1
1 PENDAHULUAN
Latar Belakang
Theory of planned behavior atau teori perilaku terencana merupakan pengembangan dari theory of reason action atau teori tindakan beralasan. Teori tindakan beralasan pertama kali dicetuskan oleh Ajzen pada tahun 1980 (Jogiyanto, 2007). Teori tindakan beralasan disusun menggunakan asumsi dasar bahwa manusia berperilaku dengan cara yang sadar dan mempertimbangkan segala informasi yang tersedia. Ajzen mengemukakan bahwa niat melakukan atau tidak melakukan perilaku tertentu dipengaruhi oleh dua penentu dasar, yang pertama berhubungan dengan sikap (attitude towards behavior) dan yang lain berhubungan dengan pengaruh sosial yaitu norma subjektif (subjective norms). Dalam upaya mengungkapkan pengaruh sikap dan norma subjektif terhadap niat untuk dilakukan atau tidak dilakukannya perilaku, Ajzen melengkapi teori tindakan beralasan ini dengan keyakinan (beliefs). Dikemukakannya bahwa sikap berasal dari keyakinan terhadap perilaku (behavioral beliefs), sedangkan norma subjektif berasal dari keyakinan normatif (normative beliefs).
Berbeda dengan teori tindakan beralasan, dalam teori perilaku terencana Ajzen menambahkan variabel konstruk yang belum ada di teori tindakan beralasan yakni kontrol perilaku yang dipersepsi. Seperti halnya teori tindakan beralasan, faktor utama dalam teori perilaku terencana adalah niat (intention) untuk menunjukkan perilaku yang diberikan. Niat tersebut diasumsikan untuk merangsang faktor motivasi yang mempengaruhi perilaku. Hal ini dapat ditunjukan melalui usaha keras seseorang untuk mencoba, merencanakan, dan menunjukkan perilakunya. Selain faktor motivasi, perilaku juga dipengaruhi oleh faktor non-motivasi seperti adanya keharusan sumber daya dan kesempatan, dapat berupa waktu, uang, keahlian, dan kerjasama dengan yang lainnya (Ajzen dalam Ajzen (1991)).
Dalam pelaksanaannya teori perilaku terencana dibutuhkan kontribusinya untuk mempelajari sikap dan perilaku di berbagai bidang seperti pemasaran, kesehatan, pendidikan, politik dan lain sebagainya. Salah satu bidang yang memerlukan peranan dari teori perilaku terencana adalah dalam hal kajian kepatuhan. Beberapa penelitian terdahulu mencoba mengkaji mengenai perilaku kepatuhan dalam melaksanakan suatu program maupun aturan. Dalam studi untuk menganalisa kepatuhan para wajib pajak dalam membayar pajak, Benk et al. (2011) mengatakan bahwa harapan normatif kepatuhan dan besarnya penalti yang diberikan bagi para pelanggar ternyata memberikan pengaruh yang paling signifikan terhadap niat seseorang untuk patuh. Pada kajian penelitian yang lain terkait kepatuhan, Poulter et al. (2008) mencoba meneliti perilaku mengemudi truk untuk patuh terhadap peraturan. Poulter et al. (2008) menemukan bahwa perilaku mengemudi truk untuk patuh terhadap peraturan lebih dipengaruhi oleh sikap, norma subjektif serta faktor pengendalian perilaku yang dirasakan. Namun, faktor terakhir tersebut ternyata memberikan tingkat pengaruh yang lebih besar.
Dalam melakukan penelitiannya, Benk et al. (2011) dan Poulter et al. (2008) menggunakan teori dasar berupa teori perilaku terencana (The Theory of Planned Behavior), yakni teori yang diusulkan oleh Icek Ajzen pada tahun 1985 dari artikelnya yang berjudul “From Intentions to Actions: A Theory of Planned
2
Behavior”. Teori tersebut adalah teori mengenai keterkaitan antara sikap dan perilaku. Teori ini menyatakan bahwa sikap terhadap perilaku, norma subjektif dan pengendalian perilaku yang dirasakan secara bersama-sama membentuk niat perilaku individu dan perilaku. Dalam identifikasi masalah penelitian, kontribusi faktor-faktor lain biasanya juga memiliki peran terhadap niat. Oleh karena itu Kim et al. (2007) dalam penelitiannya memasukkan variabel kepercayaan, risiko yang dirasakan dan keuntungan. Kim et al. (2007) menyatakan bahwa kepercayaan memiliki dampak yang kuat dalam keputusan pembelian konsumen situs online. Omondi et al. (2010) memasukkan variabel pengetahuan yang dirasakan dalam penelitiannya yang menelitian mengenai perilaku penderita diabetes dalam praktek pengendalian pola makan (diet).
Pelayaran merupakan bidang usaha dan industri yang sangat penting di dunia internasional saat ini karena mengangkut sekitar 90 persen barang-barang perdagangan dunia melalui kapal-kapal yang besar secara aman, bersih dan berbiaya relatif murah (IMO. 2013). International Safety Management (ISM) Code merupakan salah satu aturan yang menjadi perhatian cukup penting oleh khalayak dunia, terutama dunia pelayaran. Peraturan ini mulai dikembangkan sejak 1 Juli 1998 oleh International Maritime Organization (IMO) sebagai reaksi dari kenaikan jumlah kecelakaan dan tuntutan pada industri pelayaran dan asuransi yang menjadi subjek perhatian masyarakat internasional. Tujuan aturan ini adalah untuk memberikan standar internasional untuk mengelola dan mengoperasikan kapal yang aman serta pencegahan polusi seperti yang tertulis dalam preamble The International Safety Management (ISM) Code (Annex to IMO Assembly Resolution A.741(18) – 1993): “The purpose of this Code is to provide an international standard for the safe management and operation of ships and for pollution prevention”. Oleh karena itu kepatuhan terhadap peraturan ISM Code menjadi perhatian utama dalam mencegah polusi dan kecelakaan kapal.
ISM Code mengatur manajemen keamanan (safety management) bagi suatu perusahaan pelayaran untuk menyediakan lingkungan kerja yang aman bagi kegiatan teknis pengoperasian kapal, menetapkan perlindungan terhadap seluruh risiko yang telah diidentifikasi, dan secara terus menerus meningkatkan keterampilan manajemen dari personil-personil baik di darat maupun di kapal termasuk persiapan dalam keadaan darurat yang berkaitan baik untuk keselamatan maupun perlindungan lingkungan. Sistem ini harus memastikan bahwa peraturan dan regulasi yang diberlakukan dapat dipatuhi dan dipedomani serta menjadi standar yang direkomendasikan oleh pemerintah, masyarakat, dan organisasi maritim. Cakupan utama ISM Code adalah transportasi laut yakni kapal-kapal berlayar dari satu tempat ke tempat lain dan kegiatan-kegiatan lainnya di laut seperti unit pengeboran. Meskipun demikian, keamanan maritim bukan hanya berfokus pada kegiatan di laut saja melainkan melibatkan kegiatan berbasis pantai (shore-based) yang dapat memicu isu mengenai manajemen keselamatan yang berhubungan dengan transportasi dan operasional maritim. International Harbour Master’s Association pada tahun 2002 berpendapat bahwa kapal secara statistik memiliki peluang lebih besar untuk mengalami kecelakaan navigasi pada perairan yang dekat dengan pelabuhan daripada di laut lepas, selain itu risiko dan kerusakan jangka panjang terhadap lingkungan yang terbesar selalu berada dekat dengan daratan.
3
Setiap tahun kecelakaan kapal terjadi diseluruh dunia termasuk di Indonesia. Berdasarkan fakta beberapa peristiwa kecelakaan kapal di Indonesia baik kapal barang maupun kapal penumpang selama tahun 2003 hingga 2013 membuktikan bahwa tata kelola keselamatan kapal masih lemah. Hal ini terlihat pada tabel 1 yang merekam kecelakaan kapal dari tahun 2003 hingga 2011.
Tabel 1. Daftar kecelakaan kapal penumpang dari September 2003 hingga September 2011
Tanggal Kejadian Nama Kapal Jenis
Kecelakaan Lokasi/Tempat Kejadian 28 September 2011 Kirana IX Kebakaran Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya 26 September 2011 Marina Nusantara Kebakaran Pulau Kadap, Kalimantan Selatan 24 September 2011 Tunggal Putri Tenggelam Pulau Raas,Kangean, Sumenep, Madura 21 September 2011 Sri Murah Rejeki Tenggelam Nusa Lembongan, Klungkung, Bali 27 Agustus 2011 Windu Kursa Tenggelam Perairan Kolaka, Sulawesi tenggara 18 Maret 2011 MT. Gloria Sentosa
-Kapal Jukung Irpansya
Tubrukan Selat Jaran, Alur Pelayaran
Sungai Musi, Palembang Sumatra Selatan 8 Februari 2011 KM. Salvia Kebakaran Perairan Sebelah Timur, Sekitar Pulau
Damar, Kepulauan Seribu-DKI Jakarta 28 Januari 2011 KMP.Laut Teduh 2 Terbakar Perairan Sekitar Pulau Tempurung, Selat
Sunda Banten 4 Agustus 2010 KM. Indimatam V
Dengan KM. Trisal Pratama
Tubrukan Sekitar 8,5 NMil sebelah Barat Pulau Pasitanete, Sulawesi Selatan
2 Juni 2010 KM. Bosowa VI - KM.
Shinpo 18
Tubrukan Perairan 18 NM Sebelah Utara Pelabuhan Celukan Bawang Singaraja, Bali 19 Mei 2010 MT. Soechi Chemical
XIX - KM. Dian No. 1
Tubrukan 15 NM Sebelah utara Pelabuhan Tanjung Priok, DKI Jakarta
12 April 2010 KM. GEMILANG Ledakan Kade 103 Pelabuhan Soekarno Hatta,
Makassar, Sulawesi Selatan
6 Maret 2010 KM. Ammana Gappa Tenggelam 27 NM Sebelah Barat Tanjung Rangkas, Mamuju, Sulawesi Barat
22 November 2009 KM. Dumai Express 10 Tenggelam Perairan Pulau Iyu Kecil, Tanjung Balai Karimun Kepulauan Riau
30 Mei 2009 Km. Mandiri Nusantara Tenggelam Perairan Keramian, Bawean, Jawa Timur 22 Mei 2009 KM. Tanto Niaga Dengan
KM. Mitra Ocean
Tubrukan Perairan Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya
11 Januari 2009 KM. Teratai Prima Tenggelam Perairan Tanjung Batu Roro, Sulawesi Selatan
9 November 2009 Perahu Motor Koli-Koli Terbalik Perairan Teluk Kupang- NTT 18 Mei 2008 KMP. Dharma Kencana 1 Terbakar Sungai Mentaya Hilir Selatan Kota
Waringin Timur Kalimantan Selatan
17 Mei 2008 KM. Samudra Makmur
Jaya
Tenggelam Perairan Sekitar Buoy 14 Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya
5 Maret 2008 MT. Candrawasih Terbakar Perairan Laut Selatan, Yogyakarta
27 Januari 2008 MT. Pendopo Terbakar Balongan, Indramayu, Jawa Barat
18 Desember 2007 MT. Kharisma Selatan Terbalik Dermaga Mirah, Tanjung Perak, Surabaya
18 Oktober 2007 KM. Acita – 03 Terbalik Pesisir Pantai Lakeba, Bau-Bau, Sulawesi Tenggara
10 Juli 2007 KM. Wahai Star Tenggelam Pulau Tiga Nusa Telu, Ambon
25 April 2007 MT. Maulana Meledak Tikungan Telepung, Sungai Siak, Riau
22 Februari 2007 KMP. Levina 1 Terbakar Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta 13 Januari 2007 KMP. Nusa Bhakti Terbakar Pantai Bug-Bug Karangasem, Bali 26 September 2003 MV Unichart Dengan KM
Mandiri Nusantara
Tubrukan 2 Cable Selatan Bouy No. 8, Alur Pelayaran Barat Surabaya
7 September 2003 KMP. Wimala Dharma Tenggelam 4.5 Mil Laut Sebelah Timur Pulau Gili Tepekong Selat Lombok
4
Dari hasil Kajian Analisis Trend Kecelakaan Transportasi Laut Tahun 2003 – 2008 oleh KNKT, diperoleh data bahwa persentase kecelakaan laut berdasarkan jenis kapalnya adalah Kapal Cargo 17%, Kapal Penumpang 3%, Kapal Container 1%, Kapal Ikan 2% dan Kapal Tradisional / KLM 56%. Sementara persentase kecelakaan laut berdasarkan faktor penyebab adalah manusia 37%, teknis 23%, alam 38% dan lainnya 2%. Dari data tersebut ternyata faktor manusia dalam menimbulkan kesalahan sehingga terjadinya kecelakaan cukup dominan. Menurut data statistik dari 37% kecelakaan disebabkan oleh kesalahan manusia, sehingga ada suatu pendapat, bahwa akhirnya langsung atau tidak langsung semua adalah karena faktor manusia. Kalau dibatasi pada lingkup perusahaan (segi mikro), tampak bahwa terjadinya kecelakaan dikarenakan adanya ketimpangan diantara ketiga unsur utama produksi (sub sistim manusia, lingkungan phisik dan manajemen) sehingga mengakibatkan terjadinya tindakan dan keadaan tidak aman. Secara langsung terjadinya kecelakaan dapat dikelompokan secara garis besar menjadi dua penyebab, yaitu :
1. Tindakan tidak aman dari manusia (Unsafe Acts). Seseorang melakukan tindakan tidak aman atau kesalahan yang mengakibatkan kecelakaan disebabkan karena :
a. Tidak Tahu;
Yang bersangkutan tidak mengetahui bagaimana melakukan pekerjaan dengan aman dan tidak tahu bahaya-bahayanya sehingga terjadi kecelakaan.
b. Tidak Mampu/Tidak Bisa;
Belum mampu/kurang terampil atau kurang ahli, akhirnya melakukan kesalahan dan gagal.
c. Tidak Mau;
Walaupun telah mengetahui dengan jelas cara kerja/peraturan dan bahaya-bahaya yang ada serta yang bersangkutan mampu/bisa melakukannya, tetapi karena kemauan tidak ada, akhirnya melakukan kesalahan atau mengakibatkan kecelakaan.
2. Keadaan tidak aman (Unsafe Condition). Tindakan tidak aman dan keadaan tidak aman inilah yang selanjutnya akan menimbulkan insiden/kecelakaan dalam bentuk :
a. Kapal tenggelam b. Kapal terbakar c. Kapal tubrukan d. Kapal kandas
e. Kapal bocor, hanyut, terbalik f. Orang jatuh ke laut
Menanggapi kecelakaan-kecelakaan yang terjadi di tanah air, Komite Nasional Kesalamatan Transportasi (KNKT) seperti yang dituangkan pada laporan investigasi kecelakaan kapal laut KM Salvia (2001) dan tubrukan antara MT. Soechi Chemical XIX dengan KM Dian No.1 (2010) memberikan rekomendasi serta mengedepankan peningkatan pengawasan terhadap penerapan ISM Code dalam menjaga keselamatan pelayaran. Pada pasal 6.4 di dalam ISM Code juga menyebutkan bahwa setiap perusahaan harus memastikan seluruh personil yang terlibat dalam sistem pengelolaan keselamatan memiliki
5
pengetahuan yang memadai mengenai aturan, peraturan, kode etik dan pedoman. Hal ini menyiratkan bahwa ISM Code memiliki arti penting sebagai aturan untuk meningkatkan kualitas keselamatan dalam pelayaran.
Menurut Malisan (2009), peneliti madya bidang transportasi laut pada puslitbang perhubungan laut menyimpulkan bahwa peristiwa kecelakaan kapal yang terjadi di perairan Indonesia cenderung meningkat. Hal ini banyak dipengaruhi oleh buruknya penerapan manajemen keselamatan pelayaran. Malisan (2009) juga menyebutkan bahwa kondisi kapal-kapal berbendera Indonesia masih banyak yang belum memenuhi International Maritime Organization (IMO) melalui implementasi variabel-variabel yang diatur dalam ISM Code oleh perusahaan dan nahkoda bersama awak kapal lainnya. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa :
1. Nahkoda belum sepenuhnya mengenal kebijakan perusahaan tentang keselamatan pelayaran.
2. Anak buah kapal atau kru kapal belum sepenuhnya memahami penanganan tanggap darurat di kapal.
3. Tugas dan tanggung jawab awak kapal belum sempurna dalam melaksanakan pendokumentasian.
4. Instruksi/petunjuk penggunaan alat keselamatan ada di kapal belum sempurna baik penempatan maupun penjelasan.
5. Perlunya perbaikan pada perencanaan dan implementasi safety management untuk mencegah kecelakaan.
6. Perlunya peninjauan safety management untuk menilai kesesuaian dengan prosedur yang ditetapkan perusahaan.
7. Diperlukan verifikasi secara rutin yang dilakukan terhadap peralatan keselamatan pelayaran.
Hasil investigasi kecelakaan kapal yang dilakukan oleh KNKT (2011) menunjukkan bahwa dari sejumlah enam investigasi yang dilakukan, lima diantaranya disebabkan oleh kesalahan manusia dalam hal ini adalah kru kapal dalam hal pemahaman pencegahan kebakaran, perawatan kapal, pengawasan dan pengendalian muatan, dan kecakapan awak kapal yang merupakan bentuk pelanggaran ISM Code. Hal ini merupakan dasar perlunya perbaikan dalam pelaksanaan keselamatan pelayaran di Indonesia sesuai dengan ISM Code. Sehingga penelitian mengenai perilaku dan sikap kru kapal terhadap pelaksanaan kepatuhan ISM Code sangat diperlukan.
Pokok Permasalahan
Sering terjadinya kecelakaan laut di dunia internasional termasuk yang terjadi di Indonesia banyak diakibatkan oleh faktor teknis dan manusia. Keadaan demikian memerlukan adanya suatu regulasi yang dapat mendukung, memenuhi, dan mempertahankan standar kebutuhan operasional-manajemen kapal yang aman serta memberikan perlindungan terhadap lingkungan. Berdasarkan hal tersebut maka IMO mengeluarkan peraturan tentang manajemen keselamatan kapal dan perlindungan lingkungan laut yang dikenal dengan International Safety
6
Management Code (ISM) Code yang juga dikonsolidasikan dalam Safety of Life at Sea (SOLAS) Convention.
Sesuai dengan tujuannya, kode etik tersebut dibuat untuk menyediakan suatu pengelolaan keamanan yang baku dan pengoperasian kapal serta pencegahan pencemaran, seperti yang tertulis bahwa “the objective of the Code are to ensure safety at sea, prevention of human injury or lose life, and avoidance of damage to the environment, in particular to marine environment and to property”. Dengan demikian diharapkan setiap perusahaan pelayaran dimanapun di dunia internasional termasuk di Indonesia dapat menerapkan ISM Code sebagai acuan dalam pengelolaan keselamatan pelayaran. Namun demikian, pelaksanaan ISM Code di Indonesia masih buruk (Malisan, 2009), sehingga diperlukan perbaikan penerapan ISM Code dalam keselamatan pelayaran di Indonesia. Dalam kajian analisis kecelakaan laut Tahun 2003 – 2008 oleh KNKT dinyatakan bahwa kecelakaan kapal dilaut juga disebabkan karena rendahnya kesadaran pengusaha kapal berinventasi untuk peralatan keselamatan di Kapal, dan kondisi di lapangan terutama di pelosok tanah air menunjukkan bahwa aturan yang menyangkut pelaporan sistem manajemen keselamatan (safety management system) sering dimanipulasi. Padahal untuk menjaga keselamatan kapal dan lingkungan, diberlakukan sistem ISM Code yang disertai dengan Designated Person Ashore (DPA) untuk pengawasan kapal dan manajemen perusahaan secara periodik. Hal ini sesuai dengan ketentuan yang tertulis pada ISM Code yaitu “The safety management system should ensure compliance with mandatory rules and regulations and that applicable codes, guidelines and standards recommended by the Organization, Administrations, classification societies and maritime industry organizations are taken into account”. Dengan kondisi yang demikian maka penelitian mengenai perilaku dan sikap kru kapal terhadap pelaksanaan kepatuhan ISM Code berdasarkan teori perilaku terencana menjadi diperlukan, namun dalam penelitian ini tidak dibahas masalah mengenai pencemaran lingkungan laut.
Pertanyaan Riset
Berdasarkan uraian pokok permasalahan di atas, maka dapat dirumuskan pertanyaan utama penelitian sebagai berikut ”Bagaimana model sikap kru kapal dalam melaksanakan aturan yang diatur oleh ISM Code berdasarkan teori perilaku terencana (theory of planned behavior)?”. Dalam rangka menjawab pertanyaan utama tersebut dibutuhkan pertanyaan-pertanyaan pendukung sebagai berikut : 1. Berapa besar pengaruh variable-variabel sikap terhadap perilaku (attitude
toward behavior), norma subjektif(subjective norms), dan pengendalian perilaku yang dirasakan (perceived behavior control) terhadap kepatuhan melalui niat seorang kru kapal untuk mematuhi ISM Code?
2. Berapa besar pengaruh variabel-variabel selain yang terdapat pada rumusan penelitian yang pertama yaitu kepercayaan (trust), risiko yang dirasakan (perceived risk), keuntungan (benefit) dan pengetahuan yang dirasakan (perceived knowledge) terhadap niat (intention) dan kepatuhan (compliance) para kru kapal dalam mematuhi aturan ISM Code?
7
3. Bagaimana model sikap perilaku kru kapal dalam melaksanakan aturan yang diatur oleh ISM Code berdasarkan teori perilaku terencana (theory of planned behavior)
Tujuan Penelitian
Dengan mengacu kepada latar belakang dan perumusan masalah, maka dirumuskan tujuan utama penelitian ini sebagai berikut “Membangun atau mengembangkan model sikap perilaku kru kapal dalam melaksanakan aturan ISM Code berdasarkan teori perilaku terencana (theory of planned behavior)”. Lebih jauh lagi, penelitian ini bertujuan untuk :
1. Mengidentifikasi pengaruh variable-variabel sikap terhadap perilaku (attitude toward behavior), norma subjektif (subjective norms), dan pengendalian perilaku yang dirasakan (perceived behavior control) terhadap niat (intention) dan kepatuhan (compliance) seorang kru kapal untuk mematuhi ISM Code. 2. Mengidentifikasi pengaruh variabel-variabel selain yang terdapat pada tujuan
penelitian yang pertama yaitu kepercayaan (trus), risiko yang dirasakan (perceived risk), keuntungan (benefit) dan pengetahuan yang dirasakan (perceived knowledge) terhadap niat (intention) dan kepatuhan (compliance) para kru kapal dalam mematuhi aturan ISM Code.
3. Membangun model yang menghubungkan keterkaitan antar variabel-variabel yang terdapat pada tujuan penelitian yang pertama dan kedua terhadap niat (intention) dan kepatuhan (compliance) para kru kapal dalam mematuhi aturan ISM Code.
Manfaat Penelitian
Tersedianya jaminan keselamatan transportasi laut akan meminimalisir ancaman terjadinya kecelakaan di laut yang dapat mengganggu kelancaran sistem transportasi laut di Indonesia. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi berbagai pihak yaitu :
1. Bagi Masyarakat, penelitian ini diharapkan dapat mendukung tingkat keselamatan kapal penumpang dan barang sehingga risiko kecelakaan kapal yang akan merugikan masyarakat dapat dihindarkan.
2. Bagi Negara, penelitian dapat dijadikan model bagi pengambil kebijakan melalui rencana sistem manajemen keselamatan pelayaran. Penelitian ini dapat menjadi acuan dalam pengambilan kebijakan bagi pemerintah dalam pengelolaan sumber daya manusia terutama sumber daya manusia di bidang pelayaran Indonesia agar menjadi lebih profesional di bidang peraturan perundangan pelayaran, administrasi dan manajemen pelayaran.
3. Bagi Pengembangan ilmu, penelitian ini diharapkan secara teoritis dapat menjadi sumbangan bagi ranah ilmu pengetahuan di bidang teori perilaku khususnya pengembangan teori perilaku terencana (theory of planned behavior) dan analisis risiko pelayaran atau transportasi laut.
4. Bagi Perusahaan Pelayaran, mengacu kepada hasil penelitian, perusahaan-perusahaan pelayaran secara praktis dapat mengetahui faktor-faktor apa saja
8
yang akan memberikan pengaruh kepada niat kru kapal untuk mematuhi aturan ISM Code. Perusahaan dapat menetapkan strategi untuk meningkatkan niat dan kepatuhan kru kapal dalam melaksanakan ISM Code dalam rangka meningkatkan keselamatan kapal. Keselamatan kapal merupakan bagian yang sangat penting bagi perusahaan pelayaran karena kapal merupakan aset paling berharga bagi perusahaan pelayaran untuk tetap dapat melangsungkan proses bisnis yang menguntungkan.
Kebaruan (Novelty)
Beberapa kebaruan (Novelty) yang dapat diperoleh dari penelitian ini, yaitu :
1. Pengembangan model pada teori perilaku terencana mengenai kepatuhan yang dibangun dari niat yang dipengaruhi oleh norma subyektif (Azjen, 1991), niat yang dipengaruhi oleh risiko yang dirasakan berdasarkan pengaruh kepercayaan (Kim et al., 2007), dan niat yang dipengaruhi oleh pengetahuan (Omondi et al., 2010)
2. Penerapan model teori perilaku terencana untuk menjelaskan perilaku kru kapal dalam melaksanakan ISM Code dimana niat dan kepatuhan terhadap ISM Code yang meningkat dari para kru kapal akan berpengaruh terhadap keselamatan pelayaran.
3. Penerapan model teori perilaku terencana yang dapat diaplikasikan kepada permasalahan kebijakan publik dalam konteks transportasi laut yang berpengaruh terhadap keselamatan pelayaran sehingga akan memperlancar kegiatan perdagangan yang berdampak pada peningkatan pendapatan perusahaan pelayaran.
2 TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN
International Safety Management Code (ISM Code)
International Maritime Organization (IMO) secara periodik membahas masalah keselamatan maritim internasional telah menghasilkan konvensi-konvensi seperti International Safety Management (ISM) Code 1998 dan International Ship and Port Security (ISPS) Code. International Safety Management (ISM) Code merupakan standar internasional manajemen keselamatan dalam pengoperasian kapal serta upaya pencegahan dan pengendalian pencemaran lingkungan yang mengatur organisasi pelayaran, kapal, serta awak kapal (IMO, 2010). PT Biro Klasifikasi Indonesia menjelaskan bahwa penerapan dan pemenuhan ISM Code ini diberlakukan secara internasional dengan jadwal seperti terlihat pada Tabel 2.
Beberapa amandemen terhadap konvensi SOLAS 1974 (International Maritime Organization, 2004) diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Safety of Life at Sea (SOLAS) 1974 Amandemen 1998, yang mengatur tentang International Safety Management (ISM) Code.