R
a t a p a n
bagi
S
e o r a n g
P
u t r a
Nicholas Wolterstorff
Penerbit Momentum 2003
Ratapan bagi Seorang Putra
(Lament for a Son)
Oleh: Nicholas Wolterstorff
Penerjemah: Ellen Hanafi Editor: Solomon Yo Tata Letak: Djeffry
Desain Sampul: Darman dan Minerva Editor Umum: Solomon Yo
Originally published in English under the title,
Lament for a Son copyright © 1987 by Wm. B. Eerdmans Publishing Co.
255 Jefferson Ave. S.E., Grand Rapids, Mich. 49503 All rights reserved
Hak cipta terbitan bahasa Indonesia pada
Penerbit Momentum (Momentum Christian Literature) Andhika Plaza C/5-7, Jl. Simpang Dukuh 38-40, Surabaya 60275, Indonesia.
Copyright © 1997
Telp.: +62-31-5472422; Faks.: +62-31-5459275 e-mail: [email protected]
Perpustakaan LRII: Katalog dalam Terbitan (KDT) Wolterstorff, Nicholas,
Ratapan bagi seorang putra/Nicholas Wolterstorff, terj. Ellen Hanafi – cet. 1 – Surabaya: Momentum, 2003.
xii + 115 hlm.; 14 cm. ISBN 979-8131-41-x
1. Anak – Kematian – Aspek-aspek Psikologis 2. Perkabungan – Aspek-aspek Psikologis 3. Ayah dan anak 4. Wolterstorff, Nicholas – Keluarga 5. Wolterstorff, Nicholas – Amerika Serikat – Biografi
2003 155.9’37
Cetakan pertama: Desember 2003
Hak cipta dilindungi oleh Undang-Undang. Dilarang mengutip, menerbitkan kembali, atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini dalam bentuk apa pun dan dengan cara apa pun untuk tujuan komersial tanpa izin tertulis dari penerbit, kecuali kutipan untuk keperluan akademis, resensi, publikasi, atau kebutuhan nonkomersial dengan jumlah tidak sampai satu bab.
K
ata
P
engantar
AYA MENULIS ISI BUKU INI lebih dari dua belas tahun
yang silam, untuk memberi penghormatan bagi putra sekaligus saudara kami, Eric, yang meninggal dunia dalam suatu kecelakaan pendakian gunung di Austria pada usianya yang ke-25 tahun, dan untuk mengungkapkan kedukaan saya. Meski bersifat sangat pribadi, saya memutuskan untuk menerbitkan ini dengan harapan kata-kata saya dalam buku ini akan mewakili rasa hormat dan kedukaan yang juga di-rasakan oleh sebagian orang yang mengalami hal yang sama dengan saya.
S
Apa yang telah saya pelajari dengan rasa takjub adalah bahwa dalam partikularitas terdapat universalitas. Banyak orang yang kehilangan anak karena kematian menulis surat kepada saya. Namun banyak yang kehilangan kerabat juga menulis hal yang sama, bersamaan dengan mereka yang
5
R a t a p a n b a g i S e o r a n g P u t r a
vi ii
mengalami kehilangan selain kematian kerabat atau teman. Kata-kata ratapan yang bersifat pribadi dan tajam menusuk, seperti yang telah saya pelajari, menyuarakan kepedihan dari berbagai bentuk rasa kehilangan.
Saya sering ditanya apakah kadar kedukaan saya masih sekuat saat menulis ini dulu. Jawabannya adalah, Tidak. Luka di hati ini sudah tak lagi menganga, namun tetap be-lum hilang. Memang itulah yang seharusnya terjadi. Apabila ia bernilai untuk dicintai, maka ia pun bernilai untuk meneri-ma rasa duka kita. Kedukaan merupakan kesaksian kehidup-an tentkehidup-ang nilai seseorkehidup-ang ykehidup-ang dikasihi. Nilai itu akkehidup-an terus ada.
Maka saya tetap berdukacita. Saya tidak berusaha menu-tupinya, memungkiri, dan melupakannya. Saya tidak ber-usaha untuk tidak mengakuinya. Jika seseorang bertanya, “Siapa dirimu, beri tahu saya tentang dirimu,” maka saya akan menjawab pendek meski tidak segera, “Saya adalah se-orang yang kehilangan sese-orang anak.” Rasa kehilangan itu menentukan identitas saya; memang tidak seluruh identitas saya, tetapi sebagian besar. Identitas itu ada dalam kisah yang akan saya ceritakan. Saya benar-benar berjuang untuk tidak hanya memiliki kedukaan, tetapi memilikinya sebagai yang telah mengalami kuasa penebusan. Namun saya tak akan dan tak dapat memungkirinya. Saya akan senantiasa meng-ingat Eric. Ratapan merupakan bagian dari kehidupan.
5
R a t a p a n b a g i S e o r a n g P u t r a
ix
Seorang teman memberitahukan bahwa ia telah mem-berikan beberapa buku Ratapan ini kepada anak-anaknya. “Mengapa kaulakukan itu?” tanya saya. “Karena buku ini merupakan lagu cinta,” sahutnya. Setiap ratapan merupakan lagu cinta.
Mungkinkah suatu hari kelak lagu-lagu cinta tak lagi be-rupa ratapan?
Nicholas Wolterstorff Lent, 1997
P
rakata
P
enerbit
ENGALAMAN KEDUKAAN atas kematian orang-orang
yang kita kasihi merupakan pengalaman universal se-tiap orang, siapa yang dapat menghindarinya? Karena itu, bagaimana kita meresponsnya, lebih tepatnya, bagaimana kita meresponsnya secara benar, merupakan hal yang perlu kita pelajari. Dalam buku ini, Nicholas Wolterstorff berbagi pengalaman kedukaannya yang mendalam atas kematian pu-tranya, dan bagaimana ia meresponsnya di dalam iman, sam-pai ia mengalami kuasa penebusan Kristus atas kedukaannya itu. Pengalamannya ini telah menjadikan dia seorang yang berbeda, dalam arti lebih baik.
P
Walaupun mungkin kita memiliki respons yang berbeda dengannya dalam menghadapi kedukaan, tetapi apa yang di-ungkapkan Wolterstorff dalam bukunya ini akan memper-kaya pengertian kita tentang apa itu kedukaan, bagaimana
5
R a t a p a n b a g i S e o r a n g P u t r a
vi
bersikap jujur dalam menghadapi kedukaan, dan bagaimana mengalami kuasa penebusan Kristus atas kedukaan kita; setidaknya kita akan ditolong untuk lebih memahami orang yang sedang berduka dan kedukaan mereka, sehingga kita akan lebih dimampukan untuk menghibur mereka.
Wolterstorff mengingatkan kita bahwa pengalaman ke-dukaan – yang sangat menyakitkan itu – hendaknya mem-buat kita lebih mengenal Allah dan menjadikan kita lebih baik berdasarkan kuasa kemenangan Kristus yang telah me-ngalahkan kuasa kematian. Kiranya Tuhan memakai buku ini menjadi berkat besar bagi umat-Nya yang sedang ber-duka atau yang sedang berusaha untuk menghibur orang yang berduka."
Desember 2003 Penerbit Momentum
5
ILAHIRKAN di suatu malam yang bersalju di New
Haven, ia meninggal dunia 25 tahun kemudian di atas lereng yang bersalju pula di Kaisergebirger. Dalam ke-lembutan kami makamkan ia di bulan Juni yang hangat. Be-nih-benih pohon willow yang berwarna putih tersemai, me-nyelimuti permukaan tanah.
Saya tercenung: Dia-kah yang kami kuburkan? Saya te-lah menyentuh pipinya. Terasa dingin, kaku membisu, mem-buat saya tertegun. Saya tahu, kematian itu dingin. Juga he-ning. Namun tak seorang pun pernah mengatakan bahwa semua kelembutan itu akan lenyap. Rohnya telah pergi de-ngan membawa serta kehangatan, aktivitas, dan kelembutan yang ada. Dia telah tiada. “Eric, di manakah kau?” Akan te-tapi saya tidak pandai memahami tentang pemisahan se-orang dari tubuhnya. Mungkin itu dapat diperoleh melalui latihan. Berambut merah, berlesung pipit, dan berwajah lucu – itulah Eric.
D
5
R a t a p a n b a g i S e o r a n g P u t r a
2
ELEPON BERDERING pukul 3.30 pada hari Minggu
siang yang cerah. Kami baru saja mengantar adiknya laki-laki ke bandara untuk menemaninya di sana pada mu-sim panas.
“Pak Wolterstorff?” “Ya, saya sendiri.”
“Apakah Anda ayah Eric?” “Benar.”
“Pak Wolterstorff, saya terpaksa menyampaikan berita buruk ini.”
“Berita apa?”
“Eric mendaki gunung dan mengalami kecelakaan.” “Kecelakaan?”
“Ia mengalami kecelakaan serius.” “Serius?”
“Pak Wolterstorff, perlu saya beritahukan, kini Eric sudah meninggal. Pak Wolterstorff, Anda masih di sana? Anda harus datang segera! Eric meninggal, Pak.”
Selama tiga detik saya merasakan adanya kedamaian da-lam suatu kematian: saya rentangkan tangan lalu memeluk putra saya, dan dengan penuh kedamaian saya menyerahkan dia kepada satu pribadi – satu Pribadi yang kudus. Selanjut-nya, muncullah kepedihan – kepedihan yang sangat men-dalam.
5
R a t a p a n b a g i S e o r a n g P u t r a
3
A, SEPERTI semua anak kami yang lain, senantiasa
cekat-an dcekat-an cerdas. Di universitas ia menjadi Mahasiswa Teladan Tingkat Nasional. Dengan kemampuan yang luar biasa dalam sains dan matematika, ia menghabiskan waktu musim panasnya di universitas untuk belajar pemrograman komputer. Pada akhirnya, ia memutuskan untuk menekuni sejarah seni, bukan sains. Di sanalah ia merasa menyentuh hal-hal yang berbau kemanusiaan. Ia seorang seniman yang bermutu, pembuat barang-barang tembikar yang sempurna, yang berpengetahuan luas tentang musik, dan dapat me-mainkannya dengan baik.
Ia seorang pekerja keras, tidak suka membuang-buang waktu – barangkali dengan terlalu bersikap demikian, ia cen-derung jarang menikmati atau bahkan jarang bertoleransi terhadap gangguan-gangguan yang muncul, terlalu berorien-tasi pada tujuan-tujuannya, dan cenderung tidak humoris. Ia tidak mau bermain-main karena itu tidak sesuai dengan ren-cana-rencananya. Namun ia mengenal kesenangan. Ia se-orang yang berjiwa petualang, melakukan perjalanan sese-orang diri ke banyak tempat di dunia ini, tak pernah berkecil hati terhadap tantangan atau mengesampingkan penjelajahan ke daerah baru, cenderung menilai keterampilan dan kekuatan fisiknya terlalu tinggi. Pada usia sepuluh tahun ia nyaris tenggelam, namun ia tidak mau mengakui bahwa ia tidak be-gitu terampil berenang. Ia hidup dengan semangat yang me-nyala-nyala.
I
5
R a t a p a n b a g i S e o r a n g P u t r a
4
Pada Hari Pengucapan Syukur (Thanksgiving Day), sang pendeta berbicara tentang mendapatkan perhatian yang nyenangkan. Perhatian Eric merupakan perhatian yang me-nyenangkan, begitu pula dengan telinganya yang bersedia mendengar dan pikirannya. Bukan hanya perhatian yang me-nyukakan, tetapi juga menyenangkan. Ia seorang yang ber-iman. Pada usia enam tahun kalau tidak salah, saat berke-liling dengan mobil ke suatu tempat bersama saya, ia pernah bertanya, “Ayah, bagaimana kita tahu Allah itu ada?” Ia me-mang menanyakan hal itu, tetapi saya tak melihat dia mera-gukan hal itu dengan serius. Ia suka beribadah dalam kelom-pok komunitas yang bersungguh-sungguh. Ia meninggal du-nia dalam Tuhan.
Ia meninggalkan karakter pada segala sesuatu. Saya ter-ingat akan pemikiran penyair Gerard Manley Hopkins ten-tang keindahan: Bagi Hopkins, sesuatu itu memiliki keindah-an apabila memiliki karakter tertentu. Dalam salah satu su-ratnya, Hopkins berbicara tentang kesedihan yang dirasa-kannya manakala sebatang pohon di kebun, yang diselimuti keindahan, ditebang. Eric memberikan keindahan pada se-gala sesuatu: caranya berpakaian, caranya memasak, caranya menjabat tangan orang, caranya menjawab telepon. “Lebih baik saya mati agar tidak melihat lagi berbagai keindahan dunia hancur.”
Ketika saya marah terhadapnya, itu biasanya berkenaan dengan keegoisannya. Kendati pada suatu musim panas ia