• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH MODELTTWBERBANTUAN MEDIA GAMBAR TERHADAP HASIL BELAJAR BAHASA INDONESIA SISWA SD KELAS IV

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENGARUH MODELTTWBERBANTUAN MEDIA GAMBAR TERHADAP HASIL BELAJAR BAHASA INDONESIA SISWA SD KELAS IV"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH MODELTTWBERBANTUAN MEDIA GAMBAR TERHADAP HASIL BELAJAR BAHASA INDONESIA

SISWA SD KELAS IV

I Gede Jano Ariasa1, I Dewa Kade Tastra2, I Nyoman Murda3

1,3 Jurusan PGSD, 2Jurusan TP, FIP Universitas Pendidikan Ganesha

Singaraja, Indonesia

e-mail: [email protected]1, [email protected]2, [email protected]3

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan yang signifikan hasil belajar antara kelompok yang dibelajarkan dengan model pembelajaran TTWberbantuan media gambar dengan kelompok siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional pada siswa kelas IV semester genap SD di Gugus VIII Kecamatan Buleleng.Penelitian ini merupakan quasi experiment dengan rancangannonequivalent post test only control group design. Populasi penelitian ini adalah kelas IV SD di Gugus VIII Kecamatan Buleleng, yang berjumlah 5 kelas dengan siswa 131 orang.Sampel penelitian ini yaitu kelas IV SD No. 1 Paket Agung dengan jumlah siswa 44 orang dan kelas IV SD No. 2 Paket Agung dengan jumlah siswa 42 orang, yang ditentukan dengan teknik simplerandom sampling. Instrumen pada penelitian ini yaitu lembar observasi dan tes menulis. Data yang diperoleh dianalisis dalam dua tahap, yaitu analisis statistik deskriptif dan analisis statistik inferensial (uji-t).Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar antara kelompok siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaranTTWberbantuan media gambar dengan kelompok siswa yang dibelajarkan dengan pembelajaran konvensional, dengan nilai thitung sebesar 35,71 dan ttabsebesar 2,000. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dapat dikatakan bahwa terdapat pengaruh signifikan model pembelajaran TTWberbantuan media gambar terhadap hasil belajar siswa kelas IV SD di Gugus VIII Kecamatan Buleleng.

Kata-kata kunci: TTW, hasil belajar

Abstract

The purpose of this study was to determine whether there is a significant difference in learning outcomes between group that learned by a learning model TTWand aided drawing media with groups of students who followed the conventional learning in the second semester of the fourth grade students in Cluster VIII SD Buleleng, Buleleng in Academic Year 2014/2015. This study is a quasi experimental design with non equivalent post test and only control group design. The population was fourth grade in Cluster VIII Buleleng, amounting to 5 classes with 131 students. Samples of this research that fourth grade No. 1 Package Court with the number of students 44 and fourth grade No. 2 Package Court with the number of students 42 students, which is determined by simple random sampling technique. Instruments in this study was the observation sheet and test writing. The data obtained were analyzed in two stages, namely the descriptive statistical

(2)

PENDAHULUAN

Menurut Badudu (1996) manusia dituntut untuk mampu melakukan interaksi sosial sebagai wujud pengaplikasian proses pendidikan yang telah dienyam sebelumnya. Bahasa Indonesia menjadi alat komunikasi yang sangat penting bagi masyarakat Indonesia. Sejalan dengan hal tersebut maka kemampuan berbahasa merupakan dasar yang fundamental dalam menjalani interaksi sosial setiap individu.

Bila dikaitkan dengan pendidikan di sekolah, maka mata pelajaran bahasa Indonesia menjadi sarana yang penting dalam mengembangkan kemampuan berbahasa masyarakat Indonesia khususnya.

Menurut Susanto (2012) pembelajaran bahasa Indonesia, terutama di sekolah dasar tidak akan terlepas dari empat keterampilan berbahasa, yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Keempat keterampilan berbahasa tersebut sangat mempengaruhi hasil belajar bahasa Indonesia. Pendidikan dasar atau sekolah dasar merupakan momentum awal bagi anak untuk kemampuan dirinya.

Keterampilan berbahasa yang baik merupakan salah satu keterampilan yang diharapkan dimiliki oleh siswa selama

berada pada jenjang sekolah dasar.

Menurut Badan Standar Pendidikan Nasional (BNSP, 2006) standar isi bahasa Indonesia adalah bahasa Indonesia diarahkan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi dengan bahasa yang baik dan benar secara lisan maupun tertulis serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya kesusastraan manusia Indonesia.

Namun dalam kenyataannya, proses pembelajaran bahasa Indonesia di SD masih berorientasi pada pentransferan ilmu saja dari guru ke siswa dengan kegiatan yang didominasi oleh guru. Keterlibatan siswa dalam pembelajaran masih terbatas pada penerimaan materi yang disampaikan dengan metode ceramah. Dalam pembelajaran, siswa masih pasif dan menunggu informasi, catatan maupun pertanyaan-pertanyaan dari guru. Hal ini berdampak pada hasil belajar siswa. Dari data hasil UTS siswa kelas IV pada semester 1 yang diperoleh, rata-rata hasil belajar bahasa Indonesia di SD Gugus VIII Kecamatan Buleleng masih rendah, yang dapat dilihat pada Tabel 1.berikut ini.

Tabel 1. Rata-Rata Nilai UTS Bahasa Indonesia Kelas IV Pada Semester 1 di Gugus VIII Kecamatan Buleleng.

No Sekolah Rata-rata

Nilai UTS KKM

1 SD No 1 Paket Agung 65,86 70

2 SD No 2 Paket Agung 66,11 70

3 SD No 1 Beratan 66,8 75

4 SD No 3 Kendran 66,46 70

5 SD No 2 Liligundi 67,46 70

(Sumber: Tata Usaha SD di Gugus VIII Kecamatan Buleleng, 2012)

(3)

Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan pada tanggal 5 Pebruari 2015 dengan guru kelas IV di SD gugus VIII Kecamatan Buleleng diketahui bahwa hasil belajar bahasa Indonesia siswa pada aspek menulis, berbicara, dan menyimak masih rendah. Hal tersebut dikarenakan pembelajaran yang masih berpusat pada guru, mengandalkan metode ceramah, dan guru masih minim dalam menggunakan media pembelajaran.

Sehingga bahasa Indonesia dianggap sebagai pelajaran yang membosankan.

Hal ini mengakibatkan siswa menjadi jenuh dan bosan dalam mengikuti pembelajaran bahasa Indonesia di kelas, sehingga berdampak pula pada rendahnya hasil belajar bahasa Indonesia siswa kelas IV SD di gugus VIII Kecamatan Buleleng.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, diperlukan inovasi dari guru untuk mengemas pembelajaran bahasa Indonesia agar pembelajaran bahasa Indonesia dapat digemari oleh siswa. Saat mengikuti proses pembelajaran, inovasi yang kreatif sangat diperlukan agar siswa bisa mengikuti proses belajar dengan baik. Salah satu inovasi model pembelajaran yang dapat digunakan agar siswa dapat ikut terlibat aktif dalam proses pembelajaran sehingga berdampak pada peningkatan hasil belajar bahasa Indonesia siswa kelas IV SD di gugus VIII Kecamatan Buleleng adalah menggunakan model Think Talk Write (TTW)

Model pembelajaran Think Talk Write (TTW) dapat memberikan peluang kepada siswa untuk berinteraksi dengan sesama siswa dalam pembelajaran. Model pembelajaran Think Talk Write (TTW) menekankan pada kemampuan komunikasi dan kreativitas berpikir siswa pada tahap-tahap pelaksanaannya. Dalam tahap talk yaitu berbicara, dan

dan mencatat suatu topik tertentu”.

Berdasarkan pemaparan model pembelajaran TTWtersebut, maka diduga model pembelajaran TTWakan dapat mamacu siswa dalam belajar sehingga hasil belajar siswa akan menjadi maksimal.

Pembelajaran akan menjadi lebih menarik jika diselipkan dengan media ketika pelajaran bahasa Indonesia disampaikan. Selain guru harus mampu menggunakan alat-alat yang tersedia, seorang guru juga dituntut untuk dapat mengembangkan keterampilan membuat media pembelajaran yang akan digunakan apabila media tersebut belum tersedia (Arsyad, 2009: 2). Media yang akan digunakan adalah media gambar jenis gambar berseri yang termasuk ke dalam media visual. Gerlach dan Evy (dalam Arsyad 2006) menyatakan bahwa “media adalah manusia, materi atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan atau sikap”. Sejalan dengan hal tersebut menurut Sudjana (2007) media gambar adalah media visual dalam bentuk grafis. Media grafis didefinisikan sebagai media yang mengkombinasikan fakta dan gagasan secara lisan dan kuat melalui suatu kombinasi penggunaan kata-kata dan gambar-gambar. Media gambar membantu siswa untuk lebih tertarik terhadap pelajaran bahasa Indonesia di kelas.

Penerapan model pembelajaran Think Talk Write (TTW) berbantuan media gambar terhadap hasil belajar bahasa Indonesia diduga memberi kontribusi terhadap hasil belajar bahasa Indonesia siswa. Hal ini dikarenakan pada tahap Think siswa mengamati gambar yang diperlihatkan oleh guru, kemudian siswa mengungkapkan isi dari gambar yang telah diperlihatkan oleh guru dan tahapan selajutnya siswa menulis isi dari gambar

(4)

Talk Write (TTW) Berbantuan Media Gambar Terhadap Hasil Belajar Bahasa Indonesia pada Siswa SD kelas IV Tahun Pelajaran 2014/2015 di Gugus VIII Kecamatan Buleleng”

METODE

Dalam penelitian ini unit eksperimennya berupa kelas, sehingga penelitian yang digunakan adalah

penelitian eksperimen semu (Quasi Eksperiment). Dalam eksperimen semu, penempatan subjek ke dalam kelompok yang dibandingkan tidak dilakukan secara acak. Individu subjek sudah ada dalam kelompok yang dibandingkan sebelum diadakannya penelitian. Desain Penelitian yang digunakan adalah non equivalent post-test only control group design.

Desain ini dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2.Non EquivalentPost-test Only Control Group Design

Kelompok Perlakuan Post-test

E X O1

K - O2

(dalam Koyan, 2012: 15) Keterangan :

E = Kelompok Eksperimen K = Kelompok Kontrol

X = Perlakuan dengan Model Pembelajaran TTW O1 = Post-test terhadap Kelompok Eksperimen O2 = Post – test terhadap Kelompok Kontrol

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh kelas IV SD di Gugus VIII Kecamatan Buleleng tahun pelajaran

2014/2015. Jumlah keseluruhan anggota populasi pada penelitian ini dapat dilihat

pada tabel 3. .

Tabel 3. Jumlah Anggota Populasi Penelitian

(Sumber: Tata Usaha SD di Gugus VIII Kecamatan Buleleng 2012) Dari 5 SD yang ada di gugus VIII

dilakukan uji kesetaraan untuk menentukan sampel setara atau tidak.

Hasil dari uji kesetaraan pada populasi didapatkan semua sekolah setara yaitu SD No 1 Paket Agung, SD No 2 Paket

Agung, SD No 1 Kendran, SD No 3 Kendran, SD 2 Liligundi, dari lima SD yang ada di Gugus VIII Kecamatan Buleleng dilakukan pengundian untuk diambil dua kelas yang dijadikan subjek penelitian. Dari dua kelas tersebut diundi

No Sekolah Kelas Jumlah

1 SD No 1 Paket Agung IV 44

2 SD No 2 Paket Agung IV 42

3 SD No 1 Beratan IV 15

4 SD No 3 Kendran IV 15

5 SD No 2 Liligundi IV 15

Jumlah 131

(5)

lagi untuk menentukan kelas eksperimen dan kelas kontrol. Berdasarkan hasil pengundian untuk menentukan kelas eksperimen dan kontrol, diperoleh sampel yaitu siswa kelas IV SD No. 1 Paket Agung sebagai kelas eksperimen dan siswa kelas IV SD No. 2 Paket Agung sebagai kelas kontrol. Kelas eksperimen diberikan perlakuan pembelajaran dengan model Think Talk Write (TTW) dan kelas kontrol diberikan perlakuan pembelajaran dengan model pembelajaran konvensional. Penelitian ini melibatkan dua variabel yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah model Think Talk Write (TTW)danmodel pembelajaran konvensional sedangkan variabel

terikatnya adalah Hasil Belajar Bahasa Indonesia. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah menggunakan Lembar Observasi dan tes. Lembar Observasi digunakan saat kegiatan siswa membaca, sedangkan tes menulis digunakan saat siswa menulis.Teknik analisis data yang digunakan adalah statistik deskriptif dan statistik inferensial melalui Uji-t.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Data penelitian ini adalah hasil belajar bahasa Indonesia kelas IV SD di Gugus VIII Kecamatan Buleleng.

Rekapitulasi perhitungan data hasil penelitian tentang hasil belajar siswa dapat dilihat pada Tabel 4 .

Tabel 4. Rekapitulasi Hasil Perhitungan Skor Hasil Belajar Data

Statistik

Hasil Belajar

KelompokEksperimen KelompokKontrol

Mean 54,25 40,07

Median 54,61 38,70

Modus 56,16 37,30

Berdasarkan Tabel 2, diketahui bahwa mean data hasil belajar siswa kelompok eksperimen = 54,25 lebih besar daripada kelompok kontrol = 40,07.

Kemudian datahasil belajar siswa kelompok eksperimen tersebut dapat disajikan ke dalam bentuk poligon seperti pada Gambar 1.

Berdasarkan grafik poligon data hasil belajar kelompok eksperimen di atas, dapat diketahui bahwa modus lebih besar dari median dan median lebih besar dari mean (Mo>Md>M). Dengan kata lain, grafik di atas adalah grafik juling negatif.

Artinya, sebagian besar skor cenderung tinggi.Kecenderungan skor ini dapat dibuktikan dengan melihat frekuensi relatif pada tabel distribusi frekuensi. Frekuensi relatif skor yang berada di atas rata-rata lebih besar dibandingkan frekuensi relatif skor yang berada di bawah rata- rata.Sedangkan data hasil belajar siswa kelompok kontrol dapat disajikan ke dalam bentuk poligon seperti pada Gambar 2.

Frekuensi

(6)

Gambar 2.Poligon Data Hasil Belajar Kelompok Kontrol

Berdasarkan Grafik poligon data hasil belajar kelompok kontrol di atas,

dapat diketahui bahwa modus lebih kecil dari median dan median lebih kecil dari mean (Mo<Md<M). Dengan kata lain, grafik di atas adalah grafik juling positif.

Artinya, sebagian besar skor cenderung rendah. Kecenderungan skor ini dapat dibuktikan dengan melihat frekuensi relatif pada tabel distribusi frekuensi. Frekuensi relatif skor yang berada di atas rata-rata lebih kecil dibandingkan frekuensi relatif skor yang berada di bawah rata- rata.Kemudian dilakukan uji hipotesis untuk mengetahui pangaruh dari model pembelajaran yang diterapkan. Namun sebelum dilakukan uji hipotesis terlebih dahulu dilakukan uji prasyarat analisis data yaitu normalitas dan homogenitas.

Rangkuman hasil uji normalitas disajikan

pada tabel 3.

Tabel 3. Rangkuman Hasil Uji Normalitas

Berdasarkan hasil perhitungan menggunakan rumus chi-kuadrat, diperoleh

2hit hasil post-test kelompok eksperimen adalah 4,2904 dan

2tabpada taraf signifikansi 5% dan dk = 3 adalah 7,815. Hal ini berarti,

2hit hasil belajar bahasa Indonesia kelompok eksperimen lebih kecil dari

2tab (

2hit

 

2tab ), sehingga data skor hasil belajar bahasa Indonesiakelompok eksperimen berdistribusi normal.Pada kelompok

kontrol,

2hit hasil belajar bahasa Indonesia kelompok kontrol adalah 2,6812dan

2tabdengan taraf signifikansi 5% dan dk = 3 adalah 7,815. Hal ini berarti,

2hit hasil belajar bahasa Indonesia kelompok kontrol lebih kecil dari

2tab

(

2hit

 

2tab), sehingga data hasil belajarbahasa Indonesiakelompok kontrol berdistribusi normal. Selanjutnya rangkuman hasil uji homogenitas disajikan

pada tabel 4.

Tabel 4.Rangkuman Hasil Uji Homogenitas Varians antar Kelompok Eksperimen dan kontrol

Berdasarkan tabel di atas, diketahui Fhit hasil belajar kelompok eksperimen dan kontrol adalah 1,47,

sedangkan Ftab pada dbpembilang = 44, dbpenyebut = 42, dan taraf signifikansi 5%

0 2 4 6 8 10 12 14

34 37 40 43 46 49

Frekuensi

Titik Tengah

No Kelompok Data

χ

2 Nilai Kritis dengan Taraf

Signifikansi 5% Status

1 Post-test Eksperimen 4,2904 7,815 Normal

2 Post-test Kontrol 2,6812 7.815 Normal

Sumber Data Fhit Ftab dengan Taraf

Signifikansi 5% Status Post-test Kelompok

Eksperimen dan Kontrol 1,47 1,69 Homogen

Md=38,70

Mo=37,30 M=40,07

(7)

adalah 1,69. Hal ini berarti, varians data hasil belajar bahasa Indonesia kelompok eksperimen dan kontrol adalah homogen.

Setelah data hasil belajar dinyatakan

berdistribusi normal dan homogen, maka dilanjutkan dengan uji hipotesis.

Rangkuman hasil uji hipotesis disajikan pada tabel 5.

Tabel 5. Rangkuman Hasil Uji-t

Berdasarkan tabel rangkuman analisis diatas, dapat diketahuithitung = 35,71 dan ttabel = 2,000 untuk db = 84 pada taraf signifikansi 5%. Berdasarkan kriteria pengujian, karena thitung> ttabel maka H0 ditolak dan H1 diterima. Artinya, terdapat perbedaan hasil belajar bahasa Indonesia

antara kelompok siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran Tink Talk Write (TTW) berbantuan media gambar dan kelompok siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran konvensional pada siswa kelas IV SD di Gugus VIII Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng tahun pelajaran 2014/2015.

Hasil analisis data menunjukkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar antara kelompok siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran Think Talk Write (TTW) berbantuan media gambar dan kelompok siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran konvensional. Tinjauan ini didasarkan pada hasil uji-t dan rata-rata skor hasil belajar siswa. Analisis data menggunakan uji-t, diketahui thitung = 35,71 dan ttabel pada taraf signifikansi 5% = 2,000. Hasil perhitungan tersebut menunjukkan bahwa thitung lebih besar dari ttabel (thitung> ttabel), sehingga hasil penelitian adalah signifikan. Hal ini berarti, terdapat perbedaan hasil belajar antara kelompok siswa yang dibelajarkan dengan model

pembelajaran Think Talk Write (TTW) berbantuan media gambar dan kelompok siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran konvensional.

Selanjutnya berdasarkan rata-rata skor hasil belajar siswa yang mengikuti model pembelajaran Think Talk Write (TTW) berbantuan media gambar adalah 54,25 dan rata-rata skor hasil belajar siswa yang mengikuti model pembelajaran konvensional adalah 40,07. Hal ini menunjukkan bahwa hasil belajar kelompok siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran Think Talk Write (TTW) berbantuan media gambar lebih tinggi dibandingkan dengan kelompoksiswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran konvensional.

Terdapat beberapa hal yang dapat menjelaskan penyebab hasil belajar siswa dikelompok eksperimen lebih tinggi dibandingkan hasil belajar siswa dikelompok kontrol baik secara teoritis

Write (TTW) berbantuan media gambar merupakan model pembelajaran yang tepat digunakan untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini dikarenakan model pembelajaran ini menjadikan siswa

Kelompok N db Mean (x) s2 t hitung t tabel

Eksperimen 44

84 25,32 2,86

35,71 2,000

Kontrol 42 17 3,14

(8)

dengan lancar. (Huda, 2014). Model pembelajaran Think Talk Write (TTW) berbantuan media gambar merupakan model pembelajaran yang tepat digunakan untuk meningkatkan hasil belajar siswa.

Hal ini dikarenakan model pembelajaran ini menjadikan siswa sebagai pusat pembelajar. Siswa menjadi aktif untuk memecahkan suatu masalah yang diberikan oleh guru. Adanya bantuan media gambar menyebabkan siswa lebih tertarik untuk mengikuti proses pembelajaran. Secara umum, ketiga tahap belajar pada model pembelajaran Tink Talk Write (TTW) berbantuan media gambar sangat mendukung proses pembelajaran menulis pada pelajaran bahasa Indonesia, sehingga secara teoritis pula tahapan belajar pada model tersebut akan memberikan kontribusi yang positif terhadap peningkatan hasil belajar siswa.

Hal ini berbeda dengan model pembelajaran konvensional pada kelas kontrol. Yang mana model pembelajaran konvensionalmencirikan pembelajaran yang berpusat pada guru (teacher centered). Secara teoritis, menurut Djamarah (1996) pembelajaran konvensional adalah metode pembelajaran tradisional atau disebut juga dengan metode ceramah, karena sejak dulu metode ini telah dipergunakan sebagai alat kemunikasi lisan antara guru dengan anak didik dalam proses belajar dan. Dalam hal ini, secara teoritis terlihat bahwa pembelajaran konvensional kurang maksimal dalam meningkatkan hasil belajar siswa.

Berdasarkan tinjauan empiris, perbandingan kedua model pembelajaran tersebut dapat dilihat dari perbedaan pelaksanaan pembelajaran antara kedua model. Pada model pembelajaran Think Talk Write (TTW)berbantuan media gambar pembelajaran berpusat pada siswa (student center) yang mana siswa berperan secara aktif dalam proses pembelajaran. Sementara pada model pembelajaran konvesional siswa hanya mendapatkan informasi dari guru tanpa

ikut berperan aktif dalam proses pembelajaran.

Melihat perbedaan kedua model tersebut baik secara teoritis maupun empiris, dapat dinyatakan bahwa model

pembelajaran Think Talk

Write(TTW)berbantuan media gambar lebih unggul jika dibandingkan dengan model pembelajaran konvensional.

Melihat hasil yang diperoleh siswa melalui lembar observasi dan post test, ternyata didukung oleh penelitian sebelumnya.

Penelitian ini dilakukan oleh Dewa Made Suma Pariana, dalam penelitian yang berjudul”Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Talk Write (TTW) Berbantuan Media Gambar Terhadap Hasil Belajar IPA Siswa Kelas V Semerter Genap Tahun Pelajaran 2012/2013 di SDN 2 dan 3 Kaliuntu Kabupaten Buleleng”. Pada penelitian ini diperoleh hasil bahwa rata-rata hasil belajar IPA siswa yang belajar dengan model Think Talk Write (TTW) berbantuan media gambar lebih tinggi yaitu senilai 19,35 dari rata-rata hasil belajar IPA siswa yang belajar dengan model pembelajaran konvensional yaitu 12,68.

Penelitian lain yang mendukung adalah penelitian yang dilakukan oleh Ni Putu Tri Ariani, dalam penelitian yang berjudul”Pengaruh Model Pembelajaran Thinks Talk Write (TTW) Terhadap Keterampilan menulis Puisi siswa Kelas V Semester II di SD Gugus IX Kecamatan Buleleng Tahun Pelajaran 2012/2013”.

Pada penelitian ini diperoleh hasil bahwa siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran Think Talk Write (TTW) Terhadap Keterampilan menulis Puisi memiliki nilai rata-rata 92,88. Sedangkan siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran konvensional nilai rata- ratanya 4,40.

Dari hasil penelitian ditemukan bahwa model pembelajaran Think Talk Write (TTW) berbantuan media gambardapat memberikan pengaruh terhadap hasil belajar siswa. Tentu saja

(9)

dalam hal ini hasil belajar siswa meningkat. Hal ini dapat dilihat dari pembelajaran model Think Talk Write (TTW) berbantuan media gambar lebih banyak menekankan keterlibatan siswa

dalam menemukan sendiri

pengetahuannya dengan melakukan kegiatan diskusi kelompok sedangkan guru hanya bertugas sebagai fasilitator dan motivator dalam pembelajaran.

Hambatan yang ditemukan ketika dilakukan penelitian pada kelas eksperimen tidak terlalu berarti. Hanya ada beberapa hambatan kecil seperti masih terdapat beberapa siswa yang

kurang konsentrasi dalam mengikuti proses pembelajaran tetapi hal tersebut sudah dapat ditanggulangi oleh guru dengan memberikan perhatian lebih kepada siswa yang bersangkutan.

Sementara hambatan di kelas kontrol lebih banyak ditemukan. Hambatan- hambatan tersebut adalah banyak ditemukan siswa yang kurang memperhatikan guru saat menjelaskan materi seperti siswa bermain-main di kelas. Selain itu terdapat pula beberapa siswa yang tertidur saat proses pembelajaran berlangsung.

SIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan uraian di atas, maka temuan dalam penelitian ini menyatakan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar bahasa Indonesia antara kelompok siswa yang belajar dengan model pembelajaran Think Talk Write (TTW) berbantuan media gambar dan kelompok siswa yang belajar dengan model pembelajaran konvensional. Hasil analisis menunjukkan bahwa thitung sebesar 35,71 sedangkan nilai ttabel dengan taraf signifikansi 5% sebesar 2,000. Hal ini berarti nilai thitung lebih besar dari ttabel (35,71>2,000). Kualifikasi hasil belajar bahasa Indonesia siswa yang mengikuti model pembelajaran Think Talk Write (TTW) berbantuan media gambar berada pada kategori sangat tinggi sedangkan hasil belajar bahasa Indonesia siswa yang mengikuti model pembelajaran konvensional berada pada kategori tinggi.

Skor rata-rata hasil belajar bahasa Indonesia siswa yang mengikuti model pembelajaran Think Talk Write (TTW) berbantuan media gambar adalah 54,25 sedangkan skor rata-rata hasil belajar siswa yang mengikuti model pembelajaran konvensional adalah 40,07.

Kabupaten Buleleng tahun pelajaran 2014/2015.

Saran yang dapat disampaikan berdasarkan penelitian yang telah dilakukan adalah (1) siswa dalam mengikuti proses pembelajaran diharapakan selalu terlibat secara aktif agar nantinya dapat meningkatkan hasil belajar dan mendapatkan pengetahuan baru melalui pengalaman yang ditemukannya sendiri, (2) guru dalam menyampaikan materi pelajaran di kelas hendaknya lebih berinovasi dalam memilih model pembelajaran yang mana model pembelajaran yang dipilih nantinya mampu mengatasi kebutuhan belajar dan karakteristik siswa, (3) kepada sekolah, khususnya Sekolah Dasar (SD) hendaknya dapat menjadikan model pembelajaran Think Talk Write (TTW) menjadi salah satu model pembelajaran yang harus diterapkan dalam pembelajaran, pada aturan guru mengajar dikelas, (4) peneliti lain yang akan mengadakan penelitian lebih lanjut tentang pembelajaran Think Talk Write(TTW) berbantuan media gambar dalam bidang pelajaranbahasa Indonesia

(10)

DAFTAR RUJUKAN

Arsyad, azhar . 2009. Media Pembelajaran. Jakarta: Rajawali Pers.

Djamarah, 1996. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta

Huda, Miftahul. 2014. Model – Model Pengajaran dan Pembelajaran.

Yogyakarta

: Pustaka Pelajar.

Koyan, I Wayan. 2011. Asesmen Dalam Pendidikan. Singaraja: Universitas Pendidikan Ganesha Press.

---, 2012. Statistik Pendidikan.

Singaraja: Universitas Pendidikan Ganesha Press.

Sudjana. 2007. Media Pengajaran.

Jakarta: Sinar Baru Algesindo.

Susanto, A. 2013. Teori Belajar dan Pembelajaran di Sekolah Dasar.

Jakarta: Kencana Prenadamedia Group.

Gambar

Tabel 4. Rekapitulasi Hasil Perhitungan Skor Hasil Belajar  Data  Statistik  Hasil Belajar  KelompokEksperimen  KelompokKontrol  Mean  54,25  40,07  Median  54,61  38,70  Modus  56,16  37,30
Tabel 3. Rangkuman Hasil Uji Normalitas

Referensi

Dokumen terkait

1.) Require Data, beberapa atribut harus selalu mengandung nilai yang valid, dengan kata lain tidak boleh mengandung nilai null. 2.) Atribut Domain Constraint, setiap atribut

Bilamana tindakan hukum yang menurut undang-undang mewajibkan suatu tindakan hukum tersebut pada saat melakukan perjanjian antara para pihak apabila dasarnya perjanjian

Pernyataan di dalam variabel pengambilan keputusan berkaitan dengan penilaian karyawan yang diperoleh melalui angket dengan skor tertentu tentang tindakan

Semakin rendah range frekuensi hasil dekomposisi maka memiliki Energi normalisasi yang besar dikarenakan mengandung suara jantung, sedangkan semakin tinggi range frekuensi

(2) Semua Peraturan Pelaksanaan dari Peraturan Daerah Kabupaten Kotawaringin Barat Nomor 19 Tahun 2007 tentang Izin Mendirikan Bangunan (Lembaran Daerah Kabupaten Kotawaringin

jika terpenuhi 3 s/d 4 keadaan yaitu : 1) terjadi pada lereng curam, sehingga volume tanah dapat bergerak atau meluncur ke bawah, 2) terdapat lapisan di bawah

Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa:(1) Pola Interaksi pada Orang Tua Beda Agama di Dusun Trenceng, Desa Mrican, Jenangan, Ponorogo dapat disimpulkan

Penelitian ini menggunakan Teori Intraksi Simbolik (George Herbert Mead &amp; Herbert Blumer) dan teori fungsional Ekman and Friesen of Kinesics untuk menjawab tujuan penelitian