• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERANAN SATTAMA UNIT SATWA POLDA BALI DALAM PROSES PENYELIDIKAN TIDAK PIDANA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PERANAN SATTAMA UNIT SATWA POLDA BALI DALAM PROSES PENYELIDIKAN TIDAK PIDANA"

Copied!
42
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN PENELITIAN

PERANAN SATTAMA UNIT SATWA POLDA BALI DALAM PROSES PENYELIDIKAN TIDAK PIDANA

OLEH :

I WAYAN BELA SIKI LAYANG,SH.,MH

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS UDAYANA

DENPASAR

2016

(2)
(3)
(4)

ABSTRAK

Penelitian ini dilakukan untuk memperoleh data emperis tentang Peranan Sattama Satwa Polda Bali Dalam Proses Penyelidikan Tindak Pidana, serta hambatan-hambatan yang timbul dalam penggunaan Sattama dalam proses penyelidikan dalam rangka membuat terang adanya suatu tindak pidana.

Kerangka yang melandasi penelitian ini adalah kita menyadari bersama bahwa perkembangan kejahatan dari tahun ketahun modus operandinya mengalami peningkatan baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Meskipun hal itu sudah diantisipasi oleh jajaran penegak hukum baik dari segi kemampuan teknis penegak hukum maupun sarana-prasarana yang menunjang dalam rangka untuk memberantas kejahatan. Namun dalm hal-hal kejahatan tertentu walaupun sudah ditunjang oleh sarana dan prasarana yang memadai untuk memberantas kejahatan ternyata tidaklah cukup. Disinailah letak peranan alat bantu Sattama untuk melacak kejahatan – kejahatan tertentu dalam membuat terang adanya suatu tindak pidana.

Berdasarkan kerangka pemikiran yang demikian dapat dirumuskan sebagai berikut : bahwa di dalam mengantisipasi kejahatan tertentu yang semakin canggih, maka diharapkan dengan adanya alat bantu sattama dalam proses penyelidikan mempercepat proses penyelidikan dalam membuat terang adanya suatu tindak pidana.

(5)

KATA PENGANTAR

Puji dan sykur kami panjatkan kehadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa / Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmatnyalah penelitian dengan judul : “ PERANAN SATTAMA UNIT SATWA POLDA BALI DALAM PROSES PENYELIDIKAN TINDAK PIDANA” dapat diselesaikan tepat pada waktunya.

Walaupun banyak hambatan yang dihadapi selama dalam proses pengumpulan data dan dalam penulisan laporan, namun hambatan-hambatan tersebut dapat diatasi dengan baik sehingga tidak mengganggu kelancaran proses penyelesaian laporannya.

Karena keterbatasan kemampuan dan waktu, membuat peneliti sadar akan segala kekurangan dari hasil penelitian ini. Namun walaupun demikian, tetap diharapkan dapat bermanfaat bagi peneliti maupun dunia ilmu pengetahuan dan juga kalangan praktisi.

Tentu saja tidak lupa dalam kesempatan ini ijinkan peneliti mengucapkan banyak terima kasih dari berbagai pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah membantu baik materiil maupun immateriil dalam kelancaran proses penelitian ini sehingga dapat terselesaiakn tepat pada waktu yang diharapkan.

Denpasar, Nopember 2016

P e n e l i t i

iv

(6)

DAFTAR ISI

HALAMAN

JUDUL ... i

HALAMAN PENGESAHAN ... ii

ABSTRAK ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

DAFTAR ISI ... v

BAB I. PENDAHULUAN ... 1

1.1. LatarBelakang Masalah ... 1

1.2. Rumusan Masalah ... 3

1.3. Ruang Lingkup Penelitian ... 4

1.4. Tujuan Penelitian ... 5

1.5. Methodelogi ... 5

BAB II. TINJAUAN KEPUSTAKAAN... 7

BAB III. PEMBAHASAN DAN ANALISIS ... 9

BAB IV. P E N U T U P ... 33 DAFTAR BACAAN

DAFTAR INFORMAN

v

(7)

BAB I PENDAHULUAN

1. Latar Belakang Masalah.

Sebagaimana diketahui bahwa : “Negara Indonesia adalah negara berdasar atas hukum (rechstaat), tidak berdasar atas kekuasaan belaka (machstaat)”. Sebagai negara hukum pada prinsipnya adalah menjungjung tinggi hak asasi manusia. Tiap-tiap warga negara mempunyai kebebasan mengeluarkan pendapat, berbicara, bergerak dan bertindak. Kebebasan yang diberikan itu masih harus memperhatikan batas-batas tertentu dan terhadap barang siapa yang menyalah gunakan kebebasan, bertindak atau menggunakan haknya melampui batas sehingga dapat mengganggu keseimbngan masyarakat dan pemerintah akan ditindak tegas, karena merupakan penghalang untuk tercapainya cita-cita negara yang sedang giatnya membangun dalam rangka menuju masyarakat yang adil dan makmur.

Dengan memperhatikan hal-hal tersebut diatas, maka terhadapsemua pihak baik itu lembaga- lembaga pemerintah, sawasta maupun tiap-tiap individu sebagai anggota masyarakat hendaknya dalam menggunakan haknya tidak menyimpang dari asas-asas dasar tujuan negara yang berdasarkan Pancasi;la. Namun dalam kenyataannya sering terjadi penyalah gunaan hak bahkan bertentangan dengan tujuan yang diberikan nya, yaitu hak yang telah digariskan di dalam tujuan negara yang jelas akan membawa pengaruh besar terhadap kehidupan masyarakat, bangsa dan negara. Hal ini disebabkan oleh karena adanya perasaan tidak puas terhadap apa yang dimiliki, disamping itu dapat disadari karena negara kita adalah negara yang sedang berkembang yang tentunya banyak mengundang permasalahan serta pengaruh yang datang dari dalam negeri

(8)

maupun luar negeri yang dapat berupa pergolakan –pergolakan dalam bidang politik, ekonomi maupun dalam bidang sosial budaya.

Di atas telah disinggung bahwa tujuan pembangunan negara Indonesia adalah untuk mencapai masyarakat yang adil dan makmur, suatu masyarakat yang penuh kebahagiaan baik matriil maupun spiritual. Namun sebaliknya apabila perbuatan-perbuatan yang bertentangan atau penyalahgunaan hak tersebut terus membudaya dan tidak lagi memperhatikan kepentingan negara atau masyarakat dan lagi pula di dalam terjadinya pergolakan-pergolakan tadi tidak bisa kita mengklarifikasikan mana yang bermanfaat dan mana yang membawa akibat buruk, hal ini jelas akan merupakan tantangan atau musuh besar untuk mencapai tujuan negara.

Tantangan-tantangan tersebut adalah setiap perbuatan yang dapat mengganggu keseimbangan masyarakat atau setidak-tidaknya dapat merugikan kepentingan masyarakat atau negara. Jadi segala bentuk pelanggaran atau kejahatan, penyalah gunaan wewenang bagi aparat penegak hukum adalah suatu perbuatan yang kurang baik dan tidak pantas dilakukan, karena dapat mendatangkan kesengsaraan dan malapetaka. Walaupun demikian kenyataannya masih ada yang melakukan perbuatan tersebut, terlebih lebih dengan adanya kemajuan teknologi dan perkembangan peradaban manusia, maka cara melakukan kejahatanpun tampak lebih maju.

Kejahatan dapat dilakukan dengan berbagai cara dan taktik, serta berusaha untuk dapat menghilangkan jejak atau setidak-tidaknya dapat mengecoh pejabat yang diberi wewenang untuk melakukan penyelidikan, yaitu untuk mempersulit menemukan dirinya sebagai pelaku tindak pidana, karena itu maka pejabatpun harus lebih mampu meningkatkan taktik dan teknis serta mempunyai akal untuk menemukan pelakunya.

(9)

Mengingat taktik dan cara melakukan kejahatan yang semakin modern, sejalan dengan kemajuan alat-alat penyelidikan maka salah satu cara yang dipergunakan oleh pejabat penyelidik untuk melakukan penyelidikan yaitu untuk menemukan tersangkanya, barang bukti, sering pejabat menggunakan cara yang tidak lazim dikenal dalam perundang-undangan yaitu dengan menggunakan anjing pelacak.

Sehubungan dengan hal tersebut diatas, akhirnya peneliti berkeinginan untuk meneliti masalah penyelidikan terhadap tindak pidana dengan menggunakan bantuan anjing palacak ke dalam suatu penelitian dengan judul : “ Peranan Sattama Satwa Polda Bali Dalam Proses Penyelidikan Tindak Pidana”.

2. Rumusan Masalah.

Perkembangan masyarakat dan jumlah penduduk yang semakin membengkak membuat seakan-akan tempat tinggal sebagai tempat berpijak semakin menyempit. Dalam keadaan yang demikian seseorang akan berusaha dan mempergunakan segala cara untuk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Untuk mencapai tujuan pemenuhan kebutuhan tersebut, maka tidak jarang terjadi tindakan-tindakan yang menyimpang dari tujuan diberikannya hak, sehingga menggangu keseimbangan dan ketentraman masyarakat seperti adanya pelanggaran- pelanggaran dan kejahatan.

Pelanggaran dan kejahatan adalah sangat mengganggu bahkan merupakan penghambat bagi kelancaran pembangunan yang sedang digalakkan oleh pemerintah serta segenap aparat penegak hukum telah berusaha semaksimal mungkin melakukan pembrantasan terhadap pelaku perbuatan yang dapat mengganggu ketertiban, ketentraman dan keseimbangan masyarakat dan negara.

(10)

Dengan adanya kemajuan teknologi dan perkembangan peradaban manusia, maka aparat penegak hukum dalam melakukan tindakan pembrantasan terhadap pelaku tindak pidanan akan dapat menggunakan berbagai cara. Namun demikian mengingat kemampuan manusia sangat terbatas, walaupun sebagai pejabat telah terdidik dalam bidangnya dan walaupun dengan kemajuan teknologi pula, sesungguhnya itu dapat daiatasi dengan menggunakan alat-alat atau sarana penyelidikan yang lebih modern, namun mengingat negara yang sedang berkembnag maka keterbatasan tersebut dapat disadari.

Menyadari kekurangan tersebut maka aparat penegak hukum tidaklah kekurangan akal.

Dengan kemampuan yang dimiliki dan dengan segala upaya, aparat penegak hukum berusaha agar pelaku tindak pidana atau tersangkanya dapat diketemukan, sehubungan dengan hal tersebut maka aparat penegak hukum yang diberikan tugas dan wewenang melakukan tindakan penyelidikan dapat menggunakan anjing yang telah terlatih dan terdidik untuk melacak jejak, yang oleh umum lazim dikenal dengan anjing pelacak untuk membantu melakukan tugas penyelidikan.

Bertitik tolak dari uraian tersebut di atas, maka timbul permasalahan yang dapat peneliti rumuskan sebagai berikut:

1. Sejauh manakah peranan anjing pelacak dapat dianggap sah dalam mengungkap suatu dugaan tindak pidana.

2. Hambatan-hambatan apa sajakah yang terjadi dalam penyelidikan yang menggunakan bantuan anjing pelacak ?

3. Ruang Lingkup Penelitian.

(11)

Sesuai dengan rumusan masalah tersebut diatas, maka untuk menghindari agar jangan sampai timbul suatu pembahasan yang nantinya menyimpang dari pokok permasalahan dalam kaitannya dengan judul penelitian yang telah ditentukan, maka untuk fokus pembahasan masalah dalam penelitian ini adalah hanya terbatas pada penyelidikan oleh pihak yang berwajib mengenai kejahatan-kejahatan yang meninggalkan bekas bau serta tindakan-tindakan apa yang dapat dilakukan oleh penyelidik dalam pelaksanaan tugas selanjutnya.

4. Tujuan Penelitian.

Dengan memahami latar belakang permasalahan seperti tersebut diatas, maka tujuan penelitian ini adalah :

a. Untuk mengetahui dan untuk memperoleh kejelasan tentang keabsahan anjing pelacak dalam mengungkap kasus atau suatu tindak pidana.

b. Untuk mengetahui bahwa anjing pelacak hanya sebagai sarana bantu bagi penyelidik dalam menemukan barang bukti dan atau tersangkanya serta di pergunakan sebagai bukti awal untuk memperoleh keyakinannya dalam mengambil tindakan selanjutnya.

c. Untuk mengetahu hambatan-hambatan yang timbul dalam penyelidikan di T.K.P.

(tempat Kejadian Perkara) dengan menggunakan alat bantu anjing pelacak.

5. Methodelogi.

a. Pendekatan Masalah

Pendekatan permasalahan dilakukan dengan pendekatan yuridis sosiologis yaitu berpedoman pada peraturan perundang-undangan yang ada khususnya mengenai penyelidikan.

(12)

b. Sumber Data

Didalam mengumpulkan data, peneliti mempergunakan metode Library research (kepustakaan) dan Field research (penelitian lapangan). Library reasercht , yakni mengumpulan data dengan berpedoman pada pendapat para sarjana yang tergantung pada buku-buku karangan yang ada sangkut pautnya dalam penelitian ini. Sedangkan Field reasercht , yakni pengumpulan data dilapangan yang dilakukan dengan metode wawancara terhadap responden Polda Bali di denpasar.

c. Teknik Pengumpulan Data

Dengan mencatat ketentuan-ketentuan pada peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar hukum, maupun pendapat dari para ilmuan yang diperoleh dari bacaan sumber- sumber kepustakaan. Demikian pula dengan mencatat wawancara langsung dengan pejabat yang melakukan penyelidikan dengan bantuan anjing pelacak.

d. Teknik pengolahan dan Analisa data.

Dilakukan dengan cara deskriptif kualitatif, yakni peneliti menguraikan data yang ada menurut aturan-aturan yang sistimatis dengan penyajian yang bersifat analisia deskriftif sehingga dapat diambil suatu kesimpulan umum.

(13)

BAB II

TINJUAN KEPUSTAKAAN

Sejalan dengan kemajuan teknologi dan perkembangan peradaban manusia, maka alat-alat sarana penyelidik di lapanganpun tampak lebih maju. “Kemajuan alat-alat tersebut mengakibatkan banyak penjahat melakukan kejahatannya dengan mengimbangi kemajuan alat- alat tersebut, misalnya dengan mengunakan kaos tangan (Handchoen)” (Andi Hamzah : 1984 : 10). Dengan menggunakan kaos tangan jejak jarinya sulit dikenali oleh aparat penegak hukum/penyelidik sehubungan dengan tindak pidana yang dilakukannya. “Jejak jari atau sidik jari merupakan salah satu bukti fisik yang sulit difungkiri kebenarannya oleh tersangka karena tidak ada orang yang sama sidik jarinya, dan tidak akan mengalami perubahan selama hidupnya,” (Andi Hamzah: 1984: 13).

Dengan menggunakan kaos tangan (Hanchoen), adalah merupakan langkah kemajuan bagi penjahat untuk mempersulit tugas penyelidikan. Untuk mengatasi hal tersebut sesuai dengan profesi dan disiplin ilmu yang dimiliki untuk menemukan barang bukti dan atau tersangkanya, maka penyelidik mengalihkan perhatiannya dengan melacak jejak yang meninggalkan bau ditempat dimana kegiatannya dilakukan. Namun menginsafi sebagai petugas penyelidik adalah manusia biasa yang memiliki keterbatasan akan ketajaman penciuman, maka melalui sarana teknik dan taktik petugas penyelidik lalu menggunakan anjing pelacak untuk membantu penyelidikan.

Berdasarkan SK. KAPOLRI No. 97/SK/KAPOLRI/1970, tanggal 1 Juli 1970 disebutkan mengenai arti anjing pelacak, yaitu “ Sejenis anjing yang mempunyai kemampuan dan keistimewaan dengan indera penciumannya yang khusus dilatih untuk melacak jejak yang

(14)

masih meninggalkan bau”. Melalui ketajaman penciumannya anjing pelacak akan bekerja sesuai dengan petunjuk sang pawang sesuai dengan latihan dasar yang pernah diajarkannya.

Sang pawang akan mencatat segala kejadian dalam perjalanan pelacakannya sampai diketemukan barang bukti dan atau tersangkanya, yang untuk selanjutnya diserahkan kepada pejabat penyidik yang berwenang untuk mengadakan penyidikan lebih lanjut atas kasus tersebut.

Menurut KUHAP, yang dibebani tugas atau wewenang dalam penyelidikan adalah polisi negara. “Tiada pejabat lain selain polisi negara yang diberikan tugas dan wewenang untuk mengadakan penyelidikan kecuali undang-undang menentukan lain. Jadi polisi negara adalah penyelidik tunggal” (Martiman Prodjohamidjojo : 1985 : 21)

Dalam perkembangan peradaban manusia yang didukung pula oleh kemajuan teknologi, maka alat-alat penyelidikanpun juga tampak lebih maju. Namun dibalik kemajuan alat-alat tersebut, cara penjahat melakukan kegiatanpun tampak lebih maju sehingga memungkinkan dapat menghilangkan jejak atau setidaknya dapat mengecoh pejabat penyelidik. Untuk mengatasi hal tersebut pejabat penyelidik tidaklah kekurangan akal, sesuai dengan profesinya maka melalui sarana teknik dan taktik pejabat penyelidik menggunakan anjing pelacak untuk membantu pelaksanaan tugasnya dalam rangka menemukan barang bukti dan atau tersangkanya khususnya pada tindak pidana yang meninggalkan jejak bau. Hasil penyelidikan dengan menggunakan bantuan anjing pelacak tidaklah dapat diterima begitu saja kebenarannya, karena hal itu masih memerlukan penelitian yang lebih seksama dari pejabat penyelidik yang berwenang. Kewenangannya sebagai alat pembuktian dapat diterima bilamana didukung oleh alat-alat bukti lainnya yang diperoleh selema pemeriksaan berlangsung.

(15)

BAB III

PEMBAHASAN DAN ANALISA

1. Pembahasan.

1.1. Dasar Hukum Pembentuksn Sattama Satwa Polda Bali.

Sattama Satwa adalah satuan tugas pengamanan yang khsus menggunakan satwa (Anjing Pelacakan) sebagai alat bantu dalam proses penyelidikan tindak pidana.

Dalam perkembangannya ada beberapa tahap, yaitu :

1. Pada tahun 1952-1959 Kepala Kepolisian Karisidenan Malang merintis kegunaan anjing pelacak untuk menunjang tugas kepolisian yang dilakukan oleh seorang wanita yang berkebangsaan Jerman yang bernama Ny. Rollmoll yang berpengalaman sebagai pelatih anjing jenis Bouvier serta seekor anjing gembala Jerman.

2. Untuk pimpinan Brigade anjing telah disiapkan 2 (dua) orang perwira yaitu A.K.P.

Soedono dan A.K.P. RJ. Soedarjanto yang telah menyelesaikan pendidikan khusus di Eropa (Italia, Jerman Barat dan Austria). Pada Brigade anjing tersebut diperbantukan pula seorang dokter hewan yaitu Kolonel drh.Singgih yang merupakan Direktur Dinas Peterinsir Angkatan Darat, serta seorang Mantri Hewan dari dinas tersebut, yaitu Moh.

Husni Sumarto yang kemudian diangkat sebagai ajudan polisi tingkat dua.

3. Pada tahun 1959-= 1967 berdasarkan order Kepala Jawatan Kepolisian Negara No. Pol.

128/VII/1959 tanggal 4 Juli 1959 pada seksi Kejahatan Dinas Reserse Kriminal dibentuk susb seksi Brigade Anjing Dinas Kepolisian (BADK) di Kelapa Dua dengan

(16)

tugas merencanakan dan memelihara sebuah depot untuk melatih dan memelihara anjing untuk keperlu an kepolisian negara.

4. Pada tahun 1967 – 1970 berdasarkan SK Menteri/PANGAB no. 143/SK/MK/1966 tanggal 31 Desember 1966 nama Brigade Anjing diganti menjadi Brigade Hewan.

5. Pada tahun 1970 – 1977 berdasarkan SK Kapolri No. 97/SK/KAPOLRI/1970 tanggal 1 Juli 1970 Bigade Hewan diganti menjadi Brigade Satwa yang berada di bawah PUSDIK SABHARA.

6. Pada tahun 1977 – 1985 berdasarkan SK KAPOLRI No. Pol SKEP/51/VII/1977 tanggal 1 Juli 1977 Brigade Satwa diganti menjadi Sattama POLRI dan berada di bawah KOMAPTA POLRI.

7. Pada tahun 1985 sampai sekarang berdasarkan SK KAPOLRI No. POL SKEP/09/1984 tanggal 30 Oktober 1984 Sattama Satwa berada dibawah DIT Samampta POLRI.

1.2.. Tujuan Dibentuknya Sattama Satwa Polda Bali.

KUHAP sebagai pembaharuan yang fundemental sifatnya dari Hukum Acara Pidana yang berlaku sebelumnya, maka tampak lebih maju atau menjamin adanya perlindungan Hak Asasi Manusia yang sesuai dengan falsafah bangsa Indonesia yaitu Pancasila.

Perkembangan masyarakat dan jumlah penduduk yang semakin membengkak membuat seakan-akan tempat tinggal sebagai tempat berpijak semakin menyempit. Dalam keadaan yang demikian searang akan berusaha dan mempergunakan segala cara untuk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Untuk mendapat tujuan pemenuhan kebutuhan tersebut, maka tidak jarang terjadi tindakan- tindakan yang menyimpang dari tujuan diberikannya hak sehingga dapat mengganggu keseimbangan dan ketentraman masyarakat. Seperti

(17)

adanya pelanggaran – pelanggaran dan kejahatan-kejahatan . Pelanggaran dan kejahatan adalah sangat mengganggu bahkan merupakan penghambat bagi kelancaran pembangunan yang sedang digalakkan oleh pemerintah. Untuk menghindari hal tersebut, maka pemerintah serta segenap aparat penegak hukum telah berusaha semaksimal mungkin melakukan pembrantasan terhadap pelaku perbuatan yang yang dapat menggannggu ketertiban, ketentraman dan keseimbangan masyarakat dan negara. Bertitik tolak dari hal tersebut diataslah tujuan Sattama Satwa didirikan.

Berhubung dengan dibentuknya Sattama Satwa Polda Bali, maka tujuannya adalah:

1. Untuk mencegah timbulnya kejahatan yang kiat merajalela dengan sistem yang lebih modern, sehingga dalam hal ini penyelidik diharpkan dapat mengembangkan sistem penyelidikan secara modern juga, salah satunya dengan menggunakan anjing pelacak.

2. Untuk membantu tugas penyelidikan, karena selama ini dirasakan oleh pejabat penyelidik banyaknya terjadi kejahtan yang tidak dapat diselesaikan dengan hanya mengandalkan kemampuan pejabat penyelidik saja, tetapi harus di dukung pula oleh sarana yang lainnya, seperti kemampuan dan ketangkasan yang dimiliki oleh anjing pelacak.

Jadi secara umum tujuan didirikannya Sattama Satwa adalah untuk membrantas kejahatan yang menggunakan sistem atau sarana yang lebih modern seperti halnya kejahatan yang dilakukan tanpa meninggalkan jejak jari sehingga salah satu alternatif yang dipergunakan adalah dengan mendirikan Sattama Satwa yang khusus menangani kejahatan atau pelanggaran yang meninggalkan jejak bekas bau. Satwa yang dipergunakan adalah seekor anjing, karena anjing dianggap mempunyai insting yang lebih peka dari manusia.

(18)

1.3. Tugas dan Wewenang Sattama Satwa Polda Bali.

Sesuai dengan ketentuan yang terdapat dalam KUHAP, penyelidikan aalah serangkain tindakan penyelidik untuk mencari dan menemukan suatu peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana gunan menentukan dapat atau tidaknya dilakukan penyidikan menurut cara yang diatur dalam undang-undang.

Jadi penyidikan itu adalah suatu wewenang yang diberikan oleh undang-undang kepada polisi untuk melakukan suatu kegiatan mencari, dan menemukan pelaku kejahatan yang kemudian dilanjutkan dengan penyidikan atau disebut juga dengan pemeriksaan pendahuluan. Adapun tujuan pemeriksaan pendahuluan untuk mencari, dan mengumpulkan bahan pembuktian. Bahan-bahan pembuktuan dapat berupa orang atau benda. Terhadap bahan pembuktian berupa benda dapat dilakukan penyitaan, penggeledahan dan pemeriksaan surat, sedangkan terhadap orang dapat dilakukan penangkapan dan penahanan.

“ Jadi penyelidikan merupakan tindakan pertama-tama yang dapat dan harus segera dilakukan oleh penyidik jika terjadi suatu timbul persangkaan telah dilakukan suatu kejahatan atau pelanggaran”. (Ansori Sabuan, 1990 : 81).

Berkaitan dengan tugas Sattama Satwa selaku penyelidik dengan menggunakan bantuan anjing elacak mak tuga sokoknya adalah mengadakan bantuan taktis Satwa dibidang:

1. Penjagaan;

2. Pengawalan;

3. Patroli;

(19)

4. Pelacakan umum;

5. Pelacakan khusu;

6. Sar Darat;

7. Opdahura (Operasi Pengendalian Huru Hara). (Hasil wawancara dengan IKT.Suyatnya, Kanit Satwa Polda Bali, Tanggal 15 Oktober 2016).

Sedangkan mengenai wewenang dari Sattama Satwa Polda Bali adalah sama dengan wewenang penyelidik pada umunya seperti apa yang diatur dalam KUHAP pada Pasal % yaitu :

1. Menerima laporan atau pengaduan dari seseorang tentang adanya tindak pidana;

2. Mencari keterangan dan barang bukti;

3. Menyuruh berhenti seseorang yang dicurigai dan menanyakan serta mememriksa tanda pengenal diri;

4. Mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung jawab.

Adapun yang dimaksud dengan “ Tindakan Lain” adalah tindakan dari penyelidik untuk kepentingan penyelidikan dengan syarat:

1. Tidak bertentangan dengan suatu aturan hukum;

2. Slaras dengan kewajiban hukum yang mengharuskan dilakukannya tindakan jabatan;

3. Tindakan harus itu patut dan masuk akal dan termasuk dalam lingkungan jabatannya;

4. Atas pertimbangan yang layak berdasarkan keadaan yang memaksa;

5. Menghormati hak asasi manusia.

Kemudian atas perintah penyidik, penyelidik dapat melakukan :

(20)

1. Penangkapan, larangan meninggalkan tempat penggeledahan dan penyitaan;

2. Pemeriksaan dan penyitaan surat;

3. Mengambil sidik jari dan memotret seseorang;

4. Membawa dan menghadapkan seserorang kepada penyidik;

5. Membuat dan menyampaikan laporan hasil penyelidikan pada penyidik.

2. Analisis.

HUBUNGAN SATTAMA SATWA POLDA BALI DENGAN PENYELIDIKAN TINDAK PIDANA.

2.1. Arti dan Tujuan Penyelidikan

a. Arti Penyelidikan

Dalam Ilmu Pengetahuan Hukum, persoalan istilah adalah sangat penting. Para ahli hukum dalam mempelajari sudut dari hukum seperti isi sifat, maksud perluasan dan lain sebagainya dari pelbagai sudut dari peraturan hukum adalah menemukan dan mempergunakan kata-kata yang dimaksudkan untuk mengemukakan suatu pandangan atau suatu pendapat.

Dengan adanya perbedaan pendapat ini sering terjadi saling debat, meskipun ada jalan untuk salang mendekati satu sama lain secara melepaskan sebagian dari pendirian itu, hal ini adalah suatu ciri dari ilmu pengetahuan yang secara sistimatis memungkinkan para peminat untuk mendapat pandangan terang tentang seribu satu gejala khusus di dalam bidang ilmu pengetahuan tertentu seperti halnya ilmu pengetahuan hukum itu sendiri. (Wirjono Prodjodikoro : 1980 : 1).

(21)

Sehubungan dengan hal itu, oleh KUHAP ( UU No.8 Tahun 1981) telah disebutka pengertian penyelidikan secara difinitif, yaitu dalam Bab I Pasal 1 butir keleima menyebutkan :

Penyelidikan adalah serangkaian tindakan penyelidik untuk mencari dan menemukan suatu peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana guna menentukan dapat atau tidaknya dilakukan penyidikan menurut cara yang diatur dalam undang-undanng ini.

(Andi Hamzah : 1984 : 94).

Dengan demikian fungsi penyelidikan dilaksanakan sebelum dilakukannya penyidikan, yang bertugas untuk mengetahui dan menentukan peristiwa apa yang sesunguhnya telah terjadi dan bertugas membuat berita acara serta laporan yang nantinya sebagai dasar permulaan penyidikan.

Penyelidikan ini bukanlah merupakan suatu funsi yang berdiri sendiri terpisah dari fungsi penyidikan, melainkan hanya merupakan salah satu metode atau sug dari fungsi penyidikan yang mendahului tindakan lain yang berupa penangkapan, penahanan, penggeledahan, penyitaan, penyelesaian penyidikan dan menyerahkan berkas perkara kepada penuntut umum.

“ Ketetapan tentang penyelidikan adalah suatu tambahan dalam KUHAP yang sesungguhnya tidak ada dalam Hukum Acara Pidana sebelumnya”. (Andi Hamzah : 1984 : 11).

Jadi sebelum dilakukan tindakan penyidikan, terlebih dahulu diadakan penyelidikan oleh pejabat penyelidik dengan maksud untuk mengumpulan bukti permulaan atau bukti awal yang cukup guna dapat dilakukakan tindak lanjut berupa penyidikan.

Dengan adanya perumusan yang bersifat difinitif, maka akan merupakan suatu pegangan yang pasti bagi semua pihak tentang apa yang dimaksud dengan penyelidikan sehingga dapat diharapkan akan memperoleh pengertian yang sama dan sekaligus menghindarkan salah pengertian.

(22)

Sudarto menyebutkan “ bahwa penyelidikan merupakan tindakan yang dapat dan harus segera dilakukan oleh penyelidik jika terjadi atau jika ada persangkaan telah terjadi suatu tindak pidana”. ( Djoko Prakoso : 1987 : 6).

Latar belakang, motivasi dan urgensi diintrodusirnya fungsi penyelidikan antara lain untuk perlindungan dan jaminan terhadap hak asasi manusia, adanya persyaratan dan pembatasan yang ketat dalam penggunaan alat-alat pemaksa (dwangmiddelen). Ketatnya pengawasan dan adanya lembaga ganti kerugian dan rehabilitasi dikatakan bahwa setiap peristiwa itu benar adanya merupakan tindak pidana sehingga dapat dilakukan penyidikan.

Dengan demikian ketentuan-ketentuan KUHAP berusaha mencegah dilakukannya alat-alat pemaksa itu baru digunakan sebagai tindakan yang terpaksa dilakukan demi kepentingan umum yang lebih luas.

Namun demikian pada prinsipnya penyelidikan merupakan suatu upaya untuk menemukan barang bukti dan atau tersangkanya sehingga dapat memberikan keyakinan pertama pada tingkat pemeriksaan perkara pidana yang untuk selanjutnya dapat dilakukan penyidikan.

b. Tujuan Penyelidikan.

Semenjak diterima dan disahkannya Rancangan Undang-Undang Hukum Acara Pidana menjadi Undang-Undang No. 8 Tahun 1981 yang di undangkan dalam Lembaran Negara thaun 1981 No. 76 dan Tambahan Lembaran Negara No. 3209 mengakibatkan terjadinya perubahan fundamental di dalam sistem penyidikan.

KUHAP sebagai pembaharuan atau perubahan yang fundamental sifatnya dari hukum acara pidana yang berlaku sebelumnya, maka tampak lebih menjamin adanya perlindungan hak asasi manusia yang sesuai dengan falsafah pandangan hidup

(23)

bangsa Indonesia yaitu Pancasila bila dibandingkan dengan HIR yang merupakan produk legislatif bangsa penjajah ( Atang Ranoemihardja : 1983 : 6)

Sesuai dengan pengertian penyelidikan yang diatur dalam Pasal 1 butir ke-5 dari KUHAP, maka tujuan penyelidikan adalah :

1. Membuat terangnya suatu perkara, pabila terjadi suatu tindak pidana maka penyelidik harus menentukan terjadinya tindak pidana tersebut, misalnya perbuatan pidana apa yang terjadi, dimana perbuatan dilakukan dan siapa yang menjadi korbannya. Dalam hal terjadinya tindak pidana, yang terpenting harus dijelaskan adalah tentang locus delectie dan tempus delictie. Locus delectie adalah tempat dimana tindak pidana itu terjadi, sedangakan tempus delictie adalah waktu terjadinya tindak pidana.

2. Menemukan bukti-bukti, pengertian bukti seperti apa yang dimaksud didalam hukum acara pidana dikenal denngan istilah barang bukti, yaitu barang yang menjadi objek dari tindak pidana,barang yang merupakan hasil dari tindak pidana, barang yang dipergunakan sebagai alat untuk mencapai tindak pidana, barang-barang lain yang berada disekitar tempat kejadian dan dapat menjadi petunjuk untuk memberatkan atau meringankan terssangka. Pengertian bukti menurut ilmu kriminalistik dibedakan dalam bukti psychis dan bukti fisik. Bukti fisik atau disebut juga bukti mati dapat berupa sidik jari, tanda-tanda, bekas-bekas, noda darah, rambut, cat dan sebagainya. Sedangkan bukti psychis dapat berupa keterangan mengenai apa yang dilihat, apa yang dialami, apa yang diketahui, yang selanjutnya disebut dengan kesaksian.

3. Menemukan tersangkanya.

Tersangka adalah seorang yang karena perbuatannya atau keadaan, berdasarkan bukti permulaan patut diduga sebagai pelaku tindak pidana, jadi orang tersebut masih berada

(24)

dalam taraf pemeriksaan pendahuluan (Vooronderzoek). Istilah tersangka dipergunakan karena belum adanya bukti-bukti yang cukup yang menyatakan bahwa dialah pelaku dari suatu tindak pidana. Bahkan hal ini secara tegas ditentukan dalam Undang-Undang Pokok Kekuasaan Kehakiman khususnya dalam Pasal 6 ayat (2) yang menetapkan :

“ Tidak seorang juapun dapat dijatuhi pidana kecuali apabila pengadilan karena alat bukti yang sah menurut undang-undang mendapat keyakinan bahwa seseorang yang dpat dianggap bertanggung jawab telah bersalah atas perbuatan yang dituduhkan atas dirinya”.

2.2. Taktik dan Teknik dalam Penyelidikan

Untuk memperoleh hasil yang lebih memuaskan mengingat penyelidikan adalah langkah awal atau pintu depan dalam proses beracara pidana, maka diperlukan suatu teknik atau taktik yang natinya dapat diharapkan adanya suatu hasil yang lebih nyata dan dapat dipertanggungjawabkan.

“ Teknik penyelidikan adalah serangkaian tindakan penyelidik di dalam mebuat terangnya suatu perkara dengan mempergunakan sarana atau alat-alat bantu”. (Andi Hamzah : 1984 : 7)

Dalam perkembangan teknologi yang semakin canggih dan perkembangan peradaban manusia yang semakin tinggi maka bintangpun dapat dipakai sebagai alat bantu didalam melakukan penyelidikan yang merupakan teknik dari penyelidikan yaitu dengan menggunakan anjing pelacak. Anjing pelacak sering digunakan untuk membantu menemukan barang bukti dan tersangkanya.

Disamping menguasai pengetahuan teknik maka harus menguasai pengetahuan taktik.

Pengetahuan taktik dari penyelidik memegang peranan penting dalam menjalankan

(25)

tugasnya, karena taktik ini bagi penyelidik sangat menentukan berhasil tidaknya tugas yang dibebankan kepadanya. Memang, kalau diperhatikan dengan seksama motivasi dan yujuan penyelidikan merupakan suatu tuntutan tanggung jawan kepada aparat penyidik untuk tidak melakukan tindakan yang merendahkan harkat dan martabat manusia. Agar dapat berhasil mengumpulkan barang bukti dan keterangan yang diperlukan dan sekaligus tidak terjerumus ke muka sidang praperadilan sudah waktunya penyelidikan dilakukan dengan taktik dan teknik penyelidikan.

“ Yang dimaksud dengan taktik penyelidikan adalah pengetahuan yang abstrak bila dibandingkan dengan ilmu pasti. Bagi seorang penyelidik, ilmu pasti itu juga merupakan syarat yang sama halnya dengan bermain catur” (Ade Sutrisno : 1976 : 40).

Karena taktik penyelidikan merupakan pengetahuan yang abstrak, maka syarat-syarat yang dipeerlukan oleh seorang penyelidik adalah :

a) Berpikir logis, artinya petugas itu harus cerdas dan tanggap untuk menguraikan jalannya suatu peristiwa.

b) Kemampuan yang penuh, artinya petugas itu haris bisa menghubungkan suatu peristiwa dan mencoba mengembalikannya apa yang didapati dari suatu peristiwa yang sebenarnya.

c) Mempunyai intuisi dan flair, artinya petuga itu harus dapat mengambil suatu kesimpulan tentang suatu peristiwa. (Ade Sutrisno : 1976 : 40).

Dari syarat-syarat diatas, kita berharap penyelidikan dapat dilakukan secara lebih baik dari yang sebelumnya.

Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa teknik dan taktik penyelidikan adalah merupakan perpaduan dari pengetahuan yang kongkrit dengan pengetahuan yang bersifat abstrak untuk membuat terang suatu perkara pidana, disamping itu juga taktik dan teknik

(26)

tersebut dipergunakan untuk melakukan penidikan supaya memperoleh hasil yang dapat dipertanggung jawabkan.

2.3. Penyelidikan Dengan Bantuan Anjing Pelacak.

Penyelidikan dengan bantuan anjing pelacak merupakan sarana teknik dan taktik dari aparat penyelidik untuk kelancaran pelaksanaan tugas yang dibebankan kepadanya dalam mencari dan menemukan barang bekas bukti yang diduga ada hubungannya dengan tindak pidana.

Berdasarkan hasil penelitian peneliti dilapangan yaitu dengan mewawancarai responden sebagai pawang anjing pelacak di Sattama Satwa Polda Bali, beliau menjelaskan

“ bahwa penyelidikan dengan bantuan anjing pelacak hanya dapat dilakukan terhadap tindak pidana yang meninggalkan bekas bau” (Hasil wawancara dengan Budiyanto, Pawang Anjing Sattama Satwa Polda Bali, tanggal 10 Oktober 2016).

Prosedur permintaan anjing pelacak, ada 3 (tiga) tahap, yaitu :

1. Apabila ada korban atau masyarakat yang mengalami musibah kejahatan, maka terlebih dahulu melapor kepada POLSEK setempat.

2. Anggota Polsek segera mendatang TKP, kemudian menilai TKP itu sendiri apakah perlu menggunakan anjing pelacak atau tidak.

3. Jika perlu Kapolsek sebagai ujung tombak kewilayahan membuat surat permintaan bantuan anjing pelacak kepada Kapolda Bali U.P. Kadit Samapta Polda Bali.

Namun tidaklah semua permintaan yang hendak mengunakan anjing pelacak dapat dikabulkan, karena mengingat terbatasnya anjing yang dapat dipeergunakan untuk melacak

(27)

disamping terbatasnya pawang yang akan mengendalikan, sehingga akan sering terjadi benturan permintaan yang tidak dapat dilayani keseluruhannya dan juga karena kesibukan pawang itu sendiri.

Penyelidikan dengan bantuan anjing pelacak dapat dilakukan terhadap tindak pidana yang masih jejak itu utuh, dalam artian jejak itu tidak mendapat gangguan dari luar maupun gangguan dari alam.

Setiap daerah mempunyai batas bau tertentu, hal ini tergantung dari iklim atau cuaca dari daerah tersebut, misalnya di daerah berbatu, sinar matahari sangat terik, angin bertiup sangan kencang dan berpasir mempunyai daya simpan bau sangat singkat.

Sedangkan di daerah yang berumput, angin bertiup sepoi-sepoi mempunyai daya simpan bau yang cukup lama, yaitu sampai dengan 15 hari. (Hasil wawancara dengan Bidiyanto, Pawang Anjing Sattama Satwa Polda Bali, tanggal 10 Oktober 2016).

Di lapangan anjing akan bekerja berdasarkan naluri serta pengetahuan yang didapat dari pawangnya. Pawang anjing senantiasa mengawasi dan mengendalikan anjing dalam melakukan pelacakan.

Dalam hal ini responden juga memberikan suatu kiat khusus agar satwa (anjing) selalu berhasil dalam penyelidika, yaitu :

a) Meningkatkan volume latihan.

b) Kemampuan personil (terampil, cakap, ulet, sabar dan tekun) c) Mempunyai hasrat yang tinggi untuk mengungkap kasus tersebut.

“ Jadi peranan pawang anjing (penyelidik) harus didukung oleh anjing pelacak dalam melakukan penyelidikan, begitu pula sebaliknya anjing pelacak tanpa pawangnya tidak

(28)

akan berhasil mengungkap suatu tindak pidana”. (Wawancara dengan I Ketut Suyadnya, Kanit Satwa Polda Bali, tanggal 20 Oktober 2016).

Hasil pelacakannya dibuatkan berita acara pelacakan oleh pawangnya yang untuk selanjutnya diserahkan kepada pejabat penyidik yang berwenang memeriksanya, sedangkan peran anjing akan menunggu hasil pemeriksaan penyidik di luar tempat pemeriksaan. Dan dalam pemeriksaan di persidangan pawang anjing yang bertindak sebagai saksi.

2.4. Kasus-kasus Yang Pernah terungkap Dengan Menggunakan Bantuan Anjing Pelacak.

TABEL KASUS

Tahun 2012

No Jenis Kejahatan Jumlah Keterangan

1 Pencurian 10 1 pelaku melarikan diri

2 Narkotika 16 1 pelaku seorang pelajar

3 Penjambretan 5 -

4 Pelemparan rumah 3 -

5 Pembunuhan 2 -

6 Tahanan Lepas 1 -

(29)

Tahun 2013

No Jenis Kejahatan Jumlah Keterangan

1 Narkotika 10 -

2 Pencurian 16 -

3 Perampokan 5 1 kasus tidak berhasil di

lacak, petugas kehilangan jejak

4 Pembunuhan 3 -

5 Penyelundupan ikan 2 Melibatkan seorang W.N

Taiwan, diduga berulang kali

telah melakukan

penyelundupan.

Tahun 2014

No Jenis Kejahatan Jumlah Keterangan

1 Narkotika 16 -

2 Pencurian 15 3 kasus adalah pencurian

sepeda motor

3 Penjambretan 6 -

4 Orang Hilang 3 1 orang adalah orang yang

tidak waras

(30)

Tahun 2015

No Jenis Kejahatan Jumlah Keterangan

1 Narkotika 13 1 kasus dilkukan oleh

seorang wanita

2 Pencurian 11 -

3 Penjambretan 5 -

4 Pembunuhan 2 -

5 Pelemparan rumah 2 -

6 Tahanan lapas 1 -

Tahun 2016 ( Januari – September)

No Jenis Kejahatan Jumlah Keterangan

1 Narkotika 18 -

2 Ekstasi 15 2 pelaku adalah mahasiswa

dari Jawa

3 Pencuruian 9 1 kasus dilakukan oleh orang

belum dewasa

4 Penjambretan 4 -

5 Pembunuhan 3 -

6 Orang hilang 2 -

(31)

Dari hasil penelitian peneliti di Kantor Sattama Satwa Polda Bali, yang peneliti buat dalam bentuk tabel seperti diatas, peneliti dapat melihat hasil yang sangat memuaskan karena penyelidikan yang dilakukan dengan menggunakan bantuan anjing pelacak sebagian besar dapat terungkap. Demikian juga dari data yang ada, peneliti dapat melihat adanya peningkatan jumlah kasus yang dapat diselesaikan dengan menggunakan bantuan anjing pelacak dalam memenemukan barang bukti atau tersangkanya. Dari tahun ke tahun (2012 – 2016) jenis kejahatan narkotika menduduki urutan tertinggi bila dibandingkan jenis kejahtan lainnya dan hal ini dapat diselesaikan dengan menggunakan bantuan ajing pelacak serta kesigapan dari aparat penyelidik. Hal ini dapat dilihat dari tabel kasus tahun 2016, jenis kejahtan narkotikan menduduki urutan tertinggi dari tahun ke tahun sebelumnya. Mengenai tanda strip (-) diatas berarti pelaku dapat diamankan dan ada juga yang dapat deselesaikan melalui pengadilan.

Jika dibuatkan data perbandingan antara yang berhasil dan tidak berhasil dalam penyelidikan yang menggunakan bantuan anjing pelacak, maka akan nampak peranannya yang sangat besar dalam mengungkap suatu tindak pidana , yaitu 99 % berhasil menemukan pelakunya dan hanya 1 % yang tidak berhasil. Tabel Data Perbandingan Penggunaan Anjing Pelacak antara Yang Berhasi dan Tidak Berhasil sebagai berikut:

(32)

Jenis Kejahatan Tahun Berhasil Tidak Berhasil

JML

2012 2013 2014 2015 2016 Narkotika

Ekstasi Pencurian Penjambretan Perampokan Pembubuhan Pelemparan rumah Penyelundupan ikan Tahapan lepas Orang hilang Unjuk rasa

16 - 10

5 - 2 3 - 1 1 -

10 - 11

- 3 1 - 1 - - -

10 - 15

6 - - - - - 3 -

13 - 11

5 - 2 2 - - 1 -

18 15 9 2 - - - - - 2 2

67 15 56 18 2 5 5 1 1 7 2

- - 1 - 1 - - - - 1 -

67 15 57 18 3 5 5 1 1 8 2

Dari 200 kasus yang ada, maka tampak dalam tabel yaitu 197 kasus (99%) dapat terungkap sedangkan sisanya yaitu 3 kasus (1%) tidak dapat terungkap yang kemudian disebabkan oleh beberapa faktor penghambat. Walaupun demikian, bagaimanapun juga hal tersebut masih harus dibuktikan kebenarannya dalam proses persidangan dan tidaklah cukup jika hanya menggunakan hasil penyelidikan dengan menggunakan bantuan Anjing Pelacak. Anjing adalah tetap anjing , ia tahu karena dilatih dan pernah mengalami sebelumnya, misalnya pernah

(33)

mencium bau tersebut sebelumnya, oleh karena itu tidaklah mustahil jika iapun akan dapat berbuat kekeliruan secara langsung maupun tidak langsung.

Di dalam mengumpulkan bahan-bahan pembuktian yang nantinya dapat dijadikan dasar pembuktian yang nantinya dapat dijadikan dasar pembuktian yang objektif didalam persidangan maka penyelidik dalam melakukan penyelidikan dituntut mempunyai keahlian dan ketelitian , sehingga merupakan suatu seni tersendiri di dalam menjalankan tugas. Tanpa mempunyai keahlian maka akan sering berbuat kekeliruan , sehingga mungkin yang tidak bersalah dapat menjadi bersalah, demikian pula sebaliknya orang yang mestinya bersalah akan menjadi bebas.

Diatas telah diuraikan bahwa, pawang anjing harus memiliki keahlian dan ketelitian.

Namun bagaimanapun juga kepintaran dan keahlian seorang pawang anjing untuk mengendalikan anjingnya karena itu adalah binatang biasa yang bekerja berdasarkan naluri dan tidak berdasarkan ratio, maka sudah barang tentu keterbatasannya tidak dapat dipungkiri, misalnya karena kelihatan pencuri untuk menghilangkan jejaknya, pencuri itu menggunakan mobil, maka anjing akan dapat mencium bau tersebut dari tempat kejadian sampai ditempat dimana mobil itu diparkir. (Hasil wawancara dengan Bidiyanto, Pawang Anjing Sattama Satwa Polda Bali, tanggal 21 Oktober 21016)

Mengingat keterbataan tersebut, maka dalam proses penyelidikan dengan anjing pelacak itu hanyalah merupakan sarana bantu dari penyelidik untuk memperlancar tugasnya, sedangkan tugas pokok untuk kelengkapan dan kesempurnaan penyidikan masih menjadi tanggung jawab penyidik.

2.5. Hambatan-Hambatan Yang Terjadi Dalam Penyelidikan.

a. Anjing Pelacak dapat berbuat kekeliruan baik secara langsung maupun tidak langsung.

Seperti kita ketahui, tujuan pelembagaan fungsi penyelidikan dimaksudkan sebagai langkah pertama atau sebagai bagian yang tak terpisah dari fungsi penyidikan, guna

(34)

mempersiapkan semaksimal mungkin fakta, keterangan dan bahan pembuktian sebagai landasan hukum untuk memulia penyidikan. “Seandainya penyidikan dilakukan tanpa persiapan yang memadai, bisa saja terjadi tindakan-tindakan penyidikan yang bertentangan dengan hukum atau terjadi kekeliruan terhadap orang yang diselidiki”. (Atang Ranoehardja : 1980 : 75).

Tutntutan hukum dan tanggung jawab moral yang demikian sekaligus menjadi peringatan bagi aparat penyidik untuk bertindak hati-hati sebab kalau kurang hati-hati dalam penyelidikan bisa membawa akibat yang fatal pada tingkat penyidikan yang akan menyeret tindakan penyidikan yang merka lakukan kemuka sidang pengadilan. Sehingga dalam hal ini pejabat penyelidik yang menggunakan anjing pelacak dituntut untuk berhati-hati dalam melakukan penyelidikan, karena anjing pelacak walaupun sudah dilatih untuk membantu penyelidikan dapat juga berbuat kekeliruan baik secara langsung maupun tidak langsung.

1. Secara Langsung

Misalnya suatu penyelidikan di TKP (Temapat Kaejadian Perkara) tentun banyak orang yang ingin menyaksikannya sehingga menyebabkan anjing pelacak itu kaget atau mengakibatkan anjing itu emosi dan kemudian menggigit orang yang sesungguhnya tidak bersalah yang berada didekatnya.

2. Secara Tidak Langsung

Misalnya A adalah seorang pencuri yang melakukan pencurian di rumah B, tapi terlebih dahulu ia meminjam baju pada C, dan baru kemudian A melakukan pencurian. Baju yang tadinya dipakai untuk melakukan pencurian dikembalikan lagi pada C dan iapun kemudian meninggalkan sedikit hasil curiannya, kemuidan A kabur dan berusaha

(35)

menghilangkan jejaknya. Setelah itu penyelidikan dilakukan dengan anjing pelacak, dan ternyata anjing tersebut berdasarkan pada penyesuaian bau yang diciumnya maka pelacakan tentunya mengarah pada rumah C dan barang buktipun dapat ditemukan disana. Dengan demikian oleh pawangnya akan dibuatkan berita acara pelacakan berdasrkan hasil perjalanan pelacakan tersebut, sehingga C dapat dituntut melakukan pencurian di rumah B, sementara pelaku yang sebenarnya telah kabur.

Mengingat keterbatasan tersebut, maka dalam proses penyelidikan anjing pelacak hanya merupakan alat bantu dari penyelidik untuk memperlancar tugas-tugasnya, sedangkan untuk kelengkapan dan kesempurnaan penyelidikan masih menjadi tanggung jawab penyelidik.

b. Orang Yang Berkepentingan memasuki TKP (Tempat Kejadian Perkara).

Tempat Kejadian Perkara adalah :

 Tempat suatu tindak pidana dilkukan/terjadi atau akibat yang ditimbulkan.

 Tempat-tempat lain yang dijadikan temuan barang-barang bukti atau korban yang berhubungan dengan tindak pidana.

Penanganan di TKP merupakan tindakan penyelidik atau penyidik yang dilakukan di TKP dengan :

1) Tindakan pertama di tempat kejadian perkara (TPTKP), yaitu tindakan penyelidik atau penyidik di TKP segera setelah terjadi tindak pidana untuk melakukan pertolongan pertama pada korban, penutupan dan pengamanan TKP guna penyidikan lebih lanjut.

(36)

2) Pengolahan TKP (crime scene processing), adalah tindakan atau kegiatan untuk mencari, mengumpulkan, menganalisa, mengevaluasi petunjuk-petunjuk, keterangan-keterangan, bukti-bukti serta identitas tersangka guna memberi arah penyelidikan selanjutnya.

Tapi biasanya sebelum petugas datang ke TKP, warga masyarakat sekitarnya datang beramai-ramai untuk menyaksikan kejadiannya secara lebih dekat, dan biasanya disertai dengan memasuki TKP sehingga menimbulkan bekas baru dan hal ini dapat mengecoh pejabat penyelidik.

Dengan kemajuan teknologi, pejabat penyelidik akan datang secepatnya ke TKP dengan melakukan tindakan-tindakan sebagai berikut:

a) Mengaman TKP dengan :

 Membuat batas TKP

 Membuat tanda-tanda dari mana masuknya pelaku, letak korban dan barang bukti

 Tidak memberikan orang yang tidak berkepentingan memasuki TKP

 Mencari pelaku, saksi yang mungkin masih berada di sekitar TKP

 Minta bantuan kepada RT/RW untuk mengawasi TKP

b) Memberikan laporan kepada satuan reserse tentang adanya kejadian tindak pidana

c) Memberikan perlindungan atau pertolongan kepada korban yang masih hidup dan sebelumnya mencatat identitas yang bersangkutan

(37)

d) Mengadakan pencarian pelaku atau tersangka, meminta keterangan kepada saksi mata dengan mencatat seperlunya tentang apa yang dilihat dan yang ia dengan sendiri.

c. Korban Tidak Segera Melapor Kepada Pihak Yang Berwajib.

Sebagaian orang masih berpikir tentang masih susahnya melapor kejadian yang menimpanya kepada pihak yang berwajib. “Mereka merasa segan dan malu untuk menceritakan kejadian yang menimpanya kepada pihak yang berwajib, tapi sebaliknya ia menceritakan kejadian yang menimpanya kepada tetangganya”. (Atang Ranoemihardja : 1980 : 18).

Namun kalau tetangga itu cepat tanggap tentang peristiwa yang diceritakan itu, bisanya tetangga itulah yang segera melapor kepada pihak yang berwajib. Hal itulah yang menjadi salah satu penghambat pejabat penyelidik dalam melaksanakan tugasnya, karena kemungkinan setelah berhari-hari terjadinya peristiwa itu pejabat penyelidik Ataupun Penyidik baru mendapat laporan, sehingga memungkinkan jejak yang ada, alat dan barang bukti sudah hilang dari TKP.

d. Tidak tersedianya Anjing Pelacak disetiap POLRES.

Penyidikan perkara kriminal di Indonesia, baik melalui sarana teknik ataupun sarana hukum yang berlaku dalam suatu masa yang sangat panjang dikenal sekarang ini pada mulanya bersumber dari Eropa Kontinental khususnya Belanda dan Perancis.

(38)

Dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, memunghkinkan kejahatan dilakukan secara modern, dan dalam hal ini para penegak hukumpun diharapkan dalam melaksanakan tugasnya secara lebih modern pula.

Pengunaan anjing pelacak sebagai sarana bantu penyelidikan merupakan langkah awal yang ditempuh oleh pejabat penyelidik untuk membantu menemukan pelaku kejahatan yang meninggalkan bau saja, karena insting dari anjing pelacak dianggap lebih peka dari manusia.

Dari tahun ketahun kejahatan yang menggunakan sistem yang lebih canggih semakin banyak, sehingga pejabat penyelidik yang hanya mengandalkan ketangkasan dari anjing pelacak menjadi lebih pisimis. Hal ini mungkin disebabkan oleh terbatasnya anjing pelacak yang dimiliki oleh polisi dan itupun ditempatkan pada tempat yang khusus dan hanya disatu tempat saja. Khususnya di daerah Bali anjing pelacak ditempatkan di Polda Bali, tapi seharunya penempatan anjing pelacak itu tersebar merata di masing-masing Polres. Sehingga dalam menemukan penyelidikan polisi yang mewilayahi TKP itu tidak perlu lagi membuat surat permohonan kepada Polda Bali.

Dengan menunggu datangnya anjing pelacak dari Polda Bali, kemungkinan pelaku kejahatan tersebut sudah melarikan diri ketempat yang dianggap aman.

(39)

BAB IV P E N U T U P

1. Kesimpulan

Dari keseluruhan uraian dalam Bab-bab terdahulu dapatlah disimpulkan bahwa :

1. Anjing pelacak dalam penyelidikan mempunyai peranan yang sangat besar, karena sangat banyak membantu pejabat penyelidik untuk mengungkap peristiwa pidana yang berkaitan dengan tindak pidana yang meninggalkan bekas bau.

2. Hambatan-hambatan yang terjadi dalam penyelidikan yang menggunakan bantuan anjing pelacak kemungkinan disebabkan oleh beberapa faktor seperti jarak penciumannya serta lamanya batas bau di TKP, sehingga penyelidikan di lapanganb menjadi kurang berhasil.

2. Saran

1. Mengingat negara kita merupakan suatu negara yang sedang berkembang, maka besar kemungkinan kejahatan masih banyak terjadi, maka untuk mencegah menumpuknya kasus di kepolisian setidak-tidaknya anjing pelacak ada disetiap Polres, sehingga masing-masing Polres dapat menangani atau mengatasi peristiwa yang terjadi di willayahnya secepat mungkin.

2. Mengingat demikian pentingnya anjing pelacak sebagai saraana bantu penyelidikan, maka Polda bali khususnya Sattama Satwa perlu meningkatkan sarana tersebut baik kwalitas maupun kuantitasnya.

(40)

DAFTAR BACAAN

Ade Sutrisno Mayor Polisi, Taktik dan Teknik Menggali Motif Perbuatan Pidana Dalam Menyusun Berita Acara Penyidikan Kepolisian, Rineka Cipta, Jakarta, 1976.

Andi Hamzah, Pungutan Perkara Kriminal Melalui Sarana Teknik dan Sarana Hukum, Gahalia Indonesia, 1984.

Ansorie Sabuan, Hukum Acara Pidana, Angkasa Bandung, 1990.

Atang Ranoemihardja, Hukum Acara Pidana, Tarsito Bandung.

Martiman Prodjohamidjojo, Sistem Pembuktian dan Alat-alat Bukti, Ghalia Indonesia, 1984.

Wirdjono Prodjodikoro, Hukum Acara Pidana di Indonesia, Sumur bandung, 1980.

(41)

DAFTAR INFORMAN

N a m a : KAPTEN POLISI I KETUT SUYADNYA

Jenis Kelamin : Laki – Laki U m u r : 45 tahun

A g a m a : H i n d u

J a b a t a n : KANIT SATWA POLDA BALI A l a m a t : Jl. Iman Bonjol Gg. IV No. 5 Denpasar

N a m a : SERDA BUDIYANTO Jenis Kelamin : Laki – Laki

U m u r : 31 tahun

A g a m a : I s l a m

J a b a t a n : Anggota Sattama Satwa Polda Bali

A l a m a t : Asrama Kepolisian, Br. Sasih, Desa Batu Bulan, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gainyar.

(42)

Gambar

TABEL KASUS

Referensi

Dokumen terkait

Sehingga pemilihan desain handle yang paling ideal dan optimal, bila ditinjau dari sikap kerja, beban kerja, posisi tangan, tenaga yang dikeluarkan untuk melakukan

Pendidikan dan pelatihan jabatan Fungsional merupakan Diklat yang dilakukan dalam jabatan dilaksanakan untuk mengembangakan pengetahuan, keterampilan, dan sikap PNS

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat, karunia-NYA sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul PENGAJUAN SURAT IZIN

[r]

privat mengingat secara struktural masyarakat patriakhis telah menempatkan perempuan dalam ranah privat. Konsekuensi dari hal ini adalah perempuan lebih memahami kebutuhan

belajar yang lebih bersifat konkret (terkait dengan kehidupan nyata) melalui keterlibatan siswa dalam mencoba, melakukan, dan mengalami sendiri. Dengan penggunaan model

Hal tersebut mengindikasikan bahwa lingkungan sekitar pesisir Teluk Ambon Dalam atau lokasi pengambilan sampel sedimen masih aman dari kontaminasi logam berat Pb

Hasil penelitian didapatkan ada perbedaan kesehatan psikologis penderita Tb paru yang menjalani pengobatan fase awal dan fase lanjutan (p=0,036) dan tidak terdapat