UNIVERSITAS INDONESIA
PEDAGOGI DI MUSEUM DI INDONESIA:
STUDI KASUS MUSEUM NASIONAL
TESIS
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Humaniora
ANNE PUTRI YUSIANI
0706182085
FAKULTAS ILMU PENGETAHUAN BUDAYA
PROGRAM STUDI ARKEOLOGI
DEPOK, MEI 2010
SURAT PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME
Saya yang bertanda tangan di bawah ini dengan sebenarnya menyatakan bahwa tesis ini saya susun tanpa tindakan plagiarisme sesuai dengan peraturan yang berlaku di Universitas Indonesia.
Jika di kemudian hari ternyata saya melakukan tindakan plagiarisme, saya akan bertanggung jawab sepenuhnya dan menerima sanksi yang dijatuhkan oleh Universitas Indonesia kepada saya.
Depok, 12 Mei 2010
iii
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS
Tesis ini adalah hasil karya saya sendiri, dan semua sumber baik yang dikutip maupun dirujuk telah saya nyatakan dengan benar.
Nama : Anne Putri Yusiani NPM : 0706182085 Tanda Tangan : Tanggal : 12 Mei 2010
Dr. Irmawati
Tidak lupa k
lan dari Dikti Kementerian Pendidikan Nasional yang telah memberi kesempatan p
Koleksi Sejar
o, Anton Ferdianto, Chaidir Ashari dan Elymart Jastro Situmorang y
dan diskusi tentang Museum Studies dan perkembangan m
KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdulillah saya ucapkan kepada Allah SWT karena atas berkat dan rahmat-Nya, saya dapat menyelesaikan tesis ini. Penulisan tesis ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk mencapai gelar Magister Humaniora Program Studi Arkeologi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia. Saya menyadari bahwa tanpa bantuan dari berbagai pihak, dari masa perkuliahan sampai pada penyusunan tesis ini, sangatlah sulit bagi saya untuk menyelesaikan tesis ini. Oleh karena itu, saya mengucapkan terima kasih kepada:
1. M. Johan selaku pembimbing yang dengan sabar membantu dan membimbing saya hingga penulisan tesis ini selesai. Prof. Dr. Noerhadi Magetsari yang telah membagikan ilmunya yang sangat berharga dan membantu saya dalam menerapkan konsep-konsep penelitian. Dr. Heriyanti Ongkodharma dan Dr. Kresno Yulianto yang telah bersedia menguji materi tesis. Dr. Ninie Soesanti dan Isman Pratama Nasution, M.Si yang memberikan saya semangat dan dorongan untuk menyelesaikan tesis ini hingga selesai.
2. epada staf pengajar Departemen Arkeologi lainnya yang turut memberi bantuan dan dorongan moril selama masa perkuliahan hingga masa penulisan tesis.
3. Beasiswa Unggu
ada saya untuk melanjutkan kuliah ke jenjang Magister.
4. Kepada pihak Museum Nasional, Pak Oting, Pak Widodo dan Kepala Bidang Pembinaan ah dan Antropologi yang membantu saya dalam pencarian data untuk tesis ini.
5. Kepada Ahmad Bagus Santos
ang telah meluangkan waktunya untuk membantu saya dalam pengumpulan data di lapangan.
6. Yunus Arbi M.A. atas ide-idenya useum di Indonesia.
v Teman-teman
pada orang tua saya dan adik saya yang juga tidak kalah menyemangati saya dalam penulis
engalaman kuliah di jenjang Magister merupakan pengalaman yang membantu proses berpikir
Depok, 12 Mei 2010
Penulis
7. seangkatan Program Magister, Dian, Arum, Mas Budi, Mas Oki, Mbak Misra, Mbak Inyo, Mas Pri dan Mas Eko, membuat masa-masa kuliah menjadi menyenangkan. Terima kasih atas persahabatan dan sharing ilmunya selama ini.
8. Terakhir ke
an tesis ini. Terima kasih yang sebanyak-banyaknya atas apapun yang telah kalian berikan selama ini.
P
dan pendewasaan diri saya. Terutama dalam penulisan tesis yang membuat saya belajar lebih banyak lagi dan berkembang lebih jauh. Semoga hasil karya ilmiah ini bermanfaat bagi ilmu pengetahuan.
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS
ebagai sivitas akademik Universitas Indonesia, saya yang bertanda tangan di bawah ini:
ama : Anne Putri Yusiani
tudi
uan Budaya a
emi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada Universitas
edagogi di Museum di Indonesia: Studi Kasus Museum Nasional
eserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalti Non-ekslusif ini
emikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.
Dibuat di : Depok
al 2010
n
(Anne Putri Yusiani) S
N
NPM : 0706182085 Program S : Arkeologi Departemen : Arkeologi Fakultas : Ilmu Pengetah Jenis Kary : Tesis
d
Indonesia Hak Bebas Royalti (Non-exclusive Royalty-free Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul:
P
b
Universitas Indonesia berhak menyimpan, mengalihmediakan/formatkan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database), merawat dan mempublikasikan tugas akhir saya tanpa meminta izin dari saya selama masih mencantumkan nama saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta.
D
Pada tangg : 12 Mei
ix DAFTAR ISI ALAMAN JUDUL i AN 1. PENDAHULUAN 1 .1. Latar Belakang 1 ilan Data t 2. PEDAGOGI DI MUSEUM 20 .1. Edukasi Museum 20 3. MUSEUM DI INDONESIA 37
.1. Museum di Negara-Negara Berkembang 37
4. PAMERAN DAN PENGUNJUNG GALERI ETNOGRAFI 54
.1. Museum Nasional 54
n H SURAT PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME ii HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS iii
LEMBAR PENGESAHAN iv
KATA PENGANTAR v
LEMBAR PERSETUJUAN KARYA ILMIAH vii
ABSTRAK viii
ABSTRACT ix DAFTAR ISI x
DAFTAR DIAGRAM xii
DAFTAR FOTO xiii
DAFTAR LAMPIR xiv
1 1.2. Permasalahan 5
1.3. Tujuan dan Manfaat Penelitian 6
1.4. Tinjauan Literatur 7 1.5. Ruang Lingkup Penelitian 11
1.6. Metodologi 13
1.6.1. Pengamb 14
1.6.2. Pengolahan dan Interpretasi Da a 18
1.7. Sistematika Penulisan 19
2 2.2. Pembelajaran di Museum 24
2.3. Pedagogi Museum Barat 30
3 3.2. Karakteristik Museum di Indonesia 41
4 4.2. Galeri Etnografi 60
g
E n
a
5. KESIMPULAN DAN SARAN 84
.1. Kesimpulan 84
AFTAR PUSTAKA 91
4.3.1. Tujuan dan Harapan Pengunjun 72
4.3.2. Pendapat Pengunjung tentang Galeri t ografi 72
4.4. Pedagogi Museum di Indonesia 75
4.4.1. Pedagogi di Museum Nasion l 75
4.4.2. Konteks Perkembangan Museum di Indonesia 77
4.4.3. Karakteristik Pembelajaran Masyarakat 79
4.4.4. Aplikasi dan Adaptasi Pedagogi Barat 81
5 5.2. Saran 89
D LAMPIRAN 103
xi DAFTAR DIAGRAM iagram 2.2.1 25 D Diagram 2.2.2 26 Diagram 2.2.3 26
DAFTAR FOTO
oto 4.2.1. Peta Suku Bangsa Indonesia 62 F
Foto 4.2.2. Label Kelompok 64
Foto 4.2.3. Label Individual 64
Foto 4.2.4. Topeng Sumatera Utara 65
Foto 4.2.5. Foto Suku Dayak 65
Foto 4.2.6. Patung Nenek Moyang Nias 65
Foto 4.2.7. Keris Bali 68
Foto 4.2.8. Senjata Nias 68
Foto 4.2.9. Peta Indonesia 68
Foto 4.2.10. Peta Pulau Jawa 68
Foto 4.2.11. Kebudayaan Nusa Tenggara Timur 68
Foto 4.2.12. Kano Asmat 68
Foto 4.2.13. Rumah Tongkonan Toraja 69
Foto 4.2.14. Keris Jawa 69
Foto 4.2.15.Patung Nogowarno 69
Foto 4.2.16. Pertunjukan Seni Papua 69
Foto 4.2.17. Patung Nenek Moyang 69
Foto 4.2.18. Kebudayaan Sangir 69
Foto 4.2.19. Kebudayaan Asmat 70
Foto 4.2.20. Koteka 70
Foto 4.2.21. Kebudayaan Papua 74
Foto 4.2.22. Barong dan Rangda 74
xiii
DAFTAR LAMPIRAN
1. Lembar Wawancara Pengunjung 106
2. Lembar Tracking Study 107
3. Denah Galeri Etnografi 108
ABSTRAK
ame : Anne Putri Yusiani
rogramme
i Museum di Indonesia: Studi Kasus Museum
enelitian ini merupakan penelitian awal tentang pedagogi di museum di Indonesia. hasil dari
ata kunci: N Study P : Arkeologi Title : Pedagogi d Nasional P
tracking study dan wawancara pengunjung di Galeri Etnografi di Museum Nasional memperlihatkan cara pembelajaran pengunjung Indonesia di museum. Observasi di galeri dan wawancara dengan staf museum juga mengungkap bagaimana museum menciptakan dan menyampaikan narasinya kepada pengunjung. Dengan melihat pada proses belajar pengunjung museum dan konteks museum di Indonesia, beberapa nilai dari pedagogi Barat dapat diadaptasi sebagai dasar dari pedagogi museum di Indonesia.
K
viii ABST ACT
ame : Anne Putri Yusiani
rogramme
gogy in Indonesia: Case Study of the National
his research is a preliminary research towards a museum pedagogy in Indonesia. The findings
eywords:
rning, pedagogy
R
N
Study P : Archaeology
Title : Museum Peda
Museum
T
based on tracking study and interview of visitors in the Gallery of Ethnography in the National Museum reveals how Indonesian visitors learn in museums. Observation in the gallery and interview with the museum’s staff also shed a light in knowing how the museum construct and convey its narratives to visitors. By looking at the learning processes of Indonesian visitors and the museum context in Indonesia, some of the values of the Western pedagogy can be adapted as a basis for the Indonesian museum pedagogy.
K
BAB 1 PENDAHULUAN
.1. Latar Belakang
Medici Palace dan Museum Louvre1 sebagai contoh dari bentuk museum modern tertua di duni
Museum Barat sebagai pelopor perkembangan praktik museum di dunia selama ini telah melalu
embelajaran mulai menjadi perhatian di museum. Pedagogi adalah teori tentang instruksi; sebuah rencana untuk melakukan
1
a, merupakan salah satu bukti bahwa konsep mengumpulkan seluruh koleksi benda dalam aturan tertentu berasal dari peradaban Eropa2. Susan Pearce menyatakan bahwa museum adalah karakter dari pola budaya Eropa modern dan dari dunia yang mendapat pengaruh Eropa.3 Museum pertama kali muncul di dalam peradaban Eropa dan kemudian menyebar ke seluruh bagian dunia di bawah premis kolonialisme dan globalisasi. Terlebih lagi, seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, filosofi museum sebagai institusi pendidikan publik dan tren dalam pemikiran museologi masih berkembang di Eropa atau dunia Barat. Walaupun dalam dekade terakhir sudah terdapat banyak kontribusi pada bidang Museologi dari masyarakat non-Barat, pertumbuhan ide dan teori museum masih terpusat di dunia Barat.
i berbagai adaptasi pada segala perubahan yang terjadi di luar ranah museum. Sebut saja pergeseran epistemologi ilmu pengetahuan, perkembangan teori pembelajaran (learning theory), meningkatnya akuntabilitas publik museum, munculnya konstruksi identitas di museum dan berkembangnya poskolonialisme (postcolonialism). Adaptasi tersebut terjadi di seluruh aspek museum baik secara struktural maupun kultural. Pedagogi sebagai unsur penting di dalam edukasi di museum juga telah mengalami banyak perubahan besar.
Pedagogi di museum berkembang sejak edukasi dan p
1
Eilean Hooper-Greenhill, Museums and the Shaping of Knowledge. London: Routledge, 1992.
2
Tomislav Sola, Essays on Museums and Their Theory: Towards the Cybernetic Museum. Helsinki: Finnish Museum Association, 1997. hlm. 50.
3
Susan Pearce, Museums, Objects, Collections: A Cultural Study. Washington DC: Smithsonian Institution Press, 1992. hlm. 1.
xv aktifita
ng didasarkan pada metode-metode pembelajaran yang berbeda-beda.5 Adanya metode pembel
di dunia memiliki peranan dalam pendirian museum di ilayah kolonial. Seiring dengan konsep ‘cabinet of curiosities’, pemerintah kolonial Eropa di beberap
s edukasi.4 Sehingga pedagogi di museum berfungsi sebagai kerangka dasar sebuah museum dalam merancang isi dan cara penyampaiannya kepada audiens museum. Maka dari itu, pedagogi sebagai teori pengajaran merupakan bagian dari pemahaman edukasi di museum bersama teori pengetahuan dan teori pembelajaran. Sebagai sebuah kerangka yang mendasari bagaimana museum menentukan dan menyampaikan narasinya, pedagogi merupakan aspek penting di dalam museum. Pedagogi bisa menjadi acuan bagi museum dalam menerapkan konsep penyajian pameran, merancang program edukasi publik dan kegiatan edukasi lainnya.
Terdapat berbagai jenis model pedagogi yang bisa diterapkan di museum ya
ajaran yang berbeda-beda tersebut mulai dipertimbangkan sejak museum mengenali perbedaan-perbedaan cara belajar pengunjungnya. Sehingga dalam menentukan pedagoginya, museum harus juga mempertimbangkan karakteristik pembelajaran pengunjungnya terlebih dahulu. Karakteristik pembelajaran pengunjung meliputi bagaimana cara belajar pengunjung di museum dan bagaimana pengunjung memaknai pengalaman mereka di museum. Karakteristik pembelajaran pengunjung bersama-sama dengan kebijakan edukasi museum kemudian bisa menjadi dasar penyusunan pedagogi di museum. Sehingga akan tercipta sebuah kerangka pedagogi yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik pembelajaran masyarakat yang juga sesuai dengan tujuan edukasi museum.
Kolonialisme di beberapa bagian w
a wilayah kekuasaannya mulai mengoleksi benda-benda budaya dan ilmiah selama masa pendudukannya. Sebagai contoh adalah museum pertama di India di bawah kekuasaan Inggris6 dan koleksi museum di Ghana7 dan Vietnam8, ketika kedua negara tersebut berada di bawah
4
George E. Hein, Learning in the Museum. New York: Routledge, 1998. hlm. 36.
5
Ibid., hlm. 16.
6
Arjun Appadurai dan Carol Breckenridge, ‘Museums Are Good To Think: Heritage on View in India’, Donald Preziosi, ed., Grasping the World: the Idea of the Museum. Hants: Ashgate, 2004. hlm. 685-699(hlm.689).
7
Mark Crinson, ‘Nation-building, Collecting and the Politics of Display: the National Museum, Ghana’, Journal of
the History of Collections, vol. 13 no. 2 (2001), 231-250. hlm.231.
Hhttp://jhc.oxfordjournals.org.ezproxy.lib.le.ac.uk/cgi/reprint/13/2/231H, 5 November 2008.
am, ‘Representing the Past in Vietnamese Museums’, Curator, vol. 41 no. 3 (Walnut Creek:
8
Ho Tai Hue-T
Altamira Press, 1998), 187-199. Hhttp://unweb.hwwilsonweb.com.ezproxy.lib.le.ac.ukH, 5 November 2008.
Maka tidaklah mudah untuk mencoba mendefinisikan museum di negara-negara
kolonialisasi Perancis. Setelah masa kemerdekaan dari sebagian besar negara-negara kolonial, lalu datanglah globalisasi sebagai permulaan dari penyebaran ide, nilai, obyek, keahlian dan unsur budaya internasional lainnya ke seluruh dunia. Dalam dunia museum, globalisasi berarti perkembangan konsep museum internasional beserta nilai dan prinsipnya.9 Sebagaimana yang diajukan oleh Moira G. Simpson, karena globalisasi, berbagai tempat dengan konteks yang berbeda-beda di dunia telah mengimplementasikan konsep museum sebagai sistem Barat, membuatnya sesuai dengan konteks lokal, dan mengadaptasinya ke dalam kerangka mereka. Simpson memberi contoh komunitas lokal di Australia dan mengacu pada contoh museum lainnya di Afrika, Indonesia, Pasifik dan Amerika Utara.10 Tetapi studi kasus yang dia sebutkan tidak cukup dijadikan sebagai acuan. Maka contoh-contoh tersebut tidak dapat mewakili seluruh komunitas non-Barat di dunia. Lebih jauh lagi, karena museum adalah institusi publik yang sangat bergantung pada konteks sekitarnya, konsep internasional museum tidak dapat dengan mudah diaplikasikan di tempat yang berbeda-beda atau di negara-negara dimana museum dimarjinalisasikan.11 Dengan kata lain, teori dan praktik terkini yang berkembang di dunia museum internasional tidak bisa atau tidak bisa sepenuhnya relevan di seluruh dunia. Khususnya ketika adaptasi tersebut terjadi di tempat dimana museum tidak dianggap sebagai institusi yang bermakna bagi masyarakat. Satu contoh adalah museum-museum di negara berkembang. Sebagian besar negara-negara berkembang di dunia dahulu merupakan bagian dari teritori kolonial Eropa. Museum di negara-negara berkembang adalah warisan dari pemerintah kolonial dan karena negara-negara tersebut memiliki permasalahan ekonomi, politik dan sosial yang cukup signifikan, maka museum di negara-negara tersebut berbeda dari museum di negara maju. Museum-museum tersebut memiliki karakteristik dan tantangan yang serupa dalam perkembangannya.
berkembang. Dengan karakter uniknya, museum di negara-negara berkembang masih harus menghadapi perkembangan dunia luar dan kebingungan akan identitas mereka di saat yang sama. Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang belum melihat museum sebagai sebuah
9
Andrew J. Pekarik, ‘”Global” by Any Other Name’, Curator, vol. 48 no. 1. Walnut Creek: Altamira Press, 2005. 48-50
10
Moira G. Simpson, ‘Charting Boundaries: Indigenous Models and Parallel Practices in the Development of the Post-museum’, Simon J. Knell, ed., Museum Revolutions. London: Routledge, 2007. hlm. 235-247.
11
xvii
set. Peran dan fungsi museum di Indonesia masih belum jelas dan belum memiliki kepentingan di mat
dihadapi. Kedua tantangan tersebut adalah ukungan pemerintah dan citra museum di mata masyarakat. Pemerintah Indonesia belum sepenu
a
a pemerintah. Sementara di bagian dunia yang lain, museum dianggap sebagai pilar masyarakat yang berpartisipasi aktif dalam mempertahankan kondisi masyarakat yang sehat, museum di Indonesia didirikan hanya sebagai penjaga warisan budaya dan sebagai simbol dari negara modern. Museum sebagai sumber pengetahuan berdiri untuk mengedukasi masyarakat, namun museum di Indonesia belum dilihat sebagai sumber pembelajaran seumur hidup. Museum di Indonesia memiliki potensi yang besar dalam memberikan pengetahuan kepada masyarakat. Museum sebenarnya bisa menjadi bagian dari area pembelajaran selain untuk pembelajaran sekolah, seperti untuk dewasa dan keluarga atau untuk pendidikan informal. Peran edukasi museum di Indonesia di dalam masyarakat dan juga menurut pemerintah hanya hadir untuk mendukung pendidikan formal di sekolah. Museum di Indonesia belum memiliki tujuan pendidikan dan maka dari itu belum memiliki target pencapaian edukasi kepada masyarakat. Belum adanya kebijakan edukasi dan tujuan mengindikasikan kurangnya pemahaman museum di Indonesia dalam mengenali pengunjung dan lingkungan sekitarnya, yang menyebabkan absennya kerangka pedagogi dalam agenda edukasi mereka.
Untuk mendapat pemahaman yang lebih baik terhadap fungsi edukasi pada museum di Indonesia, kita harus mengetahui terlebih dahulu karakteristik museum yang terdiri dari konteks sosial, budaya dan politik di Indonesia. Dalam hal konteks yang melatarbelakangi museum di Indonesia, terdapat dua tantangan yang harus
d
hnya mendukung keberadaan museum dan belum melihat museum sebagai sarana pendidikan informal, dan maka dari itu hanya menganggap museum sebagai salah satu institusi kebudayaan yang tidak harus selalu diperhatikan. Persepsi masyarakat pun terhadap museum tidak jauh dari situ. Mereka melihat museum hanya sebagai tempat penyimpanan benda-benda warisan budaya dan bersejarah, yang mana tidak seluruhnya salah, namun mereka belum melihat museum sebagai bagian dari perkembangan mereka. Di sisi lain, museum sendirilah yang tampaknya membuat jarak dengan masyarakat umum dan bersikap sebagai tempat yang sakral dan eksklusif yang terkesan kurang bersahabat pada audiensnya.
museum di Indonesia belum ianggap sebagai tempat dimana pendidikan informal bisa terjadi. Museum kehilangan
mpatnya di dalam kerangka pendidikan masyarakat dan belum memiliki struktur pedagogi. m penelitian tentang museum. Terlebih lagi di Indo lakukan penelitian tentang pedagogi di museum.
hidupan alam dan kebudayaan. Museum Nasional memiliki kedudukan dan fungsi yang cukup signifikan dalam perkem
apa yang dibutuhkan untuk menerapkan pedagogi tersebut. Untuk menuju kesana, maka terdapat tiga pertanyaan yang harus dijawab
elitian 1.2. Permasalahan
Berdasarkan penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa d
te
Pedagogi merupakan aspek yang jarang dilihat dala nesia belum pernah di
Museum Nasional adalah salah satu museum tertua di Indonesia yang memiliki benda-benda koleksi yang merupakan representasi dari seluruh daerah di Indonesia. Sebagai sebuah museum yang menyandang status nasional, tentunya museum ini berfungsi sebagai tempat dimana kita bisa melihat gambaran Indonesia secara utuh dari semua aspek ke
bangan museum di Indonesia. Maka Museum Nasional sebagai museum terkemuka di Indonesia bisa dijadikan contoh dalam melihat pedagogi di museum. Sebagai tambahan, Museum Nasional merupakan pelopor museum di Indonesia yang sekiranya memiliki kelebihan-kelebihan tertentu dibandingkan museum-museum negeri lainnya.
Dengan mempertimbangkan bahwa Indonesia memiliki konteks khususnya sendiri baik di dalam dan di luar museum, nilai museologi Barat atau internasional tidak bisa begitu saja diaplikasikan di museum di Indonesia. Maka penelitian ini akan mencari tahu apakah pedagogi Barat relevan bagi museum di Indonesia dan adaptasi seperti
:
1. Apakah Museum Nasional memiliki pedagoginya sendiri? Jika ya, seperti apakah pedagoginya tersebut?
2. Bagaimanakah konteks museum di Indonesia dalam kaitannya dengan pedagogi? 3. Bagaimanakah karakteristik pembelajaran masyarakat Indonesia di dalam museum?
xix
: 1. engetahui kerangka pedagogi Museum Nasional yang bisa menjadi acuan dari
museum-museum negeri di Indonesia.
elilingi pertumbuhan di museum, terutama dalam kaitannya dengan tujuan edukasi museum.
di
dibutuhkan oleh museum di Indonesia dalam
useum di Indonesia.
emis, penelitian ini bisa menjadi pengenalan tentang signifikansi pedagogi di
wal dari evaluasi pembelajaran pengunjung terhadap
an ini bisa menjadi referensi dalam mengetahui
st
Century Dictionary13, engertian sederhana dari pedagogi adalah teori pengajaran atau ilmu dan prinsip pengajaran. enry Giroux mendefinisikan pedagogi sebagai sebuah konfigurasi tekstual, verbal dan praktik erlibat dalam sebuah proses dimana seseorang memahami dirinya
Berdasarkan permasalahan dan pertanyaan penelitian di atas, tujuan dari penelitian ini adalah M
2. Mengetahui konteks yang meng
3. Mengetahui kecenderungan cara pembelajaran masyarakat Indonesia melalui pameran museum.
4. Mengetahui adaptasi seperti apa yang mengaplikasikan pedagogi Barat.
5. Memberi dasar pada kerangka pedagogi yang sesuai bagi m Sedangkan manfaat dari penelitian ini adalah:
1. Bagi akad
museum dalam membangun kerangka narasi yang akan disampaikan kepada masyarakat. Penelitian ini juga bisa menjadi a
pameran di museum sehingga tujuan edukasi yang diharapkan bisa tercapai. 2. Bagi Museum Nasional, hasil peneliti
kecenderungan cara belajar masyarakat di Indonesia di museum, sehingga museum diharapkan dapat menerapkan cara penyampaian yang sesuai dengan karakter pembelajaran masyarakat tersebut. Selain itu juga, hasil penelitian ini bisa menjadi dasar untuk museum dalam menciptakan pedagogi yang sesuai.
1.4. Tinjauan Literatur
Menurut Concise Oxford English Dictionary12 dan Chambers 21 p
H
visual yang bertujuan untuk t
12
Concise Oxford English Dictionary, 11th edition. Oxford: Oxford University Press, 2008. hlm. 1055 13
sendiri
agi dilihat sebagai sesuatu yang utuh dan absolut, melainkan terbuka dan multi makna.16 Maka museum merubah pandangannya terhada
dan bagaimana dia berinteraksi dengan orang lain dan lingkungannya. Lebih jauh lagi, Giroux menambahkan bahwa pedagogi terimplikasi dalam konstruksi dan organisasi pengetahuan, keinginan, nilai-nilai dan praktik-praktik sosial.14 Istilah pedagogi juga berkaitan dengan bagaimana seseorang belajar dan maka dari itu tidak dapat dipisahkan dari pembelajaran itu sendiri. Dalam museum, pedagogi bisa dijelaskan sebagai bagaimana museum menciptakan narasinya dan bagaimana museum itu menyampaikan narasinya tersebut melalui pameran dengan menggunakan gaya dan metode tertentu. Terkait dengan pembelajaran, pedagogi di museum juga berkenaan dengan bagaimana pengunjung menginterpretasi dan menciptakan makna. Eilean Hooper-Greenhill menyatakan bahwa pameran adalah lingkungan utama dimana pembelajaran terjadi. Pameran bisa dianggap sebagai kerangka dalam proses penciptaan makna
(meaning-making) dalam caranya menggunakan objek dan konsep.15
Tidak dapat disangsikan lagi bahwa pergeseran epistemologi ilmu pengetahuan mempengaruhi bagaimana museum menciptakan narasinya. Pergeseran dari modernisme ke posmodernisme menandai era dimana pengetahuan tidak l
p narasi di museum, sebagai pengetahuan satu-satunya yang otoriter menjadi sebuah produksi aktif antara museum dan audiensnya. Dalam beberapa tulisannya, Eilean Hooper-Greenhill menyatakan bahwa pedagogi di museum modernis ditandai oleh model komunikasi transmisi.17 Hooper-Greenhill menilai kembali museum modernis dan menciptakan istilah
post-museum sebagai sebuah formulasi dimana post-museum akan menampilkan berbagai perspektif dan
nilai.18 Pedagogi di dalam post-museum ditandai oleh model komunikasi sebagai kebudayaan, yang berfungsi sebagai sebuah proses yang membantu pengunjung dalam menciptakan makna dan interpretasi mereka sendiri.19
14
Henry Giroux, Border Crossings: Cultural Workers and the Politics of Education. London: Routledge, 1992. l Pedagogy in
Hooper-Greenhill, ‘Education, Communication and Interpretation’,
‘Interpretive Communities, Strategies, Repertoires’, Sheila Watson, ed., Museums and hlm. 3.
15
Eilean Hooper-Greenhill, ‘Education, Communication and Interpretation Towards a Critica
Museums’, ed. Eilean Hooper-Greenhill, Eilean. The Educational Role of Museum. London: Routledge, 1999. 3-27, hlm. 19.
16
Charles Jencks, ‘The Postmodern Agenda’, Charles Jencks, ed., The Post-Modern Reader. London: Academy Editions, 1992. hlm. 10-39.
17
Eilean
18
Eilean Hooper-Greenhill, Museums and the Interpretation of Visual Culture. London: Routledge,2000.
19
Eilean Hooper-Greenhill,
xxi
me hingga konsep pembelajaran aktif (active learning)20, erbagai perkembangan dalam teori pembelajaran telah bercampur di dalam bagaimana museum mencip
ahwa pembelajaran dipengaruhi leh tiga konteks personal, sosio-kultural dan fisik yang saling melengkapi, sehingga pembel
Di antara literatur-literatur tentang museum khususnya tentang sejarah museum, belum terdapat penelitian tentang perkembangan museum di negara-negara berkembang selama masa kolonial. Dalam penelitian atau karya ilmiah lainnya, yang dibahas hanyalah perbedaan antara Perkembangan teori pembelajaran juga turut mempengaruhi berjalannya pedagogi di museum Barat. Dari Behavioris
b
takan dan menampilkan narasinya. Berbagai temuan tentang pengalaman pengunjung dan akumulasi pengetahuan kognitif juga telah memberi kontribusi pada perkembangan pembelajaran di museum.21 Dengan Konstruktivisme dan teori sosial-budaya (socio-cultural
theories)22, pembelajaran kini dilihat sebagai sebuah konstruksi pengetahuan dan identitas dan juga sebagai interaksi aktif antara individu dan lingkungannya.
John H. Falk dan Lynn D. Dierking mengajukan Model Pembelajaran Kontekstual dalam pembelajaran pengunjung di museum. Mereka mengatakan b
o
ajaran bisa dibangun dari integrasi dan interaksi dari ketiga konteks tersebut.23 George E. Hein juga mengajukan beberapa faktor yang mempengaruhi pembelajaran di museum. Faktor-faktor tersebut adalah persiapan latar pembelajaran yang meliputi unsur-unsur penyajian, pembelajaran dilihat sebagai proses perkembangan diri yang meliputi pembagian jenis-jenis pengunjung, pembelajaran dilihat sebagai proses sosial yang meliputi konteks sosial pengunjung seperti keluarga dan kelompok-kelompok budaya (cultural groups) dan faktor interpretasi dalam pembelajaran yang meliputi keseluruhan pengalaman kunjungan, narasi museum dan penciptaan model di museum.24
20
George E. Hein dan Mary Alexander, Museums: Places of Learning. Washington: American Association of n Lynn D. Dierking, eds., Public Institutions for Personal Learning: Establishing A Research
, ‘Real Pearls at the Postmodern
king of Meaning.
. 136-152. Museums, 1998.
21
John H. Falk da
Agenda. Washington D.C.: American Association of Museums, 1995. hlm. 37-52. 22
George E. Hein, Learning in the Museum, hlm. 34-36 dan Marlene Chambers
Museum Potluck: Constructivism and Inclusiveness’, Bonnie Pitman, ed., Presence of Mind: Museums and the
Spirit of Learning. Washington D.C.: American Association of Museums, 1999, hlm. 151-160. 23
John H. Falk dan Lynn D. Dierking, Learning from Museums: Visitor Experiences and the Ma Walnut Creek: Altamira Press, 2000. hlm. 13.
24
um di negara-negara poskolonial, yang sebagian besar ditulis oleh Moira . Simpson25, Flora E.S. Kaplan26, Christina F. Kreps27, and Andrea Witcomb dan Chris ealy28.
daya dan nasional.30 Namun, karena useum-museum tersebut sangat dipengaruhi oleh kolonialisme31 dan dibangun secara
perfisi
karakteristik pembelajaran masyarakat, kebutuhan dari audiens mereka dan lain-lain. Dengan
museum di negara-negara maju dengan negara-negara berkembang. Namun terdapat banyak literatur tentang muse
G
H Selain itu juga Tony Bennet yang mendiskusikan tentang kolonialisasi di Australia dalam kaitannya dengan evolusi museum.29 Meskipun begitu, diantara literatur-literatur di atas, belum ada yang mengkaji tentang bagaimana museum di negara poskolonial menciptakan narasinya dan bagaimana masyarakatnya melihat museum.
Pendirian museum di teritori-teritori kolonial diawali oleh keinginan pihak kolonialis untuk mengoleksi spesimen sejarah alam dan karya seni yang mereka anggap primitif. Mereka menciptakan suatu tatanan koleksi, mempelajarinya dan mengaturnya sesuai dengan kerangka pengetahuan Barat. Setelah masa kemerdekaan, dengan karakter kolonialnya, museum di teritori kolonial tumbuh sebagai sarana pengembangan identitas bu
m
su al32, penguatan identitas budaya dan nasional merupakan tema yang masih sulit untuk dibahas dalam museum di negara-negara berkembang.
Dengan karakternya tersendiri, tidaklah mudah untuk mengadaptasi nilai-nilai museum internasional atau Barat dalam praktik museum di negara-negara berkembang. Mereka harus mempertimbangkan konteks di sekeliling mereka, yang terdiri dari faktor sosial dan politik,
n kebudayaan lokal dan repatriasi dengan memberikan
ional di negara-negara poskolonial.
okal dalam praktik museum dan preservasi warisan budaya di Indonesia, Pasifik,
ara di Pasifik Selatan. Andrea Witcomb dan Chris
ms and Their
Jonathan Rutherford, ed., Identity: Community, Culture and 995.
25
Simpson membahas tentang bagaimana merepresentasika
contoh museum di Amerika, Australia, New Zealand dan Papua Nugini. Moira G. Simpson, Making
Representations: Museums in the Post-Colonial Era. London: Routledge, 1996. 26
Kaplan mendiskusikan tentang peran obyek dalam mendefiniskan identitas nas
Flora E.S. Kaplan, ed., Museums and the Making of Ourselves: The Role of Objects in National Identity. London: Leicester University Press, 1994.
27
Kreps mendiskusikan karakter l
Afrika dan Amerika Utara. Christina F. Kreps, Liberating Culture: Cross-Cultural Perspectives on Museums,
Curation, and Heritage Preservation. London: Routledge, 2003. 28
Witcomb mendiskusikan tentang budaya museum di negara-neg
Healy, eds., South Pacific Museums: Experiments in Culture. Clayton, Victoria: Monash University Press, 2006.
29
Tony Bennet, Pasts Beyond Memory: Evolution, Museums, Colonialism. London: Routledge, 2004.
30
Moira G. Simpson, ‘From Treasure House to Museum ….. and Back’, Sheila Watson, ed., Museu
Communities. London: Routledge, 2007. hlm. 162. 31
Stuart Hall, ‘Cultural Identity and Diaspora’, in
Difference. London: Lawrence and Wishart, 1990. 222-237. 32
xxiii embaha
Pedagogi adalah suatu konsep yang dimiliki museum dalam merancang seluruh kegiatan
i dari pameran, aktifitas interpretatif yang endampingi pameran, dan program publik. Dalam mengkaji pedagogi museum dan arakteristik pembelajaran pengunjungnya, penelitian ini akan membatasi lingkupnya pada
Hal ini dikarenakan pameran adalah satu-satunya plementasi yang sangat menonjol dari kerangka narasi yang dimiliki museum. Pedagogi di museum
kurang lebih 8 juta jiwa35, Jakarta memiliki populasi rpadat di Indonesia dengan penduduk yang beragam yang berasal dari latar belakang budaya sosial, ekonomi dan pendidikan yang berbeda-beda. Alasan kedua adalah karena Museum
kata lain, dibutuhkan konsep budaya museum (museum culture) lokal, yang juga mengacu pada ‘idiom lokal’ (local idiom).33
P san yang lebih dalam tentang pedagogi dan karakter museum di negara-negara berkembang akan didiskusikan di bab-bab berikutnya.
1.5. Ruang Lingkup Penelitian
edukasinya. Pedagogi bisa dikatakan merupakan benang merah yang mengaitkan setiap kegiatan edukasi di museum. Kegiatan edukasi di museum terdir
m k
sebuah pameran permanen khusus. im
bisa dilihat melalui pameran karena pameranlah yang memberi kesan paling kuat dalam kunjungan ke museum.34 Sehingga dari pameran bisa diketahui informasi tentang bagaimana museum merancang narasinya tersebut.
Salah satu tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan keterangan yang mendalam dan komprehensif tentang perilaku pengunjung terhadap narasi tertentu dalam sebuah bentuk pameran. Maka dari itu, penelitian ini hanya menggunakan satu museum sebagai studi kasusnya yaitu Museum Nasional. Terdapat beberapa alasan mengapa Museum Nasional yang dipilih menjadi studi kasus. Pertama adalah karena Museum Nasional berlokasi di Jakarta yang merupakan ibukota Indonesia. Dengan
te
33
Corinne A. Kratz and Ivan Karp, ‘Introduction’, in Ivan Karp, et al., Museum Frictions: Public Cultures/Global 22.
jiwa di Indonesia. Sensus berikutnya akan
Transformation. London: Duke University Press, 2006. 1-25, hlm. 34
Eilean Hooper-Greenhill, Museums and the Interpretation of Visual Culture, hlm. 3
35
Berdasarkan sensus terkini di tahun 2005, terdapat 8.860.381 juta
Nasion
ngat menarik untuk engamati perilaku pengunjung dan interaksi mereka di galeri ini. Selain itu juga akan terlihat bagaim
gunjung yang dijadikan subjek penelitian adalah pengunjung umum ang terdiri dari keluarga, pengunjung individual dan pengunjung dalam kelompok sosial dan budaya tertentu. Penelitian ini tidak mengikutsertakan pengunjung dari kategori kunjungan
al adalah museum berskala nasional dan dapat dianggap sebagai museum pelopor dan museum yang paling populer di Indonesia. Tidak hanya karena museum ini berada langsung di bawah pemerintah pusat, juga karena museum ini memiliki koleksi dengan ragam dan jumlah terbanyak di Indonesia, dan maka dari itu memiliki jumlah pengunjung yang tinggi.36 Maka dengan melakukan penelitian di Jakarta, penelitian ini bisa menjadi langkah awal dalam meneliti kecenderungan dalam bagaimana museum di Indonesia menciptakan dan menyampaikan narasinya dan juga bagaimana respon pengunjung terhadap narasi tersebut.
Museum Nasional memiliki tiga belas galeri tetapi hanya satu galeri yang akan digunakan sebagai contoh dalam penelitian ini. Galeri yang dipilih adalah Galeri Etnografi yang terdiri dari kebudayaan-kebudayaan materi dari seluruh wilayah di Indonesia. Galeri ini secara khusus dipilih karena galeri ini menggambarkan keragaman kebudayaan Indonesia. Di dalam galeri ini pengunjung dapat melihat kebudayaan dari seluruh etnis di Indonesia. Konsep identitas budaya selalu menjadi salah satu permasalahan di Indonesia. Masyarakat Indonesia seringkali melihat diri mereka berbeda satu sama lain karena alasan etnis. Maka akan sa
m
ana masyarakat Indonesia melihat diri mereka sendiri dan yang lainnya melalui penggambaran museum.
Pengunjung Museum Nasional dalam penelitian ini dianggap sebagai representasi dari masyarakat Indonesia. Seperti yang sudah disebutkan di atas bahwa lokasi Museum Nasional berada di Jakarta dan memiliki kedudukan sebagai museum terpopuler di Indonesia, maka pengunjungnya tidak hanya berasal dari wilayah Jakarta saja. Sebagai tambahan, mengingat Jakarta adalah ibukota Indonesia yang sangat multikultural, pengunjung Museum Nasional terdiri dari masyarakat yang memiliki latar belakang yang berbeda-beda dari aspek budaya, sosial dan ekonomi. Pen
y
36
Catatan jumlah pengunjung terakhir adalah pada tahun 2007, sekitar 167.450 pengunjung dalam satu tahun. Hhttp://www.budpar.go.id/filedata/1947_1213-PengunjungMuseum.pdfH, 8 Juli 2009.
xxv
ng dikatakan di dalam sebuah museum dan bagaimana cara mengatakannya. Maka langkah pertama dalam mengatasi permasalahan dalam peneliti
but. amun dibutuhkan sebuah metodologi untuk mengatur kedua langkah di atas. Metodologi adalah erangka khusus yang mendasari sebuah penelitian. Metodologi merupakan paradigma tertentu dan berfungsi membatasi sebuah penelitian.37 Penelitian ini didasarkan pada aradigma naturalistik yang mengambil konteks alamiah sebagai latar belakangnya.38 Maka pendek
sekolah karena penelitian ini bermaksud mengetahui karakteristik pembelajaran masyarakat dalam museum sebagai tempat pendidikan informal.
Selain pengunjung museum, wawancara juga dilakukan pada nara sumber, yaitu pengelola museum yang terdiri dari Kepala Bidang Bimbingan dan Publikasi, Kepala Bidang Pembinaan Koleksi Sejarah dan Antropologi dan Kepala Bidang Konservasi dan Penyajian.
1.6. Metodologi
Pedagogi di museum berkisar di antara apa ya
an ini adalah dengan melakukan observasi pada pameran di museum karena pameran merupakan ilustrasi dari kerangka pedagogi. Langkah kedua adalah dengan mengeksplor pengalaman pengunjung dan bagaimana mereka menciptakan makna dari pengalaman terse N
k
dalam melihat dunia p
atan kualitatif akan sesuai karena pendekatan tersebut menerapkan sifat interpretif dan naturalistik pada kajiannya. Pendekatan kualitatif mempelajari sebuah fenomena dalam latar belakang alamiahnya, menempatkan si pengamat di dunia dan mencoba menginterpretasi sebuah fenomena dalam kaitannya dengan makna yang dibawa seseorang.39 Penelitian ini akan menggunakan studi kasus dengan observasi dan wawancara sebagai teknik pengambilan data. Alasan menggunakan studi kasus terletak pada karakternya, yaitu bahwa studi kasus didasari oleh latar belakang alamiah, penelitian yang mendalam (in-depth study), berfokus pada hubungan dan proses juga di dalamnya dapat diaplikasikan beragam metode dan sumber.40
37
Loraine Blaxter, et al., How to Research, 2nd edition. Buckingham: Open University Press, 2001.
38
George E. Hein, Learning in the Museum, hlm. 72.
39
Norman S. Denzin dan Yvonne S. Lincoln, ‘Introduction: Entering the Field of Qualitative Research’, Norman S. Denzin et al., Collecting and Interpreting Qualitative Materials. London: Sage Publications, 1998. 1-15, hlm. 3.
ckingham: Open
40
Martyn Denscombe, The Good Research Guide: For Small Scale Social Research Projects. Bu University Press, 1998.
pkan etode observasi khusus, yaitu spatial tracking study yang menyatakan bahwa pengunjung tertentu. Spatial tracking study digunakan karena metode ini dapat memberi tahu kita tentang jalur pengunjung yang sesungguhnya melalui sebuah galeri dan durasi waktu
Campuran; yang berarti pengunjung yang diamati lebih dari satu orang dan memiliki
1.6.1. Pengambilan Data
Observasi pada pameran di Galeri Etnografi dilakukan dengan cara menyusuri alur pameran dari ruang barat hingga ke ruang timur dan mengamati tiap-tiap penyajian. Sebagai tambahan, di dalam observasi juga dilakukan pengambilan foto objek, label dan keseluruhan penyajian. Untuk mengeksplor pengalaman pengunjung di Galeri Etnografi juga ditera m
mengikuti jalur individual
yang mereka habiskan di galeri tersebut.41 Tujuan dari spatial tracking study adalah untuk merekam pergerakan pengunjung pada skema kasar galeri dengan menggunakan format observasi terstruktur sebagai acuan. Berpijak pada pemikiran bahwa kunjungan ke museum dan ke sebuah galeri pada khususnya merupakan suatu bentuk pembelajaran, dengan mengetahui pergerakan pengunjung maka bisa didapatkan keterangan mengenai perilaku pengunjung dalam proses belajarnya tersebut. Maka kita bisa mengetahui kecenderungan gaya belajar pengunjung yang berbeda-beda. Selain itu juga bisa didapatkan keterangan mengenai pendapat pengunjung tentang isi pameran dan metode penyampaiannya dalam kaitannya dengan pembelajaran di museum. Instrumen untuk spatial tracking study dalam penelitian ini didasarkan pada tracking
study yang pernah dilakukan di Boston Museum of Science dalam pameran Two of Every Sort.42
Pengunjung yang diamati adalah pengunjung yang datang sendiri dan pengunjung yang berada dalam kelompok sosial tertentu, maka di dalam lembar observasi terdapat keterangan tentang pengunjung yang diamati yang terdiri dari:
- Tanggal kunjungan
- Waktu kedatangan, waktu selesai dan durasi kunjungan
- Jenis kelamin, yang dikelompokkan menjadi Laki-laki, Perempuan atau
jenis kelamin yang berbeda-beda.
41
George E. Hein, Learning in the Museum, hlm. 106.
42
xxvii
dan anak-anak.
observasi yang digunakan menerapkan format yang terdiri dari h diperkirakan (predetermined
menggunakan format
mudah. ain adalah:
Berbicara atau berdiskusi dengan pengunjung lain
pping44 sehingga si pengamat dapat mendengarkan percakapan pengunjung dalam jarak tertentu.
ilakukan mengambil bentuk wawancara semi-structured. Dalam jenis ur, jenis elamin, latar belakang pendidikan dan sebagainya dimasukkan, juga terdapat pertanyaan terbuka
- Cakupan umur yang terdiri dari 19-24, 25-32, 33-45 dan di atas 45 tahun.
- Jenis kelompok pengunjung yang terdiri dari Dewasa dan Campuran; yang berarti pengunjung terdiri dari orang dewasa
Selain itu, struktur
variabel-variabel yang mewakili perilaku tertentu yang tela
behaviours) untuk membantu merekam data perilaku pengunjung.43 Dengan
kode ini sebagai acuan, proses perekaman perilaku pengunjung di dalam galeri akan lebih Variabel-variabel tersebut antara l
- Membaca label - Menyentuh objek -
Namun variabel-variabel tersebut tidak mencegah perekaman perilaku pengunjung lainnya yang tidak termasuk ke dalam variabel-variabel di atas. Sebagai tambahan, dalam melakukan spatial tracking study, peran pengamat dalam penelitian ini adalah sebagai pengamat penuh dengan menerapkan systematic eavesdro
Wawancara yang d
wawancara ini, meskipun pertanyaan standar yang meliputi keterangan seperti um k
(open-ended question) yang dirancang untuk mendapatkan informasi yang lebih kualitatif.45 Serangkaian topik penting yang harus dibahas ditetapkan, namun setiap pertanyaan
43
Format observasi terstruktur yang digunakan dalam penelitian ini didasarkan pada studi observasional yang dilakukan di National Museums and Galleries, Merseyside, Liverpool. Patrick Sudbury dan Terry Russell,
Evaluation of Museum and Gallery Displays. Liverpool: Liverpool University Press, 1995. 44
Raymond L. Gold, ‘Roles In Sociological Field Observations’, George J. McCall dan J.L. Simmons, eds., Issues
In Participant Observation: A Text and A Reader. Reading, Massachusetts: Addison-Wesley, 1969. hlm 30-38. 45
Alan Clarke and Ruth Dawson, Evaluation Research: An Introduction to Principles, Methods and Practice. London: Sage Publications, 1999. hlm. 72
del semi-structured dipilih karena odel ini fleksibel dan dapat menggali sebuah topik lebih dalam lagi. Model ini juga membuka kemung
anda menyukai galeri ini? Mengapa? (jika ya atau tidak) c.
atau objek tersebut?
f. Penyajian dan objek mana yang paling anda ingat? Mengapa?
bergantung pada situasi di saat wawancara terjadi.46 Pertanyaan dapat diperluas dan diperdalam sesuai dengan respon pengunjung ketika diwawancara. Mo
m
kinan yang lebih besar dalam mengeksplorasi pendapat pengunjung. Dalam wawancara terlebih dahulu dicantumkan data demografis pengunjung dan keterangan kunjungan ke museum, yaitu umur, jenis kelamin, latar belakang pendidikan, detil kunjungan, jumlah kunjungan; kunjungan yang pertama, kedua, ketiga atau lebih dari tiga kali, tujuan kunjungan dan ekspetasi kunjungan. Data demografis tentunya dibutuhkan untuk melihat profil pengunjung yang bisa digunakan museum sebagai data pengunjungnya. Sementara detil kunjungan, jumlah kunjungan dan tujuan kunjungan dapat mengungkap harapan dan motivasi di balik kunjungan yang termasuk ke dalam karakteristik pembelajaran pengunjung di museum.47
Wawancara dilakukan kepada pengunjung Galeri Etnografi untuk lebih mengetahui lebih jauh tentang karakteristik pembelajaran pengunjung di dalam galeri. Hasil wawancara berperan sebagai data tambahan dari hasil obervasi yang dapat membantu pemetaan karakteristik pembelajaran masyarakat Indonesia di museum. Pertanyaan yang diajukan dalam wawancara
semi-structured ini berperan sebagai pedoman untuk mengeksplor pengalaman pengunjung di
Galeri Etnografi. Terdapat enam pertanyaan yang terdiri dari: a. Apakah ini kunjungan pertama anda ke museum? b. Apakah
Penyajian atau objek mana yang menurut anda menarik? Mengapa?
d. Apakah anda sudah mengetahui tentang penyajian atau objek tersebut? Jika ya bagaimana anda bisa tahu?
e. Setelah mengelilingi galeri ini, apakah pengetahuan anda bertambah tentang penyajian
46
Judy Diamond, Practical Evaluation Guide: Tools for Museums and Other Informal Educational Settings. Walnut Creek: Altamira Press, 1999. hlm. 87-88
47
John H. Falk dan Lynn D. Dierking, Learning from Museums: Visitor Experiences and the Making of Meaning, hlm. 13.
xxix
elajaran pengunjung di museum. konteks personal dalam pembelajaran t mempengaruhi proses a preferensi pribadi
rkan pada pemikiran tentang proses pembelajaran dan interpretasi di
a di dalam museum melalui pameran. Sebagai tambahan, pertanyaan eran dalam penambahan engetahuan pengunjung tentang sesuatu yang sudah mereka ketahui sebelumnya.
Latar belakang pemilihan pertanyaan dalam wawancara ini terdiri dari berbagai pemikiran dan teori yang berkenaan dengan proses pemb
Pertanyaan pertama dan enam didasarkan pada adanya
pengunjung di museum yaitu motivasi, memori dan kenangan yang turu pembelajaran dan interpretasi. Pertanyaan dua dan tiga didasarkan pad
pengunjung terhadap Galeri Etnografi secara umum dan tiap-tiap penyajiannya. Pertanyaan empat dan lima didasa
museum yang menyatakan bahwa pengunjung memiliki pengetahuan awal (prior knowledge) dalam mengkonstruksi makn
lima juga dibuat untuk mengetahui sejauh mana museum berp p
Ukuran sampel dan metode sampling merupakan bagian penting dalam memilih subyek untuk sebuah penelitian. Karena penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, cukup dibutuhkan ukuran sampel yang kecil. Sekitar 60 subjek akan dipilih untuk penelitian ini dan tiap-tiap teknik pengumpulan data menggunakan metode sampling yang berbeda. Spatial
tracking study menggunakan behaviour sampling yang membolehkan pengamat untuk
mengamati sekelompok subjek dan kemudian merekam setiap perilaku tertentu. Pengamat juga mencatat konteks dimana perilaku tersebut terjadi, siapa yang terlibat atau pada pameran yang mana perilaku tersebut terjadi.48 Untuk wawancara, digunakan maximum variation sampling yang bertujuan untuk menangkap tema sentral dan keluaran utama dengan cara menyeleksi karakteristik-karakteristik yang berbeda untuk menciptakan sampel.49
Sementara wawancara yang dilakukan kepada nara sumber memiliki pertanyaan yang berbeda-beda. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada Kepala Bidang Bimbingan dan Publikasi berkenaan dengan edukasi museum yang mencakup pembelajaran pengunjung dan penyampaian narasi di museum. Kepala Bidang Pembinaan Koleksi Sejarah dan Antropologi diberi pertanyaan-pertanyaan yang menyangkut tujuan, dasar pemilihan objek dan narasi di
48
Ibid, hlm. 74-75.
49
1.6.2. engolahan dan Interpretasi Data
spesifikasi ma, pola dan isu penting dalam data. Kutipan dan observasi yang memiliki kesamaan diatur di
ensi silang pada seluruh data sebelum membangun kesimpulan.51
has sejarah dan konsep edukasi di museum, pembelajaran di museum, teori dan konsep pedagogi dan perkembangan pedagogi di museum Barat.
AB 3: MUSEUM DI INDONESIA
g karakteristik dan perkembangan museum di negara-negara berkembang dan asal usul pendirian museum di Indonesia beserta konteks sekitarnya yang berpengaruh terhadap perkembangan museum.
Galeri Etnografi. Sedangkang pertanyaan-pertanyaan untuk Kepala Bidang Konservasi dan Penyajian berkisar pada tata pameran di museum dan metode penyampaian narasinya.
P
Analisis dari pengumpulan data adalah langkah berikutnya dalam sebuah penelitian untuk dapat menjawab masalah penelitian dan untuk mencapai kesimpulan penelitian. Penelitian ini akan menggunakan analisis isi (content analysis) yang sebenarnya merupakan teknik interpretasi dalam pendekatan sosiologi dalam analisis media. Teknik ini didasarkan pada pengukuran jumlah sesuatu hal dari suatu bentuk komunikasi dalam sampling acak.50 Teknik ini juga bisa digunakan dalam penelitian evaluasi selain analisis media. Analisis isi dapat men
te
bawah tema utama dan juga dilakukan refer
1.7. Sistematika Penulisan
BAB 1: PENDAHULUAN
Bab ini membahas tentang latar belakang penelitian, permasalahan, tujuan dan manfaat penelitian, tinjauan literatur, ruang lingkup penelitian dan metodologi.
BAB 2: PEDAGOGI DI MUSEUM Bab ini memba
B
Bab ini membahas tentan
50
Arthur Asa Berger, Media Analysis Techniques, revised edition. London: Sage Publication, 1991, hlm. 92.
51
xxxi
NOGRAFI
ab ini membahas tentang analisis dari pengambilan data yang dilakukan di Galeri Etnografi embahasan mengenai museum, hasil pengamatan pameran
BAB 2
2.1. Edukasi Museum
Asal usul museum bisa diikuti jejaknya hingga ke Mouseion of Alexandria52 dan kemudian selama masa Renaissance dalam bentuk koleksi-koleksi para bangsawan.53 Pada ertengahan abad 19, koleksi – koleksi para bangsawan yang terdiri dari karya seni dan spesimen BAB 4: ANALISIS PAMERAN DAN PENGUNJUNG GALERI ET
B
Museum Nasional. Analisis meliputi p
di Galeri Etnografi, dan hasil pengamatan dan wawancara pengunjung. Juga dibahas interpretasi dari analisis yang menjawab permasalahan penelitian.
BAB 5: KESIMPULAN
Bab ini membahas kesimpulan dan saran yang dapat diberikan kepada pihak Museum Nasional sebagai hasil dari penelitian ini.
Pedagogi di Museum
p
52
Jeffrey Abt, ‘The Origins of the Public Museum acDonald ed., A Companion to Museum Studies. anya bisa diakses oleh kaum elit. Eilean Hooper -Greenhill, Museums and the Shaping of Knowledge,
’, Sharon M Oxford: Blackwell Publishing, 2006. hlm. 115-134.
53
jarah alam tersebut kemudian dapat diakses oleh publik.54 Pada masa itu, museum sebagai buah institusi dianggap sebagai sebuah instrumen budaya oleh pemerintah. Museum dianggap bol kesadaran nasional dan dilihat dapat memberi kontribusi pada esejahteraan rakyat. Museum merupakan sumber pengetahuan dan memiliki kekuatan untuk mengat
n imperial yang juga berfungsi sebagai instrumen penyelidikan masalah miah dan penelitian, sedangkan periode kedua diwarnai oleh tema-tema nasionalisme dan politik
se
se
sebagai bagian dari sim k
ur dan berjalan dalam mempertahankan keteraturan dalam masyarakat sipil.55 Pada awalnya, museum pada abad 19 di Eropa secara besar-besaran menunjukkan kekayaan dan kekuasaan pemerintah. Tetapi seiring dengan perubahan yang disebabkan oleh industrialisasi dan pengenalan konsep sekolah untuk semua, museum berkembang menjadi sebuah sarana pendidikan publik untuk masyarakat umum.56 Di akhir abad 19, museum telah menempatkan pendidikan sebagai salah satu peran utamanya dan memberikan dukungan pada pendidikan formal dan informal.
Pengajaran di museum dan keterlibatan objek untuk tujuan pembelajaran merupakan dua perkembangan dalam edukasi museum pada awal abad 20 di Eropa.57 Menurut Alma S. Wittlin, sejarah awal edukasi museum di Eropa dapat dibagi menjadi dua periode. Periode pertama berlangsung dari pertengahan abad 19 hingga masa Perang Dunia I dan periode kedua berlangsung pada masa perang 1919-1939. Periode pertama menekankan dan menggambarkan kekuatan nasional da
il
dan konsep terbaru dalam memamerkan seni dan sains.58 Di Amerika Serikat, perkembangan edukasi museum terjadi pada kurun waktu yang sama. Edward P. Alexander mengajukan argumen kuat dan memberikan bukti yang mendukung bahwa ‘edukasi museum’ merupakan konsep Amerika.59 Berdasarkan model museum di Eropa, museum-museum di Amerika pada akhir abad 19 dibangun dan dikelola secara independen oleh rakyat biasa. Mereka lalu berubah menjadi institusi publik dan mengenal istilah ‘edukasi’ dikarenakan oleh demokrasi
.
25 ittlin, The Museum, Its History and Its Tasks in Education. London: Routledge and Keagan Paul, 1949,
Chooses Education’, Curator vol. 31, no. 1 Walnut
54
Sebagai contoh adalah Museum Louvre atau museum South Kensington (kini menjadi Victoria and Albert Museum).
55
Tony Bennet, The Birth of the Museum: History, Theory, Politics. London: Routledge, 1995.
56
George E. Hein, Learning in the Museums, hlm. 3-4
57
Eilean Hooper-Greenhill, Museum and Gallery Education. Leicester: Leicester University Press, 1991, hlm.
58
Alma S. W hlm. 136-184.
59
Edward P. Alexander, ‘The American Museum Creek:Altamira Press, 1988. hlm. 61-80.
xxxiii
mempreservasi kebudayaan yang dapat membangun identitas budaya dan asional.64 Hal tersebut membawa museum pada tugas lainnya, yaitu untuk memenuhi keinginan publik
dan karena berfokus pada nasionalisme budaya dan kesadaran kebangsaan, menyediakan pelayanan publik dan stabilitas sosial.60 Pada tahun 1900, museum-museum di Amerika menjadi pusat edukasi dan pencerahan publik, dan meneruskan kepeloporan mereka dalam program-program edukasi.61 Museum pertama yang didirikan berdasarkan tujuan pendidikan adalah museum anak-anak pada tahun 1899. Banyak museum di Amerika yang kemudian menciptakan departemen edukasi di dalam museum mereka pada awal abad 20 dengan kolaborasi bersama sekolah-sekolah.62
Dalam kurun waktu yang panjang, fungsi edukasi museum telah meningkat tidak hanya karena perubahan definisi pembelajaran tetapi juga karena meluasnya peran museum dalam konteks sosial dan politik seperti yang diajukan oleh Richard Sandell dan Robert R. Janes.63 Dalam tujuannya museum dapat mengacu pada masyarakat yang lebih setara dan pada perubahan sosial politik di sekitar mereka. Sebagai tambahan, museum juga dapat mempertahankan peran tradisionalnya dalam
n
untuk menjadi responsif secara sosial, baik ketika museum berdiri sebagai institusi penelitian atau sebagai forum publik.65
Pembelajaran kini dilihat sebagai sebuah partisipasi aktif individu melalui interaksi dengan lingkungannya. Pembelajaran telah bergeser dari tulisan pada partisipasi fisik.66 Dalam konteks museum, konsep pendidikan tidak lagi membatasi dirinya pada sekolah formal dan pembelajaran di dalam kelas. David Anderson mengamati konsep pembelajaran seumur hidup
um. Washington: Smithsonian Institution Press, 1997. hlm. 4.
Inequality. London: Routledge, 2002 dan Robert R. Janes, ‘Museums, Social Responsibility and the Future
volutions, hlm. 315- 329. 60
Jeffrey Abt, The Origins of the Public….. dan Lisa C. Roberts, From Knowledge to Narrative: Educators and the
Changing Muse 61
Edward P. Alexander and Mary Alexander, Museums In Motion, 2nd edition. Plymouth: Altamira Press, 2008, hlm. 7.
62
George E. Hein, ‘Museum Education’, Sharon MacDonald, ed., A Companion to Museum Studies. Oxford: Blackwell Publishing, 2006. hlm. 340-352.
63
Richard Sandell, Museums, Prejudice and the Reframing of Difference. London: Routledge, 2007; Museums,
Society,
We Desire’, Simon J. Knell, et al., Museum Revolutions: How Museums Change and Are Changed. London: Routledge, 2007. hlm. 134- 146.
64
George E. Hein, Learning in the Museum, hlm. 9-11.
65
Duncan Cameron, ‘The Museum, a Temple or the Forum?’, Curator, vol. 14 no. 1 (Walnut Creek: Altamira Press, 1995), pp. 11-24 dan Viv Golding, ‘Learning At the Museum Frontiers: Democracy, Identity and Difference’, Simon J. Knell, et al., Museum Re
66
pat-tempat yang disetujui secara formal, namun dapat rjadi dimana dan kapan saja. Maka dari itu apa yang dipelajari tidak bisa selalu dikontrol dan juga ti
iapan eksibisi telah memposisikan ulang fungsi inti useum, sebagaimana edukasi museum tidak lagi berisi fakta dan informasi namun lebih meneka
museum.72 AAM kemudian embentuk komisi Museums for a New Century pada tahun 1984 yang mengakui pentingnya edukasi di museum dan mengatakan bahwa museum belum menyadari potensinya sebagai dan konsep ini sudah diakui secara luas.67 Pembelajaran seumur hidup menekankan bahwa pembelajaran tidak terbatas pada tem
te
dak selalu dianggap sebagai sesuatu yang bermakna.68 Museum kini bersifat terbuka kepada seluruh kelas masyarakat dan maka dari itu memberikan kesempatan kesetaraan sosial yang bisa dicapai melalui pembelajaran.69
Jika pada awalnya edukasi di museum hanya terbatas pada pelayanan kelompok sekolah atau tur kelompok dewasa, kini edukasi di museum telah dipahami turut berperan serta dalam penyajian pameran, program publik dan workshop. Pekerjaan edukator di museum telah meluas hingga turut berperan serta dalam perkembangan pameran dan studi pengunjung juga dalam pengaturan dan pelaksanaan program-program edukasi.70 Lisa C. Roberts menyatakan bahwa keterlibatan edukator museum dalam pers
m
nan pada makna personal melalui narasi dan pengalaman.71
Perkembangan terkini tentang signifikansi edukasi di museum di dunia Barat terjadi di Amerika Serikat dan Inggris. Tidak dapat dibantah bahwa tentunya perkembangan museum dan edukasi di museum berpijak pada kebijakan yang memayungi institusi museum. Pertama kali pada tahun 1969, American Association of Museums (AAM) di Amerika Serikat menerbitkan The Belmont Report yang mengutarakan adanya tekanan pada museum untuk melayani publik dan kebutuhan museum pada sumber daya untuk menjalankan misi
m
67
David Anderson, ‘Gradgrind Driving Queen Mab’s Chariot: What Museums Have (and Have Not) Learnt from , Alan Chadwick and Annette Stannertt, eds., Museums and the Education of Adults, (Leicester:
:
l, ‘Education, Communication and Interpretation: Towards a Critical Pedagogy in
tion of Museums, America’s Museums: The Belmont Report. Washington DC: American Adult Education’
National Institute for Adult Continuing Education, 1995), 11-33.
68
Usher, Robin et al. Adult Education and the Postmodern Challenge : Learning Beyond the Limits. London Routledge, 1997, hlm. 2.
69
Eilean Hooper-Greenhill, Museum and Gallery Education, hlm. 9-10.
70
Eilean Hooper-Greenhil Museums’, hlm. 3.
71
Lisa C. Roberts, From Knowledge to Narrative: Educators and the Changing Museum,
72
American Associa
xxxv institus
i Inggris, diperkenalkannya kurikulum nasional pada tahun 198976 menyebabkan kemunc
m sebagai institusi pendidikan.79 Sebagai akibatnya, kebijakan pemerintahan Inggris kini menyatakan bahwa pendidikan baik itu dalam kerangk
i pendidikan.73 Kesimpulan dari Museums for a New Century menyatakan bahwa fungsi edukasi museum tidak hanya penting, tetapi sama pentingnya dengan aspek lainnya dalam praktik museum.74 Pada tahun 1992, AAM bersama dengan sekelompok pendidik professional di museum menerbitkan Excellence and Equity: Education and the Public Dimension of Museums. Kesimpulan dari laporan tersebut menyatakan bahwa:
“komunitas museum di Amerika Serikat membagi tanggung jawab dengan institusi pendidikan lainnya untuk memperkaya kesempatan belajar untuk seluruh individual dan untuk membimbing kewarganegaraan yang tercerahkan dan berkemanusiaan yang menghargai nilai pengetahuan tentang masa lalu, memiliki sumber daya dan bersifat sensitif dalam keterlibatannya di masa kini, dan bertujuan untuk membentuk masa depan yang memberi kesempatan bersuara bagi beragam pengalaman dan sudut pandang”.75
D
ulan banyak publikasi resmi tentang penggunaan museum untuk mendukung tujuan pendidikan yang diamanatkan oleh negara.77 Berikutnya pada tahun 1997 ketika diterbitkannya A Common Wealth: Museums in the Learning Age oleh United Kingdom Museums and Galleries Commission.78 Publikasi tersebut mengidentifikasi dua belas target untuk perkembangan edukasi museum yang akan merubah peran publik museum dan mengajukan pernyataan-pernyataan filosofis tentang museu
a formal dan pembelajaran sepanjang hidup harus menjadi fungsi inti dari museum.
73
American Association of Museums, Museums for a New Century. Washington DC: American Association of Museums, 1984. hlm. 28.
74
George E. Hein, Learning in Museums, hlm. 8.
seums.
ciation of Museums, 1992. hlm. 25.
hool Authority, A Guide to the National Curriculum for Staff of Museums, Galleries,
culum and Assessment Authority, 1995; J. Yorath ed., Learning
75
American Association of Museums, Excellence and Equity: Education and the Public Dimension of Mu Washington DC: American Asso
76
H. Moffat, Using Museums: Teachers’ Guide. Warwick: Educational Television Company Limited, 1996; Sc Curriculum and Assessment
Historic Houses and Sites. London: School Curri
About Science and Technology in Museums. London: Sout Eastern Museum Service, 1995. 77
George E. Hein, Learning in Museums, hlm. 9.
78
David Anderson, A Common Wealth: Museums and Learning in the United Kingdom. London: Department of National Heritage, 1997.
79
Eilean Hooper-Greenhill, ‘Preface’, in Eilean Hooper-Greenhill, The Educational Role of Museums, (London: Routledge, 1999). hlm xiii
di di abad 20, yaitu tumbuh dan berakhirnya ehaviorisme, munculnya teori perkembangan (developmental theories), dikenalnya signifikansi
ktor lingkungan dalam pembelajaran, dan tumbuhnya model pembelajaran aktif yang secara visme.81
Konsep pengetahuan ‘realism’ percaya bahwa dunia ‘nyata’ berada di luar pemikiran
Kebijakan ini kemudian mendominasi rencana strategis museum-museum di Inggris yang meliputi alokasi pendanaan dari pemerintah.80
2.2. Pembelajaran di Museum
Dalam kaitan edukasi museum dengan penciptaan makna oleh pengunjung, kita tidak dapat mengindahkan perkembangan teori pembelajaran. Literatur-literatur teori pembelajaran menyaksikan perubahan dramatis yang terja
B fa
umum dikenal dengan Konstrukti
Hein mengajukan bahwa teori edukasi bisa diatur dalam sebuah diagram ortogonal yang merupakan kombinasi dari teori pengetahuan atau epistemologi dan teori pembelajaran. Menurut Hein, teori pengetahuan dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis, yaitu yang disebut dengan ‘realism’ dan ‘idealism’. Kedua jenis konsep pengetahuan tersebut berada pada dua sisi ekstrim yang berlawanan yang bisa digambarkan dalam sebuah kontinum dua sisi.
Diagram 2.2.1. Teori Pengetahuan oleh Hein
manusia, bahwa persepsi kita terhadap dunia hanyalah imitasi belaka, sehingga pengetahuan ianggap berdiri sen
d diri di luar kepala manusia. Sedangkan konsep ‘idealism’ menyatakan
80
Graham Black, The Engaging Museum: Developing Museums for Visitor Involvement. London: Routledge, 2006. Hlm. 124.
81
xxxvii
bahwa pengetahuan hanya berada di dalam pikiran manusia dan tidak berkaitan dengan dunia nyata di luar sana, bahwa ide dan ‘hukum alam’ hanya ada di dalam kepala mereka yang menciptakan dan mempercayainya. Sementara itu, Hein juga membagi teori pembelajaran ke dalam kontinum dua sisi berlawanan yang sangat berbeda. Sisi pertama adalah konsep
pembelajaran transmisi-peny kini bahwa manusia
belajar dengan cara menyerap informasi yang telah disampaikan kepada mereka. Penyerapan informasi tersebut dilakukan secara perlahan-lahan, dengan menambahkan sedikit demi sedikit informa
ologi dan teori belajaran yang sama.
erapan (transmission-absorption) yang meya
si ke dalam tempat penyimpanan informasinya. Sedangkan di sisi lain terdapat konsep pembelajaran yang didasarkan bahwa manusia mengkonstruksi pengetahuan. Konsep tersebut menekankan partisipasi aktif otak dalam pembelajaran dan mengenali bahwa proses belajar merupakan sebuah transformasi skema yang mana si pelajar berperan aktif dan melibatkan proses pemaknaan atas serangkaian fenomena yang terjadi di depannya.82
Diagram 2.2.2. Teori Pembelajaran oleh Hein
Maka diagram ortogonal tentang teori edukasi tersebut terbagi ke dalam empat area, yang masing-masing dapat menjelaskan tiap-tiap teori edukasi. Setiap teori berada pada dua sisi epistemologi dan teori pembelajaran, dan setiap dua teori memiliki dasar epistem
pem
82
Diagram 2.2.3. Bagan Ortogonal Teori Edukasi oleh Hein.
Teori-teori edukasi yang dikelompokkan oleh Hein terdiri dari teori didactic-expository,
discovery, stimulus-response dan constructivism. Tiap-tiap teori edukasi tersebut memiliki
kerangka pedagoginya sendiri dan karakteristik-karakteristik khusus di museum, yang secara singkat dapat disimpul
1.
ti contohnya label dan panil yang menjelaskan apa ang akan dipelajari dari eksibisi
sibisi yang hirarkis dari yang sederhana ke yang rumit
s-Response
dipelajari. Sebagai tambahan, eksibisi yang kan sebagai berikut:
Didactic-Expository
- Memiliki eksibisi yang berurutan, dengan awal dan akhir yang jelas serta urutan yang teratur
- Memiliki komponen didaktik, seper y
- Pengaturan subjek ek
2. Stimulu
Teori ini memiliki karakteristik yang sama dengan teori Didactic-Expository, namun tidak menyatakan kebenaran objektif dari apa yang
xxxix
didasari oleh teori ini akan menggunakan komponen yang secara berulang-ulang menekan n memberi hadiah yang sesuai bagi mereka.
Memiliki komponen didaktik yang memasukkan pertanyaan dan memberi petunjuk pada atas jawabannya
enilai interpretasi mereka terhadap
- Memiliki serangkaian mode pembelajaran aktif dut pandang yang berbeda-beda
n hidup pengunjung.83
ertimbangkan gaya belajar pengunjung
ete Experience, Reflective Observation, Abstract Conceptualization, dan Active Experimentation.84 Terdapat juga gaya pembelajaran 4Mat s
stimulus pengunjung da
3. Discovery
- Memiliki eksibisi yang mengandung unsur eksplorasi - Memiliki serangkaian mode pembelajaran aktif -
pengunjung
- Memiliki beberapa sarana untuk pengunjung dalam m interpretasi yang ‘tepat’
4. Constructivism
- Memiliki banyak titik awal dalam eksibisi, tidak memiliki jalur khusus dan tidak memiliki awal dan akhir
- Menampilkan su
- Memudahkan pengunjung untuk beraktifitas dengan objek dan ide melalui aktifitas yang menggunakan pengalama
Pembelajaran di museum juga kini mulai memp
yang berbeda-beda. Beberapa ahli telah mengajukan berbagai gaya belajar individual, seperti adanya individu-individu yang lebih menyukai Concr
ystem yang terdiri dari pelajar tipe Satu hingga Empat yang tiap-tiapnya lebih cenderung menyukai mendengar dan berbagi ide, menyukai fakta dan detil, mengaplikasikan logika dan menyukai trial and error.85 Selain itu juga terdapat pembagian jenis gaya belajar individu yang dikelompokkan menjadi Theorist, Reflectors, Pragmatists dan Activists.86 Lebih jauh lagi, gaya
83
Ibid., hlm. 25-36.
84
D.A. Kolb, Experiential Learning: Experience as the Source of Learning and Development. Upper Saddle River, NJ: Pren
85
Bernice McCarthy tice Hall, 1984.
, The 4Mat System: Teaching Learning Styles Using Right/Left Mode Techniques. Barrington, ord, The Manual of Learning Styles, 3 edition. Maidenhead, Birkshire: Honey, 1992. IL: Excel, 1986. Hlm. 3-6.
86