STUDI PENATAGUNAAN POTENSI AIR DI WILAYAH SUB DAS
BRANTAS HULU
Mirna Oktavian Hardifah1, Pitojo Tri Juwono2, Linda Prasetyorini2
1Mahasiswa Program Sarjana Teknik Jurusan Pengairan Universitas Brawijaya
2Dosen Teknik Pengairan Fakultas Teknik Universitas Brawijaya
Teknik Pengairan Universitas Brawijaya-Malang, Jawa Timur, Indonesia Jl. MT. Haryono Gg I No. 21 Malang 65145 Indonesia
ABSTRAK
Studi ini akan membahas tentang penatagunaan potensi air di Sub DAS Brantas Hulu, khususnya Wilayah Kabupaten Malang yang mempunyai tujuan untuk mengoptimalkan pemanfaatan dan penggunaan air di masa yang akan datang. Saat ini, ketersediaan air yang ada di wilayah studi digunakan untuk memenuhi berbagai macam kebutuhan antara lain domestik, non domestik, industri, perikanan, peternakan, irigasi dan pemeliharaan sungai. Kebutuhan air tebesar digunakan untuk irigasi, oleh karena itu dilakukan suatu upaya penatagunaan untuk meminimalkan kebutuhan air irigasi dengan membuat tiga alternatif masa tanam dengan metode LPR-FPR. Alternatif I masa tanam bulan November periode I, Alternatif II masa tanam bulan Desember periode I, Alternatif III masa tanam bulan Januari periode I. Hasil yang diperoleh yaitu alternatif terbaik yang memiliki kebutuhan air irigasi terkecil, sehingga diperoleh kelebihan debit yang lebih besar. Kelebihan debit tersebut dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan air di sektor lain dan sebagai tambahan inflow di Waduk Sengguruh bersamaan dengan debit dari Sungai Lesti. Setelah dilakukan perhitungan tiga alternatif, dipilih alternatif III masa tanam bulan Januari sebagai alternatif terbaik dengan kebutuhan air irigasi terkecil yaitu sebesar 773,677 juta
m3/tahun dan kelebihan debit sebesar 351,002 juta m3/tahun.
Kata Kunci: Sub DAS Brantas Hulu, ketersediaan air, kebutuhan air, neraca air, penatagunaan potensi air.
ABSTRACT
This study will discuss about the arrangement water potential in Upper Brantas Sub Watershed, especially sub province of Malang which has a purpose to optimize the function and usage of water in future. Nowadays, the water demand in this location has been used for kinds of needs such as domestic, non domestic, industry, fishery, animal husbandry, irrigation and river maintenance. The biggest water demand is used for irrigation, therefore we need an effort to minimize the water demand of irrigation with make three alternative of planting period use LPR-FPR method. First alternative of the planting period is on first November, second alternative is on first Desember, and the third alternative is on first January. The result is the best alternative which has least of water usage in irigation process, therefore it will increase more water flows. The more flows can be used for water usage in others sector and inflow of Sengguruh Dam, equally with Lesti River. After the calculation of that three alternative has finished, then the third alternative with planting period on January is chosen as the best alternative that has the least of water
irigation usage about 773,677 million m3 / year and the most flow surplus, 351,002 million
m3/year.
Keywords : Upper Brantas Sub Watershed, water supply, water demand, water balance, water potential arrangement.
1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
DAS adalah suatu wilayah daratan yang merupakan satu kesatuan dari sungai dan anak-anak sungainya yang dibatasi oleh punggung-punggung gunung dan berfungsi menampung dan mengalirkan air dari curah hujan melalui saluran air yang kemudian bermuara di danau atau laut.
Perkembangan dan pertumbuhan penduduk khususnya di wilayah Sub DAS Brantas Hulu yang semakin tinggi
ini secara otomatis menyebabkan
meningkatnya pemenuhan akan
kebutuhan. Pemenuhan kebutuhan dan juga aktivitas manusia sangat erat kaitannya dengan kebutuhan akan air. Berbagai macam kebutuhannya antara lain untuk pemberian air irigasi, peternakan, perikanan, industri dan lain-lain.
Pemanfaatan sumber daya air untuk berbagai peruntukan seperti diatas memerlukan manajemen air yang baik
guna mendapatkan manfaat yang
optimal di masing-masing sektor.
Oleh karena itu, dengan melihat potensi air yang ada di wilayah Sub DAS Brantas Hulu, maka diperlukan
adanya penatagunaan potensi air
sehingga ketersediaan air akan tetap terjaga sepanjang tahun.
1.2. Identifikasi Masalah
Sub DAS Brantas Hulu
merupakan salah satu Sub DAS yang berada di DAS Kali Brantas Bagian Hulu yang terletak di wilayah Kota Batu, sebagian Kabupaten Malang dan Kotamadya Malang.
Wilayah Sub DAS Brantas Hulu merupakan wilayah yang cukup baik sebagai penyedia air untuk berbagai kebutuhan baik kebutuhan non irigasi
seperti domestik, non domestik,
industri, perikanan, peternakan maupun untuk keperluan irigasi. Pemanfaatan sumber daya air di Sub DAS Brantas Hulu khususnya Wilayah Kabupaten
Malang ini paling banyak dimanfaatkan untuk pertanian/ irigasi.
Melihat adanya potensi sumber daya air yang cukup melimpah di Sub DAS Brantas Hulu Wilayah Kabupaten
Malang ini, diperlukan suatu
manajemen air yang baik yang mampu mengembangkan serta memanfaatkan sumber daya air yang ada secara bijaksana sehingga kebutuhan sumber daya air di masa mendatang akan tetap
terpenuhi. Dengan demikian,
pengelolaan dan penatagunaan potensi sumber daya air yang baik akan sangat mempengaruhi keberlanjutan sumber daya air di masa mendatang.
1.3. Tujuan dan Manfaat
Adapun tujuan dari studi ini adalah untuk mengetahui besarnya
ketersediaan air, besarnya total
kebutuhan air, kondisi neraca air dan mengetahui hasil penatagunaan potensi air di Sub DAS Lesti.
Manfaat dari studi ini adalah
untuk menambah wawasan dan
memberikan masukan dalam rangka kajian mengenai studi penatagunaan potensi air, sebagai masukan kepada pengelola sumber daya air Sub DAS Brantas Hulu antara lain: Balai Besar Pengelolaan Wilayah Sungai Brantas, Dinas Pengairan Kabupaten Malang dan
sebagai bahan masukan prediksi
terhadap kondisi Sub DAS Brantas Hulu, agar dapat menjaga kelestarian sungai serta memanajemen air untuk memenuhi kebutuhan sesuai dengan peruntukkannya.
2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Ketersediaan Air Sungai
Untuk mengetahui ketersediaan air sungai diperlukan data yang cukup panjang dan handal, sehingga informasi keragaman debit terhadap waktu dan kejadian debit rendah dan tinggi dapat
tercakup dan mewakili
kejadian-kejadian tersebut. metode yang
digunakan dalam analisis distribusi
Rumusan peluang yang diberikan adalah:
P(Xm) = , atau
T(Xm) =
2.2. Kebutuhan Air
Kebutuhan air secara umum dapat dibagi dalam dua kategori yaitu kebutuhan air yang digunakan untuk keperluan irigasi dan kebutuhan air yang digunakan untuk keperluan non irigasi. Untuk kebutuhan air non irigasi sendiri masih dibagi menjadi kebutuhan air untuk keperluan domestik, non
domestik, industri, peternakan
perikanan dan penggelontoran. a. Kebutuhan air domestik
Menurut Linsley (1968)
kebutuhan air untuk keperluan domestik digunakan di tempat-tempat hunian pribadi, rumah-rumah, apartemen, dan
sebagainya untuk minum, mandi,
penyiraman taman, sanitasi dan tujuan-tujuan lainnya.
Untuk menentukan kebutuhan untuk keperluan domestik dipergunakan rumus berikut :
QrtPtUn
Dengan :
Qrt = Jumlah kebutuhan air penduduk (liter/detik)
Pt = Jumlah penduduk pada tahun yang bersangkutan (jiwa)
Un = Nilai kebutuhan air perkapita per tahun (liter/jiwa/hari)
b. Kebutuhan air non domestik Kebutuhan air non domestik atau sering juga disebut kebutuhan air perkotaan (municipal) adalah kebutuhan air untuk fasilitas kota, seperti fasilitas komersial, fasilitas pariwisata, fasilitas ibadah, fasilitas kesehatan dan fasilitas pendukung kota lainnya. Besarnya kebutuhan air perkotaan dapat diperoleh
dengan prosentase dari jumlah
kebutuhan rumah tangga, berkisar antara 25 - 40% dari kebutuhan air rumah tangga.
c. Kebutuhan air industri
Kebutuhan air industri adalah kebutuhan air untuk proses industri, termasuk bahan baku, kebutuhan air
pekerja industri dan pendukung
kegiatan industri. Untuk menentukan kebutuhan air industri menggunakan rumus:
Qid = Ji x Si Dengan :
Qid = Kebutuhan air industri (lt/detik) Ji = Jumlah industri
Si = Standart kebutuhan air industri (lt/detik)
d. Kebutuhan air perikanan
Kebutuhan ini meliputi untuk mengisi kolam pada saat awal tanam dan untuk penggantian air. Penggantian
air bertujuan untuk memperbaiki
kondisi kualitas air dalam kolam. Dalam
studi ini standar kebutuhan air
perikanan ditentukan sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) tahun 2002. Perhitungan kebutuhan air untuk tambak dibagi menjadi tiga kategori yaitu, tambak intensif, setengah intensif dan tambak sederhana.
e. Kebutuhan air peternakan
Kebutuhan air rata-rata untuk ternak ditentukan dengan mengacu pada hasil penelitian dari FIDP yang dimuat dalam Technical Report National Water Resources Policy tahun 1992. Secara umum kebutuhan air untuk ternak dapat diestimasikan dengan cara mengkalikan jumlah ternak dengan tingkat kebutuhan air
f. Kebutuhan air irigasi
Kebutuhan air irigasi dihitung dengan menggunakan metode LPR-FPR. nilai LPR adalah perbandingan kebutuhan air antara jenis tanaman satu
dengan jenis tanaman lainnya.
Sedangkan Faktor Palawija Relatif (FPR) merupakan metode perhitungan kebutuhan air irigasi yang berkembang di Jawa Timur dengan rumus:
LPR Q
FPR
Dengan :
FPR = Faktor Palawija Relatif
(ltr/det/ha.pol)
Q = Debit yang mengalir di sungai
(ltr/det)
LPR = Luas Palawija Relatif (ha.pol)
g. Kebutuhan air penggelontoran
Kebutuhan air untuk
pemeliharaan sungai bisa diestimasi berdasarkan studi yang dilakukan oleh IWRD (The Study for Formulation of Irrigation Development Program in The Republic of Indonesia (FIDP), Nippon Koei Co., Ltd., 1993), yaitu perkalian antara jumlah penduduk perkotaan
dengan kebutuhan air untuk
pemeliharaan per kapita.
2.3. Neraca Air
Konsep dasar neraca air pada dasarnya menunjukkan keseimbangan antara jumlah air yang masuk, yang tersedia dan yang keluar dari sistem (sub sistem) tertentu. Berdasarkan hal tersebut diatas, maka dalam studi ini dirumuskan sebagai berikut: (Sri Harto Br, 2000) I = O + DS Dengan: I = masukan (inflow) O = keluaran (outflow) 2. METODOLOGI PENELITIAN
Tahapan pengerjaan studi ini dapat dilihat pada diagram berikut:
3. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1. Ketersediaan Air
Ketersediaan air yang
diperhitungkan pada studi ini hanya dari ketersediaan air permukaan, yaitu debit air sungai Brantas Hulu. Data yang didapat adalah debit aliran sungai Brantas Hulu selama 10 tahun dari Stasiun Pengukuran Aliran Sungai (SPAS) yaitu Stasiun Gadang. Sub DAS
Brantas Hulu Wilayah Kabupaten
Malang ini mempunyai cakupan
wilayah administratif yang meliputi 10 kecamatan, yaitu Karangploso, Lawang, Singosari, Pakis, Jabung, Pakisaji,
Kepanjen, Tumpang, Tajinan dan
Bululawang.
Tabel 1. Ketersediaan Debit Aliran
Sungai Brantas Stasiun Gadang
3.2. Kebutuhan Air
3.2.1 Kebutuhan Air Domestik
Kebutuhan air domestik dihitung berdasarkan jumlah penduduk yang ada di Sub DAS Brantas Hulu Wilayah
Kabupaten Malang dan standar
kebutuhan air penduduk di Kabupaten Malang yang rata-rata sebesar 100
liter/orang/hari.. Dengan rincian
perhitungan sebagai berikut:
Tabel 2. Kebutuhan Air Domestik 2013
Kecamatan Jumlah Penduduk Kebutuhan Air Domestik Karangploso 56.064 2,046 Lawang 93.166 3,401 Singosari 155.628 5,680 Pakis 124.486 4,544 Jabung 72.877 2,660 Data Debit Data Air Irigasi Data Penduduk Data Industri Data Perikanan Perhitungan Kebutuhan Air Irigasi Perhitungan Kebutuhan Air Penduduk Perhitungan Kebutuhan Air Industri Perhitungan Kebutuhan Air Perikanan Ketersediaan Air Permukaan Analisa Ketersediaan Air Kebutuhan Air Irigasi Kebutuhan Air Penduduk Kebutuhan Air Industri Kebutuhan Air Perikanan
Total Kebutuhan Air
Analisa Neraca Air Perhitungan Q
Andalan
Penatagunaan Sumber Daya Air
Alternatif Terbaik Selesai Mulai RM. 1 RM. 2 RM. 3 RM. 4 RM. = Rumusan Masalah Keterangan: Alternatif I Alternatif II Alternatif III Data Peternakan Data Peternakan Perhitungan Kebutuhan Air Peternakan Kebutuhan Air Peternakan Perhitungan Kebutuhan Air Penggelontoran Kebutuhan Air Penggelontoran Kebutuhan Air Domestik Kebutuhan Air Non Domestik
Kecamatan Jumlah Penduduk Kebutuhan Air Domestik Pakisaji 75.927 2,771 Kepanjen 100.389 3,664 Tumpang 75.115 2,742 Tajinan 52.765 1,926 Bululawang 62.861 2,294 Total 869.278 31,729
3.2.2 Kebutuhan Air Non Domestik
Kebutuhan air non domestik atau sering juga disebut kebutuhan air perkotaan adalah kebutuhan air untuk fasilitas kota, seperti fasilitas komersial, fasilitas pariwisata, fasilitas ibadah,
fasilitas kesehatan dan fasilitas
pendukung kota lainnya. Kebutuhan air
perkotaan setiap Kecamatan di
Kabupaten Malang adalah 25% dari kebutuhan rumah tangga.
Tabel 3. Kebutuhan Air Non Domestik
2013 Kecamatan Kebutuhan Air Domestik Kebutuhan Air Non Domestik Karangploso 2,046 0,512 Lawang 3,401 0,850 Singosari 5,680 1,420 Pakis 4,544 1,136 Jabung 2,660 0,665 Pakisaji 2,771 0,693 Kepanjen 3,664 0,916 Tumpang 2,742 0,685 Tajinan 1,926 0,481 Bululawang 2,294 0,574 Total 31,729 7,932
3.2.3 Kebutuhan Air Industri
Kebutuhan air industri adalah kebutuhan air untuk proses industri, termasuk bahan baku, kebutuhan air
pekerja industri dan pendukung
kegiatan industri. Besarnya kebutuhan air industri dapat dihitung dengan menggunakan standar kebutuhan air industri berdasarkan pada proses atau
jenis industri dan jumlah pekerja pada industri tersebut.
Tabel 4. Kebutuhan Air Industri 2013
Kecamatan Kebutuhan Air Industri
Karangploso 0,127 Lawang 0,121 Singosari 0,109 Pakis 0,912 Jabung 0,082 Pakisaji 0,113 Kepanjen 0,528 Tumpang 0,169 Tajinan 0,180 Bululawang 0,145 Total 2,486
3.2.4 Kebutuhan Air Perikanan
Kebutuhan air perikanan dapat dihitung berdasarkan dari data luas kolam, sawah tambak, tambak dan
perairan umum untuk budidaya
perikanan dikalikan dengan standar kebutuhan air perikanan. Kebutuhan air perikanan meliputi pengisian kolam pada saat awal tanam dan untuk penggantian air. Perhitungan kebutuhan air untuk perikanan dibagi menjadi tiga kategori yaitu, tambak sederhana, mina padi dan kolam.
Tabel 5. Kebutuhan Air Perikanan 2013 Kecamatan Kolam Mina
Padi Tambak Karangploso 0,303 0,000 0,000 Lawang 0,750 0,000 0,000 Singosari 2,906 0,000 0,000 Pakis 0,874 0,000 0,000 Jabung 0,925 0,000 0,000 Pakisaji 1,379 0,000 0,000 Kepanjen 1,163 0,000 0,000 Tumpang 0,586 0,085 0,000 Tajinan 0,324 0,000 0,000 Bululawang 1,055 0,049 0,000 Sub Total 10,265 0,133 0,000 Total 10,398
3.2.5 Kebutuhan Air Peternakan
Kebutuhan air untuk ternak dihitung berdasarkan jumlah ternak dan standar kebutuhan air bagi masing-masing jenis ternak. Jenis usaha ternak yang ada di Sub DAS Brantas Hulu Wilayah Kabupaten Malang yaitu, sapi perah, sapi pedaging, kerbau, kuda, kambing, domba, babi, ayam buras, ayam petelur, ayam pedaging, itik dan entok.
Tabel 6. Kebutuhan Air Peternakan
2013
Kecamatan Kebutuhan Air
Peternakan Karangploso 0,152 Lawang 0,180 Singosari 0,219 Pakis 0,246 Jabung 0,363 Pakisaji 0,060 Kepanjen 0,066 Tumpang 0,217 Tajinan 0,113 Bululawang 0,128 Total 1,744
3.2.6. Kebutuhan Air Irigasi
Kebutuhan air irigasi di Sub DAS Brantas Hulu Wilayah Kabupaten Malang dihitung berdasarkan luas baku sawah dan standar kebutuhan air irigasi dengan menggunakan metode LPR-FPR.
Daerah Irigasi (DI) Tumpang merupakan salah satu DI yang terletak dalam Sub DAS Brantas Hulu Wilayah Kabupaten Malang yang mempunyai luas 614 Ha yang diharapkan dapat merepresentasikan kebutuhan air irigasi yang ada di Sub DAS Brantas Hulu Wilayah Kabupaten Malang.
Pada studi ini, dilakukan 3 alternatif dalam penentuan jadwal masa tanam guna mencari kebutuhan air irigasi yang paling minimum.
Tabel 7. Kebutuhan Air Irigasi 2013
Tiap Alternatif
Keterangan Kebutuhan Air Rerata
(juta m3/tahun)
Alternatif I 804,547
Alternatif II 778,255
Alternatif III 773,677
3.2.7. Kebutuhan Air Penggelontoran Sungai
Kebutuhan air untuk
pemeliharaan sungai dimaksudkan
untuk menjaga tetap adanya aliran di
sungai. Penggelontoran sungai
dilakukan 1 kali setiap tahun pada
waktu musim kemarau dengan
intensitas penggelontoran selama 12 jam/hari selama 10 hari.
Tabel 8. Kebutuhan Air Penggelontoran
Sungai 2013 No Debit (m3/detik) Debit (Juta m3/tahun) 1 15 7,776 2 15 3 25 4 25 5 25 6 15 7 15 8 15 9 15 10 15 Rerata 18 3.3. Neraca Air
Neraca air menunjukkan
keseimbangan antara jumlah air yang masuk, yang tersedia dan yang keluar dari sistem (sub sistem) tertentu. Berikut merupakan hasil rekapitulasi neraca air dari 3 alternatif:
Tabel 9. Rekapitulasi Neraca Air 3
Berikut merupakan grafik neraca air dari ketiga alternatif:
Gambar 1. Grafik Neraca Air Eksisting
Sub DAS Lesti
3.4. Penatagunaan Sumber Daya Air
Dari tabel rekapitulasi diatas, disimpulkan bahwa total kebutuhan
masing-masing alternatif berbeda.
Alternatif I dengan awal masa tanam bulan November Periode I memiliki total kebutuhan sebesar 864,801 juta m3/tahun dan memiliki sisa debit
sebesar 320,132 juta m3/tahun.
Alternatif II dengan awal masa tanam bulan Desember Periode I memiliki total kebutuhan sebesar 838,509 juta m3/tahun dan memiliki sisa debit
sebesar 346,424 juta m3/tahun.
Alternatif III dengan awal masa tanam bulan Januari Periode I memiliki total
kebutuhan sebesar 833,932 juta
m3/tahun dan memiliki sisa debit sebesar 351,002 juta m3/tahun.
Dengan tujuan memberikan
manfaat sebesar-besarnya bagi seluruh masyarakat yang berada di Sub DAS
Brantas Hulu Wilayah Kabupaten
Malang, maka alternatif III dapat dipilih sebagai alternatif yang terbaik karena memiliki total kebutuhan paling kecil sehingga dapat memberikan sisa debit yang lebih besar. Kelebihan debit tersebut dapat dimanfaatkan pada sektor
lain dan dapat digunakan sebagai tambahan inflow di Waduk Sengguruh.
3.5. Proyeksi Kebutuhan Air
Pertumbuhan jumlah penduduk merupakan salah satu faktor penting dalam perencanaan kebutuhan air. Proyeksi jumlah penduduk digunakan untuk menghitung tingkat kebutuhan air baku pada masa mendatang. Proyeksi jumlah penduduk di suatu daerah dan pada tahun tertentu dapat dilakukan apabila diketahui tingkat pertumbuhan penduduknya.
Selain itu juga dilakukan
peramalan pada masing-masing
kebutuhan air lainnya. Berikut
merupakan hasil rekapitulasi proyeksi kebutuhan air dari tahun 2013-2035:
Tabel 10. Proyeksi Kebutuhan Air
Tahun
Ketersediaan Air
Kebutuhan
Air Neraca Air ( juta m3/tahun) ( juta m3/tahun) ( juta m3/tahun) 2013 1184,934 833,932 351,002 2014 834,839 350,095 2015 835,778 349,156 2016 836,750 348,184 2017 837,758 347,176 2018 838,803 346,131 2019 839,887 345,047 2020 841,011 343,923 2021 842,179 342,755 2022 843,392 341,542 2023 844,652 340,282 2024 845,962 338,972 2025 847,324 337,610 2026 848,741 336,193 2027 850,215 334,719 2028 851,750 333,184 2029 853,348 331,586 2030 855,013 329,921 2031 856,748 328,186 2032 858,556 326,378 2033 860,442 324,492 2034 862,408 322,526 2035 864,459 320,475
4. KESIMPULAN DAN SARAN 4.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil perhitungan dan pembahasan, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Total ketersediaan air di wilayah
Sub DAS Brantas Hulu Wilayah
Kabupaten Malang eksisting
tahun 2013 adalah sebesar
1184,934 juta m3/tahun yang
didapatkan dari ketersediaan air permukaan yaitu debit aliran Sungai Brantas Hulu. Dalam studi ini tidak membahas tentang ketersediaan air dari mata air maupun air tanah.
2. Total kebutuhan air di Sub DAS
Brantas Hulu Wilayah
Kabupaten Malang pada tahun 2013 alternatif I sebesar 864,801
juta m3/tahun, alternatif II
sebesar 838,509 juta m3/tahun
dan alternatif III sebesar
833,932 juta m3/tahun. Masing- masing dihitung berdasarkan
kebutuhan air non irigasi,
kebutuhan air irigasi dan
kebutuhan air untuk
pemeliharaan (riparian) sungai.
Kebutuhan air non irigasi
meliputi kebutuhan air domestik sebesar 31,729 juta m3/tahun (3,75%), kebutuhan air non domestik sebesar 7,932 juta m3/tahun (0,94%), kebutuhan air untuk keperluan industri sebesar 2,486 juta m3/tahun (0,29%), kebutuhan air untuk peternakan sebesar 1,744 juta
m3/tahun (0,21%) dan
kebutuhan air untuk perikanan sebesar 8,588 juta m3/tahun (1,02%). Untuk kebutuhan air irigasi mencapai 92,87% yang dihitung menggunakan metode LPR-FPR dengan tiga alternatif yaitu alternatif I sebesar 804,547
juta m3/tahun, alternatif II
sebesar 778,255 juta m3/tahun
dan alternatif III sebesar
773,677 juta m3/tahun.
Sedangkan kebutuhan air untuk pemeliharaan (riparian) sungai sebesar 7,776 juta m3/tahun (0,92%).
3. Neraca air di Sub DAS Brantas
Hulu Wilayah Kabupaten
Malang secara kuantitatif
dinyatakan dengan pengurangan antara total ketersediaan air dengan kebutuhan air. Dari hasil analisa neraca air 3 alternatif masing-masing diperoleh sisa ketersediaan air sebesar 320,132 juta m3/tahun pada alternatif I, sisa ketersediaan air sebesar 346,424 juta m3/tahun pada alternatif II dan sisa ketersediaan
air sebesar 351,002 juta
m3/tahun pada alternatif III.
4. Upaya penatagunaan potensi air
dalam studi ini dilakukan
dengan cara membuat 3
alternatif masa tanam yaitu Alternatif I dengan awal masa
tanam bulan November,
Alternatif II dengan awal masa tanam bulan Desember dan Alternatif III dengan awal masa tanam bulan Januari. Kondisi
eksisting di Daerah Irigasi
Tumpang yaitu awal masa tanam bulan November yang memiliki kebutuhan air irigasi sebesar
804,547 juta m3/tahun.
Sedangkan untuk tujuan
memberikan manfaat
sebesar-besarnya bagi seluruh
masyarakat yang berada di wilayah Sub DAS Brantas Hulu Wilayah Kabupaten Malang, maka dari hasil neraca air dapat
dilihat bahwa alternatif III
merupakan alternatif yang
terbaik karena memiliki total kebutuhan paling kecil yaitu sebesar 773,677 juta m3/tahun sehingga dapat memberikan sisa
debit yang lebih besar.
dimanfaatkan pada sektor lain dan dapat digunakan sebagai tambahan inflow untuk Waduk Sengguruh.
4.2. Saran
1. Setelah mengetahui hasil analisa
dari tiga alternatif, diperoleh hasil yang berbeda. Hal yang paling mempengaruhi perbedaan tersebut adalah curah hujan efektif, namun dalam metode LPR-FPR tidak dihitung secara
nyata. Curah hujan efektif
mempengaruhi kebutuhan air irigasi setiap bulannya. Semakin besar curah hujan efektif, maka semakin kecil kebutuhan air irigasinya.
2. Melihat dari hasil analisa
proyeksi kebutuhan air dapat disimpulkan bahwa kebutuhan air akan terus meningkat di
setiap tahunnya. Untuk
mengantisipasi agar tidak terjadi
defisit air, maka dapat
diperhitungkan potensi air tanah dan mata air sebagai fungsi ketersediaan untuk masa yang akan datang,
3. Mengingat bahwa sebagian
besar penggunaan air di bidang pertanian, maka perlu dilakukan upaya penatagunaan potensi air di Sub DAS Brantas Hulu
Wilayah Kabupaten Malang
dengan cara memilih salah satu alternatif masa tanam yang terbaik sehingga terdapat sisa debit ketersediaan yang lebih banyak. Sisa debit ini digunakan untuk inflow Waduk Sengguruh.
4. Setelah mengetahui kondisi
neraca air di Sub DAS Brantas
Hulu Wilayah Kabupaten
Malang, diharapkan bagi
masyarakat sekitar untuk
membantu menjaga kelestarian lahan hijau dan tidak mencemari air sungai dengan sampah agar
tidak terjadi penumpukan
sedimen pada waduk yang akan mengakibatkan menurunnya usia guna Waduk Sengguruh.
DAFTAR PUSTAKA
Asdak, Chay. 1995. Hidrologi dan
Pengelolaan Daerah Aliran
Sungai. Yogyakarta: Gadjah
Mada University Press.
Badan Standardisasi Nasional. 2002. Penyusunan Neraca Air Sumber Daya Air Bagian 1: Sumber
Daya Air Spasial. Standar
Nasional Indonesia, SNI 19-6728.1-2002.
Harto, Sri. 1993. Analisis Hidrologi,
Gramedia Pustaka Utama,
Jakarta
IWRD dalam Nippon Koei Co., Ltd., 1993, The Study for Formulation
of Irrigation Development
Programing The Republic of Indonesia(FIDP).
Soemarto, CD. 1987. Hidrologi Teknik. Surabaya: Usaha Nasional. Sosrodarsono, S & Takeda K. 1987.
Hidrologi untuk Pengairan.