• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERANAN DESA DAN BANJAR ADAT DALAM PROSES INTERGRASI KEBUDAYAAN DI BALI. Oleh : Drs. A.A Gde Aryana, M.Si.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PERANAN DESA DAN BANJAR ADAT DALAM PROSES INTERGRASI KEBUDAYAAN DI BALI. Oleh : Drs. A.A Gde Aryana, M.Si."

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

PERANAN DESA DAN BANJAR ADAT DALAM PROSES INTERGRASI KEBUDAYAAN

DI BALI

Oleh :

Drs. A.A Gde Aryana, M.Si.

PROGRAM STUDI ARKEOLOGI FAKULTAS SASTRA DAN BUDAYA

UNIVERSITAS UDAYANA DENPASAR

2016

(2)

PERANAN DESA DAN BANJAR ADAT DALAM PROSES INTERGRASI KEBUDAYAAN

DI BALI

1. Pendahuluan

Dalam pandangan orang Bali, konsep desa memiliki dua pengertian yaitu pertama, Desa sebagai satu kesatuan masyarakat hokum adat, yang mempunyai satu kesatuan tradisi, dan tata karma pergaulan hidup, masyarakat umat Hindu secara turun temurun dalam ikatan Khayangan Tiga (Khayangan Desa) yang mempunyai wilayah tertentu, dan harta kekayaan sendiri, serta berhak mengurus rumah tangga sendiri. Desa dalam pengertian ini disebut Desa Adat: dan kedua, Desa sebagai satu kesatuan wilayah administrasi dibawah kecamatan yang disebut Desa Dinas. (Wayan Griya, 1991: 4)

Secara Historis, Desa dalam pengertian Desa Adat berkembang lebih awal daripada Desa Dinas. Desa Adat di Bali diperkirakan lebih berawal pada jaman pra-Hindu, yaitu dari jaman periode sejarah Bali yang disebut zaman Bali asli. Digambarkan, bahwa cirri-ciri terpenting dari jaman ini adalah pola kehidupan secara komunal terwujud dalam satu kesatuan wilayah berupa Desa, dengan Karang Desa dan Krama Desa. Integrasi lazim dikonsepsikan sebagai suatu proses ketika kelompok-kelompok social dalam masyarakat saling menjaga keseimbangan untuk mewujudkan kedekatan hubungan-hubungan social dalam masyarakat saling menjaga keseimbangan untuk mewujudkan kedekatan hubungan- hubungan social, ekonomi, politik, dan pertahanan keamanan. Dalam hal ini kelompok- kelompok social tersebut dapat terwujud diantaranya atas dasar Agama.

2. Peranan Desa Adat dalam Proses Intergrasi Kebudayaan

Sebagai organisasi social yang Inheren dalam system kehidupan masyarakat di Bali, Desa Adat mempunyai atau memiliki peranan dalam kaitannya dengan kehidupan masyarakat Bali. Peran-peran yang dapat dimainkan oleh keberadaan Desa Adat, diantaranya: berhubungan dengan sub system ekonomi, sub sistem sosial, dan sub sistem upacara agama dan adat.

(3)

a. Peranan Desa Adat dalam Sub Sistem Ekonomi

Peranan Desa pada sub sistem ekonomi masyarakat, memperlihatkaan variasi yang berbeda pada dua desa adat yang dicermati. Jika sub sistem ekonomi dari Desa Adat diartikan sebagai pemenuhan kebutuhan ekonomi para anggota atau warga Desa Adat, dapat atau diatur melalui organisasi sosial Desa Adat, serta segala pemenuhan kebutuhan hidup diharapkan dapat dicapai dengan bantuan Desa Adat, maka pengertian fungsi ekonomi Desa Adat akan mempunyai pengertian yang berbeda namun sebagai suatu sub sistem yang terintregasi dengan sub sistem lainnya dalam wujud suatu kebudayaan, sub sistem ekonomi ternyata juga dapat menghidupkan suatu sistem kebudayaan. Sebab, ia dapat memberikan cirri yang khas bagi masyarakat desa itu sendiri sebagai wujud suatu sistem sosial. Pada beberapa desa adat yang terdapat di wilayah kecamatan Melaya sebagai Desa Adat yang dicermati memperlihatkan suatu cirri yang khas bahwa sistem ekonomi masyarakat tidak diatur oleh desa secara tradisional. Di Desa Adat, terdapat suatu sistem aturan yang disebut dengan Awig-awig Desa. Sistem itu secara adat mengatur para anggota masyarakat desa dalam mendapatkan distribusi dari hasil pendapatan tanah desa. Sistem ekonomi yang berkembang adalah sistem swadaya. Dalam sistem ini, masyarakat atau individu berusaha sendiri untuk mendapatkan kebutuhan hidup sehari-hari dengan mengembangkan berbagai sub sistem mata pencaharian seperti : bertani, buruh tani, berdagang dan sebagainya. Berkaitan dengan hal ini dua orang responden dari Desa, profesi dan agama yang berbeda menuturkan bahwa walaupun berbeda tetapi dapat dikatakan bahwa sistem ekonomi desa mempunyai peranan penting dalam proses interaksi budaya. Sebab satu individu masyarakat melakukan suatu tindakan yang melibatkan individu dari kelompok agama lain dan pihak yang menerima akibat dari tindakan itu memberikan reaksi atau respon baik positif maupun negatif. Akumulasi dari respon-respon yang positif dapat mendorong tercapainya intergrasi budaya.

b. Peranan Desa Adat dalam Sub sistem Sosial

Dalam wujudnya sebagai organisasi sosial lazimnya desa adat memperlihatkan fungsi sosial yang lebih menonjol dari fungsi yang lainnya pada beberapa desa yang dicermati fungsi sosial tersebut memperlihatkan beberapa variasi.

Di Desa Melaya, sebagai Desa yang berada pada keadaan transisi, dengan sistem

(4)

aturan yang berlaku masih demikian ketat, juga bersamaan penyesuaian kearah situasi yang lebih modern sesuai dengan tuntutan lingkungan sedang diusahakan, variasi tentang sistem sosial desa bagi para anggotanya memperlihatkan keadaan seperti yang dijelaskan oleh beberapa anggota masyarakat desa. Dari beberapa masyarakat yang lainnya diperoleh penjelasan dalam hubungan dengan kegiatan di desa umumnya para warga desa merasakan bahwa kegiatan tersebut menjadi kewajiban setiap warga untuk melaksankannya. Kegiatan-kegiatan yang ada diantaranya berupa kegiatan kerja bakti pembersihan lingkungan, pembangunan Balai Desa, atau pengerahan tenaga lainnya. Disamping itu, dari hasil pengamatan di lapangan dikedua desa yang diamati heteroginitas dan etnis dan agama yang ada di lingkungan desa itu sendiri tidak memungkinkan bagi para warganya untuk mengharapkan sumbangan tenaga dalam bentuk tolong menolong. Hal itu, disebabkan oleh perbedaan etnis dan agama para warga desa. Perbedaan etnis dan agama itu menyebabkan tidak semua warga desa dapat mengerti atau memahami adat dan tata cara yang berlaku pada etnis dan agama lain.

Dengan demikian, fungsi sosial dari desa hanya berarti saling meringankan beban atau tolong menolong dalam kegiatan yang ada hubungannya dengan kegiatan desa, seperti kerja bakti dan pembangunan Balai Desa. Sebagai organisasi sosial, desa adat memiliki peranan dalam mewadahi kepentingan anggota masyarakat dalam kegiatan saling bantu membantu diantara para warga Desa. Disamping itu, dengan organisasi banjarnya, warga Desa Adat dapat menciptakan suatu bentuk kegiatan tolong menolong atau hubungan antara tetangga yang bersifat khas. Berkaitan dengan hal ini hakekat hubungan agama adalah hubungan individu-individu yang berasal dari agama yang berbeda.hubungan individu yang berlangsung dalam jumlah yang banyak dan berlangsung dalam waktu yang lama memberikan nuansa terhadap hubungan antara agama secara keseluruhan terwujud dalam Desa Adat dan Banjar. Hal itu, terlihat dalam pernyataan para responden yang menyatakan bahwa dengan menjadi anggota Desa Adat, mereka mendapatkan rasa aman, dapat menolong atau memberikan bantuan, kepada sesama anggota desa, serta merasa sudah memenuhi kewajiban dalam hidup. Variasi yang terjadi di kedua desa yang dicermati adalah

(5)

pada desa yang memiliki aturan adat yang kuat, maka fungsi sosial desa tidak tampak.

Sebab, semua ketentuan sudah diatur oleh aturan desa adat.

c. Peranan Desa Adat dalam Sub-sistem Upacara Agama dan Adat

Dari kedua desa sampel dapat dilihat bahwa aspek kehidupan agama dan adat menghidupkan sistem desa secara keseluruhan. Hal mana memperhatikan adanya keterkaitan antara kehidupan beragama dari para anggota pada sistem Desa Adat.

Sebaliknya, sebagai organisasi sosial, Desa Adat dapat mengaktifkan kegiatan masyarakat dalam pelaksanaan tata upacara keagamaan dan tata upacara adat. Variasi yang ditunjukan oleh kedua desa sampel, untuk fungsi kegiatan upacara keagamaan dan adat. Berkaitan dengan peranan desa adat dalam Sub-sistem upacara agama, iteraksi yang terjadi, seperti dijelaskan bapak A.A Ngurah Windia, seorang mantan kepala Desa Ekasari. Penjelasan yang disampaikan oleh responden tersebut, menunjukan bahwa dalam tuntunan maisng-masing agama mengajarkan kewajiban menjaga keselamatan dan keamanan wilayah. Kemungkinan, diluar Bali, ajaran tersebut dilaksanakan secara sendiri-sendiri. Namun, yang ada di Bali, khususnya di Desa Ekasari, berdoa tersebut dapat dilaksanakan secara bersama-sama. Pelaksanaan kegiatan berdoa secara bersama-sama tersebut semua agama bersikap menerima.

Dalam perjalanan proses waktu yang panjang, ketika semua masyarakat di Desa Ekasari senantiasa menjalankan upacara yang sama secara berulang, diikuti dengan sikap rasa memiliki semakin mempribadi, upacara tersebut menjadi mentradisi untuk semua masyarakat dari semua pemeluk agama yang ada.

Peristiwa tersebut, merupakan proses terjadinya intergrasi budaya, yang disadarkan pada sikap penerimaan terhadap tradisi tertentu, khususnya oleh masyarakat Bali yang beragama selain hindu. Intergrasi yang dimaksud, terjadi akibat terjadinya kontak, komunikasi, dan interaksi dalam perwujudan perbuatan berdoa yang dilakukan di satu tempat secara bersama-sama oleh semua pemeluk agama yang ada.

3. Peranan Banjar bagi Masyarakat Bali

Banjar sebagai suatu organisasi tradisional, pada hakekatnya merupakan satu kesatuan keamanan, satu kesatuan politik, satu kesatuan ekonomi dan satu kesatuan kebudayaan. Untuk menjaga dan memelihara keutuhan kesatuan tersebut, pada masing-

(6)

masing banjar baik yang ada di lingkungan Desa Melaya maupun di Desa Ekasari, umumnya memiliki sistem aturan yang disebut dengan Awig-awig Banjar.

a. Peranan Banjar sebagai Satu Kesatuan Keamanan

Dalam menjaga keamanan dan ketentraman lingkungan banjar-banjar di desa melaya maupun di desa ekasari, setiap warga banjar yang kedatangan tamu dari tempat lain, dan menginap lebih dari 24 jam, diwajibkan melapor kepada kelihan banjar. Hal ini diatur atau termuat dalam awig-awig banjar. Setiap balai banjar dikedua desa ini memiliki balai kukul(kentongan) yang berfungsi sebagai alat komunikasi antar warga banjar, dan lebih luas lagi antar banjar dengan banjar lainnya pada waktu-waktu tertentu atau kejadian-kejadian tertentu.

Dengan mendengar suara kukul,warga banjar akan mengetahui adanya suatu kegiatan atau kejadian tertentu. Hal ini ditentukan dari nada suara kukul. Seperti dicontohkan oleh seorang bendesa adat desa ekasari, dan diperjelas lagi oleh seorang kelihan banjar Palarejo tentang kode atau isyarat suara kukul tersebut. Keduanya menjelaskan bahwa, jika pada salah satu banjardiperdengarkan suara kukul bulus, mengisyaratkan adanya permintaan pertolongan segera dan nada-nada suara kukul bulus memiliki kode isyarat tertentu. Dengan nada kukul bulus, menandakan adanya kebakaran, kecurian, perkelahian. Dan jika pada salah satu banjar diperdengarkan suara nada kukul bulus keempat isyarat tersebut harus diteruskan oleh banjar yang lainnya, selanjutnya oleh banjar-banjar yang terdapat di seluruh desa. Dengan demikian, seluruh desa akan memberikan pertolongan seesuai dengan isysrat yang diberikan oleh nada suara kukul tersebut.

Nada-nada suara kukul yang member isyarat tentang terjadinya kelahiran, reaksi masyarakat akan menanyakan: siapa yang melahirkan?; mengisyaratkan terjadinya perkawinan dari perempuan atau kehilangan warga banjar, reaksi masyarakat akan mempertanyakan siapa yang kawin? ; nada kukul yang mengisyaratkan adanya kematian reaksi masyarakat, bersiap-siap untuk ngayahin banjar ( bekerja untuk membantu keluarga yang sedang ada kematian), yang sekaligus mengundang warga banjar baik laki maupun perempuan. Suara kukul yang berirama tertentu memberikan isyarat pelaksanaan suatu kegiatan yang telah direncanakan dan di koordinir oleh pengurus banjar. Semua

(7)

nada isyarat kukul tersebut sudah dimengerti oleh seluruh masyarakat warga banjar di seluruh desa.

Berdasarkan hal tersebut diatas, suara kukul tidak saja berfungsi sebagai isyarat yang berhubungan dengan keamanan, melainkan juga memiliki fungsi komunikasi yang sangat efektif bagi warga banjar. Suara kukul memegang peranan penting dalam proses hubungan antar warga banjar yang didalamnya terhimpun berbagai macam kelompok masyarakat. Yang dalam hal ini banjar mempunyai berbagai macam peranan untuk mengubah masyarakatnya karena komunikasi di banjar bersifat langsung antar komunikator dengan komunikan, karena berlakunya dua arah mengakibatkan terjadinya interaksi. Dengan terjadinya interaksi budaya akan dapat mendorong terjadinya integrasi budaya.

b. Peranan banjar sebagai satu kesatuan politik

Sebagai satu kesatuan politik, Banjat sebagai organisasi social, memiliki aturan- aturan yang dikenakan kepada warganya, yang berkaitan dengan hak dan kewajiban. Berdasarkan hasil wawancara terhadap 2 orang Kelihan Banjar di desa Melaya dan 2 orang Kelihan Banjar di desa Ekasari, diperoleh penjelasan sebagai berikut:

“berkaitan dengan kewajiban seluruh warga Banjar wajib terlibat dalam kegiatan Banjar, yang menyangkut urusan suka duka, seperti: hajat perkawinan (disebut dengan istilah Suka), dan kematian (Duka). Sedangkan hak bagi warga Banjar meliputi: (a) mendapatkan pelayanan administrasi dan social lainnya; (b) boleh menggunakan balai Banjar dan perlengkapannya, (c) boleh meminjam uang Banjar, (d) mengeluarkan usul, pendapat, dan saran dan rapat, (e) mendapatkan perlindungan Banjar, (f) mempunyai hak untuk dipilih dan memilih menjadi pimpinan Banjar juga hak untuk memilih calon pempinan desa (kepala desa) pada tahapan awal yang dilakukan di tingkat Banjar.

Disamping itu, secara formal, Banjar memiliki kedudukan strategis, yaitu termasuk dalam struktur organisasi pemerintahan desa, yang memiliki posisi di bawah kepala urusan (Kaur). Atas posisi yang dimiliki tersebut, Banjar berfungsi sebagai kompenen pelaksana dari program desa (pemerintah). Bidang-bidang

(8)

yang menjadi garapan Banjar, diantaranya bidang kegiatan PKK dan pembinaan Seka teruna-teruni (pemuda-pemudi). Di desa Melaya dan desa Ekasari, pelaksanaan program PKK yang menjadi garapan Banjar diantaranya: Keluarga Berencana system Banjar, mencegah pemuda-pemudi untuk melakukan

“hubungan dewasa” diluar nikah dan program-program pemerintah lainnya.

c. Peranan banjar sebagai satu kesatuan ekonomi

Dalam pengumpulan data yang dipakai untuk analisi penelitian ini, telah dilakukan wawancara berstruktur terhadapa 8 orang responden, yang dikelompokkan sebagai tokoh masyarakat. Hasilw awancara tersebut, dapat diikuti dari peristiwa berikut ini.

Dalam usaha tani di desa Ekasari yang sebagian besar masyrakatnya petani, tidak semuanya memiliki lahan pertanian sendiri. Lahan pertanian yangada, umumnya dimiliki oleh sebagian oranf yang memiliki kemampuan.

Pekerjaan pertanian, lazimnya tidak bias dilakukan oleh pemilik lahan semata.

Para pemilik laha, dalam menyelesaikan perkejaan pertaninannya, menggunakan jasa para petani penggarap dari luar Banjarnya, dengan system Nandu Pada (pembagian hasil 50%;50%). Kemajuan teknologi pertanian, membuat mata rantai pekerjaan pertanian melahirkan kompenen lainnya, yaitu pemilik alat-alat pertanian, seperti traktor, Munculnya pemilik alat-alat pertanian tersebut, semakin menguatkan terjadinya desakan terhadap system gotong royong yang sebelumnya ada dan mewarnai dalam proses pekerjaan pertanian itu. Hal iytu dapat dipahami, mengingat pemakaian traktor memerlukan biaya (coast) tersendiri yang harus diperhitungkan sebagai factor penguluaran dam pembiayaan perkejaan pertanian.

Kenyataan di atas, menunjukkan terjadinya integrase dalam system pembagian keuntungan, dalam proses penggarapan pekerjaan pertanian. Semula, system pertanian tradisional yang dilakukan dengan menggunakan alat-alat tradisional, umumnya alat-alat yang digunakan dimiliki oleh semua petani.

Kepemilikan alat tersebut, merupakan pengurangan biaya yang harus dikeluarkan untuk kepentingan penyewaan alat. Dengan kedekatan dan kehangatan hubungan yang terdapat dalam kehidupan antar warga masyarakat, penggarapan pekerjaan pertanian tidak mengenal system upah. Sebagai imbalan jasa yang mereka berikan

(9)

sebagai petani penggarap mereka akan mendapat kebutuhan makan. Keadaan itu, kini berubah. Teknologi pertanian dengan menggunakan alat traktor, memerlukan biaya tersendiri. Bagi petani penggarap, ia harus menyisihkan sejumlah biaya untuk kepentingan sewa traktor. Atas kebutuhan sewa tersebut, para petani penggarap tidak lagi bias sekedar menerima kebutuhan makan dari pekerjaannya, tetapi mereka lebih memerlukan biaya (uang) yang diperlukan untuk sewa traktor.

Dari keadaan yang demikian, para petani penggarap, menuntut “upah”, yang selanjutnya diberlakukan system NanduPada, seperti dijelaskan diatas. Dalam konteks peristiwa diatas, Banjar bersikap menerima. Sikap penerimaan yang ditunjukkan oleh banjar, sama artinya dengan pembenaran perilaku yang dilakukan oleh masyarakatnya. Dan keadaan yang demikian menjadi pedoman bagi kehidupan masyarakat warga banjar, khususnya di dalam hal melakukan pekerjaan pertanian.

d. Peranan banjar sebagai satu kesatuan kebudayaan

Secara riil, banjar mempunyai tugas yang beranekaragam, yang direalisir dan di-koordinasikan oleh Keliahan Banjar. Dalam melaksanakan tugasnya, Kelihan Banjar berpedoman pada awig-awig Banjar, dan hasil keputusan- keputusan rapat Banjar. Berkaitan dengan hal itu, hasil wawancara di desa Melaya dan desa Ekasari, tentang tugas Banjar dijelaskan sebagai berikut: (a). melayani urusan administrasi; (b). menangani urusan yang berhubungan dengan perkawinan ataupun perceraian; (c). memberikan pertolongan secara tiba-tiba pada waktu musibah kebakaran, perkelahian, pencurian, dan lain-lain; (d). ikut serta dalam upacara adat; (e). ikut memelihara bangunan-bangunan di Banjar dan di desa; (f). ikut serta dalam memelihara dan menjaga keamanan di Banjar maupun di desa; dan (g). mengayomi dan memberikan perlindungan kepada segenap warganya.

Masyarakat yang berada di beberapa Banjar di desa Melaya dan desa Ekasari yang berbentuk komuniti kecil, tampak adanya rasa saling tolong- menolong yang tebal. Seluruh kehidupan masyarakat di kedua desa itu, tampak didasarkan pada rasa yang terkandung dalam jiwa para warganya. Sebagai masyarakat yang hidup dalam suatu Banjar, dan lebih luas lagi pada lingkungan

(10)

desa adat, mereka merasa tidak bias lepas dari hubungan-hubungan dengan sesame warga Banjar atau warga desa, walaupun dalam posisi berbeda agama.

Dalam hal ini terjalin hubungan timbal balik, yaitu kewajiban memberikan itu akan menimbulkan kewajiban mendapatkan.

Pemberian bantuan warga Banjar di desa Melaya maupun desa Ekasari bersifat spontanitas. Hal itu didasaroi oleh suatu keyakinan bahwa apabila mereka pernak membantu, maka ketika memerlukan bantuan, mereka yakin akan memperoleh bantuan dari para tentangga atau kerabat lainnya. Secara trandisi, di kedua desa ini memberikan bantuan disebut Nuopin (membantu tanpa pamrih) dan yang dibantu disebut Kedeolasan (diminta pertolongan). Dalam aktivitas sekitar rumah tangga, tradisi tubuh subur, berlaku tanpa dipisahkan oleh agama, golongan maupun suku, sebatas norma-norma yang esensial tidak dilanggar dan atau dipaksaakan. Proses saling membantu tersebut, ketikan dilakukan dengan sesame agama, tidak lagi didasari unsur rasa, melainkan lebih disikapi sebagai suatu kewajiban yang harus dilakukan.

Banjar sebagai wadah sosila, menghimpun seluruh warga Banhar yang beragam, baik suku maupun agamanya, melalaui pembinaan yang mengarahkan pada terciptannya rasa keyakinan bahwa dari eprbuatan menolong itu akan menghasilkan pertolongan. Keyakinan tersebut, tidak diberlakukan pada salah satu pihak, melainkan pada seluruh warga banjar. Keyakinan yang menananmkan rasa solidaritas tersebut, pada gilirannya dimiliki oleh seluruh warga Banhar. Atas dasar itu, seluruh warga Banajar dalam beraktifitas social, yang semula tampaj asih memegang “adat” yang dimilikinya, mejadi lebur, dengan menerepkan keyakinan yang dikembangkan oleh Banjar guna melaksanakan aktifitas sosialnya. Peleburan “adat” yang dimiliki semula menjadi kebiasaan yang dikondisikan oleh Banjar berupa keyakinan siapa yang memeberi dan menerima, mengindikasikan terkadinya integrase budaya. Intergrasi yang terjadi antara budaya yang dimiliki oleh warga terutama yang berlainan agama dengan budaya yanga da dan dikembangkan melalui Banjar.

Banjar sebagai sub komunitas desa adat, memiliki peranan sangat besar.

Banjar merupakan wadah pelaksana dari bermacam-macam kegiatan komnubitas

(11)

baik yang ebraspek ekonomi, masyarakat, agama maupun pemerintan, pranata gotong royong terwujud dan terbina dalam organisasi Banjar.

Pada hakekatnya, pandangan hidup masyarakat di desa sampe ini mempunya perbedaan satu sama lainnya. Perbedaan yang ada, banyak diperngaruhi oleh fakti kebudayaan masing-masing dan factor agama yang mereka anut. Dengan makin berkembanganya orientasi kehidupan masyarakat Bali, yang mendukung kebudayaan Bali khususunya dan kebudayaan nasioanl umumnya, gerak social dinatara mereka semakin dekat satu sama lainnya. Semakin berkembang di kalangan mereka, suatu kesadaran bahwa mereka sama-sama warga dari satu masyarakat negara dengan memiliki hak dan kewajiban yang sama sebagai warga negara. Kesadaran itu, sangat mempengaruhi pila pandang dan skipa mereka untuk hidup bersama atas dasar kesatuan dalam lingkungan keidupan masyarakat Bali, kesadaran yang menjadi faktoe pendorong proses pemauran antar anggota masyarakat itu, termenifestasikan dalam berbagai kegiatan social maupun individual, baik yang tradisiona, seperti: perkawinan dan kematian, maupun kegiatan yang bersifat modern, seperti: olahraga, arisan dan kegiatan PKK.

Dari hasil pengamatan pada beberapa Bnajar dikedia desa sampel, terligat bahwa seluruh warga, apapun agamanya dan asal etnisnya, ternasuk etnis Cina, semuanya ikut sebagai anggota Banjar. Sebagai anggita Banjar, emreka mimiliki hand an kewajiban yang sama dengan Bajar setempat (asli masyarakat Bali).

e.

4.

Referensi

Dokumen terkait

Rencana Aksi Indikator Kinerja SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA UTAMA TARGET 2016 RENCANA AKSI TW I TW II TW III TW IV Tersediany a data sains antariksa dan

Hasil verifikasi terhadap kepemilikan Dokumen Lingkungan yang telah disahkan sesuai peraturan yang berlaku pada PT Kedap Sayaag dapat disampaikan bahwa pada

Foth (1995) mendefisinisikan kesuburan tanah sebaga i kualitas yang memungkinkan suatu tanah untuk menyediakan unsur -unsur hara yang memadai baik dalam jumlah maupun imbangannya

dan semua cahaya akan menjadi gelap di samping cahaya keindahan yang gilang gemilang (Harun Nasution, 1983: 75-76). Dari beberapa definisi tersebut dapat diketahui bahwa ma’rifah

Desa Manikliyu memiliki lembaga pemerintahan dinas dan adat. Secara administratif Desa Manikliyu merupakan desa adat sekaligus desa dinas yang terdiri dari dua banjar

Jonas Bangun, Sp.Rad dr.. Jonas

Nilai yang tidak sebanding ini dikarenakan query view 1 desa dan view 1 peserta pada model 2 memiliki response time yang jauh lebih tinggi daripada model 1 karena perbedaan

Bagian dari internal supply chain meliputi semua proses pemasukan barang ke gudang yang digunakan dalam mentransformasikan masukan dari para penyalur ke dalam keluaran