1 BAB I PENDAHULUAN
1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian
1.1.1 Teknik Informatika Institut Teknologi Bandung
Teknik Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) merupakan salah satu departemen yang menyelenggarakan program pendidikan sarjana dan pascasarjana dalam bidang informatika. Terbentuknya departemen ini diawali dengan berdirinya Pengolahan Data Elektronik ITB pada tahun 1968 yang kemudian pada tahun 1972 dilanjutkan dengan pendirian Pusat Komputer (Puskom) ITB. Pada tahun 1976 para calon staf pengajar dikirim ke Prancis untuk melanjutkan pendidikan dan mempersiapkan kurikulum bagi Jurusan Teknik Informatika ITB. Kemudian setelah kembali ke Indonesia, para staf pengajar tersebut mulai mengajar di Jurusan Teknik Informatika ITB yang dibuka pada tahun 1982.
Jumlah staf pengajar di Departemen Teknik Informatika ITB pada tahun 2013 sebanyak 40 orang, terdiri dari 11 orang staf Doktor, 26 orang staf Magister, dan 5 orang staf sarjana. Bidang spesialisasi yang dimiliki oleh para staf pengajar tersebut antara lain meliputi Pengolahan Grafik, Inteligensi Buatan, Pengolahan Citra, Sistem Informasi, Rekayasa Perangkat Lunak, Jaringan Komputer, Sistem Terdistribusi, Sistem Basis Data, Algoritma dan Pemrograman, serta Informatika Teori.
Pada tahun 1994 dibuka Program Pascasarjana Magister Informatika dalam bidang Rekayasa Perangkat Lunak. Kemudian pada tahun 1997 dibuka Program Magister dalam bidang Sistem Informasi, dan selanjutnya pada tahun 2003 dibuka Program Magister untuk bidang Informatika. Hingga saat ini program studi yang dimiliki Departemen Teknik Informatika yaitu satu program studi informatika untuk S1, tiga program studi untuk S2, dan satu program studi untuk S3.
2 1.1.2 Program Sarjana Informatika
Dibuatnya Program Sarjana Informatika ITB didasarkan pada kebutuhan akan: 1. Pemanfaatan komputer di banyak bidang, termasuk pemanfaatan jaringan
komputer dan internet.
2. Pembangunan program dan/atau software skala kecil sampai menengah dengan kebutuhan yang spesifik atau terbatas.
Sedangkan tujuan program ini adalah untuk menghasilkan lulusan dengan berbagai kemampuan sebagai berikut:
1. Mampu menggunakan komputer sebagai peralatan pendukung pemrosesan data/informasi.
2. Menguasai teknik dan metode penyelesaian masalah dengan bantuan komputer.
3. Mampu membangun software dengan menggunakan peralatan pembangunan software dan bahasa pemrograman.
Kurikulum Program Sarjana Informatika ini didesain untuk 8 semester dengan total 144 satuan kredit semester (SKS) dan dibagi dalam tiga tahap yaitu:
1. Tahap Persiapan Bersama (TPB): 36 Satuan Kredit Semester (SKS). 2. Tahap Sarjana Muda: 72 SKS.
3. Tahap Sarjana: 36 SKS.
1.1.3 Visi dan Misi a. Visi:
Berkaitan dengan cakupan masalah pada bidang Informatika, Program Studi Sarjana Informatika yang diselenggarakan bertujuan untuk menghasilkan lulusan yang memiliki wawasan pemanfaatan komputer dalam berbagai bidang aplikasi, menguasai teknik dan metode untuk menyelesaikan masalah berbantuan komputer, mampu melakukan rancang bangun sistem perangkat lunak berbasis komputer, mampu mengembangkan kegiatan penelitian terpakai dan melanjutkan studi ke jenjang berikutnya.
3 b. Misi:
1) Meningkatkan kualitas dan perluasan cakupan pendidikan tinggi untuk menghasilkan SDM dengan pengetahuan, keahlian, dan kemampuan keinformatikaan yang semakin kompetitif.
2) Memicu dan memacu kegiatan penelitian yang inovatif dan kreatif secara terpadu dengan melibatkan seluruh bidang keahlian keinformatikaan.
3) Meningkatkan pembinaan keterkaitan jaringan keahlian keinformatikaan dan keahlian bidang lainnya secara sinergis dan akseleratif.
4) Meningkatkan kegiatan layanan keinformatikaan yang bermanfaat bagi masyarakat secara intensif dan ekstensif.
1.2 Latar Belakang Masalah
Entrepreneurship memiliki peran penting dalam pertumbuhan ekonomi, terutama melalui pendirian bisnis baru dan penyediaan lapangan pekerjaan (Global Entrepreneurship Monitor, 2012:12; Sanchez, 2012:27; Portela et al., 2012:254). Penelitian Portela et al., (2012:261) membuktikan bahwa entrepreneurship memiliki hubungan positif dengan pertumbuhan ekonomi. Menurut Global Entrepreneurship Monitor (GEM) (2012:6), seiring dengan perubahan demografi populasi, perubahan teknologi, fluktuasi ekonomi serta kondisi dinamis lainnya membuat entrepreneurship menjadi semakin penting sebagai bagian dari solusi untuk menjawab tantangan tersebut. Dalam penelitian Braunerhjelm et al. (2010) juga mengungkapkan bahwa aktivitas entrepreneurial-lah yang utama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Dari penelitian oleh Anokhin & Wincent (2012) menambahkan bahwa entrepreneurship dapat mendukung pertumbuhan ekonomi dengan syarat harus didukung dengan kebijakan lainnya, antara lain harus dilakukan investasi terhadap pendidikan dan inovasi secara umum, stabilitas makroekonomi, institusi (pemerintahan, keuangan, dan sebagainya) serta infrastrukturnya (GEM, 2012:34).
4
Menurut Menteri Perekonomian Indonesia Periode 2009-2014, Hatta Rajasa, jumlah entrepreneur Indonesia yang ideal adalah 2,5% (Budianto, 2012). Sedangkan menurut tokoh entrepreneurship Indonesia, Ciputra (2009) dalam Frinces (2010) menyatakan bahwa suatu negara akan menjadi makmur apabila mempunyai entrepreneur sedikitnya sebanyak 2% dari jumlah penduduk, maka Indonesia butuh setidaknya 4,4 juta entrepreneur saat ini. Namun menurut Levie & Autio (2011) dalam laporan tahunan GEM (2012:52), bukan jumlah pasokan entrepreneur yang menjadi kunci penghambat dalam dinamisme ekonomi, melainkan ke arah mana kegiatan entrepreneurship seseorang ditujukan (kualitas bisnis, permintaan pasar internal, suplai tenaga yang terampil, akses ke pasar internasional, dan sebagainya).
Pendekatan entrepreneurship dengan orientasi pertumbuhan yang tinggi lah yang akan menciptakan lapangan kerja dan menumbuhkan perekonomian (GEM, 2012:10). Dalam penelitian yang dilakukan oleh Henrekson & Johansson (2009:227) tentang kegiatan entrepreneur yang memiliki pertumbuhan tinggi, menemukan bahwa perusahaan muda dengan pertumbuhan tinggi (tingkat pertumbuhan ≥ 20% per tahun) yang diistilahkan dengan gazelle, jumlahnya sedikit tetapi menghasilkan pekerjaan baru yang jumlahnya sangat besar dibandingkan dengan perusahaan lainnya. Gazelle memberikan kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi, namun sayangnya perusahaan seperti ini sulit untuk ditemukan karena menurut penelitian Henrekson & Johansson (2009:240) perusahaan yang memiliki orientasi pertumbuhan tinggi tidak identik dengan satu sektor, namun dapat ditemui di berbagai bidang bisnis.
Morris (2011:12) menyatakan bahwa entrepreneur dengan pertumbuhan tinggi menghasilkan jumlah pekerjaan paling banyak, jumlah entrepreneur dengan pertumbuhan tinggi dalam penelitian tersebut hanya 4% namun menghasilkan hampir 40% total pekerjaan, hal ini seperti terlihat pada Gambar 1.1 berikut:
5 Gambar 1.1
Perbandingan Entrepreneur dengan Pertumbuhan Tinggi, Sedang dan Rendah.
Sumber: Morris (2011:4)
Entrepreneur yang memiliki pertumbuhan tinggi umumnya mengutamakan partnership dan berorientasi global (Morris, 2011:12). Hal ini sejalan bahwa globalisasi dan perkembangan teknologi informasi merupakan penggerak dalam era knowledge-based economy (Wikipedia, 2013). Kondisi ekonomi sejak akhir 1900 hingga kini berubah dari resource-based yang bergantung pada sumber daya alam menjadi knowledge-based di mana nilai ekonomi diciptakan dari kemampuan manusia dalam menggunakan pengetahuan dan teknologi (Wikipedia, 2013; Wongkar, 2012:1). Yang menjadi penggerak dalam era knowledge-based economy yaitu globalisasi dan teknologi informasi (Wikipedia, 2013). Variabel yang memengaruhi kesuksesan dalam era ekonomi ini adalah: (1) inovasi; (2) teknologi informasi dan komunikasi; (3) pengembangan sumber daya manusia dan ;(4) lingkungan bisnis (Bhatiasevi, 2010:114). Sedangkan bidang bisnis yang memiliki potensi pertumbuhan tinggi diungkapkan oleh Forbes seperti terlihat pada Tabel berikut:
6 Tabel 1.1
Daftar Bidang Bisnis yang Potensial Tahun 2013
Bidang bisnis Tingkat pertumbuhan per tahun dalam lima tahun terakhir (%)
Pertumbuhan
pendapatan tahun 2013 (%)
Pengembangan game untuk jaringan sosial
184,3 31,9
Penjualan sepatu online 16,2 14,5
Jasa instalasi televisi dan home theater
0,5 4,1
Virtual data rooms 15,8 16
Agensi perjalanan 3,9 6,1
Jasa penerjemah 2,4 3,4
Konsultan keamanan dalam teknologi informasi
9,8 8,8
Jasa forensik dijital 11,9 11,2
Sumber: Forbes (2013).
Pada Tabel 1.1 terlihat ada 8 bidang bisnis yang potensi pertumbuhannya tinggi yaitu: pengembangan game untuk jaringan sosial, penjualan sepatu online, jasa instalasi televisi dan home theater, virtual data rooms, agensi perjalanan, jasa penerjemah, konsultan keamanan dalam teknologi informasi dan jasa forensik dijital. Hampir semua bidang bisnis tersebut termasuk dalam bidang teknologi informasi.
Teknologi informasi memiliki peran yang besar dalam ekonomi saat ini. Teknologi informasi merupakan salah satu penggerak dalam era ekonomi saat ini, knowledge-based economy, berkaitan dengan perannya sebagai media baru, penghimpun pengetahuan dan kemampuan konektivitasnya membentuk jaringan sehingga dunia menjadi datar tanpa batas (Wikipedia, 2013). Dalam Global Information Technology Report (2013:111) oleh World Economic Forum (WEF), disebutkan bahwa pengembangan industri teknologi informasi akan meningkatkan keunggulan suatu negara secara global. Selain itu, pekerjaan yang dihasilkan dari industri teknologi informasi lebih kompetitif secara global dan seringkali memberikan bayaran yang lebih tinggi dari sektor industri lain serta dapat menjadi katalis untuk menghasilkan pekerjaan di sektor industri lain.
Dari fakta yang telah diungkapkan sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa untuk menjawab tantangan kondisi ekonomi saat ini, era knowledge-based economy,
7
salah satu kuncinya adalah dengan pengembangan entrepreneur dengan orientasi pertumbuhan yang tinggi. Sedangkan untuk bidang bisnis yang memberikan potensi pertumbuhan tinggi saat ini adalah dalam bidang teknologi informasi. Pengembangan entrepreneur dalam bidang teknologi informasi juga berpotensi memberikan beberapa keuntungan, karena pengembangan industri teknologi informasi sendiri akan mampu meningkatkan keunggulan secara global suatu negara, menghasilkan pekerjaan yang lebih kompetitif secara global serta dapat menjadi katalis atau pemicu pada penciptaan pekerjaan di industri lain.
Pengembangan sektor teknologi informasi juga merupakan jawaban atas tantangan mendesak yang dihadapi Indonesia, yaitu globalisasi dan era knowledge-based economy (Wongkar, 2012:12). Ditambah lagi industri teknologi informasi tidak mengenal batas negara/global, dan terbukti bukan hanya milik negara maju saja, namun juga milik negara berkembang misalnya India dan China (WEF, 2013:3). Di samping itu, beberapa contoh lain adalah Taiwan, Korea Selatan dan Singapura yang pada tahun 1970-an masih menjadi negara berkembang namun sekarang berhasil menjadi negara maju dengan perekonomian yang didasarkan pada industri teknologi, dan salah satu kuncinya adalah inovasi di bidang teknologi informasi (Hartono, 2011).
Indonesia sendiri saat ini memang memiliki fokus untuk mengembangkan sektor teknologi informasi dan komunikasi dalam pengembangan perekonomian negara yang tercantum dalam Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) (2011:33) dan juga sektor ini merupakan industri strategis bagi Indonesia seperti terlihat dalam gambar berikut:
8 Gambar 1.2 Usulan Inisiatif Inovasi
Sumber: MP3EI (2011:41)
Pengembangan entrepreneurship dianggap sebagai faktor utama pendorong perubahan untuk pengembangan ekonomi Indonesia (MP3EI, 2011:38). Dunia pendidikan terutama pendidikan tinggi juga merupakan salah satu yang sangat berperan dalam program MP3EI ini, seperti dinyatakan dalam laporan MP3EI (2011:40):
“Dalam ekonomi yang semakin bergeser ke arah ekonomi berbasis pengetahuan, peran pendidikan tinggi sangat penting, antara lain untuk menghasilkan tenaga kerja yang unggul dan produktif, yang semakin mampu menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dibutuhkan, untuk meningkatkan nilai tambah kegiatan ekonomi yang berkelanjutan.”
Peran pendidikan tinggi dalam menjembatani pengembangan entrepreneurship dan teknologi diwujudkan dalam bentuk Science & Technology Park (S&T Park) atau techno park. Hal ini bertujuan untuk melahirkan Industri Kecil dan Menengah/Usaha Kecil dan Menengah (IKM/UKM) yang berbasis inovasi dalam
9
berbagai bidang strategis, sebagai jembatan antara dunia bisnis dan riset serta sebagai pusat riset berteknologi tinggi (MP3EI, 2011:42). Beberapa techno park yang sudah ada di Indonesia antara lain adalah Bandung Techno Park (Institut Teknologi Telkom), Solo Techno Park, Batam Techno Park (Politeknik Negeri Batam) dan F-Technopark (Institut Pertanian Bogor). Sedangkan beberapa techno park masih dalam tahap perencanaan atau pembangunan yaitu dari Institut Teknologi Bandung, serta dari kerjasama Kementerian Riset dan Teknologi bersama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi.
Dari beberapa fakta yang telah disebutkan, maka dapat disimpulkan bahwa pengembangan technopreneur dengan bidang teknologi informasi sangat penting dan memiliki arti strategis bagi Indonesia. Namun dari penelitian literatur, belum ada penelitian mengenai technopreneur bidang teknologi informasi di Indonesia hingga saat ini. Oleh karena itu maka perlu dilakukan penelitian mengenai technopreneur bidang teknologi informasi di Indonesia sebagai langkah awal untuk mengembangkan bidang ini. Dalam penelitian ini dilakukan penelitian mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi niat seseorang menjadi technopreneur bidang teknologi informasi di Indonesia.
Beberapa technopreneur bidang teknologi informasi yang berhasil mengembangkan bisnisnya antara lain seperti terlihat dalam tabel berikut:
Tabel 1.2
Technopreneur Bidang Teknologi Informasi yang Sukses Secara Global
Nama Bisnis Peringkat dalam
Forbes 500
Total Kekayaan (dalam Dollar Amerika)
Bill Gates Microsoft 2 67 milyar
Jerry Yang Yahoo! 974 1,5 milyar
David Filo Yahoo! 862 1,7 milyar
Jimmy Wales Wikipedia - -
Larry Sanger Wikipedia - -
Richard Stallman Linux - -
Mark Zuckerberg Facebook 66 13,3 milyar
Steve Chen Youtube - -
Chad Hurley Youtube - -
Jawed Karim Youtube - -
Stephen G. Wozniak
10 Steve Jobs
(almarhum)
Apple 39 (tahun 2011) -
Larry Page Google 20 23 milyar
Sergey Brin Google 21 22,8 milyar
Larry Ellison Oracle 5 43 milyar
Sumber: Forbes (2013)
Untuk memulai pengembangan technopreneur bidang teknologi informasi erat kaitannya dengan dunia pendidikan, terutama mahasiswa. Morris (2011:12) menyimpulkan dari penelitiannya bahwa pendidikan berpengaruh besar terhadap kualitas kegiatan entrepreneur, terutama bagi technopreneur, yang mana mayoritasnya di Amerika (92%) memegang predikat sarjana dan hampir setengahnya adalah dalam bidang sains, teknologi, rekayasa dan matematika, sedangkan sepertiganya pada bidang bisnis, akuntansi dan keuangan (Wadhwa, 2008:2).
Banyak entrepreneur yang sukses lahir dari universitas, beberapa melalui univesity spinoff, dan beberapa melalui licensing suatu teknologi (Kauffman Foundation, 2012:6). Universitas sendiri menurut DeSimone et al., (2010:3) adalah penghasil utama ide atau gagasan, produk, dan proses baru yang menjadi katalis dari pengembangan ekonomi dan sosial. Namun model pemikiran bahwa universitas akan menghasilkan nilai ekonomis dari kegiatannya (seperti R&D, university spinoff, dan sebagainya) sangat terbatas dan kondisi nyatanya bahwa kegiatan universitas yang diharapkan membawa manfaat ekonomi tersebut tidak menghasilkan banyak manfaat ekonomi (Harrison & Leitch, 2010:1245). Hal ini disebabkan karena kurangnya kegiatan entrepreneurship di universitas tersebut seperti diungkapkan dalam penelitian Coad & Reid (2012:7) yang menyatakan bahwa universitas untuk dapat menjadi katalis pengembangan ekonomi membutuhkan jembatan terhadap dunia industri yaitu entrepreneurship. Sehingga untuk mengembangkan technopreneurship dalam bidang teknologi informasi, langkah awalnya adalah dari universitas, yaitu dari mahasiswa tingkat sarjananya.
Dalam menentukan objek penelitian dipertimbangkan dari kualitas jurusan Teknik Informatika universitas tersebut. Sedangkan kualitas jurusan dapat dilihat dari tingkat akreditasinya. Berikut ini adalah daftar universitas yang memiliki akreditasi sangat baik menurut Badan Akreditasi Nasional-Perguruan Tinggi (BAN-PT):
11 Tabel 1.3
Daftar Perguruan Tinggi yang Memiliki Akreditasi A Untuk Jurusan Teknik Informatika
Perguruan tinggi Program Studi No.SK Tahun SK Peringkat Tanggal kadaluarsa Institut Teknologi
Bandung (ITB), Bandung
Teknik Informatika
048 2011 A 25-02-2016
Institut Teknologi Sepuluh November (ITS),
Surabaya
Teknik Informatika
019 2011 A 12-08-2016
Institut Teknologi Telkom, Bandung Teknik Informatika 002 2010 A 14-05-2015 Politeknik Elektronika Negeri Surabaya, Surabaya Teknik Informatika 007 2011 A 21-07-2016
Universitas Atma Jaya Yogyakarta,Yogyakarta Teknik Informatika 009 2011 A 01-07-2016 Universitas Gunadarma, Jakarta Teknik Informatika 014 2010 A 20-08-2015
Universitas Kristen Petra, Surabaya Teknik Informatika 018 2009 A 10-07-2014 Universitas Surabaya (UBAYA), Surabaya Teknik Informatika 005 2011 A 31-07-2014 Universitas Tarumanegara (UNTAR), Jakarta Teknik Informatika 029 2010 A 03-12-2015
Sumber: Badan Akreditasi Nasional-Perguruan Tinggi (2013).
Kemudian untuk menentukan perguruan tinggi yang dijadikan objek penelitian dengan mempertimbangkan peringkat perguruan tingginya. Hal ini seperti terlihat pada Tabel 1.4 berikut:
12 Tabel 1.4
Peringkat Perguruan Tinggi di Indonesia
Peringkat regional Peringkat dunia Universitas
1 440 Universitas Gajah Mada
2 497 Institut Teknologi Bandung
3 581 Universitas Indonesia
4 634 Universitas Gunadarma
5 722 Universitas Brawijaya
6 781 Universitas Diponegoro
7 839 Institut Pertanian Bogor
8 848 Institut Teknologi Sepuluh November
9 885 Universitas Padjajaran
10 929 Universitas Airlangga
Sumber: Cybermetric Lab (2013).
Dalam penelitian ini menggunakan model technopreneurship dari penelitian Prodan (2007) karena dari studi pustaka yang telah dilakukan, baru model inilah yang paling sesuai, yaitu pendekatan technopreneurship terhadap mahasiswa. Prodan (2007) mengawali penelitiannya dengan mengidentifikasi stakeholder di dalam ekosistem technopreneurship, yaitu technopreneur, universitas, perusahaan, permodalan, pasar/konsumen, pemerintah dan konsultan. Dalam model technopreneurship Prodan (2007), yang menjadi stakeholder utama adalah technopreneur. Kelahiran technopreneur sangat erat kaitannya dengan universitas, sehingga Prodan (2007) memfokuskan penelitiannya pada mahasiswa. Dalam penelitian tersebut berhasil diidentifikasi bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi niat mahasiswa menjadi technopreneur adalah personal characteristics dan working environment, dan yang berpengaruh paling besar adalah personal characteristics yang terdiri dari entrepreneurial self efficacy, motivational factors, dan personal networks.
Dengan memperhatikan akreditasi Jurusan Teknik Informatika dan peringkat perguruan tingginya, maka yang akan dijadikan objek penelitian adalah Institut Teknologi Bandung. Oleh karena itu penulis melakukan penelitian dengan judul ”Pengaruh Entrepreneurial Self Efficacy, Motivational Factors, dan Personal
Networks Terhadap Niat Mahasiswa untuk Menjadi Technopreneur (Studi pada
13 1.3 Perumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah penelitian dan pembatasan masalah penelitian, maka penelitian ini berusaha untuk menjawab perumusan masalah, yaitu:
1. Bagaimana tingkat entrepreneurial self efficacy mahasiswa Teknik Informatika ITB?
2. Bagaimana tingkat motivational factors mahasiswa Teknik Informatika ITB?
3. Bagaimana tingkat personal networks mahasiswa Teknik Informatika ITB? 4. Bagaimana tingkat niat mahasiswa Teknik Informatika ITB untuk menjadi
technopreneur?
5. Berapa besar pengaruh secara simultan dari entrepreneurial self efficacy, motivational factors dan personal networks terhadap niat mahasiswa Teknik Informatika ITB untuk menjadi technopreneur?
6. Berapa besar pengaruh secara parsial dari entrepreneurial self efficacy, motivational factors dan personal networks terhadap niat mahasiswa Teknik Informatika ITB untuk menjadi technopreneur?
1.4 Tujuan dan Manfaat Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menguji beberapa hal, antara lain:
1. Mengetahui tingkat entrepreneurial self efficacy pada mahasiswa Teknik Informatika ITB.
2. Mengetahui tingkat motivational factors pada mahasiswa Teknik Informatika ITB.
3. Mengetahui tingkat personal networks pada mahasiswa Teknik Informatika ITB.
4. Mengetahui tingkat niat mahasiswa Teknik Informatika ITB untuk menjadi technopreneur.
5. Mengetahui besar pengaruh secara simultan dari entrepreneurial self efficacy, motivational factors dan personal networks terhadap niat mahasiswa Teknik Informatika ITB untuk menjadi technopreneur.
14
6. Mengetahui besar pengaruh secara parsial dari entrepreneurial self efficacy, motivational factors dan personal networks terhadap niat mahasiswa Teknik Informatika ITB untuk menjadi technopreneur.
1.5 Kegunaan Penelitian a. Kegunaan Akademis
Menambah wawasan, pengetahuan, dan pemahaman mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi niat mahasiswaTeknik Informatika ITB menjadi technopreneur dengan pendekatan model technopreneurship yang diajukan oleh Prodan (2007).
b. Kegunaan Praktis
Diharapkan dapat menjadi pertimbangan khususnya bagi calon technopreneur untuk memahami kriteria atau faktor apa saja yang dibutuhkan dan berpengaruh besar terhadap niat mahasiswa untuk menjadi seorang technopreneur terutama bidang teknologi informasi, instansi pendidikan dalam mengarahkan kurikulumnya, pemerintah dalam membuat kebijakan untuk mengarahkan dan memberi jalan untuk pengembangan technopreneur, khususnya bidang teknologi informasi di Indonesia.
c. Kegunaan Umum
Hasil penelitian ini dapat dijadikan sumber informasi dan referensi bagi pihak lain untuk penelitian lanjutan maupun untuk bahan penulisan ilmiah lainnya.
1.6 Sistematika Penulisan
Dalam mempermudah pembaca mengetahui urutan pembahasan penelitian, disusun sistematika penulisan. Berikut ini penjelasan masing-masing bab.
BAB I PENDAHULUAN
Pada bab ini berisi tentang gambaran umum objek penelitian, latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, batasan penelitian serta sistematika penulisan.
15
BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN RUANG LINGKUP PENELITIAN
Pada bab ini kajian pustaka dan uraian umum tentang teori-teori yang digunakan serta literatur-literatur yang berkaitan dengan penelitian yang mendukung permasalahan serta kerangka pemikiran.
BAB III METODE PENELITIAN
Pada bab ini menjelaskan tentang jenis penelitian yang digunakan, operasionalisasi variabel dan skala pengukuran, data dan teknik pengumpulan, analisis data.
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
Berisi pengolahan data dan pengujian hipotesis dengan menggunakan data yang telah terkumpul. Selain itu juga berisi penjelasan detail tentang hasil penelitian yang diperoleh dan pembahasan mengenai hasil-hasil pengolahan data. Pembahasan bersifat komprehensif dan mampu menjelaskan permasalahan penelitian.
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
Berisi kesimpulan akhir dari analisis dan pembahasan pada bab sebelumnya serta saran-saran yang berkaitan dengan faktor-faktor yang mempengaruhi niat mahasiswa Teknik Informatika ITB menjadi seorang technopreneur.