• Tidak ada hasil yang ditemukan

MEDAN MAKNA GERAK ORGAN TUBUH BAGIAN KEPALA MANUSIA DALAM BAHASA GORONTALO

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "MEDAN MAKNA GERAK ORGAN TUBUH BAGIAN KEPALA MANUSIA DALAM BAHASA GORONTALO"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

1

(2)

2

MEDAN MAKNA GERAK ORGAN TUBUH BAGIAN KEPALA MANUSIA DALAM BAHASA GORONTALO

Sry Inggriani Lakoro

Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Sastra dan Budaya

Universitas Negeri Gorontalo, 2015

Anggota Penulis

Prof. Dr. Moh. Karmin Baruadi, M.Hum (Pembimbing I) Ulfa Zakaria S.Pd, M.Hum (Pembimbing II)

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan medan makna gerak organ tubuh bagian kepala manusia dalam bahasa Gorontalo serta penggunaan kata dalam medan makna gerak organ tubuh bagian kepala manusia dalam bahasa Gorontalo. Permasalahan dalam penelitian ini adalah (1) bagaimanakah medan makna gerakan organ tubuh pada kepala manusia dalam bahasa Gorontalo? (2) bagaimanakah penggunaan kata dalam medan makna gerak organ tubuh pada kepala manusia dalam bahasa Gorontalo?. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode deskriptif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini terdiri atas teknik simak (observasi), metode cakap (wawancara), teknik catat, teknik rekam.

Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data dapat disimpulkan bahwa ada lima puluh lima kata yang terbagi atas sebelas gerak organ tubuh kepala manusia. Medan makna tersebut ada yang terbatas dan ada yang luas. Medan makna tersebut terbagi atas golongan kolokasi dan golongan set. Beberapa gerak organ tubuh tersebut digunakan sebagai bahasa isyarat untuk menyampaikan maksud pengguna gerakan tersebut, selain kata yang mengandung makna sebenarnya.

Kata Kunci: Medan Makna, Organ Kepala, bahasa Gorontalo.

(3)

3 PENDAHULUAN

Pada hakikatnya manusia adalah mahluk yang diciptakan dengan kebutuhan bersosialisasi. Dalam kehidupannya manusia membutuhkan alat untuk bersosialisasi dengan sesamanya yakni bahasa.

Bahasa adalah sebuah sistem lambang bunyi yang arbitrer yang digunakan oleh masyarakat untuk tujuan komunikasi. Sebagai alat interaksi sosial peranan bahasa besar sekali. Hampir tidak ada kegiatan manusia berlangsung tanpa kegiatan berbahasa. Kegiatan berbahasa ini menggunakan bahasa tertentu. Salah satu bahasa yang digunakan ialah bahasa daerah.

Bahasa daerah perlu dijaga kelestariannya agar tidak punah, karena bahasa daerah juga merupakan identitas pemilik bahasa tersebut. Seperti halnya bahasa Gorontalo yang digunakan masyarakat Gorontalo di Provinsi Gorontalo.

Bahasa Gorontalo memiliki struktur dan sistemnya tersendiri yang berbeda dari bahasa lain. Tetapi satu hal yang menyamakan bahasa Gorontalo dengan bahasa lain yaitu adanya makna dalam setiap kegiatan berbahasa manusia.

Ketika kegiatan bertutur terjadi maka makna akan turut menyertai setiap tuturan yang ada. Sehubungan dengan hal itu, Kridalaksana (2001:32) mengemukakan bahwa makna adalah (1) maksud pembicara, (2) pengaruh satuan bahasa dalam pemahaman persepsi atau perilaku manusia, (3) hubungan dalam arti kesepadanan atau ketidaksepadanan antara bahasa dan alam di luar bahasa, atau antara semua ujaran dan semua hal yang ditunjuknya, (4) cara menggunakan lambang-lambang bahasa.

Di samping itu Zainuddin (1985:118) mengemukakan bahwa makna sebuah kalimat sering tidak bergantung pada sistem gramatikal dan leksikal saja, tetapi juga bergantung kepada kaidah wacana. Orang awam melihat makna kata tentunya dari kamus, yang sebenarnya hanyalah makna leksikal atau keterangan dari leksem itu sendiri.

(4)

4

Makna merupakan persoalan bahasa yang sangat sulit didefinisikan karena berkaitan erat dengan kehidupan manusia sehari-hari. Selama kegiatan berbahasa berlangsung maka makna akan turut menyertai kegiatan berbahasa tersebut baik lisan maupun tulisan.

Dalam kajian tentang makna ada yang disebut dengan medan makna. Menurut Nida (dalam Pateda, 2009:147) medan makna adalah jaringan makna untuk kata yang bentuknya berbeda tetapi memiliki kemiripan makna.

Medan makna dalam bahasa Gorontalo salah satunya terdapat pada gerak kepala manusia. Medan makna itu di antaranya yang berada dalam medan gerakan kepala, yaitu dungu-dungu ‘menunduk’, motilanggelo ‘tengadah’, mopoyindili ‘teleng atau memiringkan kepala’, mopodunge-dunge yang berarti ‘mengangguk’, dan mopoile-ile yang berarti ‘mengangguk-angguk’. Hal ini sangat menarik untuk diteliti mengingat kata-kata tersebut sering dipakai oleh masyarakat dalam berkomunikasi.

Tetapi mereka kurang menyadari bahwa kata-kata tersebut berada pada satu medan makna yaitu gerakan kepala.

Berdasarkan kenyataan-kenyataan tersebut penulis terdorong untuk melakukan penelitian ini. Melalui penelitian yang akan mendokumentasikan salah satu unsur kebahasaan dalam bahasa Gorontalo ini diharapkan masyarakat Gorontalo akan memperoleh informasi tentang salah satu keunikan dalam bahasa daerahnya.

Sehubungan dengan hal tersebut maka dalam penelitian menggunakan teori Kridalaksana (2001:34) bahwa medan makna adalah bagian dari sistem semantik bahasa yang menggambarkan bagian bidang kehidupan atau realitas dalam alam semesta tertentu dan yang direalisasikan oleh seperangkat unsur leksikal yang maknanya berhubungan. Misalnya nama warna membentuk medan makna tertentu, begitu pula nama perabot rumah tangga. Chaer (2009:110-114) berpendapat kata-kata yang berada dalam satu medan makna dapat digolongkan menjadi dua, yaitu golongan kolokasi dan golongan set. Kolokasi berasal dari bahasa latin colloco yang berarti ada di tempat yang sama dengan menunjuk kepada hubungan sintagmatik yang terjadi antara kata-kata atau unsur-unsur leksikal itu. Kalau kolokasi menunjuk

(5)

5

pada hubungan sintagmatik karena sifatnya yang linear maka set menunjuk pada hubungan paradigmatik karena kata-kata atau unsur-unsur yang berada dalam suatu set dapat saling menggantikan.

Pendekatan yang digunakan pada penelitian ini adalah pendekatan semantik.

Semantik digunakan untuk bidang linguistik yang mempelajari hubungan antara tanda-tanda atau lambang-lambang dengan hal-hal yang ditandainya, yang disebut makna atau arti.

METODE PENELITIAN

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif.

Metode deskriptif yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah mendeskripsikan bentuk medan makna gerak organ tubuh bagian kepala manusia dalam bahasa Gorontalo dan penggunaannya.

Data penelitan ini adalah medan makna gerak organ tubuh bagian kepala manusia dalam bahasa Gorontalo. Sumber data penelitian ini berasal dari informan berbahasa Gorontalo. Informan pada penelitian ini adalah penutur bahasa Gorontalo yang berada di desa Huntu Selatan, Kecamatan Bulango Selatan, Kabupaten Bone Bolango.

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini terdiri atas (1) teknik wawancara digunakan peneliti untuk mendapatkan data tentang medan makna gerak organ tubuh pada kepala manusia dalam bahasa Gorontalo. (2) Teknik ini dilakukan untuk mencatat semua jawaban tentang gerak organ tubuh pada kepala manusia yang diberikan oleh informan serta hal-hal penting yang terjadi selama wawancara berlangsung.

Analisis data pada penelitian ini dilakukan dengan langkah-langkah berikut:

(1) mentranskripsi, yaitu peneliti akan melakukan penyalinan data dari hasil rekaman wawancara dengan informan, (2) mengidentifikasi semua bentuk kata yang merupakan medan makna tiap-tiap anggota gerak organ tubuh pada kepala manusia, (3) mengklasifikasi data, yakni melakukan pengklasifikasian terhadap kata-kata yang

(6)

6

berada pada jaringan makna setiap organ kepala manusia, (4) menganalisis hasil klasifikasi data, (5) mendeskripsikan hasil analisis data, (6) menyimpulkan hasil deskripsi data.

HASIL PENELITIAN

Medan makna gerak organ tubuh bagian kepala manusia dalam bahasa Gorontalo ditemukan sejumlah lima puluh lima data. Masing-masing data tersebut diklasifikasikan dalam sebelas gerak organ tubuh bagian kepala manusia.Bentuk medan makna gerak organ tubuh bagian kepala manusia dapat digolongkan menjadi dua yaitu kolokasi dan set.

Golongan Kolokasi

Kolokasi berarti berada di tempat yang sama menunjuk pada hubungan sintagmatik yang terjadi pada kata-kata atau unsur-unsur leksikal itu (Chaer, 2009:112).

1) a. Moponge’e huwo’o ‘mengibaskan rambut’

b. Tihe-tihelo ‘rambut tegak’

c. Ungga-unggango ‘rambut berantakan’

Ketiga kata di atas merupakan kolokasi karena pada lingkungan atau menjelaskan tentang rambut.

2) a. Motidungu ‘menunduk’

b. Hemeedumulo ‘tertunduk karena mengantuk’

c. Tapa-tapadudulo ‘duduk dengan kepala merunduk kedepan’

Ketiga kata di atas merupakan kolokasi karena berada di tempat yang sama yaitu tentang kepala yang menunduk.

Golongan Set

Set menunjuk pada hubungan paradigmatik karena kata-kata yang berada dalam suatu set dapat saling menggantikan (Cher, 2009:113).

(7)

7

1) a. Mopodunge-dunge ‘menganguk-angguk’

b. Mopo’ile-ile ‘mengiyakan’

Kedua kata di atas merupakan set karena dapat saling menggantikan. Tetapi dalam bahasa Gorontalo kedua kata tersebut mempunyai perbedaan.

2) a. Mopowulahu ‘membuka mata’

b. Mopominggulo ‘membuka lebar mata’

c. Lente-lentengo mato ‘melotot penuh kemarahan’

Ketiga kata di atas merupakan set kerena mopominggulo mato ‘membuka lebar mata’ lebih dari pada mopowulahu ‘membuka mata’. Mopominggulo mato

‘membuka lebar mata’ berada di antara mopowulahu ‘membuka mata’ dan lente- lentengo mato ‘melotot penuh kemarahan’.

Penggunaan Medan Makna Gerak Organ Tubuh Bagian Kepala Manusia dalam Bahasa Gorontalo

Kata-kata yang berada pada gerak organ tubuh bagian kepala manusia dalam bahasa Gorontalo dapat digunakan seperti yang tampak pada kalimat berikut.

1. Moponge’e huwo’o ‘mengibaskan rambut’

Ti Ina moponge’e huwo’io alihu lato mohengu ‘Ina mengibaskan rambutnya (yang basah) agar cepat kering’.

Moponge’e huwo’o ‘mengibaskan rambut’ dilakukan oleh orang yang selesai mandi, agar rambutnya cepat kering dilakukanlah gerakan mengibaskan rambut.

2. Motidungu (menunduk)

Waatia wanu mobisala o li mama motidungu ‘Saya jika berbicara dengan mama akan menunduk’

Kalimat di atas menjelaskan si saya menunduk ketika berbicara dengan mamanya. Dalam hal ini menunduk yang dilakukan oleh seorang anak ketika

(8)

8

berbicara dengan orang tuanya dapat mengisyaratkan bahwa sang anak menghormati orang tuanya, atau sang anak merasa bersalah telah melakukan kekeliruan.

3. Mopodunge-dunge ‘mengangguk-angguk’

Te Putra mopodunge-dunge hemodungohe wungguli li baapu ‘Putra mengangguk-angguk mendengar cerita kakek’

Kalimat di atas menjelaskan si Putra mengangguk-angguk karena paham dengan cerita yang disampaikan kakeknya. Dalam budaya Gorontalo ketika seseorang melakukan gerakan mopodunge-dunge dapat mengisyaratkan bahwa seseorang paham dengan cerita tersebut, atau setuju dengan maksud pembicara.

4. Lente-lentengo mato ‘melotot penuh kemarahan’

Ti ma’a pito hepe’ilolohu li maama, bo matomu tanu bo lente-lentengo de utonu ‘ini pisau yang disuruh carikan ibu, hanya matamu yang entah melihat ke arah mana’.

Kalimat di atas menjelaskan jika si kamu yang diminta untuk mencarikan pisau tetapi tidak menemukan pisaunya karena tidak melihat ke arah yang semestinya atau ke arah pisau berada. Kata lente-lenteng maknanya melebihi dari mopominggulo

‘melotot’, karena keadaan mata ketika pada saat lente-lentengo telah merah membesar seakan biji mata akan melompat ke luar.

PEMBAHASAN

Kata-kata yang berada pada medan makna gerak organ tubuh bagian kepala manusia dapat digolongkan ke dalam kolokasi dan set. Pengelompokan kata atas kolokasi dan set ini besar artinya bagi kita dapat memahami konsep-konsep budaya yang ada dalam satu masyarakat bahasa. Tetapi pengelompokan ini sering kurang jelas karena adanya ketumpangtindihan unsur-unsur leksikal yang dikelompokkan itu.

Hal ini terjadi karena ada pasangan kata yang salah satu dari padanya lebih besifat umum atau netral. Kemudian ada kata yang pasangan katanya sukar untuk ditemukan karena mungkin tidak ada dan ada juga mempunyai pasangan lebih dari satu.

(9)

9

Kata-kata yang berada pada medan makna gerak organ tubuh bagian kepala manusia dalam bahasa Gorontalo berhubungan dengan kehidupan manusia. Gerak tersebut sangat berhubungan erat dengan acuan yang jelas. Makna dapat berbeda sesuai dengan gerak yang dilakukan dan dapat dipahami dari jarak jauh maupun dekat.

SIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan uraian-uraian yang telah dikemukakan pada bab-bab sebelumnya, maka penulis menarik simpulan sebagai berikut. (1) medan makna gerak organ tubuh bagian kepala manusia dalam bahasa Gorontalo terbagi atas sebelas gerak organ tubuh pada kepala manusia dan ditemukan juga keadaan organ tubuh pada kepala manusia. Kata-kata tersebut dapat digolongkan dalam kolokasi dan set.

(2) kata-kata tersebut digunakan berkaitan erat dengan kehidupan manusia dan digunakan sesuai dengan konteksnya.

Dari uraian simpulan di atas, dapat dikemukakan beberapa saran sebagai berikut. (1) Penulis menyarankan kepada pembaca yang akan melakukan penelitian selanjutnya, kiranya dapat melanjutkan penelitian di bidang kebahasaan mengenai medan makna pada objek dan bahasa yang lain atau bidang semantik yang lainnya.

(2) Peneliti bahasa Gorontalo selanjutnya dapat menyempurnakan berbagai aspek yang masih kurang dalam penelitian ini, mengingat bahasa Gorontalo merupakan aset penting untuk perkembangan kebudayaan Gorontalo.

DAFTAR PUSTAKA

Chaer, Abdul. 2009. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. PT Rineka Cipta.

Jakarta.

Kridalaksana, Harimurti. 2001. Kamus Linguistik edisi ketiga. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Zainuddin.1985. Pengetahuan Kebahasaan Pengantar Linguistik Umum. Usaha Nasional. Surabaya.

Referensi

Dokumen terkait

Variabel prediktor yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah median lamanya tahun sekolah wanita, persentase pria dan wanita kawin yang mengetahui

Berdasarkan hasil pengujian secara parsial sebagaimana ditampilkan pada Tabel 5., diperoleh hasil bahwa hanya leverage operasi dan umur perusahaan yang berpengaruh terhadap

Untuk sequence nukleotida, terdapat empat buah kemungkinan simbol (A, T, G, dan C) dalam setiap state. Untuk sequence asam amino, terdapat dua puluh buah simbol. Nilai

Bahkan, AC dan motor DC desain sangat mirip dengan rekan-rekan mereka generator (identik demi tutorial ini), motor AC yang tergantung pada medan magnet yang dihasilkan oleh

Pernikahan merupakan satu hal yang sangat sakral dan merupakan sunnatullah yang umumnya dan berlaku pada semua Makhluk-Nya. Upacara pernikahan memiliki banyak ragam

PENGEMBANGAN MEDIA AUDIO VISUAL ADOBE FLASH BERBASIS CONTEXTUAL TEACHING LEARNING UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS DAN KREATIF PESERTA DIDIK MATERI KEARIFAN

I hope that my plea to you good citizens does not go unheard in these dark times, as we need to rally together to make our Guild houses and Temples of Katanal great once

menurut Undang-Undang Perbankan Nomor 10 Tahun 1998 adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan