• Tidak ada hasil yang ditemukan

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "V. HASIL DAN PEMBAHASAN"

Copied!
75
0
0

Teks penuh

(1)

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1. Keragaan Usaha Tani Padi Sawah

Data yang diperoleh dari hasil survei mendalam (in-depth interview) usaha tani padi pada tiga tipologi lahan sawah pada tiga lokasi penelitian, setelah dianalisis dengan menggunakan Persamaan (1), (2a), (2b) dan (2c), diperoleh hasil seperti disajikan pada Tabel 5.1.

Tabel 5.1. Hasil analisis usaha tani padi pada tiga tipologi lahan sawah di tiga wilayah penelitian (ha tahun-1) tahun 2010

Tipologi Lahan Sawah Lombok

Tengah

Sumbawa

Barat Bima Rata-Rata

Irigasi Teknis

- Produksi (ton) 11,871) 17,892) 13,742) 14,50

- Nilai Produksi (Rp) 35.753.509 46.929.490 34.130.102 38.937.700

- Biaya Usaha Tani (Rp) 9.667.286 19.427.217 14.314.392 14.469.632

- Pendapatan (Rp) 26.086.223 27.502.273 19.815.710 24.468.069

- R/C 3,70 2,41 2,39 2,83

Irigasi Setengah teknis

- Produksi (ton) 10,56 10,75 8,27 9,86

- Nilai Produksi (Rp) 27.190.045 20.800.202 21.912.783 23.301.010

- Biaya Usaha Tani (Rp) 7.256.299 7.751.969 6.564.065 7.190.778

- Pendapatan (Rp) 19.933.745 13.048.233 15.348.718 16.110.232

- R/C 3,75 2,70 3,33 3,24

Tadah Hujan

- Produksi (ton) 4,52 3,56 3,99 4,02

- Nilai Produksi (Rp) 9.208.017 9.170.424 10.959.756 10.431.573

- Biaya Usaha Tani (Rp) 4.575.274 3.871.027 4.144.828 4.197.043

- Pendapatan (Rp) 4.632.744 5.299.397 6.814.928 5.582.356

- R/C 2,01 2,37 2,64 2,33

Rata-Rata Lokasi

- Produksi (ton) 9,98 10,04 8,67 9,23

- Nilai Produksi (Rp) 23.783.857 26.059.675 22.067.547 23.970.360

- Biaya Usaha Tani (Rp) 7.166.286 10.350.071 8.341.095 8.619.151

- Pendapatan (Rp) 16.617.571 15.709.604 13.726.452 15.351.206

- R/C 3,12 2,54 2,75 2,80

Sumber: Data primer 1)IP Padi 200% 2)IP Padi 300%

Tabel 5.1 memperlihatkan bahwa rata-rata pendapatan usaha tani padi di Kabupaten Lombok Tengah, Sumbawa Barat dan Bima berturut-turut adalah Rp.16.617.571, Rp.15.709.604, dan Rp.13.726.452 ha-1 tahun-1 atau rata-rata Rp.15.351.206 ha-1 tahun-1. Perbedaan pendapatan yang sangat nyata terutama disebabkan oleh perbedaan biaya tenaga kerja, dimana biaya tertinggi dikeluarkan petani di Kabupaten Sumbawa Barat, disusul Bima dan yang terendah di Lombok Tengah. Nilai R/C tertinggi diperoleh di Kabupaten Lombok Tengah sebesar 3,12, disusul Bima 2,75 dan Sumbawa Barat 2,54 atau rata-rata

(2)

2,8. Nilai R/C lebih dari 1 menunjukkan bahwa jumlah penerimaan usaha tani lebih besar dari biaya yang dikeluarkan atau memperoleh keuntungan sehingga layak untuk diusahakan. Perbedaan pendapatan dan nilai R/C antar lokasi terutama disebabkan oleh perbedaan tingkat produktivitas, nilai penerimaan dan biaya usaha tani. Dengan demikian tingkat produktivitas maupun nilai penerimaan yang tinggi belum tentu mencerminkan tingkat pendapatan atau nilai R/C yang tinggi apabila biaya yang dikeluarkan juga tinggi.

Rata-rata produktivitas padi sawah yang dihasilkan adalah 49,71 kw ha-1. Produktivitas tertinggi dicapai di Kabupaten Lombok Tengah yaitu rata-rata 53,90 kw ha-1, disusul Sumbawa Barat dengan rata-rata 51,89 kw ha-1 dan di Kabupaten Bima dengan rata-rata 43,33 kw ha-1. Diduga perbedaan tersebut disebabkan oleh perbedaan dalam pengelolaan usaha tani, dimana pengelolaan usaha tani padi sawah yang dilakukan oleh petani di Kabupaten Lombok Tengah relatif lebih maju dibandingkan dengan pengelolaan usaha tani padi sawah yang dilakukan oleh petani di Kabupaten Sumbawa Barat dan Bima.

Rata-rata produktivitas padi yang diperoleh dari hasil penelitian di tiga wilayah tersebut lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata produktivitas padi sawah NTB berdasarkan data statistik yang mencapai 50,85 kw ha-1 (BPS NTB, 2009). Produktivitas padi sawah NTB termasuk urutan ke sembilan tertinggi dari 33 provinsi di Indonesia dan masih lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata nasional sebesar 49,95 kw ha-1 (Deptan, 2010). Jika dibandingkan dengan produktivitas padi di China dan Jepang, produktivitas padi di NTB masih lebih rendah, tetapi setara dengan India dan masih lebih tinggi daripada Thailand dan Vietnam. Hal tersebut mencerminkan bahwa tingkat penerapan teknologi budi daya padi sawah di NTB relatif lebih intensif dibandingkan rata-rata nasional.

Salah satu indikator yang menunjukkan tingkat perkembangan teknologi adalah penyebaran varietas unggul padi sawah. Varietas padi yang sudah berkembang hingga saat ini di NTB antara lain: IR-64, Ciherang, Cibogo, Ciliwung, Mikongga, Cigeulis, Situ Bagendit, Situ Patenggang dan Widas. Dalam periode 2001 – 2008, rata-rata penggunaan benih unggul bersertifikat di NTB mencapai 52% dari kebutuhan benih sekitar 11.000 ton (BPSBTPH-NTB, 2008).

Produktivitas merupakan salah satu determinan kapasitas produksi padi selain luas lahan. Produktivitas adalah hubungan antara jumlah barang atau jasa yang dihasilkan dan faktor-faktor yang dipakai untuk memproduksinya; produktivitas pertanian dapat diungkapkan sebagai output/keluaran per unit

(3)

lahan, modal, waktu curahan tenaga kerja, energi, air, unsur hara, dan sebagainya (Reijntjes et al.,1999). Dengan demikian produktivitas padi sawah menunjukkan kemampuan lahan sawah untuk menghasilkan produksi padi per satuan luas dengan sejumlah input tertentu.

Luas lahan sawah memegang peranan sangat penting dalam sistem penyediaan beras, terutama di wilayah yang sebagian besar beriklim kering yang secara langsung mempengaruhi luas panen. Luas panen juga dipengaruhi oleh IP padi. Akan tetapi perluasan areal panen padi melalui peningkatan IP menghadapi kendala ketersediaan air dan rendahnya tingkat pendapatan, sehingga petani cenderung memilih komoditas selain padi yang lebih menguntungkan dan relatif lebih tahan terhadap cekaman iklim untuk memperkecil resiko kegagalan.

Keterbatasan luas lahan sawah dan terkendalanya peningkatan IP padi pada lahan sawah beririgasi teknis dan setengah teknis menjadi kendala utama pencapaian target produksi di wilayah beriklim kering, sehingga kebutuhan konsumsi seringkali harus dipenuhi dari impor. Hal senada juga dikemukakan oleh Sumaryanto (2009), bahwa salah satu faktor penyebab masih terjadinya impor beras Indonesia adalah karena luas lahan garapan usaha tani padi sawah tergolong sempit.

Rasio antara luas lahan sawah dengan jumlah petani di NTB adalah 0,48 ha. Sedangkan rasio luas lahan dengan jumlah penduduk adalah 440 m2kapita-1 atau di bawah rata-rata nasional seluas 646 m2kapita-1, jauh lebih rendah bila dibandingkan dengan rata-rata luas lahan sawah di negara penghasil beras dunia, seperti Vietnam (986 m2kapita-1), China (1.120 m2kapita-1), India (1.590 m2kapita-1) dan Thailand (5.230 m2kapita-1) (Pasaribu, 2009). Kondisi tersebut akan menjadi titik kritis dalam mencapai swasembada beras berkelanjutan.

Biaya usaha tani padi sawah menunjukkan adanya perbedaan yang nyata antar wilayah terutama biaya tenaga kerja yang harus dikeluarkan. Perbedaan tersebut mencerminkan karakteristik sosial ekonomi petani pada tipologi lahan sawah yang berbeda, secara lebih rinci disajikan pada Tabel 5.2.

Tabel 5.2 memperlihatkan bahwa sebagian besar (72,59%) biaya usaha tani adalah untuk membiayai tenaga kerja, sedangkan pengeluaran untuk sarana produksi berturut-turut untuk pembelian pupuk sebesar 18,84%, benih 5,79% dan obat-obatan 2,77%. Pengeluaran biaya tenaga kerja terbesar dipergunakan untuk upah panen (30,03%), disusul biaya pengolahan tanah (18,20%),

(4)

penanaman (9,80%), penyiangan (7,56%), pasca panen 5,49% dan pemeliharaan 1,51%. Besarnya biaya panen disebabkan sistem pengupahan untuk panen menggunakan sistem bawon, yaitu upah dalam bentuk natura (gabah hasil panen) dengan kisaran 10 – 20% dari hasil panen.

Tabel 5.2. Rincian biaya usaha tani padi pada tiga tipologi lahan sawah di tiga lokasi penelitian tahun 2010.

Lombok Tengah

Sumbawa

Barat Bima Rata-Rata Komponen Biaya

………(Rp ha-1tahun-1)……….

% 1. Biaya tenaga kerja

- Pengolahan tanah 1.353.639 1.539.267 1.812.500 1.568.469 18,20 - Tanam 636.678 1.094.311 802.875 844.621 9,80 - Penyiangan 384.637 1.004.282 565.920 651.613 7,56 - Pemeliharaan 108.519 219.826 63.234 130.527 1,51 - Panen 2.354.685 3.466.493 1.944.547 2.588.575 30,03 - Pasca panen 263.248 774.262 381.570 473.027 5,49 Jumlah (1) 5.101.407 8.098.442 5.570.647 6.256.832 72,59

2. Biaya sarana produksi

-- Benih 591.335 450.880 456.188 499.468 5,79 - Pupuk: 1.229.684 1.489.270 2.153.283 1.624.079 18,84 = Urea 725.938 626.636 309.586 554.054 6,43 = ZA 60.992 - - 20.331 0,24 = SP-36 209.234 186.796 311.911 235.980 2,74 = KCl - - 32.194 10.731 0,12 = NPK 219.094 666.625 1.499.592 795.104 9,22 = Pupuk Organik 14.426 9.212 - 7.879 0,09 - Obat-obatan: 243.860 311.479 160.977 238.772 2,77 = Obat Padat 90.744 - - 30.248 0,35 = Obat Cair 153.117 311.479 160.977 208.524 2,42 Jumlah (2) 2.064.880 2.251.629 2.770.448 2.362.319 27,41 Total Biaya Usaha Tani 7.166.286 10.350.071 8.341.095 8.619.151 100,00 Sumber: Data primer

Rata-rata IP padi di Lombok Tengah 167%, Sumbawa Barat 200% dan Bima 200% Besarnya upah panen tergantung kondisi tenaga kerja dan kondisi tanaman padi pada saat panen. Pada musim panen raya yang berlangsung dalam waktu bersamaam (serempak) umumnya tenaga kerja dirasakan sangat kurang. Demikian pula halnya apabila hamparan tanaman padi kurang baik atau dalam kondisi rebah biasanya tenaga kerja meminta upah yang lebih besar, karena untuk mendapatkan hasil panen dibutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan apabila kondisi padi normal. Sistem bawon merupakan tradisi yang telah berlangsung sejak lama, sehingga dirasakan sangat sulit atau memerlukan waktu yang lama untuk merubahnya. Di Kabupaten Bima beberapa petani menggunakan tenaga keluarga untuk kegiatan panen terutama petani

(5)

dengan luas lahan sempit dan tersedia tenaga keluarga yang cukup, sehingga biaya panen lebih rendah daripada di wilayah lain.

Pengolahan tanah pada umumnya dilakukan dengan menggunakan hand traktor, sedangkan penggunaan tenaga ternak sudah mulai berkurang. Tenaga manusia biasa digunakan untuk perbaikan pematang atau pengolahan tanah yang tidak dapat dijangkau traktor. Biaya traktor relatif masih mahal karena ketersediaan traktor masih terbatas dan tidak sebanding dengan luas lahan. Berdasarkan data Dinas Pertanian Provinsi NTB (2008), jumlah traktor di NTB tahun 2007 sebanyak 3.351 unit, terdiri atas traktor Roda-2 (hand tractor) sebanyak 3.325 unit dan Roda-4 sebanyak 26 unit. Rasio traktor dengan luas lahan sawah adalah 0,014, yang menunjukkan bahwa setiap unit traktor harus mengolah lahan sawah seluas 69 ha. Jika diasumsikan bahwa luas lahan yang dapat diolah dengan menggunakan traktor sekitar 70%, maka setiap unit traktor harus mengolah lahan sawah minimal seluas 48 ha. Kapasitas satu unit traktor dalam pengolahan lahan sawah untuk tanaman padi hingga siap tanam (pengolahan tanah sempurna) rata-rata 0,5 ha hari-1atau 2-3 hari ha-1tergantung kondisi lahan sawah (hasil wawancara dengan pemilik/operator traktor). Jika diasumsikan bahwa jumlah hari pengolahan lahan pada setiap musim tanam di suatu hamparan agar mencapai waktu tanam yang relatif serempak maksimal 30 hari kerja, maka setiap unit traktor hanya mampu mengolah lahan seluas 15 ha saja, sehingga pengolahan lahan sering tidak sempurna, sedangkan biaya sewa traktor tetap mahal.

Biaya tanam dan penyiangan merupakan komponen biaya yang cukup besar, karena melibatkan tenaga kerja cukup banyak, yaitu antara 22 – 25 orang ha-1 untuk penanaman dan 15 – 20 orang untuk penyiangan dengan waktu kerja antara jam 7.00 – 12.00 dan jam 13.00 – 18.00, dengan upah Rp. 10.000 – Rp.15.000 (pagi sampai siang) dan Rp. 10.000 (siang sampai sore).

Dengan struktur usaha tani padi sawah yang didominasi usaha tani skala kecil (skala rumah tangga) maka pasar tenaga kerja bersifat multidimensi. Faktor-faktor yang bekerja dibalik permintaan dan penawaran tenaga kerja tidak hanya mencakup variabel ekonomi semata namun terkait pula dengan struktur sosial dan budaya, dan dinamikanya dipengaruhi oleh perubahan teknologi produksi. Situasi dan kondisi tersebut menurut Sumaryanto, 2009 dapat mewarnai dinamika produktivitas tenaga kerja (kompensasi tenaga kerja) di sektor pertanian.

(6)

Porsi biaya pemeliharaan relatif kecil, karena umumnya kegiatan pemeliharaan dilakukan oleh tenaga keluarga dan hanya sebagian kecil yang menggunakan tenaga kerja upahan. Kegiatan pemeliharaan mencakup kegiatan pemupukan dan penyemprotan. Biaya pasca panen yang dimaksud adalah biaya pengangkutan dari lahan sawah ke rumah petani atau tempat yang ditentukan. Sebagian petani memberikan upah angkut termasuk dalam upah panen, sebagian memberikan upah yang terpisah dari upah panen, dan sebagian lagi upah angkut dibebankan kepada pembeli, apabila petani langsung menjual hasil panen di lahan sawah.

Pengeluaran biaya sarana produksi terbesar adalah untuk pembelian pupuk NPK 9,22%, Urea 6,43%, benih 5,79% dan SP-36 2,74%; sedangkan pengeluaran untuk pembelian obat-obatan hanya 2,80%. Besarnya pengeluaran untuk pembiayaan sarana produksi tidak menunjukkan perbedaan yang nyata antar wilayah. Perbedaan hanya terletak pada penggunaan pupuk dari jenis yang berbeda di masing-masing lokasi tergantung rekomendasi pemupukan lokal spesifik. Sebagian besar petani menggunakan pupuk bersubsidi yang disediakan pemerintah, namun ketersediaannya seringkali kurang tepat (jenis, jumlah dan waktu). Hal ini sering mengakibatkan kurang tepatnya aplikasi pupuk, sehingga responnya terhadap pertumbuhan tanaman padi relatif kurang optimal. Selain itu ketersediaan modal petani yang terbatas juga sering menjadi hambatan dalam penebusan pupuk, terutama apabila kelompoktani kurang berperan.

5.2. Optimasi Usaha Tani Padi Sawah

Optimasi usaha tani pada dasarnya bertujuan memaksimumkan pendapatan dan meminimumkan biaya serta mendapatkan informasi tentang perubahan alokasi sumber daya yang diperlukan. Informasi tersebut sangat berguna sebagai dasar dalam pengambilan keputusan tentang intervensi apa yang diperlukan untuk mencapai kondisi optimal yang diharapkan. Guna memudahkan perumusan model matematis guna penyelesaian optimasi usaha tani padi sawah di tiga lokasi penelitian, terlebih dahulu hasil penelitian disusun dalam suatu matriks input-output yang menunjukkan variabel keputusan, tujuan dan kendala sasaran yang dihadapi sebagaimana disajikan pada Tabel 5.3.

(7)

Tabel 5.3. Matriks input-output program linier usaha tani padi sawah di tiga lokasi penelitian tahun 2010

Lokasi ke-j dan parameter ke-i Lombok

Tengah

Sumbawa

Barat Bima Variabel ke-i Baris

j (n=45) (n=43) (n=45) Nilai Pembatas RHS Fungsi Tujuan: Z X1 X2 X3 Maksimumkan pendapatan (Rp.juta ha-1tahun-1) 1 16,62 15,71 13,73

Fungsi Kendala Koefisien peubah

 Produktivitas (kw ha-1

) 2 53,90 51,89 43,33 ≥ 59,00

 Nilai penerimaan (Rp.juta ha-1

tahun-1) 3 23,78 26,06 22,07 ≥ 25,00

 Biaya tenaga kerja (Rp.juta

ha-1tahun-1) 4 5,10 8,10 5,57 ≤ 8,10

 Biaya sarana produksi

(Rp.juta ha-1tahun-1) 5 2,06 2,25 2,77 ≤ 2,77  Total biaya usaha tani

(Rp.juta ha-1tahun-1) 6 7,17 10,35 8,34 ≤ 10,35 Keterangan: n = responden, RHS = righthand side (nilai pembatas ruas kanan), notasi≤ (pembatas);≥ (syarat).

Tabel 5.3. menjelaskan variabel keputusan (X1, X2 dan X3) masing-masing dengan parameternya. Fungsi tujuan adalah memaksimumkan pendapatan usaha tani padi sawah terhadap pengelolaan X1, X2 dan X3 masing-masing mewakili aktivitas/pengelolaan usaha tani di Kabupaten Lombok Tengah, Sumbawa Barat dan Bima. Untuk mencapai tujuan tersebut terdapat lima kendala pembatas, yaitu kendala produktivitas (a1), nilai penerimaan usaha tani (a2), biaya tenaga kerja (a3), biaya sarana produksi (a4) dan total biaya usaha tani (a5). Ukuran performansi kritis terhadap permasalahan tersebut bahwa produktivitas padi sawah harus lebih besar dari 59,00 kw ha-1(produktivitas padi tertinggi di Indonesia) dan nilai penerimaan harus dimaksimalkan (lebih besar dari Rp. 25.000.000,- ha-1 tahun-1, sedangkan biaya tenaga kerja, biaya sarana produksi dan total biaya usaha tani harus diminimumkan atau lebih rendah dari biaya rata-rata yang dikeluarkan petani saat ini.

Penyelesaian optimasi model linier programming berdasarkan matriks (Tabel 5.3) dengan persamaan (3) dilakukan dengan menggunakan program LINDO, sebagai berikut:

(8)

Fungsi tujuan: MAX 16,62X1+ 15,71X2+ 13,73X3 Fungsi kendala: 53,90X1+ 51,89X2+ 43,33X3≥ 59,00 23,78X1+ 26,06X2+ 22,07X3≥ 25,00 5,10X1+ 8,10X2+ 5,57X3≤ 8,10 2,06X1+ 2,25X2+ 2,77X3≤ 2,77 7,17X1+ 10,35X2+ 8,34X3≤ 10,35 X1, X2, X3≥ 0

Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai fungsi tujuan memaksimumkan pendapatan usaha tani padi sawah yang diperoleh sebesar Rp.22.348.250 ha-1 tahun-1, dengan nilai optimal variabel keputusan X1=1,34. Interpretasi dari hasil tersebut mengindikasikan bahwa kondisi optimal dicapai dengan pengelolaan usaha tani yang dilakukan petani di Kabupaten Lombok Tengah. Nilai optimal variabel keputusan yang lebih besar dari 0 maka penurunan nilai parameter tidak akan merubah nilai optimal variabel. Sebaliknya pengelolaan usaha tani padi sawah yang dilakukan oleh petani di Kabupaten Sumbawa Barat dan Bima tidak optimal (X2 dan X3 = 0), yang berarti penurunan nilai parameter akan merubah nilai variabel. Petani di kedua lokasi tersebut disarankan untuk menurunkan biaya produksi atau meningkatkan produksinya agar mencapai kondisi optimal.

Petani di Kabupaten Sumbawa Barat telah berupaya meningkatkan produksi usaha taninya dengan tingkat produktivitas mencapai 51,89 kw ha-1 atau lebih tinggi dari produktivitas padi sawah rata-rata NTB tahun 2009. Permasalahan yang dihadapi adalah biaya tenaga kerja yang terlalu tinggi dibandingkan dengan biaya tenaga kerja di Lombok Tengah maupun Bima.

Sebaliknya petani di Kabupaten Bima telah berupaya menekan biaya tenaga kerja, sehingga pengelolaan usaha taninya tidak mencapai optimal, hal ini dapat dilihat dari rendahnya produktivitas yang diperoleh, yaitu rata-rata 43,33 kw ha-1. Dalam penyelesaian masalah optimal dengan menggunakan model linier programming kedua kasus tersebut dianggap sebagai pemborosan sumber daya, sehingga disarankan untuk diturunkan atau diminimumkan.

Dari lima kendala pembatas, empat di antaranya merupakan kendala tidak aktif, artinya perubahan nilai pembatas pada ruas kanan (RHS), tidak akan merubah nilai fungsi tujuan. Hal ini ditandai dengan dual prices kendala tersebut bernilai nol. Kendala yang tidak aktif tersebut meliputi kendala produktivitas, nilai

(9)

penerimaan, biaya tenaga kerja dan total biaya usaha tani. Sebaliknya kendala pembatas biaya sarana produksi merupakan kendala yang aktif, artinya perubahan nilai kendala pembatas pada ruas kanan dapat mempengaruhi nilai fungsi tujuan sebesar nilai dual pricesnya. Hal ini mengindikasikan bahwa penambahan atau pengurangan biaya sarana produksi akan berdampak pada perubahan nilai pendapatan usaha tani. Dapat pula diartikan bahwa seluruh kapasitas sarana produksi yang ada telah digunakan untuk menghasilkan X1 = 1,34, X2dan X3= 0.

Hasil analisis sensitivitas memperlihatkan bahwa parameter keuntungan terhadap pengelolaan usaha tani padi sawah yang dilakukan petani di Kabupaten Lombok Tengah, Sumbawa Barat dan Bima dinaikkan berturut-turut tidak terbatas, Rp.2.442.900 dan Rp.8.618.250 ha-1 tahun-1 tidak akan menyebabkan nilai optimal berubah. Sebaliknya apabila parameter X1 diturunkan sebesar Rp.2.236.600 ha-1 tahun-1, sedangkan X2 dan X3 diturunkan tidak terbatas, juga tidak akan menyebabkan nilai optimal variabel keputusan berubah.

Validitas nilai dual prices seluruh kendala dijamin pada interval sebagai berikut: (1) nilai pembatas kendala produktivitas dinaikkan 29,14 kw ha-1 atau diturunkan tidak terbatas; (2) nilai pembatas kendala penerimaan dinaikkan sebesar Rp.9.906.000 ha-1 tahun-1 atau diturunkan tidak terbatas; (3) peningkatan nilai pembatas kendala tenaga kerja tidak terbatas atau diturunkan sebesar Rp.1.242.230 ha-1 tahun-1 (4) peningkatan nilai pembatas kendala sarana produksi sebesar Rp.203.640 ha-1 tahun-1 atau diturunkan sebesar Rp.858.130; ha-1 tahun-1 dan (5) peningkatan nilai pembatas kendala biaya usaha tani tidak terbatas atau diturunkan sebesar Rp.708.780 ha-1tahun-1.

Penyelesaian optimasi model Goal Programming (persamaan 4) dengan fungsi tujuan adalah meminimumkan penyimpangan hasil terhadap sasaran-sasaran yang dikehendaki dalam sistem usaha tani padi sawah pada pengelolaan X1, X2 dan X3. Untuk mencapai tujuan tersebut ditentukan enam kendala sasaran, yaitu pendapatan usaha tani (a1), produktivitas (a2), nilai penerimaan usaha tani (a3), biaya tenaga kerja (a4), biaya sarana produksi (a5) dan total biaya usaha tani (a6). Penyelesaian masalah optimasi dalam Goal Programming dilakukan dengan menggunakan program LINDO sebagai berikut:

(10)

Fungsi tujuan:

MIN DA11+DB11+DA12+DB12+DA13+DB13+DA21+DB21+DA22+DB22+ DA23+ DB23+DA31+DB31+DA32+DB32+DA33+DB33+DA41+DB41+DA42+DB42+ DA43+DB43+DA51+DB51+DA52+DB52+DA53+DB53+DA61+DB61+DA62+ DB62+ DA63+DB63 Fungsi kendala: 16,62X1+ 15,71X2+ 13,73X3+ DA11+DA12+DA13- DB11-DB12-DB13= 16,62 53,90X1+ 51,89X2+ 43,33X3+ DA21+DA22+DA23- DB21-DB22-DB23= 53,90 23,78X1+ 26,06X2+ 22,07X3+ DA31+DA32+DA33- DB31-DB32-DB33= 26,06 5,10X1+ 8,10X2+ 5,57X3+ DA41+DA42+DA43- DB41-DB42-DB43= 5,10 2,06X1+ 2,25X2+ 2,77X3+ DA51+DA52+DA53- DB51-DB52-DB53= 2,06 7,17X1+ 10,35X2+ 8,34X3+ DA61+DA62+DA63- DB61-DB62-DB63= 7,17 X1, X2, X3, DAi, DBi > 0

Semua parameter dari variabel X dalam satuan Rp. juta ha-1 tahun-1, kecuali produktivitas (kendala sasaran kedua) dengan satuan kw ha-1. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai fungsi tujuan meminimumkan deviasional sebesar Rp.

2.

280.000 ha-1 tahun-1, yang dapat diartikan sebagai peningkatan efisiensi usaha tani padi sawah.

Nilai penyimpangan positif (DAi) dan nilai penyimpangan negatif (DBi) dari seluruh kendala sasaran bernilai nol kecuali kendala sasaran produktivitas pada pengelolaan usaha tani di Kabupaten Lombok Tengah (DA21>0 atau DA21=1) berarti bahwa peminimuman penyimpangan di atas bi terlampaui sebesar 1 kw ha-1. Sebaliknya, kendala sasaran biaya tenaga kerja pada pengelolaan usaha tani di Kabupaten Bima (DB43>0 atau DB43=2,28) berarti peminimuman penyimpangan di bawah bi tidak tercapai. Kendala sasaran pendapatan, produktivitas, nilai penerimaan, biaya sarana produksi dan total biaya pada pengelolaan usaha tani di tiga lokasi penelitian bernilai nol, yang berarti bahwa peminimuman penyimpangan pada kendala sasaran tersebut telah mencapai sasaran yang optimal, sehingga dapat dipastikan bahwa seluruh kapasitas sumber daya yang tersedia telah didayagunakan secara maksimal.

Perubahan nilai ruas kanan dari setiap kendala sasaran yang mempengaruhi nilai fungsi tujuan dapat dilihat dari nilai slack atau surplus dan nilai dual prices. Kendala-kendala pendapatan, nilai produksi dan biaya tenaga kerja (Lombok Tengah) dan biaya tenaga kerja (Bima) merupakan kendala tidak aktif yang berarti perubahan nilai ruas kanan pada kendala-kendala tersebut

(11)

tidak akan mempengaruhi nilai fungsi tujuan, yang diindikasikan dari dual prices pada kendala-kendala tersebut bernilai nol.

Sebaliknya kendala produktivitas dan nilai penerimaan usaha tani di Kabupaten Lombok Tengah sebagai kendala aktif yang ditandai dengan nilai

duel pricesnya yang lebih besar dari nol. Hal ini mengindikasikan bahwa

perubahan pada nilai kendala sasaran ruas kanan dari persamaan kendala tersebut akan mempengaruhi nilai fungsi tujuan. Hal ini berarti bahwa peningkatan produktivitas dan nilai penerimaan maupun penurunan nilai keduanya akan mempengaruhi pendapatan usaha tani padi sawah.

Terdapat kelebihan (surplus) pada kendala nilai penerimaan di Kabupaten Sumbawa Barat sebesar Rp.1.000.000 ha-1 tahun-1 dan kelebihan pada biaya tenaga kerja di Kabupaten Bima sebesar Rp.2.800.000 ha-1 tahun-1. Sebaliknya, seluruh kapasitas kendala selain kendala yang disebutkan di atas baik di Kabupaten Lombok Tengah, Sumbawa Barat maupun di Kabupaten Bima telah didayagunakan secara maksimal untuk menghasilkan variabel keputusan X1=1,34 dan X2dan X3= 0.

Berdasarkan hasil analisis optimasi tersebut dapat dikemukakan hal-hal sebagai berikut: (1) pengelolaan usaha tani padi sawah yang paling optimal dari ketiga kelompok pengelolaan tersebut adalah yang dilakukan oleh petani di Kabupaten Lombok Tengah dengan nilai fungsi tujuan memaksimumkan pendapatan sebesar Rp.22.348.250 ha-1 tahun-1, (2) pengelolaan usaha tani yang dilakukan oleh petani di Kabupaten Sumbawa Barat dapat mencapai optimal melalui dua opsi, yaitu meningkatkan produktivitas padi ≥ 53,90 kw ha-1 dengan perbaikan teknologi atau menurunkan biaya usaha tani ≤ Rp.7.170.000 ha-1 tahun-1 melalui efisiensi biaya tenaga kerja (3) pengelolaan usaha tani yang dilakukan oleh petani di Kabupaten Bima akan mencapai optimal melalui peningkatan produktivitas ≥ 53,90 kw ha-1 dengan menerapkan teknologi yang lebih baik dari kondisi sekarang, antara lain penggunaan benih unggul bermutu dan bersertifikat serta peningkatan keterampilan petani dalam pengelolaan usaha taninya, (4) optimasi usaha tani untuk meningkatkan pendapatan dapat pula dilakukan melalui (a) peningkatan nilai tambah dengan tunda jual gabah, yaitu menjual gabah dalam bentuk gabah kering giling (GKG) bukan dalam bentuk gabah kering panen (GKP) atau penjualan hasil dalam bentuk beras, (b) peningkatan efisiensi usaha tani melalui optimalisasi pemanfaatan sumber daya

(12)

lokal, seperti tenaga keluarga dan penggunaan sisa tanaman dan kotoran ternak sebagai pupuk guna mengurangi penggunaan pupuk kimia.

5.3. Kebutuhan Hidup Layak Petani

Keluarga tani dinyatakan hidup layak jika telah memenuhi kebutuhan hidup layak (KHL) meliputi pangan, papan, pakaian, pendidikan, kesehatan, rekreasi, kegiatan sosial dan tabungan. Menurut Sinukaban (2007), jumlah pendapatan bersih yang harus diperoleh keluarga tani untuk dapat hidup layak minimal setara beras 800 kg kapita-1 tahun-1 yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan fisik minimal (KFM) 320 kg, kebutuhan kesehatan dan rekreasi 160 kg; kebutuhan pendidikan 160 kg, dan kebutuhan sosial, asuransi, dan lain-lain 160 kg. Hasil perhitungan KHL petani di NTB, disajikan pada Tabel 5.4.

Tabel 5.4. Kebutuhan hidup layak (KHL) petani di NTB tahun 20101)

Uraian Lombok Tengah Sumbawa Barat Bima Rata-Rata • Pengeluaran setara beras (kg-1kapita-1th-1)2) 800 800 800 800 • Harga beras kg-1 4.475 4.625 4.400 4.500 • Jumlah ART KK-1 3) 3,51 3,73 3,77 3,67 KHL (Rp.jt KK-1tahun-1) 12,566 13,801 13,270 13,212 Sumber: Data primer

Keterangan:1)dimodifikasi dari Monde, 2008

2)

KFM 320 kg, pendidikan 160 kg, kesehatan 160 kg, dan sosial 160 kg

3)

jumlah anggota rumah tangga KK-1(BPS, 2009).

Tabel 5.4 memperlihatkan bahwa KHL petani tertinggi di Sumbawa Barat, disusul Bima dan yang terendah di Lombok Tengah. Besarnya KHL ditentukan oleh harga beras rata-rata kg-1 dan jumlah anggota rumah tangga KK-1. KHL petani rata-rata sebesar Rp.13.212.000 KK-1 tahun-1. Harga beras antar waktu dan antar wilayah sangat bervariasi, yaitu berkisar Rp. 3.800 – Rp. 6.500 kg-1. Harga beras terendah terjadi pada saat panen raya yang berlangsung sangat singkat dan harga tertinggi terjadi ketika petani sudah tidak memiliki stok beras yang berlangsung dalam jangka panjang hingga musim panen berikutnya. Ketidakstabilan harga beras sangat sensitif terhadap pemenuhan KHL petani. Harga beras di Sumbawa Barat relatif lebih tinggi dibandingkan dengan Lombok Tengah dan Bima. Sumbawa Barat merupakan pusat pertambangan PT. Newmont dimana tingkat pendapatan masyarakat relatif lebih tinggi dan hal ini mewarnai harga kebutuhan pokok sehari-hari di wilayah tersebut.

(13)

Jumlah anggota keluarga juga menjadi faktor penentu besarnya KHL yang harus dipenuhi. Hasil berbagai penelitian menunjukkan bahwa penduduk dengan tingkat pendidikan yang rendah rata-rata memiliki anggota keluarga yang lebih besar dibandingkan dengan penduduk dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Petani yang tinggal di wilayah perdesaan dengan tingkat pendidikan yang lebih rendah diduga kuat memiliki jumlah anggota rumah tangga yang lebih besar dibandingkan dengan penduduk yang tinggal di wilayah perkotaan. Hasil survei di tiga kabupaten memperkuat dugaan tersebut, dimana ditemukan bahwa rata-rata jumlah anggota rumah tangga petani responden adalah 4,3 org KK-1.

Jumlah pendapatan petani dari usaha tani padi pada lahan sawah irigasi teknis, setengah teknis dan tadah hujan di tiga lokasi penelitian (Tabel 5.1), dan luas penguasaan lahan (luas lahan garapan) saat ini dapat digunakan untuk menghitung kontribusi pendapatan usaha tani padi sawah terhadap KHL petani.

Rata-rata luas lahan garapan petani saat ini pada tipologi lahan sawah irigasi teknis, setengah teknis dan tadah hujan di tiga wilayah penelitian yang dihitung berdasarkan rasio luas baku sawah dan jumlah petani ditunjukkan pada Tabel 5.5.

Tabel 5.5. Luas lahan garapan petani saat ini pada tiga tipologi lahan sawah di tiga lokasi penelitian.

Luas lahan garapan (ha KK-1) Tipologi Lahan Sawah Lombok

Tengah

Sumbawa

Barat Bima Rerata

 Irigasi teknis 0,31 0,62 0,62 0,40

 Irigasi 1/2 teknis 0,37 1,06 0,61 0,46

 Tadah hujan 0,45 0,84 0,97 0,63

Rerata lokasi 0,36 0,77 0,74 0,48

Sumber: Data Primer

Tabel 5.5 memperlihatkan bahwa rata-rata luas lahan yang dikelola oleh petani saat ini pada tipologi lahan sawah irigasi teknis, setengah teknis dan tadah hujan berturut-turut 0,40 ha, 0,46 ha dan 0,63 ha KK-1. Sedangkan berdasarkan lokasi adalah 0,36 ha, 0,77 ha dan 0,74 ha KK-1berturut-turut untuk wilayah Lombok Tengah, Sumbawa Barat dan Bima.

Dengan demikian, besarnya kontribusi pendapatan usaha tani padi sawah terhadap KHL petani pada tiga tipologi lahan sawah di tiga lokasi penelitian, diperlihatkan pada Tabel 5.6.

(14)

Tabel 5.6. Kontribusi pendapatan usaha tani padi sawah terhadap pemenuhan KHL petani pada tiga tipologi lahan sawah di tiga lokasi penelitian

Kontribusi pendapatan usaha tani padi sawah terhadap KHL petani (%)

Tipologi Lahan Sawah

Lombok Tengah Sumbawa Barat Bima Rerata Tipologi  Irigasi teknis 65,18 124,24 92,32 73,49  Irigasi 1/2 teknis 58,78 100,61 70,79 56,53  Tadah hujan 16,42 32,37 49,65 26,82 Rerata Lokasi 47,97 88,12 76,68 55,73

Sumber: Data Primer

Tabel 5.6. memperlihatkan bahwa kontribusi pendapatan usaha tani padi sawah terhadap pemenuhan KHL petani yang terendah di Kabupaten Lombok Tengah (47,97%), disusul Bima (76,68%) dan yang tertinggi di Sumbawa Barat (88,12%). Rendahnya kontribusi pendapatan terhadap KHL petani di Kabupaten Lombok Tengah disebabkan karena luas lahan garapan petani yang lebih sempit (0,36 ha KK-1) dibandingkan dengan luas garapan petani di Bima (0,74 ha KK-1) maupun Sumbawa Barat (0,77 ha KK-1), walaupun secara kumulatif tingkat produktivitas maupun pendapatan usaha tani ha-1di Kabupaten Lombok Tengah lebih tinggi dibandingkan dengan di Bima dan Sumbawa Barat. Berdasarkan pada tipologi lahan sawah, maka kontribusi yang paling rendah terjadi pada lahan sawah tadah hujan (26,82%), disusul lahan sawah setengah teknis (56,53%) dan yang tertinggi pada lahan sawah irigasi teknis (73,49%) atau rata-rata 55,73%. Rendahnya kontribusi pendapatan petani terhadap KHL pada lahan sawah tadah hujan disebabkan tingkat pendapatan sangat rendah karena hanya satu kali tanam dalam setahun (IP 100%), sebaliknya pada lahan sawah irigasi teknis tingkat pendapatan petani jauh lebih tinggi 4-5 kali lipat, karena selain produktivitas padi pada lahan irigasi teknis lebih tinggi, juga IP padi dapat mencapai 300%, walaupun luas lahan garapan lebih sembit. Hasil tersebut masih lebih tinggi dari yang dilaporkan Badan Litbang Pertanian (2005b), bahwa sumbangan pendapatan usaha tani padi terhadap pendapatan rumah tangga petani mencapai 25-35%.

Besarnya pendapatan usaha tani padi sawah berdasarkan hasil analisis tersebut apabila dihubungkan dengan rata-rata luas pemilikan lahan sawah saat ini menunjukkan bahwa lebih dari 85% petani tidak dapat memenuhi KHLnya, terdiri atas 65% petani pada lahan sawah irigasi teknis, 88% petani pada lahan sawah irigasi setengah teknis dan seluruh petani pada lahan sawah tadah hujan.

(15)

Jika pendapatan usaha tani selain padi dimasukkan dalam perhitungan pendapatan usaha tani, maka jumlah pendapatan usaha tani akan meningkat sehingga kontribusi pendapatan usaha tani terhadap KHL petani meningkat. Hal tersebut dimungkinkan karena peningkatan IP dengan komoditas lain pada lahan irigasi teknis di Kabupaten Lombok Tengah setelah MKI dapat meningkatkan kontribusi pendapatan usaha tani terhadap KHL petani menjadi 86,26% atau meningkat 17,37%. Demikian pula pemanfaatan lahan sawah dengan komoditas lain setelah MK I pada lahan sawah irigasi setengah teknis memberikan peningkatan kontribusi sebesar 0,68% dan setelah MH pada lahan tadah hujan memberikan peningkatan kontribusi sebesar 45,67% atau meningkat 70,28%.

Sebagaimana kita ketahui bahwa di Indonesia terdapat berbagai standar garis kemiskinan (poverty line) yang dapat digunakan untuk mengukur KHL penduduk. Apabila standar garis kemiskinan berdasarkan Sajogjo sebagaimana diuraikan di atas dibandingkan dengan beberapa standar garis kemiskinan yang dipakai di Indonesia, maka kontribusi pendapatan usaha tani padi sawah terhadap masing-masing standar tersebut ditunjukkan pada Tabel 5.7.

Tabel 5.7. Kontribusi pendapatan usaha tani padi sawah terhadap beberapa standar garis kemiskinan yang digunakan di Indonesia

Kontribusi terhadap KHL (%) Standar garis kemiskinan

(poverty line) Jumlah pengeluaran (Rp KK-1tahun-1) Irigasi teknis Setengah teknis Tadah hujan  Sajogjo1) 13.212.000 73,49 56,53 26,82

Bank Dunia (US$ 1,0)2)

12.055.950 80,53 61,53 29,39

Bank Dunia (US$ 2,0)2) 24.111.900 40,27 30,77 14,70

BPS/Nasional (US$ 1,5)2)

18.083.925 53,69 41,02 19,60

BPS/NTB (Rp.176.283)3) 7.763.503 125,06 95,56 45,64 Keterangan:1) pengeluaran setara beras 800 kg kapita-1tahun-1,2)pengeluaran kapita-1

hari-1dengan kurs Rp.9.000 per US$,3)pengeluaran kapita-1bulan-1 Tabel 5.7 memperlihatkan bahwa besarnya kontribusi pendapatan usaha tani padi sawah terhadap garis kemiskinan sangat tergantung dari standar pengeluaran yang digunakan. Standar pengeluaran yang paling rendah atau di bawah standar Sajogjo adalah standar BPS di Provinsi NTB tahun 2010 untuk wilayah perdesaan sebesar Rp.176.283 kapita-1 bulan-1 (BPS, 2010). Apabila jumlah anggota rumah tangga 3,67 orang KK-1, maka jumlah pengeluaran sebesar Rp.7.763.503 KK-1 tahun-1. Dengan menggunakan standar tersebut maka kontribusi pendapatan sebesar 125,06%, 95,56% dan 45,64%

(16)

berturut-turut pada lahan sawah irigasi teknis, setengah teknis dan tadah hujan. Petani dengan kontribusi pendapatan sebesar 125% telah melampaui garis kemiskinan.

Standar pengeluaran yang lebih rendah dari Sajogjo adalah pengeluaran US$ 1 kapita-1hari-1. Apabila mengacu pada standar US$ 1,5 dan US$ 2 kapita-1 hari-1 atau lebih tinggi dari standar Sajogjo, mengakibatkan kontribusi pendapatan usaha tani padi sawah lebih rendah.

Perubahan pada standar yang digunakan, dapat mempengaruhi jumlah penduduk miskin di Indonesia. Semakin tinggi standar yang digunakan, maka jumlah penduduk miskin semakin tinggi dan sebaliknya. Standar pengeluaran 800 kg kapita-1tahun-1berada pada standar yang moderat, yaitu sekitar US$ 1,3 kapita-1 hari-1. Bila dikaitkan bahwa sebagian besar penduduk miskin berada di perdesaan, maka aktivitas usaha tani padi sawah untuk meningkatkan pendapatan petani sangat erat kaitannya dengan upaya pengentasan kemiskinan.

Peningkatan jumlah penduduk miskin yang diakibatkan oleh kondisi ekonomi yang tidak stabil menunjukkan tingkat keparahan dan kedalaman kemiskinan. Usaha tani padi sawah merupakan usaha yang tidak hanya rentan terhadap perubahan kebijakan, tetapi juga rentan terhadap resiko dampak perubahan iklim. Kondisi yang demikian menyebabkan para petani umumnya termasuk kelompok yang rentan (vurnerable) apabila terjadi goncangan ekonomi dan mudah jatuh ke dalam kelompok miskin dengan pendapatan di bawah US$ 1 kapita-1hari-1.

Mengatasi masalah kemiskinan di perdesaan merupakan masalah yang kompleks terutama disebabkan keterbatasan sumber daya (lahan, air, modal dan keterampilan) dan keterbatasan lapangan usaha yang sesuai sebagai sumber pendapatan alternatif. Pemerintah perlu berupaya memperbaiki berbagai keterbatasan tersebut antara lain perbaikan kualitas lahan dan jaringan irigasi, pelatihan keterampilan dan penyediaan modal kerja yang sesuai dan mudah diakses serta menyediakan insentif yang dapat merangsang petani untuk mempertaankan eksistensi usaha tani padi sawah.

5.4. Kapasitas Produksi Padi dan Kebutuhan Konsumsi

Kapasitas produksi padi dan kebutuhan konsumsi merupakan dua hal pokok yang menjadi determinan kemandirian pangan. Kemandirian pangan diartikan sebagai kemampuan produksi pangan dalam negeri yang didukung

(17)

kelembagaan ketahanan pangan yang mampu menjamin pemenuhan kebutuhan pangan yang cukup ditingkat rumah tangga, baik dalam jumlah, mutu, keamanan, maupun harga yang terjangkau (Syahyuti, 2006; Simatupang, 2007; UU No. 41 Tahun 2009). Kemandirian pangan merupakan salah satu dimensi pengukuran ketahanan pangan (Simatupang, 2001). Indikator yang dapat digunakan untuk mengukur ketahanan pangan dari sisi kemandirian, antara lain (1) ketergantungan ketersediaan pangan nasional atau regional pada produksi pangan domestik, (2) ketergantungan ketersediaan pangan nasional atau regional pada pangan impor dan atau net impor (impor dikurangi ekspor), dan (3) ketergantungan ketersediaan pangan terhadap transfer pangan dari pihak/negara/wilayah lain.

Kemandirian pangan diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pangan dan gizi rumah tangga dengan bertumpu pada kemampuan produksi domestik melalui pengembangan sistem produksi, efisiensi sistem usaha tani, teknologi produksi, sarana dan prasarana produksi pangan, mempertahankan dan mengembangkan lahan produktif dan memanfaatkan potensi sumber daya lokal.

Produksi domestik menunjukkan seberapa besar produksi pangan (atau dalam penelitian ini produksi padi) menyumbang atau dapat memenuhi kebutuhan pangan domestik. Besaran produksi padi domestik untuk memenuhi kebutuhan pangan, sangat tergantung pada kapasitas produksi padi. Kapasitas produksi padi sawah diproyeksikan dari luas baku sawah, produktivitas dan indeks pertanaman padi. Determinan utama produksi padi domestik adalah luas panen dan produktivitas. Sebaliknya, kebutuhan pangan dapat diukur dari penjumlahan antara kebutuhan konsumsi penduduk, kebutuhan agroindustri, stock/cadangan pemerintah, penggunaan bibit dan kebutuhan untuk ekspor atau transfer ke wilayah lain (Rachman et al., 2004; Badan Litbang Pertanian, 2005a).

5.4.1. Kapasitas Produksi Padi

Produksi padi di NTB sebagian besar (>90%) bersumber dari produksi padi sawah dan sisanya berasal dari produksi padi ladang, sehingga dalam penelitian ini lebih difokuskan kepada sistem produksi padi sawah yang mempengaruhi 90% produksi padi NTB. Luas baku sawah sangat dimanis, dipengaruhi oleh laju perluasan (pencetakan sawah baru) dan laju konversinya (perubahan penggunaan lahan sawah ke non pertanian). Laju pencetakan sawah baru tergantung dari ketersediaan dana pemerintah dan potensi lahan yang tersedia,

(18)

sedangkan laju konversi dipengaruhi oleh laju pertumbuhan penduduk, peningkatan pendapatan dan perkembangan industri dan infrastruktur.

Produktivitas lahan dipengaruhi oleh tingkat penerapan teknologi pengelolaan, seperti penggunaan varietas unggul, tingkat kesuburan lahan, kecukupan air dan pengelolaan organisme pengganggu, sedangkan indeks pertanaman padi dipengaruhi oleh tingkat pendapatan usaha tani padi, ketersediaan jaringan irigasi dan air serta besarnya insentif yang diterima petani dari usaha tani padi bila dibandingkan dengan insentif dari usaha tani komoditas lainnya. Keputusan petani untuk beralih mengusahakan komoditas lain, banyak ditentukan oleh besaran insentif yang diterima dibandingkan faktor resikonya.

5.4.1.1. Luas Baku Sawah

Berdasarkan data BPS NTB (1999-2008) luas baku sawah di NTB mengalami fluktuasi yang cukup dinamis, hal ini dapat dilihat dari laju perluasan sawah dibandingkan dengan laju konversinya, ditunjukkan pada Tabel 5.8.

Tabel 5.8. Perkembangan luas baku sawah di NTB (1999-2008) Tipologi lahan sawah

Tahun

Irigasi teknis Irigasi 1/2 teknis Tadah hujan*)

Total luas baku sawah …………..……….(ha)………. 1999 63.173 77.523 69.899 210.595 2000 64.095 79.120 70.380 213.595 2001 67.879 73.891 66.644 208.414 2002 70.225 77.501 67.184 214.910 2003 76.763 78.510 68.094 223.367 2004 75.508 76.684 39.697 191.889 2005 78.021 74.570 58.380 210.971 2006 84.118 72.967 75.812 232.897 2007 75.001 67.945 76.090 219.036 2008 76.433 78.132 76.421 230.986 Sumber: BPS NTB (1999-2008) diolah 2010. *)

terdiri atas irigasi sederhana, non PU, tadah hujan, pasang surut, lebak dan folder lain. Tabel 5.8. menunjukkan bahwa pertambahan luas baku sawah di NTB selama periode 1999-2008 seluas 20.391 ha atau 9,68%. Angka tersebut diperoleh dari hasil pencetakan sawah baru pada periode yang sama seluas 106.129 ha (5,03% tahun-1) dan berkurangnya areal sawah karena konversi seluas 85.733 ha (4,07% tahun-1), sehingga laju pertumbuhan luas baku sawah dalam 10 tahun terakhir rata-rata 0,97% tahun-1.

Luas sawah irigasi teknis bertambah 23.632 ha dan mengalami konversi seluas 10.372 ha atau meningkat 2,10% tahun-1. Luas sawah irigasi setengah

(19)

teknis bertambah 16.403 ha dan berkurang seluas 15.794 ha atau meningkat 0,08% tahun-1; sawah tadah hujan bertambah seluas 36.157 ha, tetapi terjadi pengurangan seluas 32.146 ha atau meningkat 1,32% tahun-1.

Kecenderungan pertumbuhan positif atau negatif adalah resultante dari dinamika perubahan penggunaan lahan antara lain pencetakan sawah baru, perubahan ladang menjadi lahan sawah, perubahan lahan sawah tadah hujan menjadi irigasi setengah teknis, alih fungsi lahan sawah ke penggunaan non pertanian, dan lain-lain. Perubahan penggunaan lahan sawah ke penggunaan non pertanian dalam 10 tahun terkahir cukup tinggi, mencapai 4,07% tahun-1, hal ini dapat dimaklumi karena provinsi NTB termasuk wilayah yang masih dalam taraf berkembang, sehingga pembangunan prasarana atau infrastruktur fisik, seperti jalan, pengembangan perkotaan, permukiman, bandara internasional, pasar, pendidikan dan kawasan industri lainnya terus mengalami peningkatan.

5.4.1.2. Luas Panen dan Produktivitas

Luas panen padi sawah di NTB pada tahun 2001 tercatat 297.040 ha, meningkat menjadi 306.274 ha pada tahun 2008 atau secara agregasi mengalami pertumbuhan rata-rata 1,47% tahun-1; sedangkan produktivitas padi sawah pada tahun 2001 adalah 46,49 kw ha-1 meningkat menjadi 50,85 kwha-1 pada tahun 2008 dengan laju peningkatan rata-rata sebesar 1,17% tahun-1. Produksi padi sawah pada tahun 2001 mencapai 1.381.000 ton meningkat menjadi 1.553.000 ton pada tahun 2008 atau meningkat 1,60% tahun-1. Secara lebih rinci perkembangan luas panen, produktivitas dan produksi padi sawah di NTB periode 2001-2008, disajikan pada Tabel 5.9.

Tabel 5.9. Perkembangan luas panen, produktivitas dan produksi padi sawah di NTB 2001 – 2008.

Tahun Luas panen (ha) Rata-rata produktivitas (kw/ha) Produksi (ton) 2001 297.040 46,49 1.381.066 2002 274.754 46,73 1.283.981 2003 278.770 47,50 1.324.113 2004 277.451 48,49 1.345.271 2005 262.406 48,31 1.267.789 2006 293.595 48,52 1.424.667 2007 289.481 48,71 1.410.096 2008 306.274 50,85 1.557.300 Sumber: BPS NTB (2001-2008).

(20)

Tabel 5.9 memperlihatkan bahwa luas panen padi sawah sejak tahun mengalami fluktuasi yang diakibatkan oleh fluktuasi luas baku sawah sebagai resultante dari pencetakan sawah baru dan konversi serta fluktuasi indeks pertanaman padi sawah. Pada tahun 2001 luas panen padi sawah 290.040 ha, dan pada tahun 2002 berkurang seluas 22.286 ha (-7,50%); meningkat 1,46% pada tahun 2003, menurun 4,73% pada tahun 2003, turun kembali sebesar 5,42% pada tahun 2004. Pada tahun 2005 terjadi kenaikan dari tahun sebelumnya sebesar 11,88%, menungkat lagi 1,4% pada tahun 2007 dan meningkat lagi 5,8% pada tahun 2008. Secara agregasi laju pertumbuhan luas panen padi sawah rata-rata dalam delapan tahun terakhir adalah 0,41%.

Penurunan luas panen tersebut berpengaruh terhadap produksi padi sawah, meskipun produktivitas padi terus mengalami peningkatan. Penurunan produksi padi terhadap produksi 2001 terjadi pada tahun 2002 sampai dengan 2005, berturut-turut sebesar 97.085 ton (2002); 56.953 ton (2003); 35.795 ton (2004) dan 113.277 ton (2005), sedangkan pada periode 2006-2008 terjadi peningkatan masing-masing sebesar 43.601 ton (2006), 29.030 ton (2007) dan 176.234 ton (2008).

Luas panen padi ladang pada tahun 2001 tercatat seluas 33.733 ha, meningkat menjadi 53.440 ha pada tahun 2008 dengan laju pertumbuhan rata-rata sebesar 7,3% tahun-1. Produktivitas padi ladang pada tahun 2001 adalah 23,13 kwha-1 meningkat menjadi 36,19 kwha-1 pada tahun 2008 dengan laju peningkatan rata-rata sebesar 1,63% tahun-1. Peningkatan luas panen dan produktivitas memberikan pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan produksi. Secara lebih rinci perkembangan luas panen, produktivitas dan produksi padi ladang di NTB periode 2001-2008, disajikan pada Tabel 5.10.

Tabel 5.10. Perkembangan luas panen, produktivitas dan produksi padi ladang di NTB 2001 – 2008.

Tahun Luas panen (ha) Rata-rata produktivitas (kw/ha) Produksi (ton) 2001 33.733 23,13 78.036 2002 36.215 23,80 86.189 2003 40.647 24,19 98.328 2004 48.533 25,03 121.486 2005 37.988 26,35 100.080 2006 47.823 26,76 127.961 2007 42.435 27,40 116.251 2008 53.440 36,19 193.379 Sumber: BPS NTB (2001-2008).

(21)

Tabel 5.10 memperlihatkan bahwa luas panen padi ladang terus mengalami peningkatan yang signifikan, kecuali pada tahun 2005 dan 2007 terjadi penurunan luas panen yang sangat drastis berturut-turut sebesar 21,73% dan 11,27% yang berakibat terjadinya penurunan produksi sebesar 21.406 ton (17,62%) pada tahun 2005 dan 11.710 ton (9,15%) tahun 2007. Peningkatan luas panen yang sangat tinggi terjadi pada tahun 2008 yang diikuti peningkatan produktivitas sebesar 8,79 kwha-1, sehingga berdampak pada peningkatan produksi sebesar 77.128 ton dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Kontribusi produksi padi sawah terhadap produksi padi regional NTB masih cukup tinggi yaitu rata-rata di atas 90%. Perkembangan kontribusi produksi padi sawah terhadap total produksi padi NTB, ditunjukkan pada Tabel 5.11.

Tabel 5.11. Produksi padi sawah dan ladang dan kontribusi produksi padi sawah terhadap total produksi padi NTB

Produksi padi sawah Produksi padi ladang Total produksi padi NTB Tahun ………(ton)……….. Kontribusi produksi padi sawah (%) 2001 1.381.066 78.036 1.461.103 94,52 2002 1.283.981 86.189 1.372.172 93,57 2003 1.324.113 98.328 1.424.444 92,96 2004 1.345.271 121.486 1.468.761 91,59 2005 1.267.789 100.080 1.369.874 92,55 2006 1.424.667 127.961 1.554.634 91,64 2007 1.410.096 116.251 1.528.354 92,26 2008 1.557.300 193.379 1.752.687 88,85 Sumber: BPS NTB, (2001-2008) diolah 2010.

Tabel 5.11 menunjukkan bahwa kontribusi produksi padi sawah terhadap produksi padi NTB periode 2001-2008 rata-rata 92,22% dan cenderung semakin menurun sebagai akibat dari laju pertumbuhan produksi padi sawah lebih rendah daripada pertumbuhan produksi padi ladang. Pertumbuhan produksi padi sawah yang lebih lambat disebabkan pertumbuhan luas panen dan produktivitas padi sawah yang relatif stagnan masing-masing 0,39% tahun-1dan 1,17% tahun-1.

Sebaliknya pertumbuhan luas panen maupun produktivitas padi ladang dalam periode yang sama relatif lebih cepat masing-masing 7,3% tahun-1 dan 1,63% tahun-1. Pelandaian produktivitas padi sawah diduga terjadi karena sudah mendekati potensi hasil varietas, penurunan kualitas lahan akibat degradasi dan variabilitas iklim (Sumarno, 2006). Pertumbuhan luas panen padi sawah yang lebih lambat juga dipengaruhi oleh meningkatnya penggunaan lahan sawah untuk usaha tani komoditas lain, seperti tembakau, bawang merah, dan lain-lain.

(22)

Apabila ditinjau dari rasio produksi padi terhadap jumlah penduduk periode 2001-2008 menunjukkan bahwa produksi padi NTB rata-rata 362 kg kapita-1 tahun-1, dengan tingkat pertumbuhan yang masih positif 1,16% kapita-1tahun-1.

5.4.1.3. Indeks Pertanaman Padi

Indeks pertanaman padi (IP padi) adalah frekuensi tanam padi pada sebidang lahan (ruang) dalam satu tahun yang dinyatakan dalam persen (%). Peningkatan IP padi adalah salah satu upaya peningkatan produksi padi dengan memanfaatkan waktu dan ruang secara optimal melalui rekayasa sosial dan teknologi. Pertumbuhan produksi padi yang semakin tidak mampu mengimbangi pesatnya pertumbuhan konsumsi sejalan dengan pertumbuhan penduduk dan peningkatan pendapatan, menyebabkan perlunya upaya terobosan peningkatan produksi padi melalui pemanfaatan sumber daya lahan dan air dengan meningkatkan frekuensi tanam padi dari hanya satu atau dua kali menjadi tiga atau bahkan 4 kali tanam dalam setahun. Upaya ini perlu dilakukan, mengingat ketersediaan lahan sawah cenderung semakin berkurang akibat terjadinya alih fungsi lahan yang terus berlanjut, terutama lahan sawah beririgasi. IP padi sawah di NTB 2001-2008 menunjukkan kecenderungan yang semakin menurun dari tahun ke tahun, seperti ditunjukkan pada Tabel 5.12.

Tabel 5.12. Indeks pertanaman padi sawah (%) di NTB 2001-2008 Tahun Luas baku sawah

(ha)

Luas panen padi sawah (ha) Indeks pertanaman padi sawah (%) 2001 208.414 297.040 142,52 2002 214.910 274.754 127,85 2003 223.367 278.770 124,80 2004 191.889 277.451 144,59 2005 210.971 262.406 124,38 2006 232.897 293.595 126,06 2007 218.910 289.481 132,24 2008 230.986 306.274 132,59 Sumber: BPS NTB, (2001-2008) diolah 2010.

Tabel 5.12. memperlihatkan bahwa IP padi sawah di NTB dalam delapan tahun terakhir rata-rata mencapai 131,88% tahun-1 dan cenderung menurun. Pada tahun 2001 IP padi sawah 142,52%, menurun menjadi 132,59% pada tahun 2008 atau secara agregasi terjadi penurunan IP padi rata-rata -0,61% tahun-1. IP padi tertinggi terjadi pada tahun 2004 mencapai 144,59% dan yang terendah terjadi pada tahun 2005 sebesar 124,38%.

(23)

Penurunan IP padi sawah di NTB kemungkinan disebabkan oleh: (1) ketersediaan air yang semakin berkurang padahal falsafah petani ”bila ada air pasti menanam padi”; (2) usaha tani padi mendapat saingan dari usaha tani komoditas lain yang memberikan insentif yang lebih baik dalam hal pendapatan maupun kepastian hasil. Hal ini dapat dilihat dari laju peningkatan luas areal komoditas lain dalam periode 2001-2008. Pada tahun 2001 luas areal komoditas selain padi pada lahan sawah tercatat seluas 18.006 ha, meningkat secara signifikan menjadi 38.537 ha pada tahun 2008 atau meningkat 114% atau rata-rata 14,25% tahun-1. Gambaran penggunaan lahan sawah irigasi teknis untuk komoditas lain selain padi di NTB tahun 2001-2008, disajikan pada Tabel 5.13.

Tabel 5.13. Luas panen komoditas utama non padi pada lahan sawah irigasi teknis di NTB 2001-2008

Luas panen komoditas utama non padi pada lahan sawah Tembakau Kacang

tanah

Bawang merah

Bawang

putih Cabe Kubis

Total Tahun ………(ha)……….. 2001 21.923 26.498 15.484 887 7.885 230 72.907 2002 17.440 28.175 8.860 753 8.232 397 63.857 2003 23.187 34.039 8.801 668 8.148 453 75.296 2004 23.794 41.020 8.956 488 6.918 428 81.604 2005 22.004 35.214 10.136 655 9.609 355 77.973 2006 22.012 34.860 9.938 799 7.575 435 75.619 2007 28.671 25.488 9.776 569 7.784 365 72.653 2008 31.385 25.541 8.044 256 8.616 432 74.274 Rata-rata 23.802 31.354 9.999 634 8.096 387 74.273 Sumber: BPS NTB (2001-2008)

Tabel 5.13. menggambarkan bahwa usaha tani padi mendapat saingan yang cukup besar dari usaha tani komoditas lain, terutama di lahan sawah irigasi teknis. Usaha tani tembakau, baik tembakau rakyat maupun virginia menempati areal sawah rata-rata 23.802 ha tahun-1 baik pada lahan sawah beririgasi teknis setengah teknis maupun tadah hujan pada musim tanam kemarau (MK) I dan II.

Kacang tanah dengan luas areal 31.354 ha tahun-1 sebagian menempati areal lahan sawah irigasi teknis yang ditanam pada MKI atau MK II, sebagian ditanam pada lahan kering yaitu pada musim hujan (MH). Kacang tanah banyak diusahakan di wilayah Kabupaten Lombok Barat, Lombok Utara, Lombok Tengah dan Bima. Komoditas lain yang menempati areal sawah irigasi teknis adalah bawang merah yaitu rata-rata 10.000 ha tahun-1, dominan di Kabupaten Lombok Timur, Lombok Utara dan Bima; bawang putih (Lombok Timur), cabe kecil, cabe

(24)

besar, dan kubis dominan di Kabupaten Lombok Tengah, Lombok Timur, dan Bima yang ditanam pada MK1 dan MK2. Kondisi demikian menjadi tantangan yang cukup berat untuk meningkatkan IP padi sawah pada wilayah basis komoditas tersebut.

Peningkatan IP dan pengendalian konversi lahan akan menjadi determinan utama peningkatan luas areal panen, karena potensi lahan yang sesuai untuk perluasan areal sawah baru sudah dimanfaatkan mendekati 100%. Peningkatan IP akan dicapai apabila: a) ada upaya untuk melaksanakan rehabilitasi dan ekstensifikasi infrastruktur irigasi dan b) peningkatan pendapatan petani dari usaha tani padi untuk meningkatkan daya saing terhadap komoditas lain.

5.4.1.4. Perkiraan Kehilangan Produksi Padi

Kehilangan produksi padi diperhitungkan dari (1) kehilangan produksi padi karena kegagalan panen maupun penurunan produktivitas akibat pengaruh iklim, seperti kekeringan, banjir dan serangan organisme pengganggu tanaman, dan (2) kehilangan produksi karean tercecer akibat penanganan panen dan pasca panen yang kurang tepat.

Kehilangan produksi padi cukup besar sebagai dampak pengaruh variabilitas iklim yang semakin sulit dipastikan. Kejadian-kejadian ekstrim seperti banjir, kekeringan dan serangan organisme pengganggu tanaman sebagai dampak perubahan iklim semakin sering terjadi dan dengan intensitas yang lebih tinggi. Menurut Kepala Bulog Devisi Regional NTB, luas areal tanaman padi yang mengalami kegagalan panen akibat pengaruh iklim di NTB pada tahun 2008 diperkirakan seluas 48.000 ha, sehingga diputuskan untuk menghentikan pemasukan beras ke Bali dan NTT. Estimasi kehilangan produksi akibat puso tersebut sebesar 244.000 ton tahun-1. Lebih lanjut Kepala Dinas Pertanian NTB menyatakan bahwa pada tahun 2009 areal tanaman padi sawah yang mengalami puso di NTB seluas 6.424 ha dan areal padi ladang seluas 17.255 ha, yang mengakibatkan kehilangan produksi padi sebanyak 95.115 ton.

Pada sisi lain, kehilangan hasil panen padi diperkirakan cukup tinggi di NTB. Berdasarkan data BPS (1996) kehilangan hasil panen di Indonesia mencapai 20,42%, dengan rincian: kehilangan saat panen 9,5%, perontokan 4,8%, penggilingan 2,2%, pengeringan 2,1%, penyimpanan 1,6% dan pengangkutan 0,2%. Hasil penelitian Balai Besar Pasca Panen tahun 2006 menunjukkan angka kehilangan hasil pascapanen padi di lahan irigasi dan tadah hujan berkisar 10,93% – 13,04% (Anonim, 2006). Kehilangan hasil panen dapat

(25)

ditekan melalui penerapan model pengelolaan tanaman padi terpadu (PTT), dapat menekan kehilangan hasil rata-rata 2,4% tahun-1 (Badan Litbang Pertanian, 2005a). Penerapan panen beregu dapat menekan kehilangan hasil panen sekitar 13,1% - 18,6% menjadi 3,8%.

5.4.2. Kebutuhan Konsumsi

Proyeksi kebutuhan padi didasarkan pada jumlah penduduk, konsumsi kapita-1tahun-1, kebutuhan agroindustri, jumlah cadangan pemerintah, kebutuhan benih padi dan jumlah ekspor atau transfer. Kebutuhan konsumsi beras penduduk Indonesia rata-rata adalah sebesar 139,15 kg kapita-1tahun-1 (Nainggolan, 2008, Firdaus et al., 2008, BKP, 2009). Sedangkan kebutuhan agroindustri diperkirakan 23,5% dari kebutuhan konsumsi penduduk, cadangan/stock pemerintah 10% dari total kebutuhan konsumsi, kebutuhan benih padi sawah 25-50 kg ha-1 serta kebutuhan untuk ekspor atau transfer ke daerah lain yang terdekat. Kelebihan stock beras NTB biasanya ditranfer untuk memenuhi kebutuhan konsumsi beras wilayah yang terdekat, diantaranya ke provinsi Bali dan Nusa Tenggara Timur.

Konversi gabah kering giling (GKG) ke beras (rendemen) rata-rata 1:0,63 yang dipengaruhi oleh jenis dan kondisi alat penggilingan dan kualitas gabah (Badan Litbang Pertanian, 2005b). Menurut Thahir (2009), rendemen beras giling (milling recovery) adalah persentase bobot/bobot beras giling yang dapat diperoleh dari sejumlah gabah bernas, dalam keadaan bersih, tidak mengandung gabah hampa dan kotoran pada kadar air 14%. Selain rendemen dikenal juga istilah rasio penggilingan (milling ratio), yang maksudnya adalah persentase beras giling yang dapat diperoleh (bobot/bobot) dari sejumlah gabah yang digiling dengan kondisi mutu tertentu. Data rendemen beras sering disebutkan untuk memberi gambaran produksi beras, namun tidak jelas mutu gabah yang dijadikan acuan. Hasil survei Sudaryono et al.(2005) di Jawa Barat menunjukkan bahwa rasio penggilingan dari tiga unit penggilingan padi rata-rata 65,96%, dan setelah dikonversi ternyata setara dengan rendemen giling 68,29%.

Hasil penelitian rendemen beras yang berasal dari penggilingan padi skala besar, menengah, dan kecil masing-masing sebesar 61,5%, 59,7%, dan 55,7% dengan koefisien variasi (CV) masing-masing sebesar 6,65%, 10,89%, dan 7,96% (Tjahjohutomo et al., 2004). Nilai koefisien variasi ini memberi gambaran bahwa ketiga rendemen beras tersebut berpeluang berada dalam kisaran yang

(26)

sama. Pada sisi lain, kandungan beras kepala dan beras patah dari penggilingan padi skala besar, menengah, dan kecil berada dalam kisaran yang sama, masing-masing 70-90% dan 16-28% (Thahir et al., 2006).

Hasil analisis berdasarkan data dan informasi aktual 2001-2008 menunjukkan bahwa kebutuhan konsumsi padi NTB, masih dapat dipenuhi dari produksi domestik. Laju peningkatan kebutuhan konsumsi masih dapat diimbangi oleh laju peningkatan produksi, hal ini dapat dilihat dari neraca produksi dan konsumsi, pada Gambar 5.1.

Gambar 5.1. Neraca produksi dan kebutuhan konsumsi padi NTB 2001-2008 Gambar 5.1. memperlihatkan bahwa produksi padi NTB delapan tahun terakhir mengalami surplus yang cenderung semakin besar. Keberhasilan surplus produksi tersebut karena masih tersedia potensi lahan untuk perluasan areal menggantikan lahan terkonversi sehingga mampu meningkatkan produksi. Disamping itu peningkatan produksi juga disebabkan oleh peningkatan produktivitas padi yang signifikan pada tahun 2008, dari 48,71 kw ha-1 pada tahun 2007 menjadi 50,85 kw ha-1 atau meningkat sebesar 4,4%. Diperkirakan peningkatan produktivitas padi tersebut merupakan salah dampak dari program Peningkatan Produksi Beras Nasional (P2BN) dengan memberikan bantuan benih langsung (BBL) kepada petani.

Derajat kemandirian pangan NTB pada tahun 2001-2008 berada pada kisaran 106% -120%. Pada tahun 2001 terjadi surplus sekitar 15.600 ton meningkat menjadi 56.200 ton pada tahun 2008. Kelebihan tersebut dapat ditransfer ke daerah lain, sehingga NTB dapat eksis sebagai salah satu lumbung pangan nasional.

(27)

5.5. Indeks dan Status Keberlanjutan Sistem Produksi Padi Sawah

Penentuan indeks dan status keberlanjutan sistem produksi padi sawah di NTB merupakan langkah yang sangat penting untuk memperoleh gambaran menyeluruh mengenai kondisi saat ini (existing condition). Pemahaman yang mendalam mengenai kondisi eksisting serta faktor-faktor yang berpengaruh akan memudahkan dalam perumusan kebijakan atau perencanaan program.

Hasil penilaian atribut yang dilakukan oleh pakar menunjukkan bahwa terdapat 57 atribut atau faktor yang mempunyai hubungan keterkaitan timbal balik yang dapat mempengaruhi setiap dimensi sistem produksi padi sawah di NTB, yaitu 11 atribut mempengaruhi dimensi ekologi, 13 atribut berpengaruh terhadap dimensi ekonomi, 11 atribut berpengaruh terhadap dimensi sosial, 9 atribut berpengaruh terhadap dimensi kebijakan dan kelembagaan, serta 13 atribut berpengaruh terhadap dimensi teknologi dan infrastruktur.

Hasil analisis indeks dan status keberlanjutan setiap dimensi sistem produksi padi sawah yang dilakukan dengan menggunakan teknik ordinasi

Rap-Sisprodi dengan metode MDS diuraikan secara rinci di bawah ini. 5.5.1. Indeks dan Status Keberlanjutan Dimensi Ekologi

Hasil analisis ordinasi Rap-Sisprodi terhadap 11 atribut yang berpengaruh terhadap dimensi ekologi menunjukkan bahwa nilai indeks keberlanjutan dimensi ekologi adalah 58,54%. Nilai tersebut berada pada selang 50,01-75,00 skala keberlanjutan dengan status cukup berkelanjutan, ditunjukkan oleh Gambar 5.2.

RAPSISPRODI Ordination 58,54 GOOD BAD UP DOWN -60 -40 -20 0 20 40 60 -20 0 20 40 60 80 100 120 Ecological Sustainability O th e r D is ti n g is h in g F e a tu re s

Real Ecological References Anchors

RAPSISPRODI Ordination 58,54 GOOD BAD UP DOWN -60 -40 -20 0 20 40 60 -20 0 20 40 60 80 100 120 Ecological Sustainability O th e r D is ti n g is h in g F e a tu re s

Real Ecological References Anchors

(28)

Analisis leverage terhadap 11 atribut dimensi ekologi diperoleh empat atribut yang sensitif, yaitu luas baku sawah, kondisi iklim, luas hutan, sumber dan debit air, ditunjukkan pada Gambar 5.3.

Luas baku sawah merupakan salah satu determinan utama kapasitas produksi padi, sehingga eksistensinya perlu dipertahankan. Dalam 10 tahun terakhir luas baku sawah mengalami peningkatan rata-rata 0,97% tahun-1. Hal ini dimungkinkan apabila potensi lahan sawah masih tersedia.

Leverage of Ecological Attributes

1,86 0,24 0,03 0,13 0,21 0,20 3,18 0,31 2,39 0,78 1,67 0,0 0,5 1,0 1,5 2,0 2,5 3,0 3,5 Luas Hutan Luas areal padi sawah kekeringan

Potensi lahan sawah Kesesuaian Lahan Kesuburan lahan Luas areal terserang OPT Luas Baku Sawah Perluasan Areal Kondisi iklim Areal Banjir Sumber dan debit air

A tt ri b u te

Root Mean Square Change in Ordination when Selected Attribute Removed (on Sustainability scale 0 to 100)

Leverage of Ecological Attributes

1,86 0,24 0,03 0,13 0,21 0,20 3,18 0,31 2,39 0,78 1,67 0,0 0,5 1,0 1,5 2,0 2,5 3,0 3,5 Luas Hutan

Luas areal padi sawah kekeringan Potensi lahan sawah Kesesuaian Lahan Kesuburan lahan Luas areal terserang OPT Luas Baku Sawah Perluasan Areal Kondisi iklim Areal Banjir Sumber dan debit air

A tt ri b u te

Root Mean Square Change in Ordination when Selected Attribute Removed (on Sustainability scale 0 to 100)

Gambar 5.3. Nilai sensitivitas atribut dimensi ekologi yang dinyatakan dalam perubahan Root Mean Square (RMS) skala keberlanjutan 0 -100. Kondisi iklim berperan sangat dominan di wilayah beriklim kering seperti di NTB, sehingga mempengaruhi keberlanjutan dimensi ekologi. Kemampuan mitigasi, antisipasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim akan menjadi faktor penentu keberhasilan sistem produksi padi. Dampak langsung dari perubahan iklim terhadap sistem produksi padi adalah menurunkan produktivitas, meningkatnya kehilangan hasil panen yang disebabkan meningkatnya frekuensi maupun intensitas kejadian banjir dan kekeringan, serta meningkatnya serangan organisme pengganggu tanaman (Las, 2007).

Kondisi hutan yang baik meskipun secara langsung tidak berpengaruh terhadap sistem produksi padi, akan tetapi sangat erat kaitannya dengan kemampuan resapan air (cachment area) yang dapat mempengaruhi sumber mata air serta debitnya untuk mendukung sistem produksi padi.

(29)

5.5.2. Indeks dan Status Keberlanjutan Dimensi Ekonomi

Hasil analisis ordinasi Rap-Sisprodi terhadap 13 atribut dimensi ekonomi menunjukkan bahwa nilai indeks keberlanjutan dimensi ekonomi sebesar 51,98% dengan kategori cukup berkelanjutan, ditunjukkan pada Gambar 5.4.

RAP-SISPRODI Ordination 51,98 DOWN UP BAD GOOD -60 -40 -20 0 20 40 60 -20 0 20 40 60 80 100 120

Econom ics Sustainability

O th e r D is ti n g is h in g F e a tu re s

Real Economics References Anchors

Gambar 5.4. Nilai indeks dan status keberlanjutan dimensi ekonomi

Hasil analisis leverage terhadap 13 atrubut dimensi ekonomi diperoleh tiga atribut yang sensitif terhadap keberlanjutan dimensi ekonomi, yaitu ketersediaan sarana produksi, ketersediaan modal dan pendapatan petani, ditunjukkan pada Gambar 5.5.

Leverage of Economic Attributes

0,13 0,27 0,44 0,51 0,54 0,50 1,32 1,24 0,44 0,37 0,81 0,02 0,20 0,0 0,2 0,4 0,6 0,8 1,0 1,2 1,4 Produktivitas Produksi Biaya tenaga kerja Pendapatan usahatani selain padi Harga gabah Harga Saprodi Ketersediaan sarana produksi Pendapatan petani PDRB NTB NTP Ketersediaan modal petani Pemasaran Luas penguasaan lahan

A tt ri b u te

Root Mean Square Change in Ordination when Selected Attribute Removed (on Sustainability scale 0 to 100)

Leverage of Economic Attributes

0,13 0,27 0,44 0,51 0,54 0,50 1,32 1,24 0,44 0,37 0,81 0,02 0,20 0,0 0,2 0,4 0,6 0,8 1,0 1,2 1,4 Produktivitas Produksi Biaya tenaga kerja Pendapatan usahatani selain padi Harga gabah Harga Saprodi Ketersediaan sarana produksi Pendapatan petani PDRB NTB NTP Ketersediaan modal petani Pemasaran Luas penguasaan lahan

A tt ri b u te

Root Mean Square Change in Ordination when Selected Attribute Removed (on Sustainability scale 0 to 100)

Gambar 5.5. Nilai sensitivitas atribut dimensi ekonomi yang dinyatakan dalam perubahan RMS skala keberlanjutan 0 -100

(30)

Ketersediaan sarana produksi dalam jumlah yang cukup dan terjangkau serta modal sangat penting dalam meningkatkan pendapatan petani. Sebaliknya tingkat pendapatan yang rendah sangat berpengaruh terhadap kemampuan modal dan penyediaan sarana produksi yang tepat sehingga berdampak pada penurunan produktivitas. Perolehan insentif yang rendah dapat mempengaruhi keputusan petani untuk beralih ke komoditas lain yang mempunyai nilai ekonomi lebih tinggi, atau mencari sumber pendapatan di luar pertanian yang memberikan insentif lebih baik, pada akhirnya dapat berakibat terganggunya sistem produksi padi untuk mencapai kemandirian pangan secara berkelanjutan.

5.5.3. Nilai Indeks dan Status Keberlanjutan Dimensi Sosial

Hasil analisis ordinasi Rap-Sisprodi terhadap 11 atribut dimensi sosial menunjukkan bahwa nilai indeks keberlanjutan dimensi sosial adalah 50,84% dengan kategori cukup berkelanjutan, ditunjukkan pada Gambar 5.6.

RAP-SISPRODI Ordination 50,84 GOOD BAD UP DOWN -60 -40 -20 0 20 40 60 -20 0 20 40 60 80 100 120 Socials Sustainability O th e r D is ti n g is h in g F e a tu re s

Real Socials References Anchors

Gambar 5.6. Nilai indeks dan status keberlanjutan dimensi sosial

Hasil analisis leverage menunjukkan bahwa dari 11 atribut dimensi sosial yang dianalisis terdapat dua atribut yang mempunyai nilai sensitivitas tinggi terhadap keberlanjutan dimensi sosial, yaitu konversi lahan sawah dan pertumbuhan penduduk, ditunjukkan pada Gambar 5.7.

Konversi lahan sawah merupakan ancaman yang serius terhadap ketahanan pangan karena dampaknya bersifat permanen. Pada sisi lain pencetakan sawah baru terkendala oleh biaya dan terbatasnya potensi lahan. Menurut Pasandaran (2006), lahan sawah baru tidak dengan sendirinya dapat

(31)

mengkompensasi kehilangan produksi dari lahan sawah produktif yang telah dikonversi. Diperlukan waktu lebih dari 10 tahun menjadikan lahan sawah baru dengan tingkat produktivitas yang tinggi.

Leverage of Socials Attributes

0,23 0,67 1,43 0,97 2,05 1,14 1,03 3,78 0,77 0,37 0,70 0,0 0,5 1,0 1,5 2,0 2,5 3,0 3,5 4,0 4,5

Jumlah Rumah Tangga Petani Pendidikan Formal KK Tani Pendidikan Formal Wanita Tani Jumlah RT Petani dapat Penyuluhan Pertumbuhan penduduk Jumlah buruh tani Konsumsi beras per kapita/tahun Konversi lahan sawah Aksesibilitas transportasi desa Aksesibilitas Komunikasi Desa Desa wilayah pertanian tan. pangan

A tt ri b u te

Root Mean Square Change in Ordination when Selected Attribute Removed (on Sustainability scale 0 to 100)

Leverage of Socials Attributes

0,23 0,67 1,43 0,97 2,05 1,14 1,03 3,78 0,77 0,37 0,70 0,0 0,5 1,0 1,5 2,0 2,5 3,0 3,5 4,0 4,5 Jumlah Rumah Tangga Petani

Pendidikan Formal KK Tani Pendidikan Formal Wanita Tani Jumlah RT Petani dapat Penyuluhan Pertumbuhan penduduk Jumlah buruh tani Konsumsi beras per kapita/tahun Konversi lahan sawah Aksesibilitas transportasi desa Aksesibilitas Komunikasi Desa Desa wilayah pertanian tan. pangan

A tt ri b u te

Root Mean Square Change in Ordination when Selected Attribute Removed (on Sustainability scale 0 to 100)

Gambar 5.7. Nilai sensitivitas atribut sosial yang dinyatakan dalam perubahan RMS skala keberlanjutan 0 -100

Sedangkan pertumbuhan penduduk yang tinggi berimplikasi terhadap berbagai dimensi kehidupan, terutama kebutuhan pangan dan kebutuhan lahan untuk permukiman. Untuk setiap hektar lahan sawah yang dikonversi diperlukan seluas 2,20 ha lahan sawah pengganti untuk menutupi kehilangan produksi karena tingginya produktivitas lahan sawah yang ada dan banyaknya masalah lahan sawah bukaan baru (Agus dan Irawan, 2006). Potensi lahan sawah yang masih tersedia di NTB saat ini seluas 6.247 ha (Hidayat dan Ritung, 2008).

5.5.4. Nilai Indeks dan Status Keberlanjutan Dimensi Kebijakan dan Kelembagaan

Hasil analisis ordinasi Rap-sisprodi terhadap sembilan atribut dimensi kebijakan dan kelembagaan menunjukkan bahwa nilai indeks keberlanjutan dimensi kebijakan dan kelembagaan adalah 53,12% dengan kategori cukup berkelanjutan, ditunjukkan pada Gambar 5.8.

(32)

RAP-SISPRODI Ordination 53,12 DOWN UP BAD GOOD -60 -40 -20 0 20 40 60 -20 0 20 40 60 80 100 120

Policy and Institutions Sustainability

O th e r D is ti n g is h in g F e a tu re s

Real Policy and Institutions References Anchors

RAP-SISPRODI Ordination 53,12 DOWN UP BAD GOOD -60 -40 -20 0 20 40 60 -20 0 20 40 60 80 100 120

Policy and Institutions Sustainability

O th e r D is ti n g is h in g F e a tu re s

Real Policy and Institutions References Anchors

Gambar 5.8. Nilai indeks dan status keberlanjutan dimensi kebijakan dan kelembagaan

Hasil analisis leverage menunjukkan bahwa dari sembilan atribut yang dianalisis terdapat dua atribut sensitif yang sangat berpengaruh terhadap keberlanjutan sistem produksi dan permintaan konsumsi padi dari dimensi kebijakan dan kelembagaan, yaitu kebijakan pemerintah dan kelembagaan petani, ditunjukkan pada Gambar 5.9.

Leverage of Policy and Institutions Attributes

0,39 0,56 0,76 0,77 0,66 1,92 1,61 0,11 0,28 0,0 0,5 1,0 1,5 2,0 2,5 Kelembagaan permodalan Kelembagaan Penyuluhan Kelembagaan Perbenihan Kelembagaan Teknologi Kelembagaan Pengendalian OPT Kebijakan pemerintah Kelembagaan petani Kelembagaan Pasar Kelembagaan sarana produksi

A tt ri b u te

Root Mean Square Change in Ordination when Selected Attribute Removed (on Sustainability scale 0 to 100)

Leverage of Policy and Institutions Attributes

0,39 0,56 0,76 0,77 0,66 1,92 1,61 0,11 0,28 0,0 0,5 1,0 1,5 2,0 2,5 Kelembagaan permodalan Kelembagaan Penyuluhan Kelembagaan Perbenihan Kelembagaan Teknologi Kelembagaan Pengendalian OPT Kebijakan pemerintah Kelembagaan petani Kelembagaan Pasar Kelembagaan sarana produksi

A tt ri b u te

Root Mean Square Change in Ordination when Selected Attribute Removed (on Sustainability scale 0 to 100)

Gambar 5.9. Nilai sensitivitas atribut kebijakan dan kelembagaan yang dinyatakan dalam perubahan RMS skala keberlanjutan 0 -100 Usaha tani padi sawah adalah usaha rakyat skala kecil yang memberikan penghidupan bagi lebih dari 45% masyarakat di perdesaan yang sebagian besar tergolong ekonomi lemah (miskin). Selain itu komoditas padi adalah makanan

Gambar

Tabel 5.1. Hasil analisis usaha tani padi pada tiga tipologi lahan sawah di tiga wilayah penelitian (ha tahun -1 ) tahun 2010
Tabel 5.3. Matriks input-output program linier usaha tani padi sawah di tiga lokasi penelitian tahun 2010
Tabel 5.5. Luas lahan garapan petani saat ini pada tiga tipologi lahan sawah di tiga lokasi penelitian.
Tabel 5.6. Kontribusi pendapatan usaha tani padi sawah terhadap pemenuhan KHL petani pada tiga tipologi lahan sawah di tiga lokasi penelitian
+7

Referensi

Dokumen terkait

Target luaran yang diharapkan adalah membentuk anak panti asuhan yang mandiri secara ekonomis, dan produksi telur ayam ras dari panti yang berkelanjutan.. Dalam kegiatan ini

Penampilan diri merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari terutama bagi kaum wanita. Setiap wanita selalu berkeinginan untuk memiliki penampilan

Katup berfungsi untuk membuka dan menutup saluran hisap dan saluran buang.Tiap silinder dilengkapi dengan dua katup yang masing-masing adalah katup hisap dan katup

Hasil penelitian yang telah dilakukan, menunjukkan bahwa: (1) penelitian menghasilkan e-modul pembelajaran Pengoperasian Kamera Digital berbasis flash untuk siswa SMK kelas

SISTEM KEUANGAN ISLAM Indirect Financial Market Direct Financial Market Islamic Bond Market Islamic Equity Market Unit Trusts Takaful Forex Market Pension Funds Islamic

Hasil yang diharapkan dari penelitian ini berupa sebuah model regresi linier berupa formula yang dapat digunakan untuk mengetahui tingkat penerimaan calon konsumen terhadap

Hubungan Riwayat Penyakit Diare dan Praktik Higiene dengan Kejadian Stunting pada Balita Usia 24-59 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Simolawang, Surabaya... Potential

Menurut Fitri dkk., (2013), menentukan kelas umur simpai dapat dilakukan dengan mengetahui ukuran tubuh dan warna rambut simpai yaitu pada individu dewasa