1 1.1 Latar Belakang
Kota yang baik adalah kota yang menghargai budayanya dan tetap menjaga tradisi leluhurnya. Seiring dengan perkembangan zaman yang ada, terjadi perubahan sosial kebudayaan yang ada di masyarakat. Banyak faktor yang menyebabkan budaya lokal dilupakan dimasa sekarang ini. Seperti, masuknya budaya asing ke Indonesia telah menjadi tantangan tersendiri bagaimana agar budaya lokal tetap terjaga di Indonesia. Dalam hal ini, peran budaya lokal diperlukan sebagai penyeimbang di tengah perkembangan zaman. Bila budaya asing mulai menjadi trend saat ini maka tak dapat dihindarkan bahwa nantinya banyak sebagian masyarakat Indonesia yang tidak tahu apa saja tradisi kebudayaan yang ada. Banyak juga masyarakat yang masih peduli dengan tradisi kebudayaan Indonesia, salah satunya adalah antusiasme masyarakat terhadap Tradisi Dugderan di Semarang yang hingga saat ini masih dilakukan. Namun antusiasme tersebut hanyalah sebatas tahu bahwa Dugderan diadakan setiap tahun yang didalamnya terdapat pasar malam nan meriah. Para masyarakat masih banyak yang belum mengetahui apa makna yang terkandung didalam tradisi Dugderan tersebut. Sehingga kurangnya rasa menghargai terhadap budaya mereka sendiri. (www.kundharu.staff.uns.ac.id/dunia-diksastrasia/tradisi 29 Desember 2015)
Dugderan adalah peristiwa terpenting dalam tradisi “megengan”, yakni pasar malam di Kota semarang yang berlangsung beberapa hari menjelang datangnya bulan suci Ramadhan. Sebagai suara “dug” bunyi bedug yang ditabuh oleh Kanjeng Bupati Ario Purboningrat pada saat itu, dan “der” suara meriam.
Dugder menjadi pertanda dimulainya puasa pertama pada bulan suci Ramadhan, khususnya bagi warga kota Semarang. (Kasturi dan Bambang Sugeng Prayitno, 2010).
Warak Ngendog, adalah sebuah bentuk seni kerajinan rakyat Semarang untuk permainan anak-anak yang dijual dalam pasar malam Dugderan. Bentuknya merupakan perpaduan tiga jenis binatang mitologis dari Jawa, Cina dan Arab.
Dikategorikan sebagai kesenian rakyat karena (1) Tidak diketahui dengan jelas nama penciptanya dan kapan pertama kali dibuat. (2) Memiliki bentuk dan nilai- nilai simbolis yang diyakini mempresentasikan perilaku masyarakat. Warak berasal dari kata “waro’a” atau “wira’i” (Arab, yang artinya “menahan diri”).
Makna simbolis pada tubuh Warak Ngendog yaitu bagian kepala (kambing) : Hal ini mempresentasikan budaya dan etnis Jawa yang dipengaruhi ajaran islam.
Bagian leher (Unta) : dikenal sebagai binatang dari Saudi Arabia yang memiliki ketahan luar biasa. Filosofinya adalah, leher menjadi urat nadi pernafasan yang menjadi penanda kehidupan semua makhluk hidup. Bagian tubuh (Naga) : binatang mitologis dari masyarakat Tionghoa diseluruh dunia sebagai penjaga mustika yaitu lambang kemuliaan atau ketinggian derajat seseorang. Bagian kaki : ketiga elemen tubuh tersebut ditopang oleh empat buah kaki yang difilosofikan 4 pilar kehidupan yaitu keagamaan, kemandirian, keterbukaan, dan kesejajaran.
(Djawahir Muhammad, 2016:128)
Salah satu cara untuk melestarikan dan memperkenalkan budaya tradisi yang ada di Indonesia dapat dilakukan dengan media televisi. Media komunikasi untuk menyampaikan informasi, edukasi, dan hiburan. Seharusnya dengan adanya televisi sebagai media Informasi dan hiburan, banyak sekali hal yang bisa dimanfaatkan, dengan memberikan tontonan yang menarik tapi tetap memberikan informasi dan edukasi seperti mengenalkan kebudayaan Indonesia, warisan leluhur yang harus tetap dilestarikan.
Dari penjelasan diatas, penulis bermaksud untuk membuat sebuah karya menjadi komponen yang menarik dan lebih mudah dipahami dalam format film dokumenter. Dalam pembuatan film dokumenter yang berjudul “Dugderan, Montage of Living Culture”, penulis mengangkat sebuah cerita yang mengulas sejarah, prosesi, hingga makna yang terkandung dalam dugderan. Hal ini dikarenakan makna yang ada dalam tradisi dugderan memiliki arti yang sangat
luar biasa. Mulai dari kehidupan beragama, pendidikan, ekonomi, hingga makna lainnya yang sangat berhubungan erat dengan masyarakat Semarang.
Film dokumenter dengan durasi kurang lebih 15 menit dipilih karena, penulis dituntut untuk memilah dan memilih informasi yang pantas untuk dijadikan bahan pembuatan film dokumenter, sehingga pesan yang disampaikan mampu diinformasikan dalam waktu yang singkat. Selain itu, dokumenter merupakan suatu bentuk audio visual yang menceritakan suatu fenomena keseharian yang pantas diangkat untuk menjadi perenungan bagi penonton.
Selain itu, video dokumenter juga tak pernah lepas dari tujuan penyebaran informasi pendidikan, dan propaganda bagi orang atau kelompok tertentu yang intinya video dokumenter tetap berpijak pada hal-hal senyata mungkin.
(Javandalasta, 2011:2)
Dokumenter juga memiliki satu kelebihan dalam menyajikan suatu hal nyata dalam merekam peristiwa yang sungguh terjadi dan bukan menciptakan suatu kejadian.
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan penjelasan dan penjabaran mengenai sejarah dan makna yang ada pada tradisi Dugderan pada latar belakang, maka penulis merumuskan beberapa permasalahan, sebagai berikut :
1. Bagaimana menciptakan sebuah karya film dokumenter “Dugderan, Montage of Living Culture”tentang kentalnya budaya masyarakat Kota Semarang tentang Dugderan dengan bahasa yang mudah dipahami oleh masyarakat?
2. Bagaimana menjelaskan prosesi Dugderan dilaksanakan dan makna yang terkandung di dalamnya dalam format film dokumenter?
3. Bagaimana teknik penulisan naskah guna merancang dan memproduksi film dokumenter “Dugderan, Montage of Living Culture” yang memperkenalkan dan melestarikan budaya yang mengulas mengenai sejarah dan makna yang ada pada tradisi dugderan di Semarang?
1.3 Tujuan
Setelah mencoba menjabarkan beberapa perumusan masalah, adapun tujuan yang ingin disampaikan penulis dalam karya ini yaitu :
1. Menciptakan sebuah karya film dokumenter“Dugderan, Montage of Living Culture”tentang kentalnya budaya masyarakat Kota Semarang tentang Dugderan dengan bahasa yang mudah dipahami oleh masyarakat.
2. Menjelaskan prosesi Dugderan dilaksanakan dan makna yang terkandung di dalamnya dalam format film dokumenter.
3. Teknik penulisan naskah guna merancang dan memproduksi film dokumenter “Dugderan, Montage of Living Culture” yang memperkenalkan dan melestarikan budaya yang mengulas mengenai sejarah dan makna yang ada pada tradisi dugderan di Semarang.
1.4 Batasan Masalah
Untuk membatasi masalah yang berkaitan dengan sejarah dan makna yang ada pada tradisi Dugderan, penulis lebih menitik beratkan job description selaku penulis naskah dalam program film dokumenter, sebagai kompetensi pilihan yang dikuatkan dalam berkarya. Adapun batasan masalah bagi penulis agar menghasilkan karya dokumentasi yang baik, yaitu:
1. Judul yang dipilih adalah “Dugderan, Motage of Living Culture”
masyarakat diharapkan mampu mengerti,menerima serta mengenal tentang tradisi-tradisi budaya yang ada di Indonesia. Karena itu semua merupakan kekayaan budaya Indonesia yang harus tetap dijaga dan dilestarikan.
2. Penulis menitik beratkan job description selaku penulis naskah dalam program feature, sebagai kompetensi pilihan yang dikuatkan dalam berkarya. Pemilihan kompetensi ini dirasa sesuai, karena untuk menghasilkan sebuah karya film dokumenter yang baik dibutuhkan keterampilan dan kejelian saat menulis naskah serta melakukan riset, detail dalam melakukan penggalian data dan mencari referensi sebanyak- banyaknya mengenai Tradisi Dugderan di Semarang.
1.5 Manfaat
1.5.1 Manfaat Akademis
Sebagai dokumen dan arsip dalam bentuk karya audio visual.
Sebagai referensi untuk pembelajaran mahasiswa di Universitas Dian Nuswantoro Semarang.
Sebagai bahan pertimbangan untuk meningkatkan mutu dan kualitas belajar di Universitas Dian Nuswantoro Semarang.
1.5.2 Manfaat Praktis
Menambah ilmu pengetahuan mengenai sejarah dan makna Tradisi Dugderan.
Sebagai acuan bagi penulis untuk menciptakan sebuah karya.
Bukti penulis mampu mengaplikasikan ide kreatif menjadi sebuah karya dokumenter.
1.5.3 Manfaat Sosial
Sebagai saran media pembelajaran bagi masyarakat yang melihat tayangan ini.
Sebagai sarana media informasi mengenai tradisi yang memiliki nilai sejarah tinggi dan memiliki makna yang sangat luar biasa
Sebagai tayangan yang mampu memberikan informasi menarik terhadap masyarakat yang menontonnya.
1.6 Metode Pengumpulan Data
Metode yang dilakukan penulis untuk penyusunan Proyek Akhir ini adalah dengan cara melakukan observasi langsung ke lapangan yang didasari dengan pengumpulan data untuk bahan pertimbangan sabagai salah satu usaha dalam penyusunn Proyek Akhir ini.
1.6.1 Teknik Pengumpulan Data
Penulis mengumpulkan data mengenai Tradisi Dugderan untuk melengkapi Proyek Akhir, yang kemudian dapat digunakan sebagai bahan pembelajaran dan perbandingan antara teori dan kenyataan yang ada pada
Tradisi Dugderan. Adapun teknik pengumpulan data yang penulis lakukan adalah sebagai berikut :
1. Pengamatan (Observasi)
Pengamatan ini dimaksudkan untuk melihat langsung bagaimana Tradisi Dugderan di Semarang berlangsung.
2. Wawancara
Wawancara dilakukan dengan beberapa narasumber seperti Sejarawan, Budayawan, serta tokoh-tokoh masyarakat di Semarang yang mengetahui sejarah dan makna Dugderan.
3. Studi Pustaka
Penulis mengumpulkan data dengan cara mempelajari dan membaca buku serta literature-literature yang ada kaitannya dengan objek penulisan. Disini penulis mencari referensi melalui buku, surat kabar, internet, yang berhubungan dengan Tradisi Dugderan.
4. Dokumentasi
Kegiatan Dokumentasi dimaksudkan untuk memperoleh berbagai dokumen atau data tertulis, serta gambar yang relevan dengan penelitian yang dilakukan.
1.6.2 Pemilihan Narasumber
Dalam memberi informasi yang lebih akurat mengenai sejarah dan makna yang ada pada Tradisi Dugderan di Semarang, penulis memilih beberapa tokoh masyarakat, seperti :
1. Kasturi sebagai sejarawan sekaligus Kabid Seni Disbudpar 2. Djawahir Muhammad sebagai Budayawan
3. Muhaimin Sebagai Pengurus Masjid Agung Semarang 4. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang
1.6.3 Pemilihan Lokasi
Penulis memilih Balaikota Semarang, Masjid Agung Jawa Tengah, Sekitar Masjid Agung Semarang, dan beberapa jalan dikota Semarang yang merupakan rute dari Karnaval Dugderan sebagai lokasi pengambilan gambar. Selain itu, penulis juga memilih beberapa bagian dari kota Semarang yang memiliki ciri khas yang berkaitan erat dengan Tradisi Dugderan di Semarang.