BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Islam sebagai agama yang universal dan eternal memberikan pedoman hidup (way of life) bagi manusia menuju kebahagiaan hidup lahir dan batin, serta dunia dan akhirat.1 Kebahagiaan hidup manusia itulah yang menjadi sasaran hidup manusia yang pencapaiannya sangat bergantung pada masalah pendidikan. Selain itu, pendidikan merupakan kunci untuk membuka pintu ke arah modernisasi. Maka modernisasi hanya bisa dicapai melalui pem-berdayaan pendidikan. Dengan demikian, modernisasi juga menjadi tujuan ajaran Islam.2 Akan tetapi modernisasi yang menjadi tujuan Islam itu harus sesuai dengan tolok ukur ajarannya. Untuk itu, dalam rangka menuju tujuan tersebut, agama samawi ini telah memiliki konsepnya, khususnya masalah pendidikan.3
Perhatian dan pemikiran terhadap masalah pendidikan selalu muncul sepanjang zaman karena pendidikan pada hakikatnya adalah -- meminjam bahasanya John Dewey -- a necessity of life (kebutuhan dasar hidup umat manusia).4 Sehingga pendidikan merupakan conditio sine qua non dalam kehidupan manusia. Hal tersebut semakin dirasakan urgent dan kemestiannya pada saat muncul berbagai masalah dalam kehidupan manusia yang
1
Nazaruddin Razak, Dienul Islam, (Bandung: Alma’arif, 1973), hlm. 9. 2
Mustofa Rahman, “Pendidikan Islam dalam Perspektif al-Qur’an”, dalam Ismail SM, Nurul Huda, dan Abdul Khaliq (eds.), Paradigma Pendidikan Islam, (Semarang: Pustaka Pelajar, 2001), hlm. 56-57.
3
Dalam khazanah pendidikan Islam terdapat sejumlah istilah yang merujuk langsung pada pengertian pendidikan dan pengajaran seperti at-tarbiyah, al-ta’lim, al-ta’dib, al-tahdzib, al-tadris, dan al-tabyin. Di antara keenam istilah tersebut hanya ketiga istilah pertama yang sering dipakai untuk merujuk langsung pengertian pendidikan dan pengajaran. Untuk ketiga istilah (al-tarbiyah,
al-ta’lim, dan al-ta’dib) tersebut para pemikir pendidikan Islam ikhtilaf dalam menentukan konsep
atau istilah yang tepat untuk merujuk pada pengertian pendidikan dan pengajaran dalam Islam. Lihat Maksum, Madrasah dan Perkembangannya, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999), hlm. 11.
4
John Dewey, Democracy and Education, (New York: The Free Press Macmillan, 1966), hlm. 1.
menyangkut peningkatan kesejahteraan dan kebahagiaan mereka. Begitu urgennya pendidikan, Munir Mulkhan mengatakan secara ekstrim bahwa nasib suatu bangsa dan peradaban di masa depan terlihat dan tergantung dari bagaimana bangsa itu memperhatikan dan mengembangkan pendidikan bagi generasi dan anak-anak bangsa. Sebuah bangsa dan peradaban adalah produk pendidikan, kegagalan suatu bangsa dan hancurnya sebuah peradaban adalah kegagalan dunia pendidikan.5
Persoalan pendidikan pada hakikatnya merupakan persoalan yang berhubungan langsung dengan kehidupan manusia dan mengalami perubahan serta perkembangan sesuai dengan kehidupan tersebut, baik secara teori maupun konsep operasionalnya. Problem-problem yang dihadapi oleh manusia sering dicari pemecahannya dalam dunia pendidikan. Dalam hal ini, mungkin orang akan mempertanyakan konsep filosofis yang melandasi sistem pendidikan yang sedang dilaksanakan atau mungkin juga konsep-konsep operasionalnya ditinjau dan dikritik serta diperbaharui agar tetap relevan dan up to date dengan tuntutan perubahan dan perkembangan kehidupan manusia (shahih li kulli zaman wa makan).6
Dewasa ini, karena memang manusia sedang menghadapi perubahan yang begitu cepat yang timbul sebagai ekses atau dampak dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, dikursus-diskursus dan kajian-kajian mengenai konsep pendidikan menjadi tetap menarik dan bahkan, tidak dapat dihindarkan. Apalagi jika hal tersebut didasarkan pada asumsi bahwa segala problem itu berpangkal dari suatu penerapan konsep pendidikan yang merangsang serta mendorong progresivitas ilmu pengetahuan dan teknologi yang tidak terkendali.
5
Abdul Munir Mulkhan, Nalar Spiritual Pendidikan: Solusi Problem Filosofis
Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2002), hlm. 159.
6
Munzir Hitami, Mengonsep Kembali Pendidikan Islam, (Riau: Infinite Press, 2004), hlm. 1.
Di kalangan dunia Islam juga muncul berbagai isu tentang krisis pendidikan serta problem7 lainnya yang dengan sangat mendesak menuntut suatu pemecahan berupa terwujudnya suatu sistem pendidikan yang didasar-kan atas konsep Islam. Dalam hal ini banyak tokoh-tokoh pendidididasar-kan Muslim telah berusaha menyusun suatu konsep pendidikan yang menurut keyakinan mereka sudah dapat dikatakan relevan dengan tuntutan umat manusia dan perkembangan masa kini.
Adalah Syed M. Naquib al-Attas seorang pemikir pendidikan yang concern terhadap pendidikan. Dalam karya monumentalnya “The Concept of Education In Islam: A Framework for an Islamic Philosophy of Education”, dan dalam Konferensi Dunia Pertama dan Kedua tentang Pendidikan Islam di Mekkah dan Islamabad, al-Attas mencetuskan dan menawarkan bahwa konsep atau istilah yang tepat, benar, dan relevan untuk pendidikan adalah konsep ta’dib, bukan ta’lim, tarbiyah, ataupun konsep yang lainnya. Karena, menurut al-Attas, konsep tarbiyah hanya menekankan atau menyinggung aspek fisikal dan emosional manusia (karena proses tarbiyah ini berlaku tidak hanya untuk manusia an sich, tetapi berlaku untuk hewan dan tumbuh-tumbuhan, oleh karena itu konsep tarbiyah kurang tepat untuk istilah pendidikan bagi manusia).8 Sedangkan konsep ta’lim secara umum hanya menekankan pada transfer of knowledge (aspek kognitif) dan pengajaran. Agar proses pendidikan berjalan secara komprehensif -- yakni mencakup ranah kognitif, psikomotorik dan ranah afektif, maka al-Attas menawarkan konsep ta’dib bagi
7
Menurut Abdul Wahid, problem utama yang mewarnai atmosfer dunia pendidikan Islam pada umumnya dapat diklasifikasikan dalam lima hal, yakni: (1) dichotomi ilmu pengetahuan, (2)
too general knowledge – no problem solving, (3) lack of spirit of inquiry, (4) memorization, dan
(5) certificate oriented. Lihat Abdul Wahid, “Pendidikan Islam Kontemporer: Problem Utama, Tantangan, dan Prospek”, dalam Ismail SM, Nurul Huda, dan Abdul Khaliq (eds.), Paradigma
Pendidikan Islam, (Semarang: Pustaka Pelajar, 2001), hlm. 279-286.
8
Syed M. Naquib al-Attas, The Concept of Education in Islam: A Framework for an
Islamic Philosophy of Education, (Malaysia: ABIM, 1980), hlm. 29-31. Lihat juga foot note no.
107 dalam Syed M. Naquib al-Attas, Islam and Sekularism, terj. Karsidjo Djojosuwarno, (Bandung: Pustaka, 1981), hlm. 279-280.
proses pendidikan, karena konsep ini sudah mencakup konsep ta’lim dan tarbiyah sekaligus.9
Menurut al-Attas, pendidikan adalah penyemaian dan internalisasi (penanaman) adab dalam diri seseorang, oleh karena itu proses pendidikan disebut dengan ta’dib.10 Pendapat ini dijustifikasi dari hadits yang berbunyi:11
ﱯﻳﺩﺄﺗ ﻦﺴﺣﺄﻓ ﰊﺭ ﲏﺑﺩﺃ
“Tuhanku telah mendidikku, maka Ia menjadikan pendidikanku dengan sebaik-baiknya pendidikan”
Addabani dalam konteks hadits tersebut berarti atau mengandung pendidikan akhlak. De fakto, bahwasanya pendidikan Nabi Muhammad Saw. dijadikan Allah swt sebagai pendidikan yang terbaik didukung oleh al-Qur’an yang mengafirmasikan kedudukan Rasulullah yang akram (mulia), be loved role model (uswatun hasanah) yang baik. Hal ini kemudian dikonfirmasikan oleh hadits Nabi yang menyatakan bahwa misi kerasulannya adalah untuk memperbaiki atau menyempurnakan akhlak manusia.12 Seseorang yang paling sempurna imannya -- menurut Rasulullah saw -- adalah orang yang paling baik akhlaknya.13 Sedangkan menurut al-Attas orang yang terdidik atau terpelajar adalah orang baik (good man).14 “Baik” yang dimaksudkannya di sini adalah adab dalam pengertian komprehensif yakni yang meliputi
9Syed M. Naquib al-Attas, The Concept of Education in Islam, op.cit., hlm. 34. 10
Syed M. Naquib al-Attas, Aims and Objectives of Islamic Education, (Jeddah: King Abdulaziz University: 1979), hlm. 37. Lihat juga Syed M. Naquib al-Attas, The Concept of Education, Ibid., hlm. 13. Lihat juga Syed M. Naquib al-Attas, Islam and Sekularism, op.cit., hlm. 222.
11
Imam Jalaluddin Ibn Abi Bakr as-Suyuti, Jami’ ash-Shagir, (Beirut: Dar Kutub al-Ilmiyah, t.t.), hlm. 25.
12
al-Imam Ahmad Ibn Hambal, Musnad al-Imam Ahmad ibn Hanbal, Juz 2, (Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, t.t.), hlm. 504.
13
Al-Imam Jalaluddin as-Suyuti, op.cit., hlm. 88. 14
Konsep “Baik” yang dicetuskan oleh al-Attas kemudian diadopsi menjadi tujuan pendidikan Islam yang direkomendasikan pada waktu “The First World Conference on Muslim Education”, dengan redaksi tambahan “righteous man” (manusia yang benar). Lihat Niaz Erfan dan Zahid A (eds.), Recommendations of the Four World Conferences on Islamic Education:
Education and the Muslim World Challenge and Response, (Islamabad: Institute of Policy Studies
the Islamic Foundation), 1995, hlm. 12. Lihat juga Syed Ali Ashraf, New Horizons in Muslim
kehidupan spiritual dan material seseorang, yang berusaha menanamkan kualitas kebaikan yang diterimanya.15 Oleh karena itu, orang yang benar-benar terdidik dan terpelajar menurut perspektif Islam didefinisikan al-Attas sebagai orang yang beradab. Menurut al-Attas orang baik adalah:
Orang yang menyadari sepenuhnya tanggungjawab dirinya kepada Tuhan Yang Hak; yang memahami dan menunaikan keadilan terhadap dirinya sendiri dan orang lain dalam masyarakatnya; yang terus berupaya meningkatkan setiap aspek dalam dirinya menuju kesempurnaan sebagai manusia yang beradab.16
Mengenai adab (ta’dib), al-Attas mendefinisikan adab sebagai berikut: recognition and acknowledgement of the reality that knowledge and being are ordered hierarchically according to their various grades and degrees of rank, and of one’s proper place in relation to that reality and to one’s physical, intellectual and spiritual capacities and potentials 17
(Pengenalan dan pengakuan tentang realitas bahwa pengetahuan dan wujud bersifat teratur secara hirarkhis (maratib) sesuai dengan berbagai tingkatan dan derajat mereka dan tentang tempat seseorang yang tepat dalam hubungannya dengan hakikat itu serta dengan kapasitas dan potensi jasmaniah, intelektual, serta ruhaniah seseorang) Pengenalan (recognition) berarti menemukan tempat sehubungan dengan apa yang dikenalinya, dan pengakuan (acknowledgement) berarti tindakan yang bertalian dengan amal yang lahir sebagai akibat menemukan tempat yang tepat dari apa yang dikenalinya. Pengenalan saja tanpa pengakuan adalah kecongkakan karena hak pengakuanlah untuk diakui; pengakuan saja tanpa pengenalan hanyalah kejahilan semata, karena hak pengakuanlah untuk mewujudkan pengenalan. Adanya salah satu saja tanpa yang lain adalah batil, karena dalam Islam ilmu tidak berguna apa-apa tanpa amal yang menyertai bagitu pula amal tak berguna tanpa ilmu yang membimbingnya. Manusia yang
15
Syed M. Naquib al-Attas, Aims and Objectives, op.cit., hlm. 1. 16
Wan Mohd Nor Wan Daud, The Educational Philosophy and Practice of Syed
Muhammad Naquib al-Attaws, terj. Hamid Fahmy dkk., (Bandung: Mizan, 1998), hlm. 174.
17
adil adalah yang menjalankan adab dalam dirinya, sehingga menghasilkan manusia yang baik (good man).18
Bagi al-Attas, pendidikan dalam arti Islam adalah sesuatu yang khusus untuk manusia, maka pengenalan dan pengakuan mesti diterapkan pada manusia, lebih lanjut ia mengatakan: mengingat makna pengetahuan dan pendidikan hanya berkenaan dengan manusia an sich, maka pengenalan dan pengakuan tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan mesti paling utama diterapkan pada pengenalan dan pengakuan manusia itu sendiri tentang tempatnya yang tepat, yakni kedudukannya dan kondisinya dalam kehidupan sehubungan dengan dirinya, keluarganya, komunitas dan masyarakatnya, lingkungan dan alam sekitarnya, serta kepada disiplin pribadinya, di dalam mengaktualisasikan dalam dirinya pengenalan dengan pengakuan.19
Hal ini berarti bahwa manusia mesti mengetahui tempatnya di dalam tatanan kemanusiaan, dan ia harus memahaminya sebagai teratur secara hierarkhis dan sah ke dalam berbagai derajat keutamaan berdasarkan kriteria al-Qur’an tentang akal, ilmu, dan kebaikan, serta mesti bertindak sesuai dengan pengetahuan dengan cara yang positif dan terpuji. Pengenalan diri pribadi yang dipenuhi dalam pengakuan diri inilah yang didefinisikan di sini sebagai adab.20
Stressing pada adab yang mencakup amal dalam pendidikan dan proses pendidikan dimaksudkan untuk menjamin bahwa ilmu dipergunakan secara baik di dalam masyarakat. Karena alasan-alasan inilah orang-orang bijak, para cerdik cendekia dan para sarjana di antara orang-orang Islam terdahulu mampu mengkombinasikan ilmu, amal dan adab, dan menganggap kombinasi harmonis ketiganya sebagai pendidikan. Pendidikan dalam
18 Ibid., hlm. 23-24. 19 Ibid., hlm. 27. 20 Ibid.
kenyataannya adalah ta’dib, karena adab sebagaimana didefinisikan, telah mencakup ilmu dan amal sekaligus.21
Dari pemaparan di atas, konsep pendidikan yang digagas dan ditawarkan oleh al-Attas yakni ta’dib mempunyai relevansi yang signifikan dengan pendidikan akhlak, karena pendidikan akhlak itu sendiri inherent dengan ta’dib. Begitu siginifikannya konsep pendidikan yang ditawarkan oleh al-Attas sehingga -- menurut salah seorang murid utama dan sahabat al-Attas yakni Wan Mohd Nor Wan Daud -- beberapa tokoh pendidikan Barat menaruh harapan pada penggunaan beberapa kelebihan adab atau ta’dib sebagai konsep pendidikan terbaik yang dapat menolong memecahkan berbagai krisis yang terjadi pada pendidikan Barat modern.22
Dari starting point di atas, maka dalam penulisan skripsi, penulis sangat tertarik dan berminat untuk meneliti dan mengkaji konsep pendidikan dalam Islam menurut M. Naquib al-Attas dan bagaimana relevansi konsep tersebut dengan pendidikan akhlak.
B. Penegasan Istilah
Untuk menghindari misunderstanding dan misinterpretasi dalam memahami judul skripsi ini, maka penulis perlu kemukakan secara leksikal dari terma-terma yang dianggap perlu keterangannya, sehingga tidak terjadi kesalahan ataupun bias pemahaman (ambiguitas) dan supaya dapat dimengerti dan dipahami dengan jelas sesuai dengan apa yang dimaksudkan. Adapun yang dimaksud dengan judul: “Konsep Pendidikan dalam Islam Menurut Syed M. Naquib al-Attas dan Relevansinya dengan Pendidikan Akhlak” adalah sebagai berikut:
21
Syed M. Naquib al-Attas, The Concept of Education, op.cit., hlm. 25-26. 22
1. Konsep
Term konsep berasal dari Bahasa Inggris concept23 yang secara etimologi berarti ide, atau prinsip yang dihubungkan atau berhubungan dengan sesuatu24 atau dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai rancangan, buram surat, ide, atau pengertian.25 Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia konsep secara epistemologi diartikan sebagai sebuah ide atau pengertian yang diabstraksikan dari peristiwa konkret.26 2. Pendidikan
Pendidikan berasal dari kata didik, mendapat awalan pe- dan akhiran -an yang berarti perbuatan (hal, cara, dan sebagainya).27 Secara etimologi, pendidikan--menurut John Dewey berarti-- process of leading or bringing up.28
Pendidikan dalam arti luas berarti semua perbuatan dan usaha dari generasi tua untuk memberikan pengetahuannya, pengalamannya, kecakapannyan dan keterampilannya kepada generasi di bawahnya sebagai usaha untuk menyiapkan mereka agar dapat memenuhi fungsi hidupnya, baik jasmaniah maupun rohaninya.29
Sedangkan pendidikan menurut UU Sisdiknas adalah usaha secara sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
23
John M. Echols dan Hassan Shadily, Kamus Indonesia-Inggris, (Jakarta: Gramedia, 1992), Cet. 3, hlm. 306.
24
Concept, an idea or principle that is connected with something, lihat A.S. Hornby, Oxford Advanced Learner’s Dictionary, (Oxford University Press, 2000), hlm. 252.
25
Tim Pusbinsa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1994), hlm. 520.
26
Ibid.
27
W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta, Balai Pustaka, 1985), hlm. 250.
28
John Dewey, op.cit., hlm. 10. 29
Zuhairini, dkk., Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: Bumi Aksara, 1995), Cet. 2, hlm. 92. Lihat juga Soegarda Poerbawakatja dan H. Harahap, Ensiklopedi Pendidikan, (Jakarta: Gunung Agung, 1982), Cet. 3, hlm. 257.
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan, yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.30
3. Dalam
Dalam memiliki arti jauh masuk ke tengah (dari tepi), mengandung arti (maksud tertentu).31
4. Islam
Terma Islam berasal dari bahasa Arab, ia bentuk mashdar dari aslama yuslim islam yang secara bahasa berarti melepaskan dari segala penyakit lahir dan batin, kedamaian dan keamanan dan ketaatan serta kepatuhan. Secara istilah, Islam, menurut Ensiklopedi Islam adalah agama samawi yang diturunkan oleh Allah swt melalui utusan-Nya, Muhammad saw, yang ajaran-ajarannya terdapat dalam kitab suci al-Qur’an dan as-Sunnah dalam bentuk perintah-perintah, larangan-larangan dan petunjuk-petunjuk untuk kebaikan umat manusia baik di dunia maupun di akhirat.32 5. Syed M. Naquib al-Attas
Syed M. Naquib al-Attas nama lengkapnya adalah Syed Muhammad Naquib ibn Ali ibn Abdullah ibn Muhsin al-Attas. Beliau lahir pada 5 September 1931 di Bogor, Jawa Barat, Indonesia. Beliau telah menyampaikan lebih dari 400 karya ilmiah di negara-negara Eropa, Amerika, Jepang, Timur jauh, dan perbagai negara Islam lainnya. Sebagai penghargaan atas perbagai kontribusinya yang menyeluruh dalam pemikiran Islam kontemporer, pada tahun 1993, Dato’ Seri Anwar Ibrahim dalam kapasitasnya sebagai Presiden ISTAC dan Presiden Universitas Islam Malaysia Internasional (International Islamic University Malaysia) menunjuk al-Attas sebagai Pemegang Pertama Kursi Kehormatan Abu Hamid al-Ghazali dalam Studi Pemikiran Islam (Abu Hamid al-Ghazali
30
UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. 31
Tim Pusbinsa, Ibid. 32
Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam, Jilid 2, (Jakarta: Ichtiar Baru van Hoeve, 1997), Cet. 4, hlm. 246.
Chair of Islamic Thought) di ISTAC. Raja Hussein dari Yordania mengangkatnya sebagai Anggota Royal Academy of Jordan pada 1994, sedangkan Universitas Khartoum menganugerahi gelar doctor honoris (D. Litt.) di bidang seni kepadanya pada Juni 1995.33
6. Relevansi
Relevansi berarti keterkaitan.34 Di dalam skripsi ini, konsep pendidikan dalam Islam yang diformulasikan oleh Syed M. Naquib dikaitkan atau dihubungkan dengan pendidikan akhlak.
7. Pendidikan Akhlak
Terma akhlak berasal dari bahasa Arab, bentuk plural dari Khalqun yang menurut bahasa berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku, atau tabi’at.35 Definisi akhlak menurt Hujjat al-Islam Imam al-Ghazali dalam magnum opusnya “Ihya ‘Ulum al-Din” adalah “suatu sifat yang tertanam dalam jiwa, yang daripadanya timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah (spontan) tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan”.36
Sinonim akhlak dalam bahasa Indonesia diantaranya etika, moral, susila, sopan santun, tatakrama.
Pendidikan Akhlak adalah pendidikan mengenai dasar-dasar moral dan keutamaan budi pekerti, tabi’at yang harus dimiliki dan dijadikan kebiasaan-kebiasan yang baik sehingga menghasilkan perubahan terhadap perkembangan jasmani dan rohani yang dimanifestsikan dalam bentuk kenyataan hidup menuju terbentuknya kepribadian yang utama.
Pendidikan akhlak juga dapat diartikan sebagai suatu kegiatan yang didalamnya terdapat pembentukkan kepribadian seseorang yang pada
33
Wan Mohd Nor Wan Daud, op.cit., hlm. 45-54. 34
Tim Pusbinsa, op.cit., hlm. 830. 35
Ahmad Warson Munawwir, Kamus al-Munawwir Kamus Arab-Indonesia, (Yogyakarta: PP al-Munawwir, 1984), hlm. 393.
36
Imam Abi Hamid Muhammad ibn Muhammad al-Ghazali, Ihya ‘Ulum al-Din, Juz III, (Beirut, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, t.t.), hlm. 58.
akibatnya dapat menimbulkan perbuatan-perbuatan, tingkah laku, sikap dengan mudah melalui pengajaran, bimbingan, dan latihan.
C. Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah sebagaimana dikemukakan di atas, ada beberapa pokok masalah yang akan dicarikan jawabannya dalam penelitian ini, yaitu:
Pertama, bagaimana konsep pendidikan dalam Islam yang diformulasikan oleh Syed M. Naquib al-Attas?
Kedua, bagaimana relevansi konsep pendidikan dalam Islam yang diformulasikan oleh Syed M. Naquib al-Attas dengan pendidikan akhlak?
D. Alasan Pemilihan Judul
Merupakan suatu keharusan, apabila setiap orang dalam mengemukakan masalah ataupun pendapat memiliki alasan tertentu, sehubungan dengan hal ini yang mendorong penulis mengangkat judul ini adalah dengan alasan sebagai berikut:
Pertama, pendidikan Islam secara fundamental adalah bersumberkan dari al-Qur’an dengan keuniversalannya terbuka bagi setiap orang untuk mengintroduksi teori atau konsep baru darinya. Karena persoalan penting dalam pendidikan Islam adalah bagaimana mengaktualisasikan dan menerap-kan konsep-konsep al-Qur’an dalam teori pendidimenerap-kan secara holistik dan universal. Ini merupakan kewajiban bagi umat Islam untuk memikirkan kembali dan karena konsep dalam al-Qur’an bersifat terbuka untuk dipelajari, diinterpretasi, dan dipahami kandungannya
Kedua, pendidikaan akhlak termasuk satu tipikal pendidikan yang belum mendapat perhatian yang layak. Sebab, selama ini pendidikan kita lebih menekankan pada ranah kognitif dan psikomotorik daripada ranah afektif. Padahal, ranah afektif menempati posisi yang sangat urgen dan signifikan bagi
normalisasi kehidupan. Fenomena kenakalan remaja, dekadensi moral, penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan terlarang (drug addict), white collar crime menjadi bukti rendahnya nilai-nilai (akhlak/ moral) yang dimiliki oleh sebagian anggota masyarakat. Semua realitas di atas menunjukkan urgennya pendidikan akhlak
Ketiga, al-Attas manaruh minat yang besar dan intensif terhadap permasalahan pendidikan, ia telah melakukan terobosan baru dan merekonstruksi pemikiran pendidikan Islam dalam konteks dunia modern, dan hasil pemikirannya menjadi referensi bagi kalangan akademisi perguruan tinggi di Barat ataupun di negara-nagara Islam
E. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Dengan judul “Konsep Pendidikan dalam Islam Menurut Syed M. Naquib al-Attas dan Relevansinya dengan Pendidikan Akhlak”, penelitian ini mempunyai beberapa tujuan, yakni:
Pertama, untuk mengetahui konsep pendidikan dalam Islam yang diformulasikan oleh Syed M. Naquib al-Attas
Kedua, untuk mengetahui relevansi konsep pendidikan dalam Islam yang diformulasikan oleh Syed M. Naquib al-Attas dengan pendidikan akhlak
Sedangkan manfaat penelitian ini, disamping untuk menambah khasanah dan cakrawala pemikiran Islam, khususnya pemikiran pendidikan Islam kontemporer yang beraroma “kritis”, adalah untuk diapresiasikannya pemikiran al-Attas dengan segala kelebihan dan kekurangan, dan untuk selanjutnya dapat dijadikan sepercik masukan dan sumbangan bagi umat Islam dalam mengahadapi masa depan, terutama berkaitan dengan pendidkan Islam umumnya, dan pendidikan akhlak khususnya.
F. Telaah Pustaka
Tulisan yang mengkaji dan menelaah pemikiran tokoh pendidikan, khususnya pendidikan Islam telah banyak dilakukan oleh para peneliti. Tak
terkecuali kajian terhadap pemikiran Syed M. Naquib al-Attas bukan merupakan topik yang sama sekali baru.
Di antara peneliti yang mengkaji Syed M. Naquib al-Attas adalah Wan Mohd Nor Wan Daud dan Ismail SM. Ismail telah melakukan beberapa penelitian tentang pemikiran al-Attas tentang pendidikan Islam. Dalam preliminary research yang berjudul “Konsepsi Pendidikan Islam: Telaah Filosofis atas Pemikiran Pendidikan Prof. Dr. Syed M. Naquib al-Attas” dan “Paradigma Pendidikan Islam Prof. Dr. Syed M. Naquib al-Attas” (dalam Drs. Ruswan Thoyib, M.A. dan Drs. Darmu’in, M.Ag [ed.], Pemikiran Pendidikan Islam: Kajian Tokoh Klasik dan Modern, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999) dan dalam karya ilmiahnya yang berbentuk tesis yang berjudul “Konsep Pendidikan Islam: Studi Pemikiran Pendidikan Syed M. Naquib al-Attas” dan karya seorang murid utama dan teman al-Attas sendiri yaitu Wan Mohd Nor Wan Daud yang bertitel “The Educational Philosophy and Practice of Syed Muhammad Naquib al-Attaws, terj. Hamid Fahmy dkk., yang diterbitkan oleh Mizan. Di anatara kedua peneliti tersebut di atas tidak ada yang membahas konsep pendidikan Islam yang diformulasikan oleh al-attas dan bagaimana relevansi dan implikasinya terhadap pendidikan akhlak. Karena—sekali lagi— konsep pendidikan yang ditawarkan oleh al-Attas yakni ta’dib sangat relevan dengan pendidikan akhlak, karena pendidikan akhlak itu sendiri inherent dengan konsep ta’dib yang diformulasikan oleh al-Attas.
Sebagai post research, diharapkan studi pemikiran pendidikan dalam Islam menurut Syed M. Naquib al-Attas dalam bentuk skripsi ini akan lebih mendalam, intensif, dan memiliki signifikansi akademis yang lebih, baik dari segi content maupun metodologi.
G. Metodologi Penelitian
Penelitian ini bersifat library research (penelitian kepustakaan),37 karena itu data-data yang akan dihimpun merupakan data-data kepustakaan yang representatif dan relevan dengan obyek penelitian ini. Sumber data perlu dibedakan: sumber data primer, meliputi karya yang ditulis oleh al-Attas38 seperti The Concept of Education in Islam: A Framework for an Islamic Philosophy of Education dan Aims and Objectives of Islamic Education. Sumber data sekunder, karya al-Attas yang ditulis oleh orang lain dan sumber data pendukung yaitu karya-karya lain yang relevan dengan penelitian ini.
Berkaitan dengan sumber data yang ditulis oleh orang lain perlu penelitian lebih lanjut. Yaitu perlu pembedaan opini, interpretasi atau beberapa pikiran subyek-spekulatif.39 Pembedaan ini dapat dilakukan melalui “metode kritik”, sehingga dapat diketahui mana aspek biografis, geografis, kronologis dan fungsional.
Penulis akan menghimpun data-data meliputi: situasi sosio-politik. Cara ini sebagai instrumen untuk mengkonstruksi secara komprehensif biografinya, kemudian juga elemen-elemen yang mempengaruhi pemikiran al-Attas, data tentang corak pemikirannya, terutama tentang pendidikan. Namun demikian penulis tidak akan terpaku secara normatif terhadap gagasan al-Attas, sebab sebuah penelitian yang mendalam terhadap suatu gagasan, sudah barang tentu tidak sukup hanya dilihat secara normatif sebagai kajian ontologis,40 mengingat al-Attas adalah produk sejarah atau anak zamannya, oleh karena itu harus diteliti pula secara epistemologis, bagaimana gagasan-gagasan itu bisa muncul, apa yang melatar belakanginya dan untuk apa
37
Sutrisno Hadi, Metodologi Reseearch, Jilid I, (Yogyakarta: Andi Offset, 1989), Cet. 29, hlm. 9.
38
Terutama tulisan-tulisan yang berkaitan dengan pendidikan sebab beliau banyak menulis berbagai persoalan tentunya yang tidak berkaitan dengan obyek ini tidak menjadi penelitian penulis.
39
Koentjaraningrat (ed.), Metode Penelitian Masyarakat, (Jakarta: Gramedia, 1977), hlm. 61-92.
40
Secara internal dalam kajian kefilsafatan, pengetahuan tentang hakikat ilmu mengacu pada 3 (tiga) aspek yaitu ontologi (apa), epistimologi (bagaimana) dan aksiologi (untuk apa). Lihat Jujun S. Suriasumatri, Ilmu dalam Perpsektif, (Jakarta: Gramedia, 1987), hlm. 1-40.
gagasan itu dimunculkan. Penelitian tersebut sangat signifikan, sebab tidak ada satu gagasan pun yang dimunculkan oleh seorang tokoh tanpa memiliki misi tertentu.
Disamping itu pula penelitian yang intensif mengenai situasi yang mengitarinya dalam dimensi eksternal, termasuk didalamnya kondisi sosial, budaya, politik, dan wacana yang berkembang pada masanya dan dalam hal dimensi internal termasuk latar belakang hidup, pendidikan, evolusi pemikiran dan paradigma pikir yang digunakan.
Dalam menganalisis data, penulis menggunakan analisis isi (content analisys). Maksudnya di sini diperlukan analisis terhadap makna yang terkandung dalam gagasan-gagasan pendidikan al-Attas.
Metode analisis ini bertumpu pada metode deskriptif-analitis-kritis. Kegunaan deskripsi untuk menjelaskan bahwa suatu fakta (pemikiran) itu benar atau salah,41 sementara maksud analitis-kritis merupakan syarat mutlak dalam suatu penelitian. Metode ini digunakan untuk mengembangkan analisis dengan melihat sisi kelebihan dan kelemahan pemikiran al-Attas sebagai obyek penelitian.
Analisis kualitatif ini bertolak pada hermeneutika dan fenomenologi. Peran hermeneutika di sini untuk memahami ide-ide pemikiran pendidikan al-Attas yang berada dalam ruang dan waktu yang berbeda dengan keadaan penulis (peneliti).
Semula istilah hermeneutika muncul dari bagian kritik Injil, namun belakangan berperan seperti apa yang dikatakan oleh Louis Gottshalk dengan historycal mindedness.42 Dan dewasa ini dipersempit menjadi penafsiran teks (pemikiran) tertulis yang berasal dari lingkungan dan dunia pembaca
41
Ibid.
42
Penulis berupaya melepaskan personalitasnya sendiri dan sejauh mungkin mengambil
loper personalitas subyeknya dalam usaha memahami bahasa, cita-cita, kepentingan, sikap,
kebiasaan, motif, dorongan, dan ciri. Lihat Louis Gottshalk, Understanding History, terj. Nugroho Notosusanto, (Jakarta: Universitas Indonesia, 1975), hlm. 92-93.
(peneliti).43 Dengan kata lain bagaimana teks yang sedang dipelajari atau diteliti mempunyai arti sekarang dan di sini, sehingga teks tersebut mengarah secara terbuka menuju yang sekarang dan di sini. Dengan demikian lewat hermeneutika dapat dipahami suatu pesan historis dan sosiologisnya.
Sedang fenomenologi dimaksudkan agar dalam memahami pemikiran masa lalu tidak hanya berhenti pada terma-term teknisnya saja, tetapi juga mengungkap landasan filosofisnya. Dalam mencari konklusi, pendekatan ini menggunakan tri-langkah yakni interpretasi, ekstrapolasi dan pemaknaan. Interpretasi digunakan untuk mengungkap background, konteks materi yang ada agar dapat diketahui konsep atau gagasan yang jelas. Ekstrapolasi dimaksudkan untuk menangkap apa yang ada dibalik yang tersurat. Sedangkan pemaknaan digunakan untuk menjangkau yang etis-transenden dari apa yang tersaji.44
Untuk mencapai tujuan penelitian, suatu analisis filosofis terhadap pemikiran seorang tokoh dalam waktu tertentu dimasa lampau adalah perlu, karena secara metodologis, penelitian ini akan mnggunakan historycal approach (pendekatan sejarah). Hal ini mengingat penelitian biografis45 merupakan salah satu jenis penelitian sejarah.46 Dengan demikian studi ini dengan sendirinya menggunakan pendekatan social historys.
43
Richard E. Palmer, Hermeneutic, (Evamston: Northwestern University Press, 1985), hlm. 33. Lihat juga C. Verhaak dan R. Haryono Imam, Filsafat Ilmu Pengetahuan: Telaah atas
Kerja Ilmu-ilmu, (Jakarta: Gramedia, 1991), hlm. 175.
44
Noeng Muhadjir, Metode Penelitian Kualitatif, (Yogyakarta: Rake Sarasin, 1989), hlm. 180.
45
Penelitian biografis ialah penelitian terhadap kehidupan seseorang dalam hubungannya dengan masyarakat, sifat-sifat, watak, pengaruh pemikiran dan idenya, serta membentuk watak tokoh tersebut selama hayatnya. Lihat Muhammad Nazir, Metode Penelitian, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1988), hlm. 62.
46
Ada 5 (lima) macam penelitian yaitu penelitian sejarah, penelitian deskriptif atau survey, penelitian eksperimental, grounded research, dan action reserach. Termasuk dari penelitian sejarah adalah ia merupakan penelitian kritis mengenai pemikiran yang berkembang di masa lampau dan mengutamakan data primer. Ibid.
H. Sistematika Penulisan Skripsi
Untuk mempermudah pemahaman dan agar pembaca skripsi segera mengetahui pokok-pokok pembahasan skripsi. Maka penulis mendeskripsikan kedalam bentuk kerangka skripsi.
Sistematika penulisan skripsi ini terdiri dari tiga bagian, yaitu: bagian muka, bagian isi dan bagian akhir.
1. Bagian muka terdiri dari halaman judul, nota pembimbing, pengesahan, motto, persembahan, kata pengantar, pernyataan, abstrak dan daftar isi 2. Bagian isi terdiri dari lima bab, yang masing-masing bab terdiri dari
beberapa sub bab dengan susunan sebagai berikut:
BAB I : PENDAHULUAN
Dalam bab ini dikemukakan latar belakang masalah, penegasan istilah, perumusan masalah, alasan pemilihan judul, tujuan dan manfaat penelitian, metode penelitian, tinjauan pustaka dan sistematika penulisan skripsi
BAB II : PENDIDIKAN AKHLAK DAN KOMPONEN- KOMPONENNYA
Dalam bab II ini akan dibagi menjadi dua sub bab. Sub bab pertama: membahas tentang pengertian, landasan, dan tujuan pendidikan akhlak. Sub bab kedua membahas tentang komponen-komponen pendidikan akhlak meliputi tujuan pendidikan akhlak, materi pendidikan akhlak, metode, serta pendidik dan peserta didik
BAB III : BIOGRAFI DAN KONSEP PENDIDIKAN DALAM ISLAM MENURUT SYED M. NAQUIB AL-ATTAS
Dalam bab ini dibagi menjadi dua sub bab. Sub bab pertama: mengemukakan tentang curriculum vitae Syed
M. Naquib al-Attas, latar belakang pendidikan, peran dan perjuangan serta karya, monograf dan anotasi Syed M. Naquib al-Attas. Sub bab kedua membahas tentang konsep pendidikan dalam Islam yang diformulasikan oleh Syed M. Naquib al-Attas, yakni meliputi konsep ta’dib, tujuan pendidikan, dasar dan peranan pendidik serta peserta didik dalam pendidikan, peranan bahasa, metode, kurikulum (materi) serta sistem pendidikan dalam Islam
BAB IV : KONSEP PENDIDIKAN DALAM ISLAM
MENURUT SYED M. NAQUIB AL-ATTAS DAN RELEVANSINYA DENGAN PENDIDIKAN AKHLAK
Dalam bab ini merupakan core dari skripsi yakni analisis permasalahan yang berisi pemikiran Konsep Pendidikan dalam Islam menurut Syed M. Naquib al-Attas dan relevansinya dengan pendidikan akhlak yang meliputi paradigma pendidikan Syed M. Naquib al-Attas, konsep ta’dib relevansinya dengan tujuan pendidikan akhlak, konsep ta’dib relevansinya dengan materi pendidikan akhlak, konsep ta’dib relevansinya dengan metode pendidikan akhlak, serta konsep ta’dib relevansinya dengan pendidik dan peserta didik, dan sintesis antara tarbiyah, ta’lim, dan ta’dib.
BAB V : PENUTUP
Dalam bab ini berisi kesimpulan, saran-saran dan penutup. Dan pada akhir penulisan skripsi ini terdiri dari bibliografi, lampiran-lampiran dan curriculum vitae.