya tidak lebih dari 1/3 harta peninggalan. Hal ini pun dijelaskan pada Pasal 209 ayat 1 KHI, yang berbunyi:

3 M. Budiarto, S.H., Pengangkatan Anak Ditinjau Dari Segi Hukum, AKAPRESS, 1991. 4 Kibatb Undang-undang Hukum Perdata, pasal 1676

(10)

“Terhadap anak angkat yang tidak menerima wasiat, diberi wasiat wajibah sebanyak-banyaknya 1/3 dari harta warisan orang tua angkatnya.”

c. golongan ahli Waris Berdasarkan hukum perdata dan hukum islam

Menurut Hukum perdata ada 4 golongan ahli waris yaitu :

a. Golongan I, yaitu anak, keturunannya dalam garis lurus kebawah. Sejak tanggal 1 Januari 1936 dengan S.1935 – 486, Janda atau duda disamakan dengan anak sah (dimasukkan dalam pasal 852 KUH Perdata). bagian anak adalah sama,tidak dibedakan antara laki-laki dan perempuan. Bagian anak pada dasarnya sama dengan bagian janda atau duda.tetapi bagian janda atau duda dari perkawinan kedua tidak boleh lebih 1/4 dari harta, apabila ada anak dari perkawinan sebelumnya. Jika golongan I ada, maka golongan II tidak mewaris. Anak sah termasuk anak yang disahkan (Pasal 277 KUH Perdata) dan anak yang diadopsi (Pasal 12.S1917 – 129). apabila ada ahli waris golongan I, maka golongan ahli waris lainnya tidak mendapat bagian dalam golongan ini terdapat waris pengganti (Plaatsverfulling) keturunan hanya mendapat bagian secara waris pengganti apabila orang tua dari cucu atau cicit telah meninggal dunia dia (cucu atau cicit) berbagi atas bagian orang tuanya yang digantikannya.

b. Golongan II, yaitu orang tua dan saudara sekandung, dan atau keturunannya. Pada asasnya bagian orang tua dipersamakan dengan bagian saudara,tetapi bagi orang tua diadakan peraturan-peraturan yang menjamin bahwa ia pasti mendapat bagian tidak kurang dari 1/4 harta peninggalan. Apabila diantara saudara-saudara ini ada yang hanya sebapak atau hanya seibu saja dengan si yang meninggal,maka pasal 857 KUH Perdata memberi peraturan istimewa,dimana harta dibagi 2 dahulu, kemudian 1/2 bagian untuk untuk saudara-saudara sebapak dan 1/2 bagian lainnya untuk saudara-saudara seibu, sedangkan saudara-saudara yang seibu sebapak mendapat bagian dari kedua bagian sebelumnya. Apabila golongan II ada, maka golongan III tidak mendapatkan warisan. Dalam golongan ini terdapat waris pengganti (Plaatsverfulling).

c. Golongan III, yaitu kakek dan atau nenek serta leluhur seterusnya keatas. Dari ketentuan pasal 853 dan 859 KUH Perdata dapat disimpulkan bahwa apabila si Peninggal warisan tidak mempunyai anak, cucu, keturunan, seterusnya janda, duda, saudara, orang tua, maka harta tersebut dibagi 2 dahulu (kloving), kemudian dibagi 1/2 untuk keluarga kakek dan 1/2 untuk keluarga nenek. Kemudian apabila kakek dan nenek juga tidak ada, sedang ada ayah atau ibu dari kakek atau nenek itu, maka

(11)

kakek dan nenek buyut inilah yang mendapat warisan. Apabila golongan III ada, maka golongan IV tidak mendapat warisan jika ada kakek atau nenek yang sudah meninggal, maka diberikan pada yang masih hidup.

d. Golongan IV, yaitu apabila dari Golongan III tidak ada, maka tiap-tiap bagian separuh dari ayah atau dari ibu jatuh pada saudara-saudara sepupu si meninggal tersebut, yaitu yang sekakek atau yang senenek dengan si meninggal (sanak keluarga si pewaris dalam garis menyimpang sampai derajad ke enam) secara sama rata (bij hoofden).

Kalau Golongan I sampai golongan IV tidak ada,maka harta dapat dituntut oleh anak luar kawin diakui (Pasal 873 KUH Perdata). Apabila anak luar kawin ini juga tidak ada, maka warisan jatuh atau dikuasai oleh Negara. Berdasarkan bagian warisan yang diperoleh anak luar kawin adalah tergantung dari dengan bersama-sama siapa anak luar kawin itu mewaris (atau dengan golongan ahli waris yang mana anak luar kawin tu mewarisi, yaitu pada Pasal 863 yang berbunyi “jika yang meninggal meninggalkan keturunan sah menurut undang-undang atau suami atau isteri, maka anak luar kawin mewarisi 1/3 dari bagian yang mereka terima, seandainya meraka adalah anak-anak sah menurut undang-undang, mereka mewarisi separuh dan harta peninggalan,bila yang meninggal itu tidak meninggalkan keturunan, suami atau isteri, tetapi meninggalkan keluarga sedarah dalam garis keatas, atau saudara laki-laki dan perempuan atau keturunan-keturunan mereka, dan 3/4 bila hanya ditinggal keluarga sedarah yang masi hidup dalam derajat yang lebih jauh lagi”.

iV. Kesimpulan

Ketentuan Anak Angkat dalam hal kewarisan memiliki sisi perbedaan antara Hukum Perdata dan Hukum Islam. Hukum Islam menyatakan bahwa anak angkat tidak dapat mewarisi harta dari orang tua angkatnya di sebabkan anak angkat tidak dapat disamakan kedudukannya dengan anak kandung dan nasab anak angkat tetab terikat pada orang tua kandungnya. Anak angkat bisa mendapatkan harta dari orang tua angkatnya hanya melalui jalan hibah ataupun wasiyat wajibah dengan ketentuan tidak boleh melebihi sepertiga dari harta orang tua angkatnya. Sedangkan menurut Hukum Perdata dalam hal kewarisan, anak angkat berhak mendapatkan harta warisan dari orang tua angkatnya. Hal ini disebabkan dalam Hukum Perdata dinyatakan anak angkat itu dapat berpindah nasab dari orang tua kandung kepada orang tua angkat. Sehingga antara anak angkat dengan orang tua angkat menurut Hukum Perdata dapat saling mewarisi satu sama lain.

(12)

Orang tua angkat bertangguang jawab atas pemeliharaan dan pedidikan anak angkatnya untuk memberi perlindungan bagi kelangsungan hidup dan kesejahteraan anak angkatnya, orang tua angkat harus menyadari bahwa anak angkat bukanlah ahli waris darinya, sehingga orang tua angkat dapat mempersiapkan wasiat atau memberikan hibah kepada anak angkatnya. Untuk menjamin kesejahteraan anak angkat, KHI menetapkan hak wasiat wajibah bagi anak angkat sebanyak 1/3 dari harta peninggalan orang tua angkatnya. Ketentuan ini memberikan jaminan bagi anak angkat untuk meperoleh hak atas harta peninggalan orang tua angkatnya, walaupun menurut hukum waris anak angkat bukanlah ahli waris dari orang tua angkatya. Wasiat wajibah merupakan suatu lembaga yang menjamin hak anak angkat terhadap harta peninggalan harta orang tua angkatnya.

daftar pustaKa

al- Quran

Al-Quran dan Terjemahnya, 1974, Departemen Agama RI, Jakarta Buku

Ditbinbapera Islam Ditjen Binbaga Islam Departemen Agama RI, 1999/2000:81 Hadikusuma, Hilman, 1990, “Hukum Waris Adat”. Bandung, Citra Aditya Bakti. Budiarto, M, 1991, “Pengangkatan Anak Ditinjau Dari Segi Hukum”. AKAPRESS. Arief, Isa, M, 1994,’’ Hukum Waris Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata

Belanda,”Jakarta, Intermasa

Poesponoto, Soebakti, 1997,”Asas-Asas dan Susunan Hukum Adat,” Jakarta, Pradya Pramita

Rahmad, Farur, 1981,”Ilmu l.fiaris” Bandung:Al-Maaris

Simanjuntak, PNH, 2007,”Pokok-Pokok Hukum Perdata Indonesia,” Jakarta Soeroso, R, 2018,”perbandingan hukum perdata”,Jakarta, PT.Sinar Grafika Soeroso, R, 1995,”Perbandingan Hukum Perdata” Jakarta, PT.Sinar Grafika Perangin, Effendi, 2013,” Hukum Waris”, Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada

Kusuma, Hadi, Hilman, 1990,” Hukum Perkawinan Adat”, Bandung, Citra Aditya Bakti Subekti, 1987,” Pokok-Pokok Hukum Perdata,”Jakarta, Intermasa

Soepomo, 1993,”Bab-Bab Tentang Hukum Adat,” Jakarta, Pradya Paramita Subekti, 1982,”Pokok-Pokok Hukum Perdata,” Jakarta, PT.Intermasa

Kartohadibroto, Soedirman, 1964” Masalah Hukum Sehari-hari,” Yogyakarta, Hien Hoo Sing

Wigjodipuro, Surojo, 1982,” Pengantar dan Asas-Asas Hukum Adat”, Jakarta, Gunung Agung.

(13)

Wirjono Prodjodikoro, Wirjono, 1976,” Hukum Warisan di Indonesia,” ,Jakarta, PT.Sumur Bandung

Jurnal

Jurnal Al-Syir’ah vol. 4 No. 2 2006 Website

http://grupsyariah.blogspot.com/2012/04/makalah kedudukan anak angkat terhadap. html 1, diakses pada tanggal 24 februari 2020 pukul 14:35

https://nasional.kompas.com/read/2008/05/28/08423140/bagaimana membagi waris

menurut KUH Perdata , diakses 2 Maret 2020 pukul 13:36

https://butew.com/2018/05/02/4-golongan-ahli-waris-dan-subjek-hukum-waris-menurut-hukum-perdata/ diakses pada tanggal 3 Maret 2020 pikul 13:15 Wita https://www.muisumut.com/blog/2019/11/25/hukum-waris-perdata,diakses pada

tanggal 3 Maret 2020 pukul 19:54 Wita

https://sugalilawyer.com/pembagian-harta-waris-menurut-hukum-islam-dan-kuh-perdata-bw/ diakses pada tanggal 3 Maret 2020 pukul 20:10 Wita

http://blajar hukum perdata blogspot.com/2013/07/pengankatan anak adopsi, dakses 06 Maret 2020 pukul 21:10.

https://ekobudiono.lawyer/2019/12/14/status-dan-hak-waris-anak-angkat/1 September 2020 pukul 09:12 Wita

https://www.99.co/blog/indonesia/hak-anak-angkat-warisan/ diakses pada 1 September 2020 pukul 09:10 wita

gacara.co/bagaimana-status-kewarisan-anak-angkat-di-mata-hukum, diakses pada tanggal 2 September 2020 pukul 14:20 WITA

perundang-undangan Kompilasi Hukum Islam

Referensi

Dokumen terkait

Puji dan syukur kehadirat TuhanYang Maha Esa sehingga skripsi ini berhasil diselesaikan.Skripsi ini disusun sebagai syarat yang harus dipenuhi untuk mendapatkan gelar

Berdasarkan hal-hal tersebut, maka dirumuskan permasalahan mengenai kendala- kendala yang dihadapi oleh pengadilan untuk menangani para pelaku Kejahatan dunia

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi terbaik hidrolisis enzim yaitu pada konsentrasi enzim selulase 5% v/v selama 12 jam pada hidrolisat asam sulfat 1%

Manfaat dari kerja sama yang saling ketergantungan antarsiswa di dalam pembelajaran kooperatif berasal dari empat faktor diungkapkan oleh Slavin (dalam Eggen dan Kauchak, 2012:

Namun, persepsi masyarakat terhadap perempuan muslim yang menggunakan cadar sering dianggap sebagai sikap fanatisme terhadap agama bahkan tidak jarang juga

Dari hasil wawancara yang dilakukan dengan 15 remaja putri, ditemukan bahwa sekitar 10 orang mengalami gangguan dalam siklus menstruasi, diantaranya 4 orang

Kandungan ion Aluminium (III) dalam air tanah dipekatkan dengan metode ekstraksi fasa padat menggunakan adsorben nanoemulsi kitosan yang dimodifikasi dengan Alizarin,

Karakter morfologis bentuk dan warna rimpang jahe (a) jahe putih besar dan (b) jahe merah Diketahui beberapa karakter morfologis terdapat karakter yang sama pada