5. HASIL
5.1 Keragaan Unit Pengolahan Ikan (UPI) 5.1.1 Profil pengolah hasil perikanan
Pengolah hasil perikanan di kabupaten Sukabumi tergolong dalam Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Pengolahan Hasil Perikanan. UKM Pengolahan hasil perikanan tersebut merupakan penduduk setempat dengan pendidikan antara SD – SLTA dan masih tergolong dalam usia produktif (40 – 52 tahun). Pengolah hasil perikanan di wilayah Sukabumi telah belum sepenuhnya menguasai teknik pengolahan yang baik (Good Manufacturing Practices) yang sesuai dengan prinsip-prinsip HACCP yang diberikan oleh petunjuk Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sukabumi. Alih teknologi dan informasi tentang teknik pengolahan yang baik diperoleh dengan adanya tukar menukar pengalaman dan informasi dengan sesama pengolah ikan, keahlian yang turun temurun dan berbagai kegiatan penyuluhan dari berbagai instansi teknis.
Beberapa alasan pengolah ikan melakukan usaha pengolahan hasil perikanan ini antara lain: karena potensi lahan/sumberdaya dan ekologi wilayah yang mendukung, terjaminnya pemasaran produk dan secara ekonomis sangat menguntungkan dan prospektus. Selain itu juga, usaha ini memberikan kesempatan kerja sepanjang tahun kepada keluarga atau penduduk setempat.
5.1.2 Profil usaha UPI skala menengah
Usaha pengolahan hasil perikanan yang dilakukan oleh perorangan atau kelompok usaha bersama telah berkembang sejak lama dan telah menggunakan modifikasi teknologi pengolahan dari tradisional menjadi semi mekanik dan mekanik. Usaha ini biasanya belum berbentuk badan hukum dan masih merupakan usaha pokok keluarga dengan usaha sampingan perkebunan atau usaha pertanian lainnya, oleh karena tenaga kerja dalam UPI ini umumnya berasal dari dalam keluarga dan kerabat/tetangga atau tenaga kerja dari luar keluarga.
Pembayaran upah pekerja adalah dengan cara upah harian.
5.2 Usaha Pengolahan Ikan 5.2.1 Kelayakan finansial
Unit Pengolahan Ikan (UPI) di kabupaten Sukabumi hampir sebagian besar terkonsentrasi di sekitar wilayah pesisir dan Palabuhanratu. Pemilihan lokasi UPI tentunya didasarkan atas pertimbangan dekat dengan sumber bahan baku ikan. Kegiatan UPI di sekitar kabupaten Sukabumi umumnya dilakukan berdasarkan kelompok-kelompok usaha bersama, sehingga kegiatan produksi pengolahan ikan dapat dilakukan dalam skala rumah tangga.
Secara garis besar, UPI untuk skala menengah yang terdapat di kabupaten Sukabumi dapat dikelompokkan menjadi 6 (enam) kelompok usaha pengolahan yaitu usaha pengolahan ikan asin, pengolahan pindang ikan ukuran besar, pengolahan pindang ikan ukuran kecil, pengolahan bakso ikan, pengolahan abon ikan dan pengolahan kerupuk kulit ikan.
Tabel 11. Jenis-jenis ikan sebagai bahan baku usaha pengolahan ikan UPI skala menengah di kabupaten Sukabumi
Jenis bahan baku produk olahan
No Ikan
Asin
Pindang Kecil
Pindang Besar
Bakso Ikan Abon Ikan Kerupuk Kulit 1 Tembang
(Sardinella fimbriata)
Layang (Decapterus coroides)
Cakalang (Katsuwonus pelamis)
Tuna (Thunnus spp.)
Tuna (Thunnus spp.)
Cucut/Hiu (Carcharinus melanopterus) 2 Peperek
(Leiognathus fasciatus)
Tongkol (Auxis spp.)
Tongkol (Auxis spp.)
Marlin (Makaira mazara)
Marlin (Makaira mazara)
-
3 Udang rebon (Mysis)
- Baby tuna (Thunnus spp.)
- Cucut /Hiu
(Carcharinus melanopterus)
-
Gambaran perkembangan usaha masing-masing UPI, maka dilakukan analisis kelayakan usaha UPI sebagai berikut:
Usaha pengolahan ikan asin
Biaya investasi yang dibutuhkan untuk membangun satu unit usaha pengolahan ikan asin sekitar Rp. 25.000.000. Modal investasi tersebut digunakan untuk membeli berbagai peralatan pengolahan ikan serta untuk bangunan. Biaya investasi bangunan relatif lebih besar dibandingkan investasi peralatan.
Total biaya yang diperlukan untuk melakukan proses pengolahan ikan asin selama satu tahun sebesar Rp. 222.804.000, terdiri dari biaya tetap sebesar Rp. 26.500.000 dan biaya variabel sebesal Rp. 196.304.000 jika dihitung nilai
persentasi dari total biaya, maka proporsi kebutuhan total biaya tetap sebesar 11,89 persen, dan total biaya variabel mencapai nilai proporsi sebesar 88,11 persen.
Total penerimaan usaha pengolahan ikan asin rata-rata sebesar Rp. 232.320.000 per tahun. Struktur pendapatan usaha pengolahan ikan asin
diperoleh dari hasil penjualan ikan asin dengan jumlah produksi rata-rata
sebanyak 21.120 kg per tahun, dan rata-rata harga ikan asin sebesar Rp. 11.000 per kg. Secara lebih ringkas mengenai struktur biaya dan pendapatan
usaha pengolahan ikan asin dapat dilihat pada Tabel 12.
Tabel 12. Struktur biaya dan pendapatan usaha pengolahan ikan asin
No Uraian Jumlah (Rp)
1. Total investasi 25.000.000
2. Total biaya tetap 26.500.000
3. Total biaya variabel 196.304.000
4. Total biaya 222.804.000
5. Total penerimaan 232.320.000
Berdasarkan uraian struktur biaya dan pendapatan seperti yang disajikan pada tabel di atas maka dapat dilakukan perhitungan kelayakan usaha berdasarkan kriteria analisis finansial rugi-laba. Secara lebih lengkap perhitungan analisis rugi laba pada usaha pengolahan ikan asin dapat dilihat pada Tabel 13.
Tabel 13. Kriteria kelayakan usaha pengolahan ikan asin
No Uraian Nilai
1. Keuntungan (Rp) 9.516.000
2. R/C 1,04
3. Payback periode (tahun) 2,63
4. BEP unit (Kg) 15.540
5. BEP nilai (Rp) 170.937.361
Berdasarkan nilai kriteria kelayakan usaha yang diperoleh, maka dapat diketahui bahwa kegiatan usaha pengolahan ikan asin dapat dikatakan layak.
Besarnya tingkat keuntungan usaha pengolahan ikan asin yaitu sebesar Rp. 9.516.000 per tahun. Nilai revenue cost ratio sebesar 1,04 artinya bahwa
setiap pengeluaran biaya sebesar satu rupiah maka akan mendapatkan penerimaan
sebesar 1,04 rupiah. Nilai payback period dari usaha pengolahan ikan asin menunjukkan nilai sebesar 2,63 tahun atau sekitar 2 tahun 7 bulan 17 hari.
Nilai BEP unit sebesar 15.540 kg, artinya bahwa skala usaha yang dapat dijalankan pada kegiatan usaha pengolahan ikan asin yaitu dengan menghasilkan output ikan asin sebanyak 15.540 kg dalam setahun. Jika nilai rendemen untuk pengolahan ikan asin sebanyak 40 persen, maka total kebutuhan bahan baku minimal untuk UPI ikan asin selama satu tahun sebanyak 38.858 kg ikan basah.
Jika dihitung berdasarkan nilai rupiah, maka kegiatan usaha pengolahan ikan asin akan mengalami titik impas jika total biaya yang dikeluarkan dan pendapatan yang diperoleh sama yaitu sebesar Rp. 170.937.361 selama satu tahun. Analisis kelayakan usaha pengolahan ikan asin secara lebih lengkap dapat dilihat pada Lampiran 1.
Usaha pengolahan pindang ikan ukuran besar
Berdasarkan analisis kelayakan usaha pengolahan pindang ikan besar pada Lampiran 2, total biaya investasi yang diperlukan yaitu sebesar Rp. 10.000.000.
Kebutuhan biaya investasi usaha pemindangan ikan meliputi pembelian timbangan, tungku dan peralatan produksi. Total biaya yang dibutuhkan untuk manjalankan kegiatan pengolahan pindang ikan selama satu tahun rata-rata sebesar Rp. 1.794.068.571. Total biaya tersebut terbagi atas biaya tetap dengan proporsi sebesar 0,33% atau sebesar Rp. 6.000.000 per tahun, serta biaya variabel sebanyak 99,67% dengan nilai sebesar Rp. 1.788.068.571 per tahun.
Jenis ikan yang diolah pada kelompok usaha pengolahan ikan pindang ini meliputi ikan cakalang dan baby tuna. Karena ukurannya yang relatif besar, maka pengolahan pindang ini menjadi kelompok tersendiri. Total penerimaan dari usaha
pengolahan ikan pindang cakalang dan baby tuna rata-rata sebesar Rp. 1.922.400.000 per tahun. Struktur pendapatan usaha pengolahan ikan pindang
ini diperoleh dari hasil penjualan pindang ikan cakalang sebesar Rp. 972.000.000 per tahun dan hasil penjualan pindang ikan baby tuna sebesar Rp. 950.400.000 per tahun. Ringkasan mengenai struktur biaya dan pendapatan usaha pengolahan ikan pindang ukuran besar dapat dilihat pada Tabel 14.
Tabel 14. Struktur biaya dan pendapatan usaha pengolahan pindang ikan ukuran besar
No Uraian Jumlah (Rp)
1. Total investasi 10.000.000
2. Total biaya tetap 6.000.000
3. Total biaya variabel 1.788.068.571
4. Total biaya 1.794.068.571
5. Total penerimaan 1.922.400.000
Uraian mengenai struktur biaya dan pendapatan seperti yang disajikan pada tabel di atas, dapat menjadi bahan untuk melakukan perhitungan kelayakan usaha berdasarkan kriteria analisis finansial rugi-laba. Secara lebih lengkap perhitungan analisis laba rugi pada usaha pengolahan pindang ikan yang ukuran besar (cakalang dan baby tuna) dapat dilihat pada Tabel 15.
Tabel 15. Kriteria kelayakan usaha pengolahan pindang ikan ukuran besar
No Uraian Nilai
1. Keuntungan (Rp) 128.331.429
2. R/C 1,07
3. Payback periode (tahun) 0,08
4. BEP unit (kg) 3.740
5. BEP nilai (Rp) 74.802.111
Bila ditinjau dari kriteria kelayakan usaha di atas, maka dapat disimpulkan bahwa usaha pengolahan pindang ikan besar layak dikembangkan. Besarnya tingkat keuntungan yang diperoleh dari usaha pindang ikan besar mencapai sebesar Rp. 128.331.429 per tahun. Nilai revenue cost ratio sebesar 1,07, artinya bahwa setiap pengeluaran biaya sebesar satu rupiah, maka akan mendapatkan penerimaan sebesar 1,07 rupiah. Nilai payback period dari usaha pindang ikan besar menunjukkan nilai sebesar 0,08 tahun atau 29 hari. Pendeknya waktu pengembalian investasi dikarenakan kecilnya nilai investasi yang dibutuhkan dibandingkan dengan keuntungan yang diperoleh per tahun.
Nilai titik impas usaha dapat dilihat dari nilai BEP baik unit maupun harga. Nilai BEP unit usaha pindang ikan besar yaitu 3.740 kg, artinya bahwa skala usaha yang dapat dijalankan pada kegiatan usaha pengolahan ikan pindang
yaitu dengan menghasilkan output ikan pindang sebanyak 3.740 kg dalam setahun. Jika dihitung berdasarkan nilai rupiah, maka kegiatan usaha pengolahan ikan pindang besar akan mengalami titik impas, artinya tidak mengalami kerugian maupun untung, jika total biaya yang dikeluarkan dan pendapatan yang diperoleh sama yaitu sebesar Rp. 74.802.111 per tahun.
Usaha pengolahan pindang ikan ukuran kecil
Adanya perbedaan ukuran dan jenis ikan yang digunakan maka usaha pemindangan ikan dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok, yaitu pindang ikan besar dan pindang ikan kecil. Bahan baku ikan yang diolah pada kelompok usaha pengolahan pindang ikan kecil merupakan ikan-ikan yang memiliki ukuran relatif lebih kecil dibandingkan dengan pindang ikan besar. Jenis bahan baku ikan yang diolah pada kelompok ikan pindang kecil terdiri dari ikan tongkol dan layang. Analisis kelayakan usaha pengolahan pindang ikan kecil secara lebih lengkap dapat dilihat pada Lampiran 3. Kebutuhan biaya investasi untuk usaha pindang ikan ukuran kecil yaitu sekitar Rp. 4.000.000. Total biaya yang dibutuhkan untuk manjalankan usaha pengolahan pindang ikan kecil selama satu tahun yaitu sebesar Rp. 817.160.000. Total biaya tersebut terbagi atas biaya tetap sebesar Rp. 5.000.000 per tahun atau sekitar 0,61 persen, serta biaya varibel dengan total sebesar Rp. 812.160.000 per tahun atau sekitar 99,39 persen.
Total penerimaan dari usaha pengolahan ikan pindang tongkol dan layang mencapai nilai sebesar Rp. 877.200.000 per tahun. Struktur pendapatan usaha pengolahan ikan pindang kecil diperoleh dari hasil penjualan pindang ikan tongkol sebesar Rp. 810.000.000 per tahun dan hasil penjualan pindang ikan layang sebesar Rp. 67.200.000 per tahun. Ringkasan mengenai struktur biaya dan pendapatan usaha pengolahan ikan pindang tongkol dan layang dapat dilihat pada Tabel 16.
Tabel 16. Struktur biaya dan pendapatan usaha pengolahan pindang ikan ukuran kecil
No Uraian Jumlah (Rp)
1. Total investasi 4.000.000
2. Total biaya tetap 5.000.000
3. Total biaya variabel 812.160.000
4. Total biaya 817.160.000
5. Total penerimaan 877.200.000
Berdasarkan uraian struktur biaya dan pendapatan pada tabel di atas, maka dapat dilakukan perhitungan nilai keuntungan, R/C, payback period dan BEP untuk menilai kelayakan dari suatu usaha. Hasil perhitungan kriteria kelayakan usaha pengolahan pindang ikan ukuran kecil dapat dilihat pada Tabel 17.
Tabel 17. Kriteria kelayakan usaha pengolahan pindang ikan ukuran kecil
No Uraian Jumlah
1. Keuntungan (Rp) 60.040.000
2. R/C 1,07
3. Payback periode (tahun) 0,07
4. BEP unit (kg) 4.668
5. BEP nilai (Rp) 67.435.424
Berdasarkan hasil perhitungan kriteria kelayakan usaha di atas, maka dapat diketahui bahwa usaha pengolahan pindang ikan kecil tersebut dapat dikatakan layak untuk dikembangkan. Tingkat keuntungan yang diperoleh dari usaha pindang ikan kecil selama satu tahun mencapai sebesar Rp. 60.040.000 per tahun.
Nilai revenue cost ratio diperoleh sebesar 1,07 artinya bahwa setiap pengeluaran biaya sebesar satu rupiah, akan mendapatkan penerimaan sebesar 1,07 rupiah.
Nilai payback period dari usaha pindang ikan kecil menunjukkan nilai sebesar 0,07 tahun atau 24 hari. Pendeknya waktu pengembalian investasi dikarenakan kecilnya nilai investasi yang dibutuhkan dibandingkan dengan keuntungan yang diperoleh per tahun.
Analisis BEP menunjukkan suatu usaha berada pada kondisi titik impas, artinya usaha tersebut berada pada kondisi tidak rugi dan juga tidak untung. Nilai titik impas usaha dapat dilihat dari nilai BEP baik unit maupun harga. Nilai BEP unit usaha pindang ikan kecil yaitu 4.668 kg, artinya bahwa skala usaha minimal yang dapat dijalankan untuk kegiatan usaha pengolahan ikan pindang kecil yaitu dengan menghasilkan output ikan pindang sebanyak 4.668 kg per tahun. Jika dihitung berdasarkan nilai rupiah, maka kegiatan usaha pengolahan ikan pindang kecil akan mengalami titik impas jika total biaya yang dikeluarkan sama dengan pendapatan yang diperoleh yaitu sebesar Rp. 67.435.424 per tahun. Analisis kelayakan usaha pengolahan pindang ikan kecil secara lebih lengkap dapat dilihat pada Lampiran 3.
Usaha pengolahan bakso ikan
Berdasarkan analisis kelayakan usaha pengolahan bakso ikan pada Lampiran 4, menunjukkan bahwa total kebutuhan biaya investasi yaitu sebesar Rp 43.050.000. Total biaya yang dibutuhkan untuk manjalankan kegiatan pengolahan bakso ikan selama satu tahun relatif besar yaitu sebesar Rp.
4.636.081.000. Total biaya tersebut terdiri dari biaya tetap sebesar Rp.
277.705.000 per tahun atau sekitar 5,99 persen, dan biaya varibel dengan total nilai sebesar Rp. 4.358.376.000 per tahun atau sekitar 94,01 persen.
Total penerimaan dari usaha pengolahan bakso ikan mencapai nilai sebesar Rp. 5.040.000.000 per tahun. Struktur pendapatan usaha pengolahan bakso ikan diperoleh hanya dari penjualan produk bakso ikan dengan bahan baku ikan berasal dari kelompok ikan tuna. Ringkasan mengenai struktur biaya dan pendapatan usaha pengolahan bakso dapat dilihat pada Tabel 18.
Tabel 18 . Struktur biaya dan pendapatan usaha pengolahan bakso ikan
No Uraian Jumlah (Rp)
1. Total investasi 43.050.000
2. Total biaya tetap 277.705.000
3. Total biaya variabel 4.358.376.000
4. Total biaya 4.636.081.000
5. Total penerimaan 5.040.000.000
Perhitungan kriteria kelayakan usaha yaitu nilai keuntungan, R/C, payback period dan BEP untuk menilai kelayakan dari suatu usaha. Hasil perhitungan kriteria kelayakan usaha pengolahan bakso ikan dapat dilihat pada Tabel 19.
Tabel 19. Kriteria kelayakan usaha pengolahan bakso ikan
No Uraian Nilai
1. Keuntungan (Rp) 403.919.000
2. R/C 1,09
3. Payback periode (tahun) 0,11
4. BEP unit (kg) 82.135
5. BEP nilai (Rp) 2.053.380.163
Berdasarkan perhitungan kriteria kelayakan usaha menunjukkan bahwa usaha pengolahan bakso ikan tersebut dapat dikatakan layak untuk dikembangkan.
Tingkat keuntungan yang diperoleh selama satu tahun dari usaha pengolahan bakso ikan relatif besar yaitu mencapai sebesar Rp. 403.919.000 per tahun. Nilai revenue cost ratio diperoleh sebesar 1,09 artinya bahwa setiap pengeluaran biaya sebesar satu rupiah, akan mendapatkan penerimaan sebesar 1,09 rupiah. Nilai payback period dari usaha pengolahan bakso ikan menunjukkan nilai sebesar 0,11 tahun atau 1 bulan 10 hari. Pendeknya waktu pengembalian investasi lebih dikarenakan besarnya tingkat keuntungan yang diperoleh dari usaha selama satu tahun.
Analisis BEP dilakukan untuk melihat suatu usaha berada pada kondisi titik impas, artinya usaha tersebut berada pada kondisi tidak rugi dan juga tidak untung. Nilai titik impas usaha dapat dilihat dari nilai BEP baik unit maupun harga. Nilai BEP unit usaha pengolahan bakso ikan yaitu 82.135 kg, artinya bahwa jumlah output bakso yang dihasilkan oleh UPI minimal sebanyak 82.135 kg bakso ikan, jika kurang maka usaha pengolahan akan mengalami kerugian. Nilai BEP rupiah menunjukkan nilai sebesar Rp. 2.053.380.163 artinya pada tingkat pendapatan sebesar 2,05 milyar maka akan sebanding dengan biaya yang dikeluarkan, sehingga pada titik ini disebut titik impas.
Usaha pengolahan abon ikan
Jenis bahan baku ikan yang digunakan untuk membuat abon ikan sama dengan bahan baku untuk usaha pengolahan bakso ikan yaitu ikan tuna. Kondisi ini tentunya akan berdampak pada persaingan untuk memperoleh bahan baku.
Berdasarkan analisis kelayakan usaha pengolahan bakso ikan pada Lampiran 5, menunjukkan bahwa total kebutuhan biaya investasi yaitu sebesar Rp. 72.400.000.
Total biaya yang dibutuhkan untuk manjalankan kegiatan pengolahan abon ikan selama satu tahun yaitu sebesar Rp. 453.430.000.
Total biaya tersebut terdiri dari biaya tetap sebesar Rp. 9.790.000 per tahun atau sekitar 2,16 persen, dan total biaya varibel sebesar Rp. 443.640.000 per tahun atau sekitar 97,84 persen. Total penerimaan dari usaha pengolahan abon ikan mencapai nilai sebesar Rp. 792.000.000 per tahun. Ringkasan mengenai struktur biaya dan pendapatan usaha pengolahan abon ikan dapat dilihat pada Tabel 20.
Tabel 20. Struktur biaya dan pendapatan usaha pengolahan abon ikan
No Uraian Jumlah (Rp)
1. Total investasi 72.400.000
2. Total biaya tetap 9.790.000
3. Total biaya variabel 443.640.000
4. Total biaya 453.430.000
5. Total penerimaan 792.000.000
Perhitungan kriteria kelayakan usaha yaitu nilai keuntungan, R/C, payback period dan BEP untuk menilai kelayakan dari suatu usaha. Hasil perhitungan kriteria kelayakan usaha pengolahan abon ikan dapat dilihat pada Tabel 21.
Tabel 21. Kriteria kelayakan usaha pengolahan abon ikan
No Uraian Nilai
1. Keuntungan (Rp) 338.570.000
2. R/C 1,75
3. Payback periode (tahun) 0,21
4. BEP unit (kg) 223
5. BEP nilai (Rp) 22.257.664
Berdasarkan hasil perhitungan kriteria kelayakan usaha menunjukkan bahwa kegiatan usaha pengolahan abon ikan tersebut dapat dikatakan layak untuk dikembangkan. Tingkat keuntungan yang diperoleh selama satu tahun dari usaha pengolahan abon ikan mampu mencapai sebesar Rp. 338.570.000 per tahun. Nilai revenue cost ratio diperoleh sebesar 1,75 artinya bahwa setiap pengeluaran biaya sebesar satu rupiah, akan mendapatkan penerimaan sebesar 1,75 rupiah. Nilai payback period dari usaha pengolahan abon ikan menunjukkan nilai sebesar 0,21 tahun atau 2 bulan 17 hari. Pendeknya waktu pengembalian investasi lebih dikarenakan besarnya tingkat keuntungan yang diperoleh dari usaha selama satu tahun. Analisis BEP menunjukkan suatu usaha berada pada kondisi titik impas, artinya usaha tersebut berada pada kondisi tidak rugi dan juga tidak untung. Nilai titik impas usaha dapat dilihat dari nilai BEP baik unit maupun harga. Nilai BEP unit usaha pengolahan abon ikan yaitu 223 kg, dan nilai BEP rupiah sebesar Rp.
22.257.664. artinya titik impas dapat tercapai pada skala produksi sebanyak 223 kg dengan tingkat pendapatan sebesar Rp. 22.257.664 per tahun.
Usaha pengolahan kerupuk kulit ikan
Berdasarkan analisis kelayakan usaha pengolahan bakso ikan pada Lampiran 6, menunjukkan bahwa total kebutuhan biaya investasi yaitu sebesar Rp. 11.750.000. Total biaya yang dibutuhkan untuk manjalankan kegiatan pengolahan kerupuk kulit ikan selama satu tahun yaitu sebesar Rp. 214.455.000.
Total biaya tersebut terdiri dari biaya tetap sebesar Rp. 32.535.000 per tahun (15,17%), dan total biaya varibel sebesar Rp. 181.920.000 per tahun (84,83%).
Jenis bahan baku ikan yang biasa digunakan untuk dijadikan kerupuk kulit ikan yaitu ikan cucut. Total penerimaan dari hasil penjualan kerupuk kulit ikan cucut selama satu tahun sebesar Rp. 240.000.000. Ringkasan mengenai struktur biaya dan pendapatan usaha pengolahan abon ikan dapat dilihat pada Tabel 22.
Tabel 22. Struktur biaya dan pendapatan usaha pengolahan kerupuk kulit ikan
No Uraian Jumlah (Rp)
1. Total investasi 11.750.000
2. Total biaya tetap 32.535.000
3. Total biaya variabel 181.920.000
4. Total biaya 214.455.000
5. Total penerimaan 240.000.000
Perhitungan kriteria kelayakan usaha yaitu nilai keuntungan, R/C, payback period dan BEP untuk menilai kelayakan dari suatu usaha. Hasil perhitungan kriteria kelayakan usaha pengolahan kerupuk kulit ikan cucut dapat dilihat pada Tabel 23:
Tabel 23. Kriteria kelayakan usaha pengolahan kerupuk kulit ikan
No Uraian Nilai
1. Keuntungan (Rp) 25.545.000
2. R/C 1,12
3. Payback periode (tahun) 0,46
4. BEP unit (Kg) 1.344
5. BEP nilai (Rp) 134.442.149
Berdasarkan hasil perhitungan kriteria kelayakan usaha menunjukkan bahwa kegiatan usaha pengolahan kerupuk kulit ikan cucut tersebut dapat dikatakan layak untuk dikembangkan. Tingkat keuntungan yang diperoleh selama
satu tahun mampu mencapai sebesar Rp. 25.545.000 per tahun. Nilai revenue cost ratio diperoleh sebesar 1,12 artinya bahwa setiap pengeluaran biaya sebesar satu rupiah, akan mendapatkan penerimaan sebesar 1,12 rupiah. Nilai payback period dari usaha pengolahan kerupuk kulit ikan menunjukkan nilai sebesar 0,46 tahun atau 5 bulan 16 hari.
Analisis BEP menunjukkan suatu usaha berada pada kondisi titik impas, artinya usaha tersebut berada pada kondisi tidak rugi dan juga tidak untung. Nilai titik impas usaha dapat dilihat dari nilai BEP baik unit maupun harga. Nilai BEP unit usaha pengolahan kerupuk kulit ikan cucut yaitu 1.344 kg, dan nilai BEP rupiah sebesar Rp. 134.442.149. Artinya titik impas dapat tercapai pada skala produksi sebanyak 1.344 kg kerupuk kulit ikan cucut, dengan tingkat pendapatan yang diperoleh sebesar Rp. 134.442.149.
5.2.2 Analisis Kinerja Keuangan
Kegiatan usaha pengolahan hasil perikanan skala menengah di kabupaten Sukabumi memiliki potensi untuk lebih dikembangkan. Salah satu kendala bagi pengembangan UPI skala menengah di kabupaten Sukabumi yaitu masih lemahnya sistem administrasi pembukuan. Tidak terstrukturnya sistem pencatatan tersebut berdampak pada sulitnya melakukan monitoring dan evaluasi kegiatan usaha, sehingga dapat mengakibatkan penilaian kinerja perusahaan sulit dilakukan.
Laporan keuangan dapat dijadikan sebagai pedoman dalam melakukan penilaian kinerja usaha. Salah satu yang menjadi alasan tidak tertariknya lembaga keuangan (LKM)/Bank untuk memberikan pendanaan terhadap UPI karena tidak adanya laporan keuangan yang baik. Bentuk laporan keuangan dapat dijadikan sebagai ukuran tingkat resiko usaha. Pada umumnya kegiatan usaha perikanan memiliki tingkat resiko yang besar (high risk). Besarnya ketergantungan pada faktor alam merupakan salah satu penyebab besarnya resiko usaha. Namun demikian, kondisi usaha pada sektor keuangan menjadi semakin beresiko disebabkan karena tidak adanya ukuran seberapa besar resiko yang harus dihadapi karena sistem pencatatan yang dilakukan oleh para pelaku usaha perikanan skala menengah masih kurang baik. Seharusnya tingkat resiko usaha perikanan dapat
diminimalisasikan dengan dukungan data dan informasi yang akurat. Data dan informasi usaha dapat diperoleh dari hasil catatan pembukuan yang baik.
Faktanya saat ini hampir seluruh UPI skala kecil menengah belum memiliki pembukuan keuangan yang baik. Indikatornya yaitu banyak UPI yang masih belum memiliki perhitungan laporan rugi laba dan laporan neraca. Hal ini menjadi kendala dalam melakukan penilaian kinerja keuangan terhadap UPI di kabupaten Sukabumi. Hasil survei yang telah dilakukan terhadap UPI di kabupaten Sukabumi, hanya terdapat satu jenis UPI yang telah memiliki laporan keuangan yang baik yaitu UPI Pindang. UPI pindang ikan memiliki laporan neraca dan rugi laba karena untuk mendapatkan proses pinjaman dari LKM/Bank.
Laporan neraca dan laporan rugi laba UPI Pindang secara lebih lengkap dapat dilihat pada Lampiran 9 dan 10.
Berdasarkan hal tersebut, maka analisis kinerja keuangan dilakukan terhadap UPI Pindang yang dapat dianggap sebagai sampel untuk mengukur UPI di kabupaten Sukabumi. Penilaian kinerja keuangan UPI Pindang dilakukan dengan menganalisis hasil laporan neraca dan laporan rugi laba. Analisis kinerja keuangan yang dilakukan terhadap laporan neraca dan rugi laba yaitu berdasarkan metode analisis rasio. Kriteria penilaian analisis rasio keuangan meliputi rasio likuiditas, leverage, coverage, aktivitas dan rentabilitas.
Rasio likuiditas
Rasio likuiditas menunjukkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya (termasuk bagian dari kewajiban jangka panjang yang telah berubah menjadi kewajiban jangka pendeknya). Terdapat tiga jenis rasio likuiditas yang biasa digunakan yaitu current ratio, cash ratio dan quick ratio. Current ratio menunjukkan sejauh mana kewajiban lancar (current liabilities) dijamin pembayarannya oleh aktiva lancar (current asset). Hasil perhitungan current ratio terhadap UPI skala menengah di atas menunjukkan nilai sebesar 13,57, artinya bahwa setiap Rp 1 kewajiban lancar akan dijamin oleh aktiva lancar sebesar Rp 13,57. Umumnya suatu UPI dianggap likuid apabila nilai current ratio lebih besar dari satu. Kondisi tersebut menggambarkan bahwa kegiatan UPI skala menengah memiliki nilai likuiditas yang sangat baik.
Analisis cash ratio dilakukan untuk mengukur tingkat likuiditas UPI berdasarkan komposisi dari pos tunai (cash) dan surat-surat berharga terhadap kewajiban lancar. Ukuran nilai likuiditas cash ratio lebih besar dibandingkan dengan nilai current ratio. Nilai cash ratio sebesar 2,14 berarti bahwa setiap Rp. 1 kewajiban lancar perusahaan dijamin pembayarannya secara tunai sebesar Rp.
2,14. Kondisi perusahaan dengan nilai cash ratio lebih besar dari 1, menunjukkan posisi usaha pengolahan ikan memiliki tingkat likuiditas yang sangat baik.
Kualitas dan komposisi persediaan berpengaruh terhadap kualitas dari piutang dagang. Hal ini dapat dijelaskan berdasarkan siklus perputaran aktiva (cash conversion cycle). Perusahaan akan menggunakan uang tunai untuk membeli bahan baku, lalu memprosesnya menjadi persediaan, kemudian dijual dan akan menghasilkan piutang dagang (dengan asumsi penjualan dilakukan secara kredit). Setelah ditagih, piutang dagang akan berubah menjadi tunai yang akan dipakai kembali oleh perusahaan untuk melakukan aktivitas siklus berikutnya. Apabila seluruh piutang dagang dapat tertagih tepat waktu dan memiliki jangka waktu yang relatif pendek, maka perusahaan akan lebih likuid.
Nilai quick ratio sebesar 5, artinya diluar persediaan barang yang mungkin masih jauh dari tunai, setiap Rp. 1 kewajiban lancar dijamin oleh aktiva lancar sebesar Rp. 5.
Rasio leverage
Rasio ini juga menunjukkan indikasi tingkat keamanan dari pihak pemberi pinjaman (kreditor). Secara umum dapat dikatakan bahwa semakin tinggi nilai DER maka resiko kreditor semakin besar, karena DER yang tinggi berarti semakin rendah tingkat keamanan dana yang ditempatkan oleh kreditur dalam usaha tersebut. Nilai DER untuk usaha UPI skala menengah adalah sebesar 0,22, artinya menunjukkan bahwa pihak luar (kreditor) menempatkan dananya sebesar Rp 0,22 atas setiap Rp 1 modal yang dikeluarkan pemilik UPI. Dengan kata lain bahwa usaha UPI lebih banyak dibiayai oleh modal sendiri dibandingkan dengan hutang.
Nilai long term leverage bagi UPI Pindang sebesar 0,21, artinya sebagian besar hutang UPI termasuk dalam jenis hutang jangka panjang yakni setiap Rp.
0,21 hutang jangka panjang akan mendapat jaminan sebesar Rp. 1 dari modal UPI.
Apabila nilai long term leverage lebih kecil daripada short term leverage, berarti sebagian besar kewajiban hutang adalah kewajiban jangka pendek. Jika sebaliknya, maka sebagian besar hutang merupakan hutang jangka panjang. Nilai short term leverage sebesar 0,01. Nilai short term leverage jauh lebih kecil dibandingkan dengan nilai long term leverage yaitu 0,01. Hal tersebut berarti bahwa kewajiban hutang UPI sebagian besar merupakan kewajiban jangka panjang. Berdasarkan kondisi tersebut, dapat dikatakan bahwa struktur kewajiban hutang bagi UPI memiliki tingkat keamanan yang besar.
Rasio coverage
Nilai EBIT coverage ratio UPI sebesar 1.781,25, artinya bahwa setiap Rp.
1 beban bunga pinjaman dijamin oleh 1.781,25 persen pendapatan atau sebesar Rp. 17,81. Kemampuan membayar beban bunga dihitung dari laba bersih sebelum pajak karena beban bunga merupakan salah satu komponen pengurang pajak penghasilan.
Rasio aktivitas
Rasio aktivitas yaitu rasio yang menunjukkan kemampuan dan efektivitas menajemen dalam mengelola sumber-sumber yang dimilikinya. Rasio aktivitas terdiri dari asset turnover, fixed turnover, perputaran piutang dagang, perputaran persediaan dan perputaran hutang dagang.
Nilai asset turnover dari usaha menunjukkan nilai sebesar 0,17, artinya bahwa setiap Rp. 1 aset yang ditanamkan akan memperoleh nilai penjualan sebanyak Rp. 0,17. Hal ini dapat menunjukkan bahwa kegiatan usaha UPI merupakan jenis usaha dengan tingkat aset cukup besar. Nilai fixed turnover menunjukkan optimalisasi penggunaan aktiva tetap yang merupakan aktiva produktif. Kegiatan usaha pengolahan produk perikanan khususnya UPI Pindangdi kabupaten Sukabumi menunjukkan nilai fixed turnover sebesar 0,21 kali, artinya setiap Rp. 1 aktiva tetap perusahaan akan memperoleh nilai penjualan sebanyak Rp. 0,21.
Perputaran piutang dagang (account receivable turnover) menunjukkan berapa kali piutang dagang UPI berputar dalam satu tahun. Perhitungan analisis perputaran piutang dagang dalam kegiatan usaha UPI Pindang sebagai UPI skala menengah di kabupaten Sukabumi menunjukkan bahwa piutang dagang usaha
berputar 4 kali dalam setahun. Ekspresi perputaran piutang dagang dalam bentuk hari dikenal dengan istilah account receivable collection period atau sering disingkat menjadi collection period. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa lamanya piutang dagang usaha akan tertagih kembali menjadi tunai dalam waktu kurang lebih 90 hari. Hal ini tentunya berhubungan dengan penyediaan dana yang diperlukan untuk membiayai piutang tersebut. Semakin cepat perputaran piutang dagang, akan sedikit pula dana yang terikat didalamnya.
Perputaran persediaan merupakan indikator keberhasilan manajemen dalam mengelola persediaan barang. Perputaran persediaan menunjukkan sifat persediaan barang, apakah merupakan slow moving item atau fast moving item.
Nilai perputaran persediaan barang dari usaha UPI Pindang sebagai UPI skala menengah di kabupaten Sukabumi menunjukkan nila sebesar 0,833 kali. Sama halnya dengan perputaran piutang, maka perputaran persediaan juga dapat ditulis dalam bentuk hari
Hasil perhitungan di atas diperoleh nilai periode perputaran persediaan selama 432,17 hari. Kondisi ini menunjukkan bahwa kegiatan usaha pengolahan perikanan yang dilakukan UPI Pindang memiliki nilai perputaran persediaan barang yang sangat lamban. Hal tersebut mengindikasikan bahwa manajemen persediaan barang yang dilakukan masih buruk, sehingga dapat menyebabkan penumpukan barang, apalagi produk perikanan yang sifatnya mudah rusak, sehingga barang yang diproduksi mengalami masa kadaluarsa yang lebih cepat.
Rasio perputaran hutang dagang menunjukkan jumlah perputaran hutang dagang dalam satu tahun. Hasil perhitungan perputaran hutang dagang pada UPI Pindang sebagai UPI skala menengah di kabupaten Sukabumi adalah sebanyak 10 kali dalam satu tahun. Sehingga jumlah periode pembayaran hutang dagang dalam satuan hari adalah 36 hari. Hasil perhitungan tersebut menunjukkan bahwa UPI akan membayar hutang dagangnya setiap 36 hari. Jika melihat nilai perputaran hutang dagang 36 hari, jauh lebih kecil dibandingkan dengan periode perputaran piutang dagang sebesar 90 hari. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan usaha pengolahan hasil perikanan memiliki beban tanggungan biaya operasional yang cukup besar, paling tidak jumlah modal usaha yang dimilikinya sekitar 3 kali lipat biaya operasional usaha.
Rasio rentabilitas
Rasio rentabilitas yaitu rasio yang menunjukkan kemampuan perusahaan mencetak laba. Untuk para pemegang saham (pemilik UPI), rasio ini menunjukkan tingkat penghasilan yang akan diperoleh dari investasi yang dikeluarkan. Ukuran rasio rentabilitas yang sering digunakan meliputi gross profit margin, net profit margin, return on investment (ROI), dan return on equity (ROE).
Nilai gross profit margin menunjukkan sejauh mana perusahaan mencetak laba dengan membuat produk. Hasil perhitungan analisis gross profit margin dari usaha pengolahan UPI Pindang menunjukkan bahwa nilai gross profit margin sebesar 37,5 persen. Artinya bahwa setiap Rp. 1 penjualan yang dilakukan UPI memperloleh laba kotor sebesar 37,5 persen atau Rp. 0,375. Nilai ini menunjukkan sejauh mana UPI mengelola kegiatan bisnisnya. Nilai perhitungan analisis net profit margin dari usaha pengolahan UPI Pindang yaitu sebesar 20,18 persen. Nilai tersebut menunjukan bahwa setiap Rp. 1 penjualan yang dilakukan UPI memperoleh laba bersih sebesar 20,18 persen atau Rp. 0,2.
Return on investment sering disebut juga dengan istilah return on asset (ROA). ROI menunjukkan berapa laba yang diperoleh atas setiap Rp 1 investasi yang dilakukan. Nilai ROI untuk usaha UPI Pindang sebagai UPI skala menengah menunjukkan nilai ROI sebesar 3,46 persen, artinya bahwa atas setiap Rp 1 investasi akan diperoleh laba sebesar 3,46 persen atau sebesar Rp. 0,0346. Hal ini menggambarkan kegiatan usaha UPI Pindang memiliki beban modal investasi yang cukup besar.
ROE merupakan indikator yang tepat untuk mengukur keberhasilan bisnis dalam memperkaya pemegang sahamnya. Hasil perhitungan menunjukkan nilai ROE sebesar 4,25 persen, artinya bahwa atas setiap Rp. 1 modal sendiri yang dikeluarkan oleh pemilik UPI tersebut akan memperoleh tingkat pengembalian sebesar 4,25 persen atau sebesar Rp. 0,0425.
5.3 Critical Control Point Pengolahan Ikan 5.3.1 Pengolahan ikan asin
Proses pengolahan ikan asin besar adalah sebagai berikut:
(1) Ikan segar disiangi, kepala, sisik, isi perut dibuang
(2) Ikan di fillet sesuai bentuk kupu-kupu
(3) Kemudian direndam dalam larutan garam selama 1 minggu (4) Ikan dicuci kembali
(5) Kemudian ikan dijemur sampai kering kurang lebih 2 hari.
(6) Pengemasan dengan plastik/karung.
Tahapan pengolahan ikan asin dan produksi ikan asin secara lebih jelas dapat dilihat pada Gambar 9.
Gambar 9 Pengolahan dan penjemuran ikan asin di Palabuhanratu.
Proses pengolahan ikan asin:
(1) Ikan dipreparasi, sisik, insang dan isi perut dibuang dan dicuci bersih dengan air laut
(2) Ikan dimasukkan dalam bak penampung dan direndam garam selama 24 jam atau Ikan dimasak dalam air garam selama 5 menit yang selanjutnya ditiriskan.
(3) Ikan kemudian dijemur di tempat penjemuran selama 2-3 hari sampai kering (4) Ikan asin yang sudah kering dimasukkan plastik dan kardus
Gambar 10 Ikan asin produksi UPI kabupaten Sukabumi.
Alur proses pengolahan ikan asin serta titik-titik kritis (critical control point) yang perlu diperhatikan pada proses pengolahan ikan asin
dapat dilihat pada Gambar 11.
Gambar 11 Alur proses pengolahan ikan asin.
Sumber bahaya utama pada tiga titik kritis tersebut yaitu berbagai bakteri yang dapat berkembang dan akan mencemari bahan baku ikan yang diolah.
Tindakan pengawasan yang dapat dilakukannya yaitu dapat melakukan pemeriksaan secara visual mengenai kebersihan selama proses pengolahan. Secara lebih rinci, mengenai sumber bahaya, batas kritis serta tindakan yang dapat dilakukan pada ketiga titik kritis tersebut dapat dilihat pada Tabel 24.
CCP 3 CCP 2 Penerimaan bahan baku
Preparasi
Pencucian dengan air laut
Pemisahan sisik, tulang, dan isi perut
Pemasukan ikan dalam bak penampung
Perendaman dalam air garam selama 24 jam
Penirisan ikan
Penjemuran ikan selama 2-3 hari
Pengemasan dalam plastik/kardus
CCP 1
Tabel 24. Matriks CCP pada proses pengolahan ikan asin
5.3.2 Pengolahan pindang ikan
Proses pengolahan pindang ikan besar
(1) Ikan segar di preparasi dan dibersihkan dengan air laut (insang dan bagian dalam perut dibuang)
(2) Ikan dibungkus dengan kertas, agar bentuk ikan tidak rusak
(3) Ikan disusun dalam badeng dan ditaburi dengan garam laut lapis demi lapis.
(4) Badeng ditutup garam
(5) Ikan yang sudah tersusun dalam badeng dipanaskan dengan menggunakan kayu bakar dan rebus selama 2,5 jam
(6) Badeng ditiriskan kemudian setelah dingin dibungkus dengan kertas semen dan siap dipasarkan
Alur proses pengolahan pindang ikan besar serta titik-titik kritis (critical control point) yang perlu diperhatikan pada proses pengolahan pindang
ikan besar dapat dilihat pada Gambar 12.
Tahap No.
CCP
Jenis
bahaya Batas kritis Monitoring Tindakan koreksi Metode Frekuensi
Penerimaan bahan baku
1 Mikrobiologi, fisik
Bahan baku harus bersih dari cemaran, dan bahan baku harus fresh (orlep 7-9)
Pemeriksaan visual
Setiap kedatangan bahan baku
Pencucian bersih, buang bahan baku yang busuk/tidak segar Perendaman
dalam air garam
2 Fisik, Mikrobiologi
Bebas E. Coli maks 4x 102 APM/g
Pemeriksaan visual
Setiap proses
Pastikan penggunaan garam yang murni dan air yang bersih Pengemasan 3 Mikrobiologi Kemasan tertutup
rapat/tidak bocor
Pemeriksaan visual
Setiap proses
Cek kebocoran kemasan, sealer kembali kemasan yang tidak rapat
Proses pengolahan pindang ikan kecil
(1) Ikan segar di preparasi dan dibersihkan dengan air tawar (insang dan bagian dalam perut dibuang)
(2) Ikan dibungkus kertas koran
(3) Ikan disusun dalam naya atau besek
(4) Ikan dimasukkan dalam badeng dengan air mendidih yang sudah ditambah garam dan bumbu-bumbu seperti kunyit, bawang merah, salam, sereh dan laja.
(5) Ikan direbus selama kurang lebih 3 menit.
(6) Badeng ditiriskan kemudian setelah dingin siap dipasarkan Pencucian
Pemisahan dari insang, sisik, tulang, dan isi perut dibuang Preparasi
Pembungkusan dengan kertas
Penyusunan dalam badeng
Penutupan badeng dengan garam
Perebusan selama 2,5 jam
Penaburan garam laut lapis demi lapis
Penirisan dan Pendinginan
Pembungkusan dengan kertas semen
CCP 3 CCP 2
CCP 1 Penerimaan bahan baku
Gambar 12 Alur proses pengolahan pindang ikan besar.
Alur proses pengolahan pindang ikan kecil serta titik-titik kritis (critical control point) yang perlu diperhatikan pada proses pengolahan pindang
ikan kecil dapat dilihat pada Gambar 13.
Gambar 13 Alur proses pengolahan pindang ikan kecil.
Pada proses pengolahan pindang ikan terdapat 3 (tiga) titik kritis sumber bahaya yaitu pada tahapan penanganan bahan baku, proses perebusan dan proses pengemasan. Titik-titik kritis dalam setiap tahapan proses pengolahan pindang ikan besar dan pindang ikan kecil secara lebih jelas dapat dilihat pada Tabel 25.
Preparasi
Pencucian dengan air tawar
Pemisahan dari insang, sisik, tulang, dan isi perut dibuang
Pembungkusan dengan kertas koran
Penyusunan dalam naya/besek
Pemasukan dalam badeng
Perebusan selama ± 3 menit
Badeng berisi air mendidih yang sudah ditambah garam dan bumbu-bumbu (kunyit, bawang merah, salam, serai dan lada.
Penirisan dan Pendinginan
Pengemasan
CCP 3 CCP 2
CCP1 Penerimaan bahan baku
Tabel 25. Matriks CCP pada proses pengolahan ikan pindang
Tahap No.
CCP
Jenis
bahaya Batas kritis Monitoring Tindakan koreksi Metode Frekuensi
Penerimaan bahan baku
1 Mikrobiologi, fisik
Bahan baku harus bersih dari cemaran, dan bahan baku harus fresh (orlep 7-9)
Pemeriksaan visual
Setiap kedatangan bahan baku
Pencucian bersih, buang bahan baku yang busuk/tidak segar, cek sanitasi bahan baku Perebusan 2 Mikrobiologi,
fisik
Suhu 90º dan waktu 20 menit
Pengukuran waktu dan suhu perebusan
Setiap proses Monitoring /Setting suhu yang tepat, angkat dan tiriskan pada suhu ruang
Pengemasan 3 Mikrobiologi dan fisik (debu)
Kemasan kertas semen harus tertutup rapat/tidak sobek/bocor
Pemeriksaan visual pada kemasan
Setiap proses Cek kebocoran atau kondisi kertas semen yang bersih, utuh dan tidak sobek.
Tahapan pengolahan pindang ikan dan produksi pindang ikan secara lebih jelas dapat dilihat pada Gambar 14.
Gambar 14 Proses pemindangan ikan di Sukabumi.
5.3.3 Pengolahan abon ikan
Alur proses pengolahan abon ikan serta titik-titik kritis (critical control point) yang perlu diperhatikan pada proses pengolahan abon ikan dapat dilihat pada Gambar 15.
Gambar 15 Alur proses pengolahan abon ikan.
Proses pengolahan abon ikan
(1) Ikan disiangi kemudian dicuci sampai bersih lalu ditiriskan
(2) Ikan direbus selama 30 menit dengan penambahan salam serai dan garam secukupnya.
(3) Ikan diangkat kemudian di press dengan mesin press untuk mengeluarkan air (4) Ikan digiling dengan mesin giling sampai halus, kemudian dicampur dengan bumbu-bumbu yang telah dihaluskan, lalu digoreng selama satu jam.
(5) Kemudian di press untuk mengeluarkan minyak.
Penerimaan bahan baku
Preparasi
Pencucian
Pemisahan sisik, tulang, dan isi perut
Penirisan daging ikan
Perebusan selama 30 menit
Pengepresan (Pengeluaran air)
Penggilingan
Penggorengan ± 1 jam
Penambahan daun salam, serai, dan garam
Percampuran dengan bumbu-bumbu yang dihaluskan (bawang merah, bawang putih, lengkuas, santan kelapa, ketumbar, dll
CCP 2
Penyobekan dengan garpu hingga halus
Pengemasan
CCP 3 CCP 1
(6) Abon yang sudah di press dan kering lalu di sobek-sobek dengan menggunakan garpu
(7) Abon yang sudah siap lalu dikemas.
Sumber bahaya utama pada ketiga titik kritis tersebut yaitu berbagai bakteri yang dapat berkembang dan akan mencemari bahan baku ikan yang diolah serta rusaknya fisik ikan. Tindakan pengawasan yang perlu dilakukannya yaitu melakukan pemeriksaan fisik secara visual mengenai kebersihan pada setiap proses pengolahan. Secara lebih rinci, mengenai sumber bahaya, batas kritis serta tindakan yang dapat dilakukan pada ketiga titik kritis tersebut dapat dilihat pada Tabel 26
Tabel 26. Matriks CCP pada pengolahan abon ikan Tahap No.
CCP
Jenis bahaya
Batas kritis
Monitoring Tindakan koreksi Metode Frekuensi
Penerimaan bahan baku
1 Mikrobiologi, fisik
Bahan baku harus bersih dari cemaran, dan bahan baku harus fresh (orlep 7-9)
Pemeriksaan visual
Setiap kedatangan bahan baku
Pencucian bersih, buang bahan baku yang busuk/tidak segar
Pengepresan 2 Fisik, Mikrobiologi
Bebas dari debu/kotoran
Pemeriksaan visual
Setiap proses Pastikan penggunaan mesin/alat yang bersih
Pengemasan 3 Mikrobiologi Kemasan tertutup rapat/tidak bocor
Pemeriksaan visual
Setiap proses Cek kebocoran kemasan, sealer kembali kemasan yang tidak rapat
Tahapan pengolahan abon ikan dan produksi abon ikan secara lebih jelas dapat dilihat pada Gambar 16.
Gambar 16 Proses pengolahan dan produk abon ikan.
5.3.4 Pengolahan bakso ikan
Alur proses pengolahan bakso ikan serta titik-titik kritis (critical control point) yang perlu diperhatikan pada proses pengolahan bakso
ikan dapat dilihat pada Gambar 17.
Gambar 17 Alur proses pengolahan bakso ikan.
Proses pengolahan bakso ikan
(1) Ikan digiling dalam penggilingan sampai kekuatan gelnya keluar/ lengket (2) Tambahkan es dan garam sambil terus diaduk hingga terbentuk adonan yang
Penerimaan bahan baku
Preparasi Pencucian
Pemisahan daging dari sisik, tulang, dan isi perut
Penggilingan daging ikan
Pengadukan
Penambahan bumbu-bumbu (lada, bawang putih, bawang merah, MSG)
Pencetakan adonan
Penampungan pada air hangat dan minyak goreng (suhu 40 ºC, 20 menit)
Penambahan es dan garam
Perebusan pada suhu 90 ºC, 20 menit
Penirisan pada suhu ruang
Pengemasan dan sealer
CCP 4 CCP 3 CCP 2 CCP 1
lengket.
(3) Tambahkan bumbu-bumbu lainnya dan campur hingga benar-benar homogen (4) Pencetakan adonan dengan manual yaitu menggunakan tangan dan sendok (5) Bakso yang telah dicetak di tampung pada wadah yang berisi air hangat dan
minyak goring dengan suhu 40 0C selama 20 menit. Selanjutnya bakso direbus kembali pada suhu 90 0C selama 20 menit atau sampai bakso mengapung
(6) Bakso yang telah mengapung diangkat dan ditiriskan pada suhu ruang.
(7) Bakso yang telah dingin dikemas dalam kantong plastik dan ditutup rapat dengan sealer.
Pada tahapan pengolahan bakso ikan terdapat empat titik kritis yaitu penerimaan bahan baku, pengadukan, perebusan dan pengemasan. Titik-titik kritis dalam setiap tahapan proses tersebut dapat dilihat pada Tabel 27.
Tabel 27. Matriks CCP pada proses pengolahan bakso ikan Tahap No.
CCP
Jenis bahaya
Batas kritis Monitoring Tindakan koreksi Metode Frekuensi
Penerimaan bahan baku
1 Mikrobiologi, fisik
Bahan baku harus bersih dari cemaran, dan bahan baku harus fresh (orlep 7-9)
Pemeriksaan visual
Setiap kedatangan bahan baku
Pencucian bersih, buang bahan baku yang busuk/tidak segar Pengadukan
dan pencetakan adonan
2 Fisik, Mikrobiologi
Sanitasi dan volume air yang digunakan
Pemeriksaan visual
Setiap proses Pastikan penggunaan air yang bersih dan volume air yang tepat
Perebusan 3 Mikrobiologi, fisik
Suhu 90 ºC dan waktu 20 menit
Pengukuran waktu dan suhu perebusan
Setiap proses Setting suhu yang tepat, angkat dan tiriskan pada suhu ruang Pengemasan 4 Mikrobiologi
dan fisik (debu)
Kemasan tertutup rapat/tidak bocor, kemasan kurang vakum
Pemeriksaan visual pada kemasan
Setiap proses Cek kebocoran kemasan, sealer kembali kemasan yang tidak rapat dan kondisi vakum kemasan
Tahapan pengolahan bakso ikan dan produksi bakso ikan secara lebih jelas dapat dilihat pada Gambar 18.
Gambar 18 Bakso ikan produksi UPI Sukabumi.
5.3.5 Pengolahan kerupuk kulit ikan
Alur proses pengolahan kerupuk kulit ikan serta titik-titik kritis (critical control point) yang perlu diperhatikan pada proses pengolahan kerupuk
kulit ikan dapat dilihat pada Gambar 19.
Gambar 19 Alur proses pengolahan kerupuk kulit ikan.
Penerimaan bahan baku
Pengerikan
Perendaman dengan air bersih
Pemisahan dari daging dan lendir hingga kulit bersih
Perendaman dengan larutan garam selama 1-2 jam
Perebusan
Pembersihan kembali dari lendir dan daging yang menempel
Penjemuran
Penambahan bumbu- bumbu (bawang putih, bawang merah, kunyit dan ketumbar)
Pengguntingan seragam
Pengemasan
CCP 4 CCP 2
CCP 3 CCP1
Secara garis besar, terdapat empat titik kritis dalam proses pengolahan kerupuk kulit ikan. Tahapan pengolahan yang dianggap memiliki titik kritis atau sumber bahaya yaitu tahapan penerimaan bahan baku ikan, proses pengerikan dan pembersihan ikan serta proses pengemasan. Tahapan-tahapan proses pengolahan krupuk kulit ikan serta titik-titik kritis dapat dilihat pada Tabel 28.
Tabel 28. Matriks CCP pada pengolahan kerupuk kulit ikan
Tahap No.
CCP
Jenis
bahaya Batas kritis Monitoring Tindakan koreksi Metode Frekuensi
Penerimaan bahan baku kulit ikan cucut
1 Mikrobiologi, fisik
Bahan baku harus bersih dari cemaran, dan bahan baku harus fresh (orlep 7-9)
Pemeriksaan visual
Setiap kedatangan bahan baku
Pencucian bersih, buang bahan baku yang busuk/tidak segar, cek sanitasi bahan baku Pengerikan 2 Fisik (cemaran
karatan), Mikrobiologi
Sanitasi alat pengerikan yang tajam,
penggunaan alat kerik berbahan stainless steel (anti karat).
Pemeriksaan visual
Setiap proses Pastikan penggunaan alat pengerikan bersih, tajam dan berbahan stainless steel.
Perebusan dan Pembersihan kembali dari lendir dan sisa daging
3 Mikrobiologi (E.Coli), fisik (kotoran pada garam), air yang
terkontaminasi
Bebas E. Coli maks 4 x 102 APM/g, bebas klorin (<20 ppm)
Pengukuran waktu dan suhu perebusan
Setiap proses Monitoring suhu dan lama perebusan, dan penggunaan alat pengerikan yang tajam dan bersih Pengemasan 4 Mikrobiologi
dan fisik (debu)
Kemasan tertutup rapat/tidak bocor dan bersih
Pemeriksaan visual pada kemasan
Setiap proses Cek kebocoran kemasan, sealer kembali kemasan yang tidak rapat
Proses pengolahan kerupuk kulit ikan
(1) Kulit ikan cucut dibersihkan dan direndam dalam air bersih
(2) Kulit ikan kemudian di kerik dengan sendok sehingga terpisah antara lendir dan kulitnya, sehingga dihasilkan kulit ikan yang bersih
(3) Kulit ikan kemudian direndam dalam larutan garam dan bumbu selama 1-2 jam
(4) Kulit ikan direbus
(5) Dibersihkan kembali dari lendir dan daging yang masih menempel (6) Setelah itu kulit ikan dijemur sampai kering
(7) Kulit ikan digunting untuk mendapat ukuran yang seragam (8) Kerupuk kulit ikan kemudian dikemas dalam plastik
Proses penjemuran dan produk hasil pengolahan kerupuk kulit ikan dapat dilihat pada Gambar 20.
Gambar 20 Kerupuk kulit ikan dan proses penjemurannya.
5.4. Optimasi Unit Pengolahan Ikan 5.4.1 Perumusan model optimasi Fungsi tujuan
Berdasarkan hasil analisis usaha terhadap masing-masing UPI yang berada di kabupaten Sukabumi, maka dapat diperoleh tingkat keuntungan masing-masing UPI yang disajikan pada Tabel 29.
Tabel 29. Tingkat keuntungan masing-masing UPI sebagai variabel keputusan model optimasi
No Jenis UPI Variabel
Keputusan (Xj)
Tingkat Keuntungan UPI
(Rp/tahun)
1. Pengolahan ikan asin X1 9.516.000
2. Pengolahan pindang ikan besar X2 128.331.429
3. Pengolahan pindang ikan kecil X3 60.040.000
4. Pengolahan bakso ikan X4 403.919.000
5. Pengolahan abon ikan X5 338.570.000
6. Pengolahan kerupuk kulit ikan X6 25.545.000
Berdasarkan pada tabel tersebut, maka fungsi tujuan linier programming model optimasi unit pengolahan ikan di Kabupaten Sukabumi dapat dirumuskan sebagai berikut:
Maks Z = 9.516.000 X1 + 128.331.429 X2 + 60.040.000 X3 + 403.919.000 X4 + 338.570.000 X5 + 25.545.000 X6
Fungsi kendala
Fungsi kendala merupakan faktor pembatas dalam pengambilan keputusan yang didasarkan pada keterbatasan sumberdaya yang dimiliki dan kendala pembatas produksi lainnya. Faktor-faktor kendala yang digunakan dalam model optimasi ini meliputi ketersediaan sumber bahan baku ikan; jumlah tenaga kerja;
dan nilai investasi untuk UPI di kabupaten Sukabumi.
Kendala bahan baku ikan
Bahan baku ikan memiliki peranan yang sangat penting bagi UPI.
Kegiatan pengolahan produk perikanan merupakan proses penanganan lebih lanjut bagi produk-produk perikanan sehingga memiliki nilai tambah. Oleh karena itu, penentuan jumlah UPI akan sangat dipengaruhi oleh ketersediaan jumlah bahan baku ikan.
Potensi sumberdaya ikan yang terdapat di kabupaten Sukabumi cukup potensial baik kuantitas maupun keragamanannya. Jenis ikan hasil tangkapan dominan di kabupaten Sukabumi sekaligus menjadi bahan baku bagi UPI skala menengah meliputi ikan cakalang, layang, tongkol, tuna, cucut, tembang, peperek dan udang rebon. Volume ikan hasil tangkapan yang paling besar yaitu ikan tuna dengan rata-rata sebesar 2.032.000 kg per tahun, selanjutnya secara berurutan diikuti ikan tongkol sebanyak 998.000 kg per tahun, tembang sekitar 866.000 kg per tahun, cakalang sekitar 742.000 kg per tahun, peperek sekitar 307.000 kg per tahun, udang rebon sekitar 88.000 kg per tahun, layang sekitar 66.000 kg per tahun, dan cucut sekitar 56.000 kg per tahun. Alokasi kebutuhan bahan baku untuk UPI dibedakan berdasarkan skala usaha. Kebutuhan bahan baku UPI diasumsikan untuk skala kecil dan menengah masing-masing 35 persen, dan sisanya sebesar 30 persen digunakan untuk UPI skala besar.
Setiap unit UPI memiliki kebutuhan bahan baku ikan yang berbeda baik dari segi volume maupun jenis ikan. Kebutuhan volume bahan baku ikan dari setiap UPI akan sangat tergantung pada tingkat kapasitas produksinya. Besarnya kapasitas produksi setiap UPI berbeda satu sama lainnya tergantung pada skala usaha dan jenis UPI. Berdasarkan kapasitas produksi rata-rata UPI yang terdapat di kabupaten Sukabumi, maka dapat diperoleh rata-rata kebutuhan bahan baku ikan segar yang diolah untuk ikan asin sebesar 52.200 kg per tahun; untuk
pemindangan ikan ukuran besar sekitar 235.200 kg per tahun; pemindangan ikan ukuran kecil sekitar 81.600 kg per tahun; bakso ikan sekitar 100.800 kg per tahun;
abon ikan sekitar 7.200 kg per tahun; dan kerupuk kulit ikan sekitar 24.000 kg per tahun.
Kebutuhan bahan baku menurut jenis ikan dari setiap UPI dipengaruhi oleh permintaan pasar. Jenis ikan yang umumnya diolah menjadi ikan asin meliputi ikan tembang, peperek dan udang rebon. Produk ikan pindang terdiri dari jenis ikan cakalang, tuna, tongkol dan layang. Jenis ikan yang umumnya digunakan untuk pengolahan bakso ikan dan abon ikan yaitu ikan tuna. Sedangkan untuk pengolahan kerupuk kulit ikan umumnya menggunakan ikan cucut. Secara lebih jelas kebutuhan bahan baku masing-masing UPI berdasarkan volume dan jenis ikan dapat dilihat pada Tabel 30.
Tabel 30. Rata-rata kebutuhan bahan baku ikan UPI skala menengah menurut volume dan jenis ikan di kabupaten Sukabumi selama satu tahun
No
Jenis bahan baku ikan
Jenis produk olahan (kg)
Jumlah hasil tangkapan
rata-rata (Kg/tahun)
Jumlah bahan baku ikan UPI skala menengah (35%) (Kg/tahun) Ikan
asin
Pindang besar
Pidang kecil
Bakso ikan
Abon ikan
Kerupu k kulit
X1 X2 X3 X4 X5 X6
1 Cakalang 168.000 742.047 259.716
2 Layang 9.600 66.104 23.136
3 Tongkol 72.000 998.211 349.374
4 Tuna 57.600 100.800 7.200 2.032.395 711.338
5 Cucut 24.000 56.249 19.687
6 Tembang 24.000 866.316 303.211
7 Peperek 24.000 307.164 107.507
8 Udang Rebon 4.200 87.758 30.715
Kapasitas
produksi (Kg) 52.200 235.200 81.600 100.800 7.200 24.000
Berdasarkan pada tabel di atas, maka dapat dibentuk pertidaksamaan untuk fungsi kendala dari bahan baku ikan sebagai berikut:
(7) Ikan cakalang : 168.000 X2 ≤ 259.716 (8) Ikan layang : 9.600 X3 ≤ 23.136 (9) Ikan tongkol : 72.000 X3 ≤ 349.374
(10) Ikan tuna : 57.600 X2 + 100.800 X4 + 7.200 X5 ≤ 711.338 (11) Ikan cucut : 24.000 X6 ≤ 19.687
(12) Ikan tembang, peperek dan udang rebon
: (24.000 + 24.000 + 4.200) X1 ≤ 303.211 + 107.507 + 30715 : 52.200 X1 ≤ 441.433
Kendala jumlah tenaga kerja
Kegiatan pengembangan UPI dapat bermanfaat bagi peningkatan nilai tambah baik bagi produk seperti mutu dan harga produk maupun berdampak sosial seperti penyerapan jumlah tenaga kerja, sehingga dapat meningkatkan tingkat pendapatan masyarakat. Banyaknya kebutuhan jumlah tenaga kerja pada masing-masing UPI akan berdampak pada besarnya tingkat penyerapan tenaga kerja. Jumlah tenaga kerja pada setiap UPI ikan asin rata-rata sekitar 22 orang.
Tenaga kerja pada UPI pindang ikan besar rata-rata sekitar 18 orang, UPI pindang kecil rata-rata sekitar 15 orang, UPI bakso ikan rata-rata sekitar 24 orang, UPI abon ikan rata-rata sekitar 14 orang dan UPI kerupuk ikan rata-rata sekitar 8 orang. Untuk lebih jelasnya, kebutuhan tenaga kerja untuk masing-masing UPI dapat dilihat pada Tabel 31.
Tabel 31. Jumlah tenaga kerja berdasarkan jenis UPI skala menengah di kabupaten Sukabumi.
No Jenis UPI Jumlah tenaga kerja
(orang)
1. Ikan asin 22
2. Pindang ikan besar 18
3. Pindang ikan kecil 15
4. Bakso ikan 24
5. Abon ikan 14
6. Kerupuk kulit ikan 8
Berdasarkan pada tabel di atas, dapat diketahui bahwa tingkat penyerapan jumlah tenaga kerja yang paling tinggi yaitu UPI bakso ikan sebanyak 24 orang.
Tingginya kebutuhan tenaga kerja pada UPI bakso ikan berbanding lurus dengan besarnya tingkat kapasitas produksi pada UPI bakso ikan. Besarnya tingkat penyerapan tenaga kerja pada UPI juga dapat disebabkan karena umumnya UPI di kabupaten Sukabumi didasarkan pada kegiatan kelompok usaha bersama. Oleh karena itu, pemerintah kabupaten Sukabumi dapat mentargetkan bahwa total tenaga kerja yang mampu diserap oleh UPI skala kecil menengah yaitu sebesar