• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. A. Hasil Penelitian

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. A. Hasil Penelitian"

Copied!
36
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh penulis, maka didapat hasil penelitian sebagai berikut:

1. Nomor Perkara: 615 K/Pdt.Sus/2011 2. Identitas Para Pihak

a. Pemohon Kasasi dahulu Tergugat I

Tim Likuidasi Lembaga Penjamin Simpanan, berkedudukan di Equity Tower 20th – 21ST FI, Sudirman Centreal Business District (SCBD), Lot 9, Jalan Jenderal Sudirman Kav. 52-53, Jakarta 12190, Indonesia, dalam hal ini memberi kuasa kepada Sigit Sumarlan dan kawan-kawan, Staf pada Divisi Litigasi pada Lembaga Penjamin Simpanan, berkantor di Jalan Jenderal Sudirman Kav. 52-53 Jakarta Selatan, berdasarkan surat kuasa khusus tanggal 1 Agustus 2011.

b. Termohon Kasasi dahulu Penggugat

Jandri Siadari,S.H.,LLM, selaku Kurator PT. Tripanca Group (Dalam Pailit), berkantor di Gedung Manggala Wanabakti Blok IV, Lantai 7, Ruang 718, Jalan Jenderal Gatot Subroto, Senayan, Jakarta Pusat.

c. Turut Termohon Kasasi dahulu Tergugat II

PT. BPR Tripanca Setiadana (Dalam Likuidasi), berkedudukan di Jalan Laksamana Malahayati Nomor 138 Teluk Betung, Kota Bandar Lampung, Propinsi Lampung.

3. Kasus Posisi

PT. Tripanca Group merupakan salah satu nasabah penyimpan dengan nomor rekening tabungan 1000035555 sebesar Rp 10.289.569.333,- (sepuluh miliar dua ratus delapan puluh sembilan juta lima ratus enam puluh sembilan ribu tiga ratus tiga puluh tiga rupiah) di PT. BPR Tripanca Setiadana yang

(2)

sejak tanggal 24 Maret 2009 telah dicabut izin usahanya. Sejak dicabut izin usaha PT. BPR Tripanca Setiadana maka simpanan milik PT. Tripanca Group beralih kepengurusannya kepada Lembaga Penjamin Simpanan dikarenakan PT. BPR Tripanca Setiadana merupakan peserta atau anggota dari Lembaga Penjamin Simpanan.

Tertanggal 3 Agustus 2009 PT. Tripanca Group telah menyatakan pailit berdasarkan Putusan Majelis Hakim Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Perkara Nomor : 33/Pailit/2009/PN.Niaga.Jkt.Pst. terhitung sejak tanggal Putusan Pailit tersebut, maka terhadap seluruh kekayaan Debitur Pailit beralih dari Debitur PT. Tripanca Group kepada Kurator. Kemudian ditunjuklah Jandri Siadari,S.H.,LLM, selaku Kurator PT. Tripanca Group (Dalam Pailit). Untuk menjalankan tugasnya, kurator akan melakukan berbagai upaya untuk mencari dan menemukan boedel pailit hingga kemudian ditemukan bahwa Debitur Pailit mempunyai simpanan sebesar Rp 10.289.569.333,- (sepuluh miliar dua ratus delapan puluh sembilan juta lima ratus enam puluh sembilan ribu tiga ratus tiga puluh tiga rupiah) di PT. BPR Tripanca Setiadana.

Dengan ditemukannya boedel pailit tersebut maka Jandri Siadari,S.H.,LLM, selaku Kurator telah menunjuk Kantor Hukum Hanis & Hanis yang beralamat di Gedung Sarinah Lantai 12, Jalan M.H. Thamrin Nomor 11 Jakarta Pusat 10330 untuk melakukan penagihan dana dan/atau klaim kepada Tim Likuidasi Lembaga Penjamin Simpanan atas simpanan PT. Tripanca Group (Dalam Pailit) yang terdapat di PT. BPR Tripanca Setiadana. Kantor Hukum Hanis & Hanis tersebut telah mengajukan klaim kepada Tergugat melalui suratnya Ref.No : 057/CMP-LPS/H&H/X/09, tertanggal 19 Oktober 2009 dengan perihal pengajuan klaim dan telah ditanggapi dengan surat No.S.681/KE/X/2009 tertanggal 28 Oktober 2009 dengan perihal Penyelesaian Simpanan Nasabah Tergugat II atas nama PT. Tripanca Group yang pada intinya memberitahukan bahwa penyelesaian simpanan atas nama PT. Tripanca Group (Dalam Pailit) melalui mekanisme penjaminan, ditunda

(3)

pembayarannya sampai dengan selesainya audit investigasi mengenai pihak-pihak yang menyebabkan PT. Tripanca Setiadana menjadi Bank Gagal.

Jandri Siadari,S.H.,LLM sebagai Penggugat telah mengajukan gugatan di Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Majelis Hakim telah menyidangkan perkara a quo tersebut dan berakhir pada tanggal putusan diucapkan yaitu pada tanggal 22 Juli 2011 dengan Putusan Nomor. 4/Gugatan Lain-lain/2011/PN.Niaga.Jkt.Pst jo. Nomor 33/Pailit/2009/ PN.Niaga.Jkt.Pst. Selanjutnya Lembaga Penjamin Simpanan mengajukan permohonan Kasasi ke Mahkamah Agung dengan alasan adanya kesalahan dalam pertimbangan Judex Facti di dalam putusannya dan juga adanya Error

in Persona dalam gugatan termohon kasasi/ dahulu penggugat.

4. Dasar Permohonan

Bahwa Jandri Siadari,S.H.,LLM sebagai Penggugat telah mengajukan gugatan di Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Majelis Hakim telah menyidangkan perkara a quo tersebut dan berakhir pada tanggal putusan diucapkan yaitu pada tanggal 22 Juli 2011 dengan Putusan Nomor. 4/Gugatan Lain-lain/2011/PN.Niaga.Jkt.Pst jo. Nomor 33/Pailit/2009/ PN.Niaga.Jkt.Pst yang amarnya mengabulkan gugatan Penggugat untuk seluruhnya, menyatakan Tergugat I dan Tergugat II telah melakukan Perbuatan Melawan Hukum, dan Menghukum Tergugat I untuk mengembalikan uang simpanan PT. Tripanca Group (Dalam Pailit) sejumlah Rp 10.289.569.333,-(sepuluh miliar dua ratus delapan puluh sembilan juta lima ratus enam puluh sembilan ribu tiga ratus tiga puluh tiga rupiah) ditambah dengan bunga sebesar 6% (enam persen) per-tahun dari hasil uang tersebut kepada Kurator PT. Tripanca Group (Dalam Pailit) untuk dimasukkan ke dalam Boedel Pailit PT. Tripanca Group (Dalam Pailit) dan Menghukum Tergugat I dan Tergugat II untuk membayar ongkos perkara sebesar Rp 416.000,00 (Empat Ratus Enam Belas Ribu Rupiah).

Bahwa sengketa yang diajukan oleh Penggugat dalam kaitannya mengenai klaim penjaminan yang belum dibayar oleh Tergugat I dan bukan

(4)

sengketa mengenai proses likuidasi, hal ini ditegaskan sendiri oleh Penggugat bahwa sengketa a quo diajukan karena Penggugat merasa dirugikan atas perbuatan Tergugat I yaitu klaim simpanannya yang belum dibayar oleh Tergugat I. Karena terdapat sengketa atas pembayaran klaim tersebut sudah seharusnya secara absolute harus diperiksa serta diputus oleh Pengadilan sebagaimana diatur dalam Pasal 20 ayat (1) huruf b Undang-Undang Lembaga Penjamin Simpanan yaitu Pengadilan Negeri yang dalam hal ini adalah Pengadilan Negeri Jakarta Selatan bukan Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Dengan demikian Penggugat telah salah dan keliru mengajukan gugatan a quo ke Pengadilan Niaga Jakarta Pusat.

Bahwa gugatan Penggugat mengandung cacat formil (Error in Persona). Penggugat telah keliru dan salah dalam menentukan pihak Tergugat, dalam gugatannya Penggugat mengajukan gugatan perbuatan melawan hukum (PMH) terhadap:

a. Tim Likuidasi Lembaga Penjamin Simpanan, berkedudukan di Equity Tower 20th – 21ST FI, Sudirman Centreal Business District (SCBD), Lot 9, Jalan Jenderal Sudirman Kav. 52-53, Jakarta 12190, Indonesia sebagai TERGUGAT I;

b. PT. BPR Tripanca Setiadana (Dalam Likuidasi), berkedudukan di Jalan Laksamana Malahayati Nomor 138 Teluk Betung, Kota Bandar Lampung, Propinsi Lampung sebagai TERGUGAT II;

Penggabungan antara Tim Likuidasi dengan Lembaga Penjamin Simpanan merupakan hal yang salah. Lembaga Penjamin Simpanan merupakan suatu badan yang berbeda dan terpisah dari Tim Likuidasi yang dalam hal ini adalah Tim Likuidasi PT. BPR Tripanca Setiadana.

Bahwa sesudah putusan Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat tersebut diucapkan pada tanggal 22 Juli 2011, kemudian terhadapnya oleh Pemohon/Tergugat I dengan perantaraan kuasanya berdasarkan surat kuasa khusus tanggal 1 Agustus 2011 diajukan permohonan

(5)

kasasi secara lisan pada tanggal 4 Agustus 2011 dengan alasan-alasan kasasi yang pada pokoknya adalah:

a. Terhadap sengketa pembayaran klaim penjaminan, jika terhadap suatu perbuatan melawan hukum merupakan kewenangan pengadilan perdata, jika terhadap putusan pejabat Tata Usaha Negara berupa hasil rekonsiliasi dan verifikasi simpanan nasabah merupakan kewenangan Pengadilan Tata Usaha Negara dan terhadap kedua sengketa tersebut di atas menjadi kewenangan absolut pengadilan masing-masing sesuai kewenangannya. Pemeriksaan terhadap sengketa klaim penjaminan yang diperiksa di Pengadilan Niaga secara absolut bertentangan dengan kewenangan mengadili (Exceptio Declinatoria);

b. Sengketa terhadap kewajiban pembayaran klaim penjaminan merupakan sengketa dengan jumlah klaim penjaminan dengan jumlah maksimal penjaminan sebesar Rp 2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah) yang secara lex

specialis derogat legi generali menurut Undang-Undang Lembaga Penjamin

Simpanan adalah ranah kewajiban hukum dan Lembaga Penjamin Simpanan sedangkan pengembalian atas seluruh simpanan yang dimasukkan kedalam daftar boedel pailit bukanlah kewajiban hukum atas pembayaran klaim penjaminan berdasarkan Undang-Undang Lembaga Penjamin Simpanan; c. Gugatan perbuatan melawan hukum berdasarkan seluruh simpanan yang

terdaftar di boedel pailit yang ditujukan kepada Pemohon/Dahulu Tergugat I adalah tidak tepat karena kewajiban pembayaran dari Lembaga Penjamin Simpanan hanya sebesar Rp 2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah) dan bukan atas pengembalian simpanan sebesar Rp 10.289.569.333,- (sepuluh miliar dua ratus delapan puluh sembilan juta lima ratus enam puluh sembilan ribu tiga ratus tiga puluh tiga rupiah) yang terdapat dalam daftar boedel pailit dari Termohon Kasasi/Dahulu Penggugat;

d. Pertimbangan Majelis Hakim tingkat pertama (Judex Facti) yang menyatakan secara keseluruhannya adalah mengenai penggabungan gugatan

(6)

antara Tim Likuidasi dengan Lembaga Penjamin Simpanan adalah pemahaman yang keliru dan bertentangan dengan hukum (Contra Legem); e. Eksepsi dari Pemohon Kasasi/Dahulu Tergugat I dengan terang dan jelas

tidak mengenai pokok perkara sebagaimana dipertimbangkan oleh Majelis Hakim, sehingga eksepsi yang diajukan Pemohon Kasasi/Dahulu Tergugat I telah memenuhi ketentuan eksepsi;

f. Majelis Hakim pada tingkat pertama (Judex Facti) telah mengabaikan ketentuan dan bukti-bukti yang menjadi dasar Pemohon Kasasi/Dahulu Tergugat I dalam melakukan penundaan pembayaran klaim simpanan terhadap PT. Tripanca Group (Dalam Pailit) yang kini dalam pengurusan Termohon Kasasi/Dahulu Penggugat;

g. Tidak dimasukkannya bukti TI-6 sampai dengan TI-8 mengakibatkan Judex

Facti tidak dapat mempertimbangkan mengenai dasar alasan penundaan

pembayaran klaim. Sedangkan terhadap hasil rekonsiliasi dan verifikasi yang sudah diumumkan oleh Pemohon Kasasi/Dahulu Penggugat sehingga tidak perlu dibuktikan lagi di muka persidangan;

h. Tidak benar bahwa Pemohon Kasasi/Dahulu Tergugat I mempunyai keharusan menyampaikan laporan perkembangan hasil verifikasi tetapi sesuai Pasal 16 ayat (3) Undang-Undang Lembaga Penjamin Simpanan; i. Majelis Hakim tingkat pertama (Judex Facti) telah keliru memahami batas

waktu 90 hari yang disebut dalam Pasal 16 Undang-Undang Lembaga Penjamin Simpanan, karena 90 hari yang dimaksud adalah kewajiban Pemohon Kasasi/Dahulu I untuk menentukan simpanan yang layak bayar setelah melakukan rekonsiliasi dan verifikasi atas data nasabah penyimpan selambat-lambatnya 90 hari kerja terhitung sejak izin usaha bank dicabut dan batas waktu tersebut bukan mengenai batas waktu 90 hari untuk melakukan pembayaran;

j. Dalam proses pemeriksaan pengadilan tingkat pertama Pemohon Kasasi/Dahulu Tergugat I dalam jawaban maupun duplik dan kesimpulan secara tegas dan jelas tidak pernah mengakui pernyataan bahwa uang

(7)

simpanan Termohon Kasasi/Dahulu Penggugat adalah boedel pailit sebagaimana pertimbangan dalam putusan Judex Facti;

k. Pemeriksaan terhadap sengketa klaim penjaminan yang diperiksa di Pengadilan Niaga secara absolut bertentangan dengan kewenangan mengadili dari Pengadilan Niaga;

l. Judex Facti telah mengabaikan fakta hukum bahwa PT. Tripanca Group (Dalam Pailit) yang kini dalam pengurusan Termohon Kasasi/Dahulu Penggugat adalah suatu perusahaan yang terafiliasi sangat erat dengan PT. BPR Tripanca Setiadana (Dalam Likuidasi) dimana pemiliknya melakukan kejahatan tindak pidana perbankan yang telah terbukti secara sah dan meyakinkan di persidangan pidana serta putusan tersebut telah berkekuatan hukum tetap;

m. Pertimbangan Judex Facti di dalam putusannya saling bertentangan satu dan lainnya;

n. Putusan Judex Facti secara jelas dan tegas bertentangan dengan hukum dari peraturan yang berlaku (Contra Legem).

5. Putusan

Mahkamah Agung menjatuhkan putusan yang amarnya sebagai berikut:

a. Mengabulkan permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi: Tim Likuidasi Lembaga Penjamin Simpanan;

b. Membatalkan putusan Pengadilan Niaga pada Pengadila Negeri Jakarta Pusat Nomor. 4/Gugatan Lain-lain/2011/PN.Niaga.Jkt.Pst jo. Nomor 33/Pailit/2009/ PN.Niaga.Jkt.Pst tanggal 22 Juli 2011;

c. Mengabulkan gugatan penggugat untuk sebagian;

d. Menyatakan Tergugat I dan Tergugat II telah melakukan Perbuatan Melawan Hukum;

e. Menghukum Tergugat I untuk mengembalikan uang simpanan PT. Tripanca Group (Dalam Pailit) sejumlah Rp 2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah) kepada Penggugat selaku kurator PT. Tripanca Group (Dalam Pailit) untuk dimasukkan ke dalam Boedel Pailit PT. Tripanca Group (Dalam Pailit);

(8)

f. Menolak gugatan Penggugat selain dan selebihnya;

g. Menghukum Pemohon Kasasi/Dahulu Tergugat I untuk membayar biaya perkara dalam tingkat kasasi ini sebesar Rp 5.000.000,00 (lima juta rupiah);

Demikianlah diputus dalam rapat permusyawaratan Mahkamah Agung pada hari Kamis tanggal 9 Februari 2012 oleh Dr.H.Mohammad Saleh, Sh.,MH. Hakim Agung yang ditetapkan oleh Ketua Mahkamah Agung sebagai Ketua Majelis, H.Djafni Djamal, SH.,MH. dan H. Suwardi, SH., MH. Hakim Agung masing-masing sebagai Hakim Anggota, dan diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum pada hari itu juga oleh Ketua Majelis dengan dihadiri Hakim-Hakim Anggota tersebut dan dibantu oleh Ferry Agustina Budi Utami, SH. Panitera Pengganti dengan tidak dihadiri para pihak.

B. Pembahasan

1. Prosedur Pembayaran Klaim Penjaminan Nasabah Penyimpan pada Bank Gagal oleh Lembaga Penjamin Simpanan

a. Penjaminan Simpanan Nasabah Bank oleh Lembaga Penjamin Simpanan

Setiap Bank yang melakukan kegiatan usaha di wilayah Negara Republik Indonesia wajib menjadi peserta Penjaminan hal ini diatur dalam Pasal 8 Undang-Undang Lembaga Penjamin Simpanan. Pada dasarnya keanggotaannya bank pada Lembaga Penjamin Simpanan dapat bersifat sukarela atau bersifat wajib. Kecenderungan yang terjadi adalah sebagian besar negara (81%) dari 69 negara yang memiliki Lembaga Penjamin Simpanan mewajibkan bank untuk menjadi anggota Lembaga Penjamin Simpanan. Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi adverse selection, yang dalam hal ini hanya bank yang lemah yang mau menjadi anggota. Cabang bank asing juga diwajibkan menjadi anggota Lembaga Penjamin Simpanan. Kantor cabang bank asing tersebut diwajibkan membayar premi asuransi sebagai biaya melakukan bisnis di Indonesia karenan simpanan yang

(9)

dijamin pada kantor cabang bank asing tersebut adalah simpanan milik warga negara dan atau penduduk Indonesia (Zulkarnain Sitompul, 2004: 9).

Pasal 9 Undang-Undang Lembaga Penjamin Simpanan menguraikan beberapa kewajiban bank sebagai peserta penjaminan. Kewajiban tersebut meliputi:

1) Menyerahkan dokumen sebagai berikut:

a) Salinan anggaran dasar dan/atau akta pendirian bank; b) Salinan dokumen perizinan bank;

c) Surat keterangan tingkat kesehatan bank yang dikeluarkan Lembaga Pengawas Perbankan yang dilengkapi dengan data pendukung;

d) Surat pernyataan dari direksi, komisaris, dan pemegang saham bank, yang memuat:

(1)Komitmen dan kesediaan direksi, komisaris, dan pemegang saham bank untuk mematuhi seluruh ketentuan sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Lembaga Penjamin Simpanan;

(2)Kesediaan untuk bertanggung jawab secara pribadi atas kelalaian dan/atau perbuatan yang melanggar hukum yang mengakibatkan kerugian atau membahayakan kelangsungan usaha bank;

(3)Kesediaan untuk melepaskan dan menyerahkan kepada Lembaga Penjamin Simpanan segala hak, kepemilikan, kepengurusan, dan/atau kepentingan apabila bank menjadi Bank Gagal dan diputuskan untuk diselamatkan atau dilikuidasi.

2) Membayar kontribusi kepesertaan sebesar 0,1% (satu perseribu) dari modal sendiri (ekuitas) bank pada akhir tahun fiskal sebelumnya atau dari modal disetor bagi bank baru;

3) Membayar premi penjaminan;

4) Menyampaikan laporan secara berkala dslam format yang ditentukan; 5) Memberikan data, informasi, dan dokumen yang dibutuhkan dalam

(10)

6) Menempatkan bukti kepesertaan atau salinannya di dalam kantor bank atau tempat lainnya sehingga dapat diketahui dengan mudah oleh masyarakat.

Lembaga Penjamin Simpanan menjamin simpanan nasabah bank yang berbentuk giro, deposito, sertifikat deposito, tabungan, dan/atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu. Jenis-jenis simpanan yang dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan tersebut dapat dirinci sebagai berikut: 1) Semua jenis simpanan termasuk giro, deposito dan tabungan dalam mata

uang rupiah;

2) Pokok dan bunga. Bunga yang dijamin dihitung berdasarkan yang tercatat pada pembukuan pada tanggal dilakukannya penutupan bank. Nasabah penyimpan pada bank bermasalah biasanya menerima bunga yang lebih tinggi namun Lembaga Penjamin Simpanan tidak berkewajiban membayar bunga tinggi tersebut terhitung sejak bank diserahkan kepada Lembaga Penjamin Simpanan.

3) Simpanan dalam valuta asing sebaiknya juga dijamin. Hal tersebut untuk menghindari capital flight atau flight to quality. Dengan menjamin simpanan dalam valuta asing, Lembaga Penjamin Simpanan akan menghadapi resiko nilai tukar. Untuk itu dapat ditentukan bahwa pembayaran klaim dilakukan dalam mata uang rupiah berdasarkan nilai tukar pada saat bank diserahkan kepada Lembaga Penjamin Simpanan ( Zulkarnain Sitompul, 2004: 12)

Simpanan yang dijamin tersebut merupakan hasil penjumlahan saldo seluruh rekening simpanan nasabah pada bank tanpa membedakan pemiliknya kecuali:

1) Data simpanan tidak tercatat pada bank;

2) Milik pihak yang mendapat keuntungan tidak wajar (misalnya memperoleh hasil bunga jauh di atas tingkat pasar);

3) Milik pihak yang menyebabkan keadaan bank menjadi tidak sehat (Jamal Wiwoho, 2011: 150).

(11)

Besaran nilai simpanan yang dijamin Lembaga Penjamin Simpanan untuk setiap nasabah bank sendiri telah mengalami beberapa kali perubahan. Perubahan tersebut dilakukan secara bertahap dengan kerangka waktu sebagai berikut:

1) 6 (enam) bulan pertama sejak Lembaga Penjamin Simpanan beroperasi yaitu dari tanggal 22 September sampai dengan 21 Maret 2006, yang dijamin adalah seluruh simpanan berupa tabungan, giro, sertifikat deposito, deposito dan yang dipersamakan dengan itu.

2) 6 (enam) bulan berikutnya yaitu dari 22 Maret 2006 sampai dengan 21 September 2006, jumlah simpanan yang dijamin paling tinggi adalah Rp 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).

3) 6 (enam) bulan berikutnya yaitu periode 22 September 2006 sampai dengan 21 Maret 2007 jumalah simpanan yang dijamin menjadi Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) dan terhitung mulai tanggal 22 Maret 2007 maka jumlah simpanan yang dijamin paling tinggi adalah Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah) untuk setiap penyimpan di sebuah bank.

4) Sejak tanggal 13 Oktober 2008 sampai dengan sekarang saldo yang dijamin untuk setiap nasabah pada satu bank paling banyak adalah sebesar Rp 2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah). Ini berdasarkan pada Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2008 tentang Besaran Nilai Simpanan yang dijamin Lembaga Penjamin Simpanan. Dalam Peraturan Pemerintah ini diatur mengenai perubahan besaran nilai simpanan yang dijamin Lembaga Penjamin Simpanan untuk mengantisipasi dampak dari krisis keuangan global.

Perubahan jumlah simpanan yang dijamin akan diterapkan pemerintah sampai dicapainya kembali stabilitas sektor keuangan. Di dalam Undang-Undang Lembaga Penjamin Simpanan sendiri diatur mengenai kewenangan pemerintah yang dapat menyesuaikan kembali jumlah simpanan yang dijamin (Jamal Wiwoho, 2011: 151). Pasal 11 ayat (2)

(12)

Undang-Undang Lembaga Penjamin Simpanan menyebutkan bahwa nilai simpanan yang dijamin dapat diubah apabila dipenuhi salah satu atau lebih kriteria sebagai berikut:

1) Terjadi penarikan dana perbankan dalam jumlah besar secara bersamaan; 2) Terjadi inflasi yang cukup besar dalam beberapa tahun; atau

3) Jumlah nasabah yang dijamin seluruh simpanannya menjadi kurang dari 90% (sembilan puluh per seratus) dari jumlah nasabah penyimpan seluruh bank.

Kenaikan jumlah simpanan yang dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan dilakukan pemerintah dengan mengingat telah memenuhi tiga syarat tersebut. Jika telah terpenuhi satu syarat saja, pemerintah diperbolehkan menyesuaikan nilai jaminan.

b. Prosedur Pembayaran Klaim Penjaminan Nasabah Penyimpan pada Bank Gagal oleh Lembaga Penjamin Simpanan

Dalam rangka pelaksanaan penjaminan simpanan, Lembaga Penjamin Simpanan berkewajiban melakukan pembayaran klaim terhadap simpanan nasabah penyimpan dari bank gagal yang dicabut izin usahanya dan juga berwenang untuk melakukan proses likuidasi pada bank tersebut. Untuk melakukakan kewajibannya ini, Lembaga Penjamin Simpanan berhak memperoleh data nasabah penyimpan dan informasi lain yang diperlukan per tanggal pencabutan izin usaha dari Lembaga Pengawas Perbankan dan/atau bank dalam rangka penghitungan dan pembayaran klaim penjaminan. Berdasarkan data tersebut maka Lembaga Penjamin Simpanan akan melakukan rekonsiliasi dan verifikasi untuk menetukan simpanan yang layak bayar dan simpanan yang tidak layak bayar selambat-lambatnya 90 (sembilan puluh) hari kerja terhitung sejak izin usaha bank dicabut.

Rekonsiliasi dan verifikasi ini diatur lebih lanjut dalam Peraturan Lembaga Penjamin Simpanan Nomor 2/PLPS/2010 khususnya dalam Bab VIII tentang Rekonsiliasi dan Verifikasi Simpanan yang Dijamin. Pasal 31 menyebutkan bahwa dalam rangka rekonsiliasi dan verifikasi tersebut,

(13)

pemegang saham, dewan komisaris, direksi, dan pegawai bank yang dicabut izin usahanya, serta pihak lain yang terkait dengan bank dimaksud wajib membantu memberikan segala data dan informasi yang diperlukan oleh Lembaga Penjamin Simpanan, yaitu:

1) Daftar simpanan nasabah yang tercatat dalam pembukuan bank;

2) Daftar simpanan nasabah yang juga memiliki kewajiban kepada bank yang telah jatuh tempu dan/atau gagal bayar;

3) Daftar tagihan bank kepada nasabah debitur, termasuk yang telah dihapus bukukan oleh bank;

4) Standart Operating Procedure (SOP) internal bank yang berkenaan dengan simpanan nasabah;

5) Susunan Direksi, Komisaris, dan Pemegang Saham Bank; 6) Neraca dan rinciannya; dan

7) Data, informasi, dan dokumen pendukung lain yang diperlukan Lembaga Penjamin Simpanan.

Rekonsiliasi merupakan proses pencocokan data transaksi keuangan yang diproses dengan sistem yang berbeda berdasarkan dokumen sumber hukum yang sama. Sedangkan verifikasi adalah satu bentuk pengawasan melalui pengujian dokumen keuangan. Lembaga Penjamin Simpanan dapat menunjuk, menguasakan, dan/atau menugaskan kepada pihak lain untuk melakukan rekonsiliasi bagi kepentingan dan/atau atas nama Lembaga Penjamin Simpanan. Proses rekonsiliasi dan verifikasi ini dilakukan untuk mengetahui secara pasti status simpanan nasabah, diantaranya simpanan layak bayar, simpanan tidak layak bayar, simpanan diatas maksimal penjaminan, giro/tabungan yang telah ditutup dan deposito yang telah dicairkan namun masih tercatat pada bank sebagai kewajiban negara atau kewajiban lainnya yang tidak termasuk dalam cakupan penjaminan simpanan (Yennie Agustin, 2013: 320-321).

Simpanan layak bayar yang dimaksud adalah simpanan yang berdasarkan hasil rekonsiliasi dan verifikasi telah memenuhi kriteria simpanan layak bayar (3T) yaitu:

(14)

1) Tercatat dalam pembukuan bank

2) Tingkat bunga simpanan tidak melebihi tingkat bunga penjaminan 3) Tidak melakukan tindakan yang merugikan bank

Kemudian untuk simpanan layak bayar ini dapat melakukan pengajuan klaim penjaminan.

Pengajuan klaim ini lebih lanjut diatur dalam Bab IX tentang Pengajuan Klaim. Dijelaskan bahwa Lembaga Penjamin Simpanan akan mengumumkan tanggal dimulainya pengajuan klaim penjaminan pada sekurang-kurangnya 2 (dua) surat kabar harian yang berperedaran luas. Pengumuman tersebut akan dilakukan secara bertahap berdasarkan hasil rekonsiliasi dan verifikasi yang telah diselesaikan dengan ketentuan:

1) Pengumuman tahap pertama dilakukan paling lambat 5 (lima) hari kerja setelah rekonsiliasi dan verifikasi dimulai;

2) Pengumuman tahap terakhir dilakukan paling lambat 90 (sembilan puluh) hari kerja terhitung sejak izin usaha bank dicabut.

Pengumuman tersebut juga memuat syarat dan tata cara pengajuan klaim atas simpanan yang layak bayar.

Jangka waktu pengajuan klaim penjaminan oleh nasabah penyimpan kepada Lembaga Penjamin Simpanan tersebut adalah 5 (lima) tahun sejak izin usaha bank dicabut. Ketika nasabah penyimpan tidak mengajukan klaim penjaminan atas simpanannya, maka hak nasabah penyimpan untuk memperoleh pembayaran klaim dari Lembaga Penjamin Simpanan menjadi hilang. Paling lambat 2 (dua) bulan sebelum berakhirnya batas waktu pengajuan klaim, Lembaga Penjamin Simpanan akan memberikan pengumuman mengenai batas akhir waktu pengajuan klaim. Mekanisme mengenai pengajuan dan pembayaran klaim simpanan nasabah bank yang dicabut izin usahanya digambarkan sebagai berikut:

(15)

Gambar 2. Mekanisme Pengajuan dan Pembayaran klaim simpanan nasabah bank yang dicabut izin usahanya (http://www.lps.go.id/prosedur-pengajuan-klaim&sa=U&ved=0ahUKEwiGi9adx7z: diakses pada 16 April 2016)

Keterangan:

Ketika bank gagal kemudian dicabut izin usahanya maka nasabah perlu untuk datang ke kantor bank terlikuidasi tersebut untuk melihat pengumuman daftar simpanan dan meminta surat keterangan Tim Likuidasi. Di kantor bank tersebut Lembaga Penjamin Simpanan akan memberikan pengumuman berupa daftar simpanan dan statusnya (layak bayar atau tidak layak bayar) juga terdapat keterangan mengenai syarat dan tata cara serta lokasi bank pembayar. Bagi nasabah dengan status simpanan layak bayar, maka nasabah tersebut berhak untuk mengajukan klaim pembayaran klaim simpanan dengan persyaratan sebagai berikut:

(16)

(a)Asli dan copy bukti identitas diri (KTP/SIM/Passport/lainnya);

(b)Asli bukti kepemilikan rekening simpanan (buku tabungan, bilyet deposito, bukti giro).

2) Organisasi/Badan Usaha/Badan Hukum

(a)Asli dan copy Anggaran Dasar, untuk Dana Pensiun wajib membawa Peraturan Dana Pensiun dan keputusan pendiri tentang Pengurus Dana Pensiun;

(b)Asli surat kuasa (untuk non-direksi);

(c)Asli dan copy bukti identitas diri (KTP/SIM/Passport/lainnya); (d)Asli bukti kepemilikan rekening;

(e)Informasi tertulis Nomor Rekening Tujuan dan surat keterangan nasabah/ tim likuidasi.

Nasabah kemudian dapat mendatangi bank pembayar yang telah ditetapkan Lembaga Penjamin Simpanan dengan membawa dokumen yang disyaratkan. Setelah itu bank pembayar akan menerima pengajuan klaim dan meneliti dokumen yang dibawa nasabah dan akan melakukan pencocokan dengan arsip nasabah dari administrasi bank. Bank pembayar akan melakukan pembayaran kepada nasabah ketika simpanannya memenuhi program penjaminan dan setelah itu bank akan menyampaikan laporan berkala pada Lembaga Penjamin Simpanan disertai dengan dokumen pembayaran yang telah dilakukan.

Klaim pembayaran simpanan layak bayar diatur lebih lanjut dalam Bab X Peraturan Lembaga Penjamin Simpanan Nomor 2/PLPS/2010 yaitu dalam Pasal 36 sampai dengan Pasal 39. Pembayaran klaim simpanan layak bayar akan dilakukan oleh Lembaga Penjamin Simpanan melalui bank pembayar yang ditunjuk oleh Lembaga Penjamin Simpanan dan mulai dilakukan paling lambat 5 (lima) hari kerja setelah proses rekonsiliasi dan verifikasi dimulai. Jika terdapat nasabah yang simpanannya melebihi jumlah maksimal simpanan yang dijamin maka Lembaga Penjamin Simpanan yang

(17)

menerbitkan surat keterangan mengenai simpanan yang tidak dibayar tersebut.

Pembayaran klaim penjaminan atas simpanan layak bayar ini dilakukan secara tunai dengan menggunakan mata uang rupiah dan/atau setara tunai dengan mengalihkan rekening nasabah penyimpan tersebut ke bank pembayar. Dalam hal klaim penjaminan yang berupa valuta asing, maka pembayaran dilakukan dengan menggunakan kurs tengah yaitu rata-rata kurs beli dan kurs jual per akhir hari yang diumumkan oleh Bank Indonesia yang berlaku pada tanggal pencabutan izin usaha bank tersebut. Untuk nasabah yang pada waktu bersamaan mempunyai kewajiban kepada bank, maka pembayaran klaim penjaminan akan dilakukan setelah kewajiban nasabah tersebut diperhitungkan. Simpanan nasabah yang dapat diperhitungkan dengan kewajiban tersebut nilainya adalah paling tinggi sebesar nilai simpanan layak bayar Lembaga Penjamin Simpanan.

Pasal 39 Peraturan Lembaga Penjamin Simpanan Nomor 2/PLPS/2010 menyebutkan bahwa Lembaga Penjamin Simpanan dapat melakukan penundaan pembayaran kepada nasabah penyimpan apabila nasabah tersebut diindikasi/diduga oleh Lembaga Pengawas Perbankan, Lembaga Penjamin Simpanan, dan/atau penegak hukum melakukan perbuatan melanggar hukum yang menyebabkan kerugian atau membahayakan kelangsungan usaha bank sehingga bank menjadi bank gagal. Penundaan tersebut akan berakhir apabila:

1) Berdasarkan pemeriksaan Lembaga Pengawas Perbankan dan/atau Lembaga Penjamin Simpanan tidak ditemukan bukti bahwa nasabah tersebut telah melakukan perbuatan melanggar hukum yang mengakibatkan kerugian atau membahayakan kelangsungan usaha bank sehingga menjadi bank gagal;

2) Adanya surat keputusan penghentian penyidikan/penuntutan perkara dari penegak hukum; atau

(18)

3) Adanya putusan yang berkekuatan hukum tetap yang memutuskan bahwa nasabah tersebut tidak melakukan perbuatan melanggar hukum mengakibatkan kerugian atau membahayakan kelangsungan usaha bank sehingga menjadi bank gagal.

Dalam hal terdapat putusan hukum berkekuatan hukum tetap yang memutuskan bahwa nasabah telah melakukan perbuatan melanggar hukum mengakibatkan kerugian atau membahayakan kelangsungan usaha bank sehingga menjadi bank gagal, maka status simpanan nasabah tersebut menjadi tidak layak bayar.

Mengenai simpanan yang tidak layak dibayar berdasarkan hasil rekonsiliasi dan verifikasi apabila sesuai dengan ketentuan Pasal 40 Peraturan Lembaga Penjamin Simpanan Nomor 2/PLPS/2010 yang menyatakan bahwa klaim penjaminan dinyatakan tidak layak bayar apabila berdasarkan hasil rekonsiliasi dan verifikasi adalah:

1) Data simpanan nasabah dimaksud tidak tercatat dalam bank. Simpanan nasabah yang dinyatakan tercacat pada bank apabila dalam pembukuan bank terdapat data mengenai simpanan tersebut, anatar lain nomor rekening/bilyet, nama nasabah penyimpan, saldo rekening dan informasi lainnya yang lazim berlaku untuk rekening sejenisnya dan/atau terdapat bukti aliran dana yang menunjukkan keberadaan simpanan tersebut;

2) Nasabah penyimpan merupakan pihak yang diuntungkan secara tidak wajar/ nasabah penyimpanan dinyatakan sebagai pihak yang diuntungkan secara tidak wajar apabila nasabah tersebut memperoleh tingkat bunga melebihi maksimal tingkat bunga pinjaman yang ditetapkan Lembaga Penjamin Simpanan;

3) Nasabah penyimpan merupakan pihak yang menyebabkan keadaan bank menjadi tidak sehat. Suatu pihak yang dinyatakan termasuk sebagai pihak yang menyebabkan keadaan bank menjadi tidak sehat,

(19)

apabila pihak yang bersangkutan memiliki kewajiban kepada bank yang dikelompokkan dalam kredit macet berdasarkan peraturan perundang-undangan dan saldo kewajiban pihak tersebut lebih besar dari saldo simpanannya (Yennie Agustin, 2013: 321).

Simpanan tidak layak bayar dan simpanan yang saldonya diatas nilai jaminan akan diselesaikan melalui proses likuidasi. Proses likuidasi adalah tindakan penyelesaian seluruh aset dan kewajiban bank yang dicabut izin usahanya. Penyelesaian kewajiban bank diatur dalam ketentuan Pasal 54 ayat (1) Undang-Undang Nomor 24 tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan sebagaimana terakhir telah diubah dengan Undang-Undang Lembaga Penjamin Simpanan menyatakan bahwa pembayaran kewajiban bank kepada para kreditur dari hasil pencairan dan/atau penagihan dilakukan dengan urutan sebagai berikut:

1) penggantian atas talangan pembayaran gaji pegawai yang terutang; 2) penggantian atas pembayaran talangan pesangon pegawai;

3) biaya perkara dipengadilan, biaya lelang yang terutang, dan biaya operasional kantor;

4) biaya penyelamatan yang dikeluarkan oleh Lembaga Penjamin Simpanan dan/atau pembayaran atas klaim penjaminan yang harus dibayarkan oleh Lembaga Penjamin Simpanan;

5) pajak terutang;

6) bagian simpanan dari nasabah yang tidak dibayarkan penjaminannya dan simpanan dari nasabah penyimpan yang tidak layak bayar; dan

7) hak dari kreditur lainnya.

Ketika nasabah penyimpan yang simpanannya tidak layak bayar merasa dirugikan maka nasabah tersebut dapat mengajukan keberatan kepada Lembaga Penjamin Simpanan disertai dengan bukti nyata dan jelas atau dapat melakukan upaya hukum melalui pengadilan. Apabila Lembaga Penjamin Simpanan menerima keberatan nasabah penyimpan atau

(20)

pengadilan mengabulkan upaya hukum nasabah tersebut, maka Lembaga Penjamin Simpanan akan mengubah status simpanan nasabah tersebut (reklasifikasi) dari simpanan tidak layak bayar menjadi simpanan yang layak bayar. Namun Lembaga Penjamin Simpanan hanya akan membayar simpanan nasabah tersebut sesuai dengan penjaminan berikut dengan bunga yang wajar sejak simpanan nasabah tersebut dinyatakan tidak layak bayar sampai dengan simpanan nasabah tersebut dibayar.

2. Analisis Pertimbangan Majelis Hakim dalam Kasus antara Lembaga Penjamin Simpanan melawan Kurator PT. Tripanca Group dan PT. BPR Tripanca Setiadana terkait dengan Sengketa Pembayaran Klaim Penjaminan

Putusan Mahkamah Agung Nomor 615 K/Pdt.Sus/2011 tentang penyelesaian perselisihan tagihan (Renvoi Prosedur), Majelis Hakim memutus untuk mengabulkan permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi dan membatalkan putusan Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Nomor. 4/Gugatan Lain-lain/2011/PN.Niaga.Jkt.Pst jo. Nomor 33/Pailit/2009/ PN.Niaga.Jkt.Pst serta menghukum Tergugat I untuk mengembalikan uang simpanan PT. Tripanca Group (Dalam Pailit) sejumlah Rp 2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah) kepada Penggugat.

Beberapa hal yang menjadi analisis penulis terhadap Putusan Mahkamah Agung Nomor 615 K/Pdt.Sus/2011 tentang penyelesaian perselisihan tagihan (Renvoi Prosedur) yang diajukan oleh Tim Likuidasi Lembaga Penjamin Simpanan dapat dikabulkan oleh Mahkamah Agung, yakni: a. Perkara ini merupakan upaya Pemohon Kasasi/Dahulu Tergugat I, yakni

Tim Likuidasi Lembaga Penjamin Simpanan, terhadap putusan Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Nomor. 4/Gugatan Lain-lain/2011/PN.Niaga.Jkt.Pst jo. Nomor 33/Pailit/2009/ PN.Niaga.Jkt.Pst berkenaan dengan proses klaim simpanan yang diajukan oleh Jandri Siadari, SH.,LLM, selaku Kurator PT. Tripanca Group (Dalam Pailit).

(21)

Perkara ini bermula ketika Kurator PT. Tripanca Group (Dalam Pailit) mencari boedel pailit hingga kemudian ditemukan bahwa Debitur Pailit mempunyai simpanan sebesar Rp 10.289.569.333,- (sepuluh miliar dua ratus delapan puluh sembilan juta lima ratus enam puluh sembilan ribu tiga ratus tiga puluh tiga rupiah) di PT. BPR Tripanca Setiadana (Dalam Likuidasi) yang kepengurusannya telah beralih kepada Lembaga Penjamin Simpanan. Untuk memaksimalkan boedel pailit tersebut kemudian Kurator PT. Tripanca Group (Dalam Pailit) menunjuk Kantor Hukum Hanis & Hanis untuk melakukan penagihan dan/atau klaim kepada Tergugat I.

Kantor Hukum Hanis & Hanis kemudian mengajukan klaim melalui suratnya Ref.No : 057/CMP-LPS/H&H/X/09, tertanggal 19 Oktober 2009 dengan perihal pengajuan klaim dan telah ditanggapi oleh Tergugat I dengan surat No.S.681/KE/X/2009 tertanggal 28 Oktober 2009 dengan perihal Penyelesaian Simpanan Nasabah Tergugat II atas nama PT. Tripanca Group yang pada intinya memberitahukan bahwa penyelesaian simpanan atas nama PT. Tripanca Group (Dalam Pailit) melalui mekanisme penjaminan, ditunda pembayarannya sampai dengan selesainya audit investigasi mengenai pihak-pihak yang menyebabkan PT. Tripanca Setiadana menjadi Bank Gagal.

Merasa dirugikan, Jandri Siadari, SH.,LLM, selaku Kurator PT. Tripanca Group (Dalam Pailit) kemudian mengajukan gugatan di Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Majelis Hakim telah menyidangkan perkara a quo tersebut dan berakhir pada tanggal putusan diucapkan yaitu pada tanggal 22 Juli 2011 dengan Putusan Nomor. 4/Gugatan Lain-lain/2011/PN.Niaga.Jkt.Pst jo. Nomor 33/Pailit/2009/ PN.Niaga.Jkt.Pst. Selanjutnya Lembaga Penjamin Simpanan mengajukan permohonan Kasasi ke Mahkamah Agung dengan alasan adanya kesalahan dalam pertimbangan Judex Facti di dalam putusannya dan juga adanya Error in Persona dalam gugatan termohon kasasi/ dahulu penggugat.

(22)

b. Tim Likuidasi Lembaga Penjamin Simpanan sebagai Pemohon Kasasi kepada Mahkamah Agung dalam pengajuan permohonan tersebut telah sesuai dengan ketetentuan mengenai pengajuan kasasi yang termuat dalam Pasal 43 sampai dengan Pasal 55 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung RI.

Putusan Pengadilan pada Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat diucapkan pada tanggal 22 Juli 2011, kemudian terhadapnya oleh Pemohon Kasasi/Dahulu Tergugat I diajukan secara lisan pada tanggal 4 Agustus 2011 sebagaimana ternyata dari akte permo honan kasasi Nomor 46/Kas/Pailit/2011/PN.Niaga.Jkt.Pst, yang dibuat oleh Panitera Pengadilan Negeri/Niaga Jakarta Pusat, disertai dengan memori kasasi yang memuat alasan-alasan yang diterima di Kepaniteraan Pengadilan Negeri/Niaga tersebut pada tanggal 4 Agustus 2011.

Setelah itu pada tanggal 4 Agustus kepada Termohon Kasasi/Dahulu Penggugat telah disampaikan salinan permohonan kasasi dan salinan memori kasasi dari Pemohon Kasasi, diajukan kontra memori kasasi yang diterima di Kepaniteraan Pengadilan Negeri/Niaga Jakarta Pusat pada tanggal 15 Agustus 2011

Permohonan kasasi a quo beserta alasan-alasannya telah diberitahukan kepada pihak lawan dengan seksama, diajukan dalam tenggang waktu dan cara yang ditentukan Undang-Undang maka oleh karena itu permohonan kasasi tersebut formal dapat diterima.

c. Yang menjadi dasar permohonan kasasi ini adalah:

1) Judex Facti telah mengabaikan ketentuan dan bukti-bukti yang menjadi dasar Pemohon Kasasi/Dahulu Tergugat I dalam melakukan penundaan pembayaran klaim simpanan terhadap PT. Tripanca Group (Dalam Pailit) yang kini dalam pengurusan Termohon Kasasi/Dahulu Penggugat

Pemohon Kasasi/Dahulu Tergugat I dengan tegas menolak pertimbangan Judex Facti Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat yang pada intinya menyatakan bahwa Pemohon

(23)

Kasasi/Dahulu Tergugat I tidak bersedia membayarkan simpanan Termohon Kasasi/Dahulu Penggugat dengan alasan masih melakukan proses audit investigatif mengenai pihak yang menyebabkan Turut Termohon Kasasi/Dahulu Tergugat II menjadi bank gagal tanpa memasukkan dan mempertimbangkan bukti-bukti yang disampaikan oleh Pemohon Kasasi/Dahulu Tergugat I.

Adapun pertimbangan Judex Facti Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dalam putusan a quo pada halaman 34 baris ke-14 terkutip sebagai berikut: “ Menimbang, bahwa selanjutnya yang menjadi permasalahan dalam hal ini adalah, Tergugat I dan Tergugat II meskipun mengakui uang simpanan milik Penggugat sebagaimana tersebut di atas, tetapi tidak bersedia membayarkannya kepada Penggugat dengan alasan Tergugat I masih melakukan proses audit investigatif mengenai pihak yang menyebabkan Tergugat II menjadi bank gagal”.

Tindakan Pemohon Kasasi/Dahulu Tergugat I dalam menunda pembayaran klaim simpanan milik PT. Tripanca Group yang kini dalam pengurusan Termohon Kasasi/Dahulu penggugat sudah sesuai dengan kewenangannya. Hal ini juga sudah diketahui oleh Termohon Kasasi/Dahulu Penggugat dimana Termohon Kasasi/Dahulu Penggugat sendiri telah memberikan lampirkan dalam bukti P-7 fotokopi salinan Peraturan Lembaga Penjamin Simpanan Nomor 2/PLPS/2010 tentang Program Penjaminan Simpanan.

Dalam Pasal 39 ayat (1) Peraturan Lembaga Penjamin Simpanan Nomor 2/PLPS/2010 tentang Program Penjaminan Simpanan disebutkan bahwa Lembaga Penjamin Simpanan dapat menunda pembayaran kepada nasabah penyimpan apabila nasabah tersebut diindikasi/diduga oleh Lembaga Pengawas Perbankan, Lembaga Penjamin Simpanan, dan/atau penegak hukum melakukan perbuatan melanggar hukum yang mengakibatkan kerugian atau membahayakan kelangsungan usaha bank sehingga bank menjadi bank gagal.

(24)

Atas ketentuan tersebut Judex Facti telah mengabaikan bukti-bukti tambahan yang diajukan Pemohon Kasasi/Dahulu Tergugat I yaitu bukti TI-6 sampai TI-8 yang telah disampaikan dalam persidangan dimana bukti tersebut menjelaskan bahwa PT. Tripanca Group (Dalam Pailit) terlibat dalam tindak pidana Perbankan yang terjadi di PT. BPR Tripanca Setiadana (Dalam Likuidasi) yang menyebabkan bank tersebut menjadi bank gagal.

Dengan tidak dimasukkannya bukti-bukti yang disampaikan Pemohon Kasasi/Dahulu Tergugat I dan tidak dipertimbangkan dalam putusan pertama menyebabkan Pemohon Kasasi/Dahulu Tergugat I seolah-olah tidak memiliki dasar melakukan penundaan. Hal ini adalah sesuatu yang tidak benar karena Judex Facti wajib terikat pada peristiwa yang diajukan oleh para pihak yang bersengketa (secundum

allegata judicare).

Tidak dimasukkannya bukti-bukti tersebut juga terlihat dalam pertimbangan Judex Facti Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dalam putusan a quo pada halaman 35 baris ke-15 terkutip sebagai berikut: “Menimbang sampai dengan pemeriksaan perkara ini oleh Majelis Hakim, Tergugat I tidak atau belum memperlihatkan di depan persidangan mengenai hasil rekonsiliasi dan atau verifikasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) yang dijadikan Tergugat I menjadi dasar/alasan membayar klaim simpanan Penggugat, selain mengajukan produk TI-3 berupa surat balasan Tergugat I No.S.681/KEJXI2009 tanggal 28 Oktober 2009 atas surat pengajuan klaim dari Penggugat dengan mengemukakan penyelesaian simpanan atas nama PT. Tripanca Group pada PT. BPR Tripanca Setiadana (DL) melalui mekanisme penjaminan, ditunda pembayarannya sampai dengan selesainya audit investigasi pihak-pihak yang menyebabkan PT. BPR Tripanca Setiadana (DL) menjadi bank gagal”.

(25)

Tidak dimasukkannya bukti TI-6 sampai dengan TI-8 mengakibatkan Judex Facti tidak dapat mempertimbangkan mengenai dasar alasan penundaan pembayaran klaim. Untuk rekonsiliasi dan verifikasi yang sudah diumumkan oleh Pemohon Kasasi/Dahulu Tergugat I dan diketahui Termohon Kasasi/Dahulu Penggugat tidak perlu lagi dikemukakan didepan persidangan. Hasil rekonsiliasi dan verifikasi ini bukanlah yang menjadi alasan penundaan pembayaran klaim penjaminan simpanan milik PT. Tripanca Group (Dalam Pailit) tetapi yang menjadi alasan penundaan adalah dilakukannya proses audit investigatif sesuai dengan bukti TI-3.

Pasal 39 ayat (2) Peraturan Lembaga Penjamin Simpanan Nomor 2/PLPS/2010 menyebutkan bahwa penundaan pembayaran klaim yang uangnya telah ditempatkan di bank pembayar tersebut dapat berakhir apabila memenuhi 3 (tiga) kriteria sebagai berikut:

a) Berdasarkan hasil pemeriksaan oleh Lembaga Pengawas Perbankan dan/atau Lembaga Penjamin Simpanan tidak ditemukan bukti bahwa nasabah tersebut melakukan perbuatan melawan hukum yang mengakibatkan kerugian atau membahayakan kelangsungan usaha bank sehingga bank menjadi bank gagal;

b) Adanya surat keputusan Penghentian Penyidikan/Penuntutan Perkara dari penegak hukum; atau

c) Adanya putusan yang berkekuatan hukum tetap yang memutuskan bahwa nasabah tersebut tidak melakukan perbuatan melanggar hukum yang mengakibatkan kerugian atau membahayakan kelangsungan usaha Bank sehingga bank menjadi bank gagal. 2) Judex Facti telah salah menerapkan hukum yang berlaku

Pemohon Kasasi/Dahulu Tergugat I dengan tegas menolak pertimbangan Judex Facti Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat mengenai keharusan menyampaikan laporan perkembangan hasil verifikasi. Dalam pertimbangan Judex Facti Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dalam putusan

(26)

a quo pada halaman 36 baris ke-9 terkutip: “Menimbang bahwa

Tergugat I seharusnya menyampaikan laporan perkembangan hasil verifikasi yang dilakukan terhadap nasabah penyimpan demi menjamin kepastian dan pemenuhan hak nasabah yang menyimpan uangnya pada Tergugat II yang juga haknya dilindungi oleh Undang-Undang”.

Pemohon Kasasi/Dahulu Tergugat I dengan tegas menyatakan bahwa tidak benar Pemohon Kasasi/Dahulu Tergugat mempunyai keharusan menyampaikan laporan perkembangan hasil verifikasi. Pasal 16 ayat (3) Undang-Undang Lembaga Penjamin Simpanan menyebutkan bahwa Lembaga Penjamin Simpanan wajib menentukan Simpanan yang layak dibayar setelah melakukan rekonsiliasi dan verifikasi atas data nasabah penyimpan selambat-lambatnya 90 (sembilan puluh) hari kerja terhitung sejak izin usaha bank dicabut. Jadi yang benar adalah Pemohon Kasasi/Dahulu Tergugat I wajib menentukan simpanan layak bayar bukan wajib menyampaikan laporan perkembangan verifikasi.

Hasil rekonsiliasi dan verifikasi dari nasabah penyimpan pada Tergugat II sendiri telah diumumkan dalam 4 (empat) tahap yaitu Tahap I tanggal 14 April 2009, Tahap II tanggal 1 Juni 2009, Tahap III tanggal 7 Juli 2009, dan Tahap IV tanggal 10 Agustus 2009. Dalam Tahap IV tersebut telah termasuk didalamnya hasil rekonsiliasi dan verifikasi PT. Tripanca Group (Dalam Pailit), namun khusus terhadap PT. Tripanca Group yang kini dalam pengurusan Termohon Kasasi/Dahulu Penggugat pembayaran ditunda untuk menghindari kerugian yang lebih besar apabila terjadi salah bayar.

Selain itu juga telah terjadi kekeliruan dari Judex Facti dalam memahami batas waktu 90 (sembilan puluh) hari yang disebutkan dalam Pasal 16 Undang-Undang Lembaga Penjamin Simpanan. Adapun pertimbangan Judex Facti Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dalam putusan a quo pada halaman 36 baris ke-14 terkutip sebagai berikut: “Menimbang, bahwa penolakan Tergugat I memenuhi

(27)

permintaan Penggugat membayar klaim simpanan Penggugat kepada Tergugat II tersebut tidak beralasan dan bertentangan dengan ketentuan Pasal 16 UU LPS yang menentukan batas waktu pembayaran klaim pembayaran penjaminan dan tidak adanya laporan Tergugat I kepada Penggugat sebagai nasabah penyimpan uamh semenjak mengambil alih kegiatan, fungsi, tugas dan wewenang serta menguasai dan mengelola asset dan kewajiban Tergugat II sebagai bank gagal, adalah perbuatan melawan hukum”.

Judex Facti telah keliru memahami batas waktu 90 (sembilan

puluh) hari yang disebut dalam Pasal 16 Undang-Undang Lembaga Penjamin Simpanan karena 90 (sembilan puluh) hari yang dimaksud adalah waktu untuk menentukan simpanan layak bayar setalah melakukan rekonsiliasi dan verifikasi atas data nasabah. Judex Facti memahami 90 (sembilan puluh) hari tersebut sebagai batas waktu untuk melakukan pembayaran. Sedangkan seharusnya pembayaran klaim penjaminan wajib mulain dilakukan pada hari ke-5 (lima) sejak verifikasi dimulai dan batas waktu pengajuan klaim yaitu 5 (lima) tahun sejak izin usaha bank dicabut hal ini telah diatur dengan jelas pada Pasal 16 ayat (4) dan ayat (7) Undang-Undang Lembaga Penjamin Simpanan.

Kesalahan penerapan hukum juga terlihat dalam pertimbangan

Judex Facti Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat

dalam putusan a quo pada halaman 36 baris ke-14 terkutip sebagai berikut: “Dengan demikian kewenangan yang ada pada Lembaga Penjamin Simpanan berdasarkan Pasal 16 UU LPS tidak dapat mengesampingkan kewenangan Pengadilan Niaga (Extra Ordinary) yang secara khusus diberi kewenangan untuk memeriksa penyelesaian insolvensi atau pailit oleh Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang kepailitan sebagai undang-undang khusus”.

Pemohon Kasasi/Dahulu Tergugat I telah menegaskan bahwa Pasal 16 Undang-Undang Lembaga Penjamin Simpanan tidaklah

(28)

mengesampingkan kewenangan Pengadilan Niaga tetapi mengatur mengenai tatacara pembayaran klaim penjaminan. Sengketa pembayaran klaim penjaminan memerlukan pembuktian yang tidak sederhana dan tidak mudah sedangkan perkara kepailitan mensyaratkan adanya suatu utang yang pembuktiannya sederhana dan mudah. Sehingga berkaitan dengan perkara ini tidak sesuai jika diajukan dan diperiksa dalam Pengadilan Niaga. Terhadap sengketa pembayaran klaim penjaminan, jika terhadap suatu perbuatan melawan hukum merupakan kewenangan pengadilan perdata, jika terhadap putusan pejabat Tata Usaha Negara berupa hasil rekonsiliasi dan verifikasi simpanan nasabah merupakan kewenangan Pengadilan Tata Usaha Negara dan terhadap kedua sengketa tersebut di atas menjadi kewenangan absolut pengadilan masing-masing sesuai kewenangannya. Pemeriksaan terhadap sengketa klaim penjaminan yang diperiksa di Pengadilan Niaga secara absolut bertentangan dengan kewenangan mengadili (Exceptio Declinatoria).

3) Judex Facti mengabaikan fakta hukum bahwa PT. Tripanca Group (Dalam Pailit) yang kini dalam pengurusan Termohon Kasasi/Dahulu Penggugat adalah suatu perusahaan yang terafiliasi sangat erat dengan PT. BPR Tripanca Setiadana (Dalam Likuidasi) dimana pemiliknya melakukan kejahatan tindak pidana perbankan yang telah terbukti secara sah dan meyakinkan di persidangan pidana serta putusan tersebut telah berkekuatan hukum tetap.

Bukti TI-6 sampai dengan TI-8 yang telah diabaikan oleh

Judex Facti merupakan bukti penting yang menjelaskan tentang tindak

pidana perbankan yang dilakukan oleh Sugianto Wiharjo alias Alay sebagai Pemegang Saham Pengendali (PSP) atas PT. BPR Tripanca Setiadana (Dalam Likuidasi) dimana dana hasil kejahatan tersebut mengalir kedalam rekening PT. Tripanca Group (Dalam Pailit) sebagaimana terbukti secara sah dan menyakinkan dalam pertimbangan

(29)

putusan perkara pidana Nomor 755/Pid.B/2009/PN.TK tanggal 24 Juli 2009 di Pengadilan Negeri Tanjung Karang.

Pasal 39 ayat (3) Peraturan Lembaga Penjamin Simpanan Nomor 2/PLPS/2010 menyebutkan bahwa dalam hal terdapat putusan yang berkekuatan hukum tetap yang memutuskan bahwa nasabah tersebut melakukan perbuatan pelanggar hukum yang mengakibatkan kerugian atau membahayakan kelangsungan usaha bank sehingga bank menjadi bank gagal, maka status simpanan nasabah tersebut menjadi tidak layak bayar. Berdasarkan bukti yang diajukan Pemohon Kasasi/Dahulu Tergugat I maka simpanan tersebut dapat dikategorikan sebagai simpanan tidak layak bayar namun karena bukti tersebut tidak dipertimbangkan maka Pemohon Kasasi/Dahulu Tergugat I masih diharuskan membayar klaim penjaminan yang tidak layak bayar tersebut.

4) Judex Facti dalam putusannya memberikan pertimbangan yang bertentangan satu sama lain

Pertimbangan yang bertentangan ini tersurat dalam pertimbangan Judex Facti Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dalam putusan a quo pada halaman 34 baris ke-16 terkutip sebagai berikut: “... tetapi tidak bersedia membayarkannya kepada Penggugat dengan alasan Tergugat I masih melakukan proses audit investigatif terhadap pihak yang menyebabkan Tergugat II menjadi bank gagal” Sedangkan dalam pertimbangan Judex Facti Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dalam putusan

a quo pada halaman 34 baris ke-28 terkutip sebagai berikut:

“Menimbang, bahwa alasan penolakan Tergugat I untuk menolak atau menunda pembayaran simpanan Penggugat adalah terjadi ketidakkonsistenan Judex Facti dalam pertimbangan putusannya, apakah Pemohon Kasasi/Dahulu Tergugat I tidak bersedia membayarkan atau menolak membayar atau menunda pembayaran simpanan Termohon Kasasi/Dahulu Pernggugat”.

(30)

5) Putusan Judex Facti telah secara jelas dan tegas bertentangan dengan hukum dari peraturan yang berlaku (Contra Legem), dimana dapat diuraikan sebagai berikut:

a) Jumlah penjaminan maksimal adalah Rp 2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah);

b) Rekonsiliasi dan verifikasi sudah dilakukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku, dan tidak sebagaimana pertimbangan Judex

Facti pada halaman 36 baris ke-10 yang menyatakan seharusnya

Tergugat I melaporkan perkembangan hasil verifikasi terhadap nasabah penyimpan;

c) Apabila Judex Facti tidak mengabaikan bukti, dan memeriksa ketentuan secara cermat pada Peraturan Lembaga Penjamin Simpanan Nomor 2/PLPS/2010, maka tidaklah sampai pada kesimpulan untuk menyatakan Pemohon Kasasi/Dahulu Tergugat I terbukti melakukan perbuatan melawan hukum atas tindakan untuk menunda pembayaran klaim simpanan dari Termohon Kasasi/Dahulu Penggugat.

d) Judex Facti telah salah dalam menerapkan hukum di dalam putusannya dimana Pemohon Kasasi/Dahulu Tergugat I telah dihukum untuk mengembalikan uang simpanan milik Penggugat sebesar Rp 10.289.569.333,- (sepuluh miliar dua ratus delapan puluh sembilan juta lima ratus enam puluh sembilan ribu tiga ratus tiga puluh tiga rupiah) padahal Pemohon Kasasi/Dahulu Tergugat I tidak memiliki kewenangan untuk mengembalikan uang simpanan melainkan melakukan pembayaran atas klaim simpanan kepada nasabah penyimpan dengan jumlah maksimal Rp 2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah) sedangkan sisa simpanan yang tidak dijamin akan dibayarkan melalui mekanisme likuidasi bank.

Isu penting untuk menuju masa depan pembangunan hukum termasuk penegakan hukum di Indonesia adalah bagaimana melaksanakan kekuasaan kehakiman sesuai dengan tujuan Undang Dasar 1945 dan

(31)

Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman. Mewujudkan penegakan hukum di bidang kekuasaan kehakiman yang bebas, merdeka dan mandiri merupakan salah satu tujuan yang ingin dicapai dalam kerangka negara hukum dan demokrasi. Undang-Undang Dasar 1945 dan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 yang telah diganti dengan Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman telah memberikan dasar pijakan bagi kekuasaan kehakiman untuk menegakkan keadilan. Namun fakta hukum umumnya menunjukkan adanya ketidakpercayaan masyarakat pada kekuasaan kehakiman karena seringkali putusan hakim belum mencerminkan nilai keadilan yang didambakan para pencari keadilan (Fence M. Wantu, 2013: 206).

Tidak mudah bagi seorang hakim untuk membuat putusan yang ideal. Menurut Gustav Radbruch putusan yang ideal adalah putusan yang memuat

idee des recht, yang meliputi tiga unsur yaitu keadilan (gerechtigkeit),

kepastian hukum (rechtsicherheit) dan kemanfaatan (zwechtmassigkeit). Masing-masing tujuan ini memiliki posisi yang telah permanen dalam suatu konstruksi hukum. Kepastian hukum terletak pada pasal-pasal perundang-undangan. Kemanfaatan terletak pada tujuan pasal-pasal tersebut dibuat atau akibat hukum dari suatu putusan yang diputus oleh pengadilan. Sementara keadilan terletak pada nilai-nilai kehidupan yang ada. (http://www.suduthukum.com/2014/12/hukum-idealitas-putusan.html?m=1 diakses pada 25 April 2016).

Radbruch finds that althought the idea of law is Justice, this alone does not fully exhaust the concept of law. Justice, he says “leaves open the two questions, whom to consider equal or different, and how to treat them.” To complete the concept of law Radbruch uses three general precepts: purposiveness, justice, and legal certainty. Therefore, Radbruch defines law as “the complex of general precepts for the living-together of human beings” whose ultimate idea is oriented toward justice or equality. Yang diterjemahkan

(32)

keadilan, namun ini saja tidak memenuhi konsep hukum. Keadilan, katanya meninggalkan dua pertanyaan, siapa yang harus dipertimbangkan sama atau berbeda, dan bagaimana memperlakukan mereka. Untuk melengkapi konsep hukum, Radbruch menggunakan tiga sila umum: kemanfaatan, keadilan dan kepastian hukum. Oleh karena itu, Radbruch mendefinisikan hukum sebagai kompleks sila umum untuk hidup bersama yang berorientasi pada keadilan atau persamaan (Heather Leawoods, 2000: 508).

Secara historis, pada awalnya menurut Gustav Radburch tujuan kepastian hukum menempati peringkat yang paling atas diantara tujuan yang lain. Namun setelah melihat kenyataan bahwa dengan teorinya tersebut di Jerman di bawah kekuasaan Nazi melegalisasi praktek-praktek yang tidak berperikemanusiaan selama masa Perang Dunia II dengan jalan membuat hukum yang mensahkan praktek-praktek kekejaman perang pada masa itu. Gustav Radbruch pun akhirnya meralat teorinya tersebut diatas dengan menempatkan tujuan keadilan menempati posisi diatas tujuan hukum yang lain. (Mohamad Aunurrohim, 2015: 2).

Dalam putusan ini, keputusan Majelis Hakim untuk mengabulkan permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi dan membatalkan putusan Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Nomor. 4/Gugatan Lain-lain/2011/PN.Niaga.Jkt.Pst jo. Nomor 33/Pailit/2009/ PN.Niaga.Jkt.Pst sudah tepat karena nampak secara jelas bahwa Judex Facti telah salah dalam menerapkan hukum. Kesalahan Judex Facti yang paling nampak adalah tidak diindahkannya ketentuan yang termuat dalam Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2008 mengenai besar nilai maksimal simpanan yang dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan yaitu sebesar Rp 2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah). Dengan diabaikannya Peraturan Pemerintah tersebut kepastian hukumnya menjadi tidak terpenuhi. Namun kembali lagi pada penjelasan diatas bahwa putusan yang ideal seharusnya mengandung tiga unsur yaitu keadilan, kemanfaatan dan kepastian hukum.

(33)

Beberapa hal yang menjadi analisis penulis terhadap Putusan Mahkamah Agung Nomor 615 K/Pdt.Sus/2011 tentang penyelesaian perselisihan tagihan (Renvoi Prosedur) yang diajukan oleh Tim Likuidasi Lembaga Penjamin Simpanan dilihat dari teori Gustav Radbruch:

a. Keadilan

Hakim mempunyai tugas untuk menegakkan keadilan. Hal ini sesuai dengan bunyi kepala putusan: “Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan yang Maha Esa.” Namun konsep putusan yang mengandung keadilan sulit dicarikan tolak ukur bagi pihak-pihak yang bersengketa (Fence M. Wantu, 2012: 484). Dalam Putusan Mahkamah Agung Nomor 615 K/Pdt.Sus/2011, penulis menganalisis khususnya pada inti sengketa yaitu mengenai pembayaran klaim penjaminan. Majelis Hakim mengadili menghukum Pemohon Kasasi/Dahulu Tergugat I untuk mengembalikan uang simpanan PT Tripanca Group (Dalam Pailit) sejumlah Rp 2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah) kepada Termohon Kasasi/Dahulu Penggugat selaku Kurator PT. Tripanca Group untuk dimasukkan ke dalam Boedel Pailit PT. Tripanca Group (Dalam Pailit).

Secara umum, putusan ini tentunya dirasa kurang mencerminkan keadilan dimana PT. Tripanca Group sebagai salah satu nasabah penyimpan sebesar Rp 10.289.569.333,- (sepuluh miliar dua ratus delapan puluh sembilan juta lima ratus enam puluh sembilan ribu tiga ratus tiga puluh tiga rupiah) di PT. BPR Tripanca Setiadana hanya mendapat pengembalian uang simpanan sejumlah Rp 2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah) namun jika dilihat dari ketentuan pembayaran penjaminan yang tercantum pada Undang-Undang Lembaga Penjamin Simpanan, sisa simpanan yang tidak dijamin akan dibayarkan melalui mekanisme likuidasi bank. Jadi pembayaran penjaminan tidak hanya sebatas jumlah maksimal penjaminan tersebut, namun dimungkinkan nasabah akan mendapatkan kembali sisa simpanannya dengan menunggu proses lebih lanjut, yaitu berupa penjualan aset bank yang dilikuidasi. Penjaminan ini tentunya tidak likuid karena proses penjualan aset dimana bagi nasabah penyimpan menduduki

(34)

prioritas yang keenam dari tujuh prioritas pendistribusian hasil penjualan aset (Yennie Agustin M.R, 2013: 324).

Menurut penulis putusan perkara ini telah mencerminkan unsur keadilan, karena majelis hakim telah mengakui adanya persamaan hak dan kewajiban bagi kedua belah pihak. Majelis hakim juga telah menerapkan kesesuaian antara peraturan yang ada dengan putusan hakim, dan putusan hakim ini telah sesuai dengan keadilan yang diinginkan masyarakat dimana pihak yang menang dapat menuntut apa yang menjadi haknya dan pihak yang kalah memenuhi apa yang menjadi kewajibannya. Dimana dalam putusan ini nasabah sebagai pihak yang menang mendapat haknya yaitu memperoleh klaim penjaminannya dan Lembaga Penjamin Simpanan sebagai pihak yang kalah memenuhi kewajibannya berupa pembayaran klaim penjaminan sesuai dengan ketentuan yaitu sebatas nilai penjaminan maksimal karena memang kewajiban Lembaga Penjamin Simpanan hanya sebatas itu.

b. Kemanfaatan

Putusan hakim akan mencerminkan kemanfaatan, ketika hakim tidak saja menerapkan hukum secara tekstual belaka dan hanya mengejar keadilan, akan tetapi juga mengarah pada kemanfaatan bagi kepentingan pihak-pihak yang berperkara dan kepentingan masyarakat pada umumnya. Hakim dalam menerapkan hukum hendaknya mempertimbangkan hasil akhirnya nanti, apakah putusan tersebut memambawa manfaat atau kegunaan bagi semua pihak. Hakim diharapkan dalam menerapkan Undang-Undang maupun hukum yang ada didasarkan pada tujuan atau kemanfaatannya bagi yang berperkara dan masyarakat.

Dalam Putusan Mahkamah Agung Nomor 615 K/Pdt.Sus/2011, penulis menganalisis bahwa putusan ini telah memenuhi unsur kemanfaatan dimana para pihak telah mendapatkan apa yang diinginkannya. Untuk Pemohon Kasasi/Dahulu Tergugat I permohonan pembatalan Putusan Nomor 4/Gugatan Lain-lain/2011/PN.Niaga.Jkt.Pst jo. Nomor 33/Pailit/2009/ PN.Niaga.Jkt.Pst dikabulkan, dan terkait pembayaran klaim

(35)

Pemohon Kasasi/Dahulu Tergugat I diwajibkan membayar sebatas nilai maksimal tidak seperti putusan tingkat pertama yang menghukum Pemohon Kasasi/Dahulu Tergugat I membayar penjaminan melebihi kewajibannya. Hal ini tentunya membawa kemanfaatan bagi Pemohon Kasasi/Dahulu Tergugat I sehingga Pemohon Kasasi/Dahulu Tergugat I dapat mengoptimalkan pembayaran klaim untuk nasabah yang lainnya. Untuk Termohon Kasasi/Dahulu Penggugat juga mendapatkan apa yang diinginkannya yaitu pembayaran klaim penjaminan meskipun jumlahnya tidak sesuai dengan yang dituntutkan.

c. Kepastian Hukum

Hakim dalam menyelesaikan perkara perdata di pengadilan, mempunyai tugas untuk menemukan hukum yang tepat. Hakim, dalam menemukan hukum, tidak cukup hanya mencari dalam Undang-Undang saja, sebab kemungkinan Undang-Undang tidak mengatur secara jelas dan lengkap, sehingga hakim harus menggali nilai-nilai hukum yang hidup dalam masyarakat. Kepastian hukum yang dituangkan dalam putusan hakim merupakan hasil yang didasarkan pada fakta-fakta persidangan yang relevan secara yuridis serta dipertimbangkan dengan hati nurani. Hakim dituntut untuk selalu dapat menafsirkan makna Undang-Undang dan peraturan-peraturan lainnya yang dijadikan dasar untuk diterapkan. Penerapan hukum harus sesuai dengan kasus yang terjadi, sehingga hakim dapat mengkonstruksi kasus yang diadili secara utuh, bijaksana dan obyektif (Fence M. Wantu, 2012: 483-484).

Menurut penulis dalam putusan Mahkamah Agung Nomor 615 K/Pdt.Sus/2011 unsur kepastian hukumlah yang sangat menonjol. Putusan Majelis Hakim dalam perkara ini sebenarnya mengandung unsur keadilan dan kemanfaatan, namun penekanannya lebih pada kepastian hukum. Dapat dilihat dari pertimbangan hakim untuk membatalkan Putusan Nomor. 4/Gugatan Lain-lain/2011/PN.Niaga.Jkt.Pst jo. Nomor 33/Pailit/2009/ PN.Niaga.Jkt.Pst yaitu dikarenakan adanya kesalahan Judex Facti dalam menerapkan hukum seperti yang terkutip dalam pertimbangan Majelis

(36)

Hakim Mahkamah Agung sebagai berikut: Bahwa Judex Facti tidak mengindahkan ketentuan yang termuat dalam Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2008 yang menentukan bahwa besarnya nilai simpanan yang dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan adalah maksimum sebesar Rp 2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah). Dari pertimbangan tersebut sudah nampak bahwa Majelis Hakim Mahkamah Agung dalam memutus didasarkan pada peraturan hukum yang ada. Hal ini tentunya ditujukan untuk mendapatkan suatu kepastian hukum.

Putusan hakim yang mengandung unsur kepastian hukum akan memberikan kontribusi bagi perkembangan ilmu pengetahuan di bidang hukum. Hal ini disebabkan putusan hakim yang sudah mempunyai kekuatan hukum tetap, bukan lagi pendapat hakim itu sendiri dalam memutus perkara, tetapi sudah merupakan pendapat dari institusi pengadilan dan menjadi acuan masyarakat dalam pergaulan sehari hari (Fence M. Wantu, 2012: 483).

Dilihat dari Teori Gustav Radbruch, putusan Majelis Hakim Mahkamah Agung Nomor 615 K/Pdt.Sus/2011 telah memenuhi tiga unsur yang harus ada dalam hukum yaitu unsur keadilan, kemanfaatan dan kepastian hukum sehingga dapat dikatakan sebagai putusan yang ideal.

Gambar

Gambar 2. Mekanisme Pengajuan dan Pembayaran klaim simpanan nasabah bank  yang dicabut izin usahanya  (http://www.lps.go.id/prosedur-pengajuan-klaim&sa=U&ved=0ahUKEwiGi9adx7z: diakses pada 16 April 2016)

Referensi

Dokumen terkait

Epilepsi  kumpulan gejala  otak, ditandai  gangguan kesadaran, motorik, sensorik, otonom, psikis, tiba-tiba dan sesaat,  disfungsi sel saraf otak (lepas aktivitas

Trichokompos limbah jagung berformulasi pada dosis yang lebih tinggi (30 g/bibit) diduga dapat memberikan unsur hara yang lebih banyak dibandingkan dengan dosis

Jumlah blok yang di- XOR untuk menghasilkan codeword disebut degree distribution (d). Codeword LT dikirimkan melalui BEC yang bersifat dapat menghilangkan

Berdasarkan gejala di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul: “Layanan Konseling Individu Dalam Mengembangkan Kemampuan Pengendalian Emosi

Penelitian Tindakan Kelas bertujuan untuk mendeskripsikan peningkatan keaktifan siswa dan hasil belajar peserta didik kelas VI SD Negeri Keputon 01 Kecamatan Blado Kabupaten

adalah frekuensi jenis pada stasiun penelitian diperoleh sama yaitu 0.84 dan 1 Individu/m 2 , kerapatan yang tertinggi terdapat pada spesies, Ipomoea fistulosa

Pemberian suara dalam pemilihan umum merupakan partisipasi politik aktif yang paling banyak dilakukan warga negara Dalam suatu negara yang menganut paham demokrasi, rakyat

FDR menyatakan kemampuan bank dalam membayar kembali penarikan dana yang dilakukan deposan dengan mengandalkan kredit yang diberikan sebagai sumber likuiditasnya,