• Tidak ada hasil yang ditemukan

BERITA DAERAH KOTA TANGERANG SELATAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BERITA DAERAH KOTA TANGERANG SELATAN"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

BERITA DAERAH

KOTA TANGERANG SELATAN

No. 32, 2016 PEMERINTAH KOTA TANGERANG SELATAN.

Pedoman Penyelenggaraan Jaminan Kesehatan Daerah.

PROVINSI BANTEN

PERATURAN WALIKOTA TANGERANG SELATAN

NOMOR 32 TAHUN 2016 TENTANG

PEDOMAN PENYELENGGARAAN JAMINAN KESEHATAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

WALIKOTA TANGERANG SELATAN,

Menimbang : a. bahwa dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan bagi masyarakat miskin dan kurang mampu yang belum terakomodir dalam program Jaminan Kesehatan Nasional, kelompok masyarakat berisiko khusus dan masyarakat yang mendukung pembangunan daerah, Pemerintah Daerah mengakomodir dalam Jaminan Kesehatan Daerah;

b. bahwa untuk mewujudkan pelayanan kesehatan paripurna menuju akselerasi pencapaian kepesertaan yang menyeluruh dalam penyelenggaraan Jaminan Kesehatan Daerah yang sudah ada saat ini perlu dilakukan pengintegrasian dengan sistem Jaminan Kesehatan Nasional melalui Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan, sehingga dapat memberikan manfaat yang seluas luasnya;

c. bahwa dalam upaya memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat dalam kondisi darurat, namun belum memiliki jaminan pembiayaan kesehatan, maka untuk menjamin keberlangsungan pelayanan kesehatan dapat dibayarkan oleh Pemerintah Daerah;

d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b dan huruf c, perlu menetapkan Peraturan Walikota tentang Pedoman Penyelenggaraan Jaminan Kesehatan Daerah;

(2)

Mengingat : 1. Pasal 18 ayat (6) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia;

2. Undang–Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 150, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4456);

3. Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2008 tentang Pembentukan Kota Tangerang Selatan Di Provinsi Banten (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 188, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4935);

4. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5003);

5. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 116, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5256);

6. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587) sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang–Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5679);

7. Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2012 tentang Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 264, Tambahan Lembaran Negara Republik

(3)

Indonesia Nomor 5372) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 76 Tahun 2015 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2012 tentang Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 226, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5746);

8. Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2013 tentang Jaminan Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 29) sebagaimana telah diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 28 Tahun 2016 tentang Perubahan Ketiga Atas Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2013 tentang Jaminan Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 62);

9. Peraturan Menteri Sosial Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pedoman Pendataan dan Pengelolaan Data Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial dan Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 567);

10. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 71 Tahun 2013 tentang Pelayanan Kesehatan Pada Jaminan Kesehatan Nasional (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 1400);

11. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 28 Tahun 2014 tentang Pedoman Pelaksanaan Program Jaminan Kesehatan Nasional (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 874);

12. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 59 Tahun 2014 tentang Standar Tarif Pelayanan Kesehatan Dalam Penyelenggaraan Jaminan Kesehatan (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 1287);

13. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 80 Tahun 2015 tentang Pembentukan Produk Hukum Daerah (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 2036);

(4)

14. Peraturan Menteri Sosial Nomor 5 Tahun 2016 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 76 Tahun 2015 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2012 tentang Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 713);

15. Peraturan Daerah Kota Tangerang Selatan Nomor 6 Tahun 2010 tentang Organisasi Perangkat Daerah Kota Tangerang Selatan (Lembaran Daerah Kota Tangerang Selatan Tahun 2010 Nomor 6, Tambahan Lembaran Daerah Kota Tangerang Selatan Nomor 0610);

16. Peraturan Daerah Kota Tangerang Selatan Nomor 4 Tahun 2013 tentang Sistem Kesehatan Kota (Lembaran Daerah Kota Tangerang Selatan Tahun 2013 Nomor 4, Tambahan Lembaran Daerah Kota Tangerang Selatan Nomor 0413);

17. Keputusan Menteri Sosial Nomor 146/Huk/2013 tentang Penetapan Kriteria Fakir Miskin dan Orang Tidak Mampu;

18. Keputusan Menteri Sosial Nomor 147/Huk/2013 tentang Penetapan Kriteria Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan;

MEMUTUSKAN :

Menetapkan : PERATURAN WALIKOTA TENTANG PEDOMAN PENYELENGGARAAN JAMINAN KESEHATAN DAERAH.

BAB I

KETENTUAN UMUM Bagian Kesatu

Pengertian Pasal 1

Dalam Peraturan Walikota ini yang dimaksud dengan:

1. Daerah adalah Kota Tangerang Selatan.

2. Pemerintah Daerah adalah Walikota sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Daerah yang memimpin pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah otonom.

(5)

3. Walikota adalah Walikota Tangerang Selatan.

4. Perangkat Daerah adalah unsur pembantu Walikota dan DPRD dalam penyelenggaraan Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah.

5. Dinas Kesehatan adalah Perangkat Daerah yang membidangi urusan pemerintahan bidang kesehatan.

6. Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan yang selanjutnya disebut BPJS Kesehatan adalah badan hukum yang dibentuk untuk menyelenggarakan program Jaminan Kesehatan Nasional.

7. Jaminan Kesehatan Daerah yang selanjutnya disingkat Jamkesda adalah program jaminan pembiayaan pelayanan kesehatan yang dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah dengan sistem pola bantuan bagi seluruh masyarakat yang belum memiliki Jaminan Kesehatan.

8. Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan yang selanjutnya disebut PBI Jaminan Kesehatan adalah Orang Miskin dan Orang Tidak Mampu sebagai peserta program Jaminan Kesehatan.

9. Orang Miskin adalah orang yang sama sekali tidak mempunyai sumber mata pencaharian dan/atau mempunyai sumber mata pencaharian tetapi tidak mempunyai kemampuan memenuhi kebutuhan dasar yang layak bagi kehidupan dirinya dan/atau keluarganya.

10. Orang Tidak Mampu adalah orang yang mempunyai sumber mata pencaharian, gaji atau upah yang hanya mampu memenuhi kebutuhan dasar yang layak namun tidak mampu membayar iuran bagi dirinya dan keluarganya.

11. Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial yang selanjutnya disingkat PMKS adalah perseorangan, keluarga, kelompok dan/atau masyarakat yang karena suatu hambatan, kesulitan, atau gangguan, tidak dapat melaksanakan fungsi sosialnya, sehingga tidak dapat terpenuhi kebutuhan hidupnya baik jasmani, rohani maupun sosial secara memadai dan wajar.

12. Potensi Sumber Kesejahteraan Sosial yang selanjutnya disingkat PSKS adalah perseorangan, keluarga, kelompok dan/atau masyarakat yang dapat berperan serta untuk menjaga, menciptakan, mendukung dan memperkuat penyelenggaraan kesejahteraan sosial.

13. Kelompok Masyarakat Berisiko Khusus adalah kelompok masyarakat Kota Tangerang Selatan dan/atau kelompok masyarakat yang mengalami kejadian di wilayah Kota Tangerang Selatan, dengan kriteria sebagai berikut:

(6)

a. gelandangan, pengemis, anak dan orang terlantar, orang dengan gangguan jiwa serta masyarakat miskin penghuni panti sosial;

b. penghuni lembaga pemasyarakatan dan rumah tahanan, yang memiliki kartu tanda penduduk Daerah;

c. bayi yang lahir dari kedua orang tua atau salah satu orang tuanya peserta Jamkesda Kota Tangerang Selatan;

d. korban bencana paska tanggap darurat;

e. penderita kejadian ikutan paska imunisasi yang telah mendapat rekomendasi dari kelompok kerja kejadian ikutan paska imunisasi;

f. ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas dan bayi baru lahir yang berisiko tinggi;

g. kasus gizi buruk yaitu balita dengan status gizi berdasarkan indeks berat badan menurut berat dan tinggi badan dengan nilai Z-skore <-3 atau sangat kurus dan/atau terdapat tanda klinis gizi buruk sesuai standar, pedoman dan/atau kriteria yang ditetapkan pemerintah; dan h. masyarakat dengan masalah kesehatan lainnya yang berdampak sosial

setelah mendapat Rekomendasi dari Perangkat Daerah yang membidangi urusan sosial.

14. Kader Kesehatan adalah anggota masyarakat yang memberi dukungan secara sukarela yang berperan dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan.

15. Tenaga Honorer adalah pegawai yang bekerja di lingkungan Pemerintah Daerah yang diangkat berdasarkan surat perjanjian kerja yang ditandatangani oleh kepala Perangkat Daerah untuk membantu melaksanakan tugas pemerintahan dan pembangunan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan organisasi Pemerintah Daerah.

16. Pekerja Sosial Masyarakat yang selanjutnya disingkat PSM adalah warga masyarakat yang atas dasar rasa kesadaran dan tanggung jawab serta didorong oleh rasa kebersamaan kekeluargaan dan kesetiakawanan sosial secara sukarela mengabdi pada pembangunan kesejahteraan sosial.

17. Rekomendasi adalah surat yang diberikan kepada seseorang yang membutuhkan bantuan jaminan kesehatan dari Pemerintah Daerah untuk dijadikan bahan persyaratan yang dibutuhkan oleh instansi terkait.

18. Fasilitas Kesehatan yang selanjutnya disebut Faskes adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang digunakan untuk meyelenggarakan upaya pelayanan kesehatan perorangan baik promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif yang dilakukan oleh pemerintah, swasta dan/atau masyarakat.

(7)

19. Pelayanan kesehatan adalah pelayanan kesehatan yang meliputi upaya promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif, dan pemeriksaan penunjang.

20. Penambahan adalah bertambahnya jumlah peserta Jaminan Kesehatan Daerah dari jumlah kepesertaan yang sudah ditetapkan dengan Keputusan Walikota.

21. Tarif Paket Indonesia Case Based Groups, yang selanjutnya disebut INA CBG's adalah sistem pola klaim pada fasilitas Pelayanan Kesehatan lanjutan berdasarkan pengelompokkan penyakit (case-mix) dengan ciri klinis dan biaya perawatan yang sama serta bertujuan untuk peningkatan mutu dan efektifitas pelayanan.

Bagian Kedua Ruang Lingkup

Pasal 2

Ruang lingkup pengaturan penyelenggaraan Jamkesda bagi masyarakat meliputi:

a. pembayaran premi; dan b. pembayaran klaim di Faskes.

Bagian Ketiga Maksud dan Tujuan

Pasal 3

Peraturan Walikota dimaksudkan sebagai landasan hukum bagi penyelenggaraan jaminan kesehatan dalam rangka mewujudkan pemerataan kesehatan yang bermutu, efektif dan efisien sehingga dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

Pasal 4 Penyelenggaraan Jamkesda bertujuan:

a. agar peserta Jamkesda yang memerlukan Pelayanan Kesehatan dapat dilakukan dengan prinsip kendali mutu dan kendali biaya di Daerah;

b. menjamin akses Pelayanan Kesehatan bagi peserta Jamkesda; dan

c. mewujudkan Pelayanan Kesehatan yang berkeadilan dan merata bagi peserta Jamkesda.

BAB II

PESERTA DAN KEPESERTAAN Pasal 5

(8)

Peserta penerima Jamkesda, meliputi:

a. masyarakat miskin dan tidak mampu yang belum menjadi peserta program Jaminan Kesehatan Nasional dan Jamkesda provinsi;

b. kelompok masyarakat berisiko khusus; dan/atau c. masyarakat yang mendukung pembangunan Daerah.

Pasal 6

(1) Peserta Jamkesda sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf a meliputi:

a. PMKS yang mendapat Rekomendasi dari Perangkat Daerah yang membidangi urusan sosial sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;

b. penghuni lembaga pemasyarakatan/rumah tahanan negara yang miskin dan tidak mampu, memiliki kartu tanda penduduk Daerah dan melampirkan surat keterangan dari kepala lembaga pemasyarakatan/kepala rumah tahanan negara; dan

c. perseorangan penerima manfaat lembaga kesejahteraan sosial.

(2) Peserta Jamkesda sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf b meliputi:

a. bayi yang lahir dari kedua orang tua atau salah satu orangtuanya peserta Jamkesda dengan melampirkan surat keterangan kelahiran dari rumah sakit, puskesmas dan/atau penolong persalinan tenaga profesional;

b. anak dengan Kejadian Ikutan Paska Imunisasi;

c. balita dengan status gizi buruk; dan

d. penderita penyakit yang membutuhkan penanganan lebih lanjut berdasarkan rekomendasi dokter, antara lain:

1. thalassaemia mayor;

2. kelainan jantung;

3. penyakit genetik;

4. penyakit keganasan; dan

5. penyakit lain yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan.

(3) Peserta Jamkesda sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf c meliputi:

a. Tenaga Honorer yang menerima upah dibawah upah minimum kota;

b. Kader Kesehatan; dan c. PSM.

Pasal 7

(1) Peserta Jamkesda sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ditetapkan dengan Keputusan Walikota.

(2) Walikota dalam menetapkan Peserta Jamkesda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat mendelegasikan kewenangannya kepada Kepala Perangkat Daerah terkait.

Pasal 8

(1) Peserta Jamkesda dapat dilakukan penghapusan, Penambahan dan perubahan.

(2) Penghapusan peserta Jamkesda sebagaimana dimaksud pada ayat (1)

(9)

dengan ketentuan antara lain:

a. meninggal dunia;

b. pindah tempat tinggal di luar Daerah;

c. sudah tidak aktif sebagai Kader Kesehatan;

d. sudah tidak bekerja di lingkungan Pemerintah Daerah;

e. sudah tidak menjadi PSM;

f. tidak lagi menjadi penghuni lembaga pemasyarakatan/rumah tahanan negara;

g. terdaftar di jaminan kesehatan lainnya yang dibiayai oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Provinsi dan/atau

h. tidak memenuhi kriteria sebagai orang miskin dan orang tidak mampu.

(3) Penambahan peserta Jamkesda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan Penambahan peserta baru.

Pasal 9

(1) Perubahan peserta Jamkesda sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1) bagi peserta Jamkesda masyarakat miskin dan tidak mampu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) dan peserta Jamkesda PSM sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (3) huruf c berdasarkan hasil verifikasi dan validasi data oleh Perangkat Daerah yang membidangi urusan sosial.

(2) Perubahan peserta Jamkesda sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1) bagi peserta program Jamkesda kelompok masyarakat berisiko khusus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2) dan peserta Jamkesda Kader Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (3) huruf b berdasarkan hasil verifikasi dan validasi data oleh Dinas Kesehatan.

(3) Perubahan peserta program Jamkesda sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1) bagi peserta Jamkesda Tenaga Honorer sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (3) huruf a berdasarkan hasil verifikasi dan validasi data oleh masing-masing Perangkat Daerah.

Pasal 10

(1) Verifikasi dan validasi data peserta Jamkesda sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 dilakukan setiap 3 (tiga) bulan sekali dalam tahun anggaran berjalan.

(2) Hasil verifikasi dan validasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan oleh Perangkat Daerah Kepada Dinas Kesehatan.

BAB III

PELAYANAN KESEHATAN Pasal 11

(1) Setiap peserta Jamkesda berhak mendapat Pelayanan Kesehatan meliputi:

a. rawat jalan tingkat pertama;

b. rawat inap tingkat pertama;

c. rujukan Pelayanan Kesehatan;

d. rawat jalan tingkat lanjutan;

(10)

e. rawat inap tingkat lanjutan; dan f. pelayanan gawat darurat.

(2) Pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan di Faskes yang telah melakukan perjanjian kerjasama dengan BPJS Kesehatan.

(3) Peserta Jamkesda mendapat manfaat pelayanan rawat inap pada Pelayanan Kesehatan kelas 3 (tiga).

(4) Tata cara dan alur Pelayanan Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) sesuai dengan ketentuan BPJS Kesehatan.

BAB IV

PEMBIAYAAN PELAYANAN KESEHATAN Pasal 12

Pembiayaan jaminan kesehatan bagi masyarakat peserta Jamkesda dilakukan melalui:

a. pembayaran iuran jaminan kesehatan kepada BPJS Kesehatan; dan b. pembayaran kesehatan melalui pembayaran klaim ke Faskes.

Pasal 13

(1) Peserta PBI Jaminan Kesehatan merupakan peserta BPJS Kesehatan berdasarkan Keputusan Walikota.

(2) Periode pembayaran iuran peserta sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dalam perjanjian kerjasama antara Dinas Kesehatan dengan BPJS Kesehatan.

Pasal 14

Ketentuan mengenai tata cara pembayaran bantuan iuran peserta jaminan kesehatan kepada BPJS Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (1) sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pasal 15

(1) Dalam hal ditemukan masyarakat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5, yang membutuhkan pembiayaan Pelayanan Kesehatan di Faskes dan belum terdaftar dalam data peserta PBI Jaminan Kesehatan, maka untuk menjamin keberlangsungan biaya Pelayanan Kesehatan dapat dibayarkan oleh Pemerintah Daerah sesuai Pelayanan Kesehatan yang diberikan oleh Faskes.

(2) Faskes sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan Faskes yang bekerjasama dengan Pemerintah Daerah.

(3) Biaya Pelayanan Kesehatan dapat dibayarkan oleh Pemerintah Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sesuai INA CBG’s.

(4) Untuk pembiayaan selanjutnya pembiayaan kesehatan masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didaftarkan sebagai peserta PBI Jaminan Kesehatan.

BAB V PEMBIAYAAN

(11)

Pasal 16

Pembiayaan pembayaran Jamkesda bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.

BAB VI

PERAN SERTA MASYARAKAT Pasal 17

Peran serta masyarakat dapat dilakukan dengan cara memberikan informasi yang akurat tentang peserta Jamkesda baik diminta maupun tidak diminta.

BAB VII

PEMBINAAN DAN PENGAWASAN Pasal 18

(1) Walikota melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap pelaksanaan penyelenggaraan Jamkesda.

(2) Pembinaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) melalui monitoring dan evaluasi.

(3) Dalam melakukan pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Walikota dapat melimpahkan pengawasan kepada Perangkat Daerah sesuai dengan kewenangan tugas pokok dan fungsinya.

BAB VIII

KETENTUAN PERALIHAN Pasal 19

Pada saat Peraturan Walikota ini mulai berlaku, tagihan atas Pelayanan Kesehatan Jamkesda pada Rumah Sakit yang belum dibayarkan oleh Pemerintah Daerah tetap dibayarkan sesuai dengan jumlah tagihan.

BAB IX

KETENTUAN PENUTUP Pasal 20

Pada saat Peraturan Walikota ini mulai berlaku, Peraturan Walikota Tangerang Selatan Nomor 14 Tahun 2012 tentang Jaminan Kesehatan Daerah (Berita Daerah Tahun 2012 Nomor 14) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Walikota Tangerang Selatan Nomor 7 tahun 2014 tentang Perubahan Atas Peraturan Walikota Tangerang Selatan Nomor 14 Tahun 2012 tentang Jaminan Kesehatan Daerah (Berita Daerah Tahun 2014 Nomor 7) dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

(12)

Pasal 21

Peraturan Walikota ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Walikota ini dengan penempatannya dalam Berita Daerah Kota Tangerang Selatan.

Ditetapkan di Tangerang Selatan.

Pada tanggal 18 Oktober 2016 WALIKOTA

TANGERANG SELATAN Ttd/Cap

AIRIN RACHMI DIANY Diundangkan di Tangerang Selatan.

Pada tanggal 18 Oktober 2016 Plt SEKRETARIS DAERAH KOTA TANGERANG SELATAN

Ttd/Cap MUHAMAD

BERITA DAERAH KOTA TANGERANG SELATAN TAHUN 2016 NOMOR 32

Salinan Sesuai Dengan Aslinya Kepala Bagian Hukum, Ttd/cap

Dra. Kunti Bratajaya Atmajaningsih,S. Ip.

Pembina Tingkat I IV/b Nip. 19680410 199403 2 009

Referensi

Dokumen terkait

IPAL pada Rusunawa Tanah Merah II terdiri dari unit anaerobic baffled reactor (ABR) dan biofilter anaerobik bermedia batu koral.. Kedua unit pengolahan terdapat

Pengertian pemasaran bagi setiap perusahaan tidak ada perbedaan. Hanya saja yang menjadi masalah adalah penerapan pemasaran untuk setiap jenis perusahaan memiliki

TABEL 5 : JUMLAH PESERTA KB BARU JAMLUR PEMERINTAH BULAN JULI 2009.. SUMSEL PESERTA KB

waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan proyek bila kondisi pelaksanaan proyek seperti proyek bila kondisi pelaksanaan proyek seperti

Maksud diadakannya kegiatan ini adalah sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dan kegembiraan dalam menyambut Hari Ulang Tahun kemerdekaan Republik Indonesia yang ke

Menurut The World Bank (1994) infrastruktur dapat dikategorikan kedalam tiga jenis, yaitu :.. 1) Infrastruktur ekonomi, merupakan infrastruktur fisik yang diperlukan

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian slow deep brething terhadap tekanan darah pada penderita hipertensi di wilayah kerja Puskesmas

Oleh karena itu, keyakinan yang terbentuk dari individu terhadap trust juga dipengaruhi oleh komitmen perbankan untuk mampu mereduksi semua ancaman risiko sehingga hal ini