12 BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan di RPH Rejosari di petak 11 B RPH Rejosari BKPH Sengguruh KPH Malang pada titik koordinat 8°12’33.2”S 112°33’03.6” E. Perum Perhutani Jawa Timur pada KU I umur 7 tahun, Luas kawasan petak 11 B yaitu 5.8 Ha yang ditanam pada tahun 2012. Pengambilan data di lapangan dilakukan pada bulan Juli-Agustus 2020.
13 3.2. Alat dan Bahan Penelitian
Alat yang digunakan dalam proses pengambilan data atau pengambilan contoh tanah alat tulis, blangko Pengamatan, ring, cangkul, sekop, pisau, meteran ember plastic, kertas label dan kantong plastik. Alat yang digunakan dalam pengambilan sampel daun yaitu kantong plastic, kertas label, pisau, gunting.
Bahan yang digunakan dalam peneitian ini yaitu antara lain sampel tanah dan daun dibawah tegakan. Alat yang dibutuhkan dalam menganalisis sampel tanah dan daun jati yaitu neraca analitik, tabung reaksi, labu ukur, erlenmeyer, alat destilasi, alat destruksi.
3.3. PelaksanaanPenelitian a. Survey Lokasi
Sebelum penelitian dimulai hal yang perlu dilakukan yaitu melakukan survey dengan mengumpulkan data atau informasi di RPH Rejosari mengenai pertumbuhan jati yang bagus, mengetahui petak yang akan dilakukan penelitian dalam melakukan pengambilan sampel tanah dan daun.
b. Pelaksanaan di lapang
1. Berdasarkan cara kerja pelaksanaan di lapang yaitu :
Plot terbagi menjadi 5 dengan ukuran masing-masing 12x12 meter. Pembuatan plot tersebut digunakan dalam proses pengukuran tinggi serta diameter dengan luas kawasan 5.8 Ha setelah dilakukan pengukuran dibuat penanda dengan menggunakan tiang kemudian ditarik menggunakan tali
14 Gambar 3.2 Ukuran Plot
2. Menentukan Tinggi dan Diameter meter pohon dan untuk diameter dengan menggunakan pita meter.
3. Pengambilan contoh tanah yaitu tanah komposit dan tanah utuh
Pada pengambilan sample kimia tanah digunakan dengan membentuk garis diagonal yang tersebar 5 titik. Pada setiap plot diberikan tanda dengan menggunakan tiang, dengan titik pengambilan sample. Tanah yang diambil kira kira 100 gram per titik kemudian dicampur homogen kemudian diambil sebanyak 200 gram (N.Hidayat, dkk 2017). Luas Kawasan 5.8 Ha Ukuran Plot 3 12x12 meter Ukuran Plot 2 12x12 meter Ukuran Plot 1 12x12 meter Ukuran Plot 4 12x12 meter Ukuran Plot 5 12x12 meter
15 4. Pengambilan contoh daun dari dua tegakan baik dan tegakan kurang baik dengan meggunakan 10 sample.
Gambar 3.3 Pengambilan Sample Daun
Pada Sampel daun diambil pada kawasan 5.8 Ha di petak 12 x 12 meter setelah pengukuran dilakukan kemudian di beri tanda, berbentuk diagonal setelah itu di tarik dengan menggunakan rafia, setelah dilakukan pembuatan plot kemudian melakukan pembagian pada tiga tegakan yang baik dan tiga tegakan yang kurang baik. Chanan (2019) didalam penelitiannya menjelaskan bahwa populasi pohon dengan pertumbuhan baik dan buruk ditentukan berdasarkan kriteria tinggi dan diameter pohon. Pertumbuhan pohon yang baik memiliki kisaran ketinggian pohon 18 m dan diameter pohon 0,063 m Pertumbuhan yang buruk memiliki kisaran ketinggian pohon 16 m dan diameter pohon 0,054 m. 5. Menganalisis di laboratorium dari hasil tanah dan daun tersebut.
6. Menganalisis atau menghitung dengan menggunakan metode DRIS dengan bantuan Software Minitab.
1 sample pohon baik & 1 sample pohon tidak baik
1 sample pohon baik & 1 sample
pohon tidak baik 1 sample pohon baik & 1 sample pohon tidak baik 1 sample pohon baik & 1 sample pohon tidak baik
1sample pohon baik & 1 sample pohon tidak baik
16 Pada pelaksanaan di lapang sampel yang akan diambil berupa daun dan tanah, Analisis yang dilakukan dalam metode penelitian ini yaitu dengan menggunakan metode DRIS (Diagnosisz Recommendation Integrated System) untuk sampel tanah dengan menggunakan analisis kimia dan fisika.
a) Mengambil Contoh Tanah Secara Komposit
Sampel tanah komposit merupakan sampel tanah gabungan dari beberapa sub tanah individu yang berada pada hamparan tanah yang homogen. Pengambilan contoh tanah secara komposit dilakukan dengan cara acak sebanyak 2 buah contoh. Contoh Tanah diambil dengan sekop kedalaman 0-30 cm dan 30-60 cm karena pada dasarnya untuk tanaman tahunan pengambilan contoh tanah dilakukan dengan kedalam 30 - 60 cm (Balai Penelitian Tanah 2016).
b). Mengambil Contoh Tanah Secara Utuh
Pada pengambilan contoh tanah secara utuh dengan menggunakan ring untuk mengetahui dan menganalisis sifat fisika pada contoh tanah yang diambil. Langkah pengambilan tanah secara utuh yaitu:
1. Membersihkan permukaan tanah dari seresah agar dapat memperoleh tanah yang murni.
2. Meletakkan ring contoh di permukaan tanah yang rata supaya ring tidak bengkok dan miring.
17 4. Meratakan ring yang sudah terisi tanah dengan pisau agar dapat rata permukaannya setelah itu menutup kedua bagian dengan plastik dan diberin label dan keterangan contoh tanah tersebut.
5. Ring yang tertutup plastik disusun di dalam peti (kotak) yang terbuat dari kayu atau karton dengan tumpukan maksimum empat buah tabung contoh.
6. Pada bagian dasar peti dan di atas contoh tanah diberi pelindung dari gabus atau bahan lain untuk mengurangi getaran selama pengangkutan (Balittanah.2009).
c). Mengambil Sampel Daun
Pada pengambilan contoh daun yaitu sebanyak 15 sampel daun yang telah dibagi dengan keterangan baik dan kurang baik yaitu dengan sampel daun yang kurang baik 15 contoh dan daun yang baik 15contoh. Setiap contoh daun diambil sebanyak 6 daun dengan berat ≤ 200 gr. Pada pengambilan daun sebaiknya memilih daun yang sudah mekar,pada daun basah sebaiknya di jemur atau di angin-anginkan agar kondisinya tetap baik. Contoh daun daun yang sudah diperoleh kemudian dimasukkan ke kantong kertas yang sudah di lubangi.
3.4. Analisis Contoh Tanah dan Jaringan Daun 1. Analisis Contoh Tanah
a. Persiapan tanah terdiri atas pencatatan, pengeringan, penumbukan, pengayaan dan penyimpanan
b. Penetapan kadar Ph (dikukur dengan Ph meter) (Balittanah.2009). 2. Analisis Contoh Daun
18 Langkah Dalam mengambil contoh daun yaitu:
a. Membersihkan dari kotoran yang menempel
b. Pengeringan untuk menghilangkan sisa-sisa atau menghentikan enzim dilakukan dengan cara mengoven pada suhu 60ºC ± 24 jam.
c. Penggilingan agar mempercepat digestion saat analisis dan yang paling penting untuk menghomogenkan seluruh jumlah contoh dan seluruh bagian tanaman. Setelah bahan organik pada jaringan tanaman dihancurkan barulah dilakukan analisis tanaman di laboratorium
d. Cara menganalisis tanaman di laboratorium penetapan Unsur hara (N). (Metode Kjeldahl, AOAC 2001).
19 dimasukkan destruksi dimasukkan destilasi titrasi dengan HCL 0.05
Gambar 3.4 Metode Kjeldahl
Paraffin 5 ml Contoh
tanaman 0,2 g
Selen 1 Sendok H2SO4 pekat 5
ml Hasil destruksi Aquades 100 ml NaOh 10 ml 50 % Erlenmeyer H3BO4 10 ml 1% Conway 5 tetes Destilat hijau 100 ml Tabung Reaksi Labu Kjeldahl Destilat berubah warna merah
20 b. penetapan unsur hara lainnya seperti P, K, Ca, Mg dilakukan dengan metode pengabuan basah
dimasukkan
inkubasi 24 jam
dipanaskan dengan hotplate
hingga bening
di dinginkan
Gambar 3.5 Metode pengabuan basa HNO3 pekat 5,3 ml Contoh tanaman 0,2 g HClO4 pekat 2,7 ml Labu takar Aquades Hasil Inkubasi HCl pekat Hasil destruksi Larutan Tera
21 3.5. Perhitungan Indeks DRIS
Indeks DRIS merupakan metode diagnosis DRIS secara kantitatif dapat menentukan urutan prioritas hara mana yang lebih diutamakan untuk memperbaiki ketersediaan hara. Langkah yang harus dilakukan dalam metode ini yaitu:
a. Penyusunan Norms
Sebelum pembuatan diagram DRIS, terlebih dahulu disusun norms nisbah hara pada daun jati. Norms nisbah hara ditetapkan berdasarkan hasil analisis daun pada tumbuhan jati yang memiliki produktivitas tinggi. Norms tersebut akan digunakan sebagai dasar untuk menilai keseimbangan hara dan urutan kebutuhan unsur hara pembatas serta prioritas pemupukan yang harus diberikan pada tumbuhan jati yang berproduksi rendah berdasarkan indeks DRIS.
b. Pembuatan diagram DRIS
Tahap pertama dalam membuat diagram DRIS adalah menghitung norms nisbah hara yaitu rasio hara tumbuhan jati berpoduksi tinggi. Norms nisbah hara dinyatakan dengan perbandingan %N dan % P (disimbolkan n/p); perbandingan % N dan % K (disimbolkan n/k); perbandingan % K dan % P (disimbolkan k/p). Masing-masing nisbah dihitung rata-rata (X), standar deviasi (SD) dan koefisien keragamannya (KK). Mencari nilai norms dari hasil pertumbuhan hara yang tertinggi, standart deviasi (Std) dan Coefisien Variaty (CV). Diagnosis kualitatif yang dikemukakan oleh Beaufils dan Sumner (1976) menunjukkan bahwa variasi hara berimbang digambarkan dalam suatu lingkaran yang lebih dikenal dengan diagram DRIS. Titik pusat lingkaran merupakan nilai rata-rata nisbah hara (Norm) lingkaran
22 dalam bergaris tengah X±2/3 Std (Standart Deviasi) yang selanjutnya merupakan kisaran nilai batas kisaran nisbah hara seimbang. Lingkaran luar bergaris tengah X ±4/3 Std, merupakan batas kisaran hara yang dinilai kurang seimbang atau mendekati seimbang terletak di antara lingkaran dalam dan lingkaran luar,sedangkan nilai rasio hara di luar lingkaran luar merupakan batas daerah nisbahhara tidak seimbang
Penghitungan indeks DRIS, melalui persamaan sebagai berikut :
Indeks N = ( ) ( ) ( ) Indeks P ( ) ( ) ( ) Indeks K = ( ) ( ) ( ) Indeks Ca = ( ) ( ) ( ) Indeks Mg = ( ) ( ) ( ) Bila N/P > n/p, maka f(N/P) =( ) Bila N/P > n/p, maka f(N/P) = ) Dimana: N/P adalah nisbah hara N dan P dari contoh yang diteliti, dan n/p adalah
23 jumlah fungsi. Jumlah masing-masing indeks hara adalah nol, karena masing-masing nilai fungsi nisbah hara yang satu dan dikurangkan terhadap lainnya. Sedangkan semakin negatif indeks hara semakin kekurangan unsur hara tersebut secara relatif terhadap lainnya dan semakin positif indeks hara semakin tidak dibutuhkan tanaman.