• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN. perusahaan tersebut melakukan produksi detergen ramah lingkungan dengan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III METODE PENELITIAN. perusahaan tersebut melakukan produksi detergen ramah lingkungan dengan"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

28 BAB III

METODE PENELITIAN

A. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada Deterjen Nasional yang berlokasi di Perumahan Park Royal Regensi Blok V2/19 Desa Sidokerto Kecamatan Budurun Sidoarjo Jawa Timur. Lokasi penelitian ini dipilih dikarenakan perusahaan tersebut melakukan produksi detergen ramah lingkungan dengan berbahan dasar alami.

B. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah penelitian dan pengembangan. (Mudrajad Kuncoro, 2013) Tujuan utama dari penelitian dan pengembangan bukan untuk formulasi dan uji hipotesis, melainkan untuk mendapatkan produk baru atau proses baru. Produk baru yang sesuai dengan tingkatan inovasi pada penelitian ini yaitu incremental yang dilakukan dengan cara melakukan perbaikan-perbaikan pada produk tersebut. Melalui penelitian dan pengembangan produk, perusahaan akan menghasilkan produk baru dengan kualitas yang lebih tinggi, sehingga dapat memenuhi selera konsumen. Sehubungan dengan penelitian dan pengembangan produk, perusahaan dapat menerapkan pengendalian kualitas total yang prinsip utamanya adalah kaizen atau selalu mengadakan perbaikan secara berkesinambungan.

(2)

47

C. Populasi dan teknik pengambilan sampel 1. Populasi

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Jadi, populasi bukan hanya orang, tetapi juga obyek dan benda-benda alam yang lain. Populasi juga bukan sekedar jumlah yang ada pada obyek/subyek yang dipelajari, tetapi meliputi seluruh karakteristik/sifat yang dimiliki oleh subyek atau obyek itu. (Sugiyono, 2015) Populasi pada penelitian ini merupakan laundry karena yang setiap hari menggunakan detergen adalah laundry, sehingga lebih mengerti mengenai kualitas detergen. Jumlah populasi pada penelitian ini yaitu tak terhingga karena jumlah laundry tidak dapat dipastikan jumlahnya serta keberadaannya.

2. Sampel

Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebanyak 30 laundry yang sudah diberikan Deterjen Nasional dan Daun Detergent sebagai pembandingnya. Jumlah sampel pada penelitian ini ditentukan oleh peneliti yaitu 30 responden, jumlah tersebut adalah jumlah minimum dari persyaratan yang tertulis pada buku Research Methods For Business (1982) yang dikutip oleh Sugiyono (2015), yaitu antara 30 sampai 500 jumlah responden. Sampel pada penelitian ini, yaitu laundry karena yang setiap hari menggunakan detergen adalah laundry sehingga

(3)

48

lebih mengerti mengenai kualitas detergen. Selain itu, pangsa pasar dari Detergen Nasional adalah laundry-laundry. Metode pengumpulan sampel yang digunakan adalah sampling purposive yang dimana teknik penentuan sampel dilakukan dengan pertimbangan tertentu. (Sugiyono, 2015) pertimbangan yang digunakan yaitu laundry yang sudah menggunakan detergen ramah lingkungan dari Deterjen Nasional dan Daun Detergent sebagai pembandingnya.

D. Definisi Operasional Variabel

Definisi operasional variabel memberikan informasi yang diperlukan untuk mengukur variabel yang akan diteliti. Pada penelitian ini definisi operasional variabelnya (Foster, 2007:5) adalah sebagai berikut:

1. Performance adalah Hasil dari detergen ramah lingkungan secara fungsional. Indikatornya yaitu:

Detergen Nasional dapat digunakan untuk mencuci berbagai jenis pakaian.

2. Features adalah Fitur tambahan yang terdapat pada detergen ramah lingkungan. Indikatornya adalah:

Detergen Nasional dapat membersihkan berbagai jenis noda.

3. Reliabililty adalah kualitas detergen ramah lingkungan setelah disimpan dalam periode waktu tertentu dan kondisi tertentu. Indikatornya adalah:

a) Detergen Nasional tidak mengeras atau menggumpal setelah disimpan lama.

(4)

49

b) Takaran Detergen Nasional yang digunakan cukup sedikit untuk cucian yang banyak.

4. Conformance to spesifications yaitu kesesuaian detergen ramah lingkungan terhadap spesifikasi. Indikatornya adalah:

Harga Detergen Nasional terjangkau

5. Durability yaitu refleksi umur ekonomi berupa daya tahan atau masa pakai barang. Indikatornya adalah:

Detergen Nasional cepat larut.

6. Service ability, meliputi kecepatan, kompetensi, kenyamanan, kemudahan dan akurasi dalam memberikan layanan untuk perbaikan barang. Indikatornya adalah:

Perusahaan Deterjen Nasional menyediakan tempat untuk menyampaikan berbagai keluhan

7. Estetika, yaitu karakteristik detergen ramah lingkungan yang dapat dirasakan secara subyektif. Indikatornya adalah:

Kemasan Deterjen Nasional menarik

8. Perceived quality yaitu perasaan pelanggan mengenai keberadaan produk tersebut sebagai produk yang berkualitas. Indikatornya adalah:

Detergen Nasional tidak mencemari lingkungan

9. Environmental, yaitu proses produksi maupun penggunaan dari detergen tidak mencemari lingkungan. Indikatornya adalah:

Deterjen Nasional tidak membuat tangan menjadi kasar.

(5)

50

10. Biaya selama proses produksi, yaitu biaya yang terjadi selama proses produksi disetiap tahapan produksi Deterjen Nasional.

E. Jenis dan Sumber Data

Penelitian ini menggunakan data-data yang berhubungan dengan masalah dan digunakan untuk pemecahan masalah. Berdasarkan tipe penelitian, data yang digunakan adalah data kualitatif yang diperoleh dari penyebaran kuesioner dan wawancara dengan pihak manajemen serta brainstorming dengan ahli. Sementara data kuantitatif diperoleh dari pengolahan data hasil penyebaran kuesioner. Dalam kuisioner yang diajukan, digunakan skala peringkat 1-5 (sangat tidak penting – sangat penting) untuk mengidentifikasi tingkat kepentingan, sedangkan untuk mengidentifikasi tingkat kepuasan skala peringkat yang digunakan adalah 1- 5 ( sangat tidak puas – sangat puas), sementara untuk mengidentifikasi skala prioritas digunakan skala AHP 1-9 (sama penting-mutlak penting).

Berdasarkan sumbernya, penelitian ini menggunakan data primer yang langsung diperoleh dari responden, yaitu dengan menyebarkan kuesioner kepada laundry-laundry yang telah dipilih menjadi sampel dalam penelitian ini dan wawancara yang dilakukan dengan pemilik perusahaan yang menjadi objek penelitian. Kuesioner yang dilakukan akan menghasilkan voice of customer, sedangkan wawancara terhadap pemilik akan menghasilkan respon atas keinginan dan kebutuhan konsumen serta bahan- bahan dan biaya yang terjadi selama proses produksi. Selain itu, penelitian ini juga menggunakan data sekunder yang mendukung dalam proses

(6)

51

penelitian, meliputi dampak lingkungan yang diakibatkan dari aktivitas proses produksi, terutama untuk environmental impact, didapatkan dari database software SIMAPRO.

F. Teknik Pengumpulan Data

Terdapat dua hal utama yang mempengaruhi kualitas data hasil penelitian, yaitu kualitas instrumen penelitian dan kualitas pengumpulan data. Kualitas instrumen penelitian berkenaan dengan validitas dan reliabilitas instrumen dan kualitas pengumpulan data berkenaan ketepatan cara-cara yang digunakan untuk mengumpulkan data. Oleh karena itu instrumen yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya, belum tentu dapat menghasilkan data yang valid dan reliabel, apabila instrumen tersebut tidak digunakan secara tepat dalam pengumpulan datanya. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

1. Wawancara

Wawancara merupakan teknik pengumpulan data yang menggunakan pertanyaan secara lisan kepada subjek penelitian. Pada wawancara ini peneliti menggunakan jenis wawancara terstruktur, dimana peneliti menggunakan pedoman wawancara yang berisi pertanyaan yang diajukan secara spesifik. (Sanusi, 2013) Data yang diperoleh nantinya adalah respon atas keinginan dan kebutuhan konsumen, alur proses produksi serta biaya-biaya proses produksi.

(7)

52 2. Kuesioner

Teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberikan seperangkat pertanyaan atau pernyataan kepada orang lain yang dijadikan responden untuk dijawabnya. (Sanusi, 2013) Hasil dari pembagian kuesioner adalah data kebutuhan dan keinginan konsumen yang nantinya akan menjadi Voice of Customer dan diolah ke dalam House of Quality.

3. Observasi

Teknik pengumpulan data dengan cara observasi merupakan cara pengumpulan data melalui proses pencatatan perilaku subjek(orang), objek(benda) atau kejadian sistematik tanpa adanya pertanyaan atau komunikasi dengan individu-individu yang diteliti. (Sanusi, 2013) Dalam observasi kali ini, data yang diperoleh adalah tahapan proses produksi Detergen ramah lingkungan pada Detergen Nasional Sidoarjo.

G. Teknik Pengukuran Data

Teknik pengukuran data yang digunakan dalam penelitian ini adalah likert scale, dimana responden menyatakan tingkat setuju atau tidak setuju mengenai berbagai pernyataan mengenai perilaku, objek, orang atau kejadian. Biasanya skala yang diajukan terdiri atas 5 atau 7 titik. Skala-skala ini nantinya dijumlahkan untuk mendapatkan gambaran mengenai perilaku.

(Mudrajad Kuncoro, 2013) Tabel 3.1 Skala penilaian

Sangat Tidak

Setuju Tidak Setuju Netral Setuju Sangat Setuju

1 2 3 4 5

Sumber : Mudrajad Kuncoro, 2013

(8)

53 H. Uji Validitas dan Reliabilitas

1. Uji Validitas

Uji validitas pada penelitian ini dilakukan untuk menganalisis validitas dari suatu instrumen menggunakan software SPSS statistik. Uji signifikasi dilakukan untuk membandingkan nilai r hitung dengan r tabel untuk degree of freedom (df) = n-2, dalam hal ini n adalah jumlah sampel. Jumlah sampel pada penelitian ini adalah 30 sampel dan alpha 0,05 atau tingkat kesalahannya sebesar 5%. Berdasarkan jumlah sampel sebanyak 30 maka didapatkan r tabel = 0,361.

2. Uji Reliabilitas

Uji reliabilitas menunjukkan sejauh mana alat ukur dapat dipercaya atau dihandalkan. Menurut Sugiyono (2015) suatu instrumen dinyatakan reliabel apabila koefisien reliabilitasnya minimal 0,6.

I. Teknik Analisis Data

Teknik pengelolaan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah menerjemahkan kualitas sesuai dengan keinginan dan kebutuhan konsumen, proses produksi yang ramah lingkungan serta ekonomis dengan menggunakan metode Green Quality Function Deployment II, dimana terdapat tiga tahap dalam metode ini :

(9)

54 1. Tahap membangun rumah kualitas

a) Voice of customer

Tahap ini mengarahkan peneliti untuk mendapatkan data tentang customer needs (atribut produk). Data tiap kepentingan atribut produk ini diperoleh dari hasil pembagian kuesioner kepada konsumen.

b) Matriks perencanaan (Planning matrix)

Di dalam matriks perencanaan menggunakan skala interval untuk membahasakan angka-angka hasil dari pengolahan data agar dapat dikatakan sangat tidak puas/penting, tidak puas/penting, cukup puas/penting, puas/penting, sangat puas/penting. Skala interval

Gambar 3.1 House of Quality Sumber : Heizer and Render, 2009

4

Relationship Matrix 3

Technical Response

6 Technical Matrix

5

Technical Correlation

2 Planning Matrix 1 Customer need & benefit

(10)

55

didapatkan dari nilai tertinggi dikurangi nilai terendah dibagi jumlah skala, maka dengan begitu didapatkan rumus skala interval :

1 – 1,800 = sangat tidak penting 1,801 – 2,601 = tidak penting 2,602 – 3,402 = cukup penting 3,403 – 4,203 = penting 4,204 – 5 = sangat penting Matriks perencanaan berisi tentang :

1) Tingkat kepentingan produk berdasarkan pendapat dari konsumen (Importance to customer). Importance to Customer adalah nilai yang menunjukkan tingkat kepentingan pada setiap pernyataan tentang dimensi produk menurut responden yang dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen. Nilai dari Importance to Customer diperoleh dari menghitung rata-rata nilai kepentingan masing-masing pernyataan.

2) Pengukuran tingkat kepuasan konsumen terhadap produk (Customer Satisfaction Performance).

3) Menentukan nilai target, nilai target tersebut ditentukan oleh pihak perusahaan untuk mewujudkan tingkat kepuasan yang diinginkan oleh konsumen (Competitive Satisfaction Performance).

4) GOAL atau GAP, merupakan hasil perbandingan antara Customer Satisfaction Performance dengan Competitive Satisfaction

(11)

56

Performance. Setelah itu akan didapatkan beberapa pernyataan mana saja pada setiap dimensi produk yang memerlukan perbaikan.

5) Rasio perbaikan (Improvement Ratio), Improvement Ratio merupakan perhitungan nilai rasio yang membandingkan antara sasaran yang ingin dicapai oleh perusahaan dan tingkat kepuasan konsumen terhadap produk yang dihasilkan oleh perusahaan atau posisi kinerja perusahaan saat ini. Nilai IR menunjukkan besarnya usaha perbaikan yang perlu dilakukan oleh perusahaan.

6) Sales point, bertujuan untuk memberi penilaian terhadap variabel mana yang perlu mendapat tindakan perbaikan dalam usaha meningkatkan kemampuan bersaing produk. Sales point diberikan kepada variabel yang memiliki daya jual produk yang tinggi, yang dapat ditunjang dengan usaha promosi.

7) Raw Weight, merupakan nilai keseluruhan dari data-data yang dimasukkan dalam Planning Matrix tiap kebutuhan untuk proses perbaikan selanjutnya. Nilai raw weight dapat dihitung dengan rumus:

RW = (importance rating) × (improvement ratio) × (sales point) 8) Normalized Raw Weight, merupakan nilai dari Raw Weight yang

dibuat dalam skala antara 0 – 1 atau dibuat dalam bentuk persentase. Nilai normalized raw weight dapat dihitung dengan rumus:

(12)

57 c) Technical response

Respon teknis digunakan untuk identifikasi proses/respon teknis apa yang harus dilakukan oleh bagian pengembangan produk untuk memenuhi cutomer needs. Respon teknis juga dikenal dengan kebutuhan desain (desain requirement). Pada tahap ini yang ingin dicari adalah jawaban pengembangan dari cutomer needs pada matriks.

d) Relationship Matrix

Pada tahap ini berisi tentang pendapat atau keputusan tim pengembang mengenai kekuatan hubungan antar elemen pada technical response dan tiap atribut produk yang dibutuhkan dan diinginkan oleh konsumen melalui empat simbol. Simbol yang digunakan untuk menggambarkan derajat pengaruh teknis dapat dilihat pada tabel 3.2

Tabel 3.2 Simbol Relationship Matrix

Simbol Nilai numerik Keterangan

9 Hubungan kuat

3 Hubungan sedang

1 Hubungan lemah

(kosong) 0 Tidak ada hubungan

Sumber : Yuri dan Nurcahyo, 2013 e) Korelasi Teknis (Technical Correlation)

Technical Correlation adalah hubungan dan saling keterkaitan antar technical response. Technical correlation digunakan untuk

(13)

58

mengidentifikasi hubungan antar respon teknis, hal ini berguna dalam perancangan produk karena seringkali satu fungsi mempengaruhi kemampuan fungsi yang lainnya. Simbol yang digunakan untuk menggambarkan derajat pengaruh teknis dapat dilihat pada tabel 3.3 Tabel 3.3 hubungan korelasi teknis

Simbol Nilai Keterangan

9 hubungan positif yang sangat kuat 3 hubungan positif cukup kuat

( kosong ) 0 Tidak ada hubungan

X -3 hubungan negatif cukup kuat

# -9 hubungan negatif yang sangat kuat Sumber : Yuri dan Nurcahyo, 2013

f) Technical matrix

Tahap ini merupakan kontribusi relatif respon teknik bagi keseluruhan kepuasan konsumen. Untuk mendapatkan tingkatan prioritas ini, digunakan data normalized raw weight pada tahap planning matrix yang dikalikan dengan nilai numerik pada tabel 3.2.

prioritas untuk tiap respon teknis merupakan jumlah perkalian tersebut dari semua customer needs.

Prioritas absolut =∑ (Normalized Raw Weight X Relationship matrix numeric)

Prioritas relatif

(14)

59 2. Tahap membangun Green House

a) Pada tahap ini, yaitu mengidentifikasi dampak lingkungan yang ditimbulkan selama proses produksi maupun penggunaan dari detergen ramah lingkungan.

b) Inventory analysis

Tahap ini mengidentifikasi aspek-aspek lingkungan yang diakibatkan selama proses produksi detergen beserta kandungannya. Data yang

Gambar 3.2 Green House Sumber : Zang,1999

1

Inventory Loads of Life Cycle Stages

4

Inventory/Impact Relationship Matrix (Equivalency Factors)

11 Target Value

2 Amount

10 Correlation Matrix

9

Technical Importance Ratings

3 Impact Classification 8 Impact Calculation Matrix

6 Impact priorities 5 Impact Characterization

7 Overall Index

(15)

60

digunakan pada tahap ini berdasarkan literature dan informasi melalui internet.

c) Environmental impact

Tahap ini mengidentifikasi dampak yang dirasakan oleh lingkungan yang diakibatkan dari proses produksi detergen. Penggolongan dampak lingkungan berdasarkan metode EDIP (Environmental Design Industrial of Product) dengan bantuan database software SIMAPRO.

d) Inventory / impact Relationship Matrix

Tahap ini menggambarkan kekuatan hubungan antara aspek-aspek yang ditimbulkan akibat proses produksi detergen dengan dampak yang dirasakan lingkungan.

e) Calculation Matrix

Pada tahap ini data yang sudah ada pada tahap sebelumnya diolah sesuai dengan kebutuhannya. Data yang pertama adalah impact characterization, dimana data ini diperoleh dengan mengalikan amount dengan inventory/impact priorities yang diperoleh dari hasil penilaian dari ahli lingkungan mengenai karakteristik antar dampak lingkungan yang kemudian dilakukan pembobotan. Data ketiga adalah raw weight dan normalized raw weight, raw weight diperoleh dengan mengalikan impact characterization dengan impact priorities, sedangkan normalized raw weight didapatkan dengan membagi raw weight dengan total raw weigth.

(16)

61 f) Technical Matrix

Tahap ini menunjukkan aspek lingkungan yang mengakibatkan dampak lingkungan terbesar sehingga perlu mendapatkan prioritas untuk ditangani. Untuk mendapatkan prioritas absolut pada tahap ini dilakukan dengan mengalikan Normalized raw weight dengan relationship matrix numerical value. Sedangkan untuk mendapatkan prioritas relatif dihitung dengan membagi prioritas absolut dengan total prioritas absolut.

3. Tahap membangun Cost House

Pada tahap ini akan mengidentifikasi biaya-biaya yang terjadi selama proses produksi. Hasil pada tahapan ini, yaitu mengetahui apakah ada biaya yang dapat direduksi atau tidak selama proses produksi.

Gambar 3.3 Cost House Sumber : Zang, 1999

3

Affection Strength Matrix 1

Cost Items of Life Cycle Stages

6 Target Values

4

Priorities of Cost Item Reduction 5

Correlation Matrix

2 Factors Affected by

Cost Redustion

(17)

62 a) Life Cycle Cost Analysis

Tahap ini mengidentifikasi biaya-biaya yang terjadi pada setiap tahapan proses produksi detergen.

b) Affection Strength Matrix

Tahap ini mengidentifikasi kemungkinan pengurangan biaya dan kemungkinan dampak negatif yang ditimbulkan akibat pengurangan biaya-biaya tersebut.

c) Technical Matrix

Tahap ini menunjukkan biaya-biaya yang dapat diprioritaskan untuk dikurangi. Penentuan prioritas berdasarkan item-item yang menunjukkan biaya tertinggi, kemungkinan biaya dapat dikurangi lebih banyak (ditunjukkan dengan simbol ‘+’) dan yang menimbulkan dampak negatif paling sedikit (ditunjukkan dengan simbol ‘-‘).

4. Product Concept Generation

Pada matriks ini akan mengintegrasikan hasil dari House of Quality, Green House dan Cost House. Hasil dari mengintegrasikan ketiga aspek tersebut yaitu. Akan mendapatkan karakteristik produk detergen ramah lingkungan yang dapat memenuhi kebutuhan, keinginan konsumen, ramah lingkungan dan ekonomis.

(18)

63 1. Satisfaction degree

Untuk mengisi data pada matriks tingkat kepuasan digunakan angka-angka dengan skala 1-10 pada masing-masing konsep produk.

Semakin besar nilainya menunjukkan semakin requirement dapat dipenuhi. Pemberian angka dilakukan dengan melakukan brainstorming dengan pemillik dan dengan mempertimbangkan hasil dari matriks-matriks sebelumnya.

2. Weight

Weight = N Score in Q.E.C x Q.E.C weight (bobot prioritas) N Score in Q.E.C = Normalisasi dari nilai R Score in Q.C

= Permintaan HOQ + permintaan fungsional + kemampuan manufaktring

Gambar 3.4 Concept Comparison House Sumber : Zang, 1999

4

Matrik Tingkat Kepuasan

5 Bobot

1

Permintaan dari - GH- CH

3 Konsep produk 6 Tingkat Kepuasan Terhadap Konsep Produk

2 Matrik Korelasi

7 Indeks Keseluruhan 8 Biaya Life Cycle Total

(19)

64

R Score in Q.E.C = nilai prioritas (technical importance) pada Quality House, Green House dan Cost House.

3. Tingkat kepuasan terhadap konsep produk Jadi : TK 6 = MTK 4 x bobot 5

Dimana,

TK 6 : tingkat kepuasan terhadap konsep di ruang 6 MTK : matriks derajat kepuasan di ruang 4

bobot 5 : bobot di ruang 5 4. Biaya Life Cycle Total

Didapatkan dari hasil analisis total cost pada proses Cost House

Gambar

Gambar 3.1 House of Quality  Sumber : Heizer and Render, 2009
Tabel 3.2 Simbol Relationship Matrix
Gambar 3.2 Green House  Sumber : Zang,1999
Gambar 3.3 Cost House  Sumber : Zang, 1999
+2

Referensi

Dokumen terkait

Perhitungan Beban Angin Pada Kondisi Unloaded Gaya angin yang bekerja pada rangka atas tak terbebani Gaya batang yang bekerja pada rangka bawah tak terbebani. Gaya angin yang

Alat Modified Oveninidirancang agar kualitas dan produktivitas produk meningkat, distribusi api untuk pemasakanlebih merata, distribusi udara panas lebih bagus

Menurut laporan Adnyana (2003), sistem agribisnis ternak sapi potong dengan memanfaatkan hasil limbah pertanian di provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur mampu

Pada kondisi adanya pilihan terbuka bagi para investor untuk menanamkan modalnya maka alih fungsi lahan pertanian pada daerah dengan infrastruktur yang baik dan sekaligus

Short Term Memory (STM) atau memori jangka pendek memiliki kapasitas yang kecil sekali, namun sangat besar peranannya dalam proses memori, yang merupakan tempat

Peraturan Zonasi.. Penyusunan RD!Rberisi ketentuan yang arus, yang bole, atau yang tidak bole dilaksanakan pada +ona pemanaatan ruang yang dapat terdiri atas ketentuan

 Flexural behavior : terjadi pada dinding akibat gaya luar yang dibentuk oleh mekanisme kelelehan tulangan menahan lentur.. Keruntuhan

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan peneliti maka dapat disimpulkan bahwa mekanisme pembiayaan Usaha Rakyat di KCP BRI Syariah Daya Murni Tulang Bawang Barat