Bab 2
Teori Dasar Gelombang Gravitasi
2.1 Gravitasi terlinearisasi
Gravitasi terlinearisasi merupakan pendekatan yang memadai ketika metrik ruang waktu, gab, terdeviasi sedikit dari metrik datar, ηab [13]:
gab = ηab+ hab, khabk 1, (2.1) di mana, ηab= metrik diagonal (−1, 1, 1, 1) khabk = besaran dari komponen tidak nol dari hab . Kondisi khabk 1 membatasi medan gravitasi sebagai medan yang lemah, sehingga membatasi sistem koordinat menjadi sistem koordinat kartesian. hab menggambarkan gelombang gravitasi, tetapi memiliki derajat kebebasan non-radiatif sehingga yang digunakan hanya suku linear pada hab saja. Sebagai akibatnya, indeks dinaikkan dan diturunkan dengan menggu- nakan ηab. Metrik hab bertransformasi sebagai tensor di bawah transformasi Lorentz, tapi tidak di bawah transformasi koordinat secara umum.
Untuk menjelaskan gravitasi terlinearisasi, semua kuantitas yang diper- lukan dihitung terlebih dahulu. Komponen Simbol Christoffel diberikan seba- gai berikut:
Γabc = 1
2ηad(∂chdb+ ∂bhdc− ∂dhbc)
= 1
2(∂chab+ ∂bhac− ∂ahbc). (2.2) Indeks bagian ruang dapat ditulis sebagai ’dinaikkan’ atau ’diturunkan’ tan- pa mengubah kuantitasnya, sedangkan operasi menaikkan dan menurunkan indeks pada bagian waktu akan mengubah tanda.
7
2.1. GRAVITASI TERLINEARISASI 8
Tensor Riemann dapat dibangun sebagai berikut:
Rabcd = ∂cΓabd− ∂dΓabc
= 1
2(∂c∂bhad+ ∂d∂ahbc− ∂c∂ahbd− ∂d∂bhac). (2.3) Persamaan (2.3) dapat digunakan untuk membangun Tensor Ricci:
Rab= Rcacb= 1
2(∂c∂bhca+ ∂c∂ahbc− hab− ∂a∂bh), (2.4) di mana, haa= h adalah trace dari metrik gangguan habdan ∂c∂c= ∇2− ∂t2= adalah operator gelombang
Dari persamaan (2.4) dibangun skalar kurvatur:
R = Raa= (∂c∂ahca− h). (2.5) Kemudian persamaan (2.5) digunakan untuk membangun tensor Einstein:
Gab = Rab−1 2ηabR
= 1
2(∂c∂bhca+ ∂c∂ahbc− hab− ∂a∂bh
−ηab∂c∂dhcd+ ηabhab). (2.6) Persamaan (2.6) dapat disederhanakan dengan menggunakan gangguan trace reversed:
¯hab = hab−1
2ηabh. (2.7)
Dengan memasukkan persamaan (2.7) ke persamaan (2.6) diperoleh:
Gab= 1
2(∂c∂bh¯ca+ ∂c∂a¯hbc− ¯hab− ηab∂c∂d¯hcd). (2.8) Persamaan (2.8) dapat disederhanakan kembali dengan melakukan transfor- masi koordinat yang dikenal sebagai transformasi gauge. Transformasi koordi- nat infinitesimal dapat ditulis sebagai x0a= xa+ ξa, di mana ξa(xb) merupakan medan vektor infinitesimal yang berubah-ubah. Transformasi ini mengubah metrik melalui,
h0ab= hab− 2∂aξb, (2.9) sehingga metrik trace reversed menjadi
h¯0ab = h0ab−1 2ηabh0
= h¯0ab− 2∂<bξa> +ηab∂cξc. (2.10)
2.2. PERAMBATAN GELOMBANG GRAVITASI 9
Untuk memenuhi radiasi, maka digunakan kondisi Lorentz gauge
∂ah¯0ab = 0. (2.11)
Jika metrik gangguan tidak berada di bawah Lorentz gauge, maka perlu dicari metrik h0ab yang baru di mana ∂a¯h0ab:
∂ah¯0ab = ∂a¯hab− ∂a∂bξa− ξb+ ∂b∂cξc (2.12)
= ∂a¯hab− ξb. (2.13)
Metrik gangguan habdapat dimasukkan ke dalam Lorentz gauge dengan meng- gunakan transformasi koordinat infinitesimal yang memenuhi
∂ah¯0ab = ξb. (2.14) Dengan menemukan solusi dari persamaan gelombang (2.14), gauge Lorentz dapat dicari.
Dengan memasukkan persamaan (2.11) ke persamaan (2.8), diperoleh:
Gab= −1
2¯hab. (2.15)
Dengan demikian, dalam gauge Lorentz, tensor Einstein tereduksi menjadi op- erator gelombang yang bekerja pada metrik gangguan trace reversed (sampai dengan faktor −12). Persamaan Einstein yang terlinearisasi dengan demikian adalah
¯hab = −16πTab. (2.16)
2.2 Perambatan Gelombang Gravitasi
Dalam ruang vakum (Tab = 0),persamaan Einstein yang terlinearisasi (2.16) tereduksi menjadi [18]:
¯hab = 0. (2.17)
Solusi persamaan di atas diberikan sebagai berikut:
¯hab= Aabexp(ikaxa) (2.18)
2.2. PERAMBATAN GELOMBANG GRAVITASI 10
yang jika diturunkan akan memberikan hasil sebagai berikut:
∂chab= kc¯hab. (2.19) Persamaan (2.17) akan mengambil bentuk yang sederhana jika diajukan kon- disi gauge
∂a¯hab = 0, (2.20)
dari persamaan (2.19) dan (2.20) diperoleh
Aabka= 0. (2.21)
Hal ini berarti bahwa Aabharus tegak lurus terhadap ~k. Dengan menggunakan kebebasan gauge lainnya, maka amplitudo gelombang gravitasi dapat dibatasi lebih jauh dengan mengganti gauge tanpa mengubah kelas Lorentz dengan menggunakan vector yang dapat menyelesaikan
∂c∂cξa= 0, (2.22)
yang solusinya adalah
ξa= Baexp(ikcxc), (2.23) dimana Ba adalah konstanta dan kc adalah null vector. ξ ini memberikan pe- rubahan pada hab menjadi
h0ab = hab− 2∂<aξb> (2.24)
dan
h0ab= ¯hab− 2∂<aξb>+ ηab∂cξc. (2.25) Dengan mensubtitusi persamaan (2.23) ke persamaan (2.25) lalu menghilangkan semua faktor eksponensial yang sama diperoleh
A0ab= Aab− iBakb− iBbka+ iηabBckc, (2.26) dan Badapat dipilih sedemikian untuk membatasi A0ab :
Aaa= 0, (2.27)
dan
AabUb = 0, (2.28)
2.2. PERAMBATAN GELOMBANG GRAVITASI 11
di mana ~U merupakan kecepatan-4 tertentu, vektor unit timelike konstan yang hendak kita pilih. Persamaan (2.21), (2.27), dan (2.28) disebut sebagai kondisi gauge transverse traceless.
Pada latar belakang transformasi Lorentz, di mana vektor ~U merupakan ba- sis vektor Ub = δb0, maka persamaan (2.28) mengimplikasikan bahwa Aa0 = 0 untuk semua a . Dalam kerangka ini, dimisalkan gelombang merambat dalam arah z, ~k → (ω, 0, 0, ω). Maka persamaan (2.21), (2.28) mengimplikasikan bah- wa Aax = 0 untuk semua a. Kedua implikasi ini menunjukkan bahwa hanya komponen Axx, Ayy, dan Axy = Ayx yang tidak nol. Dari persamaan (2.27), maka didapat bahwa dalam bentuk matriks, kerangka ini dapat dituliskan se- bagai berikut:
Aab=
0 0 0 0
0 Axx Axy 0 0 Axy −Axx 0
0 0 0 0
. (2.29)
Efek dari gelombang gravitasi adalah dapat mengubah jarak proper antara dua buah partikel.
Pada ruang waktu datar, cahaya akan mengikuti lintasan garis lurus. Namun, pada ruang-waktu lengkung, lintasan lurus yang dilalui oleh cahaya akan men- galami deviasi dari koordinat pada ruang-waktu datar.
Sebagai contoh, misalkan terdapat 2 buah massa yang berdekatan. Massa yang pertama terletak pada (0, 0, 0) dan massa yang kedua terletak pada (, 0, 0).
Dengan menggunakan persamaan deviasi geodesik, d2
dτ2ξa= RacdbUcUdξb (2.30) dimana vektor ξb menghubungkan kedua partikel dan ~U = d~dτx adalah vektor kecepatan-4 dari kedua partikel, di mana ~U → (1, 0, 0, 0) dan pada awalnya, ξ → (0, , 0, 0). Maka persamaan (2.30) tereduksi menjadi orde pertama ¯~ hab:
d2
dτ2ξa= ∂t2ξa= Ra00x= −Ra0x0. (2.31)
2.2. PERAMBATAN GELOMBANG GRAVITASI 12
Dengan menggunakan persamaan (2.3) untuk menunjukkan, dalam gauge T T : Rx0x0 = Rx0x0 = −12∂02hxxtt ,
Ry0x0 = Ry0x0 = −12∂02hxytt,
Ry0y0 = Ry0y0 = −12∂02hyytt, = −Rx0x0
(2.32)
dengan komponen independen lainnya menghilang. Hal ini berarti kedua par- tikel memiliki vektor pemisahan dalam arah x:
∂t2ξx= 1
2ε∂t2hT Txx, ∂t2ξy = 1
2ε∂t2hT Txy , (2.33) dan dalam arah y:
∂t2ξy = 12ε∂2thT Tyy = −1
2ε∂t2hT Txx,
∂t2ξx = 12ε∂2thT Txy . (2.34) Persamaan (2.34a) dan (2.34b) akan membantu dalam menjelaskan polarisasi gelombang gravitasi.
Gambar 2.1(a) Lingkaran partikel sebelum gelombang merambat melewati lingkaran terse- but dalam arah sumbu z. (b) distorsi yang dihasilkan oleh gelombang dengan polarisasi ’+’. (c) Seperti (b) tapi dengan polarisasi ’x’
Karakteristik dari gelombang gravitasi akan lebih jelas terlihat dengan tidak hanya mempertimbangkan dua buah partikel saja, melainkan sejumlah par- tikel yang tersusun dalam bentuk lingkaran pada bidang x − y pada z = 0
2.3. PEMBANGKITAN GELOMBANG GRAVITASI 13
dengan sebuah massa lainnya pada bagian pusat. Misalkan lingkaran partikel tersebut pada awalnya diam (lihat Gambar 2.1a).
Lalu gelombang gravitasi dengan hT Txx 6= 0, hT Txy = 0 melewati lingkaran partikel ini, maka lingkaran partikel akan terdistorsi (jarak proper relatif terhadap massa pada pusat) seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2.1b, awalnya ma- suk, lalu keluar, dimana gelombang berosilasi dan hxx berubah tanda. Jika partikel memiliki hT Txx 6= 0 tetapi hT Txx = hT Tyy = 0, maka lingkaran partikel tersebut akan berdistorsi seperti yang ditunjukkan oleh Gambar 2.1c. Kare- na hT Txx dan hT Txy tidak saling bergantung, maka Gambar 2.1b dan 2.1c meru- pakan gambaran dari dua buah polarisasi yang berbeda. Polarisasi gelombang memiliki pola seperti yang digambarkan pada Gambar 2.1 karena gravitasi direpresentasikan oleh tensor simetrik rank-2 hcd.
2.3 Pembangkitan Gelombang Gravitasi
Persamaan medan lemah Einstein adalah
¯hab = −16πTab. (2.35)
Beberapa asumsi yang diambil untuk memecahkan masalah ini adalah:
1. Komponen riil yang bergantung waktu berosilasi secara sinusoidal den- gan frekuensi Ω sebagai berikut:
Tab = Sab(xi) exp(−iωt). (2.36) Daerah dimana Sab 6= 0 lebih kecil dibandingkan dengan panjang gelom- bang dari gelombang gravitasi dengan frekuensi 2π/Ω.
2. Sumber bergerak lambat. Kecepatan khas di dalam daerah sumber harus lebih kecil dari 1. Hal ini dipenuhi oleh semua sumber gravitasi kecuali sumber yang sangat kuat.
Solusi untuk ¯hab dari bentuk
¯hab= Bab(xi) exp(−iΩt) (2.37)
2.3. PEMBANGKITAN GELOMBANG GRAVITASI 14
didapatkan dengan mensubtitusi persamaan (2.37) ke persamaan (2.35):
(∇2+ Ω2)Bab= −16πTab. (2.38) Untuk daerah di luar sumber diperlukan solusi dari persamaan (2.38) yang menunjukkan radiasi gelombang ke luar dan yang mendominasi di daerah ger- ak lambat. Didefinisikan r sebagai komponen radial koordinat polar dengan titik asalnya terletak di dalam sumber. Solusi dari persamaan (2.38) adalah:
Bab = Aab
r exp(iΩr) + Zab
r exp(−iΩr) (2.39)
Suku Zab menyatakan gelombang yang merambat ke arah titik asal r = 0, sementara suku Aabmenyatakan gelombang yang merambat ke luar dari sum- ber. Karena solusi yang dicari adalah gelombang yang diemisikan ke luar oleh sumber, maka Zab = 0.
Pendekatan yang dilakukan untuk menentukan di dalam sumber adalah bah- wa sumber bernilai tidak nol hanya di dalam bola dengan radius: ε 2π/Ω.
Integrasi komponen waktu dari ruas kiri persamaan (2.38) sepanjang bagian dalam bola adalah
Z
Ω2Babd3x ≤ Ω2|Bab|max4πε3/3. (2.40) Dengan menggunakan teorema Gauss, maka integrasi komponen ruang dari suku bagian kiri persamaan (2.38) adalah
Z
∇2Babd3x = I
~
n · ~∇BabdS, (2.41) namun karena integral permukaan berada di luar sumber, dimana diberikan oleh persamaan (2.39), yang simetris secara sferis:
I
~
n · ~∇BabdS = 4πε2( d
drBab)r=ε ≈ −4πAab, (2.42) dimana integral dari ruas kanan persamaan (2.38) didefinisikan sebagai:
Jab= Z
Sabd3x. (2.43)
Dengan membatasi hasil-hasil di atas dalam limit ε → 0, maka diperoleh
Aab = 4Jab (2.44)
¯hab = 4Jabexp(iω(r − t)/r) (2.45)
2.3. PEMBANGKITAN GELOMBANG GRAVITASI 15
Persamaaan (2.44) dan (2.45) merupakan pernyataan untuk gelombang grav- itasi yang dibangkitkan oleh sumber, dimana suku dengan orde r−2 dan suku r−1dengan orde yang lebih tinggi dari orde εΩ diabaikan.
Persamaan di atas dapat disederhanakan dengan memanfaatkan kenyataan bahwa{hab} merupakan komponen dari tensor tunggal. Dari persamaan (2.43) didapatkan
Jabexp(−iΩt) = Z
Tabd3x, (2.46)
dengan konsekuensi:
−iΩJabexp(−iΩt) = Z
∂tTatd3x. (2.47) Dari hukum kekekalan untuk Tab ,
∂aTab= 0, (2.48)
disimpulkan bahwa
∂tTat= −∂kTak. (2.49) Sehingga
−iΩJatexp(−iΩt) = Z
∂kTakd3x = I
TaknkdS, (2.50) dimana Teorema Gauss kembali digunakan. Hal ini berarti bahwa Tab= 0 pada permukaan yang melingkupi volume ini, sehingga ruas kanan dari persamaan (2.50) menghilang.
Jika Ω 6= 0, maka
Jab = 0, ¯hab = 0. (2.51)
Pernyataan Jij juga dapat dituliskan sebagai berikut:
d2 dt2
Z
T00xlxmd3x, (2.52) dimana integral pada ruas kanan dari persamaan (2.52) merupakan tensor mo- men quadrupol dari distribusi massa,
Ilm = Z
T00xlxmd3x (2.53)
= Dlmexp(−iΩt), (2.54)
2.3. PEMBANGKITAN GELOMBANG GRAVITASI 16
sehingga
¯hjk = −2Ω2Djkexp(iΩ(r − t)). (2.55) Persamaan (2.55) sering disebut sebagai pendekatan quadrupol untuk gelom- bang gravitasi. Persamaan (2.21) dapat dilengkapi dengan memilih kondisi dimana gelombang merambat dalam arah z, dan dalam gauge T T sehingga didapatkan bentuk paling sederhana dari gelombang:
¯hT Tzi = 0 (2.56)
¯hT Txx = ¯hT Tyy = −Ω2(łxx− łyy) exp(iΩr/r) (2.57)
¯hT Txx = −2Ω2łxyexp(iΩr/r)) (2.58)
dimana
łjk = Ijk−1
3δjkIll (2.59)
disebut sebagai tensor trace-free atau tensor momen quadrupole tereduksi. So- lusi untuk radiasi gravitasi yang teremisi pada persamaan (2.35) untuk nilai yang berubah-ubah diberikan oleh integral retarded
¯hab(t, xi) = 4
Z τab(t − R, yi)
R d3x, (2.60)
dimana integral dilakukan melewati kerucut cahaya masa lalu (t, xi) dimana
¯habdihitung. Misalkan titik asal berada di dalam sumber dan dimisalkan bah- wa titik medan xiterletak jauh sekali:
|xi| ≡ r |yi| ≡ y (2.61) sehingga turunan komponen waktu dari Tabsangat kecil, maka, di dalam inte- gral dari persamaan (2.60), kontribusi yang dominan berasal dari pertukaran R oleh r:
¯hab(t, xi) ≈ 4 r
Z
Tab(t − r, yi)d3x. (2.62) Persamaan (2.62) merupakan generalisasi dari dari persamaan (2.45). Dengan memanfaatkan hukum kekekalan
∂aTab= 0, (2.63)
2.4. RADIASI GRAVITASI SISTEM BINTANG GANDA 17
maka akan diperoleh
Z
Ttad3y = const. (2.64)
Bagian r−1dari ¯htatidak ber-gantung waktu sehingga tidak akan berkontribusi pada bidang gelombang manapun. Hal ini akan menghasilkan persamaan (2.51). Lalu, dengan menggunakan persamaan (2.52), maka didapatkan per- samaan generalisasi dari persamaan (2.55):
¯hjk(t, xi) = 2
r∂t2Ijk(t − r). (2.65) Dengan menggunakan gauge T T , maka diperoleh
¯hT Txx = 1
r [∂t2łxx(t − r) − ∂t2łyy(t − r)]
¯hT Txy = 2
r ∂t2łxy(t − r)
. (2.66)
2.4 Radiasi Gravitasi Sistem Bintang Ganda
Salah satu sumber gravitasi yang sangat umum adalah sistem 2 bintang yang mengorbit mengitari titik pusat massanya di bawah pengaruh gravitasi masing- masing bintang. Dari seluruh sistem bintang di alam semesta ini, kurang lebih 2/3 nya merupakan sistem bintang ganda [14]. Pendekatan untuk sumber yang bergerak lambat seperti yang dilakukan pada bagian §2.3 cukup memadai un- tuk diterapkan pada sistem bintang ganda.
Kasus yang akan ditinjau ditunjukkan pada Gambar 2.2. Dengan menga- sumsikan bahwa Hukum Newton cukup akurat, maka dengan memanfaatkan Hukum Newton (gaya gravitasi = gaya sentrifugal) dan mengambil G = 1:
M2
4R2 = M ω2R : ω = V R
1
2
, (2.67)
dimana ω merupakan kecepatan sudut orbit.
Dari Gambar 2.2 geometri untuk kasus yang ditinjau adalah:
x1(t) = R cos(ωt), y1(t) = R sin(ωt), z1(t) = 0 x2(t) = −x1(t), y2(t) = −y1(t), z2(t) = 0.
(2.68)
2.4. RADIASI GRAVITASI SISTEM BINTANG GANDA 18
Gambar 2.2sistem bintang ganda yang mengitari titik pusat massa nya akibat pengaruh gravitasi masing-masing bintang. Kedua bintang memiliki massa yang sama M , dan bergerak dengan kecepatan sudut ω
Komponen tensor momen quadrupol untuk kedua bintang dapat dihitung dari persamaan (2.53):
Ixx = 2M R2cos2(ωt) = M R2(1 + cos(2ωt)), Iyy = 2M R2sin2(ωt) = M R2(1 − cos(2ωt)), Ixy = 2M R2sin(ωt) cos(ωt) = M R2sin(2ωt).
(2.69)
Tensor momen quadrupol tereduksinya adalah:
łxx = −łyy= M R2exp(−2iωt), łyy = M R2exp(−2iωt).
(2.70)
Dengan memasukkan persamaan (2.70) ke persamaan (2.56-2.58):
¯hxx = −¯hyy = − −8ω2M R2
r exp(−2iω(r − t)/r),
¯hxy = −¯hyy = − −8iω2M R2
r exp(−2iω(r − t)/r).
(2.71)
Dari persamaan (2.71) dapat dilihat bahwa frekuensi dari radiasi yang teremisi adalah dua kali frekuensi orbit (Ω = 2ω) yang mengimplikasikan bahwa polar- isasi gelombang yang diemisikan sistem bintang ganda ini merupakan polar- isasi melingkar dimana partikel-partikel dengan elips yang tegak lurus, seperti
2.4. RADIASI GRAVITASI SISTEM BINTANG GANDA 19
yang ditunjukkan oleh Gambar 2.1, berotasi dengan frekuensi sudut 2ω ter- hadap gelombang.
Sedangkan untuk radiasi gelombang gravitasi yang merambat dalam arah sumbu x ditunjukkan oleh persamaan (2.71), namun tidak dalam gauge trans- verse traceless-nya. Dengan menghilangkan komponen longitudinal xx dan xy dari ¯hij dan mengurangi trace, maka diperoleh:
¯hyy = −¯hxx = −−4ω2M R2
r exp(−2iω(r − t)/r). (2.72) Persamaan (2.72) merupakan polarisasi linear yang sejajar dengan bidang or- bit.