1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

11 

Teks penuh

(1)

1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Seksualitas dan manusia adalah dua hal yang sulit untuk dipisahkan, karena seksualitas melibatkan keadaan jasmani dan perilaku manusia yang berkaitan dengan seks (Kamus Lengkap Psikologi). Penelitian-penelitian terhadap perilaku seksual manusia sendiri telah mulai dilakukan pada awal abad ke 20, puncaknya yakni ketika Alfred C. Kinsey (1894-1956) mengadakan penelitian terhadap perilaku seksual manusia. Hingga kini penelitian terhadap perilaku seksual manusia masih terus dilakukan, walaupun demikian pemahaman masyarakat awam terhadap perilaku seksual masih sangatlah dangkal. Perilaku seksual seringkali diartikan hanya sebagai hubungan seksual berupa penetrasi dan ejakulasi (Wahyudi, 2000).

Menurut Sarwono (2001), perilaku seksual merupakan segala bentuk tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual, baik dengan lawan jenis maupun dengan sesama jenis, bentuk-bentuk tingkah laku dapat bermacam-macam, mulai dari berkencan, bercumbu, dan bersenggama. Duvall dan Miller (1985) sendiri membagi perilaku seksual ke dalam empat tahap, yakni bersentuhan, berciuman, bercumbu, dan hubungan seksual. Pemahaman perilaku seksual dalam kaitannya dengan masalah sosial juga dikemukakan oleh Gagnon dan Simon (dalam Ilhaminingsih, 2004), dengan membagi perilaku seksual ke dalam tiga tipe, yakni:

tolerated sex variance (kontak anal-oral genital pasangan heteroseksual,

masturbasi, dan premarital-extramarital intercourse), asocial sex variance (incest, child molestation, pemerkosaan, exhibitionism, dan voyeurism), dan

structured sex variance (homoseksualitas, prostitusi, dan pornografi). Melihat

beragamnya perilaku seksual yang ada, peneliti hanya memfokuskan kepada hubungan seksual, masturbasi, pornografi, dan homoseksual. Perilaku seksual tersebut dipilih oleh peneliti berdasarkan fenomena yang terjadi di Indonesia, dimana perilaku seksual tersebut masih dipandang tabu, namun pada prakteknya telah cukup banyak dilakukan. Berikut ini dapat disimak mengenai fenomena hubungan seksual, masturbasi, pornografi, dan homoseksual yang terjadi di Indonesia.

(2)

Hubungan seksual merupakan suatu kegiatan seksual yang dilakukan secara berpasangan, tidak hanya berupa penetrasi penis ke dalam vagina (vaginal

sexual intercourse) tapi juga bisa berupa hubungan oral ataupun hubungan anal.

Dalam penelitian ini hubungan seksual yang akan diangkat ialah vaginal sexual

intercourse, karena menurut data statistik National Health and Social Life Survey

(NHSLS) di Amerika Serikat, vaginal sexual intercourse merupakan salah satu perilaku seksual berpasangan yang paling umum dilakukan (Kelly, 2001). Hubungan seksual di Indonesia sendiri telah sedemikian maraknya dilakukan, khususnya perilaku seksual pra-nikah. Dalam Harian Republika terbitan 1 Maret 2007, dikatakan bahwa 50% perempuan Indonesia mengaku pernah melakukan hubungan seks di luar nikah. Hasil survei sebuah perusahaan kondom pada tahun 2005 menyebutkan bahwa sekitar 40% - 45% remaja berusia 14 – 24 tahun di kota-kota besar di Indonesia, mengaku pernah melakukan hubungan seks pranikah (Sindo, 2007).

Hubungan seksual seperti yang telah dibahas sebelumnya, memiliki tujuan untuk mencapai kepuasan orgasme bagi setiap pelakunya. Selain dengan melakukan hubungan seksual, orgasme juga dapat diraih dengan cara masturbasi. Masturbasi merupakan salah satu perilaku seksual yang dapat dilakukan secara individual atau tidak dibutuhkan adanya kehadiran pasangan untuk dapat mencapai orgasme. Dalam sebuah rubrik konsultasi kesehatan, Prof. Dr. dr Wimpie Pangkahila Sp. And. mengatakan banyak penelitian menyatakan hampir semua pria pernah melakukan masturbasi secara aktif, sedangkan pada wanita sedikitnya 70%-80% juga melakukan masturbasi secara sadar dan direncanakan (Pangkahila, W 2005).

Untuk membantu pencapaian orgasme, para pelaku masturbasi biasanya menggunakan berbagai macam alat bantu, salah satunya yakni dengan melihat majalah atau film yang mengandung unsur pornografi. Istilah pornografi sendiri tidak mudah untuk didefinisikan, hal ini disebabkan oleh beragamnya pemahaman individu terhadap hal tersebut, dan dipengaruhi oleh pertimbangan individu terhadap perilaku seksual dalam kehidupan, kepekaan terhadap beragamnya perilaku seksual, serta apresiasi terhadap seksualitas yang terdapat dalam konteks seni sastra dan artistik (Miracle et al., 2003). Dalam Kelly (2001) pornografi

(3)

diartikan sebagai segala bentuk gambaran visual ataupun tulisan yang mungkin secara seksual dapat merangsang penggunanya. Menurut data statistik Top Ten Reviews yang dikutip oleh detiknet (Ilma, 2007), Indonesia menempati posisi ketujuh untuk negara dengan pencarian kata kunci ’sex’ terbanyak di dunia. Ditambahkan pula setiap detiknya 28.258 pengguna internet di dunia mengakses konten pornografi, dengan 80% user-nya berasal dari Indonesia. Selain itu, majalah-majalah yang bertemakan seksual juga dapat dengan mudah ditemui di Indonesia, seperti misalnya: majalah Playboy, FHM, Ehm, Popular, dll. VCD-VCD porno juga dapat dengan mudah ditemukan di setiap pusat-pusat grosir di Indonesia, VCD-VCD tersebut dijual dengan harga yang relatif murah dan dijual bebas, sehingga siapapun bisa untuk membelinya, termasuk anak di bawah umur.

Berikutnya, mengenai isu tentang homoseksual. Penggunaan kata homoseksual biasa digunakan untuk menggambarkan perilaku berkasih-kasihan dan ketertarikan serta aktivitas seksual yang dilakukan antara individu sesama jenis (Kelly, 2001). Dalam isu homoseksual, dikenal istilah gay dan lesbian. Gay merupakan sebutan untuk individu yang orientasi seksual dan identitasnya mengacu pada sesama jenis, biasanya istilah ini dipergunakan untuk kaum pria, sedangkan lesbian mengacu pada kaum wanita yang memiliki orientasi seksual dan identitasnya sesama jenis (Kelly, 2001). Di Indonesia, data statistik menunjukkan 8-10 juta populasi laki-laki Indonesia pada suatu waktu terlibat pengalaman dengan kaum gay, dan sebagian besar dari mereka masih terus melakukannya (http://villageoflost.blogspot.com/). Sedangkan untuk kaum lesbian, tidak ditemukannya data-data statistik yang berkaitan dengan populasi kaum ini di Indonesia. Di Indonesia juga dapat dijumpai komunitas-komunitas yang menaungi kaum homoseksual, di antaranya yakni GAYa Nusantara untuk kaum gay dan Pelangi untuk kaum lesbian.

Demikianlah sedikit gambaran mengenai fenomena perilaku hubungan seksual, masturbasi, pornografi, dan homoseksual yang terjadi di Indonesia. Peneliti tidak mengangkat topik perilaku seksual yang lain dikarenakan sebagian dari perilaku seksual tersebut sudah cukup dianggap biasa dan tidak menimbulkan kontroversi dalam masyarakat, seperti misalnya perilaku berkencan, bersentuhan, dan berciuman. Sedangkan sebagian yang lain dikategorikan sebagai perilaku

(4)

abnormal dan bersinggungan dengan hukum, seperti misalnya prostitusi, pemerkosaan, exibitionism, voyeurism, incest,dll.

Di Indonesia, penelitian-penelitian mengenai perilaku seksual dapat dengan mudah kita temukan, dan sering kali dilakukan, namun penelitian mengenai sikap terhadap perilaku seksual masih sulit dijumpai dan jarang sekali dilakukan. Sehingga peneliti tertarik untuk mengangkat topik mengenai sikap masyarakat terhadap perilaku seksual yang saat ini sedang berkembang. Sikap menurut Myers (dalam Sarwono, 2002), merupakan suatu bentuk reaksi evaluatif dalam kesetujuan atau ketidaksetujuan terhadap sesuatu atau seseorang, yang ditunjukan dengan keyakinan (belief) seseorang, perasaan atau perilaku yang telah direncanakan. Dalam Baron dan Byrne (1997) sikap terhadap perilaku seksual dibedakan mulai dari sikap sangat positif dan permisif hingga pada sikap sangat negatif dan membatasi.

Berikut ini merupakan hasil penelitian terkait dengan sikap individu terhadap hubungan seksual, masturbasi, pornografi dan homoseksual. Dalam Papalia et al., (2003) disebutkan bahwa 30% dari penduduk Amerika memiliki sikap traditional terhadap hubungan seksual—yakni menyatakan bahwa hubungan seksual hanya boleh dilakukan sebagai tujuan dari reproduksi dalam perkawinan, 25% lainnya menyatakan hubungan seksual boleh dilakukan selama tidak merugikan kedua belah pihak dan dilakukan atas dasar suka sama suka, sedangkan sisanya, yakni 45% mengatakan bahwa hubungan seksual harus disertai dengan perasaan cinta atau afeksi namun tidak perlu adanya ikatan perkawinan. Hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa walaupun sebagian besar penduduk Amerika bersikap permisif terhadap perilaku premarital sex namun sebagian penduduk masih bersikap sebaliknya. Di Indonesia sendiri ternyata hubungan seksual pranikah sudah dianggap bukan hal yang baru lagi, menurut penelitian yang dilakukan oleh Simon Simon dan Susan J Paxton (2001)—psikolog dari Universitas Melbourne—menemukan bahwa dikalangan dewasa muda Indonesia, hubungan seksual sebelum menikah dipandang menjadi semakin biasa dan dapat diterima, namun dalam penelitian ini tidak menyebutkan data angka yang pasti.

Masturbasi sendiri, walaupun telah dianggap sebagai salah satu cara yang paling umum dilakukan untuk mendapatkan kepuasan seksual masih sering

(5)

disalahartikan oleh mitos-mitos, nilai-nilai agama, analisa moral, dan ketidaktahuan masyarakat (Kelly, 2001). Mitos-mitos mengenai masturbasi yang berkembang di masyarakat Indonesia di antaranya ialah masturbasi dapat membuat sperma mengering, dapat mengakibatkan berkurangnya pelumas pada persendian atau yang lebih dikenal dengan istilah ”dengkul kopong”, bisa menyebabkan kebutaan, bisa mengakibatkan tertularnya penyakit seksual bahkan diduga dapat mengakibatkan munculnya jerawat diwajah. Individu yang menganggap masturbasi tidak benar, berbahaya atau suatu perbuatan dosa, akan merasakan kecemasan atau perasaan bersalah apabila mereka melakukan masturbasi ataupun ada dorongan untuk melakukannya. Emosi-emosi negatif (contoh: perasaaan bersalah, kecemasan, dll) tersebut berkaitan dengan sikap mereka terhadap masturbasi bukan pada masturbasi itu sendiri (Ilhaminingsih, 2004).

Pornografi juga tak kalah mendapat sorotan dikalangan masyarakat. Untuk sejumlah orang, pornografi dapat mendatangkan efek yang negatif seperti misalnya perasaan bersalah, malu, ketagihan, menurunkan tingkat kepercayaan diri, penilaian yang negatif terhadap kaum wanita, dll. Sedangkan untuk beberapa orang, pornografi dapat memberikan kepuasan orgasme yang sebelumnya jarang didapatkan, mencegah perselingkuhan, memberikan pendidikan seks, dan dapat membuat individu menjadi lebih terbuka terhadap perilaku seksual yang ada (Hawkes & Scott, 2005). Perbedaan reaksi emosi (contoh: perasaan malu, perasaan bersalah, dan perasaan lebih terbuka) dapat mempengaruhi sikap individu terhadap suatu hal. Suatu hal yang dapat menimbulkan emosi positif (contoh: terangsang, terpuaskan, dll) biasanya akan menimbulkan reaksi yang juga positif terhadap hal tersebut (Kelly, 2001). Sehingga dapat dikatakan, individu yang menganggap pornografi dapat menghasilkan efek yang menguntungkan (emosi positif), akan cenderung bersikap lebih positif terhadap pornografi.

Di Indonesia sendiri, isu pornografi ditanggapi dengan cukup serius. Mungkin masih segar dalam ingatan kita ketika pemerintah membuat Rancangan Undang-undang Anti Pornografi dan Anti Pornoaksi (RUU APP), reaksi dari kalangan masyarakat bermacam-macam, ada yang menyetujui dan mendukung penuh RUU APP tersebut, namun ada juga yang menolak disusunnya RUU APP.

(6)

Seperti yang telah kita ketahui, pihak-pihak yang mendukung penyusunan RUU APP sebagian besar merupakan individu-individu yang berasal dari komunitas yang berbasis agama, sedangkan pihak yang menolak atau yang meminta peninjauan kembali penyusunan RUU APP datang dari komunitas yang bergerak dalam bidang kebudayaan, seni, dan para aktivis.

Perbedaan pendapat juga turut menyertai isu homoseksualitas, dalam jajak pendapat yang dilakukan oleh Newsweek di Amerika, hampir dari setengah jumlah populasi survei menyatakan bahwa homoseksual adalah suatu perbuatan dosa, dan sepertiga dari hasil polling yang lain menyatakan bahwa homoseksual merupakan penyakit (Papalia et al., 2003). Hal ini juga sejalan dengan hasil data survei di Australia pada tahun 2003, yang menyatakan bahwa 25% subjek tidak dapat membenarkan perilaku para kaum homoseksual ( Rissell et al., dalam Hawkes & Scott, 2005). Namun Smith et al., (dalam Hawkes & Scott, 2005) mengungkapkan hal yang sebaliknya, dimana kaum muda di Australia secara umum menunjukan sikap yang positif terhadap persahabatan yang terjalin dengan teman sebayanya yang notabene homoseksual. Di Indonesia, kaum homoseksual masih menjadi polemik dikalangan masyarakat, banyak yang bersikap antipati terhadap kaum ini, seperti yang terungkap dalam rubrik konsultasi Kompas. Seseorang menceritakan pengalaman pahitnya menjadi homoseksual di Indonesia, dimana ia merasa seperti hidup dalam penjajahan moral dan tradisi. Sikap antipati juga ditunjukkan dalam tulisan-tulisan elektronik (blog-blog) yang dapat dilihat di dunia maya, blog-blog tersebut cenderung bersikap menghakimi kaum homoseksual. Seperti salah satunya, blog yang dibuat oleh Syaikh Nabil Muhammad Mahmud yang berjudul ”Peringatan kepada kaum Gay, Lesbian, (Homoseksual)”, didalamnya berisikan kutipan-kutipan ayat al-Quran mengenai larangan perilaku homoseksual, serta hukuman-hukuman yang akan didapatkan kaum homoseksual (Mahmud, 2006). Namun, tak sedikit pula yang mendukung komunitas homoseksual seperti GAYa Nusantara, Pelangi, Swara Srikandi ataupun tulisan-tulisan yang disertai dengan kutipan penelitian-penelitian terkini, sebagai usaha agar kaum homoseksual bisa lebih diterima ditengah masyarakat Indonesia. Seperti salah satu tulisan elektronik yang dibuat oleh Tatamos (2007):

(7)

”...apakah kau pernah diam dan berpikir, mungkinkah kita yang tidak memberikan kondisi yang baik untuk mereka? banyak dari kita (seperti yang kau lihat di sinetron2 hidayah) mengucilkan, mengasingkan dan menganggap mereka 'najis' karena perbedaan ini. Tapi, kataku tetap! Apa salah mereka? apakah mereka bisa memilih untuk dilahirkan menjadi apa?”

Hasil temuan yang telah diuraikan sebelumnya, memberikan gambaran mengenai beragamnya cara pandang individu dalam menyikapi beberapa perilaku seksual yang berkembang di masyarakat saat ini. Hal ini dapat dipengaruhi oleh sikap yang dianut dalam keluarga, agama, dan kultur mengenai perilaku seksual (Rollins, 1996). Agama dianggap sebagai pedoman hidup atau pegangan hidup individu dalam menjalani kehidupannya sehari-hari (Jalaludin, 2000). Agama yang kemudian sudah diyakini oleh individu disebut dengan keberagamaan atau religiusitas. Dalam Miracle et al., (2003) religiusitas diartikan sebagai kualitas religius, kesalehan yang lebih dari biasanya, ditambahkan pula religiusitas ialah kepercayaan yang kuat serta kehadiran individu di acara-acara keagamaan. Tingkat religiusitas seseorang memang tidak dapat dinilai hanya berdasarkan kuantitas kehadiran di tempat-tempat ibadah, atau kuantitas individu berdoa setiap harinya. Menurut C. Y. Glock dan R. Stark (dalam Robertson, 1988) kereligiusan dapat dilihat dari keterkaitan antara individu dengan agamanya. Masih menurut Glock, religiusitas terdiri dari lima dimensi, yakni kepercayaan (contoh: individu percaya akan hari akhir, sorga dan neraka, dll), praktek ritual (contoh: individu menjalankan ibadah shalat, beribadat, dll), pengalaman (contoh: perasaan takut akan dosa, dll), intelektual (contoh: individu menggemari buku-buku agama, membaca kitab suci, dll) dan konsekuensi (contoh: bersikap jujur, berzakat,dll).

Sebagai ilustrasi, dapat disimak sebuah adegan dalam film “XL: Extra Large” yang telah beredar di bioskop-bioskop Jakarta pada pertengahan bulan Februari 2008. Dalam adegan tersebut diceritakan tokoh utama dan kedua orang temannya sedang terlibat pembicaraan yang seru mengenai hubungan seksual, tiba-tiba dari arah yang berlawanan datanglah seorang perempuan mengenakan jilbab. Setelah secara tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka, perempuan

(8)

tersebut terlihat kaget dan langsung mengucapkan “astagfirullah” sambil berjalan cepat menjauh dari ketiga lelaki tadi.

Dalam ilustrasi di atas, tergambarkan reaksi menjauh si wanita berjilbab setelah dirinya mendengar isi pembicaraan seputar perilaku seksual. Pengenaan jilbab pada wanita merupakan salah satu aturan yang terdapat dalam ajaran Agama Islam. Ketika seorang wanita telah menutup auratnya dengan mengenakan jilbab,ada asumsi tingkat kereligiusannya lebih tinggi daripada wanita yang tidak mengenakan jilbab. Adegan tersebut menunjukan bahwa ada asumsi, individu yang religius bersikap menarik diri terhadap permasalahan seputar perilaku seksual. Ilustrasi di atas juga sependapat dengan Kraaykamp (dalam Papalia et al., 2003) yang mengungkapkan bahwa sikap yang liberal terhadap perilaku seksual dimiliki oleh individu yang kurang religius. Hal ini juga diperkuat dengan penelitian yang dilakukan oleh Donnelly (dalam Miracle et al., 2003) kepada 800 orang siswa sekolah, dengan hasil sebagai berikut, siswa yang kurang religius menganggap hubungan seksual adalah hal yang normal dan wajar dilakukan oleh pasangan yang saling mencintai, sedangkan siswa yang religius menyatakan penolakannya terhadap hubungan seksual sebelum menikah. Hubungan antara perilaku seksual dengan religiusitas dapat disimak pada penelitian berikut, dimana menyatakan bahwa individu yang lebih religius kurang suka melakukan hubungan oral, hubungan anal, menjadi homoseksual atau menjadi biseksual bila dibandingkan individu yang tidak religius. Juga ditambahkan, individu yang religius tidak pernah melakukan maturbasi, dan kalaupun melakukan, mereka tidak pernah mencapai orgasme (Miracle et al., 2003).

Data yang telah diuraikan sebelumnya menunjukkan bahwa ada hubungan yang cukup berarti antara tingkat kereligiusan individu dengan sikapnya terhadap perilaku seksual yang sedang marak. Hal inilah yang menjadi alasan peneliti ingin melihat hubungan tersebut di Indonesia, khususnya di kota Jakarta. Untuk menunjang keberhasilannya, maka penelitian ini memerlukan karakteristik responden yang sesuai dengan kedua variabel yang ingin diteliti. Dimana responden yang dibutuhkan telah berada pada tahap perkembangan diri yang cukup matang dan stabil, baik dalam perkembangan perilaku seksual maupun dalam perkembangan keyakinannya (faith).

(9)

Karakteristik tersebut dapat dijumpai pada individu yang berada pada tahap usia dewasa muda, karena pada masa dewasa muda biasanya seseorang sudah memiliki sifat kepribadian yang stabil (Jalaludin, 2000). Stabilitas sifat-sifat kepribadian ini antara lain terlihat dari cara bertindak dan bertingkah laku yang agak bersifat tetap (tidak mudah berubah-ubah) dan selalu berulang kembali (Buchori dalam Jalaludin, 2000). Kemantapan jiwa orang dewasa ini setidaknya memberikan gambaran tentang sikapnya terhadap perilaku seksual dan kereligiusan. Hal tersebut juga didukung oleh kenyataan bahwa pada masa dewasa muda, terjadi perkembangan secara khusus di aspek kereligiusan dan perilaku seksual (Arnett dalam Lefkowitz et al., 2004). Pada masa transisi dari masa remaja menuju masa dewasa muda, individu lebih berkomitmen dalam beragama dan kepercayaannya terhadap nilai-nilai religius lebih bersifat intrinsik, serta terjadi peningkatan dalam kunjungan ke tempat-tempat pelayanan agama (De Haan & Schulenberg dalam Lefkowitz et al., 2004). Hal tersebut sejalan dengan tahapan perkembangan keyakinan menurut Fowler (dalam Papalia et al., 2003), yang menyatakan bahwa pada masa dewasa muda, individu berada pada tahap

individuating-reflective faith, dimana mereka sudah mulai bertanggung jawab

terhadap kepercayaan, sikap, komitmen, dan gaya hidupnya sendiri.

Sedangkan dalam berperilaku seksual, dikatakan bahwa individu yang berada pada tahap awal dewasa telah memiliki kemampuan dalam membuat keputusan terkait dengan perilaku seksual yang dipilihnya (Papalia et al., 2003). Seperti misalnya, individu dihadapkan pada pilihan pernikahan, tidak menikah, hubungan homoseksual, memiliki atau tidak memiliki anak (Lambeth & Hallett dalam Papalia et al., 2003).

Dalam penelitian ini subjek yang dipilih ialah dewasa muda yang menganut ajaran agama Islam. Hal ini dilakukan dengan berbagai pertimbangan yakni, untuk menyamakan pemahaman terhadap suatu ajaran agama, doktrin-doktrin, serta tata nilai yang terdapat dalam suatu ajaran agama. Seperti yang dapat dilihat dalam penjelasan salah satu dimensi religiusitas, yakni dimensi ideologis/kepercayaan. Pertimbangan lainnya yakni karena agama Islam merupakan agama mayoritas di Indonesia, sehingga subjek penelitian akan lebih mudah ditemukan.

(10)

1.2 Masalah Penelitian

Masalah yang ingin diangkat dalam penelitian ini adalah:

1. ”Apakah ada hubungan yang signifikan antara sikap terhadap hubungan seksual dangan dimensi-dimensi religiusitas pada dewasa muda muslim?” 2. ”Apakah ada hubungan yang signifikan antara sikap terhadap masturbasi

dengan dimensi-dimensi religiusitas pada dewasa muda muslim?”

3. ”Apakah ada hubungan yang signifikan antara sikap terhadap pornografi dengan dimensi-dimensi religiusitas pada dewasa muda muslim?”

4. ”Apakah ada hubungan yang signifikan antara sikap terhadap homoseksual dengan dimensi-dimensi religiusitas pada dewasa muda muslim?”

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat hubungan antara sikap terhadap perilaku hubungan seksual, masturbasi, pornografi, dan homoseksual dengan dimensi-dimensi religiusitas pada kaum dewasa muda yang beragama Islam.

1.4 Manfaat Penelitian

Manfaat teoritis dalam penelitian ini adalah untuk pengembangan ilmu Psikologi, khususnya Psikologi Perilaku Seksual, yaitu dengan melihat hubungan antara sikap terhadap hubungan seksual, masturbasi, pornografi dan homoseksual dengan religiusitas. Sehingga dapat dilakukan intervensi yang lebih tepat untuk klien yang mengalami masalah terkait sikap terhadap perilaku seksual, dengan melihat latar belakang kehidupan religiusnya.

Manfaat praktis dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana sikap seseorang dalam memandang perilaku seksual di Indonesia, khususnya Kota Jakarta. Dan untuk melakukan intervensi munculnya perilaku-perilaku seksual yang beresiko. Serta untuk memberi pengetahuan kepada para pemerhati masalah seputar perilaku seksual, agar dapat dilakukan tindakan pencegahan terhadap efek-efek negatif dari sikap terhadap perilaku seksual.

(11)

1.5 Sistematika Penulisan

Bab I berisi latar belakang dari masalah penelitian, permasalahan penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan sistematika penulisan.

Bab II berisi tinjauan pustaka yang menjadi landasan teori dari masalah penelitian yang akan diteliti.

Bab III berisi metode yang digunakan dalam pelaksanaan penelitian dan mencakup tipe penelitian, metode pengambilan data, karakteristik responden, cara pengambilan sampel, alat yang digunakan, prosedur penelitian dan prosedur pengolahan data.

Bab IV berisi analisis dan interpretasi hasil dari permasalahan penelitian dan terakhir Bab V mencakup kesimpulan dari hasil permasalahan penelitian.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :